Anda di halaman 1dari 15

[Type text]

[Type text]

[Type text]

BAB I
PENDAHULUAN

Sebagai calon petroleum engineering kita telah melakukan percobaan


percobaan mengenai berbagai sifat fluida reservoir pada laboratorium. Sifat sifat
tersebut perlu kita pahami agar memudahkan kita dalam melakukan praktik yang
sesungguhnya pada dunia kerja nantinya. Berbagai tahap tahap dalam percobaan
tersebut menjadikan dasar dasar teori dan praktik langsung dalam dunia
perminyakan dalam mengeksplorasi maupun mengeksploitasi minyak bumi
ataupun gas. Minyak bumi dan gas yang disebut juga dengan Petroleum
didefinisikan sebagai campuran senyawa hidrokarbon yang kompleks yang dapat
berfasa padat, cair, atau gas tergantung suhu dant ekanan serta komposisi
hidrokarbon penyusunnya.
Selain dasar teori teori yang perlu kita ketahui mengenai karakteristik fluida
reservoir. Yang dimaksud dengan fluida itu sendiri reservoir adalah gas, minyak
bumi, dan air yang menempati pori-pori batuan reservoir, dimana karena adanya
perbedaan berat jenis dan adanya migrasi maka lapisan fluida secara berturut-turut
dari atas adalah gas, minyak, dan air. Pada laboratorium ini kita telah memahami
dan mengaplikasikan alat alat bantu yang menunjang dalam berbagai percobaan.
Cara kerja alat sangat penting untuk diketahui bagi mahasiswa teknik
perminyakan, karena alat alat tersebut akan sangat membantu kita dalam
mengamati sifat sifat dari fluida reservoir tersebut.
Pada laboratorium Analisa Fluida Reservoir telah dipelajari berbagai
karakteristik dari fluida fluida reservoir. Pada kesempatan kali ini kami akan
membahas mengenai diagram fasa pada makalah ini yang merupakan bagian dari
proses proses yang ada pada fluida reservoir. Pengetahuan mengenai sifat fluida
reservoir yang akan dibahas pada makalah ini adalah mengenai diagram fasa. Fasa

[Type text]

[Type text]

[Type text]

didefinisikan sebagai bagian dari zat yang memiliki sifat fisika dan kimia yang
seragam secara keseluruhan. Penjelasan akan diagram fasa ini didapat setelah
praktikan melakukan serangkaian percobaan sifat sifat fluida tersebut pada
laboratorium ini.

[Type text]

[Type text]

[Type text]

BAB II
PEMBAHASAN

Pada presentasi praktikum ini kami akan membahas mengenai diagram


fasa. Yang dimaksud dengan fasa ialah bagian dari zat yang memiliki sifat fisika
dan kimia yang seragam secara keseluruhan. Suatu sistem yang terdiri dari uap,
air, dan es disebut sistim tiga fasa. Diagram Fasa adalah grafik yang menunjukkan
wujud zat sebagai fungsi dari tekanan dan temperatur kesetimbangan fasa.
Kesetimbangan fasa sendiri berarti suatu keadaan dimana suatu zat memiliki
komposisi yang pasti pada kedua fasanya pada suhu tertentu dan tekanan tertentu,
biasanya pada fasa cair dan uapnya. Pada kesetimbangan Fasa yg di plot pada
diagram fasa, ada 3 golongan utama, yaitu :
Padatan/Solid
Cairan/Liquid
Gas/Vapour
Diagram fasa terbagi menjadi tiga sistem komponen, yaitu:
Sistem Komponen Tunggal :

Di sistem ini hanya tersusun dari satu jenis

atom atau molekul. Pada cairan tunggal murni,apabila suhu tetap dan
tekanannya lebih besar dari tekanan gelembung zat cair (BPP) maka seluruh
sistem akan berupa fasa cair pada saat kesetimbangan telah tercapai.
Sebaliknya apabila tekanan lebih kecil dari tekanan gelembung sistem akan
berubah pada keadaan setimbang. Supaya zat cair dan uap ada bersamasama
dalam keadaan kesetimbangan maka tekanan sistim harus tepat sama dengan
tekanan uap pada suhu itu.
Sistem dua komponen : Dalam sistim ini tersusun dari dua jenis atom atau
molekul.
Sistem Beberapa Komponen : Dalam sisitem ini tersusun lebih dari satu
macam jenis atom atau molekul. Pada sistim ini sifat fasa pada daerah cairan

[Type text]

[Type text]

[Type text]

sama dengan sifat fasa pada sistim dua komponen. Hal ini terlihat pada
diagram P-T

2.1 Diagram Fasa Satu Komponen


Diagram fasa satu komponen adalah diagram yang di gunakan untuk
menentukan bentuk fasa yang ada pada suatu komponen tersebut yang
bergantungan dengan faktor seperti tekanan dan suhu. Pada diagram tersebut
terdapat 3 buah garis yang bertemu pada satu titik yang di sebut juga sebagai titik
triple (triple point). Jika tekanan dan suhu komponen tersebut terletak pada titik
triple tersebut, maka komponen tersebut akan terpisah menjadi 3 macam fasa,
yaitu fasa solid, liquid dan gas. Pada diagram tersebut ada titik yang di sebut
sebagai titik kritis (critical point) di mana, jika komponen tersebut berada pada
kondisi ini, fasa fluida dan fasa gasnya tidak dapat di bedakan dan pada kondisi
seperti ini juga zat tersebut di anggap ada dalam keadaan 1 fasa.
Pada gambar A.1 bisa di lihat ada 3 macam garis pada diagram tersebut.
Garis 1 bisa juga di sebut sebagai sublimation point line yang berfungsi sebagai
pemisah daerah fasa uap dengan daerah fasa padat suatu zat. Garis 2 di sebut
sebagai vapour point line yang berfungsi sebagai pemisah daerah fasa cair dengan
daerah fasa uap. Sedangkan garis 3 bisa di sebut juga sebagai melting point line
yang berfungsi sebagai pemisah daerah fasa padat terhadap daerah fasa cair. Jika
tekanan dan suhunya di tingkatkan terus maka zat tersebut akan mencapai suatu
titik di mana fasa gas dan fasa cair zat tersebut tidak bisa di tentukan dan titik
inilah yang di sebut sebagai titik kritis (critical point).
Kelakuan suatu fasa dari suatu system juga bisa di gambarkan
berdasarkan tekanan vs volume atau diagram P-V. diagram ini terpisah
berdasarkan 4 titik, ya itu titik A,B,C dan D yang merepresentasikan kombinasi P
dan V dalam sistem pada temperature yang sama (isotherm). Garis di antara titik
A dan B adalah garis yang menunjukan fasa cair sedangkan garis yang
menyambung titik C dan D menunjukan fasa gas. Titik B merepresntasikan
4

[Type text]

[Type text]

[Type text]

bubble point sedangkan titik C merepresentasikan dew point. Jika suatu sistem
berada di antara titik B dan C, ini berarti bahwa sistem tersebut ada dalam fasa
campuran gas dan liquid yang ada dalam kesetimbangan.

2.2 Diagram Fasa Dua Komponen


Untuk sistem fasa dua komponen, kondisi kondisinya hampir sama
dengan sistem fasa satu komponen. Proses penambahan fasa gas menjadi fasa cair
seluruhnya dengan mengecilnya volume terjadinya pada tekanan yang makin
meningkat, sehingga garis BC di sini tidak sejajar dengan sumbu horizontal.
Untuk garis AB dan BC sama dengan sistem komponen tunggal. Kesetimbangan
uap-cair untuk dua fasa tidak lagi berada dalam satu garis pada kurva tekanan uap
pada diagram P-T melainkan berada dalam suatu bidang yang di sebut dua fasa
(2-phase region).
Wilayah dua fasa pada diagram P-T dibatasi oleh garis titik gelembung di
bagian kiri dan garis titik embun di bagian kanan. Titik gelembung adalah kondisi
di mana gelembung pertama keluar dari suatu larutan bila tekananya di turunkan
atau suhunya di naikan. Sedangkan titik embun adalah kondisi dimana fasa cair
pertama kali terbentuk bila kondisi suatu campuran yang semula berupa gas
diubah sedemikian rupa sehingga P dan T gas tersebut menuju kea rah dalam
wilayah dua fasa.

2.3 Diagram Fasa Beberapa komponen


Diagram P-T beberapa komponen sangat mirip dengan diagram P-T dua
komponen. Diagram ini bermanfaat untuk menggambarkan sifat fasa reservoir
minyak bumi yang dapat dijelaskan dengan gambar grafik diagram fasa beberapa
komponen. Garis AB menunjukkan Bubble-Point line yaitu dimana gelembung
pertama mulai muncul, kondisi awalnya di sini adalah cair seutuhnya. Garis BC
menunjukkan Dew-Point line yaitu dimana tetesan embun mulai tampak. Daerah
5

[Type text]

[Type text]

[Type text]

di antara AC dan BC adalah dua fasa. Titik B adalah critical point yaitu titik
dimana cairan dan gas hadir bersamaan atau titik temu antara ujung bubble point
line dengan dew point line. Disana ada cricondenbar dan cricondenterm artinya
Tekanan dan temperature maksimum dimana cairan dan gas pertama kali hadir.
Pada saat cricondenbar kondisinya adalah saturated yakni satu fasa.
Dalam gas alam pengaruh bahan pengotor akan sangat mempengaruhi bentuk
dari diagram fasanya. Fraksi C7+ dalam gas alam mungkin jarang terjadi tetapi
akan sangat berpengaruh pada dew-point line gas dalam diagram fasa. Air
memiliki vapor pressure yang rendah dan keberadaanya tidak bercampur /
immiscible dalam fasa liquid hydrocarbon, sehingga tidak banyak berpengaruh
terhadap pada diagram fasanya. CO2 dan H2S keduanya memiliki cricondenbar
yang rendah, jika keduanya berada dalam satu system gas maka akan menurunkan
garis cricondenbar dari campuran gas tersebut. Nitrogen (N2) memiliki efek
menaikan cricondenbar .
Secara umum, kelakuan dari fluida reservoar selama proses produksi
ditentukan oleh bentuk diagram fasanya dan posisi titik kritisnya. Klasifikasi dari
jenis-jenis fluida reservoir berdasarkan bentuk diagram fasanya ditentukan
menjadi 5 buah tipe fluida reservoar yaitu black oil, volatile oil, retrograde gas,
wet gas, dan dry gas. Klasifikasi jenis fluida reservoar ini penting untuk
ditentukan karena setiap jenis dari 5 jenis fluida reservoar diatas memiliki
karakteristik yang berbeda sehingga pendekatan - pendekatan yang diperlukan
oleh seorang petroleum engineer dalam menentukan kebijakan seperti metode
EOR yang digunakan, pengambilan sampel, dan teknik perhitungan jumlah fluida
yang ada akan berbeda antara satu jenis fluida reservoar dengan jenis - jenis
lainnya.
Identifikasi suatu jenis fluida reservoar dilakukan melalui observasi di
laboratorium, namun untuk simplifikasi, data - data yang diperoleh pada informasi
produksi juga dapat dengan mudah menentukan jenis fluida reservoar tersebut.
Data informasi tersebut antara lain perbandingan awal jumlah gas dan minyak

[Type text]

[Type text]

[Type text]

pada produksi (initial producing gas-oil ratio), massa jenis dari cairan hasil
produksi, serta warna cairan tersebut.

2.4 Diagram Fasa Retrograde


Gas retrograde mengandung campuran metana (utama) dengan sejumlah
hidrokarbon berukuran molekul kecil. Apabila tekanan terus turun sejalan dengan
produksi gas , makin banyak liquid yang terbentuk dalam reservoir . Saat tekanan
mencapai titik 3 liquid kembali menguap menjadi gas. Dalam kaitannya dengan
proses perubahan fasa system berkomponen lebih dari satu, peristiwa retrograde
dapat

terjadi

apabila

untuk

campuran

dua

komponen

dilakukan

(peningkatan/penurunan) tekanan secara isotermis . Retrograde phenomena itu


sendiri adalah peristiwa yang berjalan mundur atau berjalan terbalik dari peristiwa
yang biasa (normal) . Pada daerah temperature yang terletak diantara temperature
kritis dan temperature krikonden maka pada prosesnya terjadi retrograde
phenomena. Fenomena retrograde seringkali meyulitkan dalam produksi gas,
karena adanya kendensasi di dalam reservoir mengakibatkan sebagian pori-pori
yang semula digunakan sebagai lintasan bagi gas untuk mengalir ke permukaan
terisi oleh kondensat, dan kondensat ini sulit mengalir sehingga laju gas menurun.
Diagram fasa Retrograde Gas mempunyai titik kritis yang lebih kecil dari pada
temperatur reservoir akan tetapi dalam diagram fasa retrograde mempunyai
cricondentherm yang lebih besar dari temperatur reservoir. Hal ini disebabkan
oleh jumlah molekul berat yang menyusun. Retrograde Gas jauh lebih kecil dari
minyak.
Pada diagram fasa ini dapat menunjukan bahwa di dalam reservoar bahwa
seluruh fluida berwujud gas dan seiring dengan proses produksi penurunan
tekanan mengakibatkan adanya gas yang terkondensasi karena gas telah mencapai
dew point.

[Type text]

[Type text]

[Type text]

2.5 Wet Gas Reservoir


Wet gas mengandung campuran hidrokarbon yang mirip dengan dry gas yaitu
kandungan utamanya metana dengan sejumlah kecil hidrokarbon intermediate
(etana hingga butana). Akan tetapi wet gas mempunyai hidrokarbon intermediate
lebih banyak dibandingkan hidrokarbon dry gas. Bahkan fraksi hexana dan
pentana sering dijumpai pada wet gas. Wet Gas dapat disimpulkan akan terbentuk
cairan ketika fluida muncul di permukaan. Karena munculnya cairan pada
permukaan inilah maka disebut tipe Wet Gas. Wet gas selalu berada dalam fasa
gas ketika di dalam reservoir. Sama halnya seperti dry gas kandungan utama gas
basah adalah metana . Oleh karena itu titik kritik berada di sebelah kiri bawah dari
phase envelope (yaitu dekat dengan titik kritik metana). Akan tetapi karena
kandungan mentana tidak sedominan seperti pada dry gas.

2.6 Dry Gas Reservoir


Kandungan utama dry gas ialah metana . Senyawa lain yang terkandung di
dalam dry gas adalah hidrokarbon fraksi intermediate . Pada gambar diagram fasa
terlihat bahwa selama di reservoir maupun proses produksi (garis 1-2 tidak
melalui lengkung fasa ) fluida reservoir yang diklasifikasikan ke kelompok Dry
Gas tetap berwujud gas. Karena titik separator berada di luar lengkung fasa, maka
dapat disimpulkan juga bahwa Dry Gases tidak membentuk cairan di permukaan.
Hidrokarbon selalu dalam fasa gas karena tidak mempunyai cukup banyak
hidrokarbon fraksi berat yang dibutuhkan untuk pembentukan liquid dipermukaan
(tekanan rendah). Walaupun demikian sejumlah air terkondensasi di permukaan
,akan tetapi dry gas bukan berarti gas yang tidak mempunyai cairannya. Karena
kandungan utamanya adalah metana maka titik kritik berada disebelah kiri bawah
dari phase envelope yaitu dekat titik kritik metana.

[Type text]

[Type text]

[Type text]

2.7 Diagram Fasa Black Oil


Sebagian besar reservoir minyak termasuk dalam golongan black oil atau low
shrinkage oil. Temperaure reservoir lebih rendah dibandingkan temperature kritik
minyak. Black oil memiliki variasi penyusun yang relative luas termasuk molekul
molekul volatile, besar, dan berat. Ciri-ciri dari diagram fasa black oil ialah
temperature di reservoir cukup jauh dengan temperature kritiknya. Diagram fasa
black oil memilik jangkauan temperature yang besar. Dalam proses pengangkatan
ke permukaan, semakin banyak gas yang terbentuk, namun dalam tipe black oil,
jumlah cairan yang terproduksi ke permukaan relatif besar (low-shrinkage crude
oil).

2.8 Diagram Fasa Volatile Oil


Temperature reservoir dari volatile oil reservoir sedikit lebih rendah dari
temperature kritik dari fluida dalam reservoir tersebut. Jika ditemukan tekanan
reservoir berada pada titik a maka fluida dalam keadaan fasa cair (under
saturated). Penyusun volatile oil memiliki molekul penyusun kelas intermediet
(C2-C5). Jangkauan temperatur pada diagram fasa Volatile Oil lebih pendek
daripada Black Oil, serta Temperatur Kritisnya jauh di bawah Black Oil bahkan
mendekati suhu reservoir.
Terlihat pada diagram fasa Volatile Oil bahwa dengan sedikit pengurangan
tekanan, gas yang dihasilkan cukup banyak (mudah menguap). Alur garis
isovolume pada volatile oil tidak terdistribusi merata seperti pada diagram fasa
black oil, namun bergeser lebih ke bubble pointnya. Selama proses produksi, gas
terus dihasilkan dan begitu sampai ke permukaan (titik separator) , perbandingan
gas dan minyak relatif besar (high-shrinkage oil).

[Type text]

[Type text]

[Type text]

BAB III
SIMPULAN

Diagram fasa menunjukkan pengaruh temperatur,

tekanan dan volume

dalam terjadinya perubahan fasa suatu/beberapa komponen

P awal > P bubblepoint maka reservoir berjenis

Undersaturated

Reservoir

P awal P bubblepoint maka reservoir berjenis Saturated Reservoir

Perbedaan antara komponen satu system dan dua/multi komponen syste


m adalah perubahan fasa berlangsung tidak pada tekanan konstan.

Jenis reservoir penting diketahui karena

mempengaruhi metode

perhitungan jumlah cadangan minyak

Apabila tekanan awalnya berada di atas bubble point, maka reservoir


dalam keadaan

berfasa liquid yang dinamakan undersaturated oil

reservoir.

Apabila pada keadaan awal tekanannya sama dengan tekanan bubble maka
dinamakan saturated oil reservoir.

Hal yang membedakan antara komponen satu system dan komponen dua
pada system perubahan fasa berlangsung tidak pada tekanan konstan.

Dry gas juga dapat terkondensasi di permukaan, jadi dry gas bukan berarti
gas yang tidak ada cairannya.

Retrograde phenomena adalah peristiwa yang berjalan mundur atau


berjalan terbalik dari peristiwa yang biasa (normal).

10

[Type text]

[Type text]

[Type text]

DAFTAR PUSTAKA

1. Lestari et al., Diktat Kuliah Kimia Fisika Hidrokarbon, Fakultas


Teknologi Mineral Universitas Trisakti, Jakarta, 1993.
2. http://www.scribd.com/doc/56709170/Diagram-Fase-Dagul
3. http://www.scribd.com/doc/44371774/Makalah-Diagram-Fasa-Biner
4. http://inginkutau.blogspot.com/2009/11/pengertian-diagram-fase-dalamkimia.html

11

[Type text]

[Type text]

LAMPIRAN

Gambar A.1
Diagram Tekanan Volume satu fasa

Gambar A.2
12

[Type text]

[Type text]

[Type text]

Diagram Tekanan Volume Dua Fasa

Gambar A.3.
Grafik diagram fasa beberapa komponen

Gambar A.4.
Diagram fasa Retrograde Gas

13

[Type text]

[Type text]

[Type text]

Gambar A.6.
Diagram Fasa Black Oil Reservoir

Gambar A.7.
Diagram fasa Volatile Oil Reservoir

14

[Type text]

[Type text]

[Type text]

Gambar A.8
Diagram fasa Wet Gas Reservoir

Gambar A.9
Diagram fasa Dry Gas Reservoir

15

[Type text]