Anda di halaman 1dari 20

7 Aspek Kompetensi Pedagogik Guru

Kata Pedagogik tidak akan asing di telinga guru, tetapi apakah semua guru
memahami apa yang dimaksud dengan Kompetensi Pedagogik walau
sebenarnya sudah pernah di lakukannya. Kompetensi Pedagogik pada dasarnya
adalah kemampuan guru dalam mengelola pembelajaran peserta didik.
Kompetensi Pedagogik menjadi salah satu jenis kompetensi yang harus dikuasai
guru.
Kompetensi Pedagogik merupakan kompetensi khas, yang akan membedakan
guru dengan profesi lainnya. Penguasaan Kompetensi Pedagogik disertai
dengan profesional akan menentukan tingkat keberhasilan proses dan hasil
pembelajaran peserta didik.
Kompetensi Pedagogik diperoleh melalui upaya belajar secara terus menerus
dan sistematis, baik pada masa pra jabatan (pendidikan calon guru) maupun
selama dalam jabatan, yang didukung oleh bakat, minat dan potensi keguruan
lainnya dari masing-masing individu yang bersangkutan.
Kompetensi Pedagogik yang menjadi salah satu materi yang diujikan dalam
peniliaan kinerja guru, terdiri dari 7 aspek. Berikut adalah 7 aspek Kompetensi
Pedagogik yang dikutip dari Pedoman Pelaksanaan Penilaian Kinerja Guru (PK
Guru):
1. Mengenal Karakteristik Peserta Didik
Dalam aspek ini guru mampu mencatat dan menggunakan informasi tentang
karakteristik peserta didik secara umum dan khusus untuk membantu proses
pembelajaran. Karakteristik peserta didik ini terkait dengan aspek fisik,
intelektual, sosial, emosional, moral, dan latar belakang sosial budaya. Beberapa
indikator yang muncul dari penguasaan karakter peserta didik diantaranya:

Guru dapat mengidentifikasi karakteristik belajar setiap peserta didik di


kelasnya,
Guru memastikan bahwa semua peserta didik mendapatkan kesempatan
yang sama untuk berpartisipasi aktif dalam kegiatan pembelajaran,
Guru dapat mengatur kelas untuk memberikan kesempatan belajar yang
sama pada semua peserta didik dengan kelainan fisik dan kemampuan
belajar yang berbeda,
Guru mencoba mengetahui penyebab penyimpangan perilaku peserta
didik untuk mencegah agar perilaku tersebut tidak merugikan peserta didik
lainnya,
Guru membantu mengembangkan potensi dan mengatasi kekurangan
peserta didik,

Guru memperhatikan peserta didik dengan kelemahan fisik tertentu agar


dapat mengikuti aktivitas pembelajaran, sehingga peserta didik tersebut
tidak termarjinalkan (tersisihkan, diolokolok, minder, dsb).

2. Menguasai Teori Belajar dan Prinsipprinsip Pembelajaran


Guru mampu menetapkan berbagai pendekatan, strategi, metode, dan teknik
pembelajaran yang mendidik secara kreatif dan efektif sesuai dengan standar
kompetensi guru. Guru mampu menyesuaikan metode pembelajaran yang
sesuai dengan karakteristik peserta didik dan mampu memotivasi mereka untuk
belajar. Indikator yang harus tampak dari aspek ini adalah:

Guru memberi kesempatan kepada peserta didik untuk menguasai materi


pembelajaran sesuai usia dan kemampuan belajarnya melalui pengaturan
proses pembelajaran dan aktivitas yang bervariasi,
Guru selalu memastikan tingkat pemahaman peserta didik terhadap
materi pembelajaran tertentu dan menyesuaikan aktivitas pembelajaran
berikutnya berdasarkan tingkat pemahaman tersebut,
Guru dapat menjelaskan alasan pelaksanaan kegiatan/aktivitas yang
dilakukannya, baik yang sesuai maupun yang berbeda dengan rencana,
terkait keberhasilan pembelajaran,
Guru menggunakan berbagai teknik untuk memotiviasi kemauan belajar
peserta didik,
Guru merencanakan kegiatan pembelajaran yang saling terkait satu sama
lain, dengan memperhatikan tujuan pembelajaran maupun proses belajar
peserta didik,
Guru memperhatikan respon peserta didik yang belum/kurang memahami
materi pembelajaran yang diajarkan dan menggunakannya untuk
memperbaiki rancangan pembelajaran berikutnya.

3. Mampu Mengembangkan Kurikulum


Dalam mengembangkan kurikulum guru harus mampu menyusun silabus sesuai
dengan tujuan terpenting kurikulum dan membuat serta menggunakan RPP
sesuai dengan tujuan dan lingkungan pembelajaran. Guru mampu memilih,
menyusun, dan menata materi pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan
peserta didik. Guru akan nampak mampu mengembangkan kurikulum jika:

Guru dapat menyusun silabus yang sesuai dengan kurikulum,


Guru merancang rencana pembelajaran yang sesuai dengan silabus
untuk membahas materi ajar tertentu agar peserta didik dapat mencapai
kompetensi dasar yang ditetapkan,
Guru mengikuti urutan materi pembelajaran dengan memperhatikan
tujuan pembelajaran,

Guru memilih materi pembelajaran yang: (1) sesuai dengan tujuan


pembelajaran, (2) tepat dan mutakhir, (3) sesuai dengan usia dan tingkat
kemampuan belajar peserta didik, (4) dapat dilaksanakan di kelas dan (5)
sesuai dengan konteks kehidupan seharihari peserta didik.

4. Menciptakan Kegiatan Pembelajaran yang Mendidik


Guru mampu menyusun dan melaksanakan rancangan pembelajaran yang
mendidik secara lengkap. Guru mampu melaksanakan kegiatan pembelajaran
yang sesuai dengan kebutuhan dan karakter peserta didik. Guru mampu
menyusun dan menggunakan berbagai materi pembelajaran dan sumber belajar
sesuai dengan karakteristik peserta didik. Jika relevan, guru memanfaatkan
teknologi informasi komunikasi (TIK) untuk kepentingan pembelajaran. Indikator
dari aspek ini adalah:

Guru melaksanakan aktivitas pembelajaran sesuai dengan rancangan


yang telah disusun secara lengkap dan pelaksanaan aktivitas tersebut
mengindikasikan bahwa guru mengerti tentang tujuannya,
Guru melaksanakan aktivitas pembelajaran yang bertujuan untuk
membantu proses belajar peserta didik, bukan untuk menguji sehingga
membuat peserta didik merasa tertekan,
Guru mengkomunikasikan informasi baru (misalnya materi tambahan)
sesuai dengan usia dan tingkat kemampuan belajar peserta didik,
Guru menyikapi kesalahan yang dilakukan peserta didik sebagai tahapan
proses pembelajaran, bukan sematamata kesalahan yang harus
dikoreksi. Misalnya: dengan mengetahui terlebih dahulu peserta didik lain
yang setuju/tidak setuju dengan jawaban tersebut, sebelum memberikan
penjelasan tentang jawaban yamg benar,
Guru melaksanakan kegiatan pembelajaran sesuai isi kurikulum dan
mengkaitkannya dengan konteks kehidupan sehari hari peserta didik,
Guru melakukan aktivitas pembelajaran secara bervariasi dengan waktu
yang cukup untuk kegiatan pembelajaran yang sesuai dengan usia dan
tingkat kemampuan belajar dan mempertahankan perhatian peserta didik,
Guru mengelola kelas dengan efektif tanpa mendominasi atau sibuk
dengan kegiatannya sendiri agar semua waktu peserta dapat
termanfaatkan secara produktif,
Guru mampu audiovisual (termasuk tik) untuk meningkatkan motivasi
belajar peserta didik dalam mencapai tujuan pembelajaran. Menyesuaikan
aktivitas pembelajaran yang dirancang dengan kondisi kelas,
Guru memberikan banyak kesempatan kepada peserta didik untuk
bertanya, mempraktekkan dan berinteraksi dengan peserta didik lain,
Guru mengatur pelaksanaan aktivitas pembelajaran secara sistematis
untuk membantu proses belajar peserta didik. Sebagaicontoh: guru

menambah informasi baru setelah mengevaluasi pemahaman peserta


didik terhadap materi sebelumnya, dan
Guru menggunakan alat bantu mengajar, dan/atau audio visual (termasuk
tik) untuk meningkatkan motivasi belajar pesertadidik dalam mencapai
tujuan pembelajaran.

5. Mengembangkan Potensi Peserta Didik


Guru dapat menganalisis potensi pembelajaran setiap peserta didik dan
mengidentifikasi pengembangan potensi peserta didik melalui program
pembelajaran yang mendukung siswa mengaktualisasikan potensi akademik,
kepribadian, dan kreativitasnya sampai ada bukti jelas bahwa peserta didik
mengaktualisasikan potensi mereka. Kemampuan mengembangkan postensi
peserta didik ini akan nampak jika:

Guru menganalisis hasil belajar berdasarkan segala bentuk penilaian


terhadap setiap peserta didik untuk mengetahui tingkat kemajuan masing
masing.
Guru merancang dan melaksanakan aktivitas pembelajaran yang
mendorong peserta didik untuk belajar sesuai dengan kecakapan dan
pola belajar masingmasing.
Guru merancang dan melaksanakan aktivitas pembelajaran untuk
memunculkan daya kreativitas dan kemampuan berfikir kritis peserta
didik.
Guru secara aktif membantu peserta didik dalam proses pembelajaran
dengan memberikan perhatian kepada setiap individu.
Guru dapat mengidentifikasi dengan benar tentang bakat, minat, potensi,
dan kesulitan belajar masing-masing peserta didik.
Guru memberikan kesempatan belajar kepada peserta didik sesuai
dengan cara belajarnya masing-masing.
Guru memusatkan perhatian pada interaksi dengan peserta didik dan
mendorongnya untuk memahami dan menggunakan informasi yang
disampaikan.

6. Melakukan Komunikasi dengan Peserta Didik


Yang dimaksud adalah guru mampu berkomunikasi secara efektif, empatik dan
santun dengan peserta didik dan bersikap antusias dan positif. Guru mampu
memberikan respon yang lengkap dan relevan kepada komentar atau
pertanyaan peserta didik. Berikut indikator adalah indikatornya:

Guru menggunakan pertanyaan untuk mengetahui pemahaman dan


menjaga partisipasi peserta didik, termasuk memberikan pertanyaan
terbuka yang menuntut peserta didik untuk menjawab dengan ide dan
pengetahuan mereka.
Guru memberikan perhatian dan mendengarkan semua pertanyaan dan
tanggapan peserta didik, tanpamenginterupsi, kecuali jika diperlukan
untuk membantu atau mengklarifikasi pertanyaan/tanggapan tersebut.
Guru menanggapi pertanyaan peserta didik secara tepat, benar, dan
mutakhir, sesuai tujuan pembelajaran dan isi kurikulum, tanpa
mempermalukannya.
Guru menyajikan kegiatan pembelajaran yang dapat menumbuhkan kerja
sama yang baik antarpeserta didik.
Guru mendengarkan dan memberikan perhatian terhadap semua jawaban
peserta didik baik yang benar maupun yang dianggap salah untuk
mengukur tingkat pemahaman peserta didik.
Guru memberikan perhatian terhadap pertanyaan peserta didik dan
meresponnya secara lengkap danrelevan untuk menghilangkan
kebingungan pada peserta didik.

7. Menilai dan Mengevaluasi Pembelajaran


Guru mampu menyelenggarakan penilaian proses dan hasil belajar secara
berkesinambungan. Guru melakukan evaluasi atas efektivitas proses dan hasil
belajar dan menggunakan informasi hasil penilaian dan evaluasi untuk
merancang program remedial dan pengayaan. Guru mampu menggunakan hasil
analisis penilaian dalam proses pembelajarannya. Kemampuan dalam aspek ini
akan terlihat ketika:

Guru menyusun alat penilaian yang sesuai dengan tujuan pembelajaran


untuk mencapai kompetensi tertentu seperti yang tertulis dalam RPP.
Guru melaksanakan penilaian dengan berbagai teknik dan jenis penilaian,
selain penilaian formal yang dilaksanakan sekolah, dan mengumumkan
hasil serta implikasinya kepada peserta didik, tentang tingkat pemahaman
terhadap materi pembelajaran yang telah dan akan dipelajari.
Guru menganalisis hasil penilaian untuk mengidentifikasi topik/kompetensi
dasar yang sulit sehingga diketahui kekuatan dan kelemahan masing
masing peserta didik untuk keperluan remedial dan pengayaan.
Guru memanfaatkan masukan dari peserta didik dan merefleksikannya
untuk
meningkatkan
pembelajaran
selanjutnya,
dan
dapat
membuktikannya melalui catatan, jurnal pembelajaran, rancangan
pembelajaran, materi tambahan, dan sebagainya.
Guru memanfatkan hasil penilaian sebagai bahan penyusunan rancangan
pembelajaran yang akan dilakukan selanjutnya.

KOMPETENSI PEDAGOGIK
BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Undang-undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen
menyebutkan bahwa yang dimaksud 'guru' adalah pendidik profesional dengan
tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai
dan mengevaluasi. peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan
formal, pendidikan dasar dan pendidikan. kompetensi Pedagogik merupakan
bagian yang tak terpisahkan dari empat kompetensi utama yang harus dimiliki
seorang guru, yaitu kompetensi pedagogik, kepribadian, sosial, dan profesional.
Kompetensi Pedagogik yaitu kemampuan seorang guru dalam mengelola proses
pembelajaran peserta didik.
Tim Direktorat Profesi Pendidik Dirjen Peningkatan Mutu Pendidik dan
Tenaga Kependidikan (2006) telah merumuskan secara substantif kompetensi
pedagogik yang mencakup kemampuan pemahaman terhadap peserta didik,
perancangan dan pelaksanaan pembelajaran, evaluasi hasil belajar, dan
pengembangan peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi
yang
dimilikinya.
B. RUMUSAN MASALAH
1.
2.
3.
4.

Apa pengertian kompetensi?


Apa itu pedagogi?
Apa Undang-undang mengenai kompetensi pedagogi?
Bagaimana indicator kompetensi pedagogi?

C. ACUAN PENULISAN
Adapun tujuan penulisan ini adalah untuk memenuhi tugas pada mata kuliah
profesi keguruan serta untuk menambahkan wawasan kepada para mahasiswa
KI-Manajemen Pendidikan.

BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Kompetensi Pedagogik
Secara bahasa, kompetensi pedagogik berasal dari dua kata, yaitu
kompetensi dan pedagogik. Dalam kamus besar Bahasa Indonesia, Kompetensi
adalah kewenangan (kekuasaan) untuk menentukan atau memutuskan suatu
hal.[1] Kompetensi menurut UU no. 13/2003 tentang ketenagakerjaan : pasal 1
(10), kompetensi adalah kemampuan kerja setiap individu yang mncakup aspek
pengetahuan, keterampilan dan sikap kerja yang sesuai dengan standar yang di
tetapkan.[2] Pedagogik berasal dari kata paid artinya anak dan agogos artinya
membimbing. Jadi istilah pedagogi dapat diartikan sebagai ilmu dan seni
mengajar anak.[3] Istilah lainnya yaitu Paedagogia yang berarti pergaulan
dengan anak, Pedagogi yang merupakan praktek pendidikan anak dan kemudian
muncullah istilah Pedagogik yang berarti ilmu mendidik anak.[4]
Dari pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa kompetensi pedagogik
adalah kemampuan mengelola pembelajaran peserta didik, dalam penjelasan
atas peraturan pemerintah republik Indonesia nomor 19 tahun 2005 tentang
standar nasional pendidikan pasal 28 ayat 3 butir a menjelaskan yang dimaksud
dengan kompetensi pedagogik adalah kemampuan mengelola pembelajaran
peserta didik yang meliputi pemahaman terhadap peserta didik, perancangan
dan pelaksanaan pembelajaran, evaluasi pembelajaran, dan pengembangan
peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimilikinya. [5]
B. Undang-undang Mengenai Kompetensi Pedagogik
Kompetensi pedagogik merupakan salah satu jenis kompetensi yang mutlak
perlu dikuasai guru. Kompetensi Pedagogik pada dasarnya adalah kemampuan
guru dalam mengelola pembelajaran peserta didik. Kompetensi Pedagogik
merupakan kompetensi khas, yang memenuhi standar dengan penguasaan ilmu
pengetahuan sesuai profesinya dan akan menentukan tingkat keberhasilan
proses dan hasil pembelajaran peserta didiknya.[6]
Berdasarkan Undang-undang no.14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen
dalam pasal 8 dijelaskan bahwa guru wajib memiliki kualifikasi akademik,
kompetensi, sertifikat pendidk, sehat jasmani dan rohani, serta memiliki
kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional. kompetensi
merupakan seperangkat pengetahuan, keterampilan, dan perilaku yanga harus
dimiliki, dihayati dan dikuasai oleh guru dalam melaksankan profesinya.
Komptensi tersebut meliputi:
1. Kompetensi pedagogik.
2. Kompetensi profesiona.l

3. Kompetensi sosial.
4. Kompetensi kepribadian.[7]
Dalam Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No.19 tahun 2005
kompetensi pedagogik meliputi:
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Pemahaman wawasan atau landasan kependidikan


Pemahaman terhadap peserta didik
Pengembangan kurikulum/ silabus
Perancangan pembelajaran
Pelaksanaan pembelajaran yang mendidik dan dialogis
Evaluasi hasil belajar
Pengembangan peserta didik untuk mengaktualisasikan potensi yang
dimilikinya.[8]

C. Indikator Kompetensi Pedagogik


Pemahaman wawasan atau landasan kependidikan
Guru memiliki latar belakang pendidikan keilmuan sehingga memiliki
keahlian secara akademik dan intelektual.
Merujuk pada sistem pengelolaan pembelajaran yang berbasis subjek
(mata pelajaran).
Guru seharusnya memiliki kesesuaian antara latar belakang keilmuan
dengan subjek yang dibina.
Guru memiliki pengetahuan dan pengalaman dalam penyelenggaraan
pembelajaran di kelas.
Pemahaman terhadap peserta didik
Guru dapat mengidentifikasi karakteristik belajar setiap peserta didik di
kelasnya.
Guru memastikan bahwa semua peserta didik mendapatkan kesempatan
yang sama untuk berpartisipasi aktif dalam kegiatan pembelajaran.
Guru dapat mengatur kelas untuk memberikan kesempatan belajar yang
sama pada semua peserta didik dengan kelainan fisik dan kemampuan
belajar yang berbeda.
Guru mencoba mengetahui penyebab penyimpangan perilaku peserta
didik untuk mencegah agar perilaku tersebut tidak merugikan peserta didik
lainnya.
Guru memperhatikan peserta didik dengan kelemahan fisik tertentu agar
dapat mengikuti aktivitas pembelajaran, sehingga peserta didik tersebut
tidak termarjinalkan
Pengembangan kurikulum/ silabus
Guru dapat menyusun silabus yang sesuai dengan kurikulum

Guru merancang rencana pembelajaran yang sesuai dengan silabus


untuk membahas materi ajar tertentu agar peserta didik dapat mencapai
kompetensi dasar yang ditetapkan.
Guru mengikuti urutan materi pembelajaran dengan memperhatikan
tujuan pembelajaran.
Guru memilih materi pembelajaran yang: (1) sesuai dengan tujuan
pembelajaran, (2) tepat dan mutakhir, (3) sesuai dengan usia dan tingkat
kemampuan belajar peserta didik, (4) dapat dilaksanakan di kelas dan (5)
sesuai dengan konteks kehidupan seharihari peserta didik.

Perancangan pembelajaran
Guru memiliki merencanakan sistem pembelajaran yang memamfaatkan
sumber daya yang ada.
Guru melaksanakan aktivitas pembelajaran sesuai dengan rancangan
yang telah disusun secara lengkap dan pelaksanaan aktivitas tersebut
mengindikasikan bahwa guru mengerti tentang tujuannya
Semua aktivitas pembelajaran dari awal sampai akhir telah dapat
direncanakan secara strategis.
Pelaksanaan pembelajaran yang mendidik dan dialogis
Guru menciptakan situasi belajar bagi anak yang kreatif, aktif dan
menyenangkan.
Guru melaksanakan aktivitas pembelajaran yang bertujuan untuk
membantu proses belajar peserta didik, bukan untuk menguji sehingga
membuat peserta didik merasa tertekan.
Guru memusatkan perhatian pada interaksi dengan peserta didik dan
mendorongnya untuk memahami dan menggunakan informasi yang
disampaikan.
Guru melaksanakan kegiatan pembelajaran sesuai isi kurikulum dan
mengkaitkannya dengan konteks kehidupan sehari hari peserta didik.
Guru memberikan kesempatan belajar kepada peserta didik sesuai
dengan cara belajarnya masing-masing.
Evaluasi hasil belajar
Guru menyusun alat penilaian yang sesuai dengan tujuan pembelajaran
untuk mencapai kompetensi tertentu seperti yang tertulis dalam RPP.
Guru melaksanakan penilaian dengan berbagai teknik dan jenis penilaian,
selain penilaian formal yang dilaksanakan sekolah, dan mengumumkan
hasil serta implikasinya kepada peserta didik, tentang tingkat pemahaman
terhadap materi pembelajaran yang telah dan akan dipelajari.
Guru menganalisis hasil penilaian untuk mengidentifikasi topik/kompetensi
dasar yang sulit sehingga diketahui kekuatan dan kelemahan masing
masing peserta didik untuk keperluan remedial dan pengayaan.
Guru memanfaatkan masukan dari peserta didik dan merefleksikannya
untuk
meningkatkan
pembelajaran
selanjutnya,
dan
dapat

membuktikannya melalui catatan, jurnal pembelajaran, rancangan


pembelajaran, materi tambahan, dan sebagainya.
Guru memanfatkan hasil penilaian sebagai bahan penyusunan rancangan
pembelajaran yang akan dilakukan selanjutnya.

Pengembangan peserta didik untuk mengaktualisasikan potensi yang


dimilikinya
Guru memiliki kemampuan untuk membimbing anak, menciptakan wadah
bagi anak untuk mengenali potensinya dan melatih untuk
mengaktualisasikan potensi yang dimiliki.
Guru merancang dan melaksanakan aktivitas pembelajaran yang
mendorong peserta didik untuk belajar sesuai dengan kecakapan dan
pola belajar masingmasing.
Guru merancang dan melaksanakan aktivitas pembelajaran untuk
memunculkan daya kreativitas dan kemampuan berfikir kritis peserta
didik.
Guru dapat mengidentifikasi dengan benar tentang bakat, minat, potensi,
dan kesulitan belajar masing-masing peserta didik.
Memberikan ruang yang luas bagi anak untuk dapat mengeksplor potensi
dan kemampuannya sehingga dapat dilatih dan dikembangkan.[9]

BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Kompetensi pedagogik adalah kemampuan mengelola pembelajaran peserta
didik yang meliputi pemahaman terhadap peserta didik, perancangan dan
pelaksanaan pembelajaran, evaluasi pembelajaran, dan pengembangan peserta
didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimilikinya.
Kompetensi pedagogi adalah merupakan salah satu jenis yang mutlak yang
harus dimiliki oleh setiap guru, gunanya untuk memahami bagaimana
karakteristik peserta didik dan melakukan evaluasi dalam pembelajaran, pada
dasarnya, kompetensi pedagogi itu adalah kompetensi yang memiliki ke khasan
tersendiri dalam mendidik para peserta didik.
Berdasarkan Undang-undang no.14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen
dalam pasal 8 dijelaskan bahwa guru wajib memiliki kualifikasi akademik,
kompetensi, sertifikat pendidk, sehat jasmani dan rohani, serta memiliki
kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional.
Adapun indikator kompetensi pedagogi antara lain adalah :
Pemahaman wawasan atau landasan kependidikan.
Pemahaman terhadap peserta didik
Pengembangan kurikulum/ silabus
Perancangan pembelajaran
Pelaksanaan pembelajaran yang mendidik dan dialogis
Evaluasi hasil belajar
Pengembangan peserta didik untuk mengaktualisasikan potensi yang
dimilikinya

[1] Tim penyusun, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta, Balai Pustaka:2002
[2] [2] http://wawan-junaidi.blogspot.com/2011/07/pengertian-kompetensi.html,

di akses

pada tanggal 29 maret 2012 pukul 10.00


[3]

http://carapedia.com/pengertian_definisi_pendidiakan_menurut_para_ahli_info405.html,
diakses pada tanggal 29 maret 2012 pukul 10.00
[4] Rabiatulfajriah, makalah kompetensi
[5] http://www.presidenri.go.id/DokumenUU.php/104.pdf di akses pada tanggal 30 april
2012 pukul.18.30
[6] Sukadi, Guru Malas Guru Rajin, Bandung, MQS Publishing:2010
[7] http://www.presidenri.go.id/DokumenUU.php/104.pdf di akses pada tanggal 30 maret
2012 pukul.20.54
[8] http://www.dikti.go.id diakses pada 1 april 2012 pukul 17.34
[9] http://mahmuddin.wordpress.com/2008/03/19/kompetensi-pedagogik-guru-indonesia/
diakses pada tanggal 1 april 2012 pukul 20.15

4 Kompetensi Guru Profesional

Kompetensi Guru Profesional - Guru adalah salah satu unsur penting


yang harus ada sesudah siswa. Apabila seorang guru tidak punya sikap
profesional maka murid yang di didik akan sulit untuk tumbuh dan berkembang
dengan baik. Hal ini karena guru adalah salah satu tumpuan bagi negara dalam
hal pendidikan. Dengan adanya guru yang profesional dan berkualitas maka
akan mampu mencetak anak bangsa yang berkualitas pula. Kunci yang harus
dimiliki oleh setiap pengajar adalah kompetensi. Kompetensi adalah seperangkat
ilmu serta ketrampilan mengajar guru di dalam menjalankan tugas
profesionalnya sebagai seorang guru sehingga tujuan dari pendidikan bisa
dicapai dengan baik.
Sementara itu, standard kompetensi yang tertuang ada dalam peraturan
Menteri Pendidikan Nasional mengenai standar kualifikasi akademik serta
kompetensi guru dimana peraturan tersebut menyebutkan bahwa guru
profesional harus memiliki 4 kompetensi guru profesional yaitu kompetensi
pedagogik dan kompetensi kepribadian, profesional serta kompetensi sosial.
Dari 4 kompetensi guru profesional tersebut harus dimiliki oleh seorang
guru melalui pendidikan profesi selama satu tahun.
Berikut ini adalah penjelasannya 4 kompetensi guru profesional:
1. Kompetensi Pedagogik

Kompetensi ini menyangkut kemampuan seorang guru dalam memahami


karakteristik atau kemampuan yang dimiliki oleh murid melalui berbagai cara.
Cara yang utama yaitu dengan memahami murid melalui perkembangan kognitif
murid, merancang pembelajaran dan pelaksanaan pembelajaran serta evaluasi
hasil belajar sekaligus pengembangan murid.
2. Kompetensi Kepribadian
Kompetensi kepribadian ini adalah salah satu kemampuan personal yang
harus dimiliki oleh guru profesional dengan cara mencerminkan kepribadian yang
baik pada diri sendiri, bersikap bijaksana serta arif, bersikap dewasa dan
berwibawa serta mempunyai akhlak mulia untuk menjadi sauri teladan yang baik.
3. Kompetensi Profesional
Kompetensi profesional adalah salah satu unsur yang harus dimiliki oleh guru
yaitu dengan cara menguasai materi pembelajaran secara luas dan mendalam.
4. Kompetensi Sosial
Kompetensi sosial adalah salah satu kompetensi yang harus dimiliki oleh
seorang pendidik melalui cara yang baik dalam berkomunikasi dengan murid dan
seluruh tenaga kependidikan atau juga dengan orang tua/wali peserta didik dan
masyarakat sekitar.

Penguasaan Kompetensi Pedagogik Guru dan


Manfaatnya
Kompetensi pedagogik guru dan kompetensi profesional guru seolah menjadi
primadona baru dalam dunia pendidikan. Bagaimana tidak, setelah Kementerian
Pendidikan dan Kebudayaan sukses menggelar sertifikasi guru sejak 2007 lalu,
mulai 2012 mereka akan menggelar Uji Kompetensi Guru. Lantas, apa
hubungannya Uji Kompetensi Guru dengan kompetensi pedagogik dan
kompetensi profesional? Bagaimana nasib dua kompetensi lain yang harus
dikuasai juga oleh guru, yakni kompetensi kepribadian dan kompetensi sosial?

Penguasaan Kompetensi Pedagogik Guru dan Manfaatnya


Uji Kompetensi Guru yang sudah diselenggarakan Kementerian Pendidikan
dan Kebudayaan mulai tahun 2012, di antaranya mengujikan dua kompetensi
yang harus dikuasai guru, yaitu kompetensi pedagogik dan kompetensi
profesional. Sebagaimana diketahui, tujuan dari Uji Kompetensi Guru ini
dilaksanakan untuk memeroleh pemetaan penguasaan kompetensi guru
sehingga benar-benar layak memiliki sertifikasi guru. Mengenai dua
kompetensi lain yang tidak turut diujikan, sepertinya Kementerian Pendidikan
dan Kebudayaan memiliki pertimbangan lain.
Pada kesempatan ini, kita hanya akan membahas seputar kompetensi
pedagogik, sedangkan kompetensi profesional akan dibahas dalam artikel lain.
Mengapa kita hanya membahas kompetensi pedagogik, sedangkan kompetensi
profesional pun sebenarnya sama-sama penting? Tujuanya tentu saja agar
pembahasan kita mengenai kompetensi pedagogik ini lebih fokus dan tidak
tercampur dengan kompetensi lainnya.
Ihwal Kompetensi Pedagogik Guru
Kita yakin, semua guru di negeri tercinta ini tentu sudah menguasai keempat
kompetensi guru. Namun, tidak ada salahnya jika kita kembali mengetengahkan
definisi dari kompetensi pedagogik itu. Tentunya, dengan disertakannya definisi

ini harapannya agar semua guru lebih memahami arti dari kompetensi pedagogik
itu sendiri.
Kompetensi pedagogik adalah keterampilan atau kemampuan yang harus
dikuasai seorang guru dalam melihat karakteristik siswa dari berbagai aspek
kehidupan, baik itu moral, emosional, maupun intelektualnya. Implikasi dari
kemampuan ini tentunya dapat terlihat dari kemampuan guru dalam menguasai
priinsip-prinsip belajar, mulai dari teori belajarnya hingga penguasaan bahan ajar.
Meskipun setiap siswa memiliki sifat, karakter, dan kesenangannya masingmasing, namun dengan menguasai kemampuan pedagogik ini guru akan mampu
menyampaikan materi ajar dengan baik kepada siswa yang heterogen tersebut.
Masih berhubungan dengan penguasaan kompetensi pedagogik ini, tentunya
seorang guru pun akan mampu mengembangkan kurikulum sesuai dengan
satuan pendidikannya masing-masing dan kebutuhan lokal setiap siswa. Selain
itu, dalam proses pembelajaran pun guru akan mampu mengoptimalkan
kemampuan dan potensi peserta didik di dalam kelas, serta melakukan evaluasi
pembelajaran dengan tepat.
Dari uraian di atas, tentu akan muncul sebuah pertanyaan, mengapa diperlukan
Uji Kompetensi Guru jika setiap guru sejatinya telah menguasai kompetensi
pedagogik tersebut? Tentunya, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan bukan
tanpa alasan membuat agenda penting melalui Uji Kompetensi Guru ini. Dari
pandangan awam saja, banyak yang menganggap bahwa tidak semua guru
menguasai kompetensi pedagogik ini dengan baik. Untuk itulah, mengapa Uji
Kompetensi Guru ini menjadi perlu dilaksanakan.
Walaupun Uji Kompetensi Guru tahap pertama dan kedua yang sudah
dilaksanakan banyak menuai pro dan kontra dari berbagai organisasi guru,
rasanya kita setuju jika penguasaan kompetensi pedagogik ini harus ditingkatkan
guna menampilkan identitas pendidik. Terlebih dengan melihat hasil pengujian
tahap satu yang menempatkan banyak sekali guru pemilik sertifikasi yang
ternyata tidak lulus pengujian ini.
Lalu, apa sebenarnya yang harus diperhatikan dalam peningkatan penguasaan
kompetensi pedagogik sehingga bisa dijadikan sebagai identitas pendidik?
Kemudian, bagaimana pula dampak peningkatan kompetensi pedagogik ini bagi
siswa?
Indikator Penguasaan Kompetensi Pedagogik dan Manfaatnya bagi Siswa
Ada banyak indikator kompetensi pedagogik yang harus dibenahi guru agar
memiliki identitasnya sebagai tenaga pendidik. Pembenahan tiap indikator ini
tentunya memiliki manfaat berbeda bagi setiap siswa. Berikut ini adalah dua
pembahasan mengenai indikator kompetensi pedagogik guru yang harus
ditingkatkan serta manfaatnya bagi siswa.

a.

Indikator Pertama

Seandainya seorang guru mampu memahami siswa dengan memanfaatkna


prinsif perkembangan kognitif, maka siswa akan mendapatkan menfaat sebagai
berikut.

b.

Setiap siswa dapat memenuhi rasa keingintahuannya yang tinggi


Setiap siswa akan memiliki kemampuan dan keberanian untuk
mengajukan pendapat dan menyelesaikan permasalahan yang
dihadapinya.
Setiap siswa akan mendapatkan kegembiraan selama menjalankan
aktivitas belajarnya.
Indikator kedua:

Seandainya seorang guru dapat memahami perinsip kepribadian, maka setiap


siswa akan mendapatkan manfaat seperti berikut.

Setiap siswa akan memiliki rasa percaya diri yang tinggi dan kepribadian
yang mantap.
Setiap siswa akan lebih menghormati guru dengan penuh sopan santun
dan lebih menghargai serta menaati peraturan yang ada.
Setiap siswa akan memiliki kemampuan beradaptasi lebih baik serta
memiliki jiwa kepemimpinan.

Nah, itulah dua dari sekian banyak indikator yang bisa dijadikan dasar
peningkatan penguasaan kompetensi pedagogik guru. Pada tahap selanjutnya,
peningkatan penguasaan kompetensi pedagogik guru ini akan mengarah ke
berbagai kemampuan guru dalam merancang dan menjalankan strategi
pembelajaran sesuai kompetensi, karakteristik siswa, serta kebutuhan belajar
siswa. Dengan demikian, ketuntasan belajar siswa akan tercapai dengan optimal
sehingga siswa akan mendapatkan prestasi yang luar biasa dan
membanggakan.

Karakteristik Kompetensi
Pedagogik Guru

Salah satu kompetensi yang harus dimiliki oleh seorang guru adalah
kompetensi pedagogik (MENDIKNAS. 2007, Robandi). Karakteristik kompetensi
tersebut seperti berikut:
1. Menguasai karakteristik peserta didik dari aspek fisik, moral, sosial,
kultural, emosional, dan intelektual. Penguasaan karakteristik tidak dapat dicapai
apabila guru masih menjaga jarak (jauh) dengan peserta didiknya. Selama guru
tidak mau berperan sebagai orangtua yang baik, maka pemahaman terhadap
karakter peserta didiknya hanya sebuah terkaan belaka.
2. Menguasai teori belajar dan prinsip-prinsip pembelajaran yang
mendidik. Teori harus selalu diperbaharui oleh seorang guru. Semakin siswa
disibukkan dengan tugas-tugas dari gurunya, maka selayaknya seorang guru
harus semakin sibuk mendengarkan keluhan dari siswa ketika menyikapi
setumpuk tugasnya, sehingga guru akan membuahkan strategi-strategi baru
dalam pengajarannya untuk berusaha membantu memudahkan atau mencarikan
jalan alternatif dalam penyelesaian tugasnya. Guru harus selalu memotivasi diri
untuk semakin rajin membaca dan berdiskusi baik secara online maupun offline.
3. Mengembangkan kurikulum yang terkait dengan bidang pengembangan
yang diampu. Kemampuan guru untuk mengembangkan kurikulum yang lebih
baik dari standar merupakan hal yang sangat diharapkan. Pengembangan
kurikulum ini tidak hanya peningkatan dari segi materi pembelajaran, tapi aspek
pendukungnya pun harus diperhatikan, seperti media pembelajaran. Kecermatan
melihat keberadaan siswa dan sarana yang tersedia harus diperhatikan secara
serius dalam mengimplementasikan kurikulum tersebut.
4. Menyelenggarakan kegiatan pengembangan yang mendidik Kegiatan
pengembangan dapat berupa berbagai kreativitas yang dibangun siswa bersama
gurunya. Penting dicatat bahwa kreativitas itu bukan hanya dilakukan oleh siswa,
tapi harus bersama-sama dengan guru sebagai partner-nya. Misalnya
membangun kreativitas menulis di blog atau mengisi Facebook dengan postingposting yang mengandung nilai-nilai pendidikan.
5. Memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi untuk kepentingan
penyelenggaraan kegiatan pengembangan yang mendidik. Sudah banyak tool
Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) yang dapat digunakan sebagai media
pembelajaran. Dengan Microsoft Word guru/siswa dapat membuat catatan
sekolahnya dengan daftar isi yang mengandung Link ke halaman terkait.
Microsoft PowerPoint dapat digunakan guru/siswa untuk menyusun bahan
presentasinya. Milis dapat digunakan siswa sebagai sarana diskusi dengan
siswa lainnya, bahkan dengan guru sekalipun. Dengan kehadiran media online
ini, komunikasi/konsultasi siswa dengan guru dalam rangka mengerjakan tugastugas sekolahnya dapat dilakukan. Ketika guru memberikan tugas tidak cukup

hanya memberikan tugas di minggu pertama dan menunggu pengumpulannya di


minggu kedua, tapi selama waktu antara minggu pertama sampai minggu kedua
harus tersedia waktu bagi siswa yang ingin berkonsultasi terkait tugasnya.
6. Memfasilitasi pengembangan potensi peserta didik untuk
mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimiliki. Secara sederhana, pada
waktu istirahat atau hari-hari tertentu, lab komputer kadang-kadang tidak
digunakan, maka kesempatan ini dapat dimanfaatkan oleh siswa untuk belajar/
menggunakan komputer. Guru tidak hanya terpaku dengan waktu yang sudah
dijadwalkan, tapi apabila ada waktu yang bisa digunakan di luar jadwal itu akan
lebih berpeluang membantu peserta didik dalam menggali potensinya. Atau
sekedar bertegur sapa dalam bahasa asing ketika waktu istirahat, ini menjadi
modal berharga untuk pengembangan potensi peserta didik. Bahkan mendukung
siswa untuk mengikuti perlombaan atau pelatihan di luar sekolah merupakan
sikap guru yang bagus.
7. Berkomunikasi secara efektif, empatik, dan santun dengan peserta
didik. Ini yang harus menjadi sorotan cukup serius, karena selama ini komunikasi
guru kepada siswanya masih dianggap kurang. Ini terjadi salah satunya terlihat
dari pemikiran bahwa siswa membutuhkan guru, bukan guru membutuhkan
siswa. Ini membuat guru jaga image, jual mahal, tidak mau proaktif membangun
komunikasi dengna siswanya. Guru dekat dengan siswa merasa khawatir akan
mengurangi reputasinya, padahal tidak demikian adanya. Kejujuran guru atas
kelemahannya pun boleh diketahui siswa, karena alih-alih mendapat ejekan para
siswa, malahan mendapat doa dari mereka.
8. Menyelenggarakan penilaian dan evaluasi proses dan hasil belajar
Guru memiliki hak istimewa dalam menentukan nilai siswa. Pemikiran ini harus
ditinjau ulang, karena dalam prakteknya kadang-kadang guru dengan kurang
pertimbangan suka memberikan nilai jelek di ujian harian, UTS atau UAS,
padahal belum melakukan usaha-usaha yang tepat dalam pengajarannya. Ketika
guru memberikan nilai merah, maka guru tersebut harus bertanya kepada dirinya
sendiri: Sudahkah ia memberikan perhatian khusus kepada siswa yang diberi
nilai merah itu? Sudah berapa kalikah ia memanggil siswa untuk diberikan
strategi-strategi alternatif agar berhasil dalam belajarnya? Sudah berapa jauh
guru tersebut membangun kerja sama dengan siswa dan orangtuanya agar nilai
siswa tersebut bagus? Sungguh tidak adil untuk situasi di negeri ini seperti saat
ini apabila seorang guru hanya mengajar menggunakan gaya mengajar yang
sama untuk semua siswa, tiba-tiba di akhir semester siswa diberi nilai merah,
padahal guru tersebut tidak melakukan apa-apa untuk meningkatkan
kemampuan siswa tersebut, selain hanya remedial. Untuk apa minggu pertama
gagal ujian, minggu kedua diadakan remedial. Padahal guru tersebut belum
sempat memberikan solusi belajar kepada siswa yang gagal ujian tersebut.
9. Memanfaatkan hasil penilaian dan evaluasi untuk kepentingan
pembelajaran. Hasil ujian harus dijadikan masukan bagi guru untuk melakukan

langkah pengajaran berikutnya. Contoh: Siswa A mendapat nilai 100, Siswa B


mendapat nilai 40. Maka guru tersebut harus berusaha keras memberikan
strategi-strategi alternatif untuk siswa B. Kalau perlakuan guru menyamaratakan
antara gaya belajar A dan B, maka kemungkinan besar prestasi belajar siswa
B akan gagal lagi pada saat ujian berikutnya.
10. Melakukan tindakan reflektif untuk peningkatan kualitas pembelajaran.
Guru yang mudah memberikan ilmu kepada siswanya, tidak terbatas di kelas
saja merupakan tindakan yang bagus. Tidak benar seorang guru harus jual
mahal ilmu dengan alasan ia sudah mengeluarkan berjuta-juta rupiah ketika
masa kuliahnya. Perjumpaan dengan siswa, kapanpun waktunya, di manapun
tempatnya, harus memberikan inspirasi bagi siswa untuk mengembangkan
potensi dan memotivasi diri untuk lebih giat dalam belajar.

Daftar Pustaka
MENDIKNAS. 2007. Permendiknas RI No. 16 Tahun 2007 Tentang Standar
Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Guru.
DEPDIKNAS. (Permen16-2007KompetensiGuru.pdf) Robandi B. Standar
Kompetensi Guru Kelas SD/MI, Disajikan pada kegiatan PPM di UPTD
Baleendah
Bandung.
Pedagogik,
FIP,
UPI.
(STANDAR_KOMPETENSI_GURU_KELAS_SD.pdf