Anda di halaman 1dari 12

Konflik Darfur di Sudan

Sumber : www.english-wikipedia.com

Sudan merupakan sebuah negara yang berada di sebelah utara benua Afrika,
didominasi oleh dua kelompok besar masyarakat, yaitu masyarakat Arab dan
masyarakat Afrika. Sudan memiliki jumlah suku yang sangat besar, tak kurang dari
400 suku dengan bahasa yang berbeda satu sama lain. Seluruh suku itu berbaur di 26
negara bagian yang mempunyai otonomi yang cukup besar, karena Sudan menganut
sistem pemerintahan federal. Meski Sudan merupakan negara bekas jajahan Inggris
yang kemudian memerdekakan diri pada tanggal 1 Januari 1956, Sudan tidak
tergabung dalam persemakmuran Inggris. Konflik yang terjadi di negeri ini ada tiga:
konflik Sudan Selatan – Sudan Utara; konflik Front Timur dan konfllik Darfur.
Pihak militer yang condong kepada muslim telah mendominasi politik
nasional Sudan semenjak meraih kemerdekaan dari Inggris pada tahun 1956. Keadaan
Sudan terbilang kacau karena perang sipil yang berlarut-larut selama sisa abad 20.
Konflik tersebut berakar pada keadaan ekonomi, politik dan dominasi sosial yang
besar dari masyarakat non-Muslim, non-Arab di Sudan bagian selatan. Perang sipil
pertama berakhir pada tahun 1972 namun terpecah kembali pada tahun 1983. Perang

1
kedua yang berefek pada masalah kelaparan dan lebih dari empat juta jiwa
mengungsi, dan korban jiwa yang melebihi angka dua juta1.
Sejarah konflik antar kelompok di Sudan, sudah berakar lama sejak kekuatan
Kristen menguasai Sudan sekitar abad-6, dan kemudian dilanjutkan oleh kekuatan
Islam dari Kerajaan Ottoman pada abad ke-13. Perebutan pengaruh antar penganut
agama yang berbeda itu sampai kini terus menjadi pemisah antar warga Sudan.
Berbagai gejolak dalam perpolitikan di Sudan semakin menambah terbengkalainya
urusan membangun negara dan mensejahterakan rakyat. Kondisi inilah yang
menyebabkan timbulnya sejumlah pemberontakan yang dilakukan rakyat, khususnya
di wilayah selatan dan barat, terhadap pemerintah pusat. Alasannya, karena kehidupan
warga di kedua wilayah itu dirasakan kurang mendapat perhatian dari pemerintah.

Darfur dan Awal Konflik


Darfur dalam bahasa Arab berarti tanah bangsa Fur adalah sebuah daerah di
Sudan bagian barat yang berbatasan dengan Republik Afrika Tengah dan Chad.
Darfur dibagi menjadi tiga negara bagian federal di Sudan, Gharb Darfur (Darfur
Barat) dengan ibukota Al-Jenina, Janub Darfur (Darfur Selatan) dengan ibukota
Nyala, dan Shamal Darfur (Darfur Utara) dengan ibukota Al Fashir.
Darfur meliputi wilayah yang luasnya lebih dari 2,5 juta km2 dengan jumlah
penduduk sekitar 6 juta jiwa, terdiri dari 80 suku yang dikelompokkan dalam dua
kelompok yaitu kelompok Arab dan kelompok Afrika hitam.2 Dua kelompok ini tidak
dapat dibedakan jika dilihat dari warna kulit yang sama-sama hitam dikarenakan
proses kawin campur antara dua kelompok. Akan tetapi perbedaan akan terlihat dari
adat istiadat dan bahasa yang digunakan.3
Penduduk Darfur mayoritas beragama muslim dan terbagi dalam kurang lebih 80
suku yang dikelompokkan secara garis besar menjadi :
1. Kelompok Arab, disebut juga Baggara, terdiri dari suku Rizaigad, Mahariya,
Irayqat dan Habaniya. Mereka kebanyakan kaum pendatang pada abad 13,
menetap di Darfur Utara dan Darfur Selatan, sebagai peternak/pengembala
sapi dan kambing yang berpindah-pindah (nomad)
1
Sudan, dalam http://www.ciafactbook.com, diakses pada diakses pada 23 Maret 2009 pukul 12.24
WIB.
2
Tim Youngs, Sudan:Conflict in Darfur, http://www.parliament.uk, diakses pada 23 Maret 2009
pukul 09.32 WIB.
3
David Hoile, The Darfur Crisis:Looking Beyond The Propaganda”,http://www.bbc.com, diakses
pada 23 Maret 2009 pukul 11.43 WIB.

2
2. Kelompok non Arab, yang disebut Afrika hitam, terdiri dari suku Fur (paling
besar), Zaghawa (paling terlatih secara militer) dan Massalit, Tunjur, Bergid
dan Berti. Umumnya mereka mendiami Darfur Tengah dan Darfur Barat.
Mereka kebanyakan hidup dari bercocok tanam, kecuali suku Zaghawa yang
banyak menjadi pengembala unta. Suku Zaghawa terbagi dalam dua
kelompok, Zaghawa Tuer, yang lebih condong sebagai pendukung SLM,
sedangkan Zaghawa Kube lebih mendukung JEM.4
Hubungan antar etnis Afrika dan Arab ini sering diwarnai konflik, faktor yang
menjadi pemicu konflik adalah masalah kepemilikan tanah dan akses ke sumber air
dari Jabal Marra. Apabila musim kemarau tiba, etnis Arab Darfur mencari air untuk
pakan ternaknya di daerah etnis Afrika Darfur di wilayah barat. Meskipun demikian,
konflik yang ada selalu dapat diselesaikan dengan cara damai yaitu melalui pertemuan
tradisional yang peraturannya dihormati oleh keduanya.5 Pada fase ini konflik yang
ada tidak berdimensi etnik tetapi lebih kepada konflik tradisional.
Pada masa pemerintahan Shadiq al Mahdi, etnik Baggara dilatih dan
dipersenjatai oleh pemerintah dengan nama milisi Murahiliin untuk menghadapi
pemberontak Sudan Selatan (SPLM/A) yang mencoba masuk Dafur. Kerjasama
keduanya berlanjut hingga pada kepemimpinan Bashir. Pada 2001, bangsa Fur
,Zaghawa dan Massalit bergabung dan mendapat latihan militer dari Zaghawa yang
sebelumnya telah terlatih secara militer dari tentara Sudan dan Chad. Gerakan tersebut
mempersenjatai diri dengan senjata yang beli dan diselundupkan dari Chad dan Libya.
Adanya kepemilikan senjata oleh etnis Arab dan etnis Afrika ini merupakan
salah satu faktor yang menyebabkan konflik semakin berkembang, hingga konflik
antar milisi semakin sering dan berskala lebih besar. Etnis Afrika kemudian
menamakan dirinya sebagai Front Pembebasan Darfur (DLF) yang kemudian berubah
menjadi SLM/A pada Februari 2003 dengan mengedepankan Sudan baru yang pro
persatuan,demokrasi,sekularisme dan persamaan derajat sebagai warga negara.6
Konflik di Darfur sudah terjadi bertahun-tahun lamanya. Berawal dari konflik
tradisional (perebutan lahan), gerakan kriminal kelompok tertentu dan berkembang
menjadi konflik antar etnik (antara etnik Banggara dengan kelompok pemberontak
Sudan Selatan). Gerakan tersebut meluas dan menjadi gerakan politik dengan

4
Abdul Hadi Adnan, Perkembangan Hubungan Internasional di Afrika, hlm. 125
5
Robert O.Collins, Disaster in Darfur ,http://ias.berkeley.edu/Africa/Courses/lectures/Rcollins-
DisasterInDarfur.doc, diakses diakses pada 29 Maret 2009 pukul 13.21 WIB.
6
Ibid.

3
munculnya dua kelompok yang menamakan diri sebagai Gerakan Keadilan dan
Kesetaraan (Justice and Equality Movement - JEM), serta Gerakan Pembebasan
Sudan (Sudaneese Liberation Movement/Army – SLM/A) melawan pemerintah
Sudan.
Pemberontakan melawan pemerintahan Sudan yang mengistimewakan suku
Arab berawal pada tahun 2003, dengan dua kelompok pemberontak lokal, JEM dan
SLM/A yang menuduh pemerintah telah melakukan diskriminasi antara kelompok
Arab dan non-Arab, serta dianggap mengabaikan kelompok non-Arab. Pemerintah
juga dituduh melalaikan Darfur sebagai bagian dari wilayah Sudan. Sebagai respon,
pemerintah membentuk operasi tentara bombardir udara sebagai bentuk dukungan
serangan darat yang dilakukan pasukan sipil Arab, Janjaweed serta mempersenjatai
sebagian milisi untuk memerangi pemberontak, namun pemerintah Sudan membantah
bahwa ada keterkaitan langsung dengan kelompok tersebut.
Pada awal terjadinya konflik Darfur, pemerintah Sudan menyangkal adanya
gerakan separatisme, hal ini dilakukan guna mencegah internasionalisasi konflik etnis
Darfur dimana pihak asing akan intervensi dan masuk wilayah Sudan. Salah satu cara
yang digunakan oleh pemerintah Sudan adalah dengan mengeksploitasi perbedaan
etnik yang ada di Darfur. Pemerintah Sudan pun membalas setiap penyerangan yang
dilakukan kelompok pemberontak, dikarenakan pasukan Sudan sebagian besar berasal
dari Darfur maka pemerintah membentuk milisi Janjaweed yang berasal dari beberapa
etnik Arab nomaden. Mereka melakukan penyerbuan, pembunuhan, pembakaran,
perampokan dan pemerkosaan terhadap warga sipil Darfur yaitu etnis non Arab
dengan harapan mendapatkan pekerjaan sebagai tentara atau polisi Sudan.7
Dukungan pemerintah terhadap pasukan Janjaweed dianggap sebagai
perlakuan tindakan kekerasan HAM, termasuk pembunuhan massal, perampasan,
serta pemerkosaan sistematis terhadap etnik non-Arab di Darfur. Kelompok tersebut
seringkali melakukan pembakaran terhadap rumah-rumah desa, mengakibatkan
penduduk melarikan diri ke kamp-kamp pengungsian di Darfur dan Chad, dan
kebanyakan dikepung oleh pasukan Janjaweed. Pada tahun 2004, sebanyak 50-80ribu
jiwa terbunuh dan setidaknya satu juta penduduk telah dilarikan dari rumah, yang
mengakibatkan krisis kemanusiaan di dalam kawasan8.

7
Sumanto Al Qurtuby, Rezim Islamis dan Tragedy Sudan, http://www.islamlib.com,diakses pada 23
Maret 2009 pukul 19.20 WIB.
8
War in Darfur, English Wikipedia. www.english-wikipedia.com, diakses pada 25 Maret 2009.

4
Penyebab Terjadinya Konflik Darfur
Akar konflik etnis ini bermuara pada faktor-faktor domestik/internal seperti
terjadinya bencana kekeringan berkepanjangan serta terjadi perebutan sumber daya
alam diantara suku-suku yang berada di wilayah Sudan, yang menyebabkan adanya
konflik lama yang sudah terjadi puluhan tahun diantara suku-suku berkaitan dengan
tanah, padang gembalaan dan masalah air. Kemudian, adanya marjinalisasi Darfur
oleh pemerintah pusat di Kharthoum dan terjadinya ketidak adilan, serta pengaruh
semangat perjuangan yang ‘ditularkan’ oleh konflik antara Sudan People’s Liberation
Movement/Army (SPLM/A) dengan pemerintah Sudan di wilayah Sudan bagian
selatan, yang menginginkan pemisahan diri dari kesatuan Sudan.
Konflik Darfur merupakan konflik etnis, dimana konflik etnis adalah konflik
yang terkait dengan permasalahan-permasalahan mendesak mengenai politik,
ekonomi, sosial, budaya, dan teritorial antara dua komunitas etnis atau lebih.
(Brown, 1997, hal. 82).9 Dalam hal ini etnis Arab yang telah menguasai pemerintahan
Sudan telah berlaku tidak adil dalam ekonomi,politik,sosial dan budaya. Dari sisi
perekonomian, pemerintah selalu mengutamakan pembangunan di wilayah Utara saja,
pengelolaan yang buruk oleh penguasa sejak masa penjajahan hingga sekarang
menyebabkan terjadinya masalah dan perpecahan antara pemilik tanah dan penggarap.
Disamping budaya Afrika, pengaruh budaya Arab sangat kental pada keseharian
masyarakat Sudan, hal ini dapat kita lihat bahasa Arab sebagai bahasa pengantar di
Sudan. Pemerintah juga melakukan perlakukan yang berbeda, dengan selalu
mengutamakan etnis Arab sehingga menciptakan kecemburuan sosial dan
ketidakpuasannya terhadap pemerintah sehingga melakukan pemberontakan.

9
Michael E. Brown Guibernau dan John Rex (eds), 1997, Causes and Implications of Ethnic
Conflict , dalam The Ethnicity Reader. Nationalism, Multiculturalism, and Migration , Great
Britain :Polity Press, hal. 80-100.

5
Upaya Perdamaian dan Peran Dunia Internasional
Pemimpin Negara-negara Afrika ( Mesir, Nigeria, Chan dan Sudan sendiri)
melakukan perudingan di Tripoli, Libya pada 18 Oktober 2004 yang menghasilkan
pengakuan pemerintahan Sudan bahwa penyelesaian untuk mengakhiri krisis
kemanusiaan di Dafur adalah mengijinkan kawasan itu memiliki negara federal.
Dalam negara Federal maka wilayah Darfur akan memiliki Gubernur dan parlemen
sendiri. Pada bulan September 2004, pihak Uni Afrika melakukan perundingan
dengan Pemerintah Sudan dan Kelompok Pemberontak – JEM dan SLM/A di Nigeria.
Namun perundingan tersebut menemukan jalan buntu ketika masing-masing pihak
terganjal berbagai perbedaan mengenai keamanan dan perlucutan senjata. Pemerintah
menegaskan bahwa pemberontak haru meletakkan senjata dan pada waktu sama milisi
pro pemerintah Janjaweed. Namun pemberontak menyatakan Janjaweed bertanggung
jawab atas meluasnya kekejaman dan mereka harus dilucuti dulu10.
Dalam kaitan masalah Darfur, Dewan Keamanan PBB telah mengeluarkan
sejumlah resolusi, yakni :
- Resolusi 1547 (2004) mengenai pembentukan U.N Advance Mission in Sudan
(UNAMIS).
- Resolusi 1556 (2004), yang memerintahkan pemerintah Sudan menyatakan
Sudan harus menghentikan kekejian milisi Arab di kawasan Darfur serta
melucuti senjata milisi Janjaweed dalam waktu 30 hari. Resolusi ini juga
menuntut agar pemerintah Sudan menghukum orang-orang yang
bertanggungjawab atas kejahatan. Dewan Keamanan PBB menyetujui resolusi
untuk menjatuhkan sanksi atas Sudan, jika gagal menghentikan kekerasan di
Darfur dalam jangka waktu yang telah ditentukan (30 hari)11. Resolusi ini
tidak dipenuhi oleh Sudan, dan menerima sanksi penghentian sementara
kegiatan diplomatik dan ekonomi.
- Resolusi 1585 (2005) yang memperpanjang mandat UNAMIS.
- Resolusi 1591 (Maret 2005) mengenai sanksi DK PBB dalam wujud larangan
bepergian dan pembekuan aset para pejabat Pemerintah dan pihak
pemberontak yang diduga terkait dengan pelanggaran HAM di Darfur.

10
Perundingan Darfur menemui jalan buntu, BBC-Indonesia 14 September 2004. www.bbc-
indonesia.com, diakses pada 26 Maret 2009
11
Sudan menolak resolusi PBB mengenai Darfur, www.bbc-indonesia.com, diakses pada 26 Maret
2009

6
- Resolusi 1593 (April 2005) yang memberikan sanksi tambahan untuk Sudan,
antara lain embargo senjata bagi pemerintah Sudan dan larangan pesawat
Pemerintah Sudan melakukan operasi militer dan mengharuskan Pemerintah
Sudan untuk melapor pada DK-PBB jika ingin mengirimkan peralatan militer
ke wilayah Darfur. Resolusi juga menyangkut pengajuan tersangka pelanggar
HAM ke Mahkamah Internasional. Pada bulan Februari sebelumnya, PBB
mengirimkan International of Inquiry on Darfur12.
Pada bulan Mei 2005, pihak Pemerintah Sudan dan dua kelompok
Pemberontak Darfur SLM/A dan JEM mencapai kesepakatan dengan menandatangani
sebuah perjanjian Darfur Peace Agreement (DPA) dengan mediasi Uni Afrika,
disertai desakan dari pihak AS dan Inggris di Abuja, Nigeria. Namun perjanjian damai
tersebut tidak juga dapat menciptakan perdamaian di negeri Darfur.
Pada bulan Juni 2006, Delegasi Dewan Keamanan PBB tiba di Sudan untuk
pertama kalinya. Mereka mencoba membujuk Pemerintah Sudan yang selama ini
menolak adanya pasukan PBB karena berbagai kekhawatiran, untuk menjelaskan
bahwa sebuah operasi penjagaan perdamaian PBB di Darfur tidak sama dengan
sebuah invasi, dan bahwa PBB tidak mempunyai niat mengambil alih negara itu.
Semenjak perjanjian perdamaian tahun 2005, upaya-upaya internasional meningkat
untuk membujuk Pemerintah Sudan mengizinkan PBB mengambil alih tugas
penjagaan perdamaian di Darfur dari pasukan Uni Afrika yang berjumlah 7 ribu orang
dan mengalami kekurangan dana.13
Dewan Keamanan PBB menyetujui Resolusi Nomor 1769 Pasal 7 Piagam
PBB pada Juli 2007. Dengan resolusi itu, DK PBB akan mengerahkan 26 ribu tentara
dan polisi ke Darfur untuk memperkuat pasukan Uni Afrika. Sesuai dengan Resolusi,
pasukan DK PBB akan bergabung dengan pasukan Uni Afrika (UA) hingga menjadi
pasukan penjaga perdamaian baru yang disebut dengan UNAMID. Pasukan gabungan
yang baru akan menggantikan tugas dari 7 ribu tentara UA yang selama ini dianggap
gagal dalam menangani konflik Darfur karena minim perlengkapan.
Resolusi 1769 juga mensyaratkan adanya penerimaan dari Pemerintah Sudan
khusus tentang pengerahan Unamid. Untuk itu, Pemerintah Sudan secara formal telah
bersedia menerima resolusi. Resolusi tersebut juga mendesak Sudan dan gerilyawan

12
Abdul Hadi Adnan, Perkembangan Hubungan Internasional di Afrika, hlm. 127
13
Sudan, Delegasi DK PBB Tiba untuk
Darfur,http://64.203.71.11/kompascetak/0606/07/ln/2709402.htm, diakses pada 25 Maret 2009

7
agar bersedia melakukan gencatan senjata yang permanen dan bergabung ke proses
perundingan perdamaian dengan PBB sebagai mediator. Tugas yang juga penting
adalah melindungi rakyat dari ancaman serangan14.
Resolusi ini memasukan pasal dalam Bab Ketujuh Piagam PBB yang akan
memberikan ijin bagi pasukan penjaga perdamaian membela penduduk sipil dan
pekerja bantuan dari setiap serangan. Bab Ketujuh juga mengijinkan "tindakan yang
diperlukan" oleh tentara mandat PBB dalam upaya menjamin stabilitas. Pengiriman
pasukan dirancanakan berjalan pada akhir tahun 2007. Namun dalam
implementasinya, pihak Pemerintah Sudan seakan menghambat pengiriman penuh
pasukan hingga 26.000 personel. Sedikitnya personel, dengan peralatan yang juga
tidak memadai, mengakibatkan misi penjaga perdamaian rentan menjadi sasaran
serangan milisi bersenjata, yang diperkirakan jumlahnya lebih dari 80.000 personel.

14
26.000 Tentara PBB ke Darfur:Komunitas Internasional Desak Pelaksanaan Resolusi, dalam
harian Kompas edisi Kamis 02 Agustus 2007, dalam http://64.203.71.11/kompas-
cetak/0708/02/ln/3734024.htm, diakses pada 27 Maret 2009 pukul 12.30 WIB.

8
KESIMPULAN

Hingga saat ini (2003-2008), konflik Darfur telah menewaskan kurang lebih
300 ribu jiwa dan mengakibatkan sekitar 2 juta orang mengungsi. Pihak internasional
seperti Uni Afrika dan PBB telah berulang kali mencoba mendamaikan wilayah ini
namun selalu gagal. Masing-masing pihak yang berseteru (pihak pemerintah Sudan
dan kelompok pemberontak) menyalahkan pihak lawan atas konflik yang berlarut-
larut terjadi di Darfur hingga menimbulkan banyak korban.
Perdamaian juga sulit tercapai karena meskipun pemerintah Sudan telah
mensepakati pengiriman pasukan UNAMID (yang direncanakan berjumlah 26 ribu
personil), namun dalam implementasinya pemerintah maupun kondisi Sudan seperti
mempersulit pencapaian misi perdamaian tersebut. Dibuktikan dengan ditundanya
penyebaran penuh pasukan penjaga perdamaian hingga tahun 2009. Selain itu dalam
pelaksanaanya, misi tersebut mengalami banyak kendala mengenai hal-hal kritis
untuk beroperasi sampai hal dukungan logistik. Sudan juga mem-veto segala macam
kontribusi pasukan dari negara-negara non-Afrika maupun non-muslim.
PBB dan Uni Afrika telah mencoba untuk membuka pembicaraan baru antara
Sudan kelompok pemberontak, namun hal tersebut diboikot oleh kepala pemberontak
yang menginginkan pemulihan keamanan wilayah Darfur terlebih dahulu. Secercah
harapan datang ketika Presiden Sudan Omar Hassan al-Bashir mengumumkan
gencatan senjata segera di kawasan Darfur dan mengatakan pemerintahannya akan
segera melucuti senjata para milisi dan membatasi penggunaan senjata di kalangan
militer. Akan tetapi, kelompok pemberontak di kawasan tidak ikut serta dalam
perundingan dan tidak menyetujui adanya gencatan senjata.
Gencatan senjata di kawasan Darfur diharapkan dapat menjadi titik awal
perdamaian di wilayah Darfur. PBB menyambut baik gencatan senjata tersebut
meskipun pihak pemberontak menyatakan tidak setuju. Pemerintah Sudan akan terus
berusaha dengan cara melakukan kontak dengan pihak pemberontak dalam rangka
mempromosikan gencatan senjata. Saat ini masyarakat internasional terus
menempatkan harapan tinggi bahwa pemerintah Sudan dan gerakan pemberontak
akan membuat kemajuan nyata ke arah penyelesaian perdamaian bagi konflik yang
terjadi di Darfur.

9
Seharusnya dengan melihat apa yang tengah terjadi di Sudan dengan
permasalahan yang bernuansa konflik etnis kita dapat menarik sebuah pelajaran
penting. Dalam lingkup negara atau daerah, tidak boleh terjadi tatanan etnis atau
kepercayaan tertentu dipaksakan pada etnis lain yang punya tatanan berbeda. Cara
pemaksaan seperti itu sudah tentu bakal menimbulkan reaksi keras yang berbuntut
pada konflik panjang dan berdarah. Entitas mayoritas seharusnya tidak berupaya
mendominasi dan selalu ingin berkuasa, dan sebaliknya entitas minoritas juga tidak
demikian menggalang massa untuk kemudian menyinggung entitas mayoritas
tersebut.
Dengan melihat konflik yang terjadi maka upaya penyelesaian terhadap
konflik ini harus dapat mengakomodasi segala kepentingan antar etnis yang bertikai,
tentunya hal tersebut hanya dapat dilakukan apabila ditunjang dengan kepemerintahan
yang baik oleh negara Sudan itu sendiri, dan peran aktif antar organisasi regional (Uni
Afrika) dan organisasi Internasional (PBB).

10
LAMPIRAN
Gambar 1.15

15
Sudan:Death Toll in Dafrur Bureau of Intelligence and Research,Washington, DC March 25, 2005
,http://www.state.gov/9/prm/rls/41940.htm, diakses diakses 28 Maret 2009 pukul 19.33 WIB.

11
DAFTAR PUSTAKA

Adnan Abdul Hadi, 2007, Perkembangan Hubungan Internasional di Afrika. Bandung : Angkasa
Bandung.

Brown Michael E, Guibernau dan John Rex (eds), 1997, Causes and Implications of Ethnic Conflict,
dalam The Ethnicity Reader,Nationalism, Multiculturalism, and Migration, , Great Britain:Polity Press.

Perundingan Darfur menemui jalan buntu, BBC-Indonesia edisin 14 September 2004, www.bbc-
indonesia.com, diakses pada 26 Maret 2009.

Sudan menolak resolusi PBB mengenai Darfur, dalam http://www.bbc-indonesia.com, diakses pada 26
Maret 2009

Sudan, Delegasi DK PBB Tiba untuk Darfur, dalam


http://64.203.71.11/kompascetak/0606/07/ln/2709402.htm, diakses pada 25 Maret 2009

26.000 Tentara PBB ke Darfur:Komunitas Internasional Desak Pelaksanaan Resolusi, dalam harian
Kompas edisi Kamis 02 Agustus 2007, dalam http://64.203.71.11/kompas-
cetak/0708/02/ln/3734024.htm, diakses pada 27 Maret 2009 pukul 12.30 WIB.

Sudan:Death Toll in Dafrur Bureau of Intelligence and Research,Washington DC edisi 25 Maret 2005
dalam http://www.state.gov/9/prm/rls/41940.htm , diakses 28 Maret 2009 pukul 19.33 WIB.

Collins Robert O, Disaster in Darfur, http://ias.berkeley.edu/Africa/Courses/lectures/Rcollins-


DisasterInDarfur.doc, diakses pada 29 Maret 2009 pukul 13.21 WIB.

Sumanto Al Qurtuby, Rezim Islamis dan Tragedy Sudan, dalam http://www.islamlib.com,diakses pada
23 Maret 2009 pukul 19.20 WIB

War in Darfur, English Wikipedia. www.english-wikipedia.com. Diakses pada 25 Maret 2009

Sudan, dalam http://www.ciafactbook.com diakses pada 23 Maret 2009 pukul 12.24 WIB

Youngs Tim, Sudan:Conflict in Darfur, http://www.parliament.uk, diakses pada 23 Maret 2009 pukul
09.32 WIB.

Hoile David, The Darfur Crisis:Looking Beyond The Propaganda, http://www.bbc.com, diakses pada
23 Maret 2009 pukul 11.43 WIB.

12