Vulnus apertum A. Landasan Teori 1. Pengertian.

Dari beberapa reverensi yang memuat tentang vulnus laseratum di antara reverensi yanhg penulis temukan adalah: 1. Chada (1995) menyatakan ³Vulnus (luka) adalah satu keadaan dimana terputusnya kontinutas jaringan tubuh´. (p.66). 2. Mansjoer (2000) menyatakan ³Vulnus Laseratum merupakan luka terbuka yang terdiri dari akibat kekerasan tumpul yang kuat sehingga melampaui elastisitas kulit atau otot´. (p.219). 3. Vulnus Laseratum ( luka robek ) adallah luka yang terjadi akibat kekerasan benda tumpul , robekan jaringan sering diikuti kerusakan alat di dalam seperti patah tulang. (http://one.indoskripsi.com)

Vulnus Laseratum Dari pengertian di atas penulis menyimpulkan bahwa vulnus laseratum adalaah luka robek yang tidak beraturan yang terjadi akibat kekerasan benda tumpul sering diikuti alat dalam seperti patah tulang. 2. Penyebab. Chada 1995 menyatakan ³Vulnus Laseratum dapat di sebabkan oleh beberapa hal di antaranya : 1. Alat yang tumpul. 2. Jatuh ke benda tajam dan keras. 3. Kecelakaan lalu lintas dan kereta api. 4. Kecelakaan akibat kuku dan gigitan´. (p.73) 3. Anatomi dan Pathofisiologi. 1. Kulit. Price 2005 menyatakan ³Secara mikroskopis kulit terdiri dari 3 lapisan epidermis, dermis, lemak subkutan. Kulit melindungi tubuh dari trauma dan merupakan

Kulit juga merupakan tempat sensasi raba.1260). Epidermis bagian terluas kulit di bagi menjadi 2 bagian lapisan yaitu : 1) Lapisan tanduk (stratum konsum) terdiri dari lapisan sel-sel tidak ber inti dan bertanduk. Disekitar pembuluh darah yang kecil terdapat limfosit. Lapisan ini merupakan bantalan untuk kulit isolasi untuk mempertahankan daya tarik seksual pada kedua jenis kelamin´. dan retikulum yang tertanam dalam substansi dasar. sejenis sel pendukung yang di jumpai hanya dalam saraf dan yang menghimpun serta menopang sel saraf dan serabut saraf.berbagai juluran timbul (prosesus) timbul dari sel saraf. Serabut-serabut kolagen. Matrik kulit mengandung pembuluh pembuluh darah dan syaraf yang menyokong nutrisi pada epidermis. (p. Jaringan Saraf Menurut Jungviera. elastin khusus menambahkan sel-sel basal epidermis pada dermis. nyeri dan nikmat berkat jahitan ujung syaraf yang saling bertautan´.1265) 2. (p. Unsur putih serabut saraf. Lemak Subkutan Price (2005) menyatakan ³Lemak subkutan merupakan lapisan kulit ketiga yang terletak di bawah dermis. . juluran ini mengantarkan rangsangan rangsangan saraf kepada dan dari sel saraf. Otot terdiri dari serabut silindris yang mempunyai sifat sama dengan sel dari jaringan lain. c. suhu. 4. Limfosit sel masuk dan leukosit yang melindungi tubuh dari infeksi dan infeksi dan instansi benda-benda asing. 2) Lapisan dalam (stratum malfigi) merupakan asal sel permukaan bertanduk setelah mengalami proses di ferensiasi . Dermis Dermis terletak di bawah epidermis dan terdiri dari seabut-serabut kolagen elastin.benang pertahanan terhadap bakteri virus dan jamur. dimana pembagian ini dikarakteristikkan dengan jumlah jaringan yang hilang. LC (1998:p. b. ³Neuroclea. Tipe Penyembuhan luka Menurut Mansjoer (2000:p. Jaringan Otot Otot adalah jaringan yang mempunyai kemampuan khusus yaitu berkontraksi dengan sedemikian maka pergerakan terlaksana. a. b. Unsur berwarna abu-abu yang membentuk sel syaraf. Sel saraf terdiri atas protoplasma yang berbutir khusus dengan nukleus besar dan berdinding sel lainnya.semua sel di ikat menjadi berkas-berkas serabut kecil oleh sejenis jaringan ikat yang mengandung unsur kontaktil. tekan. 3. c. terdapat 3 macam tipe penyembuhan luka.Primary Intention Healing (penyembuhan luka primer) yaitu penyembuhan . Setiap sel saraf dan prosesnya di sebut neuron.157) Jaringan saraf terdiri dari 3 unsur: a.397).

Jika jaringan yang nekrosis luas maka reaksi peradangan tak di temukan di tengah jaringan yang hidup dengan sirkulasi yang utuh terjadi pada tepinya antara jaringan mati dan hidup.sek-sel yang rusak akan membentuk zat kimia sehingga akan menurunkan ambang stimulus terhadap reseptormekano sensitif dan hernosenssitif. Guiton & Hall 1997. Manifestasi Klinis Mansjoer (2000) menyatakan ³Manifestasi klinis vulnus laseratum adalah: a. (p.Secondary Intention Healing (penyembuhan luka sekunder) yaitu luka yang tidak mengalami penyembuhan primer. Pathway Modifikasi : (Chada 1995. Tampak lecet atau memer di setiap luka´. Pathofisiologi Menurut Price (2006:p. tepi luka dipertautkan (4-7 hari). jatuh. .Tertiary Intention Healing (penyembuhan luka tertier) yaitu luka yang dibiarkan terbuka selama beberapa hari setelah tindakan debridement. Setelah diyakini bersih.219) 8.762). Apabila nyeri di atas hal ini dapat mengakibatkan gangguan rasa nyaman nyeri yang berlanjut istirahat atau tidur terganggu dan terjadi ketertiban gerak. Reaksi peradangan itu sebenarnya adalah peristiwa yang di koordinasikan dengan baik yang dinamis dan kontinyu untuk menimbulkan reaksi peradangan maka jaringan harus hidup dan harus di mikrosekulasi fungsional.dalam keadaan ini ada peluang besar timbulnya infeksi yang sangat hebat. Luka ini merupakan tipe penyembuhan luka yang terakhir. Tipe ini dikarakteristikkan oleh adanya luka yang luas dan hilangnya jaringan dalam jumlah besar. Bengkak d.yang terjadi segera setelah diusahakan bertautnya tepi luka biasanya dengan jahitan. Nyeri timbul karena kulit mengalami luka infeksi sehingga terjadi kerusakan jaringan.36).reaksi peradangan akan terjadi apabila jaringan terputus. goresan. Carpenito 2000.. Pada umumnya respon tubuh terhadap trauma akan terjadi proses peradangan atau inflamasi. 6. kecelakaan sehingga kontuinitas jaringan terputus. Luka tidak teratur b. Menurut Buyton & hal (1997:p. Vulnus laserrratum terjadi akibat kekerasan benda tumpul. Luka jenis ini biasanya tetap terbuka. Proses penyembuhan terjadi lebih kompleks dan lebih lama. Jaringan rusak c. 5. Akar rambut tampak hancur atau tercabut bila kekerasanya di daerah rambut f. Price 2005) 7. . Pemeriksaan Penunjang . Doenges 2000. Pendarahan e. Penyebabnya cepat yang di sebabkan oleh mikroorganisme yang biasanya tidak berbahaya.

tinitus.tujuanya untuk mengetahui tentang infeksi yang terjadi.217) menyatakan bahwa untuk mengkaji pasien dengan vulnus laseratum di perlukan data-data sebagai berikut: 1. perubahan aktifitas. penurunan kekuatan tahanan keterbatasaan rentang gerak. Kulit panas. retensi Eliminasi urin. 7. Laju endap darah (LED) menunjukkan karakteristik infeksi. Gejala : konstipasi.hematokrit mungkin tinggi atau lengkap.a. Gula darah random memberikan petunjuk terhadap penyakit deabetus melitus B. kemerah-merahan. : pada : luka warna nyeri.pemeriksaannya melalui laboratorium. tidak bisa tidur. 5. Tanda : sangat sensitif terhadap sentuhan dan gerakan. laku dan ego kepribadian. Asuhan Keperawatan 1. 6. Nyeri / kenyamanan Gejala : nyeri pada daerah luka bila di sentuh atau di tekan. p. Gangguan rasa Diagnosa nyaman (nyeri) b/d Keperawatan diskontuinitas jaringan. Integritas Gejala : perubahan tingkah Tanda : ketakutan. b. 2. Pemeriksaan diagnostik yang perlu di lakukan terutama jenis darah lengkap. 3. . bau. Hitung darah lengkap. cemas. gelisah. d. Tanda : wajah meringis. 1. kemerahan .leukosit dapat terjadi kecenderungan dengan kehilangan sel pada lesi luka dan respon terhadap proses infeksi. nyeri pada daerah cidera . Gejala Tanda 2. lelah. Aktifitas atau istirahat Gejala : merasa lemah. Gejala : perubahan tekanan darah atau Tanda : perubahan frekwensi jantung takikardi atau bradikardi. Tanda : perubahan kesadaran. Sirkulasi normal. Sel-sel darah putih. Tanda : belum buang air besar selama 2 hari. c. gelisah. e. nyeri. kesemutan. edema. Neurosensori Gejala : vertigo. baal pada ekstremitas. respon menarik pada rangsang nyeri yang hebat. Fokus Pengkajian Doenges (2000. 4. pusing.

KH : . jaringan saraf terinfeksi oleh bakteri pathogen. diri. di sertai gangguan kesulitan keluarnya feses yang tidak lengkap atau keluarnya feses yang sangat keras dan kering. Carpenito L (2000) Gangguan rasa nyaman nyeri muncul akibat jaringan kulit . Menurut Doenges (2000:p.234) Gangguan istirahat tidur kurang dari kebutuhan b/d nyeri. tidak pucat. 3. 6. (2000:p. nafas dalam. Gangguan kebutuhan istirahat dan tidur adalah gangguan jumlah kualitas tidur. KH : ‡ pasien melaporkan reduksi nyeri dan hilangnya nyeri setelah tindakan penghilang nyeri. tidak ada lingkar hitam pada mata. ‡ Pasien rileks. petunjuk. Resiko tinggi infeksi b/d perawatan luka tidak efektif. tenang. Gangguan eliminasi BAB b/d kelemahan fisik. Gangguan mobilitas fisik b/d kelemahan otot. Gangguan integritas kulit b/d kerusakan jaringan. Tujuan : nyeri hilang / berkurang. Penggandaan zat-zat racunnya sehingga mengakibatkan perubahan neurologis yanng sangat besar. Resti kekurangan volume cairan b/d pendarahan. Intervensi ‡ Kaji ‡ Lakukan ‡ Ajarkan teknik distraksi ‡ Berikan : vital. 4. Gangguan istirahat tidur kurang dari kebutuhan b/d nyeri. Intervensi ‡ Kaji penyebab ‡ Berikan posisi ‡ Anjurkan ‡ Kolabirasi dengan keluarga : tidur. ‡ Dapat istirahat / tidur dan ikut serta dalam aktifitas sesuai kemampuan. 1.2. Menurut Doenges. / gangguan nyaman pada minum untuk menciptakan lingkungan nyeri 3. jaringan otot. tanda dann obat tada ambulasi relaksasi misalnya sesuai 2. Tujuan : gangguan istirahat tidur tetasi KH : ‡ Mengatakan peningkatan rasa segar. hangat. 3. Tujuan : tidak terjadi konstipasi. 7. 5. Fokus Intervensi Fokus intervensi di dasarkan oleh diagnosa keperawatan yang muncul pada teori.234) Gangguan eliminasi BAB / konstipasi b/d penurunan mobilitas usus aadalah suatu penurunan frekwensi defekasi yag normal pada seseorang. klien. ‡ Melaporkan perbaikan dalam pola tidur.

M (2007:p. ‡ Pantau respon pasien terhadap aktivitas. ‡ Anjurkan untuk ambulasi sesuai kemampuan. (doenges. normal. ‡ Ajarkan pemeliharaan luka secara aseptik.466) Gangguan integritas kulit b/d kerusakan jaringan.261) Resiko infeksi sekunder b/d perawatan luka tidak efektif. KH : ‡ Tidak terdapat tanda tanda infeksi lebih lanjut dengan luka bersih tidak ada pus. 2000: 930-931) 5. 6. Kerusakan integritas kulit adalah suatu kondisi individu yang mengalami perubahan dermis dan atau epidermis . ‡ Observasi tanda-tanda infeksi. Resiko infeksi adalah suatu kondisi yang beresiko mengalami peningkatan terserang organisme pathogenik. ‡ Berikan obat laksatif pelembek feses bila di perlukan. Tujuan : tidak terjadi infeksi lebih lanjut. ‡ Kemungkinan melakukan aktifitas. Menurut Doenges (2000:p. warna keadaan luka. ‡ Mendemonstrasikan teknik atau perilaku yang di ajarkan. Menurut Willson J. Intervensi : ‡ Catat adanya distensi abdomen dan auskultasi peristaltik usus. Menurut Willson J.M (2007:p. ‡ Bantu dalam aktifitas perawatan diri. perhatikan daerah sekitar luka.930-931) Gangguan mobilitas fisik b/d kelemahan otot Tujuan : mempertahankan mobilitas fisik KH : ‡ mempertahankan meningkatkan kekuatan dan fungsi atau bagian tubuh yang terkena. Intervensi : . ‡ Mencapai penyembuhan luka tepat waktu Intervensi : ‡ Kaji / catat ukuran. Tujuan : tidak terjadi gangguan integritas kulit. menetapkan pola nominal feses fungsi usus.‡ pasien mempertahankan / ‡ Konsistensi ‡ Perut tidak kembung. 4. Intervensi : ‡ Kaji kemampuan secara fungsional / luasnya kerusakan awal. KH : ‡ Bebas tanda tanda infeksi.

.J. Rencana Asuhan Keperawatan Pedoman untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien (Terjemahan).Tucker. .Chada.M. 7. . 1997. pengeluaran urine yang sesuai. 2000. Edisi 3.913) Resiko tinggi kekurangan volume cairan b/d pendarahan. . teratur. Edisi EGC: Jakarta. . Catatan Kuliah Ilmu Forensik & Teknologi (Terjemahan). Daftar Pustaka . : cairan. Kapita Selekta Kedokteran.‡ ‡ ‡ Observasi daerah kulit yang Pantau ssuhu tubuh Berikan antibiotik mengalami secara secara kerusakan.Mansjoer. Standar Keperawatan Pasien Proses Keperawatan Diagnosa dan Evaluasi (Terjemahan).Nanda. Menurut Doenges (2000 : p. EGC: Jakarta.A.S. Edisi 2.E. teratur. Buku Saku Diagnosa Keperawatan. denyut perifer. Tujuan : Volume cairan terpenuhi KH : ‡ Keseimbangan cairan yang adekuat ditandai dengan TTV yang stabil . palpasi. kulit normal. Jilid 2. membran rukosa lembab. Prima Medika: Jakarta. .J.V. EGC: Jakarta. Volume 2. indikasi. Diagnosa Keperawatan Aplikasi Pada Pediatrik Klinis. Edisi 9. (terjemahan) Edisi 6. Fisiologi Kedokteran (Terjemahan). 2006. vital. . muntah. . 2000. Medika Auskulapius FKUI: Jakarta. Edisi 7.Willson. P.Carpenito L. EGC: Jakarta. M. Widya Medika: Jakarta. 1993. 2007. Intervensi ‡ Kaji pengeluaran dan pemasukan ‡ Pantau tanda-tanda ‡ Catat munculnya mual ‡ Berikan cairan parenteral sesuai ‡ Pantau suhu kulit. 2000. turgor.M. EGC: Jakarta.Guyton & Hall. Panduan Diagnosa Keperawatan. 1998.Doenges.