Anda di halaman 1dari 4

Kritik terhadap Teori Groupthink Dalam tiga perspektif: Epistemologi, Ontologi, Aksiologi

Teori groupthink pertama kali diperkenal oleh Irving Janis ,Groupthink menurut Irvings Janis (1972) adalah istilah untuk keadaan ketika sebuah kelompok membuat keputusan yang tidak masuk akal untuk menolak anggapan/ opini publik yang sudah nyata buktinya, dan memiliki nilai moral. Keputusan kelompok ini datang dari beberapa individu berpengaruh dalam kelompok yang irrasional tapi berhasil mempengaruhi kelompok menjadi keputusan kelompok. Groupthink mempengaruhi kelompok dengan melakukan aksi-aksi yang tidak masuk akal dan tidak mempedulikan pendapatpendapat yang bertentangan diluar kelompok. Kelompok yang terkena sindrom groupthink biasanya adalah kelompok yang anggota-anggotanya memiliki background yang sama, terasing (tidak menyatu, terisolir) dari pendapat-pendapat luar, dan tidak ada aturan yang jelas tentang proses pengambilan keputusan. Singkatnya tentang groupthink, terjadi manakala ada semacam konvergenitas pikiran, rasa, visi, dan nilai-nilai di dalam sebuah kelompok menjadi sebuah entitas kepentingan kelompok, dan orang-orang yg berada dalam kelompok itu dilihat tidak sebagai individu, tetapi sebagai representasi dari kelompoknya. Apa yang dipikirkan, dirasa, dan dilakukan adalah kesepakatan satu kelompok. Tidak sedikit keputusan-keputusan yang dibuat secara groupthink itu yang berlawanan dengan hati nurani anggotanya, maupun orang lain di luarnya. Namun mengingat itu kepentingan kelompok, maka mau tidak mau semua anggota kelompok harus kompak mengikuti arah yang sama agar tercapai suatu kesepakatan bersama. Menelaah fenomena groupthink yang kebanyakan kasus yang diambil Janis berasal dari Amerika Serikat yang menganut demokrasi,dalam pendapat penulis tentang teori groupthink yang disajikan Irving Janis ,Teori groupthink yang disajikan oleh Janis adalah merupakan suatu penelitian pada suatu kelompok yang mempunyai tingkat kohesivitas tinggi , dimana ini merupakan suatu penemuan yang sangat menarik karena kasus pengambilan keputusan yang meyebabkan groupthink terjadi pada suatu negara yang sangat demokratis , dimana pendapat pendapat perseorangan ,apalagi

meyangkut hal hal yang sangat krusial terhadap kemanusiaan dan nasionalisme sangat di agungkan di Amerika Serikat . Pada kasus kasus yang diteliti oleh Janis yang masuk dalam kualifikasi groupthink (Kejadian Meledaknya Chalengger , Peyerangan Ke Teluk babi , perang Vietnam ) , sebenarnya ada peran media di Amerika Serikat pada saat kejadian kejadian yang dikualifikasikan oleh Janis terjadi Groupthink , jika diamati pemberitaan pra kejadian kejadian yang meyebabkan terjadinya groupthink ,telah terjadi suatu agenda setting pada media groupthink, agar suatu kebijakan kebijakan yang pada akhirnya meyebabkan

Dalam Aggenda setting yang dilakukan oleh media untuk mendukung suatu keputusan yang meyebakan keputusan groupthink di Amerika Serikat, syarat dengan berbagai kepentingan ekonomi dan politik dominasi Amerika di dunia , sebab Janis sendiri tidak meyajikan dalam penelitiannya mengenai latar belakang dari kasus kasus yang diteliti yang meyebabkan Groupthink misalnya apa yang melatar belakangi pesawat chalenger harus dipaksakan terbang sesuai jadwal , apa latar belakang Amerika Serikat ketiga meyerang Kuba di teluk Babi , dana pa yang melatar belakangi perang Vietnam oleh Amerika Serikat .

Seperti juga Di Indonesia dalam kasus penculikan para Aktivis mahasiwa dan Prodemokrasi oleh rezim Suharto yang dilakukan oleh kelompok yang terkena sindrom pemikiran kelompok (groupthink) yang punya kohesivitas sangat tinggi dimana pelakunya adalah para tentara , dimana yang melatar belakangi adalah karena ketakutan dari Suharto sebagai pusat kekuasaan militer yang banyak mendapatkan keuntungan jika Indonesia tidak terjadi sistim politik yang Demokrasi , serta paranoid dari para tentara yang takut akan bahaya anti kemampanan ,karena mereka menganggap para aktivis mahasiswa dan prodemokrasi adalah kelompok anti kemampanan yang bisa menghancurkan hegemoni militer dan kekusaan keluarga Cendana dan kroninya . Ditemukan bahwa para penyunting dan penyiar memainkan peranan yang penting dalam membentuk realitas sosial kita atau dalam berbagai peristiwa yang

meyebabakan timbulnya groupthink oleh suatau kelompok pengambila keputusan , ketika mereka melaksanakan tugas keseharian mereka dalam menonjolkan berita justru mendukung terjadinya gejala groupthink Pada teori ini, media tidak menentukan what to think, tetapi what to think about. Teori ini berdiri atas asumsi bahwa media atau pers does not reflect reality, but rether filters and shapes it, much as a caleidoscope filters and shapes it (David H. Heaver, 1981). Dari sekian peristiwa dan kenyataan sosial yang terjadi, media massa memilih dan memilahnya berdasarkan kategori tertentu, dan menyampaikan kepada khalayak - dan khalayak menerima - bahwa peristiwa x adalah penting Segi Epistemologi

Teori berasal dari Irving Janis disaat Irving Janis meneliti suatu peristiwa peristiwa besar di Amerika Serikat yang tidak memberikan suatu kerugian bagi Amerika Serikat baik materi maupun jiwa rakyat Amerika Serikat dan banyak mengundang perhatian public , Penelitian ini boleh jadi merupakan suatu kajian yang didasarkan pada Konstruktivisme saja dimana Janis tidak pernah dapat menerangkan latar belakang .Pendekatan yang digunakann dari pra groupthink dalam peristiwa yang ditelitinya

oleh Janis adalah teori kritis yang memiliki keterikatan moral untuk mengkritik status quo dan membangun masyarakat yang lebih adil. Segi Ontologi

Teori ini hanya mengkaji bagaimana peristiwa yang diteliti oleh Janis hanya samapi pada hasil yang akhir dari suatu terjadinya peristiwa yang diteliti Janis tanpa meyajikan suatu latar belakang dari terjadinya suatu peristiwa yang meyebabkan Groupthink , di mana kebijakan-kebijakan yang mempunyai kualifikasi Groupthink yang diteliti hanyalah pengambilan keputusan dalam peristiwa peristiwa yang banyak

menimbulkan kritik kritik dari masyarakat

Segi Aksiologi

Teori Groupthink menurut Irvings Janis (1972) adalah istilah untuk keadaan ketika sebuah kelompok membuat keputusan yang tidak masuk akal untuk menolak anggapan/ opini publik yang sudah nyata buktinya, dan memiliki nilai moral. Keputusan kelompok ini datang dari beberapa individu berpengaruh dalam kelompok yang irrasional tapi berhasil mempengaruhi kelompok menjadi keputusan kelompok. Teori bermanfaat mungkin hanya untuk menganalisa sebagian saja dari setiap hasil keputusan yang menghasilkan kegagalan atau peristiwa yang merugikan baik materi maupun jiwa , Teori juga bias dijadikan early warning dalam setiap kelompok dalam mengambil keputusan dimana pentingnya suatu masukan masukan yang baik dan teruji dalam mengambil keputusan agar tidak berakibat fatal Penulis Arief Poyuono ,S.E Pemerhati Komunikasi (2011)