Anda di halaman 1dari 31

`

I. K ONSEP DASAR PERILAKU KEORGANISASIAN

1. Pengertian Organisasi dan Unsur-unsurnya


Organisasi adalah suatu system yang terdiri dari pola aktivitas kerjasama yang dilakukan
secara teratur dan berulang-ulang oleh sekelompok orang untuk mencapai suatu tujuan (Indriyo
Gitosudarmo, 1997).
Dari sini dapat dikatakan atau ditunjukkan bahwa organisasi memiliki unsur-unsur.
Unsur-unsur tersebut adalah sebagai berikut:
1). Sistem.
Bahwa organisasi adalah kumpulan dari sub-sub system.
2). Pola Aktivitas
Bahwa didalamnya ada aktivitas-aktivitas yang dilakukan orang yang dilaksanakan secara
relative teratur dan cenderung berulang.
3). Sekelompok Orang.
Organisasi adalah kumpulan orang-orang.
4). Tujuan.
Setiap organisasi didirikan adalah untuk mencapai suatu tujuan.

Lembaga Pendidikan dan Pembinaan Manajemen mendefinisikan organisasi sebagai


kumpulan orang yang mengadakan pembagian pekerjaan yang dikoordinasikan untuk mencapai
tujuan bersama. Dalam pengertian ini mengandung unsur-unsur sebagai berikut:
1). Tujuan yang disepakati oleh anggota-anggota organisasi. Tujuan ini menjadi “jiwa”
organisasi.
2). Proses yang mengubah masukan/sumber daya yang dimiliki menjadi keluaran/hasil
sebagaimana diinginkan.
3). Pembagian pekerjaan di antara anggota. Termasuk di sini adalah pembagian tugas dan
wewenang secara horizontal maupun vertical.
4). Kerjasama dan koordinasi supaya pembagian pekerjaan menjadi efektif dan efisien.

Kehidupan manusia di dunia tidak dapat terlepas dari organisasi. Setiap hari kita
berhubungan dan terlibat dengan organisasi dan hidup kita dipengaruhi dan mempengaruhi
organisasi dalam derajat yang berbeda-beda. Secara sadar kita terlibat dalam organisasi sebagai
siswa, karyawan, anggota gereja, warga negara dll.
Organisasi dapat didefinisikan sebagai suatu kelompok individu yang bekerja sama untuk
mencapai suatu tujuan bersama. Definisi yang lain menyatakan organisasi sebagai kesatuan yang
`
memungkinkan masyarakat mencapai suatu tujuan yang tidak dapat dicapai individu secara
perorangan. Dari dua definisi di atas dapat disimpulkan bahwa organisasi dibentuk ‘by design’
untuk melayani kebutuhan manusia yang tidak dapat dicapai secara individu. Organisasi lebih
dari sekedar alat untuk menyediakan barang dan jasa tetapi juga menyediakan lingkungan di
mana sebagian besar dari kita menghabiskan kehidupan.
Sebuah studi tentang organisasi (termasuk oganisasi misi) terdiri dari individu, kelompok
individu, struktur dan proses organisasi. Gibson, Ivancevich,dan Donnelly menggambarkan
model organisasi sbb:

Perilaku di dalam organisasi: Individu


Perilaku dan perbedaan individu Teori motivasi dan aplikasinya
Imbalan, hukuman, dan disiplin Stress dan individu

Perilaku dalam organisasi: kelompok dan pengaruh antar pribadi


Perilaku kelompok Perilaku antar-kelompok dan penanganan
konflik
Kekuasaan dan politik Kepemimpinan

Struktur organisasi
Desain organisasi Desain pekerjaan

Proses organisasi
Komunikasi Pengambilan keputusan
Evaluasi prestasi kerja Sosialisasi/karier

Semua komponen dari model organisasi di atas menunjukkan bahwa setiap perubahan
variabel dapat mempengaruhi perilaku organisasi dan perilaku individu. Setiap perubahan
pimpinan, perubahan struktur dan proses organisasi dll pasti mempunyai pengaruh dalam
perilaku organisasi. Sebuah organisasi yang baik mempunyai visi dan misi yang jelas. Visi dan
misi ini berfungsi sebagai dasar acuan organisasi untuk mencapai tujuan. Model organisasi di
atas dibangun dengan dasar visi dan misi organisasi.
Organisasi merupakan wadah atau tempat persekutuan dua orang atau lebih manusia yang
melakukan kerjasama untuk mencapai tujuan. Orang mendirikan organisasi karena, banyak
alasan antara lain karena organisasi dapat melakukan suatu kegiatan yang tidak mungkin
dilakukan seorang diri. Organisasi sangat penting dalam kehidupan masyarakat, karena dapat
memberikan berbagai keuntungan maupun dapat memberikan kemudahan dalam pencapaian
`
tujuan secara efektif dan efesien. Disamping organisasi dipandang sebagai wadah, organisasi
juga dapat dipandang sebagai proses manusia untuk berinteraksi dan bereaksi melakukan
berbagai aktifitas masing-masing. Karakteristik penampilan oraganisasi ditentukan oleh
manusianya sendiri, karena manusia dalam organisasi memiliki dua karakter utama, yaitu
perilaku(behavior) dan gaya(style). Dua karakter manusia ini dalam sebuah organisasi sangat
dipengaruhi oleh kejiwaan (psychology) atau roh manusia.
Setiap organisasi dalam menghadapi persaingan yang semakin ketat senantiasa berusaha
untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya. Untuk tidak tergilas dari pesaing organisasi
lainnya maupun karena perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, maka peran dua karakter
manusia tersebut diatas sangat menentukan kekuatan suatu organisasi sebagai berikut :
1. Memisahkan tugas-tugas secara tegas dan jelas setiap anggota organisasi sehingga
pelaksanaannya dapat berhasil guna dan berdaya guna.

2. Memperkenal standar yang harus dipedomani,baik yang berkaitan dengan metode


kerja ,maupun kontrol kerja dalam organisasi.

3. Menetapkan upah atau gaji sebagai rangsangan manusia dalam organisasi secara
adil,sebagai alat pemotivasi untuk berkarya lebih giat lagi.

2. Pengertian Perilaku Keorganisasian

A. Indriyo Gito Sudarmo dan Nyoman Sudita (1997)


Bidang ilmu yang mempelajari tentang interaksi manusia dalam organisasi yang
meliputi studi secara sistematis tentang perilaku struktur dan proses dalam organisasi.
B. Keith Davis dan John Newstrom (1985)
Telaah dan aplikasi pengetahuan tentang bagaimana orang-orang bertindak di
dalam organisasi.
C. Gibson dan kawan-kawan (1996)
Bidang studi yang mencangkup teori, metode dan prinsip-prinsip dari berbagai
disiplin guna mempelajari persepsi individu, nilai-nilai, dan tindakan-tindakan saat
bekerja dalam kelompok dan dalam organisasi secara keseluruhan, menganalisa akibat
lingkungan eksternal terhadap organisasi studinya, misi dna sasaran serta strategi.

D. Stephen P.Robins (2001)


`
Bidang yang menyelidiki pengaruh yang ditimbulkan oleh individu, kelompok dan
struktur terhadap perilaku (manusia) di dalam organisasi dengan tujuan menerapkan
pengetahuan yang dapat untuk meningkatkan efektivitas organisasi.
Kesimpulannya yang dapat diambil dari uraian di muka adalah bahwa perilaku
keorganisasian adalah suatu studi tentang apa yang dikerjakan oleh orang-orang dalam
organisasi dan bagaimana perilaku orang-orang tersebut dapat mempengaruhi kinerja
organisasi dengan bahan kajiannya adalah sikap manusia terhadap pekerjaan, terhadap
rekan kerja, imbalan , kerjasama dan yang lainnya.
E. Fred Luthan
Menurut Fred Luthan, Perilaku organisasi didefinisikan sebagai Studi dan aplikasi
dari pengetahuan tentang bagaimana orang, individu dan kelompok bertindak dalam
organisasi.
“Organizational Behavior (OB) is the study and application of knowledge about how
people, individuals, and groups act in organizations”
Ia menafsirkan hubungan manusia dan organisasi dalam bentuk keseluruhan dari
seorang manusia, Selurh kelompok, dan seluruh organisasi dan seluruh sistim sosial
(system approach). Sikap organisasi sangat penting bagi manajemen sumber daya
manusia, karena sikap ini akan mempengaruhi perilaku –perilaku organisasi. Sikap –
sikap yang berkaitan dengan kepuasan kerja dan memfokuskan pada sikap karyawan
terhadap keseluruhan (Luthan, 1985).

F. Mathis-John H. Jackson,
Perilaku organisasi adalah bagaimana anggota organisasi yakin dan menerima
tujuan organisasional, serta berkeinginan untuk tinggal bersama atau meninggalkan
perusahaan yang tercermin dalam tindak tanduk dalam organisasi tersebut.

G. Griffin dan kawan-kawan,


Perilaku organisasi (organisational behavior) adalah sejauh mana seseorang
individu mengenal dan terikat pada organisasinya. Seseorang individu yang memiliki
komitmen tinggi kemungkinan akan melihat dirinya sebagai anggota sejati organisasi.

H. Allen dan Meyer,


Ada tiga Dimensi komitment perilaku organisasi adalah :
1. Komitmen efektif (effective comitment): Keterikatan emosional karyawan, dan
keterlibatan dalam organisasi,
`
2. Komitmen berkelanjutan (continuence commitment): Komitmen berdasarkan kerugian
yang berhubungan dengan keluarnya karyawan dari organisasi. Hal ini mungkin
karena kehilangan senioritas atas promosi atau benefit,
3. Komitmen normatif (normative commiment): Perasaan wajib untuk tetap berada
dalam organisasi karena memang harus begitu; tindakan tersebut merupakan hal benar
yang harus dilakukan.

I. Schermerhorn Jr., Hunt, & Osborn, 2008, p. 5


Perilaku Oganisasi adalah ilmu tentang individu dan kelompok dalam suatu organisasi.
“Organizational behavior is the study of individuals and groups in organizations”.

3.Tingkat Analisis dalam Perilaku Keorganisasian

1). Tingkat individu artinya terkait dengan perilaku, nilai saat berinteraksi.
2). Tingkat kelompok artinya pengaruh terhadap perilaku anggota ole dinamika anggota
kelompok, norma dan nilai kelompok.
3). Tingkat organisasi artinya proses pengambilan keputusan manajemen.
Dalam menganalisis perilaku individu, kelompok dan organisasi sangat penting
mempertimbangkan faktor lingkungan eksternal seperti : ekonomi, politik, sosial budaya,
teknologi globalisasi dan lain-lain.

4. Fokus Perilaku Keorganisasian


Dalam mempelajari perilaku keorganisasian berfokus pada :
1). Perilaku (perilaku individu dan organisasi)
2). Struktur (organisasi dan kelompok)
3).Proses (interaksi di antara anggota), proses tersebut berupa komunikasi,
kepemimpinan, pengambilan keputusan dan lain-lain.

5. Tujuan Mempelajari Perilaku Keorganisasian


1). Memahami perilaku yang terjadi di dalam organisasi.
2). Meramalkan kejadian-kejadian yang terjadi di dalam organisasi.
3). Mengendalikan perilaku.
Oleh Nimran (1999) ketiga hal di atas disebut :
1). Prediksi
2). Eksplanasi atau penyelarasan berbagai peristiwa.
3). Pengendalian.
`
6. Kontribusi Beberapa Bidang Ilmu Terhadap Perilaku Dalam Organisasi
1). Psikologi
Psikologi merupakan ilmu pengetahuan yang berusaha mengukur, menjelaskan,
dan kadang mengubah perilaku. Kontribusinya ilmu ini terhadap Perilaku
Keorganisasian adalah dalam hal: pembelajaran, motivasi, kepribadian, persepsi,
pelatihan, efektifitas kepemimpinan, kepuasan kerja, pengambilan keputusan individu,
penilaian kinerja, pengukuran sikap, seleksi karyawan, desain kerja, stress kerja.
2). Psikologi Sosial
Psikologi Sosial adalah salah satu bidang dalam psikologi, yang memadukan
konsep-konsep baik dari psikologi maupun sosiologi dan memusatkan perhatian pada
saling keterpengaruhan antara orang-orang. Kontribusi dari ilmu ini kepada perilaku
keorganisasian meliputi: perubahan perilaku, perubahan sikap, komunikasi, proses
kelompok, pengambilan keputusan kelompok.
3). Sosiologi
Sosiologi adalah studi tentang orang-orang dalam hubungannya dengan sesama.
Terkait pemahaman tentang system sosial dan interaksi manusia dalam suatu system
sosial. Sumbangannya meliputi: dinamika kelompok, tim-tim kerja, kekuasaan,
konflik, perilaku antar kelompok, teori organisasi formal, perubahan organisasi,
budaya organisasi.
4). Antropologi
Antropologi adalah studi tentang masyarakat khususnya tentang manusia beserta
kegiatannya. Jadi sumbangannya yang tidak kecil terhadap Perilaku Keorganisasian
adalah dalam hal: nilai kpmparatif, analisis lintas budaya, lingkungan organisasional.
5). Ilmu Politik
Ilmu politik adalah pengetahuan tentang perilaku individu dan kelompok dalam
suatu lingkungan politik. Sumbangannya yang saat kentara dalam hal ini adalah seperti
konflik, politik intra-organisasional dan kekuasaan.

7. Sejarah Singkat Perkembangan Perilaku Keorganisasian


Sebagai ilmu perilaku keorganisasian adalah pendatang baru yang dibangun atas
kontribusi dari sejumlah disiplin ilmu-ilmu lain yang lebih dulu ada. Sejarah asal usulnya di
mulai dari Revolusi Indrustri ketika salah seorang pelaku bisnis Robert Owen (1800) mulai
memberikan perhatian terhadap para pekerja, menolak mempekerjakan anak-anak dan pesannya
yang sangat strategis bagi masa depan pekerja yaitu betapa pentingnya sukses.
`
Setelah Perang Dunia I, fokus dari studi organisasi bergeser kepada analisis tentang
bagaimana faktor-faktor manusia dan psikologi mempengaruhi organisasi. Gerakan hubungan
antar manusia ini lebih terpusat pada tim, motivasi, dan aktualisasi tujuan-tujuan individu di
dalam organisasi.
Para pakar terkemuka pada tahap awal ini mencakup:
Frederick Winslow Taylor (1856-1915) adalah orang pertama yang mencoba
mempelajari perilaku manusia dalam pekerjaan dengan menggunakan pendekatan sistematik.
Taylor mempelajari karakteristik manusia, lingkungan sosial, pekerjaan, lingkungan fisik,
kapasitas, kecepatan, biaya serta hubungannya satu sama lain..
Elton Mayo, seorang warga Australia. Dalam tulisannya pada tahun 1931 ia menyarankan
manajer untuk memperhatikan kebutuhan emosional dari pekerja dalam pekerjaan.
Mary Parker Follett adalah seorang penulis yang melakukan analisa terhadap para
pekerja.Ia menyimpulkan bahwa pekerja mengalami kombinasi yang yang kompleks dari
kelakuan, kepercayaan dan kebutuhan. Ia menyarankan manajer untuk memotivasi karyawannya
("pull strategy’).
Douglas McGregor mengajukan dua teori yang agak berlawanan tentang sifat mendasar
manusia. Ia mengemukakan “Theory X”, yang berbau pesimistis dan negatif, dan “Theory Y”
yang merupakan pendekatan yang lebih modern dan menggunakan pendekatan positif. Ia
percaya manajer bisa mendapatkan hasil yang lebih baik jika mereka memperlakukan karyawan
sebagai manusia yang berkomitmen, bertanggung jawab dan kreatif.
Perang Dunia II menghasilkan pergeseran lebih lanjut dari bidang ini, ketika penemuan
logistik besar-besaran dan penelitian operasi menyebabkan munculnya minat yang baru terhadap
sistem dan pendekatan rasionalistik terhadap studi organisasi. Sejak tahun 1980-an, penjelasan-
penjelasan budaya tentang organisasi dan perubahan menjadi bagian yang penting dari studi ini.
Metode-metode kualitatif dalam studi ini menjadi makin diterima, dengan memanfaatkan
pendekatan-pendekatan dari antropologi, psikologi dan sosiologi.
Perilaku organisasi saat ini merupakan bidang studi yang berkembang. Jurusan studi
organisasi pada umumnya ditempatkan dalam sekolah-sekolah bisnis, meskipun banyak
universitas yang juga mempunyai program psikologi industri dan ekonomi industri pula.

8. Konsep Dasar Perilaku Keorganisasian


Setiap bidang ilmu memiliki landasan filofofi seperti Akuntansi, Fisika, dan lain-lain,
demikian pula dengan perilaku keorganisasian yang notabene melibatkan manusia. Perilaku
keorganisasian akan bersangkut paut dengan seperangkat konsep dasar di sekitar manusia dan
organisasi.
`
Hakekat manusia, meliputi pemahaman tentang:
1). Perbedaan individu, adalah bahwa setiap orang berbeda satu dengan yang lain.
2). Orang seutuhnya, adalah orang-orang berfungsi sebagai mahluk manusia seutuhnya.
3). Perilaku termotivasi adalah orang berperilaku karena suatu dorongan yang berangkat
dari suatu kebutuhan. Motivasi sangat penting dalam menyelenggarakan organisasi.
4). Manusia memiliki nilai martabat.
Hakekat organisasi, meliputi pemahaman tentang:
1). System sosial, artinya bahwa organisasi adalah system sosial yang di bentuk untuk
kepentingan bersama.
2). Kepentingan bersama, artinya bahwa organisasi membutuhkan orang-orang, dan
orang-orang membutuhkan organisasi.

9. Implikasi Manajerial
Efektivitas manajer sangat berhubungan dengan efektivitas organisasi. Manajer yang
efektif adalah manajer yang mampu membawa para pekerja bekerja secara sadar dan
bertanggung jawab terhadap pekerjaanya. Tetapi itu bukanlah pekerjaan yang gampang. Setiap
individu memiliki keanekaragaman dalam berpikir maupun bertindak. Untuk itu sangatlah
penting bagi seorang manajer untuk memahami Perilaku Keorganisasian.
Perilaku Keorganisasian adalah bidang studi yang mencoba menyelidiki dampak
individu, kelompok, dan struktur terhadap perilaku di dalam organisasi, dan kemudian berusaha
mengaplikasikannya agar organisasi dapat bekerja lebih efektif. Robbins (2001) memfokuskan
pada upaya bagaimana memperbaiki produktivitas, mengurangi tingkat kemangkiran, dan
mengurangi tingkat keluar masuknya pekerja, serta meningkatkan kepuasan kerja.
Perilaku Keorganisasian memberika tantangan sekaligus peluang bagi anggota organisasi
untuk menapak karir yang lebih tinggi. Perilaku Keorganisasian targetnya bukanlah semata-mata
para pimpinan tetapi juga para bawahan. Dalam perspektif manajemen, apabila Perilaku
Keorganisasian sukses diterapkan, akan mampu mewujudkan “system imbalan rangkap tiga
(tiple reward system)”, di mana tujuan manusia, organisasi dan masyarakat menyatu (Davis,
1985).
`
II. PERILAKU INDIVIDU DALAM ORGANISASI

1. Variabel Karakteristik Individu Yang Perlu Dipahami


Mengapa perlu memahami perilaku individu? Tiap individu mempunyai perbedaan dalam
merespon terhadap sesuatu maupun perilaku. Ingat tak ada manusia yang sama. Maka setiap
pimpinan organisasi penting sekali memahami karakteristik tiap individu yang menjadi anggota
organisasinya sehingga dapat dengan lebih mudah memprediksi perilaku mereka.

2. Karakteristik Biografis atau Ciri-ciri Biografis


• Umur
• Jenis kelamin
• Status perkawinan
• Jumlah tanggungan
• Masa kerja

3. Kemampuan
Kemampuan adalah suatu kapasitas yang dimiliki seorang individu untuk mengerjakan
berbagai tugas suatu pekerjaan (Robbins, 2001)
Ada 2 jenis kemampuan, yaitu :
• Kemampuan Intelektual
• Kemampuan Fisik

4. Kepribadian (Traits)
Kepribadian adalah keseluruhan cara bagaimana individu bereaksi dan berinteraksi
dengan orang lain yang digambarkan dalam bentuk sifat-sifat yang dapat diukur dan dilihatkan
seseorang (Umar Nimran, 1999). Sementara Robbins (2001) mengatakan kepribadian itu sebagai
total dari cara-cara di mana seseorang/individu bereaksi dan berinteraksi dengan orang lain, yang
digambarkan dalam bentuk sifat-sifat yang dapat diukur dan dapat diperlihatkan. Sedangkan
Robert Kreitner dan Angelo Kinicki (2003) mendefinisikan kepribadian sebagai gabungan dari
ciri fisik dan mental yang bersifat tetap yang memberi identitas pada seseorang/individu. Didy
Indriani dalam penelitiannya yang berjudul “Hubungan Pola Kepribadian dan Kepuasan Kerja
Para Manajer BUMN” menyimpulkan bahwa kepribadian adalah keseluruhan elemen total dari
individu tampak dalam perbuatan, tingkah laku, kecenderungan-kecenderungan sikap, dan ciri-
ciri kebiasaan dalam hubungannya dengan lingkungan sekitar.
`
Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap kepribadian seseorang oleh Robbins dikatakan
ada tiga yaitu sebagai berikut:
1). Keturunan bahwa kepribadian seseorang dibentuk karena factor orang tua seperti:
pemalu, penakut, pemurung atau sebaliknya.
2). Lingkungan, bahwa kepribadian seseorang banyak disumbang oleh lingkungannya
seperti: budaya, norma-norma keluarga, teman dan kelompok sosial lainnya. Di India
sejak dini sudah ditanamkan nilai-nilai kerja keras, sederhana, kekerabatan kepada
generasi mudanya. Di Bali ada nilai-nilai rendah hati, suka membantu ramah kepada
orang yang hingga kini tetap mewarnai kepribadian sebagian besar generasi
mudanya.
3). Faktor yang lain adalah situasi. Artinya, kepribadian seseorang banyak ditentukan
oleh bawahan lahir, lingkungan yang relative stabil, akan dapat berubah karena
kondisi situasi tertntu yang berubah.

Daftar kepribadian yang banyak dan panjang kurang begitu popular di kalangan praktisi
perilaku keorganisasian oleh Kreitner dan Kinicki (2003) daftar yang panjang itu dikemas
menjadi “dimensi kepribadian lima besar” yang menurut hasil reset berkorelasi positip dengan
prestasi kerja pegawai, hal mana sangat membantu organisasi pada saat merencanakan seleksi,
pelatihan, dan penilaian karyawan. Adapun kelima dimensi kepribadian yang dimaksud adalah
sebagai berikut :
1). Wawasan ekstra (extra version): supel, dapat bersosialisasi, tegas
2). Ramah (agreeableness): bersifat baik, percaya, ramah, kerjasama, berhati lembut
3). Teliti (concientiousness): dapat diandalakan, bertanggujawab, berorientasi prestasi,
menonjol
4). Stabilitas emosional (emotional stability): rileks, aman, tidak khawatir
5). Keterbukaan pada pengalaman (openness to experience): cerdas, imajinatif, ingin
tahu, berpikiran luas.
Sementara kepribadian tipe B sebaliknya dengan apa saja, Holland dalam Haryono
(2001) memformulasikan tipe-tipe kepribadian sebagai berikut:
• Tipe Realistik
• Tipe Inverstigatif
• Tipe Artistik
• Tipe Sosial
• Tipe Enterprising
• Tipe Conventional
`
5. Pembelajaran/belajar
Pembelajaran/belajar dalam perspektif perilaku keorganisasian adalah proses perubahan
yang relative konstan dalam tingka laku yang terjadi karena pengalaman atau pelatihan(Robbins,
2001). Ada tiga teori yang disampaikan Robbins untuk menjelaskan bagaimana orang
mendapatkan pola-pola perilaku yaitu sebagai berikut:
1). Pengkondisian klasik
2). Pengkondisian operan
3). Teori Pembelajaran Sosial
`
III. MOTIVASI

1. Pengertian Motivasi
1). Menurut Indriyo Gitosudarmo dan Nyoman Sudita (1997) yang dimaksud motivasi adalah
faktor-faktor yang ada dalam diri seseorang yang menggerakkan, mengarahkan perilakunya
untuk memenuhi tugas tertentu.
2). Menurut Robbins dan Coulter (2004) motivasi adalah kesediaan untuk mengeluarkan tingkat
upaya yang tinggi untuk tujuan organisasi yang dikondisikan oleh kemampuan upaya itu
dalam memenuhi beberapa kebutuhan individu tertentu
Berdasarkan uraian di atas maka dapat dikatakan bahwa motivasi itu adalah suatu
kebutuhan yang mendorong seseorang untuk berbuat “sesuatu”. Adanya kebutuhan ini
menyebabkan orang bertingkah laku tertentu dalam usahanya mencapai suatu tujuan.

2. Proses Timbulnya Motivasi Seseorang


1). Kebutuhan yang belum terpenuhi
2). Mencari dan memilih cara-cara untuk memuaskan kebutuhan (di sini akan terlibat
kemampuan, keterampilan, pengalaman)
3). Perilaku yang diarahkan pada tujuan
4). Evaluasi prestasi
5). Imbalan atau hukuman
6). Kepuasan
7). Menilai kembali kebutuhan yang belum terpenuhi

3. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Motivasi


Banyak pakar yang telah menulis tentang berbagai faktor yang mempengaruhi motivasi
seseorang yang masing-masing punya aksentuasi tersendiri, tetapi bila dipilah faktor-faktor
tersebut adalah sebagai berikut:
1). Karakteristik Individu :
a. Minat
b. Sikap terhadap diri sendiri, pekerjaan, dan situasi pekerjaan
c. Kebutuhan individual
d. Kemampuan atau kompetensi
e. Pengetahuan tentang pekerjaan
f. Emosi, suasana hati, perasaan keyakinan dan nilai-nilai.
`

2). Faktor-faktor Pekerjaan :


a. Faktor Lingkungan Pekerjaan
b. Faktor dalam Pekerjaan.

4. Teori-Teori Motivasi
Setiap pimpinan organisasi pasti mendambakan suatu situasi di mana seluruh anggota
punya gairah kerja dan produktivitas yang tinggi. Untuk mewujudkan situasi tersebut, berbagai
upaya sering telah dilakukan namun dambaan tetap tinggal dambaan, realitas yang ada jauh dari
harapan.
Robbins (2001) membagi teori motivasi menjadi dua bagian yakni teori dini tentang
motivasi, yakni teori-teori yang lahirnya lebih awal, dan teori kotemporer tentang motivasi,
adalah deretan teori motivasi yang lebih baru, yang selanjutnya akan diuraikan secara lebih rinci
sebagai berikut:

1). Teori-Teori Dini/Awal tentang Motivasi


a. Teori Hirarki Kebutuhan dari Abaraham Maslow. Maslow menghipotesakan bahwa pada diri
manusia ada lima jenjang kebutuhan, yaitu sebagai berikut :
(1). Kebutuhan fisiologis (Faali): sandang, pangan, papan, seks, dll, kebutuhan pokok
ragawi lainnya.
(2). Kebutuhan rasa aman (keselamatan dan perlindungan) terhadap ancaman fisik dan
emosional: keamanan, kemerdekaan, perlindungan.
(3). Kebutuhan sosial : berkumpul, berkawan.
(4). Kebutuhan penghargaan : harga diri, otonomi, prestasi, status, pengakuan, perhatian.
(5). Kebutuhan aktualisasi diri: pengembangan potensi secara maksimal.

Terlepas dari kritik yang dijatuhkan, teori jenjang kebutuhan Maslow memiliki implikasi
praktis bagi manajer, karena mampu menawarkan suatu pola yang mudah dipahami dalam
menangani persoalan motivasi di tempat kerja.

b. Teori X dan Teori Y.


Douglas Mc. Gregor mengemukakan dua pandangan yang berbeda tentang manusia, yang
satu pada dasarnya negative (teori X), sementara yang lain adalah positif (teori Y). Menurut teori
X, manajer mengandaikan karyawan/manusia itu negative, seperti :
(1). Tidak suka pekerjaan
(2). Malas
`
(3). Tak suka tanggung jawab
(4). Mengedepankan keamanan di atas semua factor lain.
Maka karyawan harus dipaksa agar berprestasi.
Menurut teori Y, karyawan cenderung positif, seperti:
(1). Suka pekerjaan
(2). Kreatif
(3). Bertanggung jawab
(4). inovatif

c. Teori Motivasi – Higiene / Teori Dua Faktor


Frederick Herzberg mengembangkan suatu teori yang disebut Teori Dua Faktor, yang
terdiri atas :
(1). Faktor Higiene, yaitu faktor-faktor yang dapat menyebabkan ataupun mencegah
ketidakpuasan, yang pada hakekatnya, terdiri atas faktor ektrinsik dari pekerjaan
Faktor-faktor itu antara lain: gaji, jaminan pekerjaan, kondisi kerja, status, kebijakan
perusahaan, kualitas supervisi, kualitas hubungan antar pribadi dengan atasan, bawahan dan
sesama pekerja, serta jaminan sosial.
(2). Faktor Motivator, faktor-faktor yang betul-betul membawa pada pengembangan sikap positif
dan pendorong pribadi (bersifat intrinsik).
Faktor-faktor tersebut meliputi: tanggu jawab, prestasi, pengakuan, pekerjaan itu sendiri,
kemajuan, serta pertumbuhan dan perkembangan pribadi.

Kontribusi utama teori ini adalah dapat meningkatkan sensitivitas/kepekaan manajer


terhadap fakta bahwa memperlakukan anggota secara baik semata belumlah cukup untuk
memotivasi mereka. Pimpinan harus dapat memanfaatkan kapasitas, keterampilan serta bakat
dari anggota melalui desain kerja secara efektif. Pekerjaan yang ditawarkan mesti menantang dan
menggairahkan.

2). Teori Kontemporer Tentang Motivasi


a. Teori ERG oleh Clayton Aldefer.
Teori ini adalah merupakan modifikasi dan pengurangan dari lima jenjang kebutuhannya
Maslow menjadi tiga kelompok kebutuhan inti (teras) yaitu:
(1). Existence/Eksistensi, yang oleh Maslow meliputi kebutuhan faali dan rasa aman
(2). Relatedness/Hubungan, sama dengan kebutuhan sosialnya Maslow
(3). Growth/Pertumbuhan, mencakup kebutuhan penghargaan serta aktualisasi diri dari Maslow.
`
Aldefer berdalih seorang individu mungkin saja pada suatu ketika akan berusaha
memenuhi beberapa kebutuhannya secara simultan atau serentak.

b. Teori Kebutuhan David McClallend


Menurut McClallend bahwa manusia itu mempunyai tiga kebutuhan, yaitu sebagai
berikut:
(1). Kebutuhan akan prestasi atau Need for Achievement
(2). Kebutuhan akan kekuasaan atau Need for Power
(3). Kebutuhan akan afiliasi atau Need for Affilation.

c. Teori Penetapan Tujuan.


Edwin Locke sekitar tahun 1960-an mengatakan bahwa maksud-maksud untuk bekerja
kearah suatu tujuan merupakan sumber utama dari motivasi kerja yang kemudian dikenal sebagai
teori penetapan tujuan.

d. Teori Penguatan.
Ada 3 jenis penguatan yang dapat dipergunakan manajer untuk memodifikasi motivasi
anak buah yaitu sebagai berikut:
(1). Penguatan Positif
(2). Penguatan Negatif
(3). Hukuman.

e. Teori Keadilan/Kesetaraan
Bahwa setiap individu menurut teori ini akan membandingkan masukan dan keluaran
pekerjaan mereka dengan masukan/keluaran orang lain, dan ia akan berespon untuk
menghilangkan setiap ketidakadilan yang dirasakan..

f. Teori Harapan (Ekspektasi)


Teori ini dicetuskan oleh Victor Vroom yang menggambarkan bahwa kuatnya
kecenderungan seseorang untuk melakukan suatu tindakan tertentu bergantung pada kekuatan
yang berupa harapan, bahwa hasil tindakannya tersebut akan diikuti oleh suatu output tertentu
dan daya tarik output tersebut. Suatu pertanyaan mendasar yang ingin dijawab oleh teori ini
adalah : apa yang menentukan kemauan seseorang untuk mencurahkan tenaga dan pikiran dalam
menjalankan tugas dari organisasi. Teori ini memfokus pada tiga hubungan, yaitu sebagai berikut
(1). Hubungan upaya-kinerja
(2). Hubungan kinerja-ganjaran
`
(3). Hubungan ganjaran-tujuan pribadi.

Jadi, untuk menerapkan teori ini seorang pemimpin wajib memahami tiga hal, yaitu:
(1). Harapan (expectancy)
(2). Instrumentalitas (insterumentaly)
(3). Valensi (valence)

Secara ringkas teori ini dapat dinyatakan dalam formula berikut:

M=E+I+V

Teori harapan membantu menjelaskan mengapa banyak sekali pekerja tidak termotivasi
pada pekerjaan mereka dan melakukan sesuatu yang minimal, semata-mata untuk
menyelamatkan diri. Jadi pemimpin dituntut untuk proaktif.
`

IV. PERILAKU ORGANISASI DAN KOMUNIKASI


Mengapa komunikasi penting dalam suatu organisasi ? Pertanyaan ini kerap dilontarkan
oleh mereka yang concern terhadap kajian fenomena komunkai maupun mereka yang tertarik
pada gejalagejala keorganisasian. Dalam kenyataan masalah komunikasi senantiasa muncul
dalam proses pengorganisasian. Komunikasi mempunyai andil membangun iklim organisasi,
yang berdampak kepada membangun budaya oranisasi, yaitu nilai dan kepercayaan yang
menjadi titik pusat organisasi. Tujuan komunikasi dalam proses organisasi tidak lain dalam
rangka membentuk saling pengertian (mutual undestanding) . Pendek kata agar terjadi
penyetaraan dalam kerangka referensi, maupun dalam pegalaman.

Pengertian Komunikasi Organisasi


Golddhaber (1986) memberikan definisi komunikasi organisasi adalah proses penciptaan
dan saling menukar pesan dalam satu jaringan hubungan yang saling tergantung satu sama lain
untuk mengatasi lingkungan yang tidak pasti atau yang selalu berubah-ubah. Pengertian tersebut
mengandung konsep-konsep sebagai berikut:
1. Proses, Suatu organisasi adalah suatu sistem terbuka yang dinamis yang menciptakan dan
saling menukar informasi diantara anggotanya. Karena gejala menciptakan dan menukar
informasi ini berjalan terus menerus dan tidak ada hentinya, maka dikatakan sebagai suatu
proses.
2. Pesan, yang dimaksud pesan adalah susunan simbol yang penuh arti tentang orang , obyek,
kejadian yang dihasilkan oleh interaksi dengan orang lain. Dalam komunikasi organisasi kita
mempelajari ciptaan dan pertukaran pesan dalam seluruh organisasi. Pesan dalam organisasi
dapat dilihat menurut beberapa klasifikasi yang berhubungan dengan bahasa, penerima yang
dimaksud, metode difusi, dan arus tujuan dari pesan. Pengklasifikasian pesan menutut bahasa
dapat dibedakan pesan verbal dan non verbal. Pesan verbal dalam organisasi misalnya;surat,
memo, pidato, dan percakapan. Sedangkan pesan nonverbal dalam organisasi terutama sekali
yang tidak diucapkan atau dityulis seperti; bahasa gerak tubuh, sentuhan, nada suara, ekspresi
wajah, dll.
3. Jaringan, organisasi terdiri dari satu seri orng yang tiap-tiapnya menduduki posisi atau peranan
tertentu dalam organisasi. Ciptaan dan pertukaran pesan dari orang-orang ini sesamanya
terjadi melewati suau set jalan kecil yang dinamakan jaringan komunikasi. Suatu jaringan
komunikasi ini mungkin mencakup hanya dua orang, beberapa orang atau keseluruhan
organisasi. Hakikat dan luas dari jaringan ini dipengaruhi oleh banyak faktor antara laii;
hubungan peranan, arah dan arus pesan, hakikat seri dari arus pesan, dan isi dari pesan.
`
4. Keadaan Saling Tergantung, Konsep kunci komunikasi organisasi keempat adalah keadaan
yang saling tergantung satu bagian dengan bagian lainnya. Hal ini telah menajadi sifat dari
suatu organisai yang merupakan suatu sistem terbuka. Bila suatu bagian dari organisasi
mengalami gangguan maka akan berpengaruh kepada bagian lainnya dan mungkin juga
kepada seluruh sistem organisasi. Implikasinya, bila pimpinan membuat suatu keputusan dia
harus memperhitungkan implikasi keputusan itu terhadap organisasinya secara menyeluruh.
5. Hubungan, Konsep kunci yang kelima dari omunikasi organisasi adalah hubungan. Karena
organisasi merupakan suatu sistem terbuka, sistem kehidupan sosial maka untuk berfungsinya
bagian-bagian itu terletak pada manusia yang ada dalam organisasi. Dengan kata laian
jaringan melalui mana jalannya pesan dalam suatu organisasi dihubungkan oleh manusia.
Oleh karena itu hubungan manusia dalam organisasi yang memfokuskan kepada tingkah laku
komunikasi dari orang yang terlibat suatu hubungan perlu dipelajari. Sikap, skill, moral dari
seseorang, mempengaruhi dan dipengaruhi oleh hubungan yang bersifat organisasi. Hubungan
manusia dalam organisasi berkisar mulai dari yang sederhana yaitu hubungan diantara dua
orang sampai kepada hubungan yang kompleks. Jadi dalam organisasi terjadi hubungan yang
sifatnya individual, kelompok, dan hubnganorganisasi.
6. Lingkungan, yang dimaksud lingkungan adalah semua totalitas secar fisik dan faktor sosial
yang diperhitungkan dalam pembuatan keputusan mengenai individu dalam suatu sistem.
Yang termasuk lingkungan internal adalah personal/anggota, tujuan, produk, dll. Sedangkan
lingkungan eksternal adalah; langganan, saingan, teknologi, dll. Komunikasi organisasi
terutama bekenaan dengann transaksi yang terjadi dalam lingkungan internal organisasi yang
terdiri dari organisasi dan kulturnya, dan antar organisasi dengan lingkungan ekternalnya.
Yang dimaksud dengan kultur organisasi adalah pola kepercayaan dan harapan dari anggota
organisasi yang menghasilkan norma-norma yang membentuk tingkah laku individu dan
kelompok dalam organisasi. Organisasi sebagai suatu sistem terbuka harus berinteraksi
dengan lingkungan eksternal seperti; teknologi, ekonomi, undang-undang, dan faktor sosial.
Karena faktor lingkungan berubah-ubah, maka organisasi memerlukan informasi baru.
Informasi ini harus dapat mengatasi perubahan dalam lingkungan dengan menciptakan dan
pertukaran pesan baik secara internal dalam unit-unit yang relevan maupun terhadap
kepentingan umum secara eksternal.
7. Ketidakpastian, adalah perbedaan informasi yang tersedia dengan informasi yang diharapkan.
Misalnya; organisasi Karang Taruna memerlukan informasi tentang Undang-undang tentang
NAPZA untuk disosialisaikan kepada anggotanya, kalau informasi tersebut didapatkan maka
tidak maslah, tetapi kalau informaasiitu tidak didapatkan maka terjadi ketidak pastian. Untuk
mengurangi faktor ketidakpastian ini organisasi menciptakan dan menukar pesan diantara
anggotaa, melakukan suatu penelitian pengembangan organisasi, dan mengahapi tugas-tugas
`
yang kompleks dengan integrasi yang tinggi. Ketidak pastian dalam suatu organisasi juga
disebabkan oleh terjadinya banyak informasi yang diteima daripada sesungguhnya diperlukan
untuk menghadapi lingkungan meeka. Jadi ketidakpastian dapat disebabkan oleh terlalu
sedikit informasi yang didapatkan dan juga karena terlalu banyak yang diterima.

Anatomi Organisasi
Ciri-Ciri Umum
Menurut Barry Cushway, mengakui meskipun ada bermacammacam organisasi, hanya
sedikit terdapat persamaan, tetapi upaya membandingkan organisasi supaya mengetahui
kelebihan dan kekutrangannya. Walaupun semua organisasi memiliki karakteristik yang khas,
smua organisasi memiliki hal-hal tertentu yang sama yaitu:
1. Satu tujuan
2. Satu struktur.
3. Proses untuk mengkoordinasi kegiatan
4. Orang-orang yang melaksanakan peran-peran yang berbeda.
Pengamat yang lain mengatakan bahwa dalam setiap organisasi, entah tertulis atau tidak
terdapat apa yang disebut: Visi, Misi, iklim organisasi, budaya organisasi, motivasi, norma-
norma kelompok, dan sebagainya. Semua unsur-unsur tersebut sangat menentukan (berpengaruh)
terhadap perilaku organisasi, dapat diringkas sebagai berikut:
1. Proses
2. Iklim
3. Motivasi
4. Budaya
5. Struktur -------> PERILAKU ORGANISASI
6. Norma kelompok
7. Gaya manajemen
8. Pengaruh luar

Pengelompokan Organisasi
Max Weber (1964) membuat kategori organisasi menurut jenis wewenang yang
dilaksanakan:
1. Organisasi Tradisional.
Wewenang ditentukan oleh kebiasaan, serta kepercayaan yang telah lama ada dan tidak
perlu dipertanyakan.
2. Organisasi Kharisma
Wewenang diambil dari mutu pribadi pemimpinnya.
`
3. Organisasi Birokrasi
Wewenang didasrkan pada pengakuan atas aturan-aturan dan prosedur-prosedur.
Katz dan Kahn (1978) mengemukakan sebagai berikut:
1. Organisasi Ekonomis, berkaitan dengan penciptaan kesejahteraan, pembuatan barang dan jasa.
2. Organisasi Perawatan, yang berkaitan dengan sosialisasi orang untuk melakukan peran, seperti
sekolah.
3. Organisasi Penyesuian, berkaitan dengan menciptakan pengetahuan mengembangkan dan
menguji teori. Contohnya; Univeritas, lembaga riset.
4. Organisasi Manajerial dan Politik, berkaitan dengan Perundangundangan, koordinasi, dan
pengendalian sumber daya. Contoh; pemerintahan, partai politik, dan seriakt buruh.

Budaya Organisasi
1. Nilai dan kepercayaan tentang:
a. Waktu
b. Efisiensi
c. Diri
d. Tindakan
e. Kerja
2. Nilai dan kepercayaan tentang:
a. Karyawan
b. Pelanggan
c. Produksi
d. Manajemen
e. Masyarakat
f. Dll.

3. Efektifitas organisasi:
a. Efisiensi
b. Kepemimpinan
c. Motivasi
d. Kinerja
e. Komitmen
f. Kepuasan

4. Iklim organisasi
a. Tanggung jawab tingkat pendelegasian
`
b. Standar
c. Imbalan
d. Keramahan semangat tim persaudaraan
e. Kesiapan teknologi
f. Komunikasi terbuka

5. Iklim komunikasi:
a. Dukungan
b. Keikutsertaan dalam proses keputusan
c. Kejujuran, percaya diri, dan keandalan
d. Terbuka dan tulus
e. Tujuan kinerja yang tinggi

Keberadaan Organisasi
1. Organisasi Paranoid (ketakutan):
a. Mutu produksi tidak konsisten.
b. Lamban menanggapi perubahan
c. Kekurangan produk inovatif
d. Struktur biaya boros
e. Keterlibatan karyawan rendah
f. Layanan pada konsumen tidak responsif
g. Kurang alokasi sumber daya

2. Organisasi gagal:
a. Krisis identitas
b. Kegagalan visi
c. Terperangkap skenario besar
d. Ketinggalan jaman
e. Mengabaikan konsumen
f. Musuh dalam selimut.
g. Dll.

3. Organisasi yang sehat:


a. Mendefinisikan dirinya sebagai sistem
b. Mempunyai sistem penginderaan yang kuat untuk menerima informasi terbaru.
c. Mempunyai rasa tujuan yang kuat.
`
d. Beroperasi dalam mode bentuk mengikuti fungsi.
e.Menggunakan manajemen tim sebagai mode yang dominan
f. Menghormati pelayanan konsumen
g. Manajemen digerakkan oleh informasi
h. Keputusan dibuat di tingkat yang paling dekat dengan pelanggan
i. Mempertahankan komunikasi yang relatif terbuka diseluruh sistem
j. Para manajer dan tim kerja dinilai dari kienerja dan kemajuan yang dihasilkan
k. Organisasi beroperasi dalam suatu mode pembelajaran
l. Toleransi yang tinggi dalam hal-hal yang berbeda, tetapi menghargai inovasi dan kretaivitas
m. Memeperhatikan kesejahteraan dan tuntutan keluarga
n. Memiliki agenda sosial yang eksplisit
o. Memberi perhatian pada pekerjanan yang efisien.

Daur Hidup Organisasi


Seperti kebanyakan organisasi sosial berbagai data emperik membukikan bahwa
organisasi sosial dan sejenis banyak yang timbul tenggelam, muncul lalu hilang lagi, berubah
arah, melalui tahap-tahap tertentu, kemudian mati dan biasanya mencoba menghidupkannya
kembali. Untuk itu perlu kiranya kita memahami daur hidup orgainsasi sebagai berikut:
1. Pacaran
Ini adalah tahap awal sebelum suatu organisasi sosial lahir dan dibentuk. Pada tahap ini
ada beberapa orang berkumpul dan berbincang-bincang. Bagai orang yang dimabuk cinta,
mereka akan mengatakan hal itu pada siapa saja. Pada tahap ini saling berikrar untuk mengikat
jadian pacaran untuk membentuk organisasi.
2. Bayi
Jika gagasan pembentukan suatu organisasi diterima dan benar-benar disepakati, lahirlah
suatu oganisasi baru. Tetapi seperti biasanya, organisasi yang masih “bayi” ini meletakkan
serangkaian kegiatan yang belum jelas benar arah dan tujuanya.
3. Kanak-kanak
Berhasil melalui masa bayi, suatu organisasi kemudian memasuki tahap kanak-kanak
yang mulai belajar mengenal, ingin tahu, dan malekukan apa saja. Pada tahap ini para anggota
organisasi berusaha meraihnya dengan semngat menggebu-gebu.
4. Remaja
Melewati masa kanak-kanak, suatu organisasi segera beranjak menjadi remaja yang
mulai menyadari adanya atuan-aturan, tata tertib, juga adab kesopanan serta tata krama. Pada
tahp ini, suatu organisasi mulai menggunakan sebagian besar waktunya untuk memapankan
sendi-sendi administrasinya.
`
5. Dewasa
Jika konflik-konflik intern pada tahap remaja dapat diatasi, suatu organisasipun mulai
memasuki tahap usia dewasa. Pada tahap ini, organisasi sudah menekankan pada orientasi pada
hasil dan prestasi kerja, adanya pandangan bersama yang utuh dan padu, serta mekanisme sistem
yang lebih efisien.
6. Matang
Oleh rasa dorongan hasrat yang demikian besar untuk menikmati hasil-hasil kerja dimasa
lalu, organisasi pada tahap ini mulai bergerak memasuki masa kematanganya. Pada tahap ini
organisasi mencapai puncak kemampuannya, yang tetap berusaha mempertahankan orientasi
hasil dan tingkat prestasi yang telah dicapainya . Organisasi mulai sungkan menangapi hal-hal
yang baru dan lebih suka mengerjakan hal-hal yang sudah terbukti berhasil selam ini.
7. Aristrokrasi
Pada tahap ini suasana organisasi mulai membosankan. Orang-orang yang memegang
tampuk kekuasaan organisasi secara tidak sadar mulai dihinggapi rasa khawatir berlebihan
tentang berkelanjutan hidup organisasi dan masa depannya, namun tidak pernah diungkapkan
terus terang.
8. Birokrasi awal
Cepat atau lambat organisasi yang aristokratis tadi akan tersentak kaget jika ada yang
mulai berani menyampaikan ada sesuatu yang salah dalam organisasi. Sumber-sumber dana
utamanya selama ini mungkin segera menolak memberikan dukungan lebih lanjut.
9. Birokrasi
Pada saat ini organisasi sosial tiba pada tahap birokrasi penuh, yang tertinggal pada
organisasi hanyalah setumpuk peraturan yang njlimet dan pekerjaan rutin tulis menulis gaya
kantoran resmi. Tidak ada lagi sesuatu yang berarti yang bisa dilakukan, segala sesuatu mesti
tertulis. Suasana kerja benar-benar menjadi tenang dan damai, mereka akan setuju tentang apa
saja, namun tidak pernah melakukan apapun.
Akhirnya, organisasi sosial akan mati, meskipun dalam kenyataannya banyak organisasi
birokratis tidak benar-benar mati, namun mereka tetap berada pada keadaan yang “setengah
mati”.
`
V. KEPEMIMPINAN

DEFINISI KEPEMIMPINAN
Apakah arti kepemimpinan? Menurut sejarah, masa “kepemimpinan” muncul pada abad 18. Ada
beberapa pengertian kepemimpinan, antara lain:
1. Kepemimpinan adalah pengaruh antar pribadi, dalam situasi tertentu dan langsung
melalui proses komunikasi untuk mencapai satu atau beberapa tujuan tertentu
(Tannebaum, Weschler and Nassarik, 1961, 24).
2. Kepemimpinan adalah sikap pribadi, yang memimpin pelaksanaan aktivitas untuk
mencapai tujuan yang diinginkan. (Shared Goal, Hemhiel & Coons, 1957, 7).
3. Kepemimpinan adalah suatu proses yang mempengaruhi aktifitas kelompok yang diatur
untuk mencapai tujuan bersama (Rauch & Behling, 1984, 46).
4. Kepemimpinan adalah kemampuan seni atau tehnik untuk membuat sebuah kelompok
atau orang mengikuti dan menaati segala keinginannya.
5. Kepemimpinan adalah suatu proses yang memberi arti (penuh arti kepemimpinan) pada
kerjasama dan dihasilkan dengan kemauan untuk memimpin dalam mencapai tujuan
(Jacobs & Jacques, 1990, 281).

Banyak definisi kepemimpinan yang menggambarkan asumsi bahwa kepemimpinan


dihubungkan dengan proses mempengaruhi orang baik individu maupun masyarakat. Dalam
kasus ini, dengan sengaja mempengaruhi dari orang ke orang lain dalam susunan aktivitasnya
dan hubungan dalam kelompok atau organisasi. John C. Maxwell mengatakan bahwa inti
kepemimpinan adalah mempengaruhi atau mendapatkan pengikut.

Pengertian Pemimpin
Pemimpin adalah inti dari manajemen. Ini berarti bahwa manajemen akan tercapai
tujuannya jika ada pemimpin. Kepemimpinan hanya dapat dilaksanakan oleh seorang pemimpin.
Seorang pemimpin adalah seseorang yang mempunyai keahlian memimpin, mempunyai
kemampuan mempengaruhi pendirian/pendapat orang atau sekelompok orang tanpa menanyakan
alasan-alasannya. Seorang pemimpin adalah seseorang yang aktif membuat rencana-rencana,
mengkoordinasi, melakukan percobaan dan memimpin pekerjaan untuk mencapai tujuan
bersama-sama (Panji Anogara, Page 23).
`
Tugas Dan Peran Pemimpin
Menurut James A.F Stonen, tugas utama seorang pemimpin adalah:
Pemimpin bekerja dengan orang lain
Seorang pemimpin bertanggung jawab untuk bekerja dengan orang lain, salah satu
dengan atasannya, staf, teman sekerja atau atasan lain dalam organisasi sebaik orang
diluar organisasi.

Pemimpin adalah tanggung jawab dan mempertanggungjawabkan (akontabilitas).


Seorang pemimpin bertanggungjawab untuk menyusun tugas menjalankan tugas,
mengadakan evaluasi, untuk mencapai outcome yang terbaik. Pemimpin bertanggung
jawab untuk kesuksesan stafnya tanpa kegagalan.

Pemimpin menyeimbangkan pencapaian tujuan dan prioritas


Proses kepemimpinan dibatasi sumber, jadi pemimpin harus dapat menyusun tugas
dengan mendahulukan prioritas. Dalam upaya pencapaian tujuan pemimpin harus dapat
mendelegasikan tugas-tugasnya kepada staf. Kemudian pemimpin harus dapat mengatur
waktu secara efektif,dan menyelesaikan masalah secara efektif.

Pemimpin harus berpikir secara analitis dan konseptual


Seorang pemimpin harus menjadi seorang pemikir yang analitis dan konseptual.
Selanjutnya dapat mengidentifikasi masalah dengan akurat. Pemimpin harus dapat
menguraikan seluruh pekerjaan menjadi lebih jelas dan kaitannya dengan pekerjaan lain.

Manajer adalah seorang mediator


Konflik selalu terjadi pada setiap tim dan organisasi. Oleh karena itu, pemimpin harus
dapat menjadi seorang mediator (penengah).

Pemimpin adalah politisi dan diplomat


Seorang pemimpin harus mampu mengajak dan melakukan kompromi. Sebagai seorang
diplomat, seorang pemimpin harus dapat mewakili tim atau organisasinya.

Pemimpin membuat keputusan yang sulit


Seorang pemimpin harus dapat memecahkan masalah.
`

Menurut Henry Mintzberg, Peran Pemimpin adalah :


1. Peran hubungan antar perorangan, dalam kasus ini fungsinya sebagai pemimpin yang
dicontoh, pembangun tim, pelatih, direktur, mentor konsultasi.
2. Fungsi Peran informal sebagai monitor, penyebar informasi dan juru bicara.
3. Peran Pembuat keputusan, berfungsi sebagai pengusaha, penanganan gangguan, sumber
alokasi, dan negosiator

Prinsip-Prinsip Dasar Kepemimpinan


Prinsip, sebagai paradigma terdiri dari beberapa ide utama berdasarkan motivasi pribadi dan
sikap serta mempunyai pengaruh yang kuat untuk membangun dirinya atau organisasi. Menurut
Stephen R. Covey (1997), prinsip adalah bagian dari suatu kondisi, realisasi dan konsekuensi.
Mungkin prinsip menciptakan kepercayaan dan berjalan sebagai sebuah kompas/petunjuk yang
tidak dapat dirubah. Prinsip merupakan suatu pusat atau sumber utama sistem pendukung
kehidupan yang ditampilkan dengan 4 dimensi seperti; keselamatan, bimbingan, sikap yang
bijaksana, dan kekuatan. Karakteristik seorang pemimpin didasarkan kepada prinsip-prinsip
(Stephen R. Coney) sebagai berikut:

1. Seorang yang belajar seumur hidup


Tidak hanya melalui pendidikan formal, tetapi juga diluar sekolah. Contohnya, belajar
melalui membaca, menulis, observasi, dan mendengar. Mempunyai pengalaman yang
baik maupun yang buruk sebagai sumber belajar.
2. Berorientasi pada pelayanan
Seorang pemimpin tidak dilayani tetapi melayani, sebab prinsip pemimpin dengan prinsip
melayani berdasarkan karir sebagai tujuan utama. Dalam memberi pelayanan, pemimpin
seharusnya lebih berprinsip pada pelayanan yang baik.
3. Membawa energi yang positif
Setiap orang mempunyai energi dan semangat. Menggunakan energi yang positif
didasarkan pada keikhlasan dan keinginan mendukung kesuksesan orang lain. Untuk itu
dibutuhkan energi positif untuk membangun hubungan baik. Seorang pemimpin harus
dapat dan mau bekerja untuk jangka waktu yang lama dan kondisi tidak ditentukan. Oleh
karena itu, seorang pemimpin harus dapat menunjukkan energi yang positif, seperti ;

a. Percaya pada orang lain


`
Seorang pemimpin mempercayai orang lain termasuk staf bawahannya, sehingga
mereka mempunyai motivasi dan mempertahankan pekerjaan yang baik. Oleh
karena itu, kepercayaan harus diikuti dengan kepedulian.

b. Keseimbangan dalam kehidupan


Seorang pemimpin harus dapat menyeimbangkan tugasnya. Berorientasi kepada
prinsip kemanusiaan dan keseimbangan diri antara kerja dan olah raga, istirahat
dan rekreasi. Keseimbangan juga berarti seimbang antara kehidupan dunia dan
akherat.
c. Melihat kehidupan sebagai tantangan
Kata ‘tantangan’ sering di interpretasikan negatif. Dalam hal ini tantangan berarti
kemampuan untuk menikmati hidup dan segala konsekuensinya. Sebab kehidupan
adalah suatu tantangan yang dibutuhkan, mempunyai rasa aman yang datang dari
dalam diri sendiri. Rasa aman tergantung pada inisiatif, ketrampilan, kreatifitas,
kemauan, keberanian, dinamisasi dan kebebasan.
d. Sinergi
Orang yang berprinsip senantiasa hidup dalam sinergi dan satu katalis perubahan.
Mereka selalu mengatasi kelemahannya sendiri dan lainnya. Sinergi adalah kerja
kelompok dan memberi keuntungan kedua belah pihak. Menurut The New Brolier
Webster International Dictionary, Sinergi adalah satu kerja kelompok, yang mana
memberi hasil lebih efektif dari pada bekerja secara perorangan. Seorang
pemimpin harus dapat bersinergis dengan setiap orang atasan, staf, teman sekerja.
e. Latihan mengembangkan diri sendiri
Seorang pemimpin harus dapat memperbaharui diri sendiri untuk mencapai
keberhasilan yang tinggi. Jadi dia tidak hanya berorientasi pada proses. Proses
daalam mengembangkan diri terdiri dari beberapa komponen yang berhubungan
dengan: (1) pemahaman materi; (2) memperluas materi melalui belajar dan
pengalaman; (3) mengajar materi kepada orang lain; (4) mengaplikasikan prinsip-
prinsip; (5) memonitoring hasil; (6) merefleksikan kepada hasil; (7) menambahkan
pengetahuan baru yang diperlukan materi; (8) pemahaman baru; dan (9) kembali
menjadi diri sendiri lagi.
`
Mencapai kepemimpinan yang berprinsip tidaklah mudah, karena beberapa kendala
dalam bentuk kebiasaan buruk, misalnya: (1) kemauan dan keinginan sepihak; (2) kebanggaan
dan penolakan; dan (3) ambisi pribadi. Untuk mengatasi hal tersebut, memerlukan latihan dan
pengalaman yang terus-menerus. Latihan dan pengalaman sangat penting untuk mendapatkan
perspektif baru yang dapat digunakan sebagai dasar dalam pengambilan keputusan.
Hukum alam tidak dapat dihindari dalam proses pengembangan pribadi. Perkembangan
intelektual seseorang seringkali lebih cepat dibanding perkembangan emosinya. Oleh karena itu,
sangat disarankan untuk mencapai keseimbangan diantara keduanya, sehingga akan menjadi
faktor pengendali dalam kemampuan intelektual. Pelatihan emosional dimulai dari belajar
mendengar. Mendengarkan berarti sabar, membuka diri, dan berkeinginan memahami orang
lain. Latihan ini tidak dapat dipaksakan. Langkah melatih pendengaran adalah bertanya,
memberi alasan, memberi penghargaan, mengancam dan mendorong. Dalam proses melatih
tersebut, seseorang memerlukan pengontrolan diri, diikuti dengan memenuhi keinginan orang.
Mengembangkan kekuatan pribadi akan lebih menguntungkan dari pada bergantung pada
kekuatan dari luar. Kekuatan dan kewenangan bertujuan untuk melegitimasi kepemimpinan dan
seharusnya tidak untuk menciptakan ketakutan. Peningkatan diri dalam pengetahuan,
ketrampilan dan sikap sangat dibutuhkan untuk menciptakan seorang pemimpin yang berpinsip
karena seorang pemimpin seharusnya tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga
emosional (IQ, EQ dan SQ).
`
VI. KEKUASAAN / POWER

Kekuasaan adalah kemampuan seseorang atau kelompok untuk mempengaruhi tingkah laku
orang atau kelompok lain sesuai dengan keinginan dari pelaku (Miriam Budiardjo,2002)
Kekuasaan merupakan kemampuan mempengaruhi pihak lain untuk berpikir dan berperilaku
sesuai dengan kehendak yang mempengaruhi (Ramlan Surbakti,1992).
Kekuasaan dapat dilihat dari 2 sudut pandang yaitu keuasaan bersifat positif dan negatif.

Kekuasaan bersifat positif


Merupakan Kemampuan yang dianugerahkan oleh Tuhan kepada individu sebagai
pemegang kekuasaan tertinggi yang dapat mempengaruhi dan merubah pemikiran orang lain atau
kelompok untuk melakukan suatu tindakan yang diinginkan oleh pemegang kekuasaan dengan
sungguh-sungguh dan atau bukan karena paksaan baik secara fisik maupun mental.

Kekuasaan bersifat Negatif Merupakan sifat atau watak dari seseorang yang bernuansa arogan,
egois, serta apatis dalam mempengaruhi orang lain atau kelompok untuk melakukan tindakan
yang diinginkan oleh pemegang kuasa dengan cara paksaan atau tekanan baik secara fisik
maupun mental. Biasanya pemegang kekuasaan yang bersifat negatif ini tidak memiliki
kecerdasan intelektual dan emosional yang baik,mereka hanya berfikir pendek dalam mengambil
keputusan tanpa melakukan pemikiran yang tajam dalam mengambil suatu tindakan, bahkan
mereka sendiri terkadang tidak dapat menjalankan segala perintah yang mereka perintahkan
kepada orang atau kelompok yang berada di bawah kekuasannya karena keterbatasan daya pikir
tadi. dan biasanya kekuasaan dengan karakter negatif tersebut hanya mencari keuntungan pribadi
atau golongan di atas kekuasannya itu. karena mereka tidak memiliki kemampuan atau modal
apapun selain kekuasaan untuk menghasilkan apapun, dan para pemegang kekuasaan bersifat
negatif tersbut biasanya tidak akan berlangsung lama karena tidak akan mendapatkan dukungan
sepenuhnya oleh rakyatnya.
Di negara demokrasi, dimana kekuasaan adalah ditangan rakyat, maka jalan menuju
kekuasaan selain melalui jalur birokrasi biasanya ditempuh melalui jalur partai politik. Partai
partai politik berusaha untuk merebut konstituen dalam masa pemilu. Partai politik selanjutnya
mengirimkan calon anggota untuk mewakili partainya dalam lembaga legislatif. Dalam
pemilihan umum legislatif secara langsung seperti yang terjadi di Indonesia dalam Pemilu 2004
maka calon anggota legislatif dipilih langsung oleh rakyat.

Kekuasaan cenderung korup adalah ungkapan yang sering kita dengar, atau dalam bahasa
Inggrisnya adalah Power tends to corrupct. Apa benar?? Memang belum tentu benar, tetapi
ungkapan tersebut tentu telah melalui penelitian dan pengalaman bertahun tahun.
`
VII. KESIMPULAN

Masyarakat membentuk sistem sosial dari sebuah organisasi. Sistem ini


terdiri dari individu, kelompok kecil dan kelompok besar. Manusia adalah makhluk
yang hidup, berpikir dan menggunakan perasaan yang bekerja di dalam suatu
organisasi untuk mencapai tujuannya.
Perilaku organisasi adalah bersifat holistik yang menafsirkan hubungan
orang dan organisasi dalam hubungannya dengan orang seutuhnya, kelompok
seutuhnya, organisasi seutuhnya, dan system sosial secara keseluruhan. Konsep ini
menyandang pandangan total tentang orang-orang dalam organisasi untuk
memahami sebanyak mungkin faktor yang mempengaruhi perilaku mereka. Semua
isu dianalisis dalam kaitannya dengan keseluruhan situasi yang mempengaruhinya
bukan dalam hubungannya dangan peristiwa atau masalah secara terpisah. Perilaku
Organisasi juga adalah pemahaman dan penggunaan pengetahuan bagaimana
individu dan kelompok berinteraksi dalam organisasi. Disamping itu prilaku
organisasi dapat dikatakan sebagai suatu disiplin ilmu yang mempelajari
bagaimana seharusnya perilaku tingkat individu, tingkat kelompok, serta
dampaknya terhadap kinerja (baik kinerja individual, kelompok, maupun
organisasi). Perilaku Organisasi meliputi banyak topik seperti perilaku manusia,
budaya, perbedaan, komunikasi, perubahan, kepemimpinan dan tim. Perilaku
organisasi juga dikenal sebagai Studi tentang organisasi. Studi ini adalah sebuah
bidang telaah akademik khusus yang mempelajari organisasi, dengan
memanfaatkan metode-metode dari ekonomi, sosiologi, ilmu politik, antropologi
dan psikologi. Studi tentang Perilaku organisasi membantu kita mengerti
bagaimana manusia berpikir, merasa dan bereaksi dalam sebuah lingkungan
struktur organisasi.
`
DAFTAR PUSTAKA:

Personnel, Feb 1990, p.57 in Newstrom, J. & Davis, K. (1993). Organization Behavior: Human
Behavior at Work. New York: McGraw-Hill.

http://www.cio.com/archive/091506/change.html

Komang Ardhana, NI wayan Mujiati, Anak Agung Ayu Sriathi, (2009) Perilaku Keorganisasian
ed. 2, Graha Ilmu, Jogjakarta

Muhamad, Arni, (2002), Komunikasi Organisasi, PT. Bumi Aksara, Jakarta.

Panuju, Redi, (2001), Komunikasi Organisasi, Pustaka Pelajar, Yogyakarta.

Roben, Stepen (alih bahasa Jusuf Udaya), (1995), Teori Organisasi, Penerbit Aran, Jakarta.

Organization Behavior: Human Behavior at Work. New York: McGraw-Hill.