Anda di halaman 1dari 8

Angka Kematian Ibu | Pengertian AKI

Thursday, May 12th, 2011 | Kesehatan

sanglazuardi.com. Biasanya jika ada peristiwa melahirkan, maka kita pasti akan langsung berpikir tentang kemungkinan kelahiran tersebut sukses atau tidak. Biasanya jika tidak bayi yang meninggal,maka ibulah yang meninggal. Hal ini bisa terjadi lebih dari satu kejadian sehingga jika diakumulasiakan akan menjadi angka kematian ibu. APA YANG DIMAKSUD DENGAN KEMATIAN IBU ? Kematian ibu yang terjadi selama masa kehamilan atau dalam 42 hari setelah berakhirnya kehamilan, tanpa melihat usia dan lokasi kehamilan, oleh setiap penyebab yang berhubungan dengan atau diperberat oleh kehamilan atau penanganannya tetapi bukan oleh kecelakaan atau incidental (faktor kebetulan). APA ARTINYA YANG DIMAKSUD DENGAN ANGKA KEMATIAN IBU TINGGI ?

Jumlah kematian ibu yang meninggal mulai saat hamil hingga 6 minggu setelah persalinan per 100.000 persalinan tinggi. Angka kematian ibu tinggi adalah angka kematian yang melebihi dari angka target nasional. Tingginya angka kematian, berarti rendahnya standar kesehatan dan kualitas pelayanan kesehatan yang diberikan, dan mencerminkan besarnya masalah kesehatan

BAGAIMANA USAHA SELAMA INI UNTUK MENURUNKAN AKI ? Upaya yang telah dilakukan oleh Depkes : ISI DENGAN SCRIPT ADSENSE ANDA

Peningkatan jangkauan dan kualitas pelayanan kesehatan ibu Penyediaan sistem pelayanan kesehatan untuk daerah terpencil, tertinggal, perbatasan di 12 provinsi, 33 kabupaten, 101 puskesmas. Peningkatan pemberdayaan perempuan, keluarga dan masyarakat. Perencanaan terpadu Lintas Program dan Lintas Sektor untuk percepatan penurunan AKI (DTPS-MPS) dengan menggunakan indikator KIA sebagai indikator pembangunan daerah.

sumber :http://www.askep-askeb.cz.cc/2010/02/aki-dan-akb-tahun-2007.html

Incoming search terms:


pengertian angka kematian ibu pengertian kematian Artikel angka kematian ibu pengertian kematian ibu definisi angka kematian ibu pengertian angka kematian pengertian angka kematian bayi pengertian ANGKA KEMATIAN IBU DAN ANGKA KEMATIAN BAYI definisi kematian ibu pengertian angka kematian ibu melahirkan

Tags: AKI, AKI tinggi, angka kematian ibu, angka kematian ibu selama masa kehamilan, angka kematian ibu tinggi,Angka kematian ibu tinggi adalah, apa yg dimaksud kematian ibu?, artikel angka kematian ibu, bayi meninggal,cache:8xhvz8l8hjej:sanglazuardi.com/kesehatan/angkakematian-ibu-pengertian-aki pengertian angka kematian ibu dan jumlah kematian ibu, definisi aki dan akb, definisi angka kematian ibu, definisi kematian ibu, indikator KIA,masa kehamilan, penertian aki, pengertian AKI, pengertian aki angka kematian ibu di, pengertian aki dan akb,pengertian angka kematian, pengertian angka kematian bayi, pengertian angka kematian ibu, pengertian angka kematian ibu dan angka kematian bayi, pengertian angka kematian ibu melahirkan, pengertian indikator pembangunan kia, pengertian kematian, pengertian kematian ibu, pengertian kia, pengertian tingginya angka kematian, penjelasan tentang angka kematian ibu, penurunan AKI, perencanaan penurunan aki dalam peningkatan kia tanpa, perencanaan prgram kesehatan dalam meningkatkn kia dan menekan aki, usaha menurunkan AKI Pages

Privacy Policy Tentang Penulis

SangLazuardi [dot] Com Privacy Policy Tentang Penulis Adsense Themes

Dalam rangka menurunkan angka kematian ibu (AKI) di Indonesia, Kementerian Kesehatan menetapkan lima strategi operasional yaitu penguatan Puskesmas dan jaringannya; penguatan manajemen program dan sistem rujukannya; meningkatkan peran serta masyarakat; kerjasama dan kemitraan; kegiatan akselerasi dan inovasi tahun 2011; penelitian dan pengembangan inovasi yang terkoordinir.Hal itu disampaikan Menteri Kesehatan, dr. Endang Rahayu Sedyaningsih, MPH, Dr.PH dalam paparan yang berjudul Kebijakan Dan Strategi Pembangunan Kesehatan Dalam Rangka Penurunan Angka Kematian Ibu kepada para peserta Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Pembangunan Kependudukan dan Keluarga Berencana di kantor BKKBN Jakarta, 26 Januari 2011.

Menkes menambahkan terkait strategi keempat yaitu kegiatan akselerasi dan inovasi tahun 2011, upaya yang dilakukan Kementerian Kesehatan yaitu: Pertama, kerjasama dengan sektor terkait dan pemerintah daerah telah menindaklanjuti Inpres no. 1 Tahun 2010 Tentang Percepatan Pelaksanaan Prioritas Pembangunan Nasional dan Inpres No. 3 tahun 2010 Tentang Program Pembangunan Yang Berkeadilan melalui kegiatan sosialisasi, fasilitasi dan advokasi terkait percepatan pencapaian MDGs. Akhir tahun 2011, diharapkan propinsi dan kabupaten/kota telah selesai menyusun Rencana Aksi Daerah dalam percepatan pencapaian MDGs yaitu mengentaskan kemiskinan ekstrim dan kelaparan, mengurangi tingkat kematian anak, meningkatkan kesehatan ibu, memerangi HIV/AIDS dan penyakit menular lainnya. Kedua, pemberian Bantuan Operasional Kesehatan (BOK), mulai tahun 2011 setiap Puskesmas mendapat BOK, yang besarnya bervariasi dari Rp 75 juta sampai 250 juta per tahun. Dengan adanya BOK, pelayanan outreach di luar gedung terutama pelayanan KIA-KB dapat lebih mendekati masyarakat yang membutuhkan. Ketiga, menetapkan Indeks Pembangunan Kesehatan Masyarakat (IPKM) berupa indikator komposit (status kesehatan, perilaku, lingkungan dan akses pelayanan kesehatan) yang digunakan untuk menetapkan kabupaten/kota yang mempunyai masalah kesehatan. Ada 130 kab/kota yang ditetapkan sebagai DBK yang tahun ini akan didampingi dan difasilitasi Kementerian Kesehatan. Keempat, penempatan tenaga strategis (dokter dan bidan) dan penyediaan fasilitas kesehatan di Daerah Terpencil, Perbatasan, Kepulauan (DTPK), termasuk dokter plus, mobile team.

Kelima, akan diluncurkan 2 Peraturan Menteri Kesehatan terkait dengan standar pelayan KB berkualitas, sebagaimana diamanatkan UU no 52 tahun 2009 Tentang Perkembangan Kependudukan dan Pembangunan Keluarga. Selain itu menurut Menkes, pada tahun 2011 Kementerian Kesehatan akan meluncurkan Jaminan Persalinan (Jampersal) yang mencakup pemeriksaan kehamilan, pelayanan persalinan, nifas, KB pasca persalianan, dan neonatus. Melalui program ini, persalinan oleh tenaga kesehatan di fasilitas pelayanan kesehatan diharapkan meningkat, demikian pula dengan pemberian ASI dini, perawatan bayi baru lahir, pelayanan nifas dan KB pasca persalinan. Sasaran Jampersal adalah 2,8 juta ibu bersalin yang selama ini belum terjangkau oleh jaminan persalinan dari Jamkesmas, Jamkesda dan asuransi kesehatan lainnya. Ruang lingkupnya adalah : pelayanan persalianan tingkat pertama, tingkat lanjutan, dan persiapan rujukan di fasilitas kesehatan Pemerintah dan Swasta. Kelompok inilah yang akan ditanggung Jampersal. Pelayanan yang dijamin melalui Jampersal yaitu: pemeriksaan kehamilan 4 kali, pertolongan persalinan normal dan dengan komplikasi, pemeriksaan nifas 3 kali termasuk pelayanan neonatus dan KB paska persalinan, pelayanan rujukan ibu/bayi baru lahir ke fasilitas kesehatan lebih mampu Menurut Menkes terkait strategi penguatan Puskesmas dan jaringannya dilakukan dengan menyediakan paket pelayanan kesehatan reproduksi (kespro) esensial yang dapat menjangkau dan dijangkau oleh seluruh masyarakat, meliputi aspek promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif, yaitu: Kesehatan ibu dan bayi baru lahir, KB, kespro remaja, Pencegahan dan penanggulangan infeksi menular seksual (IMS) dan HIV/AIDS; dan mengintegrasikan pelayanan kespro dengan pelayanan kesehatan lainnya yaitu dengan program gizi, penyakit menular dan tidak menular. Kemampuan Puskesmas dan jaringannya dalam memberikan paket dasar tersebut akan ditingkatkan sesuai dengan kebutuhan dan masalah kesehatan setempat. Pada saat ini ada 9.005 Puskesmas, terdiri dari Puskesmas non tempat tidur (TT), Puskesmas TT PONED (pelayanan obstetri neonatal emergensi dasar) dan Puskesmas TT non PONED, yang tersebar di seluruh kecamatan di Indonesia. Puskesmas pembantu dan pos kesehatan desa yang ada di desa-desa, akan lebih difungsikan dalam memberikan pelayanan KIA dan KB yang bersifat promotif, preventif dan pengobatan sederhana termasuk deteksi dini faktor risiko dan penyiapan rujukannya. Beberapa propinsi juga telah menjadikan Puskesmas mampu melakukan deteksi dini kanker leher rahim, Puskesmas santun usia lanjut, dan sebagainya, sesuai kebutuhan lokal. AKI Menurun Menkes juga mengatakan kemajuan yang dicapai dalam program kesehatan ibu yaitu penurunan AKI sebesar 41% dari 390 per 100.000 kelahiran hidup pada tahun 1991 menjadi 228 per 100.000 kelahiran hidup tahun 2007. Sedangkan target MDGs pada tahun 2015, AKI dapat diturunkan menjadi 102 per 100.000 kelahiran hidup. Kematian ibu di rumah sakit disebabkan karena banyaknya kasus kegawat-daruratan pada kehamilan, persalinan dan nifas. Penyebab langsung kematian ibu yang terbanyak adalah: perdarahan, hipertensi pada kehamilan, partus macet, infeksi dan komplikasi aborsi. Persalinan di rumah dan ditolong oleh dukun, merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi masih tingginya AKI di Indonesia. Data Riskesdas 2010 memperlihatkan bahwa persalinan di fasilitas kesehatan 55,4% dan masih ada persalinan yang dilakukan di rumah (43,2%). Pada kelompok ibu yang melahirkan di rumah ternyata baru 51,9% persalinan ditolong oleh bidan, sedangkan yang ditolong oleh dukun masih 40,2%, ujar Menkes. Kondisi tersebut masih diperberat dengan adanya faktor risiko 3 Terlambat yaitu terlambat mengambil keputusan di tingkat keluarga, terlambat merujuk/ transportasi dan terlambat menangani dan 4 Terlalu yaitu melahirkan terlalu muda (dibawah 20 tahun), terlalu tua (diatas 35 tahun), terlalu dekat (jarak melahirkan kurang dari 2 tahun) dan terlalu banyak (lebih dari 4 kali). Terkait dengan faktor risiko tersebut, data Riskesdas 2010 memperlihatkan bahwa secara nasional ada 8,4% perempuan usia 10-59 tahun melahirkan 5-6 anak, bahkan masih 3,4% perempuan usia 10-59 tahun yang melahirkan anak lebih dari 7. Kelompok perempuan yang tinggal di perdesaan, tidak bersekolah, pekerjaannya petani/nelayan/buruh, dan status ekonomi terendah, cenderung mempunyai lebih dari 7, lebih tinggi dari kelompok lainnya. Berita ini disiarkan oleh Pusat Komunikasi Publik, Sekretariat Jenderal Kementerian Kesehatan RI. Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi melalui nomor telepon: 021-52907416-9, faks: 52921669, Call Center :

021-500567, 30413700, atau alamat email puskom.publik@yahoo.co.id,info@depkes.go.id, kontak@depkes.go.id.

MDGs Polewali Mandar. Indikator global untuk menurunkan angka kematian ibu yaitu angka kematian ibu, Proporsi pertolongan kelahiran oleh tenaga kesehatan terlatih dan angka pemakaian kontrasepsi pada pasangan usia subur 15-49 tahun. Sedangkan monitoring lokal Kabupaten/Kota dan Kecamatan digunakan proksi indikator. Indikator global atau Nasional ini mempuntai target Menurunkan angka kematian ibu sebesar tiga perempatnya antara tahun 1990-2015 Definisi dan Konsep Angka kematian ibu (AKI) adalah banyaknya wanita yang meninggal dari suatu penyebab kematian terkait dengan gangguan kehamilan atau penanganannya (tidak termasuk kecelakaan atau kasus insidentil) selama kehamilan, melahirkan dan dalam masa nifas (42 hari setelah melahirkan) tanpa memperhitungkan lama kehamilan per 100 000 kelahiran hidup. AKI diperhitungkan pula pada jangka waktu 6 minggu hingga setahun setelah melahirkan. Indikator ini dapat dilakukan pada daerah yang kelahiran hidupnya minimal 50.000. Bagi yang < 50 kelahiran hidup dianjurkan untuk menghitung jumlah absolute kematian ibu saja atau menggunakan indicator antara misalnya persalinan nakes Definisi Operasional Kematian Ibu Kematian yang terjadi pada ibu karena peristiwa kehamilan, persalinan, dan masa nifas Rumus Jumlah ibu hamil yang meninggal karena hamil, bersalin, dan nifas di suatu wilayah tertentu selama 1 tahun = x 100.000 Jumlah kelahiran hidup di wilayah dan pada kurun waktu yang sama

Angka Kematian Ibu per 100.000 Kelahiran Hidup

Manfaat Indikator ini secara langsung digunakan untuk memonitor kematian terkait dengan kehamilan. AKI dipengaruhi oleh beberapa faktor termasuk status kesehatan secara umum, `pendidikan dan pelayanan selama kehamilan dan Sumber Dara Catatan kematian Ibu hamil atau melahirkan pada bidan, dokter atau sarana kesehatan Popularity: 24% [?]
Categories: Definisi & Konsep | Leave a reply

melahirkan.

Sosiologi Mortalitas isine opo wae ???


KONSEP SOSIOLOGI MORTALITAS Menurut WHO dan United Nations, definisi mati adalah keadaan menghilangkan semua tanda-tanda kehidupan secara permanent yang bias terjadi setiap saat setelah kelahiran hidup. Ada 3 konsep mati, yaitu : 1. lahir hidup (live birth) adalah peristiwa keluarnya hasil konsepsi dari rahim seorng ibu secara lengkap tanpa memandang lamanya kehamilan dan setelah perpisahan tersbut terjadi, hasil konsepsi bernafas dan mempunyai tanda-tanda hidup lainnya, seperti denyut jantung, denyut tali pusat atau gerakan-gerakan otot tanpa memandang apakah tali pusat sudah terpotong atau belum. 2. Lahi mati (fetal death) adalah peristiwa menghilangkan tanda-tanda kehidupan dari hasil konsepsi sebelum hasil konsepsi tersebut dikeluarkan dari rahim ibunya. 3. Mati (death) Mortal dapat mati; mematkan; meng. maut; fana. Mortality kematian, mortalitas Mortality angka kematian. Mortality kemungkinan kematian Mortalitas, bersifat mengurangi jumlah penduduk. Jadi, sosiologi mortalitas adalah salah satu materi sosiologi demografi yang membahas keterkaitan antara variable social dengan mortalitas (angka kematian) yang bersifat mengurangi jumlah penduduk. STUDI SOSIOLOGI MORTALITAS Studi mortalitas dilaksanakan berdasarkan data yang diperoleh secara langsung dari penduduk, yaitu melalui catatan-catatan kematian yang ada di badan -badan pengelola kesehatan atau badan pemerintah. Tetapi, data seperti ini sangat langka diperoleh serta masih memiliki kekurangan kelengkapan dan kecermatan data. Kesalahan yang paling sering terjadi adalah kesalahan dalam pelaporan umur anak ketika meninggal adalah kecenderungan ibu untuk melaporkan kematian anak tidak sesuai dengan aturan survey. Tetapi perlu diperhatikan bahwa walaupun kesalahan pelaporan umur ketika meninggal mungkin mempengaruhi hasil perhitungan estimasi kematian bayi dan anak, suatu studi simulasi menggunakan data DHS menunjukkan bahwa kesalahan tersebut hanya akan mempengaruhi hasil perhitungan sebesar kurang dari 5 persen. Karena kekurangan kekurangan tersebutlah maka tidak mengherankan studi mortalitas selama ini menggunakan metode perkiraan tidak langsung seperti metode Brass, Sullivan, Trussell, Preston, Palloni dan lainnya. Metode tidak langsung merupakan suatu cara yang ditempuh untuk menanggulangi keterbatasan kelengkapan data tadi dengan menggunakan berbagai asumsi. Kelengkapan penggunaan asumsi merupakan tuntutan utama dari pemakaian metode estimasi mortalitas. Mungkin, karena alasan alasan inilah maka kebanyakan studi mortalitas di Indonesia masih terbatas pada pembahasan metode estimasinya. Angka kematian Bayi dan Anak, khususnya bayi merupakan indikator yang penting untuk mencerminkan keadaan derajat kesehatan di suatu masyarakat, karena bayi yang baru lahir sangat sensitif terhadap keadaan lingkungan tempat tinggal orang tua si bayi tinggal dan sangat erat kaitannya dengan status sosial ekonomi orang tua si bayi. Angka kematian bayi dan anak disamping berguna untuk memantau dan mengevaluasi keberhasilan program di bidang kesehatan, juga dapat digunakan sebagai pengukur situasi demografi dan sebagai masukan dalam perhitungan proyeksi penduduk. Selain itu, angka kematian bayi juga dipakai untuk mengidentifikasi kelompok penduduk yang mempunyai resiko kematian

tinggi. KAJIAN SOSIOLOGI MORTALITAS Thanatologi adalah ilmu jaman Yunani yang mempelajari tentang proses mati dan kematian (death and dying). 1. Batasan Kematian Batasan Kematian dari beberapa dimensi 1) Kematian Sosiologis (Social Death) Social deaht is based on anothers failure to recognise a person being among the living. 2) Psychological Death a) Refers to a state where self awareness is absent, or when people are confused, disoriented, and only denily aware of what is going on around them. b) State where individual no longer corside themselves to be living people (depersonalization) 2. Perspektif Kematian 1) Biologis Genetic biologis merupakan kunci program semua kehidupan organisme sampai kematian. Female cenderung hidup lebih lama dibanding male setiap spesies. (Shock, 1977) 2) Sosiologis Proses mati dan kematian tidak sama yang ditinjau aspek biologis. Melainkan proses mati dan kematian tergantung pada relasi seseorang dalam kehidupan sesama. Kematian berdampak pada persepsi individu yang berbeda-beda. Sebagian memandang kematian dianggap senagai peristiwa yang sangat penting dan menakutkan, individu memandang kematian sebagai proses alami belaka. Perbedaan persepsi ini mengakibatkan sikap dan perilaku yang berbeda setiap individu dalam menghadapi kematian. Manusia senagai makhluk sosial-budaya, menyikapi kematian hanya menjadi mementum singkat peralihan dari dunia fisik ke dunia metafisika. Setelah mati secara fisiologis, manusia memasuki hidup tanpa materi, yaitu kehidupan roh. Sosiologis Kematian Sosiologi kematian akan mengintegrasikan banyak segi yang berhubungan dengan kematian dan masyarakat. Sehingg diharapkan dapat memecahkan dilema tentang sistem mati dalam masyarakat, yang berbeda dan bervariasi kebudayaan. Dengan mengkaji kepercayaan, sikap dan perilaku proses mati dari macam-macam kebudayaan ahli-ahli antropologi berusaha emunculkan dimensi-dimensi umum tentang kematian. Kepercayaan dan sikap masyarakat berpengaruh pada proses kematian. Proses mati dan kematian menjadi kategori budaya universal, tetapi ritual kematian beraneka ragam. Perilaku kematian bertujuan untuk memelihara keberaturan dan kesinambungan sosial. Banyaknya kematian sangat dipengaruhi oleh faktor pendukung kematian (pro mortalitas) dan faktor penghambat kematian (anti mortalitas). Faktor pendukung kematian (pro mortalitas) Faktor ini mengakibatkan jumlah kematian semakin besar. Yang termasuk faktor ini adalah: - Sarana kesehatan yang kurang memadai. - Rendahnya kesadaran masyarakat terhadap kesehatan - Terjadinya berbagai bencana alam - Terjadinya peperangan - Terjadinya kecelakaan lalu lintas dan industri - Tindakan bunuh diri dan pembunuhan. Faktor penghambat kematian (anti mortalitas) Faktor ini dapat mengakibatkan tingkat kematian rendah. Yang termasuk faktor ini adalah:

- Lingkungan hidup sehat. - Fasilitas kesehatan tersedia dengan lengkap. - Ajaran agama melarang bunuh diri dan membunuh orang lain. - Tingkat kesehatan masyarakat tinggi. - Semakin tinggi tingkat pendidikan penduduk. Ketidaksamaan sosial dan Kematian Ketidaksamaan sosial (social inequality) dapat ditemukan dalam masyarakat, yaitu diferensiasi dan stratifikasi sosial, dengan beraneka ragam. Ketidaksamaan sosial dibentuk dari komponen ekonomi, pekerjaan, prestise, kewenangan lebih dari itu, ketidaksamaan sosial memberikan konsekuensi sikap tindak, dan kualitas (fisik & psikologis) yang berkembang tumbuhnya jurang pemisah (gap) antara golongan sosial atas-bawah. Perbedaan mortalitas antar golongan kaya dan miskin, angka kematian golongan miskin lebih tinggi dibanding golongan kaya. Demikian pula status sosial berpengaruh terhadap angka kematian. Kecenderungan menunjukkan, terdapat hubungan terbalik antar status sosial dengan angka kematian. Tetapi perlu dicermati secara kritis, bahwa variabel sosial bukan variabel determinan langsung terhadap mortalitas. Dalam hal ini, variabel sosial memberi dampak kondisional individu yang dapat menaikkan atau menurunkan mortalitas. Kematian orang miskin, tidak disebabkan variabel kematian, tetapi karena orang miskin kurang makan. Demikian pula, hendaknya mortalitas bagi status sosial atas dipengaruhi langsung oleh tingginya tingkat kebutuhan hidup. UKURAN MORTALITAS Ukuran mortalitas yang paling umum adalah angka kematian kasar (AKK). Angka kematian kasar dipengaruhi oleh komposisi penduduk menurut umur. Untuk kondisi Indonesia dengan struktur umur penduduk relatif muda, angka kematian kasar banyak dipengaruhi oleh tingkat kematian anak, terutama yang berumur dibawah 1 tahun. Angka Kematian Kasar ialah jumlah kematian pada tahun tertentu dibagi dengan jumlah penduduk pada pertengahan tahun tersebut. Ada beberapa jenis perhitungan angka kelahiran yaitu: 1. Angka kematian kasar (Crude Death Rate = CDR) Angka kematian kasar yaitu angka yang menunjukkan jumlah kematian tiap 1000 penduduk tiap tahun tanpa membedakan usia dan jenis kelamin tertentu. Rumusnya: Contoh soal: Jumlah penduduk Jakarta pertengahan tahun 2000 berjumlah 11.000.000 orang. Pada tahun tersebut terdapat kematian 200.000 orang. Hitung berapa angka kematian kasarnya! Penyelesaian soal: CDR 18 artinya tiap 1000 penduduk terdapat kematian 18 jiwa dalam waktu satu tahun. Penggolongan angka kematian kasar adalah: - Rendah, jika angka kematian 9 13. - Sedang, jika angka kematian 14 18. - Tinggi, jika angka kematian lebih dari 18. 2. Angka kematian khusus menurut umur tertentu (Age Specific Death Rate = ASDR) Angka ini dapat digunakan untuk mengetahui kelompok-kelompok usia manakah yang paling banyak terdapat kematian. Umumnya pada kelompok usia tua atau usia lanjut angka ini tinggi, sedangkan pada kelompok usia muda jauh lebih rendah.

Rumusnya: 3. Angka kematian bayi (Infant Mortality Rate = IMR) Angka kematian bayi adalah angka yang menunjukkan jumlah kematian bayi tiap seribu bayi yang lahir. Bayi adalah kelompok orang yang berusia 0-1 tahun. Rumusnya: Besarnya angka kematian bayi dapat dijadikan petunjuk atau indikator tingkat kesehatan dan kesejahteraan penduduk. Pada umumnya bila masyarakat memiliki tingkat kesehatan yang rendah maka tingkat kematian bayi tinggi. Selain perhitungan di atas sering dihitung pula angka kematian ibu waktu melahirkan dan angka kematian bayi baru lahir. Untuk angka kematian bayi ukurannya sebagai berikut: - Rendah, jika IMR antara 15-35. - Sedang, jika IMR antara 36-75. - Tinggi, jika IMR antara 76-125.

Created by : Meida-Suswandari Sos-Ant From; berbagai sumber


Diposkan oleh meidadi 01:46