Anda di halaman 1dari 5

ari percobaan yang dilakukan kali ini dilakukan persilangan dihibrid (persilangan dengan dua sifat beda)

yaitu antara bentuk dan warna biji. Dalam hal ini warna gen merah (B) pembawa sipat untuk biji bulat
dan dominant terdapat putih (b) pembawa sipat untuk biji keriput. Sedangkan warna gen kuning (K)
adalah pembawa sipat untuk warna biji kuning dan dominant terhadap wartna hijau (k) pembawa sipat
untuk warna biji hijau.
Persilangan antara biji bulat berwarna kuning (BBKK, yang diwakili kancing genetic berwarna merah
dengan biji keriput berwrna hijau (bbkk) diperoleh F1 yang 100% berwarna bulat berwarna Kuning
(BbKk), karena biji bulat dan biji berwarna kuning bersifat dominant terhadap biji kisut dan biji berwarna
hijau. Jika F1 disilangkan dengan sesamanya (F1), maka diperoleh empat macam fenotipe yaitu Bulat-
Kuning, Bulat-Hijau, Keriput-Kuning, dan Keriput-Hijau. Dengan genotipe untuk Bulat-Kuning (1 BBKK; 2
BBKk; 3 BbKK dan 4 BbKk), Bulat-Hijau (1 BBkk; 2 Bbkk), Keriput-Kuning (1 bbKK; 2 bbKk) serta Keriput-
Hijau (bbkk). Menurut hukum Mendel II, perbandingan fenotipe untuk persilangan dihibrid pada F2
adalah 9:3:3:1.
Hasil dari percobaan yang dilakukan, untuk pengambilan 32x diperoleh data rasio fenotifnya, yaitu sifat
Bulat-kuning sebanyak 17kali, sifat Bulat-Hijau sebanyak 6 kali, dan sifat Keriput-kuning sebanyak 5 kali
dan keriput-hijau sebanyak 4 kali. Sehingga diperoleh perbandingan 9:3:3:1. Dengan deviasi -1 untuk
Bulat-Kuning, 0 untuk Bulat-hijau, 1 untuk Keriput-Kuning dan -1 untuk Keriput-Hijau. Deviasi
menyatakan besarnya penyimpangan hasil pengamatan terhadap besarnya harapan.
Untuk pengambilan 64x diperoleh data rasio fenotifnya, untuk sifat Bulat-kuning sebanyak 37 kali, sifat
Bulat-Hijau sebanyak 11 kali, dan sifat Keriput-kuning sebanyak 13 kali dan keriput-hijau sebanyak 3 kali.
Sehingga diperoleh perbandingan 37:11:13:3 yang mendekati angka ratio 9:3:3:1. Dengan deviasi 1
untuk Bulat-Kuning, -1 untuk Bulat-hijau, 1 untuk Keriput-Kuning dan -1 untuk Keriput-Hijau.
Kalau hasil percobaan mendekati nilai teoritis dapat disebut data yang diambil itu bagus, dan tak ada
faktor lain yang mengganggu. Tapi kalau perbangdingan o/e makin menjauhi angka 1, data itu buruk,
dan pernyataan fenotif tentang karakter yang diselidiki berarti dipengaruhi oleh faktor lain.

V. KESIMPULAN

Hukum Mendel II disebut hokum pengelompokan gen secara bebas..


Perkawinan dihibrid menghasilkan keturunan dengan perbandingan fenotip 9:3:3:1..
Gen yang bersipat dominant akan menutupi gen yan g bersipat resesip.
Tujuan dari persilangan dua sipat beda adalah untuk mempelajari hubungan antara pasangan-pasangan
alela dari karekter tersebut.

IV. Pembahasan

Keturunan F1 dari persilangan antara dua induk yang homogen akan menghasilkan hibrida
(heterozigot) bagi kedua pasangan gen tersebut. Keturunan F1nya (BbKk) adalah hibrida, dan
persilangan antara BBKK X bbkk adalah persilangan dihibrid. Alel bagi biji bulat berwarna
kuning bersifat dominan penuh terhadap alel bagi biji keriput berwarna hijau.
Pada pengamatan pengambilan pertama, baik pengambilan 32 X maupun pengambilan 64 X
ditemukan deviasi (observasi – harapan) yang cukup besar dan agak menyimpang dari ketentuan
perbandingan fenotipe hukum Mendel (9:3:3:1). Setelah melakukan pengulangan pengambilan
akhirnya ditemuai deviasi yang cukup kecil (-1 dan 1), yang artinya sudah mendekati dengan
ketentuan perbandingan fenotipe hukum Mendel II . dari hal tersebut dapat diasumsikan bahwa
semakin banyak sifat beda yang dikawinkan dan semakin banyak jumlah pengambilan maka
peluang deviasi akan semakin tinggi juga, mengingat pada acara praktikum hukum Mendel I
tidak banyak ditemui deviasi karena hanya memiliki satu jenis sifat beda.

Hukum mendel II ( hukum kebebasan mendel = prinsip berpasang-pasangan secara bebas ) Segregasi
suatu pasangan gen tidak bergantung kepada segregasi pasangan gen lainnya, sehingga di dalam gamet-
gamet yang terbentuk akan terjadi pemilihan kombinasi gen-gen secara bebas dalam perisitiwa
pembentukan gamet, alela-alela mengadakan kombinasi secara bebas sehingga kombinasi sifat-sifat
yang muncul dalam keturunannya beraneka ragam, hukum mendel II berlaku untuk pembastaran
dengan dua sifat beda ( dihibridisasi ) baik dominasi maupun intermediet (Yatim, 1983 ) Persilangan
dihibrid yaitu persilangan dengan dua sifat beda sangat berhubungan dengan hukum Mendel II yang
berbunyi “independent assortment of genes” Atau pengelompokan gen secara bebas
.
Praktikum pengamatan persilangan dihibrid kali ini menggunakan lalat drosophila white dan lalat
drsophila ebony menghasilkan keturunan normal sebanyak 25, ebony 5, white 10, mata putih + badan
ebony 3.hasil persilangan ini kemudian di uji dengan menggunakan uju chi square ( X² ) yang
mendapatkan hasil X² hitung lebih kecil dari X² tabel yaitu 1,68 < 7,81 sehingga hipotesis diterima hasil
sesuai dengan hukum mendel II yang mempunyai rasio 9 : 3 : 3 :1

Ada beberapa hal yang dapat mempengaruhi hasil pengamatan seperti, lalat betina yang akan
dikawinkan tidak virgin sehingga keturunana yang diharapkan tidak muncul karean sudah dibuahi oleh
lalat jantan lain. Oleh karean itu sebaiknya dalam melakukan persilangan lalat white dan ebony harus
secepatnya dipisahkan. Sehingga hasil persilangan kedua mutan tersebut sesuai dengan yang
diharapkan.

GENETIKA CROSSING OVER

• Peristiwa pindah silang umum terjadi pada setiap gametogenesis pada semua mahluk hidup.
• Pindah silang ialah proses penukaran segmen dari kromatid; terjadi antara kromatid yang bukan
pasangannya dari kromosom homolong dan berlangsung pada saat kromosom mengganda
menjadi 2 kromatid berpasangan (bersinapsis) dan yang homolog bergandeng pada bidang
ekuator
• proses penukaran segmen dari kromatid-kromatid bukan saudara (nonsister chromatids) dari
sepasang kromosom homolog.
• Peristiwa pindah silang umum terjadi pada setiap gametogenesis (peristiwa pembentukan
gamet) pada kebanyakan makhluk hidup, seperti tumbuhan, hewan dan manusia. Pindah silang
terjadi ketika meiosis I (akhir profase I atau permulaan metafase I), yaitu ketika kromosom telah
mengganda menjadi dua kromatid
• Pada waktu kromosom-kromosom hendak memisah (yaitu pada anafase I), kromatid-kromatid
yang bersilang itu melekat dan putus dibagian kiasma, kemudian tiap potongan itu melekat pada
kromatid sebelahnya secara timbal balik.
• Berhubung dengan itu gen-gen yang terletak pada bagian yang pindah itu akan berpindah pula
tempatnya ke kromatid sebelahnya (homolognya).
• Jadi Pindah silang Kejadiannya berlangsung pada tahap akhir profase dan metaphase pada
pembelahan meiosis I. Tempat persilangangan 2 kromatid disebut chiasma.
• Kromatid-kromatid yang bersilangan itu akan melekat dan putus di bagian chiasma, kemudia
tiap potongan akan melekat pada kromatid sebelahnya secara timbal balik.
• Akibat pindah silang adalah tertukarnya materi kromosom. Pindah silang dibedakan atas :
1. Pindah silang tunggal
2. Pindah silang ganda
1. Pindah silang tunggal
• ialah pindah silang yang terjadi pada satu tempat dan menyebabkan terbentuknya 4 macam
gamet, yaitu CF dan cf yang disebut tipe gamet tetua/tipe parental karena memiliki gen seperti
yang dimiliki induk/parentalnya dan Cf dan cF yang disebut tipe gamet rekombinasi karena
merupakan gamet tipe baru sebagai hasil adalanya pindah silang.
• Gamet tipe parental dibentuk dalam jumlah yang lebih banyak karena tidak mengalami
gangguan pindah silang sedangkan gamet tipe rekombinasi dibentuk lebih sedikit.
• Akibatnya keturunan yang mempunyai sifat seperti parental selalu berjumlah lebih banyak
dibandingkan dengan keturunan tipe rekombinasi (lihat gambar ).

Gambar Proses pindah silang tunggal


Jika individu hasil pindah silang ini ditestcross (disilangkan dengan ccff) maka hasil
persilangannya adalah 79,4 & fenotipe tetua dan 20,6 % fenotip rekombinasi
2. Pindah silang ganda
• ialah pindah silang yang terjadi di dua tempat (“double crossing over”).
• Biasanya terjadi pada 3 buah gen yang berangkai pada satu kromosom (lihat gambar ).

Gambar Proses pindah silang ganda

• Banyak faktor ekstrinsik dan intrinsik berperanserta pada laju pindah silang seperti pengaruh
kelamin, umur, temperatur, zat kimia , Iradisasi , jarak ke sentromer, dll.
• Temperatur yang melebihi atau kurang dari temperatur biasa dapat memperbesar kemungkinan
terjadinya pindah silang.
• Makin tua suatu individu, makin kurang kemungkinan untuk mengalami pindah silang.
• Zat kimia tertentu dapat memperbesar kemungkinan pindah silang.
• Penyinaran dengan sinar X dapat memperbesar kemungkinan pindah silang.
• Makin jauh jarak antara gen-gen yang terangkai, makin besar kemungkinan terjadinya pindah
silang.
• Pada umumnya pindah silang terjadi pada makhluk betina maupun jantan. Tapi ada
pengecualian, yaitu pada ulat sutera (Bombix mori) yang betina tidak pernah terjadi pindah
silang, demikian pula pada lalat Drosophila melanogasterjantan.
• Setelah anda mempelajari bab ini diharapkan anda lebih mengerti tentang proses penentuan
jenis kelamin dan kelainan-kelainan yang bisa terjadi
X

Pindah silang merupakan konsekuensi dari pemilahan kromosom secara independen


selama metosis, kita masing-masing menghasilkan gamet-gamet yang kombinasi
mromosomnya berbeda sekali dengan kromosom yang kita warisi dari kedua orag tua kita.
Kromosom tersebut terdiri dari DNA yang berasal dari ibu atau bapak kita, tetapi bukan dari
keduanya. Dalam kenyataannya, hal ini bukan suatu masalah. Suatu proses yang dinamakan
pindah silang ( crossing over ) menghasilkan kromosom individual yang menggabungkan
gen-gen yang diwarisi dari kedua orang tua kita.

Pindah silang terjadi selama profase meiosis I. Ketika kromosom homolog pertama kali
muncul bersama sebagai pasangan selama profase I, suatu perlengkapan protein yang
dinamakan kompleks sinaptonemal menggabungkan kromosom sehingga terikat kuat satu
dengan yang lain. Pasangan berlangsung secara cermat, penataan yang homolog satu sama
lain gen demi gen. Pindah silang terjadi ketika porsi homolog duakromatid bukan saudara
tempat. Lokasi pertukaran genetik ini tampak pada mikroskop cahaya sebagai kiasmata.
Pindah silang dengan mengkombinasikan DNA yang diwarisi dari kedua orang tua menjadi
sebuah kromosom tunggal, merupakan sumber genetik yang penting dalam siklus hidup
seksual.

4.2.3 Pindah Silang Tunggal

Peristiwa pindah silang tunggal terjadi dengan adanya pertukaran segmen 2 strand
kromatid yang bukan saudara, membentuk 1 kiasma. Pindah silang tunggal ini menghasilkan
2 genotip tipe parental dan 2 genotip tipe rekombinan sehingga nilai pindah silang yang
didapatkan adalah 50%. Pindah silang tunggal misalnya terjadi antara 2 strand kromatid yaitu
strand 2 - , strabd 1 – 4, strand 1 – 3, atau strand 2 – 4.

Misalnya pindah silang yangterjadi antara strand 2 – 3. Pindah silang ini akan
membentuk 4 genotip, yaitu ABCD, Abcd, abcD, dan abcd. Genotipe ABCD dan abcd
merupakan genotip tipe parental sedangkan genotip abcD dan Abcd merupakan genotip tipe
rekombinan. Dengan demikian nilai pindah silangnya sebesar 50%.

Contoh lain yaitu pindah silang yangterjadi antara stand 1 - 4. Pindah silang ini akan
membentuk 4 genotip yaitu ABcd pada strand 1, ABCD pada strand 2, abcd pada strand 3,
dan abCD pada strand 4. Genotip ABCD pada strand 2 dan abcd pada strand 3 merupakan
genotip tipe parental, sedangkan genotip Abcd pada strand 1 dan abCD pada strand 4
merupakan genotip rekombinan. Dengan demikian nilai pinda silangnya sebesar 50%.

4.2.4 Pindah Silang Ganda


Peristiwa pindah silang ganda terjadi dengan adanya pertukaran segmen antara 2
kromatid atau lebih dan membentuk lebih dari 1 kiasma. Pindah silang ganda ini
menghasilkan 2 genotip tipe rekombinan, 3 genotip tipe rekombinan, atau 4 genotip tipe
rekombinan sehingga nilai pindah silang yang didapatkan bisa sebesar 50%, 75% atau 100%.

Contoh pertama pindah silang ganda yaitu pertukaran segmen antara strand kromatid 2
dengan 3 dan strand 2 dengan 3 untuk kedua kalinya. Pindah silang ini akan membentuk
genotip ABCD pada strand 1, AbcD pada strand 2, aBCd pada strand 3 dan abcd pada strand
4. Genotip ABCD pada strand 1 dan abcd pada strand 4 merupakan tipe parental sedangkan
genotip AbcD pada strand 2 dan aBCd pada strand 3 merupakan genotip tipe rekombinan.
Dengan demikian nilai pindah silangnya sebesar 50%.

Contoh kedua yaitu pindah silang antara kromatid strand 2 dengan 3, dan kromatid standr
2 dengan 4. Pindah silang ini membentuk genotip ABCD pada strand 1 yangmerupakan
genotip tipe parental, Abcd pada strand 2, aBCd pada strand 3 dan abcD pada strand 4
yanngketiganya merupakan genotip tipe rekombinan. Dengan demikian nilai pindah
silangnya sebesar 75%. Pindah silang tpe ini juga beisa menghasilkan nilai pindah silang
sebesar 50%. Genotip yang terbentuk yaitu ABCD pada strand 1 yang merupakan tipe
parental, Abcd pada strand 2, aBCd pada strand 3, keduamya merupakan tipe rekombinan,
dan abcd pada strand 4 yang merupakan tipe parental. Pada pindah silang ganda tipe ini
kiasma yang terbentuk sebanyak 2.

Contoh ketiga yaitu pindah silang antara kromatid strand 2 dengan 3 dan strand 1 dengan
4. Pada pindah silang ini terbentuk 2 kiasma. Genotip yang terbentuk yaitu Abcd pada strand
1, Abcd pada strand 2, aBCD pada strand 3, dan abCD pada strand 4. Semua genotip yang
terbentuk merupakan tipe rekombinan. Dengan demikian nilai pindah silannya sebesar 100%.

Contoh keempat yaitu pindah silang antara kromatid strand 1 dengan 3, strand 2 dengan
4, dan strand 2 dengan 3. Pada pndah silang ini terbentuk 3 kiasma. Genotip yang terbentuk
yaitu AbcD pada strand 1, Abcd pada strand 2, aBCD pada strand 3, dan abCd pada strand 4.
Semua genotip yang terbentuk merupakan tipe rekombinan. Dengan demikian nilai pindah
silangnya sebesar 100%.