Anda di halaman 1dari 24

BAB IV ASUHAN KEPERAWATAN PADA KASUS AMBIGUOUS GENETALIA

Seorang remaja 12 tahun dirawat di ruang perawatan di sebuah rumah sakit. Anak menderita ambiguous genetalian, dimana alat kelaminnya tidak spesifik baik laki-laki maupun perempuan. Remaja ini dirawat dalam rangka menjalani serangkaian pemeriksaan untuk menentukan jenis kelaminnya yang pasti. Saat ini status anak sebagai perempuan. Namun anak lebih nyaman berpenampilan dan berperilaku sebagai laki-laki. I. Pengkajian 1. Identitas klien a. Nama b. Usia c. Jenis kelamin 2. Data Objektif Kondisi pasien 3. Data Subjektif Klien menyatakan lebih nyaman untuk berpenampilan dan berperilaku laki-laki. : saat ini klien dinyatakan sebagai seorang wanita :A : 12 tahun : ambigu

Berdasarkan pengkajian awal di atas, perawat perlu melakukan pengkajian lanjut yang mana pengkajian tersebut dapat membantu dalam mengidentifikasi masalah keperawatan. Hal tersebut untuk menegakkan masalah keperawatan dan rencana keperawatan pada klien. Pengkajian lebih lanjut untuk klien yaitu anamnesa lebih lanjut, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang Setelah di lakukan anamnesai dan observasi lebih lanjut pada anak dan orang tua ditemuakan data sebagai berikut (TAMBAHAN dari gw) : 1. data objektif tambahan klien merupakan anak ketiga dari tiga bersaudara. Kedua kakaknya adalah laki-laki. Saat pemeriksaan klien memakai pakaian perempuan.

Sikap dan perilaku klien terlihat seperti laki-laki. Klien terlihat tidak percaya diri ketika mengungkapkan keinginannya. Klien terlihat tidak fokus ketika ditanyakan keinginannya. Adanya perbedaan keinginan antara klien dan orangtua (ibu) Berdasarkan hasil test hormon klien, terdapat hormon androgen yang melebih jumlah normal. Pertumbuhan tendarke yang lambat dan klien belum mengalami menstruasi

2. data subjektif tambahan ibu klien menyatakan bahwa ia menginginkan anak perempuan dan memperlakukan klien seperti anak perempuan. klien tidak ingin masuk sekolah karena malu akan keadaannya saat ini. Klien menyatakan bahwa ia tidak memiliki teman dekat di sekolahnya. Menurut ibu klien, berdasarkan keluarga suaminya pernah ada yang mengalami kasus serupa seperti anaknya. Paman dari kakek suaminya pernah mengalami hal tersebut. Ibu klien menyatakan tidak terlalu memperhatikan masalah menstruasi pada anaknya.

Teman-teman ada yang bisa bantu aku untuk nambahin data tambahan nya???????? Kalo ada langsung kirim ke nahla aja ya
II. Analisa Data No Data Masalah keperawatan

DO : DS : Menurut ibu klien, paman dari kakek suaminya pernah mengalami kasus serupa. Klien saat ini dinyatakan wanita Hasil lab : terdapat hormon androgen dalam jumlah melebih normal Pertumbuhan tendarke yang lambat dan klien belum mengalami menstruasi

Gangguan Citra Tubuh

DO : DS : Ibu klien menyatakan tidak terlalu memperhatikan masalah menstruasi pada anaknya

Defisit pengetahuan

DO : DS : Menurut ibu klien, paman dari kakek suaminya pernah mengalami kasus serupa. Klien terlihat tidak fokus ketika ditanyakan keinginannya

Ansietas

DO : klien merupakan anak ketiga dari tiga bersaudara. Kedua kakaknya adalah laki-laki. DS : Adanya perbedaan keinginan antara klien dan orangtua (ibu)

Gangguan fungsi keluarga

ibu klien menyatakan bahwa ia menginginkan anak perempuan dan memperlakukan klien seperti anak perempuan

DO : Saat pemeriksaan klien memakai pakaian perempuan. Sikap dan perilaku klien terlihat seperti laki-laki. .Klien saat ini dinyatakan wanita Hasil lab : terdapat hormon androgen dalam jumlah melebih normal DS : Menurut ibu klien, paman dari kakek suaminya pernah mengalami kasus serupa.

Gangguan identitas diri

DO : DS : klien tidak ingin masuk sekolah karena malu akan keadaannya saat ini. Klien terlihat tidak percaya diri ketika mengungkapkan keinginannya

Harga diri rendah situasional

DO : Klien

Gangguan interaksi sosial

DS : Klien menyatakan bahwa ia tidak memiliki teman dekat di sekolahnya.

III.

Rencana dan penatalaksanaan keperawatan 1. Gangguan citra tubuh a. Karakteristik 1) Data mayor

Respon negatif verbal atau nonverbal kepada perubahan struktur dan/atau fungsi tubuh yang actual (contohnya, malu, shame, bersalah dan revulsion). 2) Data minor a) Tidak melihat dan menyentuh bagian tubuh b) Menghindari ekspos berlebihan pada bagian tubuh c) Perubahan sosial involvement d) Perasaan negatif terhadap tubuh: putus asa, tidak sanggup dan vulnerability. e) Menolak untuk menerima perubahan f) Depersonalisasi terhadap bagian yang hilang. g) Perilaku destruktif diri (mutilasi, bunuh diri, overakting)

b. Faktor yang berhubungan Persepsi tidak nyata terhadap penampilan sekunder : efek dari penampilan,

c. Tujuan Klien akan mengimplementasikan mekanisme koping baru dan mendemonstrasikan penerimaan klien terhadap penampilannya. Indikator : 1) Mendemonstrasikan kesediaan dan kemampuan untuk merawat diri. 2) Memulai baru atau membangun kembali kontak dengan sistem pendukung yang ada

d. Intervensi Umum 547 1) Membangun hubungan terapeutik Perawat-Klien a) Mendorong orang untuk mengungkapkan perasaan, terutama tentang cara ia merasa, berpikir, atau pandangan terhadap dirinya. b) Anjurkan klien untuk mengakui perasaan kesedihan, ketakutan, dan ketergantungan; mengajarkan strategi menghadapi emosi. c) Kaji sistem kepercayaan (misalnya, apakah hukuman rasa sakit, penderitaan, kehilangan)

d) Mendorong klien untuk bertanya tentang masalah kesehatan, pengobatan, dan kemajuan prognosis. e) Menyediakan informasi yang dapat dipercaya dan memperkuat informasi yang telah diberikan. f) Mengklarifikasi kesalahpahaman tentang diri, perawatan. g) Menghindari kritik. h) Memberikan privasi dan lingkungan yang aman. i) Gunakan sentuhan terapeutik, dengan persetujuan orang tersebut. j) Dorong klien untuk berhubungan dengan keyakinan spiritual dan nilainilai mengenai kekuatan yang lebih tinggi. Rasional : Sering kontak dengan perawat menunjukkan penerimaan dan dapat memfasilitasi kepercayaan. Klien mungkin ragu-ragu untuk mendekati perawat karena konsep diri negatif, perawat harus menjangkau. 2) Anjurkan interaksi sosial a) Membantu klien untuk menerima bantuan orang lain. b) Hindari overproteksit. c) Mendorong gerakan bagi klien. d) Siapkan orang lain yang mendukung untuk perubahan fisik dan emosional klien. e) Dukungan keluarga untuk adaptasi klien. f) Mendorong kunjungan dari teman sebaya dan orang lain. g) Mendorong keterlibatan klien dalam kegiatan. h) Memberikan kesempatan untuk berbagi dengan orang melalui pengalaman yang sama. i) Diskusikan pentingnya mengkomunikasikan nilai klien. Rasional : interaksi sosial dapat menegaskan kembali bahwa orang tersebut

dapat diterima dan bahwa sistem dukungan sebelumnya masih utuh. Isolasi dapat meningkatkan perasaan bersalah, ketakutan dan malu.

3) Menyediakan Intervensi khusus dalam Situasi Terpilih Psikologi : Lihat Kebingungan untuk informasi spesifik dan intervensi.

Memulai Pengajaran Kesehatan, Dinyatakan a) Ajarkan sumber daya masyarakat yang tersedia, jika diperlukan (misalnya, pusat kesehatan mental) Rasional :

Konseling Profesional diindikasikan untuk klien dengan kekuatan ego yang buruk dan tidak memadai mengatasi sumber daya. Peningkatan interaksi sosial melalui keterlibatan dalam kelompok memungkinkan seseorang untuk menerima dan sosial stimulasi intelektual, yang meningkatkan harga diri.

b) Ajarkan strategi kesehatan.

Intervensi tambahan untuk Remaja 1) Diskusikan dengan orang tua kebutuhan remaja yang tepat untuk anaknya: a) Jangan mengabaikan kekhawatiran terlalu cepat. b) Bersikaplah fleksibel dan kompromi bila memungkinkan c) Negosiasikan jangka waktu untuk berpikir tentang pilihan dan alternatif (misalnya, 4 sampai 5 minggu). d) Memberikan alasan untuk menolak permintaan. Memperoleh alasan remaja. Kompromi jika mungkin (Misalnya, orang tua ingin jam malam pada pukul 11:00; remaja ingin 12:00; kompromi 11:30). 2) Memberikan kesempatan untuk membahas keprihatinan ketika orang tua tidak hadir. Persiapan untuk perubahan perkembangan yang akan datang. Rasional : Peluang untuk dialog terbuka, pilihan dan keberhasilan meningkatkan harga diri dan mengatasi.

2. Defisit Pengetahuan a. Karakteristik 1) Verbalisasi dari masalah 2) Perilaku tidak tepat atau berlebihan ( histeris,bermusuhan, gelisah, atau apatis)

3) Tindak lanjut dari instruksi tidak akurat 4) Uji kinerja gagal b. Faktor yang berhubungan 1) Keterbatasan kognitif 2) Ketidakpahaman akan informasi 3) Kurangnya paparan 4) Kurangnya minat belajar 5) Pemahaman dengan sumber daya informasi c. Tujuan Akan kembali menunjukkan (pengetahuan spesifik tentang defisit aktivitas) d. Intervensi pada anak 1) Tentukan apakah ada ambiguitas dalam pikiran orang tua atau anak. Rasional : Klarifikasi dan verifikasi akan memastikan kemungkinan yang

lebih besar tentang memahami dan menilai aspek penting untuk mengajar pasien. 2) Mengidentifikasi kemampuan belajar untuk pasien dan keluarga. Rasional utama dalam mengajar pasien, karena berfungsi sebagai salah satu utama parameter dalam harapan pembelajaran. 3) Menentukan cakupan dan presentasi yang sesuai untuk pasien dan keluarga berdasarkan tindakan sebelumnya, ditambah perkembangan krisis. Rasional : Kebutuhan perkembangan dari semua yang terlibat akan : Kapasitas realistis untuk pembelajaran harus menjadi faktor

berfungsi sebagai kerangka penting untuk mengajar pasien dan keluarga. Potensi dan kapasitas untuk penggunaan semua aspek sensori dan persepsi terhadap kognitif harus dieksplorasi dan digunakan untuk memastikan kesempatan terbaik untuk mengajar efektif. 4) Mengevaluasi efektivitas dari pengalaman belajar-mengajar oleh: a) Catatan verbal untuk memberikan data konkret b) Catatan tertulis pemeriksaan yang menunjukkan kemajuan c) Observasi keterampilan mengenai perawatan

d) Membiarkan anak untuk melakukan keterampilan dengan menggunakan boneka Rasional : Evaluasi merupakan indikator efektifitas mengajar dan belajar.

Ini berfungsi sebagai aspek penting dari mengajar pasien, dengan fokus yang tepat pada individualisasi, dengan menunjukkan daerah yang perlu diajarkan kembali.

3. Ansietas a. Karakteristik (Data Mayor) 1) Fisiologis a) Peningkatan jantung dan tekanan darah Peningkatan b) Diaforesis c) Suara tremor d) Mual atau muntah e) Sering buang air kecil Kelelahan dan kelemahan f) Insomnia g) Mulut kering h) Flushing atau pucat i) Gelisah j) Parestesia Anoreksia 2) Emosional , Klien menyatakan perasaan: a) Ketakutan b) Ketidakberdayaan c) Gugup d) Kurangnya kepercayaan diri 3) Kognitif a) Ketidakmampuan untuk berkonsentrasi b) Kurangnya kesadaran lingkungan c) Orientasi masa d) kebingungan e) Tegang f) Ketidakmampuan untuk rileks g) Antisipasi kemalangan

b. Faktor yang mempengaruhi 1) Patofisiologi : Setiap faktor yang mengganggu kebutuhan dasar manusia

(makanan, udara, kenyamanan, dan keamanan).

2) Situasional (Personal, Lingkungan) :Terkait ancaman terhadap konsep diri sekunder untuk: Perubahan status dan prestise; Kurangnya pengakuan dari orang lain. 3) Pada Remaja terkait dengan ancaman terhadap konsep diri sekunder : perubahan perkembangan seksual.

c. Intervensi pada anak 1) Tanda-tanda kecemasan pada anak sangat bervariasi tergantung pada tahap perkembangan, temperamen, pengalaman masa lalu, dan keterlibatan orangtua (Hockenberry & Wilson, 2009). Tanda paling umum pada anak-anak dan remaja peningkatan aktivitas motorik. Tanda-tanda kecemasan tercermin dalam cara berikut: a) 6 sampai 12 tahun: verbalisasi yang berlebihan, perilaku kompulsif (misalnya, mengulang tugas) b) Masa remaja: Mirip dengan 6 sampai 12 tahun ditambah perilaku negative c) Pemisahan dari orang tua, perubahan rutinitas biasa, lingkungan yang aneh, prosedur menyakitkan, dan kecemasan orang tua dapat meningkatkan kecemasan (Hockenberry & Wilson, 2009). Kaji perubahan dalam pola kesehatan fungsional untuk mendeteksi kecemasan. d) Sumber-sumber kecemasan bagi anak dan remaja terkait dengan sekolah (misalnya, kinerja, tekanan teman sebaya), pemisahan, situasi sosial, dan keluarga. e) Lihat anak-anak yang memanifestasikan gangguan penghindaran, cemas berlebih, kegelisahan pemisahan, dan fobia sekolah para ahli kesehatan mental.

4. Gangguan fungsi keluarga a. Karakteristik 1) Mayor Sistem keluarga tidak dapat atau tidak:

a) Beradaptasi secara konstruktif terhadap krisis b) Berkomunikasi secara terbuka dan efektif antara anggota keluargal 2) Minor Sistem keluarga tidak dapat atau tidak: a) Memenuhi kebutuhan fisik dari semua anggotanya b) Memenuhi kebutuhan emosional dari semua anggotanya c) Memenuhi kebutuhan rohani semua anggotanya d) Menerima berbagai perasaan e) Mencari atau menerima bantuan tepat

b. Faktor yang berhubungan 1) Situasional (Personal, Lingkungan) 2) Bencana a) Terkait dengan konflik (moral, tujuan, budaya) b) Terkait dengan pelanggaran kepercayaan antara anggota c) Terkait dengan penyimpangan sosial oleh anggota keluarga (misalnya, kejahatan)

c. Tujuan

: Keluarga akan mempertahankan sistem fungsional yang

saling mendukung satu sama lain NOC (Koping keluargag, lingkungan keluarga: Internal Keluarga, Normalisasi, Parenting). Indikator 1) Verbalisasi perasaan sering ditujukkan satu sama lain. 2) Mengidentifikasi sumber eksternal yang sesuai tersedia.

d. Intervensi Umum NIC (Keterlibatan Keluarga, Promosi, Koping, Perangkat tambahan, Integritas Keluarga, Terapi, Konseling). 1) Kaji faktor penyebab dan faktor yang terkait dengan penyakit a) Penyakit tidak terduga

b) Masalah kronis c) Gejala yang menciptakan perubahan dalam penampilan fisik d) Stigma sosial yang terkait dengan penyakit 2) Faktor-faktor yang terkait dengan perilaku sakit anggota keluarga. a) Menolak untuk bekerja sama dengan intervensi yang diperlukan b) Terlibat dalam perilaku sosial menyimpang terkait dengan penyakit: percobaan bunuh diri, kekerasan, penyalahgunaan zat c) Mengisolasi diri dari keluarga 3) Faktor-faktor terkait dengan fungsi keluarga keseluruhan a) Perasaan bersalah, menyalahkan, permusuhan, kecemburuan b) Pola komunikasi Tidak efektif di antara anggota c) Perubahan harapan peran dan ketegangan d) Tidak jelas batas-batas peran 4) Faktor-faktor terkait dengan Masyarakat a) Kurangnya dukungan dari sumber-sumber spiritual (filosofis, keagamaan, atau keduanya) b) Kurangnya sumber daya pendidikan kesehatan yang relevan Kurangnya teman yang mendukung c) Kurangnya sumber daya perawatan kesehatan masyarakat yang memadai (misalnya, jangka panjang tindak lanjut, rumah sakit, istirahat) Rational : sumber stres keluarga adalah sebagai berikut (Carlson &

Smith DiJulio, 2006) : Sumber eksternal stres : satu anggota mengalami Sumber eksternal stres : mempengaruhi unit keluarga Pemicu stresor Stres situsional (misalnya, sakit, rawat inap, pemisahan, pengasuhan tanggung jawab) 5) Promosikan Kohesivitas. a) Pendekatan keluarga dengan kehangatan, rasa hormat, dan dukungan. b) Hindari saran yang tidak jelas, membingungkan dan klise

c) Jauhkan anggota keluarga mengikuti perubahan kondisi anggota yang sakit ketika tepat. d) Hindari membicarakan apa yang menyebabkan masalah atau menyalahkan. e) Memfasilitasi komunikasi. f) Dorong verbalisasi perasaan bersalah, marah, menyalahkan permusuhan, dan dan pengakuan selanjutnya perasaan sendiri pada anggota keluarga. Rational : Tidak ada keluarga yang 100% fungsional, namun

menciptakan keluarga sehat dengan kebutuhan masing-masing dan mendorong ekspresi perasaan (Varcarolis, Carson, & Shoemaker, 2006). 6) Membantu Keluarga untuk Menilai Situasi. a) Dorong keluarga untuk memiliki perspektif yang realistis dengan memberikan informasi yang akurat dan jawaban atas pertanyaan. Pastikan semua anggota keluarga memiliki masukan. b) Membantu keluarga untuk mengatur kembali peran di rumah dan prioritas ditetapkan untuk menjaga keluarga integritas dan mengurangi stres. c) Memulai diskusi tentang perawatan stres (fisik, emosi, lingkungan, dan keuangan). d) Pendekatan Keluarga yang berorientasi termasuk membantu wawasan keuntungan keluarga dan membuat perubahan perilaku yang paling sukses (Varcarolis, Carson, & Shoemaker, 2006, hal. 746). 7) Promosikan Batas yang jelas antara Individu dalam Keluarga. a) Pastikan semua anggota keluarga berbagi keprihatinan mereka b) Memperoleh tanggung jawab setiap anggota c) Mengakui perbedaan Rasional : Sebuah emosional klien, fungsi sosial dan fisik secara

langsung berkaitan dengan seberapa jelas / nya perannya adalah dibedakan dalam keluarga (Varcarolis, Carson, & Shoemaker, 2006). 8) Memulai Pengajaran Kesehatan yang diperlukan.

a) Sertakan anggota keluarga dalam sesi pendidikan kelompok. b) Memfasilitasi keterlibatan keluarga dengan dukungan sosial. c) Membantu anggota keluarga untuk mengidentifikasi teman dapat diandalkan (misalnya, pendeta, orang lain yang signifikan); mendorong mencari bantuan (Emosional, teknis) bila perlu. d) Mintalah bantuan profesional lainnya (pekerjaan sosial, terapis, psikiater, perawat sekolah). Rasioanal : Keluarga akan membutuhkan dorongan ekstra untuk

berpartisipasi dalam perawatan diri atau masyarakat lainnya lembaga (Murray, Zenter, & Yakimo, 2009).

5. Gangguan identitas personal a. Karakteristik 1) Tidak menyadari muncul atau ketidaktertarikan pada orang lain atau kegiatan mereka 2) Tidak dapat mengidentifikasi bagian-bagian tubuh atau sensasi tubuh 3) Berlebihan meniru kegiatan atau kata-kata 4) Gagal untuk membedakan orang tua / pengasuh sebagai manusia seutuhnya 5) Menjadi tekanan ketika kontak badan dengan orang lain 6) Menghabiskan waktu yang lama dalam diri 7) Kebutuhan perilaku ritualistik dan kesamaan untuk mengendalikan kecemasan.

b. Faktor yang berhubungan patofisiologi : 1) Terkait dengan ketidakseimbangan biokimia 2) Terkait dengan perkembangan neurologis gangguan atau disfungsi Tumbuh Kembang 1) Terkait dengan kegagalan untuk mengembangkan perilaku. 2) Terkait terganggu atau belum proses pemisahan yang ekstrim.

3) Cemas Catatan : diagnose di atas dapat menggunakan fokus keperawatan kegelisahan dan / atau gangguan Interaksi Sosial 6. Harga diri situasional a. Karakteristik (Levner et al, 1994; Norris & Kunes-Connell, 1987) 1) Mayor a) Penilaian negative diri dalam menanggapi peristiwa kehidupan dalam diri seseorang terhadap evaluasi positif diri sebelumnya. b) Verbalisasi perasaan negatif tentang diri (tidak berdaya, tidak berguna) 2) Minor a) Meniadakan verbalisasi diri b) Ekspresi malu / bersalah c) Mengevaluasi diri sebagai tidak dapat menangani situasi / peristiwa d) Kesulitan membuat keputusan b. Faktor yang berhubungan 1) Patofisiologi : Terkait dengan perubahan dalam penampilan sekunder

terhadap kehilangan bagian tubuh, kehilangan fungsi tubuh, ketidakseimbangan biokimia / neurofisiologis . 2) Situasional : kebutuhan ketergantungan yang belum terpenuhi,

perasaan ditinggalkan, sejarah hubungan efektif dengan orang tua, sejarah hubungan yang kasar, harapan yang tidak realistis anak oleh orang tua, harapan yang tidak realistis dari diri, harapan yang tidak realistis dari orang tua dengan anak, penolakan orang tua, sejarah kegagalan. 3) Tumbuh kembang remaja : hilangnya kemerdekaan dan otonomi sekunder, gangguan hubungan peer,masalah skolastik, dan kerugian orang lain yang signifikan c. Tujuan Orang tersebut akan mengekspresikan pandangan positif untuk masa depan dan melanjutkanya. Indikator :

1) Mengidentifikasi sumber ancaman bagi harga diri dan bekerja melalui masalah itu. 2) Mengidentifikasi aspek positif diri. 3) Menganalisis perilaku sendiri dan konsekuensinya. 4) Identifikasi satu aspek positif dari perubahan. d. Intervensi umum NIC : mendengar aktif, konseling, restrukturisasi kognitif , dukungan keluarga

dan grup serta peningkatan koping individu. 1) Membantu klien untuk mengidentifikasi dan mengekspresikan perasaan a) Jadilah empatik, tidak menghakimi. b) Mendengarkan. Jangan mematahkan semangat ekspresi marah, menangis, dan sebagainya. c) Tanyakan apa yang terjadi ketika ia mulai merasa cara ini. d) Memperjelas hubungan antara peristiwa kehidupan. Rasional : penerimaan diri dapat ditingkatkan dengan klarifikasi dari

perasaan dan pikiran. 2) Membantu Client untuk mengidentifikasi positif dirinya a) Bagaimana dia menangani krisis lainnya? b) Bagaimana dia mengelola kecemasan-melalui olahraga, penarikan/minum obat, berbicara? c) Memperkuat mekanisme koping adaptif. d) Memeriksa dan memperkuat kemampuan dan sifat-sifat positif (misalnya, hobi, keterampilan, sekolah, hubungan, penampilan, kesetiaan, kerajinan). e) Membantu klien menerima baik perasaan positif dan negatif. f) Jangan menghadapi pertahanan. g) Berkomunikasi. h) Libatkan klien penetapan tujuan bersama. i) Apakah klien menulis pernyataan positif tentang diri sejati (untuk nya atau matanya saja); klien telah membaca daftar hari sebagai bagian dari rutinitas normal.

j) Memperkuat penggunaan harga-gedung latihan (afirmasi diri, citra, meditasi / doa, relaksasi, menggunakan humor). 3) Membantu mengidentifikasi distorsi kognitif yang meningkatkan penilaian negatif terhadap diri sendiri a) Ajarkan untuk fokus pada setiap peristiwa b) Ajarkan untuk mengevaluasi apakah klien benar-benar bertanggung jawab dan mengapa. c) Menyarankan untuk mengklarifikasi secara lisan apa yang dia sedang terjadi d) Mengidentifikasi tanggapan positif dari orang lain e) Ajarkan untuk merespon dengan berterima Kasih Rasional : Ini memperkuat distorsi kognitif negatif, persepsi yang tidak

akurat tentang diri dan dunia (Varcarlois, 2006) 4) Menilai sistem pendukung a) Kaji klien : Apakah dia hidup sendiri? Apakah ia bekerja? Apakah dia

memiliki teman yang tersedia dan keluarga? Apakah agama dukungan? Apakah dia sebelumnya digunakan sumber daya masyarakat? b) Membantu klien untuk melibatkan diri dengan organisasi relawan lokal (warga senior pekerjaan, kakek angkat, lokal dukungan kelompok). Atur kelanjutan dari penelitian sekolah bagi siswa. Rasional : dukungan akal meningkat Sosial, harga diri(Dirsken, 2000).

5) Membantu klien untuk belajar koping baru 1) Praktek self-talk (Murray, 2000): Tulis deskripsi singkat tentang perubahan dan konsekuensinya. Tulis tiga hal yang mungkin berguna tentang situasi ini. Komunikasikan bahwa orang tersebut dapat menangani perubahan. Tantang orang membayangkan masa depan yang positif dan hasil. Mendorong uji coba perilaku baru. Memperkuat keyakinan bahwa orang tersebut memiliki kendali atas situasi.

Mendapatkan komitmen untuk tindakan. : Self-talk tidak berarti mengarah ke perubahan, namun

Rasional

membantu seseorang menemukan manfaat potensial dari perubahan (Murray, 2000). Intervensi anak : 1) Intervensi Berikan kesempatan kepada anak untuk menjadi sukses dan dibutuhkan. 2) Personalisasi lingkungan anak dengan gambar dan kerajinan ia dibuat. 3) Memberikan bermain terstruktur dan tidak terstruktur. 4) Memastikan kelanjutan dari pengalaman akademik di rumah sakit dan rumah. 5) Menyediakan waktu tanpa gangguan untuk sekolah.

7. Gangguan interaksi sosial a. Karakteristik 1) Data mayor a) Mengutarakan perasaan kesendirian atau penolakan b) Menginginkan lebih banyak kontak dengan orang c) Laporan ketidakamanan dalam situasi sosial d) Menjelaskan kurangnya hubungan yang bermakna 2) Data minor a) Waktu berlalu sangat lama ("Senin begitu lama bagi saya.") b) Ketidakmampuan untuk berkonsentrasi dan membuat keputusan c) Perasaan tidak berguna dan penolakan d) Underactivity (fisik atau lisan) e) Tertekan, cemas, atau marah f) Kegagalan untuk berinteraksi dengan orang lain di dekatnya g) Sedih, pendiam, menghindari kontak mata h) Sibuk dengan pikirannya sendiri dan kenangan b. Faktor yang berhubungan

1) Patofisiologi Terkait dengan malu; mobilitas fisik terbatas; kehilangan fungsi tubuh dari bagian tubuh yang sakit; Keterbelakangan mental; Penyakit kronis. 2) Situasional (Personal, Lingkungan) : terkait dengan keterasingan dari orang lain; cemas tingkat tinggi, ruminasi, halusinasi, perilaku manipulasi, perilaku impulsif, perilaku depresif, ketidakpercayaan, emosional tidak stabil, respon agresif dan egois. 3) Anak / Remaja a) Terkait dengan rangsangan indra yang tidak memadai b) Terkait dengan penampilan yang berubah c) Terkait dengan kesulitan berbicara

c. Tujuan Klien/keluarga klien akan melaporkan kepuasan peningkatan sosialisasi. Indikator: 1) Mengidentifikasi perilaku bermasalah yang menghalangi sosialisasi. 2) Perilaku konstruktif pengganti untuk perilaku sosial yang mengganggu. 3) Menjelaskan strategi untuk mempromosikan sosialisasi yang efektif.

d. Intervensi umum NIC : bimbingan antisipatif, modifikasi perilaku, promosi integritas keluarga,

Konseling, manajemen perilaku, dukungan keluarga. 1) Memberikan dukungan untuk keterampilan menjaga hubungan sosial dan Mengurangi Isolasi Sosial a) Individu, supportive relationship Membantu klien untuk mengelola stres kehidupan. Fokus pada saat ini dan realitas. Membantu klien untuk mengidentifikasi bagaimana masalah stress. Mendukung pertahanan kesehatatan klien. Membantu klien untuk mengidentifikasi program alternatif tindakan. Membantu klien untuk menganalisis cara yang terbaik.

Rasional : Klien membutuhkan dorongan terus-menerus untuk keterampilan sosial yang baru dan mengeksplorasi situasi sosial yang baru. b) Terapi Kelompok Pendukung Fokus pada saat ini. Menetapkan norma-norma kelompok yang mencegah perilaku tidak pantas. Mendorong pengujian perilaku sosial baru. Gunakan makanan ringan atau kopi untuk mengurangi kecemasan selama sesi. Model tertentu perilaku sosial yang diterima (misalnya, menanggapi sapaan ramah bukan mengabaikannya). Pengembangan hubungan di antara anggota melalui keterbukaan diri dan kerendahan. Gunakan pertanyaan dan pengamatan untuk mendorong orang dengan keterampilan interaksi terbatas. Mendorong anggota untuk memvalidasi persepsi mereka dengan orang lain. Mengidentifikasi kekuatan antara anggota dan mengabaikan kelemahan yang dipilih. Kegiatan kelompok dan drop-in center sosialisasi dapat digunakan untuk beberapa klien. Rasional : keterampilan sosial yang tepat dan menggunakan terapi

kelompok sebagai contoh lain dari keterampilan sosial. 4) Menyediakan Pengembangan Keterampilan Sosial a) Identifikasi lingkungan di mana interaksi sosial tersebut terjadi penurunan nilai hidup, belajar, dan bekerja. b) Memberikan instruksi dalam lingkungan di mana klien diharapkan fungsi, jika mungkin c) Mengembangkan program keterampilan individual sosial. Contoh beberapa keterampilan sosial kebersihan tubuh, postur tubuh, gaya

berjalan, kontak mata, mulai percakapan, mendengarkan, dan berakhir percakapan. d) Kombinasikan petunjuk verbal dengan demonstrasi dan praktek e) Tegas dalam menetapkan parameter perilaku sosial yang tepat, seperti ketepatan waktu, kehadiran, mengelola, penyakit, dan berpakaian. f) Gunakan kelompok sebagai metode membahas pekerjaan yang berhubungan dengan masalah. g) Berikan umpan balik positif, pastikan itu adalah khusus dan rinci. Fokus pada tidak lebih dari tiga perilaku h) koneksi pada satu waktu; umpan balik terlalu panjang menambah kebingungan dan kecemasan meningkat. Rasional : keterampilan sosial yang efektif dapat dipelajari dengan

bimbingan, demonstrasi, praktek, dan umpan balik (Stuart &Sundeen, 2001). i) Menyampaikan sikap bisa melakukan. Permainan peran aspek interaksi sosial (McFarland et al, 1996.): Bagaimana memulai percakapan Bagaimana untuk melanjutkan percakapan Bagaimana mengakhiri percakapan Bagaimana menolak permintaan Bagaimana meminta sesuatu Bagaimana wawancara pekerjaan Bagaimana meminta seseorang untuk berpartisipasi dalam suatu

kegiatan (misalnya, pergi ke bioskop) Rasional : Memainkan peran memberikan kesempatan untuk berlatih

isu dan menerima umpan balik. Rasional : Model keperawatan keterampilan sosial yang tepat dan

menggunakan terapi kelompok sebagai contoh lain dari keterampilan sosial. 3) Anggota Keluarga dan Masyarakat sebagai support sistem

a) Menyediakan fakta-fakta mengenai penyakit mental, pengobatan, dan kemajuan untuk anggota keluarga. Dengan lembut membantu keluarga menerima penyakit. b) Validasi perasaan anggota keluarga 'frustrasi dalam menghadapi masalah sehari-hari. c) Memberikan panduan mengenai overstimulasi atau understimulasi lingkungan. d) mendiskusikan perasaan bersalah keluarga dan bagaimana perilaku mereka mempengaruhi klien. e) Dukungan grup, jika tersedia f) Mengembangkan aliansi dengan keluarga. g) Mengatur perawatan yang cukup periodik. Rasional : Intervensi untuk keluarga sangat penting untuk kesuksesan

rehabilitasi dari anggota keluarga dengan kronis penyakit mental (Mohr, 2007). Rasional : Kedua individu dan keluarga berada di bawah stres. Perilaku

klien yang terlalu menuntut perilaku, penarikan sosial, kurangnya percakapan, dan kepentingan rekreasi minimal.Keluarga juga mempengaruhi kemampuan klien untuk bertahan hidup di masyarakat dengan baik. 4) Memulai Pengajaran Kesehatan dan Arahan (McFarland et al, 1996.): Tanggung jawab peran sebagai klien (membuat permintaan diketahui dengan jelas, berpartisipasi dalam terapi): a) Focus pada kegiatan hari dan pencapaian klien b) Bagaimana mendekati orang lain untuk berkomunikasi c) Mengidentifikasi interaksi dengan orang lain untuk memberinya atau pertimbangan dan rasa hormat d) Mengidentifikasi bagaimana ia dapat berpartisipasi dalam merumuskan peran keluarga dan tanggung jawab untuk mematuhi. e) Mengenali tanda-tanda kecemasan dan metode meringankannya. f) Mengidentifikasi perilaku positif dan mengalami kepuasan diri dalam memilih pilihan yang konstruktif

g) Terapi keluarga yang mendukung seperti yang ditunjukkan. h) Menyediakan nomor untuk layanan intervensi krisis. Rasional : pasif atau kurangnya motivasi adalah bagian dari penyakit,

dengan demikian, perawat tidak boleh hanya menerimanya. Pengasuh harus menggunakan pendekatan tegas di mana pengobatan tersebut "dibawa ke klien" daripada menunggu dia untuk berpartisipasi (Varcarolis, 2006). Rasional : sumber daya masyarakat adalah penting untuk keberhasilan

pengelolaan dan dukungan. Intervensi pada anak 1) Intervensi Jika Pengendalian Impulse: a) Jangan menguliahi. b) Berikan batas sederhana dan kembalikan pada mereka. c) Menjaga rutinitas. d) Batasi bermain pada satu teman bermain untuk belajar keterampilan bermain yang sesuai (misalnya, relatif, dewasa, anak tenang). e) Secara bertahap meningkatkan jumlah teman bermain. f) Memberikan umpan balik segera dan konstan. Rasional : Kegagalan untuk mengendalikan dorongan mengganggu

sosialisasi (misalnya, keluarga, teman sebaya, sekolah; Johnson, 1995). 2) Diskusikan Parenting Skill Selektif a) Reward sedikit demi sedikit perilaku yang diinginkan. b) Kontrak yang sesuai berkaitan dengan usia konsekuensi (misalnya, time-out, hilangnya aktivitas [penggunaan mobil, sepeda]). c) Hindari kritik yang keras. d) Ketidaksetujuan di depan anak. e) Menetapkan kontak mata sebelum memberikan instruksi dan meminta anak untuk mengulang kembali apa yang dikatakan. f) Ajarkan anak yang lebih tua untuk monitor diri perilaku dan mengembangkan kemandirian.

Rasional

: Keluarga dapat dibantu untuk mempelajari keterampilan

pengasuhan yang efektif untuk meningkatkan keberhasilan anak (Hockenberry& Wilson, 2009). 3) Perilaku antisosial hadir, berikan bantuan untuk: a) Jelaskan perilaku yang mengganggu sosialisasi. b) Batasi lingkaran sosial untuk mengelola ukuran. c) Alternatif respon role model d) Mintalah umpan balik sebaya untuk perilaku positif dan negatif. Rasional : Keterampilan yang mengurangi defisit sosial dapat

meningkatkan penerimaan sosial, kontrol, dan harga diri. 4) Membantu Remaja untuk Penurunan Defisit Sosial a) Manajemen mengatasi Kemarahan b) Keterampilan pemecahan masalah penolakan c) Manajemen stres Rasional : Keterampilan yang mengurangi defisit sosial dapat

meningkatkan penerimaan sosial, kontrol, dan harga diri. Rasional : Kegagalan untuk mengendalikan dorongan mengganggu

sosialisasi (misalnya, keluarga, teman sebaya, sekolah; Johnson, 1995).

DAFTAR PUSTKA Carpenito, L.J. (2010). Nursing Diagnosis : Apllication to Clinical Practice, 13th ed. Philadelphia: Lippincott Williams & Wilkins. Newfield, S.A. et all (2007), Coxs clinical applications of nursing diagnosis : adult, child, womens, mental health,gerontic and home health considerations, 5th ed. Danvers: F. A. Davis.