Anda di halaman 1dari 64

Bagaimana memilih pemimpin? Inilah salah satu tema pembahasan kita kali ini.

Satu
pertanyaan yang mengelitik dan cukup hangat dibicarakan oleh hampir seluruh personil
anak bangsa saat ini, baik oleh mereka yang di juluki para intlektual maupun yang tidak
punya julukan. Kenapa kami angkat tema ini? Tentu bukan karena latah atau ikut-ikutan,
bukan pula karena demam pemilu yang dijadwalkan berlangsung 2004 nanti, sama sekali
bukan. Kita semua tahu bagaimana masalah ini telah menjadi buah bibir, bibir siapa pun,
dan kita khawatir bahwa yang kita bicarakan ternyata hanya sekadar ungkapan hampa,
kosong dari makna karena keluar dari kejahilan yang dipenuhi dengan hawa nafsu tanpa
petunjuk wahyu. Kami turunkan judul ini, tidak lain semata-mata ingin menyampaikan
risalah langit, ajaran Islam ini, karena kita tahu bahwa mayoritas penduduk negeri ini
adalah Muslim. Kami sampaikan agar kita bersama tahu bagaimana sesungguhnya ajaran
agama yang kita peluk dan anut ini berbicara tentang kepemimpinan. Mari kita simak
bagaimana para ulama mengulas prihal kepemimpinan ini. Semoga bermanafaat.
Pada kolom-kolom lain, masih ada lagi pembahasan-pembahasan menarik lainnya
seperti tinju, asuransi, problem rumah tangga, tafsir yang akan mengulas keutamaan al-
Quran dan ahlinya, yang akan ditutup kemudian oleh profil, dimana kali ini akan mengenalkan
kepada kita sosok salah seorang murid dari imam mazhab Hanafiah, Abu Yusuf al-Qhadi
—yang akan disusul dengan murid-murid para imam yang lainnya—. Beliau adalah hakim
legendaris dalam dunia Islam, hakim besar yang sangat berpengruh pada zamannya.
Pembaca, ada berita baik, khususnya bagi para ahwat. InsyaAllah mulai edisi ini –
mempertimbangkan masukan-masukan yang ada—kolom keluarga tidak hanya akan
mengupas problema rumah tangga, akan tetapi juga akan mengupas tentang wanita dalam
bingkai syari’at –bukan kolom yang berdiri sendiri akan tetapi mengambil sedikit dari jatah
kolom keluarga. Hal ini bukan karena apa-apa, tetapi sebagaimana yang sudah sama
diketahui, akan minim dan terbatasnya jumlah halaman yang ada di majalah kesayangan
kita ini, harap maklum—, dengan demikian nama kolom keluarga menggelembung menjadi
kolom “Wanita dan Keluarga.” —Semoga semakin dapat menambah bekal diniah kita—
Pembaca, bagi anda yang baru mengenal majalah kesayangan kita Fatawa, sementara
belum memiliki edisi lawasnya yang ilmiah, padahal keinginan untuk mengoleksinya ada,
maka mulai saat ini, anda bisa mendapatkan bundelnya yang perdana, yang kami susun
dari edisi 1-6, walaupun masih terasa tipis, hal ini sengaja kami lakukan, memenuhi permintaan
yang acap disampaikan oleh beberapa pembaca.
Semoga apa yang kita usahakan ini –dengan tetap mengharap saran dan
masukannya— menjadi catatan amal shalih disisi-Nya, dan menjadikan kita sebagai hamba-
hambanya yang senantiasa berlaku ikhlas. Amin.

Redaksi

Fatawa Vol. 07/ Th. I / 1424 H - 2003 M 1


Tauhid:
- Adakah yang dapat Menghilangkan Kesusahan
selain Allah? ____________________________ 4
- Meminta Tolong kepada Orang Mati di Seberang
Lautan ________________________________ 7
- Apakah Orang Mati dapat Mendengar Panggilan
Orang yang Memanggilnya? ________________ 8

Fatwa:
Penerbit: Pustaka At-Turots Al- - Hukum Tinju, Gulat dan Matador ____________ 10
Islamy Yogyakarta - Hukum Asuransi _________________________ 12
Pemimpin Umum: Abu Nida’ - Konsisten dengan Manhaj Salaf ____________ 14
Ch. Shofwan
Tafsir:
Tim Pengasuh: Abu Humaid Arif Keutamaan al-Qur'an dan Ahlinya ______________ 17
Syarifuddin, Abu Mush’ab, Abu
Husam M. Nurhuda, Abu Isa,
Abu Nida’ Ch. Shofwan
Fiqih:
Fiqih Wudhu ______________________________ 24
Pemimpin Redaksi: Abu
Humaid Wanita:
Redaksi Pelaksana: Syafaruddin Kedudukan Wanita dalam Islam ______________ 31

Anggota Redaksi: Tri Madiyono, Keluarga:


Abu Athifah, Husain Sunding,
- Menikah dengan Kerabat Dekat _____________ 34
Mubarok
- Tidak Suka dengan Kelahiran Anak Wanita
Setting-Layout: rinto Termasuk Perilaku Jahiliyah ________________ 34
Pemimpin Usaha: Abu Husam - Hukum Memberi Hadiah Tahunan kepada
Istri untuk Mengenang Hari Pernikahan _______ 35
Sirkulasi: Pak Siswanto JH
Keuangan: Indra Manhaj:
Prinsip-prinsip Ahlus Sunnah wal Jama'ah ______ 36
Rekening: Rek.Giro:
801.20173001, BNI Syari’ah Cab.
Yogyakarta, a.n. Yayasan Majelis Aktual:
At-Turots Al-Islamy Yogyakarta Bagaimana Memilih Pemimpin _______________ 43

Alamat Redaksi: Islamic Center Akhlaq:


Bin Baaz, Jl. Wonosari Km 10, Cinta kepada Rasulullah  ___________________ 51
Sitimulyo, Piyungan, Bantul,
Yogyakarta
Firaq:
Telp: 081328711260 Sekte-sekter dalam Tharikat Shufiyyah __________ 56
Faks: (0274) 522964,
Profil:
Email: mjlfatawa@telkom.net Abu Yusuf Al Qadhi, Ketua para Hakim __________ 60

2 Fatawa Vol. 07/Th. I / 1424 H - 2003 M


 Mutiara Hikmah Mana?
Saudaraku redaksi yang mulia, semoga senantiasa dalam bimbingan Allah . Kami turut besyukur
dan berbahagia atas hadirnya majalah Fatawa. Kita semua berharap semoga dengan perantara
Fatawa kita bisa mendapatkan ilmu yang bermanfaat. Kami berdoa semoga Allah  memberikan
balasan yang terbaik kepada saudara redaksi yang mulia.
Afwan sebelumnya, kami ingin menyampaikan beberapa hal kepada saudara redaksi yang mulia,
antaranya:
1. Mengingat pembaca Fatawa bukan hanya orang Jawa saja, dan karena Fatawa dibaca di berbagai
daerah di Indonesia, dengan beragam sukunya, tolong istilah-istilah jawa diberi keterangan,
bahwa itu istilah jawa atau di Indonesia kan saja atau malah dihilangkan sama sekali. Karena
faktor bahasa mempengaruhi pemahaman (kefahaman) seseorang.
2. Kami ingin tanya: apakah mutiara hikmah sebagaimana di Fatawa vol. 02/1/5 syawal 1423
bukan termasuk rubrik tetap? Karena tidak kami dapatkan lagi pada edisi-edisi setelahnya.
Kalau bukan rubrik tetap bagaimana kalau dijadikan rubrik tetap? Yang demikian karena
mutiara hikmah untuk kami bagus dan menarik.
3. Kami ingin tanya, apakah doa orang kafir dan ahlul bid’ah dikabulkan oleh Allah ?
4. Kami ingin usul, tolong untuk Fatawa berikutnya dalam rubrik Firoq di bahas masalah jamaah
tabligh. Tentunya dengan mencantumkan fatwa ulama ahlus sunnah tentang mereka, karena
mereka mengaku mendapatkan tazkiah dari Syaik bin Baaz
Demikian yang bisa kami sampaikan, mohon maaf atas segala kekeliruan dan kekurangan, atas
perhatian saudara redaksi yang mulia kami ucapkan jazakumullah.
Syarif di Subaim, Halmahera.

Red: Alhamdulillah, meski di seberang lautan Fatawa dapat sampai juga ke tempat antum. Semoga
apa yang menjadi harapan antum –dan inipun menjadi harapan kita semua—dapat terwujud dan
terlaksana.
Mengenai apa yang antum sampaikan, penggunaan istilah jawa, memang kami akui. Tetapi antum
harap maklum, karena yang demikian tidak bisa terlepas dari latar belakang para pengasuh yang
memang rata-rata orang Jawa, tetapi redaksi tetap dan senantiasa memberinya keterangan. Dan
untuk istilah-istilah yang bukan dari bahasa Indonesia sengaja dicetak miring. Mengenai mutiara
hikmah memang awal-awal redaksi berkeinginan menjadikannya rubrik tetap, akan tetapi mengingat
dan menimbang halaman yang terasa semakin kurang, dengan terpaksa rubrik mutiara hikmah di
tiadakan dan insyaAllah akan kami gantikan dengan doa. Untuk point 3 dan 4 simak saja terus
majalah kesayangan kita Fatawa, atau antum bisa membaca majalah Islam lain yang telah membahas
masalah tersebut, seperti majalah As-Sunnah.

Fatawa Vol. 07/ Th. I / 1424 H - 2003 M 3


2
 Tauhid
Rubrik Tauhid yang hadir secara rutin dalam Fatawa ini disajikan dalam format tanya-jawab. Yang diambil dari fatwa-fatwa Lajnah
Da imah yang merupakan lembaga majelis ulama-ulama besar Kerajaan Saudi yang didirikan oleh pemerintah Saudi Arabia
(SK. No:1/137 tanggal 8/7/1391H/1993M), dalam rangka memberikan fatwa-fatwa yang berkenaan dengan perkara-perkara
agama seperti aqidah, ibadah dan muamalah. Yang pada mulanya beranggotakan Syaikh Ibrahim bin Muhammad bin Ibrahim
Alu Syaikh (Ketua), Syaikh Abdurrazzaak Afifi Athiyyah (Wakil Ketua), Syaikh Abdullah bin Abdurrahman al Ghadyan
(Anggota), Syaikh Abdullah bin Sulaiman bin Mani’ (Anggota). Pada akhir tahun 1395H/1997M, Syaikh Ibrahim bin Muhammad
bin Ibrahim Alu Syaikh digantikan oleh Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baaz. Fatwa-fatwa yang dinukilkan adalah fatwa
yang dikeluarkan pada masa mereka; ditambah fatwa para ulama salaf lain yang tidak terangkum kedalam kitab Majmu Fatawa
Lil Lajnah Da imah.

Dirangkum dan diterjemahkan oleh Abu Nida’ dan Tim Redaksi

Adakah yang dapat Sebagai contoh, ada seseorang ingin


Menghilangkan agar dia terlepas dari kegundahan dan
Kesusahan Selain kegelisahannya, lalu dia meminta kepada
Allah? –sesuatu- selain Allah agar menyelesai-
Fatwa no. 7366 dari kitab Fatawa al-Lajnah ad- kan masalahnya. Dari sini timbul sepuluh
Daimah I/144-149 pertanyaan sebagai berikut.
1. Seandainya ada selain Allah yang
Tanya : dapat menghilangkan kesusahannya,
Apakah ada selain Allah yang dapat maka siapakah dia yang dapat
menghilangkan kegundahan, kegelisah- mendengar dan menjawab (doanya)
an, dan menolak (datangnya) kesulitan- dengan jarak yang tidak diketahui
kesulitan (kepada manusia)? Pertanyaan berapa jauhnya –kecuali hanya oleh
ini mengandung sepuluh pertanyaan Allah saja— antara dia (yang diminta)
yang mengikutinya, kami dapati ada satu dan yang memintanya, baik semasa
pertanyaan (yang kami layangkan) hidupnya maupun sesudah wafatnya
kepada kebanyakan kelompok-kelompok ketika di alam kubur?
berbagai mazhab yaitu ‘apakah ada 2. Seandainya kita umpamakan dia dapat
selain Allah yang dapat melepaskan mendengar walaupun dengan jarak
kesusahan, ataukah tidak ada?’ yang jauh, maka muncul pertanyaan
Mereka berusaha keras menyampai- lain: apakah dia memahami bahasa
kan jawaban pertanyaan ini. Hanya saja semua penghuni dunia yang
kami belum mendapatkan salah seorang memanggilnya dengan bahasa yang
pun dari mereka yang dapat memberikan berbeda-beda, seperti bahasa Jerman,
jawaban yang memuaskan. Sehingga Inggris, dan bahasa-bahasa lain?
muncul dalam benak seseorang 3. Seandainya kalian menjawab
dorongan untuk mencari jawaban pertanyaan tersebut dengan
persoalan ini dengan berbagai macam menyatakan bahwa dia memahami
cara, yaitu ‘bagaimana sesuatu selain bahasa semua penghuni dunia, maka
Allah sanggup melepaskan kesusahan?’ muncul lagi pertanyaan yang lain. Yaitu,
Pertanyaan ini memiliki bentuk yang jika dalam satu waktu ada berjuta-juta
beragam, lalu orang ini pun memohon orang yang menyampai-kan
jawaban dari para ulama, dengan permintaan kepadanya dengan bahasa
harapan mereka mendapatkan jawaban mereka yang beraneka ragam, apakah
yang memuaskan. dia mampu mendengar semua keluhan

4 Fatawa Vol. 07/Th. I / 1424 H - 2003 M


mereka serta mengabulkan semua an, kemudian ada anggapan bahwa
perminta-an mereka pada satu waktu, sebagian permasalahan diselesaikan
ataukah dia membutuhkan tenggang oleh Allah dan sebagian yang lain oleh
waktu untuk menyelesaikan masalah- selain Allah. Bila demikian, maka bagi
masalah tersebut satu per satu secara yang memiliki hajat harus dapat
bergilir? memisahkan mana permasalahan
4. Apakah orang yang dimintai oleh yang dapat diselesaikan oleh Allah
mereka untuk memenuhi segala dan mana persoalan yang dapat
kebutuhan ini mengalami tidur atau diselesaikan oleh selain Allah. Hal itu
memang tidak pernah mengantuk perlu dilakukan agar seseorang tidak
sehingga tidak pernah tidur? mengajukan permasalahan kepada
Seandainya dia mengalami tidur, Allah padahal seharusnya untuk
tentu kita memerlukan jadwal kapan selain-Nya, atau mengajukan
waktu istirahatnya, kapan dia tidur permasalahan kepada selain Allah
dan kapan dia terjaga? Atau apakah padahal seharusnya untuk Allah.
dia dapat mendengar meskipun 8. Apakah yang mampu menghilangkan
dalam keadaan tertidur? dan melepaskan mudharat (bahaya)
5. Mungkin ada orang yang meminta dari manusia, dia pula yang mampu
bantuan, sementara dia tidak dapat memberi mudharat (bahaya) kepada
mengungkapkan permintaan manusia, ataukah dia hanya dapat
bantuannya itu dengan lisan, menghilangkan bahaya tetapi tidak
sehingga dia mengungkapkan mampu mendatangkannya? Maka,
dengan hatinya. Apakah dia (yang seandainya selain Allah hanya
diminta selain Allah) dapat mampu menghilangkan bahaya saja,
mengabulkan permintaan orang tadi maka siapa yang mendatangkan
yang mengungkapkan pertanyaan bahaya?
dengan hatinya? 9. Jadi, bila kita permisalkan Allah-lah
6. Manusia dari mulai lahir sampai yang mendatangkan bahaya dan
meninggal dunia memiliki selain-Nya yang menghilangkan
permasalahan dari yang paling kecil bahaya. Maka, seandainya Allah ingin
sampai yang paling besar. Maka mendatangkan bahaya dan selainnya
seandainya Allah yang mengurus ingin menolaknya, sementara
semua permasalahan ini maka tidak masing-masing ingin mewujudkan
ada perlunya bergantung kepada apa yang menjadi keinginannya,
selain Allah; demikian pula sebaliknya, maka siapakah yang akan jadi
seandainya selain Allah dapat pemenangnya?
menyelesaikan semua permasalahan 10.Jika ingin menshalatkan (mayat)
yang banyak ini, maka apa faedahnya orang yang baik dan (mayat) orang
bergantung kepada Allah? yang berbuat jelek, siapakah yang
7. Seandainya selain Allah tidak mampu dimintai pengampunannya?
menyelesaikan semua permasalah-

Fatawa Vol. 07/ Th. I / 1424 H - 2003 M 5


4
Jawab: terkadang ada yang Allah jadikan sebagai
Sesungguhnya Allah sajalah yang sebabnya, seperti para dokter dan para
tidak mengantuk dan tidak tidur. Dia petani sebagaimana diterangkan di atas.
sendirilah yang mendengar dan Jadi, hilangnya kesulitan adalah karena
mengabulkan doa orang-orang yang kehendak Allah dengan sebab makhluk
berdoa di mana pun mereka berada, dan serta dengan taufik-Nya. Tidak ada
dengan bahasa apapun mereka selain Allah  yang dapat mendengar
berbicara. Bahkan, Allah mengabulkan orang yang berdoa dari jarak yang
doa mereka sekalipun dengan ungkapan sangat jauh kemudian mengabulkannya.
sikap, baik dari mereka yang berakal Tidak ada satu mayat pun yang dapat
maupun pun tidak. Dia sajalah yang mendengar doa orang yang menyerunya
mendatangkan bahaya dan memberi dan memohon kepadanya. Seandainya
manfaat secara hakiki. Adapun segala dia dapat mendengar, dia tidak dapat
apa yang bersumber dari selain-Nya, mengabulkannya. Allah  berfirman,
maka itu hanyalah sebab-sebab biasa
yang Allah berikan untuk hamba-Nya dan
Allah takdirkan atas mereka. Mereka
melakukan sebab-sebab tersebut sesuai
dengan taufik dari Allah, lalu Allah
tetapkan musabbab (hasil)nya menurut
kehendaknya. Seorang dokter misalnya,
dia mampu mendeteksi penyakit dan
menentukan obatnya dengan taufik Allah,
namun kesembuhan itu tetap datangnya
dari Allah saja. Atau seorang petani, dia “Yang (berbuat) demikian itulah Allah,
mampu mengolah tanah, menyebarkan Rabb-mu. Kepunyaan-Nyalah segala
benih dan mengairinya dengan petunjuk kerajaan. Dan orang-orang yang kamu seru
dan taufik dari Allah. Namun, mengenai (sembah) selain Allah tiada mempunyai apa-
hasilnya diserahkan kembali kepada apa walaupun setipis kulit ari. Jika kamu
ketentuan Allah, baik hasil yang berupa menyeru mereka, mereka tiada mendengar
tumbuhnya tanaman-tanaman yang dia seruanmu dan kalau pun mereka
tanam maupun munculnya biji-bijian, mendengar, mereka tidak dapat
buah-buahan serta hasil-hasil lain yang memperkenankan permintaanmu. Dan di
didapatkan dari tanaman-tanaman hari kiamat kelak mereka akan mengingkari
tersebut. kemusyrikanmu dan tidak ada yang dapat
Berikut ini kami mencoba menjawab memberikan keterangan kepadamu seperti
pertanyaan-pertanyaan di atas. yang diberikan oleh Yang Maha
1. Dari penjelasan kami di atas bisa kita Mengetahui.” (Q.S. Fathir:13-14)
simpulkan bahwa tidak ada seorang pun 2. Tidak ada yang dapat memahami
selain Allah yang dapat menghilangkan semua bahasa makhluk selain Allah .
kesulitan secara hakiki. Akan tetapi, Makhluk manapun tidak akan sanggup

6 Fatawa Vol. 07/Th. I / 1424 H - 2003 M


mendengarkan semua permintaan dan
memahami apa yang diminta kepadanya
untuk kemudian mengabulkan
permintaan-permintaan tersebut.
3. Andaikata –kita menerima- bahwa di
sana ada –seseorang- selain Allah yang
mengerti bahasa seluruh dunia –meski itu
sesuatu yang mustahil-, namun dia tidak
akan sanggup mendengar permintaan
banyak orang dalam satu waktu, kemudian
mengabulkan permintaan mereka itu “Dan janganlah kamu menyembah apa-apa
dalam satu waktu pula, padahal mereka yang tidak memberi manfa’at dan tidak (pula)
mempunyai hajat yang berbeda-beda lagi memberi mudharat kepadamu selain Allah.
berjauhan tempatnya. Sebab, jika kamu berbuat (yang demikian itu)
4. Tidak akan ada seorang manusia pun maka sesungguhnya kamu termasuk orang-
atau (makhluk) lainnya –selain Allah- orang yang zhalim.” Jika Allah menimpakan
yang mampu mendengar permintaan suatu kemudharatan kepadamu, maka tidak
banyak orang dan mengabulkannya ada yang dapat menghilangkannya kecuali
setiap saat. Karena ciri manusia adalah Dia. Dan jika Allah menghendaki kebaikan
terhinggapi lupa, lalai, lemah dan tidur, bagi kamu, maka tak ada yang dapat menolak
sementara keperluan dan permintaan kurnia-Nya. Dia memberikan kebaikan itu
terus sambung-menyambung. Jadi, yang kepada siapa yang dikehendaki-Nya di
mampu untuk mengabulkan hal tersebut antara hamba-hamba-Nya dan Dialah Yang
tidak lain hanyalah Yang Maha Hidup Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
Kekal lagi terus menerus mengurus (Q.S. Yunus:106- 107)
(makhluk-Nya), yang tidak mengantuk
dan tidak tidur. Meminta Tolong kepada
5. Tidak ada yang dapat mengetahui
Orang Mati di Seberang
permintaan-permintaan dan hajat-hajat
Lautan
yang ada di dalam hati orang lain selain Fatwa no. 7366 dari kitab Fatawa al-Lajnah ad-
Allah. Oleh karena itu, tidak mungkin ada Daimah I/170-171
yang selain Allah mampu mengabulkan
Tanya:
kebutuhan-kebutuhan mereka jika orang
tersebut tidak meminta dengan bahasa Seorang shalih meninggal di India
lisan. dan kuburannya berada di negeri yang
bernama Ajmiz, maka apakah boleh
6.7.8.9.10. Di muka telah dijelaskan bahwa
ber-isti‘anah (meminta tolong)
tidak ada yang dapat menghilangkan
kepadanya, dan apakah dia bisa
bahaya secara hakiki melainkan Allah ,
menolong siapa saja yang meminta
dan tidak ada yang dapat memberi
tolong kepadanya dan tidak menolak
kebaikan secara hakiki melainkan Allah 
seorang pun ?
saja. Allah  berfirman,

Fatawa Vol. 07/ Th. I / 1424 H - 2003 M 7


6
Jawab:
Bahwa meminta tolong kepada orang-
orang yang telah mati adalah syirik.
Orang-orang yang telah mati itu tidaklah
memiliki kemampuan untuk menjawab
(mengabulkan) doa mereka, bahkan tidak
mendengarnya, dan nanti (di hari kiamat)
orang-orang itu akan berlepas diri dari “Dan siapakah yang lebih sesat daripada
mereka yang meminta dan dari orang yang menyeru (menyembah)
peribadatan mereka. Dalil atas hal ini dari sembahan-sembahan selain Allah yang
Al-Qur’an dan As-Sunnah banyak sekalli, tiada dapat memperkenankan (doanya)
di antaranya firman Allah : sampai hari kiamat dan mereka lalai dari
(memperhatikan) doa mereka. Dan
apabila manusia dikumpulkan (pada hari
kiamat) niscaya sembahan-sembahan
mereka itu menjadi musuh mereka dan
mengingkari pemujaan-pemujaan
mereka.” (Q.S. Al-Ahqaf:5-6)
Shalawat dan salam semoga
tercurah atas Nabi kita Muhammad ,
keluarganya , dan sahabat-sahabatnya.

“Yang (berbuat) demikian itulah Allah Apakah Orang Mati


Rabb-mu, kepunyaan-Nyalah kerajaan. dapat Mendengar
Dan orang-orang yang kamu seru Panggilan Orang yang
(sembah) selain Allah tiada mempunyai Memanggilnya?
apa-apa walaupun setipis kulit ari. Jika Fatwa no. 7366 dari kitab Fatawa al-Lajnah ad-
kamu menyeru mereka, mereka tiada Daimah I/151-152
mendengar seruanmu; dan kalau mereka
mendengar, mereka tidak dapat Tanya:
memperkenankan permintaanmu. Dan di Apakah para wali yang shalih
hari kiamat mereka akan mengingkari mendengar panggilan orang-orang yang
kemusyrikanmu dan tidak ada yang dapat memanggilnya? Apa makna sabda Nabi
memberikan keterangan kepadamu ,
sebagaimana yang diberikan oleh Yang
Maha Mengetahui.” (Q.S. Fathir:13-14)
Begitu pula firman-Nya : “Demi Allah sesungguhnya orang yang telah
meninggal dari kalian (di dalam kuburnya)
mendengar bunyi langkah terompah
kalian.”?

8 Fatawa Vol. 07/Th. I / 1424 H - 2003 M


Berilah saya penjelasan! kepada orang-orang kafir yang terbunuh
Jawab: di perang Badar, sebagai penghinaan dan
penistaan untuk mereka, dan kemuliaan
Pada dasarnya bahwa orang yang
untuk Rasulullah . Sampai-sampai Nabi
telah meninggal dunia baik yang shalih
 mengatakan kepada para sahabatnya
atau yang tidak shalih, mereka tidak
ketika sebagian mereka mengingkari hal
mendengar perkataan manusia,
tersebut,
sebagaimana firman Allah :

“Tidaklah kalian lebih mendengar apa


yang aku katakan daripada mereka, akan
tetapi mereka tidak mampu menjawab” 1
“Jika kamu menyeru mereka, mereka tiada Lihatlah pembahasan ini di kitab ‘an-
mendengar seruanmu; dan kalau mereka Nubuwat’, kitab ‘at-Tawassul wa al-
mendengar, mereka tidak dapat Wasilah’ dan kitab ‘al-Furqan’,
memperkenankan permintaanmu. Dan di seluruhnya karya Syaikhul Islam Ibnu
hari kiamat mereka akan mengingkari Taimiyah. Maka kitab-kitab tersebut
kemusyrikanmu dan tidak ada yang dapat cukup memadai dalam mengupas
memberikan keterangan kepadamu pembahasan ini.
sebagaimana yang diberikan oleh Yang
Adapun mayat yang mendengar
Maha Mengetahui.” (Q.S. Fathir:14)
suara langkah orang yang mengantarnya
Begitu juga firman-Nya  : (ketika berjalan meningalkan kuburnya)
setelah dia dikubur, maka itu adalah
pendengaran khusus yang ditetapkan
oleh nash (dalil), dan tidak lebih dari itu
(tidak lebih dari sekadar mendengar
suara terompah mereka), karena hal itu
diperkecualikan dari dalil-dalil yang
“Dan kamu sekali-kali tiada sanggup umum yang menunjukkan bahwa orang
menjadikan orang yang di dalam kubur yang meninggal tidak bisa mendengar
dapat mendengar.” (Q.S. Fathir:22) (suara orang yang yang masih hidup),
Akan tetapi terkadang Allah sebagaimana yang telah lalu.
memperdengarkan kepada mayit suara Shalawat dan salam semoga
dari salah satu rasulnya untuk suatu tercurah atas Nabi kita Muhammad ,
hikmah tertentu, seperti Allah keluarganya, dan sahabat-sahabatnya.
memperdengarkan suara Rasulullah 

1
H.R. Imam Ahmad -dan ini lafalnya- (I/27; III/104, 182, 263, dan 287), Bukhari (II/101), dan
Nasa’i (IV/110).

Fatawa Vol. 07/ Th. I / 1424 H - 2003 M 9


8
 Fatwa

Syaikh Ibnu Baz


(Fatawa Ulama al-Balad al-Haram hal. 964-
968) Sesungguhnya majelis Majma’ al-Fiqhi
Tanya: Bagaimana hukum tinju, adu al-Islami Rabithah ‘Alam Islami pada
banteng (matador), dan gulat bebas pertemuannya yang ke-10 di Makkah al-
menurut Islam? Mukaramah, yang dilaksanakan pada hari
Sabtu 24 Safar 1408 H bertepatan
Jawab: Tinju dan matador termasuk dengan tanggal 17 Oktober 1987 M
kemungkaran yang diharamkan, karena sampai hari Rabu 28 Safar 1408 H atau
tinju menimbulkan kerusakan yang 21 Oktober 1987 telah membahas
banyak dan bahaya yang besar dan mengenai tinju dan gulat bebas yang -
karena pada matador terdapat oleh sebagian kalangan- keduanya
penyiksaan terhadap hewan tanpa hak. dikategorikan olahraga yang dibolehkan.
Adapun gulat bebas yang bersifat tidak Demikian pula matador [beradu dengan
membahayakan, menyakiti (merusak) banteng atau hewan-hewan yang lain,
serta tidak membuka aurat, maka tidak red.
] yang biasa diadakan di beberapa
mengapa berdasarkan hadits tentang negeri asing (kafir). Apakah hal seperti
bergulatnya Rasulullah  dengan Yazid ini dibolehkan dalam Islam ataukah tidak?
bin Rukanah, yang dimenangkan oleh
Rasulullah . Hal itu karena hukum asal Setelah bermusyawarah tentang
perbuatan seperti ini adalah dibolehkan, perkara ini dari berbagai aspeknya, serta
kecuali apa-apa yang telah diharamkan hasil survei tentangnya didapatkan,
oleh syariat. Majma‘ al-Fiqhi al-Islami bahwa tinju dan matador telah
yang merupakan bagian dari Rabithah dikategorikan sebagai olahraga, dan
‘Alam Islami telah mengeluarkan telah dijadikan sebagai tontonan siaran
ketetapan haramnya tinju dan adu televisi di negeri-negeri Islam maupun
banteng [matador (termasuk pula dalam yang lainnya.
hal ini, hewan-hewan lain yang diadu Setelah meneliti hasil kajian yang ada
sepertinya, red.)], sebagaimana yang telah seputar masalah ini, yang dimandatkan
kita sebutkan di atas. Berikut ini oleh Majelis al-Majma’ pada pertemuan
ketetapannya. sebelumnya bersama para dokter
Segala puji hanya bagi Allah semata. spesialis, serta melihat hasil
Shalawat dan salam atas Nabi terakhir, pemeriksaan yang telah dilakukan
junjungan dan nabi kita Muhammad , terhadap apa yang benar-benar terjadi
kepada keluarganya dan para sahabatnya. secara mendunia terhadap hasil

10 Fatawa Vol. 07/Th. I / 1424 H - 2003 M


pertandingan tinju, dan apa yang kita
saksikan di layar kaca tentang beberapa
kejadian tragis dalam pertandingan gulat
bebas, maka Majelis al-Majma’
menetapkan sebagai berikut: “Dan janganlah kamu membunuh dirimu.
Sesungguhnya Allah adalah Maha
Pertama: Tinju Penyayang kepadamu.” (Q.S. An-
Majelis al-Majma’ telah sepakat Nisa:29)
memandang (berpendapat) bahwa Dan sabda Rasulullah ,
pertandingan tinju yang ditanyakan, yang
saat ini betul-betul telah menjadi bagian
dalam cabang olahraga dan dipertanding- “Tidak boleh mebahayakan diri sendiri
kan di negeri kita, merupakan demikian pula membahayakan orang lain” 1
pertandingan yang diharamkan dalam Oleh karena itu para ulama telah
syariat Islam karena dibangun di atas mengeluarkan ketetapan bahwa siapa
dasar pembolehan saling menyakiti yang menghalalkan darahnya sendiri
masing-masing pemain, dengan kepada orang lain, seperti mengatakan,
berusaha menciderai tubuh lawannya “Bunuhlah saya!” maka orang tersebut
secara berlebihan. Yang mana, hal ini tidak boleh membunuhnya. Jika dia
terkadang mengakibatkan kebutaan, melakukannya, maka dia bertanggung
kelumpuhan, gegar otak, patah tulang, jawab dan berhak mendapatkan hukuman.
bahkan sampai kepada kematian, tanpa
(menuntut) tanggung jawab si pelaku, Atas dasar inilah al-Majma’ menetapkan,
yang disertai kegembiraan serta sorak bahwa tinju tidak boleh dinamakan
sorai para penonton yang menjadi olahraga dan tidak boleh dilestarikan
suporter pemenang atas sakit (cidera) (digalakkan). Hal ini karena sebutan olah
yang menimpa lawan tandingnya. Ini raga adalah yang dibangun atas dasar
merupakan perbuatan yang haram dan latihan, tidak menyakitkan dan tidak
tertolak secara keseluruhan menurut membahayakan. Ia (tinju) perlu
hukum Islam karena Allah  berfirman, dihapuskan dari gelanggang olahraga
setempat dan dari gelanggang
perlombaan dunia, sebagaimana al-
“Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu Majelis telah menetapkan tidak bolehnya
sendiri ke dalam kebinasaan.” (Q.S. Al- mempertontonkannya pada acara-acara
Baqarah:195) siaran televisi, agar tidak ada yang
mempelajari perbuatan yang buruk ini
dan meniru-nirunya.

1
Diriwayatkan oleh Malik dalam al-Muwaththa ’ (hal.745) secara mursal , dan di-mausul-kan oleh
Daruqutni (III/77, IV/228), Baihaqi (VI/69), Hakim (II/57,58) dan ia memiliki beberapa jalur riwayat
yang lain. Imam Nawawi berkata dalam al-Arbain (hadits no. 32), “Ia memiliki beberapa jalur yang
saling menguatkan satu dengan yang lainnya.”

Fatawa Vol. 07/ Th. I / 1424 H - 2003 M 10


1
Kedua: Gulat bebas
Adapun gulat bebas yang membolehkan setiap peserta menyakiti yang
lain dan menciderainya, dalam hal ini al-Majelis melihat ia merupakan
perbuatan yang sama persis dengan tinju yang telah disebutkan,
walaupun bentuknya berbeda. Karena setiap pelanggaran terhadap
syariat yang telah dijelaskan pada permasalahan tinju terdapat pula
pada gulat bebas yang mengacu pada Mubarozah (perang tanding)2,
maka sama dalam pengharamannya. Adapun jenis gulat yang lain
yang hanya berbentuk olahraga dan tidak membolehkan saling
menciderai maka boleh menurut syariat, al-Majlis tidak melihat
adanya larangan atas hal tersebut.
Ketiga: Matador (bertarung dengan banteng)
Adapun matador (bertarung dengan banteng), sebagaimana yang
terdapat di sebagian negara, yang berujung pada matinya hewan
tersebut dengan keahlian pemain (matador) menggunakan senjata,
juga diharamkan secara syariat dalam hukum Islam. Karena dia
menjadikan hewan tersebut mati akibat siksaan dan luka-luka sayat
yang ada di tubuhnya. Bahkan tak sedikit yang malah menyebabkan
matinya si pemain (matador). Pertandingan seperti ini adalah
perbuatan yang liar yang ditolak syariat Islam, semisal dengan yang
dikatakan oleh Rasulullah  dalam hadits shahih,

“Seorang wanita masuk neraka disebabkan seekor kucing yang


dikurungnya (sehingga mati). Dia mengurungnya tetapi tidak
memberinya makan dan minum, tidak pula dia melepaskannya agar
dapat memakan serangga di tanah.”3
Jika mengurung kucing saja menyebabkannya masuk ke dalam neraka
pada hari kiamat, maka bagaimana pula dengan yang menyiksa
banteng (hewan) dengan senjata tajam (atau yang sejenisnya)
sampai mati?4

2
Istilah ini biasanya digunakan dalam perang, yaitu pertangdingan satu lawan satu sampai sampai
dapat bisa mengalahkan atau membinasakan lawannya.
3
Bukhari, hadits no.2472. Muslim, hadits no.2242
4
Majmu Fatawa Ibnu Baaz, hal.410 oleh syaikh bin Baaz

12 Fatawa Vol. 07/Th. I / 1424 H - 2003 M


 Fatwa
sangat mengharap manfaat (bonus)
atau keuntungan yang akan didapatkan
darinya, hal ini tidak boleh bagi seorang
Muslim. Adapun jika ia dipaksa dan mau
tidak mau harus mengikutinya, (karena
jika tidak mengikutinya akan dapat
menyulitkannya) dengan tidak dibolehkan
mendapatkan apa yang menjadi
Syaikh Shalih al-Fauzan kebutuhannya yang tidak bisa tidak mesti
al-Muntaqa IV/253-254 dimilikinya, seperti pendidikan, membeli
kendaraan, dan yang sepertinya, maka
Tanya: Apakah boleh mengasuransikan ia melakukannya bukan karena
jiwa, harta, kendaraan secara umum.
mengharap keuntungan, akan tetapi
Terlebih lagi saya tinggal di Eropa. Bagi
mengharap apa yang dapat mencukupi
mereka hal ini merupakan suatu
kebutuhan pribadinya, yang tidak bisa
keharusan dan hal yang biasa?
tidak mesti dimilikinya. Maka tidak
Jawab: Asuransi itu tidak boleh karena mengapa membayar cicilan (premi)
di dalamnya terdapat ketidakjelasan, asuransi tersebut, namun dengan tidak
pertaruhan, dan memakan harta orang mengambil (mencari) hasil dan
lain dengan cara yang batil. Tidak boleh keuntungan darinya. Karena ia
mengikuti asuransi secara sengaja (atas melakukannya hanya agar mendapat
pilihan sendiri). Dan bahwa seseorang apa yang menjadi kebutuhannya, bukan
yang ikut serta di dalamnya dengan berharap keuntungan dari ke-
sengaja (atas pilihannya sendiri) dengan ikutsertaannya di asuransi tersebut.

Tanya: Apa hukum asuransi menurut syari’at, seperti seseorang membayar


(menyetor) sejumlah uang setiap bulan atau setiap tahun kepada perusahaan
asuransi, untuk mengasuransikan kendaraannya agar, bila –suatu saat- terjadi
kecelakaan sehingga mengalami kerusakan maka perusahan asuransi itulah yang
akan menanggung beban perbaikannya. Akan tetapi dalam setahun, (kecelakaan)
pada mobilnya bisa terjadi dan bisa pula tidak , sementara peserta asuransi
tersebut tetap harus membayar biaya tahunan yang menjadi kewajibannya. Apakah
muamalah seperti ini dibolehkan?
Jawab: tidak boleh mengasuransikan kendaraan, dan tidak pula yang lainnya.
Karena di dalamnya terdapat adu nasib, pertaruhan serta memakan harta (orang
lain) dengan cara yang batil. Yang wajib atas seseorang adalah bertawakal kepada
Allah , jika terjadi sesuatu padanya dari taqdir Allah , hendaknya ia bersabar
dan menanggung apa yang menjadi akibat dari musibah tersebut dari hartanya,
bukan dari perusahaan asuransi. Allah  sajalah yang akan menolong dari

Fatawa Vol. 07/ Th. I / 1424 H - 2003 M 12


3
masalah-masalah seperti ini dan perkara yang lain. Maka janganlah mengadu
kepada pihak asuransi yang mengandung pertaruhan dan memakan harta orang
lain dengan cara yang batil, lebih dari itu bahwa para pemilik kendaraan yang
mengasuransikan kendaraan mereka kepada perusahaan asuransi dan
mengetahui betul bahwa perusahaan asuransilah yang akan menanggung kerugian
dari musibah yang akan menimpanya, maka akan mendorong mereka berlaku
seenaknya dan sembrono dalam mengemudi. Dan bisa jadi akan membahayakan
dan mengancam keselamatan orang lain beserta harta miliknya. Berbeda kalau
dia mengetahui bahwa dia sendiri yang akan menanggung dan bertanggung
jawab atas kerugian itu, maka dia akan lebih berhati-hati. Dan telah kita katakan
tadi bahwa dalam asuransi terdapat memakan harta dengan cara yang batil,
karena kerugian yang ditanggung oleh pihak perusahaan asuransi terkadang lebih
besar dan berlipat ganda dibandingkan dengan apa yang dibayar pihak peserta
(nasabah) asuransi, sehingga berarti ia memakan harta orang lain dengan cara
yang batil, dan sebaliknya bisa jadi pihak peserta (nasabah) asuransi tidak
mengalami kerugian (sehingga perusahaan asuransi tidak menanggung beban
kerugian tersebut), maka berarti pihak perusahaan asuransi memakan hartanya
dengan cara yang batil.

Kaidah Syari’at yang dapat Menjaga Seorang Muslim Berpegang kepada


Manhaj Salafus Shalih agar tidak Berpaling dan Terpengaruh dengan Manhaj-
Manhaj Menyimpang yang Menyelusup ke dalam Islam.5

Tanya: apa sajakah kaidah-kaidah 1. Hendaknya seseorang senantiasa


syari’at yang dapat menjaga seorang merujuk (mengembalikan semua
Muslim agar tetap konsisten dalam permasalahannya) kepada para ulama,
berpegang teguh dengan manhaj belajar dari mereka, meminta nasehat
Salafus Shalih dan tidak berpaling mereka dalam perkara-perkara (sulit)
daripadanya akibat terpengaruh oleh yang sedang dipikirkannya, agar
manhaj-manhaj menyimpang yang mendapatkan pandangan mereka dalam
menyelusup ke dalam Islam? hal tersebut.
Jawab: Kaidah-kaidah syari’at tersebut 2. Menimbang secara cermat (berhati-
intinya adalah sebagai berikut: hati) dalam segala perkara, tidak

5
Al-Muntaqa min fatawa asy-syaikh al-Fauzan I/353

14 Fatawa Vol. 07/Th. I / 1424 H - 2003 M


terburu-buru. Demikian pula tidak membunuhnya), dengan maksud mencari
tergesa-gesa dalam menghukumi orang. harta benda kehidupan di dunia, karena
Tapi hendaklah senantiasa memastikan di sisi Allah ada harta yang banyak. Begitu
(meneliti)nya terlebih dahulu. Allah  jugalah keadaan kamu dahulu, lalu Allah
berfirman, menganugerahkan ni`mat-Nya atas kamu,
maka telitilah. Sesungguhnya Allah Maha
Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”
(Q.S. An-Nisa’:94)
Makna tabayyun –dalam dua ayat diatas-
yakni tatsabbut (mencari kebenaran)
terhadap setiap berita yang sampai.
“Hai orang-orang yang beriman, jika
datang kepadamu orang fasik membawa 3. Apabila telah dipastikan kebenaran-
suatu berita, maka periksalah dengan nya, maka bersegeralah mencari
teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu solusinya dengan cara-cara yang tepat
musibah kepada suatu kaum tanpa dalam memperbaikinya, tidak dengan
mengetahui keadaannya yang cara-cara kekerasan (intimidasi) atau
menyebabkan kamu menyesal atas dengan cara-cara yang membingung-
perbuatanmu itu.” (Q.S. Al-Hujurat: 6) kan. Nabi  bersabda,
Dan firman-Nya pula,
“Berilah berita baik kepada mereka dan
jangan engkau buat mereka lari
(berpaling).”6
Sabdanya  pula,

“Sesungguhnya kalian diutus sebagai


pemberi kabar gembira, bukan untuk
menjadikan orang-orang menjauh (lari)
dari kalian.”
Dan Rasulullah  berkata kepada
sebagian pembesar sahabat,
“Hai orang-orang yang beriman, apabila
kamu pergi (berperang) di jalan Allah,
maka telitilah dan janganlah kamu
mengatakan kepada orang yang
mengucapkan “salam” kepadamu: “Kamu “Sesungguhnya ada di antara kalian yang
bukan seorang mu’min” (lalu kamu menjadi sebab orang-orang menjauh, oleh

6
HR Bukhari (I/25) dari Anas bin Malik .

Fatawa Vol. 07/ Th. I / 1424 H - 2003 M 14


5
karena itu, barang siapa yang mengimami “Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka
manusia (di dalam shalat), hendaknya ia itu terdapat pengajaran bagi orang-orang
meringankannya, karena sesungguhnya di yang mempunyai akal.” (Q.S. Yusuf: 111)
belakangnya (para makmum) ada orang-
Maka seseorang adalah bagian dari umat
orang yang lemah dan orang yang punya
ini, dan umat adalah kumpulan kaum
keperluan.”7
Muslimin dari mulai terbitnya fajar Islam
Yang jelas, setiap permasalahan itu sampai hari kiamat. Inilah yang dimaksud
hendaknya diselesaikan dengan hikmah kumpulan umat. Seorang Muslim
(bijaksana) dan pertimbangan yang hendaknya menengok sejarah hidup
matang, dan tidak pantas setiap orang orang-orang terdahulu yang shalih,
ikut campur dalam suatu perkara yang tentang kabar mereka, bagaimana
ia tidak memiliki kemampuan dalam mereka menuntaskan permasalahan,
menanganinya. bagaimana petunjuk mereka dalam hal
itu; sehingga dapat berjalan di atas jalan
4. Diantara kaidah-kaidah tersebut juga
mereka. Jangan menengok kepada
adalah hendaknya seseorang membekali
perkataan orang-orang yang ceroboh
diri dengan ilmu yang bermanfaat
dan berita-berita dari orang-orang
dengan menghadiri majelis-majelis ahli
bodoh yang menyemangati umat ini
ilmu dan mendengarkan pandangan-
dengan tanpa petunjuk.
pandangan mereka, demikian pula
dengan membaca kitab-kitab Salafus Kebanyakan dari tulisan-tulisan,
Shalih dan sejarah perjalanan hidup ceramah-ceramah dan ucapan-ucapan
orang-orang shalih dari para Salaf umat pada masa sekarang ini terlontar dari
ini serta ulama mereka. Bagaimana mulut orang-orang yang bodoh dengan
mereka menyelesaikan masalah- urusan syari’at, menyemangati dan
masalah yang terjadi, bagaimana memerintahkan manusia untuk
mereka memperingatkan (menasehati) melakukan sesuatu yang tidak
manusia, bagaimana mereka mengajak diperintahkan oleh Allah dan rasul-Nya,
kepada yang ma’ruf dan melarang dari sekalipun semua itu bersumber dari
perkara yang munkar dan bagaimana maksud dan niat yang baik. Akan tetapi
mereka menghukumi sesuatu. ukurannya bukan hanya maksud dan niat
Semuanya ini diabadikan dalam baik semata, yang menjadi ukuran adalah
perjalanan hidup, biografi dan kabar- kebenaran. Dan kebenaran itu adalah apa
berita mereka, serta dalam kisah-kisah yang sesuai dengan al-Qur`an dan as-
tentang orang-orang terdahulu dari Sunnah dengan pemahaman para salaf.
kalangan orang-orang yang baik, shalih Adapun manusia –selain Rasulullah —
dan jujur. Allah  berfirman, adalah makhluk yang bisa salah dan bisa
benar. Kita terima yang benar dan kita
tolak yang salah. }

7
HR. Bukhari I/3, dengan lafal “Sesungguhnya kalian adalah sebab (yang menjadikan) orang-
orang menjauh, maka barang siapa yang shalat…” dari hadits Ibnu Mas’ud al-Anshari .

16 Fatawa Vol. 07/Th. I / 1424 H - 2003 M


 Tafsir

Disarikan dan diterjemahkan oleh


Abu Abdirrahman

“Sesungguhnya orang-orang yang


selalu membaca kitab Allah dan mendirikan shalat
dan menafkahkan sebagian dari rezeki yang Kami
anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu
mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi, (yaitu) agar Allah menyempurnakan
kepada mereka pahala mereka dan menambah kepada mereka dari karuniaNya.
Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri.” (Q.S. Fathir: 29-30)

Ibnu Katsir berkata, “Allah 


mengabarkan tentang hamba-hamba-Nya
yang beriman, yang selalu membaca kitab “(yaitu) agar Allah menyempurnakan kepada mereka
Allah lagi mengimaninya, serta mengamal- pahala mereka dan menambah kepada mereka dari
kan isinya, yaitu menegakkan shalat dan karuniaNya.”
menginfaqkan hartanya pada waktu-waktu Maksudnya, agar Allah  memberi
yang disyari’atkan, baik dengan terang- pahala terhadap apa yang telah mereka
terangan ataupun sembunyi-sembunyi. amalkan dan memberikan tambahan pahala
Allah menyatakan bahwa mereka itu adalah untuk mereka dengan tambahan-
orang-orang yang sudah pasti akan tambahan yang tidak pernah terlintas di
mendapatkan pahala dari Allah yang hati-hati mereka.
senantiasa mereka harap-harapkan.
Qatadah berkata, “Mutharrif, apabila
Berkenaan dengan hal ini kami telah
selesai membaca ayat ini, biasanya berkata,
memaparkan di awal kitab ini dalam bab
“Ini merupakan ayat yang menjelaskan
Keutamaan Al-Qur’an bahwasanya Al-
tentang keutamaan ahli Al-Qur’an).”
Qur’an akan berkata kepada orang yang
menghafalkan dan mengamalkan isinya
pada hari kiamat, “Sungguh, setiap Ayat Lain yang Semakna
pedagang akan mendapatkan laba dari
perdagangannya, dan engkau pada hari
ini akan mendapatkan laba dari usaha
perdaganganmu.” Oleh karenanya Allah 
berfirman dalam ayat berikutnya,
1
Yang dimaksud Ahli Al-Qur’an di sini ialah orang yang mempelajari, menghafal, dan melaksanakan
kandungannya, serta mau mengajarkan kepada orang lain. -Red.

Fatawa Vol. 07/ Th. I / 1424 H - 2003 M 16


7
“Sebenarnya Al Qur’an itu adalah ayat-ayat dan mengajarkan ilmu selain Al-Qur`an
yang nyata di dalam dada orang-orang yang mendapatkan keutamaan yang sama
diberi ilmu.” (Q.S. Al-Ankabut:49) seperti orang yang mempelajari dan
Dalam kitab tafsirnya, Zad al-Muyassar, mengajarkan Al-Qur’an, dengan alasan
Imam Ibnu al-Jauzi berkata, “Yang semuanya sama-sama memberikan manfaat
dimaksud dengan orang-orang yang diberi bagi orang lain. (Bedanya), karena Al-
ilmu adalah kaum Mukminin yang hafal Al- Qur’an adalah ilmu yang paling mulia,
Qur`an, baik pada zaman Rasulullah  sehingga orang yang mempelajari dan
maupun setelahnya. Dan hanya umat Islam mengajarkannya tentu saja lebih mulia
saja yang diberi keutamaan untuk bisa dibandingkan dengan orang yang
menghafal kitabnya (Al-Qur`an). Adapun mempelajari dan mengajarkan ilmu selain
umat-umat sebelumnya, mereka tidak bisa Al-Qur’an.
membaca kitab mereka kecuali dengan Tidak diragukan lagi bahwa orang yang
membukanya. Adapun kalau kitab mereka mempelajari Al-Qur’an sekaligus
ditutup, maka mereka tidak bisa mengajarkannya adalah orang yang
membacanya (lewat hafalan), kecuali mendatangkan kesempurnaan bagi dirinya
hanya nabi-nabi mereka saja. Ini adalah dan bagi orang lain, juga mendatangkan
perkataan yang disampaikan oleh Imam al- kemanfaatan kepada dirinya maupun kepada
Hasan al-Bashri.” orang lain. Orang semacam itu adalah orang
yang paling utama, dan ialah orang yang
Hadits-Hadits, Atsar dimaksud oleh Allah  dalam firman-Nya,
Sahabat, dan Perkataan
Para Ulama Salaf dan
Khalaf tentang Al-Qur ’an
1. Diriwayatkan dari Abu Abdurrahman as-
Sulami dari Utsman bin Affan  dari Nabi “Siapakah yang lebih baik perkataannya
daripada orang yang menyeru kepada Allah,
, beliau bersabda,
mengerjakan amal yang shalih dan berkata,
‘Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang
“Orang yang terbaik dari kalian adalah orang berserah diri?’” (Q.S. Fushshilat:33)
yang belajar Al-Qur’an lalu mengajarkannya.” Kalimat ‘Menyeru kepada Allah’ pada
Kemudian Sa‘ad bin Ubaidah 2 ayat di atas meliputi perkara yang
berkata, “Dan Abu Abdurrahman telah bermacam-macam, yang di antaranya
mengajarkan Al-Qur`an sejak kekhalifahan adalah mengajarkan Al-Qur’an. Menyeru
Utsman  sampai zaman Hajjaj bin Yusuf3. kepada Allah adalah merupakan seruan
Dan beliau berkata, ‘Hadits inilah yang yang paling mulia di antara bentuk-bentuk
mendorongku menjalani kedudukan ini.’”4 seruan yang ada.”5
Dalam kitabnya, Fath al-Bari, al-Hafizh Ibnu Hajar kemudian mengomentari
Ibnu Hajar berkata, “Tidak tepat kalau perkataan Abu Abdurrahman “Hadits inilah
dikatakan bahwa orang yang mempelajari yang mendorongku untuk menjalani
2
Periwayat sebelum Abu Abdurrahman. -Pen.
3
Ibnu Hajar mengatakan bahwa rentang waktu antara awal kekhilafahan Utsman  sampai akhir
kekuasaan Hajjaj bin Yusuf (sebagai wali di Irak) adalah selama 72 tahun kurang 3 bulan. Fath
al-Bari (X/94).
4
H.R. Bukhari (no. 4739).
5
Fath al-Bari (X/94).

18 Fatawa Vol. 07/Th. I / 1424 H - 2003 M


kedudukanku ini”, beliau berkata, “Hadits dalam Al-Qur’an yang telah engkau hafal?”
yang dibawakan oleh Utsman bin Affan  Laki-laki itu menjawab, “Surat ini dan surat
tentang keutamaan bagi orang yang ini. 9” Lalu Rasulullah  berkata, “Kalau
mempelajari dan mengajarkan Al-Qur’an begitu aku nikahkan engkau dengannya
mendorong Abu Abdurrahman mengajarkan dengan mahar berupa hafalan Al-Qur’an yang
Al-Qur’an kepada umat, demi untuk kamu hafal.”10
mendapatkan keutamaan tersebut.”6 Ibnu Hajar berkata, “Telah berkata
2. Diriwayatkan pula dari Abu Ibnu Baththal, ‘Pertimbangan Imam
Abdurrahman as-Sulami dari Utsman bin Bukhari memasukkan hadits ini dalam
Affan , dia berkata, Nabi  bersabda, pembahasan keutamaan Al-Qur’an adalah
karena Rasulullah  menikahkan sahabat
tersebut dengan sebab kemuliaan Al-
“Sesungguhnya orang yang paling utama di Qur’an yang dia hafal.’ Ibnu at-Tin
antara kalian adalah orang yang mem-pelajari melengkapi komentar tersebut dengan
Al-Qur’an dan mengajarkannya.”7 mengatakan bahwasanya susunan lafazh
Ibnu Hajar berkata, “Di dalam hadits hadits tersebut menunjukkan bahwa
ini terdapat anjuran untuk mengajarkan Al- Rasulullah  menikahkan sahabat tersebut
Qur’an. Sufyan ats-Tsauri pernah dengan mahar berupa pengajaran Al-
ditanya oleh seseorang tentang mana Qur’an yang dia hafal kepada calon
yang lebih utama, mengajarkan Al-Qur’an istrinya.”11
atau berjihad. Beliau lebih mengutamakan Selanjutnya Ibnu Hajar berkata,
mengajarkan Al-Qur’an, berhujjah dengan “Ulama lain mengatakan bahwa
hadits di atas.” 8 pertimbangan dimasukkannya hadits ini
3. Diriwayatkan dari Sahl bin Sa‘ad, dia oleh Imam Bukhari, karena keutamaan Al-
mengatakan bahwa pernah datang kepada Qur’an yang dimiliki oleh orang yang
Rasulullah  seorang wanita dan menghafalnya di dunia ini laksana harta
mengatakan bahwa dia menghibahkan yang dapat dipergunakan untuk
dirinya untuk Allah dan Rasul-Nya, maka menggapai keinginan-keinginannya.
Rasulullah  menjawab, “Aku tidak Adapun keutamaan yang akan digapai oleh
membutuhkan lagi seorang istri.” Lalu seorang orang yang menghafal Al-Qur’an di akhirat
laki-laki berkata, “Nikahkanlah aku dengan kelak, sudahlah jelas (diberitakan nash-
dia!” Rasulullah  berkata kepada laki-laki nash Al-Qur’an dan As-Sunnah).”12
itu, “Berilah ia sepotong pakaian!” Laki-laki 4. Diriwayatkan dari Ibnu Abbas 
itu berkata, “Aku tidak punya.” Rasulullah bahwa dia berkata, “Dan orang-orang
 berkata kepadanya, “Berikan kepadanya yang hafal Al-Qur’an, baik tua maupun
(mahar) walaupun hanya sebuah cincin besi!” muda, pada zaman kekuasan Umar 
Laki-laki itu pun menyampaikan alasan menjadi teman-teman diskusinya dan
ketidakmampuannya kepada Rasulullah . menjadi orang-orang yang selalu diajak
Lalu Rasulullah  berkata, “Adakah surat bermusyawarah.”13
6
Idem (X/95).
7
H.R. Bukhari (no. 4740).
8
Fath al-Bari (X/95).
9
Perkataan ini sebagai kiasan dari surat yang disebutnya. Pen.
10
H.R. Bukhari (no. 4741).
11
Fath al-Bari (X/95).
12
Fath al-Bari (X/96).
13
H.R. Bukhari (no. 4366).

Fatawa Vol. 07/ Th. I / 1424 H - 2003 M 18


9
5. Diriwayatkan dari Umamah al-Bahili ,
ia berkata, “Aku pernah mendengar
Rasulullah  bersabda,

“Orang yang mahir membaca Al-Qur’an akan


bersama para malaikat yang mulia lagi selalu
berbakti; dan orang yang membaca Al-Qur’an
“Bacalah Al-Qur’an karena sesungguhnya Al- dengan terbata-bata lagi merasakan berat akan
Qur’an akan datang pada hari kiamat sebagai mendapatkan dua pahala.”16
syafa’at bagi pembacanya.” 14 Imam Nawawi dalam kitab Syarah
6. Diriwayatkan dari Abu Musa al-Atsari , Shahih Muslim berkata, “Makna ‘mahir’
dia berkata, “Rasulullah  bersabda, adalah orang yang cerdas lagi sempurna
hafalan Al-Qur’annya, tidak tersendat-
sendat dan tidak bersusah payah ketika
membacanya, karena bagus dan kuat
hafalannya.”
“Perumpamaan seorang mukmin yang menghafal Al-Qadhi berkata, “Bisa jadi
Al-Qur’an adalah seperti buah Utrujah; baunya disejajarkannya orang yang mahir Al-Qur’an
sedap dan rasanya lezat.”15 dengan para malaikat pembawa risalah adalah
karena orang yang mahir Al-Qur’an akan
Imam Nawawi, dalam kitab Syarah
dibuatkan rumah di surga oleh Allah  yang
Shahih Muslim, berkata, “Di dalam hadits ini
mana dia akan berteman di dalamnya dengan
disebutkan keutamaan orang yang hafal
para malaikat-malaikat pembawa wahyu
Al-Qur’an, dan disunnahkannya membuat
lantaran orang tersebut mempunyai sifat yang
permisalan untuk menjelaskan sesuatu
sama dimiliki oleh para malaikat tersebut, yaitu
yang kita maksudkan.”
hafal kitab Allah. Bisa jadi pula bahwa orang
Ibnu Hajar dalam kitab Fath al-Bari yang mahir tersebut telah mengamalkan apa
mengatakan bahwa Rasulullah  memisalkan yang diamalkan oleh para malaikat dan telah
orang mukmin dengan buah Utrujah, karena menempuh jalan yang ditempuh oleh para
buah tersebut di samping sedap baunya dan malaikat. Adapun orang yang kesulitan
lezat rasanya, juga terkandung manfaat- membaca Al-Qur’an tentu mereka akan
manfaat yang banyak bagi tubuh manusia. mengulang-ulang bacaan Al-Qur’annya itu
Bahkan ada yang mengatakan bahwa jin tidak karena hafalannya yang lemah. Maka, bagi
mau mendekati rumah yang di dalamnya orang tersebut akan mendapatkan dua
terdapat buah Utrujah. Maka sangat pas kalau pahala; yang pertama pahala karena telah
Al-Qur’an diumpamakan dengan buah tersebut membaca Al-Qur’an, dan pahala yang kedua
karena syaithan tidak mau mendekati Al-Qur’an. adalah pahala dari susah payahnya dalam
7. Diriwayatkan dari ‘Aisyah, ia berkata, membaca.”
“Rasulullah  bersabda, Al-Qadhi dan ulama-ulama yang lain
mengatakan bahwa bukanlah berarti orang
yang bersusah payah tersebut

14
H.R. Muslim (no. 804).
15
H.R. Bukhari (no. 5111) dan Muslim (no. 797).
16
H.R. Muslim (no. 798).

20 Fatawa Vol. 07/Th. I / 1424 H - 2003 M


mendapatkan pahala lebih banyak dari kepadanya, “Siapa orang yang engkau
orang yang mahir, akan tetapi orang yang tunjuk menjadi penggantimu memimpin
mahir tersebut lebih utama dan lebih ahlul Wadi20?” Nafi‘ menjawab, “Ibnu Abza.”
banyak pahalanya, karena dia disejajarkan Umar bertanya, “Siapa Ibnu Abza?” Nafi‘
dengan para malaikat serta akan menjawab, “Dia salah seorang maula (bekas
mendapatkan pahala yang Allah saja yang budak) di antara maula-maula kita.” Umar
tahu jumlahnya. bertanya lagi, “Apakah engkau
8. Diriwayatkan dari Abu Mas’ud al-Anshari menyerahkan kepemimpinan atas ahlul wadi
al-Badri  bahwa Rasulullah  bersabda, kepada seorang bekas budak!?” Nafi‘
berkata, “Dia adalah seorang yang hafal
Kitabullah dan mumpuni dalam masalah ilmu
faraidh.” Maka Umar berkata, “Sungguh
“Hendaknya yang menjadi imam bagi Nabi kalian pernah berkata,
sekelompok kaum adalah orang yang paling
menguasai Al-Qur’an.”17
Dalam kitab beliau Bahjah an-Nazhirin,
Syaikh Salim al-Hilali memberi penjelasan
terhadap hadits di atas sebagai berikut.
“Sesungguhnya Allah akan mengangkat suatu
a. Kita selayaknya mendahulukan orang kaum dengan sebab kitab ini dan akan
yang lebih ahli untuk diangkat menjadi imam menghinakan kaum yang lain dengan sebab
shalat. Pertama kita mendahulu-kan orang kitab ini pula.” 21
yang paling mengetahui tentang Al-Qur’an
Dalam kitab Shahih-nya, Imam Muslim
dan yang paling bagus bacaan Al-
membuat sebuah bab berjudul “Bab
Qur’annya, kemudian orang yang paling
tentang Keutamaan Orang yang Menghafal
alim tentang hadits, setelah itu baru
Al-Qur’an” kemudian beliau membawakan
kemudian orang yang paling dulu hijrahnya
hadits di atas.
atau Islamnya, lalu orang yang paling tua
umurnya. 10.Dalam kitab at-Tibyan, Imam Nawawi
berkata, “Adapun bab yang ketiga adalah
b. Ilmu yang paling agung adalah ilmu
tentang keharusan memuliakan orang
tentang Al-Qur’an, baik mengenai
yang hafal Al-Qur’an dan larangan untuk
bacaannya, pengajarannya, atau
menyakitinya.” Kemudian beliau
penghafalannya.
membawakan hadits yang diriwayatkan
c. Ilmu Al-Qur’an bercabang menjadi ilmu oleh Abu Musa, katanya Rasulullah 
hadits baik, riwayat, dirayah, atau ri‘ayah18. pernah bersabda,
9. Diriwayatkan dari Amir bin Watsilah
bahwa Nafi‘ bin Abdul Harits bertemu
dengan Umar di ‘Usfan19. Sebelumnya
Umar telah menugaskannya menjadi
gubernur di Makkah. Maka Umar bertanya

17
H.R. Muslim (no. 673).
18
Riwayat ialah ilmu tentang sanad dan rijal (perawi-perawi hadits). Dirayah ialah ilmu musthalah
hadits. Ri’ayah ialah ilmu tentang makna-makna hadits dan pejelasannya.
19
Kota yang terletak antara Makkah dan Madinah.
20
Nama lain dari Makkah
21
H.R. Muslim (no. 817).

Fatawa Vol. 07/ Th. I / 1424 H - 2003 M 20


1
“Sesungguhnya termasuk sikap mengagung-kan yang sangat besar ini hanya bisa digapai
Allah ialah memuliakan orang muslim yang sudah oleh orang-orang yang hafal Al-Qur’an dan
tua, memuliakan Pemikul (penghafal) Al-Qur’an mampu menyempurnakan hafalannya
yang tidak berlebih-lebihan terhadap Al-Qur’an sebagaimana mestinya. At-Thibi berkata,
lagi tidak mencampakkannya, serta memuliakan “Sesungguhnya naiknya para ahli Al-Qur’an
pemimpin yang adil.”22 ke tingkatan-tingkatan surga itu, dilakukan
Pengarang kitab ‘Aun al-Ma’bud 23, terus menerus; seperti halnya mereka, di
mana setelah mengkhatamkan Al-Qur’an,
berkata, “Digunakannya kata
lalu dimulainya lagi dari depan. Dan
(pemikul Al-Qur’an) karena dia telah memikul kedudukan bacaan Al-Qur’an bagi ahli Al-
beban berat yang banyak yang melebihi Qur’an seperti tasbih bagi para malaikat.
beban-beban berat yang ada.” 24 Mereka tidak akan lalai dari kenikmatan-
11.Diriwayatkan dari Abdullah bin Umar kenikmatan yang berupa membaca Al-
dan Ibnu al-‘Ash  bahwa Rasulullah  Qur’an. Bahkan, bacaan Al-Qur’an itu
bersabda, sendiri merupakan kenikmatan yang
terbesar bagi mereka.”
12. Diriwayatkan dari Abu Umamah, dia
berkata, Rasulullah  pernah bersabda,

“Akan dikatakan kepada pemilik (penghafal)


Al-Qur’an (pada hari akhir), ‘Bacalah dan “Hafalkanlah Al-Qur’an! Janganlah kalian
naiklah! Tartilkanlah (bacaan al-Qur’anmu) tertipu dengan mushaf-mushaf yang tergantung
sebagaimana kau mentartilnya di dunia, ini, karena sesungguhnya Allah  tidak
sesungguhnya kedudukanmu bergantung pada mengadzab seseorang yang hatinya menghafal
akhir ayat yang kamu baca.” 25 Al-Qur’an.”26
Pengarang kitab ‘Aun al-Ma’bud berkata, Fudhail bin Iyadh berkata, “Orang
“Dalam sebuah hadits disebutkan bahwa yang hafal Al-Qur’an adalah pembwa panji-
tingkatan-tingkatan surga itu sesuai dengan panji-panji Islam. Dia tidak boleh bersantai-
bilangan ayat-ayat Al-Qur’an. Disebutkan santai, tidak boleh lupa dan tidak boleh
pula dalam hadits bahwa tidak ada lagi berbuat sia-sia, demi untuk
tingkatan surga di atas tingkatan yang di mengagungkan hak Al-Qur’an.”27
tempati oleh ahli Al-Qur’an; mereka akan Dari Ibnu Abi Dawud dari Ali bin Abu
menaiki tingkatan-tingkatan surga sesuai Thalib, bahwasanya dia pernah mendengar
dengan banyaknya ayat yang mereka hafal.” suara ramai di masjid, yang berasal dari
Selanjutnya dia berkata, “Dari hadits ini orang-orang yang membaca Al-Qur’an. Dia
bisa kita ambil pelajarannya bahwa pahala berkata, “Keberuntunganlah yang akan

22
H.R. Abu Dawud (no. 4843).
23
Syarah kitab Sunan Abi Dawud.
24
‘Aunul Ma‘bud (XIII/132).
25
H.R. Abu Dawud (no. 1464), Tirmidzi (no. 2914).
26
H.R. Darimi (no. 3185). Ibnu Hajar berkata di dalam Fath al-Bari bahwa hadits ini adalah hadits
yang shahih sanadnya.
27
At-Tibyan.

22 Fatawa Vol. 07/Th. I / 1424 H - 2003 M


mereka dapatkan. Mereka itu orang yang Referensi:
paling dicintai oleh Rasulullah .”28 1. Tafsir Ibnu Katsir
Anas berkata, “Apabila ada salah 2. Tafsir Zad Al Masir
seorang di antara kami telah hafal surat al- 3. Fath al-Bari
Baqarah dan Ali Imran, maka dia akan 4. Syarah Shahih Muslim karya Imam Nawawi
menjadi orang yang agung dan mulia di 5. ‘Aun al-Ma‘bud (Syarah kitab Sunan Abi
Dawud)
mata kami.”29
6. At-Tibyan (Imam Nawawi)
Imam Nawawi berkata, “Ketahuilah 7. Al Qawa‘id al-Hisan
madzab yang benar dan yang terpilih yang 8. Bahjah an-Nazhirin (Syarah kitab Riyadhush
dijadikan sandaran oleh para ulama, adalah Shalihin) karya Syaikh Salim al-Hilali
bahwasanya membaca al-Quran itu lebih
utama dari pada tasbih, tahlil, dan dzikir-
dzikir lainnya .” 30
Syaikh Abdurrahman as-Sa’di
berkata, “Ketahuilah bahwa ilmu tafsir Al-
Qur’an adalah merupakan ilmu yang paling
agung, paling utama, yang paling wajib
dipelajari, dan yang paling dicintai oleh Allah
. Karena Allah telah memerintahkan untuk
memperhatikan Al-Qur’an, memikirkan makna-
maknanya, melaksana-kan kandungan ayat-
ayatnya, dan memuji orang-orang yang
melaksanakan kandungannya, di mana hal
itu akan menghantarkan mereka pada
tingkatan tertinggi; sebuah tingkatan yang
menjanjikan pemberian-pemberian yang
sangat menggiurkan. Kalaulah ada salah Halaman Kover (warna)
seorang di antara kita rela menghabiskan - Belakang Luar Rp. 700.000,-
umurnya yang berharga untuk menekuni
bidang ini, maka pengorbanan seperti itu - Depan Dalam Rp. 600.000,-
belum seberapa dibandingkan dengan apa- - Belakang Dalam Rp. 550.000,-
apa yang akan didapatkannya; yaitu Halaman Dalam (hitam putih)
kenikmatan-kenikmatan yang paling utama
dan paling agung, yang merupakan pokok- - 1 halaman Rp. 400.000,-
pokok agama, dan hal-hal yang akan - 1/2 halaman Rp. 200.000,-
mendatangkan kebaikan dalam urusan
- 1/4 halaman Rp. 150.000,-
agamanya, dunia dan akhiratnya.”31
Mudah-mudahan Allah  menjadikan
kita sebagai ahli Al-Qur’an. Amin.
PASANG 4X
BAYAR 3 !!!
28
Idem.
29
Riwayat Bukhari. HUBUNGI:
30
At-Tibyan. Safaruddin (081328711260)
31
Al-Qawa‘id al-Hisan hal. 3.

Fatawa Vol. 07/ Th. I / 1424 H - 2003 M 22


3
 Fiqih

Diterjemahkan oleh Abu Mus’ab


1
Bab Niat (akan memperoleh balasan dari) apa yang
diniatkannya. Barangsiapa hijrahnya
Tanya:
menuju (keridhaan) Allah dan rasul-Nya,
Niat apakah yang dimaksudkan dalam
maka hijrahnya itu ke arah (keridhaan)
berwudhu dan mandi (wajib)? Apa
Allah dan rasul-Nya. Barangsiapa
hukum perbuatan yang dilakukan tanpa
hijrahnya karena (harta atau
niat dan apa dalilnya?
kemegahan) dunia yang dia harapkan,
Jawab: atau karena seorang wanita yang ingin
Niat yang dimaksud dalam berwudhu dan dinikahinya, maka hijrahnya itu ke arah
mandi (wajib) adalah niat untuk yang ditujunya.”2
menghilangkan hadats atau untuk
Tanya:
menjadikan boleh suatu perbuatan yang
Apa makna istishhab hukum niat dan
diwajibkan bersuci, oleh karenanya
istishhab dzikir niat? Apa hukum masing-
amalan-amalan yang dilakukan tanpa niat
masingnya? Dan kapan diwajibkan dan
tidak diterima. Dalilnya adalah firman
dianjurkan menghadirkan niat bagi orang
Allah ,
yang ingin bersuci?
Jawab:
Istishhab hukum niat maksudnya tidak
memutuskan niat tersebut sampai
“Dan mereka tidaklah diperintahkan selesai bersuci, dan ini hukumnya wajib.
melainkan agar beribadah kepada Allah Adapun istishhab dzikir (pengingatan)
dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya nya maksudnya adalah niat tersebut
dalam (menjalankan) agama dengan selalu berada dalam benaknya di semua
lurus.” (Q.S. Al-Bayyinah:5) ibadah, dan hukumnya mustahab
(dianjurkan). Niat ini wajib dihadirkan di
Dan hadits dari Umar bin al-Khaththab awal kewajiban-kewajiban bersuci, yaitu
, bahwa Rasulullah  bersabda, ketika mengucapkan basmalah, demikian
“Sesungguhnya segala amalan itu tidak pula dianjurkan menghadirkannya di
lain tergantung pada niat; dan awal sunnah-sunnah bersuci jika
sesungguhnya tiap-tiap orang tidak lain terdapat sunnah bersuci.

1
Lihat kembali pembahasan niat ini pada Fatawa Volume.0I/I pada rubrik hadits. Red.
2
Hadits ini diriwayatkan oleh: Bukhari dalam kitab Shahihnya (hadits no. 1, 54, 2529, 3898, 5070,
6689, 6953, dengan lafat yang berbeda-beda) dan Muslim dalam kitab Shahihnya hadits no.
1907. Dan lafat hadits yang tersebut di atas dicantumkan oleh An-Nawawi dalam kitab Riyadhus
Shalihin dan kitab Arba’in dan Ibnu Rajab dalam kitab Jami’ ‘Ulum Wal Hikam.

24 Fatawa Vol. 07/Th. I / 1424 H - 2003 M


Bab wudhu diriwayatkan oleh Abu Hurairah dari Nabi
, beliau bersabda,
Tanya:
Apakah wudhu itu? Apa dalil yang
menunjukkan wajibnya wudhu? Dan apa (serta
berapa macam) yang mewajibkan wudhu?
Jawab: “Tidak sah shalat bagi orang yang tidak
Yang dimaksud wudhu adalah berwudhu dan tidak sah wudhu orang
menggunakan air yang suci dan yang tidak menyebut nama Allah atas
mensucikan dengan cara yang khusus wudhunya.”3
di empat anggota badan yaitu, wajah,
Adapun dalil gugurnya kewajiban
kedua tangan, kepala, dan kedua kaki.
mengucapkan basmalah kalau lupa atau
Adapun sebab yang mewajibkan wudhu
tidak tahu adalah hadits,
adalah hadats, yaitu apa saja yang
mewajibkan wudhu atau mandi [terbagi
menjadi dua macam, (Hadats Besar) “Dimaafkan untuk umatku, kesalahan dan
yaitu segala yang mewajibkan mandi dan kelupaan.”
(Hadats Kecil) yaitu semua yang
mewajibkan wudhu]. Adapun dalil Tempatnya adalah di lisan dengan
wajibnya wudhu adalah firman Allah , mengucapkan bismillah ( ).

Tanya:
Apa sajakah syarat-syarat wudhu itu?
Jawab:
Syarat-syarat (sahnya) wudhu adalah
sebagai berikut.
“Hai orang-orang yang beriman, apabila
1. Islam, 2. berakal, 3. tamyiz, 4. niat, 5.
kamu hendak mengerjakan shalat, maka
istishhab hukum niat, 6. tidak adanya yang
basuhlah mukamu dan tanganmu sampai
mewajibkan wudhu, 7. istinja dan istijmar
dengan siku, dan sapulah kepalamu dan
sebelumnya (bila setelah buang hajat),
(basuh) kakimu sampai dengan kedua
8. air yang thahur (suci lagi mensucikan),
mata kaki,” (Q.S. Al-Maidah:6)
9. air yang mubah (bukan hasil curian -
Tanya: misalnya-), 10. menghilangkan sesuatu
Apa dalil yang mewajibkan membaca yang menghalangi air meresap dalam
basmalah dalam berwudhu dan gugur pori-pori.
kewajiban tersebut kalau lupa atau tidak tahu?
Tanya:
Jawab: Ada berapakah fardhu (rukun) wudhu itu?
Dalil yang mewajibkan membaca Dan apa saja?
basmalah adalah hadits yang

3
Ahmad (II/418, V/381, VI/382), Abu Dawud (No. 101) dan Ibnu Majah (no. 398-400).

Fatawa Vol. 07/ Th. I / 1424 H - 2003 M 24


5
Jawab: depan sebagai bagian muka, maka wajib
Fardhu (rukun) wudhu ada 6 (enam). membasuhnya.
Yaitu 1. Membasuh muka (temasuk
Tanya:
berkumur dan memasukkan sebagian air
Apa yang dimaksud dengan tertib (urut)?
ke dalam hidung lalu dikeluarkan), 2.
Apa dalil yang mewajibkannya dari al-
Membasuh kedua tangan sampai kedua
Qur’an dan As-Sunnah?
siku, 3. Mengusap (menyapu) seluruh
kepala (termasuk mengusap kedua daun Jawab:
telinga), 4. Membasuh kedua kaki Yang dimaksud dengan tertib (urut)
sampai kedua mata kaki, 5. Tertib adalah sebagaimana yang tertera dalam
(berurutan). 6. Muwalah (tidak diselingi ayat yang mulia. Yaitu membasuh wajah,
dengan perkara-perkara yang lain). kemudian kedua tangan (sampai siku),
kemudian mengusap kepala, kemudian
Tanya:
membasuh kedua kaki.
Sampai dimana batasan wajah (muka)
itu? Bagaimana hukum membasuh Adapun dalilnya adalah sebagaimana
rambut/bulu yang tumbuh di (daerah) tersebut dalam ayat di atas (ayat 6 surat
muka ketika berwudhu? al-Maidah). Di dalam ayat tersebut telah
dimasukkan kata mengusap diantara dua
Jawab:
kata membasuh. Orang Arab tidak
Batasan-batasan wajah (muka) adalah
melakukan hal ini melainkan untuk suatu
mulai dari tempat tumbuhnya rambut
faedah tertentu yang tidak lain adalah
kepala yang normal sampai jenggot yang
tertib (urut).
turun dari dua cambang dan dagu
(janggut) memanjang (atas ke bawah), Kedua, sabda Rasulullah ,
dan dari telinga kanan sampai telinga kiri
melebar. Wajib membasuh semua “Mulailah dengan apa yang Allah telah
bagian muka bagi yang tidak lebat memulai dengannya.”4
rambut jenggotnya (atau bagi yang tidak
tumbuh rambut jenggotnya) beserta kulit Ketiga, hadits yang diriwayatkan dari
yang ada di balik rambut jenggot yang ‘Amr bin ‘Abasah. Dia berkata, “Wahai
jarang (tidak lebat). Karena anda lihat Rasulullah beritahukan kepadaku tentang
sendiri, kalau rambut jenggotnya lebat wudhu?” Rasulullah berkata,
maka wajib membasuh bagian luarnya “Tidaklah salah seorang dari kalian
dan di sunnahkan menyela-nyelanya. mendekati air wudhunya, kemudian
Karena masing-masing bagian luar berkumur-kumur, memasukkan air ke
jenggot yang lebat dan bagian bawah hidungnya lalu mengeluarkannya
jenggot yang jarang bisa terlihat dari kembali, melainkan gugurlah dosa-dosa

4
Darimi dalam Sunan-nya (II/68), Baihaqi dalam as-Sunan ash-Shughra (no. 115) dan dalam as-
Sunan al-Kubra (V/93). Syaikh al-Albani menyebutkan bahwa lafal hadits dengan kata kerja perintah
adalah syadz (menyelisihi) dari lafal yang shahih dengan kata kerja berita seperti yang diriwayatkan
Imam Muslim (no. 1218) yaitu, “ “ (saya mulai dengan apa yang Allah mulai dengannya).

26 Fatawa Vol. 07/Th. I / 1424 H - 2003 M


di (rongga) mulut dan rongga hidungnya mengering anggota sebelumnya setelah
bersama air wudhunya, kemudian beberapa saat.
(tidaklah) ia membasuh mukanya
Dalilnya, hadits yang diriwayatkan
sebagaimana yang Allah perintahkan,
Ahmad dan Abu Dawud8 dari Nabi ,
melainkan gugurlah dosa-dosa wajahnya
“Bahwa Beliau melihat seorang laki-laki di
melalui ujung-ujung janggutnya bersama
kakinya ada bagian sebesar mata uang logam
tetesan air wudhu, kemudian (tidaklah)
yang tidak terkena air wudhu, maka Beliau
ia membasuh kedua tangannya sampai ke
memerintahkan untuk mengulangi wudhunya.
siku, melainkan gugurlah dasa-dosa
tangannya bersama air wudhu melalui Imam Ahmad9 meriwayatkan dari Umar bin
jari-jari tangannya, kemudian (tidaklah) al-Khaththab  bahwa seorang laki-laki
ia mengusap kepalanya, melainkan gugur berwudhu, tetapi meninggalkan satu bagian
dosa-dasa kepalanya bersama air melalui sebesar kuku di kakinya (tidak membasahinya
ujung-ujung rambutnya, kemudian dengan air wudhu). Rasulullah  melihatnya
(tidaklah) ia membasuh kedua kakinya, maka beliau  berkata,
melainkan gugur dosa-dasa kakinya
bersama air melalui ujung-ujung jari
kakinya.” H.R Muslim5. “Berwudhulah kembali, kemudian
shalatlah.”
Dan dalam riwayat Ahmad terdapat
ungkapan, Sedangkan dalam riwayat Muslim10 tidak
“Kemudian mengusap kepalanya menyebutkan lafal, “Berwudhulah kembali.”
(sebagaimana yang Allah Tanya:
perintahkan) 6,..... kemudian membasuh Bagaimana tata cara wudhu yang
kedua kakinya sampai mata kaki sempurna? Dan apa yang dibasuh oleh
sebagaimana yang Allah perintahkan.”7 orang yang buntung ketika berwudhu?
Dan di dalam riwayat Abdullah bin Jawab:
Shanaji terdapat apa yang menunjukkan Hendaknya berniat kemudian membaca
akan hal itu. Wallahu A’lam. basmalah dan membasuh tangannya
Tanya: sebanyak tiga kali, kemudian berkumur-
Apa yang dimaksud dengan muwalah dan kumur dan memasukkan air ke dalam
apa dalilnya? hidung (lalu mengeluarkannya) sebanyak
tiga kali dengan tiga kali cidukan.
Jawab: Kemudian, membasuh mukanya
Maksudnya adalah jangan mengakhirkan sebanyak tiga kali, kemudian membasuh
membasuh anggota wudhu sampai kedua tangannya beserta kedua sikunya
sebanyak tiga kali, kemudian mengusap
5
Hadits no. 832.
6
Lafal dalam kurung tidak ada dalam Musnad Ahmad, wallahu A’lam.
7
Musnad (IV/112).
8
Ahmad (III/424), abu Dawud (no. 175).
9
Musnad (I/121,123).
10
Hadits no. 243.

Fatawa Vol. 07/ Th. I / 1424 H - 2003 M 26


7
kepalanya sekali, dari mulai tempat Dan dari Humran bahwa Utsman 
tumbuh rambut bagian depan sampai pernah meminta dibawakan air wudhu,
akhir tumbuhnya rambut dekat maka ia membasuh kedua telapak
tengkuknya, kemudian mengembalikan tangannya tiga kali, …kemudian
usapan itu (membalik) sampai kembali membasuh tangan kanannya sampai ke
ketempat semula memulai, kemudian siku tiga kali, kemudian tangan kirinya
memasukkan masing-masing jari seperti itu pula, kemudian mengusap
telunjuknya ke telinga dan menyapu kepalanya, kemudian membasuh kaki
bagian daun telinga luar dengan kedua kanannya sampai mata kaki tiga kali,
jempolnya, kemudian membasuh kedua kemudian kaki kirinya seperti itu pula,
kakinya beserta mata kakinya tiga kali, kemudian berkata, “Aku melihat
dan bagi yang cacat membasuh bagian- Rasulullah  berwudhu seperti wudhuku
bagian yang wajib (dari anggota ini. (Muttafaq ‘alaih).12
tubuhnya) yang tersisa. Jika yang buntung
Dan dari Abdullah bin Zaid bin Ashim 
adalah persendiannya maka memulainya
dalam tatacara wudhu, ia berkata,
dari bagian lengan yang terputus.
Demikian pula jika yang buntung adalah
dari persendian tumit kaki, maka “Dan Rasulullah  mengusap kepalanya,
membasuh ujung betisnya. menyapukannya ke belakang dan ke
Tanya: depan.” (Muttafaq ‘alaih)13.
Apa dalil dari tata cara wudhu yang Dan lafal yang lain,
sempurna? Sebutkan dalil-dalil tersebut “(Beliau) memulai dari bagian depan
secara lengkap? kepalanya sampai ke tengkuk, kemudian
Jawab: menariknya lagi ke bagian depan tempat
Adapun niat dan membaca basmalah, semula memulai.”14
telah disebutkan dalilnya diatas. Dan dalam riwayat Ibnu Amr  tentang
Dan dalam riwayat Abdullah bin Zaid  tatacara berwudhu, katanya,
tentang tatacara wudhu (terdapat lafal), “Kemudian (Rasulullah  ) mengusap
kepalanya, dan memasukkan dua jari
telunjuknya ke masing-masing telinganya,
dan mengusapkan kedua jari jempolnya
ke permukaan daun telinganya.” (H.R.
“Kemudian Rasulullah  memasukkan Abu Dawud, Nasa`i dan dishahihkan oleh
tangannya, kemudian berkumur dan Ibnu Khuzaimah).15
memasukkan air ke dalam hidung dengan satu Tanya:
tangan sebanyak tiga kali.” Muttafaq ‘alaih.11

11
Bukhari (no. 189,196), Muslim (235).
12
Bukhari (no. 1832), Muslim (no. 226).
13
Bukhari (no. 189), Muslim (no. 235).
14
Bukhari (no. 183), Muslim (no. 235).
15
Abu Dawud (135), Nasa’i (102). Lihat Shahih Abu Dawud (hadits no. 123).

28 Fatawa Vol. 07/Th. I / 1424 H - 2003 M


Apa saja yang termasuk sunnah-sunnah
wudhu beserta dalilnya?
Jawab:
Yang termasuk sunnah-sunnah wudhu
“Sempurnakan wudhu-mu, dan sela-selalah
adalah: 1. menyempurnakan wudhu, 2.
antara jari-jemarimu, dan bersungguh
menyela-nyela antara jari jemari, 3.
sungguhlah dalam memasukkan air ke
bersungguh-sungguh dalam
dalam hidung kecuali jika kamu dalam
memasukkan air ke dalam hidung kecuali
keadaan berpuasa.” (Diriwayatkan oleh lima
bagi yang berpuasa, 4. mendahulukan
imam, dan di shahihkan oleh Tirmidzi).18
anggota wudhu yang kanan, 5. bersiwak,
6. membasuh dua telapak tangan Dan dari ‘Aisyah, ia berkata, “Nabi  suka
sebanyak tiga kali, 7. mengulangi setiap mengawali sesuatu dengan yang kanan,
basuhan dua kali atau tiga kali, 8. dalam memakai terompah, bersisir,
menyela-nyela jenggot yang lebat. bersuci dan dalam segala sesuatu.”
Muttafaq ‘alaih.19
Dalil tentang siwak telah lalu
penjelasannya 16 . Adapun tentang Adapun menyela-nyala jenggot, yaitu
membasuh dua telapak tangan sebelum hadits yang diriwayatkan oleh Utsman
berwudhu, yaitu apa yang diriwayatkan , “Bahwa Nabi  ada menyela-nyala
oleh Ahmad dan Nasa’i17 dari Aus bin Aus jenggotnya.” (H.R Ibnu Majah dan
ats-Tsaqafi  ia berkata, “Aku melihat Turmudzi dan ia menshahihkannya20),.
Nabi  berwudhu, maka beliau  Cara menyela-nyela jenggot ini dengan
mencuci dua telapak tangannya mengambil seraup air dan meletakkan-
sebanyak tiga kali.” nya dari bawahnya dengan jari-
jemarinya atau dari dua sisinya dan
Adapun tentang menyempurnakan
menggosokkan keduanya. Dan dalam
wudhu, menyela-nyela jari jemari dan
riwayat Abu Dawud 21 dari Anas  ,
bersungguh-sungguh (dalam memasuk-
“Bahwa Nabi  jika berwudhu
kan air ke hidung) kecuali bagi yang
mengambil seraup air, kemudian
berpuasa, sebagaimana dalam hadits
meletakkannya dibawah dagunya dan
yang diriwayatkan oleh Laqith bin
berkata, “Demikianlah yang diperintah-
Shabrah, katanya, ‘Aku berkata, ‘Wahai
kan oleh Tuhan  kepadaku.”
Rasulullah, kabarkan kepadaku tentang
wudhu?’ Nabi berkata, Dalam “Muktashar an-Nazham” dikatakan:

16
Lihat Fatwa Volume 4/I, kolom fiqih
17
Ahmad (IV/9,10), Nasa’i (no. 83).
18
Ahmad (IV/211), Abu Dawud (no. 142), Turmudzi (no. 788), Nasa’i (no. 87), Ibnu Majah (no.
407,488). Turmudzi berkata, “Hasan shahih.”
19
Bukhari (no. 166), Muslim (no. 268).
20
Turmudzi (no. 31), Ibnu Majah (no. 430).
21
Hadits no. 145.
22
Satu mud sama dengan 1 1/3 liter menurut ukuran orang Hijaz dan 2 liter menurut ukuran orang
Irak. (lihat Lisanul Arab Jilid 3 hal 400)

Fatawa Vol. 07/ Th. I / 1424 H - 2003 M 28


9
Tanya: baginya. Dan aku bersaksi bahwa
Berapa takaran air yang dibutuhkan Muhammad adalah hamban-Nya dan
ketika berwudhu atau mandi (junub)? utusan-Nya.’ Melainkan dibukakan
untuknya delapan pintu syurga, ia dapat
Jawab:
masuk dari mana saja yang ia kehendaki.’”
Takaran air dalam berwudhu adalah satu
H.R. Muslim. Dan Imam Tirmidzi
mud22. Adapun untuk mandi sebanyak
menambahkan,
satu sha’ 23 sampai lima mud.
Sebagaimana hadits yang diriwayatkan
oleh Anas  , katanya, “Adalah
Rasulullah  ketika berwudhu dengan
(takaran air sebanyak) satu mud dan
“Ya Allah jadikan aku termasuk orang-
mandi (dengan takaran sebanyak) satu
orang yang bertaubat dan jadikan aku
sha’ sampai lima mud.”) H.R. Muttafaq
termasuk orang-orang yang suka
‘alaih. (Dan makruh (dibenci) berlebih-
mensucikan diri.”
lebihan, yaitu yang lebih dari tiga kali
dalam berwudhu.
Tanya:
Bacaan apa yang disunnahkan ketika
selesai berwudhu?
Jawab:
Bacaan yang disunnahkan adalah
mengucapkan sebagaimana yang
diriwayatkan oleh Umar , katanya,
“Berkara Rasulullah , ‘Tidaklah salah
seorang diantara kalian berwudhu dan
meyempurnakan wudhunya, kemudian
mengucapkan,

“Ya Allah, sesungguhnya aku


meminta perlindungan kepadamu
dari berbuat syirik yang aku ketahui,
‘Aku bersaksi bahwa tidak ada Ilah dan aku memohon ampun dari
(sesembahan) yang berhak disembah perbuatan syirik yang aku tidak
selain Allah semata; yang tidak ada sekutu menyadarinya.”
H.R Ahmad IV/403 dan yang selainnya.
Liahat shahih jami’ III/233, shahih targhib
wa at-Tarhib oleh syaikh al-Albani I/19

23
Satu sha’ sama dengan 4 mud

30 Fatawa Vol. 07/Th. I / 1424 H - 2003 M


 Wanita

Dihimpun dan diterjemahkan oleh Abul Khair

Fatwa Syaikh Ibnu Baz


Berikut ini adalah jawaban dari pertanyaan yang terdapat dalam majalah Al-Jail di
Riyadh (Arab Saudi) tentang kedudukan wanita dalam Islam yang disampaikan
oleh Syaikh Ibnu Baz.

Segala puji hanya milik Allah, Rabb “Aku tinggalkan pada kalian dua perkara,
semesta alam. Shalawat dan salam di mana kalian tidak akan tersesat selama
semoga tercurah kepada Nabi dan Rasul berpegang dengan keduanya, yaitu Kitab
yang paling mulia, kepada keluarganya, Allah dan Sunnahku.” 2
sahabatnya, serta kepada siapa saja Sungguh telah dijelaskan di dalam Al-
yang meniti jalannya sampai hari Qur’an betapa pentingnya peran wanita,
pembalasan. baik sebagai ibu, istri, saudara
Sesungguhnya wanita muslimah perempuan, mapun sebagai anak.
memiliki kedudukan yang tinggi dalam Demikian pula yang berkenaan dengan
Islam dan pengaruh yang besar dalam hak-hak dan kewajiban-kewajibannya.
kehidupan setiap Muslim. Dia akan Adanya hal-hal tersebut juga telah
menjadi madrasah pertama dalam dijelaskan dalam Sunnah Rasul .
membangun masyarakat yang shalih, Peran wanita dikatakan penting
tatkala dia berjalan di atas petunjuk Al- karena banyak beban-beban berat yang
Qur’an dan Sunnah Nabi . Karena harus dihadapinya, bahkan beban-beban
berpegang dengan keduanya akan yang semestinya dipikul oleh pria.
menjauhkan setiap Muslim dan Muslimah
Oleh karena itu, menjadi kewajiban
dari kesesatan dalam segala hal.
bagi kita untuk berterima kasih kepada
Kesesatan dan penyimpangan umat ibu, berbakti kepadanya, dan santun
tidaklah terjadi melainkan karena dalam bersikap kepadanya. Kedudukan
jauhnya mereka dari petunjuk Allah  ibu terhadap anak-anaknya lebih
dan dari ajaran yang dibawa oleh para didahulukan daripada kedudukan ayah.
Nabi dan Rasul-Nya. Rasulullah  Ini disebutkan dalam firman Allah ,
bersabda,

1
Fatawa Ulama al-Balad al-Haram hal. 519.
2
Diriwayatkan oleh Imam Malik dalam al-Muwaththa’ Kitab Al-Qadar III.

Fatawa Vol. 07/ Th. I / 1424 H - 2003 M 30


1
“Dan Kami perintahkan kepada manusia Kemudian, kedudukan isteri dan
(agar berbuat baik) kepada ibu-bapaknya; pengaruhnya terhadap ketenangan jiwa
ibunya telah mengandungnya dalam seseorang (suami) telah dijelaskan
keadaan lemah yang bertambah-tambah, dalam Al-Qur’an. Allah  berfirman,
dan menyapihnya dalam dua tahun.
Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua
orang ibu bapakmu. Hanya kepada-Kulah
kamu akan kembali.” (Q.S. Luqman:14)
“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya
Begitu pula dalam firman-Nya,
ialah Dia menciptakan untuk kalian istri-
istri dari jenis kalian sendiri, supaya kalian
cenderung dan merasa tenteram kepadanya,
dan menjadikan rasa kasih dan sayang di
antara kalian.” (Q.S. Ar-Rum:21)
Al-Hafizh Ibnu Katsir –semoga Alah
“Kami perintahkan kepada manusia merahmatinya- menjelaskan pengertian
supaya berbuat baik kepada ibu firman Allah: “mawaddah wa rahmah”
bapaknya. Ibunya telah mengandungnya bahwa mawaddah adalah rasa cinta, dan
dengan susah payah, dan melahirkannya rahmah adalah rasa kasih sayang.
dengan susah payah (pula). Mengandung Seorang pria menjadikan seorang
dan menyapihnya adalah tiga puluh wanita sebagai istrinya bisa karena cintanya
bulan.” (Q.S. Al-Ahqaf:15) kepada wanita tersebut atau karena kasih
Dalam sebuah hadits disebutkan sayangnya kepada wanita itu, yang
bahwa pernah ada seorang laki-laki selanjutnya dari cinta dan kasih sayang
datang kepada Rasulullah  dan berkata, tersebut keduanya mendapatkan anak.
“Wahai Rasulullah, siapa orang yang Sungguh, kita bisa melihat teladan
paling berhak bagi aku untuk berlaku yang baik dalam masalah ini dari
bajik kepadanya?” Nabi menjawab, Khadijah, isteri Rasulullah , yang telah
“Ibumu.” Orang itu bertanya lagi, memberikan andil besar dalam
“Kemudian setelah dia siapa?” Nabi menenangkan rasa takut Rasulullah 
menjawab, “Ibumu.” Orang itu bertanya ketika beliau didatangi malaikat Jibril 
lagi, “Kemudian setelah dia siapa?” Nabi membawa wahyu yang pertama kalinya
menjawab, “Ibumu.” Orang itu bertanya di goa Hira’. Nabi  pulang ke rumah
lagi, “Kemudian setelah dia siapa?” Nabi dengan gemetar dan hampir pingsan,
menjawab, “Ayahmu.”3 lalu berkata kepada Khadijah, “Selimuti
Dari hadits di atas, hendaknya aku, selimuti aku! Sungguh aku khawatir
besarnya bakti kita kepada ibu tiga kali dengan diriku.” Demi melihat Nabi yang
lipat bakti kita kepada ayah. demikian itu, Khadijah berkata kepada

3
H.R. Bukhari, Kitab al-Adab (no. 5971) [juga Muslim, Kitab al-Birr wa ash-Shilah (no. 2548)].

32 Fatawa Vol. 07/Th. I / 1424 H - 2003 M


Beliau, “Tenanglah. Sungguh, demi Allah,
sekali-kali Dia tidak akan menghinakan
dirimu. Engkau adalah orang yang
senantiasa menyambung tali silaturahmi,
senantiasa berkata jujur, tahan dengan
penderitaan, mengerjakan apa yang
belum pernah dilakukan orang lain,
menolong yang lemah dan membela
kebenaran.”4
Kita juga tentu tidak lupa dengan
peran ‘Aisyah . Banyak para sahabat,
baik yang laki-laki maupun yang
perempuan, menerima hadits darinya
berkenaan dengan hukum-hukum dorongan dan bantuan terhadap
agama. keberhasilan pendidikanku. Semoga
Allah  melipat gandakan pahala
Kita juga tentu mengetahui sebuah
untuknya dan semoga Allah  membalas
kisah yang terjadi belum lama ini
kebaikannya kepadaku tersebut dengan
berkenaan dengan istri Imam
balasan yang terbaik.
Muhammad bin Su‘ud, raja pertama
kerajaan Arab Saudi. Kita mengetahui Tidak diragukan bahwa rumah yang
bahwa isteri beliau menasehati penuh dengan rasa cinta, kasih dan
suaminya yang seorang raja itu untuk sayang, serta pendidikan yang Islami
menerima dakwah Imam al-Mujaddid akan berpengaruh terhadap kehidupan
Muhammad bin Abdul Wahhab. seseorang. Dengan izin Allah 
Sungguh, nasehat isteri sang raja itu seseorang yang hidup dalam lingkungan
benar-benar membawa pengaruh besar rumah seperti itu akan senantiasa
hingga membuahkan kesepakatan mendapatkan taufik dari Allah dalam
antara Imam al-Mujaddid Muhammad setiap urusannya, sukses dalam
bin Abdul Wahhab dengan Imam pekerjaan yang ditempuhnya, baik
Muhammad bin Su‘ud untuk dalam menuntut ilmu, perdagangan,
menggerakkan dakwah. Dan – pertanian atau pekerjaan-pekerjaan lain.
alhamdulillah— kita bisa merasakan Kepada Allah sajalah aku memohon,
hasil dari nasehat istri raja itu hingga semoga Dia memberi taufik-Nya kepada
hari ini, hal mana aqidah merasuk dalam kita semua sehingga dapat melakukan
diri anak-anak negeri ini. apa yang Dia cintai dan Dia ridhai.
Dan tidak bisa dipungkiri pula bahwa Shalawat dan salam semoga tercurah
ibuku sendiri memiliki peran dan andil kepada Nabi kita Muhammad,
yang besar dalam memberikan keluarganya dan sahabat-sahabatnya.5

4
H.R. Bukhari, Kitab Bad’ al-Wahyi (no. 3), dan Muslim, Kitab al-Iman (no. 160).
5
Majmu’ Fatawa Syaikh Ibnu Baz (III/348).

Fatawa Vol. 07/ Th. I / 1424 H - 2003 M 32


3
 Keluarga

Menikah dengan Orang itu menjawab, “Bisa jadi dari


Kerabat Dekat buyutnya.” Maka Nabi  berkata,
Tanya: Suatu ketika “Anakmu itu bisa jadi meniru buyutnya.”1
seseorang yang masih Hadits di atas menunjukkan bahwa
terhitung kerabat dekat datang melamar faktor genetik berpengaruh dalam
saya. Namun, saya pernah mendengar keturunan. Akan tetapi, Nabi  bersabda,
bahwa pernikahan dengan orang yang
jauh hubungan kekerabatannya lebih
baik, dari sisi masa depan anak-anak dan
sisi-sisi yang lain. Apa pendapat Syaikh
dalam masalah ini? “Wanita dinikahi karena empat perkara;
Jawab: Apa yang saudari karena hartanya, keturunannya,
sampaikan merupakan kaidah yang kecantikannya dan agamannya. Maka
pernah disebutkan oleh sebagian ulama pilihlah yang bagus agamanya, niscaya
(yaitu) bahwa faktor genetik (keturunan) engkau tidak akan merugi (menyesal).” 2
memiliki pengaruh (terhadap Jadi, yang menjadi pertimbangan
perkawinan seseorang dengan orang dalam melamar seorang wanita adalah
yang masih dekat hubungan kondisi agamanya. Bila wanita yang
kekerabatannya). Dan memang tidaklah dilamar ternyata baik agamanya dan baik
diragukan bahwa faktor genetik memiliki pula parasnya, maka ini adalah lebih
pengaruh terhadap (pembentukan) utama, sama saja apakah dia keluarga
perilaku dan fisik seorang manusia. dekat ataukah jauh. Hal itu karena wanita
Pernah ada seorang laki-laki datang yang komitmen dengan agamanya akan
kepada Nabi  dan berkata, “Wahai dapat menjaga harta, anak-anak, dan
Rasulullah, isteri saya melahirkan rumah suaminya, sementara kecantikan
seorang anak laki-laki berkulit hitam.” parasnya akan dapat memenuhi hajat
(Dia curiga terhadap istrinya, mengapa dan menundukan pandangan suaminya,
anaknya bisa berkulit hitam sementara sehingga tidak lagi berpaling kepada
kedua orang tuanya berkulit putih). Maka wanita yang lain. Wallahu a‘lam.3
Rasulullah  berkata, “Bukankah
engkau memiliki onta?” Orang itu Tidak Suka dengan Kelahiran
menjawab, “Ya.” Nabi bertanya lagi, “Apa Anak Wanita Termasuk Perilaku
warnanya?” Orang itu menjawab, Jahiliyah 4
“Merah.” Nabi bertanya lagi, “Apakah ada Tanya: Pada zaman ini, kita sering
yang berwarna keabu-abuan?” Orang itu mendengar perkara-perkara yang biasa
menjawab, “Ya.” Nabi bertanya lagi, menjadi bahan perdebatan orang karena
“Dari mana ia dapatkan warna itu?” ganjilnya. Di antaranya mungkin kita
1
H.R. Bukhari, Kitab ath-Thalaq (no. 5305) dan Muslim, Kitab al-Li‘an (no. 1500).
2
H.R. Bukhari (no. 5090) dan Muslim (no. 1466).
3
Fatawa Ulama al-Balad al-Haram hal. 557.
4
Idem hal. 559.

34 Fatawa Vol. 07/Th. I / 1424 H - 2003 M


pernah mendengar sebagian orang pada diri isterinya agar bersabar,
mengatakan, “Kami tidak suka menggauli sebagaimana yang difirmankan Allah ,
istri kami jika yang lahir adalah anak
perempuan.” Sebagian lagi mengatakan
kepada istrinya, “Demi Allah, jika engkau
melahirkan anak perempuan, saya akan
menceraikanmu.” -Kita berlepas diri dari “Kemudian bila kamu tidak menyukai
orang-orang seperti itu-. Sebagian dari mereka (isteri-isteri kamu), (maka
wanita ada yang mendapatkan bersabarlah) karena mungkin kamu tidak
perlakuan semacam itu dari suaminya. menyukai sesuatu, padahal Allah
Mereka merasa gelisah dengan menjadikan padanya kebaikan yang
perkataan suaminya yang seperti itu. banyak.” (Q.S. An-Nisa’: 19)
Bagaimana dan apa yang mesti mereka Adapun membenci anak perempuan,
perbuat terhadap perkataan suami tidak diragukan bahwa itu merupakan
seperti itu? Apa nasehat Syaikh dalam perilaku jahiliyah, dan di dalamnya
masalah ini? terkandung sikap tasakhuth (tidak
Jawab: Saya yakin apa yang menerima) terhadap apa yang telah
dikatakan saudara penanya adalah menjadi ketetapan dan takdir Allah .
sesuatu yang sangat jarang terjadi. Saya Manusia tidak tahu, mungkin saja anak-
tidak habis pikir, bagaimana ada seorang anak perempuan yang dimilikinya akan
suami yang kebodohannya sampai pada lebih baik baginya daripada mempunyai
taraf seperti itu; mengultimatum akan banyak anak laki-laki. Berapa banyak
menceraikan isterinya jika anak yang anak-anak perempuan justru menjadi
dilahirkannya anak perempuan. Lain berkah bagi ayahnya baik semasa
masalahnya, kalau sebenarnya dia sudah hidupnya maupun setelah matinya. Dan
tidak suka dengan isterinya, kemudian berapa banyak anak-anak lelaki justru
ingin menceraikannya dan menjadikan menjadi bala dan bencana bagi ayahnya
masalah ini sebagai alasan agar dapat semasa hidupnya dan tidak memberi
menceraikannya. Jika ini masalah yang manfaaat sedikitpun setelah matinya.
sebenarnya; dia sudah tidak bisa
bersabar lagi untuk hidup bersama Hukum Memberi Hadiah
isterinya, dan telah berusaha untuk tetap Tahunan kepada Istri untuk
hidup berdampingan dengannya akan Mengenang Hari Pernikahan
tetapi tidak berhasil; jika ini masalah Tanya: Bolehkah seorang suami
yang sebenarnya, hendaknya dia setiap tahun memberi bingkisan hadiah
mencerai istrinya dengan cara yang kepada isterinya untuk mengenang hari
jelas, bukan dengan alasan seperti itu. pernikahan mereka sebagai penyegar
Karena perceraian dibolehkan asalkan rasa kasih dan cinta di antara keduanya?
dengan dengan alasan yang syar‘i. Akan Untuk diketahui bahwa hal itu dilakukan
tetapi, meskipun demikian, kami hanya dengan sekadar memberikan
menasehatkan kepada para suami yang
(bersambung ke hal. 42)
mendapatkan hal-hal yang tidak disukai

Fatawa Vol. 07/ Th. I / 1424 H - 2003 M 34


5
 Manhaj

Oleh: Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah & Abu Utsman Ismail bin Abdurrahman Ash-Shabuni
disarikan dan diterjemahkan oleh Abu Isa

Setelah membahas tiga dari prinsip-prinsip Ahlus Sunnah wal Jamaah


di edisi yang lalu, pada edisi ini akan dilanjutkan dengan prinsip-prinsip
lainnya, juga masih bersama Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah. Disusul
kemudian oleh Abu Utsman Ismail bin Abdurrahman Ash-Shabuni.

(lanjutan edisi sebelumnya) (perhitungan amal), pahala, siksa, surga


dan neraka serta rincian dari masalah
4. Ahlus Sunnah wal Jamaah mengimani tersebut telah disebutkan dalam kitab-
semua berita tentang keadaan (dan
kitab samawi, dan atsar yang bersumber
kejadian-kejadian) setelah mati yang
dari para nabi termasuk yang diberitakan
disampaikan oleh Rasulullah .
oleh Rasulullah  sudah sangat cukup
Beliau (Syaikhul Islam Ibnu (menjadi pegangan), barangsiapa mau
Taimiyyah) berkata, “Termasuk beriman mencarinya pasti dia dapatkan.”3
kepada hari akhir adalah mengimani
berita yang disampaikan oleh Nabi  5. Ahlus Sunnah wal Jamaah mengimani
perihal keadaan sesudah mati. Oleh qadar (takdir) Allah dengan segala
karena itu mereka mengimani adanya tingkatannya.
fitnah (ujian) kubur, adzab kubur dan Beliau berkata, “Golongan yang
nikmat kubur (hingga terjadinya kiamat selamat (Ahlus Sunnah wal Jamaah)
kubra saat semua ruh dikembalikan mengimani qadar (takdir) Allah, yang
kepada jasad masing-masing - pen).”1 baik maupun yang buruk. Iman kepada
Beliau juga berkata, “Seluruh kaum qadar Allah  ada dua tingkatan, masing-
Muslimin bahkan seluruh agama masing tingkatan mencakup dua hal:
menetapkan terjadinya kiamat kubra, Tingkatan pertama:
bangkitnya manusia dari alam kubur, Beriman bahwa Allah mengetahui
pahala dan siksa. Dan juga ada pahala semua perbuatan manusia berdasarkan
dan siksa di alam barzakh (alam sesudah ilmu-Nya yang qadim dan azali (yang
kematian hingga hari berbangkit), dan terdahulu). Allah  juga mengetahui
inilah pendapat Salaf dan Ahlus Sunnah seluruh keadaan mereka, baik berupa
wal Jamaah seluruhnya. Adapun ketaatan, kemaksiatan, rizqi dan ajal
kalangan ahlil bid’ah yang mengingkari mereka.
hal ini sangat sedikit.”2
Kemudian Allah  telah menulis takdir
Beliau juga berkata, “Berbagai bagi seluruh makhluk-Nya tersebut di
macam kejadian di akhirat berupa hisab Lauhul Mahfuzh (sebelum menciptakan
1
Majmu’ Fatawa jilid 3 hal 145.
2
Majmu’ Fatawa jilid 4 hal 262.
3
Majmu’ Fatawa jilid 3 hal 148.

36 Fatawa Vol. 07/Th. I / 1424 H - 2003 M


mereka, berdasarkan ilmu-Nya yang
azali– pent).
Semuanya mengikuti ilmu Allah  baik
yang bersifat ijmali (global) ataupun
tafshili (rinci). Allah  telah mencatat
semua yang Dia kehendaki di Lauhul
Mahfuzh.
Tingkatan kedua: Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah
Dalam hal ini meliputi semua Yang menciptakan langit dan bumi dalam
kehendak Allah  yang berlaku dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di
kekuasaan-Nya yang menyeluruh. Yaitu atas ‘Arsy untuk mengatur segala urusan.
mengimani bahwa apa-apa yang Tiada seorangpun yang akan memberi
dikehendaki Allah pasti terjadi, dan syafa‘at kecuali sesudah ada izin-Nya.
segala sesuatu yang tidak dikehendaki- (Dzat) yang demikian itulah Allah, Tuhan
Nya pasti tidak terjadi. Begitupun setiap kamu, maka sembahlah Dia. Maka apakah
yang bergerak dan diam baik yang di kamu tidak mengambil pelajaran? (QS.
langit maupun yang di bumi, berjalan Yunus: 3)
menurut kehendak-Nya di dalam
kerajaan-Nya ini. Tidak ada sesuatupun
yang terjadi melainkan karena
kehendak-Nya, dan Allah Maha Kuasa
atas segala sesuatu, baik yang ada
maupun yang tidak ada.
Tidak ada satu jenis makhluk pun di
bumi dan di langit ini kecuali Allah yang
menciptakannya. Tiada Pencipta selain Allah-lah Yang meninggikan langit tanpa
Allah , dan tidak ada Rabb selain Dia”. tiang (sebagaimana) yang kamu lihat,
Majmu’ Fatawa jilid 3 hal 148-149. kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arsy,
dan menundukkan matahari dan bulan.
Masing-masing beredar hingga waktu
Abu Utsman Ismail bin
yang ditentukan. Allah mengatur urusan
Abdurrxahman Ash-Shabuni
(makhluk-Nya), menjelaskan tanda-tanda
1. Ahlus Sunnah wal Jamaah meyakini (kebesaran-Nya), supaya kamu meyakini
bahwa Allah bersemayam diatas Arsy- pertemuan (mu) dengan Tuhanmu. (QS.
Nya diatas langit ketujuh. Ar-Ra’du : 2)
Beliau berkata, “Ahlul Hadits (Ahlus
Sunnah wal Jamaah) bersaksi serta
meyakini bahwa Allah  berada di atas
langit ketujuh di atas Arsy-Nya,
sebagaimana dikatakan Allah dalam
firman-Nya:

Fatawa Vol. 07/ Th. I / 1424 H - 2003 M 36


7
Yang menciptakan langit dan bumi dan apa menyerahkan ilmu kaifiyah (gambaran
yang ada antara keduanya dalam enam hakikatnya) kepada Allah. Demikian juga
masa, kemudian Dia bersemayam di atas mereka menetapkan tentang datangnya
Arsy, (Dialah) Yang Maha Pemurah, maka Allah sebagaimana tersebut dalam
tanyakanlah (tentang Allah) kepada yang firman-Nya:
lebih mengetahui (Muhammad) tentang
Dia. (QS. al-Furqan : 59)

Tiada yang mereka nanti-nantikan


melainkan datangnya Allah dan malaikat
Allah-lah yang menciptakan langit dan (pada hari kiamat) dalam naungan awan,
bumi dan apa yang ada di antara keduanya dan diputuskanlah perkaranya. Dan
dalam enam masa, kemudian Dia hanya kepada Allah dikembalikan segala
bersemayam di atas ‘arsy. Tidak ada bagi urusan (QS. Al-Baqarah: 210)
kamu selain daripada-Nya seorang
penolongpun dan tidak (pula) seorang
dan datanglah Tuhanmu; sedang malaikat
pemberi syafa‘at. Maka apakah kamu tidak
berbaris-baris. (QS. Al-Fajr: 22)
memperhatikan? (QS. as-Sajdah: 4)
Demikianlah ulama dan tokoh-tokoh 3. Ahlus Sunnah wal Jamaah beriman
salaf umat ini bersepakat bahwa Allah tentang adanya syafa’at Nabi  bagi
 di atas Arsy-Nya dan Arsy-Nya di atas pelaku dosa besar dari kalangan ahli
langit-langit-Nya. tauhid pada hari kiamat.
Beliau berkata bahwa, “Ahli agama
2. Ahlus Sunnah wal Jamaah menetapkan dan Ahli Sunnah menetapkan adanya
bahwa Allah  turun (ke langit dunia)
syafa’at Rasul  bagi pelaku dosa besar
dan datang pada hari kiamat.
dari kalangan ahli tauhid sebagaimana
Beliau berkata bahwa, “Ashabul berita yang shahih dari Rasulullah 
Hadits (Ahlus Sunnah) menetapkan tentang hal itu”.
bahwa Allah turun pada setiap malam4
Kemudian beliau bawakan hadits
ke langit dunia dengan tidak
tersebut dengan sanadnya, dimana
menyerupakan turun-Nya dengan
Rasulullah  bersabda:
turunnya makhluk dan tidak
menggambarkan hakikatnya, namun
menetapkan sebagaimana adanya dari “Syafaatku untuk para pelaku dosa besar
berita Rasulullah  yang shahih5, dan dari umatku.”6

4
Yaitu pada sepertiga malam terakhir. Pen.
5
Lihat Shahih Muslim (hadits no. 758) dari Abu Hurairah . Pen.
6
Diriwayatkan oleh Ibnu Hibban (hadits no. 6468) dari Anas bin Malik , al-Hakim (II/414) dari Jabir

38 Fatawa Vol. 07/Th. I / 1424 H - 2003 M


4. Ahlus Sunnah wal Jamaah beriman pada saat purnama, kalian tidak
tentang adanya al-Haudh (telaga) dan berdesak-desakkan ketika melihatnya.”7
al-Kautsar (sungai di surga) yang Yang diserupakan disini adalah
diberikan Allah  kepada Rasulullah  tatacara melihatnya bukan Allah 
sebagai keutamaan bagi Beliau . disamakan dengan bulan.
Beliau berkata bahwa, “Mereka
(Ahlus Sunnah wal Jamaah) beriman
6. Ahlus Sunnah wal Jamaah meyakini
tentang keabadian surga dan neraka dan
tentang adanya Al-Haudh dan Al-
disembelihnya kematian.
Kautsar. Dan bahwa sebagian ahli tauhid
masuk surga tanpa hisab (perhitungan Ahlus Sunnah wal Jamaah bersaksi
amal), sebagian masuk dengan hisab dan meyakini bahwa surga dan neraka
yang mudah, sebagian lagi tanpa adzab adalah makhluk yang akan abadi
yang menimpanya, sebagian yang lain selamanya, demikian juga penghuni
masuk neraka kemudian dikeluarkan dan surga tidak akan keluar untuk selamanya
digabungkan dengan saudaranya yang dan sebagaimana penghuni neraka yang
telah lebih dahulu masuk surga. Mereka memang dia tercipta sebagai ahli
(Ahlus Sunnah wal Jamaah) yakin neraka, juga tidak akan keluar untuk
dengan seyakinnya bahwa ahli tauhid selamanya. Akan diperintahkan agar al-
tidak akan kekal di neraka, berbeda maut (kematian) – diwujudkan dalam
dengan orang kafir maka mereka kekal bentuk domba – disembelih diatas pagar
di neraka dan tidak akan keluar untuk antara surga dan neraka. Maka pada itu
selamanya. akan ada yang memanggil,

5. Ahlus Sunnah wal Jamaah meyakini


bahwa kaum Mukminin kelak di akhirat
akan melihat Rabb-nya.
Beliau berkata, “Ahlus Sunnah wal “Wahai penduduk surga keabadian dan
Jamaah bersaksi bahwa kaum Mukminin tidak ada lagi kematian, dan wahai
pada hari kiamat akan melihat Rabb-nya penduduk neraka kekekalan dan tidak
dengan penglihatan mereka ada lagi maut.”8
sebagaimana Rasulullah  bersabda Sebagaimana berita tersebut shahih
dalam hadits shahih, dari Rasulullah .
7. Ahlus Sunnah wal Jamaah meyakini
bahwa Iman itu adalah perkataan dan
perbuatan, bertambah dan berkurang.
Perkataan hati dan lisan, perbuatan hati
“Sesungguhnya kalian melihat Rabb
dan anggota badan. Bertambah dengan
kalian sebagaimana kalian melihat bulan

bin Abdullah  dan beliau berkata, “hadits shahih sesuai kriteria syaikhain (Bukhari dan Muslim),
keduanya tidak mengeluarkan hadits ini.” Juga diriwayatkan oleh yang lain.
7
HR. Bukhari (no. 529, 547, dan 6997), Muslim (no. 633), Turmudzi (no. 2554), Ibnu Majah (no.
177), dan yang lainnya.
8
HR. Bukhari (6179) secara ringkas, dan Muslim (2849) dengan panjang lebar.

Fatawa Vol. 07/ Th. I / 1424 H - 2003 M 38


9
ketaatan dan berkurang dengan sebab makhluk dan hidayah taufik adalah dari
kemaksiatan. Allah  sebagaimana orang yang sesat
Beliau berkata, “Dan mazhab Ahlul juga dikehendaki Allah .
Hadits (Ahlus Sunnah) bahwa Iman itu Beliau berkata, “Diantara pendapat
adalah perkataan, perbuatan dan Ahlus Sunnah wal Jamaah yaitu bahwa
ma’rifat (ilmu), bertambah dengan perbuatan hamba adalah makhluk Allah,
ketaaatan dan berkurang dengan sebab tidak ada perselisihan pendapat dalam
kemaksiatan.” masalah ini, dan orang-orang yang
Beliau juga berkata, “Barangsiapa mengingkari pendapat ini maka tidak
yang ketaatan dan kebaikannya banyak dianggap sebagai orang yang mendapat
maka ia lebih sempurna Imannya, petunjuk dan (tidak berada) di atas
namun barangsiapa yang sedikit agama yang benar.”
ketaatannya tapi banyak kemaksiatan, Beliau juga berkata, “Mereka (Ahlus
kelalaian dan menyia-nyiakan dirinya Sunnah wal Jamaah) bersaksi bahwa
maka Imannya kurang”. Allah  memberi hidayah kepada agama-
Nya dan menyesatkan dari agama-Nya
8 . Ahlus Sunnah wal Jamaah tidak siapa yang Dia kehendaki. Namun orang
mengkafirkan seorang Muslim karena
yang disesatkan tidak memiliki dalih
setiap dosa yang diperbuatnya.
maupun alasan di sisi Allah. Allah 
Beliau berkata, “Ahlus Sunnah wal berfirman,
Jamaah meyakini bahwa seorang
Mukmin jika ia berdosa dengan dosa-
dosa kecil atau dosa-dosa besar yang
banyak maka dia tidak kafir, jika dia
meninggal dunia tanpa bertaubat dari Katakanlah: “Allah mempunyai hujjah yang
dosa-dosanya tersebut, namun mati jelas lagi kuat; maka jika Dia menghendaki,
diatas tauhid dan ikhlash maka di akhirat pasti Dia memberi petunjuk kepada kamu
urusannya di tangan Allah, jika Allah semuanya”. (Q.S. al-An’am: 149)
menghendaki untuk memaafkannya maka
dia akan dimasukkan ke dalam surga
tanpa diazab sama sekali dengan neraka
atau siksaan apapun atas dosa-dosa yang
telah dia perbuat di dunia yang dia bawa
sampai hari kiamat. Namun, jika Allah
berkehendak lain maka dia diazab di Dan kalau Kami menghendaki niscaya Kami
neraka sementara, dan dia tidak kekal di akan berikan kepada tiap-tiap jiwa petunjuk
dalamnya, untuk kemudian dibebaskan (bagi) nya, akan tetapi telah tetaplah
dari neraka dan dipindahkan ke negeri perkataan (ketetapan) daripadaku;
penuh kenikmatan –yaitu surga – “. “Sesungguhnya akan aku penuhi neraka
9. Ahlus Sunnah wal Jamaah meyakini jahannam itu dengan jin dan manusia
bahwa perbuatan hamba adalah bersama-sama. (Q.S. as-Sajdah: 13)

40 Fatawa Vol. 07/Th. I / 1424 H - 2003 M


10. Ahlus Sunnah wal Jamaah meyakini
akhir kehidupan seseorang adalah
Maka mereka kalah di tempat itu dan perkara ghaib.
jadilah mereka orang-orang yang hina.
Beliau berkata, “Ash-habul Hadits
(QS. al-A’raf: 119)
(Ahlus Sunnah) meyakini dan bersaksi
Dan Allah  menciptakan makhluk bahwa tidak ada seorangpun yang
bukan karena membutuhkan mereka. mengetahui kehidupan manusia, oleh
Mereka terbagi menjadi dua kelompok, karena itu tidak boleh memastikan
sebagian berada dalam kenikmatan kepada seseorang tertentu bahwa dia
(surga) karena karunia dan anugerah termasuk ahli surga atau ahli neraka.
dari Allah, dan sebagian dalam Karena hal itu adalah ghaib bagi
kesengsaraan (neraka) sesuai keadilan- manusia, mereka tidak tahu tentang
Nya. Maka sebagian terbimbing, kematian seseorang, apakah dia akan
sebagian tersesat, sebagian celaka, mati di atas Islam atau di atas kekafiran.
sebagian bahagia, sebagian dirahmati, Oleh karena itu, Ahlus Sunnah wal
sebagian jauh dari rahmat-Nya. Jamaah menyatakan, “Kami adalah kaum
beriman Insya Allah.” Yang maksudnya,
kami termasuk kaum beriman yang di
Dia tidak ditanya tentang apa yang
akhiri dengan kebaikan jika Allah
diperbuat-Nya, dan merekalah yang akan
menghendaki.”
ditanyai. (Q.S. al-Anbiya’: 23)
11 . Ahlus Sunnah wal Jamaah
mempersaksikan dan menetapkan
bahwa barangsiapa mati di atas Islam
pasti masuk surga dengan persaksian
secara umum dan pesaksian secara
khusus bagi yang telah di persaksikan
oleh Rasulullah  dari para sahabat.
Beliau berkata, “Mereka (Ahlus
Sunnah wal Jamaah) bersaksi bahwa
barangsiapa yang mati di atas Islam
(keadaan mereka) serupa dengan keadaan maka dia di surga, walaupun bagi orang-
Fir‘aun dan pengikut-pengikutnya serta orang yang berdosa yang Allah tentukan
orang-orang yang sebelumnya. Mereka untuk diadzab di neraka sementara
mendustakan ayat-ayat Tuhannya maka karena dosa-dosanya yang dia lakukan
Kami membinasakan mereka disebabkan dan tidak bertaubat pada akhirnya, dan
dosa-dosanya dan Kami tenggelamkan akan dipindah ke surga, dan tidak akan
Fir‘aun dan pengikut-pengikutnya; dan tersisa seorang muslim pun (yang
kesemuanya adalah orang-orang yang tertinggal di nereka) sebagai karunia dan
zalim. (Q.S. al-A’raf: 54) anugerah dari Allah . Adapun yang mati
di tas kekafiran – semoga Allah 
melindungi kita dari kekafiran – maka

Fatawa Vol. 07/ Th. I / 1424 H - 2003 M 40


1
tempatnya di neraka, tidak akan keluar
dan tidak ada akhirnya.
“Kekhalifahan setelahku itu selama tiga
Beliau juga berkata, “Adapun orang- puluh tahun”
orang yang telah dipersaksikan (masuk
Kemudian beliau (Safinah) berkata,
surga) oleh Rasulullah  secara khusus
“Aku menghitung khalifah Abu Bakar 2
dari para sahabatnya maka mereka
tahun, Umar 10 tahun, Utsman 12 tahun
termasuk ahli surga, maka ahlul hadits
dan Ali 6 tahun”, dan setelah selesainya
termasuk yang ikut bersaksi dalam hal
masa mereka urusannya kembali ke
itu sebagai sikap pembenaran terhadap
model kerajaan sesuai dengan berita dari
segala apa yang telah disebutkan dan
Rasulullah ”.9
dijanjikan oleh Rasulullah  untuk
mereka. Karena tidaklah Rasulullah  Di susun dan diterjemahkan oleh: Abu Isa. Staf
menetapkan bagi mereka surga, kecuali pengajar dan pengasuh Ponpes. Jamilurrahman.
setelah mengetahui hal itu berdasarkan
perintah (wahyu) dari Allah  sebagai (sambungan dari hal. 35)
bagian perkara ghaib yang Allah 
kehendaki untuk diberitahukan hadiah semata tanpa diikuti dengan
kepadanya. Hal ini seperti dijelaskan kegiatan lain, pesta-pesta umpamanya.
dalam firman Allah , Jawab: Menurut saya, kita perlu
menutup pintu-pintu yang membuka jalan
ke arah sana. Karena, bisa jadi pada
(Dia adalah Tuhan) Yang Mengetahui
tahun pertama hanya sekadar
yang ghaib, maka Dia tidak
memberikan hadiah, namun –nanti- pada
memperlihatkan kepada seorangpun
tahun kedua (atau yang berikutnya) bisa
tentang yang ghaib itu. (Q.S. al-Jin: 26)
jadi akan berubah menjadi pesta. Perlu
12. Ahlus Sunnah wal Jamaah tentang diketahui bahwa sekadar kebiasaan
sahabat yang paling utama dan memberi hadiah berkaitan dengan hari
kekhalifahan mereka. pernikahan seperti itu saja sudah
Beliau berkata, “Mereka (Ahlus termasuk ‘Id (perayaan), karena
Sunnah wal Jamaah) bersaksi dan dikatakan ‘Id bila hal itu dilakukan
meyakini bahwa sahabat Rasulullah  berulang-ulang secara berkala. Rasa
yang paling utama adalah Abu Bakar, cinta-kasih tidak hanya diperbaharui
Umar, Utsman, kemudian Ali . Dan setiap tahun. Rasa cinta-kasih hendaknya
merekalah khulafaur rasyidin yang telah diperbaharui setiap saat, baik ketika istri
disebutkan oleh Nabi  tentang melihat sesuatu yang disukai pada
kekhalifahan mereka dalam riwayat Sa’id suaminya atau ketika suami melihat
bin Jamhan dari Safinah, beliau  sesuatu yang menyenangkan pada
bersabda, istrinya. Dengan cara demikian niscaya
rasa cinta-kasih akan selalu terbaharui. 5
g
9
Lihat as-Silsilah ash-shahihah (I/820) hadits
no. 459. 5
Fatawa Ulama al-Balad al-Haram hal. 558.

42 Fatawa Vol. 07/Th. I / 1424 H - 2003 M


 Aktual

Disarikan dan diterjemahkan oleh Abu Saad dan Abu Humaid

Pendahuluan
Sungguh suatu kenikmatan yang paling kepentingan dunia dan segala hal yang
besar yang Allah  karuniakan bagi umat berkaitan dengannya, baik ekonomi, politik,
ini dengan diutusnya hamba dan rasul-Nya kenegaraan dan yang lain-lainnya, serta
yang paling mulia Muhammad , penutup melihatnya dengan cara pandang sekuler
para nabi, bersamaan dengan diturunkan- atau kaca-mata Barat yang jelas-jelas
nya Al-Qur’an, Kitab-Nya yang paling menyelisihi dan menyimpang dari syariat
sempurna lagi menyempurnakan kitab-kitab Islam yang lurus ini, apalagi dalam perkara
sebelumnya. Dan Dia jadikan umat ini yang berkaitan dengan hajat hidup orang
sebagai umat yang terbaik yang banyak. Sementara Islam tidak mungkin
dikeluarkan bagi manusia, menyeru kepada meninggalkan begitu saja umatnya
yang ma’ruf, mencegah perbuatan yang berkiblat kepada aturan orang-orang kafir
munkar dan beriman kepada Allah. dalam perkara yang sangat penting dan
Sebagaimana juga Allah  menjamin bagi strategis seperti ini, dan Nabi  telah
umat ini penjagaan dan pemeliharaan memberi peringatan yang sangat keras
terhadap agama yang diridhai-Nya, dari kepada umatnya untuk tidak mengikuti
segala bentuk perubahan dan dan menyerupai adat istiadat dan aturan-
penggantian. Disamping itu, Allah aturan yang mereka buat, karena hal ini
membebankan kepada mereka untuk menyangkut masalah akidah wala’ dan bara’
mendakwahkan agama-Nya kepada terhadap mereka, sebagaimana dalam
seluruh manusia setelah berakhirnya zaman sabda Nabi ,
kenabian dan berjihad di jalan-Nya, agar
supaya kalimat Allah  menjadi kalimat yang
tertinggi, dan kalimat orang-orang kafir
menjadi kalimat yang terendah. Maka
betapa umat ini telah mendapatkan
keutamaan yang agung berupa risalah
yang diturunkan kepada Nabinya
Muhammad , yang dengannya berhak
untuk memegang tampuk kepemimpinan “Sungguh kalian akan mengikuti sunnah (jalan)
manusia seluruhnya atas perintah Allah . orang-orang sebelum kalian, sejengkal demi
Sering kita mendengar pertanyaan sejengkal, sehasta demi sehasta. Sehingga
seputar pengertian pemimpin atau imam, kalupun mereka masuk ke dalam lubang biawak
apalagi pada masa sekarang ini. Sebagian kamu tetap mengikuti mereka.” Kami bertanya:
besar masyarakat memandang bahwa Wahai Rasulullah , apakah yang engkau
pemimpin itu adalah orang yang mengatur maksudkan itu adalah orang-orang Yahudi dan

Fatawa Vol. 07/ Th. I / 1424 H - 2003 M 42


3
orang-orang Nasrani? Beliau  menjawab:
“Kalau bukan mereka, siapa lagi?” 1
Islam yang merupakan agama yang
sempurna dan lengkap, aturan-aturannya
mencakup seluruh aspek kehidupan “Hai orang-orang yang beriman, ta`atilah Allah
manusia, baik duniawi maupun ukhrawi.  dan ta`atilah Rasul (Nya), dan ulil amri di
Tidak ada suatu kemaslahatan pun antara kamu.” (QS. An-Nisa’: 59)
melainkan telah dijelaskan didalamnya Ayat ini menunjukkan bahwa Islam
sebagaimana firman Allah , memberikan perhatian yang khusus
tentang permasalahan yang berkaitan
dengan pemimpin dan ketaatan
“Tiadalah Kami alpakan sesuatupun di dalam
kepadanya. Disini kami mencoba
Al Kitab.” (QS. Al-An’am: 38).
membahas hal-hal seputar pemimpin, baik
Apalagi dalam urusan yang sangat yang menyangkut definisi pemimpin/imam,
urgen seperti dalam hal bagaimana memilih kewajiban mengangkat pemimpin/Imam
pemimpin, yang melaluinya akan tercapai dan tugas-tugasnya, dan lain-lainnya.
kebaikan bagi manusia, masyarakat atau
negara, baik dalam kehidupan dunia Definisi Pemimpin/Imam
maupun akhirat mereka dibawah naungan Imamah/kepemimpinan secara bahasa
ridha Allah . Karena pemimpin dalam Islam diambil dari kata ( ) artinya: mendahului,
tidaklah hanya sekedar mengatur urusan
dan kata ( - ‘Imam’) maknanya: semua
dunia saja, akan tetapi juga mengatur
yang diikuti, baik pimpinan ataupun yang
masalah penegakan hukum-hukum Allah
lainnya.2.
, amar-ma’ruf dan nahi-munkar, jihad,
segala perkara yang berkaitan dengan Menurut Ibnul Manzhur dalam kamus
penjagaan agama, dan lain-lainnya. ‘Lisanul Arab’: “Imam adalah semua orang
Sementara sangat disayangkan bahwa yang diikuti oleh kaumnya, baik diatas jalan
sebagian besar kaum Muslimin masih yang lurus atau diatas jalan kesesatan. Al-
berkiblat kepada aturan-aturan kaum Barat Qur’an adalah Imam bagi kaum muslimin,
yang nota-bene menyelisihi hukum Islam Khalifah adalah Imam bagi rakyatnya dan
dalam pengangkatan dan pemilihan Imam shalat adalah pemimpin dalam
pemimpin, seperti sistem demokrasi shalat.”3 Secara bahasa memiliki makna
ataupun yang semisalnya. Mereka yang hampir sama, berkisar antara makna
menganggap selama ini tidak ada aturan ‘yang mendahului’ atau ‘yang diikuti’.
dalam Islam yang mengatur perkara ini. Hal Adapun menurut istilah, banyak sekali
itu karena kejahilan sebagian besar kaum definisi yang dikemukakan oleh para Ulama’,
Muslimin tentang perkara seperti ini. Al- walaupun berbeda-beda kalimatnya tetapi
Qur’an telah menjelaskan adanya perintah mempunyai makna hampir sama:
untuk taat kepada para pemimpin sesudah  Definisi menurut Imam Mawardi:
perintah untuk kepada Allah  dan Rasul- “Kepemimpinan (imamah) adalah kata yang
Nya ,

1
HR Bukhari (no. 3197), Muslim (no. 4822) dari Abu Sa’id al-Khudri .
2
Al-Qamus al-Muhith, oleh Fairuz Abadi, Bab : .
3
Lihat Lisanul Arab (XII/25) secara ringkas.

44 Fatawa Vol. 07/Th. I / 1424 H - 2003 M


asalnya untuk mengungkapkan kepemimpin- Allah , dan mengatur mereka dengan
an nubuwwah dalam rangka menjagaan hukum syariat yang dibawa oleh Nabi ,
agama dan mengatur urusan dunia.”4 kecuali kelompok Najdat7 dari kalangan
 Definisi menurut Imam Haramain: Khawarij yang berkata, “Tidak wajib bagi
“Kepemim pinan (imamah) adalah manusia untuk mengangkat pemimpin,
kekuasaan yang sempurna dan yang wajib bagi mereka hanyalah
kepemimpinan yang menyangkut urasan menegakkan kebenaran diantara mereka
agama dan dunia.”5 sendiri.”8 Maka kaum Muslimin harus memiliki
pemimpin guna menegakkan syi’ar-syi’ar
 Definisi Al-‘Ieji: “Kepemimpinan
agama, berbuat adil terhadap rakyatnya.
(imamah) adalah khilafah (penerus) Nabi
Adapun dalil-dalil yang menunjukkan
 dalam menegakkan agama yang wajib
kewajiban mengangkat Pemimpin,
diikuti oleh seluruh ummat.”6
diantaranya adalah sebagai berikut:
Dan masih ada beberapa definisi yang
lain yang tidak jauh berbeda mknanya. 1) Dari Al-Qur’an:
Mencermati semua definisi diatas, maka  Firman Allah ,
seorang Imam atau pemimpin menurut
kaca mata Islam hendaknya memiliki
kekuasaan yang sesuai dengan syariat
Islam. Wajib baginya untuk mengatur
urusan-urusan agama maupun dunia “Hai orang-orang yang beriman, ta`atilah Allah
dengan adil, bukan dengan hawa nafsu, dan ta`atilah Rasul (Nya), serta ulil amri di
syahwat ataupun kepentingan pribadi. antara kamu.” (QS. An-Nisa’: 59).
demikianlah tanggung jawab seorang
Imam At-Thabari menukil dari Abu
pemimpin dalam Islam.
Hurairah  yang berkata, “Ulil-Amri adalah
Kewajiban mengangkat Pemimpin para pemimpin.”9 Ibnu Katsir berkata,
“Nyata dari ayat ini -Allah A’lam- bahwa
Kaum Muslimin secara keseluruhan telah
yang dimaksud dengan ulil-amri adalah para
sepakat tentang kewajiban mengangkat
pemimpin dan Ulama.”10 dan ini yang benar.
seorang Imam/pemimpin dan tidak ada
Dapat diambil kesimpulan dari ayat ini bahwa
yang menyelisihi tentang hal ini, kecuali
Allah  mewajibkan ketaatan kepada ulil-
sebagian kecil dari orang-orang Khawarij
amri dan mereka adalah para pemimpin.
dan Mu’tazilah, sebagaimana dikatakan
Perintah untuk taat menunjukkan
oleh Imam Ibnu Hazm, “Seluruh Ahlus
kewajiban mengangkat pemimpin, karena
Sunnah sepakat, demikian juga Murji’ah,
tidaklah Allah  memerintahkan untuk taat
Syi’ah, Khawarij tentang kewajiban
kepada sesuatu yang tidak ada wujudnya.
mengangkat pemimpin, dan wajib bagi
Jadi, inilah yang menunjukkan kewajiban
ummat ini untuk tunduk kepada pemimpin
mewujudkan pemimpin, sehingga perintah
yang adil yang menegakkan hukum-hukum
tersebut bisa terpenuhi maksudnya.
4
Al-Ahkam as-Sulthaniah, oleh Ali bin Muhammad Al-Mawardi, hal. 5.
5
Ghiyatsul Umam, oleh Imam Haramain al-Juwaeni, hal. 10.
6
Al-Mawaqif, karya al-‘Ieji, hal. 395.
7
Nisbat kepada Najdah bin Amir al-Haruri, seorang tokoh Khawarij. (pen).
8
Al-fashl fil- milal, karya Imam Ibnu Hazm (III/87).
9
Tafsir At-Thabari (VII/497).
10
Tafsir Ibnu Katsir (II/303).

Fatawa Vol. 07/ Th. I / 1424 H - 2003 M 44


5
2) Dari As-Sunnah: Ali bin Abi Thalib , dan seterusnya. Maka
 Sabda Nabi , wajib untuk mengikuti mereka dalam
perkara ini.
3) Ijma’
Imam Al-Haitami mengatakan, “Para
“Barangsiapa mati, tidak ada di lehernya bai’at, Sahabat  sepakat tentang kewajiban
maka ia mati secara jahiliah.”11 mengangkat Imam setelah berakhirnya
masa kenabian.”15
Yang dimaksud bai’at (janji setia) disini
adalah bai’at kepada imam, ini jelas Ibnu Khaldun berkata dalam ‘Al-
menunjukkan kewajiban mengangkat Muqaddimah’nya, “Mengangkat Imam
pemimpin. Karena bai’at hukumnya wajib, hukumnya wajib, dan telah diketahui
sementara ia tidak ditujukan kecuali kepada kewajiban tentang hal itu dari ijma’ para
seorang imam/pemimpin, maka Sahabat  dan Tabi’in. Karena para Sahabat
mengangkat imam hukumnya juga wajib. setelah wafatnya Nabi  , mereka
bersegera melakukan bai’at kepada Abu
 Abu Said al-Khudri  meriwayatkan Bakar , dan demikianlah seterusnya pada
bahwa Nabi  bersabda, setiap masa, berjalan berdasarkan ijma’,
yang menunjukkan hal tersebut hukumnya
wajib.16
“Jika tiga orang melakukan perjalanan, maka
Setelah disebutkan dalil-dalil yang
pilihlah salah seorang diantara mereka untuk
menunjukkan bahwa mengangkat
menjadi pemimpin.”12
pemimpin dalam Islam hukumnya wajib,
Beliau  juga bersabda, “Tidak akan tetapi wajib yang bagaimana, apakah
diperbolehkan bagi tiga orang yang tinggal wajib ‘aini yaitu wajib bagi seluruh kaum
disuatu tempat melainkan salah seorang diantara muslimin atau wajib kifa’i? Masalah ini akan
mereka menjadi pimpinan/amir.13 dijawab oleh Ulama umat ini:
Ibnu Taimiyah berkata, “Kalau dalam Imam Abu Ya’la berkata, “Pengangkat-
perkara-perkara yang disebutkan diatas an Imam hukumnya fardhu kifayah, dan
Nabi  mewajibkan untuk mengangkat kewajiban ini ditujukan kepada dua
pemimpin, maka untuk perkara-perkara golongan manusia, 1). Para Mujtahid,
yang lebih besar dari itu tentunya lebih sampai mereka memilih Imam, 2). Orang-
wajib lagi.”14 Demikian juga apa yang orang yang terpenuhi padanya syarat-
dilakukan oleh para Sahabat tatkala setelah syarat Imamah hingga salah seorang
Nabi  wafat, mereka mengangkat Abu diantara mereka menjadi Imam.17
Bakar , kemudian Umar bin Khatab , Demikian juga pendapat Imam
kemudian Ustman bin Affan , kemudian Nawawi, beliau berkata, “Pengangkatan

11
HR Muslim, Kitab al-Imarah (III/1478) hadits no. 1851.
12
HR. Abu Dawud (no. 2608), dan dishahihkan oleh Syaikh al-Albni dalam ‘Shahih Abi Dawud’ (II/
484) hadits no. 2272.
13
Hadits dengan lafal ini dha’if. Lihat ‘Adh-Dha’ifah’ (II/56), hadits no. 589.
14
Al-Hisbah, oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, hal 11.
15
Ash-Shawa’iq al-Muhriqah, oleh Imam al-Haitami, hal. 5.
16
Al_Mukaddimah, oleh Ibnu Khaldun, hal. 191.
17
Al-Ahkam as-Sulthaniyah, oleh Imam Abu Ya’la, hal. 19.

46 Fatawa Vol. 07/Th. I / 1424 H - 2003 M


Imam hukumnya fardhu Kifayah, maka jika
tidak ada yang sesuai untuk menjadi
pemimpin kecuali satu orang wajib baginya
untuk menjadi pemimpin.”18 Dan kewajiban
ini bagi golongan yang disebutkan diatas
lebih utama dibandingkan dengan yang
selain mereka, dan kalau mereka tidak “(yaitu) orang-orang yang jika Kami teguhkan
menunaikan kewajibannya, maka kedudukan mereka di muka bumi, niscaya
berdosalah seluruh umat ini. Itulah yang mereka mendirikan sembahyang, menunaikan
dimaksud dengan hukum fardhu kifayah, zakat, menyuruh berbuat yang ma`ruf dan
sebagaimana halnya dalam jihad, menuntut mencegah dari perbuatan yang mungkar; dan
ilmu atau amar-ma’ruf dan nahi-munkar. kepada Allah-lah kembali segala urusan.” (QS.
Al-Hajj:41).
Tujuan Pengangkatan Pemimpin Sebagaimana juga dikatakan oleh
Imamah atau Kemimpinan adalah Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, “Seluruh
wasilah/perantara bukan sebagai tujuan, kekuasaan dalam Islam tujuannya adalah:
yakni perantara untuk mencapai tujuan mengajak kepada yang ma’ruf dan
tertentu. Karena melaluinya-lah akan dapat mencegah kemunkaran.” 19 Beliau
direalisasikan tujuan-tujuan yang hendak menambahkan dalam ‘Majmu’ al-Fatawa’,
dicapai, diantaranya yang terpenting “Tujuan yang wajib dalam kekuasaan
adalah: adalah: Memperbaiki agama manusia. Kalau
 Menegakkan agama Allah  sesuai hal ini terlepas dari mereka, niscaya
dengan apa yang telah disyariatkan, memperoleh kerugian yang nyata, dan
dengan menjaga akidah Islamiyah dari tidak bermanfaat bagi mereka apa yang
segala bentuk penyimpangan, mereka dapatkan di dunia.”20
mendakwahkannya, baik dengan lisan
ataupun pena, dan menegakkan hukum Bagaimana Menetapkan
hudud terhadap penyimpangan yang Pemimpin/Imam.
terjadi, mengibarkan bendera jihad dan lain- Jika kita memperhatikan dalil-dalil dari
lainnya. al-Kitab dan as-Sunnah, maka kita tidak
 Mengajak kepada yang ma’ruf, mendapatkan dalil yang jelas yang
meyebarkan kebaikan dan meninggikan menguraikan tentang bagaimana cara
kedudukannya di mata masyarakat, pengangkatan seorang Imam, kecuali dalil-
dalil yang umum berkaitan dengan
 Mencegah perbuatan mungkar dan
kekuasaan atau kepemimpinan. Namun kita
menghapuskan segala bentuk kerusakan.
bisa menyimpulkan dari beberapa peristiwa
 Berlaku adil dan menghapuskan yang berkenaan dengan pengangkatan
kedzaliman. para Khulafaur-Rasyidin  yang dengannya
Demikianlah tujuan terpenting dari ditetapkan seorang Imam bagi seluruh
kepemimpinan dalam Islam. Allah  telah kaum Muslimin dan ini hanya ada dua cara
menjelaskan hal itu dalam Al-Qur’an, dalam untuk mengangkat seorang Imam/
firman-Nya: Pemimpin dalam koridor syariat:
18
Raudhatut-Thalibin, oleh Imam Nawawi (X/43).
19
Al-Hisbah, hal. 14.
20
Majmu’ Al-Fatawa (28/262).

Fatawa Vol. 07/ Th. I / 1424 H - 2003 M 46


7
I. Ikhtiyar (pilihan) dekat dan berkehendak untuk menetap-
Dan ini dilakukan oleh Ahlul-Halli wal- kan penggantinya, maka dia mengajak
Aqdi, dan dengan cara inilah Abu Bakar  Ahlul-Halli wal-Aqdi untuk bermusyawarah
dan Ali bin Abi Thalib  dipilih sebagai Imam mengenai orang yang hendak dipilihnya.
bagi kaum muslimin. Ahlul-Halli wal-Aqdi Kalau mereka menyetujuinya, maka
mempunyai tanggung-jawab yang sangat ditetapkan pengganti sesudahnya,
besar dalam menentukan siapa yang sebagaimana yang dilakukan oleh Abu
berhak memegang tampuk kepemimpinan Bakar  tatkala memilih Umar bin Khathab
umat, sekaligus mereka sebagai wakil dari , demikian juga yang dilakukan oleh Umar
umat dan orang-orang kepercayaan  tatkala menetapkan enam orang Sahabat
mereka dalam memilih pemimpinnya.  untuk memilih penggantinya diantara
Disamping mereka akan mendapatkan dosa mereka. Para Ulama’ bersepakat tentang
jika tidak bersungguh-sungguh dalam dibolehkannya cara ini sebagaimana yang
memilih pemimpin yang terbaik, disebutkan oleh Imam Nawawi dalam
sebagaimana juga harus jauh dari ‘Syarhu Muslim’.
pengaruh hawa-nafsu, kepentingan- Dua cara yang telah disebutkan diatas,
kepentingan pribadi, maupun fanatik telah disepakati penerapannya oleh para
golongan dan mazhab tertentu. Yang Ulama’, akan tetapi disana ada perkara
dimaksud dengan ahlul-Halli wal-Aqdi adalah penting yang perlu disebutkan disini yaitu
orang-orang yang memiliki kedudukan bahwa jika ada seseorang yang menguasai
dalam agama, akhlak dan ilmu berkenaan pemerintahan dengan cara kekerasan
dengan keadaan manusia dan pengaturan (kudeta), sehingga ia berhasil menjadi
urusan-urusan mereka. Mereka dikenal juga pemimpin, maka Ahlus Sunnah dalam hal
dengan nama ‘ahlus-Syura’. Imam Nawawi ini berpendapat bahwa kepemimpinannya
berkata, “Ahlul-Halli wal-Aqdi yaitu para adalah sah, dan wajib untuk ditaati,
Ulama’, para pemimpin dan tokoh-tokoh sebagaimana dikatakan oleh Imam Ahmad
masyarakat yang mudah untuk -Imam ahlus-Sunnah-, “Barangsiapa
dikumpulkan.”21 Dan kelompok inilah yang menguasai pemerintahan dengan pedang
bertanggung jawab terhadap kepentingan (kekerasan) sehingga ia menjadi pemimpin,
masyarakat, baik dunia maupun akhirat, maka tidak boleh bagi seorang yang
termasuk dalam hal memilih seorang Imam beriman kepada Allah dan hari akhir,
atau pemimpin untuk mereka. bermalam dalam keadaan tidak
mengakuinya sebagai seorang
II.Penetapan oleh Imam yang Terdahulu
pemimpin.”22
(Istikhlaaf).
Yaitu menetapkan imam yang baru dari Demikian juga pendapat Imam Syafii,
kaum muslimin melalui ketetapan Imam beliau berkata, “Barangsiapa mencapai
yang terdahulu yang menilai bahwa imam kekuasaan dengan kekerasan, dan
baru tersebut berhak untuk memegang menyatakan dirinya sebagai pemimpin, dan
amanah kepemimpinan ini. Hal itu dilakukan seluruh manusia sepakat dengannya maka
ketika dia merasa bahwa ajalnya telah dia adalah pemimpin (yang sah).23

21
Nihayatul-muhtaj ila syarhil-Minhaj (7/390).
22
Al-Ahkam as-Sulthaniyah, oleh Abu Ya’la, hal. 23.
23
Manaqib As-Syafii, oleh Imam Baihaqi 1/449.

48 Fatawa Vol. 07/Th. I / 1424 H - 2003 M


Kriteria Pemimpin Menurut Islam anak yang belum baligh belum bisa
Menengok kepada pembahasan yang mengendalikan dan menguasai dirinya
telah dikemukakan diatas tentang sendiri, bagaimana lagi dengan menguasai
bagaimana memilih pemimpin, hal ini akan orang lain.
berkaitan erat dengan kriteria apakah yang 3) Berakal. Karena orang yang hilang
karenanya seseorang itu layak menjadi akalnya (gila) tidak dikenai beban syari’at.
pemimpin –baik dalam lingkup terkecil Dan karena hal itu akan menghalangi
sampai yang terbesar- yang akan bisa penunaian amanah kepemimpinan
mengantarkan rakyatnya atau orang- tersebut. Dan orang yang gila tidak memiliki
orang yang dipimpinnya kepada tujuan kekuasaan.
yang diharapkan berupa kebaikan dunia Untuk dua kriteria tersebut (nomor 2
dan akhirat. Berikut ini kami paparkan dan 3) telah diisyaratkan oleh Nabi 
beberapa kriteria penting untuk menjadi dalam sabdanya,
pemimpin dalam konsep Islam.
1) Muslim. Allah  berfirman,

“Hai orang-orang yang beriman, ta`atilah Allah


“Diangkat pena dari tiga orang: dari orang
dan ta`atilah Rasul (Nya), serta ulil amri diantara
yang tidur sampai terjaga, yang gila sampai
kamu.” (QS. An-Nisa’: 59). Makna ‘diantara
berakal dan dari anak kecil sampai menjadi
kamu’ yakni dari jenis dan kelompok kalian,
pemuda (baligh).”26
hai kaum muslimin.24
4) Merdeka. Karena seorang hamba tidak
Dan manakala kepemimpinan identik
memiliki kekuasaan, bahkan dirinya dikuasai
dengan kekuasaan, sementara tidak boleh
oleh tuannya.
selain muslim menguasai muslim. Allah 
berfirman, 5) Laki-laki. Tidak boleh seorang wanita
memegang tampuk kepemimpinan,
berdasarkan firman Allah ,

“Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum


“Dan Allah sekali-kali tidak akan memberi jalan wanita.” (QS. An-Nisa’: 34).
(kekuasaan) kepada orang-orang kafir untuk
dan sabda Nabi ,
memusnahkan orang-orang yang beriman.”
(QS. An-Nisa’: 141).25
2) Baligh. Karena amanah kepemimpinan
adalah bagian dari beban syari’at, sementara 6) Memilki ilmu. Maksud ilmu disini adalah
seorang anak yang belum baligh belum ilmu syari’at berkenaan dengan kewajiban-
dikenai beban syari’at. Dan karena seorang kewajiban mukallaf dalam urusan

24
Lihat ‘al-Istiqamah’ (II/295) oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah.
25
Lihat Ahkamul Qur’an (I/509-510), oleh Ibnul Arabi al-Maliki.
26
HR. Ahmad (I/118) -dan ini lafalnya-, Abu Dawud (no. 4398-4403), Turmudzi (1423), Nasa’i
(3432) dan Ibnu Majah (2041).

Fatawa Vol. 07/ Th. I / 1424 H - 2003 M 48


9
agamanya, baik ibadahnya maupun (sambungan dari hal. 59)
muamalahnya, demikian pula pengetahuan
tentang Allah dan sifat-sifat-Nya, perintah- Al-‘Izz bin Abdussalam telah menulis satu
perintah dan larangan-larangan-Nya atau kitab yang baik dan bagus yang membantah
hukum-hukum syari’at. Disamping dituntut risalah tersebut.”23
pula untuk memiliki pengetahuan tentang Demikianlah beberapa contoh klaim mereka
dasar-dasar bagaimana mengatur orang- tentang adanya riwayat atau sanad yang
orang yang dipimpinnya. mereka jadikan sebagai sandaran dalam
7) Adil, yaitu sifat menjauhi diri dari amalan-amalan (bid’ah mereka).
perbuatan dosa besar dan dari berketerusan Pada intinya, setiap klaim/pengakuan
dalam dosa-dosa kecil. Maka seorang fasik tentang adanya dalil berupa hadits atau
tidak dapat menjadi pemimpin, karena ia tidak riwayat harus dikembalikan kepada kaidah-
amanah dalam menjaga agamanya sendiri kaidah ushulnya dalam kitab-kitab hadits,
maka bagaimana dia bisa menjaga amanah kitab rijal 24, dan ilmu-ilmu lain yang
berupa hak-hak orang banyak, apalagi bersangkutan dengan hadits yang telah
menerapkan syari’at Islam untuk mereka. disusun oleh ulama-ulama hadits yang
8) Memiliki pandangan kuat disertai mu‘tabar25 dalam bidang tersebut, baik dari
hikmah (bijak). Ini merupakan tambahan sisi matan hadits tersebut maupun dari sisi
diluar ilmu, sehingga seorang pemimpin dapat para periwayatnya. Wallahu a‘lam.
menempatkan segala sesuatu pada Itulah yang bisa kami sampaikan berkaitan
tempatnya. dengan thariqat-thariqat Shufiyyah.
9) Memiliki kepribadian yang kuat dan Sebenarnya masih banyak hal yang perlu
kekuatan. Hal itu untuk mendukung dalam disampaikan, namun karena keterbatasan
pelaksanaan tugasnya dalam memimpin dan tempat kami cukupkan dengan apa yang
menerapkan hukum-hukum Allah kepada telah kami sampaikan disini. Semoga
orang-orang yang dipimpinnya.27 bermanfaat.
Demikian beberapa kriteria utama untuk Referensi:
menjadi seorang pemimpin dalam 1. Al-Mausu‘ah al-Muyassarah fi al-Adyan wa al-
Madzahib wa :al-Ahzab al-Mu‘ashirah.
pandangan Islam. Bila semua itu
2. At-Tashawwuf fi Mizan al-Bahts wa at-Tahqiq, oleh
memungkinkan, maka itulah yang diharapkan. Syaikh Abdul Qadir as-Sindi.
Dengan selesainya pembahasan pada 3. Ash-Shufiyyah fi Mizan al-Kitab wa as-Sunnah, oleh
bab ini berakhir pulalah tulisan ini, semoga Syaikh Muhammad Jamil Zainu.
bisa menjadi wacana baru tentang 4. Tabshiru Al-Adzhan bi Ba‘dhi al-Madzahib wa al-
kepemimpinan dalam Islam dan hal-hal yang Adyan, karya Muhammad as-Sabi‘i.

berkaitan dengannya bagi para pembaca 5. Al-I’tisham, karya Imam asy-Syathibi, tahqiq Syaikh
Salim bin ‘Ied al-Hilali.
yang budiman. Semoga Allah memberikan
taufiq kepada para pemimpin kita dalam
menegakkan Agama dan berhukum kapada
kitab-Nya, Waallahu A’lam.
27
Disusun dengan perubahan dan tambahan dari 23
Lihat pembahasan ini -secara panjang lebar-
kitab ‘Ahlul Hilli wal Aqdi’ oleh Dr. Abdullah
dalam at-Tashawwuf oleh Syaikh Abdul Qadir
bin Ibrahim ath-Thariqi, kitab ‘al-Qadha’ oleh as-Sindi, hal. 485-535.
syaikh Abdullah bin Umar bin Duhaisy, dan kitab 24
Kitab yang membahas nama-nama periwayat
‘Ushul al-Manhaj al-Islami’ oleh Syaikh hadits dan biografinya. -Pen.
Abdurrahman bin Abdulkarim al-Ubaid. 25
Diakui keilmuan dan keahliannya. -Pen.

50 Fatawa Vol. 07/Th. I / 1424 H - 2003 M


 Akhlaq

Oleh : Syaikh Abdur Rahman bin Abdul Karim Al-Ubaid.


Disarikan dan diterjemahkan oleh Abu Saad

Bagi orang-orang yang beriman, sosok


Rasulullah  merupakan anugerah Allah 
yang paling agung. Allah  berfirman,

“Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang


rasul dari kaummu sendiri. Berat terasa olehnya
penderitaanmu, sangat menginginkan
(keimanan dan keselamatan) bagimu, amat
belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-
orang mukmin.” (Q.S. At-Taubah:128)
Allah  juga berfirman,
“Sungguh Allah telah memberi karunia kepada
orang-orang yang beriman ketika Allah “Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan
mengutus di antara mereka seorang rasul dari untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.”
golongan mereka sendiri, yang membacakan (Q.S. Al-Anbiya’:107.)
kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan
Allah  juga telah menjadikan beliau 
(jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka
sebagai sebab bagi manusia mendapatkan
Al-Kitab dan Al-Hikmah. Dan sesungguhnya
petunjuk jalan kebaikan, memperoleh
sebelum (kedatangan Nabi ) itu, mereka adalah
kejayaan dengan masuk ke dalam surga,
benar-benar dalam kesesatan yang nyata.”
serta kebaikan baik di dunia maupun di
(Q.S. Ali-Imran:164)
akhirat. Nabi  bersabda,
Berkat pengajaran dan pembersihan jiwa
yang beliau lakukan, umat ini pun berpindah
dari lumpur kehinaan ke tempat yang mulia, “Bahwasanya aku adalah rahmat yang
dari kebodohan ke kedudukan para wali dan mendapatkan petunjuk.”1
ulama, dari jalan yang menyimpang ke jalan Oleh sebab itu, Allah  mewajibkan
yang lurus, dan dari kesesatan ke arah kepada kita untuk memuliakan dan
petunjuk. Beliau benar-benar merupakan menghormati Beliau , serta menjadikan beliau
rahmat yang membawa petunjuk sebagai panutan yang mulia karena itu
kebenaran, lentera yang menerangi merupakan hak beliau  terhadap umat ini.
kegelapan, sosok yang penuh dengan
kelemahlembutan dan kasih sayang kepada Hak-hak Nabi 
umatnya yang beriman. Allah  berfirman,
Nabi  mempunyai sejumlah hak yang
sekaligus menjadi kewajiban bagi kita
sebagai berikut.
1
H.R. Baihaqi dan dinyatakan shahih oleh Al-Hakim.

Fatawa Vol. 07/ Th. I / 1424 H - 2003 M 50


1
1. Mencintai beliau, setelah mencintai Allah “Barangsiapa mengucapkan shalawat
 , dan mendahulukan cinta kepada kepadaku satu kali, Allah  akan membalasnya
keduanya daripada cinta kepada selain sepuluh kali.” 3
keduanya. Dalam sebuah hadits yang Seseorang yang bershalawat kepada
diriwayatkan darinya, Anas  berkata, Nabi  secara terus-menerus akan
“Rasulullah  bersabda, mendapatkan berkah yang sangat besar.
Ibnul Qoyyim t telah menyebutkan
sekitar empat puluh keutamaan
bershalawat kepada Nabi .
4. Mengikuti sunnah (perilaku) beliau ,
‘Tidak beriman seorang hamba hingga aku baik berupa ucapan maupun perbuatan,
lebih dia cintai daripada keluarga, harta dan dan menjadikan beliau  sebagai suri
manusia seluruhnya.’”2 teladan. Allah  berfirman,
2. Memuliakan dan membela beliau,
merendahkan suara di hadapan beliau, dan
menerima dakwah beliau. Allah  berfirman,

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah


“Maka orang-orang yang beriman kepadanya  itu suri teladan yang baik bagi kalian, (yaitu)
memuliakannya, menolongnya, dan mengikuti bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan
cahaya terang yang diturunkan kepadanya (Al- (kedatangan) hari kiamat dan banyak menyebut
Qur’an). Mereka itulah orang-orang yang Allah.” (Q.S. Al-Ahzab:21)
beruntung.” (Q.S. Al-A‘raf:157)
Ibnu Katsir t berkata, “Ayat ini
3. Mengucapkan shalawat dan salam untuk menjadi dasar dalam mengikuti Nabi  baik
beliau tatkala nama beliau  disebut. Allah dalam ucapan, perbuatan, maupun
 berfirman, keadaannya. Ayat ini juga menjelaskan
bahwa bentuk kecintaan kepada beliau 
adalah mengikuti segala apa yang
dibawanya yang berasal dari Rabb-nya.”
Tanda yang paling jelas bahwa seorang
“Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat- hamba itu mencintai Allah adalah dia
Nya bershalawat untuk Nabi. Wahai orang- mengikuti segala yang Rasulullah  bawa
orang yang beriman, bershalawatlah kalian dari Allah. Allah  berfirman,
untuk Nabi dan ucapkanlah salam
penghormatan kepadanya.” (Q.S. Al-
Ahzab:56)
Nabi  sendiri pernah bersabda,
“Katakanlah, ‘Jika kamu (benar-benar)
mencintai Allah ikutilah aku, niscaya Allah

2
H.R. Bukhari (I/57/Kitab Al-Iman) (II/15/Kitab Al-Iman).
3
H.R. Muslim (IV/128/Kitab Ash-Shalah).

52 Fatawa Vol. 07/Th. I / 1424 H - 2003 M


mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.’ lalu mengerjakan shalat. Setelah
Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” menyelesaikan shalatnya, beliau bertanya,
(Q.S. Ali Imran:31) “Mana orang yang bertanya tentang hari kiamat
Oleh karena itu, bagi orang yang tadi?” Orang yang tadi bertanya menjawab,
mengaku mencintai Allah harus ada tanda “Saya, wahai Rasulullah.” Rasulullah  lalu
yang menunjukkan kecintaan tersebut, bertanya kepadanya, “Apa yang telah engkau
yaitu mengikuti perintah dan menjauhi persiapkan untuk menghadapi hari tersebut?”
larangan beliau . Orang itu menjawab, “Demi Allah, aku tidak
mempersiapkan untuk menghadapi hari
5. Membela sunnah beliau  dan berjihad
tersebut dengan banyak puasa dan sadaqah.
melawan orang-orang yang berbuat
Hanya saja aku cinta kepada Allah  dan
maksiat dan merendahkan sunnah beliau.
Rasul-Nya.” Maka beliau bersabda,
6. Wajib taat kepada beliau  dan tidak
menyelisihinya. Hal ini berdasarkan hadits
Nabi  yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah “Seseorang itu akan bersama dengan yang
 bahwa beliau  bersabda, dicintainya. Dan engkau akan selalu bersama
dengan yang engkau cintai”.
Anas  berkata, “Aku tidak pernah
melihat kegembiraan kaum muslimin
sesudah memeluk Islam seperti
kegembiraan mereka setelah mendengar
hadits ini.”5
“Semua umatku akan masuk surga kecuali yang 7. Berhukum dengan syariat yang dibawa
enggan.” Para sahabat bertanya, “Wahai oleh beliau . Allah  berfirman,
Rasulullah, siapakah orang yang enggan?”
Beliau menjawab, “Barang-siapa yang taat
kepadaku akan masuk surga, dan yang durhaka
kepadaku, sungguh dia telah enggan.” 4
Allah  berfirman,

“Maka, demi Tuhanmu, mereka (pada


hakekatnya) tidak beriman sebelum mereka
menjadikan kamu hakim dalam perkara yang
“Katakanlah, ‘Taatilah Allah  dan Rasul-Nya. mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak
Jika kamu berpaling, maka sesungguhnya Allah merasa keberatan dalam hati mereka terhadap
 tidak menyukai orang-orang kafir.’” (Q.S. putusan yang kamu berikan, dan mereka
Al-Ahzab:32) menerima dengan sepenuhnya. (Q.S. An-
Anas  mengisahkan bahwa pernah ada Nisa’:65)
seseorang datang kepada Nabi  dan
bertanya, “Wahai Rasulullah, kapankah
datangnya hari kiamat?” Rasulullah  berdiri

4
H.R. Bukhari (no. 6737).
5
H.R. Turmudzi (no. 2307), Imam Turmudzi berkata, “Hadist ini shahih.”

Fatawa Vol. 07/ Th. I / 1424 H - 2003 M 52


3
“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah terdapat di dalamnya, yang beradab dengan
kamu mendahului Allah dan Rasul-Nya dan adab-adab yang terkandung di dalamnya,
bertakwalah kepada Allah . Sesungguhnya Allah mencintai keluarga dan para shahabat beliau
Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (Q.S. , dan menjauhi pelaku bid‘ah dalam syariat
Al-Hujurat:1) beliau  atau orang yang mencela para
Maknanya, janganlah mengucapkan sesuatu shahabat beliau , dan lain-lain.”
yang menyelisihi Al-Qur’an dan As-Sunnah. Ibnu Katsir berkata, “Rasulullah  adalah
Allah  berfirman, imam teragung yang wajib untuk ditaati,
didahulukan dari seluruh para Nabi . Beliau
 adalah imam mereka pada malam Isra’
dan Mi’raj, yang memiliki syafaat yang paling
agung dan kedudukan yang terpuji.”

Tidak boleh menjadikan


Nabi  sebagai sekutu Allah
 dalam beribadah
Tidak boleh mengagungkan beliau ,
“Dan tidaklah patut bagi laki-laki mukmin dan berdoa atau meminta kepada beliau ,
tidak (pula) bagi perempuan mukminah, apabila menjadikan beliau  sebagai perantara
Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu (dalam meminta kepada Allah), memohon
ketetapan, mereka mengambil pilihan (lain) dalam pertolongan kepada beliau  , atau
urusan mereka. Barangsiapa mendurhakai Allah bersumpah dengan nama atau dengan
 dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah kehidupan beliau . Karena semua itu
sesat dengan kesesatan yang nyata.” (Q.S. Al- merupakan ibadah yang hanya boleh
Ahzab:36) ditujukan kepada Allah  . Cara
8. Memberi nasehat bagi Rasulullah , yaitu mengagungkan beliau  adalah dengan
membenarkan dan mengimani segala apa mengikuti dan berpegang dengan sunnah-
yang beliau  sampaikan. sunnah beliau . Nabi  sendiri marah
Imam Nawawi berkata di dalam kitab tatkala ada seseorang yang berbicara
beliau, Syarah Shahih Muslim, “Adapun kepada beliau dengan pembicaraan yang
nasehat bagi Rasulullah  (maknanya) adalah mengandung unsur kesyirikan. Beliau 
membenarkan risalah yang beliau  bawa, juga marah tatkala ada orang mengatakan
mengimani segala yang beliau  sampaikan, kepadanya, “Sekehendak Allah  dan
taat kepada perintah dan larangan beliau, sekehendakmu.” (Karena mengandung
memberikan pembelaan kepada beliau  makna menyamakan beliau  dengan Allah
baik ketika beliau masih hidup maupun ). Demikian pula sebagaimana dalam
sesudah wafat, memusuhi orang yang hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas
menentang beliau  , menghidupkan  bahwa dia mendengar Umar  pernah
sunnah-sunnah beliau , menyebarkan berkata di atas mimbar, “Saya pernah
dakwah dan syariat beliau  dengan mendengar Rasulullah  berkata (kepada
memperhatikan adab-adabnya, yaitu para sahabatnya),
menahan diri bertutur tentang syariat beliau
 tanpa dasar ilmu, menghormati orang-
orang yang mempelajari syariat tersebut,
yang berakhlak dengan akhlak yang

54 Fatawa Vol. 07/Th. I / 1424 H - 2003 M


“Janganlah kalian menyanjung-nyanjungku taat kepada beliau  , mencintai,
sebagaimana orang-orang Nashara mengagungkan, menghormati, dan
menyanjung Isa bin Maryam. Padahal aku ini membela beliau, berhukum kepada beliau
tidak lain hanyalah hamba Allah  dan Rasul-  , ridha dan menerima hukum yang
Nya. Oleh karena itu, katakan saja bahwa aku ditetapkan oleh beliau , mengikuti beliau
ini hamba Allah dan rasul-Nya.” 6 , mengucapkan salam dan shalawat kepada
Oleh sebab itu, tidak boleh kita beliau , mendahulu-kan beliau  di atas
memohon pertolongan dan bantuan kepada kepentingan diri, harta, dan keluarga,
beliau  (setelah beliau wafat), menyanjung- menyerahkan segala perselisihan kepada
nyanjung beliau , atau menjadikan beliau ketentuan beliau , dan lain-lainnya.”8
 sebagai tandingan Allah  dalam beribadah. Allah  memperingatkan kita agar tidak
Kita juga tidak diperbolehkan memperingati menyelisihi beliau ,
kelahiran Nabi , atau tahun baru hijriyah.
Karena semua itu tidak pernah dilakukan
pada masa sahabat  maupun pada masa
generasi yang utama (setelah mereka); dan
Rasulullah  sendiri tidak pernah “Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi
memerintahkan kita untuk memeriahkan hari perintah Rasul  takut akan ditimpa cobaan atau
lahirnya. Karena, hal itu menyerupai orang- ditimpa azab yang pedih.” (Q.S. An-Nur:63)
orang Nashara. Padahal, ibadah adalah tauqifi7;
Ibnu Katsir berkata, “Perintah
tidak boleh bagi siapapun menetapkan syariat
Rasululullah  merupakan petunjuk,
kecuali apa yang telah ditetapkan oleh Allah
sunnah-sunnah, dan syariat-syariat beliau
 dan Rasul-Nya. Dan dalam segala hal, tidak
. Jadi, setiap ucapan dan perbuatan kita
ada petunjuk bagi seorang pun melainkan
harus ditimbang dengan ucapan dan
dengan taat kepadanya dan menjalankan
perbuatan beliau . Suatu perkataan, kalau
perintahnya. Allah  berfirman,
sesuai dengan perkataan beliau , maka
kita terima; tetapi kalau tidak sesuai, maka
kita tolak, siapa pun yang mengatakannya.
Allah  menyebutkan ketaatan kepada
Rasul  di dalam Al-Qur’an lebih dari 30
kali, di antaranya firman Allah ,

“Katakanlah, ‘Taatlah kepada Allah  dan taatlah


kepada Rasul; dan jika kamu berpaling, maka
sesungguhnya kewajiban rasul itu adalah apa yang
dibebankankepadanya,dankewajibankamusekalian
“Wahai orang-orang yang beriman, penuhilah
adalah semata-mata apa yang dibebankan
seruan Allah  dan seruan Rasululullah apabila
kepadamu. Dan jika kamu taat kepadanya, niscaya
Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi
kamu mendapat petunjuk.’” (Q.S. An-Nur:54)
kehidupan kepada kamu.” (Q.S. Al-Anfal:24).
Ibnu Taimiyah t berkata, “Allah 
telah menerangkan hak-hak Nabi  di dalam Maraji: Ushul Al-Manhaj Al-Islamy: Dirasah Mu ‘asharah fi Al-‘Aqidah
wa Al-Ahkam wa Al-Adab, karya Abdur Rahman bin Abdul Karim Al-
Al-Qur’an. Di antaranya, agar (kaum muslimin) ‘Ubaid, Penerbit Al-Erfaan, Cet. IV th. 1418 H, hal. 89-94.

6
H.R. Bukhari (no. 3189).
7
Haram dilakukan kecuali ada tuntunannya. Pen.
8
Majmu’ Al-Fatawa (I/68).

Fatawa Vol. 07/ Th. I / 1424 H - 2003 M 54


5
 Firaq

Disarikan dan diterjemahkan oleh Abu Humaid


Telah disampaikan pada pertemuan yang telah lalu bahwa Shufiyyah memiliki
banyak thariqat, dan jumlahnya terus mengalami perkembangan dan
pertambahan. Maka, pada pertemuan kali ini akan coba kita kupas secara
singkat beberapa di antara thariqat yang memang sudah cukup dikenal dan
banyak menyebar di tengah masyarakat muslimin; tentunya dengan tetap
mengembalikannya kepada timbangan Al-Qur’an dan as-Sunnah.
1. Thariqat Qadiriyyah/Jailaniyyah berjudul al-Ghunyah li Thalibi Thariq al-Haq
Nama thariqat ini dinisbatkan kepada Syaikh dan kitab Futuh al-Ghaib. Nasehat-nasehat
Abdul Qadir al-Jailani (wafat 561 H) yang beliau banyak dikumpulkan oleh murid-
dimakamkan di Baghdad. Setiap tahun muridnya. Beliau sangat berpegang teguh
makam Syaikh Abdul Qadir al-Jailani banyak dengan Sunnah dalam masalah sifat-sifat
dikunjungi oleh orang untuk ber-tabarruk Allah, taqdir-Nya, dan masalah lainnya.
(meminta berkah).1 Akan tetapi, perlu Beliau amat mengingkari orang-orang yang
disampaikan di sini bahwa semua perkara menyelisihi Sunnah. Dalam kitabnya, al-
keji 2 yang menyelisihi syariat yang Ghunyah, beliau pernah berkata, “Dia
disandarkan kepada beliau 3 adalah (Allah) berada di atas, ber-istiwa’
kedustaan belaka. (bersemayam) di atas arsy-Nya, meliputi
kerajaan-Nya, dan ilmu-Nya meliputi segala
Syaikh Abdul Qadir as-Sindi berkomentar
sesuatu. Allah  berfirman,
tentang Syaikh Abdul Qadir al-Jailani. Dia
berkata, “Beliau F - adalah seorang yang
mengikuti aqidah as-Salaf ash-Shalih dari
para sahabat Nabi  dan orang-orang yang
mengikuti mereka dengan setia. Adapun
“Kepada-Nyalah perkataan-perkataan yang
perkara-perkara buruk yang menyelisihi
baik dan amal yang shalih dinaikkan.” (Q.S.
syariat Islam, baik lahir maupun batin, yang
Fathir:10)
disandarkan kepada beliau tidak lain
hanyalah berita palsu dan kedustaan Allah juga berfirman,
terhadap diri beliau.”4
Sebagai buktinya, Syaikh Abdul Qadir as-
Sindi pernah menukil perkataan Ibnu Rajab
tentang Syaikh Abdul Qadir al-Jailani.5 Kata
Ibnu Rajab, “Syaikh Abdul Qadir bagus “Dia (Allah) mengatur urusan dari langit ke
perkataan-perkataannya dalam masalah bumi, kemudian (urusan) itu naik kepada-Nya
tauhid, masalah sifat-sifat Allah dan takdir- dalam satu hari yang kadarnya (lamanya)
Nya; juga dalam ilmu-ilmu pengetahuan adalah seribu tahun menurut perhitungan
yang berkaitan dengan Sunnah. Beliau kalian.” (Q.S. Sajdah:5)
pernah menulis sebuah kitab terkenal yang
1
Kitab Tabshir al-Adzhan (hal.77).
2
Berita dan pengkhabaran yang berupa cerita-cerita syirkiyat, kurafat atau tahayul.
3
Dinisbatkan dan diceritakan atas nama beliau.
4
Kitab at-Tashawwuf (hal. 516).
5
Kitab Dzail Thabaqat al-Hanabilah (I/2997).

56 Fatawa Vol. 07/Th. I / 1424 H - 2003 M


Kita tidak boleh menisbatkan sifat kepada Cara berzikir thariqat ini adalah dengan menari-
Allah bahwasanya Dia berada di mana- nari, menyanyi, menyandarkan
mana. Akan tetapi, kita mengatakan bahwa (menisbatkan) hal-hal yang bersifat
Dia di atas arsy-Nya, sebagaimana ketuhanan kepada selain Allah dan
disebutkan dalam firman-Nya, menyembah-nyembah guru-guru mereka,
sebagaimana diungkapkan oleh Syaikh al-Alusi
dalam kitabnya, Ghayat al-Amani fi ar-Raddi
‘ala an-Nabhani. Dalam beberapa perkara
“(Allah) Yang Maha Pemurah beristiwa’
mereka sepakat dengan ajaran Syi‘ah, di
(bersemayam) di atas arsy-Nya.” (Q.S. Thaha:5)
antaranya, keyakinan mereka terhadap para
Beliau pun menyebutkan beberapa ayat imam dua belas (yang diyakini Syi‘ah); dan
lain dan beberapa hadits, kemudian mereka mengatakan bahwa Ahmad ar-Rifa‘i
berkata, “Sepatutnya kita memahami sifat adalah imam yang ketiga belasnya, serta
istiwa’ Allah itu dengan tidak mentakwilnya, masih banyak lagi bid‘ah-bid‘ah lain yang
dan berkeyakinan bahwa istiwa’ tersebut mereka buat, padahal Ahmad ar-Rifa‘i
adalah istiwa’ Allah beserta dzat-Nya , sendiri –yang selalu mereka kait-
yaitu di atas Arsy.” kaitkan dengan thariqah ini- telah
Lalu beliau mengatakan, “Bahwa memerintahkan dengan keras agar
keberadaan Allah di atas Arsy, telah berpegang dengan Sunnah dan
disebutkan dalam semua kitab yang menjauhi bid‘ah. Dia pernah berkata,
diturunkan kepada setiap nabi yang diutus “Suatu kaum yang meremehkan Sunnah dan
(oleh Allah), tanpa (disebutkan) bagaimana tidak mau membasmi bid‘ah pasti akan Allah
(hakikatnya).”6 jadikan mereka dikuasai oleh musuh. Dan
2. Thariqat Rifa‘iyyah suatu kaum yang membela Sunnah dan mau
membasmi bid‘ah serta para pelakunya pasti
Nama Thariqat ini dinisbatkan kepada
akan Allah beri kewibawaan, Dia menangkan
Ahmad ar-Rifa‘i (wafat tahun 580 H) yang
dan Dia jadikan baik segala urusan mereka.”9
berasal dari keturunan Bani Rifa‘ah, salah
satu kabilah bangsa Arab. Kelompok thariqat 3. Thariqat Syadziliyyah
ini menggunakan pedang dan tombak Nama thariqat ini dinisbatkan kepada Abul
pendek untuk menetapkan karamah- Hasan asy-Syadzili (593-656 H) yang
karamah.7 Pengikut thariqah ini sangat dilahirkan di desa ‘Imarah, sebuah desa
mengagungkan Ahmad ar-Rifa‘i sampai- dekat dengan desa Marsiyah di Maroko.
sampai mereka mengangkatnya ke derajat Kemudian dia pindah ke Tunisia. Dia pernah
‘Tuhan’. Perhatikan perkataan batil mereka menunaikan haji beberapa kali. Dia pernah
terhadap pendiri thariqat ini. Mereka masuk ke negeri Irak. Dia meninggal di
berkata, “Dia adalah quthub dari segala quthub gurun ‘Aidzab di tanah Mesir dalam
di muka bumi, kemudian beralih menjadi perjalanannya menunaikan haji.10 Abul
quthub di langit, sehingga jadilah langit yang Hasan Asy-Syadzili terbina dalam didikan al-
tujuh itu seperti gelang di kakinya.”8 Ghazali yang bernuansa al-Kasyf 11.12

6
At-Tashawwuf (hal. 515).
7
Tabshir al-Adzhan (hal. 77). [lihat kembali Fatawa Volume 06/I]
8
Lihat al-Mausu’ah al-Muyassarah (I/262).
9
Idem (I/270).
10
Idem (I/270-271).
11
Artinya, pengetahuan akan yang ghaib-Pent.
12
Al-Mausu’ah al-Muyassarah (I/263).

Fatawa Vol. 07/ Th. I / 1424 H - 2003 M 56


7
4. Thariqat Naqsyabandiyyah Syaikh al-Akbar), Brelewiyyah (didirikan
Nama thariqat ini dinisbatkan kepada oleh Ahmad Ridha Khan). Belum lagi dengan
Bahauddin Muhammad bin Muhammad al- adanya jamaah-jamaah masa kini yang
Bukhari (618-691 H), yang digelari Syah terpengaruh atau membawa pemikiran dan
Naqsyaband. Dan thariqat ini ajaran-ajarannya keyakinan Shufiyyah, seperti
mudah, seperti halnya thariqat Syadziliyyah, Deobandiyyah (muncul di India, yang
yang tersebar di Persia, India, dan Asia terpengaruh oleh thariqat Naqsyaban-
Barat.13 Namun thariqat ini telah bercampur diyyah dan Qadiriyyah; bermadzhab
aduk nuansanya antara nuansa al-Ghazali Hanafiyyah dan beraqidah Maturidiyyah),
dengan keyakinan kasyf-nya dan nuansa al- Mahdiyyah (pengikut Ahmad al-Mahdi bin
Hallaj dengan keyakinan wihdatul wujud14 dan Abdullah, muncul di Sudan, yang
hulul15-nya yang diikuti oleh Ibnu Arabi.16 terpengaruh oleh thariqat Qadiriyyah),
Jamaah Tabligh (muncul pertama kali di
5. Thariqat Tijaniyyah
India, pendirinya Syaikh Muhammad Ilyas
Salah satu thariqat Shufiyyah yang para al-Kandahlawi). Jama’ah Tabligh banyak
pengikutnya meyakini sejumlah pemikiran dipengaruhi oleh berbagai thariqat Shufiyyah
dan keyakinan Shufiyyah, namun mereka yang tersebar di India. Mereka mempunyai
mempunyai perkara khusus seperti meyakini keyakinan bahwa setiap murid harus memiliki
bahwa seseorang bisa bertemu dengan Nabi guru yang di baiat; dan barangsiapa yang
 di dunia secara wajar, dan bahwa Nabi  mati dalam keadaan tidak membaiat
telah memberikan secara khusus kepada (gurunya) maka matinya mati jahiliyyah. Dan
mereka bacaan shalawat yang disebut masih banyak jamaah-jamaah yang lainnya.
dengan shalawat al-Fatih li ma Ughliq
Dakwaan Sanad
(pembuka bagi apa yang tertutup). Pendiri
thariqah ini adalah Abul Abbas Ahmad bin Dakwaan sanad sudah menjadi kebiasaan
Muhammad bin al-Mukhtar bin Ahmad bin para ahli bid‘ah. Mereka biasa melakukan
Muhammad Salim at-Tijani. Dia hidup antara berbagai macam cara untuk memuluskan
tahun 1150-1230 H (1737-1815 M); lahir jalan kebid‘ahan mereka. Di antaranya
di desa ‘Ain Madhi, Aljazair. Secara umum mereka membawakan dalil-dalil yang
para pengikut thariqat ini memiliki keyakinan mereka paksakan agar sesuai dengan
yang sama dengan thariqat-thariqat yang ajaran mereka atau dengan mentakwilnya
lainnya, di antaranya mereka mempunyai menurut pemahaman dan hawa nafsu
keyakinan wihdatul wujud. Mereka juga mereka. Atau terkadang mereka
meyakini bahwa para guru mereka membawakan hadits-hadits lemah yang
mengetahui perkara yang ghaib.17 tidak bisa dijadikan hujjah bahkan hadits-
hadits maudhu‘ (palsu).18 Begitu pula yang
Dan masih banyak lagi thariqat-thariqat yang
biasa dilakukan oleh thariqat-thariqat
lainnya, seperti thariqat Badawiyyah
Shufiyyah. Mereka membawakan dalil-dalil
(pengikut Ahmad al-Badawi), Dasuqiyyah
untuk melegitimasi kebid‘ahan yang
(pengikut Ibrahim ad-Dasuqi), Akbariy-
mereka perbuat, di antaranya dengan
yah (pengikut Ibnu Arabi yang digelari asy-
mengklaim bahwa mereka memiliki sanad
13
Idem (I/271).
14
Yaitu keyakinan bahwa semua yang ada di alam ini hakekatnya adalah Allah. -Pent. [lihat kembali
fatawa Volume 05/I]
15
Yaitu keyakinan bahwa Allah bisa menyatu dengan makhluk. Pen.
16
Al-Mausu’ah al-Muyassarah (I/263).
17
Idem (I/285-289).
18
Lihat penjelasan Imam asy-Syathibi tentang hal ini dalam al-I’tisham Bab IV.

58 Fatawa Vol. 07/Th. I / 1424 H - 2003 M


atau riwayat yang menguatkan keyakinan- 2. Mereka mengamalkan shalat yang mereka
keyakinan batil dan amalan-amalan bid‘ah, namakan shalat Ragha’ib21. Mereka berdalil
yang mereka anggap sebagai ibadah. Kami dengan satu riwayat yang disandarkan
bawakan beberapa contoh yang berikut. kepada Anas  dari Rasulullah . Namun
1. Keyakinan mereka tentang Khidhir . para ulama (ahli hadits) seperti Imam an-
Mereka berkeyakinan bahwa Khidhir  Nawawi, Ibnul Jauzi, al-Hafizh al-Iraqi,
masih hidup dan pernah pada suatu malam Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, Imam asy-
berdoa yang suaranya didengar oleh Nabi Syaukani, al-Mu‘allimi dan yang lainnya
. Lalu beliau  mengutus Anas bin Malik menghukumi hadits ini maudhu‘ (palsu),
 untuk menemuinya. Anas  pun datang dibuat-buat oleh Ibnu Jahdham22. Ibnu
dan menyalaminya, lalu Khidhir  Hajar al-Haitami al-Makki dalam kitabnya, al-
menjawab salam yang disampaikan oleh Idhah wal Bayan, berkata, “An-Nawawi –
Anas. Khidir  berkata kepada Anas , imam kami dari para imam mutaakhirin- dalam
“Katakan kepadanya (yakni Rasulullah ) kitabnya yang masyhur, Syarh al- Muhadzdzab,
begini, “Sesungguhnya Allah telah mengatakan, “Adapun shalat Ragha’ib yaitu
melebihkanmu atas para nabi yang lain shalat dua belas rakaat antara Maghrib dan
sebagaimana Allah melebihkan bulan ‘Isya pada malam Jumat pertama di bulan
Ramadhan atas bulan-bulan lainnya, dan Rajab serta shalat nishfu (pertengahan)
Allah telah melebihkan umatmu atas umat- Sya‘ban seratus rakaat bukan termasuk
umat yang lain sebagaimana Allah Sunnah. Bahkan keduanya adalah bid‘ah
melebihkan hari Jumat atas hari-hari yang buruk lagi tercela. Janganlah kita
lainnya… .”19 Kemudian mereka meyakini terpedaya dengan apa yang disebutkan
bahwa Khidhir  datang kepada guru- oleh Abu Thalib al-Makki dalam kitabnya Qut
guru mereka dan menyalami mereka, Al-Qulub dan Abu Hamid al-Ghazali dalam
mengetahui nama-nama dan rumah-rumah kitabnya Ihya Ulumiddin tentang adanya dua
mereka, berdalil dengan kisah Anas  di shalat tersebut. Kita juga tidak usah
atas yang dikatakan oleh Ibnu Katsir terpedaya dengan hadits-hadits yang
sebagai hadits dusta/palsu. Al-Hafizh Abul menyebutkan tentang hal tersebut karena
Husain bin al-Munadi –setelah semuanya batil. Kita juga tidak usah
membawakan hadits (kisah) Anas  ini- terpedaya dengan sebagian para imam yang
mengatakan, “Ahli Hadits bersepakat terkena syubhat tentang hukum kedua
bahwa hadits ini adalah hadits yang munkar amalan tersebut sehingga menulis risalah
sanadnya, cacat matannya, lagi tampak yang berisi anjuran untuk melakukannya,
bahwa ia hanya cerita buatan.”20 karena itu suatu kesalahan (dari mereka).
(bersambung ke hal. 50)

19
Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Asakir dari dua jalan, yaitu dari jalan Abu Dawud al-A‘ma Nufai’
–dia adalah seorang pendusta dan pemalsu hadits- dari Anas bin Malik , dan dari jalan Katsir
bin Abdullah bin ‘Amr bin ‘Auf –dan dia juga seorang pendusta- dari bapaknya dari kakeknya.
Ibnu Katsir dalam kitab al-Bidayah wa an-Nihayah berkata, “Hadits ini dusta/palsu, tidak sah baik
matan maupun sanadnya.”
20
Lihat at-Tashawwuf (345). (tantang Nabi Khidir ini, lebih jelasnya simak kolom Tauhid edisi
mendatang “Masih hidupkah Nabi Khidir?” insyaAllah)
21
Yaitu shalat dua belas raka’at pada malam Jum’at pertama dari bulan Rajab, antara Maghrib dan
Isya’, dengan mebaca bacaan-bacaan khusus dan tasbih-tasbih tertentu yang berbeda dengan
bacaan pada shalat-shalat biasanya. -Pen.
22
Yakni Abul Hasan Ali bin Abdullah bin Jahdham al-Hamadani. -Pen.

Fatawa Vol. 07/ Th. I / 1424 H - 2003 M 58


9
 Profil

Nama, Nasab dan Kelahirannya makannya roti panggang1, sementara


kamu butuh mata pencaharian.’ Akhirnya
Beliau bernama Ya‘qub bin Ibrahim bin
aku pun tidak bisa banyak waktu menuntut
Habib bin Sa‘ad bin Bujair bin Mu‘awiyah
ilmu karena mengikuti kehendak ayahku.
al-Anshari al-Kufi, kunyahnya Abu Yusuf
Ternyata Abu Hanifah merasa kehilangan
(sebab beliau memiliki putra bernama
dan menanyakan perihal diriku, lalu saya
Yusuf), murid Abu Hanifah yang paling
pun berusaha datang ke majelisnya.
tersohor. Ibu Sa‘ad (kakek Abu Yusuf
Ketika aku datang lagi ke majelis, Abu
yang ketiga) bernama Habtah binti Malik
Hanifah berkata kepadaku, “Apa katamu,
dari Bani Amr bin Auf. Dan Sa‘ad ini
sibuk dengan mata pencaharian dan
adalah salah seorang sahabat Nabi ,
mentaati orang tua, lalu kamu duduk (tidak
termasuk di antara anak yang pernah
belajar)?!” Tatkala orang banyak sudah
mendaftarkan diri kepada Nabi 
pergi dari majelis, beliau memberiku satu
bersama -dua temannya- Rafi’ bin
kantung dan berkata, “Nikmatilah ini!” Aku
Khudaij dan Ibnu Umar, untuk ikut serta
pun memeriksanya. Ternyata berisi uang
dalam perang Uhud. Namun –waktu itu-
seratus dirham. Lalu beliau berkata lagi,
Nabi  menilainya masih kecil (belum
“Tetap belajarlah di majelis, dan bila itu
cukup usia untuk ikut perang).
sudah habis beritahu saya.” Aku pun
Abu Yusuf lahir di Irak pada tahun 113 H. akhirnya terus duduk di majelisnya.
Tatkala berlalu beberapa lama beliau
Masa Menuntut Ilmu memberiku seratus dirham lagi, lalu
Sejak kecil Abu Yusuf memiliki semangat mengingatkan aku (untuk tetap belajar di
belajar yang tinggi. Dia berusaha keras majelis), padahal aku tidak mengabarkan
untuk bisa duduk di majelis ilmu Abu sedikitpun kepadanya tentang habisnya
Hanifah, karena terkendala keinginan uang-uang dirham itu. Seolah-olah beliau
orang tuanya yang menginginkannya minta dikabari habisnya uang-uang
untuk bekerja. Berikut kita dengar dirham tersebut sampai aku
penuturannya menurut dua versi, yang berkecukupan dan memiliki harta.”
pertama menurut versi Ali bin Harmalah
Adapun versi kedua adalah cerita Ali bin
at-Taimi yang mengabarkan bahwa Abu
al-Ja‘d bahwa Abu Yusuf mengatakan,
Yusuf pernah berkata, “Aku pergi menuntut
“Ayahku meninggal ketika aku masih
hadits dan fikih dengan berbekal sedikit
kecil di pangkuan ibuku. Ibuku
ilmu. Pada suatu hari ayahku datang
menyerahkan aku kepada Qishar untuk
ketika aku tengah duduk di majelis Abu
menjadi pembantunya, tetapi aku
Hanifah, aku pun pergi bersama ayahku.
meninggalkannya untuk pergi ke
Ayahku berkata, ‘Hai anakku, jangan kau
majelisnya Abu Hanifah. Aku pun duduk
langkahkan kakimu bersama Abu
mendengarkan ilmunya. Ibuku rupanya
Hanifah! Karena Abu Hanifah itu
membuntutiku ke majelis Abu Hanifah,
1
Maksudnya, Abu Hanifah adalah orang yang berada.

60 Fatawa Vol. 07/Th. I / 1424 H - 2003 M


lalu menarik tanganku dan membawaku merasa kagum karenanya lalu berkata,
kembali kepada Qishar. “Sungguh ilmu itu dapat mengangkat
seseorang dan memberi manfaat dunia
Abu Hanifah sangat meperhatikan aku
dan akhirat.” Lalu mendoakan rahmat
sebab kehadiranku dan semangat
Allah untuk Abu Hanifah dan berkata,
belajarku. Tatkala lama aku kabur dari
“Dia –Abu Hanifah- dapat melihat
ibuku, ibuku datang kepada Abu Hanifah
dengan mata ilmunya apa yang tidak
dan berkata, “Tidaklah anak ini menjadi
bisa dilihat oleh mata kepalanya.”
rusak melainkan olehmu. Anak ini yatim
yang tak punya apa-apa, dan aku Dan beliau berguru kepada Abu Hanifah
memberinya makan dari hasil aku selama 17 tahun. (al-Bidayah wa an-
bertenun. Saya berharap dia mendapat Nihayah Juz 10 hal 150).
sedikit pekerjaan untuk keperluannya
sendiri.” Abu Hanifah berkata –dengan
Guru-Gurunya
keras- kepada ibuku, “Hai perempuan Di antara guru-gurunya adalah Abu
bodoh, perintahkan anak ini belajar, Ishaq asy-Syaibani, Sulaiman at-Taimi,
niscaya dia bisa makan puding rasa Yahya bin Sa‘id al-Anshari, Sulaiman al-
kenari.” Akhirnya ibuku pergi A‘masy, Hisyam bin Urwah, Ubaidullah
meninggalkannya sambil berkata, bin Umar al-Umari, Hanzhalah bin Abu
“Kamu ini orang tua sudah pikun lagi Sufyan, Atha bin as-Saib, Muhammad
hilang akal” (karena tak percaya). bin Ishaq bin Yassar, Hajjaj bin Artha‘ah,
Kemudian aku pun terus belajar al-Hasan bin Dinar, Laits bin Sa‘ad,
kepadanya sampai Allah memberiku Ayyub bin Atabah, dan lain-lain.
ilmu yang bermanfaat dan mengangkat
derajatku hingga aku menjadi seorang
Murid-Muridnya
hakim. Karenanya aku sering duduk dan Di antara murid-muridnya adalah
makan bersama Harun ar-Rasyid2 di Muhammad bin al-Hasan asy-Syaibani,
meja hidangannya. Pada suatu saat Bisyir bin al-Walid bin Sinan, Ali bin al-
Harun ar-Rasyid memberiku puding Ja‘d, Ahmad bin Hanbal, Yahya bin
(waktu itu aku tidak tahu) sambil berkata Ma‘in, Amr bin Muhammad an-Naqid,
kepadaku, “Hai Ya‘qub, makanlah ini Ahmad bin Mani‘, Ali bin Muslim ath-
karena tidak setiap hari kami membuat Thusi, Abdus bin Bisyir, al-Hasan bin
ini.” Aku bertanya kepadanya, “Apa ini, Syabib, dan lain-lain.
wahai Amirul mukminin?” Dia
menjawab, “Ini puding rasa kenari.”
Masa Menjadi Qadhi
Maka aku pun tersenyum. Ar-Rasyid Dia pernah menetap di Baghdad dan
bertanya, “Apa yang membuatmu diangkat sebagai qadhi (hakim) oleh
tersenyum?” Aku menjawab, “Tidak ada Musa bin al-Mahdi di sana, dan
apa-apa, wahai Amirul mukminin.” Dia setelahnya oleh Harun ar-Rasyid. Dia
berkata, “Beritahu aku apa yang adalah orang pertama yang digelari
sebenarnya.” Dia merajuk agar aku ‘Qadhil Qudhat’ (ketua para hakim) oleh
memberitahukannya, akhirnya aku raja (Musa bin Al-Mahdi), dalam sejarah
menceritakan kisah tentang puding itu Islam.
dari awal sampai akhir. Ar-Rasyid

2
Salah seorang khalifah pada saat itu.

Fatawa Vol. 07/ Th. I / 1424 H - 2003 M 60


1
Dan dia adalah orang pertama yang Hanifah dan Ibnu Abu Laila tidak akan dikenal
digelari Qadhil Qudhat ( Ketua para karena Abu Yusuflah yang menyebarkan
hakim). Dia pernah menjadikan anaknya pendapat dan ilmu keduanya.”6
sebagai wakilnya di bagian barat
Thalhah bin Muhammad bin Ja‘far
Baghdad dan Harun ar-Rasyid
berkata, “Abu Yusuf tenar namanya lagi
menyetujui penugasannya dan
nyata keistimewaannya. Dialah murid
sepeninggal Abu Yusuf Harun ar-Rasyid
Abu Hanifah, orang paling fakih di antara
menunjuk Abul Bakhtari Wahb bin Wahb
beribu orang; tidak ada seorang pun
al-Qurasyi menjadi hakim ketua di
yang melebihinya pada masanya. Dia
Baghdad.
seorang yang sempurna ilmunya,
Pujian Ulama Terhadapnya hikmahnya, kepemimpinannya, dan
kemampuannya. Dialah orang pertama
Imam Ahmad berkata, “Ketika pertama
yang menghimpun kitab-kitab tentang
kali aku menulis hadits, aku pergi kepada
ushul fikih Abu Hanifah, menyampaikan
Abu Yusuf, dan dia lebih condong kepada
berbagai permasalahannya,
ahli hadits daripada Abu Hanifah dan
menyebarkannya dan menebarkan ilmu
Muhammad –bin Hasan-.”3
Abu Hanifah di segala penjuru bumi.” 7
Ibnu Ma‘in berkata, “Aku tidak pernah
Muhammad bin Hasan berkata, “Pernah
menjumpai di antara Ashabur Ra‘yi yang
Abu Yusuf sakit parah di masa Abu
paling kuat, paling hafal, dan paling
Hanifah dan dikhawatirkan dia bakal
shahih riwayatnya daripada Abu Yusuf.”4
meninggal. Maka Abu Hanifah pun
Beliau juga berkata, “Abu Yusuf adalah
menjenguknya dan kami ikut
pengikut hadits dan Sunnah.”
bersamanya. Setelah selesai menjenguk
Ibnu al-Madini berkata, “Dia seorang yang dan keluar dari rumahnya sambil
shaduq.” 5 (Maksud beliau bahwa derajat memegang daun pintu rumahnya, Abu
hadits Abu Yusuf tergolong hasan). Hanifah berkata, “Jika anak muda ini
meninggal, sesungguhnya dia adalah
Ismail bin Hammad bin Abu Hanifah
orang paling alim di atas ini.” Beliau
berkata, “Murid-murid Abu Hanifah (yang
memberi isyarat ke bumi.”8
terkenal) ada sepuluh.” Lalu beliau
menyebut yang pertama sekali Abu Hammad bin Abu Hanifah menceritakan
Yusuf, kemudian Zufar, kemudian bahwa, “Pada suatu hari aku melihat
berkata, “Dan tidak ada di antara mereka Abu Hanifah (ayahku). Di samping
yang seperti Abu Yusuf dan Zufar.” kanannya ada Abu Yusuf, sementara di
samping kirinya ada Zufar. Keduanya
Ammar bin Abu Malik berkata, “Tidak ada di
sedang berdebat dalam suatu masalah.
antara mereka yang seperti Abu Yusuf.
Tidaklah Abu Yusuf berpendapat
Kalaulah tidak ada Abu Yusuf, maka Abu

3
Siyar A‘lam an-Nubala’ (VIII/537-538).
4
Idem (VIII/538).
5
Idem (VIII/538).
6
Tarikh Baghdad karya al-Khathib (XIV/245).
7
Idem (XIV/245-246).
8
Idem (XIV/245-246).

62 Fatawa Vol. 07/Th. I / 1424 H - 2003 M


melainkan dibantah oleh Zufar, dan ada di antara Ashabur Ra‘yi yang paling
tidaklah Zufar berpendapat melainkan banyak meriwayatkan hadits daripada
dibantah oleh Abu Yusuf, sampai waktu Abu Yusuf, hanya saja dia banyak
zhuhur. Ketika muadzin meriwayatkan dari para perawi dha‘if
mengumandangkan adzan, Abu Hanifah (lemah) seperti al-Hasan bin Imarah
menepukkan tangannya ke paha Zufar dan yang lainnya. Dia banyak
sambil berkata, “Jangan kamu berharap menyelisihi teman-temannya (dari
menjadi pemimpin di sebuah negeri kalangan Hanafiyah), dia mengikuti jalan
yang tinggal di dalamnya Abu Yusuf.” Ahli Atsar (ahli hadits) apabila
Hammad berkata, “Maka Abu Hanifah mendapatkan atsar yang baik dan
memenangkan Abu Yusuf atas Zufar.” bersanad. Apabila orang yang
meriwayatkan darinya tsiqah (terpercaya)
Al-Muzani berkata, “Abu Yusuf adalah
dan dia sendiri meriwayatkan dari
orang yang paling mengikuti hadits
seorang tsiqah, maka tidak mengapa
diantara kalangan Hanafiyah.”
dengannya dan dengan riwayatnya.”11
Imam Ahmad berkata, “Abu Yusuf seorang
Ibnu Kamil juga berkata, “Yahya bin
yang tengah-tengah dalam menilai
Ma‘in, Ahmad bin Hanbal, dan Ali bin al-
(hadits)”.
Madini tidak berselisih pendapat tentang
Dzahabi berkata, “Al-Qadhi Abu Yusuf, dia ketsiqahan (keterpercayaan) Abu Yusuf
seorang imam, mujtahid, allamah (alim), dalam menukil (meriwayatkan hadits).”12
muhaddits, ketua para qadhi (hakim).”9
Ibnu Adi berkata, “Dia (Abu Yusuf) tidak
Abu Yusuf al-Qadhi, al-Imam, al-Allamah, mengapa (dengan riwayatnya).” Nasa’i
Faqih-nya penduduk Irak (Jalaluddin as- berkata, “Dan Abu Yusuf seorang
Suyuthi, Thabqat al-Huffazh (I/127). tsiqah.” Abu Hatim berkata, “(Abu Yusuf)
boleh ditulis haditsnya.”13
Penilaian Para Ulama Tentang
Riwayat Hadits Abu Yusuf Al-Fallas berkata, “(Abu Yusuf seorang
yang) shaduq yang banyak salahnya
Amr an-Naqid berkata, “Saya tidak
(dalam riwayat hadits).” 14
memandang meriwayatkan hadits dari
Ashabur Ra‘yi kecuali Abu Yusuf karena Sikapnya Terhadap Gurunya, Abu
dia adalah pengikut Sunnah.” 10 Hanifah
Syu‘aib bin Ishaq -ketika disebut-sebut Abu Yusuf berkata, “Tidak ada di dunia ini
nama Abu Yusuf- berkata, “Sungguh Abu yang paling aku sukai daripada duduk di
Yusuf sanggup memegang umat ini, majelis bersama Abu Hanifah dan Ibnu
tetapi umat tidak sanggup memegang Abi Laila, karena aku tidak melihat orang
Abu Yusuf. Hal itu karena ilmunya yang paling fakih daripada Abu Hanifah,
tentang atsar (hadits).” Abu Yusuf dan tidak ada hakim yang paling baik
memiliki banyak riwayat hadits. Tidak (bijaksana) daripada Ibnu Abi Laila.”

9
Idem (VIII/535).
10
Al-Kamil fi Dhu‘afa’ ar-Rijal karya Ibnu Adi (VII/144).
11
Idem (VII/144).
12
Tarikh Baghdad (IV/244).
13
Siyar A‘lam an-Nubala’ (VIII/538).
14
Thabaqat al-Huffazh (I/128).

Fatawa Vol. 07/ Th. I / 1424 H - 2003 M 62


3
Beberapa Riwayat Hadits Abu Yusuf
Al-Qasim bin al-Hakam meriwayatkan “Barangsiapa mendatangi –shalat-
dari Abu Yusuf al-Qadhi dari Ibnu Abi Jum‘at, maka hendaklah dia mandi.”
Laila dari Atha dari Jabir  bahwa
Rasululah  bersabda, Keteguhannya dan Pembelaannya
Terhadap Aqidah dan Sunnah
Abu Yusuf berkata, “Barangsiapa
“Ya Allah, berkahilah umatku di awal mencari hadits-hadits yang gharib,
siangnya.” maka dia telah berdusta, dan
Syabib bin al-Muaddib meriwayatkan barangsiapa mencari harta melalui
dari Abu Yusuf dari Abdullah bin Ali dari ‘kimia’ maka dia akan bangkrut (rugi),
Abdullah bin Muhammad bin Aqil dari dan barangsiapa mencari agama
Jabir  dari Rasulullah , dengan ilmu kalam, maka dia akan
menjadi zindiq (kafir).”
Beliau juga berkata, “Jidal dan ilmu
“Bahwa Beliau  memerintahkan wanita
kalam adalah kejahilan, dan jahil akan
mustahadhah untuk berwudhu setiap
jidal dan ilmu kalam adalah ilmu.”
kali shalat.”
(Beliau mencela ilmu kalam).
Abu Yusuf meriwayatkan dari Abdullah
Ali bin al-Ja‘d menceritakan bahwa Abu Yusuf
bin Ali dari Abu Ishak dari Abul Ahwash
pernah berkata, “Barangsiapa menyatakan,
dari Abdullah –yakni bin Mas‘ud- , dia
“Imanku sama seperti imannya Jibril,’ maka
berkata, “Kami pernah bersama
dia adalah pelaku bid‘ah.”
Rasulullah . Kami tidak tahu apa yang
harus kami katakan di belakangnya – Yahya bin Yahya at-Taimi berkata, “Aku
dalam shalat-, lalu Rasulullah  mendengar Abu Yusuf berkata
mengajarkan kepada kami kalimat- menjelang wafatnya, ‘Setiap yang aku
kalimat penuh kebaikan dan pembuka fatwakan aku rujuk darinya kecuali yang
kebaikan, dan kami diperintahkan untuk sesuai dengan al-Qur’an dan as-
mengucapkan setiap dua rakaat – Sunnah.” Dalam riwayat lain, “Kecuali
bacaan tasyahhud berikut, apa yang ada dalam al-Qur’an dan
disepakati oleh kaum muslimin.”
Wafatnya
Abu Yusuf al-Qadhi wafat pada bulan
Rabi‘ul Awwal tahun 182 H dalam usia
69 tahun.
Disadur dan dialihbahasakan oleh tim redaksi.
Referensi:
1. Tarikh Baghdad
2. Siyar A‘lam an-Nubala’
3. Thabaqat al-Huffazh
Abu Yusuf meriwayatkan dari gurunya 4. Al-Kamil fi Dhu‘afa’ ar-Rijal karya Ibnu Adi
Abu Hanifah dari Nafi’ dari Umar  dari 5. al-Bidayah wa an-Nihayah
Nabi  bersabda,

64 Fatawa Vol. 07/Th. I / 1424 H - 2003 M