0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
398 tayangan17 halaman

Program Audit Keseluruhan dan Jenis Pengujian

Makalah ini membahas perencanaan dan program audit secara keseluruhan. Terdapat tiga jenis pengujian audit utama yaitu pengujian atas pengendalian internal, pengujian substantif transaksi, dan pengujian substantif saldo. Jenis pengujian yang dipilih bergantung pada faktor seperti ketersediaan bukti, biaya, dan risiko pengendalian.

Diunggah oleh

Liendha Inthedark
Hak Cipta
© Attribution Non-Commercial (BY-NC)
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOC, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
398 tayangan17 halaman

Program Audit Keseluruhan dan Jenis Pengujian

Makalah ini membahas perencanaan dan program audit secara keseluruhan. Terdapat tiga jenis pengujian audit utama yaitu pengujian atas pengendalian internal, pengujian substantif transaksi, dan pengujian substantif saldo. Jenis pengujian yang dipilih bergantung pada faktor seperti ketersediaan bukti, biaya, dan risiko pengendalian.

Diunggah oleh

Liendha Inthedark
Hak Cipta
© Attribution Non-Commercial (BY-NC)
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOC, PDF, TXT atau baca online di Scribd

MAKALAH PENGAUDITAN

TEMA: OVERALL AUDIT PROGRAM

NAMA ANGGOTA : Maulana Andriaji Robby Arisandi Ichwan Aditya Rahman


Syartika Desilian Hasibuan Erlinda Sari

C1C109015 C1C109026 C1C109037 C1C109044 C1C109046 C1C109047 C1C109052

Miyati
Jubaidah

UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT Fakultas Ekonomi 2010-2011

KATA PENGANTAR

Segala puji dan syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena atas segala rahmat dan karunia-Nya sehingga makalah ini dapat diselesaikan dan makalah ini berjudul overall audit program . Sehubungan dengan hal tersebut, kami juga ingin mengucapkan terima kasih kepada : a. Dosen pembimbing mata kuliah Pengauditan b. Dan semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan makalah ini Kami sangat sadar bahwa makalah ini jauh dari kesempurnaan, oleh karena itu kami mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari Anda sekalian. Akhir kata, kami berharap bahwa makalah ini dapat mmemberikan manfaat yang lebih bagi kita semua. Amien.

Banjarmasin, Mei 2011 Penyusun,

Kelompok

BAB I PENDAHULUAN BAB II ISI KESELURUHAN PERENCANAAN DAN PROGRAM AUDIT (OVERALL AUDIT PROGRAM)

I.

JENIS-JENIS PENGUJIAN Ada tiga jenis pengujian dasar yang dapat dipakai dalam penentuan apakah laporan keuangan telah disajikan secara wajar.

A. Prosedur untuk memperoleh pemahaman atas struktur pengendalian intern Selama tahap audit tersebut, auditor harus memusatkan perhatiannya kepada rancangan dan operasi dari aspek-aspek struktur pengendalian intern sampai seluas yang diperlukan untuk dapat merancang audit dengan efektif. Tujuan pelaksanaan prosedur adalah untuk memberikan pemahaman dan bahan bukti, dimana terdapat lima jenis prosedur yang berhubungan dengan pemahaman auditor atas struktur pengendalian intern yaitu : Pengalaman auditor pada periode sebelumnya terhadap satuan usaha tersebut Tanya jawab dengan pegawai perusahaan Pemeriksaan pedoman kebijakan dan sistem

Pemeriksaan atas dokumen dan catatan Pengamatan aktivitas dan operasi satuan usaha tersebut

B. Pengujian atas pengendalian Penggunaan utama dari pemahaman auditor atas struktur pengendalian intern adalah untuk menetapkan resiko pengendalian relatif terhadap berbagai tujuan audit berkaitan transaksi. Tingkat resiko pengendalian yang ditetapkan harus dibatasi sampai tingkat yang didukung oleh bahan bukti yang diperoleh. Prosedur yang digunakan untuk memperoleh bahan bukti semacam ini disebut pengujian atas pengendalian dan diarahkan kepada efektifitas pengendalian (rancangan dan operasinya) Pengujian ini mencakup jenis bahan bukti berikut : Tanya jawab dengan pegawai klien Pemeriksaan dokumen dan catatan Pengamatan aktivitas-aktivitas berhubungan dengan pengendalian Pelaksanaan ulang oleh auditor terhadap prosedur-prosedur klien.

Dua prosedur yang pertama sama dengan jenis bahan bukti yang diperoleh dalam memahami struktur pengendalian intern. Sehingga, penetapan resiko pengendalian dan pengujian atas pengendalian dapat dikatakan sebagai kelanjutan dari posedur audit yang digunakan untuk memperoleh pemahaman struktur pengendalian intern. Perbedaan utama adalah bahwa dengan pengujian atas pengendalian tersebut, tujuan menjadi lebih spesifik dan pengujian menjadi efektif. Pengujian pengendalian juga digunakan untuk menentukan apakah penggunaan pengendalian tersebut telah efektif dan biasanya digunakan untuk menguji sebuah sample transaksi. Sebagai pengujian efektivitas pelaksanaan proses persetujuan kredit, misalnya, auditor dapat menguji sample 50 transaksi penjualan yang terjadi sepanjang tahun untuk menentukan apakah kredit diberikan sebelum pengiriman internal biasanya tidak memberikan bukti tepat yang memadai untuk mendukung bahwa pengendalian otomatis, karena pengerjaannya yang konsisten.

Prosedur yang dilakukan auditor untuk menentukan apakah pengendalian otomatis telah diterapkan juga dapat berlaku sebagai pengujian atas transaksi tersebut, jika auditor menentukan terdapat resiko yang minimal bahwa pengendalian otomatis telah diubah sejak pemahaman didapatkan oleh auditor. Selanjutnya, tidak ada pengujian tambahan atas pengendalian yang diharuskan. Jumlah bukti tambahan yang diharuskan untuk menguji pengendalian bergantung pada dua hal berikut. Keluasan bukti yang didapatkan dalam memperoleh pemahaman atas pengendalian internal. Pengurangan resiko pengendalian yang direncanakan.

C. Pengujian substantif atas transaksi Pengujian substantif adalah prosedur yang dirancang untuk menguji kekeliruan atau ketidakberesan dalam bentuk uang yang langsung mempengaruhi kebenaran saldo laporan keuangan. Kekeliruan atau ketidakberesan tersebut (sering disebut salah saji atau ketidakberesan moneter) merupakan indikasi yang jelas terjadinya salah saji dalam akun-akun laporan keuangan. Terdapat tiga jenis pengujian substantif yaitu pengujian atas transaksi, prosedur analitis, dan pengujian terinci atas saldo. Tujuan pengujian substantif atas transaksi adalah menentukan apakah transaksi akuntansi klien telah diotorisasi dengan pantas, dicatat dan diiktisarkan dalam jurnal dangan benar dan diposting kebuku besar dan buku tambahan dengan benar. 1. Pengujian atas transaksi Biasanya meliputi suatu bagian deskriptif yang mendokumentasikan pemahaman memperoleh sekitar pengendalian intern. Juga menyertakan uraian tentang prosedur dan risiko pengendalian yang dinilai.

2. Prosedur analitis Prosedur analitis mencakup perbandingan jumlah yang dicatat dengan ekspektasi yang dikembangkan oleh auditor .

ada empat tujuan penggunaan prosedur analitis yaitu : 1. memahami bidang klien 2. menetapkan kemampuan kelangsungan hidup suatu satuan usaha 3. indikasi timbulnya kemungkinan salah saji dalam laporan keuangan dan 4. mengurangi pengujian audit yang lebih rinci. 3. Pengujian terinci atas saldo (test of detail of balances) Pengujian terinci atas saldo memuatkan pada saat saldo akhir buku besar baik untuk akunakun neraca maupun laba rugi, tetapi penekanan utama pada kebanyakan pengujian terinci atas saldo adalah neraca. Pengujian terinci atas saldo akhir ini penting dalam pelaksanaan audit, karena dalam kebanyakan bagiannya, bahan bukti diperoleh dari sumber yang independen dari klien dan dengan demikian, dinilai berkualitas tinggi. Pengujian terinci atas saldo bertujuan memberikan kebenaran moneter atas akun-akun yang berkaitan dan dengan demikian pengujian substantif .

II. MEMILIH JENIS PENGUJIAN YANG TEPAT UNTUK DILAKUKAN Biasanya, auditor menggunakan kelima jenis pengujian ketika melakukan audit atas laporan keuangan, namun beberapa jenis pengujian mendapatkan penekanan yang lebih dibandingkan dengan yang lain, bergantung pada kondisi. Ingat kembali bahwa prosedur analisis diharuskan dalam semua audit untuk menilai resiko salah saji material sementara keempat jenis pengujian lainnya dilakukan untuk menghadapi risiko yang teridentifikasi untuk memberikan dasar bagi opini auditor. Perlu dicatat bahwa hanya prosedur penilaian resiko, khususnya prosedur untuk mendapatkan pemahaman pengendalian, dan pengujian pengendalian digunakan dalam audit pengendalian internal laporan keuangan. Beberapa faktor yang mempengaruhi pilihan auditor terhadap jenis pengujian yang dipilih, termasuk ketersediaan kedelapan bukti audit, biaya relatif untuk setiap pengujian, efektivitas pengendalian internal serta resiko bawaan a. Ketersediaan Jenis Bukti Prosedur Audit Lanjutan

Masing-masing dari empat jenis prosedur audit lanjutan hanya melibatkan beberapa jenis bukti audit (konfirmasi, dokumentasi, dan seterusnya). Tabel 11-2 mengikhtisarkan hubungan antara prosedur audit lanjutan dengan jenis bukti audit. Kita dapat melakukan beberapa pengamatan berikut mengenai tabel tersebut. Makin banyak jenis bukti, yang jumlah totalnya adalah enam, digunakan untuk menguji perincian saldo dibandingkan untuk setiap jenis pengujian lainnya. Hanya pengujian terperinci saldo yang melibatkan pemeriksaan fisik dan konfirmasi. Tanya jawab dengan klien dilakukan untuk setiap jenis pengujian. Dokumentasi digunakan di setiap jenis pengujian kecuali prosedur analitis. Pengerjaan ulang digunakan di setiap jenis pengujian kecuali prosedur analitis, dengan satu pengecualian. Ketika auditor memeriksa dokumentasi sebagai bagian dari penelusuran atas transaksi untuk mendapatkan pemahaman atas pengendalian internal, auditor sering kali mengerjakan ulang pengendalian untuk meyakinkan bahwa pengendalian telah diterapkan.

TABEL 11-2

Pemeriksaan Fisik

Hubungan Antara Prosedur Analitis Lanjutan dan Bukti Jenis Bukti Pengerjaan Ulang Prosedur Analitis Penghitungan Ulang Tanya Jawab Klien Dokumentasi Konfirmasi Observasi

Prosedur Audit Lanjutan Pengujian atas pengendalian (termasuk prosedur untuk mendapatkan pemahaman atas pengendalian internal) Pengujian substansif atas transaksi Prosedur analitis Pengujian terperinci atas saldo

Penghitungan ulang digunakan untuk memverifikasi akurasi matematis atas transaksi ketika melakukan pengujian substantif transaksi dan saldo akun ketika melakukan pengujian atas perincian saldo. b. Biaya relatif. Jenis pengujian berikut diurutkan berdasarkan makin besarnya biaya yang diperlukan, Prosedur analitis Prosedur untuk memperoleh pemahaman atas struktur pengendalian intern dan pengujian atas pengendalian Pengujian substantif atas transaksi Pengujian terinci atas saldo

Alasan prosedur analitis merupakan prosedur yang paling murah adalah karena relatif mudah untuk membuat perhitungan dan erbandingan. Pengujian atas pengendalian juga rendah dalam biayanya karena dalam membuat penyidikan dan pengamatan serta pemeriksaan atau hal-hal seperti inisial pada dokumen dan indikasi keluar dari prosedur pengendalian yang lainnya. Seringkali pengujian atas pengendalian data dilakukan dalam jumlah besar pos atau unsur dalam beberapa menit. Pengujian terperinci atas saldo kebanyakan selalu lebih mahal daripada jenis posedur yang lain. Dibutuhkan biaya untuk mengirim konfirmasi dan menghitung aktiva. Karena mahalnya pengujian terinci atas saldo, auditor biasanya dalam merencanakan audit berusaha untuk meminimalkan penggunaannya.

c. Efektivitas pengendalian internal Sebagai tambahan, manajemen juga harus menguji efektivitas pelaksanaan pengendalian internal. Tujuan pengujian tersebut adalah untuk menentukan apakah pengendalian dijalankan sesuai dengan rencana dan apakah orang yang menjalankan pengendalian memiliki otoritas dan kualifikasi yang diperlukan untuk melakukan pengendalian dengan efektif. Hasil pengujian manajemen, yang juga harus didokumentasikan, akan menjadi dasar bagi asersi manajemen diakhir tahun fiskal mengenai efektifitas pengendalian

internal. Manajemen juga harus mengungkapkan setiap kelemahan pengendalian internal yang signifikan. Meskipun hanya terdapat satu kelemahan yang signifikan yang muncul, manajemen harus menyimpulkan bahwa pengendalian internal perusahaan atas laporan keuangan tidak efektif. d. Risiko Bawaan Risiko bawaan mengukur penilaian auditor atas terdapatnya salah saji material (baik kecurangan maupun kesalahan) dalam sebuah bagian pengauditan sebelum mempertimbangkan efektifitas pengendalian internal klien. Jika auditor menyimpulkan bahwa kemungkinan salah saji tinggi, tanpa mempertimbangkan pengendalian internal, auditor akan menyimpulkan bahwa risiko bawaannya tinggi. Pengendalian internal diabaikan dalam menetapkan risiko bawaan karena pengendalian internal dianggap terpisah dari model risiko audit sebagai risiko pengendalian. Penilaian biasanya berdasarkan hasil diskusi dengan manajemen, pengentahuan akan perusahaan, dan hasil pengauditan tahuntahun sebelumnya. Risiko bawaan berbanding terbalik dengan risiko deteksi yang direncanakan dan berbanding lurus dengan bukti audit. Selain meningkatkan bukti audit untuk risiko bawaan yang lebih tinggi dalam suatu bagian pengauditan, auditor biasanya menugaskan staf yang lebih berpengalaman untuk bagian pengauditan tersebut dan menelaah pengujian audit yang telah diselesaikan dengan lebih mendalam. Sebagai contoh, jika risiko bawaan untuk keusangan persediaan sangat tinggi, maka sangat masuk akal bila KAP yang mengauditnya menugaskan staf yang lebih berpengalaman untuk melakukan lebih banyak pengujian yang meluas bagi keusangan persediaan dan penelaahan yang lebih mendalam untuk bukti-bukti auditnya Trade-off antara pengujian atas pengendalian dan pengujian substantif Terdapat penyeimbangan (Trade off) antara pengujian atas pengendalian dan pengujian substantif. Auditor membuat keputusan selama perencanaan, apakah akan menetapkan risiko pengendalian dibawah maksimum. Pengujian atas pengendalian harus dilaksanakan untuk menentukan apakah resiko pengendalian yang ditetapkan berada dibawah maksimum, Resiko penemuan yang direncanakan dalam model resiko audit ditingkatkan. Dengan demikian pengujian substantif yang direncanakan dapat dikurangi. Suatu pengecualian dalam pengujian

pengendalian hanya mengindikasikan kemungkinan salah saji yang memengaruhi nilai rupiah dari laporan keuangan, sedangkan suatu pengecualian dalam pengujian substantif transaksi atau pengujian terperinci saldo merupakan suatu salah saji dalam laporan keuangan. Pengecualian dalam pengujian pengendalian dinamakan deviasi uji pengendalian. Auditor sangat mungkin meyakini salah saji rupiah yang material terjadi dalam laporan keuangan ketika deviasi uji pengendalian dianggap sebagai kekurangan signifikan atau kelemahan material. Sehingga, selanjutnya auditor harus melakukan pengujian substantif transaksi atau pengujian terperinci saldo untuk menentukan apakah salah saji rupiah yang material telah terjadi. Pengendalian klien mengharuskan seorang petugas independen untuk memverivikasi kuantitas, harga dan pejumlahan dari setiap faktur penjualan, setelahnya petugas harus menuliskan inisial dalam salinan faktur penjualan untuk menandai verifikasi telah dilakukan. Salah satu prosedur pengujian pengendalian yang dilakukan adalah untuk memeriksa sebuah sampel salinan faktur penjualan untuk inisial orang yang memverifikasi informasi tersebut. Jika tidak ada inisial pada sejumlah besar dokemen, auditor harus melakukan pengujian substantif dengan memperluas pengujian salinan faktur penjualan untuk memasukkan harga, penjumlahan, dan jumlah total atau menambahkan ukuran sampel untuk konfirmasi saldo akun piutang dagang. Meskipun pengendalian tidak berjalan dengan efektif, faktur tersebut mungkin tetap benar. Jika tidak ada dokumen, atau hanya beberapa dokumen yang tidak memiliki inisial, maka pengendalian dianggap efektif sehingga auditor dapat mengurangi pengujian substantif transaksi dan pengujian terperinci saldo. Namun, beberapa pengerjaan ulang dan penghitungan ulang pengujian substantif tetap diperlukan untuk memberikan keyakinan bahwa petugas yang melakukan verifikasi tidak menuliskan inisial dalam dokumen tanpa benar-benar melakukan prosedur pengendalian atau melakukannya dengan asal-asalan.

Hubungan Prosedur Analitis dan Pengujian Substantif Prosedur analitis mengindikasikan kemungkinan salah saji yang berpengaruh pada nilai rupiah laporan keuangan. Fluktuasi yang tidak biasa dalam hubungan-hubungan sebuah akun dengan

akun lainnya atau dengan infor,asi nonkeuangan, dapat mengindikasikan peningkatan kemungkinan terjadinya salah saji tanpa perlu memberikan bukti langsung atas saji material tersebut. Auditor harus melakukan pengujian substantif transaksi atau pengujian terperinci saldo untuk menentukan apakah salah saji rupiah benar-benar telah terjadi. Jika auditor melakukan prosedur analitis substantif dan meyakini bahwa kemungkinan terjadinya salah saji itu kecil, pengujian substantif lainnya dapat dikurangi. Untuk akun-akun dengan saldo yang kecil dan yang hanya memiliki potensi salah saji yang kecil, seperti misalnya akun perlengkapan dan akun-akun beban dibayar di muka, auditor seringkali membatasi pengujian mereka hanya sampai ke prosedur analitis substantif jika mereka menyimpulkan bahwa akun-akun tersebut sudah disajikan secara wajar.

Dilema Antara Pengujian Pengendalian dan Pengujian Substantif

Selama perencanaan, auditor harus memutuskan apakah akan menilai risiko pengendalian di bawah maksimum. Jika mereka melakukannya, mereka kemudian harus melakukan pengujian pengendalian untuk menentukan apakah tingkat risiko pengendalian yang dinilai tersebut dapat dibenarkan. Jika pengujian pengendalian mendukung penilaian risiko pengendalian, risiko deteksi yang direncanakan dalam model risiko audit meningkat, sehingga pengujian substantif yang direncanakan dapat dikurangi. III. BUKTI GABUNGAN Pilihan jenis pengujian yang akan digunakan dan seberapa luas pengujian tersebut dilakukan dapat berbeda antara audit yang memiliki tingkat efektivitas pengendalian dan risiko bawaan yang berbeda. Bahkan Dalam sebuah pengauditan, Dapat terjadi dari satu siklus ke siklus lainnya. Untuk mendapatkan bukti yang tepat dan memadai untuk menghadapi risiko-risiko yang teridentifikasi melalui prosedur penilaian risiko. Auditor menggunakan empat jenis kombinasi antara jenis pengujian lainnya. Kombinasi ini dinamai dengan BUKTI GABUNGAN (EVIDENCE MIX).

Sebagai contoh terdapat empat pengauditan yang berbeda, dan dianggap setiap kasus terdapat bukti yang tepat dan memadai, sehingga dapat ditentukan deskripsi klien dari bukti gabungan. Analisis Audit 1, Klien ini merupakan sebuah perusahaan besar dengan pengendalian internal yang rumit dan risiko bawaan yang rendah. Sehingga, auditor melakukan pengujian pengendalian yang luas dan sangat mengandalkan pada pengendalian internal klien untuk mengurangi pengujian substantif lainnya. Hal ini menyebabkan pengujian substantif transaksi dan pengujian terperinci saldo diminimalkan, karena penekanan pada pengujian pengendalian dan prosedur analitis substantif, audit ini dapat dilakukan dengan biaya yang relatif tidak mahal. Audit ini kemungkinan menghadirkan gabungan bukti yang digunakan dalam audit terintegrasi laporan keuangan dan pengendalian internal laporan keuangan perusahaan public Analisis Audit 2, Perusahaan ini berukuran sedang, dengan beberapa pengendalian dan beberapa resiko bawaan. Auditor telah memutuskan untuk melakukan pengujian atas semua jenis pengujian sedang, kecuali untuk prosedur analitis substantif, yang kemungkinan akan dilakukan secara meluas. Lebih banyak pengujian yang luas yang akan dibutuhkan jika risiko bawaan yang khusus ditemukan Analisis Audit 3, Perusahaan ini berukuran sedang, namun memiliki beberapa pengendalian yang efektif dan beberapa risiko bawaan yang signifikan. Mungkin manajemen memutuskan bahwa pengendalian internal yang lebih baik memakan biaya yang cukup besar. Karena kurangnya pengendalian internal yang efektif, kita dapat menganggap perusahaan ini kemungkinan bukan perusahaan publik. Tidak ada pengujian atas pengendalian yang dilakukan karena bergantung pada pengendalian internal tidak tepat ketika pengendaliannya tidak efektif untuk suatu perusahaan nonpublik. Auditor menekankan pada pengujian terperinci saldo dan pengujian substantif transaksi, namun beberapa prosedur analitis substantif juga dilakukan. Prosedur analitis substantif biasanya dilakukan untuk mengurangi pengujian substantif karena mereka akan memberikan bukti mengenai kemungkinan salah saji material dalam saldo akunakun, prosedur analitis tambahan menjadi tidak murah lagi. Biaya audit kemungkinan akan menjadi relatif tinggi karena jumlah pengujian substantif yang lebih terperinci Analisis Audit 4, Rencana awal untuk audit ini adalah mengikuti pendekatan yang digunakan dalam audit 2. Namun, auditor kemungkinan menemukan deviasi uji pengendalian yang luas,

dan salah saji yang signifikan ketika melakukan pengujian-pengujian substantif transaksi dan prosedur analitis substantif. Sehingga auditor menyimpulkan bahwa pengendalian internalnya tidak efektif. Pengujian terperinci saldo yang meluas dilakukan untuk menutupi hasil pengujian lainnya yang tidak dapat diterima. Biaya audit ini lebih besar karena pengujian pengendalian dan pengujian substantif transaksi dilakukan namun tidak dapat digunakan untuk mengurangi pengujian terperinci saldo

IV.

MERANCANG PROGRAM AUDIT

Program audit pada kebanyakan audit dirancang dalam tiga bagian, yaitu pengujian atas transaksi, prosedur analitis, dan pengujian terinci atas saldo.

a. Pengujian Atas Transaksi Program audit pengujian atas transaksi biasanya mencakup bagian penjelasan yang mendokumentasikan pemahaman yang diperoleh mengenai struktur pengendalian intern. Baik prosedur yang dijalankan maupun resiko pengendalian yang direncanakan akan mempengaruhi program audit pengujian atas pengendalian dan pengujian substantif atas transaksi. Prosedur audit pengujian atas transaksi akan mencakup baik pengujian atas pengendalian maupun pengujian substantif atas transaksi dan bervariasi tergantung kepada rencana resiko pengujian yang ditetapkan. Kalau pengendalian efektif dan resiko pengendalian yang direncanakan rendah, penekanan akan banyak diberikan kepada pengujian atas pengendalian. Prosedur audit, pendekatan untuk merancang pengujian atas transaksi menekankan pada pemenuhan tujuan pengendalian yang dikembangkan. Pendekatan empat langkah berikut diikuti kalau direncanakan pengurangan tingkat resiko pengendalian yang ditetapkan: 1. Terapkan tujuan pengendalian intern rinci kepada kelompok transaksi yang teruji. 2. Identifikasi kebijakan dan prosedur pengendalian spesifik yang akan mengurangi resiko pengendalian untuk masing-masing tujuan audit berkaitan transaksi.

3. Untuk masing-masing kebijakan dan prosedur pengendalian intern yang mana pengurangan resiko pengendalian dihubungkan (pengendalian kunci), kembangkan pengujian atas pengendalian yang pantas. 4. Bagi jenis kekeliruan dan ketidakberesan yang potensial sehubungan dengan setiap tujuan audit yang berkaitan-transaksi, rancangan pengujian substantif atas transaksi yang tepat dengan mempertimbangkan kelemahan dalam pengendalian intern dan perkiraan hasil pengujian atas pengndalian dalam langkah 3.

Metodologi perancangan pengujian atas pengendalian dan pengujian substantif atas transaksi: 1. Laksanakan prosedur untuk memahami struktur pengendalian intern 2. Tetapkan resiko pengendalian. 3. Evaluasi biaya dan manfaat dari pengujian atas pengendalian. 4. Rancang pengujian atas pengendalian dan pengujian substantif atas transaksi untuk memenuhi tujuan audit berkait transaksi (Prosedur Audit, Besar sample, Pos/ Unsur yang dipilih dan saat pelaksanaan).

b. Prosedur Analitis Karena relatif tidak mahal, banyak aiditor melakukan prosedur analitis yang ekstentif dalam seluruh audit, prosedur analitis dilakukan pada tiga tahap audit yang berbeda, dalam tahap perencanaan untuk membantu auditor menetukan bahan bukti lain yang diperlukan untuk memenuhi risiki audit yang diinginkan (disyaratkan), selama pelaksanaan audit bersama-sama dengan pengujian atas transaksi dan pengujian terinci atas saldo (bebas pilih) dna mendekati penyelesaian akhir audit sebagai pengujian kelayakan akhir (disyaratkan).
c. Pengujian Terinci Atas Saldo

Metodologi untuk merancang pengujian pada saldo diorientasikan kepada tujuan audit. Rancangan pengujian ini biasanya merupakan bagian paling sukar dalam keseluruhan proses

perencanaan. Perencanaan prosedur tersebut bersifat subyektif dan memerlukan pertimbangan profesional. Dalam perencanaan pengujian terinci atas saldo untuk memenuhi tujuan tersebut, banyak auditor mengikuti metodologi piutang usaha seperti: 1. Tentukan materialitas dan tetapkan risiko audit yang dapat diterima dan risiko bawaan untuk piutang, tetapkan risiko pengendalian untuk siklus penjualan dan penerimaan kas 2. Rancang pengujian atas pengendalian, pengujian, substantif atas transaksi dan prosedur analitis untuk siklus penjualan dan penerimaan kas perkiraan hasilnya 3. Rancangan prosedur analitis untuk piutang usaha, perkiraan hasilnya 4. Rancangan pengujian terinci atas saldo piutang usaha untuk memenuhi tujuan spesifik terkait saldo audit (prosedur audit, besar smple, pos/unsur yang dipilih dan saat pelaksanaan.

d. Tingkat Disagregasi Kegiatan Perencanaan Beragam kegiatan perencanaan diterapkan pada tingkat disagregasi yang berbeda, bergantung pada sifat aktivitas tersebut. Tingkat disagregasi ini terbentang mulai dari keseluruhan audit hingga ke tujuan audit terkait saldo untuk setiap akun, sebagai contoh, prosedur pengukuran risiko yang terkait untuk mendapatkan informasi latar belakang mengenai bisnis dan industri klien yang relevan dengan pengauditan. Auditor pertama kali akan menggunakan informasi tersebut dalam mengukur risiko audit yang dapat diterima untuk kontrak kerja secara keseluruhan. Auditor kemudian akan menggunakan informasi mengenai bisnis dan industri klien yang ia dapatkan melalui prosedur pengukuran risiko untuk menilai risiko bawaan untuk tujuan audit tertentu. Ketika audit berlangsung, auditor akan menggunakan informasi tersebut ketika membuat keputusan mengenai pengujian terperinci saldo. Demikian pula, auditor akan mengukur risiko kecurangan untuk keseluruhan pengauditan terlebih dahulu, kemudian akan mempetimbangkan apakah setiap kecurangan yang muncul dapat berpengaruh pada pengukuran risiko kecurangan pada akun-akun tertentu dan prosedur audit serta ukuran sampel untuk pengujian terperinci saldo untuk akun-akun yang terpengaruhi.

V. HUBUNGAN TUJUAN PENGENDALIAN INTERN DENGAN TUJUAN AUDIT Karena pengujian terinci atas saldo harus dirancang untuk memenuhi tujuan spesifik bagi masing-masing perkiraan dan luas pengujian ini dapat dikurangi kalau struktur pengendalian intern memadai, penting untuk memahami bagaimana tujuan rinci pengendalian intern berkaitan dengan tujuan spesifik audit. Meskipun seluruh tujuan pengendalian intern telah dipenuhi, auditor akan tetap mengandalkan terutama kepada tujuan pengujian substantif untuk memenuhi tujuan kepemilikan dan pengungkapan, tujuan penilaian untuk penurunan dalam nilai dan tujuan klasifikasi untuk penyajian laporan keuangan. VI. IKHTISAR PROSES AUDIT Ikhtisar proses audit terdiri atas 4 tahap, yaitu : a. Tahap 1 : Perencanaan dan Perencanaan Pendekatan Audit

Informasi yang diperoleh selama perencanaan awal, perolehan informasi mengenai latar belakang dan perolehan informasin mengenai kewajiban hokum klien digunakan terutama untuk menetapkan risiko bawaan dan risiko audit yang diterima. Penetapan materialitas, risiko audit yang dapat diterima, risiko bawaan dab risiko pengendalian digunakan untuk mengembangkan rencana audit dan program audit menyeluruh. b. Tahap 2 : Pengujian atas Pengendalian dan Transaksi

Tujuan dalam tahap 2 adalah : Mendapatkan bahan bukti yang mendukung kebijakan dan prosedur pengendalian spesifik yang berperan terhadap tingkat risiko pengendalian yang ditetapkan. Untuk memperoleh bahan bukti yang mendukung kebenaran moneter transaksi.

Tujuan pertama dipenuhi dengan melakukan pengujian atas pengendalian tujuan berikutnya dengan melakukan pengujian substantif dan transaksi. Kebanyakan dari dua jenis pengujian ini dilakukan bersama-sama untuk transaksi yang sama.

c.

Tahap 3 : Melaksanakan Prosedur Analitis dan Pengujian Terinci atas Saldo

Tujuan tahap 3 adalah untuk memperoleh bahan bukti tambahan yang cukup untuk menentukan apakah saldo akhir dan catatan kaki pada laporan keuangan dinyatakan wajar. Sifat dab luas pelaksanaan banyak tergantung kepada temuan dalam kedua tahap sebelumnya. Ada dua kategori umum prosedur dalam tahap 3 : prosedur analitis dan pengujian terinci atas saldo. Prosedur analitis adalah prosedur yang digunakan untuk menetapkan kelayakan menyeluruh transaksi dan saldo. Pengujian terinci atas saldo adalah prosedur khusus yang diarahkan untuk menguji kekeliruan moneter dalam saldo laporan keuangan. d. Tahap 4 : Penyelesaian Audit dan Penerbitan Laporan Audit Setelah 3 tahap pertama selesai, perlu untuk mengumpulkan bahan bukti tambahan untuk laporan keuangan., mengikhtisarkan hasilnya. Menerbitkan laporan audit dan melakukan berbagai bentuk komunikasi lain. Tahap ini terdiri dari beberapa bagian yaitu : 1. Menelaah kewajiban bersyarat 2. Menelaah peristiwa kemudian 3. Mengumpulkan bahan bukti akhir 4. Menerbitkan laopran audit 5. Komunikasi dengan komite audit dan manajemen

Anda mungkin juga menyukai