Anda di halaman 1dari 12

RIA MIN DIYA WATI 412009006-DESTI CHRISTIAN C.

412009013

2011

Laporan Praktikum Mikrobiologi (BG 323) Pengamatan Objek Mikroskopis pada Ragi, Jamur, dan Bakteri dengan Mikroskop Cahaya
A. Metode
Pengamataan objek mikroskopis dilakukan terhadap tiga jenis mikroorganisme yaitu ragi, jamur, dan bakteri. Spesies ragi yang digunakan adalah Saccahromyces cerevisiae yang terlebih dahulu dibiakkan dalam media agar miring. Spesies jamur yang digunakan adalah Aspergillus niger dan Aspergillus oryzae yang sudah dibiakkan pada media agar padat, sedangkan miring. Langkah awal dalam pengamatan objek mikroskopis tersebut adalah pembuatan preparat apus dari berbagai spesies mikroorganisme yang telah disebutkan sebelumnya. Untuk preparat Aspergillus niger dan Aspergillus oryzae, bagian tepi koloni pada media padat dibuat potongan kecil dan tipis dengan bantuan cutter untuk mendapatkan preparat struktur tubuh jamur terutama konidiofor, serta potongan kecil dan tipis pada tengah koloni untuk mendapatkan preparat konidiospora jamur. Sedangkan untuk preparat Saccahromyces cerevisiae, Escherichia coli dan Bacillus subtilis, diambil sedikit bagian dari koloni bakteri pada media agar miring yang telah tersedia dengan menggunakan ose yang sudah dipanaskan di atas api bunsen beberapa saat untuk kepentingan sterilisasi. Semua preparat tersebut kemudian diletakkan (untuk jamur) atau dioleskan (untuk bakteri dan ragi) pada object glass berbeda untuk masing-masing spesies yang sebelumnya telah ditetesi dengan akuades sebagai medium. Setelah itu preparat ditutup dengan cover glass secara perlahan dengan kemiringan awal sekitar 45o
Page1|Laporan Praktikum Mikrobiologi (BG 323)

spesies bakteri yang digunakan adalah Escherichia coli dan

Bacillus subtilis yang sebelumnya juga telah dibiakkan pada media agar

RIA MIN DIYA WATI 412009006-DESTI CHRISTIAN C. 412009013

2011

agar tidak terbentuk gelembung. Pembuatan preparat apus tersebut dilakukan dengan cara yang steril agar tidak terjadi kontaminasi yaitu dengan bantuan alkohol serta pemanasan api bunsen. Mulut tabung reaksi tempat inokulasi ragi dan bakteri yang akan dijadikan preparat juga dipnaskan di dekat api bunsen untuk menghindari kontaminasi saat terjadi kontak langsung dengan udara luar. Preparat apus yang telah dibuat kemudian diamati di bawah mikroskop cahaya. Pencahayaan, kontras, perbesaran, dan fokus mikroskop diatur sedemikian rupa sehingga diperoleh citra sel yang terbaik dari preparat yang telah dibuat untuk mempermudah pengamatan. Untuk mendapatkan citra sel yang lebih baik, pada Saccahromyces cerevisiae, Escherichia coli dan Bacillus subtilis dilakukan metylene fiksasi blue. serta pewarnaan dilakukan negatif dengan cara menggunakan Pewarnaan dengan

meneteskan zat pewarna langsung pada preparat dan ditunggu hingga mengering lalu dibilas dengan akuades. Sedangkan fiksasi dilakukan dengan cara pemanasan preparat pada object glass dengan api bunsen.

B.

Hasil Pengamatan
1. Spesies : Saccahromyces cerevisiae Perbesaran : 400 Keterangan :Saccaromyces cerevisiae yang termasuk dalam kelompok ragi merupakan organisme bersel tunggal termasuk dalam jenis sel eukariotik. Gambar skematis

Page2|Laporan Praktikum Mikrobiologi (BG 323)

RIA MIN DIYA WATI 412009006-DESTI CHRISTIAN C. 412009013

2011

2.

Spesies : Escherichia coli Perbesaran : 1000 Keterangan :Escherichia coli merupakan bakteri yang berbentuk batang dan termasuk dalam bakteri gram (-) Gambar skematis

3.

Spesies : Bacillus subtilis Perbesaran : 1000 Keterangan :Bacillus subtilis merupakan bakteri yang berbentuk batang dan termasuk dalam gram (+). Gambar skematis

Page3|Laporan Praktikum Mikrobiologi (BG 323)

RIA MIN DIYA WATI 412009006-DESTI CHRISTIAN C. 412009013

2011

4.

Spesies : Aspergillus niger (konidiofor) Perbesaran : 100 Keterangan : Aspergillus niger memiliki bulu dasar berwarna putih dengan lapisan konidiospora yang tebal berwarna hitam. Kepala konidia berwarna hitam, bulat. Gambar skematis

5.

Spesies

: Aspergillus niger (konidiospora) Perbesaran : 400 Keterangan : Aspergillus

niger mempunyai kepala pembawa konidia yang besar, dipak secara padat, bulat dan berwarna hitam coklat atau ungu coklat. Kapang ini mempunyai bagian yang khas yaitu hifanya bersepta, spora yang bersifat seksual dan tumbuh memanjang di alas stigma, mempunyai sifat aerobik, sehingga dalam pertumbuhannya memerlukan oksigen yang cukup. (Fardiaz, 1989 dalam Siregar 2004).

Page4|Laporan Praktikum Mikrobiologi (BG 323)

RIA MIN DIYA WATI 412009006-DESTI CHRISTIAN C. 412009013 Gambar skematis

2011

6.

Spesies : Aspergillus oryzae Perbesaran : 400 Keterangan :Aspergillus niger memiliki bulu dasar berwarna putih dengan lapisan konidiospora yang tebal berwarna hitam. Kepala konidia berwarna hitam, bulat. Gambar skematis

7.

Citraan mikroskop yang parfocal Spesies : Aspergillus niger Perbesaran : 40 , 100 , dan 400 x Keterangan :mikroskop menunjukkan citraan parfocal dengan jelas pada pengamatan preparat Aspergillus niger dengan perbesaran 40 dan 100. Sedangkan pada perbesaran 400x (tidak didokumentasikan) juga menunjukkan parfocal namun kurang begitu jelas karena citraan menjadi sedikit kabur sehingga perlu bantuan fine focus untuk memperjelas citraan. Perbesaran 40 x Perbesaran 100 x

Page5|Laporan Praktikum Mikrobiologi (BG 323)

RIA MIN DIYA WATI 412009006-DESTI CHRISTIAN C. 412009013

2011

C.

Pembahasan
Dalam pengamatan objek yang berukuran mikroskopis diperlukan bantuan mikroskop. Salah satu jenis mikroskop yang sering digunakan di dalam laboratorium untuk kegiatan praktikum mahasiswa adalah mikroskop cahaya. Mikroskop terdiri atas bagian-bagian yang masing-masing bagian tersebut mempunyai fungsi berfungsi untuk mengatur tersendiri. Lensa okuler berfungsi berfungsi untuk untuk memperbesar bayangan yang bersifat maya dan tegak. Lensa objektif pembesaran. Kondensor mengatur bayangan yang akan diamati atau untuk menaikkan dan menurunkan kondensor. Reflektor berfungsi untuk menerima cahaya yang masuk atau dapat memperjelas cahaya yang akan datang. Tubuh mikroskop berfungsi untuk tempat terjadinya proses bayangan antara lensa objektif dengan lensa okuler. course fine berfungsi untuk mengatur jarak okuler objektif sehingga tepat fokusnya secara kasar dan jelas. fine focus berfungsi untuk mengatur jarak okuler sehingga tepat fokusnya secara tajam. Revolver berfungsi sebagai tempat lensa objektif. Meja objek berfungsi untuk meletakkan preparat yang akan diamati. Penjepit berfungsi untuk memperkokoh kedudukan preparat agar tidak goyang. Pengatur kondensor berfungsi sebagai pengatur letak lensa kondensor terhadap preparat. Pemegang(lengan) berfungsi untuk memegang mikroskop. Diafragma

Page6|Laporan Praktikum Mikrobiologi (BG 323)

RIA MIN DIYA WATI 412009006-DESTI CHRISTIAN C. 412009013

2011

berfungsi mengatur cahaya yang masuk dalam mikroskop. Kaki atau dasar berfungsi untuk memperkokoh mikroskop kedudukan mikroskop. Sekrup engsel agar berfungsi menyesuaikan mikroskop yang baik. Penggunaan cahaya memerlukan keterampilan mendapatkan citraan objek yang baik untuk mempermudah pengamatan. Keterampilan dalam menggunakan mikroskop diantaranya adalah ketepatan dalam mengatur pencahayaan yaitu pengaturan gelap terangnya sumber cahaya mikroskop (biasanya lampu) maupun pengaturan lebar-sempitnya diafragma. Salah satu hal yang mendasar untuk mendapatkan citraan yang baik adalah pemilihan perbesaran dan pengaturan fokus pada mikroskop sehingga mikroskop yang digunakan yang baik. Pengaturan perbesaran dilakukan dengan memutar revolver (Gambar1) didapatkan perbesaran yang sesuai. Pada dalam pengamatan ini, lensa yang ada

memungkinkan perbesaran 10 pada lensa okuler dan perbesaran 4 , 10 , 40 , serta 100 pada lensa objektif. Setelah perbesaran dirasa cukup, fokus pencitraan dapat diatur dengan course fine (untuk pengaturan fokus yang lebih cepat atau kasar) lalu disempurnakan dengan fine focus (untuk penngaturan fokus yang lebih perlahan dan halus). Citraan yang fokus akan lebih cepat didapat apa bila perbesaran yang digunakan sistematis mulai dari perbesaran terkecil hingga terbesar. Akan lebih memudahkan lagi bila terjadi parfocal pada mikroskop tersebut. Parfocal ialah keadaan dimana pada perbesaran yang berbeda citraan akan tetap baik meski pengaturan fokus tidak diubah. Keadaan parfocal dapat dicapai dengan dua faktor pendukung. Faktor pertama adalah keterampilan praktikan dalam mengoperasikan dan mengatur fokus mikroskop. Faktor lain adalah kualitas mikroskop serta tingkat resolusi lensa mikroskop yang digunakan. Tingkat resolusi lensa mikroskop adalah jarak terdekat antar dua objek yang masih dapat dilihat dengan jelas. Dengan kata lain semakin tinggi resolusi lensa suatu mikroskop, maka dua titik yang sangat bedekatan masih dapat
Page7|Laporan Praktikum Mikrobiologi (BG 323)

RIA MIN DIYA WATI 412009006-DESTI CHRISTIAN C. 412009013

2011

dibedakan sehingga kualitas citraan menjadi sangat baik karena citraan tidak blur. Dalam pengamatan ini ditemukan kondisi yang parfocal. Mikroskop yang digunakan menunjukkan citraan parfocal dengan jelas pada pengamatan preparat Aspergillus niger dengan perbesaran 40 dan 100. Sedangkan pada perbesaran 400x juga menunjukkan parfocal namun kurang begitu jelas karena citraan menjadi sedikit kabur sehingga perlu bantuan fine focus untuk memperjelas citraan. Namun seringkali citraan yang jelas juga dapat terganggu dengan adanya artifacts. Artifacts udara pada preparat (Gambar 2). Pada pengamatan yang dilakukan, Saccahromyces cerevisiae, Escherichia coli serta Bacillus subtilis hanya akan terlihat strukturnya dengan baik pada perbesaran 1000 . Namun seringkali penggunaan perbesaran tersebut tidak semudah perbesaran lain. Dengan demikian biasanya diperlukan bantuan minyak imersi untuk meningkatkan resolusi lensa sehingga citraan nampak lebih jelas. Semakin kecil tinggi resolusi, akan semakin pisah kuat kemampuan diperkuat lensa untuk memisahkan dua titikyang bias atau berdekatan pada preparat sehingga struktur benda terlihat lebih jelas. Daya dapat dengan memperbesarkan indeks menggunakan cahaya yang memiliki panjang gelombang () pendek. Biasanya dapat digunakan minyak imersi untuk meningkatkan indeks bias pada perbesaran 10 x 100 (Anonim2, 2008). Minyak imersi (immersion oil) diteteskan di atas preparat, namun sebelumnya dulu tabung/lensa objektif dijauhkan terlebih dahulu dari preparat, baru kemudian ditetesi minyak imersi. Setelah itu lensa objektif 100x diputar kembali mendekati preparat dan diturunkan sampai menyentuh minyak imersi (Gambar 3). Setelah selesai digunakan, sisa minyak imersi dibersihkan dengan menggunakan cairan Xylol sesegera mungkin dengan bantuan kertas lensa. Dalam pengamatan ini didapatkan citraan Bacillus subtilis yang ukuran selnya masih sangat kecil. Hal ini diduga karena inokulan bakteri yang
Page8|Laporan Praktikum Mikrobiologi (BG 323)

yang

muncul dalam pengamatan ini disebabkan salah satunya akibat gelembung

RIA MIN DIYA WATI 412009006-DESTI CHRISTIAN C. 412009013

2011

digunakan masih sangat muda sehingga struktur batang yang nampak masih pendek dan kecil.

Gambar 1. A compound light microscope (Anonim1, 2011)

artifacts

Gambar 2. Artifacts akibat gelembung udara (Dok. Pribadi, 2011)

Page9|Laporan Praktikum Mikrobiologi (BG 323)

RIA MIN DIYA WATI 412009006-DESTI CHRISTIAN C. 412009013

2011

Gambar 3. Cara Meneteskan Minyak Imersi serta Cara Kerjanya (Anonim2, 2008)

Selain itu, juga diperlukan keterampilan dalam membuat preparat sehingga diperoleh citraan yang baik. Dalam pembuatan preparat, terutama preparat dalam praktikum mikrobiologi, diperlukan teknik yang steril sehingga tidak terjadi kontaminasi mikroorganisme lain saat terpapar langsung oleh udara luar yang dapat mengganggu pengamatan. Oleh karena itu setiap media penyimpan inokulan mikroorganisme dibuka, dilakukan sterilisasi dengan api bunsen pada lingkungan sekitar (tepi wadah media inokulan) maupun peralatan yang digunakan (ose, object glass). Sterilisasi juga dapat dilakukan dengan pencucian menggunakan alkohol 70%. Biasanya kesalahan dalam pembuatan preparat adalah pengolesan atau pemotongan sampel yang terlalu tebal. Hal tersebut mengakibatkan sel yang diamati bertumpuk sehingga tidak dapat diamati dengan baik. Oleh sebab itu, dalam pengamatan ini, preparat dibuat setipis mungkin sehingga setiap sel mikroorganisme dapat diamati dengan baik. Guna memperjelas citraan preparat dapat dilakukan dengan bantuan zat pewarna. Pada teknik pewarnaan untuk preparat bakteri, dikelompokkan menjadi 2 kelompok besar yaitu pewarnaan gram positif dan bakteri gram negatif . Zat warna yang digunakan bersifat asam atau basa. Pada zat warna basa, bagian yang berperan dalam memberikan warna disebut kromofor dan mempunyai muatan positif. Sebaliknya pada zat warna asam bagian yang berperan memberikan zat warna memiliki muatan negatif. Zat warna basa lebih banyak digunakan karena muatan negatif banyak banyak ditemukan pada permukaan sel. Contoh zat warna asam antara lain Crystal Violet, Methylene Blue, Safranin, Base Fuchsin, Malachite Green dan lain-lain. Sedangkan zat warna basa antara lain Eosin, Congo Red dan lain-lain (Chaerani, 2010). Karena alasan inilah dengan praktikum ini
Page10|Laporan Praktikum Mikrobiologi (BG 323)

RIA MIN DIYA WATI 412009006-DESTI CHRISTIAN C. 412009013

2011

pewarnaan dilakukan pada preparat Saccahromyces cerevisiae, Escherichia coli dan Bacillus subtilis menggunakan pewarnaan berupa methylen blue yang bersifat basa. Pewarnaan berguna untuk membantu dalam mengamati struktur, morfologi, dilakukan dan karakteristik terlebih bakteri. dahulu. Sebelum Fiksasi dilakukan untuk pewarnaan, fiksasi berguna

mempertahankan struktur sel dan jaringan sedapat mungkin mendekati aslinya (Biomed, 2011).

D.

Jawaban pertanyaan dalam modul praktikum


1.

Praktikum pengamatan objek mikroskopis dapat terjadi perfocal. Perfocal terjadi pada preparat jamur yaitu Aspergillus niger yang diamati pada perbesaran 40 , 100 dan 400 seperti yang telah dijelaskan di bagian hasil pengamatan.

2.

Dalam mempelajari mikrobiologi perlu terampil dalam menggunakan mikroskop karena objek kajian mikroobiologi adalah organisme yang berukuran kecil (mikroorganisme) yang tidak dapat dilihat dengan mata telanjang dan hanya dapat dipelajari dengan bantuan mikroskop. Sehingga keterampilan dalam penggunaan mikroskop tentu akan sangat menunjang keberhasilan pengamatan.

E.

Kesimpulan
Untuk mengamati mikoorganisme diperlukan keterampilan dalam menggunakan mikroskop dan pembuatan preparat apusan yang baik. Selain itu, pengamatan sel bakteri hanya dapat diamati pada perbesaran minimal 1000 dan dilakukan pewarnaan untuk membantu memperjelas pencitraan.

F.

Daftar Pustaka
Anonim1. 2011. A compound light microscope. (http://www.google.co.id/imgres? q=compound+light+microscope&hl=id&biw=1280&bih=593 Page11|Laporan Praktikum Mikrobiologi (BG 323)

RIA MIN DIYA WATI 412009006-DESTI CHRISTIAN C. 412009013

2011

&tbm=isch&tbnid=bsUrWOBsGq2XM:&imgrefurl=http://www.digitalsmicroscope.com/lightmicroscope-parts2/&docid=SkVG19a3EFfLcM&w=600&h=543&ei=B010TqnTIs PqrQfHj_G_Aw&zoom=1). Diakses pada tanggal 17 September 2011. Anonim2. 2008. Petunjuk Praktikum Mikrobiologi Dasar. (www.freewebs.com/mikrodas/PETUNJUK%20PRAKTIKUM.pdf) Diakses pada tanggal 19 September 2011. Chaerani, A, N. 2010. Pewarnaan Gram Positif dan Gram Negatif. (http://www.slideshare.net/ichootz/makalah-mikro-icha). Diakses pada tanggal 19 September 2011. Siregar, Z., E. Mirwandhono. 2004.Evaluasi Pemanfaatan Bungkil Inti Sawit yang Difermentasi Aspergillus Niger Hidrolisat Tepung Bulu Ayam Dan Suplementasi Mineral Zn Dalam Ransum Ayam Pedaging. (http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/812/1/ternak -zulfikar.pdf) .Diakses pada tanggal 19 September 2011.

Page12|Laporan Praktikum Mikrobiologi (BG 323)