Anda di halaman 1dari 15

1

ANALISIS UPAYA KONSERVASI EKOSISTEM PADANG LAMUN DI PESISIR


LEMPUYANG TAMAN NASIONAL BALURAN, KABUPATEN SITUBONDO,
JAWA TIMUR

Artikel Skripsi

( Forsep Maliki1 , Dr. Ir. Endang Yuli H, MS2 , Prof. Dr. Ir. Diana Arfiati, MS3 )
Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Brawijaya

ABSTRAK

Telah diteliti upaya dan tingkat upaya dalam konservasi ekosistem padang lamun di pesisir
Lempuyang Taman Nasional Baluran, pada bulan November 2008 dengan metode survei.
Kerusakan padang lamun dikategorikan dalam 3 tingkat. Kerusakan tertinggi (89%) ditemukan di
stasiun 2 yaitu daerah pemukiman. Tingkat kerusakan lebih rendah (80%) ditemukan di stasiun 1
yaitu daerah mangrove dekat pemukiman. Ekosistem padang lamun dengan kerusakan terendah
(20,5%) ditemukan pada stasiun 3 yaitu daerah yang jauh dari pemukiman. Persepsi masyarakat
sekitar terhadap ekosistem padang lamun tergolong rendah (<50%). Pengelola Taman Nasional
Baluran telah mengupayakan konservasi terdiri dari upaya pemanfaatan, yaitu dengan cara
memanfaatkan ekosistem padang lamun sebagai daerah ekowisata dan upaya pengawetan, yaitu
melakukan pengamanan kawasan laut agar ekosistem tersebut terhindar dari aktivitas perusakan.
Diperlukan adanya pelibatan dan pemberdayaan masyarakat sehingga upaya konservasi ekosistem
padang lamun menjadi optimal.

Kata kunci : Konservasi, padang lamun.

ANALISYS CONSERVATION EFFORT TO THE SEAGRASS MEADOW


AT LEMPUYANG COAST IN BALURAN NATIONAL PARK,
SITUBONDO, EAST JAVA

ABSTRACT

The conservation level effort to the seagrass meadow at Lempuyang coast in the Baluran
National Park Situbondo was surveied on November 2008. The seagrass ecosystem can divide by
3 levels of degradation. The high degradation (89%) found in stasiun 2 that closed to village. The
lower degradation (80%) found in stasiun 1 that closed to village and mangrove area. The lowest
degradation (20,5%) found in station 3 which far from village. The villagers who lived around
Lempuyang coast have low in perception (<50%) to seagrass meadow. However, the manager of
Baluran National Park and the villagers use the seagrass meadow and its ecosystem for
ecotourism, and also keep it for conservation.

Key words : Conservation, seagrass meadow.

1
Mahasiswa Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan
2
Dosen Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan
3
Dosen Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan
2

PENDAHULUAN

Seiring dengan kemajuan teknologi dan pertumbuhan penduduk menghasilkan industri-


industri besar dan limbah yang berdampak pada kerusakan serius terhadap ekosistem padang
lamun. Sebagai contoh kasus yaitu menghilangnya padang lamun jenis Zostera marina, dari
sebagian besar habitatnya akibat kegiatan industri besar-besaran di daerah pesisir Atlantik
Amerika Utara pada tahun 1930-an yang menyebabkan terjadinya perubahan substrat dasar
pada garis pantai, hilangnya habitat pesisir sehingga terjadi penurunan produksi perikanan
(Rasmussen dalam Murdiyanto, 2004).
Belajar dari peristiwa tersebut dan untuk menjaga kelangsungan hidup ekosistem
padang lamun khususnya di Indonesia, maka yang dapat dilakukan adalah dengan
mengupayakan konservasi terhadap ekosistem padang lamun. Menurut Zulkifli (2003), upaya
konservasi terhadap ekosistem padang lamun sebenarnya tidak terlepas dari arahan kebijakan
pengelolaan wilayah pesisir dan lautan secara terpadu. Strategi pengelolaan ekosistem padang
lamun dapat diarahkan pada tiga aspek utama, yaitu aspek biofisik, aspek sosial-ekonomi dan
budaya, serta aspek kelembagaan-hukum.
Padang lamun di wilayah pesisir Indonesia salah satunya terdapat di kawasan
konservasi Lempuyang Taman Nasional Baluran Jawa Timur. Hasil penelitian Patria (2009)
menunjukkan bahwa telah terjadi pencemaran limbah organik dan logam berat dalam
ekosistem padang lamun di pesisir Lempuyang.
Berdasarkan uraian tersebut, diperlukan penelitian untuk mengetahui tingkat upaya
konservasi ekosistem padang lamun di pesisir Lempuyang. Permasalahan dirumuskan sebagai
berikut:
 Permasalahan apa yang terjadi dalam ekosistem padang lamun di pesisir Lempuyang ?
 Upaya apa yang dilakukan untuk mengatasi masalah tersebut ?
 Bagaimana upaya tersebut dilaksanakan ?
 Apakah tujuan upaya yang dilakukan tercapai ?
Tujuan dilaksanakannya penelitian ini adalah mengetahui upaya dan tingkat upaya
konservasi ekosistem padang lamun oleh pengelola ditinjau dari kondisi biofisik padang
lamun di pesisir Lempuyang.
Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi informasi yang berguna sebagai umpan
balik dalam perencanaan upaya konservasi ekosistem padang lamun di pesisir Lempuyang
secara terpadu dan berkelanjutan.
Penelitian dilaksanakan di pesisir Lempuyang, resort pengelolaan wilayah Labuhan
Merak, kawasan Taman Nasional Baluran, Kabupaten Situbondo, Jawa Timur mulai tanggal
14 sampai 24 November 2008.
3

TINJAUAN PUSTAKA

Ekosistem Padang Lamun


Ekosistem padang lamun merupakan bentuk komunitas di pesisir yang di dalamnya
terdapat dinamika fauna yang sangat mendukung usaha budidaya maupun pengelolaan
sumberdaya hayati. Ekosistem padang lamun berfungsi penting sebagai makanan (dalam
bentuk seresah), daerah asuhan dan perlindungan bagi kehidupan berbagai jenis biota perairan
(Dahuri et al., 2003).
Ekosistem padang lamun dan ekosistem terumbu karang seringkali hidup
berdampingan. Berdasarkan Hutomo (1999), diketahui terdapat hubungan fungsional antara
padang lamun dengan terumbu karang dimana akar dan rhizoma lamun menstabilkan
permukaan sedimen dan menghalangi penimbunan sedimen terhadap terumbu karang saat
terjadi arus dan ombak yang kuat. Banyak spesies ikan terumbu karang pada saat mudanya
memiliki habitat di padang lamun. Kerusakan dan hilangnya padang lamun dapat berakibat
pada penurunan produktivitas terumbu karang. Menurut Tomascik et al (1997), komunitas
lamun dan mangrove sangat bergantung pada keberadaan struktur kokoh dari bangunan kapur
terumbu karang sebagai penghalang aksi hidrodinamis lautan, yaitu arus dan gelombang.

Konservasi Ekosistem Padang Lamun


Dalam pembuatan kebijakan konservasi ekosistem padang lamun tidak terlepas dari
arahan kebijakan pengelolaan wilayah pesisir dan lautan secara terpadu yaitu diarahkan pada
3 aspek utama, yaitu : aspek biofisik, aspek sosial dan ekonomi serta aspek hukum dan
kelembagaan. Aspek sosial, ekonomi dan budaya merupakan komponen penunjang yang
sangat penting dan dapat memberikan nilai penting dari komponen biofisik. Aktivitas sosial,
ekonomi dan budaya dapat memberikan pengaruh negatif atau positif terhadap sumberdaya
ekosistem pesisir (Zulkifli, 2003).
Kajian keanekaragaman hayati menurut Iskandar (2000) menyangkut 3 tingkat yaitu :
 Keanekaragaman genetik yang merupakan faktor keturunan dalam kromosomterdapat
dalam inti sel suatu organisme.
 Keanekaragaman jenis yang merupakan suatu kelompok organisme yang secara genetik
sama dan mampu berkembang baik untuk menghasilkan keturunan.
 Keanekaragaman ekosistem yang merupakan suatu lingkungan dengan kekhasan ciri-
ciri dan karakteristik dimana terdapat proses ekologis berbagai jenis hayati.
Konservasi dibagi atas 2 golongan yaitu konservasi di habitat aslinya (insitu) dan di luar
habitat asli (exsitu). Konservasi insitu dimaksudkan untuk konservasi keanekaragaman
genetik dan jenis di daerah yang dilindungi termasuk diantaranya Taman Nasional.
4

Sedangkan konservasi exsitu adalah konservasi keanekaragaman jenis dan genetik yang
dilakukan di kebun raya dan arboretum.

Partisipasi Masyarakat
Partisipasi berarti turut aktif dalam suatu proses kegiatan bagi siapapun yang terlibat
dan berkepentingan atau berkaitan dengan proses yang bersangkutan. Tujuan partisipasi
adalah mengikut sertakan masyarakat secara aktif dalam proses pengelolaan sumber daya
perikanan. Menurut Murdiyanto (2004) partisipasi adalah :
1. Upaya pembelajaran untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya
konservasi sumberdaya perikanan.
2. Upaya mempercepat tercapainya keberhasilan proses pengelolaan sumberdaya
perikanan.
Aspek positif dalam pelibatan masyarakat dalam pengelolaan sumberdaya alam
menurut Carter dalam Zulkifli (2003), yaitu : mampu mendorong timbulnya pemerataan
dalam pemanfaatan sumberdaya alam, mampu merefleksi kebutuhan-kebutuhan masyarakat
lokal yang spesifik, mampu meningkatkan efisiensi secara ekologis dan teknis, responsif dan
adaptif terhadap perubahan kondisi sosial dan lingkungan lokal, mampu meningkatkan
manfaat lokal bagi seluruh anggota masyarakat, mampu menumbuhkan stabilitas dan
komitmen, dan masyarakat lokal termotivasi untuk mengelola secara berkelanjutan.

METODE PENELITIAN

Materi Penelitian
Untuk mencapai tujuan penelitian, terlebih dahulu diteliti permasalahan dalam aspek
biofisik padang lamun meliputi status kondisi padang lamun dan kualitas perairan di
ekosistem tersebut serta bagaimana persepsi masyarakat sekitar terhadap padang lamun.

Metode Penelitian
Penelitian ini merupakan evaluasi formatif dengan metode survei deskriptif, yaitu
mengadakan kegiatan pengumpulan, analisis dan interpretasi data untuk mendeskripsikan
keadaan yang terjadi pada saat penelitian. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan
observasi langsung ke lapang.

Teknik Pengumpulan Data


A. Wawancara dengan responden
Penentuan responden menggunakan teknik purposive sampling, yaitu menentukan
sampel (responden) dengan maksud atau tujuan tertentu berdasarkan informasi yang
5

diperlukan oleh peneliti (Mustafa, 2000). Responden yang dipilih untuk wawancara disajikan
pada tabel 1.
Tabel 1. Responden untuk Wawancara.
No Daftar Responden
1. Pengguna
Masyarakat Pesisir Lempuyang :
1. Ketua RT pesisir Lempuyang (Pak Kusnadi)
2. Kepala Keluarga pesisir Lempuyang (20 KK)
2. Pengelola
Balai Taman Nasional Baluran :
1. Pengendali Ekosistem Hutan (Arif Pratiwi)
2. Kepala resort PTNW Labuhan Merak (Pak Siswanto)
3. Polisi Hutan resort PTNW Labuhan Merak (Pak Untung Sumarno)

Hasil wawancara dengan pengguna (masyarakat) diperoleh profil dan karakteristik


sosial ekonomi serta persepsi masyarakat dalam variabel mengetahui dan memahami
ekosistem padang lamun. Sedangkan wawancara dengan pengelola Taman Nasional Baluran
diperoleh kondisi umum pesisir Lempuyang dan upaya-upaya konservasi ekosistem pesisir
Lempuyang (lampiran).

B. Kondisi ekosistem padang lamun


Pengamatan kondisi padang lamun berdasarkan KepMen LH No. 200 Th. 2004.
Sedangkan kualitas air di pesisir Lempuyang diperoleh dari data sekunder kemudian
dibandingkan dengan Baku Mutu Air Laut bagi Biota Laut (KepMen LH No. 51 Th. 2004).
Pengamatan kondisi padang lamun menggunakan metode garis transek dan petak
contoh pada 3 stasiun. Lokasi stasiun yang ditentukan harus mewakili wilayah kajian. Kondisi
padang lamun ditentukan berdasarkan tabel 3.

Tabel 3. Kondisi Padang Lamun


Kondisi Penutupan (%)
Baik Kaya/Sehat ≥ 60
Kurangkaya/Kurang Sehat 30 – 59,9
Rusak
Miskin ≤ 29,9
Sumber : Pedoman Penentuan Status Padang Lamun Nomor 200 tahun 2004
6

Analisis dan Pengolahan Data


Data yang terkumpul sebagai dasar dalam analisis upaya konservasi ekosistem padang
lamun oleh pengelola Taman Nasional Baluran. Untuk mengetahui tingkat upaya konservasi,
maka dilakukan analisis berdasarkan petunjuk Sudaryanti dalam Rahayu (2008) pada tabel 5.

Tabel 5. Kriteria Tingkat Upaya Konservasi


No. Kriteria Tingkat Upaya
1. Tidak baik 0-25%
2. Kurang baik 26-50%
3. Baik 51-75%
4. Baik Sekali 76-100%
Sumber : Laporan Skripsi. Rahayu (2008)

HASIL DAN PEMBAHASAN

Keadaan Umum Lokasi Penelitian


Pesisir Lempuyang berada dibawah pengelolaan Taman Nasional Baluran yaitu resort
Pengelolaan Wilayah Labuhan Merak, Seksi Karangtekok. Batas wilayah sebelah Utara
berbatasan dengan Selat Madura, sebelah Barat berbatasan dengan pemukiman penduduk
resort Labuhan Merak, sebelah Timur dan Selatan berbatasan dengan pemukiman penduduk
Simacan resort Balanan.
Jumlah penduduk Lempuyang yaitu 41 jiwa. Penduduk rata-rata berusia produktif
(85.39%) dan tidak tamat SD (63.41%). Umumnya bekerja sebagai pengembala sapi (32%).
Aktivitas pemanfaatan lahan oleh seluruh penduduk di wilayah darat menghasilkan
pendapatan/bulan yang lebih tinggi (±Rp.19.000.000,-/bulan) daripada di wilayah laut
(±Rp.3.500.000,-/bulan).

Persepsi Masyarakat
A. Keadaan responden
Responden yang dipilih adalah seluruh Kepala Keluarga termasuk Ketua RT di pesisir
Lempuyang (20 KK). Pemilihan responden tersebut berdasarkan penjelasan Pak Siswanto
bahwa peraturan dan kebijakan mengenai upaya konservasi ekosistem pesisir disosialisasikan
kepada seluruh Kepala Keluarga. Berdasarkan analisis wawancara dengan masyarakat,
diperoleh komposisi responden adalah pria (18 jiwa) dan wanita (2 jiwa), Umumnya berusia
produktif (16 jiwa) dengan tingkat pendidikan rata-rata setara SD/tidak tamat (13 jiwa). Mata
pencaharian responden umumnya adalah petani dan pengembala sapi (16 jiwa).
7

B. Variabel mengetahui
Hasil pengamatan mengenai pengetahuan responden terhadap fungsi ekosistem padang
lamun dan komponen konservasinya, diketahui bahwa responden rata-rata menjawab kurang
mengetahui tentang upaya konservasi ekosistem padang lamun, dengan kisaran persentase 30-
75%. Responden dengan jawaban mengetahui hanya pada indikator pertanyaan kedua (5%)
dan ketiga (15%) yaitu pengetahuan mengenai upaya pelestarian dan perlindungan. Lebih
jelasnya dapat dilihat pada gambar 1.

100
75 Variabel :
Pers entas e

50 Mengetahui
Kurang mengetahui
25
Tidak mengetahui
0
1 2 3 4
Indikator

Gambar 1. Persepsi Responden dalam Variabel Mengetahui

C. Variabel memahami
Hasil pengamatan mengenai pemahaman responden terhadap fungsi ekosistem padang
lamun dan komponen konservasinya, diketahui bahwa responden rata-rata menjawab tidak
memahami tentang upaya konservasi ekosistem padang lamun, dengan kisaran persentase 55-
100%. Responden dengan jawaban memahami hanya pada indikator kedua dan ketiga dengan
persentase 10%, yaitu pemahaman terhadap upaya pelestarian dan perlindungan. Lebih
jelasnya dapat dilihat pada gambar 2.

100
Variabel :
Pers entas e

75
Memahami
50
Kurang memahami
25
Tidak memahami
0
1 2 3 4
Indikator

Gambar 2. Persepsi Responden dalam Variabel Memahami

Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat persepsi masyarakat tergolong rendah


dalam variabel mengetahui (5-15%) dan memahami (10%) terhadap fungsi ekosistem padang
lamun dan komponen konservasinya. Berdasarkan Sudaryanti (2008) dalam Rahayu (2008)
8

bahwa persepsi bisa dikatakan baik apabila jumlah masyarakat yang mengetahui dan paham
lebih dari 50% dan rendah apabila jumlah masyarakat yang mengetahui dan paham kurang
dari 50%.

Kondisi Ekosistem Padang Lamun


A. Deskripsi stasiun pengamatan
Stasiun pengamatan kondisi padang lamun ditentukan sebagai berikut :
 Stasiun 1 dekat vegetasi bakau dan dekat dengan pemukiman. Jarak antara lamun dengan
vegetasi bakau ±23 m.
 Stasiun 2 merupakan daerah pemukiman penduduk dengan aktivitas di daratan antara lain
peternakan, pertanian, nelayan, jasa perdagangan, rumah tangga, dan wisata.
 Stasiun 3 merupakan daerah dekat vegetasi mangrove yang hanya tumbuh di darat.
B. Kondisi padang lamun secara umum
Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara umum terdapat kondisi padang lamun
rusak (miskin dan kurang sehat) dan dalam kondisi baik (sehat). Lebih jelasnya dapat dilihat
gambar 3.

80

60 Kondisi:
p e rs e n ta s e

m is k in
40
k uran g s eha t
20 s eha t
0
1 2 3

S tas iun

Gambar 3. Kondisi Padang Lamun secara Umum

Gambar 3 menunjukkan bahwa pada stasiun 1 terdapat padang lamun kondisi sehat
(20%), miskin (60%) dan kurang sehat (20%). Kondisi padang lamun rusak lebih tinggi (80%)
daripada kondisi baik (20%).
Pada stasiun 2, terdapat padang lamun kondisi sehat (10.3%), miskin (34.5%) dan
kurang sehat (55.2%). Kondisi padang lamun rusak lebih tinggi (89.7%) daripada kondisi baik
(10.3%).
Pada stasiun 3 terdapat padang lamun kondisi sehat (79.5%), miskin (2.6%) dan kurang
sehat (17.9%). Kondisi padang lamun baik lebih tinggi (79.5%) daripada kondisi rusak
(20.5%).
9

Hasil penelitian pada masing-masing stasiun menunjukkan bahwa secara umum padang
lamun pada stasiun 1 dan 2 dalam kondisi rusak. Hal ini diduga dipengaruhi oleh aktivitas
masyarakat di sekitar stasiun tersebut yang menyebabkan terjadinya sedimentasi dan
pencemaran. Berbeda pada stasiun 3, terdapat padang lamun dalam kondisi baik sehingga
ekosistem tersebut mendukung keberadaan biota laut.
C. Kondisi kualitas air
Berdasarkan Keputusan Menteri Lingkungan Hidup No.51 Th. 2004 tentang Baku
Mutu Air Laut untuk Biota Laut, maka kualitas air di pesisir Lempuyang berada dalam status
tercemar. Lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel 4.

Tabel 4. Kondisi Kualitas Air


Kisaran Nilai
Parameter Kualitas Air (mg/l) Kondisi
Perairan Lempuyang Baku mutu

Phospat 4.2 - 5.1 0.015 Tercemar


Nitrat 0.2 - 0.3 0.008 Tercemar
Timbal 0.1 - 0.6 ≤ 0.01 Tercemar
Sumber : Keputusan Menteri Lingkungan Hidup Nomor 51 Tahun 2004

Tabel 4 menunjukkan bahwa parameter kualitas air meliputi phospat (4.19-5.07 mg/l),
nitrat (4.34-6.45 mg/l) dan timbal (0.12-0.20 mg/l) di perairan pesisir Lempuyang telah
melampaui kisaran nilai baku mutu air laut untuk biota laut dan mengindikasikan bahwa
perairan tersebut berada dalam kondisi tercemar atau mengalami penurunan kualitas. Kondisi
tersebut memungkinkan perairan bersifat toksik bagi biota-biota laut yang hidup dalam
ekosistem padang lamun.

Konservasi Ekosistem Pesisir oleh Pengelola


Hasil penelitian menunjukkan bahwa konservasi wilayah pesisir oleh pengelola
merupakan konservasi insitu meliputi pengawetan dan pemanfaatan terhadap keanekaragaman
genetik dan spesies dalam ekosistem. Sesuai dengan PP No. 68 Th. 1998 pasal 45 ayat 1
bahwa pengawetan dilakukan dengan upaya pengamanan dan perlindungan kawasan terhadap
kerusakan. Upaya konservasi terhadap ekosistem pesisir oleh pengelola dapat dilihat pada
lampiran 1.
Hasil wawancara dengan Arif pratiwi4 (2008), mengungkapkan upaya pengawetan
keanekaragaman jenis dalam ekosistem pesisir yang telah dilakukan diantaranya inventarisasi

4
Pengendali Ekosistem Hutan (PEH)
10

jenis biota laut, terumbu karang dan mangrove. Padang lamun belum diupayakan
konservasinya karena kondisinya masih cukup baik.
Pernyataan tersebut cukup disayangkan karena terumbu karang, padang lamun dan
mangrove merupakan kesatuan ekologis yang saling berkaitan. Untuk itu, nilai-nilai
konservasi ekosistem padang lamun seharusnya juga perlu diperhatikan sehingga proses
ekologis ketiga ekosistem tersebut terjaga.

Upaya dan Tingkat Upaya Konservasi Ekosistem Padang Lamun


Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari seluruh kegiatan konservasi ekosistem
wilayah pesisir, beberapa telah diupayakan oleh pengelola Taman Nasional Baluran untuk
menjawab permasalahan yang terjadi dalam ekosistem padang lamun di pesisir Lempuyang.
Upaya konservasi yang telah dilakukan oleh pengelola terhadap ekosistem padang lamun
meliputi pengawetan dan pemanfaatan, dapat dilihat pada lampiran 2.
A. Tingkat upaya konservasi berdasarkan aspek-aspek komponennya
 Aspek komponen pengawetan
Hasil penelitian menunjukkan bahwa upaya pengawetan dalam aspek biofisik telah
dicapai dengan kriteria tidak baik (11%) dan belum menjawab permasalahan yang terjadi.
Upaya pengawetan melalui perlindungan dan pengamanan dalam aspek kelembagaan-hukum
telah dicapai dengan kriteria sangat baik (89%). Hal ini ditunjukkan dengan sudah adanya
berbagai peraturan yang ditanamkan oleh pihak pengelola terhadap ekosistem pesisir
termasuk padang lamun.
Upaya pengawetan dalam aspek biofisik perlu ditambah dan ditingkatkan agar menjadi
baik. Dalam aspek sosial ekonomi belum diupayakan. Diduga hal ini disebabkan belum
adanya dasar yang kuat dari pengelola tentang nilai-nilai konservasi ekosistem padang lamun,
sehingga pendidikan konservasi ekosistem padang lamun kepada masyarakat belum
diupayakan, ditunjukkan dengan persepsi masyarakat yang rendah terhadap jenis-jenis lamun.
Lebih jelasnya dapat dilihat pada gambar 4.

0% 11%
(belum (tidak baik)
diupayakan)

89% Aspek :
(sangat Biofisik
baik) Kelembagaan dan Hukum
Sosial Masyarakat

Gambar 4. Tingkat Upaya Aspek Komponen Pengawetan


11

 Aspek komponen pemanfaatan


Hasil penelitian menunjukkan bahwa bahwa upaya pemanfaatan dalam aspek biofisik
telah dicapai dengan kriteria sangat baik (100%). Hal ini berarti dalam upaya pemanfaatan
hanya terdapat aspek biofisik saja belum mencakup aspek-aspek konservasi yang lainnya.
Upaya pemanfaatan dalam aspek sosial-ekonomi belum diupayakan.
Diduga hal ini disebabkan belum adanya penelitian dan pengembangan oleh pengelola
terhadap potensi keanekaragaman jenis lamun, sehingga yang terjadi adalah belum adanya
informasi dalam masyarakat, ditunjukkan dengan masih rendahnya persepsi masyarakat
terhadap jenis-jenis lamun dan biota yang hidup di dalamnya. Lebih jelasnya dapat dilihat
pada gambar 5.

0%
(belum
diupayakan)

100%
(sangat
Aspek :
baik) Biofisik
Sosial Masyarakat

Gambar 5. Tingkat Upaya Aspek Komponen Pemanfaatan

B. Tingkat upaya konservasi berdasarkan komponennya


Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat kriteria baik pada komponen pengawetan
(66.67%), dan kurang baik pada komponen pemanfaatan (33.33%).
Tingkat upaya konservasi dalam komponen pengawetan melalui perlindungan, telah
dicapai kriteria baik dan perlu dipertahankan. Sedangkan pada komponen pemanfaatan kurang
baik dan perlu ditingkatkan agar menjadi baik. Diduga hal ini karena upaya pemanfaatan
belum mencakup aspek sosial ekonomi masyarakat. Lebih jelasnya dapat dilihat pada grafik
dalam gambar 6.

33.33 %
(Kurang baik)

66.67 %
(Baik)

Komponen :
pengawetan dan perlindungan
pemanfaatan

Gambar 6. Tingkat Upaya Konservasi Ekosistem Padang Lamun


12

Berdasarkan hasil penelitian, diketahui bahwa dalam upaya konservasi


keanekaragaman genetik dan spesies dalam ekosistem pesisir masih terjadi permasalahan-
permasalahan seperti terdapat kondisi padang lamun rusak pada stasiun 1 dan 2 serta
penurunan kualitas air dan sedimentasi. Diduga hal ini disebabkan persepsi masyarakat yang
masih tergolong rendah terhadap keanekaragaman jenis lamun dan nilai-nilai konservasi
ekosistem padang lamun di pesisir Lempuyang. Bengen (2001) menjelaskan, persepsi
masyarakat terhadap keberadaan ekosistem pesisir perlu untuk diarahkan terhadap cara
pandang masyarakat akan pentingnya sumberdaya alam pesisir, dalam hal ini ekosistem
padang lamun.

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan
Padang lamun pada stasiun 1 dan 2 dalam kondisi miskin (80% dan 89.7%), sedangkan
pada stasiun 3 dalam kondisi baik (80%). Pengawetan ekosistem padang lamun melalui upaya
perlindungan sudah mencakup aspek biofisik (tidak baik (11%)) dan kelembagaan-hukum
(sangat baik (89%)). Upaya pemanfaatan sudah mencakup aspek biofisik (sangat baik
(100%)). Pada kedua komponen konservasi yang belum diupayakan pada aspek sosial-
ekonomi masyarakat. Tingkat upaya komponen konservasi, diperoleh kriteria baik pada
komponen pengawetan (67.7%) dan kurang baik pada komponen pemanfaatan (33.3%).

Saran
Diperlukan adanya upaya konservasi meliputi pengawetan, perlindungan, dan
pemanfaatan terhadap keanekaragaman genetik dan spesies dalam ekosistem padang lamun.
Diperlukan juga pemberdayaan terhadap masyarakat sehingga upaya konservasi menjadi
optimal.

DAFTAR PUSTAKA

Bengen DG. 2001. Sinopsis Ekosistem dan Sumberdaya Alam Pesisir dan Laut serta Prinsip
Pengolahannya. Pusat Kajian Sumberdaya Pesisir Lautan. Institut Pertanian Bogor. Bogor.
Dahuri R.J, Rais SP, Ginting MJ, Sitepu. 2001. Pengolahan Sumber Daya Wilayah Pesisir dan
Lautan Secara Terpadu, Edisi Revisi. PT. Pradnya Paramitha. Jakarta.
Fahruddin. 2002. Pemanfaatan, Ancaman, dan Isu-isu Pengelolaan Sumberdaya Ekosistem Padang
Lamun. Makalah Falsafah Sains (PPS 702) Program Pasca Sarjana. Institut Pertanian Bogor.
Bogor.
13

Hutomo M. 1999. Proses Peningkatan Nutrien Mempengaruhi Kelangsungan Hidup Lamun. Reef
Research Volume 09 Nomor 1.
Iskandar J. 2000. Konservasi . Warta Kehati Edisi Juni-Juli. Jakarta.
Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 200 Tahun 2004 tentang Kriteria Baku
Kerusakan dan Pedoman Penentuan Status Padang Lamun.
Mustafa H. 2000. Teknik Sampling. Versi HTML google dari berkas
http://home.unpar.ac.id/~hasan/SAMPLING.doc.
Murdiyanto B. 2004. Pengelolaan Sumber Daya Perikanan Pantai. COFISH Project. Jakarta.
Patria I. 2009. Akumulasi Logam Berat Timbal (Pb) pada Lamun di Pesisir Lempuyang Taman
Nasional Baluran. Laporan Skripsi. Fakultas Perikanan Universitas Brawijaya. Malang. Tidak
diterbitkan.
Peraturan Pemerintah No. 19 Tahun 1999 tentang Pengendalian Pencemaran Dan/Atau Perusakan
Laut
Rahayu DM. 2008. Analisis Upaya Konservasi Sub-Sub DAS Kali Ampo di Kota Batu. Laporan
Skripsi.. Fakultas Perikanan Universitas Brawijaya. Malang. Tidak diterbitkan.
Tomascik JW, AJ. Mah, A. Nontji, MK. Moosa. 1997. The Ecology of the Indonesians Seas, Part
Two. Periplus Edition (HK) Ltd. Singapore.
Zulkifli. 2003. Pengelolaan dan Pengembangan Ekosistem Padang Lamun Berwawasan
Lingkungan, Berbasis Masyarakat dan Berkelanjutan. Makalah Falsafah Sains (PPS702).
Program Pasca Sarjana / S3. Institut Pertanian Bogor. Posted 13 November 2003.
14

Lampiran 1. Upaya Konservasi terhadap Ekosistem Pesisir oleh Pengelola. (Sumber:


Pengendali Ekosistem Hutan (PEH), 2008)

Aspek Upaya Konservasi


Biofisik  Inventarisasi bakau
 Inventarisasi jenis Terumbu Karang
 Transplantasi Terumbu Karang
 Penanaman bakau dan pembibitan mangrove
 Inventarisasi jenis biota laut dan pesisir
 Inventarisasi laporan hasil penelitian tentang lamun, mangrove dan terumbu
karang dari para akademisi dan peneliti
Sosial dan  Pembatasan area pengembalaan ternak
Ekonomi  Pendataan penduduk dan pengembalaan liar dalam kawasan
 Penyuluhan ternak sistem kandang dan penanaman hijauan tanah
 Pengembangan kegiatan pendidikan konservasi sumberdaya alam untuk
masyarakat kawasan pesisir
 Penyuluhan dan pendidikan mengenai sumberdaya alam dan ekosistem
hutan di tengah-tengah kegiatan keagamaan penduduk
 Pengembangan ekowisata dan penelitian ekosistem pesisir bagi pelajar,
mahasiswa dan masyarakat
Kelembagaan  Peraturan tentang pembatasan jumlah penduduk yang masuk kawasan
dan Hukum  Peraturan tentang pembatasan wilayah lahan dan pemukiman untuk
penduduk dalam kawasan
 Peraturan tentang batas wilayah laut Taman Nasional Baluran dalam radius
500 meter dari garis pantai ke tengah laut
 Patroli wilayah perbatasan laut dan pesisir secara berkala
 Penindakan dan sanksi pengeluaran dari kawasan terhadap penduduk yang
mendirikan bangunan permanen (beton)
 Penindakan dan sanksi pengeluaran dari kawasan terhadap masyarakat yang
melakukan penebangan pohon mangrove
15

Lampiran 2. Upaya dan Tingkat Upaya Konservasi Ekosistem Padang Lamun di Pesisir
Lempuyang

Tingkat Upaya (%)


Permasalahan Upaya Konservasi
Aspek Komponen
 Padang lamun di wilayah A. Pengawetan dan Perlindungan
pemukiman dan alur  Aspek Biofisik
transportasi, terutama pada 11
Inventarisasi hasil penelitian tentang
stasiun 1 dan 2 dalam kondisi komunitas lamun
rusak
 Pencemaran logam berat timbal  Aspek Kelembagaan dan Hukum
(Pb) akibat intensnya lalu lintas 1. Patroli wilayah perbatasan laut
kapal 2. Peraturan tentang batas wilayah laut
 Pencemaran limbah organik dalam radius 500 m dari garis pantai
ditunjukkan dengan terjadinya 3. Penindakan dan sanksi terhadap
sedimentasi dan peningkatan masyarakat yang melakukan
kandungan fosfat dan nitrat di penebangan mangrove
perairan terutama stasiun 2 4. Peraturan tentang pembatasan jumlah
penduduk yang masuk kawasan
89 66.67
5. Peraturan tentang pembatasan wilayah
lahan dan pemukiman untuk
penduduk dalam kawasan
6. Penindakan dan sanksi pengeluaran
dari kawasan terhadap penduduk yang
mendirikan bangunan permanen
7. Pembatasan area pengembalaan ternak
8. Pendataan penduduk dan
pengembalaan liar dalam kawasan
Rendahnya persepsi  Aspek Sosial Masyarakat
masyarakat tentang (Belum diupayakan)
0
pengawetan dan perlindungan
ekosistem padang lamun
Jumlah Total 100 66.67
C. Pemanfaatan
 Aspek Biofisik
Pengembangan ekowisata dan 100
penelitian ekosistem pesisir bagi
33.33
masyarakat pada umumnya
Rendahnya persepsi  Aspek Sosial Masyarakat
masyarakat tentang (Belum diupayakan) 0
pemanfaatan lamun
Jumlah Total 100 33.33