Anda di halaman 1dari 5

Nama Nim Kls

: Andi Fitriani Ridwan : 081404152 : ICP

KEMAMPUAN BERPIKIR
Berpikir merupakan suatu kegiatan untuk memahami sesuatu dan berusaha mencari jalan keluar dari permasalahan yang sedang dihadapi yang melibatkan kerja otak. Semua orang pasti berpikir, namun dengan cara yang berbeda beda. Ada tiga macam berpikir, yaitu sebagai berikut : 1. Berpikir Deduktif Yaitu proses berpikir yang bertolak pada proposisi yang sudah ada, menuju proposisi baru yang berbentuk suatu kesimpulan, yang kesimpulan tersebut diambil dari dua pernyataan, dimana pernyataan yang pertama merupakan pernyataan umum. 2. Berpikir Induktif Yaitu menarik kesimpulan umum dari berbagai kejadian yang ada di sekitarnya. 3. Berpikir valuatif Yaitu berpikir kritis, menilai baik-buruk, tepat atau tidaknya suatu gagasan. Secara umum dari berfikir adalah berkembangnya ide dan konsep (Bochenski, dalam Suriasumantri (ed), 1983:52 dalam http//www psikologi pendidikan.com)) di dalam diri seseorang. Perkembangan ide dan konsep ini berlangsung melalui proses penjalinan hubungan antara bagian-bagian informasi yang tersimpan di dalam diri seseorang yang berupa pengertian-perngertian yang terjadi karena adanya masalah.
Kemampuan berpikir Page 1

Proses berpikir ada tiga langkah yaitu : a) Pembentukan Pengertian , atau lebih tepatnya disebut pengertian logis, b) Pembentukan Pendapat adalah meletakkan hubungan antara dua buah pengertian atau lebih. Pendapat yang dinyatakan dalam bahasa disebut kalimat, yang terdiri dari pokok kalimat atau subyek dan sebutan atau predikat, dan c) Penarikan Kesimpulan adalah hasil perbuatan akal untuk membentuk pendapat baru berdasarkan pendapat-pendapat yang telah ada. Melalui teori perkembangan berpikir, Piaget mengemukan bahwa salah satu yang melandasi perkembangan berpikir adalah adaptasi, yaitu suatu keseimbangan antara asimilasi dan adaptasi (Niaz, 1993). Asimilasi adalah proses penggunaan strukur kognitif yang telah ada untuk menanggapi masalah yang dihadapi. Apabila masalah yang dihadapi tidak sesuai dengan struktur kognitif yang ada, maka akan terjadi ketidakseimbangan (disequilibrium). Untuk dapat memberikan respon terhadap lingkungannya itu ia harus melakukan akomodasi, yaitu mengubah struktur kognitif yang tidak sesuai itu menjadi struktur kognitif baru yang yang sesuai, sehingga tercapailah keseimbangan (equilibrium). Pada keadaan demikian ia berada pada tingkat intelektual yang lebih tinggi daripada sebelumnya (Cobern, 1996). Ruggiero (1998) mengartikan berpikir sebagai suatu aktivitas mental untuk membantu memformulasikan atau memecahkan suatu masalah, membuat suatu keputusan, atau memenuhi hasrat keingintahuan (fulfill a desire to understand). Pendapat ini menunjukkan bahwa ketika seseorang merumuskan suatu masalah, memecahkan masalah, ataupun ingin memahami sesuatu, maka ia melakukan suatu aktivitas berpikir. Berpikir sebagai suatu kemampuan mental seseorang dapat dibedakan menjadi beberapa jenis, antara lain berpikir logis, analitis, sistematis, kritis, dan
Kemampuan berpikir Page 2

kreatif. Berpikir logis dapat diartikan sebagai kemampuan berpikir siswa untuk menarik kesimpulan yang sah menurut aturan logika dan dapat membuktikan bahwa kesimpulan itu benar (valid) sesuai dengan pengetahuan-pengetahuan sebelumnya yang sudah diketahui. Berpikir analitis adalah kemampuan berpikir siswa untuk menguraikan, memerinci, dan menganalisis informasi-informasi yang digunakan untuk memahami suatu pengetahuan dengan menggunakan akal dan pikiran yang logis, bukan berdasar perasaan atau tebakan. Berpikir sistematis adalah kemampuan berpikir siswa untuk mengerjakan atau menyelesaikan suatu tugas sesuai dengan urutan, tahapan, langkah-langkah, atau perencanaan yang tepat, efektif, dan efesien. Ketiga jenis berpikir tersebut saling berkaitan. Seseorang untuk dapat dikatakan berpikir sistematis, maka ia perlu berpikir secara analitis untuk memahami informasi yang digunakan. Kemudian, untuk dapat berpikir analitis diperlukan kemampuan berpikir logis dalam mengambil kesimpulan terhadap suatu situasi. Berpikir kritis dan berpikir kreatif merupakan perwujudan dari berpikir tingkat tinggi (higher order thinking). Berpikir kritis dapat dipandang sebagai kemampuan berpikir siswa untuk membandingkan dua atau lebih informasi, misalkan informasi yang diterima dari luar dengan informasi yang dimiliki. Bila terdapat perbedaan atau persamaan, maka ia akan mengajukan pertanyaan atau komentar dengan tujuan untuk mendapatkan penjelasan. Berpikir kritis sering dikaitkan dengan berpikir kreatif. Berpikir kritis menurut Scerven dan Paul adalah proses disiplin cerdas dari konseptualisasi, penerapan analisis, sisntesis dan evaluasi aktif dan berketerampilan yang dikumpulkan dari atau dihasilkan oleh, observasi, pengalaman, refleksi, penalaran atau komunikasi sebagai sebuah penuntun menuju kepercayaan dan aksi.
Kemampuan berpikir Page 3

Selain itu berpikir kritis juga telah didefinisikan sebagai sebuah proses berpikir yang memiliki maksud, masuk akal, dan berorientasi tujuan dan kecakapan untuk menganalisis sesuatu informasi dan ide-ide secara hati-hati dan logis dari berbagai perspektif. Berpikir kreatif menurut Gutman adalah sebuah alat yang digunakan oleh seseorang untuk menciptakan sebuah pertalian baru pada lingkungannya. Indikator dari berpikir kreatif diantaranya adalah sebagai berikut: (a) Mampu menciptakan ide-ide unik, (b) imajinatif dan percaya diri dengan ide-idenya, (c) memiliki potensi untuk menciptakan ide-ide dan perubahan yang lebih jauh, (d) Tidak terjebak dengan mengasumsikan aturan-aturan yang tidak bisa diterapkan pada sebuah masalah, (e) berpikir dengan tepat dan kritis di dalam proses berpikir, (f) Menghindari berpikir emosional, (g) Mengevaluasi tingkat kebenaran atau kesalahan dari segala sesuatu sebelum membuat suatu keputusan, (h) suka mengevaluasi logika, (i) suka mengajukan pertanyaan, dan (j) Pandai berargumentasi dan suka mengkritisi fakta-fakta. Untuk mengetahui kemampuan berpikir kreatif seseorang ditunjukkan melalui produk pemikiran atau kreativitasnya menghasilkan sesuatu yang baru. Munandar (1999) menunjukkan indikasi berpikir kreatif dalam definisinya bahwa kreativitas (berpikir kreatif atau berpikir divergen) adalah kemampuan menemukan banyak kemungkinan jawaban terhadap suatu masalah, dimana penekanannya pada kuantitas, ketepatgunaan, dan keberagaman jawaban. Pengertian ini menunjukkan bahwa kemampuan berpikir kreatif seseorang makin tinggi, jika ia mampu menunjukkan banyak kemungkinan jawaban pada suatu masalah. Semua jawaban itu harus sesuai dengan masalah dan tepat. Selain itu jawaban harus bervariasi.

Kemampuan berpikir

Page 4

Olson (1996) menjelaskan bahwa untuk tujuan riset mengenai berpikir kreatif, kreativitas (sebagai produk berpikir kreatif) sering dianggap terdiri dari dua unsur, yaitu kefasihan dan keluwesan (fleksibilitas). Kefasihan ditunjukkan dengan kemampuan menghasilkan sejumlah besar gagasan pemecahan masalah secara lancar dan cepat. Keluwesan mengacu pada kemampuan untuk menemukan gagasan yang berbeda-beda dan luar biasa untuk memecahkan suatu masalah. Indikasi kemampuan berpikir kreatif ini sama dengan Munandar (1999) tidak menunjukan secara tegas kriteria baru sebagai sesuatu yang tidak ada sebelumnya. Baru lebih ditunjukkan dari keberagaman (variasi) atau perbedaan gagasan yang dihasilkan. Dari penjelasan-penjelasan di atas maka dapat disimpulkan bahwa kemampuan berpikir adalah kemampuan dalam mengolah informasi yang diperoleh sebelumnya untuk memecahkan masalah baru yang berbeda.

Kemampuan berpikir

Page 5