P. 1
MODUL PPh PASAL 21

MODUL PPh PASAL 21

|Views: 4,006|Likes:
Dipublikasikan oleh marceile
teknik perhitungan pph pasal 21
teknik perhitungan pph pasal 21

More info:

Published by: marceile on Nov 19, 2011
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

10/08/2015

pdf

text

original

PRISMA UTAMA CONSULTANT

2010
MODUL
PPh PASAL 21/26 &
eSPT PPh Pasal 21
SERI PERPAJAKAN
Ivan Christian K, S.E., M.M.
J L . J U P I T E R U T A M A N O . 1 0 B A N D U N G 4 0 2 8 6
MODUL PPH PASAL 21/26 & ESPT PPH PASAL 21
November
23, 2010

2

PENGERTIAN PPh PASAL 21
PPh pasal 21 adalah pajak atas penghasilan sehubungan dengan pekerjaan, jasa, atau kegiatan dengann
nama dan dalam bentuk apa pun yang diterima atau diperoleh Wajib Pajak orang pribadi dalam negeri.
(UU No. 36 Tahun 2008 Pasal 21)

PPh PASAL 21/26
PENGERTIAN
PEMOTONGAN PAJAK PENGHASILAN
[OLEH PEMBERI KERJA]
ATAS
 GAJI/ UPAH/ TUNJANGAN/ HONORARIUM ATAU
 PEMBAYARAN LAINN DENGAN NAMA DAN DALAM
BENTUK APAPUN
YANG
BERSUMBER DARI INDONESIA
SEHUBUNGAN DENGAN:
PEKERJAAN/ JABATAN, ATAS KEGIATAN
YANG
DITERIMA OLEH WAJIB PAJAK ORANG PRIBADI
STATUS STATUS
WP OP DALAM NEGERI
TERMASUK BUT
WP OP LUAR NEGERI
SELAIN BUT
PPh PASAL 21 PPh PASAL 26
MODUL PPH PASAL 21/26 & ESPT PPH PASAL 21
November
23, 2010

3

DASAR HUKUM
NO. JENIS PERATURAN TENTANG
I. UNDANG-UNDANG
UU. No. 36 Tahun 2008 UNDANG- UNDANG PAJAK
PENGHASILAN
II. PERATURAN MENTERI KEUANGAN
1. PMK No. 252 / PMK. 03/2008 PETUNJUK PELAKSANAAN
PEMOTONGAN PAJAK ATAS
PENGHASILAN SEHUBUNGAN
DENGAN PEKERJAAN, JASA, DAN
KEGIATAN ORANG PRIBADI
2. PMK No. 250/ PMK. 03/2008 BESARNYA BIAYA JABATAN ATAU
BIAYA PENSIUN YANG DAPAT
DIKURANGKAN DARI PENGHASILAN
BRUTO PEGAWAI TETAP ATAU
PENSIUNAN
PMK No. 254/ PMK. 03/2008 PENETAPAN BAGIAN PENGHASILAN
SEHUBUNCAN DENGAN PEKERJAAN
DARI
PEGAWAI HARIAN DAN MINGGUAN
SERTA PEGAWAI TIDAK TETAP
LAINNYA YANG TIDAK DIKENAKAN
PEMOTONGAN PAJAK
PENGHASILAN
PMK No. 154/ PMK. 03/2009
BEASISWA YANG DIKECUALIKAN DARI
OBJEK PAJAK PENGHASILAN
PMK No.

III PERATURAN DIRJEN. PAJAK
1. PER – 57/PJ/2009 PEDOMAN TEKNIS TATA CARA
PEMOTONGAN, PENYETORAN DAN
PELAPORAN PAJAK PENGHASILAN
PASAL 21 DAN/ATAU PAJAK
PENGHASILAN PASAL 26
SEHUBUNGAN DENGAN PEKERJAAN,
JASA, DAN KEGIATAN ORANG
PRIBADI


PEMOTONG PPh PASAL 21
Berdasarkan PMK No. 252/PMK.03/2008 Pasal 2 yang dikategorikan pemotong PPh Pasal 21 yaitu:
a. pemberi kerja yang terdiri dari orang pribadi dan badan, baik merupakan pusat maupun cabang,
perwakilan atau unit yang membayar gaji, upah, honorarium, tunjangan, dan pembayaran lain dengan
MODUL PPH PASAL 21/26 & ESPT PPH PASAL 21
November
23, 2010

4

nama dan dalam bentuk apapun, sebagai imbalan sehubungan dengan pekerjaan atau jasa yang
dilakukan oleh pegawai atau bukan pegawai;
b. bendahara atau pemegang kas pemerintah termasuk bendahara atau pemegang kas kepada
Pemerintah Pusat termasuk institusi TNI/POLRI, Pemerintah Daerah, instansi atau lembaga
pemerintah, lembaga-lembaga negara lainnya, dan Kedutaan Besar Republik Indonesia di luar negeri,
yang membayarkan gaji, upah, honorarium, tunjangan, dan pembayaran lain dengan nama dan dalam
bentuk apapun sehubungan dengan pekerjaan atau jabatan, jasa, dan kegiatan;
c. dana pensiun, badan penyelenggara jaminan sosial tenaga kerja, dan badan-badan lain yang
membayar uang pensiun dan tunjangan hari tua atau jaminan hari tua;
d. orang pribadi yang melakukan kegiatan usaha atau pekerjaan bebas serta badan yang membayar :
1. honorarium atau pembayaran lain sebagai imbalan sehubungan dengan jasa dan/atau kegiatan
yang dilakukan oleh orang pribadi dengan status Subjek Pajak dalam negeri, termasuk jasa tenaga
ahli yang melakukan pekerjaan bebas dan bertindak untuk dan atas namanya sendiri, bukan untuk
dan atas nama persekutuannya.
2. honorarium atau pembayaran lain sebagai imbalan sehubungan dengan kegiatan dan jasa yang
dilakukan oleh orang pribadi dengan status Subjek Pajak luar negeri;
3. honorarium atau imbalan lain kepada peserta pendidikan, pelatihan, dan magang;
e. penyelenggara kegiatan, termasuk badan pemerintah, organisasi yang bersifat nasional dan
internasional, perkumpulan, orang pribadi serta lembaga lainnya yang menyelenggarakan kegiatan,
yang membayar honorarium, hadiah, atau penghargaan dalam bentuk apapun kepada Wajib pajak
orang pribadi dalam negeri berkenaan dengan suatu kegiatan.
DIKECUALIKAN DARI PEMOTONG PPh PASAL 21
Tidak termasuk sebagai pemberi kerja yang mempunyai kewajiban untuk melakukan pemotongan pajak:
a. kantor perwakilan Negara asing;
b. organisasi-organisasi internasional sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (1) huruf c Undang-
Undang Pajak Penghasilan, yang telah ditetapkan oleh Menteri Keuangan;
c. pemberi kerja orang pribadi yang tidak melakukan kegiatan usaha atau pekerjaan bebas yang semata-
mata mempekerjakan orang pribadi untuk melakukan pekerjaan rumah tangga atau pekerjaan bukan
dalam rangka melakukan kegiatan usaha atau pekerjaan bebas.
KEWAJIBAN PEMOTONG PAJAK
1. Pemotong PPh Pasal 21 dan/atau PPh Pasal 26 dan Penerima Penghasilan yang Dipotong PPh Pasal 21
wajib mendaftarkan diri ke Kantor Pelayanan Pajak sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
2. Pegawai, Penerima pensiun berkala, serta bukan pegawai wajib membuat surat pernyataan yang berisi
jumlah tanggungan keluarga pada awal tahun kalender atau pada saat mulai menjadi Subjek Pajak
dalam negeri sebagai dasar penentuan PTKP dan wajib menyerahkannya kepada Pemotong Pajak pada
saat mulai bekerja atau mulai pensiun.
MODUL PPH PASAL 21/26 & ESPT PPH PASAL 21
November
23, 2010

5

3. Perubahan tanggungan keluarga pegawai, penerima pensiun berkala dan bukan pegawai, wajib
membuat surat pernyataan baru dan menyerahkannya kepada Pemotong PPh Pasal 21 dan/atau PPh
Pasal 26 paling lama sebelum mulai tahun kalender berikutnya.
4. Pemotong PPh Pasal 21 dan/atau PPh Pasal 26 wajib menghitung, memotong, menyetorkan dan
melaporkan PPh Pasal 21 dan/atau PPh Pasal 26 yang terutang untuk setiap bulan kalender.
5. Pemotong PPh Pasal 21 dan/atau PPh 26 wajib membuat catatan atau kertas kerja perhitungan PPh
Pasal 21 dan/atau PPh Pasal 26 untuk masing-masing penerima penghasilan, yang menjadi dasar
pelaporan PPh Pasal 21 dan/atau PPh Pasal 26 yang terutang untuk setiap masa pajak dan wajib
menyimpan catatan atau kertas kerja perhitungan tersebut sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
6. Ketentuan mengenai kewajiban untuk melaporkan pemotongan PPh Pasal 21 dan/atau PPh Pasal 26
untuk setiap bulan kalender tetap berlaku, dalam hal jumlah pajak yang dipotong pada bulan yang
bersangkutan nihil.
7. Dalam hal dalam suatu bulan terjadi kelebihan penyetoran pajak atas PPh Pasal 21 dan/atau PPh Pasal
26 yang terutang, kelebihan penyetoran tersebut dapat diperhitungkan dengan PPh Pasal 21 dan/atau
PPh Pasal 26 yang terutang pada bulan berikutnya melalui Surat Pemberitahuan Masa PPh Pasal 21
dan/atau PPh Pasal 26.
8. Pemotong PPh Pasal 21 dan/atau PPh Pasal 26 wajib membuat bukti pemotongan PPh Pasal 21
dan/atau PPh Pasal 26 dan memberikan bukti pemotongan tersebut kepada penerima penghasilan
yang dipotong pajak.
9. Bentuk formulir pemotongan PPh Pasal 21 dan/atau PPh Pasal 26 ditetapkan dengan Peraturan
Direktur Jenderal Pajak.
SUBJEK PAJAK PPh PASAL 21
a. pegawai;
b. penerima uang pesangon, pensiun atau uang manfaat pensiun, tunjangan hari tua, atau jaminan hari tua,
termasuk ahli warisnya;
c. bukan pegawai yang menerima atau memperoleh penghasilan sehubungan dengan pekerjaan, jasa, atau
kegiatan, antara lain meliputi :
1. tenaga ahli yang melakukan pekerjaan bebas, yang terdiri dari pengacara, akuntan, arsitek, dokter,
konsultan, notaris, penilai, dan aktuaris;
2. pemain musik, pembawa acara, penyanyi, pelawak, bintang film, bintang sinetron, bintang iklan,
sutradara, kru film, foto model, peragawan/peragawati, pemain drama, penari, pemahat, pelukis, dan
seniman lainnya;
3. olahragawan
4. penasihat, pengajar, pelatih, penceramah, penyuluh, dan moderator;
5. pengarang, peneliti, dan penerjemah;
6. pemberi jasa dalam segala bidang termasuk teknik komputer dan sistem aplikasinya, telekomunikasi,
elektronika, fotografi, ekonomi, dan sosial serta pemberi jasa kepada suatu kepanitiaan;
7. agen iklan;
8. pengawas atau pengelola proyek;
MODUL PPH PASAL 21/26 & ESPT PPH PASAL 21
November
23, 2010

6

9. pembawa pesanan atau yang menemukan langganan atau yang menjadi perantara;
10. petugas penjaja barang dagangan;
11. petugas dinas luar asuransi;
12. distributor perusahaan multilevel marketing atau direct selling dan kegiatan sejenis lainnya;
d. peserta kegiatan yang menerima atau memperoleh penghasilan sehubungan dengan keikutsertaannya
dalam suatu kegiatan, antara lain meliputi :
1. peserta perlombaan dalam segala bidang, antara lain perlombaan olahraga, seni,
2. ketangkasan, ilmu pengetahuan, teknologi dan perlombaan lainnya;
3. Peserta rapat, konferensi, sidang, pertemuan, atau kunjungan kerja;
4. peserta atau anggota dalam suatu kepanitiaan sebagai penyelenggara kegiatan tertentu;
5. peserta pendidikan, pelatihan, dan magang;
6. peserta kegiatan lainnya.
TIDAK TERMASUK SUBJEK PPh PASAL 21
a. Pejabat perwakilan diplomatik dan konsulat atau pejabat lain dari negara asing, dan orang-orang yang
diperbantukan kepada mereka yang bekerja pada dan bertempat tinggal bersama mereka, dengan
syarat bukan warga negara Indonesia dan di Indonesia tidak menerima atau memperoleh penghasilan
lain di luar jabatan atau pekerjaannya tersebut, serta Negara yang bersangkutan memberikan
perlakuan timbal balik;
b. Pejabat perwakilan organisasi internasional sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (1) huruf c
Undang-Undang Pajak Penghasilan, yang telah ditetapkan oleh Menteri Keuangan, dengan syarat
bukan warga Negara Indonesia dan tidak menjalankan usaha atau kegiatan atau pekerjaan lain untuk
memperoleh penghasilan dari Indonesia.
OBJEK PAJAK PPh PASAL 21
Penghasilan yang dipotong PPh Pasal 21 dan/atau PPh Pasal 26 adalah:
a. penghasilan yang diterima atau diperoleh Pegawai tetap, baik berupa penghasilan yang bersifat teratur
maupun tidak teratur;
b. penghasilan yang diterima atau diperoleh Penerima pensiun secara teratur berupa uang pensiun atau
penghasilan sejenisnya;
c. penghasilan sehubungan dengan pemutusan hubungan kerja dan penghasilan sehubungan dengan
pensiun yang diterima secara sekaligus berupa uang pesangon, uang manfaat pensiun, tunjangan hari
tua atau jaminan hari tua, dan pembayaran lain sejenis;
d. penghasilan pegawai tidak tetap atau tenaga kerja lepas, berupa upah harian, upah mingguan, upah
satuan, upah borongan atau upah yang dibayarkan secara bulanan;
e. imbalan kepada bukan pegawai, antara lain berupa honorarium, komisi, fee, dan imbalan sehubungan
dengan pekerjaan, jasa, dan kegiatan yang dilakukan;
f. imbalan kepada peserta kegiatan, antara lain berupa uang saku, uang representasi, uang rapat,
honorarium, hadiah atau penghargaan dengan nama dan dalam bentuk apapun, dan imbalan sejenis
dengan nama apapun.
MODUL PPH PASAL 21/26 & ESPT PPH PASAL 21
November
23, 2010

7

Penghasilan yang dipotong PPh Pasal 21 dan/atau PPh Pasal 26 sebagaimana dimaksud diatas termasuk pula
penerimaan dalam bentuk natura dan/atau kenikmatan lainnya dengan nama dan dalam bentuk apapun yang
diberikan oleh:
a. bukan Wajib pajak;
b. Wajib Pajak yang dikenakan Pajak Penghasilan yang bersifat final; atau
c. Wajib Pajak yang dikenakan Pajak Penghasilan berdasarkan norma penghitungan khusus (deemed
profit).
Penghasilan yang diterima atau diperoleh orang pribadi Subjek Pajak dalam negeri merupakan penghasilan
yang dipotong PPh Pasal 21. Apabila diterima atau diperoleh orang pribadi Subjek Pajak luar negeri merupakan
penghasilan yang dipotong PPh Pasal 26.
Penghitungan PPh Pasal 21 dan/atau PPh Pasal 26 atas penghasilan berupa penerimaan dalam bentuk natura
dan/atau kenikmatan lainnya sebagaimana ……………..didasarkan pada harga pasar atas barang yang diberikan
atau nilai wajar atas pemberian kenikmatan yang diberikan.
Dalam hal penghasilan sebagaimana diterima atau diperoleh dalam mata uang asing, penghitungan PPh Pasal
21 dan atau PPh Pasal 26 didasarkan pada nilai tukar (kurs) yang ditetapkan oleh Menteri Keuangan yang
berlaku pada saat pembayaran penghasilan tersebut atau pada saat dibebankan sebagai biaya.
TIDAK TERMASUK OBJEK PPh PASAL 21
Tidak termasuk dalam pengertian penghasilan yang dipotong PPh Pasal 21 adalah:
1. Pembayaran manfaat atau santunan asuransi dari perusahaan asuransi sehubungan dengan asuransi
kesehatan, asuransi kecelakaan, asuransi jiwa, asuransi dwiguna, dan asuransi bea siswa;
2. Penerimaan dalam bentuk natura dan/atau kenikmatan dalam bentuk apapun diberikan oleh Wajib
Pajak atau Pemerintah,
3. Iuran pensiun yang dibayarkan kepada dana pensiun yang pendiriannya telah disahkan oleh Menteri
Keuangan, iuran tunjangan hari tua atau iuran jaminan hari tua kepada badan penyelenggara tunjangan
hari tua atau badan penyelenggara jaminan sosial tenaga kerja yang dibayar oleh pemberi kerja;
4. Zakat yang diterima oleh orang pribadi yang berhak dari badan atau lembaga amal zakat yang
dibentuk atau disahkan oleh Pemerintah, atau sumbangan keagamaan yang sifatnya wajib bagi
pemeluk agama yang diakui di Indonesia yang diterima oleh orang pribadi yang berhak dari lembaga
keagamaan yang dibentuk atau disahkan oleh Pemerintah;
5. Beasiswa.
a) Atas penghasilan berupa beasiswa yang diterima atau diperoleh Warga Negara Indonesia dari
Wajib Pajak pemberi beasiswa dalam rangka mengikuti pendidikan formal dan/atau pendididikan
nonformal yang dilaksanakan di dalam negeri dan/atau di luar negeri dikecualikan dari objek Pajak
Penghasilan.
b) Pendidikan formal sebagaimana dimaksud adalah jalur pendidikan yang terstruktur dan berjenjang
yang terdiri atas tingkat pendidikan dasar, pendidikan menengah, dan pendidikan tinggi.
c) Pendidikan nonformal adalah jalur pendidikan di luar pendidikan formal yang dapat dilaksanakan
secara terstruktur dan berjenjang.
d) tidak berlaku apabila penerima beasiswa mempunyai hubungan istimewa dengan :
 Pemilik;
MODUL PPH PASAL 21/26 & ESPT PPH PASAL 21
November
23, 2010

8

 Komisaris;
 Direksi; atau
 Pengurus,
6. Pajak Penghasilan yang ditanggung oleh pemberi kerja, termasuk yang ditanggung oleh Pemerintah,
merupakan penerimaan dalam bentuk kenikmatan.



































MODUL PPH PASAL 21/26 & ESPT PPH PASAL 21
November
23, 2010

9

BAGAN PRINSIP DASAR PEMOTONGAN PPh PASAL 21

MODUL PPH PASAL 21/26 & ESPT PPH PASAL 21
November
23, 2010

10

SIFAT PEMOTONGAN PPh PASAL 21/26

CARA MENGHITUNG PPh PASAL 21/26
Cara perhitungan PPh pasal 21 pada dasarnya sama dengan cara perhitungan Pajak Penghasilan pada
umumnya. Namun, dalam menghitung PajakPenghasilanPasal 21 bagi penerima penerima penghasilan
tertentu WP dalam negeri ada pengurang seperti PTKP (Penghasilan Tidak Kena Pajak) juga diberikan
MODUL PPH PASAL 21/26 & ESPT PPH PASAL 21
November
23, 2010

11

pengurang penghasilan lainnya berupa biaya pensiun, dan iuran pensiun.Selain itu tariff yang
diterapkan tariff yang diterapkan juga bervariasi yaitu tariff sesuai dengan Pasal 17 Undang-undang
Pajak Penghasilan atau tarif yang ditetapkan dalam perauran Pemerintah atau aturan pelaksanaan
lainnya.
Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP)

Pegawai Tetap dan Penerima Pensiun Berkala
Pengurang Penghasilan Bruto dalam menghitung PPh pasal 21
Jenis Pengurang Maksimal
Sebulan Setahun
Biaya Jabatan (5% x Penghasilan Bruto) 500.000,- 6.000.000,-
Biaya Pensiun (5% x Penghasilan Bruto) 200.000,- 2.400.000,-

Iuran yang terkait pada gaji kepada dana pension yang disetujui oleh Menteri Keuangan dan penyelenggara
Taspen serta iuran THT kepada badan penyelenggara Jamsostek kecuali penyelenggara Taspen yang dibayar oleh
pegawai.
PPh PASAL 21 PEGAWAI
Untuk menghitung PPh pasal 21 atas penghasilan pegawai tetap, dilakukan dengan cara sebagai
berikut:
1. Dihitung penghasilan netto sebulan, dengan cara mengurangi penghasilan bruto dengan biaya
jabatan, iuran pension, iuran Jaminan Hari Tua yang dibayar oleh pegawai, kemudian
disetahunkan.
2. Untuk menghitung penghasilan neto setahun adalah penghasilan neto sebulan dikalikan 12.
3. Dalam hal seorang pegawai tetap dengan kewajiban pajak subjektifnya sebagai pajak dalam
negeri sudah ada sejak awal tahun, tetapi mulai bekerja setelah bulan Januari atau berhenti
bekerja dalam tahun berjalan, maka penghasilan neto setahun dihitung dengan mengalikan
penghasilan netto sebulan dengan banyaknya bulan sejak pegawai yang bersangkutan mulai
bekerja sampai dengan bulan Desember atau sampai berhenti kerja.
4. Penghasilan netto setahun selanjutnya dikurangi dengan PTKP untuk memperoleh
Penghasilan Kena pajak tersebut, kemudian dihitung PPh pasal 21 setahun
5. Untuk memperoleh jumlah PPh Pasal 21 jumlah PPh Pasal 21 setahun dibagi dengan 12.
Status Wajib Pajak Besarnya PTKP
Sebulan Setahun
Untuk diri Wajib Pajak 1.320.000,- 15.840.000,-
Tambahan untuk Wajib Pajak Kawin 110.000,- 1.320.000,-
Tambahan untuk setiap anggota keluarga
(maksimal 3 orang)
110.000,- 1.320.000,-
MODUL PPH PASAL 21/26 & ESPT PPH PASAL 21
November
23, 2010

12

6. Untuk memperoleh jumlah PPh pasal 21 sebulan atas penghasilan kurang dari 12 bulan,
jumlah PPh pasal 21 setahun dibagi dengan banyaknya bulan pegawai yang bersangkutan
bekerja.
BAGAN PENGURANG PENGHASILAN YANG DIPERBOLEHKAN


PENERIMA PENGHASILAN PENGURANG
 BIAYA JABATAN 5% X PENGHASILAN
BRUTO MAKS. Rp. 6 JUTA/TH ATAU Rp.
500 RB/BLN
 IURAN TERKAIT DENGAN GAJI [IURAN
PENSIUN/ JHT YANG DITANGGUNG
PEGAWAI]
 PTKP
PEGAWAI TETAP
PENERIMA PENSIUN
 BIAYA PENSIUN 5% X PENGHASILAN
BRUTO MAKS. Rp. 2,4 JUTA/TH ATAU Rp.
200 RB/BLN
 PTKP
 PEGAWAI TIDAK TETAP
 PEG. HARIAN, MINGGUAN, SATUAN BORONGAN
 PEMAGANG, CALON PEGAWAI
 DISTRIBUTOR PERUSAHAAN MLM
PTKP
 PENGURANG TERSEBUT DIATAS TIDAK BERLAKU TERHADAP ORANG PRIBADI YANG
BERSTATUS SEBAGAI WP LUAR NEGERI
 BIAYA JABATAN ADALAH BIAYA UNTUK MENDAPATKAN, MENAGIH DAN MEMELIHARA
PENGHASILAN, TANPA MEMANDANG APAKAH PEGAWAI YANG BERSANGKUTAN
MEMPUNYAI JABATAN ATAU TIDAK
MODUL PPH PASAL 21/26 & ESPT PPH PASAL 21
November
23, 2010

13


Bagan Format
Penghitungan PPh Pasal 21 Bagi Pengawai Tetap











































Penghasilan Brudo:
1. Gaji Sebulan ............................................................................................ xxx
2. Tunjangan-tunjangan, termasuk tunjangan PPh ...................................... xxx
3. Premi Jaminan Kecelakaan Kerja yang dibayar pemberi kerja ............... xxx
4. Premi Jaminan Kematian yang dibayar pemberi kerja ............................
5. Penghasilan lainnya yang boleh diakui, misalnya uang pengganti
natura, dan natura yang diberikan oleh Bukan Pemotong Pajak ............. xxx
Jumlah penghasilan bruto sebulan ................................................................. xxx
Pengurangan:
1. Biaya jabatan: 5% (lima persen) dan Penghasilan Bruto,
maksimum Rp 500.000,00 sebulan .......................................................... xxx
2. Iuran pensiun kepada dana pensiun ......................................................... xxx
3. Iurang THT/JHT : x % (x persen) dati Gaji ............................................. xxx
Jumlah pengurangan terhadap penghasilan bruto .......................................... xxx
Jumlah penghasilan neto sebulan ................................................................... xxx
Penghasilan neto setahun : PN sebulan x 12 .................................................. xxx
Dikurangi PTKP setahun ............................................................................... xxx
Penghasilan Kena Pajak (PKP) ...................................................................... xxx
PPh Terutang Setahun:
Tarif umum PPh Pasal 17 x PKP setahun ................................................ xxx
PPh Pasal 21 Sebulan:
PPh terutang setahun: 12 ......................................................................... xxx
(+)
(+)
(-)
(-)
MODUL PPH PASAL 21/26 & ESPT PPH PASAL 21
November
23, 2010

14

Contoh Soal Pegawai Tetap :

Bapak Andi bekerja di PT. Gumuruh menerima gaji pokok sebulan Rp. 4.000.000,- , Tunjangan Jabatan
Rp. 1.500.000,- Tunjangan Premi JKK Rp. 60.000,- dan Tunjangan Premi Jaminan Kematian
Rp.40.000,- . Andi membayar iuran pension di dana pension yang telah disyahkan oleh Menkeu tiap
bualannya sebesar 150.000,-. Juga mendapatkan potongan dari tempat bekerjanya iuran JHT sebesar 1%
dari gaji pokok
\

Perhitungan PPh Pasal 21
Bagi Pegawai Tetap Tahun 2010

PPh Pasal 21 terutang sebulan:
Gaji Sebulan ......................................................................................... = Rp. 4.000.000,00
Tunjangan jabatan ................................................................................ = Rp. 1.500.000,00
Premi jaminan Kecelakaan Kerja ......................................................... = Rp. 60.000,00
Premi jaminan Kematian ...................................................................... = Rp. 40.000,00
Penghasilan Bruto ................................................................................. = Rp. 5.600.000,00
PENGURANGAN:
1. Biaya Jabatan:
5% x Rp5.600.000,00 ................................ = Rp 280.000,00
2. Iuran pensiun ............................................. = Rp 150.000,00
3. Iuran JHT: 1%x Rp4.000.000,00 ............... = Rp 40.000,00
= Rp 470.00000
Penghasilan Neto Sebulan .................................................................... = Rp 5.130.000,00
Penghasilan Neto Setahun: 12 x Rp5.130.000,00 ................................ = Rp 61.560.000,00
4. PTKP Setahun (K/3):
Untuk Wajib Pajak .................................... = Rp 15.840.000,00
Tambahan WP Kawin ............................... = Rp 1.320.000,00
Tanggungan 3 orang .................................. = Rp 3.960.000,00
= Rp 21.120.000,00
Penghasilan Kena Pajak Setahun ......................................................... = Rp. 40.440.000.00
PPh Pasal 21 Terutang: 5% x Rp40.440.000,00 .................................. = Rp. 2.022.000,00
PPh Pasal 21 Sebulan: Rp. 2.022.000,00: 12 ...................................... = Rp. 168.500,00

+
+
+
+
-
MODUL PPH PASAL 21/26 & ESPT PPH PASAL 21
November
23, 2010

15

PPh PASAL 21 KARYAWATI KAWIN DAN TIDAK KAWIN
Apabila karyawati kawin dan mempunyai tanggungan dan suaminya bekerja atau mempunyai penghasilan, maka
PTKP yang diakui hanya Rp. 15.840.000,- atau sama dengan status tidak kawin.
Apabila karyawati kawin dan suaminya tidak bekerja atau tidak mempunyai penghasilan maka istri mendapatkan
PTKP untuk dirinya sendiri, ditambah status kawin, dan tanggungan maksimal 3 orang. Tetapi harus dapat
dibuktikan dengan surat keterangan dari Pemerintah Daerah tempat tinggal (minimal Kantor Kecamatan)

Perhitungan PPh 21 Bagi Karyawati yang suaminya bekerja

Contoh:
Anita karyawati PT. Gumuruh menerima gaji pokok Rp. 5.000.000,-, Tunjangan berupa premi JKK Rp. 60.000,-
dan Jaminan Kematian Rp. 40.000,- . Potongan setiap bulan Iuran Pensiun Rp. 150.000,- dan Premi THT yang di
bayar oleh karyawan sebesar 1,5% dari Penghasilan Bruto

Gambar Perhitungan PPh Pasal 21 Bagi Pegawai
Karyawati Kawin dan Suami Bekerja






























Gaji Sebulan ............................................................................... = Rp. 5.000.000,00
Premi Jaminan Kecelakaan Kerja ............................................... = Rp. 60.000,00
Premi Jaminan Kematian ............................................................ = Rp 40.000,00
Jumlah Penghasilan Bruto........................................................... = Rp. 5.100.000,00
PENGURANGAN:
1. Biaya Jabatan: 5%x Rp5.100.000,00 = Rp 255.000,00
2. luran pensiun ...................................... = Rp 150.000,00
3. THT: 1,5% x Rp5.100.000,00 ............ = Rp 76.500,00
= Rp. 481.500,00
Penghasilan Neto Sebulan........................................................... = Rp. 4.618.500,00
Penghasilan Neto Setahun: 12 x Rp5. 618.500,00 ...................... = Rp. 55.422.000,00
4. PTKP Setahun (TK) ................................................................ = Rp. 15.840.000,00
Penghasilan Kena Pajak Setahun ................................................ = Rp. 39.582.000,00
PPh Pasal 21 Terutang: 5%x 39.582.000,00 ............................... = Rp. 1.979.100,00
PPh Pasal 21 Sebulan: Rp1.979.100,00: 12 ................................ = Rp. 164.925,00

+
+
+
+
MODUL PPH PASAL 21/26 & ESPT PPH PASAL 21
November
23, 2010

16

Perhitungan PPh 21 Bagi Karyawati yang suaminya tidak bekerja bekerja
Contoh:
Rina karyawati PT. Angin Gumuruh sudah kawin dan mempunyai anak 1, tetapi suaminya tidak bekerja
dan mempunyai penghasilan dibuktikan dengan surat keterangan dari camat rancasawo tempat dia
berdomisili. Rina menerima gaji pokok dari PT. Angin Gumuruh setiap bulannya Rp. 5.600.000,-
Tunjangan berupa premi JKK Rp. 60.000,- dan jaminan Kematian Rp. 40.000,- , Sedangkan, potongan
gaji oleh pemberi kerja Rp. 150.000,- iuran pension dan iuran THT 1,5 % dari penghasilan bruto.

Bagan Perhitungan PPh Pasal 21 Bagi Pegawai
Karyawati Kawin dan Suami Tidak Bekerja
ada Surat Keterangan dari Pemerintah
















Gaji Sebulan ............................................................................... = Rp. 5.600.000,00
Premi Jaminan Kecelakaan Kerja ............................................... = Rp. 60.000,00
Premi Jaminan Kematian ............................................................ = Rp 40.000,00
Jumlah Penghasilan Bruto .......................................................... = Rp. 5.700.000,00
PENGURANGAN:
1. Biaya Jabatan: 5%x Rp5.700.000,00 = Rp 285.000,00
2. Iuran pensiun ..................................... = Rp 150.000,00
3. THT: 1,5% x Rp5.600.000,00 ............ = Rp 84.000,00
= Rp. 519.000,00
Penghasilan Neto Sebulan .......................................................... = Rp. 5.181.000,00
Penghasilan Neto Setahun: 12 x Rp5.181.000,00 ....................... = Rp. 62.172.000,00
4. PTKP Setahun (K/1) ............................................................... = Rp. 18.480.000,00
Penghasilan Kena Pajak Setahun ................................................ = Rp. 43.692.000,00
PPh Pasal 21 Terutang: 5%x Rp 43.692.000,00 ......................... = Rp. 2.184.600,00
PPh Pasal 21 Sebulan: Rp2.186600,00: 12 ................................. = Rp. 182.050,00

+
+
+
+
MODUL PPH PASAL 21/26 & ESPT PPH PASAL 21
November
23, 2010

17

PPh PASAL 21 GAJI MINGGUAN, RAPEL, LEMBUR, DAN HONORARIUM PEGAWAI
TETAP
PENGHITUNGAN PPH 21 PEGAWAI TETAP DENGAN GAJI MINGGUAN
Contoh :
Bapak Riyadi bekerja pada perusahaan textile PT. Angin Ribut menerima penghasilan perminggu
Rp.1.375.000,- Di minggu keempat perusahaan membayarkan Tunjangan Premi Asuransi Kecelakaan
Kerja Rp. 60.000,- dan Asuransi Kematian Rp.40.000,- dan memototong Iuran pension sebesar
Rp.150.000,- dan iuran JHT yang dibayar Bapak Riyadi sebesar 1% dari total Penghasilan Bruto







Gaji Sebulan: 4 x Rp l .375.000,00 . .............................................. = Rp 5.500.000,00
Iuran Asuransi Kecelakaan Kerja ................................................. = Rp 60.000,00
Iuran Asuransi Kematian .............................................................. = Rp 40.000,00
Penghasilan Bruto ......................................................................... = Rp 5.600.000,00
PENGURANGAN:
1. Biaya jabatan:
5% x Rp5.600.000,00 ............................. = Rp 280.000,00
2. Iuran pensiun .......................................... = Rp 150.000,00
3. Iuran JHT: 1%x Rp 5.500.000,00 .......... = Rp 55.000,00
= Rp 485.000,00
Penghasilan Neto Sebulan ............................................................ = Rp 5.115.000,00
Penghasilan Neto Setahun: 12 x Rp5.1 15.000,00 ........................ = Rp 61.380.000,00
4. PTKP Setahun (K/3):
Untuk Waib Pajak ......................................... = Rp 15.840.000,00
Tambahan WP Kawin ................................... = Rp 1.320.000,00
Tanggungan 3 orang ..................................... = Rp 3.960.00000
= Rp 21.120.000,00
Penghasilan Kena Pajak Setahun .................................................. = Rp 40.260.000,00
PPh Pasal 21 Terutang: 5% x Rp 40.260.000,00 ........................ = Rp 2.0l3.000,00
PPh Pasal 21 Sebulan: Rp2.013.000,00: 12 .................................. = Rp 167.750,00
PPh Pasal 21 Seminggu: Rp167.750,00: 4 ................................... = Rp 41.937,50


+
+
-
+
-
MODUL PPH PASAL 21/26 & ESPT PPH PASAL 21
November
23, 2010

18


MENGHTUNG PPH PASAL 21 PEGAWAI TETAP DENGAN GAJI HARIAN
Contoh:
Bapak Suryadi bekerja di PT. Macan Tutul, dengan gaji harian sebesar Rp.186.000,00
























Gaji Sebulan: 26 x Rp 186.000,00. ................................................ = Rp 4.836.000,00
Iuran Asuransi Kecelakaan Kerja ................................................. = Rp 40.000,00
Iuran Asuransi Kematian .............................................................. = Rp 20.000,00
Penghasilan Bruto ......................................................................... = Rp 4.896.000,00
PENGURANGAN:
1. Biaya jabatan:
5% x Rp 4.896.000,00 ........................... = Rp 244.800,00
2. Iuran pensiun .......................................... = Rp 48.000,00
3. JHT: 1%x Rp 5.500.000,00 .................... = Rp 48.360,00
= Rp 341.160,00
Penghasilan Neto Sebulan ............................................................ = Rp 4.554.840,00
Penghasilan Neto Setahun: 12 x Rp 4.836.000,00 ....................... = Rp 54.658.080,00
4. PTKP Setahun (K/1):
Untuk Waib Pajak ......................................... = Rp 15.840.000,00
Tambahan WP Kawin ................................... = Rp 1.320.000,00
Tanggungan 3 orang ..................................... = Rp 3.960.00000
= Rp 18.480.000,00
Penghasilan Kena Pajak Setahun .................................................. = Rp 36.178.080,00
PPh Pasal 21 Terutang: 5% x Rp 40.260.000,00 ........................ = Rp 1.808.900,00
PPh Pasal 21 Sebulan: Rp2.013.000,00: 12 .................................. = Rp 150.742,00
PPh Pasal 21 Seminggu: Rp167.750,00: 4 ................................... = Rp 5.798,00
(+)
(+)
(+)
(+)
(-)
MODUL PPH PASAL 21/26 & ESPT PPH PASAL 21
November
23, 2010

19

PENGHITUNG PPH PASAL 21 ATAS GAJI RAPEL

Perhitungan PPh Pasal 21 atas Gaji Sebelum Kenaikan























Gaji Sebulan: 26 x Rp 186.000,00. ................................................ = Rp 4.836.000,00
Iuran Asuransi Kecelakaan Kerja ................................................. = Rp 40.000,00
Iuran Asuransi Kematian .............................................................. = Rp 20.000,00
Penghasilan Bruto ......................................................................... = Rp 4.896.000,00
PENGURANGAN:
1. Biaya jabatan:
5% x Rp 4.896.000,00 ........................... = Rp 244.800,00
2. Iuran pensiun .......................................... = Rp 48.000,00
3. JHT: 1%x Rp 5.500.000,00 .................... = Rp 48.360,00
= Rp 341.160,00
Penghasilan Neto Sebulan ............................................................ = Rp 4.554.840,00
Penghasilan Neto Setahun: 12 x Rp 4.836.000,00 ....................... = Rp 54.658.080,00
4. PTKP Setahun (K/1):
Untuk Waib Pajak ......................................... = Rp 15.840.000,00
Tambahan WP Kawin ................................... = Rp 1.320.000,00
Tanggungan 3 orang ..................................... = Rp 3.960.00000
= Rp 18.480.000,00
Penghasilan Kena Pajak Setahun .................................................. = Rp 36.178.080,00
PPh Pasal 21 Terutang: 5% x Rp 40.260.000,00 ........................ = Rp 1.808.900,00
PPh Pasal 21 Sebulan: Rp2.013.000,00: 12 .................................. = Rp 150.742,00
PPh Pasal 21 Seminggu: Rp167.750,00: 4 ................................... = Rp 5.798,00
(+)
(+)
(+)
(+)
(-)
MODUL PPH PASAL 21/26 & ESPT PPH PASAL 21
November
23, 2010

20

Penghitungan PPh Pasal 21
Bagi Pegawai atas GajiSebelum Kenaikan























Penghitungan PPh
Pasal 21 Bagi Pegawai
Atas Gaji Setelah
Gaji Sebulan .................................................................................. = Rp 4.836.000,00

PENGURANGAN:
1. Biaya jabatan:
5% x Rp 3.500.000,00 ........................... = Rp 175.000,00
2. Iuran pensiun .......................................... = Rp 100.000,00
3. JHT: 2%x Rp 3.500.000,00 .................... = Rp 70.000,00

= Rp. 345.000,00
Penghasilan Neto Sebulan ............................................................ = Rp 3.155.000,00
Penghasilan Neto Setahun:
12 x Rp 4.836.000,00 ................................................................... = Rp 37.860.000,00
4. PTKP Setahun (K/2): ................................................................. = Rp. 19.800.000,00
Penghasilan Kena Pajak Setahun .................................................. = Rp 18.060.000,00
PPh Pasal 21 Terutang: 5% x Rp 18. 060.000,00 ....................... = Rp 903.000,00
PPh Pasal 21 Sebulan: Rp 903.000,00 : 12 ................................... = Rp 75.250,00

(+)
(-)
(-)
Gaji Sebulan .................................................................................. = Rp 5.500.000,00
PENGURANGAN:
1. Biaya jabatan:
5% x Rp 3.500.000,00 ........................... = Rp 275.000,00
2. Iuran pensiun .......................................... = Rp 100.000,00
3. JHT: 2%x Rp 3.500.000,00 .................... = Rp 110.000,00

= Rp. 485.000,00
Penghasilan Neto Sebulan ............................................................ = Rp 5.015.000,00
Penghasilan Neto Setahun:
12 x Rp 5.015.000,00 ................................................................... = Rp 60.180.000,00
4. PTKP Setahun (K/2): ................................................................. = Rp. 19.800.000,00
Penghasilan Kena Pajak Setahun .................................................. = Rp 40.380.000,00
PPh Pasal 21 Terutang: 5% x Rp 40. 380.000,00 ....................... = Rp 2.019.000,00
PPh Pasal 21 Sebulan: Rp 2.019.000,00 : 12 ................................ = Rp 168.250,00

(+)
(-)
-
(
-
)
MODUL PPH PASAL 21/26 & ESPT PPH PASAL 21
November
23, 2010

21

Penghitungan PPh
Pasal 21 Bagi Pegawai
Atas Gaji Setelah Kenaikan












Gambar Perhitungan PPh Pasal 21
Atas Gaji dan Bonus Setahun
PPh Pasal 21 atas Gaji setelah kenaikan
Januari s/d Mei 2009 (Dari Gambar 6-9B)
5 x Rp. 168.250,00 . ............................................................ = Rp 5.500.000,00
PPh Pasal 21 atas Gaji setelah kenaikan
Januari s/d Mei 2005 (Dari Gambar 6-9A)
5 x Rp. 75.250,00 . .............................................................. = Rp 376.250,00
PPh atas Uang Rapel ..................................................................... = Rp. 465.000,00

(-)
(
-
)
Gaji Setahun 12 x Rp. 3.8000.000,00 ................................................... = Rp. 45.600.000,00
Premi jaminan Kecelakaan Kerja 12 x Rp. 60.000,00 .......................... = Rp. 720.000,00
Premi jaminan Kematian : 12 x Rp. 40.000,00 ..................................... = Rp. 480.000,00
Penghasilan Gaji Setahun .................................................................... = Rp. 46.800.000,00
Bonus ................................................................................................... = Rp. 50.000.000,00
PENGURANGAN:
1. Biaya Jabatan:
5% x Rp 96.800.000,00 ............................ = Rp 4.4840.000,00
2. Iuran pensiun setahun
12 x Rp. 150.000,00 ................................... = Rp. 1.800.000,00
= Rp 6.640.000,00
Penghasilan Neto Setahun ................................................................... = Rp 90.160.000,00
3. PTKP Setahun (TK/-)::
Untuk WP Sendiri ......................................................................... = Rp. 15.840.000,00
Penghasilan Kena Pajak Setahun ......................................................... = Rp. 74.320.000,00
PPh Pasal 21 Terutang :
5% x Rp 50.000.000,00 .......................... = Rp. 2.500.000,00
15% x Rp 24.320.000,00 ........................ = Rp. 3.648.000,00
PPh atas Gaji dan Bonus ...................................................................... = Rp. 6.148.000,00


(+)
(-)
(+)
(+)
(+)
MODUL PPH PASAL 21/26 & ESPT PPH PASAL 21
November
23, 2010

22

Gambar PPh Pasal 21 atas Gaji Setahun
(Penghasilan Teratur)
























Gambar Penghitungan PPh Pasal 21 atas Bonus




Gaji Setahun 12 x Rp. 3.8000.000,00 ................................................... = Rp. 45.600.000,00
Premi jaminan Kecelakaan Kerja 12 x Rp. 60.000,00 .......................... = Rp. 720.000,00
Premi jaminan Kematian : 12 x Rp. 40.000,00 ..................................... = Rp. 480.000,00
Penghasilan Gaji Setahun .................................................................... = Rp. 46.800.000,00
PENGURANGAN:
1. Biaya Jabatan:
5% x Rp 46.800.000,00 ............................ = Rp 2.340.000,00
2. Iuran pensiun setahun
12 x Rp. 150.000,00 ................................... = Rp. 1.800.000,00
= Rp 4.140.000,00
Penghasilan Neto Setahun ................................................................... = Rp 42.660.000,00
3. PTKP Setahun (TK/-)::
Untuk WP Sendiri ......................................................................... = Rp. 15.840.000,00
Penghasilan Kena Pajak Setahun ......................................................... = Rp. 26.820.000,00
PPh Pasal 21 Terutang :
5% x Rp 26.820.000.000,00 ............................................................. = Rp. 1.341.000,00


(+)
(-)
(+)
(+)
PPh atas Gaji Bonus (Perhitungan Langkah Pertama) ........................ = Rp. 6.148.000,00
PPh atas Gaji (Perhitungan Langkah Kedua) ...................................... = Rp. 1.341.000,00
PPh atas Bonus ..................................................................................... = Rp. 4.807.000,00



(-)
MODUL PPH PASAL 21/26 & ESPT PPH PASAL 21
November
23, 2010

23

MEKANISME PENGHITUNGAN KEMBALI PPh PASAL 21 TERUTANG ATAS PEGAWAI
TETAP/PENERIMA PENSIUN BULANAN

 SEBAGAI DASAR PENGISIAN FORM 1721 A1 [PEGAWAI SWASTA] ATAU FORM 1721 A2
[PEJABAT NEGARA / PNS / TNI/ POLRI] UNTUK DILAMPIRKAN DALAM SPT MASA
DESEMBER
 SEKALIGUS MERUPAKAN KOREKSI ATAS PERHITUNGAN PPh PASAL 21 MASA
SEBELUMNYA
SAAT PERHITUNGAN KEMBALI
PADA TAHUN BERJALAN DALAM
HAL :
PADA AKHIR TAHUN DALAM HAL :
 PEGAWAI TETAP BERHENTI BEKERJA
DALAM TAHUN BERJALAN
 PENERIMA PENSIUN YANG BERHENTI
MENERIMA PENSIUN DALAM TAHUN
BERJALAN
 PENGHITUNGAN KEMBALI DILAKUKAN
PADA BULAN DIMANA PEGAWAI
BERHENTI BEKERJA ATAU MENERIMA
UANG PENSIUN
HASIL PERHITUNGAN KEMBALI PPh PASAL 21 TERUTANG
DIKURANGI
PPh PASAL 21 YANG TELAH DIPOTONG / DISETOR
KURANG DIPOTONG / DISETOR
DIPOTONGKAN DARI PEMBAYARAN GAJI ATAU UANG
PENSIUN PADA BULAN DILAKUKAN PERHITUNGAN
KEMBALI
 PEGAWAI TETAP YANG BEKERJA S/D
AKHIR TAHUN TAKWIM
 PENERIMA PENSIUN S.D. AKHIR TAHUN
TAKWIM
 PERHITUNGAN KEMBALI DILAKUKAN
PALING LAMBAT 2 BULAN SETELAH
BERAKHIRNYA TAHUN PAJAK
LEBIH DIPOTONG / DISETOR
 DIPERHITUNGKAN DENGAN PPh PASAL 21 TERUTANG ATAS
GAJI/ UANG PENSIUN PADA BULAN DILAKUKAN PERHITUNGAN
KEMBALI APABILA MASIH ADA SISA DIPERHITUNGKAN DENGAN
PPh PASAL 21 PADA BULAN BERIKUTNYA
 DIKEMBALIKAN KPD PEGAWAI / PENERIMA PENSIUN APABILA
BERHENTI BEKERJA / BERHENTI MENERIMA UANG PESANGON
LEBIH
POTONG/DISETOR
DIKEMBALIKAN KPD
PEG. / PENERIMA
PENSIUN PD BULAN
DILAKUKAN
PENGHIT. KEMBALI
MODUL PPH PASAL 21/26 & ESPT PPH PASAL 21
November
23, 2010

24

PERHITUNGAN KEMBALI PPh PASAL 21 ATAS PEGAWAI TETAP YANG BERHENTI
BEKERJA DALAM TAHUN BERJALAN






JUMLAH PENGHASILAN [TERATUR ATAU TIDAK TERATUR] YANG
SEBENARNYA DITERIMA / DIPEROLEH PEGAWAI S/D SAAT BERHENTI
BEKERJA
DIKURANGI
 BIAYA JABATAN
 IURAN PENSIUN / THT / JHT YANG DIBAYAR PEGAWAI
DIKURANGI
PENGHASILAN NETO YANG DITERIMA PEGAWAI DALAM
TAHUN BERJALAN

KEWAJIBAN PAJAK SUBJEKTIF
PENUH SETAHUN
KEWAJIBAN PAJAK SUBJEKTIF
TIDAK PENUH SETAHUN

TIDAK DISETAHUNKAN DISETAHUNKAN
DIKURANGI PTKP
DIHITUNG PPh PASAL 21 TERUTANG
DIKURANGI
PPh PASAL 21 YANG TELAH DIPOTONG / DISETOR

PPh PASAL 21 YANG KURANG / LEBIH SETOR
MODUL PPH PASAL 21/26 & ESPT PPH PASAL 21
November
23, 2010

25

PERHITUNGAN KEMBALI PPh PASAL 21 BAGI PEGAWAI TETAP YANG PINDAH
BEKERJA DALAM TAHUN BERJALAN





PEMBERI KERJA SEBELUMNYA
PERHITUNGAN KEMBALI PPh PASAL
21 DALAM TH BERJALAN
PEMBERI KERJA BARU
PERHITUNGAN KEMBALI PPh PASAL
21 AKHIR TAHUN
PEG. PINDAH KARENA
DIPINDAHTUGASKAN
PEG. PINDAH KARENA
DIPINDAHTUGASKAN
PENGHASILAN NETO YG DITERIMA
PEGAWAI DALAM TAHUN TAKWIM
PENGH. NETO SELAMA MASA KERJA
DITAMBAH
PENGHASILAN NETO DARI PEMBERI
KERJA SEBELUMNYA[FORM 1721 – A1}
DISETAHUNKAN TIDAK DISETAHUNKAN PENGHASILAN NETO SETAHUN
DIKURANGI PTKP DIKURANGI PTKP
DIHITUNG PPh PASAL 21 TERUTANG DIHITUNG PPh PASAL 21 TERUTANG
DIKURANGI DIKURANGI
PPh PASAL 21 YANG
KURANG POTONG / DISETOR
PPh PASAL 21 DIPOTONG / DISETOR OLEH:
- PEMBERI KERJA SEBELUMNYA
- PEMBERI KERJA BARU

PPh PASAL 21 YANG
KURANG / LEBIH DISETOR
PPh PASAL 21 YANG
KURANG / LEBIH DISETOR
MODUL PPH PASAL 21/26 & ESPT PPH PASAL 21
November
23, 2010

26

Gambar Perhitungan PPh Pasal 21
Kantor Pusat Sebelum Dipindahtugaskan
























Pengisian Bukti Pemotongan PPh Pasal 21 (Form 1721 A1) Di Kantor Pusat




Gaji Sebulan: ................................................................................ = Rp 3.500.000,00
PENGURANGAN:
1. Biaya jabatan:
5% x Rp 3.500.000,00 ........................... = Rp 175.000,00
2. Iuran pensiun .......................................... = Rp 100.000,00
= Rp 275.000,00
Penghasilan Neto Sebulan ............................................................ = Rp 3.225.000,00
Penghasilan Neto Setahun:
12 x Rp 3.225.000,00 ............................................................ = Rp 38.700.000,00
PTKP Setahun (K/-):
- Untuk diri WP ........................................................................... = Rp. 15.840.000,00
Penghasilan Kena Pajak Setahun .................................................. = Rp. 22.860.000,00
PPh Pasal 21 Terutang Setahun :
5% x Rp. 22.860.000,00 .......................................................... = Rp. 1.143.000,00
PPh Pasal 21 Sebulan :
Rp. 1.143.000,00 : 12 .............................................................. = Rp. 95.250,00
PPh Pasal 21 Terutang Januari s/d Mei 2009:
5/12 x Rp. 1.143.000,00 .......................................................... = Rp. 476.250,00
PPh Pasal 21 yang Telah Dipotong Januari s/d
Mei 2009 : 5 Rp. 95.250,00 ..................................................... = Rp. 476.250,00
PPh Pasal 21 kurang (lebih) dipotong ........................................... = Rp. NIHIL


(+)
(-)
(-)
(-)
Gaji (Januari s/d Mei 2009) : 5 x 3.500.000,00 ........................... = Rp 17.500.000,00
PENGURANGAN:
1. Biaya jabatan:
5% x Rp 17.500.000,00 .......................... = Rp 875.000,00
2. Iuran pensiun 5 x Rp. Rp. 100.000,00 ..... = Rp 100.000,00
= Rp 1.375.000,00
Penghasilan Neto 5 bulan ............................................................. = Rp 16.125.000,00
Penghasilan Neto disetahunkan:
12/5 x Rp 16.125.000,00 ........................................................ = Rp 38.700.000,00
PTKP Setahun (K/-):
- Untuk diri WP ........................................................................... = Rp. 15.840.000,00
Penghasilan Kena Pajak Setahun .................................................. = Rp. 22.860.000,00
PPh Pasal 21 Terutang Setahun :
5% x Rp. 22.860.000,00 .......................................................... = Rp. 1.143.000,00
PPh Pasal 21 Terutang Januari s/d Mei 2009:
5/12 x Rp. 1.143.000,00 .......................................................... = Rp. 476.250,00
PPh Pasal 21 yang Telah Dipotong Januari s/d
Mei 2009 : 5 Rp. 95.250,00 ..................................................... = Rp. 476.250,00
PPh Pasal 21 kurang (lebih) dipotong ........................................... = Rp. NIHIL


(+)
(-)
(-)
(-)
MODUL PPH PASAL 21/26 & ESPT PPH PASAL 21
November
23, 2010

27

Gambar Perhitungan PPh Pasal 21
Di Kantor Cabang Yogyakarta


a. Penghasilan neto di Yogyakarta:
Gaji 4 bulan (Juni s/d September): 4 x Rp3.500.000,00 ........ = Rp 14.000.000,00
PENGURANGAN:
1. Biaya Jabatan:
5% x Rp14.000.000,00 .................... = Rp 700.000,00
2. Iuran Pensiun: 4 x Rpl 00.000,00 .... = Rp 400.000,00
= Rp 1.100.000,00
Penghasilan neto di Yogyakarta ............................................. = Rp 12.900.000,00

b. Penghasilan neto di Jakarta .................................................... = Rp 16.125.000,00
Jumlah Penghasilan Neto 9 bulan .......................................... = Rp. 29.025.000,00
Penghasilan neto disetahunkan:
12/9 x Rp29.025.000,00 ......................................................... = Rp. 38.700.000,00
PTKP Setahun: (TK/-)
- Untuk diri WP .................................................................. = Rp. 15.840.000,00
Penghasilan Kena Pajak disetahunkan ................................... = Rp. 22.860.000,00
PPh Pasal 21 disetahunkan:
5% x Rp22.860.000,00 ...................................................... = Rp. 1.143.000,00
PPh Pasal 21 terutang sebulan
Rp. l.143.000,00:12 .......................................................... = Rp. 95.250,00
PPh Pasal 21 yang terutang dan harus dipotong Januari s/d
September 2009: 9/l2 x Rp l.143.000,00 .......................... = Rp. 857.250,00
PPh Pasal 21 terutang di Jakarta sesuai
dengan Form 172l-A1 ....................................................... = Rp. 476.250,00
PPh Pasal 21 yang sudah dipotong di Yogyakarta
masa juni s.d September 2009 adalah: 4 x Rp95.250,00 .. = Rp. 381.000,00
PPh Pasal 21 kurang (lebih) dipotong ..................................... = NIHIL
(+)
(-)
(-)
(-)
(-)
MODUL PPH PASAL 21/26 & ESPT PPH PASAL 21
November
23, 2010

28

Pengisian Bukti Pemotongan PPh Pasal 21 (Form 1721 A1) di Kantor Cabang
Yogyakarta



Penghasilan neto di Yogyakarta:
Gaji 4 bulan (Juni s/d September): 4 x Rp3.500.000,00 ........ = Rp 14.000.000,00
PENGURANGAN:
1. Biaya Jabatan:
5% x Rp14.000.000,00 .................... = Rp 700.000,00
2. Iuran Pensiun: 4 x Rpl 00.000,00 .... = Rp 400.000,00
= Rp 1.100.000,00
Penghasilan neto di Yogyakarta ............................................. = Rp 12.900.000,00
Penghasilan neto di Jakarta .................................................... = Rp 16.125.000,00
Jumlah Penghasilan Neto 9 bulan .......................................... = Rp. 29.025.000,00
Penghasilan neto disetahunkan:
12/9 x Rp29.025.000,00 ..................................................... = Rp. 38.700.000,00
PTKP Setahun: (TK/-)
- Untuk diri WP .................................................................. = Rp. 15.840.000,00
Penghasilan Kena Pajak disetahunkan ................................... = Rp. 22.860.000,00
PPh Pasal 21 disetahunkan:
5% x Rp22.860.000,00 ...................................................... = Rp. 1.143.000,00
PPh Pasal 21 terutang:
9/12 x Rp. l.143.000,00 .................................................. = Rp. 857.250,00
PPh Pasal 21 telah dipotong dan dilunasi :
Di Jakarta sesuai dengan Form 1721-A1 .......................... = Rp. 476.250,00
Di Yogyakarta (4x Rp. 92.250,00) ................................... = Rp. 381.000,00
PPh Pasal 21 kurang (lebih) dipotong ..................................... = NIHIL

(+)
(-)
(-)
(-)
(-)
MODUL PPH PASAL 21/26 & ESPT PPH PASAL 21
November
23, 2010

29

Penghitungan PPh Pasal 21
Di Kantor Cabang Semarang
a. Penghasilan neto di Semarang:
Gaji 3 bulan (Oktober s/d Desember): 3 x Rp 3.500.000,00 .. = Rp 10.500.000,00
PENGURANGAN:
1. Biaya Jabatan:
5% x Rp. 10.500.000,00 .................. = Rp 525.000,00
2. Iuran Pensiun: 3 x Rp. l00.000,00 .... = Rp 300.000,00
= Rp 825.000,00
Penghasilan neto di Semarang ............................................... = Rp 9.675.000,00
b. Penghasilan neto di Jakarta .................................................... = Rp 16.125.000,00
c. Penghasilan neto di Yogjakarta .............................................. = Rp. 12.900.000,00

Jumlah Penghasilan Neto Setahun ......................................... = Rp. 38.700.000,00
PTKP Setahun: (TK/-)
- Untuk diri WP .................................................................. = Rp. 15.840.000,00
Penghasilan Kena Pajak disetahunkan ................................... = Rp. 22.860.000,00
PPh Pasal 21 disetahunkan:
5% x Rp 22.860.000,00 ..................................................... = Rp. 1.143.000,00
PPh Pasal 21 terutang di Jakarta dan Yogyakarta sesuai
Form 1721 – A1 ................................................................. = Rp. 857.250,00
PPh Pasal 21 terutang Semarang ............................................ = Rp. 285.750,00
PPh Pasal 21 kurang (lebih) dipotong .................................... = Rp. NIHIL
PPh Pasal 21 sebulan yang harus dipotong di Semarang
Rp. 285.750,00 : 3 ................................................................. = Rp. 95.250,00

(+)
(-)
(-)
(-)
(-)
MODUL PPH PASAL 21/26 & ESPT PPH PASAL 21
November
23, 2010

30

Pengisian Bukti Pemotongan PPh Pasal 21 (Form 1721 A1) Di Kantor Cabang Semarang

































a. Penghasilan neto di Semarang:
Gaji 3 bulan (Oktober s/d Desember): 3 x Rp 3.500.000,00 .. = Rp 10.500.000,00
PENGURANGAN:
1. Biaya Jabatan:
5% x Rp. 10.500.000,00 .................. = Rp 525.000,00
2. Iuran Pensiun: 3 x Rp. l00.000,00 .... = Rp 300.000,00
= Rp 825.000,00
Penghasilan neto di Semarang ................................................ = Rp 9.675.000,00
b. Penghasilan neto di Jakarta ..................................................... = Rp 16.125.000,00
c. Penghasilan neto di Yogjakarta .............................................. = Rp. 12.900.000,00

Jumlah Penghasilan Neto Setahun .......................................... = Rp. 38.700.000,00
PTKP Setahun: (TK/-)
- Untuk diri WP .................................................................. = Rp. 15.840.000,00
Penghasilan Kena Pajak disetahunkan .................................... = Rp. 22.860.000,00
PPh Pasal 21 disetahunkan:
5% x Rp 22.860.000,00 ..................................................... = Rp. 1.143.000,00
PPh Pasal 21 terutang di Jakarta dan Yogyakarta sesuai
Form 1721 – A1 .................................................................. = Rp. 857.250,00
PPh Pasal 21 terutang Semarang ............................................ = Rp. 285.750,00
PPh Pasal 21 yang harus dipotong (3 x Rp 95.250,00) ............ = Rp. 285.750,00
PPh Pasal 21 Kurang (lebih) dipotong ................................... = NIHIL

(+)
(-)
(-)
(-)
(-)
MODUL PPH PASAL 21/26 & ESPT PPH PASAL 21
November
23, 2010

31

Penghitung PPh Pasal 21 yang Kewajiban Pajak
Subjektifnya ada pada awal tahun tapi mulai
Bekerja pada pertengahan tahun























Gaji Sebulan .............................................................................. = Rp. 6.000.000,00
PENGURANGAN:
1. Biaya Jabatan:
5% x Rp 6.000.000,00 .................... = Rp 300.000,00
2. Iuran pensiun ................................... = Rp 150.000,00

= Rp. 450.000,00
Penghasilan neto sebulan .......................................................... = Rp. 5.550.000,00
Penghasilan neto setahun :
4 x Rp. 5.040.000,00 ............................................................ = Rp. 22.200.000,00
PTKP Setahun (K/-) :
- Untuk WP sendiri ................................ = Rp. 15.840.000,00
- Tambahan WP kawin .......................... = Rp. 1.320.000,00

= Rp. 17.160.000,00
Penghasilan Kena Pajak Setahun .............................................. = Rp. 5.040.000,00
PPh Pasal 21 Terutang :
5% x Rp. 5.040.000,00 ........................................................ = Rp. 252.000,00
PPh Pasal 21 Sebulan :
Rp. 252.000,00 : 4 ................................................................ = Rp. 63.000,00

(+)
(-)
(-)
(-)
MODUL PPH PASAL 21/26 & ESPT PPH PASAL 21
November
23, 2010

32

Penghitung PPh Pasal 21 yang Kewajiban Pajak
Subjektifnya seelah permulaan tahun
Pajak dan mulai bekerja pada tahun berjalan
Gaji Sebulan ......................................................................................... = Rp. 20.000.000,00
PENGURANGAN:
1. Biaya Jabatan 5% x Rp 20.000.000,00 ................................. = Rp 1.000.000,00
maksimum diperkenalkan ....................................................... = Rp. 500.000,00
Penghasilan neto bulan ............................................................... = Rp. 19.500.000,00
Penghasilan neto 4 bulan 4 x Rp.19.500.000,00 ......................... = Rp. 78.000.000,00
Penghasilan neto disetahunkan :
12/4 x Rp. 78.000.000,00 ...................................................... = Rp. 234.000.000,00
2. PTKP Setahun (K/3) :
Untuk Wajib Pajak ...................... = Rp. 15.840.000,00
Tambahan WP Kawin ................ = Rp. 1.320.000,00
Tanggungan 3 orang ................... = Rp. 3.960.000,00
= Rp. 21.120.000,00
Penghasilan Kena Pajak disetahunkan ....................................... = Rp. 212.880.000,00
PPh Pasal 21 Terutang :
5% Rp. 50.000.000,00 ................. = Rp. 2.500.000,00
15% Rp. 162.880.000,00 ............. = Rp. 24.432.000,00
= Rp. 26.932.000,00
PPh Pasal 21 Sebulan
Rp. 26.932.00,00 : 12 ........................................................... = Rp. 2.244.333,00


(-)
(+)
(-)
(+)
MODUL PPH PASAL 21/26 & ESPT PPH PASAL 21
November
23, 2010

33




























Gaji (Januari s/d Mei 2009) : 5 x 3.500.000,00 ............................ = Rp 17.500.000,00
PENGURANGAN:
1. Biaya jabatan:
5% x Rp 17.500.000,00 ......................... = Rp 875.000,00
2. Iuran pensiun 5 x Rp. Rp. 100.000,00 .... = Rp 100.000,00
= Rp 1.375.000,00
Penghasilan Neto 5 bulan .............................................................. = Rp 16.125.000,00
Penghasilan Neto disetahunkan:
12/5 x Rp 16.125.000,00 ......................................................... = Rp 38.700.000,00
PTKP Setahun (K/-):
- Untuk diri WP ............................................................................ = Rp. 15.840.000,00
Penghasilan Kena Pajak Setahun .................................................. = Rp. 22.860.000,00
PPh Pasal 21 Terutang Setahun :
5% x Rp. 22.860.000,00 .......................................................... = Rp. 1.143.000,00
PPh Pasal 21 Terutang Januari s/d Mei 2009:
5/12 x Rp. 1.143.000,00 ........................................................... = Rp. 476.250,00
PPh Pasal 21 yang Telah Dipotong Januari s/d
Mei 2009 : 5 Rp. 95.250,00 ..................................................... = Rp. 476.250,00
PPh Pasal 21 kurang (lebih) dipotong ........................................... = Rp. NIHIL


(+)
(-)
(-)
(-)
MODUL PPH PASAL 21/26 & ESPT PPH PASAL 21
November
23, 2010

34

PERHITUNGAN PPh PASAL 21 ATAS PEGAWAI HARIAN, MINGGUAN, SATUAN,
BORONGAN, DAN SEJENISNYA (UPAH DIBAYARKAN SECARA HARIAN /
MINGGUAN)

JUMLAH UPAH SEHARI ≤
Rp.150.000,- [BPTKP]
JUMLAH UPAH SEHARI >
Rp.150.000,- [BPTKP]
JUMLAH KUMULATIF UPAH DALAM 1 BLN TAKWIM TIDAK
LEBIH DARI Rp.1.500.000,-
TIDAK DIPOTONG
PPh PSL 21
DIPOTONG PPh PSL 21
MENGURANGKAN
BPTKP
DIPOTONG PPh PSL 21
MENGURANGKAN
BPTKP
JIKA JUMLAH KUMULATIF UPAH DALAM SATU BULAN
TAKWIM TELAH MELEBIHI Rp.1.500.000,-
PPh PSL 21 DIHITUNG KEMBALI [DARI JUMLAH
KUMULATIF UPAH], DENGAN MENGURANGKAN PTKP
HARIAN
PPh PSL 21
TERUTANG
TARIF 5% X [JUMLAH KUMULATIF UPAH DALAM BULAN
TAKWIM – PTKP HARIAN]
PPh PSL 21 YANG TELAH DIPOTONG/DISETOR
DIKURANGI

PPh PASAL 21 YANG KURANG DIPOTONG
MODUL PPH PASAL 21/26 & ESPT PPH PASAL 21
November
23, 2010

35

UPAH SEHARI TIDAK MELEBIHI 150.000,
Sukarna (TK/0) adalah pekerja harian di PT. Subur Makmur Bandung dengan upah Rp. 150.000,- /hari.
Pada bulan Juli 2009 Sukarna bekerja selama 15 Hari.
A. PERHITUNGAN PPh PASAL 21 TERUTANG SEHARI DARI HARI KE-1 S/D 10
Upah Sehari Rp. 150.000,-
Dikurangi BPTKP Rp. 150.000,-
Penghasilan Kena Pajak Sehari Rp. 0,-

Perhitungan ini diterapkan sampai dengan jumlah kumulatif upah yang diterima Sukarna dalam bulan
takwim mencapai Rp. 1.500.000,-
B. PERHITUNGAN PPH PASAL 21 TERUTANG SAMPAI DENGAN HARI KE-11 DAN
SETERUSNYA JUMLAH KUMULATIF UPAH DALAM SEBULAN TELAH MELEBIHI RP.
1.500.000,-

Upah 12 hari kerja (12 x Rp. 150.000,-) = Rp. 1.300.000,00
PTKP 12 Hari : 12 x (Rp. 15.840.000,- : 360)




















You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->