Anda di halaman 1dari 28

KAJIAN POTENSI LIMBAH BATUBARA UNTUK CAMPURAN PEMBUATAN BATU BATA DENGAN BAHAN DASAR LUMPUR LAPINDO

BAB 1 PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang Batubara merupakan bahan bakar utama yang kini banyak digunakan oleh industri skala menengah besar karena mampu menghasilkan tenaga yang besar dengan tingkat efisiensi yang sangat tinggi. Keunggulan batubara sebagai bahan bakar utama pembangkit tenaga adalah potensi panas yang dihasilkan relatif stabil, praktis cata pemakaiannya, tersedia dalam jumlah yang relatif besar dan murah. Akan tetapi, limbah hasil pembakaran batubara ditengarai banyak mengandung unsur berbahaya B3 yang dapat menyebabkan berbagai macam penyakit pada manusia. Disisi lain, Lumpur Lapindo atau Lumpur Panas Sidoarjo (Lusi) muncul akibat peristiwa alam yang mengakibatkan timbulnya pemikiran untuk model pemanfaatan yang bersifat lokal dengan skala besar. Komponen dasar Lusi yang terdiri dari clay merupakan kombinasi padatan pasir, cairan dan gas dengan berbagai kandungan bahan kimia dan senyawa-senyawa yang terdapat dalam perut bumi terbawa keluar bersama saat terjadi semburan. Hal ini lebih baik dapat disikapi sebagai suatu potensi bahan baku industri daripada suatu bencana yang berkepanjangan tanpa pemikiran untuk pemanfaatan dalam skala besar. Untuk jangka panjang, dalam upaya pemanfaatan mineral serta mendukung kegiatan pembangunan infrastruktur serta penanganan masalah lingkungan maka Lusi dapat dimanfaatkan sebagai bahan konstruksi. Berdasarkan sifatsifat dasar yang dimiliki serta hasil penelitian pendahuluan yang dilakukan ternyata Lusi setelah ditambah dengan abu batubara dapat dikembangkan menjadi bahan keramik melalui proses pembakaran dengan hasil yang cukup baik, keras, stabil dan memiliki bobot relatif ringan dibandingkan dengan bahan keramik pada umumnya.

KAJIAN POTENSI LIMBAH BATUBARA UNTUK CAMPURAN PEMBUATAN BATU BATA DENGAN BAHAN DASAR LUMPUR LAPINDO

Abu batubara yang digunakan sebagai bahan tambahan merupakan limbah dari pembakaran batubara yang dihasilkan dari beberapa pabrik atau industri seperti pabrik tekstil, pengolahan kayu serta pabrik lainnya yang memerlukan bahan bakar berkelanjutan dalam jumlah yang besar dengan harga relatif murah. Bahan ini potensinya ternyata cukup melimpah dan belum banyak termanfaatkan dengan baik seiring dengan naiknya harga BBM. Proses pembakaran batubara untuk menghasilkan tenaga dalam industri akan menghasilkan sisa pembakaran yang disebut abu terbang (fly ash) serta endapan abu (bottom ash) yang apabila tidak dimanfaatkan dengan sebaikbaiknya akan dapat mengganggu kesehatan manusia dan lingkungan. 1.2. Maksud dan Tujuan Penelitian bermaksud untuk mengetahui seberapa besar potensi limbah batubara di wilayah kajian yang dapat digunakan sebagai bahan campuran pembuatan batu bata dari bahan dasar Lusi. Tujuan penelitian adalah menyelaraskan kapasitas potensi limbah batubara dari berbagai industri di wilayah kajian dengan kapasitas pengelolaan Lusi menjadi bata bata serta mempelajari prosedur teknis pengadaan limbah batubara dari industri di wilayah kajian untuk dapat digunakan sebagai bahan baku pembuatan batu bata berbahan dasar lumpur Lapindo. 1.3. Permasalahan Besarnya potensi limbah batubara (fly ash maupun bottom ash) sebagai hasil pembakaran untuk memperoleh tenaga pada industri di beberapa daerah sentra industri terpadu Jawa Timur hingga kini belum ada program penanganan untuk mengelola dan memanfaatkannya secara terpadu berskala ekonomis. Di sisi lain, besarnya luapan Lumpur Sidoarjo (Lusi) juga belum dapat dimanfaatkan secara maksimal sebagai suatu solusi untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat di sekitar wilayah terdampak. Hasil kajian awal secara teoritis menyebutkan, bahwa penambahan limbah batubara dalam pembuatan batu bata dengan bahan baku utama Lusi diduga akan menghasilkan batu bata dengan tingkat kekuatan yang lebih baik, lebih kuat dan relatif murah harganya karena potensi sumber bahan baku yang melimpah, baik Lusi maupun limbah batu bara. 2

KAJIAN POTENSI LIMBAH BATUBARA UNTUK CAMPURAN PEMBUATAN BATU BATA DENGAN BAHAN DASAR LUMPUR LAPINDO

Dalam aspek teknis pengelolaan limbah batubara dengan memanfaatkannya sebagai bahan baku pembuatan batu bata berbahan dasar lumpur Lapindo, saat ini belum ada keterpaduan prosedur administratif antara para pengelola industri yang menghasilkan limbah batubara dengan pengelola industri batu bata berbahan dasar lumpur Lapindo, sehingga perlu dirancang suatu program kerja teknis bersama yang dapat mendukung pembuatan batu bata tersebut. Oleh karena itu, diperlukan suatu kajian untuk menelaah sejauh mana potensi limbah batu bara dari segi kuantitas, kualitas serta keterpaduan teknis detil pemanfaatannya sehingga dapat menghasilkan batu bata yang bermutu tinggi. 1.4. Manfaat Hasil kajian sangat bermanfaat untuk memberikan gambaran luas kepada Pemerintah dan industri yang mengolah Lusi dengan campuran limbah batubara menjadi batu bata dan bahan bangunan berupa seberapa besar potensi limbah batu bara yang secara ekonomis dapat menunjang operasional pembuatan batu bata dari bahan dasar lumpur. 1.5. Out Put Diperolehnya data-data konkret dan akurat mengenai jumlah potensi limbah batubara (baik dalam bentuk fly ash maupun dalam bentuk bottom ash) dan jumlah potensi lumpur Lapindo yang dapat dimanfaatkan untuk menunjang pengadaan bahan baku pembuatan batu bata di sekitar wilayah terdampak Lumpur Lapindo, Porong Sidoarjo. Diperolehnya rancangan prosedur teknis administratif pengelolaan limbah batubara dari para pengelola industri untuk mendukung pengadaan bahan baku limbah batubara sebagai campuran dalam pembuatan batu bata berbahan dasar lumpur Lapindo secara berkesinambungan. Terbukanya peluang jalinan kerjasama multisektoral antara para pengelola industri penghasil limbah batubara dengan pengelola industri batu bata berbahan dasar lumpur Lapindo. 1.6. Out Come Bagi dunia Industri pengguna batubara akan diperoleh solusi mengenai program perencanaan pembuangan limbah batubara yang nantinya dapat ditingkatkan menjadi hasil samping (by product) untuk campuran bahan baku 3

KAJIAN POTENSI LIMBAH BATUBARA UNTUK CAMPURAN PEMBUATAN BATU BATA DENGAN BAHAN DASAR LUMPUR LAPINDO

pembuatan batu bata dengan bahan utama Lusi. Dengan demikian, potensi cemaran (terutama kandungan logam berat B3) dapat dieliminasi sekaligus dapat menciptakan nilai tambah baik dari segi distribusi, mobilitas kerja bagi masyarakat dan tumbuhnya industri baru. Bagi masyarakat di wilayah terdampak lumpur lapindo akan memberikan solusi nyata berupa pola pemanfaatan Lusi menjadi batu bata dengan penambahan limbah batubara sehingga akan dihasilkan batu bata berkualitas tinggi dengan teknologi madya. Bagi Pemerintah merupakan jalan keluar (way out) bagi pemecahan masalah penanganan dan pengelolaan Lusi sekaligus limbah batubara menjadi batu bata berkualitas tinggi sehingga menumbuhkan lapangan kerja baru dan meningkatkan dinamika perekonomian di propinsi Jawa Timur dalam arti luas. Bagi khalayak luas merupakan alternatif baru dalam memilih batu bata untuk pembangunan properti terutama sarana/prasarana fasilitas umum dengan memanfaatkan batu bata yang dibuat dari bahan baku utama Lusi dengan campuran limbah batubara yang aman bagi kesehatan, mudah diperoleh dan murah harganya.

KAJIAN POTENSI LIMBAH BATUBARA UNTUK CAMPURAN PEMBUATAN BATU BATA DENGAN BAHAN DASAR LUMPUR LAPINDO

BAB 2 TELAAH PUSTAKA


2.1. Pemanfaatan Batubara dan Potensi Limbahnya Di Indonesia batu bara merupakan bahan bakar utama selain solar yang telah umum digunakan pada banyak industri, dari segi ekonomis batu bara jauh lebih hemat dibandingkan solar dengan perbandingan sebagai berikut : Solar Rp. 0,74 / kg kalori sedangkan batu bara hanya Rp. 0,09 / kg kalori (berdasarkan harga solar industri Rp. 6.200,- / liter). Dari segi kuantitas batu bara termasuk cadangan energi fosil terpenting bagi Indonesia, sangat berlimpah dan mencapai puluhan milyar ton. Keberadaan limbah batubara di Jawa Timur cukup melimpah karena keberadaan perusahaan pemakai batubara seperti pabrik kertas serta industri-industri besar yang tersebar di daerah Sidoarjo, Pasuruan, Mojokerto dan Gresik. Abu terbang batubara umumnya dibuang di landfill atau ditumpuk begitu saja di dalam area industri. Penumpukan abu terbang batubara ini menimbulkan masalah bagi lingkungan. Berbagai penelitian mengenai pemanfaatan abu terbang batubara sedang dilakukan untuk meningkatkan nilai ekonomisnya serta mengurangi dampak buruknya terhadap lingkungan. Berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 18 Tahun 1999 tentang Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) disebutkan bahwa fly ash tidak boleh dipaparkan di tempat terbuka. Namun penggunaan batubara itu sendiri masih menimbulkan masalah yang membutuhkan penyelesaian secara bersama antara pemerintah dan dunia usaha, yaitu dalam pengelolaan limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (Limbah B3) batubara bottom ash and fly ash, mengingat volume limbah yang semakin meningkat dengan kualitas yang bervariasi. Pengelolaan limbah batubara (bottom ash and fly ash) melalui upaya pemanfaatan sebagai bahan bakar dan sebagai filler pada industri semen, batu bata serta untuk bahan baku lainnya, maka penanganan permasalahan sebagian limbah batu bara telah mendapatkan solusinya. Berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 18 Tahun 1999 tentang 5

KAJIAN POTENSI LIMBAH BATUBARA UNTUK CAMPURAN PEMBUATAN BATU BATA DENGAN BAHAN DASAR LUMPUR LAPINDO

Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) disebutkan bahwa fly ash tidak boleh dipaparkan di tempat terbuka. Abu terbang sebagai limbah pembakaran batubara selama ini masih ditimbun di lahan kosong. Hal ini berpotensi bahaya bagi lingkungan dan masyarakat sekitar seperti, logam-logam dalam abu terbang terekstrak dan terbawa ke perairan, abu terbang tertiup angin sehingga mengganggu pernafasan. Sudut pandang terhadap abu terbang harus dirubah, abu terbang adalah bahan baku potensial yang dapat digunakan sebagai adsorben murah. Beberapa investigasi menyimpulkan bahwa abu terbang memiliki kapasitas adsorpsi yang baik untuk menyerap gas organik, ion logam berat, gas polutan. Modifikasi sifat fisik dan kimia perlu dilakukan untuk meningkatkan kapasitas adsorpsi. 2.2. Lumpur Lapindo Lumpur Lapindo sering disebut juga dengan Lumpur Sidoarjo (Lusi) diduga berasal dari paduan formasi Kalibeng dan formasi Kujung yang banyak mengandung silt dan sisipan pasir. Silt adalah nama umum clay dengan mineral utama monmorilonit mengandung 50 % partikel klasik berdiameter kurang dari 0,0625 mm. Mineral umum yang terdapat dalam kandungan lumpur Lapindo antara lain kuarsa, kalsedon, opal, feldspar, mika, hydromika (illit), khlorit, besi oksida, kaolit, monmorilonit, karbonat, material karbonaseus, glaukonit dan campuran komposit mineral amorphous. Kandungan ini secara umum tidak membahayakan manusia, akan tetapi saat terjadi semburan ke permukaan bumi melalui beberapa lapisan dalam tanah diduga akan terbawa gas metan dan gas sulfida, maka kandungan akhir yang terjadi di permukaan bumi menjadi bermacam-macam. Beberapa hasil uji kandungan bahan/mineral yang terkandung dalam lumpur Lapindo antara lain: a. Hasil analisa Dinas Pekerjaan Umum Bina Marga dan ITS Surabaya, lumpur Lapindo mengandung Fenol 4 kali lebih besar, raksa 2 kali lipat dan nitrit 6 kali lipat dari baku mutu limbah cair sesuai SK Gubernur Jatim Nomer 45 tahun 2002. b. Pusat Laboratorium Forensik Mabes Polri juga melakukan analisa bahwa lumpur Lapindo mengandung hidrogen sulfida (H2S). 6

KAJIAN POTENSI LIMBAH BATUBARA UNTUK CAMPURAN PEMBUATAN BATU BATA DENGAN BAHAN DASAR LUMPUR LAPINDO

c. Balai Besar Teknik Lingkungan dan Pemberantasan Penyakit Menular (BBTKL PPM) melaporkan bahwa lumpur Lapindo memiliki pH dan salinitas seperti pada air laut, disamping kandungan fenol dan senyawa lainnya. Lumpur juga mengandung beberapa senyawa logam berat seperti: Parameter Merkuri (Hg) Plumbum (Pb) Cadmium (Cd) Chrom (Cr) Copper (Cu) Satuan Mg/l Mg/l Mg/l Mg/l Mg/l Batas Maks. 0,2 5,0 1,0 5,0 10,0 Hasil Pengujian <0,0014-0,0041 0,0525-0,2018 0,0157-0,0299 <0,0198-0,0198 <0,0196-0,0254 Limit Deteksi 0,0014 0,0405 0,0100 0,0198 0,0196

d. Komponen air dalam lumpur juga mencapai 70 % hasil analisa dari berbagai lembaga Pemerintah, LSM maupun Swasta yang menunjukkan bahwa potensi bahan padatan (silt and mud) yang menyimpan bahan-bahan kimia aktif sebagaimana hasil analisa tersedia dalam jumlah cukup besar; memerlukan pola pemanfaatan yang paripurna. 2.3. Peluang Pemanfaatan Limbah Batubara dan Lusi Sebagai Bahan Bangunan Penelitian limbah batubara (bottom ash dan fly ash) yang telah dipublikasikan di beberapa media yang didasarkan data uji laboratorium menunjukkan hal yang positif tentang kualitas batubata yang dapat dipakai sebagai bahan bangunan. Kajian ini mendasarkan campuran lumpur Lapindo dengan limbah batubara dengan prosentase tertentu menghasilkan batubata yang mempunyai kuat tekan dengan kualitas yang dapat dipertanggung jawabkan. Sifat kimia abu terbang batubara dipengaruhi oleh jenis batubara yang dibakar serta teknik penyimpanan dan penaganannya. Pembakaran batubara lignit dan sub bituminous menghasilkan abu terbang dengan kalsium dan magnesium oksida lebih banyak namun memiliki kandungan silika, alumina dan karbon l lebih sedikit daripada bituminous. Kandungan karbon dalam abu terbang diukur dengan Loss On Ignition Method (LOI). Abu terbang batubara terdiri dari butiran halus umumnya berbentuk bola padat atau berongga. Ukuran partikel abu terbang hasil pembakaran bgituminous

KAJIAN POTENSI LIMBAH BATUBARA UNTUK CAMPURAN PEMBUATAN BATU BATA DENGAN BAHAN DASAR LUMPUR LAPINDO

lebih kecil dari 0,075 mm, kerapatan berkisar antara 2100 sanpai 3000 kg/m3 dan luas area spesifiknya (diukur berdasarkan metode permeabilitas udara Blaine) antara 170 sampai 1000 m2/kg. Abu terbang pada masa kini dipandang sebagai limbah pembakaran batubara. Modifikasi sifat fisik dan kimia perlu dilakukan untuk meningkatkan kapasitas adsorpsi. Kajian teknis terhadap seluruh jenis potensi bahan baku yang memiliki peluang pemanfaatan dalam skala besar perlu diketahui untuk menentukan jumlah cadangan bagi keberlanjutan dan kualitasnya. Kualitas bahan baku dapat dilakukan dengan melakukan penelitian pendahuluan untuk menguji atau melakukan analisis laboratorium terhadap semua contoh bahan baku yang diambil dari lokasi masing-masing. Lusi, merupakan bahan mineral yang menyembur akibat kegagalan teknis dalam pengeboran (eksplorasi) minyak dan gas bumi; material tersebut dapat dikategorikan sebagai produk erupsi mud vulcano yang biasa terjadi di dalam kegiatan pengeboran khususnya di wilayah yang mempunyai tatanan geologi kompleks. Bahan ini berbentuk butiran halus berwarna abu-abu kehitaman, sangat plastis dan memiliki nilai susut kering yang tinggi. Secara umum unsur kimia yang terkandung didominasi oleh Silika (Si>50%), Alumunium (26 %) dan berbagai unsur lainnya. Saat ini umumnya abu terbang batubara digunakan dalam pabrik semen sebagai salah satu bahan campuran pembuat beton. Selain itu, sebenarnya abu terbang batubara memiliki berbagai kegunaan yang amat beragam: 1. Penyusun beton untuk jalan dan bendungan 2. Penimbun lahan bekas pertambangan 3. Recovery magnetit, cenosphere, dan karbon 4. Bahan baku keramik, gelas, batu bata, dan refraktori 5. Bahan penggosok (polisher) 6. Filler aspal, plastik, dan kertas 7. Pengganti dan bahan baku semen 8. Aditif dalam pengolahan limbah (waste stabilization) 9. Konversi menjadi zeolit dan adsorben

KAJIAN POTENSI LIMBAH BATUBARA UNTUK CAMPURAN PEMBUATAN BATU BATA DENGAN BAHAN DASAR LUMPUR LAPINDO

Dalam upaya pemanfaatannya telah diuji coba untuk dikembangkan sebagai bahan bangunan keramik seperti batu bata, genteng dan agregat buatan melalui proses pembakaran sehingga diperoleh produk yang keras, kuat, ringan dan stabil. Karena sifat teknis dari bahan dasar yang kurang dapat terjamin homogenitasnya, maka untuk meningkatkan kualitasnya perlu ditambahkan bahan penstabil berupa abu batubara dengan proporsi antara 10 % sampai 40 % dari berat Lusi. Proses pembuatan batubata, genteng dan agregat dilakukan setelah bahan baku dicampur dengan air sampai menjadi adonan yang lembab dan plastis kemudian dicetak sesuai bentuk dan ukuran yang diinginkan. Hasil penelitian telah diperoleh data bahwa suhu bakar optimum untuk batu bata dicapai pada 800 oC dengan kuat tekan nominal 50 kg/cm3 atau masuk mutu 50; sedangkan untuk genteng dan agregat dicapai pada kisaran suhu 900 s/d 1000 oC telah memenuhi mutu III dengan beban lentur nominal 80 kg.

KAJIAN POTENSI LIMBAH BATUBARA UNTUK CAMPURAN PEMBUATAN BATU BATA DENGAN BAHAN DASAR LUMPUR LAPINDO

BAB 3 METODOLOGI
3.1. Tempat dan Waktu Penelitian berupa kajian potensi yang dilaksanakan di wilayah Kabupaten Gresik, Kabupaten Mojokerto, Kabupaten Sidoarjo dan Kabupaten Pasuruan selama 60 hari terhitung sejak bulan Oktober sampai dengan Desember 2009. 3.2. Uraian Jadwal Pelaksanaan Adapun rincian jadwal pelaksanaan kegiatan yang terbagi dalam uraian kegiatan per sepuluh hari kerja efektif (10 HOK x 6) adalah sebagai berikut : No Uraian Kegiatan 1 I II III IV V VI

Tahap Persiapan - Administrasi Perijinan x - Koleksi Data Sekunder x - Analisis Data Sekunder x - FGD x - Penetapan Langkah Tindak x - Penetapan Tahap Kerja x Tahap Pelaksanaan - Survey awal potensi limbah batubara industri - Survey potensi Lusi - Analisis limbah batubara - Analisis Lusi (spesifik) - Pemetaan hasil analisis - Uji coba skala laboratorium - Survey akseptabilitas para industri pengguna batubara - Survey model kerjasama pemanfaatan limbah batubara - Pemetaan potensi riil limbah batubara - Perencanaan teknis pemanfaatan limbah terpadu Tahap Pelaporan - FGD dan revisi-revisi

xxx xxx xx xx xx xx x xx xxxx xx xxx

xx

xx x xx

xx 10

KAJIAN POTENSI LIMBAH BATUBARA UNTUK CAMPURAN PEMBUATAN BATU BATA DENGAN BAHAN DASAR LUMPUR LAPINDO

- Penulisan Laporan Akhir - Seminar Hasil Penelitian - Publikasi Jurnal Ilmiah 3.3. Metode Pelaksanaan

x xx xx

Kajian dilaksanakan dengan menggunakan metode deskriptif, pengambilan data dilakukan dengan mengumpulkan data primer maupun data sekunder sebagai bahan kajian untuk merumuskan hasil penelitian secara mendalam. Pengambilan data primer dilakukan secara survey langsung dengan menggunakan alat bantu berupa kuosioner yang telah diuji terlebih dahulu validitas dan reliabilitasnya. Data sekunder diperoleh dengan mengumpulkan data-data resmi Pemerintah yang dirilis melalui Biro Pusat Statistik, serta datadata aktual yang dimiliki oleh perusahaan penyalur batubara maupun perusahaan pengguna batubara sebagai bahan bakar utama proses industrinya. Analisa data hasil pengamatan untuk memperoleh kesimpulan digunakan metode analisis SWOT. 3.4. Sumberdaya Pelaksana Pelaksana kegiatan adalah tim peneliti Pusat Kajian Pendidikan dan Penerapan Ipteks - Fakultas Teknik (PKP2I-FT) Universitas Negeri Surabaya yang terdiri dari tenaga-tenaga ahli: Ahli Manajemen, sebagai koordinator/ketua tim pelaksana kegiatan Ahli Teknik Lingkungan Ahli Geologi Ahli Kimia Ahli Teknik Industri

Tim surveyor lapangan

11

KAJIAN POTENSI LIMBAH BATUBARA UNTUK CAMPURAN PEMBUATAN BATU BATA DENGAN BAHAN DASAR LUMPUR LAPINDO

BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN


4.1. Potensi Limbah Batubara di Wilayah Kajian Potensi limbah batubara ditentukan oleh besarnya skala pemakaian batubara oleh industri-industri. Di wilayah kajian yang meliputi: kabupaten Mojokerto, kabupaten Gresik, kabupaten Sidoarjo dan kabupaten Pasuruan adalah merupakan kawasan industri yang penting di Jawa Timur. Dua sisi kepentingan yang dapat diperoleh dari penanganan pola ini adalah: terpecahkannya pemanfaatan limbah batu bara (baik fly ash maupun bottom ash yang selama ini merupakan limbah bahan beracun berbahaya / B3) sekaligus memecahkan masalah pemanfaatan luberan lumpur (mud vulcano) menjadi batu bata untuk bahan bangunan. Limbah batubara dalam jumlah besar baik berupa fly ash maupun bottom ash dihasilkan dari industri-industri di wilayah kajian diantaranya, seperti: a. Pabrik kertas

b. Pabrik semen

12

KAJIAN POTENSI LIMBAH BATUBARA UNTUK CAMPURAN PEMBUATAN BATU BATA DENGAN BAHAN DASAR LUMPUR LAPINDO

c. Pabrik besi dan baja

d. Pabrik keramik

e. Pabrik tekstil

f. Pabrik minyak pelumas

13

KAJIAN POTENSI LIMBAH BATUBARA UNTUK CAMPURAN PEMBUATAN BATU BATA DENGAN BAHAN DASAR LUMPUR LAPINDO

g. Pabrik kimia dasar/petrokimia

h. Pembangkit listrik

i. Pabrik/pengolahan kayu

4.1.1. Kabupaten Mojokerto Industri-industri skala menengah besar di wilayah kabupaten Mojokerto yang menghasilkan limbah batubara sebagai sisa pembakaran untuk menghasilkan tenaga pada umumnya terdapat di wilayah Kawasan Industri Ngoro atau dikenal dengan Ngoro Industrial Park di kecamatan Ngoro. Potensi limbah batubara (fly ash maupun bottom ash) yang dapat dihasilkan dari wilayah kabupaten Mojokerto untuk mendukung pengadaan bahan baku pembuatan batu bata dengan bahan dasar lumpur lapindo diperkirakan mencapai lebih 14

KAJIAN POTENSI LIMBAH BATUBARA UNTUK CAMPURAN PEMBUATAN BATU BATA DENGAN BAHAN DASAR LUMPUR LAPINDO

dari 1.000 ton per bulan. Limbah batubara sangat memungkinkan diperoleh dari perusahaan industri di kabupaten Mojokerto terutama di wilayah Ngoro Industrial Estate karena letaknya cukup berdekatan dengan lokasi pabrik batu bata dan bahan bangunan di desa Mindi kecamatan Porong. Jarak terjauh hasil kajian untuk biaya pengangkutan/pembuangan limbah batubara dari beberapa titik lokasi menuju ke Porong adalah sebagai berikut: a. Potensi limbah batubara hasil pembakaran pabrik gula di desa Gedeg kecamatan Gedeg berjarak kurang lebih 54 kilometer bila melalui akses jalan raya Krian-Surabaya dan 46 kilometer bila melalui akses jalan raya Mojokerto-Mojosari-Japanan. b. Potensi limbah batubara hasil pembakaran pabrik jamur champignon di desa Jatirejo kecamatan Jatirejo berjarak kurang lebih 42 kilometer melalui akses jalan raya Mojosari-Japanan. c. Potensi limbah batubara hasil pembakaran pabrik minuman bir bintang dan peternakan ayam potong/petelur di sekitar kecamatan Pacet dan kecamatan Pungging diperkirakan membutuhkan jarak tempuh berkisar 30 kilometer menuju ke Porong melalui akses jalan raya MojosariJapanan. Sedangkan potensi limbah batubara yang dihasilkan oleh industri/pabrik lainnya di wilayah kabupaten Mojokerto membutuhkan jarak tempuh yang relatif lebih dekat menuju ke industri pengolahan batu bata dan bahan bangunan berbahan dasar lumpur lapindo. Bahkan di sekitar kecamatan Mojosari terdapat pabrik kertas berskala besar PT. Pakerin yang memiliki akses khusus melalui kecamatan Krembong langsung menuju ke pusat kota Porong dengan jarak tempuh sekitar 15 kilometer saja melalui jalan akses antara Japanan-Mojosari-Mojokerto dengan jarak tempuh kurang dari 20 kilometer. 4.1.2. Kabupaten Gresik Di wilayah kabupaten Gresik, industri yang menghasilkan limbah batubara pada umumnya terdapat di kecamatan Driyorejo, kecamatan Kedamaian dan kecamatan Manyar. Industri kimia dasar milik Pemerintah seperti PT. Petrokimia Gresik dan PT. Semen Gresik merupakan salah satu penghasil 15

KAJIAN POTENSI LIMBAH BATUBARA UNTUK CAMPURAN PEMBUATAN BATU BATA DENGAN BAHAN DASAR LUMPUR LAPINDO

limbah batubara yang terpenting di wilayah kabupaten Gresik. Potensi limbah batubara (fly ash maupun bottom ash) yang dapat dihasilkan dari wilayah kabupaten Gresik untuk mendukung pengadaan bahan baku pembuatan batu bata dengan bahan dasar lumpur lapindo diperkirakan mencapai lebih dari 2.000 ton per bulan. Limbah batubara sangat memungkinkan diperoleh dari perusahaanperusahaan tersebut diatas maupun perusahaan industri lainnya di wilayah kabupaten Gresik terutama berasal dari Kawasan Industri Maspion dan kawasan pesisir/pelabuhan kota Gresik karena letaknya memiliki akses jalan raya dan jalan bebas hambatan (tol way). Jarak terjauh hasil kajian untuk biaya pengangkutan/pembuangan limbah batubara dari beberapa titik lokasi menuju ke Porong adalah sebagai berikut: a. Potensi limbah batubara hasil pembakaran pabrik-pabrik di Kawasan Industri Maspion desa Manyar kecamatan Manyar berjarak kurang lebih 67 kilometer bila melalui akses jalan bebas hambatan langsung dari gerbang tol Manyar ke gerbang tol Dupak dan terus menuju hingga ke gerbang tol Porong atau kini disebut dengan gerbang tol Sidoarjo 2. Disamping itu jarak tempuh yang lebih kurang sama 62 kilometer bila melalui akses jalan raya Gresik-Bunder-Krian-Sidoarjo. b. Potensi limbah batubara hasil pembakaran pabrik pengolahan kayu di sekitar wilayah pelabuhan Gresik, pabrik Semen Gresik dan PT. Petrokimia Gresik di kota Gresik berjarak kurang lebih 44 kilometer melalui akses jalan bebas hambatan melalui gerbang tol Romo Kalisari. c. Potensi limbah batubara hasil pembakaran pabrik makanan dan minuman, pabrik kertas, pabrik keramik, pabrik tekstil, pabrik bumbu masak, pabrik bahan bangunan genteng dan pabrik pengolahan kayu di sekitar kecamatan Kedamean, kecamatan Wringinanom dan kecamatan Driyorejo diperkirakan membutuhkan jarak tempuh berkisar 30 kilometer menuju ke Porong melalui akses jalan raya Krian-Sidoarjo. Sedangkan potensi limbah batubara di kabupaten Gresik membutuhkan jarak tempuh lebih dekat terutama bagi industri yang berada di perbatasan dengan

16

KAJIAN POTENSI LIMBAH BATUBARA UNTUK CAMPURAN PEMBUATAN BATU BATA DENGAN BAHAN DASAR LUMPUR LAPINDO

kabupaten Sidoarjo dan kotamdaya Surabaya melalui berbagai alternatif jalan akses menuju ke kota Porong dengan jarak tempuh kurang dari 20 kilometer. 4.1.3. Kabupaten Sidoarjo Potensi limbah batubara yang dihasilkan oleh para pengelola industri di wilayah kabupaten Sidoarjo diduga merupakan salah satu yang terbesar di provinsi Jawa Timur. Di wilayah ini terdapat banyak industri raksasa yang menghasilkan limbah batubara dalam jumlah sangat besar seperti : PT. Sinar Mas Grup (pabrik kertas dan bahan-bahan baku kertas di kecamatan Tarik), industri pengecoran logam dan baja yang tersebar di kecamatan Krian, Taman dan Waru, industri pengolahan kayu, industri plastik dan kimia dasar, pabrikpabrik gula serta industri pengolahan makanan, pakan ternak dan berbagai jenis industri lainnya yang tersebar di kabupaten Sidoarjo. Penyebaran industri penghasil limbah batubara di wilayah kabupaten Sidoarjo merata hampir di seluruh wilayah kecamatan dengan potensi mencapai ratusan ribu metrik ton per bulannya. Limbah batubara sangat memungkinkan diperoleh dari perusahaan industri di kabupaten Sidoarjo karena letaknya relatif dekat menuju ke pabrik batu bata dan bahan bangunan di desa Mindi kecamatan Porong. Jarak terjauh hasil kajian untuk biaya pengangkutan/pembuangan limbah batubara dari beberapa titik lokasi menuju ke Porong adalah sebagai berikut: a. Potensi limbah batubara hasil pembakaran pabrik kertas PT. Tjiwi Kimia dan pabrik kimia PT. Sindopex Perotama di desa Bakungtemenggungan kecamatan Balongbendo berjarak kurang lebih 40 kilometer bila melalui akses jalan raya Krian-Sidoarjo dan 43 kilometer bila melalui akses jalan raya Mojokerto-Mojosari-Japanan. Jarak tempuh yang lebih dekat melalui akses ini dapat diakses untuk memperoleh limbah batubara dari pabrik kimia, pabrik baja, dan sebagainya. b. Potensi limbah batubara hasil pembakaran pabrik besi dan baja di desa Wedoroanom kecamatan Waru berjarak kurang lebih 21 kilometer melalui akses jalan raya Surabaya-Malang. c. Potensi limbah batubara hasil pembakaran pabrik gula di sekitar kecamatan Prambon dan kecamatan Krembong diperkirakan 17

KAJIAN POTENSI LIMBAH BATUBARA UNTUK CAMPURAN PEMBUATAN BATU BATA DENGAN BAHAN DASAR LUMPUR LAPINDO

membutuhkan jarak tempuh sangat pendek berkisar kurang dari 20 kilometer menuju ke Porong melalui akses jalan raya Prambon-Porong yang merupakan jalur jalan alternatif pasca penanganan bencana luapan lumpur lapindo. 4.1.4. Kabupaten Pasuruan Industri skala menengah besar yang terdapat di wilayah kabupaten Pasuruan cukup banyak dan beragam. Mengingat wilayah kabupaten ini sangat luas yang terdiri dari kawasan pesisir di Utara berbatasan dengan Selat Madura serta kawasan Selatan yang merupakan perbukitan dan pegunungan berbatasan dengan kabupaten Mojokerto dan kabupaten Malang. Potensi limbah batubara (fly ash maupun bottom ash) yang dapat dihasilkan dari wilayah kabupaten Pasuruan untuk mendukung pengadaan bahan baku pembuatan batu bata dengan bahan dasar lumpur lapindo diperkirakan mencapai lebih dari 1.000 ton per bulan. Khusus wilayah kabupaten Pasuruan meskipun memiliki akses jalan yang relatif mudah menuju ke Porong akan tetapi beberapa titik lokasi industri penghasil limbah batubara relatif jauh letaknya karena wilayah kabupaten ini sangat luas baik ke arah Selatan berbatasan dengan kabupaten Malang dan ke arah Timur berbatasan dengan kabupaten Probolinggo. Jarak terjauh hasil kajian untuk biaya pengangkutan/pembuangan limbah batubara dari beberapa titik lokasi menuju ke Porong adalah sebagai berikut: a. Potensi limbah batubara hasil pembakaran pabrik tekstil, pembangkit listrik dan pabrik gula di kecamatan Ngopak berjarak kurang lebih 48 kilometer bila melalui akses jalan raya Probolinggo-Surabaya. Jarak tempuh yang lebih dekat yang melalui sepanjang jalan melalui akses ini untuk memperoleh limbah batubara adalah dari pabrik tekstil, pabrik pengolahan kayu, pabrik bumbu masak (Cheil Jedang dan Cheil Samsung Astra), pabrik pengolahan ikan dan sebagainya. b. Potensi limbah batubara hasil pembakaran pabrik jamur champignon di desa Tutur kecamatan Tutur (Nongkojajar) berjarak kurang lebih 42 kilometer melalui akses jalan raya Malang-Purwosari-Sidoarjo. Jarak tempuh ini juga dapat dilalui lebih pendek oleh limbah batubara hasil 18

KAJIAN POTENSI LIMBAH BATUBARA UNTUK CAMPURAN PEMBUATAN BATU BATA DENGAN BAHAN DASAR LUMPUR LAPINDO

pembakaran pabrik minuman kesehatan, pabrik tekstil Easterntex dan peternakan ayam. 4.2. Komitmen Industri Dalam Pemanfaatan Limbah Batubara Para pengelola industri menengah besar memiliki komitmen yang kuat untuk mengelola dan memanfaatkan limbah batubara menjadi produk bernilai tambah yang dibuktikan dengan kesediaan para pengelola memberikan sampel limbah batubara agar dapat dikaji lebih mendalam potensi pemanfaatannya sebagai bahan campuran dalam pembuatan batu bata berbahan dasar lumpur Lapindo. Hasil kajian menunjukkan bahwa; seluruh pengelola industri/pabrik yang merupakan pengguna batubara kini tengah menunggu realisasi teknis pemanfaatan limbah batubara menjadi bahan bangunan, karena pengelola industri pada umumnya mengalami kesulitan dan terbebani oleh biaya pembuangan limbah batubara sisa pembakaran. Cara pembuangan dengan memanfaatkan limbah tersebut sebagai landfill semakin lama dirasakan semakin mahal karena hal-hal sebagai berikut: 1. Meningkatnya harga tanah-tanah untuk pembuangan limbah batubara, hal ini mengingat kebutuhan tanah untuk landfill bersaing dengan kebutuhan tanah pertanian, perumahan dan fasilitas umum. 2. Mahalnya biaya transportasi menuju ke tempat pembuangan, 3. Sulitnya memperoleh tenaga kerja, mengingat pekerjaan membuang limbah batubara merupakan pekerjaan beresiko tinggi terhadap radiasi bahan beracun berbahaya (B3), sehingga kini biaya tenaga kerja menjadi mahal dan kewajiban perusahaan untuk menyediakan jaminan hari tua bagi keluarga, jaminan kesehatan, asuransi dan tanggungan kesejahteraan merupakan permasalahan sosial yang perlu pemecahan khusus. 4. Mahalnya biaya penyiapan sarana dan prasarana pendukung, mengingat dalam jumlah yang besar limbah batubara harus dibuang dengan menggunakan peralatan yang khusus. Menyikapi berbagai kesulitan dan kendala teknis tersebut, maka pihak pengelola industri/pabrik juga tengah menunggu komitmen balik dari pihak Pemerintah akan kesungguhan dalam merealisasikan pembangunan unit industri pengelolaan lumpur lapindo menjadi bahan bangunan dengan 19

KAJIAN POTENSI LIMBAH BATUBARA UNTUK CAMPURAN PEMBUATAN BATU BATA DENGAN BAHAN DASAR LUMPUR LAPINDO

menggunakan campuran limbah batubara karena diyakini akan mampu membantu memecahkan masalah pembuangan limbah tersebut. Harapan yang diperoleh dari hasil kajian adalah perlunya Pemerintah memikirkan kapasitas pabrik pembuatan batu bata dan berbagai jenis bahan bangunan lainnya yang lebih besar agar limbah batubara dapat tertampung dan tertangani dengan dengan baik, disamping tertanganinya lumpur lapindo agar termanfaatkan sebagai bahan bangunan. Para pengelola industri/pabrik juga berminat untuk membeli produk batu bata dan berbagai jenis bahan bangunan lainnya apabila rencana pembangunan pabrik bahan bangunan berbahan dasar lumpur lapindo ini terwujud sebagai bentuk komitmen nyata dalam memberikan dukungan akan pemasaran hasil produk. Dasar pemikiran yang diambil adalah batu bata tersebut akan digunakan tidak untuk rumah tinggal melainkan untuk pengembangan pabrik dan fasilitas umum sekitarnya yang menjadi kewajiban pihak perusahaan untuk pengadaannya. 4.2.1. Sifat Kimia Limbah Batubara di Wilayah Kajian Hasil analisa kimia terhadap limbah batubara baik fly ash maupun bottom ash yang dihasilkan oleh industri-industri pengguna batubara di wilayah kajian pada umumnya memiliki kesesuaian untuk dimanfaatkan sebagai campuran dalam pembuatan batu bata dengan bahan dasar lumpur Lapindo. Adapun kandungan limbah batubara yang diambil secara purposive sampling dari beberapa sampel limbah berbagai industri di wilayah kajian untuk dijadikan bahan baku campuran pembuatan batu bata berbahan dasar lumpur Lapindo adalah sebagai berikut: Komponen utama dari abu terbang batubara yang berasal dari pembangkit listrik adalah ilica (SiO2), alumina, (Al2O3), dan besi oksida (Fe2O3),

sisanya adalah karbon, kalsium, magnesium, dan belerang. Rumus empiris abu terbang batubara ialah: Si1.0Al0.45Ca0.51Na0.047Fe0.039Mg0.020K0.013Ti0.011

20

KAJIAN POTENSI LIMBAH BATUBARA UNTUK CAMPURAN PEMBUATAN BATU BATA DENGAN BAHAN DASAR LUMPUR LAPINDO

Tabel 1. Komposisi kimia abu terbang batubara


Komponen SiO2 Al2O3 Fe2O3 CaO MgO SO3 Na2O K2O LOI Bituminous 20-60% 5-35% 10-40% 1-12% 0-5% 0-4% 0-4% 0-3% 0-15% Sub-bituminous 40-60% 20-30% 4-10% 5-30% 1-6% 0-2% 0-2% 0-4% 0-3% Lignite 15-45% 10-25% 4-15% 15-40% 3-10% 0-10% 0-6% 0-4% 0-5%

4.2.2. Pemanfaatan Untuk Campuran Batu Bata Berbahan Dasar Lumpur Lapindo Hasil analisa sifat kimia limbah batubara di wilayah kajian menunjukkan bahwa potensi untuk pemanfaatan sebagai campuran dalam industri pembuatan batu bata dengan bahan dasar lumpur Lapindo dapat dilakukan. Mengingat besarnya potensi bahan baku lumpur Lapindo serta ketersediaan limbah batubara dalam jumlah yang relatif sangat besar dan

berkesinambungan untuk jangka lebih dari 30 tahun kedepan, maka upaya Pemerintah dalam memanfaatkan keterpaduan limbah batu bara dengan lumpur Lapindo untuk dibuat menjadi batu bata bagi keperluan pembangunan sarana umum dan fasilitas Pemerintah lainnya merupakan langkah yang dinilai sangat tepat oleh kalangan industri. Besarnya potensi limbah batubara tersebut, secara kimia telah diteliti untuk dapat disinergikan dengan lumpur Lapindo sebagai batu bata; mengingat kandungan lumpur Lapindo itu sendiri dari hasil analisa adalah mengandung: Mangan, Natrium, Besi ( terlarut dalam 0,1 N), Chlor, Alumunium, Boron, Barium, Timbal, Raksa ( 2,565 mg/liter Hgbaku mutunya: 0,002 mg/l Hg ), Sianida Bebas, Arsen, HCL > 700 ppm, Triklorofenol zat B3(bahan beracun dan berbahaya efek : langsung (iritasi kulit) dan efek sistemik: ( hemolisis,

21

KAJIAN POTENSI LIMBAH BATUBARA UNTUK CAMPURAN PEMBUATAN BATU BATA DENGAN BAHAN DASAR LUMPUR LAPINDO

kardiak aritmia, ginjal), Triklorodane, Triklorobenzen, Kloroform, Minyak dan lemak ( ITS). Beton berpori dibuat dari campuran pasir silika (sand), semen, CaCO3, dengan katalis Al. Permasalahan utama adalah penyediaan pasir sebagai bahan baku yang makin lama makin berkurang dan mahal, sebagai alternatif pengganti adalah dari limbah pembakaran batubara disebut abu terbang (fly ash), dan limbah ini cukup banyak tersedia dibeberapa industri. Pada Penelitian ini dibuat beton ringan berpori dari campuran semen, pasir/abu terbang, CaCO3 dan menggunakan katalis aluminium. Komposisi standar yang digunakan adalah: 25 % berat semen, 15% berat CaCO3,dan sisanya adalah pasir. Sedangkan variasi ratio komposisi pasir dengan abu terbang adalah: 60 : 0,50 : 10, 40 : 20, 30 : 30, 20 : 40, 10 : 50 dan 0 : 60 (% berat). Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa sampel dengan komposisi 30 % pasir dan 30 % abu terbang, melalui proses pengeringan cepat menggunakan autoclave bertekanan 6 bar, dengan waktu pengerasan selama 40 menit menghasilkan karakteristik beton ringan berpori yaitu densitas = 0,87 g/cm3, dan kuat tekan = 4,33 MPa. Lumpur tersebut kemudian dicetak dengan cara cor (casting) kemudian dibiarkan selama satu hari. Sifat-sifat Fisis dan mekanik beton berpori yang diproduksi melalui proses pengeringan dengan autoclave 12 bar diperlihatkan pada tabel 1 sebagai berikut. Tabel 1. Sifat Fisis dan Mekanik Beton Berpori melalui proses ageing dengan autoclave 12 bar [3]. Parameter Density, Compressive Strength, Flexure Strength, Thermal Conductivity, Heat Capacity, Nilai Rata-Rata kg/m3 575 MPa 43 MPa 1,06 W/moC 0,133 J/kg K 1224

Karakterisasi beton berpori meliputi parameter fisik dan mekanik, untuk sifat fisik adalah pengujian densitas betondimana nilai densitas beton dapat dihitung berdasarkan pesamaan sebagai berikut :

22

KAJIAN POTENSI LIMBAH BATUBARA UNTUK CAMPURAN PEMBUATAN BATU BATA DENGAN BAHAN DASAR LUMPUR LAPINDO

V m (1) dengan: =densitas beton berpori, g/cm3 m= massa beton berpori, g V= Volume beton , cm3 , Volume beton dapat di tentukan dengan mengukur dimensi sampel beton berpori yang bebentuk kubus. Sedangkan sifat mekanik dari beton juga banyak sekali macamnya , salah satunya adalah kekuatan tekan atau compressive strength. Nilai kekuatan tekan beton dapat dihitung dengan persamaan sebagai berikut : AP KuatTekan/ ........................................................................................ (2) dengan: P= Gaya penekan, kgf A= Luas penampang searah dengan gaya Preparasi pembuatan sample beton berpori dan komposisi campuran bahan baku diperlihatkan untuk pembuatan beton berpori, pertama ditimbang masingmasing bahan baku sesuai dengan komposisi seperti tabel 2. Setelah ditimbang, kemudian ketiga bahan baku tersebut dicampur dalam suatu wadah plastik, dengan diaduk menggunakan sendok semen, kemudian tambahkan air, dimana jumlah air yang digunakan sesuai dengan perbandingan berat air : semen = 0,8. Tabel 2. Komposisi Pencampuran Bahan Baku Semen Pasir Bangka Abu Terbang CaCO3 Katalis

(% berat dari total bahan baku) 25 25 25 25 25 25 25 60 50 40 30 20 10 0 0 10 20 30 40 50 60 15 15 15 15 15 15 15 1 1 1 1 1 1 1

23

KAJIAN POTENSI LIMBAH BATUBARA UNTUK CAMPURAN PEMBUATAN BATU BATA DENGAN BAHAN DASAR LUMPUR LAPINDO

Kemudian adonan diaduk hingga merata dan homogen, Selanjutnya adonan yang dihasilkan dituangkan dalam cetakan yang terbuat dari besi dengan ukuran: 16 x 4 x 4 cm. Setelah adonan dicetak kemudian dikeringkan diudara terbuka selama satu hari kemudian dilepaskan dari cetakan. 4.3. Wacana Prosedur Teknis Pengelolaan Limbah Pengelolaan limbah batubara dalam bentuk fly ash maupun bottom ash sebagai bahan baku campuran pembuatan batu bata dengan bahan dasar lumpur Lapindo membutuhkan prosedur teknis pelaksanaan yang dapat mengatur kinerja secara berkesinambungan diharapkan memenuhi beberapa prinsip dasar prosedur pengelolaan sebagai berikut: a. Adanya jaminan dari pengelola industri batu bata akan keberlanjutan prosedur teknis pembuangan limbah batubara ke lahan penumpukan limbah batubara sebagai material (bahan baku) campuran pembuatan batu bata bersama lumpur Lapindo; yang lokasinya diharapkan berada di sekitar pabrik dengan akses jalan yang mudah ditempuh oleh kendaraan berat. b. Dukungan analisa kelayakan ekonomis yang menjamin tidak adanya biaya tambahan karena akan membebani biaya produksi. Apabila biaya pembuangan lebih rendah dari biaya yang selama ini dikeluarkan, maka wacana prosedur teknis pengelolaan limbah batubara bersama lumpur lapindo tersebut diyakini akan dapat berjalan dengan baik. c. Adanya fasilitasi dari Pemerintah berupa sinergi kerjasama yang saling menguntungkan secara ekonomi dalam pengelolaan tersebut. Oleh karena itu, wacana dibentuknya suatu unit kerja khusus yang bertugas menangani pengadaan limbah batubara serta unit kerja khusus yang menangani masalah pemasaran hasil merupakan bagian yang penting. d. Adanya jaminan keberlanjutan pengelolaan; meskipun potensi bahan baku baik lumpur lapindo dalam jumlah yang sangat besar (pemanfaatan seluruh lumpur yang ada diperkirakan mencapai puluhan bahkan ratusan tahun ke depan) dan potensi limbah batu bara juga sangat besar dari hasil sisa pembakaran industri-industri tersebut; maka diperlukan suatu Peraturan Pemerintah yang dapat memberikan payung hukum sinergi pengelolaan lumpur lapindo dengan memanfaatkan limbah batubara. 24

KAJIAN POTENSI LIMBAH BATUBARA UNTUK CAMPURAN PEMBUATAN BATU BATA DENGAN BAHAN DASAR LUMPUR LAPINDO

4.4. Sinergi Bersama Industri Batu Bata Berbahan Dasar Lumpur Lapindo Akibat dari proses penanganan dan pembuangan lumpur tersebut, maka lahanlahan yang ada di wilayah terdampak dan sekitarnya harus menanggung akibat sebagai berikut: Tidak dapat digunakan lagi untuk lahan pertanian Amblesnya permukaan tanah akibat tekanan lumpur Tidak dapat digunakan untuk tambak dan kegiatan perikanan Dapat menimbulkan lahan kritis di daerah tersebut pasca genangan lumpur Mengganggu fungsi tanah sebagai ruang infrastruktur Krisis sosial akibat tidak berfungsinya lahan sebagaimana mestinya Sedimentasi dasar kali porong yang berakibat pada ancaman terjadinya banjir di musim penghujan. Pengelolaan limbah batubara menjadi batu bata dengan bahan dasar lumpur Lapindo membutuhkan kesamaan persepsi dan konsep dasar pemikiran antara para pengelola industri yang menghasilkan limbah batubara dengan pengelola industri batu bata dengan bahan dasar lumpur Lapindo. Kesamaan persepsi dan konsep dasar pemikiran tersebut diharapkan oleh semua pihak dapat tertuang dalam sinergi konkret berupa draft kerjasama (Memorandum of

Understanding/MoU) yang melibatkan seluruh stake holder.

25

KAJIAN POTENSI LIMBAH BATUBARA UNTUK CAMPURAN PEMBUATAN BATU BATA DENGAN BAHAN DASAR LUMPUR LAPINDO

BAB 5 KESIMPULAN DAN REKOMENDASI


5.1. Kesimpulan Potensi limbah batubara dari wilayah kajian di kabupaten Gresik, kabupaten Sidoarjo, kabupaten Mojokerto dan kabupaten Pasuruan untuk bahan campuran dalam pembuatan batu bata dengan bahan dasar lumpur lapindo cukup tersedia dalam jumlah yang sangat besar. Pengambilan abu terbang (fly ash) adalah dengan memasukkan ke Elektrostatik Presipitator dalam kondisi kering untuk meminimalisir terjadinya pencemaran lingkungan. Pemanfaatan limbah batubara membantu industri-industri pemakai batubara yang diuntungkan dengan dipakainya limbah batubara sebagai bahan baku pencampur batubata sehingga dapat menghemat biaya pembuangan, mencegah kerusakan lingkungan, meminimalisir pencemaran dan bahaya kesehatan serta memberikan nilai tambah secara ekonomis dalam jangka panjang. Limbah batubara saat ini merupakan potensi yang dimasa depan mempunyai nilai ekonomis dengan cara merubah sifat fisik dan kimianya menjadi adsorben yang lebih baik. Oleh karena itu, upaya Pemerintah dalam membuat industri batu bata berbahan dasar lumpur lapindo yang memanfaatkan limbah batubara sebagai campuran mendapat sambutan positif dari masyarakat dan dunia usaha, terbukti dengan kesungguhan adanya komitmen untuk memberikan limbah batubara dengan prosedur teknis yang mudah dan sederhana hingga komitmen kesediaan untuk ikut serta dalam proses pemasarannya agar terjamin keberlanjutan usaha tersebut. 5.2. Rekomendasi Perlu adanya tindak lanjut mengenai diversifikasi produk olahan yang memanfaatkan limbah batubara dan lumpur lapindo agar dapat memberikan

26

KAJIAN POTENSI LIMBAH BATUBARA UNTUK CAMPURAN PEMBUATAN BATU BATA DENGAN BAHAN DASAR LUMPUR LAPINDO

pilihan bentuk produk yang lebih banyak ke masyarakat sekaligus menunjang pengembangan industri bahan bangunan tersebut. Perlu kajian lebih mendalam mengenai aspek kesehatan lingkungan, potensi cemaran dan resiko bahaya limbah B3 dalam bentuk bahan bangunan (batu bata) yang berasal dari bahan baku campuran antara lumpur lapindo dengan limbah batu bara. Perlunya tindak lanjut kajian yang lebih mendalam mengenai aspek ekonomis, hukum dan sosial yang terkait dengan prosedur teknis pekerjaan pembuangan limbah batubara yang bersinergi dengan industri penghasil bahan bangunan dengan bahan dasar lumpur lapindo.

27

KAJIAN POTENSI LIMBAH BATUBARA UNTUK CAMPURAN PEMBUATAN BATU BATA DENGAN BAHAN DASAR LUMPUR LAPINDO

Referensi : S.Wang H. Wu,H. Journal of Hazardous Materials (2006) Indonesia Power, PLTU Suralaya, (2002) Putu Astari Melati, Utilization of fly ash from power plant for removal of dyes, (2005) Yoga Pratama, HeriT. Putranto, Coal fly ash conversion to zeolite for removal of chromium and nickel from waste waters, (2007) B. Bayat, Journal of Hazardous Materials, vol. 95(3)275-290, (2002) X.Querol, et al, Int. J.Coal Geol. 50, 413-423. (2003)

28