Anda di halaman 1dari 10

Laboratorium Pengolahan Bahan Galian

Program Studi Teknik Metalurgi


Institut Teknologi Bandung

Laporan Modul VII, MG-2213


Jigging
Mohammad Andi Setianegara (12514035)/I/Rabu, 06-04-2016
Asisten : Muchammad / 12513054

Abstrak Praktikum Modul VII ini berujuan untuk menentukan prinsip serta cara kerja jigging. Selain itu juga
untuk memisahkan mineral berharga yang ada dalam umpan dari mineral pengotor dengan menggunakan Denver
Mineral Jig. Pada percobaan ini digunakan campuran bijih dan kuarsa sebanyak 50 gram. Pertama, bijih
ditimbang sebanyak 50 gram selagi menyiapkan alat jig. Lalu, bijih kemudian dimasukkan ke mulut feeder yang
selanjutnya konsentrat dan tailing akan terpisah dengan sendirinya. Selain itu juga, untuk mempersingkat waktu,
hasil jigging berupa konsentrat dan tailing tidak ditunggu mongering untuk di-grain counting, tetapi asisten
praktikum menyediakan bijih hasil jigging yang telah dikeringkan untuk dilakukan grain counting.
A Tinjauan Pustaka
Jig merupakan salah satu alat pemisahan
yang berdasarkan perbedaan berat jenis, bekrja secara
mekanis yang menggunakan adanya perbedaan
kemampuan menerobos dari butiran yang akan
dipisahkan terhadap suatu lapisan pemisah (bed).
Secara umum jig merupakan suatu tangki terbuka
yang berisi air dengan saringan horizontal terletak
pada bagian atasnya dimana terdapat lapisan
pemisah.
Tangki jig dilengkapi dengan lubang
pengeluaran konsentrat (spigot) pada bagian
bawahnya. Disamping itu jig juga memiliki suatu
mekanisme penyebab terjadinya tekanan (pulsion)
yang diimbangi dengan pemakaian air tambahan.

GAMBAR I
JIG TAMPAK DEPAN

PRINSIP KERJA PROSES JIGGING

Apabila terjadi pulsion maka bed akan


terdorong naik. Sehingga batuan pada lapisan bed
akan merenggang karena adanya tekanan.
Kesempatan ini akan dimanfaatkan oleh mineral
berat untuk menerobos bed masuk ke tangki sebagai
konsentrat sedangkan mineral ringan akan terbawa
oleh aliran horizontal diatas permukaan bed dan akan
terbuang sebagai tailing. Pada saat terjadi suction,
bed menutup kembali sehingga mineral berat
berukuran besar dan mineral ringan berukuran besar
tidak berpeluang masuk ke tangki. Jadi mineral berat
berukuran besar akan mengendap diatas bed untuk
menunggu
kesempatan
pulsion
berikutnya,
sedangkan mineral ringan berukuran besar akan
terbawa aliran arus horizontal.

GAMBAR II
JIG TAMPAK SAMPING PADA SAAT PULSION
GAMBAR III
JIG TAMPAK SAMPING PADA SAAT SUCTION

waktu akhir jatuh, dimana berlaku setelah lapisan bed


menutup pada saat akhir dorongan (pulsion) . Partikel
mineral ringan berukuran besar tidak sanggup
berpindah ke kompartemen berikutnya karena
pengaruh kecepatan yang terjadi pada partikel
mineral tersebut. Sedangkan mineral berat dengan
ukuran kecil mempunyai kesempatan untuk
menerobos celah-celah lapisan bed, karena partikel
tersebut cukup kecil bila dibandingkan dengan
rongga bed. Kondisi seperti inilah yang dikendalikan
dalam Consolidation trickling.
Berdasarkan ketiga faktor pemisahan mineral
dalam jig diatas, maka terjadilah proses pemisahan
mineral yang berbeda berat jenisnya, dalam hal ini
mineral berharga seperti kasiterit, xenotin, monasit,
ilmenit, zircon, Pb dan biji besi dengan mineral
tailing yang berupa kuarsa dan clay. Mineral-mineral
yang berat jenisnya lebih besar baik yang berukuran
kecil maupun besar berada di bawah saringan,
kemudian masuk kedalam tangki dan keluar melalui
spigot sebagai konsentrat. Sedangkan mineral
pengotor atau mineral ringan baik yang berukuran
kecil ataupun besar akan terdorong oleh desakan dari
feed berikutnya dan arus horizontal diatas permukaan
bed dan terbuang sebagai tailing . Apabila ketiga
faktor tersebut disatukan maka proses tersebut
dinamakan ideal jigging process.
Berdasarkan jumlah kompartemennya jig
dapat dibagi menjadi beberapa tipe, antara lain :
- tipe 1x2
- tipe 2x2
- tipe 1x3
- tipe 2x3

GAMBAR IV
JIG TAMPAK ATAS DIAFRAGMA PADA SAAT PULSION DAN
SUCTION

Pada pemisahan partikel mineral dalam proses


jigging dipengaruhi tiga faktor, antara lain :
a.
Differential acceleration
Differential acceleration merupakan faktor
perbedaan kecepatan jatuh partikel mineral ke bed,
karena adanya gerakan yang terjadi pada alat jig. Hal
ini akan menyebabkan partikel mineral yang
memiliki berat jenis besar akan memiliki kecepatan
jatuh yang lebih besar.
b. Hinderet setting
Hinderet setting adalah faktor kerapatan
batuan pada lapisan bed, faktor dimana kecepatan
jatuh setelah mineral mencapai kecepatan akhir atau
setelah mengendap pada bed, dimana partikel mineral
terangkat dan turun pada saat terjadi pulsion dan
suction mengalami kesulitan untuk melalui media
pemisah di dalam jig. Jadi dapat dikatakan faktor
pengaturan kerapatan bed.
c. Consolidation trickling
Consolidation trickling adalah faktor atau
cara pengaliran campuran partikel mineral pada

Gambar V (JIG 1X2 CELL)

Gambar VI (JIG 2X2 CELL)

Gambar VII (JIG 1x3 CELL)

Gambar VIII (JIG 2X3 CELL)


PARAMETER PADA PROSES JIGGING

Pada proses pemisahan dengan menggunakan


alat jig, terdapat beberapa parameter yang
mempengaruhi efektifitas kerja jig. Adapun
parameter yang mempengaruhi proses pemisahan
tersebut antara lain :
a.
Amplitudo membran atau frekuensi stroke
Amplitudo membran adalah jarak yang
ditempuh oleh torak atau membran dari awal
dorongan (pulsion) hingga akhir hisapan (suction),
sedangkan frekuensi stroke merupakan banyaknya
dorongan per menit. Bila jumlah (rpm) pukulan besar,
maka panjang langkahnya (amplitudo) lebih pendek
demikian sebaliknya.
Amplitudo membrane dan frekuensi stroke
ini akan berpengaruh kepada kecepatan aliran vertical
ke atas dimana kecepatannya tidak boleh lebih besar
dari pada kecepatan jatuh partikel. Apabila hal ini
terjadi maka akan menyebabkan kehilangan mineral
berharga yang mempunyai ukuran butir lebih kecil.
Oleh sebab itu amplitude membrane dan frekuensi
stroke yang digunakan harus disesuaikan dengan
ukuran butir partikel mineral berharga yang ada di
lapangan.
b. Kecepatan aliran horizontal
Kecepatan
aliran
horizontal
adalah
kecepatan air yang mengalir di atas lapisan bed .
Fungsi kecepatan horizontal adalah untuk membawa
material ringan, baik yang berukuran besar ataupun
kecil. Kecepatan aliran horizontal ini sangat
berpengaruh terhadap pengendapan mineral.
c.
Ketebalan bed dan ukuran batu pada
lapisan bed yang digunakan
Bed merupakan bahan padat yang terdiri dari
lapisan batu hematite yang digunakan sebagai media

pemisah mineral berat pada jig. Ketebalan dan


ukuran bed sangat mempengaruhi hasil pemisahan
dan tergantung kepada mineral yang akan
dipisahkan . Semakin tebal dan besar ukuran butir
bed, maka akan semakin sulit kecepatan aliran
vertical ke atas untuk mendorong lapisan bed,
sehingga semakin sedikit partikel mineral berharga
yang mengendap sebagai konsentrat. Sebaliknya
semakin tipis dan kecil ukuran butir bed, maka ada
kemungkinan aliran vertical ke atas akan
melontarkan bed, sehingga ruangan antara bed
menjadi terlalu besar. Hal ini menyebabkan mineral
ringan yang berukuran besar akan menerobos lapisan
bed dan mengendap sebagai konsentrat, sehingga
kadar konsentrat menjadi rendah.
d. Volume air tambahan (Under water)
Selama proses pemisahan berlangsung
dengan baik sesuai rencana, air di dalam tangki ada
yang masuk ada pula yang keluar. Air yang masuk
adalah air yang bercampur bersama feed dan air yang
berasal dari header tank (air tambahan). Sedangkan
air yang keluar adalah air yang keluar bersama-sama
dengan tailing dan air yang keluar melalui spigot
bersama konsentrat.
Volume air tambahan adalah jumlah air yang
dialirkan ke jig yang berguna sebagai air tambahan.
Manfaat air tambahan ini adalah untuk mengimbangi
hisapan, mengimbangi jangan terlalu banyaknya
aliran air diatas jig yang menuju ke dasar dapat
terjadi apa yang dinamakan gerak pulsasi (gerakan
ketas dan hisapan ke bawah) dan menggantikan air
yang keluar melalui lubang spigot.
e.
Ukuran lubang spigot
Lubang spigot adalah suatu lubang yang
berfungsi sebagai tempat keluarnya konsentrat hasil
pemisahan. Besarnya ukuran lubang spigot ini akan
mempengaruhi volume air yang terdapat dalam
tangki jig. Apabila ukuran lubang spigot terlalu besar,
maka volume air yang keluar melalui lubang spigot
akan menjadi besar. Hal ini akan mengakibatkan
tangki jig menjadi kosong, dan jig akan mengalami
kekurangan air. Untuk menjaga keseimbangan air
didalam jig, maka ukuran lubang spigot diusahakan
sekecil mungkin. Hali ini bertujuan agar pada proses
pemisahan berikutnya tidak terjadi kelebihan air dan
pemakaian air tambahan dapat terjaga.
f. Feeding dan proses padatan
Feeding adalah proses pemasukan bahan
baku campuran mineral baik bijih berharga atau
mineral lainnya dengan mengalir kepermukaan jig,
yang disesuaikan dengan kapasitas alat pencucian.
Distribusi feed dipermukaan jig harus diatur dengan
baik agar proses jigging dapat berjalan dengan
sempurna.
Penyebaran dan kekentalan (proses padatan)
feed yang masuk kepermukaan jig perlu diperhatikan.

Penyebaran feed yang tidak merata mengakibatkan


terjadinya penumpukan dan kelebihan beban yang
terlalu besar yang diterima oleh permukaan jig. Feed
yang terlalu kental akan menyebabkan penumpukan
dan kecepatan aliran kecil, sebaliknya feed yang
terlalu encer akan menyebabkan kecepatan aliran
yang besar sehingga banyak mineral berharga yang
hilang sebagai tailing.
g. Motor jig
Motor jig merupakan motor penggerak
stroke yang menyebabkan terjadinya pulsion dan
suction pada proses pemisahan. Penentuan daya atau
HP motor yang digunakan berdasarkan beban yang
akan didorong pada saat pulsion, jumlah putaran gear
box dan panjang pukul motor yang digunakan.
h. Jig screen
Jig screen merupakan saringan yang terbuat
dari kawat (ketebalan kawat 1,5 mm) yang dipasang
diantara rooster bawah dan rooster atas. Posisi
pemasangan jig screen berpengaruh terhadap jumlah
dan luas lubang bukaan jig screen tersebut.
i. Kecepatan aliran didalam jig tank
Kecepatan aliran didalam tangki jig
berpengaruh terhadap proses pengendapan mineral
berharga. Apabila kecepatan aliran vertikal keatas
akibat pulsion lebih besar dari kecepatan jatuh butir
mineral berharga, maka mineral berharga tidak
memiliki kesempatan untuk turun mengendap sebagai
konsentrat. Sebaliknya jika kecepatan aliran vertikal
ke atas terlalu kecil maka kadar konsentrat akan
menjadi rendah. Hal ini disebabkan karena mineral
pengotor yang kecepatan jatuhnya juga kecil akan
turun sebagai konsentrat.
j. Kemiringan jig
Kemiringan jig berpengaruh terhadap
kecepatan aliran horizontal pada kondisi yang stabil,
dengan perbandingan kemiringan jig 1:12, dalam
artian bila kemirinagan jig ditambah satu derajat
maka kecepatan akan bertambah dua belas kali dari
kecepatan pada posisi jig yang datar.

47

40

46

41

39

18

213

42

41

44

39

39

25

205

83

629

Jumlah

2.

Konsentrat (Berat = 24 gram)


I

II

III

IV

Jumlah

No
H

15

17

10

37

16

11

24

37

50

56

102

89

Jumlah

3.
N
o

Tailing (Berat = 33.4 gram)


I

II
P

III
P

IV
P

H
2

30

1
5

20

42

2
0

22

Jumlah
P
5
2
4
2
0

Jumlah

Keterangan:
H = Hitam
P
= Putih

H
1
8
1
6
1
4
4
8

P
59
97
68
22
4

= Kasiterit
= Kuarsa

C. Pengolahan Data
1. Langkah Kerja
Siapkan bijih kasiterit
sebanyak 50 gram

Nyalakan denver mineral


jig

Masukkan bijih melalui


mulut umpan

Tampung hasil jigging


berupa konsentrat dan
tailing

2.
B. Data Percobaan
1. Umpan (Berat = 50 gram)
No
1

II

III

IV

Rumus Dasar
a.
Kadar kasiterit

Kadar kasiterit (dalam )=

Jumlah

23

45

38

47

37

44

40

211

b.

Recovery:

nkasiterit kasiterit
n kuarsa kuarsa +n kasiterit kasite

Recovery=

Dengan
c
= Kadar (assay) kasiterit di dalam
konsentrat
f
= Kadar (assay) kasiterit di dalam
feed
t
= Kadar (assay) kasiterit di dalam
tailing
c. Kriteria konsentrasi

Kriteria konsentrasi=

3.

36.472 %

c( f t)
Cxc
x 100 =
x 100
Fxf
f ( ct)

berat media
ringan media

Perhitungan
a. Berat Umpan = 50 gram
Ukuran butiran
= -100 mesh
Kadar kasiterit
kasiterit = 7 gr/cm3
kuarsa = 2,65 gr/cm3
Kadar kasiterit dalam umpan

nkasiterit kasiterit
100
nkuarsa kuarsa +n kasiterit kasiterit

83 x 7 .1
x 100
83 x 7 .1+ 629 x 2,65

26,119 %
Kadar kasiterit dalam konsentrat

nkasiterit kasiterit
100
nkuarsa kuarsa +n kasiterit kasiterit

102 x 7 .1
x 100
102 x 7 .1+89 x 2,65

75.433 %
Kadar kasiterit dalam tailing

nkasiterit kasiterit
100
nkuarsa kuarsa +n kasiterit kasiterit

48 x 7 .1
x 100
48 x 7 .1+224 x 2,65

b.Recovery

c ( f t )
x 100
f ( ct )

0,75433 ( 0,261190,36472 )
x 100
0,26119 ( 0,754330,36472 )

76,743
c.

Kriteria Konsentrasi

Kriteria konsentrasi=
d.

7.11
=3.696
2.651

Berat Air
Konsentrat 3x lebih kering dibanding tailing
Berat air = Konsentrat + Tailing Feed = 7.4
gram
i. Konsentrat
Wair = x 7.4 = 1.85 gram
ii. Tailing
Wair = x 7.4=5.55 gram

D. Analisa Hasil Percobaan


Mineral kassiterit dan kuarsa ingin
dipisahkan melalui melalui metode jigging.
Berdasar hasil pengolahan data, diketahui pada
%recovery dari proses ini sebesar 76.743% yang
dapat diartikan bahwa proses jigging ini cukup
baik. yang cukup besar. Sebenarnya, bijih ini cukup
sulit untuk dipisahkan dengan menghasilkan
%recovery yang tinggi karena kadar dari umpannya
sudah cukup kecil yaitu hanya 26.119% sehingga
kadar kassiterit di konsentrat hanya 75.743%.
Untuk meningkatkan %recovery, terdaat
beberapa factor yang dapat ditentukan yaitu :
1. Laju Pengumpanan
Volume umpan yang dimasukkan harus dalam
laju yang konstan agar tidak mengganggu
proses jigging
2. Ukuran partikel
Makin kecil ukuran partikel, makin efektif. Hal
ini disebabkan karena semakin kecil ukuran
partikel maka kemungkinan lolos dari ragging
akan semakin besar sehingga mempertinggi
perolehan.
3. Tebal aliran / banyaknya pengumpanan

Umpan yang dimasukkan tidak boleh terlalu


banyak yang dapat menimbulkan pengendapan
di atas ragging. Bila terjadi pengendapan di
atas ragging maka akan terjadi penyumbatan
yang mengakibatkan turunnya perolehan.
4. Tebal Ragging
Makin tebal lapisan ragging, maka partikel
pengotor dan mineral yang berukuran besar
akan semakin susah untuk lolos.
5. Hutch water
Siklus yang terjadi pada proses jigging:

2.

3.
Pulsion

Suction

E. Jawaban Pertanyaan dan Tugas


1. Teori pada jigging adalah Jig merupakan salah
satu alat dalam proses pengolahan mineral
yang berfungsi untuk memisahkan mineral
dari pengotor berdasarkan berat jenisnya. Cara
kerja alat jigging adalah motor dinyalakn
terlebih dahulu agar dapat menggerakkan
diafragma. Pada saat feed dimasukkan dengan
laju konstan, diafragma akan naik dan turun
sehingga menimbulkan tekanan pada air
didalam alat jigging. Pada saat diafragma
turun, maka akan menimbulkan tekanan yang
menyebabkan air naik. Pada saat air naik,
partikel yang lebih ringan akan terangkat lebih
tinggi daripada partikel yang lebih berat. Pada
saat diafragma turun, partikel yang lebih
ringan akan terlambat turun dan partikel yang
lebih berat akan turun dengan cepat. Lalu pada
saat melewati ragging, partikel yang lebih
kecil akan tersaring sehingga akan terpisah
antara partikel berat dan partikel ringan.
Partikel berat akan turun melewati ragging dan
menuju hutch sedangkan partikel yang ringan
akan terangkat dan keluar bersama overflow.

4.

Variabel operasinya yaitu ukuran partikel,


volume umpan, tebal aliran, tebal ragging,
hutch water
Panjang Stroke dan frekuensi jigging
berbanding terbalik dengan ukuran umpan.
Bila umpan yang diberikan berukuran besar
maka dibutuhkan gaya yang mengakibatkan
partikel tersebut agar cepat mengendap. Maka
gaya tersebut didapatkan pada saat diafragma
naik atau pada saat suction. Pada saat suction
inilah, partikel yang lebih berat akan
mendapatkan gaya turun yang lebih besar
sehingga cepat mengendap. Sehingga, agar
partikel cepat mengendap dan dapat terpisah
dari partikel yang berdiameter besar yang
ringan, maka frekuensi harus dipercepat. Bila
partikel berukuran kecil, maka frekuensi harus
diperlambat karena bila dipercepat, partikel
yang akan mengendap akan ikut naik lagi
karena gaya dorong saat pulsion,
Selang ukuran umpan yang paling baik dan
effisien untuk jig adalah 1 mm - 450 m.
Aksi siklus jigging meliputi:
a. Feeding
Umpan dimasukkan ke dalam jig
b. Penyaringan
Partikel tersaring oleh alas jig/ragging.
Partikel yang kecil akan lolos dan
partikel yang besar tidak lolos.
c. Pemisahan
Dengan menggunakan media air,
partikel yang berat jenisnya besar akan
mengendap dan partikel yang berat
jenisnya kecil akan terapung dan keluar
bersama overflow

5.

Sketsa alat jigging:

antara mineral berat dan mineral ringan, prinsip


hindered settling (pengendapan sekelompok partikel
yang menjadi satu) dan prinsip interstitial trickling
yaitu partikel kecil lolos diantara partikel besar.
Pada praktikum ini diperoleh konsentrat dengan
kadar kassiterit sebesar 75.433% dan tailing dengan
kadar sebesar 36.472% . %-recovery proses jigging
pada praktikum ini adalah sebesar 76.743%

Feed

Overflow
Ragging

Diafragma

Air
G. Daftar Pustaka
Sanwani, Edy. 2016. Slide Kuliah Pengolahan
Mineral, Departemen Teknik Metalurgi ITB
Hutch

Wills, BA. 1992. Mineral Processing


Technology, 5th edition Pergamon Press Canada.
http://erickalfonsus.blogspot.co.id/2012/01/jigging.ht
ml
diakses pada 15 April 2016

http://www.takraf.tenova.com/en/products/categories/
minerals-processing/
diakses pada 15 April 2016

H. Lampiran
Feeder
: tempat untuk memasukkan feed
Diafragma : bagian yang bergerak naik-turun
dan digerakkan oleh motor berfungsi agar
menggerakkan air naik dan turun
Ragging : saringan yang berupa bola-bola
hematit
Hutch
: tempat mineral yang memiliki
berat jenis yang lebih besar tertampung
Overflow : tempat mineral yang memiliki
berat jenis yang lebih kecil keluar
F. Kesimpulan
Jigging ialah salah satu proses pemisahan
mineral berharga dari mineral pengotor dengan
memanfaatkan perbedataan percepatan pengendapan

Iron ore Jig in India

Umpan
Taling
Konsentrat