Anda di halaman 1dari 14

Oleh :

Ranty Putri XI IPS 1

Mengenali Perceraian Dampak Negatif Perceraian Orang Tua Terhadap Anak Cara Meminimalisir Pengaruh Negatif Akibat Perceraian

Perceraian adalah berpisahnya pasangan suami istri secara hukum, sehingga tidak lagi dalam ikatan pernikahan. Perceraian dalam keluarga itu biasanya berawal dari suatu konflik antara anggota keluarga. Bila konflik ini sampai titik kritis maka peristiwa perceraian itu berada di ambang pintu

Persoalan ekonomi Perbedaan usia yang besar Keinginan untuk memperoleh anak Perbedaan prinsip hidup Faktor eksternal

Secara umum, anak yang menjadi korban perceraian orang tua akan mengalami tekanan mental yang berat. Di lingkungannya, misalnya, dia akan merasa malu dan minder terhadap orang di sekitarnya karena kondisi orang tuanya yang bercerai. Di sekolah, disamping menjadi gunjingan teman sekitar, proses belajarnya juga terganggu karena pikirannya tidak terkonsentrasi ke pelajaran. Anak itu akan menjadi pendiam dan cenderung menjadi anak yang menyendiri serta suka melamun

Menurut Robert Hughes, Jr., Ph.D dalam buku Helping Children Understand Emotions, Layaknya orang dewasa, anak balita dapat merasakan semua jenis emosi.

Anak-anak balita belum cukup memahami arti perceraian, mereka hanya dapat merasakan bagaimana ayah-ibunya yang bertengkar terus kini tinggal terpisah.

Dampak dari perceraian orang tua bervariatif pada balita. Semuanya tergantung hubungan orang tua setelah perceraian, bagaimana keterlibatan dan kesepakatan orang tua dalam membesarkan anak, juga karakteristik anak.

Biasanya, reaksi terjadi adalah: Jadi lebih agresif Nakal Sering tidak betah Cepat marah Sensitif

emosi

yang

Namun ada juga balita yang bisa cuek saja saat ayah atau ibunya tidak lagi tinggal bersamanya. Peran orang tua dalam pengasuhan balita sangatlah penting. Jika hubungan orang tua memburuk setelah perceraian, dapat saja di kemudian hari membuat pandangan anak tentang keluarga menjadi buruk atau mengembangkan sikap negatif terhadap perkawinan.

Anak-anak pada usia sekolah memiliki pemahaman yang lebih besar dibandingkan anak usia balita. Mereka sudah mengerti apa itu perceraian, meskipun mungkin hanya mengetahui definisi dasarnya saja. Pada umumnya mereka telah mengetahui penyebab perceraian itu sendiri, tetapi memiliki sedikit perasaan takut karena perubahan situasi keluarga dan merasa cemas karena ditinggalkan salah satu orang tuanya. Kemarahan dan perasaan tak berdaya juga merupakan reaksi emosional dominan dalam kelompok usia ini. Seperti tahap-tahap perkembangan lain, anak-anak ini mengalami suatu reaksi kesedihan kehilangan keluarga mereka yang utuh sebelumnya.

Masa remaja adalah masa dimana seorang sedang mengalami saat kritis sebab ia akan menginjak ke masa dewasa. Dalam proses perkembangan yang serba sulit, labil, dan masa-masa membingungkan dirinya, remaja membutuhkan pengertian dan bantuan dari orang yang dicintai dan dekat dengannya terutama orang tua atau keluarganya.

Dalam kasus perceraian, anak pada usia remaja biasanya justru merasa ikut bersalah dan bertanggung jawab atas kejadian itu. Mereka juga merasa khawatir terhadap akibat buruk yang akan menimpa mereka, bahkan menjadi cemas dan takut tentang masa depan mereka sendiri tentang hubungan cinta dan perkawinan. Tak jarang, karena frustasi dan kurangnya perhatian dari orang tua yang dirasakan, seorang remaja akan memalingkan dunianya ke arah yang cenderung negatif untuk melampiaskan emosi dan kemelut hatinya. Misalnya mulai mencoba narkoba, rokok, miras, dan beberapa jenis kenakalan lainnya. Ia mencari perhatian dan kesenangan dari lingkungan lain, karena lingkungan keluarga dianggap tidak mampu memberikan itu semua.

Bagi Orang Tua : Mampu beradaptasi dalam pengasuhan dan suasana baru Tetap memberi perhatian dan kasih sayang kepada anak Tidak menjadikan anak sebagai pelampiasan emosi Jangan mengutamakan kehidupan sosialnya sendiri di atas kepentingan anak-anak Menanamkan ajaran agama sebagai dasar moral yang cukup bagi anak Bila memungkinkan, bersama mantan pasangan bersama-sama mendidik anak Jangan menempatkan anak di tengah-tengah konflik

Bagi Anak Berpikir positif Tidak terjebak dengan situasi dan menghakimi orangtua atau diri sendiri atas apa yang terjadi serta marah dengan keadaan ini Mencoba hal-hal baru. Untuk mengisi kekosongan dan mengusir rasa murung, tidak ada salahnya mencoba sesuatu yang baru, asal bersifat positif dan dapat membentuk karakter positif di dalam diri (contoh : hiking, rafting) Mencari tempat yang tepat untuk berbagi adalah solusi yang cukup baik bagi anak yang orang tuanya bercerai, contohnya teman, sahabat, atau mungkin juga saudara Tidak perlu panik ataupun sampai depresi menghadapinya. Walaupun berat, semua keadaan harus diterima dengan bijak

Perceraian orang tua pasti akan memiliki pengaruh pada anak, meskipun dengan kadar yang berbeda-beda tergantung pada usia dan karakter anak, serta cara pengasuhan orang tua sendiri. Secara umum, anak yang menjadi korban perceraian orang tua akan mengalami tekanan mental yang berat, misalnya jadi pemurung, sensitif, pemarah, sering menyendiri, dan suka melamun. Namun apabila perceraian dianggap merupakan satu-satunya jalan yang harus ditempuh, ada beberapa cara yang dapat ditempuh untuk meminimalisir dampak negatif akibat perceraian itu sendiri. Bagi orang tua, diantaranya adalah menyesuaikan diri dalam pengasuhan dan lingkungan baru, tidak menciptakan kondisi yang mendorong anak merasa tak diperhatikan, tidak menjadikan anak sebagai pelampiasan emosi, tidak mengutamakan kehidupan sosialnya sendiri di atas kepentingan anak-anak, menanamkan ajaran agama sebagai dasar moral yang cukup bagi anak, dan tidak menempatkan anak di tengah situasi konflik. Sedangkan bagi anak yang orang tuanya bercerai, hal-hal yang dapat dilakukan untuk meminimalisir pengaruh negatif akibat perceraian orang tua diantaranya adalah berpikir positif, tidak terjebak dengan situasi dan kondisi, mencoba hal-hal baru, mencari tempat untuk berbagi, dan tidak perlu panik atas apa yang terjadi.

Dibalik setiap peristiwa, selain ada peristiwa, dampak negatif tentu saja ada hikmah yang dapat dipetik. Kasus perceraian dipetik. bukan akhir dari segalanya. Masih banyak segalanya. yang harus dihadapi dalam kehidupan mendatang. mendatang. Pergunakanlah situasi ini sebagai sarana dan media pembelajaran guna menuju kedewasaan dan masa depan yang lebih baik. Ingat bahwa hidup baik. itu tidak sendiri dan bukanlah orang yang gagal hanya karena kasus perceraian. perceraian. Masih banyak hal positif yang dapat dilakukan serta bisa menjadi manusia yang lebih baik yang belum tentu bisa didapatkan didapatkan apabila ini semua tidak terjadi. terjadi. Mungkin saja ini merupakan sebuah jalan baru menuju pematangan sikap dan pola pikir. pikir. Sesungguhnya semua permasalahan itu memiliki solusi dan hikmah tersendiri. tersendiri.