Anda di halaman 1dari 8

STRUKTUR BAJA II

Struktur baja mulai dipakai pada saat pembangunan


jembatan di St. Louis Missouri, mulai 1868 dan selesai 1874

Secara metalurgi baja merupakan paduan dari unsur besi (Fe)


dengan unsur carbon (c)

Jika c > 2% ; disebut BESI

Jika c < 2% ; disebut BAJA

BESI; lebih keras dari baja, bersifat getas (brittle) dan tidak
dapat di tempa

BAJA ; Mempunyai sifat yang sebaliknya dari besi

Proses pembuatan baja adalah proses oksidasi, yaitu


mengoksidasi carbon yang masih tinggi didalam besi mentah
ataupun besi spons menjadi < 0.8%

Di Indonesia Bahan baku pembuatan baja umumnya digunakan

1. Baja tua (scrap) ; yaitu baja tua tercampur bermacam-


macam logam

a. tembaga (cu)

b. nickel (Ni)

c. chrom (Cr)
unsur-unsur tersebut diatas tidak dapat dibuang dengan
oksidasi baja menjadi getas (brittle) karena
mengandung gas hydrogen dan nitrogen yang tinggi

2. Besi spons

Biji besi spons

a. sulphur dan phosphor rendah, sehingga kwalitas dan


ductilitasnya tinggi

b. tidak mengandung cu, Ni dan Cr

c. gas hydrogen dan nitrogen rendah

Mutu baja bangunan secara umum dapat


diklasifikasikan menurut sifat-sifat sbb

1. Kekuatan (strength)

2. Kelenturan (ductility)

3. Keuletan (toughness)

4. Kemudahan di las (weldability)

Daktilitas (kelenturan)

a. Daktilitas (kelenturan) adalah kemampuan bahan untuk


mengalami deformasi non elastis. Dengan adanya daktilitas,
struktur baja dapat menyerap deformasi melebihi batas
elastis tanpa mengalami patah.

Keuntungan bahan ini adalah memberikan kesempatan


untuk mengambil tindakan penanggulangan sebelum terjadi
keruntuhan yang sebenarnya.

1. Daktilitas Material, adalah merupakan perbandingan


regangan strain hardening dan regangan plastis yang
besar.
2. Daktilitas struktur, adalah bila pada struktur terjadi sendi
plastis
2. Daktilitas komponen adalah terjadi pada beton bertulang,
bila tulangan meleleh lebih dahulu sebelum beton hancur.
Tingkah laku mekanis dari material merupakan refleksi dari
hubungan antara respons (deformasi) dengan beban yang
bekerja (gaya) yang antara lain meliputi ;

a. strength
b. hardness
c. ductilitas
d. stifness
Keuntungan konstruksi baja
1. Kekuatannya tinggi
kekuatan baja dinyatakan dengan
a. tegangan tekan lelehnya (fy)
b. Tegangan tarik batas (fu)

2. Perbandingan kekuatan per volume lebih tinggi dibanding


bahan yang lain(beban mati lebih kecil untuk bentang
yang lebih panjang)
3. Kemudahan pemasangan (dipersiapkan di bengkel,
kemudian dirakit dan dipasang di lapangan)
4. Keseragaman mutu yang lebih terjamin (proses
pembuatan di pabrik)
5. Daktilitas (dapat mengalami deformasi yang besar
dibawah pengaruh tegangan tarik yang tinggi tanpa
hancur atau putus)
Kerugian konstruksi baja
1. Kurang kekuatannya terhadap bahaya kebakaran
(kekuatan menurun drastis)
2. Membutuhkan biaya untuk proteksi material baja dari
karat
Sifat-sifat bahan baja

Tegang Batas tegangan


an tarik

Fu

Fp
Fy Failure

ɛy ɛp
Regangan

Batas Batas Batas


Elasti Plasti Strain
s s hardening

Pada strain hardening, terjadi kenaikan tegangan sejalan


dengan kenaikan regangan

ɛy = regangan leleh
ɛp = regangan plastis
Fy = Tegangan leleh
Fp = Tegangan Proporsional
Fu = Tegangan batas (ultimit)

Pengertian Tegangan Leleh dan Tegangan Dasar menurut


PPBBI
Tegangan Leleh didefenisikan sebagai tegangan yang
menyebabkan regangan tetap sebesar 0.2%
Tegangan dasar didefenisikan sebagai tegangan leleh dibagi
faktor keamanan yang nilainya SF = 1.5

Modulus Elastisitas Baja (E)

Modulus Elastisitas bahan (Modulus Young) adalah, suatu


ukuran dari kekakuan (stiffness) atau daya tahan bahan
terhadap deformasi, merupakan suatu konstanta yang
merupakan kemiringan dari diagram tegangan regangan dalam
daerah elastis linier, dimana nilainya tergantung bahan yang
digunakan.
σ
E=
ε

Menurut PPBBI 1983 E = 2.1 x 106 kg/cm2

Menurut AISC E = 2.03 x 106 kg/cm2

Sifat-sifat baja struktur berdasarkan PPBBI


(berlaku untuk elemen dengan tebal kurang dari 40 mm)
Macam Baja Tegangan Leleh Tegangan Dasar
Struktur
kg/cm2 MPa kg/cm2 MPa
BJ 33 2000 200 1333 133.3
BJ 34 2100 210 1400 140
BJ 37 2400 240 1600 160
BJ 41 2500 250 1666 166.6
BJ 44 2800 280 1867 186.7
BJ 50 2900 290 1933 193.3
BJ 52 3600 360 2400 240

Untuk elemen dengan tebal lebih dari 40 mm, tegangan ijinnya


adalah
Untuk beban tetap
Pada ASTM, mutu baja ditulis seperti contoh berikut
Macam Baja Tegangan Leleh Tegangan Tarik Batas
Struktur
kg/cm2 MPa kg/cm2 MPa
A32 32 2240 58 s/d 80 4060 s/d
5600
A36 36 2520 58 s/d 80 4060 s/d
5600

Standar yang biasanya digunakan pada perencanaan struktur


baja
1. PPBBI : Peraturan Perencanaan Bangunan Baja
Indonesia
2. AISC : American Institute of Steel Construction
3. AISI : American Iron & Steel Construction
4. AASHTO : American Association of State Highway &
Transportation Officials
5. ASTM : American Society for Testing & Materials
6. JIS : Japan Industrial Standards
7. DIN : Deutch Industrie Narmen
8. BS449 : British Standard 449

1. Perencanaan struktur baja dimana tegangannya tidak


melebihi batas proporsional / batas leleh disebut
perencanaan secara elastis (working stress design atau
elastic design atau allowable stress design

• Tegangan pada struktur akibat beban kerja tidak


melampaui tegangan ijin yang sudah ditetapkan lebih
dahulu (analisa didasarkan pada beban kerja)

Tegangan yang terjadi (σ) ≤ tegangan ijin σ

• Hubungan tegangan dan regangan masih dianggap


elastis linier, sehingga Berlaku hukum HOOKE

P M .y
σ= ±
A I

Atau

σ = E.ε

• Kekurangan utama metode ini adalah kurang efisien


dalam mencapai tingkat keamanan yang konsisten,
karena factor keamanan yang digunakan hanya pada
bahan saja.

• Perencanaan ini umum digunakan untuk konstruksi baja,


dan hampir hampir tidak pernah lagi digunakan untuk
konstruksi beton bertulang.

• Pererencanaan ini digunakan untuk menghitung batas


layan pada beton prestressed.

• Analisa struktur secara elastis harus memenuhi syarat-


syarat
a. Kontinuitas, maksudnya tidak ada sendi plastis
terjadi sehingga kurva lendutannya kontinue
b. keseimbangan, yaitu dan momen = 0
∑ gaya =0 ∑

2. Setelah melewati batas elastis, perencanaan struktur baja


adalah dalam batas plastis (plastic design)
Pada metode perencanaan platis, beban kerja “working load”
dikalikan dengan faktor beban untuk memperoleh beban
batas yang harus dipikul oleh struktur pada keruntuhan
plastis

Perencanaan plastis banyak dipergunakan pada konstruksi


balok menerus dan konstruksi portal statis tertentu. Namun
pada konstruksi statis tertentu sebaiknya cara plastis tidak
digunakan karena

a. Pada balok statis tertentu


hanya mempunyai 1 (satu) titik dimana harga momennya
maksimum. Jika beban diperbesar, momen maksimum juga
membesar hingga tegangan pada

sisi tarik terluar mencapai tegangan leleh baja.

Jika beban diperbesar lagi, baja akan melendut lebih cepat


lagi karena aktilitasnya. Jadi kenaikan beban akan
mengakibatkan kenaikan harga lendutan secara cepat.

b. Pada balok statis tak tentu


akan mempunyai 2 atau lebih titik, dimana momen
maksimum. Jika beban diperbesar, pada titik dengan
momen maksimum terbesar akan terjadi tegangan leleh
baja, tapi pada tempat-tempat lain struktur masih elastis
sehingga lendutan ttal dapat terkontrol