Anda di halaman 1dari 6

2.

1 Pengertian Etika
Etika adalah peraturan atau norma yang dapat digunakan sebagai acuan bagi perilaku seseorang
yang berkaitan dengan tindakan yang baik dan buruk yang dilakukan oleh seseorang dan
merupakan suatu kewajiban dan tanggung jawab moral.
Dari konsep pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa etika adalah ilmu tentang kesusilaan
yang menentukan bagaimana sepatutnya manusia hidup di dalam masyarakat yang menyangkut
aturan-aturan atau prinsip-prinsip yang menentukan tingkah laku yang benar, yaitu:
a). Baik dan buruk
b). Kewajiban dan tanggung jawab.
2.2 Kode Etik Keperawatan
Kode etik keperawatan merupakan bagian dari etika kesehatan yang menerapkan nilai etika
terhadap bidang pemeliharaan atau pelayanan kesehatan masyarakat. Kode etik keperawatan di
Indonesia telah disusun oleh Dewan Pimpinan Pusat Persatuan Perawat Nasional Indonesia
melalui Musyawarah Nasional PPNI di Jakarta pada tanggal 29 November 1989.
Kode etik keperawatan Indonesia tersebut terdiri dari 4 bab dan 16 pasal. Bab 1, terdiri dari
empat pasal, menjelaskan tentang tanggung jawab perawat terhadap individu, keluarga, dan
masyarakat. Bab 2 terdiri dari lima pasal, menjelaskan tentang tanggung jawab perawat
terhadap tugasnya. Bab 3, terdiri dari dua pasal, menjelaskan tentang tanggung jawab perawat
terhadap sesama perawat dan profesi kesehatan lain. Bab 4, terdiri dari empat pasal,
menjelaskan tentang tanggung jawab perawat terhadap profesi keperawatan. Bab 5, terdiri dari
dua pasal, menjelaskan tentang tanggung jawab perawat terhadap pemerintah, bangsa, dan
tanah air.
Kode etik keperawatan menurut American Nurses Association (ANA) adalah sebagai berikut.
1.
Perawat memberikan pelayanan dengan penuh hormat bagi martabat kemanusiaan dan
keunikan klien yang tidak dibatasi oleh pertimbangan-pertimbangan status sosial atau ekonomif
atribut personal, atau corak masalah kesehatannya.
2.
Perawat melindungi hak klien akan privasi dengan memegang teguh informasi yang
bersifat rahasia.
3.
Perawat melindungi klien dan publik bila kesehatan dan keselamatannya terancam oleh
praktik seseorang yang tidak berkompeten, tidak etis, atau ilegal.
4.
Perawat memikul tanggung jawab atas pertimbangan dan tindakan perawatan yang
dijalankan masing-masing individu.

5.

Perawat memelihara kompetensi keperawatan.

6.
Perawat melaksanakan pertimbangan yang beralasan dan menggunakan kompetensi dan
kualifikasi individu sebagai kriteria dalam mengusahakan konsultasi, menerima tanggung jawab,
dan melimpahkan kegiatan keperawatan kepada orang lain.
7.

Perawat turut serta beraktivitas dalam membantu pengembangan pengetahuan profesi.

8.
Perawat turut serta dalam upaya-upaya profesi untuk melaksanakan dan meningkatkan
standar keperawatan.
9.
Perawat turut serta dalam upaya-upaya profesi untuk membentuk dan membina kondisi
kerja yang mendukung pelayanan keperawatan yang berkualitas.
10.
Perawat turut serta dalam upaya-upaya profesi untuk melindungi publik terhadap
informasi dan gambaran yang salah serta mempertahankan integritas perawat.
11.
Perawat bekerjasama dengan anggota profesi kesehatan atau warga masyarakat Iainnya
dalam meningkatkan upaya-upaya masyarakat dan nasional untuk memenuhi kebutuhan
kesehatan publik.
12.

Tanggung jawab Keperawatan

Tanggung jawab menunjukkan kewajiban. Ini mengarah kepada kewajiban yang harus dilakukan
untuk menyelesaikan pekerjaan secara professional. Manajer dan para staf harus memahami
dengan jelas tentang fungsi tugas yang menjadi tanggung jawab masing-masing perawat serta
hasil yang ingin dicapai dan bagaimana mengukur kualitas kinerja stafnya. Perawat yang
professional akan bertanggung jawab atas semua bentuk tindakan klinis keperawatan atau
kebidanan yang dilakukan dalam lingkup tugasnya.
Tanggung jawab diperlukan untuk memenuhi kebutuhan dan kinerja yang ditampilkan guna
memperoleh hasil pelayanan keperawatan yang berkualitas tinggi. Yang perlu diperhatikan dari
pelaksanaan tanggung jawab adalah memahami secara jelas tentang uraian tugas dan
spesifikasinya serta dapat dicapai berdasarkan standar yang berlaku atau yang disepakati. Hal ini
berarti perawat mempunyai tanggung jawab yang dilandasi oleh komitmen, dimana mereka harus
bekerja sesuai fungsi tugas yang dibebankan kepadanya tanggung jawab utama perawat adalah
meningkatkan kesehatan, mencegah timbulnya penyakit, memelihara kesehatan, dan
mengurangi penderitaan. Untuk melaksanakan tanggung jawab utama tersebut, perawat harus
meyakini bahwa:
1.

Kebutuhan terhadap pelayanan keperawatan di berbagai ternpat

2.
Pelaksanaan praktik keperawatan dititik beratkan pada penghargaan terhadap kehidupan
yang bermartabat dan menjunjung tinggi hak asasi manusia

3.
Dalam melaksanakan pelayanan kesehatan atau keperawatan kepada individu, keluarga,
kelompok, dan masyarakat, perawat mengikutsertakan kelompok dan instansi terkait.
1.

Hubungan Etika dengan Praktek Keperawatan

Aplikasi dalam praktek klinis bagi perawat diperlukan untuk menempatkan etika, nilai-nilai dan
perilaku kesehatan pada posisinya. Perawat bisa menjadi sangat frustrasi bila membimbing atau
memberikan konsultasi kepada pasien yang mempunyai nilai-nilai dan perilaku kesehatan yang
sangat rendah. Hal ini disebabkan karena pasien kurang memperhatikan status kesehatannya.
Pertama-tama yang dilakukan oleh perawat adalah berusaha membantu pasien untuk
mengidentifikasi etika dan nilai-nilai dasar kehidupannya sendiri.
Perawat memiliki komitmen yang tinggi untuk memberikan asuhan yang berkualitas
berdasarkan standar perilaku etika yang etis dalam praktek asuhan keperawatan. Pengetahuan
tentang perilaku etis dimulai dari pendidikan perawat dan berlanjut pada diskusi formal
maupun informal dengan sejawat. Perilaku yang etis mencapai puncaknya bila perawat
mencoba dan mencontoh perilaku pengambilan keputusan yang etis untuk membantu
memecahkan masalah etika. Dalam hal ini, perawat seringkali menggunakan dua pendekatan
yaitu :
1.

Pendekatan berdasarkan Prinsip

Pendekatan berdasarkan prinsip, sering dilakukan dalam etika untuk menawarkan bimbingan
untuk tindakan khusus. Beauchamp Childress (1994) menyatakan empat pendekatan prinsip
dalam etika antara lain :
1.
Sebaiknya mengarah langsung untuk bertindak sebagai penghargaan terhadap kapasitas
otonomi setiap orang
2.

Menghindarkan berbuat suatu kesalahan

3.
Bersedia dengan murah hati memberikan sesuatu yang bermanfaat dengan segala
konsekuensinya
4.

Keadilan menjelaskan tentang manfaat dan resiko yang dihadapi.

1.

Pendekatan berdasarkan Auhan Keperawatan.

Ketidakpuasan yang timbul dalam pendekatan berdasarkan prinsip dalam etika mengarahkan
banyak perawat untuk memandang care atau asuhan sebagai fondasi dan kewajiban.
Hubungan perawat dengan pasien merupakan pusat pendekatan berdasarkan asuhan, dimana
memberikan langsung perhatian khusus kepada pasien, sebagaimana dilakukan sepanjang
kehidupannya sebagai perawat. Perspektif asuhan memberikan arah dengan cara bagaimana
perawat dapat membagi waktu untuk dapat duduk bersama dengan pasien, merupakan suatu
kewajaran yang dapat membahagiakan bila diterapkan berdasarkan etika.

Karakteristik perspektif dari asuhan menurut Taylor (1993) meliputi :


1.

Berpusat pada hubungan interpersonal dalam asuhan

2.
Meningkatkan penghormatan dan penghargaan terhadap martabat klien atau pasien
sebagai manusia
3.
Mau mendengarkan dan mengolah saran-saran dari orang lain sebagai dasar yang
mengarah pada tanggung jawab profesional
4.
Mengingat kembali arti tanggung jawab moral yang meliputi kebajikan seperti:
kebaikan, kepedulian, empati, perasaan kasih sayang, dan menerima kenyataan.
Dari pernyataan diatas dapat disimpulkan bahwa etika dalam praktek keperawatan sangat
berhubungan penting sebagai dasar atau landsasan yang mengatur bagaimana cara perawat
melakukan asuhan keperawatan berdasarakan etika keperawatan agar dapat melakukan sesuai
konsep dan teori keperawatan.
2.3 Teori Etika Deontologi Dan Teleologi
Etika deontology adalah sebuah istilah yang berasal dari kata Yunani deon yang berarti
kewajiban dan logos berarti ilmu atau teori. Mengapa perbuatan ini baik dan perbuatan itu
harus ditolak sebagai keburukan, deontology menjawab, karena perbuatan pertama menjadi
kewajiban kita dan karena perbuatan kedua dilarang.
Sejalan dengan itu, menurut etika deontologi, suatu tindakan dinilai baik atau buruk berdasarkan
apakah tindakan itu sesuai atau tidak dengan kewajiban. Karena bagi etika deontology yang
menjadi dasar baik buruknya perbuatan adalah kewajiban. Pendekatan deontology sudah
diterima dalam konteks agama, sekarang merupakan juga salah satu teori etika yang terpenting.
Ada tiga prinsip yang harus di penuhi :
1. Supaya tindakan punya nilai moral, tindakan ini harus dijalankan berdasarkan kewajiban.
2. Nilai moral dari tindakan ini tidak tergantung pada tercapainya tujuan dari tindakan itu
melainkan tergantung pada kemauan baik yang mendorong seseorang untuk melakukan
tindakan itu, berarti kalaupun tujuan tidak tercapai, tindakan itu sudah dinilai baik.
3. Sebagai konsekuensi dari kedua prinsip ini, kewajiban adalah hal yang niscaya dari
tindakan yang dilakukan berdasarkan sikap hormat pada hukum moral universal.
Dengan kata lain, suatu tindakan dianggap baik karena tindakan itu memang baik pada dirinya
sendiri, sehingga merupakan kewajiban yang harus kita lakukan. Sebaliknya, suatu tindakan
dinilai buruk secara moral sehingga tidak menjadi kewajiban untuk kita lakukan.Bersikap adil
adalah tindakan yang baik, dan sudah kewajiban kita untuk bertindak demikian.Sebaliknya,
pelanggaran terhadap hak orang lain atau mencurangi orang lain adalah tindakan yang buruk
pada dirinya sendiri sehingga wajib dihindari.
Bagi Kant, Hukum Moral ini dianggapnya sebagai perintah tak bersyarat (imperatifkategoris),

yang berarti hukum moral ini berlaku bagi semua orang padas egalasituasi dan tempat.
Perintah Bersyarat adalah perintah yang di laksanakan kalau orang menghendaki akibatnya, atau
kalau akibat dari tindakan itu merupakan hal yang di inginkan dan di kehendaki oleh orang
tersebut.Perintah Tak Bersyarat adalah perintah yang dilaksanakan begitu saja tanpa syarat
apapun, yaitu tanpa mengharapkan akibatnya, atau tanpa mempedulikan apakah akibatnya
tercapai dan berguna bagi orang tersebut atau tidak.
Dengan demikian, etika deontology sama sekali tidak mempersoalkan akibat dari tindakan
tersebut, baik atau buruk. Akibat dari suatu tindakan tidak pernah diperhitungkan untuk
menentukan kualitas moral suatu tindakan. Hal ini akan membuka peluang bagi subyektivitas
dari rasionalisasi yang menyebabkan kita ingkar akan kewajiban-kewajiban moral.
Teori Etika Teleologi
Adalah Mengukur baik buruknya suatu tindakan berdasarkan tujuan yang mau dicapai dengan
tindakan itu, atau berdasarkan akibat yang ditimbulkan oleh tindakan itu.Teleologi merupakan
sebuah studi tentang gejala-gejala yang memperlihatkan keteraturan, rancangan, tujuan, akhir,
maksud, kecenderungan, sasaran, arah, dan bagaimana hal-hal ini dicapai dalam suatu proses
perkembangan. Dalam arti umum, teleology merupakan sebuah studi filosofis mengenai bukti
perencanaan, fungsi, atau tujuan di alam maupun dalam sejarah. Dalam bidang lain, teleology
merupakan ajaran filosofis-religius tentang eksistensi tujuan dan kebijaksanaan objektif di luar
manusia .
Contoh dari etika teleology :Setiap agama mempunyai tuhan dan kepercayaan yang berbeda beda
dan karena itu aturan yang ada di setiap agama pun perbeda beda .
Dua aliran etika teleologi :
- Egoisme Etis
- Utilitarianisme
* Egoisme Etis
Inti pandangan egoism adalah bahwa tindakan dari setiap orang pada dasarnya bertujuan untuk
mengejar pribadi dan memajukan dirinya sendiri. Seseorang tidak mempunyai kewajiban moral
selain untuk menjalankan apa yang paling baik bagi kita sendiri. Jadi, menurut egoismeetis,
seseorang tidak mempunyai kewajiban alami terhadap orang lain. Meski mementingkan diri
sendiri, bukan berarti egoisme etismenafikan tindakan menolong.Mereka yang egoism etis tetap
saja menolong orang lain, asal kepentingan diri itu bertautan dengan kepentingan orang lain.
Atau menolong yang lain merupakan tindakan efek tif untuk mencip
trakankeuntunganbagidirisendiri. Menolong di siniadalahtindakanberpengharapan,
bukantindakan yang ikhlastanpaberharappamrihtertentu.
2. Utilitarianism: tingkah laku dianggap benar jika dapat bermanfaat kepada kepentingan
publik. Dengan kata lain tingkah laku yang seperti apapun tidak akan dinilai walaupun
tingkah lakunya buruk yang terpenting hanyalah hasil yang dilakukakan untuk publik.

2.4 FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI ETIKA


1.1 Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Pelanggaran Etika :
1. Kebutuhan Individu
2. Tidak Ada Pedoman
3.Perilaku dan Kebiasaan Individu Yang Terakumulasi dan Tak Dikoreksi
4.Lingkungan Yang Tidak Etis
5.Perilaku Dari Komunitas
1.2 Sanksi Pelanggaran Etika :
1. Sanksi Sosial
Skalarela tifkecil, dipahami sebagai kesalahan yang dapat dimaafkan
2. Sanksi Hukum
Skala besar, merugikan hak pihak lain.