Anda di halaman 1dari 35

SKENARIO III

BERCAK MERAH &GATAL DI


SELANGKANGAN

KELOMPOK PBL A - 1

PANCA INDERA

KELOMPOK A - 1

Ketua : Aiman Idrus Alatas

Sekertaris

Anggota :

(1102013015)

: Bening Irhamna

(1102013057)

Abiyya Farah Putri (1102013003)


Amirtha Mustikasari

(1102013022)

Ayuningtyas Tri Handini (1102013050)

Dharmaning Estu Wirastyo

Elisa Rosani (1102012074)

Intan Marsela

Jajang Permana Subhan (1102012136)

(1102013136)

Lathifa Nabilahsari

Luvianti

(1102013081)

(1102013154)

(1102013158)

SASARAN BELAJAR

SASARAN BELAJAR

1.

Memahami dan Menjelaskan Anatomi Kulit

2.

Memahami dan Menjelaskan Fungsi Kulit

3.

Memahami dan Menjelaskan Etiologi dan Patofisiologi Infeksi Jamur

4.

Memahami dan Menjelaskan Tanda dan Gejala

5.

Memahami dan Menjelaskan Diagnosis dan Diagnosis Banding

6.

Memahami dan Menjelaskan Pemeriksaan Penunjang

7.

Memahami dan Menjelaskan Tatalaksana

8.

Memahami dan Menjelaskan Cara Menjaga Kesehatan Kulit Menurut


Pandangan Islam

LI 1 Anatomi kulit

Terdiri dari epidermis, dermis, dan hipodermis

Kulit
Berdasarkan tebal tipisnya lapisan epidermis :

Kulit tebal : epidermis dapat dibedakan atas 5 lapisan

Kulit tipis : stratum korneum terdiri dari beberapa lapis zat


tanduk tipis, stratum lusidum tidak terlihat, stratum granulosum
hanya terdiri dari satu sel, stratum spinosum tidak terlalu lebar,
stratum germanitivum sama tebalnya dengan kulit tebal

Epidermis

Epitel berlapis gepeng dengan lapisan tanduk

Mempunyai 4 macam sel :Keratinosit, melanosit, sel langhans dan sel merkel

Terbagi atas 5 lapisan: stratum korneum,stratum lusidum, stratum granulosum,


stratum spinosum, stratum basale

Lapisan
epidermis

Disusun oleh

Protoplasma

Stratum
korneum

Sel gepeng yang Berubah


mati dan tidak menjadi keratin
berinti

Stratum
lusidum

Lapisan
sel Berubah
gepeng tanpa inti menjadi protein
(eleiden)

Stratum
granulosum

2 atau 3 lapis sel Berbutir kasar gepeng, berinti


yang terdiri dari
atas
keratohialin

Stratum
spinosum

Terdiri
dari sel Protoplasmanya +
polygonal, berinti jernih
karena
mengandung
glikogen

Stratum basale sel sel kuboid, basofilik


berinti

Mitosis
-

Dermis

Merupakan lapisan dibawah epidermis.

Terdiri dari jaringan ikat yang terdiri dari 2 lapisan :

Lapisan
dermis

Letak

Kandungan

Stratum
papilare

Menonjol ke Berisi ujung serabut saraf dan


epidermis
pembuluh darah

Stratum
retikulare

Menonjol ke serabut-serabut
penunjang
subkutan
(kolagen, elastin, retikulin),
matiks (cairan kental asam
hialuronat
dan
kondroitin
sulfat serta fibroblas)

Derivat epidermis pada


dermis
1.

Folikel rambut

2.

Kelenjar keringat

Kelenjar merokrin
.

terdapat disemua kulit

Melepaskan keringat sebgai reaksi penngkatan suhu lingkungan dan suhu tubuh.

Kecepatan sekresi keringat dikendalkan oleh saraf simpatik.

Kelenjar Apokrin
.

Terdapat di aksil, anus, skrotum, labia mayora, dan bermuara pada folikel rambut

Kelenjar ininaktif pada masa pubertas,pada wani a akan membesar dan berkurang pada siklus
haid

3. Kelenjar sebacea
Berfungsi mengontrol sekresi minyak ke dalam ruang antara folikel rambut dan batang rambut
yang akan melumasi rambut sehingga menjadi halus lentur dan lunak

Hipodermis
Suatu

lapisan jarigan penyambung jarang tipe areolar ataupun


adiposa, yang berfungsi memudahkan mobilitas kulit diatas
permukaan tubuh

Rambut
Mrpkn benang keratin
Berasal dari invaginasi epidermis
Terdapat pada seluruh tubuh, kecuali : Telapak tangan dan kaki,
Permukaan dorsal falang distal, Sisi jari tangan dan kaki, Merah
bibir, Glans penis, Lubang dubur, Klitoris, Labia minor, Permukaan
dalam labia mayor

Rambut

Rambut tersusun atas 3 lapisan konsentris :


1.

Medula

2.

Korteks

3.

kutikula

LI 2 Memahami dan Menjelaskan Fungsi Kulit


1.

Proteksi terhadap gangguan fisis, mekanis, kimiawi dll

2.

Absorbsi

3.

Eksreksi

4.

Persepsi

5.

Pengaturan suhu tubuh

6.

Pembentukan pigmen

7.

Keratinisasi

8.

Pembentukan Vitamin D dengan bantuan sinar matahari

1.3 Etiologi dan Patofisiologi

Mikosis :
1.Profunda
2.Superficial
mikosis profunda : adalah penyakit yang disebabkan oleh jamur dengan
gejala klinis tertentu di bawah kulit misalnya traktus intestinalis, traktus
respiratorius, traktusurogenital, susunan kardiovaskular, susunan saraf
sentral, otot, tulang, dan kadang kulit
mikosis superficial : adalah penyakit jamur yang disebabkan oleh jamur
yang hanya menginvasi jaringan superfisialis yang terkeratinisasi (kulit,
rambut dan kuku) dan tidak ke jaringan yang lebih dalam, dan mempunyai
dua golongan yaitu dermatofitosis dan non-dermatofitosis, dermatofitosis
mempunyai enzim yang dapat mencerna keratin.

Mikosis profunda :
1. misetoma : disebabkan oleh jamur Acitnomycetes dan Nocardia.
2. Sporotrikosis : disebabkan oleh jamur Sporotrichium schenkii.
3. Kromomikosis : disebabkan oleh jamur yang berwarna.
4. Zigomikosis, Fikomikosis, Mukormikosis : Penyakit jamur ini
terdiri atas berbagai
infeksi yang disebabkan oleh bermacam-macam
jamur pula yang
taksonominya dan peranannya masih
didiskusikan.Zygomycetes meliputi
banyak genera yaitu:Mucor,
Rhizopus, Absidia,Mortierella, dan Cunninghamella.

Mikosis Superficial
A. NON DERMATOFITOSIS :
TINEA VERSICOLOR
Tinea versikolor/Pityriasis versikolor adalah infeksi ringan yang sering terjadi disebabkan oleh
Malasezia furfur.
PIEDRA
Merupakan infeksi jamur pada rambut sepanjang corong rambut yang memberikan benjolan-benjolan
di luar permukaan rambut tersebut.
Terdiri dari dua macam :
Piedra putih : penyebabnya adalah Piedraia beigeli .
Piedra hitam : penyebabnya adalah Piedraia horlal.
OTOMIKOSIS
Otomikosis adalah infeksi jamur pada liang telinga bagian luar. Penyebab biasanya jamur
kontaminasi yaitu Aspergillus, sp Mukor dan Penisilium.
TINEA NIGRA
Tinea nigra ialah infeksi jamur superfisialis yang biasanya menyerang kulit telapak kaki dan tangan
dengan memberikan warna hitam sampai coklat pada kulit yang terserang.Penyebabnya adalah
Kladosporium wemeki dan jamur ini banyak menyerang anak-anak dengan higiene kurang baik dan
orang-orang yang banyak berkeringat.

B. DERMATOFITOSIS :
Dermatofitosis disebabkan jamur golongan dermatofita yang terdiri dari tiga genus
yaitu genus: Mikrosporon, Trikofiton dan Epidermofiton
pembagian dermatofitosis sebagai berikut :
1. Tinea kapitis : bila menyerang kulit kepala clan rambut .
2. Tinea korporis : bila menyerang kulit tubuh yang berambut (globrous skin).
3. Tinea kruris : bila menyerang kulit lipat paha, perineum, sekitar anus dapat meluas sampai ke
daerahgluteus, perut bagian bawah .
4. Tinea manus dan tinea pedis : Bila menyerang daerah kaki dan tangan, terutama telapak tangan
dan kaki serta sela-selajari.
5. Tinea Unguium : bila menyerang kuku .
6. Tinea Barbae : bila menyerang daerah dagu, jenggot, jambang dan kumis.
7. Tinea Imbrikata : bila menyerang seluruh tubuh dengan memberi gambaran klinik yang khas.

PATOFISIOLOGI
Cara penularan jamur dapat secara angsung maupun tidak langsung.
Penularan langsung dapat secara fomitis, epitel, rambut yang mengandung jamur baik dari manusia,
binatang, atau tanah.Penularan tidak langsung dapat melalui tanaman, kayu yang dihinggapi jamur,
pakaian debu.Agen penyebabjuga dapat ditularkan melalui kontaminasi dengan pakaian, handuk atau
sprei penderita atau autoinokulasi dari tinea pedis, tinea inguium, dan tinea manum.
1. Jamur ini menghasilkan keratinase yang mencerna keratin, sehingga dapat memudahkan invasi ke
stratum korneum.
2. Infeksi dimulai dengan kolonisasi hifa atau cabang-cabangnya didalam jaringan keratin yang mati.
3. Hifa ini menghasilkan enzim keratolitik yang berdifusi ke jaringan epidermis dan menimbulkan
reaksi peradangan.
4. Pertumbuhannya dengan pola radial di stratum korneum menyebabkan timbulnya lesi kulit dengan
batas yang jelas dan meninggi (ringworm).
5. Reaksi kulit semula berbentuk papula yang berkembang menjadi suatu reaksi peradangan.

Beberapa faktor yang berpengaruh terhadap timbulnya kelainan di kulit adalah:


1. Faktor virulensi dari dermatofita
Virulensi ini bergantung pada afinitas jamur apakah jamur antropofilik, zoofilik, geofilik. Selain afinitas
ini massing-masing jamur berbeda pula satu dengan yang lain dalam hal afinitas terhadap manusia
maupun
bagian-bagian
dari
tubuh
misalnya:Trichopyhton
rubrumjarang
menyerang
rambut,Epidermophython fluccosumpaling sering menyerang liapt paha bagian dalam.
2. Faktor trauma
Kulit yang utuh tanpa lesi-lesi kecil lebih susah untuk terserang jamur.
3. Faktor suhu dan kelembapan
Kedua faktor ini jelas sangat berpengaruh terhadap infeksi jamur, tampak pada lokalisasi atau lokal,
dimana banyak keringat seperti pada lipat paha, sela-sela jari paling sering terserang penyakit jamur.
4. Keadaan sosial serta kurangnya kebersihan
Faktor ini memegang peranan penting pada infeksi jamur dimana terlihat insiden penyakit jamur pada
golongan sosial dan ekonomi yang lebih rendah sering ditemukan daripada golongan ekonomi yang
baik.
5. Faktor umur dan jenis kelamin.

LI.4. TANDA DAN GEJALA


Tinea kapitis

Tinea barbae

1.
2.
3.
4.

Non-inflamasi atau gray patch


Black dot
Kerion
Favus

1. Rambut dapat rontok dan patah


2. eksudat, pus dan krusta menutupi
permukaan kulit (kerion celsi).
3. Rambut mudah dicabut dan tidak sakit.
4. Demam dan malaise jarang terjadi

Tinea unguium

Tinea kruris

1. Ruam kulit (polimorfi) dengan bagian tepi


lebih aktif dan bagian tengah lebih tenang
2. disertai rasa gatal

1. Mula mula lesi ini berupa bercak eritematosa dan


gatal, yang lama kelamaan meluas sehingga dapat
meliputi, skrotum, pubis, glutea bahkan sampai
paha.
2. Tepi lesi aktif, polisiklis, ditutupi skuama, dan kadang
kadang disertai dengan banyak papul eritema dan
vesikel kecil kecil.
3. Pada bentuk kronis, lesi kulit hanya berupa bercak
menebal hiperpigmentasi dengan sedikit skuama.
4. Erosi dan keluarnya cairan biasanya akibat garukan.

Tinea pedis
et manum

Tinea Korporis

1. Interdigitalis : Diantara jari 4 dan 5 terlihat fisura yang


dilingkari
sisik halus dan tipis. kulit putih dan rapuh Dapat disertai infeksi
sekunder oleh bakteri sehingga terjadi selulitis dan lain-lain
2. Moccasin foot : Pada seluruh kaki, dari telapak kaki, tepi sampai
punggung kaki, terlihat kulit menebal dan bersisik halus dan seperti
bedak. Eritema ringan dan terlihat pada bagian tepi lesi Tepi lesi dapat
dilihat papul dan kadang-kadang vesikel
3. Vesikobulosa : Diameter vesikel lebih besar dari 3mm. Vesikel pustul
atau bula pada kulit tipis ditelapak kaki dan area periplantar.
4. Tipe akut ulserasi : telapak kaki dan terkait dengan maserasi dan
kerusakan kulit. vesikel pustul dan ulkus bernanah yang besar.

1. lesi bulat atau lonjong dengan tepi yang aktif kearah luar,
bercak-bercak
dapatmelebar
memberi
gambaran
yang
polisiklik,arsinar,dan sirsinar.
2. Pada bagian pinggir ditemukan lesi yang aktif yang ditandai
dengan eritema, adanya papul atau vesikel, pada bagian tengah
lesi relatif lebih tenang
3. Gejala subyektif yaitu gatal, dan terutama jika berkeringat dan
kadang-kadang terlihat erosi dan krusta akibat garukan

1.5 Diagnosis dan DD

VII.DIAGNOSIS BANDING
vCandidosis intertriginosa
Kandidosis adalah penyakit jamur yang disebabkan oleh spesies Candida biasanya oleh Candida
albicans. Lesi pada penyakit yang akut mula-mula kecil berupa bercak yang berbatas tegas, bersisik,
basah, dan kemerahan. Kemudian meluas, berupa lenting-lenting yang dapat berisi nanah berdinding
tipis, ukuran 2-4 mm, bercak kemerahan, batas tegas,
vErytrasma
Erytrasma adalah penyakit bakteri kronik pada stratum korneum yang disebabkan oleh
Corynebacterium minitussismum, ditandai lesi berupa eritema dan skuama halus terutama di daerah
ketiak dan lipat paha
vPsoriasis
Psoriasis adalah penyakit yang penyebabnya autoimun, bersifat kronik dan residif, ditandai dengan
adanya bercak-bercak eritema berbatas tegas dengan skuama yang kasar, berlapis-lapis dan
transparan, disertai fenomena tetesan lilin, Auspitz, dan Kobner. Tempat predileksi pada skalp,
perbatasan daerah tersebut dengan muka, ekstremitas ekstensor terutama siku serta lutut dan daerah
lumbosakral.

vDermatitis Seboroik
Dermatitis Seboroik merupakan penyakit inflamasi konis yang mengenai daerah kepala dan badan.
Kelainan kulit berupa eritema dan skuama yang berminyak dan agak kekuningan dengan batas kurang

LI. 6 Memahami dan Menjelaskan


Pemeriksaan Penunjang

Untuk infeksi pada jamur ada beberapa metode seperti


pemeriksan mikroskopis dengan KOH 20%, pemeriksaan
histopatologi dengan pewarnaan PAS (Periodic acid schiff),
pemeriksaan mikroskopik imunoflouresens dengan pewarnaan
calcoflour, pemeriksaan PCR (Polimerase Chain Reaction) dan
metode kultur. Namun pemeriksaan yang biasanya tersedia
dalam praktik klinis sehari-hari adalah pemeriksaan KOH 20%,
metode pewarnaan PAS dan kultur, sedangkan untuk metode
lainnya dapat digunakan saat dalam penelitian, dan lain-lain.

PEMERIKSAAN KOH ( PEMERIKSAAN DENGAN SEDIAAN BASAH )

Pengambilan sampe

Pembuatan sediaan

Pemeriksaan

PEMERIKSAAN KULTUR DENGAN


SABOURAUD AGAR
Pemeriksaan
ini
dilakukan
dengan
menanamkan bahan klinis pada medium
saboraud dengan ditambahkan chloramphenicol
dan cyclohexamide (mycobyotic-mycosel) untuk
menghindarkan kontaminasi bakterial maupun
jamur kontaminan. Perbenihan pada suhu 2430C. Pembacaan diakukan dalam waktu 1-3
minggu. Koloni yang tumbuh diperhatikan
mengenai warna, bentuk, permukaan dan ada
atau tidaknya hifa.

BIOPSI
Dapat digunakan untuk membantu
menegakkan diagnosis namun sensitifitasnya
dan spesifisitasnya rendah.
Pengecatan dengan Peridoc AcidSchiff
Pengecatan dengan (hematoxylin and eosin
stain , jamur akan tampak merah muda atau
menggunakan pengecatan methenamin
silver, jamur akan tampak coklat atau hitam
(Wiederkehr, Michael.2008).

Pemeriksaan Reaksi Imunologis

Dengan menyuntikan secara intrakutan semacam antigen yang dibuat dari koloni jamur,
reaksi (+) berarti infeksi oleh jamur (+), misalnya:
a. Reaksi trikofitin
Antigen yang dibuat dari pembiakan trikofitosis. Bila (+) berarti ada

Infeksi trikofiton.

b. Reaksi histoplasmin
Antigen yang dibuat dari pembiakan Histoplasma. Bila (+) berarti infeksi

Histoplasma (+)

c. Reaksi sporotrikin
Antigen dibuat dari koloni Sporotricium schenkii. Bila (+) berarti infeksi
sporotrikum

oleh spesies

Pemeriksaan Sinar Wood


Sinar Wood adalah sinar ultraviolet yang setelah melewati suatu saringan wood, sinar yang
tadinya polikromatis menjadi monokromatis dengan panjang gelombang 3600 A.
Bila sinar ini diarahkan ke kulit atau rambut yang mengalami infeksi oleh jamur-jamur
tertentu, sinar ini akan berubah menjadi dapat dilihat, dengan memberi warna kehijauan atau
fluoresensi.

L.I 7 Memahami dan


menjelaskan tatalaksana
infeksi jamur

Farmakologi

Simtomatis: Antihistamin contoh: CTM

Etiologi: -Topikal
- Oral

Topikal

Ketokonazol
Sediaan krim 2% dan sampo 2%

Mikonazol
Indikasi: dermatofitosis, tinea versikolor dan kandidiasis mukokutan
Sediaan krim 2% dan bedak tabur digunakan 2x1 selama 2-4 minggu
Krim 2% untuk penggunaan intravaginal 1x1 pada malam hari selama 1 minggu
Gel 2% untuk kandidiasis oral

Tolnaftat 2%, tolsiklat, haloprogin, derivat-derivat imidazol dll

Oral

Golongan Griseofulvin, dosis :


Anak : 10 mg/kgBB/hari (microsize).
5,5 mg/kgBB/hari (ultra-microsize).
Dewasa : 500-1000 mg/hari
Efektif terhadap epidermophyton, tricophyton dan microsporum
Menghambat mitosis sel muda dan mengganggu sintesis asam nukleat

Golongan Ketokonazole, dosis :


Anak : 3-6 mg/kgBB/hari.

Menjaga daerah yang terinfeksi agar tetap kering


dan terhindar dari sumber-sumber infeksi.
Biasanya 10 hari - 2 minggu pada pagi hari setelah makan
Tidak menggunakan peralatan mandi bersamaMenghambat enzim sitokrom P450 pada jamur dan mengganggu
sintesa ergosterol
sama .
Memakai pakaian yang tipis.

Memakai pakaian yang berbahan katun.


Golongan Itrakonazole, dosis :
Tidak memakai pakaian dalam yang terlalu ketat.
Dewasa : 1 tablet (200 mg)/hari.

Non-farmakologi

Anak : 3-5 mg/kgBB/hari.

Komplikasi
Pada penderita Tinea kruris dapat terjadi komplikasi
infeksi sekunder oleh organisme candida atau bakteri.
Pemberian obat steroid topikal dapat mengakibatkan
eksaserbasi jamur sehingga menyebabkan penyakit
menyebar (Wiederkehr, 2012).
Prognosis
Perkembangan penyakit dermatofitosis dipengaruhi
oleh bentuk klinik dan penyebab penyakitnya
disamping faktor-faktor yang memperberat atau
memperingan penyakit. Apabila faktor-faktor yang
memperberat penyakit dapat dihilangkan, umumnya
penyakit ini dapat hilang sempurna.

LI 8 Memahami dan Menjelaskan


Cara Menjaga Kesehatan Kulit
Menurut Pandangan Islam

Perintah menutup aurat

Aurat diambil dari perkataan Arab 'Aurah' yang berarti keaiban.


Manakala dalam istilah fiiah aurat diartikan sebagai bagian tubuh
badan seseorang yang wajib ditutup atau dilindungi dari pandangan.

Perintah menutup aurat telah difirmankan oleh Allah s.w.t dalam


surah al-ahzab ayat 33

Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias


dan bertingkah laku seperti orang-orang jahiliyah yang dahulu dan
dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ta'atilah Allah dan Rasul-Nya.
Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari
kamu dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.

Manfaat Menutup Aurat

Selamat dari adzab Allah (adzab neraka)


Terhindar dari pelecehan

Islam telah menggariskan batasan aurat pada lelaki dan wanita.Aurat asas pada lelaki adalah
menutup antara pusat dan lutut. Manakala aurat wanita pula adalah menutup seluruh badan
kecuali muka dan tapak tangan.
1. Aurat Ketika Sembahyang
Aurat wanita ketika sembahyang adalah menutup seluruh badan kecuali muka dan tapak
tangan.
2. Aurat Ketika Sendirian
Aurat wanita ketika mereka bersendirian adalah bahagian anggota pusat dan lutut. Ini bererti
bahagian tubuh yang tidak boleh dilihat antara pusat dan lutut.
3. Aurat Ketika Bersama Mahram
Pada asasnya aurat seseorang wanita dengan mahramnya adalah antara pusat dan lutut. Walau
pun begitu wanita dituntut agar menutup mana-mana bahagian tubuh badan yang boleh
menaikkan syahwat lelaki walaupun mahram sendiri.

DAFTAR PUSTAKA

Baligni K, Vardi VL, Barzegar MR et al. Extensive tinea corporis with photosensivity.: case report.
Indian J. Dermatol 2009,54:57-59

Budimulja, Unandar. 2010. Mikosis (Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin Ed.6 p.89-105). Jakarta: Badan
Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.

Bennet, J.E.: Antumicrobial agents; in: Goodman & Gilmans. Brunton, L.L: Lazo, J.S. and Parker, K.L:
The Pharmacological Basis of Therapeutics; 11th ed.pp. 1232 (McGraw-Hill, Medical Publishing
Division, New York 2006)

Nasution MA, Muis Kamaliah, Juwono, dkk. Diagnosis dan penatalaksanaan dermatofitosis. Cermin
Dunia Kedokteran, edisi khusus 1992, 80:116-118

Siregar, R.S,Sp.KK. 2002. Penyakit Jamur Kulit Edisi 2. Jakarta: Buku Kedokteran EGC

http://www.bekamhijamah.com/index.php?
Sehat_secara_Islam_dengan_dr.Aldjoefrie:Menjaga_kesehatan_kulit_badan_dan_wajah_dengan_siste
m_Islam