Anda di halaman 1dari 12

Praktikum MSDK

Hari/Tanggal: Kamis, 11 Oktober 2011

Peran Wanita dalam mencerdaskan anak di keluarga guna membentuk sumber daya keluarga dan kehidupan berkualitas menuju Indonesia mandiri

Jian Septian/F24090046

Dosen Penanggung Jawab: Irni Rahmayani Johan, SP, MM Asisten Mata Kuliah : Ka Agus Surachman Ka Umu Rosidah

DEPARTEMEN ILMU KELUARGA DAN KONSUMEN FAKULTAS EKOLOGI MANUSIA INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2011

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Keluarga merupakan satuan sistem terkecil yang ada dalam kehidupan masyarakat. Sebagai suatu sistem tersebut, keluarga bisa dikatakan sebagai sebuah miniatur negara. Suasana yang kondusif akan menghasilkan masyarakat yang baik karena dalam keluargalah seluruh anggota keluarga belajar berbagai dasar kehidupan bermasyarakat. Perkembangan iptek dan kebudayaan telah banyak memberikan pengaruh terhadap tatanan kehidupan umat manusia khususnya kehidupan sebuah keluarga yang banyak sekali mengalami perubahan dari nilainilai yang sesungguhnya. Dalam kondisi masa kini, yang ditandai dengan modernisasi dan globalisasi, banyak pihak yang menilai bahwa kondisi kehidupan masyarakat dewasa ini khusunya generasi muda dalam kondisi yang menghawatirkan dan semua ini berakar dari kondisi sebuah keluarga. Oleh karena itu pembinaan terhadap anak secara dini dalam sebuah keluarga merupakan suatu yang sangat mendasar. Dalam hal ini seorang ibu memegang peranan penting dalam memberikan pembinaan maupun bimbingan baik secara fisik maupun psikologis kepada anak-anaknya dalam rangka menyiapkan generasi penerus yang berkualitas selaku warga negara (WNI) yang baik dan bertanggungjawab termasuk tanggungjawab sosial. Dalam hukum-hukum sejarah yang pasti, masa depan selalu berada ditangan generasi muda, yakni pada anak-anak. Kesadaran untuk mencerdaskan anak tentulah dimiliki oleh setiap oarng tua yang bijak. Persoalan dalam pendidikan keluarga adalah bahwa pengorbanan dan kerja keras para orang tua yang mengharapkan anak-anak cerdas ini, seringkali tidak disertai dengan kesadaran dan pengetahuan (know why and know how) yang memadai tentang mencerdaskan anak itu sendiri. Banyak orang tua yang berpendapat bahwa tugas mencerdaskan anaknya adalah tugas para guru dan intuisi pendidikan, sementara mereka sendiri asyik dengan profesinya. Kesadaran bahwa tugas utama mencerdaskan anak adalah tugas orang tua, akan memberikan pengaruh yang positif, dalam pembentukan tanggung jawab dan pengkondisian lingkungan keluarga untuk mewujudkan anak-anak cerdas.

Tujuan 1. Menganalisis Peran atu fungsi wanita (Ibu) dikeluarga 2. Mengidentifikasi bagaimana seorang wanita membentuk manajemen Sumberdaya keluarga 3. Mengetahui fungsi wanita (Ibu) dalam mencerdaskan anak 4. Mengetahui optimasi peran wanita (ibu) dikeluarga dalam Mencerdaskan

BAB II PEMBAHASAN 2.1 Pengertian Psikologi Keluarga Dahulu, para ahli mendefinisikan Psikologi sebagai ilmu jiwa tetapi sekarang definisi tersebut sudah tidak dipakai lagi manakala jiwa itu tidak dapat dibuktikan dimana adanya dan bagaimana bentuknya. Sekarang, Psikologi diartikan sebagai suatu ilmu yang mempelajari perilaku individu dalam interaksi dengan lingkungan. Pengertian di atas mengandung makna bahwa apa yang dilakukan oleh individu, mengapa melakukan perilaku tersebut dan bagaimana membina perilaku tersebut kearah yang berdaya guna. Perilaku, dalam hal ini mengandung makna yang luas, yaitu sebagai manifestasi hayati baik yang nampak maupun tidak nampak, perilaku tersirat maupun tersurat, perilaku sadar maupun tidak sadar , seperti proses berfikir, lupa, motivasi, bernafas, konflik, stress, dan lan-lain. Justru perilaku inilah yang kita pahami dan kita ketahui untuk akhirnya dapat kita arahkan dengan baik. Dalam lingkup keluarga dimaksudkan bagaimana tingkah laku individu dalam keluarga berinteraksi dengan lingkungannya (baik dengan anggota keluarga sendiri maupun anggota masyarakat lainnya) Keluarga adalah unit terkecil dalam masyarakat terbentuk sebagai akibat adanya perkawinan berdasarkan agama dan hukum yang sah. Dalam arti yang sempit, keluarga terdiri dari ayah, ibu (dan anak) dari hasil perkawinan tersebut. Sedangkan dalam arti luas, keluarga dapat bertambah dengan anggota kerabat lainnya seperti sanak keluarga dari kedua belah pihak (suami dan istri) maupun pembantu rumah tangga dan kerabat lain yang ikut tinggal dan menjadi tanggung jawab kepala keluarga (ayah). Kehidupan keluarga pada dasarnya mempunyai fungsi sebagai berikut:3 1. Pembinaan nilai-nilai dan norma agama serta budaya. 2. Memberikan dukungan afektif, berupa hubungan kehangatan, mngasihi dan dikasihi, mempedulikan dan dipedulikan, memberikan motivasi, saling Menghargai dan lain-lain.

3. Pengembangan pribadi, berupa kemampuan mengendalikan diri baik pikiran maupun emosi, mengenal diri sendiri maupun orang lain, pembentukan kepribadian, melaksanakan peran, fungsi dan tanggungjawab sebagai anggota keluarga. 4. Penanaman kesadaran atas kewajiban, hak dan tanggungjawab individu terhadap dirinya dan lingkungan sesuai ketentuan dan norma-norma yang berlaku di masyarakat. Pencapaian fungsi-fungsi keluarga ini akan membentuk suatu komunitas yang berkualitas dan menjadi lingkungan yang kondusif untuk pengembangan potensi setiap anggota keluarga. Hal ini akan membentuk ketahanan keluarga yang mejadi landasan untuk ketahanan masyarakat, ketahanan wilayah dan lebih jauh lagi mendukung ketahanan nasional yang berpengaruh positif sebagai daya tangkal terhadap pertahanan negara.

2.2 Pengertian pendidikan dalam keluarga Pendidikan keluarga merupakan sebuah proses transformasi perilaku dan sikap dalam kelompok atau unit sosial terkecil dalm masyarakat. Keluarga merupakan lingkungan yang pertama dan utama dalam menanamkan norma dan mengembangkan berbagai kebiasaan dan prilaku yang penting bagi kehidupan pribadi, keluarga dan masyarakat. Fungsi pendidikan dalam keluarga tak terlepas dari peranan ayah dan ibu yang memiliki beberapa turunan fungsi yang bersifat kultur (pendidikan budaya) untuk mempartahankan budaya dan adat keluarga, bersifat religi (pendidikan agama) agar kehidupan dalam keluarga berjalan dengan baik, sejahtera , tentram dan terarah. Selain itu, bersifat ekonomis (pendidikan ekonomi) sehingga tidak tercipta krisis keuangan keluarga, bersifat sosialisasi (pendidikan sosial) agar menciptakan suasana yang kondusif baik secara internal maupun eksternal, bersifat protektif (pendidikan proteksi) untuk melindungi wahana keluarga dari pengaruh apapun atau faktor apapun yang merugikan bagi keluarga

dan lainya. Beberapa hal yang memegang peranan penting keluarga sebagai fungsi pendidikan dalam membentuk pandangan hidup seseorang meliputi pendidikan berupa pembinaan akidah dan akhlak, keilmuan atau intelektual dan kreativitas yang mereka miliki serta kehidupan pribadi dan sosial. 1) Pembinaan Intelektual. Pembinaan intelektual dalam keluarga memegang peranan penting dalam upaya meningkatkan kualitas manusia, baik intelektual, spiritual maupun sosial. Karena manusia yang berkualitas akan mendapat derajat yang tinggi. Dengan adanya pendidikan melalui pembinaan intelektual maka kehidupan dalam keluarga dapat berjalan secara logis dan benar. 2) Pembinaan Akidah dan Akhlak Mengingat keluarga dalam hal ini lebih dominan adalah seorang anak dengan dasar-dasar keimanan, sejakmulai mengerti dan dapat memahami sesuatu, maka seorang tokoh terkemuka yaiu al-Ghazali memberikan beberapa metode pendidikan dalam rangka menanamkan aqidah dan keimanan yaitu dengan cara memberikan pemahaman lewat hafalan. 3) Pembinaan Kepribadian dan Sosial. Pembentukan kepribadian terjadi melalui proses yang panjang. Proses pembentukan kepribadian ini akan menjadi lebih baik apabila dilakukan mulai pembentukan produksi serta reproduksi nalar tabiat jiwa dan pengaruh yang melatar belakanginya.

Pembinaan-pembinaan tersebut sudah pasti akan sangat mempengaruhi kepribadian sebuah anggota keluarga khususnya seorang ibu dalm memberikan sebuah pendidikan kepada anak-anaknya.

2.3 Peran Ibu dalam Keluarga Kartini Kartono (1977) menyebutkan bahwa fungsi wanita dalam keluarga sebagai berikut (1) sebagai istri dan teman hidup (2) sebagai partner seksual (3) sebagai pengatur rumah tangga (4) sebagai ibu dan pendidik anak-anaknya, (5) sebagai makhluk sosial yang ingin berpartisipasi aktif dalam lingkungan sosial. Sikun Pribadi (1981) menyatakan bahwa peranan wanita dalam keluarga adalah (1) sebagai istri (2) sebagai pengurus rumah tangga (3) sebagai ibu dari anak-anak, (4) sebagai teman hidup dan (5) sebagai makhluk sosial yang ingin mengadakan hubungan sosial yang intim. Kedua pendapat tersebut ternyata dapat sama, hanya penempatan urutan dan kombinasi peran yang brbeda. Nani Suwondo (1981) menyatakan bahwa wanita dalam keluarga itu mempunyai panca tugas yaitu (1) sebagai istri (2) sebagai ibu pendidik (3) sebagai ibu pengatur rumah tangga (4) sebagai tenaga kerja (5) sebagai anggota organisasi masyarakat. Wanita sebagai ibu pendidik anak dan pembina generasi muda. Ibu sebagai pendidik anak bertanggung jawab agar anak-anak dibekali kekuatan rohani maupun jasmani dalam menghadapi segala tantangan zaman dan menjadi manusia yang berguna bagi nusa dan bangsa. Ibu sebagai pengatur rumah tangga. Ibu pengatur rumah tangga merupakan tugas yang berat. Sebab seorang ibu harus dapat mengatur segala peraturan rumah tangga. Oleh karena itu ibu dapat dikatakan sebagai administrator dalam kehidupan keluarga. Oleh karena itu ibu harus dapat mengatur waktu dan tenaga sescara bijaksana. Ibu sebagai tenaga kerja. Dalam perkembangan sekarang ini dapat dikatakan baik di desa maupun di kota tampak bahwa ibu juga berperan sebagai pencari nafkah. Harus ada kesepakatan yang kuat dan bijak antara ibu dan ayah. Ibu sebagai makhluk sosial. Ibu sebagai makhluk sosial tidaklah cukup berfungsi (1) beranak, (2) bersolek, (3) memasak atau seperti predikat ibu di Barat ibu hanya mengurusi (1) anak, (2) pakaian, (3) dapur, (4) makanan saja (Hardjito Notopuro, 1984, p.45). Ibu sebagai makhluk sosial perlu diberi peran dalam masyarakat dan lembaga-lembaga sosial dan politik. Di desa-desa ibu berperan aktif dalam PKK, baik sebagai anggota maupun sebagai pengurus, di kantor-kantor ia diberi kesempatan untuk mendampingi suami sebagai pengurus atau anggota Darma Wanita, Darma Pertiwi dan sebagainya. Ibu dengan tugas-tugas ini akan merasa

puas dan banagia, jika semua tugas itu dapat dilaksanakan sebaik-baiknya Karakteristik yang paling menonjol dalam pendidikan keluarga adalah tentang metode modelling. Secara tidak langsung maupun langsung anggota keluarga saling mengidentifikasi karena intensnya pertemuan mereka. 2.4 Optimasi Peran wanita sebagai istri dan Ibu Untuk membangun generasi yang sadar dan siap menjalankan fungsi sosialnya, seorang wanita (ibu) mempunyai peranan sangat penting dalam keluarga karena ibu mempunyai waktu yang lebih banyak untuk berinteraksi dengan setiap anggota keluarga. Dengan naluri keibuannya, secara psikologis ibu mempunyai kedekatan dengan anak-anaknya dan anggota keluarga yang lain. Dalam sebuah rumah tangga, wanita mempunyai peran antara lain sebagai : (1) Istri bagi suami; (2) Ibu bagi anak-anaknya serta (3) Ibu Rumah Tangga. 1) Peran Wanita sebagai istri bagi suami dalam hubungannya dengan ketahanan Negara Keberhasilan seorang suami dalam karirnya (pangkat dan jabatan) banyak sekali didukung oleh motivasi, cinta kasih dan doa seorang istri. Oleh karena itu, dalam perannya sebagai seorang istri, banyak sekali yang seyogyanya dilakukan untuk suami, diantaranya: a. Berbagai rasa suka dan duka serta memahami panggilan tugas, fungsi dan kedudukan suami, misalnya: sifat kepemimpinan yang keras, dalam operasi tempur dituntut sampai mati mempertahankan medan/bangsa dan negara, dan lain-lain. b. Memposisikan sebagai istri sekaligus ibu, teman dan kekasih bagi suami. Suami adalah manusia biasa yang sekali waktu perlu dimanja, butuh perhatian/kasih sayang. Butuh tempat berlindung dan mengadukan atas kesulitan/problem yang dialaminya. c. Menjadi teman diskusi seraya memberikan dukungan motivasi, semangat dan doa bagi suami ketika menghadapi tugas berat dari negara. 2) Peran Wanita sebagai Ibu bagi anak-anaknya

Anak-anak dalam sebuah keluarga merupakan amanat dan rahmat dari Tuhan, generasi penerus serta pelestari norma yang berlaku dalam keluarga dan masyarakat. Oleh karenanya, keluarga sebagai lingkungan yang pertama dan utama bagi anak seyogyanya mampu menjadi peletak dasar dalam pembentukan karakter yang baik sebagai landasan pengembangan kepribadian anak yang akan membentuk karakter bangsa di kemudian hari. Berbagai keterampilan kehidupan dikembangkan pada anak sejak dini di lingkungan keluarga dalam suasana kasih sayang. Keteladanan dalam suasana hubungan yang harmonis serta komunikasi yang efektif antar anggota keluarga merupakan hal yang fundamental bagi berkembangnya kepribadian anak. Dorothy Rich, mengemukakan berbagai keterampilan yang harus dimiliki oleh seorang anak. Dia menyebutnya sebagai keterampilan mega (mega skills), yaitu:5 (1) Percaya diri; (2) Motivasi disertai dengan keinginan yang kuat; (3) Daya juang disertai dengan kerja keras; (4) Tanggung jawab; (5) Keuletan; (6) Kepedulian; (7) Team work; (8) Positive thinking; dan (9) Problem solving. Seorang ibu dituntut memiliki pengetahuan dan keterampilan serta kemampuan untuk menjadikan anak-anaknya memiliki Mega Skills. Hal tersebut dapat dicapai dengan memberikan latihan dan tugas-tugas yang sesuai dengan kemampuan anak sejalan dengan perkembangan usianya. 2.5 Tujuan Pendidikan Keluarga Perbuatan mendidik diarahkan pada pencapaian tujuan-tujuan tertentu, yaitu tujuan pendidikan. Dalam Undang-undang Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 1989 dan ditetapkan pada tanggal 27 Maret 1989, tujuan pendidikan nasional adalah mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan keterampilan , kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan. Tujuan-tujuan ini bisa menyangkut kepentingan anak itu sendiri, kepentingan masyarakat dan tuntutan lapangan pekerjaan. Proses pendidikan terarah pada peningkatan, penguasaan, kemampuan, keterampilan, pengembangan sikap, dan nilai-nilai dalam rangka pembentukan dan pengembangan diri anak. Pengembangan diri ini dibutuhkan untuk menghadapi

tugas-tugas dalam kehidupannya sebagai pribadi, sebagai siswa, karyawan, profesional, maupun sebagai warga masyarakat. Keluarga bukan hanya menjadi tempat anak dipelihara dan dibesarkan, tetapi juga tempat anak hidup dan dididik pertama kali. Apa yang diperolehnya dalam kehidupan keluarga, akan menjadi dasar dan dikembangkan pada kehidupan-kehidupan selanjutnya. Keluarga merupakan masyarakat kecil sebagai prototype masyarakat luas. Semua aspek kehidupan masyarakat ada didalam kehidupan keluarga, seperti aspek ekonomi, sosial, politik, keamanan, kesehatan, agama, termasuk aspek pendidikan. Diantara aspek-aspek kehidupan tersebut, pendidikan menepati kedudukan yang paling sentral dalam kehidupan keluarga, sebab ada suatu kecenderungan yang sangat kuat pada manusia, bahwa mereka ingin melestarikan keturunannya dan ini dapat dicapai melalui pendidikan. Cita-cita orang tua tentang anak direlisasikan melalui pendidikan. Tujuan umum dari pendidikan keluarga adalah tercapainya perkembangan yang optimal sesuai dengan potensinya masing-masing. Sedangkan tujuan-tujuan yang khusus adalah: 1. Pemahaman yang lebih baik tentang diri, lingkungan, dan perkembangannya. 2. Mampu memilih dan menentukan arah perkembangan dirinya, mengambil keputusan yang tepat bagi diri dan lingkungannya. 3. Mampu menyesuaikan diri baik dengan dirinya maupun lingkungannya. 4. Memiliki produktivitas dan kesejahteraan hidup.

BAB III PENUTUP Kesimpulan Pada dasarnya keluarga merupakan suatu sistem yang kompleks dimana didalamnya terdapat subsistem yang merupakan bagian dari suatu sistem yang bekerja sama guna mencapai tujuan keluarga tersebut. Hal ini dapat dilihat ketika peran anggota keluarga sangat mempengaruhi kehidupan keluarga baik lingkungan sosial, budaya, dan masyarakat luas maupun negara ini. Peran-peran tersebut sudah tentu tidak lepas dari peran seorang wanita dalam keluarga baik itu peran sebagai ibu, sebagai istri bagi suami maupun sebagai ibu rumah tangga. Seorang wanita dalam keluarga menjadi bagian tersendiri yang tidak bisa dianggap remeh. Bagaimana tidak, seorang wanita begitu hebat dan mengerti bagaimana dia mengatur rumah tangganya yang memang tidak bisa diatur oleh seorang bapak. Peran wanita dalam mencerdaskan anak sudah menjadi bagian tersendiri yang harus dan memang mutlak dilaksanakan. Hal ini demi kemajuan keluarga itu sendiri maupun negara ini kedepannya.

Saran Kemajuan negara ini tidak lepas dari peran seorang wanita. Bagaimana tidak, fungsi seorang wanita yang begitu kompleks enjadikan mereka sebagai superheronya keluarga. Hal ini terlihat bagaimana peran seorang ibu dalam mencerdaskan anak-anak mereka demi kemajuan bangsa ini. Oleh karena itu janganlah sekali-kali meremehkan seorang wanita (Ibu) dalam sebuah keluarga karena tanpa dirinya sebuah keluarga akan terasa tidak berarti apa-apa khususnya peran mereka dalam mencerdaskan anak.

BAB IV DAFTAR PUSTAKA Bernard, W Harnold. Fullmer , W Daniel.1977. Principles of Guidance. New York:Thomas Y Crowell Company. Guhardja,Suprihatindkk.1992.Diktat Manajemen Sumberdaya Keluarga.Bogor: GMSK IPB Langgulung, Hasan.1995.Manusia dan Pendidikan: Suatu Analisa Psikologi dan pendidikan.Jakarta: Al Husna Zikra. Nashih, A.U. (l998). Pedoman Pendidikan Anak dalam Islam. Solo : Pustaka Amanah. Suharsono.2004. Mencerdaskan Anak. Depok : Inisiasi Press. Wirawan, W.S. (l986). Peranan Orang Tua dalam Pendidikan anak. Jakarta : Rajawali Pers.