Anda di halaman 1dari 4

Ruang lingkup teori belajar konstruktivisme.

a. Hakikat belajar Konstruktivisme.


Pembentukan pengetahuan menurut konstruktivistik memandang subyek aktif menciptakan
struktur-struktur kognitif dalam interaksinya dengan lingkungan. Dengan bantuan struktur
kognitifnya ini, subyek menyusun pengertian realitasnya. Interaksi kognitif akan terjadi sejauh
realitas tersebut disusun melalui struktur kognitif yang diciptakan oleh subyek itu sendiri.
Struktur kognitif senantiasa harus diubah dan disesuaikan berdasarkan tuntutan lingkungan
dan organisme yang sedang berubah. Proses penyesuaian diri terjadi secara terus menerus
melalui proses rekonstruksi. Yang terpenting dalam teori konstruktivisme adalah bahwa dalam
proses pembelajaran, si belajarlah yang harus mendapatkan penekanan. Merekalah yang harus
aktif mengembangkan pengetahuan mereka, bukan pembelajar atau orang lain. Mereka yang
harus bertanggung jawab terhadap hasil belajarnya. Penekanan belajar siswa secara aktif ini
perlu dikembangkan. Kreativitas dan keaktifan siswa akan membantu mereka untuk berdiri
sendiri dalam kehidupan kognitif siswa.
Belajar lebih diarahkan pada experimental learning yaitu merupakan adaptasi kemanusiaan
berdasarkan pengalaman konkrit di laboratorium, diskusi dengan teman sekelas, yang kemudian
diaplikasikan dan dijadikan ide dan pengembangan konsep baru. Karenanya tujuan dari mendidik
dan mengajar tidak terfokus pada si pendidik melainkan pada peserta didik.
Beberapa hal yang mendapat perhatian pembelajaran konstruktivistik yaitu:
1). mengutamakan pembelajaran yang bersifat nyata dalam kontek yang relevan.
2). mengutamakan proses.
3). menanamkan pembelajran dalam konteks pengalaman sosial.
4). pembelajaran dilakukan dalam upaya mengkonstruksi pengalaman
b. Prinsip-prinsip belajar konstruktivisme
Ada beberapa prinsip yang harus kita ketahui dalam konstruktivisme, yaitu:
1).Pengetahuan dibangun oleh siswa sendiri.
2).Pengetahuan tidak dapat dipindahkan dari guru kemurid, kecuali hanya dengan keaktifan
murid sendiri untuk menalar.
3).Murid aktif mengkontruksi secara terus menerus, sehingga selalu terjadi perubahan konsep
ilmiah.
4).Guru sekedar membantu menyediakan saran dan situasi agar proses kontruksi berjalan lancer.
5).Menghadapi masalah yang relevan dengan siswa.
7). mencari dan menilai pendapat siswa.
Dari semua itu hanya ada satu prinsip yang paling penting adalah guru tidak boleh hanya semata-
mata memberikan pengetahuan kepada siswa, siswa harus membangun pengetahuan didalam
benaknya sendiri.
Seorang guru dapat membantu proses ini dengan cara-cara mengajar yang membuat informasi
menjadi sangat bermakna dan sangat relevan bagi siswa, dengan memberikan kesempatan
kepada siswa untuk menemukan atau menerapkan sendiri ide-ide dan dengan mengajak siswa
agar menyadari dan menggunakan strategi-strategi mereka sendiri untuk belajar. Guru dapat
memberikan tangga kepada siswa yang mana tangga itu nantinya dimaksudkan dapat membantu
mereka mencapai tingkat pemahaman yang lebih tinggi , tetapi harus diupayakan agar siswa itu
sendiri yang memanjatnya.
c. Aspek-aspek belajar Konstruktivistik
Fornot mengemukakan aspek-aspek konstruktivitik sebagai berikut: adaptasi (adaptation),
konsep pada lingkungan (the concept of envieronmet), dan pembentukan makna (the
construction of meaning). Dari ketiga aspek tersebut oleh J. Piaget bermakna yaitu adaptasi
terhadap lingkungan dilakukan melalui dua proses yaitu asimilasi dan akomodasi.
(Trimanjuniarso.wordpres.com)
Asimilasi adalah proses kognitif dimana seseorang mengintegrasikan persepsi, konsep ataupun
pengalaman baru ke dalam skema atau pola yang sudah ada dalam pikirannya. Asimilasi
dipandang sebagai suatu proses kognitif yang menempatkan dan mengklasifikasikan kejadian
atau rangsangan baru dalam skema yang telah ada. Proses asimilasi ini terus berjalan. Asimilasi
tidak akan menyebabkan perubahan/pergantian skemata melainkan perkembangan skemata.
Asimilasi adalah salah satu proses individu dalam mengadaptasikan dan mengorganisasikan diri
dengan lingkungan baru. Akomodasi dalam menghadapi rangsangan atau pengalaman baru
seseorang tidak dapat mengasimilasikan pengalaman yang baru dengan skemata yang telah
dipunyai. Dalam keadaan demikian orang akan mengadakan akomodasi.
Akomodasi terjadi untuk membentuk skema baru yang cocok dengan rangsangan yang baru atau
memodifikasi
skema yang telah ada sehingga cocok dengan rangsangan itu. Bagi Piaget adaptasi merupakan
suatu kesetimbangan antara asimilasi dan akomodasi. Bila dalam proses asimilasi seseorang
tidak dapat mengadakan adaptasi terhadap lingkungannya maka terjadilah ketidaksetimbangan.
Akibat ketidaksetimbangan itu maka tercapailah akomodasi dan struktur kognitif yang ada yang
akan mengalami atau munculnya struktur yang baru.
Pertumbuhan intelektual ini merupakan proses terus menerus tentang keadaan
ketidaksetimbangan dan keadaan
setimbang. Tetapi bila terjadi kesetimbangan maka individu akan berada pada tingkat yang lebih
tinggi daripada sebelumnya.
d. Perbedaan teori belajar Kontruktivistik dengan beberapa teori yang lain.
Landasan teori belajar mengungkapkan dasar hubungan antara kegiatan siswa dengan proses-
proses psikologi dalam diri siswa. Landasan teori belajar juga mengungkapkan hubungan yang
dasar antara fenomena yang ada dalam diri siswa. Dibawah ini adalah perbedaan teori
konstruktivisme dengan teori humanistik dan behavioristik. Teori belajar behavioristik adalah
teori belajar yang menekankan pada tingkah laku manusia sebagai akibat dari interaksi antara
stimulus dan respon.
Teori belajar humanistik tertuju pada masalah bagaimana tiap individu dipengaruhi dan
dibimbing oleh maksudmaksud pribadi yang mereka hubungkan kepada pengalaman-pengalamn
mereka senidri.Proses belajar dilakukan dengan memberikan kebebesan yang sebesar-besarnya
kepada individu.
Teori belajar kontruktivistik memahami belajar sebagai proses pembentukan (konstruksi)
pengetahuan oleh si belajar itu sendiri. Behavioristik menekankan pada keterampilan atau
tingkah laku sebagai tujuan pendidikan, Humanistik menekankan bahawa perilaku setiap orang
ditentukan oleh orang itu sendiri yang dihubungkan dengan pengalaman-pengalaman mereka
sendiri, kontruktivistik menekankan perkembangan konsep dan pengertian yang
mendalam, pengetahuan sebagai konstruksi aktif yang dibuat siswa. Jika seseorang tidak aktif
membangun pengetahuannya, meskipun usianya tua tetap tidak akan berkembang
pengetahuannya. Suatu pengetahuan diangap benar bila pengetahuan itu berguna menghadapi
dan memecahkan persoalan atau fenomena yang sesuai. Pengetahuan tidak bisa ditransfer begitu
saja, melainkan harus diinterpretasikan sendiri oleh masing-masing orang. Pengetahuan juga
bukan sesuatu yang sudah ada, melainkan suatu proses yang berkembang terus-menerus. Dalam
proses itui keaktifan seseorang sangat menentukan dalam mengembangkan pengetahuanya.
Fornot mengemukakan aspek-aspek konstruktivitik sebagai berikut: adaptasi (adaptation),
konsep pada lingkungan (the concept of envieronmet), dan pembentukan makna (the
construction of meaning). Dari ketiga aspek tersebut oleh J. Piaget bermakna yaitu adaptasi
terhadap lingkungan dilakukan melalui dua proses yaitu asimilasi dan akomodasi.
(Trimanjuniarso.wordpres.com)
Asimilasi adalah proses kognitif dimana seseorang mengintegrasikan persepsi, konsep ataupun
pengalaman baru ke dalam skema atau pola yang sudah ada dalam pikirannya. Asimilasi
dipandang sebagai suatu proses kognitif yang menempatkan dan mengklasifikasikan kejadian
atau rangsangan baru dalam skema yang telah ada. Proses asimilasi ini terus berjalan. Asimilasi
tidak akan menyebabkan perubahan/pergantian skemata melainkan perkembangan skemata.
Asimilasi adalah salah satu proses individu dalam mengadaptasikan dan
mengorganisasikan diri dengan lingkungan baru. Akomodasi dalam menghadapi rangsangan atau
pengalaman baru seseorang tidak dapat mengasimilasikan

Kognitif
Teori ini membahas munculnya dan diperolehnya skema tentang bagaiman seseorang
mempersepsi lingkungan dalam tahapan-tahapan perkembangan, saat seseorang memperoleh
cara baru dalam merepresentasikan informasi secara mental. Teori ini di golongkan ke dalam
konstruktivisme, yang berarti, tidak seperti teori nativisme (yang menggambarkan perkembangan
kognitif sebagai pemunculan pengetahuan dan kemampuan bawaan). Teori ini berpendapat
bahwa kita membangun kemampuan kognitif kita melalui tindakan yang termotivasi dengan
sendirinya terhadap lingkungan.
Menurut teori ini, belajar adalah perubahan persepsi dan pemahaman. Perubahan persepsi dan
pemahaman tidak selalu berbentuk perubahan tingkah laku yang bisa diamati. Asumsi dasar teori
ini adalah setiap orang telah mempunyai pengalaman dan pengetahuan dalam dirinya.
Pengalaman dan pengetahuan ini tertata dalam bentuk struktur kognitif. Menurut teori ini proses
belajar akan berjalan baik bila materi pelajaran yang baru beradaptasi secara klop dengan
struktur kognitif yang telah dimiliki oleh siswa.