Anda di halaman 1dari 46

2016

Air Quality Modelling

~Week 8&9~
MK. PEMODELAN LINGKUNGAN

Air Pollution Modelling


Pemodelan pencemaran udara adalah penggambaran
proses pencemaran udara beserta hubungan antar
komponen/variabel pembentuknya dengan
menggunakan representasi logika dan matematika.
Model pencemaran udara menggunakan matematika
dan teknik-teknik numerik untuk mensimulasikan
proses fisik dan kimia yang mempengaruhi polusi
udara saat mereka terdispersi dan bereaksi di atmosfer.
Model dirancang mulai dari yang sederhana (polutan
utama saja) sampai yang kompleks (+polutan sekunder
yang terbentuk sebagai hasil reaksi kimia yang
kompleks dalam atmosfer).

TUJUAN
Pemodelan Pencemaran Udara
Memprediksi konsentrasi polutan di ambien sekitar
sumber
Identifikasi kontribusi sumber pada problem kualitas
udara
Assesmen pada impact dan membuat rencana
pengendalian strategis atau membuat regulasi baru
Memperkirakan konsentrasi polutan dari sumber setelah
diterapkan program/regulasi baru.

MANFAAT
Pemodelan Pencemaran Udara
Sebagai bagian dari sistem manajemen kualitas udara untuk
mengendalikan pencemaran udara
Mengidentifikasi sumber masalah pencemaran udara
Membantu dalam merancang strategi yang efektif untuk
mengurangi pencemar udara yang membahayakan
Membantu dalam proses perizinan untuk memverifikasi bahwa
sumber baru tidak akan melebihi standar kualitas udara
ambien
Memprediksi konsentrasi pencemar

Jenis Model Pencemaran


Udara
Pemodelan Dispersi : Mengestimasi konsentrasi
polutan pada reseptor spesifik yang berada
dipermukaan tanah disekitar sumber emisi.
Pemodelan Fotokimia : Mensimulasikan dampak
dari semua sumber dengan memperkirakan
konsentrasi dan deposisi polutan baik inert maupun
kimia reaktif pada skala spasial yang besar.
Pemodelan Reseptor : Mengukur pada sumber
dan reseptor untuk mengidentifikasi kehadiran
partikel pencemar dan untuk mengukur kontribusi
sumber terhadap konsentrasi pencemar yang
terakumulasi di reseptor.

Konsep Pemodelan Kualitas


Udara
Input Data
Konsentrasi
Background
Kondisi
Meteorologi
Sumber Emisi
(laju alir dan
deskripsi teknis)
Pilihan Model
(receptor grid/
parameter
pencemar)
Kondisi topografi
lokal

Pemrosesan
Data
Model dispersi di
atmosfer
Kinetika
transformasi
kimia
Kesetimbangan
atmosfer
Adsorbsi/desorbsi
dsb

Output
Prediksi Polutan
pada Ground
Level

Analisis
Output
Assesmen efek
pada lingkungan
Assesmen efek
pada kesehatan
Impact
Pengelolaan, dsb

Detailed Structure of Atmospheric


Chemical Transport Models

Parameter-parameter dalam
model udara
Sumber (karakteristik emisi)
laju emisi (massa/waktu)
lokasi sumber (koordinat)
temperatur gas emisi (K)
tinggi plume rise (m)

Meteorology

temperatur atmosfer
stabilitas atmosfer (diperlukan untuk menentukan
koefisien dispersi)
kecepatan dan arah angin, turbulensi

Sifat Kimia Atmosfer

reaksi-reaksi kimia di atmosfer


deposisi (basah / kering)

Parameter permukaan
geometri permukaan, kekasaran/terrain, lautan,
daerah kota atau desa

Transport
Pencemaran
Udara

Pengukuran Pergerakan
Udara
Pergerakan udara diamati dengan
pengukuran meteorologi
Pengukuran data meteorologi berdasarkan
waktu:
Sesaat
Kontinu
Pengukuran data meteorologi berdasarkan
lokasi:
Pengukuran oleh fix-station
Data satelit

Bagaimana pencemar udara


bergerak ?

Pergerakan pencemar udara

Adveksi :
pergerakan
horisontal
mengikuti
pergerakan
angin

Diffusi :
pergerakan
vertikal
dan acak
karena
gaya tarik
antar
partikel

Reaksi :
reaksi
kimia
(kering,
basah,
fotokimia)

Deposisi :
jatuhnya
pencemar
udara ke
bumi
akibat gaya
gravitasi
baik
melibatkan
air
(deposisi
basah)
maupun
tidak
(deposisi
kering)

Deposisi basah dan deposisi


kering

Deposisi basah : yang melibatkan hujan, salju ataupun uap air di udara.
Deposisi kering : melalui proses absorpsi atau sedimentasi
gravitasional dengan kontak antara asap dengan permukaan tanah,
vegetasi, maupun permukaan air.
50% melalui mekanisme deposisi kering.

Topografi yang kompleks mempengaruhi


sirkulasi udara lokal

Sea and land breezes


(angin laut dan angin darat)

Model Udara pada Skala


Urban dan Luas
Sekitar 1970 diketahui bahwa polusi
udara bukan hanya fenomena lokal (tidak
cocok didekati dengan model gaussian)
SOx dan Nox di eropa hujan asam
meluas
Ozon dampak kegiatan urban dan
industri
Didekati dengan model Lagrangian dan
Model Eulerian
Lagrangian modeling parsel udara
(puff) mengikuti lintasannya dan
diasumsikan tetap identitasnya selama

Lagrangian Modeling
Diarahkan pada deskripsi transport sulfur
jarak jauh (long-range), dimulai dengan
penelitian Rohde (1972, 1974), Eliassen
(1975) dan Fisher (1975).
Lagrangian modeling digunakan untuk
periode waktu yang lebih panjang
bahkan sampai skala tahunan
Secara umum dipakai di Eropa, fokus
utama pada SO2 yang terdistribusi jauh
dan waktu yang lama
Prinsip : perubahan konsentrasi
dideskripsikan relatif terhadap
pergerakan fluida

Eulerian Modeling
Dimulai dengan studi Reynolds
(1973) untuk ozon di area urban; Shir
and Shieh (1974) untuk SO2 di area
urban, Egan (1976) dan Carmichael
(1979) untuk sulfur skala regional.
Reynolds (1973) Los Angeles,
simulasi fotokimia well-known Urban
Airshed Model-UAM.
Pemodelan Eulerian grid secara luas
diaplikasikan di US, meliputi area
urban dengan fokus utama pada O3.

Prinsip Eulerian Model


Sifat/perubahan spesies dideskripsikan relatif terhadap
sistem koordinat yang tetap (fixed)
Ada dua model Eulerian yang dikembangkan:
Single Box Model
Fokus: Kimia Atmosfer
Kelemahan: tidak ada aspek fisik, seperti transport
horisontal dan vertikal, dan semacamnya.
Multi-dimensional grid-based air quality model
Berpotensi sebagai model udara yang paling baik
Meliputi asumsi-asumsi yang tidak terlalu ketat

Box Model
Single Box

Multi Box

Pertanyaan dasar pemodelan udara


Apakah model kualitas udara tertentu harus
diterapkan?
Bagaimana model tertentu digunakan?
Kapan model tertentu digunakan?
Untuk keperluan apa model tertentu digunakan?

2015

Gaussian

~Week 8~
MK. PEMODELAN LINGKUNGAN

Gaussian Modeling
Persamaan Gauss merupakan persamaan yang
sangat penting dalam pemodelan pencemaran
udara dan merupakan dasar dari hampir semua
program komputer yang dikeluarkan oleh US.
EPA. Untuk model dispersi atmosferik.
Persamaan Gauss memodelkan dispersi untuk
polutan yang nonreaktif untuk suatu sumber
dengan ketinggian tertentu pada kondisi steady
state pada suatu titik (x,y,z) pada arah
downwind dari sumber

PLUME

Macam-Macam Dispersi Stack

Macam Macam Plume

TRAPPED BY MIXED LAYER

Mixed layer

Gaussian Model

Konsep Dispersi Gauss


Dispersi polutan sangat tergantung pada
kondisi meteorologi lokal, seperti:
Arah dan kecepatan angin
Stabilitas atmosfer

Kecepatan angin besar + vertical mixing yang


baik polutan akan terdispersi dengan cepat
konsentrasinya menjadi rendah.
Kecepatan angin rendah + inversi
konsentrasi polutan bisa terakumulasi dan
meningkat.

Konsep Stabilitas Atmosfer


Stabilitas atmosfer menunjukkan kemampuan
atmosfer untuk memungkinkan terjadinya vertical
mixing.
Udara bersifat tidak stabil ketika terjadi vertical
mixing yang baik.
radiasi sinar matahari kuat sampai ke permukaan bumi
permukaan tanah mengabsorbsi energi matahari
permukaan tanah menjadi panas
lapisan udara didekat permukaan tanah ikut panas
panas udara meningkat
terjadi vertical mixing

Kondisi stabil saat permukaan tanah lebih dingin


daripada lapisan udara diatasnya tidak terjadi
vertical mixing.

Stabilitas Pasquill

s
a
t
i
l
i
r
b
e
f
a
s
St m o
t
A

Stability
class

very
unstable
unstable
slightly
unstable
neutral
slightly
Nightstable
stable
Cloud Cover

A
B
C
D

Surface
wind speed
at 10 m
(m/s)

Day
Incoming Solar radiation

Definition

Strong

Moderate

Slight

Thinly
Overcast

Mostly
Cloudy

<2

A-B

2-3

A-B

3-5

B-C

5-6

C-D

Perkiraan Konsentrasi
Sebaran Plume
(Point Source)
C( x, y, z )

exp
2 y z u

1 y

2 y

exp

2

1 zH
zH
exp
z
2 z

Dimana :
C(x,y,z) = konsentrasi polutan (kg/m 3, m3/m3, g/m3) ppb
Q
= laju emisi, g/detik atau g/detik
y & z
= koefisien dispersi horisontal dan vertikal
(merupakan fungsi dari jarak X dan stabilitas
atmofer.
u = kecepatan angin pada ketinggian stack (m/detik)
y = jarak horizontal dari plume centerline (m)
z = jarak vertikal dari ground level (m)
H = tinggi efektif stack
(H = h +h) = dengan h tinggi stack (m) dan h = plume rise
(m)

Penjelasan masing-masing komponen rumus Gaussian


Dispersion
2

Q
y

C ( x, y , z , H )
exp
2

2 u y z
2y

C(x,y,z,H)

( z H )2
( z H )2
exp

exp
2
2
2z
2z

Position of Receptor and Source


Plume dispersion in the centerline

Q
2 u y z
y 2

exp
2 2
y

Plume dispersion in y direction

( z H )2

exp
2 z2

Plume dispersion in the z direction

(z H )2
exp
2 z2

Effect of ground reflection in the z


direction

Perhitungan Plume Rise


menggunakan Persamaan Holland

Vs
D
u
P
Ts
Ta

=
=
=
=
=
=

stack exit velocity (m/detik)


stack diameter (m)
wind speed (m/detik)
pressure (mbar)
stack gas temperature (K)
atmospheric temperature (K)

Menentukan
oefisien dispersi
y

Menentukan
oefisien dispersi
z

Pengaruh Stabilitas Atmosfer pada


Konsentrasi Plume (A)
parameter
wind speed
(from or to
south west)
stack height
h
efective stack
height (He)

unit case 1

m/s
2
m
45
m 90,602
135,60
m
2
Nitroge
parameter
n
polutan (gas) n Oxides
beban
(loading)
g/s 19,834
stabilitas
atmosfer

Case 1 (g/Nm3)

Pengaruh Stabilitas Atmosfer pada


Konsentrasi Plume (B)

parameter
wind speed
(from or to
south west)
stack height
h
efective stack
height (He)

unit case 1

m/s
3
m
45
m
60,401
105,40
m
1
Nitroge
parameter
n
polutan (gas) n Oxides
beban
(loading)
g/s 19,834
stabilitas
atmosfer

Pengaruh Stabilitas Atmosfer pada


Konsentrasi Plume (C)

parameter
wind speed
(from or to
south west)
stack height
h
efective stack
height (He)
parameter
polutan (gas)
beban
(loading)
stabilitas
atmosfer

unit case 1

m/s
m
m
m
n

5
45
36,241
81,241
Nitroge
n
Oxides

g/s

19,834
c

Pengaruh Stabilitas Atmosfer pada


Konsentrasi Plume (D)
parameter
unit
wind speed (from
or to south west) m/s

case 1
7

stack height

45

h
efective stack
height (He)
parameter
polutan (gas)

25,886

70,886
Nitrogen
Oxides

beban (loading)

g/s

stabilitas
atmosfer

19,834
d

Pengaruh Stabilitas Atmosfer pada


Konsentrasi Plume (E)
parameter
wind speed
(from or to
south west)

unit
m/s

stack height

45

h
efective stack
height (He)
parameter
polutan (gas)

36,241

81,241
Nitrogen
Oxides

case 1
5

beban (loading) g/s


stabilitas
atmosfer

19,834
e

Pengaruh Stabilitas Atmosfer pada


Konsentrasi Plume (F)
parameter
wind speed
(from or to
south west)
stack height
h
efective stack
height (He)
parameter
polutan (gas)
beban
(loading)
stabilitas
atmosfer

unit case 1
m/s
m
m
m
n

3
45
60,401
105,401
Nitroge
n
Oxides

g/s

19,834
f

Soal Tugas Pengganti Kuliah 18


Mei 2016

Sebuah cerobong pabrik dengan ketinggian efektif X meter


mengemisikan polutan dengan laju emisi yang tidak diketahui. Pada
jarak 6 km dari lokasi tersebut (y = z = 0) terukur konsentrasi dari
polutan sebesar 10 g/m3. Dengan kondisi stabilitas udara tergolong C
dan kecepatan angin 4 m/detik, hitunglah laju emisi dari polutan
tersebut!

X = 3 digit terakhir NIM dibagi 10, kecuali yang NIMnya 1-10 (tidak
perlu dibagi).
Laju emisi Sulfur Dioksida dari suatu pabrik adalah Y g/detik dengan
tinggi efektif cerobong 60 m. Kecepatan angin sebesar 6 m/detik, dan
stabilitas atmosfer tergolong D. Y = 3 digit terakhir NIM dikali 10,
kecuali yang NIMnya 100 (tidak perlu dikali).
Hitung konsentrasi polutan dalam g/m 3 pada jarak 0,5 km dari
lokasi tersebut! (y=z=0)
Hitung konsentrasi polutan dalam g/m 3 pada jarak 5 km dari lokasi
tersebut! (y=z=0)
Buatlah grafik konsentrasi polutan (g/m 3) dibandingkan dengan
jarak (km).