Anda di halaman 1dari 77

MODEL PEMBELAJARAN PENDIDIKAN JASMANI

A. Karakteristik Proses Belajar Mengajar (PBM) yang Efektif Pengajaran khususnya dalam pendidikan jasmani dapat dipandang sebagai seni dan ilmu (art and science). Sebagai seni, pengajaran hendaknya dipandang sebagai proses yang menuntut intuisi, kreativitas, improviasi, dan ekspresi dari guru. Ini berarti guru memiliki kebebasan dalam mengambil keputusan dan tindakan proses pembelajaran selama dapat dipertanggung jawabkan sesuai dengan pandangan hidup dan etika yang berlaku. Jadi guru tidak harus selalu terpaku dan terikat formula ilmu mengajar. Pengajaran dapat disebut sebagai ilmu apabila memenuhi karakteristik sebagai berikut: 1. Memiliki daya ramal dan kontrol terhadap pencapaian prestasi belajar siswa (Gage, 1978 di Brucher, 1983). 2. Dapat dievaluasi secara sistematik dan dapat dipecah menjadi rangkaian kegiatan yang dapat dikuasai (Siedentop, 1976). 3. Mengandung pemahaman tentang tingkah laku manusia, pengubahan tingkah laku, rancangan pembelajaran, penyampaian dan manajemen (Siedentop, 1976). 4. Berkaitan erat dengan prinsip belajar seperti kesiapan, motivasi, latihan, umpan balik, dan kemajuan seta urutan (Siedentop, 1976). 5. Dimungkinkannya untuk mengkaji pengajaran dari sudut keilmuan (Siedentop, 1976). Menurut pendapat Siedentop (di Bucher, 1988:550) pengajaran dapat dan harus dapat dipelajari dari sisi teori ilmiah untuk mengembangkan teori pengajaran. Walaupun proses untuk membentuk teori pengajaran pendidikan jasmani merupakan perjalanan yang panjang, namun upaya untuk memahami tentang proses pengajaran merupakan arah yang harus dituju, selama body of knowledge tentang pengajaran belum mapan, atau selama pengajaran cenderung merupakan seni, maka perilaku guru dalam pengajaran akan menjadi tetap menarik untuk dikaji oleh pengamat tingkah laku setiap saat. Tujuan utama pengajaran pendidikan jasmani di sekolah dasar adalah memantau peserta didik agar meningkatkan keterampilan gerak mereka, disamping agar mereka merasa senang dan mau berpartisipasi dalam berbagai aktivitas. Diharapkan apabila mereka memiliki pondasi pengembangan keterampilan gerak, pemahaman kognitif, dan sikap yang positif terhadap aktivitas jasmani kelak akan menjadi manusia dewasa yang sehat dan segar jasmani dan rohani serta kepribadian yang mantap. Hingga dewasa ini salah satu masalah yang dihadapi dengan pelaksanaan pendidikan jasmani adalah langkahnya sarana dan sarana penunjang dan bervariasinya kondisi pendidikan jasmani di sekolah. Bagaimana seorang guru (kelas) dapat mengajarkan pendidikan jasmani dengan sukses dalam situasi keterbatasan dan perbedaan kondisi tersebut di atas? Model pengajaran yang tradisional yang sangat bergantung dari tersedianya sarana dan prasarana serta bersifat linier dalam arti tidak leluasa untuk menyesuaikan dengan kondisi setempat saat itu karena tertumpu pada satu acuan pendekatan mentradisi. Pengajaran reflektif mencakup pengertian guru yang sukses atau efektif dalam arti tercapainya kepuasan profesional. Pendekatan pengajaran refleksi menekankan pada kreatifitas penumbuhan kondisi pembelajaran yang kondusif melalui penerapan berbagai keterampilan pengajaran yang disesuaikan dengan situasi (lingkungan) tertentu. Pengertian pengajaran reflektif tidak menunjuk salah satu metodologi atau model pengajaran tertentu, namun ia menunjuk pada berbagai keterampilan

mengajar yang diadaptasikan secara tepat oleh guru dalam proses belajar mengajar. Guru yang reflektif selalu melakukan penilaian terhadap lingkungan sekitar dalam upaya mengidentifikasi dan memanfaatkan berbagai unsur-unsur secara optimum, guru tersebut memanfaatkan berbagai unsur tersebut secara optimum, guru tersebut kemudian membuat rencana proses pengajarannya. Pengajaran reflektif ini berbeda dengan pengajaran tradisional atau pengajaran invariant yang diberi ciri dengan penggunaan satu metode dalam berbagai situasi pengajaran. Kategori model yang dikemukakan oleh Mosston (1966), sebagai contoh, dapat diterapkan selama model kategori itu sesuai dengan tuntutan kegiatan-kegiatan dan kebutuhan situasional saat itu. Perbandingan pengajaran reflektif dengan pengajaran tradisional (invariant) dapat dilihat pada tabel berikut: Tabel 1 Karakteristik Guru Efektif dan Guru Tradisional Variabel Guru Efektif Guru Tradisional Perencanaan Sesuai rencana pelajaran pada kelas dan anak yang berbeda. Gunakan rencana pelajaran yang sama. Kemajuan Didasarkan pada kondisi faktor: (1) irama dan tingkat perkembangan, (2) kebutuhan keterampilan, (3) perhatian dalam topik atau aktivitas. Didasarkan pada faktor seperti: (1) Unit kegiatan 6 minggu, (2) jumlah materi yang telah dicakup dalam satu semester/tahun, (3) rumus yang ditetapkan sebelumnya. Kurikulum Rancang setiap kelas yang unik setelah diadakan penilaian awal dari kemampuan dan kebutuhan. Gunakan kurikulum yang telah ditetapkan tanpa faktor seperti kemampuan anak, pengaruh masyarakat atau minat anak. Peralatan & fasilitas Modifikasi kegiatan dan pelajaran sesuai peralatan dan fasilitas yang ada di lingkungan. Mengajar sesuai dengan peralatan dan fasilitas yang tersedia. Disiplin Berupaya memahami masalah dan mencari penyebab dan pemecahannya, memodifikasi prosedur pengajarannya. Mengasumsi anak bersikap tidak pada tempatnya dan berupaya mengatasi tingkah laku individu/kelas. Evaluasi Mengevaluasi anak secara teratur dan mengevaluasi keefektifan pengajarannya lewat anak didik dan teman sejawat. Mengevaluasi secara sporadic biasanya berdasarkan pada kesukaan anak dan minat anak kebaikan perilaku anak didik. Selama dua dekade terakhir pengajaran pendidikan jasmani dengan pendekatan refleksi telah berhasil dilaksanakan di beberapa negara seperti Amerika dan Australia. Hasil riset tentang pengajaran menunjukkan bahwa ada tiga butir hal yang penting untuk diperhatikan agar pengajaran pendidikan jasmani efektif dalam arti bahwa anak didik akan memiliki keterampilan bergerak yang tinggi dengan sikap yang positif terhadap kegiatan fisik. Ketiga hal itu meliputi: (1) Anak didik memerlukan latihan praktek yang tepat dan memadai, (2) Latihan praktek tersebut harus memberikan peluang tingkat sukses (rate of success) yang tinggi, dan (3) Lingkungan perlu distrukturisasi sedemikian rupa sehingga menumbuhkan iklim belajar yang kondusif. Memperhatikan kelebihan pendekatan pengajaran reflektif dibandingkan dengan pengajaran tradisional di samping faktor kemungkinan keterlaksanaannya pendekatan pengajaran reflektif di Indonesia, walau masih diperlakukan suatu kajian-kajian empirik yang mendalam, diperkirakan pengajaran reflektif ini dapat digunakan sebagai alternatif utama bagi para guru pendidikan jasmani. Masalah yang dihadapi: Bagaimana merubah wawasan dan perilaku guru agar siap dan mampu melaksanakan pendekatan pengajaran reflektif pada pelajaran pendidikan jasmani di sekolah itu?

Perubahan kurikulum khususnya kurikulum sekolah dasar pada hakikatnya menuntut perubahan wawasan dan perilaku gurunya agar kurikulum yang dirancang dan dikembangkan dapat dilaksanakan sesuai dengan yang diharapkan. Untuk itu sangat perlu direncanakan secara matang mengenai strategi implementasi dari kurikulum tersebut. Penataran dan pelatihan guru, pengadaan fasilitas dan peralatan yang mendukung pelaksanaan kurikulum perlu direncanakan dan diadakan guna mendukung keberhasilan implementasi kurikulum. Seiring dengan perubahan kurikulum sekolah dasar tersebut, maka perubahan kurikulum PGSD program D-II yang sekarang diberlakukan masih banyak mengalami kekurangan. Upaya perbaikan dan pengembangan kurikulum PGSD D-II yang baru ini harus dilakukan dengan cermat dan memperhitungkan berbagai faktor termasuk faktor keterlaksanaannya. Pengalaman empirik selama ini menunjukkan bahwa dari seluruh isi kurikulum pendidikan jasmani yang tertulis itu hanya sebagian kecil saja yang dapat diimplementasikan karena berbagai kendala termasuk terbatasnya sarana dan prasarana pendukung dan keterbatasan wawasan dan kemampuan guru. Mengingat guru mempunyai peran yang penting dalam pengembangan dan pelaksanaan kurikulum, maka panduan untuk guru guna mendukung peran guru tersebut di lapangan maka perlu diadakan. Demikian pula penataran dan pelatihan guru perlu terus diupayakan agar mereka menjadi guru yang profesional dan kreatif dalam arti memecahkan masalah dengan memanfaatkan fasilitas yang ada di lingkungannya. Guru yang reflektif seperti itu sangat diperlukan guna mendukung keterlaksanaan kurikulum secara efektif seperti yang diharapkan. B. Model Pengajaran Pendidikan Jasmani Dari literatur diperoleh gambaran tentang model pengajaran pendidikan jasmani. Beberapa tahun terakhir ini dikembangkan berbagai model pengajaran pendidikan jasmani dan diterapkan dengan berhasil di lapangan. Beberapa model pengajaran tersebut dikemukakan oleh Siedentop, Mand, dan Taggart (1986) sebagai berikut: 1) Pengajaran langsung/perintah (Direct instruction) 2) Pengajaran tugas / pos (Task/station teaching) 3) Pengajaran berpasangan kelompok (Reciprocal/group teaching) 4) Pengajaran sistem kontrak (Personalyzed system of Instruction (PSI)/Mastery Teaching) 5) Manajemen Kontingensi (Contingensi Management) Salah satu spectrum model pengajaran lain juga dikemukakan Mosston (1996). Model Mosston ini didasarkan atas asumsi bahwa keputusan terhadap proses dan produk pengajaran hendaknya bergeser dari pengajaran terpusat pada guru ke terpusat pada anak, dari siswa terikat menjadi siswa bebas (aktif). Mosston mengklasifikasi model pengajaran berdasarkan hasil analisa siapa yang membuat keputusan. Klasifikasi model pengajaran tersebut adalah sebagai berikut. C. Spektrum Gaya Belajar Mengajar Pembahasan mengenai struktur belajar berkaitan dengan bagaimana orang itu belajar. Struktur belajar meliputi matriks kontrak psikologis dan fisiologis yang memberikan penjelasan tentang belajar tentang struktur pelajaran atau pokok bahasan menggambarkan dan menyajikan suatu upaya untuk menghubungkan komponen-komponen pengetahuan dengan cara-cara logis dan berarti. Bagaimana seharusnya guru berperilaku? Bagaimana seharusnya guru mengajar? Agar hal ini secara rinci berkaitan dan menyatu dengan pokok bahasan yang akan dipelajari, dipahami dan didalami oleh siswa. Haruskah kita meninggalkan problem pada dugaan seseorang? Haruskah kita meninggalkan problem kehendak guru secara individu atau pendapat pribadi? Apakah

kurangnya konsep yang jelas tentang struktur mengajar, menimbulkan kesenjangan yang serius di antara struktur pokok bahasan dan struktur belajar? Apakah ini cukup untuk menjelaskan secara rinci dan secara filosofis pada fungsi belajar individu yakni untuk membenarkan atau memperkuat kemungkinan-kemungkinan dengan penelitian di dalam interaksi kognitif, di dalam memperkuat image diri (self image) dan di dalam hubungan sosial? Haruskah kita menyarankan cara-cara operasional untuk mempertemukan atau menjembatani kesenjangan di antara siswa, dan pokok bahasan kita menyusun hubungan yang baru dan bermanfaat yang didasarkan pada keterlibatan dan interaksi dari tiga unsur utama yaitu, guru, siswa dan pokok bahasan (pelajaran)? Mosston mengemukakan spectrum gaya mengajar sebagai upaya menjembatani di antara pokok bahasan dan belajar. Spektrum ini merupakan suatu konsepsi teoritis dan suatu desain atau rancangan operasional mengenai alternatif atau kemungkinan gaya mengajar. Setiap gaya mengajar memiliki struktur tertentu yang menggambarkan peran guru, siswa dan mengidentifikasi tujuan-tujuan yang dapat dicapai jika gaya mengajar ini dilakukan. Gaya mengajar didefinisikan dengan keputusan-keputusan yang dibuat oleh guru dan dibuat oleh siswa di dalam episode atau peristiwa belajar yang diberikan. Jenis-jenis keputusan dibuat oleh guru dan siswa yang menentukan proses dan hasil dari episode itu. Oleh karena itu, spectrum gaya mengajar ini memberikan kepada guru suatu susunan atau aturan tentang alternatif di dalam perilaku mengajar, yang memungkinkan guru mencapai lebih banyak siswa dan memenuhi banyak tujuan. Penemuan dan rancangan spectrum gaya mengajar, yaitu: 1. Masalah yang bertentangan Kebanyakan guru telah dibanjiri dengan banyak ide, program, penemuan-penemuan penelitian, dan bahan-bahan paket. Beberapa di antaranya ada yang berguna, sedangkan yang lain ada yang tidak bermanfaat, tetapi kebanyakan menimbulkan kontradiksi atau pertentangan. Setiap ide telah menyajikan cara pemecahan tunggal (singular) terhadap program pendidikan jasmani. Seperti, individualisasi dengan pengajaran kelompok, pemecahan masalah (problem solving) dengan belajar yang bersifat menghafal (tanpa berpikir), permainan bola dengan aktivitas perkembangan, yang beberapa ide tersebut menggambarkan permasalahan yang bertentangan. Polaritas atau sifat berlawanan ini telah menimbulkan kebingungan dan ketidakseimbangan di dalam desain program dan di dalam mengajar pendidikan jasmani. Padahal siswa perlu berpengalaman dan mengembangkan pada semua dimensi. Masalahnya adalah bagaimana guru mengetahui, bagaimana menyatakan ide-ide tersebut di atas ke dalam perilaku mengajarnya? Pengamatan ini yang mendorong penemuan dan membuat desain spectrum gaya mengajar ini. Spektrum ini didasarkan pada suatu ide yang tidak saling bertentangan. Hal-hal pokok ini saling berhubungan di antara gaya-gaya mengajar daripada perbedaannya. 2. Belajar dan Mengajar Pengaman kedua dialamatkan pada ketidaksesuaian yang ada di antara belajar dan mengajar. Jiwa siswa di dalam cara yang berbeda atau memperlihatkan perilaku belajar yang berbeda, maka yang sangat penting untuk mengidentifikasi gaya mengajar yang akan dilakukan, dengan cara yang teliti, yang mendatangkan perilaku belajar tertentu, khususnya jika setiap perilaku belajar dan dapat mencapai seperangkat tujuan tertentu. Spektrum gaya mengajar ini merupakan struktur mengajar yang mengidentifikasi gaya-gaya

tertentu. Spektrum mengidentifikasi struktur setiap gaya dan hubungannya dengan gaya mengajar yang lain. Spektrum ini mengidentifikasi prosedur penerapan pada berbagai kegiatan dan pelaksanaan dan setiap gaya pada pertumbuhan dan perkembangan siswa di dalam domain fisik, emosi, sosial, dan domain kognitif. Masalah utamanya adalah bahwa apakah guru memiliki hubungan intrinsik dan hubungan langsung dengan perilaku belajar. Spektrum gaya mengajar ini memberikan kepada guru kemampuan untuk memilih gaya mengajar tertentu yang akan meminta kesesuaian dengan gaya mengajar. Hal ini memberikan kepada guru pengetahuan tentang bagaimana melakukannya dengan berhati-hati dan teliti. Suatu pengajaran yang bersifat umum, sewenang-wenang (sekehendak guru) dan yang bersifat kebutuhan tidak dapat dilakukan dengan gaya mengajar Mosston ini. 3. Perilaku yang unik dan universal Pendekatan mengajar selalu memiliki keunikan yang bersandar pada ide bahwa mengajar adalah bersifat intuitif, spontan, dan kadang-kadang bersifat mistik, ini sebenarnya dikaitkan karena pemberian kebebasan kepada para guru untuk melakukan sesuatu. Ide ini didorong oleh ungkapkan seperti: Kebebasan individu, Cara saya, Kerja saya, Mengajar kreatif, mengajar adalah suatu seni dan sebagainya. Tidak ada upaya untuk menyangkal keberadaan daya keunikan itu, serangkaian keunikan, tidak menyajikan teori mengajar pada profesi yang dapat dibuat pegangan profesi yang dapat dibuat pegangan. Keunikan seseorang tidak memberikan dasar-dasar pemahaman perwujudan mengajar dan pengaruhnya pada perilaku belajar. Sebenarnya di dalam mengajar bahwa suatu teori yang universal pada struktur mengajar sangat diperlukan. Hal ini akan mendasari guru lebih memungkinkan untuk mengajar, menganalisis mengajarnya di dalam cara yang rasional, dan untuk menaksir dan menilai kompetisi guru. Suatu teori yang universal akan memberikan cara untuk mengidentifikasi berbagai dugaan peranan baik guru maupun siswa serta cara untuk mengidentifikasi apakah tindakan guru sesuai dengan maksud atau tujuan guru. Ketiga pengamatan ini telah mendorong penemuan dan mendesain atau merancang spectrum gaya mengajar. Berdasarkan gambaran singkat itu, mengakibatkan adanya perkembangan spectrum gaya mengajar adalah: Tahap pertama, kita menentukan aksioma tentang aktivitas mengajar adalah bahwa perilaku mengajar adalah suatu rangkaian pembuatan keputusan. Pernyataan ini memberikan konsep universal, karena semua guru di dalam bidang studi atau pokok bahasan sepanjang waktu itu digunakan di dalam pembuatan keputusan. Tahap kedua, adalah untuk mengidentifikasi kategori-kategori keputusan yang harus selalu dibuat di dalam berbagai aktivitas belajar mengajar. Ini merupakan keputusan tentang tujuantujuan, pokok bahasa, aktivitas tertentu, pengorganisasian materi, bentuk-bentuk feddback (umpan balik) kepada siswa dan sebagainya. Kategori-kategori keputusan itu diorganisasikan atau disusun di dalam tiga perangkat yang memberikan rangkaian keputusan-keputusan dalam berbagai transaksi belajar mengajar. Perangkap pertama adalah pra-pertemuan (pre-impact), meliputi keputusan-keputusan yang harus dibuat sebelum berhadapan di antara guru dan siswa. Perangkat kedua adalah selama pertemuan (impact), meliputi keputusan-keputusan yang harus dibuat selama penampilan atau pelaksanaan tugas. Perangkat ketiga adalah pasca pertemuan (post-impact), meliputi keputusan-keputusan yang harus dibuat yang berkaitan dengan evaluasi pelaksanaan dan

feedback kepada siswa. Dengan kata lain, ketiga perangkat tersebut dapat dikatakan sebagai: a. tahap perencanaan; b. tahap pelaksanaan; dan c. tahap evaluasi. Ketiga perangkat ini membentuk suatu anatomi berbagai gaya mengajar. D. Anatomi Gaya Mengajar Anatomi gaya mengajar menyajikan konsep universal, karena keputusan-keputusan dalam tiga perangkat ini biasanya dibuat di dalam berbagai kegiatan mengajar. Struktur gaya mengajar individual dan kedudukan spectrum ini ditentukan dengan mengidentifikasi yang membuat keputusan tertentu di dalam tiap perangkat. Dengan demikian, setiap gaya diidentifikasi dengan pembagian keputusan-keputusan tertentu yang dibuat guru dan siswa di dalam episode yang diberikan. Susunan gaya-gaya mengajar itu mulai dari gaya komando, yang menggambarkan spectrum gaya-gaya mengajar. Perangkat Keputusan Keputusan-keputusan yang harus dibuat Tentang: Pra-Pertemuan 1. Tujuan / sasaran pelajaran (pokok bahasan) (berisi: persiapan) 2. Pemilihan gaya mengajar 3. Gaya belajar yang diharapkan 4. Siapa yang akan diajar 5. Pokok bahasan 6. Di mana mengajar (lokasi) 7. Kapan mengajar: a. Waktu mulai b. Kecepatan dan irama pelajaran c. Lama pelajaran d. Waktu berhenti e. Interval f. Waktu pengakhiran 8. Sikap tubuh 9. Pakaian dan penampilan 10. Komunikasi 11. Cara menjawab pertanyaan 12. Rencana organisasi 13. Parameter 14. Suasana kelas / pelajaran 15. Materi dan prosedur evaluasi 16. Lain-lain Selama pertemuan 1. Pelaksanaan dan mengikuti pada keputusan-keputusan (berisi pelaksanaan pra-pertemuan dan penampilan) 2. Menyelesaikan keputusan-keputusan 3. Lain-lain Pasca pertemuan 1. Pengumpulan informasi tentang pelaksanaan dalam (berisi Evaluasi perangkat, selama pertemuan (dengan mengamati mendengarkan Sentuhan dan sebagainya) 2. Menilai informasi dengan kriteria (peralatan, prosedur, materi, norma, nilai dan sebagainya).

3. Feedback (umpan balik).

Anatomi gaya mengajar ini mengidentifikasi rangkaian atau urutan perangkat keputusankeputusan yang harus dibuat berbagai belajar-mengajar. Perangkat keputusan-keputusan pra-pertemuan selalu mendahului berbagai transaksi di antara guru dan siswa. Keputusan-keputusan pelaksanaan yakni selama pertemuan selalu mengikuti keputusan-keputusan yang ditentukan di dalam pra-pertemuan. Penampilan atau pelaksanaan yang telah dilakukan kemudian dievaluasi dan keputusan-keputusan feedback yakni pada pasca pertemuan. Rangkaian keputusan ini selalu berlangsung tanpa mengabaikan lamanya episode atau pelaksanaan pelajaran. Rangkaian ini terjadi jika satu latihan dilakukan, jika satu seri latihan terdiri dari episode, jika suatu keterampilan tertentu dilakukan di dalam permainan bola, atau jika seluruh permainan bola dilakukan. 1. Perangkat Pra Pertemuan Sebelum berbagai penampilan atau pelaksanaan suatu keputusan aktivitas pelajaran harus dibuat, maka pada perangkat pra-pertemuan dibuat keputusan yang berkaitan. a. Tujuan / sasaran pelajaran; yaitu keputusan harus dibuat untuk tujuan kegiatan tertentu. Keputusan ini mengidentifikasi hasil yang dicapai pada akhir pelajaran. b. Penentuan (pemilihan gaya mengajar); yakni guru benar-benar mengetahui kegiatan tertentu. Keputusan ini mengidentifikasi hasil yang dicapai pada akhir pelajaran. c. Gaya belajar yang diharapkan; yakni dua keputusan pertama mengarah pada realisasi gaya belajar di dalam episode yang diberikan yang akan mengungkapkan gaya mengajar itu. Keputusan tentang gaya belajar ditemukan untuk mempertinggi keputusan di dalam dua kategori sebelumnya. d. Siapa yang akan diajar; di dalam situasi kelas pelajaran, keputusan harus dibuat kepada siapa dialamatkan pada saat porsi pelajaran yang berbeda; apakah seluruh kelas? Satu kelompok? Atau untuk individu? e. Pokok bahasan/pelajaran; keputusan harus dibuat apakah pokok bahasan akan diajar oleh guru sendiri, atau apakah tugas akan diberikan kepada siswa. Kategori ini meliputi empat keputusan tambahan yaitu: 1) Mengapa pokok bahasan ini disampaikan Ini meliputi dasar pemikiran atau alasan pemilihan tugas ini. Apakah tugas ini menyelesaikan atau mencapai tujuan? 2) Kuantitas; setiap tugas didalam pendidikan jasmani memiliki kuantitas, misalnya, 10 kali menembak; 20 kali push-up; lari 1 km, dan sebagainya. Oleh karena itu, keputusan kuantitas ini harus dibuat. 3) Kualitas; setiap tugas yang dilakukan menyajikan tingkat kualitas yakni bagaimana tugas itu dilakukan? 4) Urutan; setiap tugas di dalam pendidikan jasmani memiliki urutan tertentu, yang menunjukkan urutan atau rangkaian gerakan. f. Di mana mengajar (lokasi); setiap aktivitas berlangsung pada beberapa tempat, maka keputusan lokasi harus dibuat. g. Kapan mengajar; kategori ini meliputi keputusan-keputusan yang berkaitan dengan beberapa aspek waktu, yaitu: (1) Waktu mulai; setiap tugas (misalnya; lari, loncat/lompat, lempar dan sebagainya) memiliki waktu mulai. (2) Kecepatan dan irama pelajaran, tidak ada gerakan tanpa kecepatan dan irama pelajaran

dalam pendidikan jasmani. (3) Lama pelajaran; semua aktivitas termasuk pembagian waktu. (4) Waktu berhenti; setiap tugas berakhir pada waktu yang ditentukan. (5) Interval (selang waktu antara tugas-tugas); yakni menunjukkan pada waktu yang diperlukan diantara dan tugas. (6) Waktu pengakhiran (terminasi). h. Sikap tubuh (postur); semua tugas did alam pendidikan jasmani meliputi berbagai sikap tubuh untuk membantu atau menyelesaikan tujuan dari setiap tugas. i. Pakaian dan penampilan; keputusan ini menunjukkan pada pakaian dan penampilan dari siswa did alam gedung olahraga, lapangan permainan dan sebagainya. j. Komunikasi; suatu keputusan harus dibuat tentang komunikasi yang digunakan selama episode, misalnya berbicara demonstrasi fisik dan sebagainya. k. Cara menjawab pertanyaan di dalam berbagai peristiwa belajar-mengajar, berbagai pertanyaan mungkin muncul di antara siswa. l. Rencana/susunan organisasi; kategori ini meliputi semua persiapan logistik yang perlu untuk menyelesaikan atau mencapai tujuan dari episode. m. Parameter; suatu keputusan harus mengenai batas-batas yang mungkin perlu di dalam kategori tersebut di atas, keputusan parameter tentang tempat, waktu dan sebagainya. n. Suasana kelas/pelajaran; kategori ini menunjukkan pada suasana sosial dan sikap di dalam kelas/pelajaran selama episode. Suasana ini ditentukan oleh jumlah total dari keputusan yang dibuat di dalam kategori sebelumnya. o. Materi dan prosedur evaluasi; suatu keputusan harus dibuat tentang jenis evaluasi yang akan dilakukan setelah penampilan/pelaksanaan tugas. p. Lain-lain; seperangkat keputusan pra-pertemuan ini merupakan suatu struktur tambahan. Jika ingin mengidentifikasi kategori tambahan, maka dapat ditambahkan.

2. Perangkat Selama Pertemuan Perangkat selama pertemuan meliputi keputusan-keputusan yang berkaitan dengan penghantaran atau pengalihan dan penampilan tugas-tugas. Keputusan-keputusan yang diambil selama pelajaran berlangsung adalah: a. Melaksanakan dan mengikuti keputusan-keputusan pra-pertemuan. b. Menyesuaikan keputusan-keputusan. Ada beberapa keputusan yang dibuat di dalam kegiatan yang tidak sesuai atau ketidakserasian di dalam berbagai kategori ini. Kadangkadang hal-hal yang tidak berjalan seperti yang diharapkan di dalam kategori keputusan yang dibuat. Jika hal ini terjadi, maka penyesuaian keputusan dibuat dan episode berjalan terus. Penyesuaian itu tetap pada gerak guru ataupun siswa. c. Lain-lain jika berbagai keputusan lain, sebelumnya tidak diidentifikasi, maka dapat disisipkan atau dimasukkannya. 3. Perangkat Pasca Pertemuan Serangkaian keputusan yang berkaitan dengan evaluasi dengan evaluasi pelaksanaan dan feedback yang diberikan kepada siswa. Keputusan-keputusan ini dibuat selama atau sesudah pelaksanaan tugas. Kategori-kategori ini pada hakikatnya merupakan suatu rangkaian. a. Pengumpulan informasi tentang pelaksanaan; pertama guru harus melihat pada pelaksanaan dan mengumpulkan informasi mengenai penampilan atau pelaksanaan itu. Hal ini sebagai dasar membuat keputusan untuk langkah selanjutnya. b. Menilai informasi dengan kriteria Hanya setelah guru mengamati pelaksanaan tugas siswa, guru dapat membuat keputusan tentang apakah memenuhi kriteria yang ditentukan standar dan tujuan yang ditetapkan.

c. Feedback, Informasi tentang pelaksanaan telah dikumpulkan, kualitas pelaksanaan telah dinilai dengan kriteria yang ada, maka feedback kepada siswa dapat diberikan. Feedback dapat diberikan dengan berbagai cara, misalnya dengan sikap atau Sentuhan. Ini sebenarnya merupakan cara komunikasi atau interaksi di antara guru dengan siswa. Kebanyakan komunikasi atau interaksi di antara guru dengan perhatian. Perkataan atau perilaku verbal.

E. Pelaksanaan dan Penerapan Spektrum Gaya Mengajar Pelaksanaan dan penerapan gaya-gaya mengajar dalam pendidikan jasmani perlu disesuaikan dengan kondisi dan situasi belajar-mengajarnya. Dougherly dan Bonanno mengemukakan padangannya terhadap gaya-gaya mengajar dikemukakan oleh Mosston tentang karakteristik, pertimbangan-pertimbangan mengajar tertentu, dan kelebihan dan kekurangannya. Selanjutnya ia mengemukakan pendapatnya dalam melaksanakan dan menerapkan gaya mengajar tersebut, adalah: 1. Tidak ada gaya mengajar yang paling baik untuk selamanya. Setiap gaya mengajar memiliki kelebihan dan kekurangan tertentu pada gaya itu sendiri. Faktor-faktor ini harus ditekankan yang berkaitan dengan tujuan-tujuan tertentu dari pelajaran, kesiapan siswa untuk mengambil keputusan faktor lain. 2. Ada periode yang membuat atau menyebabkan berhenti yang harus diamati, jika gaya mengajar beralih ke arah yang lebih menekan kepada siswa pada akhir dari rangkaian kesatuan gaya mengajar. Orang (siswa) yang tidak pernah memiliki kesempatan untuk membuat keputusan di dalam kelas/pelajaran tidak dapat mengemukakan dasar pemikiran yang bersifat emosional dan intelektual, diharapkan melakukan atau membuat lebih banyak keputusan melakukan atau membuat lebih banyak keputusan tanpa periode latihan dan pengembangan secara bertahap. Sebaliknya, guru yang membiasakan mendominasi membuat keputusan seharusnya berusaha mengekang perilaku ini dan memberikan lebih banyak kesempatan (Keleluasaan) pada siswa untuk membuat dari gaya mengajar komando. Transisi atau peralihan ini sangat efektif dilakukan secara perlahan dan cermat. Ini jauh lebih meningkatkan dalam membuat keputusan-keputusan kecil atau sederhana daripada diberikan terlalu banyak tetapi sulit dilakukan siswa. 3. Jika pelajaran ternyata tidak berhasil, maka dengan berhati-hati dalam menilai semua variabel atau faktor did alam situasi mengajar sebeluym menyalahkan gaya mengajar itu sendiri. Sebagaimana di dalam berbagai pengajaran yang lain, terdapat banyak kemungkinan kesulitan yang tidak tampak pada setiap gaya mengajar. Salah satu diantaranya adalah alternatif atau kemungkinan pada gaya mengajar itu. Jika pelajaran mengalami kegagalan, maka pertimbangan dan meninjau kembali semua variabel atau faktor sebelum menyalahkan kegagalan atau ketidaksesuaian pada gaya mengajar itu sendiri. Kita dapat meninjau kembali dan mempertanyakan seperti: a. Apakah siswa mempersiapkan untuk membuat jenis-jenis keputusan sesuai dengan yang diharapkan? b. Apakah guru menyampaikan informasi persiapan yang cukup kepada siswa? c. Apakah guru melakukan gaya mengajar dengan benar? d. Apakah guru memberikan feedback tidak hanya berkaitan dengan penampilan fisik, tetapi juga penyesuaian dengan gaya yang digunakan? e. Apakah gaya mengajar sesuai dengan pelajaran? 4. Jangan ragu atau takut untuk mengkombinasi gaya-gaya mengajar. Tidak ada yang begitu keramat atau agung tentang gaya mengajar tertentu yang tidak dapat dikombinasikan dan dimodifikasi yang sesuai dengan keinginan dan kebutuhan individu. Guru dan siswa samasama senang dan enak dengan seluruh rentang perilaku, tidaklah salah guru mengkombinasikan elemen-elemen untuk membentuk gaya mengajar baru. Yang menjadi

faktor penting adalah bahwa gaya mengajar baru itu harus secara sadar digunakan dan dikembangkan yang didasarkan pada pertimbangan dan penilaian yang matang. 5. Jangan terpaku atau terkunci pada gaya mengajar tertentu. Pengulangan gaya mengajar yang terus menerus tanpa mengabaikan perubahan-perubahan pelajaran/pokok bahasan adalah sama-sama menjemukan siswa maupun guru. Sedangkan sejumlah pengamanan dan pengulangan tertentu adalah perlu. Terutama bagi anak-anak kecil, bahwa terlalu banyak (apa saja) adalah kurang baik. Guru yang baik adalah mereka yang tidak terelakkan dari hal-hal yang memiliki berbagai perilaku mengajar yang luas dan yang mengubah perilaku mereka berdasarkan situasi tertentu. Ini sebenarnya merupakan nilai utama dari spectrum gaya mengajar itu. Nilai ini memberikan cara yang tersusun dengan jelas tentang pemilihan dan pengembangan berbagai kemungkinan perilaku mengajar. Guru yang lebih banyak memiliki alternatif, akan lebih memudahkan dalam menyelesaikan persoalan, selain itu, guru yang baik dapat menyesuaikan perilaku mengajar yang disesuaikan dengan kebutuhan siswa dan isi pelajaran, sehingga lebih besar kemungkinan berhasil. 6. Ingat bahwa gaya mengajar itu hanya baik jika pelakunya baik atau dilakukan dengan baik. Tidak ada gaya mengajar yang dapat berhasil tanpa persiapan yang bijaksana dan perhatian yang teliti. Tidak ada gaya mengajar yang dapat mengganti atau mengimbangi kekurangan tentang keahlian atau kecakapan di dalam pelajaran selama mengajar atau karena kurangnya kesungguhan siswa. Guru seharusnya mau bekerja dengan sungguh-sungguh dan memperhatikan siswanya. Dalam mata rantai yang sangat berharga, namun demikian spectrum gaya mengajar ini memberikan bermacam-macam strategi mengajar yang menarik dan produktif yang dapat disesuaikan dan dimodifikasi yang sesuai dengan kebutuhan dari setiap situasi mengajar yang baru.

F. Gaya Komando 1. Anatomi Gaya Komando a. Dalam setiap anatomi gaya, Mosston meninjau dari tiga perangkat keputusan: prapertemuan, selama pertemuan berlangsung, dan pasca pertemuan. Keputusan yang dibuat guru dan yang akan diteruskan kepada siswa dinyatakan sebagai berikut: G = Keputusan Guru S = Keputusan Siswa b. Untuk gaya komando atau gaya perintah ini, semua keputusan diambil oleh guru. Jadi diagram tentang keputusan-keputusan untuk gaya komando ini adalah sebagai berikut: A Pra-pertemuan G Dalam pertemuan G Pasca pertemuan G 2. Sasaran Gaya Komando a. Bagian ini akan merinci peranan guru, peranan siswa dan hasil yang dicapai karena penggunaan gaya yang diuraikan. b. Dengan menggunakan gaya komando, maka sasaran yang dicapai akan melibatkan siswa yang akan mengikuti petunjuk-petunjuk guru, dengan sasaran-sasaran sebagai berikut: (1) Respons langsung terhadap petunjuk yang diberikan (2) Penampilan yang sama / seragam (3) Penampilan yang disinkronkan (4) Penyesuaian

(5) Mengikuti model yang telah ditentukan (6) Mereproduksi model (7) Ketepatan dan kecermatan respons (8) Meneruskan kegiatan dan tradisi kultural (9) Mempertahankan tingkat estetika (10) Meningkatkan semangat kelompok (11) Penggunaan waktu secara efisien (12) Pengawasan keamanan 3. Menyusun Pelajaran Gaya Komando a. Semua keputusan pra-pertemuan dibuat oleh guru (1) Pokok bahasan (2) Tugas-tugas (3) Organisasi (4) Dan lain-lain b. Semua keputusan selama pertemuan berlangsung dibuat oleh guru: (1) Penjelasan peranan guru dan siswa (2) Penyampaian pokok bahasan (3) Penjelasan prosedur organisasi (a) Regu, kelompok (b) Penempatan dalam wilayah kegiatan (c) Perintah yang harus diikuti (4) Urutan kegiatan (a) Peragaan (b) Penjelasan (c) Pelaksanaan (d) Penilaian c. Keputusan pasca-pertemuan (1) Umpan balik kepada siswa, (2) Sasarannya: harus memberi banyak waktu untuk pelaksanaan tugas.

4. Implikasi Penggunaan Gaya Komando a. Standar penampilan sudah mantap dan pada umumnya satu model untuk satu tugas. b. Pokok bahasan dipelajari secara meniru dan mengingat melalui penampilan. c. Pokok bahasan dipilih-pilah menjadi bagian-bagian yang dapat ditiru. d. Tidak ada perbedaan individual diharapkan menirukan model. 5. Unsur-unsur Khas dalam Pelajaran dengan Gaya Komando a. Semua keputusan dibuat oleh guru b. Menuruti petunjuk dan melaksanakan tugas merupakan kegiatan utama dari siswa. c. Menghasilkan tingkat kegiatan yang tinggi. d. Dapat membuat siswa merasa terlibat dan termotivasi e. Mengembangkan perilaku berdisiplin karena prosedur yang telah ditetapkan. 6. Saluran-saluran Pengembangan Gaya Komando a. Menurut Mosston, selama masa belajar-mengajar, setiap orang memperoleh kesempatan untuk mengembangkan keterampilan-keterampilan fisik, sosial, emosional, dan kognitifnya. b. Mosston berbicara tentang empat saluran perkembangan: 1) Saluran fisik meningkatkan dengan pesat selama menggunakan Gaya Komando. 2) Saluran sosial-terbatas 3) Saluran emosional terbatas

4) Saluran kognitif terbatas.

G. Gaya Latihan Dalam Gaya Latihan, ada beberapa keputusan selama pertemuan berlangsung yang dipindahkan dari guru ke siswa. Pergeseran keputusan ini memberi peranan dan perangkat tanggung jawab baru kepada siswa. 1. Anatomi Gaya Latihan AB Pra-pertemuan : G G Pertemuan : S S Pasca Pertemuan : G G 2. Sasaran Gaya Latihan Sasaran gaya latihan berbeda dari sasaran gaya komando, dalam hubungannya dengan perilaku guru dan peranan siswa. Sasaran yang berhubungan dengan tugas penampilan adalah : a. Berlatih tugas-tugas yang telah diberikan sebagaimana yang telah didemonstrasikan dan dijelaskan. b. Memperagakan/mendemonstrasikan tugas penampilan yang diberikan. c. Lamanya waktu latihan berkaitan dengan kecakapan penampilan d. Memiliki pengalaman dan pengetahuan tentang hasil (balikan) yang diberikan guru dalam berbagai bentuk. 3. Peranan Guru dan Siswa a. Siswa membuat keputusan selama pertemuan berlangsung mengenai: 1) Sikap (postur) 2) Tempat 3) Urutan pelaksanaan tugas 4) Waktu untuk memulai tugas 5) Kecepatan dan irama 6) Waktu berhenti 7) Waktu sela di antara tugas-tugas Memprakarsai pertanyaan-pertanyaan. b. Peranan guru sedikit berubah dari Gaya Komando untuk menjadi Gaya Latihan 1) Guru memberi kesempatan kepada siswa untuk bekerja sendiri 2) Memberi balikan secara pribadi kepada siswa 3) Memiliki kesempatan untuk meningkatkan interaksi individual dengan setiap siswa. 4) Harus memberi kesempatan kepada siswa untuk menyesuaikan diri dengan peranan baru mereka. 4. Implikasi Gaya Latihan a. Satu-satunya keputusan siswa dalam Gaya Komando adalah untuk bergerak sesuai dengan petunjuk. Dalam episode-episode Gaya Latihan, siswa harus: 1) Mengenal / mengetahui yang diharapkan dari kelas, 2) Menerima pemberian tugas, 3) Membuat keputusan sambil menjalankan tugas 4) Menerima balikan b. Sekarang disediakan waktu bagi siswa untuk mengatur: kapan memulai, kapan berhenti, waktu sela antara tugas-tugas.

c. Siklus kegiatan adalah: 1) Pencapaian tugas oleh guru (peragaan, penjelasan) 2) Pelaksanaan tugas oleh siswa, 3) Pengamatan dan penilaian oleh guru (umpan balik). d. Peranan baru siswa, keputusan-keputusan dan peranan guru harus dijelaskan di kelas. 1) Karena perubahan dari perintah ke latihan, maka siswa perlu memahami peranan mereka dan meyakininya oleh guru. 2) Perubahan menimbulkan ketegangan dan kadang-kadang ketidakpastian, jadi harus diusahakan agar siswa merasa enak dengan tanggung jawab baru mereka. 3) Gaya Latihan mungkin perlu dimulai dengan memakai satu tugas saja dan menambah waktu bagi siswa untuk mengambil keputusan dalam beberapa jam pelajaran. Dengan demikian mereka berkesempatan untuk menyesuaikan diri dengan peranan baru mereka. 5. Pemilihan Pokok Bahasan dan Desain Gaya Latihan Jenis-jenis kegiatan yang dapat dipakai dalam Gaya Latihan ini adalah: a. Tugas-tugas tetap yang dapat dilaksanakan menurut suatu model khusus. b. Dapat dinilai dengan kriteria benar dan tidak benar, dan pengetahuan tentang hasil-hasil. 6. Merencanakan Pelajaran dalam Gaya Latihan a. Lembaran tugas atau kartu Gaya Latihan dibuat untuk meningkatkan efisiensi Gaya Latihan. Ini dapat didesain untuk ditempatkan didinding atau dibuat untuk masing-masing siswa. 1) Membantu siswa untuk mengingat tugasnya (apa yang harus dilakukan dan bagaimana melakukannya). 2) Mengurangi pengulangan penjelasan oleh guru. 3) Mengajar siswa tentang bagaimana mengikuti tanggung jawab tertulis untuk menyelesaikan tugas-tugas. 4) Untuk mencatat kesempatan mengabaikan peragaan dan penjelasan oleh siswa, dan kemudian guru harus menyisihkan waktu lagi untuk mengulangi penjelasan yang telah diberikan. Manipulasi siswa secara demikian akan mengurangi interaksi guru dalam: (a) meningkatkan tanggung jawab siswa, (b) guru mengarahkan perhatian siswa kepada keterangan di lembaran tugas dan pada tugastugas lain yang harus dilakukan. b. Desain lembaran tugas 1) Berisi keterangan yang diperlukan mengenai apa yang harus dilakukan dan bagaimana melakukannya, dengan berfokus pada tugas. 2) Merinci tugas-tugas khusus 3) Menyatakan banyaknya tugas (a) Ulangan (b) Jarak 4) Memberi arah bagi siswa dalam melaksanakan tugas. 5) Kriteria yang didasarkan atas hasil yang dapat diketahui dan dilihat oleh siswa. 7. Rencana Keseluruhan Pelajaran a. Memberikan rencana keseluruhan untuk episode-episode (unit-unit) yang akan diajarkan. b. Kalau lembaran tugas telah merinci tugas-tugas bagi siswa, maka rencana pelajaran yang akan diberikan oleh guru tentang semua keterangan yang akan diberikan oleh guru tentang semua keterangan yang diberikan oleh guru tentang semua keterangan yang diperlukan untuk memimpin kelas. c. Apabila kelak Anda akan mengajar di kelas ini Anda perlu merencanakan pelajaran dan lembaran tugas bagi siswa.

d. Lembaran tugas terlampir dapat dipakai sebagai contoh format. e. Komponen-komponen Rencana Pelajaran terdiri dari : 1) Rencana: tanggal, waktu, nama: semua harus jelas. 2) Tekanan pelajaran: harus disebutkan semua kegiatan yang akan diajarkan. 3) Peralatan: semua yang diperlukan dalam pelajaran. 4) Alat bantu mengajar: apa yang dibutuhkan guru selain alat-alat kegiatan seperti proyektor, lembaran tugas, dan lain-lain. 5) Sasaran penampilan: dinyatakan dengan jelas dengan memakai istilah-istilah penampilan (operasional) tentang apa yang diharapkan untuk dapat dilakukan pada akhir pelajaran. 6) Penilaian penampilan: bagaimana mengukur sasaran yang telah dicapai. 7) Nomor sasaran: Penjelasan harus sesuai dengan sasaran penampilan yang dimaksud. Isi = kegiatan Prosedur = peragaan, penjelasan Organisasi = pengaturan peralatan dan siswa, langkah-langkah dalam tiap episode. Diagram = Memperlihatkan pengaturan logistik. 9) Waktu yang diperkirakan: beberapa banyak waktu yang diperlukan untuk setiap komponen pelajaran. 10) Butir-butir pelajaran penting: petunjuk bagi guru tentang konsep, pemikiran dan keterangan, untuk ditekankan dan jangan lupa untuk dimasukkan.

KERTAS TUGAS Nama : Kelas : Tanggal : Mata Pelajaran Perintah untuk murid: Uraian Tugas Jumlah Tugas Komentar Kemajuan Umpan Balik 1. a. b. c. 2. a. b. c.

H. Gaya Resiprokal Dalam gaya mengajar resiprokal, tanggung jawab memberikan umpan balik bergeser dari guru ke teman sebaya. Pergeseran peranan ini memungkinkan: 1. Peningkatan interaksi sosial antara teman sebaya dan 2. Umpan balik langsung. 1. Anatomi Gaya Resiprokal Di dalam perangkat keputusan sebelum pertemuan. Pengadaan umpan balik langsung digeser kepada seorang pengamat (a)

a. Kelas diatur berpasangan dengan peranan-peranan khusus untuk setiap partner. 1) Salah satu dari pasangan adalah pelaku (p) 2) Lainnya menjadi pengamat (a) 3) Guru (G) memegang peranan khusus untuk berkomunikasi dengan pengamat. P P a G P G 4) Peranan pelaku sama seperti dalam Gaya Latihan 5) Peranan pengamat adalah memberikan umpan balik kepada pelaku dan berkomunikasi dengan guru. 6) Guru mengamati baik p maupun a tetapi hanya berkomunikasi dengan a. - Guru membuat semua keputusan sebelum pertemuan. - Pelaku membuat keputusan selama pertemuan - Pengamat membuat keputusan umpan balik sesudah pertemuan AUC Pra Pertemuan G G G Dalam Pertemuan G S P Pasca Pertemuan G G a 2. Sasaran Gaya Resiprokal Sasaran gaya resiprokal ini berhubungan dengan tugas dan peranan murid.

a. Tugas (pokok Bahasan) 1) Memberi kesempatan untuk latihan berulang kali dengan seorang pengamat. 2) Murid menerima umpan balik langsung 3) Sebagai pengamat, murid memperoleh pengetahuan mengenai penampilan tugas. b. Peranan siswa 1) Memberi dan menerima umpan balik 2) Mengamati penampilan teman, membandingkan dan mempertentangkan dengan kriteria yang ada, menyampaikan hasilnya kepada pelaku. 3) Menumbuhkan kesabaran dan toleransi terhadap kawan. 4) Memberikan umpan balik. 3. Pelaksanaannya Gaya Resiprokal a. Dalam gaya resiprokal ada tuntutan-tuntutan baru bagi guru dan pengamat. 1) Guru harus menggeser umpan balik kepada siswa (a) 2) Pengamat harus belajar bersikap positif dan memberi umpan balik. 3) Pelaku harus belajar menerima umpan balik dari teman sebaya - ini memerlukan adanya rasa percaya b. Keputusan-keputusan 1) Sebelum pertemuan: - Guru menambahkan lembaran desain kriteria kepada pengamat untuk dipakai dalam gaya ini. 2) Selama pertemuan: a). Guru menjelaskan peranan-peranan baru dari pelaku (p) dan pengamat (a). b). Perhatian bahwa pelaku berkomunikasi dengan pengamat dan bukan dengan guru.

c). Jelaskan bahwa peranan pengamat adalah untuk menyampaikan umpan balik berdasarkan kriteria yang terdapat dalam lembaran yang diberikan. 3) Sesudah pertemuan: a). Menerima kriteria b). Mengamati penampilan pelaku c). Membandingkan dan mempertentangkan penampilan dengan kriteria yang diberikan. d). Menyimpulkan apakah mengenai penampilan benar atau salah. e). Menyampaikan hal-hal mengenai penampilannya kepada pelaku. 4) Peranan guru adalah : a. Menjawab pertanyaan-pertanyaan dari pengamat. b. Berkomunikasi dengan pengamat saja. (1) Ini memungkinkan timbulnya saling percaya antara pelaku dan pengamat. (2) Komunikasi guru dengan pelaku akan mengurangi peranan pengamat. 5) Pada waktu tugas telah terlaksana, pelaku dan pengamat berganti peranan. 6) Proses pemilihan partner dan pemantauan keberhasilan proses adalah penting. 7) Guru bebas untuk mengamati banyak siswa selama pelajaran berlangsung. c. Pemilihan pokok bahasan: 1) Ini menentukan garis-garis pedoman untuk perilaku pengamat. 2) Lima bagian lembaran kriteria adalah: a) Uraian khusus mengenai tugas (termasuk pembagian tugas secara berurutan). b) Hal-hal yang khusus yang harus dicari selama penampilan (kesulitan yang potensial). c) Gambar atau sketsa untuk melukiskan tugas. d) Contoh-contoh perilaku verbal untuk dipakai sebagai umpan balik. e) Mengingatkan peranan pengamat (apabila siswa telah memahami gaya ini, bagian ini bisa dihapuskan). 4. Pertimbangan-pertimbangan khusus untuk Gaya Resiprokal Interaksi antara guru dan pengamat: a. Pengamat harus dianjurkan untuk berkomunikasi menurut kriteria yang telah disusun. b. Pastikan bahwa pengamat memberikan umpan balik yang akurat yang berhubungan dengan kriteria. 1) Seringkali pengamat terlalu kritis dan harus belajar mengikuti kriteria yang telah ditentukan. 2) Guru perlu menekankan tanggung jawab positif dari pengamat. 3) Guru perlu membantu pelaku dan pengamat untuk berkomunikasi. c. Pada akhir beberapa pelajaran pertama dengan menggunakan Gaya C, guru harus meninjau kembali penampilan para pengamat dan menekankan perubahan-perubahan yang perlu diadakan dalam perilaku mereka. d. Teknik untuk mengatur kelas dalam pasangan-pasangan. Apakah Anda dapat memberikan beberapa contoh? e. Dalam beberapa pelajaran pertama dengan menggunakan Gaya C ini sasarannya akan memerlukan pemusatan perhatian pada penerimaan siswa terhadap peranan pelaku dan pengamat. f. Kelompok kecil yang terdiri dari dua orang juga dapat memakai gaya ini. 1) Dalam kelompok-kelompok ini mungkin ada pencatat, pemberi nilai atau pengawas. (2) Peranan pelaku dan pengamat tidak berubah, tetapi setiap siswa dalam kelompok yang lebih besar menerima peranan-peranan ini secara bergantian. (3) Kekurangan peralatan, ruang atau jumlah siswa yang besar menyebabkan perlunya penggunaan lebih dari dua siswa dalam kasus ini.

I. Gaya Periksa Sendiri Dalam Gaya Periksa Sendiri (self check), lebih banyak keputusan yang digeser ke siswa. Kepada siswa diberikan keputusan sesudah pertemuan, untuk menilai penampilannya. 1. Anatomi Gaya Periksa Sendiri Dalam gaya ini, keputusan-keputusan dibuat seperti dalam Gaya Latihan, dan kemudian keputusan sesudah pertemuan, untuk diri mereka sendiri. Siswa menyamakan dan membandingkan penampilan dengan kriteria yang telah ditetapkan oleh guru. ABCD Pra-Pertemuan Dalam Pertemuan Pasca Pertemuan G G GG S GG P aG S S 2. Peranan Siswa a. Menilai penampilan sendiri. b. Menerapkan kriteria untuk memperbaiki penampilannya c. Belajar bersikap objektif terhadap penampilannya d. Membuat keputusan baru dalam bagian, selama dan sesudah pertemuan berlangsung. Guru membuat keputusan sebelum pertemuan berlangsung. 3. Penerapan Gaya Periksa Sendiri Gaya memungkinkan siswa menjadi lebih mandiri dalam melaksanakan tugasnya. Keputusan dari Gaya Latihan dipertahankan, dan keputusan tentang penilaian dalam Gaya Resiprokal bergeser dari mengamati teman sebaya ke mengamati diri sendiri. a. Dalam gaya ini, siswa menjalankan tugas dengan menyamakan dan membandingkannya dengan kriteria yang telah ditentukan oleh guru. Hal ini merupakan tanggung jawab baru bagi siswa, untuk menganalisis dan menilai tugasnya. b. Keputusan sebelum pertemuan Guru membuat keputusan ini menyusun lembaran kriteria. c. Keputusan pada saat pertemuan berlangsung 1) Menjelaskan tujuan gaya ini kepada kelas 2) Menjelaskan peranan siswa dan tekanan penilaian diri. 3) Menjelaskan peranan guru 4) Menjelaskan tugas dan logistik 5) Tentukan parameter-parameternya. d. Keputusan sesudah pertemuan Peranan guru di sini adalah: 1) Mengawasi pelaksanaan tugas yang dilakukan oleh siswa 2) Mengawasi penggunaan lembaran kriteria 3) Mengadakan pembicaraan secara perorangan mengenai kecakapan dan ketepatan dalam menggunakan proses periksa sendiri. 4) Di akhir pertemuan, berikan umpan balik secara umum.

4. Implikasi Gaya Periksa Sendiri a. Guru mendorong kemandirian siswa b. Guru mendorong siswa untuk mengembangkan keterampilan untuk memantau diri sendiri, c. Guru mempercayai siswa, d. Guru mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang berpusat pada proses periksa sendiri dan pelaksanaan tugas, e. Siswa belajar sendiri, f. Siswa mengenali keterbatasan, keberhasilan dan kegagalannya sendiri. g. Siswa memakai umpan balik dari periksa sendiri untuk berusaha memperbaikinya. 5. Memilih dan Menyusun Pokok Bahasan Tidak semua tugas dalam pendidikan jasmani yang cocok untuk gaya mengajar ini. a. Tugas-tugas yang baru tidak cocok, b. Apabila pusat perhatian diarahkan kepada tugas dan hasil akhir, yaitu pada posisi badan dan postur yang untuk tugas ini tidak cocok, misalnya: 1) Senam, 2) Menyelam, 3) Menari (beberapa komponen), 4) Apabila umpan balik yang diperlukan berasal dari sumber luar, maka gaya mengajar ini tidak cocok. c. Kegiatan-kegiatan yang berkenaan dengan pengetahuan tentang hasil dari gerakan (pengetahuan tentang hasil) akan lebih cocok dengan gaya mengajar ini (shooting dalam bola basket, tugas yang menyangkut jarak dan kecermatan atau proyeksi yang dapat diamati seperti penempatan servis tenis, tendangan ke gawang dan sebagainya). 6. Pertimbangan-pertimbangan Mengenai Periksa Sendiri Interaksi verbal guru kepada siswa harus mencerminkan maksud dari penilaian diri sendiri. a. Tentukan apakah siswa dapat menyamakan dan membandingkan penampilannya dengan kriteria. b. Membantu siswa untuk melihat ketidaksesuaian yang terjadi dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan. c. Arahkan keputusan-keputusan siswa dengan merujuk kepada kriteria. 7. Memilih Desain Tugas Gaya Periksa Sendiri a. Ada dua pilihan 1) Guru bisa memilih satu tugas untuk semuanya, atau 2) Guru mendesain tugas yang berbeda-beda, menyediakan berbagai tugas. Bisa juga dengan menyediakan tugas yang berbeda untuk memenuhi perbedaan individual dalam tingkat penampilannya. b. Lembaran Kriteria Lembaran kriteria untuk Gaya Latihan dapat juga dipakai untuk Gaya Periksa Sendiri ini. J. Gaya Cakupan / Inklusi Gaya mengajar Inklusi (cakupan) memperkenalkan berbagai tingkat tugas. Sementara gaya komando sampai dengan gaya periksa sendiri menunjukkan suatu standar tunggal dari penampilan, maka gaya inclusion memberikan tugas yang berbeda-beda. Dalam gaya ini, siswa didorong untuk menentukan tingkat penampilannya.

Suatu contoh yang menggambarkan contoh dari gaya ini dapat dilihat pada penggunaan tali untuk melompat. Jika tali direntangkan setinggi satu meter dari tanah, dan setiap siswa diminta untuk melompatinya, maka semua akan berhasil. Akan tetapi keberhasilan ini tidak diperoleh semua siswa dengan tingkat kesulitan yang sama. Sebagian siswa dapat melompatinya dengan mudah, sedang sebagian lagi harus mengerahkan kemampuannya untuk dapat melompatinya. Bila ketinggian tali tadi dinaikkan, maka kesulitannya dalam tugas akan meningkat dan akhirnya akan menyebabkan makin sedikit jumlah siswa yang akan berhasil dalam penampilannya. Ini berarti kita telah memberikan suatu standar tunggal bagi semua siswa, dan banyak siswa yang akan dikeluarkan dengan menaikkan tingkat kesulitan dari tugas tersebut. Sekarang, jika tali tadi direntangkan miring dan para siswa diperintahkan untuk melompat, para siswa akan menyebarkan diri sepanjang rentangan tali tadi pada berbagai ketinggian. Hal ini akan memungkinkan para siswa untuk menyesuaikan kemampuannya dengan ketinggian tali tadi.

1. Anatomi Gaya Inklusi ABCDE Pra-Pertemuan Dalam Pertemuan Pasca Pertemuan G G GG S GG P aG S SG S S a. Peranan Guru 1) Membuat keputusan-keputusan pra-pertemuan. 2) Harus merencanakan seperangkat tugas-tugas dalam berbagai tingkat kesulitan, yang disesuaikan dengan perbedaan individu dan yang memungkinkan siswa untuk beranjak dari tugas yang mudah ke tugas yang sulit. b. Keputusan-keputusan Siswa 1) Memilih tugas yang telah tersedia, 2) Melakukan penafsiran sendiri dan memilih tugas awalnya 3) Siswa mencoba tugasnya 4) Sekarang siswa menentukan untuk mengulang, memilih tugas yang lebih sulit atau lebih mudah, berdasarkan berhasil atau tidaknya dengan tugas awal. 5) Mencoba tugas berikutnya 6) Siswa menilai / menaksir hasil-hasilnya. Prosesnya dilanjutkan.

2. Sasaran Gaya Inklusi a. Melibatkan semua siswa, b. Penyesuaian terhadap perbedaan individu, c. Memberi kesempatan untuk memulai sesuai dengan kemampuan sendiri. d. Memberi kesempatan untuk mulai bekerja dengan tugas yang ringan ke tugas yang berat, sesuai dengan tingkat kemampuan tiap siswa, e. Belajar melihat hubungan antara kemampuan untuk merasakan dan tugas apa yang dapat dilakukan oleh siswa. f. Individualisasi dimungkinkan karena memilih di antara alternatif tingkat tugas yang telah disediakan 3. Pelaksanaan Gaya Inklusi a. Menjelaskan gaya ini kepada siswa b. Satu demonstrasi dengan menggunakan tali yang miring akan memberikan ilustrasi yang sangat baik, c. Siswa disuruh memulai, d. Memberi umpan balik kepada siswa tentang peranan siswa dalam pengambilan keputusan, dan bukan penampilan tugas. 1) Tanyakan bagaimana mereka memilih tugas-tugas ini. 2) Fokuskan perhatian pada penggunaan umpan balik yang netral, agar siswa dapat mengambil keputusan tentang tingkat tugas yang sesuai dengan kemampuannya. 3) Amati kesalahan-kesalahan dalam penampilan siswa dan kriteria untuk penampilan dalam tugasnya. 4. Implikasi Gaya Inklusi a. Salah satu keuntungan yang sangat penting dari gaya ini adalah memperhatikan perbedaan individu, dan memperhatikan kemungkinan untuk lebih maju dan berhasil. b. Memungkinkan siswa untuk melihat ketidaksamaan antara aspirasi atau pengetahuan mereka dengan kenyataan. Mereka akan belajar untuk mengurangi kesenjangan antara kedua hal ini. c. Fokus perhatian ditujukan kepada individu dan apa yang dapat dilakukannya daripada membandingkannya dengan yang lain. d. Siswa mengembangkan konsep mereka sendiri, yang berkaitan dengan penampilan fisik. 5. Memilih dan Merancang Pokok Bahasan Konsep tentang tingkat kesulitan: Tugas-tugas yang dipilih harus dimulai dari yang sederhana ke yang lebih unik, dengan setiap tugas mempunyai tingkat kesulitan yang ditambahkan.

KISI-KISI FAKTOR Nama tugas : Mengidentifikasi rentangan tugas (dapat menggunakan konsep tertutup dan terbuka) Faktor-faktor Eksternal : Rentangan : Jumlah ulangan : Waktu :

Faktor-faktor Intrinsik : Jarak 2 m-10 m Tinggi 4 m-6 m Berat Berat, sedang, rintangan Ukuran Alat Kecil, biasa Ukuran Sasaran 15 cm, 30 cm, 45 cm Kecepatan Cepat, sedang, lambat Postur, posisi Atas tangan, bawah tangan Lain-lain K. Gaya Penemuan Terpimpin Gaya Inklusi (cakupan) merupakan gaya yang terakhir dari kelompok gaya yang memusatkan perhatian pada pengembangan keterampilan fisik daripada siswa. Saluran tekanan dalam gaya komando sampai dengan gaya inclusion yang akan kita bahas, adalah Gaya Penemuan Terpimpin (konvergen) dan Gaya Divergen (berlainan), yang penekanannya terpusat pada perkembangan kognitif. Mosston menyatakan bahwa dengan menggunakan strategi-strategi mengajar tersebut ini, maka kita telah melampaui ambang penemuan. Gaya penemuan Terpimpin ini disusun sedemikian rupa, sehingga guru harus menyusun serangkaian pertanyaan-pertanyaan yang menurut adanya serangkaian jawaban-jawaban yang disusun guru ini hanya ada satu jawaban saja yang dianggap benar. Rangkaian pertanyaanpertanyaan tersebut harus menghasilkan serangkaian jawaban-jawaban yang mengarah kepada penemuan konsep-konsep, prinsip atau gagasan-gagasan. 1. Anatomi Gaya Penemuan Terpimpin ABCDEF Pra-Pertemuan Dalam Pertemuan Pasca Pertemuan G G GG S GG P aG S SG S SG U G U S

a. Keputusan pada pra-pertemuan yang dibuat oleh guru akan memusatkan perhatian pada pengembangan pertanyaan secara cermat yang akan mengarahkan siswa kepada penemuan informasi yang bersifat khusus. b. Selama pertemuan berlangsung, siswa membuat keputusan yang menyangkut pokok bahasan, dalam usahanya untuk mencari jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh guru. c. Pada pasca pertemuan, guru mengukuhkan atau mengarahkan kembar jawaban siswa terhadap pertanyaan yang telah diajukan. 2. Sasaran Gaya Penemuan Terpimpin Sasaran dari gaya ini adalah, a. Melibatkan siswa dalam proses penemuan yang konvergen. b. Mengembangkan hubungan yang serasi dan tepat antara jawaban siswa dengan pertanyaan yang diajukan oleh guru. c. Mengembangkan keterampilan untuk menemukan jawaban yang berurut, yang akan menuju kepada menemukan suatu konsep. d. Mengembangkan kesabaran guru dan siswa, karena sifat sabar sangat diperlukan dalam proses penemuan. 3. Penerapan Penemuan Terpimpin a. Dalam menyusun pertanyaan bagi siswa, guru harus mengenali prinsip, gagasan, atau konsep yang akan ditemukan. Kemudian guru menyusun pertanyaan-pertanyaan yang akan membawa siswa ke rangkaian tanggapan yang menuju kepada gagasan tersebut. Untuk hal ini perlu dimulai dari jawaban akhir, terus mundur sampai kepada pertanyaan. b Dalam situasi mengajar yang sesungguhnya, guru harus mengikuti prosedur berikut: (1) Menyampaikan pertanyaan sesuai dengan susunan. (2) Beri waktu untuk jawaban dari siswa (3) Berikan umpan balik (netral atau menilai) mengarahkannya lagi. (4) Ajukan pertanyaan berikutnya (5) Jangan berikan jawaban (6) Bersikap sabar dan menerima c. Merencanakan: 1) Mengenali pokok bahasan yang khusus 2) Menentukan urutan langkah-langkah (pertanyaan dan petunjuk) menuju ke hasil akhir. a) Setiap langkah didasarkan atas jawaban sebelumnya. b) Perlu mengharapkan kemungkinan jawaban yang akan diberikan oleh siswa, dan mengarahkan kembali jawaban yang tidak tepat. d. Yang harus dilakukan dengan jawaban yang tidak benar: 1) Ulangi pertanyaan / petunjuknya. Kalau masih salah, ajukan pertanyaan lain yang menguatkan / menjabarkannya. 2) Beri waktu kepada siswa untuk memikirkan jawaban. 4. Implikasi Penemuan Terpimpin a. Gaya ini menuntut guru untuk menyediakan waktunya untuk menyusun Pertanyaanpertanyaan yang memaksa siswa untuk berpikir. b. Tanggung jawab untuk menemukan merupakan kegiatan utama dari siswa. c. Siswa memerlukan waktu untuk menyesuaikan diri dengan tanggung jawab baru ini. 5. Pokok Bahasan a. Jenis-jenis informasi yang perlu ditemukan adalah: konsep, prinsip, kaidah, hubungan, bagaimana, mengapa, dan batasan-batasan. b. Topik tidak boleh diketahui siswa sebelumnya, kalau tidak, siswa tidak akan memperoleh

penemuan. c. Episode-episode dari gaya ini bisa dipakai untuk yang lain bisa juga dipakai pada waktu memberi umpan balik kepada masing-masing siswa. d. Yang paling baik adalah episode yang pendek. e. Ada baiknya menyusun pertanyaan-pertanyaan tersebut sedemikian rupa, sehingga siswa harus mengerjakan jawabannya secara fisik. Dengan demikian, siswa bisa memakai gerakan sebagai media penemuan. L. Gaya Divergen Gaya mengajar Divergen merupakan suatu bentuk pemecahan masalah. Dalam gaya ini siswa memperoleh kesempatan untuk mengambil keputusan mengenai suatu tugas yang khusus di dalam pokok bahasan. Gaya ini memungkinkan jawaban-jawaban pilihan. Ini berbeda dengan gaya Penemuan Terpimpin, yang pertanyaan-pertanyaannya disusun untuk mendapatkan jawaban-jawaban yang konvergen. Gaya ini disusun sedemikian rupa sehingga suatu masalah pertanyaan atau situasi yang dihadapkan kepada siswa akan memerlukan pemecahan. Rancangan-rancangan yang diberikan akan membimbing siswa untuk memenuhi pemecahan atau jawaban secara individual.

1. Anatomi Gaya Divergen ABCDEFG Pra-Pertemuan Dalam Pertemuan Pasca Pertemuan G G GG S GG P aG S SG S SG S G G SG S

S G a. Pra-Pertemuan Guru membuat tiga keputusan utama: 1) Pokok bahasan umum 2) Pokok bahasan khusus yang berpusat pada episode 3) Menyusun masalah khusus untuk memperoleh jawaban ganda dan pemecahan yang divergen. b. Saat Pertemuan 1) Siswa menentukan jawaban dari masalah 2) Dalam perangkat selama pertemuan berlangsung ini, siswa mengambil keputusankeputusan yang menyangkit hal-hal khusus dalam pokok bahasan, yang menanggapi masalah yang diajukan oleh guru. c. Pasca-Pertemuan 1) Siswa menilai pemecahan yang telah ditemukan 2) Pemeriksaan (verifikasi) mencakup membandingkan pemecahan dengan masalah yang dirumuskan oleh guru. 2. Sasaran Gaya Divergen a. Mendorong siswa untuk menemukan pemecahan ganda melalui pertimbanganpertimbangan kognitif. b. Mengembangkan wawasan (insight) ke dalam struktur kegiatan dan menemukan variasivariasi. c. Memungkinkan siswa untuk bebas dari guru dan melampaui jawaban-jawaban yang diharapkan. d. Mengembangkan kemampuan untuk memeriksa dan menganalisis pemecahanpemecahannya. 3. Penerapan gaya Divergen a. Mula-mula, mungkin perlu menyakinkan siswa bahwa gagasan dan pemecahan mereka akan diterima. Seringkali siswa sudah terbiasa dengan mereka diberitahu tentang apa yang harus mereka lakukan, dan tidak diperkenankan untuk menemukan sendiri jawaban-jawaban yang benar. b. Pada waktu siswa bekerja mencari pemecahan, guru harus mengawasi dan menunggu untuk memberi kesempatan kepada siswa untuk menyusun jawaban-jawaban mereka. 1) Umpan balik harus dapat membimbing siswa kepada masalah untuk menentukan jawaban yang tepat. 2) Guru harus menahan diri untuk tidak memilih jawaban-jawaban tertentu sebagai contoh. Sebab itu akan mendorong penjiplakan dan bukan pemecahan masalah secara individual. Pembagian model-model pengajaran tersebut di atas pada hakikatnya bukan merupakan klasifikasi yang bersifat diskrit. Pengajaran yang didasarkan atas model komando pada suatu ketika memiliki kesamaan atau terjadi pada bentuk-bentuk pengontrolan guru pada saat pengajaran penemuan terbimbing atau pemecahan masalah. Dalam pembelajaran, guru secara kreatif dapat memilih dan menerapkan satu atau lebih model. Dalam model pengajaran penemuan, misalnya, anak dapat diberikan keleluasaan untuk melakukan eksplorasi dengan atau tanpa bimbingan guru. Anak diajak berfikir mulai dari menemukan fakta-fakta yang bersifat khusus untuk membuat simpulan secara umum (model induktif). Dalam kasus tertentu guru dapat berperan sebagai pusat proses belajar, mengontrol percepatan pelajaran. Guru memberikan suatu konsep atau teori yang bersifat

umum, kemudian anak diminta untuk mencari fakta-fakta secara khusus (model deduktif). Dalam praktik pelaksanaan pembelajaran, suatu konsep atau keterampilan dapat diajarkan mulai dari global menuju ke bagian-bagian (parsial) atau sebaliknya dari parsial ke global. Guru yang efektif akan mampu memilih dan menerapkan secara kreatif model-model pengajaran yang tepat dan sesuai dengan situasi dan kondisi. Apapun model tersebut yang digunakan oleh guru hendaknya diperhatikan kesesuaian model tersebut dengan kondisi anak dan situasi lingkungan. Pemilihan model pengajaran yang sesuai dengan kondisi dan situasi lingkungan itu sering disebut model pengajaran refleksi atau dikenal dengan model pendekatan modifikasi.

http://penjaspurbalingga.blogspot.com/2009/12/model-pembelajaran-pendidikanjasmani.html MODEL PEMBELAJARAN PENJAS


Model Pembelajaran Penjas Model pembelajaran (models of teaching) dalam konteks pendidikan jasmani lebih banyak berkembang berdasarkan orientasi dan model kurikulumnya. Dalam hal ini, model pembelajaran lebih sering dilihat sebagai pilihan guru untuk melihat manfaat dari pendidikan jasmani terhadap siswa, atau lebih sering disebut sebagai orientasi. Oleh karena itu dapat dipahami bahwa sebagian ahli menunjuk model pembelajaran dalam penjas sebagai jawaban atas pertanyaan guru tentang esensi apa yang diharapkan dari siswa melalui pendidikan jasmani?. Mengikuti alur pikir tentang model di atas, model pembelajaran pendidikan jasmani dapat dibedakan antara model pendidikan gerak, model pendidikan olahraga, model pendidikan kebugaran, model kinesiological studies, model pengembangan disiplin, bahkan model petualangan (Jewet: 1994). Di bawah ini diuraikan beberapa model pembelajaran, sebatas untuk dipahami perbedaan antara satu dengan lainnya. 1. Model Pendidikan Gerak (Movement Education) Pendidikan gerak atau movement education, menekankan kurikulumnya pada penguasaan konsep gerak. Di Amerika Serikat, program pendidikan gerak mulai berkembang sejak tahun 1960-an, yang pelaksanaannya didasarkan pada karya Rudolph Laban. Kerangka kerja program Laban ini meliputi konsep kesadaran tubuh (apa yang dilakukan tubuh), konsep usaha (bagaimana tubuh bergerak), konsep ruang (di mana tubuh bergerak), dan konsep keterhubungan (hubungan apa yang terjadi). Masing-masing konsep tersebut, merupakan panduan untuk dimanfaatkan manakala anak harus bergerak, sehingga gerakan anak bermakna dalam keseluruhan konsep tersebut. Dari setiap aspek gerak di atas, tujuan dan kegiatan belajar dirancang dengan memanfaatkan pendekatan gaya mengajar pemecahan masalah, penemuan terbimbing, dan eksploratori (Logsdon et al., 1984). Menurutnya, dalam model pendidikan gerak ini, siswa akan didorong untuk mampu menganalisis tahapan gerakan ketika menggiring bola basket (misalnya) dan menemukan posisi yang tepat ketika berada dalam permainan. Steinhardt (1992), mengutip Nichols, telah mengusulkan suatu kurikulum terpadu (integrated curriculum) yang mengajarkan pada siswa hubungan antara gerak yang dipelajari dengan berbagai kegiatan pendidikan jasmani. Dalam pengembangan kurikulum pendidikan gerak, keseluruhan konsep itu dimanfaatkan dan dielaborasi, serta menjadi wahana bagi anak untuk mengeksplorasi kemampuan geraknya. Termasuk, jika ke dalam kurikulum tersebut dimasukkan beberapa orientasi

kecabangan olahraga seperti senam atau permainan, bahkan dansa sekalipun. Di bawah ini akan diuraikan ruang lingkup kurikulum pendidikan gerak yang diorientasikan melalui permainan kependidikan dan senam kependidikan. Jewet dan Bain (1985) menyatakan bahwa model pendidikan gerak telah dikritik dalam hal tidak ditemukannya klaim tentang transfer belajar dan juga mengakibatkan menurunnya waktu aktif bergerak yang disebabkan oleh penekanan berlebihan pada pengajaran konsep gerak. Kritik lain telah mengajukan lemahnya bukti empiris untuk mendukung praktek penggunaan gaya pengajaran penemuan untuk mengajarkan keterampilan berolahraga (Dauer and Pangrazi, 1992; Siedentop, 1980).

2. Model Pendidikan Kebugaran (Fitness Education) Salah satu literatur yang banyak membahas tentang pendidikan Jasmani orientasi model kebugaran adalah Physical Education for Lifelong Fitness (AAHPERD). Buku ini mendeskripsikan model pembelajaran pendidikan jasmani dari perspektif health-related fitness education (steinhard, 1992). Model ini memiliki pandangan bahwa para siswa dapat membangun tubuh yang sehat dan memiliki gaya hidup aktif dengan cara melakukan aktivitas fisik dalam kehidupan sehari-harinya. Namun kenyataan tersebut tidak mungkin dicapai tanpa adanya usaha karena sebagian besar anak dan remaja tidak memiliki kebiasaan hidup aktif secara teratur dan aktivitas fisiknya menurun secara drastis setelah dewasa. Untuk itu, program penjas di sekolah harus membantu para siswa untuk tetap aktif sepanjang hidupnya. Kesempatan membantu para siswa untuk tetap aktif sepanjang hidupnya menurut model ini masih tetap terbuka sepanjang merujuk pada alasan individu melakukan aktivitas fisik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa beberapa alasan individu melakukan aktivitas fisik adalah (1) aktivitas fisik meyenangkan, (2) dapat dilakukan rame-rame, (3) dapat meningkatkan keterampilan, (4) dapat memelihara bentuk tubuh, dan (5) nampak lebih baik. Beberapa alasan individu melakukan aktivitas fisik tersebut harus menjadi dasar dalam menerapkan model kebugaran ini. 1) Dasar penerapan model meliputi: a) menekankan pada partisipasi yang menyenangkan pada kegiatan-kegiatan yang mudah dilakukan dalam kehidupan sehari-hari. b) menyediakan kegiatan-kegiatan kompetitif dan non-kompetitif dengan rentang yang bervariasi sesuai dengan tuntutan perbedaan kemampuan siswa c) memberikan keterampilan (skill) dan keyakinan (confidence) yang diperlukan siswa agar dapat berpartisipasi aktif secara fisik. d) melakukan promosi aktivitas fisik/olahraga pada seluruh komponen program sekolah dan mengembangkan hubungan antara program sekolah dan program masyarakat. Dengan menggunakan dasar penerapan di atas, model ini diharapkan dapat mengembangkan skill, kebugaran jasmani, pengetahuan, sikap, dan perilaku yang dapat menggiring siswa memiliki gaya hidup aktif dan sehat (active-healthy lifestyles). Model pembelajaran ini berkeyakinan bahwa keberhasilan pendidikan jasmani berawal dari tertanamnya kesenangan siswa terhadap berbagai aktivitas fisik. Oleh karena itu, berbagai pembekalan seperti skill, kebugaran jasmani, sikap, pengetahuan, dan perilaku sehari-hari harus selalu berorientasi pada kesenangan dan keyakinan individu dalam rangka pembentukan gaya hidup aktif yang sehat di masa yang akan datang. 2) Karakteristik

Model kebugaran ini pada dasarnya merupakan model yang berorientasi pada materi ajar (subject oriented model), yang berlandaskan pada orientasi nilai penguasaan materi (disciplinary mastery value orientation). Namun, pada perkembangan sekarang ini, model ini seringkali merefleksikan orientasi nilai aktualisasi diri (self-actualization) atau perpaduan lingkungan (ecological integration). Beberapa program dari model ini, karenanya, mengintegrasikan pendidikan jasmani dengan konsep gaya hidup sehat (healthy lifestyle) yang lebih luas dengan komponen-komponen sosio-kultural (Jewett, dkk., 1995). Peranan guru dalam penerapan model ini lebih ditekankan pada upaya untuk membimbing siswa pada program kegiatan kesegaran jasmani, mengajar keterampilan dalam pengelolaan dan pembuatan keputusan, menanamkan komitmen terhadap gaya hidup yang aktif, dan mengadministrasi program asesmen kesegaran jasmani individu siswa. Mengingat kritik yang mengatakan bahwa ruang lingkup dari program ini sangat terbatas pada aktivitas kebugaran saja, maka program ini berisikan pengembangan berbagai variasi keterampilan dan pengalaman yang memungkinkan siswa dapat berpartisipasi dalam aneka ragam olahraga dan aktivitas fisik. 3) Isu pelaksanaan model kebugaran jasmani Realisasi pendidikan jasmani model kebugaran jasmani seringkali tidak memperhatikan konsep-konsep yang terkait dengan kebugaran jasmani dan keterkaitan aktivitas fisik untuk meningkatkan status kebugaran jasmani siswa. Anggapan kuat ciri khas model ini antara lain berisikan kegiatan tes kesegaran jasmani, membandingkan status siswa dengan standar orang lain, membujuk siswa dengan istilah no pain, no gain, dan aktivitas fisik di luar DAP yang seakan-akan menyiksa siswa dan merendahkan siswa. Program ini dibuat seakan-akan untuk mempersiapkan siswa menjadi anggota militer yang akan berperang. Programnya terfokus pada aktivitas melatih dan bukan mendidik. Padahal aspek mendidik ini jauh lebih penting untuk memelihara gaya hidup dan kesehatan pribadi anak dalam menghadapi era baru dan teknologi tinggi di masa depan. Apa yang diajarkan oleh para guru pendidikan jasmani di sekolah-sekolah sekarang ini sangat mungkin menjadi faktor utama pembentuk kebiasaan (habit) dan sikap yang dapat dibawa sampai hari tua. Oleh karena itu harus diyakini bahwa apa yang diprogramkan oleh guru penjas bagi murid-muridnya harus menjamin terbentuknya kebiasaan positif dalam membentuk hidup aktif. Masalah-masalah yang terkait dengan program kebugaran jasmani dalam lingkup pendidikan jasmani memang bersifat sangat kompleks dan tidak bisa dipecahkan secara sederhana. Apalagi jika memperhitungkan faktor pengaruh luar yang lebih kuat, seperti siaran TV yang lebih banyak membentuk kebiasaan hidup yang negatif. Karenanya, di pundak para guru Penjas terletak kewajiban untuk menyemaikan konsep dan kebiasaan hidup yang bisa menjamin generasi penerus tidak terancam masalah serius di kemudian hari. 3. Model Pendidikan Olahraga (Sport Education) Sport education yang sebelumnya diberi nama play education (Jewett dan Bain 1985) dikembangkan oleh Siedentop (1995). Model ini berorientasi pada nilai rujukan Disciplinary Mastery (penguasaan materi), dan merujuk pada model kurikulum Sport Socialization. Siedentop banyak membahas model ini dalam bukunya yang berjudul Quality PE Through Positive Sport Experiences: Sport Education. Beliau mengatakan bahwa bukunya merupakan model kurikulum dalam pembelajaran penjas. Inspirasi yang melandasi munculnya model ini terkait dengan kenyataan bahwa olahraga merupakan salah satu materi penjas yang banyak digunakan oleh para guru penjas dan siswapun senang melakukannya, namun di sisi lain ia melihat bahwa pembelajaran olahraga dalam konteks penjas sering tidak lengkap dan tidak sesuai diberikan kepada siswa karena

nilai-nilai yang terkandung di dalamnya sering terabaikan. Para guru lebih senang mengajarkan teknik-teknik olahraga yang sering terpisah dari suasana permainan sebenarnya. Atau, jika pun melakukan permainan, permainan tersebut lebih sering tidak sesuai dengan tingkat kemampuan anak sehingga kehilangan nilai-nilai keolahragaannya. Akibatnya, pelajaran permainan itupun tidak memberikan pengalaman yang lengkap pada anak dalam berolahraga. Dalam pandangan Siedentop, pembelajaran demikian tidak sesuai dengan konsep praktek yang seirama dengan perkembangan (developmentally appropriate practices/DAP). Bahkan dalam kenyataannya, untuk sebagian besar siswa, cara seperti ini kurang menyenangkan dan kurang melibatkan siswa secara aktif karena kemampuannya yang belum memadai. Model sport education diharapkan mampu mengatasi berbagai kelemahan pembelajaran yang selama ini sering dilakukan oleh para guru penjas. 4. Model Pendidikan Kooperatif a. Tiga Struktur Tujuan dalam Penjas: Kompetitif, Individual, dan Kooperatif Untuk memaksimalkan pembelajaran, guru pendidikan jasmani biasanya harus menetapkan struktur tujuan yang mana yang akan digunakan untuk menghasilkan pencapaian tujuan bagi sebanyak mungkin siswa. Struktur tujuan adalah cara siswa berinteraksi secara verbal maupun secara fisik dengan teman sendiri atau dengan guru ketika terlibat dalam pembelajaran. Keputusan yang baik tentang tujuan mengarah langsung pada pencapaian hasil pendidikan jasmani, walaupun sering diabaikan oleh kebanyakan guru penjas. Pada dasarnya, terdapat tiga struktur tujuan yang dapat digunakan untuk mencapai tujuan, yaitu kompetitif, individual, dan kooperatif. Berikut akan dijelaskan masing-masing struktur tujuan tersebut. 1) Struktur Tujuan Kompetitif Pertandingan regu dan perlombaan adalah dua contoh dari pembelajaran penjas yang menggunakan struktur tujuan kompetitif. Aktivitas pertandingan ini biasanya dikategorikan sebagai format zero sum di mana ada satu pemenang dan satu yang kalah, atau berformat negative sum dengan satu pemenang dan banyak yang kalah. Kategori lain bersifat lomba yang meningkat berkelanjutan (kontinjensi), di mana kelangsungan keikutsertaan ditentukan oleh keberhasilan yang tidak terputus. Contoh kategori ini dapat dilihat dalam lomba lompat tinggi, ketika pelompat yang tidak berhasil melalui ketinggian tertentu harus berhenti atau keluar dari lomba. Dalam pembelajaran yang berstruktur kompetitif, siswa bergantung secara negatif kepada yang lain. Ketergantungan negatif terjadi ketika keberhasilan seorang siswa atau sekelompok siswa terkait erat dengan ketidakberhasilan siswa atau sekelompok siswa lain. Jenis ketergantungan demikian sangat nyata terlihat ketika siswa berlomba dalam lompat tinggi atau beberapa nomor atletik lainnya. Seorang siswa dapat melakukan yang terbaik ketika siswa yang lain tidak bisa menjadi yang terbaik. Beberapa hasil positif biasanya dipercayai guru dalam penggunaan struktur tujuan tersebut dalam pendidikan jasmani. Asumsi utamanya menunjuk pada kepercayaan bahwa mahluk hidup termasuk manusia memang memiliki kecenderungan bawaan untuk berkompetisi. Dan karenanya, harus belajar berkompetisi agar bisa sukses dalam dunia yang semakin kompetitif ini. Beberapa ahli umumnya menghubungkan kompetisi dengan hasil-hasil seperti berikut: Perkembangan karakter, Peningkatan self esteem dan self confidence, Motivasi untuk sukses Pemantapan keunggulan sebagai tujuan,

Mempertahankan minat keikutsertaan, Rasa keberhasilan pribadi setelah mengalahkan orang lain, Cara berpikir alternatif tentang kompetisi dan pengaruhnya pada pembelajaran timbul ketika asumsi dan hasil yang berbeda mulai diperhatikan oleh kita. Cukup menarik menemukan fakta bahwa kebanyakan interaksi harian dalam hidup lebih bersifat kooperatif, tidak kompetitif. Buktinya kita lebih sering bergantung pada peranan orang di luar diri kita. Di samping itu, kompetisi dengan sifat sangat bergantungnya pada standar (misalnya, peraturan, atau peralatan), justru menghasilkan situasi yang kurang diharapkan pada banyak siswa, sebab mereka tidaklah bersifat standar. Tetapi, mereka lebih bersifat heterogen dalam berbagai hal: kemampuan, minat, pengalaman, dan kematangan. Dengan kata lain, perbedaan individual siswa tidak sejalan dengan persyaratan yang dibutuhkan untuk kompetisi. Akibatnya, kompetisi dapat menjadi sebuah pengalaman yang menghambat pembelajaran bagi banyak siswa. Apalagi, karena tingginya tingkat kegagalan yang ditemui dalam kompetisi, hanya mereka yang mempunyai kesempatan untuk berhasil sajalah yang termotivasi. Karenanya, kompetisi hanya tepat bagi sekelompok siswa terpilih dalam satu kelas yang menunjukkan tingkat keterampilan dan kebugaran jasmani yang sama serta memilih untuk membandingkan penampilannya dengan orang lain. Beberapa studi malah menunjukkan bahwa aktivitas kompetitif membatasi kesempatan belajar siswa. Seperti juga dilansir oleh beberapa pengamatan, keikutsertaan dalam aktivitas kompetisi tradisional tidak memberikan kesempatan pada semua siswa untuk berlatih, menguasai, dan memperhalus keterampilan yang diperlukan dalam partisipasi mereka. Dengan kata lain, menggunakan aktivitas pendidikan jasmani format kompetitif dapat menjadi penghalang pada pembelajaran siswa. 2) Struktur Tujuan Individual Program Penjas pun terkadang menyandingkan struktur tujuan individual di dalamnya. Pembelajaran untuk cabang atau jenis olahraga seperti senam, latihan kebugaran, senam aerobik, atau renang, adalah beberapa contoh pembelajaran berformat individual. Pada saat pembelajaran individual, siswa biasanya tidak saling berhubungan dan tidak saling menggantungkan diri dengan siswa lain. Ketidakbergantungan tersebut didefinisikan sebagai tidak adanya hubungan kerja antara individu selama berusaha mencapai tujuan pembelajarannya. Selama pembelajaran individual, pencapaian tujuan dari seorang siswa tidak mempengaruhi pencapaian tujuan dari siswa yang lain. Demikian juga sebaliknya, tidak adanya usaha pencapaian tujuan dari seorang siswa tidak juga mempengaruhi ada atau tidak adanya usaha dari siswa lain. Saling ketidakbergantungan demikian dapat diamati ketika seorang siswa sedang berusaha melakukan sebanyak mungkin gerakan push ups dalam waktu 30 detik. Pencapaian siswa tersebut tidak ada kaitannya dengan pencapaian atau tidak adanya pencapaian dari siswa lain. Siswa bekerja atau berlatih sendiri; interaksi di antara siswa tidak dipandang perlu atau didorong secara sengaja. Pembelajaran individual dalam pendidikan jasmani memang mempunyai benang sejarah yang cukup panjang. Program penjas yang pada masa-masa awal perkembangannya banyak menekankan pada latihan pribadi (individual) seperti pada senam, atletik, atau keterampilan memainkan bola (meskipun pelaksanaannya dilakukan bersama-sama). Program pendidikan gerak yang didasarkan pada teori gerak dari Rudolf Laban merupakan kelanjutan dari pembelajaran individual. Analisis dari Locke tentang individualisasi dalam penjas juga merupakan penguat dari pembelajaran individual. Keyakinan bahwa usaha dan produktivitas hasil dari pembelajaran individual merupakan hal yang baik sudah diterima secara umum. Hasil-hasil seperti di bawah ini umumnya diyakini

sebagai kelebihan dari pembelajaran individual: Pembelajaran dapat disesuaikan dengan kebutuhan dan kemampuan siswa, Memerlukan keterlibatan dari guru yang minimal, Pembelajaran individual meningkatkan pencapaian tujuan, Semua siswa mengalami keberhasilan, Pembelajaran individual menghilangkan persoalan sosial, Identitas dan karakter pribadi berkembang melalui kerja mandiri, Pembelajaran individual meningkatkan disiplin pribadi, Pembelajaran individual menghilangkan masalah kedisiplinan kelompok. Namun demikian, banyak juga para ahli yang meragukan bahwa pembelajaran individual benar-benar efektif mengembangkan sifat-sifat di atas. Dari pengamatan, lebih banyak hal kontradiktif dari hasil di atas yang dapat ditemukan. Pembelajaran individual, meskipun dipandang tepat untuk situasi tertentu, namun biasanya tidak berhasil mencapai hasil-hasil di atas bagi umumnya siswa. Pembelajaran individual tidak mendukung interaksi interpersonal yang positif di antara siswa karena siswa tidak diharuskan untuk berinteraksi. Diragukan juga bahwa pembelajaran individual dapat mengeliminir masalah sosial ketika siswa dipisahkan dari kegiatan temannya, karena saling ejek, pelabelan stereotipe, dan kecurigaan antar siswa tetap akan dapat berkembang. 3) Struktur Tujuan Kooperatif Suatu contoh dari aktivitas penjas yang menggunakan struktur tujuan kooperatif adalah aktivitas mengumpulkan skor secara kolektif, di mana semua skor atau penampilan ditambahkan pada skor total dari kelompok. Ketika guru membangun struktur pembelajaran secara kooperatif, saling-ketergantungan positif berkembang di antara siswa. Pemahaman siswa bahwa mereka hanya dapat mencapai tujuan kalau siswa yang lain juga mencapai tujuan merupakan definisi yang tepat dari ketergantungan yang positif. Perasaan menjadi berada pada sisi yang sama adalah hasil dari struktur tujuan kooperatif. Contoh lain dari saling-ketergantungan positif yang lain dalam aktivitas penjas adalah permainan kelompok piramid kecil. Ketika guru menyajikan tugas untuk membangun piramid (standen) oleh lima orang siswa bersamaan, maka semua akan terlibat dalam keseimbangan dan saling mendukung, siswa secara positif saling tergantung karena setiap siswa harus menyumbang dengan keseimbangan dan dukungan, atau, kalau tidak, mereka tidak akan mencapai tujuan sama sekali. Guru yang mengajar dengan pembelajaran kooperatif akan banyak melihat perilaku-perilaku seperti ini: empati, memperhatikan, menolong, menyemangati, mengajar, membantu, mendengarkan, dsb. Dan guru memang harus mengharapkan tumbuhnya manfaat-manfaat demikian pada siswa melalui keikutsertaannya dalam penjas. 5. Model Pendidikan Pengembangan Disiplin Untuk menekankan peranan penjas dalam pembentukan watak dan karakter yang baik, rupanya para guru penjas pun perlu merintis penerapan model kurikulum humanistik, yang menurut pengembangnya, mampu meningkatkan rasa tanggung jawab dan disiplin anak. Pelaksanaan model kurikulum ini secara sederhana dapat diwakili oleh model Hellison yang telah mengembangkan prosedur untuk mengajak siswanya berlatih bersama meningkatkan rasa tanggung jawabnya dalam praktek pembelajaran penjas. Model Hellison Model Hellison adalah model pengembangan disiplin yang didasarkan pada motivasi intrinsik anak. Untuk menerapkannya, pertama-tama, guru perlu memberikan pemahaman kepada para

siswanya, bahwa rasa tanggung jawab itu berkembang sesuai tingkatannya. Adapun tingkatan tanggung jawab itu dapat ditunjukkan melalui perilaku-perilaku nyata yang dapat diidentifikasi secara mudah, terutama dalam proses pembelajaran penjas. Secara sederhana, tingkatan tersebut adalah sebagai berikut: 1) Tahapan perkembangan Tahap 0: Irresponsibilitymenggambarkan siswa yang tidak termotivasi dan tidak disiplin. Pada level ini anak tidak mampu bertanggung jawab atas perilaku yang diperbuatnya dan biasanya anak suka mengganggu orang lain dengan mengejek, menekan orang lain, dan mengganggu orang lain secara fisik. Dalam pelajaran penjas, perilaku tersebut terlihat dari: Tidak mengikuti pelajaran, malahan mengajak yang lain untuk berbuat serupa. Selalu mengejek teman yang tidak bisa melakukan. Tidak pernah mau berbagi giliran dalam menggunakan alat dengan kawan lain. Tidak pernah mendengarkan penjelasan guru. Bahkan perilaku tersebut akan terbawa atau sering muncul dalam setting kahidupan anak di tempat yang berbeda, misalnya: di rumah: menyalahkan orang lain di tempat bermain: memanggil nama jelek terhadap orang lain di kelas: berbicara dengan teman saat guru sedang menjelaskan dalam Penjas: berebut dengan orang lain pada saat mendapatkan peralatan. Tahap 1: Self Controlmenggambarkan siswa yang tidak berpartisipasi atau yang tidak menunjukkan penguasaan atau perbaikan, tetapi mampu mengontrol perilakunya. Pada level ini anak terlibat dalam aktivitas belajar tetapi sangat minim sekali. Anak didik akan melakukan apa-apa yang disuruh guru tanpa mengganggu yang lain. Anak didik nampak hanya melakukan aktivitas tanpa usaha yang sungguh-sungguh. Sebagai contoh misalnya: Tidak mengikuti pelajaran, tetapi tetap ikut menghadiri dan memperhatikan pelajaran. Tidak mengejek teman, Tidak mempengaruhi teman untuk turut bolos. Dalam setting lain, hal ini terlihat nyata dalam perilaku berikut: di rumah: menghindari dari gangguan atau pukulan dari saudaranya walaupun hal itu tidak disenanginya. di tempat bermain: berdiri dan melihat orang lain bermain di kelas: menunggu sampai datang waktu yang tepat untuk berbicara dengan temannya. dalam Penjas: berlatih tapi tidak terus-menerus. Tahap 2: Involvementmenggambarkan siswa yang menunjukkan kontrol diri dan terlibat dalam pelajaran. Anak didik pada level ini secara aktif terlibat dalam belajar. Mereka bekerja keras, menghindari bentrokan dengan orang lain, dan secara sadar tertarik untuk belajar dan untuk meningkatkan kemampuannya. Sebagai contoh misalnya: Selalu mengikuti pelajaran. Tidak mencari tempat teduh manakala semua anak tetap terlibat dalam kegiatan belajar. Tidak sembunyi-sembunyi untuk menghindari tugas atau giliran. Sama halnya, dalam setting lain perilaku tahap ini akan terlihat dalam hal: di rumah: membantu mencuci dan membersihkan piring kotor di tempat bermain: bermain dengan yang lain di kelas: mendengarkan dan belajar sesuai dengan tugas yang diberikan dalam Penjas: mencoba sesuatu yang baru tanpa mengeluh dan mengatakan tidak bisa

Tahap 3: Self Directionmenggambarkan siswa yang belajar mengambil tanggung jawabnya lebih besar atas pilihannya sendiri dan mengaitkan pilihannya itu dengan identitas dirinya, siswa mampu belajar tanpa pengarahan dan pengawasan langsung. Pada level ini anak didik didorong untuk mulai bertanggung jawab atas belajarnya. Ini mengandung arti bahwa siswa belajar tanpa harus diawasi langsung oleh gurunya dan siswa mampu membuat keputusan secara independen tentang apa yang harus dipelajari dan bagaimana mempelajarinya. Pada level ini siswa sering disuruh membuat permainan atau urutan gerakan bersama temannya dalam suatu kelompok kecil. Kegiatan seperti ini sangat sulit dilakukan oleh siswa pada level sebelumnya. Mereka biasanya menghabiskan waktu untuk berargumentasi daripada untuk melakukan gerakan bersama-sama. Beberapa contoh perilaku siswa pada level tiga ini misalnya: Selalu giat berlatih walaupun tidak diawasi guru, Selalu mencoba lagi walaupun tugas dianggap sulit, Meminta penjelasan dari guru manakala ada tugas yang tidak jelas. Ikut memberikan semangat pada kawan yang mengalami kesulitan. Berkembang dalam setting yang berbeda, hal ini dapat terlihat sebagai berikut: di rumah: membersihkan ruangan tanpa ada yang menyuruh di tempat bermain: mengembalikan peralatan tanpa harus disuruh di kelas: belajar sesuatu yang bukan merupakan bagian dari tugas gurunya dalam Penjas: berusaha belajar keterampilan baru melalui berbagai sumber di luar pelajaran Pendidikan Jasmani dari sekolah. Tahapan 4: Caringmenggambarkan siswa yang termotivasi untuk memperluas rasa tanggung jawabnya dengan bekerjasama, memberikan dukungan, memberikan perhatian, dan menolong siswa lain (Hellison, 1995). Anak didik pada level ini tidak hanya bekerja sama dengan temannya, tetapi mereka tertarik ingin mendorong dan membantu temannya belajar. Anak didik pada level ini akan sadar dengan sendirinya menjadi sukarelawan (volunteer) misalnya menjadi partner teman yang tidak terkenal di kelas itu, tanpa harus disuruh oleh gurunya untuk melakukan itu. Beberapa contoh misalnya: Selalu membantu guru dalam mempersiapkan alat. Selalu membantu teman yang mendapatkan kesulitan belajar. Mendukung penuh dan mendorong teman-teman untuk bersama-sama belajar dengan tekun. Dalam bentuk lain, perilaku mereka akan terlihat lebih jelas seperti di bawah ini: di rumah: membantu memelihara dan menjaga binatang peliharaan atau bayi. di tempat bermain: menawarkan pada orang lain (bukan hanya pada temannya sendiri) untuk ikut sama-sama bermain. di kelas: membantu orang lain dalam memecahkan masalah-masalah pelajaran. dalam Penjas: antusias sekali untuk bekerja sama dengan siapa saja dalam Penjas. 2) Strategi pembelajaran Untuk memaksimalkan hasil dari penerapan model Hellison tersebut, guru perlu mengikuti strategi yang tepat seperti di bawah ini: Strategi Pengajaran Tanggung Jawab Teacher Talkmenjelaskan tahapan, menempatkan siswa, mengarahkan momen-momen penting dalam pembelajaran. Modelingmemberikan pemodelan pada sikap dan perilaku perkembangan. Reinforcementsetiap tindakan guru memperkuat sikap atau perilaku individu yang berhubungan dengan tahapan perkembangan. Reflection Timewaktu yang diberikan kepada siswa untuk memikirkan sikap dan perilaku yang berhubungan dengan tahapan perkembangan.

Students Sharingmeminta siswa untuk memberikan pendapat tentang beberapa aspek dari pembelajaran. Specific Level-Related Strategieskegiatan yang meningkatkan interaksi dengan tahapan yang sedang dijalani; misalnya penetapan target individu untuk membantu siswa yang berada di tahap 3; dan pengajaran berbalasan (reciprocal teaching) untuk membantu siswa yang berada di tahap 4 (Steinhardt, 1992; Hellison, 1984; Hellison, 1995). Strategi penyadaran dan tindakan dimaksudkan untuk menyadarkan siswa tentang definisi tanggung jawab baik secara kognitif maupun dalam bentuk tindakan. Strategi refleksi dimaksudkan untuk membantu siswa mengevaluasi sendiri mengenai komitmen dan tandakan rasa tanggung jawabnya. Strategi keputusan pribadi dan pertemuan kelompok dimaksudkan untuk memberdayakan siswa secara langsung dalam membuat keputusan pribadi dan kelompoknya. Strategi konsultasi dan kualitas mengajar dimaksudkan untuk menyediakan beberapa struktur dan petunjuk bagi siswa untuk dapat berinteraksi mengenai kaulitas rasa tnggung jawab yang dikembangkannya. 3) Contoh Bentuk Latihan Levels of Affective Development Pembinaan rasa tanggung jawab melalui pendekatan model Hellison dilakukan secara terintegrasi dalam pelajaran Penjas dan berlangsung secara terus menerus semenjak awal hingga akhir tahun ajaran. Penjelasan tentang tingkat perkembangan rasa tanggung jawab pribadi yang terdiri dari lima tingkatan tersebut di atas terlebih dahulu harus diberikan yang selanjutnya diikuti oleh latihan-latihan. Beberapa contoh latihan dalam Levels of Affective Development sebagai berikut. a) Pada kasus mengambil peralatan olahraga. Guru menanyakan dan menyuruh siswa tentang bagaimana perilaku seseorang pada level 0, level 1, 2, 3, dan 4 pada waktu mengambil peralatan itu. b) Pada saat belajar keterampilan baru (new skill), siswa disuruh bekerja pada level yang paling baik. Selanjutnya guru memberikan penghargaan, pujian, atau pinpointing terhadap siswa yang bekerja lebih baik. c) Pada saat siswa berperilaku menyimpang, siswa tersebut mendapat time out dan diberi tugas untuk memikirkan mengapa perilaku menyimpang adalah level 0. Selanjutnya setelah siswa tahu perilaku siswa pada level 1 atau level yang lebih tinggi serta cukup meyakinkan guru bahwa ia mampu berperilaku pada level yang lebih tinggi, maka gurunya mengijinkan siswa itu untuk kembali mengikuti pelajaran sebagaimana mestinya. d) Pada saat siswa mengeluh tentang perbuatan siswa yang lainnya, guru menyuruh anak yang mengeluh itu untuk mengidentifikasi pada level mana perbuatan siswa yang dikeluhkan tersebut serta bagaimana cara-cara bergaul dengan siswa yang dikeluhkan tersebut. e) Pada kasus kerja kelompok. Sebelum melakukannya guru dan siswa mendiskusikan bagaimana perilaku siswa pada level 4 dalam bekerja sama pada sebuah group. Topik diskusi adalah bagaimana bekerja sama dengan siswa yang mempunyai level 0 dan level 1. 4) Evaluasi Levels of Affective Development Program evaluasi dalam model ini merupakan masalah tersendiri terutama bagi para guru yang belum terbiasa melakukan penilaian kualitatif. Selain penilaian yang berhubungan dengan keolahragaan dan pendidikan jasmaninya. Beberapa bentuk penilaian yang berhubungan dengan rasa tanggung jawab ini dan seringkali menjadi fokus utama adalah sebagai berikut, a) catatan harian b) observasi c) refleksi siswa

d) tes pengetahuan rasa tanggung jawab e) wawancara dengan orang lain


http://ramliunmul.blogspot.com/2009/10/model-pembelajaran-penjas.html?zx=8ab20ab73f98ad5d

Model Pembelajaran Penjas


MACAM-MACAM MODEL ATAU GAYA PEMBELAJARAN DALAM PENJAS TEKNOLOGI PEMBELAJARAN Jatmika Yoga Permana 07601241039 PJKR A PENDIDIKAN JASMANI KESEHATAN DAN REKREASI FAKULTAS ILMU KEOLAHRAGAAN UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA 2010 A. Macam-macam Bentuk atau Model Pembelajaran Penjas 1. Model Pendidikan Gerak (Movement Education) a. Sejarah Model pendidikan gerak manusia mulai berkembang di Amerika Serikat sejak tahun 1960-an, yang pelaksanaannya didasarkan pada karya Rudolph Laban. Kerangka kerja program Laban ini meliputi konsep kesadaran tubuh (apa yang dilakukan tubuh), konsep usaha (bagaimana tubuh bergerak), konsep ruang (di mana tubuh bergerak), dan konsep keterhubungan (hubungan apa yang terjadi). Masing-masing konsep tersebut, merupakan panduan untuk dimanfaatkan manakala anak harus bergerak, sehingga gerakan anak bermakna dalam keseluruhan konsep tersebut. b. Tujuan Tujuan dan kegiatan belajar dirancang dengan memanfaatkan pendekatan gaya mengajar pemecahan masalah, penemuan terbimbing, dan eksploratori (Logsdon et al., 1984). Menurutnya, dalam model pendidikan gerak ini, siswa akan didorong untuk mampu menganalisis tahapan gerakan ketika menggiring bola basket (misalnya) dan menemukan posisi yang tepat ketika berada dalam permainan. Steinhardt (1992), mengutip Nichols, telah mengusulkan suatu kurikulum terpadu (integrated curriculum) yang mengajarkan pada siswa hubungan antara gerak yang dipelajari dengan berbagai kegiatan pendidikan jasmani. Model pendidikan gerak juga untuk mengeksplorasi kemampuan gerak si anak. c. Contoh Cara Pengajarannya Anak-anak diminta meneliti pengaruh perkembangan teknologi dan waktu luang dalam abad 21 dikaitkan dengan peranan olahraga (Jewet, et. al; 1995). Mereka mengungkap dan mendiskusikan perbedaan perbedaan antara pengalaman langsung dari aktivitas gerak dengan pengalaman yang hanya teralami melalui menonton video atau komputer. Anak-anak diminta menyelidiki konflik dalam situasi olahraga dan mempraktekkan proses negosiasi serta strategi pencarian resolusi masalahnya. Mereka juga mendiskusikan konsep komunitas dan hubungannya dengan berbagai bentuk olahraga dan dansa.

d. Penilaian Terhadap Model Pendidikan Gerak Menurut saya, model pendidikan gerak pas diterapkan pada pendidikan penjas saat ini. Karena model pendidikan gerak memberi penekanan pada penerimaan diri dan kemajuan individual dalam pengembangan keterampilan gerak. Akan tetapi model tersebut tidak menekankan pada kompetisi dan kemenangan. Sayangnya kecenderungan di Indonesia, penggunaan model ini tidak menyebabkan anak dibekali dengan pengalaman berolahraga yang sebenarnya, karena programnya amat terbatas. e. Negara Penganut Model Pendidikan Gerak Inggris, Amerika Serikat, Indonesia, dll. 2. Model Pendidikan Kebugaran (Fitness Education) a. Sejarah Model pendidikan gerak manusia mulai berkembang di Amerika Serikat sejak tahun 1960-an, yang pelaksanaannya didasarkan pada karya Rudolph Laban. Kerangka kerja program Laban ini meliputi konsep kesadaran tubuh (apa yang dilakukan tubuh), konsep usaha (bagaimana tubuh bergerak), konsep ruang (di mana tubuh bergerak), dan konsep keterhubungan (hubungan apa yang terjadi). Masing-masing konsep tersebut, merupakan panduan untuk dimanfaatkan manakala anak harus bergerak, sehingga gerakan anak bermakna dalam keseluruhan konsep tersebut. b. Tujuan Tujuan dan kegiatan belajar dirancang dengan memanfaatkan pendekatan gaya mengajar pemecahan masalah, penemuan terbimbing, dan eksploratori (Logsdon et al., 1984). Menurutnya, dalam model pendidikan gerak ini, siswa akan didorong untuk mampu menganalisis tahapan gerakan ketika menggiring bola basket (misalnya) dan menemukan posisi yang tepat ketika berada dalam permainan. Steinhardt (1992), mengutip Nichols, telah mengusulkan suatu kurikulum terpadu (integrated curriculum) yang mengajarkan pada siswa hubungan antara gerak yang dipelajari dengan berbagai kegiatan pendidikan jasmani. Model pendidikan gerak juga untuk mengeksplorasi kemampuan gerak si anak. c. Contoh Cara Pengajarannya Anak-anak diminta meneliti pengaruh perkembangan teknologi dan waktu luang dalam abad 21 dikaitkan dengan peranan olahraga (Jewet, et. al; 1995). Mereka mengungkap dan mendiskusikan perbedaan perbedaan antara pengalaman langsung dari aktivitas gerak dengan pengalaman yang hanya teralami melalui menonton video atau komputer. Anak-anak diminta menyelidiki konflik dalam situasi olahraga dan mempraktekkan proses negosiasi serta strategi pencarian resolusi masalahnya. Mereka juga mendiskusikan konsep komunitas dan hubungannya dengan berbagai bentuk olahraga dan dansa. d. Penilaian Terhadap Model Pendidikan Gerak Menurut saya, model pendidikan gerak pas diterapkan pada pendidikan penjas saat ini. Karena model pendidikan gerak memberi penekanan pada penerimaan diri dan kemajuan individual dalam pengembangan keterampilan gerak. Akan tetapi model tersebut tidak menekankan pada kompetisi dan kemenangan. Sayangnya kecenderungan di Indonesia, penggunaan model ini tidak menyebabkan anak dibekali dengan pengalaman berolahraga yang sebenarnya, karena programnya amat terbatas. e. Negara Penganut Model Pendidikan Gerak Inggris, Amerika Serikat, Indonesia, dll.

3. Model Pembelajaran kooperatif Menurut Slavin pembelajaran kooperatif adalah pembelajaran yang dilakukan secara berkelompok, siswa dalam satu kelas dijadikan kelompok -kelompok kecil yang terdiri dari 4 sampai 5 orang untuk memahami konsep yang difasilitasi oleh guru. Model pembelajaran kooperatif adalah model pembelajaran dengan setting kelompok-kelompok kecil dengan memperhatikan keberagaman anggota kelompok sebagai wadah siswa bekerjasama dan memecahkan suatu masalah melalui interaksi sosial dengan teman sebayanya, memberikan kesempatan pada peserta didik untuk mempelajari sesuatu dengan baik pada waktu yang bersamaan dan ia menjadi narasumber bagi teman yang lain. Jadi Pembelajaran kooperatif merupakan model pembelajaran yang mengutamakan kerjasama diantara siswa untuk mencapai tujuan pembelajaran. Model pembelajaran kooperatif memiliki ciri-ciri: 1) untuk menuntaskan materi belajarnya, siswa belajar dalam kelompok secara kooperatif, 2) kelompok dibentuk dari siswa-siswa yang memiliki kemampuan tinggi, sedang dan rendah, 3) jika dalam kelas terdapat siswa-siswa yang terdiri dari beberapa ras, suku, budaya jenis kelamin yang berbeda, maka diupayakan agar dalam tiap kelompok terdiri dari ras, suku, budaya, jenis kelamin yang berbeda pula, dan 4) penghargaan lebih diutamakan pada kerja kelompok dari pada perorangan. Dalam pembelajaran kooperatif, dua atau lebih individu saling tergantung satu sama lain untuk mencapai suatu tujuan bersama. Menurut Ibrahim dkk. siswa yakin bahwa tujuan mereka akan tercapai jika dan hanya jika siswa lainnya juga mencapai tujuan tersebut. Untuk itu setiap anggota berkelompok bertanggung jawab atas keberhasilan kelompoknya. Siswa yang bekerja dalam situasi pembelajaran kooperatif didorong untuk bekerjasama pada suatu tugas bersama dan mereka harus mengkoordinasikan usahanya untuk menyelesaikan tugasnya. Model pembelajaran kooperatif dikembangkan untuk mencapai setidak-tidaknya tiga tujuan pembelajaran penting. Menurut Depdiknas tujuan pertama pembelajaran kooperatif, yaitu meningkatkan hasil akademik, dengan meningkatkan kinerja siswa dalam tugas-tugas akademiknya. Siswa yang lebih mampu akan menjadi nara sumber bagi siswa yang kurang mampu, yang memiliki orientasi dan bahasa yang sama. Sedangkan tujuan yang kedua, pembelajaran kooperatif memberi peluang agar siswa dapat menerima teman-temannya yang mempunyai berbagai perbedaan latar belajar. Perbedaan tersebut antara lain perbedaan suku, agama, kemampuan akademik, dan tingkat sosial. Tujuan penting ketiga dari pembelajaran kooperatif ialah untuk mengembangkan keterampilan sosial siswa. Keterampilan sosial yang dimaksud antara lain, berbagi tugas, aktif bertanya, menghargai pendapat orang lain, memancing teman untuk bertanya, mau menjelaskan ide atau pendapat, bekerja dalam kelompok dan sebagainya. Menurut Ibrahim, dkk. pembelajaran kooperatif memiliki dampak yang positif untuk siswa yang hasil belajarnya rendah sehingga mampu memberikan peningkatan hasil belajar yang signifikan. Cooper mengungkapkan keuntungan dari metode pembelajaran kooperatif, antara lain: 1) siswa mempunyai tanggung jawab dan terlibat secara aktif dalam pembelajaran, 2) siswa dapat mengembangkan keterampilan berpikir tingkat tinggi, 3) meningkatkan ingatan siswa, dan 4) meningkatkan kepuasan siswa terhadap materi pembelajaran. Menurut Ibrahim, unsur-unsur dasar pembelajaran kooperatif sebagai berikut: 1) siswa dalam kelompok haruslah beranggapan bahwa mereka sehidup sepenanggungan bersama, 2) siswa bertanggung jawab atas segala sesuatu didalam kelompoknya, 3) siswa haruslah melihat bahwa semua anggota didalam kelompoknya memiliki tujuan yang sama, 4) siswa haruslah membagi tugas dan tanggung jawab yang sama di antara anggota kelompoknya, 5) siswa akan dikenakan evaluasi atau diberikan penghargaan yang juga akan dikenakan untuk semua anggota kelompok, 6) siswa berbagi kepemimpinan dan mereka membutuhkan keterampilan untuk belajar bersama selama proses belajarnya, dan 7) siswa akan diminta

mempertanggungjawabkan secara individual materi yang ditangani dalam kelompok kooperatif. 4. Model Pembelajaran Role Playing Tujuan pendidikan di sekolah harus mampu mendukung kompetensi tamatan sekolah, yaitu pengetahuan, nilai, sikap, dan kemampuan untuk mendekatkan dirinya dengan lingkungan alam, sosial, budaya, dan kebutuhan daerah. Sementara itu, kondisi pendidikan di negara kita dewasa ini, lebih diwarnai oleh pendekatan yang menitikberatkan pada model belajar konvensional seperti ceramah,sehingga kurang mampu merangsang siswa untuk terlibat aktif dalam proses belajar mengajar (Suwarma, 1991; Jarolimek, 1967). Suasana belajar seperti itu, menjauhkan peran pendidikan IPS dalam upaya mempersiapkan warga negara yang baik dan memasyarakat (Djahiri, 1993) Di sekolah saat ini, ada indikasi bahwa pola pembelajaran bersifatteacher centered. Kecenderungan pembelajaran demikian, mengakibatkan lemahnya pengembangan potensi diri siswa dalam pembelajaran sehingga prestasi belajar yang dicapai tidak optimal. Kesan menonjolnya verbalisme dalam pelaksanaan kegiatan belajar mengajar di kelas masih terlalu kuat. Hasil penelitian Rofiuddin (1990) tentang interaksi kelas di sekolah dasar menunjukkan bahwa 95% interaksi kelas dikuasai oleh guru. Pertanyaan-pertanyaan yang digunakan oleh guru dalam interaksi kelas berupa pertanyaan-pertanyaan dalam kategori kognisi rendah. Salah satu alternatif model pembelajaran yang dapat dikembangkan untuk memenuhi tuntutan tersebut adalah model belajar role playing. Menurut Zuhaerini (1983), model ini digunakan apabila pelajaran dimaksudkan untuk: (a) menerangkan suatu peristiwa yang didalamnya menyangkut orang banyak, dan berdasarkan pertimbangan didaktik lebih baik didramatisasikan daripada diceritakan, karena akan lebih jelas dan dapat dihayati oleh anak; (b) melatih anak-anak agar mereka mampu menyelesaikan masalah-masalah sosialpsikologis; dan (c) melatih anak-anak agar mereka dapat bergaul dan memberi kemungkinan bagi pemahaman terhadap orang lain beserta masalahnya. Sementara itu, Davies (1987) mengemukakan bahwa penggunaan role playing dapat membantu siswa dalam mencapai tujuan-tujuan afektif. Esensi role playing, menurut Chesler dan Fox (1966) adalah the involvement of participant and observers in a real problem situation and the desire for resolution and understanding that this involvement engender. Seperti telah dikemukakan di atas, bahwa penggunaan model ini dalam rangka mencapai tujuan pembelajaran yang telah direncanakan. Ada empat asumsi yang mendasari model ini memiliki kedudukan yangsejajar dengan model-model pengajaran lainnya. Keempat asumsi tersebut ialah: Pertama, secara implisit bermain peran mendukung suatu situasi belajar berdasarkan pengalaman dengan menekankan dimensi di sini dan kini (here and now) sebagai isi pengajaran. Kedua, bermain peran memberikan kemungkinan kepada para siswa untuk mengungkapkan perasaan-perasaannya yang tak dapat mereka kenali tanpa bercermin kepada orang lain. Ketiga, model ini mengasumsikan bahwa emosi dan ide-ide dapat diangkat ke taraf kesadaran untuk kemudian ditingkatkan melalui proses kelompok. Keempat, model mengajar ini mengasumsikan bahwa proses-proses psikologis yang tersembunyi (covert) berupa sikap-sikap nilai-nilai, perasaan-perasaan dan sistem keyakinan dapat diangkat ke taraf kesadaran melalui kombinasi pemeranan secara spontan dan analisisnya. Untuk dapat mengukur sejauhmana bermain peran memberikan manfaat kepada pemeran dan pengamatnya ditentukan oleh tiga hal, yakni (1) kualitas pemeranan; (2) analisis yang dilakukan melalui diskusi setelah pemeranan; (3) persepsi siswa terhadap peran yang ditampilkan dibandingkan dengan situasi nyata dalam kehidupan. Pembelajaran dengan model role playing dilaksanakan menjadi beberapa tahap, yaitu sebagai berikut: (1) tahap memotivasi kelompok; (2) memilih pemeran; (3) menyiapkan pengamat; (4) menyiapkan

tahap-tahap permainan peran; (5) pemeranan; (6) diskusi dan evaluasi; (7) pemeranan ulang; (8) diskusi dan evaluasi kedua; (9) membagi pengalaman dan menarik generalisasi. Kemampuan guru dalam performa pembelajaran merupakan seperangkat perilaku nyata guru pada waktu memberikan pelajaran kepada siswanya (Johnson, dalam Natawidjaya, 1996). Menurut Sunaryo (1989) dan Suciati (1994), performansi guru dalam melaksanakan proses pembelajaran mencakup tiga aspek, yaitu membuka pelajaran, melaksanakan pelajaran, dan menutup pelajaran. Membuka pelajaran adalah kegiatan yang dilakukan guru untuk menciptakan suasana kesiapan mental dan menumbuhkan perhatian siswa terhadap hal-hal yang akan dipelajari. Dasar kesiapan mental yang dimaksud, menurut Sumaatmadja (1984) antara lain minat, dorongan untuk mengetahui kenyataan, dan dorongan untuk menemukan sendiri gejala-gejala kehidupan. Menurut pendapat Connel (1988), kesiapan belajar siswa meliputi kesiapan afektif dan kesiapan kognitif. Sedangkan menurut Bruner (dalam Maxim, 1987), kesiapan merupakan peristiwa yang timbul dari lingkungan belajar yang kaya dan bermakna, dihadapkan kepada guru yang mendorong siswa dalam berbagai peristiwa belajar yang menggugah. Berdasarkan kutipan pendapat di atas, aktivitas membuka pelajaran pada hakikatnya merupakan upaya guru menarik perhatian siswa, menimbulkan motivasi, memberi acuan, dan membuat keterkaitan. Menarik perhatian siswa dapat dilakukan antara lain dengan gaya mengajar, penggunaan alat-bantu mengajar, dan pola interaksi yang bervariasi. Kemampuan melaksanakan proses pengajaran menunjuk kepada sejumlah aktivitas yang dilakukan oleh guru ketika ia menyajikan bahan pelajaran. Pada tahap ini berlangsung interaksi antara guru dengan siswa, antarsiswa, dan antara siswa dengan kelompok belajarnya. Selanjutnya, Oregon (1977) mengemukakan pula mengenai cakupan pelaksanaan pengajaran seperti aspek tujuan pengajaran yang dikehendaki, bahan pelajaran yang disajikan, siswa yang belajar, metode mengajar yang digunakan, guru yang mengajar, dan alokasi waktu dalam mengajar. Kemampuan mengakhiri atau menutup pelajaran merupakan kegiatan guru baik pada akhir jam pelajaran maupun pada setiap penggalan kegiatan belajar mengajar. Kegiatan ini dilakukan dengan maksud agar siswa memperoleh gambaran yang utuh mengenai pokokpokok materi yang dipelajarinya. Menutup pelajaran secara umum terdiri atas kegiatankegiatan meninjau kembali dan mengevaluasi. Meninjau kembali pelajaran mencakup kegiatan merangkum inti pelajaran dan membuat ringkasan, sedangkan mengevaluasi pelajaran merupakan kegiatan untuk mengetahui adanya pengembangan wawasan siswa setelah pelajaran atau penggal kegiatan belajar berakhir. Daftar Pustaka http://ipotes.wordpress.com/2008/05/10/metode-pembelajaran-kooperatif/ http://ahsinsaefi.blogspot.com/ http://mahardhikazifana.com/family-education-pendidikan-keluarga/model-role-playingdalam-aktivitas-pembelajaran.html

BAB I PENDAHULUAN

A. Kedudukan Dan Makna Pendidikan Jasmani


Bangsa kita sedang dihadapkan pada kondisi centang perenang. Krisis multimuka yang datang menyusul terjadinya krisis ekonomi dan krisis moneter yang memukul bangsa kita di titik akhir milenium kedua, hingga kini masih membekaskan luka dalam bagi sebagian besar masyarakat kita. Luka itu terasa lebih pedih dan lama bagi bangsa kita, di tengah kondisi dunia yang sedang dihadapkan pada krisis perebutan kekuasaan politik dunia, dengan nuansa kental perebutan kekuatan ekonomi dan teknologi di sebagian besar dunia maju. Kemampuan ekonomi bangsa Indonesia telah terlempar pada keadaan tak terkendali, menghasilkan persoalan-persoalan seperti pemangkasan anggaran, harga barang yang membubung, kesulitan dan konflik penduduk kota, rangkaian pengangguran, hingga defisit pemerintah yang semakin menggunung. Jika negara maju lainnya sudah mengambil langkah-langkah pasti terhadap persoalan global yang menantang tersebut, Indonesia tetap berada dalam kondisi lesu. Bagi negara lain, misalnya, keterbatasan sumber energi yang berbasis pada penggunaan minyak bumi telah diantisipasi dengan jalan memproduksi alat transportasi dan pengoperasian pabrik-pabrik yang akrab lingkungan dan hemat energi. Perhatian terhadap lingkungan telah mengarah pada upaya pengimplementasian alatalat dan aturan yang membatasi toleransi kebisingan suara, radiasi, dan polusi serta perusakan tanah, hutan dan sungai. Penekanan asas akuntabilitas telah mendorong para pembayar pajak untuk mengetahui kemana saja uang mereka dihabiskan. Ancaman perpecahan antar etnis dan konflik bangsa-bangsa mengarah pada diberdayakannya pendidikan dalam semua jenjang dan mata pelajaran sebagai alat untuk menumbuhkan saling pengertian dan cinta damai pada para siswa dan masyarakatnya. Ini semua berbeda tajam dengan apa yang tengah terjadi di negara kita.

Tidak cukup dengan itu, kemajuan teknologi informasi dan komunikasi yang sudah mencapai tahap yang sangat maju, telah pula menghadapkan bangsa kita, terutama para remaja dan anak-anak, pada gaya hidup yang semakin menjauh dari semangat perkembangan total, karena lebih mengutamakan keunggulan kecerdasan intelektual, sambil mengorbankan kepentingan keunggulan fisik dan moral individu. Budaya hidup sedenter (kurang gerak) karenanya semakin kuat menggejala di kalangan anak-anak dan remaja, berkombinasi dengan semakin hilangnya ruang-ruang publik dan tugas kehidupan yang memerlukan upaya fisik yang keras. Segalanya menjadi mudah, demikian pernyataan para ahli, sehingga lambat laun kemampuan fisik manusia sudah tidak diperlukan lagi. Dikhawatirkan, secara evolutif manusia akan berubah bentuk fisiknya, mengarah pada bentuk yang tidak bisa kita bayangkan, karena banyak anggota tubuh kita, dari mulai kaki dan lengan sudah dipandang tidak berfungsi lagi. Dalam kondisi demikian, patutlah kita mempertanyakan kembali peranan dan fungsi pendidikan, khususnya pendidikan jasmani: apakah peranan yang bisa dimainkan oleh program pendidikan jasmani dalam kondisi dunia dan bangsa yang semakin dihadapkan pada kuatnya potensi konflik tersebut? Apa peranan pendidikan jasmani dalam mempersiapkan para pewaris bangsa ini untuk mampu bersaing secara sehat dalam persaingan global sekarang dan kelak? Apa pula peranan pendidikan jasmani dan olahraga dalam mengantisipasi kemungkinan terjadinya evolusi kehidupan

manusia yang cenderung tidak lagi memerlukan perangkat fisik yang utuh untuk menjalankan tugasnya sehari-hari? Buku ini mencoba menjawab pertanyaan-pertanyaan mendasar di atas, serta menawarkan satu alternatif dalam memandang peranan dan fungsi Pendidikan Jasmani yang seharusnya dilaksanakan di sekolah-sekolah, termasuk di sekolah luar Biasa (SLB).

B. Hakikat Pendidikan Jasmani


Pendidikan jasmani pada hakikatnya adalah proses pendidikan yang memanfaatkan aktivitas fisik untuk menghasilkan perubahan holistik dalam kualitas individu, baik dalam hal fisik, mental, serta emosional. Pendidikan jasmani memperlakukan anak sebagai sebuah kesatuan utuh, mahluk total, daripada hanya menganggapnya sebagai seseorang yang terpisah kualitas fisik dan mentalnya. Pada kenyataannya, pendidikan jasmani adalah suatu bidang kajian yang sungguh luas. Titik perhatiannya adalah peningkatan gerak manusia. Lebih khusus lagi, penjas berkaitan dengan hubungan antara gerak manusia dan wilayah pendidikan lainnya: hubungan dari perkembangan tubuh-fisik dengan pikiran dan jiwanya. Fokusnya pada pengaruh perkembangan fisik terhadap wilayah pertumbuhan dan perkembangan aspek lain dari manusia itulah yang menjadikannya unik. Tidak ada bidang tunggal lainnya seperti pendidikan jasmani yang berkepentingan dengan perkembangan total manusia.

Per definisi, pendidikan jasmani diartikan dengan berbagai ungkapan dan kalimat. Namun esensinya sama, yang jika disimpulkan bermakna jelas, bahwa pendidikan jasmani memanfaatkan alat fisik untuk mengembangan keutuhan manusia. Dalam kaitan ini diartikan bahwa melalui fisik, aspek mental dan emosional pun turut terkembangkan, bahkan dengan penekanan yang cukup dalam. Berbeda dengan bidang lain, misalnya pendidikan moral, yang penekanannya benar-benar pada perkembangan moral, tetapi aspek fisik tidak turut terkembangkan, baik langsung maupun secara tidak langsung. Karena hasil-hasil kependidikan dari pendidikan jasmani tidak hanya terbatas pada manfaat penyempurnaan fisik atau tubuh semata, definisi penjas tidak hanya menunjuk pada pengertian tradisional dari aktivitas fisik. Kita harus melihat istilah pendidikan jasmani pada bidang yang lebih luas dan lebih abstrak, sebagai satu proses pembentukan kualitas pikiran dan juga tubuh. Sungguh, pendidikan jasmani ini karenanya harus menyebabkan perbaikan dalam pikiran dan tubuh yang mempengaruhi seluruh aspek kehidupan harian seseorang. Pendekatan holistik tubuh-jiwa ini termasuk pula penekanan pada ketiga domain kependidikan: psikomotor, kognitif, dan afektif. Dengan meminjam ungkapan Robert Gensemer, penjas diistilahkan sebagai proses menciptakan tubuh yang baik bagi tempat pikiran atau jiwa. Artinya, dalam tubuh yang baik diharapkan pula terdapat jiwa yang sehat, sejalan dengan pepatah Romawi Kuno: Men sana in corporesano.

Kesatuan Jiwa dan Raga


Salah satu pertanyaan sulit di sepanjang jaman adalah pemisahan antara jiwa dan raga atau tubuh. Kepercayaan umum menyatakan bahwa jiwa dan raga terpisah, dengan penekanan berlebihan pada satu sisi tertentu, disebut dualisme, yang mengarah pada penghormatan lebih pada jiwa, dan menempatkan kegiatan fisik secara lebih inferior. Pandangan yang berbeda lahir dari filsafat monisme, yaitu suatu kepercayaan yang memenangkan kesatuan tubuh dan jiwa. Kita bisa melacak pandangan ini dari pandangan Athena Kuno, dengan konsepnya jiwa yang baik di dalam raga yang baik. Moto tersebut sering dipertimbangkan sebagai pernyataan ideal dari tujuan pendidikan jasmani tradisional: aktivitas fisik mengembangkan seluruh aspek dari tubuh; yaitu jiwa, tubuh, dan spirit. Tepatlah ungkapan Zeigler bahwa fokus dari bidang pendidikan jasmani adalah aktivitas fisik yang mengembangkan, bukan semata-mata aktivitas fisik itu sendiri. Selalu terdapat tujuan pengembangan manusia dalam program pendidikan jasmani.

Akan tetapi, pertanyaan nyata yang harus dikedepankan di sini bukanlah apakah kita percaya terhadap konsep holistik tentang pendidikan jasmani, tetapi, apakah konsep tersebut saat ini bersifat dominan dalam masyarakat kita atau di antara pengemban tugas penjas sendiri? Dalam masyarakat sendiri, konsep dan kepercayaan terhadap pandangan dualisme di atas masih kuat berlaku. Bahkan termasuk juga pada sebagian besar guru penjas sendiri, barangkali pandangan demikian masih kuat mengakar, entah akibat dari kurangnya pemahaman terhadap falsafah penjas sendiri, maupun karena kuatnya kepercayaan itu. Yang pasti, masih banyak guru penjas yang sangat jauh dari menyadari terhadap peranan dan fungsi pendidikan jasmani di sekolah-sekolah, sehingga proses pembelajaran penjas di sekolahnya masih lebih banyak ditekankan pada program yang berat sebelah pada aspek fisik semata-mata. Bahkan, dalam kasus Indonesia, penekanan yang berat itu masih dipandang labih baik, karena ironisnya, justru program pendidikan jasmani di kita malahan tidak ditekankan ke mana-mana. Itu karena pandangan yang sudah lebih parah, yang memandang bahwa program penjas dipandang tidak penting sama sekali. Nilai-nilai yang dikandung penjas untuk mengembangkan manusia utuh menyeluruh, sungguh masih jauh dari kesadaran dan pengakuan masyarakat kita. Ini bersumber dan disebabkan oleh kenyataan pelaksanaan praktik penjas di lapangan. Teramat banyak kasus atau contoh di mana orang menolak manfaat atau nilai positif dari penjas dengan menunjuk pada kurang bernilai dan tidak seimbangnya program pendidikan jasmani di lapangan seperti yang dapat mereka lihat. Perbedaan atau kesenjangan antara apa yang kita percayai dan apa yang kita praktikkan (gap antara teori dan praktek) adalah sebuah duri dalam bidang pendidikan jasmani kita.

Hubungan Pendidikan Jasmani dengan Bermain dan Olahraga


Dalam memahami arti pendidikan jasmani, kita harus juga mempertimbangkan hubungan antara bermain (play) dan olahraga (sport), sebagai istilah yang lebih dahulu populer dan lebih sering digunakan dalam konteks kegiatan sehari-hari. Pemahaman tersebut akan membantu para guru atau masyarakat dalam memahami peranan dan fungsi pendidikan jasmani secara lebih konseptual. Bermain pada intinya adalah aktivitas yang digunakan sebagai hiburan. Kita mengartikan bermain sebagai hiburan yang bersifat fisikal yang tidak kompetitif, meskipun bermain tidak harus selalu bersifat fisik. Bermain bukanlah berarti olahraga dan pendidikan jasmani, meskipun elemen dari bermain dapat ditemukan di dalam keduanya. Olahraga di pihak lain adalah suatu bentuk bermain yang terorganisir dan bersifat kompetitif. Beberapa ahli memandang bahwa olahraga semata-mata suatu bentuk permainan yang terorganisasi, yang menempatkannya lebih dekat kepada istilah pendidikan jasmani. Akan tetapi, pengujian yang lebih cermat menunjukkan bahwa secara tradisional, olahraga melibatkan aktivitas kompetitif. Ketika kita menunjuk pada olahraga sebagai aktivitas kompetitif yang terorganisir, kita mengartikannya bahwa aktivitas itu sudah disempurnakan dan diformalkan hingga kadar tertentu, sehingga memiliki beberapa bentuk dan proses tetap yang terlibat. Peraturan, misalnya, baik tertulis maupun tak tertulis, digunakan atau dipakai dalam aktivitas tersebut, dan aturan atau prosedur tersebut tidak dapat diubah selama kegiatan berlangsung, kecuali atas kesepakatan semua pihak yang terlibat. Di atas semua pengertian itu, olahraga adalah aktivitas kompetitif. Kita tidak dapat mengartikan olahraga tanpa memikirkan kompetisi, sehingga tanpa kompetisi itu, olahraga berubah menjadi semata-mata bermain atau rekreasi. Bermain, karenanya pada satu saat menjadi olahraga, tetapi sebaliknya, olahraga tidak pernah hanya semata-mata bermain; karena aspek kompetitif teramat penting dalam hakikatnya. Di pihak lain, pendidikan jasmani mengandung elemen baik dari bermain maupun dari olahraga, tetapi tidak berarti hanya salah satu saja, atau tidak juga harus selalu seimbang di antara keduanya. Sebagaimana dimengerti dari kata-katanya, pendidikan jasmani adalah aktivitas jasmani yang memiliki tujuan kependidikan tertentu. Pendidikan Jasmani bersifat fisik dalam aktivitasnya dan

penjas dilaksanakan untuk mendidik. Hal itu tidak bisa berlaku bagi bermain dan olahraga, meskipun keduanya selalu digunakan dalam proses kependidikan.

Bermain, olahraga dan pendidikan jasmani melibatkan bentuk-bentuk gerakan, dan ketiganya dapat melumat secara pas dalam konteks pendidikan jika digunakan untuk tujuan-tujuan kependidikan. Bermain dapat membuat rileks dan menghibur tanpa adanya tujuan pendidikan, seperti juga olahraga tetap eksis tanpa ada tujuan kependidikan. Misalnya, olahraga profesional (di Amerika umumnya disebut athletics) dianggap tidak punya misi kependidikan apa-apa, tetapi tetap disebut sebagai olahraga. Olahraga dan bermain dapat eksis meskipun secara murni untuk kepentingan kesenangan, untuk kepentingan pendidikan, atau untuk kombinasi keduanya. Kesenangan dan pendidikan tidak harus dipisahkan secara eksklusif; keduanya dapat dan harus beriringan bersama.

Lalu bagaimana dengan rekreasi dan dansa (dance)?


Para ahli memandang bahwa rekreasi adalah aktivitas untuk mengisi waktu senggang. Akan tetapi, rekreasi dapat pula memenuhi salah satu definisi penggunaan berharga dari waktu luang. Dalam pandangan itu, aktivitas diseleksi oleh individu sebagai fungsi memperbaharui ulang kondisi fisik dan jiwa, sehingga tidak berarti hanya membuang-buang waktu atau membunuh waktu. Rekreasi adalah aktivitas yang menyehatkan pada aspek fisik, mental dan sosial. Jay B. Nash menggambarkan bahwa rekreasi adalah pelengkap dari kerja, dan karenanya merupakan kebutuhan semua orang. Dengan demikian, penekanan dari rekreasi adalah dalam nuansa mencipta kembali (re-creation) orang tersebut, upaya revitalisasi tubuh dan jiwa yang terwujud karena menjauh dari aktivitas rutin dan kondisi yang menekan dalam kehidupan sehari-hari. Landasan kependidikan dari rekreasi karenanya kini diangkat kembali, sehingga sering diistilahkan dengan pendidikan rekreasi, yang tujuan utamanya adalah mendidik orang dalam bagaimana memanfaatkan waktu senggang mereka. Sedangkan dansa adalah aktivitas gerak ritmis yang biasanya dilakukan dengan iringan musik, kadang dipandang sebagai sebuah alat ungkap atau ekspresi dari suatu lingkup budaya tertentu, yang pada perkembangannya digunakan untuk hiburan dan memperoleh kesenangan, di samping sebagai alat untuk menjalin komunikasi dan pergaulan, di samping sebagai kegiatan yang menyehatkan. Di Amerika, dansa menjadi bagian dari program pendidikan jasmani, karena dipandang sebagai alat untuk membina perbendaharaan dan pengalaman gerak anak, di samping untuk meningkatkan kebugaran jasmani serta pewarisan nilai-nilai. Meskipun menjadi bagian penjas, dansa sendiri masih dianggap sebagai cabang dari seni. Kemungkinan bahwa dansa digunakan dalam penjas terutama karena hasilnya yang mampu mengembangkan orientasi gerak tubuh. Bahkan ditengarai bahwa aspek seni dari dansa dipandang mampu mengurangi kecenderungan penjas agar tidak terlalu berorientasi kompetitif dengan memasukkan unsur estetikanya. Jadi sifatnya untuk

melengkapi fungsi dan peranan penjas dalam membentuk manusia yang utuh seperti diungkap di bagian-bagian awal naskah ini.

C. Tujuan Pendidikan Jasmani


Apakah sebenarnya tujuan pendidikan jasmani? Menjawab pertanyaan demikian, banyak guru yang masih berbeda pendapat. Ada yang menjawab bahwa tujuannya adalah untuk meningkatkan keterampilan siswa dalam berolahraga. Ada pula yang berpendapat, tujuannya adalah meningkatkan taraf kesehatan anak yang baik, dan tidak bisa disangkal pula pasti ada yang mengatakan, bahwa tujuan pendidikan jasmani adalah untuk meningkatkan kebugaran jasmani. Kesemua jawaban di atas benar belaka. Hanya saja barangkali bisa dikatakan kurang lengkap, sebab yang paling penting dari kesemuanya itu tujuannya bersifat menyeluruh. Secara sederhana, pendidikan jasmani memberikan kesempatan kepada siswa untuk: Mengembangkan pengetahuan dan keterampilan yang berkaitan dengan aktivitas jasmani, perkembangan estetika, dan perkembangan sosial. Mengembangkan kepercayaan diri dan kemampuan untuk menguasai keterampilan gerak dasar yang akan mendorong partisipasinya dalam aneka aktivitas jasmani. Memperoleh dan mempertahankan derajat kebugaran jasmani yang optimal untuk melaksanakan tugas sehari-hari secara efisien dan terkendali. Mengembangkan nilai-nilai pribadi melalui partisipasi dalam aktivitas jasmani baik secara kelompok maupun perorangan. Berpartisipasi dalam aktivitas jasmani yang dapat mengembangkan keterampilan sosial yang memungkinkan siswa berfungsi secara efektif dalam hubungan antar orang. Menikmati kesenangan dan keriangan melalui aktivitas jasmani, termasuk permainan olahraga.

Diringkaskan dalam terminologi yang populer, maka tujuan pembelajaran pendidikan jasmani itu harus mencakup tujuan dalam domain psikomotorik, domain kognitif, dan tak kalah pentingnya dalam domain afektif. Pengembangan domain psikomotorik secara umum dapat diarahkan pada dua tujuan utama, pertama mencapai perkembangan aspek kebugaran jasmani, dan kedua, mencapai perkembangan aspek perseptual motorik. Ini menegaskan bahwa pembelajaran pendidikan jasmani harus melibatkan aktivitas fisik yang mampu merangsang kemampuan kebugaran jasmani serta sekaligus bersifat pembentukan penguasaan gerak keterampilan itu sendiri. Kebugaran jasmani merupakan aspek penting dari domain psikomotorik, yang bertumpu pada perkembangan kemampuan biologis organ tubuh. Konsentrasinya lebih banyak pada persoalan peningkatan efisiensi fungsi faal tubuh dengan segala aspeknya sebagai sebuah sistem (misalnya sistem peredaran darah, sistem pernapasan, sistem metabolisme, dll.) Dalam pengertian yang lebih resmi, sering dibedakan konsep kebugaran jasmani ini dengan konsep kebugaran motorik. Keduanya dibedakan dalam hal: kebugaran jasmani menunjuk pada aspek kualitas tubuh dan organorgannya, seperti kekuatan (otot), daya tahan (jantungparu), kelentukan (otot dan persendian); sedangkan kebugaran motorik menekankan aspek penampilan yang melibatkan kualitas gerak sendiri seperti kecepatan, kelincahan, koordinasi, power, keseimbangan, dll. Namun dalam naskah ini, penulis akan menggunakan konsep

kebugaran jasmani tersebut untuk menunjuk pada keseluruhan aspek di atas. Pengembangan keterampilan gerak merujuk pada proses penguasaan suatu keterampilan atau tugas gerak yang melibatkan proses mempersepsi rangsangan dari luar, kemudian rangsangan itu diolah dan diprogramkan sampai terjadinya respons berupa tindakan yang sesuai dengan rangsangan itu. Penekanan proses pembelajarannya lebih banyak ditujukan pada proses perangsangan yang bervariasi, sehingga setiap kali anak selalu mengerahkan kemampuannya dalam mengolah informasi, ketika akan menghasilkan gerak. Dengan cara itu, kepekaan sistem saraf anak semakin dikembangkan. Domain kognitif mencakup pengetahuan tentang fakta, konsep, dan lebih penting lagi adalah penalaran dan kemampuan memecahkan masalah. Aspek kognitif dalam pendidikan jasmani, tidak saja menyangkut penguasaan pengetahuan faktual semata-mata, tetapi meliputi pula pemahaman terhadap gejala gerak dan prinsipnya, termasuk yang berkaitan dengan landasan ilmiah pendidikan jasmani dan olahraga serta manfaat pengisian waktu luang. Domain afektif mencakup sifat-sifat psikologis yang menjadi unsur kepribadian yang kukuh. Tidak hanya tentang sikap sebagai kesiapan berbuat yang perlu dikembangkan, tetapi yang lebih penting adalah konsep diri dan komponen kepribadian lainnya, seperti intelegensia emosional dan watak. Konsep diri menyangkut persepsi diri atau penilaian seseorang tentang kelebihannya. Konsep diri merupakan fondasi kepribadian anak dan sangat diyakini ada kaitannya dengan pertumbuhan dan perkembangan mereka setelah dewasa kelak. Intelegensia emosional mencakup beberapa sifat penting, yakni pengendalian diri, kemampuan memotivasi diri, ketekunan, dan kemampuan untuk berempati. Pengendalian diri merupakan kualitas pribadi yang mampu menyelaraskan pertimbangan akal dan emosi yang menjadi sifat penting dalam kehidupan sosial dan pencapaiannya untuk sukses hidup di masyarakat. Demikian juga dengan ketekunan; tidak ada pekerjaan yang dapat dicapai dengan baik tanpa ada ketekunan. Ini juga berlaku sama dengan kemampuan memotivasi diri, kemandirian untuk tidak selalu diawasi dalam menyelesaikan tugas apapun. Di lain pihak, kemampuan berempati merupakan kualitas pribadi yang mampu menempatkan diri di pihak orang lain, dengan mencoba mengetahui perasaan oran lain. Karena itu pula empati disebut juga sebagai kecerdasan hubungan sosial. Cubitlah diri kamu sendiri, sebelum mencubit orang lain. Niscaya kamu akan mengetahui, apa yang boleh dan tidak boleh kamu lakukan pada orang lain, merupakan kearifan leluhur, yang jika diperas maknanya, tidak lain adalah penekanan kemampuan berempati.

D. Gerak Sebagai Kebutuhan Anak


Dunia anak-anak adalah dunia yang segar, baru, dan senantiasa indah, dipenuhi keajaiban dan keriangan. Demikian Rachel Carson dalam sebuah ungkapannya. Namun demikian, menurut Carson, adalah kemalangan bagi kebanyakan kita bahwa dunia yang cemerlang itu terenggut muram dan bahkan hilang sebelum kita dewasa. Dunia anak-anak memang menakjubkan, mengandung aneka ragam pengalaman yang mencengangkan, dilengkapi berbagai kesempatan untuk memperoleh pembinaan . Bila guru masuk ke dalam dunia itu, ia dapat membantu anak-anak untuk mengembangkan pengetahuannya, mengasah kepekaan rasa hatinya serta memperkaya keterampilannya. Bermain adalah dunia anak. Sambil bermain mereka belajar. Dalam hal belajar, anak-anak adalah ahlinya. Segala macam dipelajarinya, dari menggerakkan anggota tubuhnya hingga mengenali berbagai benda di lingkungan sekitarnya. Bayangkan keceriaan yang didapatnya ketika ia menyadari

baru saja menambah pengetahuan dan keterampilan. Lihat, saya sudah bisa teriaknya kepada semua orang.

Belajar dan keceriaan merupakan dua hal penting dalam masa kanak-kanak. Hal ini termasuk upaya mempelajari tubuhnya sendiri dan berbagai kemungkinan geraknya. Gerak adalah rangsangan utama bagi pertumbuhan dan perkembangan anak. Kian banyak ia bergerak, kian banyak hal yang ditemui dan dijelajahi. Kian baik pula kualitas pertumbuhannya. Perhatikan tiga kata kunci di atas: gerak, gembira, dan belajar. Anak-anak suka bergerak dan suka belajar. Perhatikan bagaimana anak-anak bermain di lapangan. Di sana akan tampak, mereka bergerak dengan keterlibatan yang total dan dipenuhi kegembiraan. Bagi anak, gerak semata-mata untuk kesenangan, bukan di dorong oleh maksud dan tujuan tertentu. Gerak adalah kebutuhan mutlak anak-anak. Sayangnya, ketika usianya semakin meningkat, aktivitas anak-anak semakin berkurang. Ketika memasuki usia sekolah, ia belajar dengan cara yang berbeda. Mereka lebih banyak diminta duduk tenang untuk mendengarkan penjelasan guru tentang berbagai hal. Lingkungan belajar pun semakin sempit, dibatasi oleh empat sisi dinding kelas yang membelenggu. Karena dipaksa untuk diam, dan mendengarkan orang lain berbicara, belajar tidak lagi menarik bagi anak. Keceriaan mereka terampas dan hilanglah sebagian keajaiban dunia anak-anak mereka. Tidak heran bila anak merasa bahwa belajar ternyata kegiatan yang tidak menyenangkan.

E. Pentingnya Pendidikan Jasmani


Beban belajar di sekolah begitu berat dan menekan kebebasan anak untuk bergerak. Kebutuhan mereka akan gerak tidak bisa terpenuhi karena keterbatasan waktu dan kesempatan. Lingkungan sekolah tidak menyediakan wilayah yang menarik untuk dijelajahi. Penyelenggara pendidikan di sekolah yang lebih mengutamakan prestasi akademis, memberikan anak tugas-tugas belajar yang menumpuk. Kehidupan sekolah yang demikian berkombinasi pula dengan kehidupan di rumah dan lingkungan luar sekolah. Jika di sekolah anak kurang bergerak, di rumah keadaannya juga demikian. Kemajuan teknologi yang dicapai pada saat ini, malah mengungkung anak-anak dalam lingkungan kurang gerak. Anak semakin asyik dengan kesenangannya seperti menonton TV atau bermain video game. Tidak mengherankan bila ada kerisauan bahwa kebugaran anak-anak semakin menurun. Dengan semakin rendahnya kebugaran jasmani, kian meningkat pula gejala penyakit hipokinetik (kurang gerak). Kegemukan, tekanan darah tinggi, kencing manis, nyeri pinggang bagian bawah, adalah contoh dari penyakit kurang gerak . Akibatnya penyakit jantung tidak lagi menjadi monopoli orang dewasa, tetapi juga sudah menyerang anak-anak.

Sejalan dengan itu, pengetahuan dan kebiasaan makan yang buruk pun semakin memperparah masalah kesehatan yang mengancam kesejahteraan masyarakat. Dengan pola gizi yang berlebihan, para pemalas gerak itu akan menimbun lemak dalam tubuhnya secara berlebihan. Mereka menghadapkan diri mereka sendiri pada resiko penyakit degenaratif (menurunnya fungsi organ) yang semakin besar. Pendidikan Jasmani tampil untuk mengatasi masalah tersebut sehingga kedudukannya dianggap penting. Melalui program yang direncanakan secara baik, anak-anak dilibatkan dalam kegiatan fisik yang tinggi intensitasnya. Pendidikan Jasmani juga tetap menyediakan ruang untuk belajar menjelajahi lingkungan yang ada di sekitarnya dengan banyak mencoba, sehingga kegiatannya tetap sesuai dengan minat anak. Lewat pendidikan jasmanilah anak-anak menemukan saluran yang tepat untuk bergerak bebas dan meraih kembali keceriaannya, sambil terangsang perkembangan yang bersifat menyeluruh. Secara umum, manfaat pendidikan jasmani di sekolah mencakup sebagai berikut: 1. Memenuhi kebutuhan anak akan gerak

Pendidikan jasmani memang merupakan dunia anak-anak dan sesuai dengan kebutuhan anak-anak. Di dalamnya anak-anak dapat belajar sambil bergembira melalui penyaluran hasratnya untuk bergerak. Semakin terpenuhi kebutuhan akan gerak dalam masa-masa pertumbuhannya, kian besar kemaslahatannya bagi kualitas pertumbuhan itu sendiri. 2. Mengenalkan anak pada lingkungan dan potensi dirinya Pendidikan jasmani adalah waktu untuk berbuat. Anak-anak akan lebih memilih untuk berbuat sesuatu dari pada hanya harus melihat atau mendengarkan orang lain ketika mereka sedang belajar. Suasana kebebasan yang ditawarkan di lapangan atau gedung olahraga sirna karena sekian lama terkurung di antara batas-batas ruang kelas. Keadaan ini benar-benar tidak sesuai dengan dorongan nalurinya. Dengan bermain dan bergerak anak benar-benar belajar tentang potensinya dan dalam kegiatan ini anak-anak mencoba mengenali lingkungan sekitarnya. Para ahli sepaham bahwa pengalaman ini penting untuk merangsang pertumbuhan intelektual dan hubungan sosialnya dan bahkan perkembangan harga diri yang menjadi dasar kepribadiannya kelak. 3. Menanamkan dasar-dasar keterampilan yang berguna Peranan pendidikan jasmani di Sekolah Dasar cukup unik, karena turut mengembangkan dasar-dasar keterampilan yang diperlukan anak untuk menguasai berbagai keterampilan dalam kehidupan di kemudian hari. Menurut para ahli, pola pertumbuhan anak usia sekolah hingga menjelang akil balig atau remaja disebut pola pertumbuhan lambat. Pola ini merupakan kebalikan dari pola pertumbuhan cepat yang dialami anak ketika mereka baru lahir hingga usia 5 tahunan. Dalam hal ini berlaku dalil:

... ketika memasuki masa pertumbuhan cepat, kemampuan untuk mempelajari keterampilan-keterampilan baru berjalan lambat. Sebaliknya, dalam masa pertumbuhan yang lambat, kemampuan untuk mempelajari keterampilan meningkat.

Karena pada usia SD tingkat pertumbuhan sedang lambat-lambatnya, maka pada usia-usia inilah kesempatan anak untuk mempelajari keterampilan gerak sedang tiba pada masa kritisnya. Konsekuensinya, keterlantaran pembinaan pada masa ini sangat berpengruh terhadap perkembangan anak pada masa berikutnya. 4. Menyalurkan energi yang berlebihan Anak adalah mahluk yang sedang berada dalam masa kelebihan energi. Kelebihan energi ini perlu disalurkan agar tidak menganggu keseimbangan perilaku dan mental anak. Segera setelah kelebihan energi tersalurkan, anak akan memperoleh kembali keseimbangan dirinya, karena setelah istirahat, anak akan kembali memperbaharui dan memulihkan energinya secara optimum. 5. Merupakan proses pendidikan secara serempak baik fisik, mental maupun emosional Pendidikan jasmani yang benar akan memberikan sumbangan yang sangat berarti terhadap pendidikan anak secara keseluruhan. Hasil nyata yang diperoleh dari pendidikan jasmani adalah perkembangan yang lengkap, meliputi aspek fisik, mental, emosi, sosial dan moral. Tidak salah jika para ahli percaya bahwa pendidikan jasmani merupakan wahana yang paling tepat untuk membentuk manusia seutuhnya.

BAB II KONSEPSI DAN FALSAFAH PENDIDIKAN JASMANI

A. Pengertian Pendidikan Jasmani


Pendidikan jasmani merupakan bagian penting dari proses pendidikan. Artinya, penjas bukan hanya dekorasi atau ornamen yang ditempel pada program sekolah sebagai alat untuk membuat anak sibuk. Tetapi penjas adalah bagian penting dari pendidikan. Melalui penjas yang diarahkan dengan baik, anak-anak akan mengembangkan keterampilan yang berguna bagi pengisian waktu senggang, terlibat dalam aktivitas yang kondusif untuk mengembangkan hidup sehat, berkembang secara sosial, dan menyumbang pada kesehatan fisik dan mentalnya. Meskipun penjas menawarkan kepada anak untuk bergembira, tidaklah tepat untuk mengatakan pendidikan jasmani diselenggarakan semata-mata agar anak-anak bergembira dan bersenangsenang. Bila demikian seolah-olah pendidikan jasmani hanyalah sebagai mata pelajaran selingan, tidak berbobot, dan tidak memiliki tujuan yang bersifat mendidik. Pendidikan jasmani merupakan wahana pendidikan, yang memberikan kesempatan bagi anak untuk mempelajari hal-hal yang penting. Oleh karena itu, pelajaran penjas tidak kalah penting dibandingkan dengan pelajaran lain seperti; Matematika, Bahasa, IPS dan IPA, dan lain-lain. Namun demikian tidak semua guru penjas menyadari hal tersebut, sehingga banyak anggapan bahwa penjas boleh dilaksanakan secara serampangan. Hal ini tercermin dari berbagai gambaran negatif tentang pembelajaran penjas, mulai dari kelemahan proses yang menetap misalnya

membiarkan anak bermain sendiri hingga rendahnya mutu hasil pembelajaran, seperti kebugaran jasmani yang rendah. Di kalangan guru penjas sering ada anggapan bahwa pelajaran pendidikan jasmani dapat dilaksanakan seadanya, sehingga pelaksanaannya cukup dengan cara menyuruh anak pergi ke lapangan, menyediakan bola sepak untuk laki-laki dan bola voli untuk perempuan. Guru tinggal mengawasi di pinggir lapangan. Mengapa bisa terjadi demikian? Kelemahan ini berpangkal pada ketidakpahaman guru tentang arti dan tujuan pendidikan jasmani di sekolah, di samping ia mungkin kurang mencintai tugas itu dengan sepenuh hati. Apakah sebenarnya pendidikan jasmani dan apa tujuannya? Secara umum pendidikan jasmani dapat didefinisikan sebagai berikut:

Pendidikan Jasmani adalah proses pendidikan melalui aktivitas jasmani, permainan atau olahraga yang terpilih untuk mencapai tujuan pendidikan.
Definisi di atas mengukuhkan bahwa pendidikan jasmani merupakan bagian tak terpisahkan dari pendidikan umum. Tujuannya adalah untuk membantu anak agar tumbuh dan berkembang secara wajar sesuai dengan tujuan pendidikan nasional, yaitu menjadi manusia Indonesia seutuhnya. Pencapaian tujuan tersebut berpangkal pada perencanaan pengalaman gerak yang sesuai dengan karakteristik anak. Jadi, pendidikan jasmani diartikan sebagai proses pendidikan melalui aktivitas jasmani atau olahraga. Inti pengertiannya adalah mendidik anak. Yang membedakannya dengan mata pelajaran lain adalah alat yang digunakan adalah gerak insani, manusia yang bergerak secara sadar. Gerak itu dirancang secara sadar oleh gurunya dan diberikan dalam situasi yang tepat, agar dapat merangsang pertumbuhan dan perkembangan anak didik. Tujuan pendidikan jasmani sudah tercakup dalam pemaparan di atas yaitu memberikan kesempatan kepada anak untuk mempelajari berbagai kegiatan yang membina sekaligus mengembangkan potensi anak, baik dalam aspek fisik, mental, sosial, emosional dan moral. Singkatnya, pendidikan jasmani bertujuan untuk mengembangkan potensi setiap anak setinggi-tingginya. Dalam bentuk bagan, secara sederhana tujuan penjas meliputi tiga ranah (domain) sebagai satu kesatuan, sebagai berikut:

Tujuan di atas merupakan pedoman bagi guru penjas dalam melaksanakan tugasnya. Tujuan tersebut harus bisa dicapai melalui kegiatan pembelajaran yang direncanakan secara matang, dengan berpedoman pada ilmu mendidik. Dengan demikian, hal terpenting untuk disadari oleh guru

penjas adalah bahwa ia harus menganggap dirinya sendiri sebagai pendidik, bukan hanya sebagai pelatih atau pengatur kegiatan. Misi pendidikan jasmani tercakup dalam tujuan pembelajaran yang meliputi domain kognitif, afektif dan psikomotor. Perkembangan pengetahuan atau sifat-sifat sosial bukan sekedar dampak pengiring yang menyertai keterampilan gerak. Tujuan itu harus masuk dalam perencanaan dan skenario pembelajaran. Kedudukannya sama dengan tujuan pembelajaran pengembangan domain psikomotor. Dalam hal ini, untuk mencapai tujuan tersebut , guru perlu membiasakan diri untuk mengajar anak tentang apa yang akan dipelajari berlandaskan pemahaman tentang prinsip-prinsip yang mendasarinya. Pergaulan yang terjadi di dalam adegan yang bersifat mendidik itu dimanfaatkan secara sengaja untuk menumbuhkan berbagai kesadaran emosional dan sosial anak. Dengan demikian anak akan berkembang secara menyeluruh, yang akan mendukung tercapainya aneka kemampuan.

B. Perbedaan Makna Pendidikan Jasmani dan Pendidikan Olahraga


Salah satu pertanyaan yang sering diajukan oleh guru-guru penjas belakangan ini adalah : Apakah pendidikan jasmani? Pertanyaan yang cukup aneh ini justru dikemukakan oleh yang paling berhak menjawab pertanyaan tersebut. Hal tersebut mungkin terjadi karena pada waktu sebelumnya guru itu merasa dirinya bukan sebagai guru penjas, melainkan guru pendidikan olahraga. Perubahan pandangan itu terjadi menyusul perubahan nama mata pelajaran wajib dalam kurikulum pendidikan di Indonesia, dari mata pelajaran pendidikan olahraga dan kesehatan (orkes) dalam kurikulum 1984, menjadi pelajaran pendidikan jasmani dan kesehatan (penjaskes) dalam kurikulum1994. Perubahan nama tersebut tidak dilengkapi dengan sumber belajar yang menjelaskan makna dan tujuan kedua istilah tersebut. Akibatnya sebagian besar guru menganggap bahwa perubahan nama itu tidak memiliki perbedaan, dan pelaksanaannya dianggap sama. Padahal muatan filosofis dari kedua istilah di atas sungguh berbeda, sehingga tujuannya pun berbeda pula. Pertanyaannya, apa bedanya pendidikan olahraga dengan pendidikan jasmani ? Pendidikan jasmani berarti program pendidikan lewat gerak atau permainan dan olahraga. Di dalamnya terkandung arti bahwa gerakan, permainan, atau cabang olahraga tertentu yang dipilih hanyalah alat untuk mendidik. Mendidik apa ? Paling tidak fokusnya pada keterampilan anak. Hal ini dapat berupa keterampilan fisik dan motorik, keterampilan berpikir dan keterampilan memecahkan masalah, dan bisa juga keterampilan emosional dan sosial. Karena itu, seluruh adegan pembelajaran dalam mempelajari gerak dan olahraga tadi lebih penting dari pada hasilnya. Dengan demikian, bagaimana guru memilih metode, melibatkan anak, berinteraksi dengan murid serta merangsang interaksi murid dengan murid lainnya, harus menjadi pertimbangan utama.

Adapun pendidikan olahraga adalah pendidikan yang membina anak agar menguasai cabang-cabang olahraga tertentu. Kepada murid diperkenalkan berbagai cabang olahraga agar mereka menguasai keterampilan berolahraga. Yang ditekankan di sini adalah hasil dari pembelajaran itu, sehingga metode pengajaran serta bagaimana anak menjalani pembelajarannya didikte oleh tujuan yang ingin dicapai. Ciri-ciri pelatihan olahraga menyusup ke dalam proses pembelajaran. Yang sering terjadi pada pembelajaran pendidikan olahraga adalah bahwa guru kurang memperhatikan kemampuan dan kebutuhan murid. Jika siswa harus belajar bermain bola voli, mereka belajar keterampilan teknik bola voli secara langsung. Teknik-teknik dasar dalam pelajaran demikian lebih ditekankan, sementara tahapan penyajian tugas gerak yang disesuaikan dengan kemampuan anak kurang diperhatikan. Guru demikian akan berkata: kalau perlu tidak usah ada pentahapan, karena anak akan dapat mempelajarinya secara langsung. Beri mereka bola, dan instruksikan anak supaya bermain langsung. Anak yang sudah terampil biasanya dapat menjadi contoh, dan anak yang belum terampil belajar dari mengamati demonstrasi temannya yang sudah mahir tadi. Untuk pengajaran model seperti ini, ada ungkapan: Kalau anda ingin anak-anak belajar renang, lemparkan mereka ke kolam yang paling dalam, dan mereka akan bisa sendiri Tabel di bawah menekankan perbedaan antara pendidikan jasmani dengan pendidikan olahraga.

Perbedaan antara Pendidikan Jasmani dan Pendidikan Olahraga Pendidikan Jasmani Pendidikan Olahraga Sosialisasi atau mendidik via Sosialisasi atau mendidik ke olahraga dalam olahraga Menekankan perkembangan Mengutamakan penguasaan kepribadian menyeluruh keterampilan berolahraga Menekankan penguasaan Menekankan penguasaan teknik keterampilan dasar. dasar

Pendidikan jasmani tentu tidak bisa dilakukan dengan cara demikian. Pendidikan jasmani adalah suatu proses yang terencana dan bertahap yang perlu dibina secara hati-hati dalam waktu yang diperhitungkan. Bila orientasi pelajaran pendidikan jasmani adalah agar anak menguasai keterampilan berolahraga, misalnya sepak bola, guru akan lebih menekankan pada pembelajaran teknik dasar dengan kriteria

keberhasilan yang sudah ditentukan. Dalam hal ini, guru tidak akan memperhatikan bagaimana agar setiap anak mampu melakukannya, sebab cara melatih teknik dasar yang bersangkutan hanya dilakukan dengan cara tunggal. Beberapa anak mungkin bisa mengikuti dan menikmati cara belajar yang dipilih guru tadi. Tetapi sebagian lain merasa selalu gagal, karena bagi mereka cara latihan tersebut terlalu sulit, atau terlalu mudah. Anak-anak yang berhasil akan merasa puas dari cara latihan tadi, dan segera menyenangi permainan sepak bola. Tetapi bagaimana dengan anak-anak lain yang kurang berhasil? Mereka akan serta merta merasa bahwa permainan sepak bola terlalu sulit dan tidak menyenangkan, sehingga mereka tidak menyukai pelajaran dan permainan sepak bola tadi. Apalagi bila ketika mereka melakukan latihan yang gagal tadi, mereka selalu diejek oleh teman-teman yang lain atau bahkan oleh gurunya sendiri. Anak-anak dalam kelompok gagal ini biasanya mengalami perasaan negatif. Akibatnya, citra diri anak tidak berkembang dan anak cenderung menjadi anak yang rendah diri. Melalui pembelajaran pendidikan jasmani yang efektif, semua kecenderungan tadi bisa dihapuskan, karena guru memilih cara agar anak yang kurang terampil pun tetap menyukai latihan memperoleh pengalaman sukses. Di samping guru membedakan bentuk latihan yang harus dilakukan setiap anak, kriteria keberhasilannya pun dibedakan pula. Untuk kelompok mampu kriteria keberhasilan lebih berat dari anak yang kurang mampu, misalnya dalam pelajaran renang di tentukan: mampu meluncur 10 meter untuk anak mampu, dan hanya 5 meter untuk anak kurang mampu. Dengan cara demikian, semua anak merasakan apa yang disebut perasaan berhasil tadi, dan anak makin menyadari bahwa kemampuannya pun meningkat, seiring dengan seringnya mereka mengulang-ulang latihan. Cara ini disebut gaya mengajar partisipatif karena semua anak merasa dilibatkan dalam proses pembelajaran. Untuk mencegah terjadinya bahaya lain dari kegagalan, guru pendidikan jasmani harus mengembangkan cara respons siswa terhadap anak yang gagal dan melarang siswa untuk melemparkan ejekan pada temannya.

C. Dasar Falsafah Pendidikan Jasmani


Pendidikan jasmani merupakan suatu bagian yang tidak terpisahkan dari pendidikan umum. Lewat program penjas dapat diupayakan peranan pendidikan untuk mengembangkan kepribadian individu. Tanpa penjas, proses pendidikan di sekolah akan pincang. Sumbangan nyata pendidikan jasmani adalah untuk mengembangkan keterampilan (psikomotor). Karena itu posisi pendidikan jasmani menjadi unik, sebab berpeluang lebih banyak dari mata pelajaran lainnya untuk membina keterampilan. Hal ini sekaligus mengungkapkan kelebihan pendidikan jasmani dari pelajaran-pelajaran lainnya. Jika pelajaran lain lebih mementingkan pengembangan intelektual, maka melalui pendidikan jasmani terbina sekaligus aspek penalaran, sikap dan keterampilan. Ada tiga hal penting yang bisa menjadi sumbangan unik dari pendidikan jasmani, yaitu: meningkatkan kebugaran jasmani dan kesehatan siswa,

meningkatkan terkuasainya keterampilan fisik yang kaya, serta meningkatkan pengertian siswa dalam prinsip-prinsip gerak serta bagaimana menerapkannya dalam praktek.

Adakah pelajaran lain (seperti bahasa, matematika, atau IPS) yang bisa menyumbang kemampuankemampuan seperti di atas? Untuk meneliti aspek penting dari penjas, dasar-dasar pemikiran seperti berikut perlu dipertimbangkan: 1. Kebugaran dan kesehatan Kebugaran dan kesehatan akan dicapai melalui program pendidikan jasmani yang terencana, teratur dan berkesinambungan. Dengan beban kerja yang cukup berat serta dilakukan dalam jangka waktu yang cukup secara teratur, kegiatan tersebut akan berpengaruh terhadap perubahan kemampuan fungsi organ-organ tubuh seperti jantung dan paru-paru. Sistem peredaran darah dan pernapasan akan bertambah baik dan efisien, didukung oleh sistem kerja penunjang lainnya. Dengan bertambah baiknya sistem kerja tubuh akibat latihan, kemampuan tubuh akan meningkat dalam hal daya tahan, kekuatan dan kelentukannya. Demikian juga dengan beberapa kemampuan motorik seperti kecepatan, kelincahan dan koordinasi. Pendidikan jasmani juga dapat membentuk gaya hidup yang sehat. Dengan kesadarannya anak akan mampu menentukan sikap bahwa kegiatan fisik merupakan kebutuhan pokok dalam hidupnya, dan akan tetap dilakukan di sepanjang hayat. Sikap itulah yang kemudian akan membawa anak pada kualitas hidup yang sehat, sejahtera lahir dan batin, yang disebut dengan istilah wellness.

Konsep sehat dan sejahtera secara menyeluruh berbeda dengan pengertian sehat secara fisik. Anakanak dididik untuk meraih gaya hidup sehat secara total serta kebiasan hidup yang sehat, baik dalam arti pemahaman maupun prakteknya. Kebiasaan hidup sehat tersebut bukan hanya kesehatan fisik, tetapi juga mencakup juga kesejahteraan mental, moral, dan spiritual. Tanda-tandanya adalah anak lebih tahan dalam menghadapi tekanan dan cobaan hidup, berjiwa optimis, merasa aman, nyaman, dan tenteram dalam kehidupan sehari-hari. 2. Keterampilan fisik Keterlibatan anak dalam asuhan permainan, senam, kegiatan bersama, dan lain-lain, merangsang perkembangan gerakan yang efisien yang berguna untuk menguasai berbagai keterampilan. Keterampilan tersebut bisa berbentuk keterampilan dasar misalnya berlari dan melempar serta keterampilan khusus seperti senam atau renang. Pada akhirnya keterampilan itu bisa mengarah kepada keterampilan yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari.

3. Terkuasainya prinsip-prinsip gerak Pendidikan jasmani yang baik harus mampu meningkatkan pengetahuan anak tentang prinsip-prinsip gerak. Pengetahuan tersebut akan membuat anak mampu memahami bagaimana suatu keterampilan dipelajari hingga tingkatannya yang lebih tinggi. Dengan demikian, seluruh gerakannya bisa lebih bermakna. Sebagai contoh, anak harus mengerti mengapa kaki harus dibuka dan bahu direndahkan ketika anak sedang berusaha menjaga keseimbangannya. Mereka juga diharapkan mengerti mengapa harus dilakukan pemanasan sebelum berolahraga, serta apa akibatnya terhadap derajat kebugaran jasmani bila seseorang berlatih tidak teratur? Namun demikian, sumbangan pendidikan jasmani pun bukan hanya bersifat fisik semata, melainkan merambah pada peningkatan kemampuan oleh pikir seperti kemampuan membuat keputusan dan olah rasa seperti kemampuan memahami perasaan orang lain (empati). 4. Kemampuan berpikir Memang sulit diamati secara langsung bahwa kegiatan yang diikuti oleh anak dalam pendidikan jasmani dapat meningkatkan kemampuan berpikir anak. Namun demikian dapat ditegaskan di sini bahwa pendidikan jasmani yang efektif mampu merangsang kemampuan berpikir dan daya analisis anak ketika terlibat dalam kegiatan-kegiatan fisiknya. Pola-pola permainan yang memerlukan tugastugas tertentu akan menekankan pentingnya kemampuan nalar anak dalam hal membuat keputusan. Taktik dan strategi yang melekat dalam berbagai permainan pun perlu dianalisis dengan baik untuk membuat keputusan yang tepat dan cepat. Secara tidak langsung, keterlibatan anak dalam kegiatan pendidikan jasmani merupakan latihan untuk menjadi pemikir dan pengambil keputusan yang mandiri. Dalam kegiatan pendidikan jasmani banyak sekali adegan pembelajaran yang memerlukan diskusi terbuka yang menantang penalaran anak. Teknik gerak dan prinsip-prinsip yang mendasarinya merupakan topik-topik yang menarik untuk didiskusikan. Peraturan permainan dan variasi-variasi gerak juga bisa dijadikan rangsangan bagi anak untuk memikirkan pemecahannya. 5. Kepekaan rasa Dalam hal olah rasa, pendidikan jasmani menempati posisi yang sungguh unik. Kegiatannya yang selalu melibatkan anak dalam kelompok kecil maupun besar merupakan wahana yang tepat untuk berkomunikasi dan bergaul dalam lingkup sosial. Dalam kehidupan sosial, setiap individu akan belajar untuk bertanggung jawab melaksanakan peranannya sebagai anggota masyarakat. Di dalam masyarakat banyak norma yang harus ditaati dan aturan main yang melandasinya. Melalui penjas, norma dan aturan juga dipelajari, dihayati dan diamalkan. Untuk dapat berperan aktif, anak pun akan menyadari bahwa ia dan kelompoknya harus menguasai beberapa keterampilan yang diperlukan. Sesungguhnyalah bahwa kegiatan pendidikan jasmani disebut sebagai ajang nyata untuk melatih keterampilan-keterampilan hidup (life skill), agar seseorang dapat hidup berguna dan tidak menyusahkan masyarakat. Keterampilan yang dipelajari bukan hanya keterampilan gerak dan fisik semata, melainkan terkait pula dengan keterampilan sosial, seperti berempati pada orang lain, menahan sabar, memberikan respek dan penghargaan pada orang lain, mempunyai motivasi yang tinggi, serta banyak lagi. Seorang ahli menyebut bahwa kesemua keterampilan di atas adalah keterampilan hidup. Sedangkan ahli yang lain memilih istilah kecerdasan emosional (emotional intelligence). 6. Keterampilan sosial Kecerdasan emosional atau keterampilan hidup bermasyarakat sangat mementingkan kemampuan pengendalian diri. Dengan kemampuan ini seseorang bisa berhasil mengatasi masalah dengan kerugian sekecil mungkin. Anak-anak yang rendah kemampuan pengendalian dirinya biasanya ingin memecahkan masalah dengan kekerasan dan tidak merasa ragu untuk melanggar berbagai ketentuan.

Pendidikan jasmani menyediakan pengalaman nyata untuk melatih keterampilan mengendalikan diri, membina ketekunan dan motivasi diri. Hal ini diperkuat lagi jika proses pembelajaran direncanakan sebaik-baiknya. Setiap adegan pembelajaran dalam permainan dapat dijadikan arena dialog dan perenungan tentang apa sisi baik-buruknya suatu keputusan. Tak pelak, ini merupakan cara pembinaan moral yang efektif. Sebagai contoh, jika dalam sebuah proses penjas terjadi pertengkaran antara dua orang anak, guru bisa segera menghentikan kegiatan seluruh kelas dan mengundang mereka untuk membicarakannya. Sebab-sebab pertengkaran diteliti dan guru memancing pendapat anak-anak tentang apa perlunya mereka bertengkar, selain itu mereka dirangsang untuk mencari pemecahan yang paling baik untuk kedua belah pihak. Demikian juga dalam setiap adegan proses permainan yang memerlukan kesiapan mentaati peraturan permainan. Di samping guru mempertanyakan pentingnya peraturan untuk ditaati, guru dapat juga mengundang siswa untuk melihat berbagai konsekuensinya jika peraturan itu dilanggar. Lalu guru dapat menanyakan pendapat siswa tentang tujuan permainan. Misalnya guru bertanya: :Apakah memenangkan pertandingan dengan segala cara bisa dibenarkan?, Apakah kalah dalam suatu permainan benar-benar merugikan? bahkan lebih jauh lagi mungkin guru bisa memilih topik di luar kejadian yang mereka alami sendiri, misalnya topik tentang tawuran antar pelajar dari sekolah yang berbeda. Topik ini menarik untuk dibicarakan dari sisi moral serta akibatnya terhadap kehidupan bermasyarakat. 7. Kepercayaan diri dan citra diri (self esteem) Melalui pendidikan jasmani kepercayaan diri dan citra diri (self esteem) anak akan berkembang. Secara umum citra diri diartikan sebagai cara kita menilai diri kita sendiri. Citra diri ini merupakan dasar untuk perkembangan kepribadian anak. Dengan citra diri yang baik seseorang merasa aman dan berkeinginan untuk mengeksplorasi dunia. Dia mau dan mampu mengambil resiko, berani berkomunikasi dengan teman dan orang lain, serta mampu menanggulangi stress. Cara membina citra diri ini tidak cukup hanya dengan selalu berucap saya pasti bisa atau saya paling bagus. Tetapi perlu dinyatakan dalam usaha dan pembiasan perilaku. Di situlah penjas menyediakan kesempatan pada anak untuk membuktikannya. Ketika anak-anak berhasil mempelajari berbagai keterampilan gerak dan kemampuan tubuhnya, perasaan positif akan berkembang dan ia merasa optimis atau mampu untuk berbuat sesuatu. Dengan perasaan itu anak-anak akan merasa bahwa dirinya memiliki kemampuan yang baik dan pada gilirannya akan mempengaruhi pula kualitas usahanya di lain waktu, agar sama seperti yang dicitrakannya. Bila siswa merasa gagal sebelum berusaha, keadaan ini disebut perasaan negatif, lawan dari perasaan positif. Kejadian demikian yang berulang-ulang akan memperkuat kepercayaan bahwa dirinya memang memiliki kemampuan, sehingga terbentuk menjadi kepercayaan diri yang kuat. Karena itu penting bagi guru penjas untuk menyajikan tugas-tugas belajar yang bisa menyediakan pengalaman sukses dan menimbulkan perasaan berhasil (feeling of success) pada setiap anak. Salah satu siasat yang dapat dikerjakan adalah ukuran keberhasilan belajar tidak bersifat mutlak. Tiap anak memakai ukurannya masing-masing.

D. Landasan Ilmiah Pelaksanaan Pendidikan Jasmani


Secara ilmiah pelaksanaan pendidikan jasmani mendapat dukungan dari berbagai disiplin ilmu, di mana pandangan-pandangan dari setiap disiplin tersebut dapat dijadikan sebagai landasan bagi berlangsungnya program penjas di sekolah-sekolah. Di bagian ini, penulis akan menguraikan landasan ilmiah dari minimal tiga disiplin ilmu, yaitu dari sudut pandang biologis, sudut pandang psikologis, dan yang terakhir sudut pandang sosiologis. 1. Landasan Biologis bagi Pendidikan Jasmani

Pendidikan jasmani adalah disiplin yang berorientasi tubuh, di samping berorientasi pada disiplin mental dan sosial. Guru pendidikan jasmani karenanya harus memiliki penguasaan yang kokoh terhadap fungsi fisikal dari tubuh untuk memahami secara lebih baik pemanfaatannya dalam kegiatan pendidikan jasmani. Khususnya dalam masa modern dewasa ini, ketika pendidikan gerak dipandang teramat penting, pengetahuan tentang bagaimana tubuh manusia berfungsi dipandang amat krusial agar bisa melaksanakan tugas pengajaran dengan baik. Joseph W. Still telah menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk meneliti perilaku fisikal dan intelektual manusia. Meskipun penelitiannya sudah berlangsung di masa lalu, namun masih menemukan faktanya di masa kini, bahkan maknanya seolah mendapatkan angin baru dalam era teknologi dewasa ini. Dalam penelitiannya, Still menemukan bahwa keberhasilan manusia dalam pencapaian prestasi, baik dalam hal prestasi fisikal maupun dalam prestasi intelektual, berhubungan dengan usia serta dapat digambarkan dalam bentuk sebuah kurva, di mana kurva itu bisa menaik dan bisa menurun, sesuai dengan perjalanan usia manusia. Dalam kurva hasil penelitian Still ditunjukkan bahwa tidak lebih dari 5% populasi manusia berhasil mendaki kurva keberhasilan, sedang selebihnya lebih banyak mengikuti kurva kegagalan, terutama setelah melewati usia antara 25 hingga 35 tahun. Yang menarik, menurut dugaan Still, kurva kegagalan dalam pertumbuhan fisik menunjukkan bahwa perkembangan fisik manusia dewasa ini semakin berkurang. Sebabnya, manusia modern sekarang dihadapkan pada rendahnya melakukan latihan fisik, di samping karena terlalu banyak makan, minum, dan merokok; sehingga mereka merosot kondisinya setelah usia 30 tahunan. Demikian juga dalam hal pertumbuhan dan perkembangan psikologis, yang menunjukkan kurva kegagalan dalam hal prestasinya. Ciri-ciri perkembangan mental menunjukkan puncak prestasi pada tahap perkembangan yang berbeda. Kemampuan mengingat dicapai pada usia muda, imajinasi kreatif mencapai puncaknya pada usia dua puluhan hingga tiga puluhan, keterampilan menganalisis dan sintesis suatu persoalan berakhir di usia pertengahan, sedangkan pada usia-usia berikutnya berkembang kemampuan berfilsafat. Secara biologis, manusia dirancang untuk menjadi mahluk yang aktif. Meskipun perubahan dalam jaman dan peradaban telah menyebabkan penurunan dalam jumlah aktivitas yang dibutuhkan untuk menyelesaikan tugas-tugas dasar yang berkaitan dengan kehidupan, sebenarnya tubuh manusia tidaklah berubah. Karenanya, manusia harus tetap menyadari bahwa dalam hal kesehatan tubuhnya, dasar biologisnya menuntut dan mengakui pentingnya aktivitas fisik yang keras dalam hidupnya. Jika tidak, kesehatan, produktivitas, serta efektivitas hidupnya akan menurun drastis. Dalam hal itulah pendidikan jasmani yang baik di sekolah dan di masa-masa berikut dalam hidupnya dipandang amat penting dalam menjaga kemampuan bilogis manusia. Dipandang dari sudut ini, pendidikan jasmani terikat dekat pada kekuatan mental, emosional, sosial, dan spiritual manusia

http://ditplb.or.id/profile.php?id=65

2. Landasan Psikologis Pendidikan Jasmani Pendidikan jasmani melibatkan interaksi antara guru dengan anak serta anak dengan anak. Di dalam adegan pembelajaran yang melibatkan interaksi tersebut, terletak suatu keharusan untuk saling mengakui dan menghargai keunikan masing-masing, termasuk kelebihan dan kelemahannya. Dan ini bukan hanya berkaitan dengan kelainan fisik semata-mata, tetapi juga dalam kaitannya dengan perbedaan psikologis seperti kepribadian, karakter, pola pikir, serta tak kalah pentingnya dalam hal pengetahuan dan kepercayaan. Program pendidikan jasmani yang baik tentu harus dilandasi oleh pemahaman guru terhadap karakteristik psikologis anak, dan yang paling penting dalam hal sumbangan apa yang dapat diberikan oleh program pendidikan jasmani terhadap perkembangan mental dan psikologis anak.

Studi dalam ilmu-ilmu psikologi mempunyai implikasi untuk para guru pendidikan jasmani, terutama dalam wilayah atau sub-disiplin ilmu teori belajar, teori pembelajaran gerak, perkembangan kepribadian, serta sikap. Kesemua sub-disiplin itu, memberikan pemahaman yang lebih luas dalam hal bagaimana anak belajar, dan yang terpenting upaya apa yang harus dipertimbangkan guru dikaitkan dengan menciptakan lingkungan belajar yang memungkinkan anak belajar. Kata psikologi berasal dari kata-kata Yunani psyche, yang berarti jiwa atau roh, dan logos, yang berarti ilmu. Diartikan secara populer, psikologi adalah ilmu jiwa atau ilmu pikiran. Para ahli psikologi mempelajari hakikat manusia secara ilmiah, dan untuk memahami alam pikiran manusia, termasuk anak, termasuk ciri-ciri manusia ketika belajar. Pendidikan jasmani lebih menekankan proses pembelajarannya pada penguasaan gerak manusia. Pemahaman yang lebih mendalam terhadap kecenderungan dan hakikat gerak ini, misalanya melalui teori gerak dan teori belajar gerak, maka memungkinkan guru lebih memahami tentang kondisi apa yang perlu disediakan untuk memungkinkan anak belajar secara efektif. Jika dahulu para guru penjas lebih bersandar pada teori belajar behaviorisme, yang lebih melihat proses pembelajaran dari perubahan perilaku anak, maka dewasa ini sudah diakui adanya keharusan untuk memahami tentang apa yang terjadi di dalam diri anak ketika mempelajari keterampilan gerak, yang ditunjang oleh berkembangan teori belajar kognitivisme. Bersandar secara berlebihan pada teori belajar behaviorisme tentu mengandung kelemahan tertentu, karena mendorong dan membenarkan guru dengan proses pembelajaran yang sangat mekanistis; sekedar terjadi persambungan antara stimulus (aba-aba guru) dengan respons siswa (gerakan siswa), yang diperkuat oleh adanya reinforcement (ucapan pujian dari guru). Akibatnya, guru pun umumnya abai dengan bagaimana sebenarnya proses yang terjadi di dalam otak dan perangkat gerak anak, sehingga guru tidak pernah terlalu mempertimbangkan kualitas dari proses pembelajaran, termasuk keharusan untuk melibatkan proses berpikir dari anak. Akhirnya, anak relatif tidak pernah punya gagasan apapun dalam pelajaran, dan klaim bahwa penjas memiliki peranan dalam pengembangan kemampuan intelektual anak tidak terbuktikan secara nyata. Perkembangan teori belajar kognitivisme menguak fakta kekakuan proses pembelajaran penjas tersebut. Dalam salah satu teori belajar pengolahan informasi (information processing theory) diungkap bahwa idealnya pembelajaran gerak adalah sebuah proses pengambilan keputusan, yang secara hirarkis akan selalu melalui tiga tahapan yang tetap, yaitu tahap mengidentifikasi stimulus, tahap memilih respons, dan tahap memprogram respons. Jika pada proses pembelajaran siswa diberi kesempatan dan didorong untuk terus-menerus meningkatkan kemampuan pengambilan keputusannya, maka secara pasti kemampuannya tersebut terlatih, karena masing-masing perangkat yang berhubungan dengan ketiga tahapan pengambilan keputusan itupun kemampuannya semakin meningkat pula. Dari pemahaman terhadap landasan psikologis itulah, maka pembelajaran penjas yang baik tidak cukup hanya dengan memberikan perintah dan tugas-tugas gerak semata (misalnya dengan instruksi yang klasik seperti, ... ketika kamu menerima bola, kamu lari ke arah sana, lalu kamu lempar bola itu ke si A, dan kamu kembali ke sini), melainkan harus pula dibarengi dengan upaya memberikan kesempatan pada mereka untuk menganalisis situasi dan berikan kebebasan untuk mengambil keputusan sendiri (misalnya: ... baik, ketika posisi lapangan ketat dan kamu dijaga terus oleh lawan, kira-kira kemanakah kamu harus melempar bola? Coba kita praktekkan, apakah keputusanmu sudah tepat atau tidak?).

3. Landasan Sosiologis dalam Pendidikan Jasmani Pendidikan jasmani adalah sebuah wahana yang sangat baik untuk proses sosialisasi. Perkembangan sosial jelas penting, dan aktivitas pendidikan jasmani mempunyai potensi untuk menuntaskan tujuan-tujuan tersebut. Seperangkat kualitas dari perkembangan sosial yang dapat dikembangkan dan dipengaruhi dalam proses penjas di antaranya adalah kepemimpinan, karakter moral, dan daya juang. Sosiologi berkepentingan dengan upaya mempelajari manusia dan aktivitasnya dalam kaitannya dengan hubungan atau interaksi antar satu manusia dengan manusia lainnya, termasuk sekelompok orang dengan kelompok lainnya. Di sisi lain, sosiologi berhubungan juga dengan ilmu yang menaruh perhatian pada lembaga-lembaga sosial seperti agama, keluarga, pemerintah, pendidikan, dan rekreasi. Singkatnya, sosiologi adalah ilmu yang berkepentingan dalam mengembangkan struktur dan aturan sosial yang lebih baik yang dicirikan oleh adanya kebahagiaan, kebaikan, toleransi, dan kesejajaran sosial. Dikaitkan dengan landasan tersebut, seorang guru penjas sesungguhnya adalah seorang sosiologis yang perlu mengetahui prinsip-prinsip umum sosiologi, agar mampu memanfaatkan proses pembelajarannya untuk menanamkan nilai-nilai yang dapat dikembangkan melalui penjas. Sebagaimana dikemukakan Bucher, guru yang mengerti sosiologi dalam konteks kependidikan akan mampu mengembangkan minimal tiga fungsi: (1) pengaruh pendidikan pada institusi sosial dan pengaruh kehidupan kelompok pada individu, seperti bagaimana sekolah berpengaruh kepribadian atau perilaku individu; (2) hubungan manusia yang beroperasi di sekolah yang melibatkan siswa, orang tua, dan guru dan bagaimana mereka mempengaruhi kepribadian dan perilaku individu; dan (3) hubungan sekolah kepada institusi lain dan elemen lain masyarakat, misalnya pengaruh dari pendidikan pada kehidupan masyarakat kota.

BAB III ASAS PENGEMBANGAN PENJAS DI SDLB/SLB TINGKAT DASAR

A. Asas Pengembangan dan Penetapan Sasaran Pendidikan Jasmani


Pendidikan jasmani di Sekolah Dasar mencakup ruang lingkup yang luas karena terkait langsung dengan karakteristik anak-anak dari berbagai usia. Dilihat dari tahapan pertumbuhan dan perkembangan fisik anak pada tingkat usia sekolah dasar, sedikitnya terlibat 3 tahapan, yaitu: a. tahapan akhir dari masa kanak-kanak awal (antara usisa 5 7 tahun) b. tahapan masa kanak-kanak akhir (middle childhood) dan c. tahapan awal dari pra-adolesen ( yang bisa dimulai pada usia 8 tahun atau rata-rata usia 10 tahun) Demikian juga dalam perkembangan motorik dan keterampilan. Anak-anak usia SD mengalami masa-masa perkembangan motorik dan keterampilan yang berbeda-beda. Pada usia-usia 5 8 tahun, anak mulai berurusan dengan kemampuan pengelolaan tubuhnya dan keterampilan dasar seperti keterampilan berpindah tempat (locomotor), gerak statis di tempat (non-locomotor) dan gerak memakai anggota badan (manipulative). Pada usia di atasnya, anak-anak mulai matang menguasai keterampilan khusus, dari mulai keterampilan manipulatif lanjutan, hingga kegiatan-kegiatan berirama dan permainan, senam, kegiatan di air, dan kegiatan untuk pembinaan kebugaran jasmani. Dalam beberapa cabang olahraga, pentahapan pencapaian keterampilan tingkat tinggi pun sudah dapat mulai dilaksanakan di kelas-kelas akhir SD, misalnya senam, loncat indah, dan renang. Karena begitu eratnya hubungan antara tingkat pertumbuhan dan perkembangan fisik dan keterampilan anak, ruang lingkup pendidikan jasmani yang ditawarkan di sekolah dasar semestinya

dikembangkan berdasarkan kebutuhan anak-anak. Hal ini tidak bisa dibuat begitu saja, sebab perlu diolah sebaik-baiknya dengan pertimbangan yang matang. Pertimbangan tersebut meliputi (1) dasardasar pengembangan program, (2) pola pertumbuhan dan perkembangan anak, (3) dorongan dasar anak-anak, dan (4) karakteristik serta minat anak. Mari kita simak satu persatu keempat pertimbangan tersebut.

Dasar-Dasar Pengembangan Program


Ada beberapa prinsip yang menjadi landasan bagi pengembangan program pendidikan jasmani, yaitu: 1. Kurikulum Pendidikan Jasmani haruslah berorientasi kepada anak dan tingkat perkembangannya. Pemilihan kegiatan dalam penjas harus di dasarkan pada tuntutan dan karakteristik anak dan dilengkapi dengan pertimbangan tentang tingkat-tingkat perkembangan mereka. Anaklah yang menjadi pusat kurikulum, dan karenanya pengalamanpengalaman yang dipilihkan juga harus sesuai dengan kebutuhan mereka. 2. Setiap anak berbeda-beda dalam hal kebutuhan dan kemampuan belajarnya. Setiap anak mempunyai hak untuk mencapai potensinya masing-masing sehingga kurikulum harus memberikan kesempatan agar anak memperoleh pengalaman semacam itu. Anak-anak harus berkembang dalam kecepatan yang sesuai dengan iramanya, dan kurikulum harus mampu meningkatkan perkembangan mereka. Perbedaan-perbedaan individual harus menjadi pedoman dalam menerapkan kurikulum, sehingga tujuan, kegiatan, dan pengalaman belajar lebih memenuhi kebutuhan individual daripada kebutuhan pokok. 3. Anak harus dilihat sebagai manusia yang utuh. Kurikulum hendaknya bertanggung jawab dalam mengembangkan aspek-aspek yang lengkap dari anak-anak, bukan saja keterampilan fisik dan kebugaran jasmani, tetapi mencakup keterampilan kognitif dan keterampilan sosial. Dalam wilayah kognitif misalnya, pembelajaran yang terpadu harus sejalan dengan perkembangan dari kebugaran fisik dan keterampilan. Demikian juga dalam wilayah afektif, pencapaian keberhasilan yang bersifat fisik memainkan peran yang amat penting dalam mengembangkan konsep diri yang positif. Anak-anak yang mencapai efisiensi gerak dan berhasil dalam keterampilannya, akan lebih mudah menyesuaikan dirinya dalam kehidupan sekolahnya daripada yang kurang mampu secara gerak. 4. Hal-hal yang berhubungan dengan kebutuhan anak harus diajarkan melalui pendidikan jasmani. Kegiatan pelajaran harus dilaksanakan dalam sifat yang meyakinkan bahwa tujuantujuan dari pendidikan jasmani dapat dicapai. Nilai-nilai yang dikandung dalam pendidikan jasmani tidak dicapai secara otomatis atau kebetulan saja. Sifat-sifat seperti kejujuran, fairplay, disiplin diri, dan kerjasama kelompok bukanlah hasil ikutan dari kegiatan fisik. Pendidikan jasmani harus menjadi suatu program pengajaran utama, yang memanfaatkan strategi mrngajar yang bernuansa pendidikan. 5. Gerakan merupakan dasar bagi pendidikan jasmani. Mutu program penjas dapat dinilai berdasarkan mutu pengalaman gerakan yang dialami oleh anak-anak. Pendidikan jasmani memang terdiri atas kegiatan fisik yang harus dilakukan secara aktif. Anak-anak tidak akan dapat mengambil manfaat hanya dari berbaris, menunggu datangnya alat-alat atau mendengarkan penjelasan guru yang panjang. Pendidikan jasmani harus menyediakan kesempatan yang seluas-luasnya kepada anak-anak untuk menimba pengalaman gerak. 6. Pembelajaran harus terjadi melampaui kepentingan sesaat tapi harus menawarkan keterampilan yang berguna untuk seumur hidup. Dalam masyarakat modern dewasa ini, pemeliharaan kebugaran jasmani dan kesehatan dipandang sebagai kebutuhan utama. Dengan demikian pendidikan jasmani harus memberikan program yang cukup dinamis agar mampu mengembangkan kebugaran jasmani peserta didik. Kebugaran merupakan dasar untuk pencapaian keterampilan gerak. Pelaksanaannya harus berdasarkan kemampuan anak dan beban latihannya disesuaikan dengan kesangupan setiap siswa.

Pola Pertumbuhan dan Perkembangan Anak

Uraian tentang tahapan dan pola pertumbuhan dan perkembangan anak tidak akan cukup diliput dalam penggalan singkat ini. Yang akan ditemui dalam bagian ini merupakan ringkasan dari pola pertumbuhan dan perkembangan anak dalam wilayah psikomotor. 1. Perkembangan ke arah memanjang (Cephalocaudal) dan ke arah tepi (Proximodistal) Kedua istilah ini menunjukkan rangkaian perkembangan fisik yang teratur. Cephalocaudal adalah perkembangan fisik yang berlangsung ke arah memanjang (longitudinal) dari kepala ke kaki. Ini merupakan kemajuan yang bertahap didukung pengontrolan otot yang meningkat yang bergerak dari otot-otot kepala, leher, lalu ke tubuh, dan akhirnya ke tungkai dan kaki. Gejala ini mengikuti ciri-ciri dalam perkembangan bayi dalam rahim yaitu dimulai dari pembentukan kepala, kemudian lengan dan tungkai. Pengontrolan otot-otot pun berlangsung dalam rangkaian yang sama. Perkembangan proximodistal berlangsung dari pusat tubuh mengarah ke tepi yang tampak ketika anak baru belajar menulis. Mereka cenderung menggunakan gerakan besar dari bahu sebelum gerakan halus untuk menulis dikuasai. 2. Gerak kasar dan gerak halus Sejalan dengan perkembangan ke arah memanjang dan ke arah tepi, perkembangan gerak kasar dan halus menunjuk pada penguasaan otot anak-anak yang bergerak dari otot otot besar dahulu sebelum anak mampu membedakan bagian-bagian dan menggerakkannya secara terpisah. Penguasaan keterampilan menulis misalnya, ditandai dengan ciri yaitu pada saat-saat awal, anak-anak menggunakan lebih banyak bagian-bagian tubuh daripada yang diperlukannya. Ini menunjukkan bahwa anak belum bisa bergerak secara efisien, dengan hanya menggunakan otot yang diperlukan saja. Sejalan dengan tingkat perkembangannya dan dibantu oleh proses latihan, penguasaan gerak efisien kelak akan dicapai. 3. Bilateral ke Unilateral Pada masa-masa awal pengontrolan gerak, gerakan cenderung dilakukan secara bilateral yaitu anak kecil menggunakan satu atau kedua tangan untuk menguasai sebuah benda. Secara bertahap pilihan untuk mengontrol sesuatu beralih hanya dengan tangan atau dengan kaki yang disebut perkembangan unilateral. 4. Diferensiasi dan Integrasi Kedua proses di atas terkait dengan peningkatan fungsi gerak yang berasal dari perkembangan saraf. Diferensiasi dikaitkan dengan proses bertahap dari kontrol gerak yang memerlukan otot besar ke gerakan khusus yang lebih diperhalus oleh perkembangan individu. Sedangkan integrasi menunjuk pada fungsi jalinan saraf dari bermacam-macam kelompok otot yang berlawanan agar terkoordinasi satu sama lain. 5. Filogenetik dan Ontogenetik Keterampilan filogenetik adalah perilaku gerak yang cenderung muncul dengan otomatis tanpa dilatih, dan dalam rangkaian yang dapat diperkirakan. Perilaku tersebut berupa menggapai, memegang, berjalan, dan berlari, yang nampaknya bertahan dari pengaruh-pengaruh lingkungan. Keterampilan ontogenetik adalah perilaku yang dipengaruhi oleh belajar dari lingkungan seperti berenang, bersepeda, bersepatu roda, dan lain-lain.

Dorongan Dasar Anak-Anak


Dorongan dasar adalah suatu keinginan untuk melakukan dan menghasilkan sesuatu. Semua anak memiliki perasaan seperti ini yang kemungkinan besar merupakan sifat turunan atau pengaruh lingkungan. Dorongan dasar ini dikaitkan dengan pengaruh masyarakat, guru, orangtua, dan temanteman sendiri. Biasanya dorongan dasar ini akan berpola sama pada setiap anak dan tidak dipengaruhi oleh faktor kematangan. Dorongan tersebut niscaya mengarahkan pengembangan kurikulum pendidikan jasmani dan untuk menciptakan program yang sesuai dengan sifat-sifat anak. Berikut ini akan dibahas secara selintas tentang dorongan-dorongan tersebut. a. Dorongan untuk Bergerak Anak-anak tak pernah puas untuk bergerak, tampil, dan aktif. Mereka berlari semata-mata karena menyukai dan menikmati lari itu. Keaktifan merupakan bagian dari hidup anak-anak. Program pendidikan jasmani karenanya harus memuaskan kehausan anak-anak untuk bergerak. b. Dorongan untuk Berhasil dan Mendapat Pengakuan Anak-anak tidak hanya berambisi untuk berprestasi, tetapi mereka juga menginginkan prestasi mereka itu diakui. Mereka lesu ketika mendapat kritikan dan celaan. Sedangkan dorongan dan dukungan yang hangat akan meningkatkan perkembangan dan pertumbuhan yang maksimum. Kegagalan dapat mengarah pada rasa frustasi dan hilangnya minat belajar. Karena itu pengalaman berhasil pada anak perlu diperbanyak agar mereka tidak kehilangan minat untuk belajar. c. Dorongan untuk Mendapatkan Pengakuan Teman dan Masyarakat Penerimaan kawan sekelas adalah kebutuhan dasar manusia. Anak-anak menginginkan diterima oleh kawan-kawannya, dihormati, dan disukai. Lingkungan sekolah harus memberi jalan agar anak memperoleh penerimaan dari kawan-kawannya. Belajar bekerjasama dengan yang lain, menjadi anggota kelompok yang mampu menyumbang sesuatu, dan berbagi andil dengan kawan dalam suatu prestasi merupakan nilai penting dari program penjas. d. Dorongan untuk Bekerjasama dan Bersaing Anak-anak menikmati suasana bermain dan bekerjasama dengan anak lain. Mereka menemukan kepuasannya ketika menyadari bahwa peranannya dianggap penting dalam suatu kelompok. Ia merasa sedih ketika mengalami penolakan dari kawan-kawannya. Bekerjasama harus diajarkan terlebih dahulu sebelum pengalaman bersaing. Kegembiraan menjadi bagian suatu kelompok akan lebih besar manfaatnya daripada persaingan dengan kawan. Namun demikian, dorongan untuk bersaing juga merupakan bukti nyata dari kehidupan anak-anak, sebab mereka ingin membandingkan keterampilan fisik dan kekuatannya di antara sesama temannya. Biasanya anak akan memiliki keinginan untuk bersaing jika mereka berpikir bahwa mereka memiliki peluang untuk menang. Jika anak-anak tidak mempunyai peluang untuk menang, suasana kompetitif akan hilang. Karena itu suasana bersaing yang wajar dan sepadan dengan kemajuan anak harus diciptakan dan dimonitor. e. Dorongan untuk Kebugaran Fisik dan Daya Tarik Guru harus menyadari betapa besarnya keinginan anak untuk memiliki kebugaran jasmani dan memiliki tubuh yang lincah dan menarik. Oleh karenanya guru harus memaklumi perasaan direndahkan yang diderita anak-

anak yang lemah, gemuk, pincang, atau tidak normal dalam beberapa hal. Program penjas harus menyediakan kesempatan untuk perbaikan-diri sehingga anak-anak dapat mengatasi kekurangannya dalam kekuatan, keterampilan, atau postur tubuhnya. Guru harus memonitor sistem penghargaan secara hati-hati sehingga tidak menyinggung anak-anak yang kurang mampu. f. Dorongan untuk Bertualang Dorongan untuk berpartisipasi dalam kegiatan yang bersifat petualangan atau sesuatu yang tidak biasa, mendorong anak untuk berpartisipasi dalam kegiatan yang baru. Guru harus memberi tempat kepada kegiatan yang bersifat petualangan atau sesuatu yang tidak biasa, mendorong anak untuk berpartisipasi dalam kegiatan yang baru. Guru harus memberi tempat kepada kegiatan-kegiatan yang menarik dalam kurikulum. Ini akan memberikan kecenderungan positif kepada anak untuk meningkatkan kegembiraan anak. g. Dorongan untuk Kepuasan Kreatif Anak-anak suka mencoba sesuatu cara yang berbeda-beda, bereksperimen dengan benda-benda yang berbeda, dan menggali berbagai hal yang dapat mereka lakukan secara kreatif. Menemukan cara yang berbeda untuk mengekspresikan dirinya sendiri secara fisik dapat memuaskan dorongan kreatif. h. Dorongan untuk Menikmati Irama Semua anak laki-laki dan perempuan dapat menikmati irama. Irama mengandung gerak dan anak memang suka bergerak. Program penjas harus menyediakan berbagai kegiatan berirama yang dapat dipelajari semua anak dengan cukup baik untuk memenuhi kebutuhannya. Pengajaran irama melalui penggunaan instrumen sederhana seperti dengan tepuk tangan atau ketukan pada lantai hingga penggunaan instrumen musik seperti tambur atau musik langsung dari tape recorder (perekam pita) akan mempebesar kegembiraan anak dalam meningkatkan penguasaan iramanya. Guru penjas di Indonesia biasanya kurang menyadari kecenderungan ini. Bahkan lebih sering diabaikan keharusan mengajar penguasaan irama gerak pada anak-anaknya. Yang sering dilakukan adalah mengajak anak-anak melakukan SKJ (Senam Kesegaran Jasmani) secara berulang-ulang sepanjang tahun yang hanya menawarkan irama yang monoton, sehingga anak kurang mengalami irama yang bervariasi. i. Dorongan untuk Mengetahui Anak-anak bersifat ingin tahu. Mereka berminat untuk mengetahui bukan hanya tentang apa yang sedang mereka kerjakan, tetapi juga mengapa mereka mengerjakannya. Mengetahui mengapa tentang sesuatu hal merupakan dorongan yang kuat bagi mereka. Alangkah baiknya jika guru mampu memuaskan keingintahuan mereka dengan cara menerangkan mengapa serta apa manfaat dari program pendidikan jasmani.

B. Model Orientasi Kurikulum dalam Pendidikan Jasmani


Persoalan konflik antar makna pendidikan jasmani dan pendidikan olahraga perlu diselesaikan. Keduanya tidak perlu dipertentangkan. Yang berbeda adalah dalam hal pemahaman. Keduanya sebenarnya mengandung fungsi mendidik. Penyelenggaraan pendidikan jasmani bisa berbeda karena berbeda dalam rancangan kurikulumnya. Di negara maju, pendidikan jasmani dilaksanakan dengan berorientasi pada model-model kurikulum yang berlaku. Model kurikulum inilah yang menentukan perbedaan tekanan terhadap program yang dilaksanakan, apakah berorientasi pada peningkatan kesegaran jasmani atau keterampilan gerak, misalnya. Untuk memperjelas perbedaannya, mari kita simak model kurikulum sebagai berikut:

pendidikan gerak (movement education) pendidikan olahraga (sport education) pendidikan petualangan (adventure education) pendidikan perkembangan (developmental education) pendidikan kebugaran (fitness education) pendidikan disiplin keilmuan olahraga (kinesiological studies) Pendidikan Gerak Pendidikan gerak (movement education) menekankan pendidikan lewat gerak yang mula-mula dikem- bangkan oleh Rudolph Laban di Inggris. Laban mengembangkan konsep-konsep gerak yang berkaitan dengan ruang dan waktu sebagai bahan untuk pengembangan gerak-gerak tari. Aliran Laban akhirnya dibawa ke Amerika Serikat dan diadopsi sebagai program pendidikan jasmani. Lewat pendidikan gerak, keterampilan gerak anak dikembangkan melalui pelaksanaan yang bervariasi, dikaitkan dengan ruang, waktu, arah serta tingkat ketinggian di mana gerakan dilakukan. Di sini tidak ada istilah benar atau salah. Anak-anak akan lebih menguasai pergerakan tubuhnya disertai pengertiannya. Dengan demikian diharapkan siswa menguasai tubuhnya dan mampu mengembangkan kapasitas fisik dan mentalnya untuk belajar, baik keterampilan fisik maupun keterampilan akademis. Model ini cocok dikembangkan di SD. Pendidikan olahraga Ada kesalahpahaman bahwa pendidikan jasmani sama dengan pendidikan olahraga. Keduanya berbeda, pendidikan jasmani lebih menekankan pada pengembangan keterampilan motorik dasar dan memperkaya perbendaharaan gerak. Pendidikan olahraga menekankan pada pembinaan keterampilan berolahraga dan menghayati nilai-nilai yang diperoleh dari kegiatan berlatih dan bertanding. Semua anak dibekali pengalaman nyata untuk berperan dalam pembinaan olahraga, seperti wasit, atlet, atau pelatih. Dalam arti itulah pendidikan olahraga di Amerika Serikat, misalnya, menyandang misi kependidikan yang lengkap. Jika program penjas di Indonesia masih berwarna pendidikan olahraga seperti sekarang ini, maka kecenderungan ini hanyalah masalah orientasi model kurikulum yang dianut seperti maksud di atas. Sayangnya kecenderungan di Indonesia, penggunaan model ini tidak menyebabkan anak dibekali dengan pengalaman berolahraga yang sebenarnya, karena programnya amat terbatas. Pendidikan perkembangan Model pendidikan perkembangan memfokuskan tujuan pendidikannya pada aktualisasi diri, yang menekankan pertumbuhan pribadi dari setiap anak. Kurikulumnya dikembangkan berdasarkan tingkat perkembangan anak, yang berusaha menyeimbangkan penekanan pada ranah kognitif, afektif dan psikomotor. Pendidikan jasmani yang berorientasi pada developmental education mengarahkan kegiatan anak melalui pemenuhan kebutuhan keterampilan pada diri anak. Disesuaikan dengan tahap perkembangan fisik dan mentalnya, setiap kelompok anak diarahkan pada keterampilan gerak yang dibutuhkan anak. Misalnya, bagi anak usia di bawah lima tahun, perlu dikembangkan kemampuan pengaturan tubuhnya dan bagi anak usia di atasnya perlu dikembangkan keterampilan dasarnya. Sementara bagi anak yang lebih dewasa diarahkan pada keterampilan keterampilan khususnya, seperti yang dikembangkan dalam cabang-cabang olahraga tertentu. Pendidikan petualangan Pendidikan petualangan (Adventure education) dikembangkan atas dasar kebutuhan untuk mengatasi tekanan-tekanan hidup yang semakin berat. Programnya berisi kegiatan yang menantang

di alam bebas dan disesuaikan dengan kebutuhan para remaja untuk bertualang mengatasi resiko dan perjuangan melawan tantangan alam. Mendaki gunung, menyusuri sungai, berkemah, memanjat tebing, dan variasi lain di alam terbuka merupakan contoh program pendidikan petualangan. Pendidikan kebugaran Sekolah memang bisa menekankan orientasinya pada pengembangan kebugaran murid-muridnya. Program pendidikan jasmani seperti itu mengarahkan anak supaya aktif berlatih di sekolah dan di luar sekolah untuk hidup sehat dan memiliki kemampuan fisik yang baik. Pelaksanaan senam kebugaran jasmani (SKJ) merupakan contoh dari program pendidikan kebugaran. Persoalannya adalah mungkin frekuensi dan isi latihannya perlu ditingkatkan, karena hanya bersandar pada SKJ yang ada sekarang ini, unsur kekuatan, kelentukan, serta power anak tidak akan berkembang maksimal. Kinesiological Studies Model studi kinesiologi pada hakikatnya hampir sama dengan model pendidikan gerak dalam orientasi nilainya, tetapi menggunakan kegiatan gerak untuk mempelajari dasar-dasar disiplin gerak manusia (misalnya fisiologi latihan, biomekanika, dan kinesiologi). Karena itu, model inipun disebut juga sebagai pendidikan disiplin keilmuan olahraga. Penekanan pembelajaran model ini adalah pada pengembangan keterampilan memecahkan masalah, khususnya dengan menggunakan kombinasi antara pembelajaran konsep dan prakteknya di lapangan. Tujuan utamanya adalah menumbuhkan dan mengembangkan pemahaman kognitif tentang bagaimana dan mengapa suatu keterampilan gerak berlangsung demikian. Model ini didasari dua pendekatan yang khas dalam studi kinesiologi, yaitu pendekatan pertama, isi atau materi diatur dalam sebuah unit-unit kegiatan, dan konsep-konsep disiplin utama diintegrasikan dengan pengajaran keterampilan; pendekatan kedua, unit-unit kegiatan diatur di sekitar konsep-konsep khusus yang menjadi prioritas di atas pengajaran keterampilan. Pemakaian model ini umumnya dipilih oleh guru-guru penjas di tingkat sekolah menengah. Meskipun banyak sekolah menengah telah memasukkan satu atau dua unit konsep dalam kurikulumnya, khusus dipadukan dengan sehat-bugar-jasmani, sedikit sekali sekolah yang hanya memakai model kinesiologi secara tunggal. Tetapi tidak ada salahnya model inipun sudah mulai diperkenalkan di SD dengan persoalan prinsip gerak yang disederhanakan.

C. Ruang Lingkup Pendidikan Jasmani


Setelah dibahas tentang dasar-dasar pertimbangan sebagai pedoman untuk menyusun program pendidikan jasmani di SD, ruang lingkup pendidikan jasmani dapat ditentukan. Namun demikian uraian tentang ruang lingkup ini dibatasi dan sifatnya masih umum Berdasarkan pola pertumbuhan dan perkembangan anak serta berbagai karakteristiknya, maka dapat ditentukan program di tingkat SD sebagai berikut: 1. Kemampuan pengelolaan tubuh. Kemampuan pengelolaan tubuh merupakan kemampuan paling dasar yang dikuasai anak bersamaan dengan berkembangnya pengetahuan tentang tubuhnya. Termasuk di dalamnya adalah kesadaran tubuh dan geraknya. Ke dalam bagian ini dapat dirinci hal-hal khusus seperti: a. Kesadaran tubuh Kesadaran tubuh menunjuk pada kemampuan untuk mengenal nama-nama bagian tubuh yang bermacam-macam serta kemampuan untuk mengontrol setiap bagian tersebut secara terpisah. Bagian-bagian tubuh tersebut melibatkan tiga wilayah meliputi:

(1) wilayah kepala: dahi, muka, pipi, alis, hidung, mulut, telinga, rahang, dagu, mata, dan rambut; (2) wilayah badan bagian atas: leher, bahu, dada, perut, lengan, tangan, siku, pergelangan, telapak, dan jari-jari; dan (3) wilayah badan bagian bawah: pinggang, pinggul, pantat, paha, lutut, betis, pergelangan kaki, punggung kaki, tumit, bola-bola kaki dan jari-jari. b. Kesadaran ruang Kemampuan kesadaran ruang menunjuk pada posisi tubuh dikaitkan dengan ruang sekelilingnya. Ini merupakan dasar dalam perkembangan kemampuan gerak-perseptual anak. Yang dimaksud gerak perseptual adalah gerak yang dihasilkan oleh kemampuan siswa untuk mengindera rangsangan dan menentukan gerak yang sesuai untuk menjawab rangsang itu. Dalam hal ini anak akan mengenal ruangnya sendiri, ruang secara umum, arah gerak, jalur gerak, tingkatan, serta jarak. c. Kualitas gerak Anak mengembangkan kemampuan geraknya dikaitkan dengan kualitas kesadarannya tentang geraknya sendiri. Ini sebenarnya menunjuk pada tingkat penguasaan anak terhadap dirinya sendiri dikaitkan dengan ruang di luar dirinya. Dalam wilayah ini anak akan berhubungan dengan kemampuan untuk menciptakan daya (force), menyerap tenaga, mengatur keseimbangan, mengatur jarak, kecepatan, serta aliran gerak. 2. Keterampilan-keterampilan Dasar Keterampilan dasar adalah bentuk keterampilan yang bermanfaat dan dibutuhkan anak dalam kehidupannya sehari-hari. Keterampilan ini merupakan ciri pelengkap yang penting untuk anak-anak untuk berfungsi dalam lingkungannya, sehingga disebut sebagai keterampilan fungsional. Untuk kemudahan pembahasannya, dalam modul ini, keterampilan dasar di bagi ke dalam tiga bagian: a. Keterampilan lokomotor, yaitu keterampilan yang digunakan untuk menggerakkan atau memindahkan posisi tubuh dari satu tempat ke tempat lainnya. Termasuk ke dalam keterampilan ini adalah berjalan, berlari, melompat, hop (jingkat), berderap, skip, slide, dan lain-lain. b. Keterampilan non-lokomotor, yaitu keterampilan di tempat yang dilakukan tanpa memindahkan tubuh dari satu tempat ke tempat lain. Hal ini meliputi membengkok, merentang, memilin, memutar, mengayun, menggoyang, mengangkat, mendorong, menarik, memantulkan, merendahkan tubuh, dan lain-lain. c. Keterampilan manipulatif, yaitu keterampilan yang melibatkan kemampuan anak untuk menggunakan bagian-bagian tubuhnya seperti tangan dan kaki untuk memanipulasi benda di luar dirinya. Dalam pelaksanaannya keterampilan ini melibatkan koordinasi mata-tangan serta mata-kaki. Ke dalamnya termasuk keterampilan seperti melempar, menangkap, memukul bola, memukul dengan raket atau pemukul, menggiring bola (baik tangan atau kaki), dsb. 3. Keterampilan-keterampilan khusus yang terspesialisasi Keterampilan yang terspesialisasi adalah keterampilan yang digunakan dalam berbagai cabang olahraga dan wilayah pendidikan jasmani lainnya. Keterampilan ini meliputi kegiatan dengan peralatan (misalnya senam alat), gerakan-gerakan akrobatik, tari-tarian, serta permainan khusus atau formal seperti sepak bola, bola voli, bola basket, dan lain-lain.

D. Arah Pengembangan Pembelajaran Pendidikan Jasmani


Setelah mengetahui ruang lingkup dari pendidikan jasmani, selanjutnya guru harus mampu melihat dan menetapkan arah serta sasaran yang akan dikembangkan. Pedoman umum tentang arah dan

sasaran ini diuraikan secara garis besar dalam bentuk lima tujuan perubahan yang harus terjadi pada anak didik. Kelima tujuan tersebut adalah sebagai berikut: 1. Murid menjadi sadar akan potensi geraknya. Pembelajaran dalam pendidikan jasmani harus mampu membangkitkan minat anak untuk menggali potensinya dalam hal gerak. Karena itu anak harus diberi dorongan untuk terus menerus menjelajahi kemampuan-kemampuannya. Tugas ini tidak mudah dan hasilnya tidak segera. Dari pertemuan ke pertemuan, mungkin guru hanya akan melihat kemajuan yang lambat, tersendat-sendat, serta seolah berjalan di tempat. Memang itulah yang harus disadari oleh semua guru penjas. Tidak ada kemajuan dalam hal belajar gerak yang bersifat kejutan. Semua kemajuan mengikuti pola yang teratur. Jangan mengharapkan keajaiban. Harus sabar dan bersikap optimis bahwa murid kita akan mencapai kemajuan. Bila tiba waktunya, jangan kaget jika tiba-tiba guru sadar anak-anak sudah bertambah tinggi dan besar serta semakin terampil gerakannya. Itulah upah dari kesabaran guru dalam mendidik anak. Disitulah guru akan merasakan betapa mulianya tugas guru penjas. Di pihak lain, sebagai guru kita harus maklum bahwa setiap murid memiliki kekhasannya masingmasing. Ada yang masuk ke kelas dengan bekal seperangkat pengalaman yang memadai dan ada pula yang tidak membawa bekal sama sekali. Artinya, ada anak yang kelihatan mudah dalam mempelajari gerak-gerak tertentu, sementara yang lainnya menemui kesulitan. Ada anak yang gigih ingin bisa, ada juga anak yang mudah menyerah. Perbedaan individual dalam hal kematangan dan pengalaman masa lalunya, menyebabkan kita sulit untuk menyeragamkan kecepatan kemajuan anak-anak dalam hal belajar gerak. Keluhan-keluhan seperti saya tidak bisa atau saya tidak berbakat dan ucapan sejenis lainnya akan sering terdengar dari mulut anak-anak. Bahkan ada anak yang belum mencoba sekalipun sudah mengatakan tidak mau melakukan, karena dia yakin tidak akan berhasil. Bagaimanakah guru seharusnya menghadapi kasus serupa itu? Tentu jawaban dan cara guru harus benar-benar tepat agar tidak kian membenamkan anak dalam citra rendah diri yang dibuatnya sendiri. Tanamkan kesadaran pada anak-anak bahwa mempelajari keterampilan dan gerak, bukanlah proses yang tergesa-gesa. Sebab diperlukan waktu dan usaha yang tidak sebentar untuk menguasai sesuatu. Yang penting jangan cepat menyerah. Ungkapan guru seperti, cobalah lakukan lagi. Kamu bukan tidak bisa, tapi belum bisa, adalah salah satu ungkapan yang bisa membesarkan hati anak. Perbedaan anak-anak tersebut harus membuat guru penjas menjadi lebih arif dalam menentukan tugas bagi masing-masing anak. Jangan sampai anak diberi tugas yang seragam dengan kriteria keberhasilan yang sama bagi semua orang. Kenali kemampuan murid, baik per kelompok maupun perorang, agar penentuan tugas mereka bisa disesuaikan. Dengan cara itu anak akan merasa bahwa guru memang mendorong semua siswa untuk mau dan mampu belajar. 2. Murid dapat bergerak dan tampil baik secara meyakinkan Ketika murid terlibat dalam proses pembelajaran, mereka harus merasakan adanya perasaan mampu, lancar, dan tidak tersendat-sendat. Perasaan demikian hadir dari adanya rasa aman selama mereka mulai belajar hingga menguasai suatu ketersampilan. Rasa aman tadi, tentu tidak timbul sendiri, tetapi merupakan kondisi yang selalu diciptakan oleh guru. Bagaimana rasa aman bisa timbul dalam pembelajaran penjas? Rasa aman akan timbul dari situasi belajar yang menyenangkan dan jauh dari keadaan yang menekan dan menegangkan. Keadaan demikian bisa timbul dari tindak tanduk guru yang memang santun, tidak memalukan murid, serta usahanya yang sungguh-sungguh untuk menciptakan lingkungan yang aman. Dalam hal ini, bukan berarti bahwa guru tidak boleh tegas. Guru harus tegas tapi hangat dalam pendekatannya, terutama dalam menerapkan peraturan-peraturan yang mendukung terciptanya lingkungan yang aman tadi. Lingkungan pembelajaran yang aman akan mendukung kesungguhan dan kemauan anak untuk mempelajari keterampilan hingga taraf penguasaan tertinggi. Anak akan merasa bersemangat untuk terus berlatih, baik secara mandiri maupun berkelompok, sehingga anak merasa yakin untuk menguasai keterampilan yang bisa diandalkan.

Penguasaan yang baik pada keterampilan tertentu akan menumbuhkan hormat diri dan kepercayaan diri anak. Ini timbul dari rasa nyaman ketika menyadari dirinya memiliki kemampuan, serta timbul dari pengakuan guru dan teman-temannya. Karena itu penekanan pada timbulnya perasaan sukses ini harus diupayakan oleh guru dengan cara menetapkan tingkat kesulitan tugas yang sesuai bagi setiap anak. Untuk menciptakan suasana belajar seperti itu guru perlu membedakan tahapan pembelajaran yang akan dilalui anak. Pada tahap awal, guru harus membantu anak; agar mampu memusatkan diri pada proses, bukan pada hasil. Sedangkan pada tahap selanjutnya, guru harus siap untuk meningkatkan taraf kesulitan keterampilan yang sedang dipelajari, sehingga tingkat kemampuan (kompetensi) dan kepercayaan diri anak turut meningkat pula. Penyajian bahan pelajaran secara bertahap sangat dianjurkan. 3. Murid mengerti dan mampu menerapkan konsep-konsep gerak yang mendasar Keterampilan dalam berbagai cabang olahraga memiliki struktur tersendiri, lengkap dengan konsep dan prinsip yang mendasarinya. Memahami konsep-konsep itu merupakan syarat untuk menguasai keterampilan yang dipelajari. Semakin terkuasai konsepnya, semakin mudah suatu keterampilan dikuasai. Pelajaran pendidikan jasmani adalah salah satu tempat untuk meningkatkan kemampuan pemahaman anak terhadap berbagai konsep dasar keterampilan gerak. Kemampuan pemahaman ini akan menjadi bekal yang sangat berguna bagi siswa untuk menjadi pembelajar dalam banyak cabang olahraga ketika mereka menjadi dewasa kelak. Bahkan kemampuan ini dapat ditransfer untuk memahami bidang lain. Untuk mendukung tujuan tersebut pelajaran pendidikan jasmani harus mampu memberikan kesempatan kepada anak untuk memahami konsep dasar dari berbagai keterampilan yang dipelajarinya. Metode dan pendekatan yang digunakan oleh guru juga amat menentukan. Penelitian dalam bidang pedagogi olahraga (sport pedagogy) tentang pendekatan induktif, metode pemecahan masalah dan diskoveri terbukti efektif untuk meningkatkan kemampuan anak dalam pengembangan pengetahuan dan penalaran. Pengantar dan dialog yang bersifat terbuka, terbukti dapat memicu keinginan anak untuk turut menyumbang saran dan pendapat yang berguna dalam melatih keberanian anak angkat bicara. Karena itu, guru penjas perlu membiasakan murid dengan acara dialog. Guru hendaknya melatih anak untuk mau bertanya dan bicara mengemukakan pendapatnya, serta jawaban guru harus mencerminkan bahwa pertanyaan tersebut dianggap berharga. Coba Anda bayangkan bagaimana perasaan murid ketika ia bertanya guru malah memperlihatkan muka galak dan menjawab : Makanya kalau guru ngomong dengarkan. Telinganya dipasang baik-baik, supaya tidak masuk telinga kanan, keluar telinga kiri..! Memang anak tidak selamanya mendengarkan dengan baik. Itu perlu diingatkan. Tetapi cara mengingatkan anak supaya menjadi pendengar yang baik dan menghargai orang yang bicara, bukan dengan pendekatan keras seperti di atas. Bukan saja anak merasa sakit hati dan rendah diri dengan jawaban guru tadi, tapi juga membuat anak-anak yang lainnya tidak berani mengajukan pertanyaan. 4. Murid menjadi orang yang serba bisa dalam gerak Guru tentu harus melihat bahwa murid bisa mempelajari apa saja yang diperlukannya dalam hal keterampilan gerak. Adalah tindakan tidak bertanggung jawab jika seorang guru cenderung membatasi keterampilan yang harus dikuasai oleh murid-muridnya. Jangan mentang-mentang guru hanya menyukai sepakbola lalu hanya mengajar sepakbola sepanjang tahun. Ini jelas akan merugikan anak. Guru penjas harus mampu melihat keterampilan dasar serta pola gerak dominan yang mendasari suatu cabang olahraga atau suatu permainan. Keterampilan dasar serta pola gerak dominan itulah yang seharusnya ditekankan oleh guru untuk dipelajari oleh anak secara memadai. Alokasikan waktu yang cukup bagi anak untuk mempelajari berbagai keterampilan gerak dasar sehingga membangun suatu dasar yang kuat dan luas bagi peningkatan keterampilan berikutnya.

Memperkaya khasanah gerak anak dalam setiap pembelajaran penjas merupakan tugas prioritas bagi guru penjas, agar kelak anak mempunyai dasar keterampilan yang lengkap untuk memperdalam olahraga apapun. Kalau dasarnya baik, anak akan menjadi orang yang serba bisa dalam bidang olahraga. 5. Murid menghargai olahraga yang menyehatkan Dalam pembelajaran pendidikan jasmanilah murid harus belajar menyadari hubungan antara kegiatan yang teratur dengan timbulnya perasaan nyaman dan sehat. Dengan kegiatan tersebut murid harus menyadari bahwa dirinya lebih tahan terhadap serangan penyakit dan pengaruh stress. Dengan kesadaran tersebut diharapkan murid selanjutnya akan menghargai kegiatan olahraga sebagai sesuatu yang bermanfaat dan akan memilih mengisi waktu-waktu luangnya di luar sekolah dengan kegiatan yang aktif. Karena itu proses yang ditawarkan guru penjas lewat programnya harus menyebabkan anak mencintai kegiatan pendidikan jasmani dan olahraga, serta memberikan dasar yang baik bagi kegiatan yang sama di jenjang pendidikan berikutnya dan di masa dewasanya. Hal ini memang tidak mudah, tapi harus diupayakan secara sengaja oleh guru penjas.

E. Arah Pengembangan Pembelajaran Pendidikan Jasmani Bagi Anak Luar Biasa


Pendidikan jasmani untuk siswa sekolah luar biasa dan siswa berkelainan telah menjadi prioritas dalam program pendidikan nasional kita. Ini menunjukkan bahwa pemerintah telah menaruh perhatian yang lebih besar kepada para penyandang kelainan, bukan saja yang berada di lingkungan sekolah, tetapi yang berada di lingkungan pendidikan non-formal lainnya. Pada kenyataannya, para siswa penyandang kelainan memiliki kebutuhan yang lebih besar akan gerak. Seperti diakui oleh para ahli, justru pendidikan jasmani harus merupakan program utama dari program pendidikan luar biasa secara keseluruhan, karena menjadi dasar atau fundasi bagi peningkatan fungsi tubuh yang sangat diperlukan oleh anak-anak berkebutuhan khusus. Pendidikan jasmani dapat memberikan sumbangan yang sangat bermakna kepada para siswa luar biasa. Agar sumbangan tersebut dapat diwujudkan, itu berarti bahwa kurikulum harus dirancang untuk memenuhi kebutuhan individual siswa. Guru pendidikan jasmani perlu menguasai informasi atau pengetahuan yang berkaitan dengan persoalan medis yang berlaku pada siswa luar biasa. Programnya harus spesifik dan keterampilan gerak harus diajarkan dalam pola-pola perkembangan yang baik, yang bermula dari gerak yang paling sederhana dan bertahap maju ke keterampilan yang lebih kompleks. Guru pendidikan jasmani perlu mengakui bahwa aspek psikologis dari situasi kelas sama dan bahkan lebih penting daripada tujuan-tujuan substantif pendidikan jasmani. Di samping itu, untuk mampu menjaga motivasi anak tetap tinggi, guru perlu memiliki cara-cara yang kreatif dalam pengajaran. Guru pendidikan jasmani harus menanamkan pada dirinya sendiri tujuan dan keinginan untuk membantu siswa dalam mengembangkan citra diri positif, mengembangkan hubungan interpersonal yang efektif, memahami dan menghargai kelebihan dan keterbatasan fisiknya, mengoreksi kondisi fisik khusus yang masih mungkin diperbaiki, mengembangkan suatu kesadaran keselamatan, dan menjadikan anak-anaknya bugar secara fisik sesuai dengan kapasitasnya.

DAFTAR PUSTAKA

Bucher, Charles A. (1979). Foundations of Physical Education, (8th Ed.), St. Louis, MI., Mosby Company.

Buscher, Craig A. (1994). Teaching Children Movement Concepts and Skills, Champaign, III. : Human Kinetics Publisher, Inc., Dauer, V., & Pangrazi, R. (1986). Dynamic Physical Education For Elementary School Children, (8th Ed.), New York: Macmillan Freeman, William H. (2001). Physical Education and Sport in A Changing Society. (Sixth Ed.). Boston. Allyn and Bacon. Gabbard, Carl., LeBlanc, Betty., and Lowy, Susan. (1994). Physical Education for Children: Building the Foundation, (2nd Ed.), New Jersey: Prentice Hall. Graham, G. (1992). Teaching Children Physical Education, Becoming Master Teacher, Champaign, III. : Human Kinetics Publisher, Inc., Kogan, Sheila. (1982). Step By Step: A Complete Movement Education Curriculum From Preschol to 6th Grade, California: Front Row Experience. Malina, R., & Bouchard, C. (1978) Growth, Maturation and Physical Activity, Champaign, III: Human Kinetic Publisher, Inc. Siendtop, D. (1991). Developing Teaching Skill in Physical Education, 3rd Ed., Palo Alto, CA: Mayfield. Tinning, R., Mcdonald, D., Wright, J., and Hickey, C. (2001). Becoming Physical Education Teacher: Contemporary and Enduring Issues. Frenchs Forest, NSW. Prentice Hall.

Pendidikan Jasmani dan Olahraga Di Lembaga Pendidikan Pendidikan Jasmani dan Olahraga Di Lembaga Pendidikan (bag 2)

Dec 13, '08 12:52 PM for everyone

Mengapa perlu Olahraga. Gerak adalah ciri kehidupan. Tiada hidup tanpa gerak. Apa guna hidup bila tak mampu bergerak. Memelihara gerak adalah mempertahankan hidup, meningkatkan kemampuan gerak adalah meningkatkan kualitas hidup. Oleh karena itu : Bergeraklah untuk lebih hidup, jangan hanya bergerak karena masih hidup. Olahraga adalah serangkaian gerak raga yang teratur dan terencana untuk memelihara gerak (mempertahankan hidup) dan meningkatkan kemampuan gerak (meningkatkan kualitas hidup). Seperti halnya makan, Olahraga merupakan kebutuhan hidup yang sifatnya periodik; artinya Olahraga sebagai alat untuk memelihara dan membina kesehatan, tidak dapat ditinggalkan. Olahraga merupakan alat untuk merangsang pertumbuhan dan perkembangan jasmani, rohani dan sosial. Struktur anatomis-anthropometris dan fungsi fisiologisnya, stabilitas emosional dan kecerdasan intelektualnya maupun kemampuannya bersosialisasi dengan lingkungannya nyata lebih unggul pada siswa-siswa yang aktif mengikuti kegiatan Penjas-Or dari pada siswa-siswa yang tidak

aktif mengikuti Penjas-Or (Renstrom & Roux 1988, dalam A.S.Watson : Children in Sport dalam Bloomfield,J, Fricker P.A. and Fitch,K.D., 1992). Olahraga Kesehatan meningkatkan derajat Sehat Dinamis (Sehat dalam gerak), pasti juga Sehat Statis (Sehat dikala diam), tetapi tidak pasti sebaliknya. Gemar berolahraga : mencegah penyakit, hidup sehat dan nikmat ! Malas berolah-raga : mengundang penyakit. Tidak berolahraga : menelantarkan diri ! Kesibukan dalam kehidupan Duniawi sering menyebabkan orang menjadi kurang gerak, disertai stress yang dapat mengundang berbagai penyakit non-infeksi di antaranya yang terpenting adalah penyakit kardio-vaskular (penyakit jantung, tekanan darah tinggi dan stroke). Hal ini banyak dijumpai pada kelompok usia pertengahan, tua dan lanjut, khususnya yang tidak melakukan Olahraga. Olahraga (Kesehatan): Banyak gerak dan bebas stress, mencegah penyakit dan menyehatkan ! Olahraga adalah kebutuhan hidup bagi orang yang mau berpikir. Bukan Allah menganiaya manusia, tetapi manusia menganiaya dirinya sendiri ! Pemahaman dan perilaku ini sudah harus ditanamkan sejak usia dini, yaitu semenjak mereka masih di tingkat Pendidikan Dasar, baik di Sekolah Umum maupun di Pondok Pesantren! Cara penyajian Penjas-Or di Sekolah maupun di Pondok Pesantren harus dapat menjadikan siswa/santri menjadi butuh akan Penjas-Or khususnya demi kesehatannya serta dukungan bagi kemampuan belajarnya, sehingga siswa/santri akan selalu menyambut gembira setiap datang mata pelajaran Penjas-Or. Oleh karena sudah menjadi kebutuhan, maka mereka akan merasa dirugikan manakala mata pelajaran Penjas-Or ditiadakan seperti yang terjadi selama ini bila mereka akan menghadapi ujian akhir. Untuk ini diperlukan guru-guru Penjas-Or yang faham benar akan makna Penjas-Or di Sekolah maupun di Pondok Pesantren. Konsep Olahraga Kesehatan adalah: Padat gerak, bebas stress, singkat (cukup 10-30 menit tanpa henti), adekuat, massaal, mudah, murah, meriah dan fisiologis (bermanfaat dan aman) ! Massaal : Ajang silaturahim, ajang pencerahan stress, ajang komunikasi sosial ! Jadi Olahraga Kesehatan membuat manusia menjadi sehat Jasmani, Rohani dan Sosial yaitu Sehat seutuhnya sesuai konsep Sehat WHO ! Adekuat artinya cukup, yaitu cukup dalam waktu (10-30 menit tanpa henti) dan cukup dalam intensitasnya. Menurut Cooper (1994), intensitas Olahraga Kesehatan yang cukup yaitu apabila denyut nadi latihan mencapai 65-80% DNM (Denyut nadi maximal: 220-umur dalam tahun). Masalah intensitas yang adekuat ini harus menjadi perhatian bila Olahraga Kesehatan telah mencapai Sasaran3 (lihat Sasaran Olahraga Kesehatan). Sehat Dinamis hanya dapat diperoleh bila ada kemauan mendinamiskan diri sendiri khususnya melalui kegiatan Olahraga (Kesehatan). Hukumnya adalah : Siapa yang makan, dialah yang kenyang ! Siapa yang mengolah-raganya, dialah yang sehat ! Tidak diolah berarti siap dibungkus ! Klub Olahraga Kesehatan adalah Lembaga Pelayanan Kesehatan (Dinamis) di lapangan. Dalam kaitan dengan ini maka setiap lembaga Pendidikan Umum maupun Pondok-pondok Pesantren harus juga berfungsi sebagai Lembaga Pelayanan Kesehatan lapangan, dalam rangka program pokok yaitu Contoh Olahraga Kesehatan berbentuk senam yang dapat mencapai Sasaran-3 (Aerobiks) ialah Senam Pagi Indonesia seri D (SPI-D). Satu seri SPI-D memerlukan waktu 145, sehingga untuk memenuhi kriteria waktu yang adekuat maka SPI-D harus dilakukan minimal 6x berturut-turut tanpa henti, yang akan mencapai waktu 10.5 menit. Menurut penelitian, bila SPI-D dilakukan dengan

sungguh-sungguh maka intensitasnya dapat mencapai tingkat adekuat sesuai kriteria Cooper. SPI-D ini macam gerak dan tata-urutannya sudah berpola tetap sehingga lama-kelamaan Peserta dapat menjadi hafal akan macam gerakan dan tata-urutannya. Bila Peserta sudah hafal, maka rangsangan terhadap proses berpikir menjadi berkurang. Oleh karena itu senam aerobik pada umumnya yang tidak berpola tetap, adalah lebih baik dalam hal rangsangannya terhadap proses berpikir. Ciri Olahraga Kesehatan. Pesantai adalah orang yang tidak melakukan olahraga sehingga cenderung kekurangan gerak. Sebaliknya Pelaku olahraga berat melakukan olahraga lebih dari keperluannya untuk pemeliharaan kesehatan. Maka Pelaku Olahraga Kesehatan adalah orang yang tidak kekurangan gerak tetapi bukan pula Pelaku olahraga berat. Olahraga yang dianjurkan untuk keperluan kesehatan adalah aktivitas gerak raga dengan intensitas yang setingkat di atas intensitas gerak raga yang biasa dilakukan untuk keperluan pelaksanaan tugas kehidupan sehari-hari (Blair, 1989 dalam Cooper, 1994). Dalam Olahraga Kesehatan, setiap Peserta harus berusaha mengikutinya sebaik mungkin gerak/ instruksi Pelatih, namun tentu harus sesuai dengan kemampuannya masing-masing. Ciri Olahraga Kesehatan secara teknis-fisiologis adalah : - gerakannya mudah, sehingga dapat diikuti oleh orang kebanyakan dan seluruh siswa/santri pada umumnya (bersifat massaal), sehingga dapat memperkaya dan meningkatkan kemampuan dan ketrampilan gerak dasar, gerak yang diperlukan untuk pelaksanaan kegiatan hidup sehari-hari. - intensitasnya sub-maksimal dan homogen, bukan gerakan-gerakan maksimal atau gerakan eksplosif maksimal (faktor keamanan). - terdiri dari satuan-satuan gerak yang dapat (secara sengaja) dibuat untuk menjangkau seluruh sendi dan otot, serta dapat dirangkai untuk menjadi gerakan yang kontinu (tanpa henti) faktor penting untuk dapat mengatur dosis dan intensitas olahraga kesehatan. - bebas stress (non kompetitif) - diselenggarakan 3-5x/minggu (minimal 2x/minggu). - dapat mencapai intensitas antara 60-80% denyut nadi maksimal (DNM) sesuai umur. DNM sesuai umur = 220 umur dalam tahun. Sebaiknya tiap Peserta mengetahui cara menetapkan dan menghitung denyut nadi latihan masing-masing. Perlu pula dikemukakan bahwa sampai usia sekitar 14 tahun (usia pubertas) tidak perlu ada pemisahan siswa atas dasar jenis kelamin (Watson,1992), karena baru akan berdampak nyata di atas usia tersebut. Sasaran Olahraga Kesehatan. - Sasaran-1: Memelihara dan meningkatkan kemampuan gerak yang masih ada, termasuk memelihara dan meningkatkan fleksibitas dan kemampuan koordinasi. - Sasaran-2 : Meningkatkan kemampuan otot untuk meningkatkan kemampuan geraknya lebih lanjut. Latihan dilakukan dengan menerapkan prinsip Pliometrik!. - Sasaran-3 : Memelihara kemampuan aerobik yang telah memadai atau me-ningkatkannya untuk mencapai sasaran minimal katagori sedang.

Perlu ditekankan sekali lagi bahwa Olahraga Kesehatan adalah gerak olahraga dengan takaran sedang, bukan olahraga berat ! Jadi takarannya ibarat makan : berhentilah makan menjelang kenyang; jangan tidak makan oleh karena bila tidak makan dapat menjadi sakit, sebaliknya jangan pula kelebihan makan, karena kelebihan makan akan mengundang penyakit. Artinya berolahragalah secukupnya (adekuat), jangan tidak berolahraga karena kalau tidak berolahraga mudah menjadi sakit, sebaliknya kalau melakukan olahraga secara berlebihan dapat menyebabkan sakit ! Keterkaitan Kesehatan, Pendidikan Jasmani dan Olahraga. Untuk lebih memudahkan bahasannya perlu lebih dahulu dikutip kembali hal-hal yang tersebut di bawah ini : * Sehat dan Kesehatan. - Sehat merupakan dasar bagi segala kemampuan jasmani, rohani maupun sosial. - Memelihara dan meningkatkan kesehatan : cara yang terpenting, termurah dan fisiologis adalah melalui Olahraga. - Acuan Sehat adalah Sehat Paripurna dari Organisasi Kesehatan Dunia. * Pendidikan Jasmani dan Olahraga : - Pendidikan Jasmani adalah pendidikan dengan menggunakan media kegiatan Jasmani. - Olahraga adalah pelatihan Jasmani - Pendidikan Jasmani dan Olahraga adalah Pendidikan dan Pelatihan Jasmani, yang dalam lingkup persekolahan/pesantren berarti Pelatihan Jasmani, Rohani dan Sosial menuju kondisi yang lebih baik yaitu sejahtera paripurna (peningkatan mutu sumber daya manusia). * Olahraga Gerak : - Gerak adalah ciri kehidupan. - Memelihara gerak adalah mempertahankan hidup. - Meningkatkan kemampuan gerak adalah meningkatkan kualitas hidup. - Olahraga adalah serangkaian gerak raga yang teratur dan terencana untuk meningkatkan kemampuan gerak yang berarti meningkatkan kualitas hidup. - Olahraga merangsang pertumbuhan dan perkembangan jasmani, rohani dan sosial menuju sejahtera paripurna. - Hanya orang yang mau bergerak-berolahraga yang akan mendapatkan manfaat dari Olahraga. * Olahraga Kesehatan : - Intensitasnya sedang, setingkat di atas intensitas aktivitas fisik dalam menjalani kehidupan seharihari - Meningkatkan derajat kesehatan dinamis sehat dengan kemampuan gerak yang dapat memenuhi kebutuhan gerak kehidupan sehari-hari. - Bersifat padat gerak, bebas stress, singkat (cukup 30 menit tanpa henti), mudah, murah, meriah massaal, fisiologis (manfaat & aman). Sejahtera Rohani dan Sosial- Massaal : - Ajang silaturahim Sejahtera Rohani- Ajang pencerahan stress Sejahtera Sosial- Ajang komunikasi sosial Ketiga hal diatas merupakan pendukung untuk menuju Sehatnya WHO yaitu Sejahtera Paripurna.

- Sehat dinamis adalah landasan bagi pelatihan Olahraga Prestasi. * Kondisi Pendidikan Jasmani dan Olahraga saat ini. - Waktu yang tersedia = 2 x 45 menit/minggu - Sarana prasarana sangat terbatas - Kurikulum Penjas-Or lebih berorientasi kepada Olahraga Kecabangan : 1. Cenderung individual dan cenderung mengacu pencapaian prestasi 2. Olahraga prestasi mahal dalam hal : o Sarana prasarana o Waktu, perlu masa pelatihan yang panjang o Tenaga dan biaya. Kesimpulan Pendidikan Jasmani dan Olahraga di Lembaga Pendidikan harus ditekankan pada olahraga kesehatan dan latihan jasmani untuk meningkatkan derajat sehat dinamis dan kemampuan motorik dan koordinasi yang lebih baik, agar para siswa selama masa belajar memiliki kualitas hidup yang lebih baik, serta dapat diharapkan menjadi atlet berprestasi dan sumber daya manusia yang bermutu di masa depan. Saran 1. Reorientasi Penjas-Or sebagai program kurikuler perlu ditinjau kembali kaitannya dengan : - Relevansinya dengan kebutuhan siswa / santri - Manfaat yang diharapkan - Kondisi nyata persekolahan : i. Jatah waktu / jam pelajaran per minggu ii. Sarana prasarana yang tersedia. 2. Reposisi Penjas-Or perlu dikembalikan pada posisi dasar fungsinya yaitu : - Penggunaan Olahraga/Kegiatan Jasmani sebagai media Pendidikan - Penggunaan Olahraga sebagai alat pelatihan untuk memelihara dan meningkatkan derajat sehat dinamis menuju kondisi Sejahtera paripurna sesuai konsep Sehat WHO. 3. Revitalisasi dan Reaktualisasi Penjas-Or di Sekolah dan Pondok Pesantren dengan orientasi dan posisinya yang baru perlu digalakkan kembali (revitalisasi) dengan menekankan konsep Olahraga Kesehatan (reaktualisasi) sebagai pokok bahasan dan penyajiannya. Oleh karena durasi pelaksanaan Olahraga Kesehatan cukup 10-30 menit, maka jatah pertemuan 2 x 45 menit/minggu, dapat disajikan sebagai materi untuk 2 x pertemuan/minggu @ 30 menit, sehingga memenuhi persyaratan minimal Olahraga Kesehatan. 4. Kualitas Petugas

Keberhasilan misi di tingkat lapangan sangat ditentukan oleh kualitas Petugas serta pemahamannya mengenai makna Penjas-Or bagi Lembaga Pendidikan serta ketulusan dan kesungguhan dalam pengabdiannya. 5. Kebutuhan Penjas-Or di Sekolah dan Pondok Pesantren harus dirasakan sebagai kebutuhan oleh siswa/santri, sehingga mereka akan merasa dirugikan manakala mata pelajaran Penjas-Or ditiadakan. 6. Olahraga prestasi Olahraga kecabangan yang bersifat prestatif perlu pula dikembangkan namun sebaiknya ditempatkan sebagai materi ekstra kurikuler, sebagai tempat penyaluran bakat dan minat siswa/santri. Kepustakaan 1. Cooper, K.H. (1994) : Antioxidant Revolution, Thomas Nelson Publishers, Nashville-AtlantaLondon-Vancouver. 2. Giriwijoyo,Y.S.S. (1992) : Ilmu Faal Olahraga, Buku perkuliahan Mahasiswa FPOK-IKIP Bandung. 3. Giriwijoyo,H.Y.S.S. dan H.Muchtamadji M.Ali (1997) : Makalah : Pendidikan Jasmani dan Olahraga di Sekolah, Fakultas Pendidikan Olahraga dan Kesehatan, IKIP Bandung. 4. Giriwijoyo,H.Y.S.S. (2000) : Olahraga Kesehatan, Bahan perkuliahan Mahasiswa FPOK-UPI. 5. Giriwijoyo,H.Y.S.S. (2001) : Makalah : Pendidikan Jasmani dan Olahraga, kontribusinya terhadap Pertumbuhan dan Perkembangan Peserta Didik, Mahad Al-Zaytun, Haurgeulis, Indramayu, Jawa Barat. 6. Watson,A.S. (1992): Children in Sports, dalam Textbook of Science and Medicine in Sport Edited by J.Bloomfield, P.A.Fricker and K.D.Fitch; Blackwell Scientific Publications.

http://kushendar.multiply.com/journal/item/38/Pendidikan_Jasmani_dan_Olahraga_Di_Lemb aga_Pendidikan

Aksi Daerah
The Conference identified four key areas as priorities for health public policy for immediate action:
Supporting the health of women Mendukung kesehatan perempuan

Women are the primary health promoters all over the world, and most of their work is performed without pay or for a minimal wage. Wanita adalah promotor kesehatan dasar di seluruh dunia, dan sebagian besar pekerjaan mereka dilakukan tanpa membayar atau untuk upah minimal. Women's networks and organizations are models for the process of health promotion organization, planning and implementation. Jaringan perempuan dan organisasi adalah model untuk proses perencanaan kesehatan organisasi promosi, dan implementasi. Women's networks should receive more recognition and support from policy-makers and established institutions. Jaringan perempuan harus menerima pengakuan lebih dan dukungan dari para pembuat kebijakan dan lembaga-lembaga yang didirikan. Otherwise, this investment of women's labour increases inequity. Jika tidak, investasi ketidakadilan

meningkatkan kerja perempuan. For their effective participation in health promotion women require access to information, networks and funds. Untuk partisipasi efektif mereka dalam wanita promosi kesehatan memerlukan akses ke informasi, jaringan dan dana. All women, especially those from ethnic, indigenous, and minority groups, have the right to selfdetermination of their health, and should be full partners in the formulation of healthy public policy to ensure its cultural relevance. Semua wanita, terutama yang berasal dari kelompok etnis, adat, dan minoritas, memiliki hak untuk menentukan nasib sendiri kesehatan mereka, dan harus menjadi mitra penuh dalam perumusan kebijakan publik yang sehat untuk memastikan relevansi budaya. This Conference proposes that countries start developing a national women's healthy public policy in which women's own health agendas are central and which includes proposals for: Konferensi ini mengusulkan bahwa negara-negara mulai mengembangkan suatu kebijakan nasional yang sehat publik perempuan di mana agenda kesehatan perempuan pusat dan yang meliputi proposal untuk:

equal sharing of caring work performed in society; sama berbagi pekerjaan mengasuh yang dilakukan dalam masyarakat; birthing practices based on women's preferences and needs; melahirkan praktek-praktek yang didasarkan pada preferensi dan kebutuhan perempuan; supportive mechanisms for caring work, such as support for mothers with children, mendukung mekanisme untuk pekerjaan merawat, seperti dukungan untuk ibu dengan anak-anak, parental leave, and dependent health-care leave. orangtua pergi, dan tergantung kesehatan pergi.

Food and nutrition Makanan dan gizi

The elimination of hunger and malnutrition is a fundamental objective of healthy public policy. Penghapusan kelaparan dan kekurangan gizi merupakan tujuan fundamental dari kebijakan publik yang sehat. Such policy should guarantee universal access to adequate amounts of healthy food in culturally acceptable ways. Kebijakan tersebut harus menjamin akses universal untuk jumlah yang cukup makanan sehat dengan cara yang diterima secara kultural. Food and nutrition policies need to integrate methods of food production and distribution, both private and public, to achieve equitable prices. Makanan dan gizi kebijakan perlu untuk mengintegrasikan metode produksi pangan dan distribusi, baik swasta dan publik, untuk mencapai harga yang adil. A food and nutrition policy that integrates agricultural, economic, and environmental factors to ensure a positive national and international health impact should be a priority for all governments. Sebuah kebijakan pangan dan gizi yang mengintegrasikan faktor-faktor pertanian, ekonomi, dan lingkungan untuk memastikan dampak kesehatan yang positif nasional dan internasional harus menjadi prioritas bagi semua pemerintahan. The first stage of such a policy would be the establishment of goals for nutrition and diet. Tahap pertama dari kebijakan seperti itu akan menjadi pembentukan tujuan untuk gizi dan diet. Taxation and subsidies should discriminate in favour of easy access for all to healthy food and an improved diet. Pajak dan subsidi harus diskriminasi dalam mendukung akses mudah bagi semua untuk makanan sehat dan perbaikan diet. The Conference recommends that governments take immediate and direct action at all levels to use their purchasing power in the food market to ensure that the food-supply under their specific control (such as catering in hospitals, schools, day-care centres, welfare services and

workplaces) gives consumers ready access to nutritious food. Konferensi merekomendasikan agar pemerintah mengambil tindakan segera dan langsung di semua tingkatan untuk menggunakan daya beli mereka di pasar makanan untuk memastikan bahwa pasokan makanan di bawah kontrol tertentu mereka (seperti katering di rumah sakit, sekolah, penitipan, layanan kesejahteraan dan tempat kerja) memberikan akses konsumen siap untuk makanan bergizi.
Tobacco and alcohol Tembakau dan alkohol

The use of tobacco and the abuse of alcohol are two major health hazards that deserve immediate action through the development of healthy public policies. Penggunaan tembakau dan penyalahgunaan alkohol adalah dua bahaya kesehatan utama yang pantas tindakan segera melalui pengembangan kebijakan publik yang sehat. Not only is tobacco directly injurious to the health of the smoker but the health consequences of passive smoking, especially to infants, are now more clearly recognized than in the past. Tidak hanya tembakau secara langsung membahayakan kesehatan perokok tetapi konsekuensi kesehatan dari merokok pasif, terutama untuk bayi, sekarang lebih jelas diakui daripada di masa lalu. Alcohol contributes to social discord, and physical and mental trauma. Alkohol memberikan kontribusi untuk perselisihan sosial, dan trauma fisik dan mental. Additionally, the serious ecological consequences of the use of tobacco as a cash crop in impoverished economies have contributed to the current world crises in food production and distribution. Selain itu, konsekuensi ekologi yang serius dari penggunaan tembakau sebagai tanaman kas di negara miskin telah memberi kontribusi pada krisis dunia saat ini dalam produksi dan distribusi makanan. The production and marketing of tobacco and alcohol are highly profitable activities especially to governments through taxation. Produksi dan pemasaran tembakau dan alkohol adalah kegiatan yang sangat menguntungkan - terutama untuk pemerintah melalui pajak. Governments often consider that the economic consequences of reducing the production and consumption of tobacco and alcohol by altering policy would be too heavy a price to pay for the health gains involved. Pemerintah sering menganggap bahwa konsekuensi ekonomi dari mengurangi produksi dan konsumsi tembakau dan alkohol dengan mengubah kebijakan akan terlalu berat harga untuk membayar keuntungan kesehatan yang terlibat. This Conference calls on all governments to consider the price they are paying in lost human potential by abetting the loss of life and illness that tobacco smoking and alcohol abuse cause. Konferensi ini mengajak semua pemerintah untuk mempertimbangkan harga yang mereka bayar dalam potensi manusia hilang dengan bersekongkol dengan hilangnya nyawa dan penyakit yang merokok tembakau dan alkohol menyebabkan penyalahgunaan. Governments should commit themselves to the development of healthy public policy by setting nationally-determined targets to reduce tobacco growing and alcohol production, marketing and consumption significantly by the year 2000. Pemerintah harus berkomitmen untuk pengembangan kebijakan publik yang sehat dengan menetapkan target nasional bertekad untuk mengurangi tembakau tumbuh dan produksi alkohol, pemasaran dan konsumsi secara signifikan pada tahun 2000.

Creating supportive environments Menciptakan lingkungan yang mendukung

Many people live and work in conditions that are hazardous to their health and are exposed to potentially hazardous products. Banyak orang hidup dan bekerja dalam kondisi yang berbahaya bagi kesehatan mereka dan terpapar produk berpotensi berbahaya. Such problems often transcend national frontiers. Masalah seperti itu sering melampaui batas-batas nasional. Environmental management must protect human health from the direct and indirect adverse effects of biological, chemical, and physical factors, and should recognize that women and men are part of a complex ecosystem. Manajemen lingkungan harus melindungi kesehatan manusia dari efek samping langsung maupun tidak langsung biologi, kimia, dan faktor fisik, dan harus mengakui bahwa perempuan dan laki-laki merupakan bagian dari ekosistem yang kompleks. The extremely diverse but limited natural resources that enrich life are essential to the human race. Sumber daya alam sangat beragam namun terbatas yang memperkaya kehidupan sangat penting untuk umat manusia. Policies promoting health can be achieved only in an environment that conserves resources through global, regional, and local ecological strategies. Kebijakan mempromosikan kesehatan dapat dicapai hanya dalam lingkungan yang menghemat sumber daya melalui strategi ekologis global, regional, dan lokal. A commitment by all levels of government is required. Komitmen oleh semua tingkat pemerintahan diperlukan. Coordinated intersectoral efforts are needed to ensure that health considerations are regarded as integral prerequisites for industrial and agricultural development. Upaya terkoordinasi lintas yang diperlukan untuk memastikan bahwa pertimbangan kesehatan dianggap sebagai prasyarat terpisahkan untuk pengembangan industri dan pertanian. At an international level, the World Health Organization should play a major role in achieving acceptance of such principles and should support the concept of sustainable development. Pada tingkat internasional, Organisasi Kesehatan Dunia harus memainkan peran utama dalam mencapai penerimaan prinsip-prinsip tersebut dan harus mendukung konsep pembangunan berkelanjutan. This Conference advocates that, as a priority, the public health and ecological movements join together to develop strategies in pursuit of socioeconomic development and the conservation of our planet's limited resources. Konferensi ini pendukung bahwa, sebagai prioritas, kesehatan masyarakat dan gerakan ekologi bergabung bersama untuk mengembangkan strategi dalam mengejar perkembangan sosio-ekonomi dan konservasi sumber daya yang terbatas planet kita. http://www.who.int/healthpromotion/conferences/previous/adelaide/en/index3.html