Strategi Audit Keseluruhan dan Program Audit
Sanusi Ariyanto SE,MM,Ak,CA,CPA
Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Islam Riau
Bab ini membahas langkah kedelapan dan terakhir dalam perencanaan audit.Langkah
yang kritis akan menetapkanstrategi audit dan seluruh program audit yang rencananya akan
diikuti oleh auditor meliputi semua prosedur audit, ukuran sampel , pos yang dipilih dan
penetapan waktu.
1.Prosedur Penilaian Risiko
Standar audit (SA 315) mewajibkan auditor untuk memperoleh pemahaman atas entitas dan
lingkungannya, termasuk pengendalian internalnya, untuk menilai risiko kesalahan penyajian
material dalam laporan keuangan klien.
Pada bagian ini auditor fokus pada pemahaman tentang rancangan maupun implementasi
pengendalian internal. Secara bersama-sama, prosedur-prosedur untuk memperoleh
pemahaman mengenai bisnis dan lingkungannya, termasuk pengendalian internal,
mencerminkan prosedur-prosedur penilaian risiko yang dilakukan auditor untuk menilai
kesalahan penyajian material dalam laporan keuangan. Hal tersebut sesuai dengan ketentuan
dalam standar audit (SA 315.5) yang berbunyi sebagai berikut :
“Auditor harus melaksanakan proseudr penilaian risiko untuk menyediakan suatu
dasar bagi pengidentifikasian dan penilaian risiko kesalahan penyajian material pada tingkat
laporan keuangan dan asersi. Namun, prosedur penilaian risiko semata tidak menyediakan
bukti audit yang cukup dan tepat sebagai dasar opini audit”
2. Prosedur Audit Lebih Lanjut
Sebagai respons atas penilaian resiko kesalahan penyajian material , maka auditor melakukan
prosedur audit lebih lanjut dengan model resiko audit seperti gambar diabawah ini
RA
-------------------- = RD
RI x RP
Pengujian Pengujian Prosedur Pengujian Bukti Audit
Pengendaliaan Substantif Analitis Rincian yang cukup
Transaksi Substantif Saldo Akun dan tepat
RA = Resiko Audit ; RI = Resiko Inherent; RP=ResikoPengendalian ;RD=Resiko Deteksi
Sehubungan dengan hal diatas, SA 330.6 menetapkan sebagai berikut :
“Auditor harus merancang dan mengimplementasikan prosedur audit lebih lanjut yang sifat,
saat dan luasnya didasarkan pada dan merupakan respons terhadap risiko kesalahan penyajian
material yang telah dinilai pada tingkat asersi.
Dalam merancang prosedur audit lebih lanjut, standar audit (SA 330.7) mentapkan bahwa
audito harus :
(a) Mempertimbangkan dasar penilaian yang dilakukan atas risiko kesalahan penyajian
material pada tingkat asersi untuk setiap golongan transaksi, saldo akun, atau
pengungkapan termasuk :
(i) Kemungkinan kesalahan penyajian material yang disebabkan oleh karakteristik
tertentu yang relevan dengan golongan transaksi, saldo akun atau
pengungkapan (contoh risiko inheren) dan,
(ii) Apakah penilaian risiko memperhitungkan pengendalian yang relevan (contoh,
risiko pengendalian), dan dengan demikian menuntut auditor untuk
memperoleh bukti audit untuk menentukan apakah pengendalian berjalan
efektif (contoh, auditor bermaksud untuk mengandalkan efektivitas operasi
pengendalian dalam menentukan sifat, saat dan luas prosedur substantive)
(b) Memperoleh bukti yang lebih meyakinkan ketika auditor menilai risiko yang lebih
tinggi.
3.Jenis-Jenis Pengujian Dalam Prosedur Audit Lebih Lanjut
Dalam mengembangkan rencana audit keseluruhan, auditor menggunakan lima jenis
pengujian untuk menentukan apakah laporan keuangan telah disajikan secara wajar. Auditor
menggunakan prosedur pengukuran risiko untuk menilai risiko salah saji material, yang
digambarkan oleh gabungan antara risiko bawaan dan risiko pengendalian. Empat jenis
pengujian audit lainnya menggambarkan prosedur audit lanjutan yang dilakukan untuk
menghadapi risiko-risiko yang terindentifikasi.
• Prosedur untuk Memperoleh Pemahaman atas Internal Control
• Tests of Controls (Uji Pengendalian)
• Substantive Test of Transactions (Uji Substantif atas Transaksi)
• Analitycal Procedure (Prosedur Analitis)
• Detail Test of Balances (Pengujian Terinci atas Saldo)
3.1 Prosedur untuk Memperoleh Pemahaman atas Internal Control
Prosedur untuk Memperoleh Pemahaman atas Internal Control Auditor harus memahami
efektivitas aspek rancangan dan operasional dari pengendalian intern. Lima jenis prosedur
audit yang berhubungan dengan pemahaman auditor terhadap pengendalian intern yaitu:
1. Memperbaharui dan mengevaluasi pengalaman auditor terdahulu
2. Meminta keterangan dari personil klien
3. Membaca manual sistem dan kebijakan klien
4. Menguji dokumen dan arsip
5. Mengamati aktivitas dan operasional entitas
3.2Test Of Control (Pengujian Pengendalian)
Test of controls (TOC) merupakan prosedur yang digunakan untuk menguji
efektivitas kebijakan dan prosedur pengendalian yang diterapkan untuk menilai control
risk (risiko pengendalian) Pemahaman auditor terhadap pengendalian internal digunakan
untuk mengukur risiko pengendalian untuk setiap tujuan audit terkait transaksi . Contohnya
adalah hasil pengukuran atas Tujuan akurasi untuk transaksi penjualan adalah rendah
sedangkan untuk tujuan keterjadian adalah sedang. Ketika kebijakan kebijakan pengendalian
dan prosedur diyakini telah dirancang dengan efektif , auditor mengukur risiko pengendalian
pada suatu tingkat yang menggambarkan pada efektifitas relative terhadap pengendalian-
pengendalian tersebut Untuk mendapatkan bukti yang tepat dan mencukupi untuk mendukung
pengukuran tersebut, auditor melakukan pengujian pengendalian.
Pengujian pengendalian, baik secara manual maupun otomatis dapat mencakup jenis
bukti berikut ini perlu dicatat bahwa ketiga prosedur yang pertama sama seperti yang
digunakan untuk mendapatkan pemahaman atas pengendalian internal).
• Melakukan Tanya jawab yang memadai dengan personel klien
• Memeriksa dokumen , catatan dan laporan
• Mengganti aktivitas terkait pengendalian
• Mengerjakan ulang prosedur-prosedur klien.
Auditor melakukan penelusuran sistem sebagai dari prosedur untuk mendapatkan pemahaman
sebagai upaya membantunya dalam melakukan Apakah pengendalian sudah diterapkan .
Penelusuran biasnya diterapkan pada satu atau beberapa transaksi dan pengikuti transaksi
tersebut disepanjang pemrosesanya. Sebagai contoh , auditor memilih sebuah transaksi
penjualan untuk melakukan penelusuran sistem persetujuan kredit, kemudian mengikuti
persetujuan kredit dari awal transaksi penjualan hingga mendapatkan kredit. Standar ke-2
PCAOB mengharuskan auditor untuk melakukan penelusuran disemua proses yang penting.
Prosedur yang dilakukan auditor untuk menentukan apakah pengendalian otomatis telah telah
diterapkan juga dapat berlaku sebagai pengujian atas transaksi tersebut, jika auditor
menentukan terdapat risiko yang minimal bahwa pengendalian otomatis telah diubah sejak
pemahaman didapatkan oleh auditor .Selanjutnya tidak ada pengujian tambahan atas
pengendalian yang diharuskan . Jumlah bukti tambahan yang diharuskan untuk menguji
pengendalian bergantung pada dua hal berikut:
1. Keluasan bukti yang didapatkan dalam memperoleh pemahaman atas pengendalian
internal.
2. Pengurangan Resiko pengendalian yang di rencanakan
3.3Pengujian Substantif Golongan Transaksi
Pengujian subtantif adalah suatu prosedur audit yang dirancang untuk mendeteksi
kesalahan penyajian material (sering kali disebut salah saji moneter)yang secarah langsung
berpengaruh pada ketetapan saldo laporan keuangan. Auditor mengendalikan tiga jenis
pengujian subtantif, ketiga jenis itu adalah
• pengujian substantif transaksi
• prosedur analitis subtantif
• pengujian terperinci saldo.
Pengujian subtantif transaksi merupakan prosedur yang digunakan untuk menguji
salah saji moneter (monetary misstatement) untuk menentukan apakah 6 transaction-
related audit objective (tujuan audit terkait dengan transaksi) telah terpenuhi. tujuan
audit terkait dengan transaksi meliputi: (1) existence, (2) completeness, (3) accuracy,
(4) classification, (5) timing, (6) posting&summarization. Contoh: untuk sebuah
transaksi penjualan, STOT dilakukan untuk menguji apakah transaksi tersebut telah
dicatat secara tepat. Diuji apakah telah dijurnal dan jumlah yang akurat, dicatat pada
periode yang tepat, digolongkan secara tepat, di-summarized dan diposting ke ledger
yang tepat
Metodologi Untuk merancang Pengujian Substatntif atas Transaksi
Memahami Pengendalian
Internal
Menilai Resiko Pengendalian
yang direncanakan
100
80
60 East
40
West
20
North
0
1st 3rd
Qtr Qtr
Menentukan Luas Pengujian
Pengendalian
Merancang Pengujian Prosedur Audit
Pengendalian dan Pengujian
Substantif atas transaksi Ukuran Sampel
untuk memenuhi tujuan audit
yang berkaitan dengan Item Yang dipilih
transaksi
Penetapan Waktu
3.4 Prosedur Analitis
prosedur analitis adalah Pengevaluasian terhadap informasi keuangan yang dilakukan
melalui analisis hubungan antara data keuangan dan data non keuangan . Prosedur analitis
juga mencakup investasi sebagimana yang diperlukan atas fluktuasi atau hubungan
teridentifikasi yang tidak konsisten dengan informasi relevan lain atau yang berbeda dari nilai
yang diharapkan dalam jumlah significant
Dua tujuan utama dari prosedur analaitis dalam mengaudit saldo akun adalah untuk:
1. Menandai adanya kemungkinan salah saji dalam laporan keuangan
2. Memberikan bukti subtantif
Prosedur analitis yang dilakukan selama tahap perencanaan audit biasanya berbeda dari yang
dilakukan dalam tahap pengujian. Bahkan misalnya auditor, menghitung margin kotor selama
fase perencanaan, auditor biasanya melakukanya dengan menggunakan data interim.
Selanjutnya selama menguji saldo akhir akun auditor akan menghitung ulang rasio dengan
menggunakanndata setahun penuh. Jika auditor yakin jika prosedur analitis tambahan atau
memutuskan untuk memodifikasi pengujian terperinci saldo.
Ketika auditor mengembangkan ekspektasi dengan menggunakan prosedur analitis dan
menyimpulakan bahwa saldo akhir klien dalam beberapa akun nampak wajar , beberapa
pengujian terperinci saldo dapat dihilangkan atau ukuran sampel dapat dikurangi. Standar
audit menyatakan bahwa prosedur analitis merupakan salah satu jenis pengujian subtantif
(yaitu prosedur analitis subtantif) ketika dilakukan untuk memberikan bukti mengenai saldo
akhir akun, beberapa factor termasuk ketepatan ekspektasi yang dikembangkan auditor
,materialitas dan resiko salah saji yang material.
Gambar 14.2 dibawah ini mengilustrasikan prosedur analitis dalam audit siklus penjualan dan
dan penagihan
Pengujian Rincian Saldo
Pengujian terperinci saldo memfokuskan pada saldo akhir buku besar baik untuk
akuk-akun neraca maupun laba rugi. Penekanan utama dalam sebagian besar pengujian atas
perincian saldo adalah pada neraca. Misalnya termasuk konfirmasi atas saldo pelanggan untuk
akun piutang dagang . pengujian saldo akhir sangat penting karena bukti yang biasanya
didaptakan dari suatu sumber yang independen dipandng sangat dipercaya . seperti halnya
untuk transaksi pengujian auditor atas perincian saldo juga harus memebuhi semua tujuan
audit terkait saldo untuk setiap akun-akun neraca yang signifikan
Metodologi Pengujian Terperinci Saldo
Mengidentifikasi resiko bisnis
klien yang mempengaruhi
piutang usaha
Menetapkan materialitas kinerja
dan menilai resiko inheren
Menilai Resiko Pengendalian
untuk siklus penjualan dan
penagihan
Merancang dan melaksanakan
pengujian pengendalian serta
pengujian substantive atas
transaksi
Merancang dan melaksanakan
prosedur analitis untuk saldo
Prosedur Audit
Merancang pengujian rincian
saldo untuk memenuhi tujuan Ukuran Sampel
audit yang berkaitan dengan
saldo Item Yang dipilih
Penetapan Waktu
4. Dampak Teknologi Informasi Pada Pengujian Audit
PSA 07 (SA 326) dan PSA 68 (SA 319) memberikan panduan bagi para auditor dari
entitas-entitas yang menyebarkan, memproses dan menyimpan atau mengakses informasi
penting secara elektronik.Contoh bukti elektronik mencakup catatan transfer dana elektronik
dan permintaan pembelian yang disebarkan melalui pertukaran otomatis, seperti perbandingan
komputer atas permintaan penjualan dengan batas kredit pelanggan juga dapat berupa format
elektonik.Standar audit mengakui bahwa ketika sejumlah besar bukti audit muncul dalam
bentuk elektronik, akan tidak praktis atau tidak mungkin untuk mengurangi risiko deteksi
sehingga ketingkat yang dapat diterima dengan hanya melakukan pengujian substansif.
sebagai contoh, kemungkinan pemasukan atau perubahan informasi yang tidak tepat dapat
menjadi lebih besar jika informasi hanya disimpan dalam bentuk elektronik. Dalam kondisi
semacam itu, auditor harus pengujian pengendalian untuk mendapatkan bukti yang
mendukung tingkat risiko pengendalian yang dinilai berada dibawah tingkat maksimum untuk
asersi-asersi laporan keuangan yang terpengaruhi. Meskipun beberapa pengujian substantif
masih dibutuhkan, auditor dapat secara signifikan mengurangi pengendalian pengujian
substantif jika hasil pengujian pengendalian mendukung efektivitas pengendalian. Dalam
audit atas suatu perusahaan publik, pengendalian yang dilakukan oleh komputer (yang disebut
dengan pengendalian otomatis) harus di uji ketika auditor meganggapnya sebagai
pengendalian kunci untuk mengurangi kemungkinan salah saji material dalam laporan
keuangan.
Karena konsistensi bawaan dalam pemrosesan yang berdasarkan teknologi informasi, auditor
mengkin dapat mengurangi pengujian pengendalian otomatis. Sebagai contoh, pengendalian
yang berbasis perangkat lunak hampir di pastikan hampir berfungsi secara konsisten kecuali
jika programnya diubah. jika auditor memutuskan bahwa pengendalian otomatis berjalan
dengan tepat, auditor dapat memfokuskan pada pengujian selanjutnya untuk menilai apakah
setiap perubahan yang terjadi akan membatasi efektifitas pengendalian.
Untuk menguji pengendalian otomatis atau data, auditor mungkin memerlukan teknik audit
yang dibantu oleh komputer atau menggunakan laporan yang dihasilkan oleh teknologi
informasi untuk menguji efektifitas pengendalian umum teknologi informasi seperti
pengendalian untuk perubahan program-program dan pengendalian atas akses.
5.Kombinasi Bukti
Untuk mendapatkan bukti yang tepat dengan memadai untuk menghadapi risiko
risiko-risiko yang teridentifikasi melalui prosedur penilaian risiko, auditor menggunakan
kombinasi antara keempat jenis pengujian lainnya. Kombinasi ini sering kali dinamai dengan
bukti gabungan (envidence mix).Tabel 14-3 dapat mendeskripsikan tipe klien audit
Pengujian Pengujian substantif Prosedur Pengujian Rinci
Pengendalian golongan transaksi Analistis Saldo
Audit 1 L S L S
Audit 2 M M L M
Audit 3 T L M L
Audit 4 M L L L
Keterangan
L= Jumlah Pengujian yang luas , M = Jumlah pengujian Medium ; S = jumlah pengujian
sedikit; T = Tidak ada Pengujian
Analisis audit 1 klien ini merupakan sebuah perusahaan besar dengan pengendalian internal
yang rumit dan risiko bawaan yang rendah. Sehingga, auditor melakukan pengujian
pengendalian yang luas dan sangat mengandalkan pada pengendalian internal klien untuk
mengurangi pengujian substantif lainnya.
Analisis audit 2 perusahaan ini berukuran sedang, dengan beberapa pengendalian dan
beberap risiko bawaan. Auditor telah memutuskan untuk melakukan pengujian atas semua
jenis pengujian sedang, kecuali untuk prosedur analitis substantif, yang kemungkinan akan
dilakukan secara meluas.
Analisis audit 3 perusahaan ini berukuran sedang, namun memiliki beberapa pengendalian
yang efektif dan beberapa risiko bawaan yang signifikan. Mungkin manajemen memutuskan
bahwa pengendalian internal yang lebih baik memakan biaya yang cukup besar. Auditor
menekankan pada pengujian terperinci saldo pengujian substantif transaksi, namun beberapa
prosedur analitis substantif dilakukan. Prosedur analitis substantif biasanya dilakukan untuk
mengurangi pengujian substantif karena mereka akan memberikan bukti mengenai
kemungkinan salah saji material.
Analisis audit 4 rencana awal untuk audit ini adalah mengikuti pendekatan yang digunakan
dalam audit 2. Namun, auditor kemungkinan menemukan deviasi uji pengendalian yang luas,
dan salah saji yang signifikan ketika melakukan pengujian substantif transaksi dan prosedur
analitis substantif. Sehingga, auditor menyimpulkan bahwa pengendalian internalnya tidak
efektif. Pengujian terperinci saldo yang meluas dilakukan untuk menutupi hasil pengujian
lainnya yang tidak dapat diterima.
6.Perancangan Program Audit
Sejumlah istilah yang berkaitan dengan bukti telah digunakan dalam beberapa penjelasan
yang lalu.Agar lebih jelas maka perhatikan table dibawah ini
Fase Proses Audit Sasara Hasil Audit Jenis Pengujian Keputusan Bukti Jenis Bukti
Merencanakan dan Sasaran hasil audit yang Prosedur analitis - Prosedur audit - Dokumentasi
merancang suatu - Penetapan waktu - Pemeriksaan klien
Pendekatan Audit - Prosedur analitis
Melaksanakan - Keberadaan Prosedur untuk mem- - Prosedur audit - Dokumentasi
Pengujian Pengen - Kelengkapan peroleh sebuah pema- - Ukuran contoh - Pengamatan
dalian dan - Akurasi haman dan pengujian - Materi untuk di - Pemeriksaan klien
Penguji-an - Klasifikasi pengendalian Pengujian pilih - Pencapaian kembali
Substantif atas - Penetapan Waktu substantif atas transaksi - Penetapan waktu.
transaksi - Memposkan dan pem- - Prosedur audit
buatan ringkasan - Ukuran contoh
- Materi untuk
dipilih
- Penetapan waktu
Melaksanakan Sasaran hasil Audit yang Prosedur analitis - Prosedur audit - pengujian fisik
Prosedur Analitis - Keberadaan Pengujiam rincian saldo - Penetapan waktu. - Konfirmasi
dan pengujian - Kelengkapan - Ukuran contoh - Dokumentasi
rincian saldo - Akurasi - Materi untuk - Pemeriksaan klien
- Klasifikasi dipilih - Pencapaian kembali
- Cut off - Penetapan waktu - Prosedur analitis
- Rincian keterkaitan (tie-
in)
- Hak dan Kewajiban
- Presentasi dan
Menyelesaikan Prosedur analitis - Prosedur audit - Prosedur analitis
Audit dan Menge- Pengujian rincian saldo - Penetapan waktu - Dokumentasi
luarkan Laporan - Prosedur audit - Pemeriksaan klien
Audit - Ukuran contoh
- Materi untuk
dipilih
- Penetapan waktu
7.Ikhtisar Proses Audit
Auditor menggunakan informasi yang diperoleh dari prosedur penilaian resiko yang
berkaitan dengan penerimaan klien dan perencanaan awal , pemahaman bisnis dan
industriklien ,penilaian resiko bisnis klien dan pelaksanaan prosedur analitis pendahuluan ,
terutaa untuk menilai resiko inheren dan resiko audit yang diterima.Auditor menggunakan
penialian atas materialitas , resiko audit yang dapat diterim , resiko inheren , resiko
pengendalian dan resiko kecurangan yang ddidentikasi guna mengemangkan keseluruhan
rencana audit dan program audit seara keseluruhan,
.Berikut adalah Ikhtisar Proses Audit dimulai dari Penerimaan klien sampai kepada
penyampaian laporan audit
Penerimaan Klien dan
Menyusun Perencanaan awal
Memahami bisnis dan bidang
usaha klien
Menilai resiko bisnis klien
Melaksanakan prosedur
analitis pendahuluan
Menetapkan materialitas dan
menilai resiko audit bias
diterima dan resiko inheren
Memahami pengendalian
internal dan menilai resiko
pengendalian
Mengumpulkan Informasi
untuk menilai resiko
kecurangan
Mengembangkan strategi
audit keseluruhan dan
program audit
Merencanakan
Untuk
Mengurangi
Tingkat resiko Tidak
Pengendalian
Ya
Melaksanakan pengujian
pengendalian
Melaksanakan pengujian
substantive transaksi
Menilai kemungkinan
kesalahan penyajian dalam
laporan keuangan
Rendah Medium Tinggi
atau tidak
diketahui
Melaksanakan prosedur
Analitis
Melaksankan pengujian atas
pos-pos penting
Melaksanakan tambahan
pengujian rinci saldo
Melaksanakan pengujian
tambahan atas penyajian
dan pengungkapan
Mengumpulkan bukti akhir
Mengevaluasi hasil
Mengeluarkan Laporan
Audit
Mengkomunikasikan
kepada Komite Audit dan
Manajemen
Daftar Pustaka
Alvin A.Arens ,Randal J.Elder,Mark S.Beasley (2014), Auditing & Jasa Assurance
,Pendekatatan Terintegrasi Edisi ke Limabelas, Jilid 1 ,Penerbit Erlangga
Al.Harjono Jusuf (2014),Auditing (Pengauditan Berbasis ISA), Edisi 2 , Penerbit STIE YKPN
Sanusi Ariyanto SE,MM,Ak,CA,CPA
Menyelesaikan S1 Akuntansi dari Universitas Riau, S2 Magister Manajemen Universitas
Sutomo Surabaya, Pernah bekerja menjadi Staf PT.Binacosmas Multiperdana, Kepala
Accounting PT.Gandaerah Hendana, Kepala Pembukuan PT.United Dico Citas Cabang Riau,
Manajer Keuangan dan terakhir Sebagai Direktur Utama PD.Tuah Sekata ( Bumd kabupaten
Pelalawan bergerak dibidang kelistrikan dan Migas), Sekarang menjadi Dosen Fakultas
Ekonomi dan Bisnis Jurusan Akuntansi dari tahun 2014 s/d sekarang dan Direktur Firma
KJA Sanusi Ariyanto dan Rekan dari tahun 2016 s/d sekarang Buku yang pernah ditulis
Akuntansi Biaya bersama penulis lainnya.Email “sanusiariyanto@eco.uir.ac.id”