Anda di halaman 1dari 31

KAPITA SELEKTA FARMAKOTERAPI

TUKAK PEPTIK

OLEH Angelina B. Manulena, S. Farm Aan Kurniawan, S. Farm Agnes D. Purba, S. Farm Alexandra Ayu Y. N. P, S. Farm Anindita Reningtyas, S. Farm Dana Tirta S, S. Farm Desi Natalia, S. Farm Dyas Kriswardhani, S. Farm (118115071) (118115072) (118115073) (118115074) (118115075) (118115076) (118115077) (118115078)

PROGRAM STUDI PROFESI APOTEKER FAKULTAS FARMASI UNIVERSITAS SANATA DHARMA 2012

TUKAK PEPTIK (PEPTIC ULCER DISEASE)

A. DEFINISI Istilah tukak peptik/peptic ulcer/ulkus peptikum digunakan untuk erosi atau luka pada lapisan mukosa di perut atau duodenum (MedlinePlus, 2011). Jika ulkus ditemukan di bagian perut (lambung) maka disebut gastric ulcers, apabila ulkus ditemukan di duodenum maka disebut duodenal ulcers (National Digestive Diseases Information Clearinghouse, 2010).

Gambar 1. Tukak peptik dapat terjadi dibagian lambung, duodenum, atau esophagus (NDDIC, 2010)

B. EPIDEMIOLOGI Survei menunjukkan bahwa sepertiga hingga setengah dari populasi manusia di dunia menidap H.pylori. di Amerika Serikat dan Eropa Barat anak-anak jarang terinfeksi, tetapi lebih dari setengah dari semua yang berumur 60 tahun mengandung bakteri ini. Di negara berkembang prevalensi infeksi meningkat dengan tajam segera setelah lahir dan bisa mencapai 80-90% pada usia 20 tahun. Studi seroepidemiologik populasi umum di Indonesia menunjukkan bahwa prevalensi H.pylori pada anakanak berumur 0-14 tahun sekitar 7,2-28%, sedangkan pada umur di atas 15 tahun antara 36-54,3%. Hal ini menunjukkan bahwa semakin meningkatnya umur, maka prevalensinya pun akan semakin tinggi pula (Silitonga, 2007).

C. PENYEBAB Penyebab terjadinya tukak peptik pada umumnya disebabkan oleh infeksi Helicobacter pylori (H.pylori). penyebaran H.pylori dapat melalui makanan atau minuman yang tidak higienis. Penyebab lain terjadinya tukak peptik adalah penggunaan obat non-steroidal anti-inflammatory drugs (NSAIDs) seperti aspirin, ibuprofen, naproxen, ketoprofen, meloxicam, dan celecoxib dalam frekuensi waktu yang cukup lama (American Gastroenterological Association, 2012). Faktor resiko terjadinya tukak peptik: Lansia yang berusia 50 tahun Peminum alkohol Perokok (American Gastroenterological Association, 2012). Infeksi bakteri H.pylori menyebabkan terjadinya penurunan produksi mukus, H.pylori membuat koloni pada sel-sel penghasil mukus di lambung dan duodenum, sehingga menurunkan kemampuan sel memproduksi mukus. Penggunaan obat antiinflamasi nonsteroidal seperti aspirin menyebabkan iritasi dinding mukosa. Obat ini menyebabkan ulkus dengan menghambat perlindungan prostaglandin di dinding usus. Pendarahan lambung atau usus dapat terjadi akibat NSAID. Pembentukan asam di lambung penting untuk mengaktifkan enzim pencernaan lambung. Asam hidroklorida (HCl) dihasilkan oleh sel-sel parietal sebagai respon terhadap makanan tertentu, obat, hormon, histamin, dan stimulasi parasimpatis. Kafein dan alkohol dapat menstimulasi sel-sel parietal untuk menghasilkan asam. Aspirin bersifat asam, yang dapat langsung mengiritasi atau mengerosi lapisan lambung (Corwin, 2008).

D. PATOFISIOLOGI H.pylori menimbulkan kerusakan mukosa lambung dan duodenum melalui pembentukan ammonia, produk ammonium lain (mono-N-kloramin), faktor kemotaktik, pelepasan platelet activating factor, leukotrien, dan eukosanoid lain yang berasal dari asam arakidonat, dan sitotoksin seperti protease, lipase fosfolipase A2, fosfolipase C dan vacuolating cytotoksin (Vac).

Endotoksin yang dibentuk oleh H.pylori dapat merusak endotel dan menimbulkan mikrotrombosis mukosa. Lekosit tertarik pada daerah yang rusak sehingga dilepaskan cytokines tambahan yang dapat menimbulkan radikal superoksid yang merusak. Derajat infeksi H.pylori dan beratnya kerusakan mukosa berkoleasi langsung dengan luasnya infiltrasi lekosit. Produk H.pylori meningkatkan inflamasi mukosa melalui peningkatan adhesi lekosit pada sel-sel endotel. H.pylori dapat merangsang faktor-faktor dalam tubuh manusia untuk meningkatkan produksi interleukin 8(IL-8) mRNA epitel dan IL-8 imunoreaktif (Silitonga, 2007). Respon antibodi lambung menghasilkan IgA dan IgG. Sekresi IgA dapat melindungi mukosa tanpa aktivasi komplemen, sedang IgG dapat mengaktivasi komplemen yang menimbulkan kerusakan epitel immune complex mediated dan penurunan sitoproteksi. Pada strain H.pylori yang virulen ditemukan lebih banyak adhesi pedestal antara H.pylori dengan permukaan mukosa lambung. H.pylori dapat meningkatkan gastrin plasma melalui perangsangan sel G lambung dan menurunkan sekresi somatostatin melalui inhibisi sel G lambung. Akibatnya sekresi asam lambung lebih tinggi dari normal (Silitonga, 2007).

E. GEJALA Rasa nyeri dan terbakar di perut merupakan gejala yang paling umum pada tukak peptik. Nyeri dapat terjadi ketika lambung kosong (sebagai contoh di malam hari), timbulnya nyeri dapat timbul selama beberapa menit atau jam, nyeri dapat menyebar ke punggung atau bahu. Gejala lain yang timbul meliputi: Mual Muntah Kehilangan nafsu makan Adanya darah di tinja (American Gastroenterological Association, 2012).

F. DIAGNOSA Diagnosis tukak peptik terutama berdasarkan gejala-gejala yang dialami oleh pasien. Endoskopi merupakan tes yang paling akurat. Pada tes ini,

dimasukkan tabung fleksibel kecil melalui mulut dan masuk ke perut. Tabung ini memiliki kamera yang memungkinkan untuk mendeteksi ulkus dan mencari adanya infeksi. Dengan endoskopi, tidak hanya lapisan usus yang dapat terlihat, tetapi juga dapat mengambil sampel jaringan untuk biopsi untuk melihat ada atau tidaknya H. pylori. Selama prosedur ini pasien dibius. Tes menggunakan sinar-X diawali dengan pemberian cairan barium berwrna putih seperti milkshake. Barium melapisi lapisan dalam lambung, kerongkongan dan usus kecil, sehingga lebih mudah terlihat dengan jelas pada sinar-X. Ahli radiologi juga dapat melihat ulcer, jaringan parut atau daerah di mana saja ketika ada sesuatu yang menghalangi jalan normal makanan melalui sistem pencernaan (American Gastroenterological Association, 2012).

(American International Health Alliance, 2005).

G. PENATALAKSANAAN a. Tujuan Terapi 1. Eradikasi H. pylori 2. Menghilangkan rasa nyeri 3. Meningkatkan kualitas hidup pasien 4. Mencegah kekambuhan dan mengurangi komplikasi penyakit PUD 5. Menyembuhkan PUD

b. Strategi Terapi 1. Terapi Non Farmakologi Penghindaran pasien terhadap stress, merokok dan penggunaan NSAID (Medlineplus, 2011). Apabila NSAID tidak dapat dihentikan

penggunaanya, maka harus dipertimbangkan pemberian dosis yang lebih rendah atau diganti dengan Acetaminophen atau inhibitor COX2 yang relative selektif (Sukandar dkk, 2009). Penggunaan obat-obatan yang tidak menyebabkan peningkatan asam lambung atau obat-obatan yang bersifat asam seperti aspirin (Medlineplus, 2011). Menghindari makanan atau minuman yang memacu asam lambung seperti pedas, kafein dan alcohol (Sukandar dkk,2009). Surgical procedures, diantaranya vagotomy dan pyloroplasty, high selective vagotomy, dan vagotomy kombinasi dengan antractomy. Vagotomy merupakan komponen terpenting karena target efeknya berupa mengeblok sekresi asam berlebihan.

2. Terapi Farmakologi

(Berardi et al, 2006). a. Terapi PUD akibat bakteri Helicobacter pylori Terapi ditujukan untuk menghilangkan (eradikasi) H.pylori

menggunakan antibiotik dan antasida (rekomendasi A). Penggunaan antasida secara jangka panjang untuk terapi ulkus yang disebabkan H.pylori tidak dianjurkan (tingkat rekomendasi B). Keberhasilan penghilangan H.pylori terlihat dengan menurunnya kekambuhan dari 90% menjadi kurang dari 5% dalam setahun (American International Health Alliance, 2005). Maka untuk terapinya diperlukan dosis regimen selama 7 hari atau 10 14 hari namun belum ada data yang pasti untuk menyatakan dosis regimen 10 14 hari lebih bermanfaat dibandingkan 7 hari. Berikut ini adalah beberapa pilihan pengobatan yang dapat digunakan, yaitu :

a) Dosis regimen selama 7 hari : Obat Omeprazole Aturan pakai 20 mg bid atau 30 mg bid (2 kali dalam satu hari) Keterangan Pagi dan malam sebelum makan, selambat-lambatnya digunakan pukul 08.00 malam dengan interval 12 jam, kapsul harus ditelan, tidak dikunyah 87 91% Metronidazole (Trikopole dan analognya) Pagi dan malam bersamaan dengan makanan. Tidak boleh diminum bersamaan dengan alkohol; ESO: metallic taste dan/atau urin berwarna gelap bisa terjadi 20 mg bid atau 30 Pagi dan malam sebelum mg bid makan, selambat-lambatnya (2 kali dalam satu digunakan pukul 08.00 malam hari) dengan interval 12 jam, kapsul harus ditelan, tidak dikunyah 250 mg bid 1g / bid Pagi dan malam setelah makan. Direkomendasikan dalam kasus kegagalan sebelumnya dengan Metronidazole. Metronidazole direkomendasikan dalam kasus hipersensitivitas penisilin Pagi dan malam sebelum makan, selambat-lambatnya digunakan pukul 08.00 malam dengan interval 12 jam Pagi dan makan Pagi dan makan malam setelah 80 90% 500 mg bid Tingkat eradikasi

Klaryhtromycin

250 mg bid

Omeprazole

Klaryhtromycin Amoksisilin

Omeprazole

20 mg bid

77 - 83%

Amoksisilin Metronidazole

1 g / bid 500 mg bid

malam

setelah

Pylorid (Ranitidine Bismuth Citrate) Klarythomycin/ Tetrasiklin/ Amoksisilin Metronidazole (Trikopole dan analognya) Omeprazole

400 mg bid

Pagi dan makan

malam

setelah

250 mg/bid 500 mg 1000 mg/bid 500mg bid

Pagi dan malam hari 4 kali dalam satu hari Pagi dan malam hari Pagi dan malam bersamaan dengan makanan Pagi dan malam sebelum makan, selambat-lambatnya digunakan pukul 08.00 malam dengan interval 12 jam 30 menit sebelum sarapan/makan tengah malam 3 dosis pertama digunakan 30 menit sebelum sarapan/makan malam/makan tengah malam sedangkan 1 dosis sisanya digunakan sebelum tidur. Jangan minum susu selama 30 menit sebelum dan sesudah penggunaan obat ini. Penggunaan pada pasien hiperensitif aspirin harus hatihati. Hentikan pengobatan jika terjadi tinutis. ESO : lidah dan feses akan berwarna gelap Setelah makan Setelah makan Setelah makan Setelah makan

78 83%

20 mg bid

Colloid 240 mg/bid Subcitrate of atau Bismuth 120 mg/q.i.d (Ventrisol, ( 4 kali dalam satu Denol, dan hari) analog lainnya)

Metronidazole/ Tinidazole Tetrasiklin/ Amoksisilin

250 mg/bid 500 mg/bid 500 mg/qid 500 mg/qid

88 - 99% 80 86%

b) Dosis regimen selama 2 minggu : Obat Ranitidin (Zantak dan analog lainnya)/ Famotidin (Gastrosydyn, Kyamantel, Ulfamyd) Pottasium salt dari Bismuth citrate Metronidazole Aturan pakai 150 mg/bid Keterangan 2 kali dalam sehari di pagi dan malam hari selambatlambatnya digunakan pukul 08.00 malam dengan interval penggunaan 12 jam. Tingkat eradikasi

20 mg/bid

120 mg/qid

4 kali dalam sebelum makan

sehari

250 mg/qid

4 kali dalam sehari setelah makan. 4 kali dalam sehari setelah makan Jangan digunakan bersamaan dengan antasida, bahan yang mengandung besi dan susu. Hindarkan dari paparan sinar matahari langsung (Fotosensitif). 4 kali dalam sehari sebelum makan

Tetrasiklin hidroklorit

250 mg/qid

80 %

Pottasium salt of Bismuth citrategastrotat Metronidazole

120 mg/qid

250 mg/qid

4 kali dalam sehari setelah makan 4 kali dalam sehari setelah makan (American International Health Alliance, 2005).

75 %

Tetrasiklin hidroklorit

250 mg/qid

Hal yang perlu diperhatikan dalam terapi ini adalah : Adanya potensi resistensi pada regimen dengan Metronidazole dan Klarythromycin Merokok menghambat penyembuhan luka dan terkait dengan peningkatan kekambuhan

Ketika tidak ada gejala PUD, akan lebih baik jika dilakukan prosedur diagnostik untuk mengkonfirmasi tingkat eradikasinya. Dalam kasus komplikasi ulkus, dapat digunakan metode endoskopi untuk mengkonfirmasi keberhasilan terapi (American International Health Alliance, 2005).

b. Terapi PUD yang tidak berkaitan dengan H.Pylori Penyebab umum pasien yang menderita PUD yang tidak disebabkan oleh H.pylori akan disarankan untuk mengurangi penggunaan rokok, alkohol, dan NSAID dengan salah satu obat kombinasi yaitu: No. 1 Obat Ranitidin (Zantak dan analog lainnya) Antasida 2 Famotidin (Gastrosydyn, Kyamantel, Ulfamid) Aturan pakai 300 mg/hari dosis tunggal ----40 mg sekali dalam sehari Keterangan Dosis tunggal digunakan antara jam 19.00 20.00 Sebagai pengurang gejala Dosis tunggal digunakan antara jam 19.00 20.00 Sebagai pengurang gejala 1 gram 30 menit sebelum makan dan 2 jam setelah makan (selama 4 minggu) dilanjutkan 2 gram per hari selama 8 minggu.

Antasida 3 Sukralfat (Ventel, Sukrat Gel)

---4 gram dalam sehari

(American International Health Alliance, 2005). Penggunaan PPi dan reseptor histamin blocker beta 2 (HRB) tidak dianjurkan bersamaan karena berpotensi terjadinya radang dinding lambung akibat penurunan aktivitas PPi (American International Health Alliance, 2005). Penggunaan NSAID dapat menyebabkan PUD. Salah satu cara pengobatannya adalah penghentian penggunaan NSAID. Jika tidak ada tandatanda H. pylori, pengobatan bertujuan untuk mengurangi produksi asam agar

10

memungkinkan untuk menyembuhkan ulkus, menggunakan antagonis reseptor histamin-2 (H2RA) atau PPI (Nathan, Brandt, De Muckedell, 2012), atau sukralfat harus dimulai. Apabila pasien tidak dapat menghentikan penggunaan NSAID maka diberikan NSAID dalam dosis efektif terendah dengan durasi terpendek dan pemberian PPI (Green., et al, 2004). Contoh pemberian omeprasol 20 mg dosis tunggal selama 4 minggu. Uji klinik menunjukkan bahwa persentase kesembuhan mencapai 75-80 % untuk pengobatan 8 minggu. Jika NSAID dapat dihentikan diberikan ranitidine 150 mg selama 8 minggu. Untuk mencegah ulkus peptikum berkembang pada pasien dengan faktor resiko pendarahan lambung diberikan misoprostole 200 mg 3x sehari. Untuk

mencegah kekambuhan ulkus lambung dan duodenum dan komplikasinya diberikan: 1. Terapi profilaksis on demand dengan penetapan pemberian antasida (ranitidine, femotidin, omeprasol) dalam dosis harian 2-3 kali sehari, dan satu setengah dosis selama dua minggu dalam kasus timbulnya gejala karakteristik untuk eksaserbasi ulkus. Jika gejala eksaserbasi hilang terapi dapat dihentikan. Namun jika masih terdapat gejala tersebut maka dapat dilakukan EFGDS dan prosedur evaluasi lain. 2. Terapi suportif dilakukan terus menerus (selama satu bulan atau bahkan bertahun-tahun). Dengan setengah dosis antasida. Untuk kasus misalnya 150 mg Famotidin, dan 20 mg ranitidine (gastrosidin, kvamatel, ulfamide) untuk indikasi: Komplikasi ulkus (terkait pendarahan ulkus atau perforasi ulkus). Konkuren ulseratif-erosif esophagus. Pasien dengan berusia 60 tahun namun terapi tetap adekuat (American International Health Alliance, 2005).

11

H. PILIHAN OBAT 1. Antibiotika Amoxicillin Mekanisme kerja : Amoxicillin mengikat penicillin-binding protein 1A (PBP-1A) yang terletak di dalam sel bakteri. Penicillin berasilasi dengan domain panicilin-sensitive transpeptidase C-terminal dengan membuka cincin laktam. Inaktivasi dari enzim ini mencegah pembentukan crosslink dari dua untaian peptidoglikan yang linear, menghambat tahap ketiga dan terakhir sintesis dinding sel bakteri. Lisisnya sel kemudian diperantarai oleh enzim autolitik dinding sel bakteri seperti autolisin; hal tersebut mungkin bahwa amoxicillin mengganggu dengan menghambat autolisin (Drug Bank, 2005a). Efek samping : mual, muntah, diare; kemerahan atau respon toksik; reaksi hipersensitifitas termasuk urtikaria, angioedema, anafilaksis, reaksi menyerupai serum sickness, anemia hemolitik, nefritis interstitialis; jarang terjadi : kolitis terkait antibiotik; neutropenia; trombositopenia, gangguan koagulasi; pada dosis tinggi menyebabkan gangguan system saraf pusat termasuk kejang atau gangguan fungsi ginjal (Sukandar dkk, 2009). Kontraindikasi : hipersensitif terhadap amoksisilin, penisilin, dan betalaktam lainnya (APhA, 2009). Interaksi obat : amoksisilin dapat meningkatkan konsentrasi metotreksat, menurunkan konsentrasi vaksin tifoid, tetrasiklin dan kloramfenikol mengurangi aktivitas amoksisilin (APhA, 2009). Perhatian : perlu dilakukan regimen dosis pada pasien dengan gangguan ginjal (kliren kreatinin <30 ml/menit atau pasien hemodialisis), hipersensitivitas amoxicillin yang berat dapat menyebabkan reaksi anafilaksis, ibu menyusui, prolonged used pada pasien asma kemungkinan menyebabkan superinfeksi bakteri/ fungal (APhA, 2009). Farmakokinetika/ Farmakodinamika : absorpsi, secara oral : hampir sempurna dan tidak terganggu; distribusi : secara luas melalui cairan tubuh dan tulang; metabolisme : sebagian di hepar; ekskresi : urin (APhA, 2009).

12

Klarytromycin Mekanisme kerja : Clarithromycin pertama kali dimetabolisme menjadi 14-OH clarithromycin, yang aktif dan bekerja secara sinergis dengan senyawa induknya. Seperti makrolid yang lain, clarithromycin kemudian menembus dinding sel bakteri dan secara reversible mengikat domain V dari 23S ribosomal RNA dari subunit 50S dari ribosom bakteri, memblok translokasi sintesis aminoasil transfer-RNA dan polipeptida.

Clarithromycin juga menghambat isoenzim hepatik mikrosomal CYP3A4 dan P-glycoprotein, suatu energi yang bergantung dengan drug efflux pump (Drug Bank 2005b). Efek samping : sakit kepala, rash, diare, mual, muntah, nyeri abdominal, dyspepsia, peningkatan BUN, dan peningkatan prothrombin time (APhA, 2009). Kontraindikasi : hipersensitivias terhadap klaritromicin, eritromicin, atau antibiotik makrolida lainnya, penggunaan bersamaa dengan turunan ergot, pimozide, cisapride (APhA, 2009). Interaksi obat : meningkatkan aritmia bila diberikan dg astemizole, cisapride, gatifloksasin, moksifloksasin, sparfloksasin, thioridazine. Meningkatkan kadar plasma benzodiazepine, alfentanil, carbamazepin, CCB, clozapin, cilostazol, digoksin, bromokriptin, statin, teofilin, warfarin, neuromuskuler bloking. Flukonazol meningkatkan kadar plasma klaritromisin (APhA, 2009). Perhatian : penyesuaian dosis pada pasien gagal ginjal, kehamilan melalui sawar plasenta meskipun belum ada laporan teratogenik pada manusia (kategori C) (APhA, 2009). Farmakokinetika/ Farmakodinamika : absorpsi : cepat; distribusi : sebagian besar masuk ke jaringan tubuh kecuali CNS; metabolisme : sebagian melalui hepar (CYP3A4) dikonversi ke bentuk aktif 14-OH klaritromisin; ekskresi : terutama urin (APhA, 2009).

13

Tetrasiklin Mekanisme kerja : mengikat secara reversible dengan subunit kecil dari ribosom bakteri (dan eukariotik) dimana tetrasiklin mengganggu dengan ikatan charged-tRNA pada sisi aseptor. Bakteri yang dimaksud adalah bakteriostatik daripada bakterisidal. Tetrasiklin dapat juga menghambat sintesis protein pada host, namun cenderung tidak mencapai konsentrasi yang dibutuhkan karena sel eukariotik tidak memiliki mekanisme uptake tetrasiklin (Lillard and Roberts, 2005). Efek samping : pericarditis, hepatotoksik, mual, muntah, daire, keram, anoreksia, esofagitis, discoloration gigi (pada anak) (APhA,2009). Kontraindikasi : hipersensitivitas terhadap tetrasiklin, kehamilan, dan pemberian pada anak 8 tahun (APhA, 2009). Interaksi obat : tetrasiklin menurunkan efek antasida, bismuth, bismuth subsilat, garam magnesium dan meningkatkan efek vitamin K antagonis, agen neruromuskular bloking, salmeterol, derivat asam (APhA, 2009). Perhatian : pasien dengan gangguan hati dan ginjal sehingga perlu ada penyesuaian dosis; hepatotoksik; penggunaan jangka panjang dapat menyebabkan superinfeksi; kehamilan , anak dalam masa pertumbuhan gigi (APhA,2009); Farmakokinetika/ Farmakodinamika : absorpsi oral (75%); ditribus : muncul dalam jumlah kecil di pancreas, relative berdifusi dari darak ke CSF; ekskresi : urin dan feses (APhA,2009).

Metronidazol Mekanisme kerja : Metronidazole tak terion selektif untuk bakteri anaerob karena kemampuannya untuk mengurangi metronidazole secara

intraseluler pada bentuk aktifnya. Pengurangan metronidazole kemudian secara kovalen mengikat DNA, mengganggu struktur heliksnya, menghambat sintesis asam nukleat bakteri dan menyebabkan sel bakteri mati (Drug Bank, 2005c).

14

Efek samping :flushing, ataksia, pusing, sakit kepala, insomnia, urtikaria, disminorrhea, nausea, keram, muntah, disuria, neutropenia reversibel (APhA,2009). Kontraindikasi : hipersensitivita metronidazol, turunan nitroimidazol, kehamilan (APhA, 2009). Perhatian : kehamilan trisemester pertama bersifat karsinogen (pada tikus), dosis diturunkan pada orang dengan gangguan hati, penyakit CNS dan gagal ginjal parah (Clcr <10 ml/menit) (APhA, 2009). Farmakokinetika/ Farmakodinamika : distribusi : BBB, sawar plasenta, saliva, ASI, tulang, liver, paru-paru; metabolisme : hepar; ekskresi : uriin dan feses (APhA, 2009). Tinidazol Mekanisme kerja : Tinidazole merupakan prodrug dan agen antiprotozoal. Kelompok nitro dari tinidazole berkurang dalam Trichomonas oleh ferredoxin-diperantarai sistem transport electron. Nitro radikal bebas yang dihasilkan sebagai hasil reduksi dipercayai bertanggung jawab untuk aktivitas antiprotozoal. Hal tersebut disarankan bahwa toksisitas radikal bebas berikatan secara kovalen dengan DNA, menyebabkan kerusakan DNA dan kematian sel. Mekanisme dimana tinidazole menunjukkan aktivitas melawan terhadap spesies Giardia dan Entamoeba tidak diketahui, meskipun mungkin mirip (Drug Bank, 2005d).

2. Kelator dan senyawa kompleks Trikalium Distratobismutat (Bismut kelat) Mekanisme kerja : Merangsang sekresi prostaglandin atau bikarbonat mukosa yang menyebabkan efek toksik langsung pada H.pylori lambung (Sukandar, Andrajati, Sigit, Adnyana, Setiadi, Kusnandar, 2009).

15

Indikasi : tukak lambung dan tukak duodenum serta regimen eradiksi H.pylori (Sukandar dkk, 2009), diare nonspesifik, dan mengontrol diare akibat enterotoksigenik E.coli (APhA, 2009). Kontraindikasi : gangguan ginjal dan kehamilan (Sukandar dkk, 2009). Dosis : Eradikasi H.pylori : dewasa 524 mg 4 kali sehari (bersama makanan dan sebelum tidur malam). Diare nonspesifik : dewasa 262 mg/ml larutan atau 262 mg tablet. Anak anak (maksimal 8 dosis/24 jam) 3-6 tahun 1/3 tablet atau 5 ml setiap 0,5-1 jam sesuai kebutuhan; 6-9 tahun 2/3 tablet atau 10 ml setiap 0,5-1 jam sesuai kebutuhan; 9-12 tahun 1 tablet atau 15 ml setiap 0,5-1 jam sesuai kebutuhan; (APhA, 2009). Efek samping : membuat lidah berwarna gelap dan wajah kehitaman; mual dan muntah (Sukandar dkk, 2009). Interaksi : menurunkan absorpsi tetrasiklin (Sukandar dkk, 2009). Perhatian : kehamilan terutama trisemester ketiga (kategori C/D) (APhA, 2009). Sukralfat Mekanisme kerja : Membentuk kompleks ulser adheren dengan eksudat protein seperti albumin dan fibrinogen pada sisi ulser dan melindunginya dari serangan asam, membentuk barier viskos pada permukaan mukosa di lambung dan duodenum, serta menghambat aktivitas pepsin dan membentuk ikatan garam dengan empedu (Anonim, 2011b). Indikasi : benign gastric, tukak duodenal, gastritis kronis, profilaksis tukak akibat stres, GERD, esophaghitis, dan postsclerotherapy untuk esophageal variceal bleeding (APhA, 2009). Dosis : 2 g 2 kali sehari (pagi dan sebelum tidur malam) atau 1 g 4 kali sehari 1 jam sebelum makan dan sebelum tidur malam, diberikan selama 4-6 minggu atau pada kasus yang resisten 12 minggu; maksimal 8 g sehari.

16

Profilaksis tukak stress (suspensi) : 1 g 6 kali sehari (maksimal 8 g sehari) (Sukandar dkk, 2009). Efek samping : konstipasi (paling sering, sekitar 2%), mual, muntah, kembung, mulut kering, gatal-gatal, sakit kepala, insomnia, diare (sangat jarang, < 1%), ruam, nyeri punggung, pusing, vertigo, mengantuk (Sukandar dkk, 2009). Interaksi obat : menurunkan absorpsi siprofloksasin, norfloksasin, tetrasiklin, fenitoin, ketokonazol, tiroksin, dan kemungkinan menurunkan absorbs warfarin, dan glikosida jantung (Sukandar dkk, 2009). Perhatian : kategori obat B untuk wanita hamil (APhA, 2009), tidak dianjurkan untuk anak-anak, hindarkan pada pasien ginjal berat, dan ibu menyusui, antasida tidak boleh diberikan setengah jam sebelum atau setelah pemberian sukralfat (Sukandar dkk,2009).

3. Proton Pump Inhibitor Mekanisme kerja : Mengontrol sekresi asam lambung dengan cara menghambat pompa proton yang mentranspor ion H+ K+, ATPase (enzim ini dikenal sebagai pompa proton) secara selektif dalam sel-sel parietal. Enzim pompa proton bekerja memecah KH ATP yang kemudian akan menghasilkan energi yang digunakan untuk mengeluarkan asam dari kanalikuli sel parietal ke dalam lumen lambung. Ikatan antara bentuk aktif obat dengan gugus sulfhidril dari enzim ini yang menyebabkan terjadinya penghambatan terhadap kerja enzim. Kemudian dilanjutkan dengan terhentinya produksi asam lambung (Berardi et al, 2006). Omeprazol Indikasi : tukak lambung dan tukak duodenum, tukak duodenum karena H.pylori, sindrom Zollinger-Ellison, pengurangan asam lambung selama anestesi umum, refluks gastroesofagus, dyspepsia karena asam labung (Sukandar dkk, 2009).

17

Kontraindikasi : hipersensitif terhadap omeprazol, substitute benzimidol (esomeprazol, lansoprazol, pantoprazol, rebeparzol) (APhA, 2009). Dosis : omeprazol 20 mg selama 4 minggu untuk tukak lambung dan 8 minggu untuk tukak duodenum. Kasus berat/ kekambuhan : dosis ditingkatkan menjadi 40 mg per hari. Tukak duodenum : pemeliharaan diberikan dosis 20 mg sehari dan pencegahan 10 mg sehari dan tingkatkan menjadi 20 mg sehari apabila gejala mucul kembali. Tukak lambung karena NSAID dan erosi gastroduodenum dosis 20 mg sehari selama 4 minggu dan diperpanjang 4 minggu berikutnya apabila belum sembuh sepenuhnya, sebagai profilaksis diberi 20 mg sehari. Tukak duodenum karena H.Pylori menggunakan regimen eradikasi (omeprazol dikombinasi dengan amoksisilin). Sindrom Zollinger-Ellison : dosis awal 60 mg sekali sehari dengan kisaran lazim 20-120 mg sehari ( di atas 80 mg dalam 2 dosis terbagi). GERD : 20 mg sehari selama 4 minggu dan dilanjutkan 4-8 minggu berikutnya jika tidak sepenuhnya sembuh. Dispepsia karena asam labung : 10-20 mg sehari selama 2-4 minggu sesuai respon. Anak-anak tidak dianjurkan (Sukandar dkk, 2009). Efek samping : sakit kepala, diare, ruam, gatal-gatal, pusing, urtikaria, mual dan muntah, konstipasi, kembung, nyeri abdomen, lesu, nyeri otot, edema perifer, perubahan hematologik, depresi, dan mulut kering (Sukandar dkk, 2009). Farmakinetika/ Farmakodinamika : absorpsi : cepat,; metabolisme : secara ekstensid di hepar menjadi metabolit tidak aktif; ekskresi : urin (77%); feses (APhA,2009). Interaksi obat : meningkatkan kerja warfarin, meningkatkan efek fenitoin, menghambat metabolism diazepam (Sukandar dkk,2009). Perhatian : hati-hati penggunaan pada pasien dengan penyakit hati, kehamilan (kategori C), dan menyusui. Pada pasien dengan kanker

18

lambung dapat menyebabkan keganasan sehingga harus disembuhkan sebelum terapi dengan omeprazol (Sukandar dkk, 2009). Lanzoprazol Indikasi : tukak lambung, tukak duodenum atau gastritis karena H.pylori, penyakit refliks gastroesofagus, dan dyspepsia karena asam (Sukandar dkk,2009). Kontraindikasi : hipersensitivitas lansoprazol dan substitute benzimidol (esomeprazol, lansoprazol, pantoprazol, rebeparzol) (APhA, 2009). Dosis : Tukak lambung : 30 mg sehari (pagi hari) selama 8 minggu Tukak duodenum : 30 mg sehari (pagi hari) selama 4 minggu; pemeliharaan 15 mg sehari. Apabila tukak duodenum/ gastritis karena H.pylori menggunakan regimen eradiksi. GERD : 30 mg sehari (pagi hari) selama 4 minggu dilanjutkan 4 minggu berikutnya bila ridak sepenuhnya sembuh; pemeliharaan 15-30 mg sehari. Dyspepsia karena asam lambung : 15-30 mg sehari (pagi hari) selam 2-4 minggu(Sukandar dkk,2009). Efek samping : sakit kepala, diare, ruam, gatal-gatal, pusing, urtikaria, mual dan muntah, konstipasi, kembung, nyeri abdomen, lesu, nyeri otot, edema perifer, perubahan hematologik, memar, purpura, petekia (Sukandar dkk,2009). Farmakinetika/ Farmakodinamika : durasi >1 hari; absorpsi : cepat; distribusi : 14-18 L; metabolisme : hepatik; ekskresi : feses (67%) dan urin (33%) (APhA, 2009). Interaksi obat : kemungkinan mempercepat metabolisme kontrasepsi oral (Sukandar dkk,2009). Perhatian : hati-hati penggunaan pada pasien dengan penyakit hati, kehamilan, dan menyusui. Pada pasien dengan kanker lambung dapat menyebabkan keganasan sehingga harus disembuhkan sebelum terapi dengan omeprazol (Sukandar dkk,2009). Pantoprazol

19

Indikasi : tukak lambung dan tukak duodenum (Sukandar dkk,2009). Kontraindikasi : hipersensitivitas pantoprazol dan substitute benzimidol (esomeprazol, lansoprazol, pantoprazol, rebeparzol) (APhA, 2009). Dosis : Tukak lambung : 40 mg sehari (pagi hari) selama 4 minggu diikuti 4 minggu berikutnya bila tidak sembuh sepenuhnya. Pada gangguan hati : diberi jeda 1 hari (Sukandar dkk,2009). Efek samping : sakit kepala, diare, ruam, gatal-gatal, pusing, urtikaria, mual dan muntah, konstipasi, kembung, nyeri abdomen, lesu, nyeri otot, edema perifer, perubahan hematologic (Sukandar dkk, 2009). Farmakinetika/ Farmakodinamika : absorpsi : cepat; distribusi : Vd 1124 L; metabolisme : secara ekstensif di hepar; ekskresi : urin (71%) dan feses (18%) (APhA,2009). Interaksi obat : interaksi dengan nelfinavir, metotrexat, fluconazol, ketokonazol (APhA, 2009). Perhatian : hati-hati penggunaan pada pasien dengan penyakit hati, kehamilan, dan menyusui. Pada pasien dengan kanker lambung dapat menyebabkan keganasan sehingga harus disembuhkan sebelum terapi dengan omeprazol (Sukandar dkk,2009). Rebeprazol Indikasi : pengobatan jangka pendek dan maintenance GERD, tukak duodenal, eradikasi H.pylori (APhA, 2009). Kontraindikasi : hipersensitivitas rebeprazol dan substitute benzimidol (esomeprazol, lansoprazol, pantoprazol, rebeparzol) (APhA, 2009). Efek samping :sakit kepala, diare, pucat, konstipasi, mual, faringitis, nyeri abdominal, reaksi alergi, muntah (APhA, 2009). Farmakinetika/ Farmakodinamika : onset 1 jam; durasi 24 jam; absorpsi : terabsorpsi baik dalam 1 jam; metabolisme : hepatik dari CYP3A dan 2C19 menjadi metabolit tidak aktif; ekskresi : urin (APhA,2009). Interaksi obat : interaksi dengan nelfinavir, metotrexat, fluconazol, ketokonazol (APhA, 2009).

20

Perhatian : meningkatkan risiko infeksi GI (contoh Salmonella, Campylobacter), gangguan hati berat (APhA, 2009).

3. H2 reseptor antagonis Mekanisme kerja : Memblok kerja dari histamin atau berkompetisi dengan histamin untuk berikatan dengan reseptor H2 pada sel parietal sehingga mengurangi sekresi asam lambung (Katzung, 2002). Simetidin Indikasi : tukak lambung dan tukak duodenum, tukak stomal, refluks esofagitis, sindrom Zollinger-Ellison, dan kondisi lain yang membutuhkan pengurangan asam labung (Sukandar dkk, 2009). Kontraindikasi : hipersensitivitas simetidin dan H2-antagonis(APhA, 2009). Dosis : Oral : 400 mg 2 kali sehari (sebelum makan pagi dan sebelum tidur malam) atau 800 mg sebelum tidur malam minimal selama 4 minggu untuk tukak lambung dan tuka duodenum dan 8 minggu untuk tukak karena NSAID; anak >1 tahun 25-30 mg/kg/hari dalam dosis tebagi (Sukandar dkk, 2009). Refluks esofagitis : 400 mg 4 kali sehari selama 4-8 minggu. Sindrom Zollinger-Ellison : 400 mg 4 kali sehari. Injeksi intramuscular : 200 mg setiap 4-6 jam; maksimal 2,4 g sehari; bayi <1 tahun melalui injeksi intramuscular/ infuse intravena lambat 20 mg/kg BB sehari dalam dosis terbagi.Anak >1 tahun 25-30 mg/kg BB dalam dosis terbagi. Infus intravena : 400 mg dalam 100 ml NaCl 0,9% selama 0,5-1 jam (dapat diulang setiap 4-6 jam). Infus berkesinambungan dengan flow rate 50100mg/jam selama 24 jam (Sukandar dkk, 2009). Efek samping : kebiasaan BAB berubah, pusing, ruam, kulit, kerusakan hati yang reversible, sakit kepala, jarang terjadi gangguan darah, nyeri otot/sendi, hipersensitivitas, bradikardi dan blok AV, pankreatitis

21

akut,nefritis interstitial, dosis tinggi menyebabkan ginekomastia (Sukandar dkk, 2009). Farmakinetika/ Farmakodinamika : onset 1 jam; durasi 4-8 jam; absorpsi : cepat; distribusi : dapat melewati plasenta dan ASI; metabolisme : sebagian di hepar menjadi bentuk metabolit; ekskresi : urin (APhA, 2009). Interaksi obat : simetidin menghambat aktivitas metabolisme oksidatif obat dengan cara mengikat sitokrom P-450 sehingga meningkatkan kerja warfarin, fenitoin, teofilin atau aminofilin (Sukandar dkk, 2009). Perhatian : gangguan fungsi hati dan ginjal (mengurangi dosis), kehamilan dan menyusui, hindari pemberian secara injeksi intravena, dosis tinggi menyebabkan aritmia dan gangguan kardiovaskuler (Sukandar dkk, 2009). Ranitidin Indikasi : tukak lambung dan tukak duodenum, refluks esofagitis, dyspepsia episodik kronis, tukak karena NSAID, tukak duodenum karena H.pylori, sindrom Zollinger-Ellison (Sukandar dkk,2009). Kontraindikasi : hipersensitivitas ranitidin dan H2-antagonis (APhA, 2009). Dosis : Oral : 150 mg 2 kali sehari (pagi dan malam hari) atau 300 mg sebelum tidur malam selama 4-7 minggu untuk tukak lambung dan tukak duodenum, sampai 6 minggu pada dyspepsia episodic kronis, dan sampai 8 minggu pada tukak karena NSAID. Pemeliharaan : 150 mg sebelum tidur malam. Tukak duodenum : 300 mg 2 kali sehari selama 4 minggu untuk memaksimalkan penyembuhan. Profilaksis tukak duodenum karena NSAID: 150 mg 2 kali sehari. Refluks esofagitis : 150 mg 2 kali sehari/ 300 mg sebelum tidur selama hingga 8 minggu; pengobatan jangka panjang esofagitis : 150 mg 2 kali sehari. Tukak lambung : anak-anak 2-4 mg/kg 2 kali sehari ( maksimal 300 mg sehari).

22

Injeksi intramuscular : 50 mg setiap 6-8 jam. Injeksi intravena lambat : 50 mg diencerkan sampai 20 ml dan diberikan selama 2 menit dan dapat diulang setiap 6-8 jam. Infuse intravena : 25 mg/jam selama 2 menit dan dapat diulang setiap 6-8 jam (Sukandar dkk, 2009). Efek samping : kebiasaan BAB berubah, pusing, ruam, kulit, kerusakan hati yang reversible, sakit kepala, jarang terjadi gangguan darah, nyeri otot/sendi, hipersensitivitas, bradikardi dan blok AV, pankreatitis akut, dosis tinggi menyebabkan ginekomastia dan nyeri pada laki-laki, eritema multiforma (Sukandar dkk, 2009). Interaksi obat : ranitidin meningkatkan efek saquinavir, menurunkan efek agen antifugal; P-glikoprotein inhibitor dapat meningkatkan efek ranitidine; P-glikoprotein inducer dapat meningkatkan efek ranitidine (APhA, 2009). Farmakinetika/ Farmakodinamika : absorpsi 50% oral; distribusi : masuk ke ASi; metabolisme : N-oksida, S-oksida, N-desmetil metabolit; ekskresi : urin 30% (oral) dan 70% (iv) (APhA, 2009). Perhatian : tidak menghambat metabolisme obat mikrosom hati; hindarkan pada porifia (Sukandar dkk,2009). Famotidin Indikasi : tukak lambung dan tukak duodenum, refluks esofagitis, dan sindrom Zollinger Ellison (Sukandar dkk, 2009). Kontraindikasi : hipersensitivitas famotidin dan H2-antagonis(APhA, 2009). Dosis : Tukak lambung dan duodenum : 40 mg sebelum tidur malam selama 4-8 minggu. Refuks esofagitis : 20-40 mg 2 kali sehari selama 6-12 minggu; pemeliharaan 20 mg 2 kali sehari. Sindrom Zollinger-Ellison : 20 mg tiap 6 jam (pasien yang telah menggunakan antagonis reseptor H2 lain diberikan dosis yang lebih tinggi) (Sukandar dkk, 2009).

23

Efek samping : kebiasaan BAB berubah, pusing, ruam, kulit, kerusakan hati yang reversible, sakit kepala, jarang terjadi gangguan darah, nyeri otot/sendi, hipersensitivitas, bradikardi dan blok AV, pankreatitis akut, dosis tinggi menyebabkan ginekomastia, eritema multiforma (Sukandar dkk, 2009). Interaksi obat : famotidin meningkatkan efek saquinavir, menurunkan efek agen antifugal (APhA, 2009). Farmakinetika/ Farmakodinamika : onset di GI : (oral) 1-3 jam, (iv) 30 menit; durasi : 10-12 jam; ikatan protein 15-20%; ekskresi : urin (APhA, 2009). Perhatian : tidak menghambat metabolism obat mikrosoma hati (Sukandar dkk,2009). Nizatidin Indikasi : tukak lambung, tukak duodenum, dan GERD (Sukandar dkk, 2009). Kontraindikasi : hipersensitivitas nizatidin dan H2-antagonis(APhA, 2009). Dosis : oral : tukak lambung dan tukak duodenum diberikan 300 mg sebelum tidur malam atau 150 mg 2 kali sehari selama 4-8 minggu (sampai 8 minggu pada tukak akibat NSAID); pemeliharaan 150 mg sebelum tidur malam. Refluks esofagitis diberikan 150-300 mg 2 kali sehari selama sampai 12 minggu (Sukandar dkk, 2009). Infus intravena : jangka pendek pada tukak lambung pasien rawat inap secara infuse intravena intermitten selama 15 menit 100 mg 3 kali sehari atau secara intravena 10mg/jam maksimal 480 mg sehari (Sukandar dkk,2009). Efek samping : kebiasaan BAB berubah, pusing, ruam, kulit, kerusakan hati yang reversible, sakit kepala, jarang terjadi gangguan darah, nyeri otot/sendi, hipersensitivitas, bradikardi dan blok AV, pankreatitis akut, dosis tinggi menyebabkan ginekomastia, berkeringat (Sukandar dkk, 2009).

24

Interaksi obat : nizatidin meningkatkan efek saquinvair; menurunkan efek agen antifungal (APhA, 2009). Farmakinetika/ Farmakodinamika : distribusi : Vd 0,8-1,5 l/kg; metabolisme : sebagian di hati, ekskresi : urin (90%-60% tidak berubah), feses (<6%) (APhA, 2009). Perhatian : tidak dianjurkan untuk anak-anak, tidak menghambat metabolisme obat mikrosom hati; hindarkan pada porifia (Sukandar dkk, 2009).

4. Antasida Mekanisme kerja : Menetralkan asam lambung dengan cara meningkatkan pH lumen lambung. Antasida bereaksi dengan asam lambung garam + air. Antasida menetralkan asam lambung tetapi tidak mempengaruhi jumlah dan kecepatan sekresi asam lambung. Jadi hanya meningkatkan pH yang ada dalam lambung dan duodenum sehingga memperbesar efek pada pH duodenum daripada di lambung. Antasida tidak semuanya dapat menetralkan asam lambung; dengan dosis terapi yang biasanya antasida tidak dapat meningkatkan dan mempertahankan pH lambung diatas 4- 5. Garam Magnesium Garam hidroksida dari magnesium digunakan untuk memproduksi obat kuat, yang reaksinya lambat dalam reaksi neutralisasi. Kebanyakan Magnesium klorida membentuk reaksi dengan bikarbonat di dalam usus kecil, mengurangi resiko dalam keteraturan pH). Indikasi : dyspepsia (Sukandar dkk, 2009). Kontraindikasi : hipofosfaremia (Sukandar dkk, 2009). Dosis : Liquid : anak-anak 12 tahun dan dewasa 400 mg/5ml 5-15 ml sesuai kebutuhan setiap 4 kali sehari. Tablet : anak 12 tahun dan dewasa 311 mg/tablet 2-4 tablet setiap 4 jam bias sampai 4 kali sehari (APhA, 2009). sistem alkaloisis (meningkatkan

25

Efek samping : diare (Sukandar dkk, 2009). Perhatian : gangguan ginjal menyebabkan hipermagnesemia (Sukandar dkk, 2009). Garam Alumunium Aluminium hidroksida larut perlahan kedalam perut dimana bereaksi dengan asam lambung untuk membentuk aluminium klorida dan air. Indikasi : dyspepsia, hiperfosfatemia (Sukandar dkk, 2009). Kontraindikasi : hipofosfaremia (Sukandar dkk, 2009). Dosis : dewasa 600-1200 mg di antara waktu makan dan waktu tidur (APhA, 2009). Efek samping : konstipasi, gangguan isi perut, dan dehidrasi (Sukandar dkk,2009). Kombinasi aluminium dan magnesium Kedua zat ini membawa kemungkinan yang baik pada absorbsi. Campuran 2 zat ini paling manjur dengan dosis rendah dari tiap reaktan. Indikasi : dyspepsia (Sukandar dkk, 2009). Kontraindikasi : hipofosfaremia (Sukandar dkk, 2009). Dosis : 5-10 ml 4-5 kali sehari di antara waktu makan dan waktu tidur, dapat digunakan setiap jam untuk symptom yang parah (APhA, 2009). Efek samping : konstipasi merupakan efek dari penggunaan aluminium secara berlebih dan diare merupakan efek dari penggunaan magnesium secara berlebih (Sukandar dkk,2009). Perhatian : gangguan ginjal (Sukandar dkk, 2009). Kalsium karbonat Kalsium karbonat bereaksi dengan asam lambung untuk menghasilkan kalsium klorida, karbondioksida dan air. 10% yang bereaksi dengan usus dan direabsorsi di sirkulasi sistemik ; 90% bereaksi dengan bikarbonat di usus kecil garam kalsium. Efek samping : mengurangi kekebalan pasien, dan tidak bisa mengukur kondisi pasien dengan fungsi ginjal normal jika kalsium karbonat yang dikonsumsi harian sekitar 20 gr.

26

Sodium bikarbonat Ketika sodium bikarbonat diminum maka asam lambung dinetralkan oleh antasid eksogenus. Indikasi :meringankan dyspepsia dengan cepat, alkalinisasi urin (Sukandar dkk, 2009). Kontraindikasi : alkalosis, hipernatremia, pulmonary edema parah, hipokalemia, nyeri abdominal yang tidak diketahui (APhA,2009). Dosis : dewasa 325 mg -2 g 1-4 kali sehari (APhA,2009). Efek samping : alkaloisis (proses pencernaan), pencernaan kronis dengan kalsium (pada kelejar susu), muntah, maag, dehidrasi, hipokalemi (Anonim, 2011). Bersendawa (Sukandar dkk, 2009). Interaksi obat : Na-bikarbonat akan meningkatkan efek alfa-/beta-agonis, amfetamin,kuinidn, memantin; menurunkan efek ACEI, antikonvulsan, agen antifungal, agen antipsikotik, kortikosteroid (oral) (APhA,2009). Farmakinetika/ Farmakodinamika : onset : cepat (oral), 15 menit (iv); durasi : 8-10 menit (oral), 1-2 jam (iv); ekskresi : urin (<1%) (APhA, 2009). Perhatian : gangguan fungsi hati dan ginjal, penyakit jantung, kehamilan, usia lanjut, hindari penggunaan jangka panjang (Sukandar dkk,2009).

I. MONITORING PENGOBATAN Penekanan pengobatan ditujukan pada peran luas infeksi H. pylori sebagai penyebab ulcer peptic. Pengobatan terhadap infeksi H. pylori dapat dilakukan dengan pemberian antibiotik yang sesuai. Penderita ulcer harus menghentikan pengobatan dengan NSAID atau apabila hal ini tidak dapat dilakukan, pemberian agonis prostaglandin yang bekerja lama, misalnya misoprostol (Dipiro, 2008). Terapi yang dapat digunakan menggunakan kombinasi antibiotik yang dikombinasi dengan proton pump inhibitor (PPi) dan histamine-2 receptor antagonist (H2RA). Antibiotik berguna untuk eradikasi H. pylori karena penyebab utama tukak peptik adalah H. pylori. Penggunaan PPi dan H2RA untuk

27

mengurangi sekresi asam lambung yang berlebihan pada tukak peptik (Dipiro, 2008). Pilihan pertama untuk terapi adalah menggunakan proton pump inhibitor sebagai dasar terapi 3 obat selama minimal 7 hari, tetapi lebih dianjurkan selama 10 sampai 14 hari. Terapi menggunakan PPi dan H2RA direkomendasikan pada pasien yang memiliki resiko tinggi komplikasi tukak, pasien yang gagal dalam eradikasi H. pylori (Dipiro, 2008). Berkurangnya nyeri epigastrik harus dimonitor dengan seksama yang merupakan bagian terapi pada pasien dengan infeksi H. pylori atau NSAID induced ulcers. Umumnya nyeri tukak berkurang dalam beberapa hari ketika NSAID tidak digunakan dan dengan 7 hari inisiasi terapi anti tukak Penggunaan NSAID jangka panjang memiliki 2% sampai 4% risiko berkembangnya ulser simtomatik, perdarahan GI atau bahkan perforasi. NSAID dihentikan sama sekali dan atau diganti dengan inhibitor COX-2 selektif. Meskipun terus menggunakan NSAID, penyembuhan dapat dilakukan dengan menggunakan obat-obat pensupresi asam, biasanya dengan dosis yang lebih tinggi dan durasi yang jauh lebih lama (8 minggu). PPI mempunyai efek yang lebih baik daripada H2RA dan misoprostol dalam mendorong tukak aktif, juga mencegah kekambuhan tukak.

Pencegahan : Hindari aspirin, ibuprofen, maproxen dan NSAID lainnya. Gunakan acetaminophen sebagai gantinya, jika harus menggunakan obat-obat tersebut sebaiknya menghubungi dokter untuk penanganan lebih lanjut. Perubahan gaya hidup seperti tidak merokok, batasi konsumsi alkohol dapat mencegah terjadinya ulkus peptik (Anonim, 2011).

28

DAFTAR PUSTAKA

American Gastroenterological Association, 2012, Understanding Peptic Ulcer Disease, http://www.gastro.org/patient-center/digestive-conditions/pepticulcer-disease, diakses tanggal 22 Maret 2012. American International Health Alliance, 2005, Protocol for Diagnosis and Treatment of Peptic Ulcer in Adults, www.aiha.com, diakses tanggal 23 Maret 2012. Anonim, 2011, Peptic Ulcer, http://www.nlm.nih.gov/medlineplus/ency/ article/000206.htm, diakses tanggal 22 Maret 2012. Anonim, 2011b, APhA, 2009, Drug Information Handbook. 18th ed. United State : Lexi-Comp Inc., pp: 199, 1404. Berardi R, Kroon LA, McDermott JH, et al, 2006, Handbook of Nonprescription Drugs. 15th ed. Washington, DC: American Pharmacists Association, pp: 91-94. Corwin, E.J, 2008, Buku Saku Patofisiologi, hal 603-605, Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta. Drug Bank, 2005a, Amoxicillin, Drug Bank Open Data Drug and Drug Target Database, http://www.drugbank.ca/drugs/DB01060, diakses tanggal 24 Maret 2012. Drug Bank, 2005b, Clarithromycin, Drug Bank Open Data Drug and Drug Target Database, http://www.drugbank.ca/drugs/DB01211, diakses tanggal 24 Maret 2012. Drug Bank, 2005c, Metronidazole, Drug Bank Open Data Drug and Drug Target Database, http://www.drugbank.ca/drugs/DB00916, diakses tanggal 24 Maret 2012. Drug Bank, 2005d, Tinidazole, Drug Bank Open Data Drug and Drug Target Database, http://www.drugbank.ca/drugs/DB00911, diakses tanggal 24 Maret 2012. Green B.D, MD, et al, 2004, The Washington Manual of Medical Therapeutics 31st Ed, Lippincott Williams & Wilkins Publishing, Washington, diakses tanggal 19 Maret 2012.

29

Katzung, 2002, Lillard, S. and Roberts, 2005, Tetracycline, The Toxic Effects of Fungal Exposure, http://www.mold-survivor.com/tetracycline.html, diakses tanggal 24 maret 2012. MedlinePlus, 2011, Peptic Ulcer, http://www.nlm.nih.gov/medlineplus/ pepticulcer.html, diakses tanggal 22 Maret 2012. Nathan T., Brandt C.J, De Muckedell O.S, 2012, dr. Peptic Ulcers Treatment, http://www.netdoctor.co.uk/diseases/facts/pepticulcertreatment.htm,diakses 19 Maret 2012. National Digestive Diseases Information Clearinghouse, 2010, What I need to know about Peptic Ulcers, http://digestive.niddk.nih.gov/ ddiseases/pubs/pepticulcers_ez/, diakses tanggal 22 Maret 2012. Silitonga, M.M, 2007, Infeksi Saluran Gastroduodenal oleh Bakteri Helicobacter pylori, http://isjd.pdii.lipi.go.id/admin/jurnal/62071021.pdf, diakses tanggal 24 Maret 2012. Sukandar, E.Y., Andrajati, R., Sigit, J.I., Adnyana, I.K., Setiadi, A.A.P.S., dan Kusnandar, 2009, ISO Farmakoterapi, hal 433-445, PT.ISFI Penerbitan, Jakarta.

30