Anda di halaman 1dari 15

MODUL 1 PENENTUAN SIFAT FISIK GAS

1.1

TUJUAN PERCOBAAN a. Memahami penentuan sifat-sifat fisik gas: Specific Gravity, Densitas, Viskositas dan Faktor kompresibilitas gas. b. Menentukan specific gravity gas dengan menggunakan metode efusi. c. Menentukan sifat-sifat fisik fluida gas. d. Mengetahui kegunaan parameter SG gas dalam industri perminyakan.

1.2

TEORI DASAR

Specific Gravity Gas (

Ada dua hukum tentang gas yang mendasari percobaan ini, yaitu hukum efusi/divusi dari Graham dan hukum Avogadro. Keduanya menghasilkan perbandingan waltu alir yang dapat digunakan untuk menentukan specific gravity suatu sampel gas. Hukum defusi/efusi gas dua gas pada temperatur dan tekanan yang sama berbanding terbalik dengan akar kuadrat massa jenisnya. Secara matematis dapat dinyatakan dengan:
v1 = v2 d2 d1

dimana: v d = kecepatan efusi/difusi gas = densitas gas

subscript 1 dan 2 menunjukkan gas yang berbeda. Sedangkan hukum Avogadro menyatakan bahwa pada kondisi tekanan, temperatur dan volume tertentu, massa jenis gas berbanding lurus dengan berat molekulnya, atau secara matematis dinyatakan sebagai:

d1 M = 1 d 2 M2
dimana: M = berat molekul gas

Efusi dan difusi menyangkut proses bila ada dua konsisi fisik yang berbeda dan keduanya terjadi hubungan. Gejala ini dapat terjadi karena kecenderungan untuk saling menyamakan keadaan. Penentuan specific gravity gas pada percobaan ini dilakukana dengan cara membandingkan waktu alir gas dengan udara kering. Asumsi yang digunakan adalah tekanan dan temperatur selama percobaan tetap. Difusi adalah suatu proses penyamaan keadaan-keadaan fisik secara spontan. Bila difisu menyankut zat-zat yang berbeda, maka akan menuju ke pencampuran partikel-partikel sehingga terdistribusi secara seragam. Sedangkan efusi adalah proses difusi melalui celah sempit (pori-pori), atau pada percobaan ini didefinisikan sebagai gerak partikel-partikel gas melalui suatu celah sempit (pori-pori). Dalam percobaan ini akan ditentukan specific gravity gas dengan metode efusi, sebagaimana dinyatakan dalam hukum efusi Graham, bahwa kecepatan gerak molekul gas merupakan fungsi dari konsentrasi atau massa jenis. Hal ini dapat diilustrasikan pada gambar di bawah ini: ..l.. ..l.. ..l.. (1) . . . . .l. . . . . . . . . .l. . . . . . . . . .l. . . . . (2) ..l. . . . . ..l. . . . . ..l. . . . . (3)

Pada gambar (1) dan (2) perpindahan netto melekul-molekul melalui bidang normal EF sama dengan nol, artinya jumlah molekul yang berpindah dari kiri akan sama dengan jumlah molekul dari kanan. Ini disebabkan karena konsentrasi gas sebelah kiri akan sama dengan kanan. Gambar (3) menunjukkan perpindahan netto molekul-molekul tidak sama dengan nol, karena laju perpindahan dari kiri tidak sama dengan dari kanan. Gabungan hukum Graham dan Avogadro untuk proses efusi dengan jarak yang sama diperoleh:
2 2 2 2

v1 v2

t1 t2

M2 d 2 = M1 d1

Dari persamaan di atas terlihat bahwa specific gravity gas dedefinisikan sebagai perbandingan antara berat molekul gas tersebut terhadap berat molekul udara kering pada tekanan dan temperatur yang sama.

Faktor Deviasi Gas (Z) 1. Memiliki volume dari molekul relatif dapat diabaikan dengan volume dari fluida secara menyeluruh.

Suatu gas ideal adalah fluida yang:

2. Tidak memiliki gaya tarik atau gaya tolak antar sesama molekul atau antara molekul dengan dinding dari tempat dimana gas itu berada. 3. Semua tumbukan dari molekul bersifat elastis murni, yang berarti tidak ada kehilangan energi dalam akibat tubrukan tadi. Dasar untuk menggambarkan suatu gas ideal datang dari percobaanpercobaan yang kemudian dikenal sebagai hukum-hukum gas. 1. Hukum Boyle Bahwa perubahan volume suatu gas ideal berbanding terbalik dengan tekanan pada temperatur konstan. 2. Hukum Charles Bahwa perubahan volume berbanding lurus dengan perubahan temperatur pada tekanan yang konstan. 3. Hukum Avogadro Bahwa pada kondisi tekanan dan temperatur yang sama suatu gas ideal dengan volume yang sama akan mempunyai jumlah molekul yang sama. Dari gabungan antara hukum Boyle, Charles dan Avogadro maka didapat suatu persamaan kesetimbangan:

PV = nRT
dimana: P V T n R = tekanan, psia = volume, cuft = temperatur, oR = jumlah mol gas = konstanta, dimana untuk satuan di atas harganya 10.732 psia cuft/lb mol R. Beberapa asumsi telah digunakan untuk memformulasikan persamaan gas ideal tersebut. Namun, asusmsi tersebut tidak tepat untuk gas yang berbeda pada kondisi jauh dari ideal atau standar. Untuk menanggulangi hal tersebut digunakan suatu koreksi yang dinamakan sebagai fakotr

deviasi gas (Z). Faktor deviasi gas didefinisikan sebagai perbandingan antara volume gas pada keadaan tekanan dan temperatur sebenarnya dibagi dengan volume gas pada keadaan ideal/standar.
Z = Vactual / Videal

Sehingga persamaan kesetimbangan menjadi:

PV = ZnRT
dimana untuk gas ideal harga Z = 1. Harga faktor deviasi gas tergantung dari perubahan tekanan, temperatur atau komposisi gas. Katz dan Standing telah menghasilkan grafik korelasi Z = f(Ppr, Tpr) (Gambar 1.1). Dimana:
Ppr = P / Ppc Tpr = T / Tpc

dan,
Tpc = i .Tci Ppc = i .Pci

= fraksi mol komponen i = temperatur kritis komponen ke i, oR = tekanan kritis komponen ke i, psia Tpc dan Ppc dapat ditentukan dengan menggunakan Gambar 1.2,

Tci Pci

dimana perlu diketahui terlebih dahulu harga specific gravity gas, yaitu:
g = M / 28 .97

dimana M adalah berat molekul total campuran gas dan 28.97 adalah berat molekul udara. Atau dapat juga ditentukan dengan menggunakan persamaan: Untuk gas kering: Tpc = 168 + 325 SG 12,5 SG2 Ppc = 677 +15 SG 37,5 SG2 Untuk gas basah: Tpc = 167 + 336 SG 71,5 SG2 Ppc = 706 + 51,7 SG 11,1 SG2 Grafik 1.1 memberikan hasil yang memuaskan bila gas tidak mengandung CO2 dan H2S. Untuk gas yang mengandung kedua unsur

tersebut perlu dilakukan koreksi harga Ppc dan Tpc terlebih dahulu sebelum menghitung Pr dan Tr. Koreksi tersebut adalah sebagai berikut:
T' pc = Tpc

P' pc = Ppc Tpc / T' pc + B B 2

))
)

= 120 A 0.9 A 1.6 + 15 B 0.5 B 4

dimana: B A = fraksi mol H2S = fraksi mol CO2 + B

Sehingga Tpr = T/Tpc dan Ppr = P/Ppc

Faktor Volume Formasi Gas (Bg)

Faktor volume formasi sas (Bg) didefinisikan sebagai perbandingan volume gas dalam kondisi reservoir dengan volume gas dalam kondisi permukaan:
B g = Vp,t / Vsc = ZnRT / P Z sc nRTsc / Psc

vol/vol std

Dengan menggunakan Tsc = 520 oR dan Psc = 14.7 psia serta Zsc = 1, maka persamaan faktor volume formasi gas, Bg: Bg = 0.0283 ZT/P ft3/scf atau Bg = 0.00504 ZT/P bbl/scf

Kompresibilitas Gas (Cg)

Kompresibilitas isothermal dari gas diukur dari perubahan volume per unit volume dengan perubahan tekanan dan temperatur konstan, atau dalam persamaan ditulis menjadi: C = 1/ V ( V / P ) T Untuk gas ideal:

V = nRT / P maka ( V / P ) T = nRT / P 2


sehingga:
C = P / nRT nRT / P 2 = 1/ P

Untuk gas nyata:

V = ZnRT / P
dimana Z = f(P), maka akan didapat:
C = 1 / P 1/ Z ( Z / P )

Harga ( Z/ P) dapat ditentukan dg cara analitis, yaitu:

( Z / P) = ( Z1 Z 2 ) / ( P1 P2 )
Persamaan (*) di atas dapat diubah menjadi:
C r = CP pc

dimana
C r = 1/ Ppr 1/ Z (Z / Ppr

) Tpr

Mattar telah membuat korelasi untuk menentukan CrTpr yang merupakan fungsi dari Ppr dan Tpr seperti terlihat pada Gambar 1.3 dan 1.4. Berdaarkan korelasi ini, maka harga kompresibilitas gas (Cg) dapat ditentukan.

Viskositas Gas ( g)

Viskositas adalah gesekan dalam fluida (resistance) untuk mengalir. Jika gesekan antara lapisan fluida kecil (low viscosity), gaya sharing yang ada akan mengakibatkan gradien kecepatan besar sehingga mengakibatkan fluida bergerak. Jika viskositas bertambah, maka masing-masing lapisan fluida mempunyai gaya gesek yang besar pada persinggungan lapisan, sehingga gradien kecepatan akan menurun. Viskositas dari fluida didefinisikan sebagai perbandingan shear force per unit luas dengan gradien kecepatan. Viskositas dinyatakan dengan centipoise atau mikropoise. Viskositas dari suatu gas campuran tergantung pada tekanan, temperataur dan komposisi. Carr-Kobayashi-Burrows telah menyusun grafik korelasi untuk menentukan viskositas dari gas seperti ditunjukkan oleh Gambar 1.5 dan 1.6. Kedua gambar tadi didasarkan pada hubungan:

1 = f (M, T ) = f ( , T )
/ 1 = f (Ppr , Tpr

dimana:
1

= viskositas pada tekanan 1 atm = viskositas pada tekanan > 1 atm

Dengan mengetahui harga berat molekul M dari gas atau specific gravity gas, g, serta menggunakan grafik 1.5 maka diperoleh harga 1. Harga /

diperoleh dari Gambar 1.6 bila diketahui harga Ppr dan Tpr. Densitas Gas ( g)

Densitas gas ( g) didefinisikan sebagai massa gas per satuan volume. Dari definisi ini kita dapat menggunakan persamaan keadaan untuk menghitung densitas gas pada berbagai P dan T tertentu.
g = M / V = PM / RT

Sifat fisik yang akan ditentukan pada percobaan ini adalah Specific Gravity Gas. 1.3 PAPER PENUNJANG Retograde Gas Pada penentuan specific gravity gas pada retograde gas ini akan diperkenalkan besaran-besaran baru ke dalam persamaan gas gravity, sehingga diperoleh hasil yang lebih eksak. Besaran ini terdisi dari pertambahan produksi gas, menghitung produksi dari separator tekanan rendah dan stock tank, dan korelasi untuk tekanan uap yang ekivalen dari separator liquid primer Veq telah diperbaiki. Hal baru lain adalag Gpa dan Veq, yang korelasinya telah dikembangkan untuk separator 2 dan 3 tahap sistem separator. Korelasi ini dikembangkan dengan metoda Flash Liberation dari 234 laboratorium yang menganalisa fluida. Model-model yang terbentuk dimasukkan ke grafik dengan regresi non linier. Perkiraan specific garvity reservoir yang secara khusus dikembangkan Gpa dan mengembangkan hubungan Veq ke dalam persamaan GOR Gravity. Pendahuluan Specific Gravity retograde gas dapat ditentukan dengan metoda: Mensyaratkan sampel fluida dari separator liquid primer dan gas dipenuhi dari sumur, komposisinya diperoleh dari sumur dan

A. Metoda Baru dalam Penentuan Specific Gravity Reservoir Gas untuk

ditentukan di laboratorium dan kemudian dikombinasikan ulang dengan berdasarkan GOR. Menggunakan informasi produksi lapangan dalam bentuk persamaan matematika. Analisa fluida laboratorium lebih akurat dalam penentuan SG. Bagaimanapun juga informasi produksi lapangan dapat menyediakan perkiraan yang baik. Persamaan untuk menghitung SG gas reservoir dari informasi produksi membutuhkan pengetahuan tentang separator gas, stock tank liquid production, dan SG dari fluida untuk separasi tingkat tiga, SG rata-rata produksi dari separator primer dan separator sekunder. Untuk Gpa dan Veq dari separator liquid primer diperlukan untuk menghitung SG reservoir. Maksud hubungan Gpa adalah memprediksikan produksi gas setelah separator primer sehingga produksi ini bisa digabungkan dalam persamaan untuk SG reservoir gas. Veq menghitung gas dan liquid production setelah separator primer. Hubungan Veq pertama kali ditemukan sebagai penyempurnaan dari metoda Eiters dan Cotton. SG untuk sistem tiga separator:

W = ( R11 + 4,602 o + R2 2 + R3 3 ) / ( R1 + ( 133316 o / Mo ) + R2 + R3 ) ,


(1) SG untuk sistem dua separator:

W = ( R11 + 4,602 o + R3 3 ) / ( R1 + ( 133,316 o / Mo ) + R3 )


(2) Kadang hanya separator primer gas dan liquid production yang diukur. Oleh karena itu GOR separator primer R, SG separator primer 1 dan SG stock tank liquid o harus diketahui. Variabel-variabel yang tidak diketahui adalah GOR separator sekunder gas/liquid R2, untuk sistem 3 tahap separator GOR ST, R3, SG secondary separator gas, 2 (untuk 3 tahap separator) dan SG ST gas 3. Untuk sistem separator tahap tiga Gpa didefinisikan sebagai fungsi dari separator sekunder VST gas/liquid.
G pa = R22 + R3 3

(3)

Gpa untuk dua sistem separator:


G pa = R3 3

(4)

Veq separator liquid dipakai untuk menghitung produksi ST liquid dan produksi gas dari separator sekunder, dan dari ST. Ini didefinisikan sebagai fungsi SG, dan Mo (molecular weight of ST liquid).

Veq = (133,316 o / Mo ) + R2 + R3
Untuk sistem dua separator:

(5)

Veq = (133,316 o / Mo ) + R3
(6) Penggabungan persamaan 3 dan 5 (untuk sistem tiga separator)

W = ( R11 + 4,602 o + Gpa) / ( R1 + Veq)


Perkiraan Mo dari persamaan 1 dan 2 bisa dipenuhi dengan persamaan:

(7)

Mo = 5,954 / 8.811

= 42,43 o / (1,008 o )

(8)

Pengembangan Korelasi Gpa dan Veq Korelasi Gpa dan Veq dikembangkan dengan analisis laboratorium fluid dari 234 sampel retograde gas yang dikumpulkan dari seluruh dunia. Sampel retograde gas memiliki kurang dari 13% heptana plus. Dalam setiap kondisi sampel memiliki dew point pada kondisi reservoir. Banyaknya non hidrokarbon dibatasi kurang dari 5%. Sistem tiga separator memakai fluida pada P dan T ST dan separator yang kedua ditahan konstan karena pengaruhnya terhadap Gpa dan Veq. Tekanan sekunder ditahan konstan 70 psia. Tekanan tinggi pada seperator kedua dimaksudkan agar bisa menahan laju pembentukan gas, tapi hal ini akan meningkatkan laju pembentukan gas di ST. Oleh karaena itu total gas tidak berubah. Tekanan separator primer antara 100 - 1500 psia. Temperatur separator primer, dan separator sekunder dan ST antara 60 120 oF. Untuk sistem separator tingkat dua interval tekanan 100 700 psia untuk separator primer, tekanan ST ditahan konstan 14,65 psia dan temperatur ke dua separator antara 60 - 120 oF. Aplikasi Dua aplikasi Gpa dan Veq correlation digunakan saling berhubungan pada persamaan (7), untuk menghitung SG reservoir gas yang kedua. Hubungan

Veq bisa digunakan untuk menghitung withdrawl reservoir fluid, ketika hanya produksi separator primer gas dan liquid diketahui. Kesimpulan Perkiraan yang akurat SG reservoir gas dipenuhi dengan Metoda improvisasi untuk memperkirakan SG reservoir gas bisa hubungan penambahan Gpa dan Veq. digunakan untuk memenuhi hasil yang memuaskan bagi retrograde dengan total komposisi non hidrokarbon sampai 20% mol. Hubungan Veq bisa digunakan untuk memperoleh withdrawl reservoir fluid ketika hanya diketahui produksi separator primer dan ST liquid. B. Mengitung Faktor Z untuk Gas Alam Faktor Z, untuk gas asam harus dihitung secara rutin. Saat ini gas asam menjadi sangat umum dalam industri. Dahulu tidak ada metoda perhitungan yang memuaskan. Namun sekarang tersedia tiga persamaan empiris dengan kegunaan berbeda: Metoda modefikasi Ptzer memberikan ke akuratan terbaik, tetapi Persamaan keadaan modifikasi Redlich-Kwong mendekati tidak praktis untuk penggunaan komputer. keakuratan dan sangat baik dalam penerapan komputer. Metoda grafik modifikasi Standing-Katz, kurang akurat namun mudah digunakan dan tidak memerlukan komputer. Penggunaan modifikasi ini dibatasi oleh kondisi saat data diambil. Temperatur berkisar antara 40 hingga 300 oF, tekanan 0 7000 psia dan kandungan asam (CO2 dan H2S) 80% atau kurang. Juga dalam penerapannya harus memperhatikan porsi metana dalam campuran. Campuran yang memiliki sedikit metana tidak dapat diterapkan rumus-rumus di atas karena komponen utama hidrokarbon dalam seluruh percobaan campuran. Metoda Pitzer Dalam metoda Pitzer faktor kompresibilitas dihitung dengan persamaan:
Z = Z o + Z 1

Zo dan Z1 adalah fungsi tekanan reduksi dan temperatur reduksi dan adalah faktor asentrik. Saat metoda ini digunakan untuk menghitung faktor kompresibilitas untuk campuran, sifat pseudo-critical harus ditentukan dengan aturan campuran, yaitu dengan metoda Stewart, Burjharadt dan Voo (SBV) atau dengan metoda Satter dan Campbell. Faktor koreksi untuk campuran yang mengandung CO2 dan H2S untuk menentukan sifat pseudo-critic 1, dihitung dengan:
1 = 950 h A A 3 + 9 B 2 B 2

dimana: A B = fraksi mol (CO2 + H2S) = fraksi mol H2S

h = asentrik faktor molar rata-rata dengan basis hidrocarbon dan nitrogen. Temperatur dan tekanan pseudo-critic ditentukan dengan aturan SBV, yaitu:

PTc ' = PTc


PPc ' = (PPc )(PTc ' ) / PTc

C. Pengaruh Tekanan terhadap Viskositas Gas Hidrokarbon Pengetahuan tentang viskositas gas hidrokarbon sangat diperlukan untuk mempelajari dinamik atau kelakuan aliran dari campuran hidrokarbon di dalam pipa. Aliran merupakan faktor utama di dalam daerah ilaminer. Pengaruh viskositas fluida dalam aliran ini sangat penting. Omnes dan Haas berpendapat bahwa viskositas homolog pada keadaan sama seharusnya berkorelasi. Oleh Commings, Mayland dan Eagle, teori ini dikembangkan dan diaplikasikan utnuk mempelajari pengaruh tekanan terhadap viskositas murni gas non polar. Menurut CommingsMayland - Eagle rasio viskositas merupakan fungsi dari pressure reduced dan temperature reduced, dan dapat ditulis sebagai:

/ 1 = f ( Tr Pr )
dengan: Tr
1

= viskositas gas pada Tr dan Pr = viskositas gas pada P atmosfer dan Tr =


temperatur e absolut temperatur e kritik

Pr

tekanan absolut tekanan kritik

Tetapi persamaan tersebut tidak sesuai untuk viskositas gas hidrokarbon murni pada tekanan tinggi. Commings-Maryland-Eagle memperoleh suatu korelasi viskositas. Dengan menggunakan korelasi ini, perkiraan viskositas dari gas dapat dipecahkan dengan korelasi pada efek tekanan, temperatur dan komposisi pada viskositas hidrokarbon dan gas lainnya (gas alami) pada tekanan 1 atmosfer. Metoda Penentuan Viskositas Gas a. Metoda Rolling Ball Viscometer b. Metoda Capilarry Tube Viscometer c. Korelasi dari Data Viskositas Gas Densitas Natural Gas Densitas gas alam perlu dalam perhitungan di dalam produksi dan penggunaan minyak. Cadangan gas, perubahan tekanan reservoir, kemiringan sumur gas, materi gas, pipeline flow dan tekanan gas adalah tipe masalah yang memerlukan densitas gas. Metoda Perhitungan Penerimaan metoda perhitungan densitas atau specific volume gas alam digunakan dari hukum gas ideeal dengan faktor kompresibilitas. Metoda ini diusulkan oleh Kay dari hubungan faktor kompresibilitas gas untuk campuran gas di pseudocritical property menjadi memuaskan untuk gas alami. Metoda perhitungan specific volume campuran gas dari volume mol parsial dikemukakan oleh Sage dan Lacey. Perolehan Data Didalam proses perolehan data kesetimbangan dari campuran natural gas dan crude oil, densitas dan analisa fasa uap jenuh diketahui. Data ini pada daerah 35 n 350 oF dan 1000 8220 psia. Uap dlam kesetimbangan dengan crude oil di tranfer pada temperatur konstan dan tekanan dari kesetimbangan sel dalam kapasitas picnometer 25 mL. Gambaran dari hubungan banyaknya heptana dan besarnya kehendak

pembersihan digunakan pada analisis gas. Fraksi heptana plus dikumpulkan dan ditimbang seperti liquid. Densitas dan berat molekul telah dipertimbangkan jika cukup banyak didapatkan. Faktor Kompresibilitas untuk Natural Gas Densitas picnometer dan berat molekul dari dari gas, menunjukkan gravity gas di udara, digunakan untuk menghitung faktor kompresibilitas gas dari uap jenuh. Pada tekanan tinggi, penyimpangan data ditutup oleh harga dari tabel berdasarkan methana murni. Pertimbangan densitas dari ua jenuh pada 8220 psia dan 120 oF diperiksa perhitungan densitasnya bersamaan dengan kesalahan pada pembacaan tabel methana. Hubungan Gravity Gas dan Densitas Gas Gravity gas dan pseudocritical memberikan hubungan ketika dibandingkan dengan kurva untuk gas tercampur. Semua gas yang mempunyai temperature pseudocritical dan tekanan yang dicocokkan dengan kurva gravity ini mempunyai densitas sama untuk temperatur, tekanan dan gravity gas bebas dari komposisi. Kemudahan ini memungkinkan untuk menyusun tabel yang memberikan densitas gas sebagai fungsi dari temperatur, tekanan dan gravity gas atau berat molekul. Gas hidrokarbon yang digunakan untuk menyusun kurva berisi lebih dari 83% kombinasi methana dan heptana dan fraksi berat. Gas berisi lebih dari 2 atau 3% nitrogen atau konsentrasi yang tinggi dari ethana, propana, dan butana menyimpang dari kurva yang diberikan. 1.4 ALAT DAN BAHAN 1. Effusiometer 2. Stopwatch 3. Thermometer
4.

Tabung gas CO2 dan Nitrogen

5. Compressor 6. Air 7. Udara


8.

Gas CO2 dan Nitrogen

1.5

PROSEDUR PERCOBAAN SPECIFIC GRAVITY 1. Isi tabung dengan air hingga kurang lebih 1 cm di bawah batas. 2. Buka skrup D sehingga air dalam tabung A dapat bersentuhan dengan udara (atmosferik). 3. Buka skrup E. (Langkah ini tidak perlu dilakukan apabila peralatan telah memenuhi kondisi 1 3 dan telah siap untuk digunakan).

Persiapan

A. Percobaan dengan Udara 1. Masukkan tabung B ke dalam tabung A dengan katup C pada posisi 1. Diamkan selama beberapa menit. 2. Putar katub C pada posisi 2, catat waktu alir air di antara dua garis. 3. Ulangi percobaan beberapa kali sampai diperoleh waktu alir yang stabil. B. Percobaan dengan Gas 1. Hubungkan sumber gas dengan pipa F.
2.

Putar katub C pada posisi 3. pada tabung B tidak terlalu besar, biarkan gas memasuki air dalam tabung A untuk beberapa saat.

3. Buka katub pada sumber gas dan atur agar kecepatan penurunan air

4.

Tutup katub pada sumber gas. menit).

5. Putar katub C pada posisi 1, diamkan beberapa menit (kurang lebih 2 6. Putar katub C pada posisi 2, catat waktu alir air antara dua garis acuan. 7. Ulangi percobaan beberapa kali sampai diperoleh waktu alir yang stabil. 1.6 DAFTAR PUSTAKA 1. Burcik, E.J Properties of Petroleum Reservoir Fluid International Human Resource Development Co., Boston, USA, 1979.

2. IP Standard for Petroleum and its Product, Part I, Method for Analysis, Section II, Applied Science Publisher Ltd., 1975. 3. Keenam, Keyner dan Wood, Kimia untuk Universitas, jilid I, Penerbit Erlangga, Jakarta 1986. 4. Miryani, Neni, Kimia Fisika Hidrokarbon, Himpunan Mahasiswa Teknik Perminyakan PATRA, Institut Teknologi Bandung, Bandung 1980. 5. William D. McCaic, Jr., The Properties of Petroleum Fluids, Second Edition, Tulsa Oklahoma, 1989.