Anda di halaman 1dari 224
KEMAMPUAN PEMAHAMAN KONSEP SISWA KELAS VII SMP NEGERI 2 TANJUNG BREBES DALAM PEMBELAJARAN MATEMATIKA DENGAN PENDEKATAN

KEMAMPUAN PEMAHAMAN KONSEP SISWA KELAS VII SMP NEGERI 2 TANJUNG BREBES DALAM PEMBELAJARAN MATEMATIKA DENGAN PENDEKATAN REALISTIC MATHEMATICS EDUCATION (RME) PADA SUB MATERI POKOK BAHASAN PERSEGI PANJANG DAN PERSEGI TAHUN PELAJARAN 2006/2007

SKRIPSI

disusun sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Pendidikan

Oleh:

Miftahul Jannah

4101403569

Pendidikan Matematika

JURUSAN MATEMATIKA FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG

2007

i

PENGESAHAN

SKRIPSI Kemampuan Pemahaman Konsep Siswa Kelas VII SMP Negeri 2 Tanjung Brebes Dalam Pembelajaran Matematika Dengan Pendekatan Realistic Mathematics Education (RME) Pada Sub Materi Pokok Bahasan Persegi Panjang dan Persegi Tahun Pelajaran 2006/2007

Telah Dipertahankan Di hadapan Sidang Panitia Ujian Skripsi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam

Hari

: Rabu

Tanggal

: 29 Agustus 2007

Panitia Ujian

Ketua

Sekretaris

Drs. Kasmadi Imam S, MS

Drs. Supriyono, M.Si.

NIP 130781011

NIP 130815345

Pembimbing Utama

Ketua Penguji

Drs. H. M. Asikin H, M.Pd

Drs. Arief Agoestanto, M.Si

NIP 131568879

NIP 132046855

Pembimbing Pendamping

Anggota Penguji

Drs. Mashuri, M. Si

Drs. H. M. Asikin H, M.Pd

NIP 131993875

NIP 131568879

Anggota Penguji

Drs. Mashuri, M. Si

NIP 131993875

ii

MOTTO

Motto dari seorang insan biasa seperti Miftahul Jannah, terukir dalam untaian kata seperti berikut . 1. Tidaklah dapat memahami perumpamaan-perumpamaan yang ada dalam Al-Qur’an itu, Kecuali orang-orang yang berilmu, (Q.S 29 : 43). 2. Ya Tuhanku, lapangkanlah dadaku dan mudahkanlah urusanku, (Q.S 20 : 25-26). 3. Cinta kepada Allah pasti terbalas. Dan Allah tidak akan membiarkan orang yang dicintainya menderita di akhirat., (Mutiara Amaly). 4. 4 perkara penyebab kegagalan : menunda pekerjaan, tidak disiplin, tidak mau berubah dan tidak punya prioritas, (Ar- Risalah).

PERSEMBAHAN

iii

Kupersembahkan karya kecil ini untuk .. 1. Ayahku dan Bundaku Tercinta. 2. Guru-guruku.

KATA PENGANTAR

Kupersembahkan karya kecil ini untuk .. 1. Ayahku dan Bundaku Tercinta. 2. Guru-guruku. KATA PENGANTAR Alhamdulillah,

Alhamdulillah, tiada sanjungan dan pujian yang berhak diucapkan selain

hanya kepada Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan hidayah-Nya serta

kemudahan dan kelapangan, sehingga penulis dapat menyelesaikan penyusunan

skripsi yang berjudul ”Kemampuan Pemahaman Konsep Siswa Kelas VII SMP

Negeri 2 Tanjung Brebes Dalam Pembelajaran Matematika Dengan Pendekatan

Realistic Mathematics Education (RME) Pada Sub Materi Pokok Bahasan Persegi

Panjang Dan Persegi Tahun Pelajaran 2006/2007”.

Skripsi ini tidak akan tersusun dengan baik tanpa bantuan dari berbagai

pihak. Oleh karena itu, Penulis ingi n mengucapkan terima kasih kepada :

  • 1. Prof. Dr. H. Sudijono Sastroatmodjo, M.Si, Rektor Universitas Negeri Semarang;

  • 2. Drs. Kasmadi Imam S, M.Si, Dekan FMIPA Universitas Negeri Semarang;

  • 3. Drs. Supriyono, M.Si, Ketua Jurusan ;

  • 4. Drs. H. M Asikin H, M.Pd, selaku pembimbing utama yang telah memberikan bimbingan dan saran yang bermanfaat bagi penulis ;

iv

5.

Drs. Mashuri, M.Si, selaku pembimbing pendamping yang telah memberikan

bimbingan dan saran yang bermanfaat bagi penulis;

  • 6. Tarjono, S.Pd, selaku Kepala SMP Negeri 2 Tanjung yang telah memberikan ijin melaksanakan penelitian di SMP Negeri 2 Tanjung ;

  • 7. Azis Muslim, S.Pd, selaku guru Mata Pelajaran Matematika SMP Negeri 2 Tanjung yang telah memberikan bimbingan selama pelaksanaan penelitian ;

  • 8. Ayah, Ibu, kakak-kakak dan adikku serta keluarga besarku, atas dukungan lahir dan batin ;

  • 9. Keluarga Bapak Dr. H.Anwar Sutoyo, M.Pd, atas bimbingan dan arahannnya ;

10. Keluarga besar YSDP Ibnu Sina, Semoga Allah Senantiasa eratkan ukhwah

fillah antar kita ;

11. Ratna, Nofi, Etty, Hindri, Sari dan Rohmah, atas kebersamaan dan

motivasinya ;

12. Teman – teman seperjuangan Jurusan Matematika angkatan 2003, atas

kebersamaan dan motivasinya ;

13. Semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu, atas bantuan

dalam pelaksanaan penelitian ;

Akhirnya penulis berharap semoga skripsi ini dapat bermanfaat dan

memberikan masukan bagi pembaca.

Semarang,

Agustus 2007

Penulis

v

ABSTRAK

Jannah, Miftahul. 2007. Kemampuan Pemahaman Konsep Siswa Kelas VII SMP Negeri 2 Tanjung Brebes Dalam Pembelajaran Matematika Dengan Pendekatan Realistic Mathematics Education (RME) Pada Sub Materi Pokok Bahasan Persegi Panjang Dan Persegi Tahun Pelajaran

2006/2007. Skripsi, Jurusan Matematika Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Semarang. Pembimbing I : Drs. H.M.Asikin H., M.Pd, Pembimbing II: Drs.Mashuri, M.Si. Kata Kunci : Kemampuan pemahaman konsep, Realistic Mathematics Education (RME), Kelas VII SMP.

Kemampuan pemahaman konsep yang baik sangatlah penting karena memahami konsep yang baru diperlukan prasyarat pemahaman konsep sebelumnya. Menurut laporan Third International Mathematics and Science Study (TIMSS) tahun 1999 yang merupakan kriteria acuan, rendahnya daya saing murid Indonesia di ajang internasional menunjukan betapa lemahnya kemampuan penguasaan matematika di Indonesia. Pembelajaran matematika dengan pendekatan RME sejalan dengan teori kontruktivisme, yang dikembangkan Freudenthal menyatakan bahwa pengetahuan matematika dikreasi, bukan ditemukan sebagai sesuatu yang sudah jadi. Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah apakah kemampuan pemahaman konsep siswa kelas VII SMP di kelas dengan pembelajaran pendekatan RME lebih baik daripada dengan metode ekspositori dan bagaimanakah kemampuan pemahaman konsep siswa kelas VII SMP dalam pembelajaran matematika dengan pendekatan RME. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui kemampuan pemahaman konsep siswa kelas VII SMP di kelas dengan pembelajaran pendekatan RME lebih baik daripada dengan metode ekspositori dan untuk mengetahui indikator kemampuan pemahaman konsep yang dipenuhi dan tidak dipenuhi oleh siswa kelas VII SMP di kelas eksperimen. Populasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah siswa kelas VII SMP Negeri 2 Tanjung. Dipilih dua kelas secara cluster sampling, yaitu kelas VII A sebagai kelas kontrol dan VII C sebagai kelas eksperimen. Pada akhir pembelajaran, kedua kelas sampel diberi tes yang memuat indikator kemampuan pemahaman konsep.

vi

Simpulan yang diperoleh peneliti berdasarkan hasil perhitungan statistik uji perbedaan dua rata-rata, uji pihak kanan dengan α = 5 % dan dk = 88 dari daftar distribusi t didapat t tab = 1,66 dan dari hasil perhitungan didapat t hit = 2,277.

Karena t hit > t tab maka H 0 ditolak, artinya

rata-rata skor tes kemampuan

pemahaman konsep siswa kelas VII SMP dalam pembelajaran matematika dengan pendekatan RME lebih tinggi daripada rata-rata skor tes kemampuan pemahaman konsep siswa kelas VII SMP dalam pembelajaran matematika dengan metode ekspositori Pencapaian indikator kemampuan pemahaman konsep kelas eksperimen sebesar 76%, pelaksanaan RME oleh guru sebesar 73% dan aktifitas siswa sebesar 72%. Dari 7 indikator kemampuan pemahaman konsep, 6 indikator dapat dicapai dengan baik dan 1 indikator yang kurang dipenuhi dengan baik yaitu kamampuan mengembangkan syarat perlu atau syarat cukup dari suatu konsep. Saran yang ingin peneliti sampaikan setelah melakukan penelitian ini yaitu diharapkan guru dapat meningkatkan pencapaian indikator kemampuan pemahaman konsep siswa dengan menerapkan karakteristik RME secara optimal dan hendaklah guru dapat lebih optimal dalam memberikan pemahaman konsep suatu materi kepada siswa.

vii

DAFTAR ISI

halaman

HALAMAN JUDUL

i

PENGESAHAN

..............................................................................................

ii

MOTTO DAN PERSEMBAHAN

.................................................................

iii

KATA PENGANTAR

....................................................................................

iv

ABSTRAK

vii

DAFTAR ISI

...................................................................................................

viii

DAFTAR LAMPIRAN ..................................................................................

xi

DAFTAR TABEL

xiv

DAFTAR GAMBAR

......................................................................................

xv

BAB I PENDAHULUAN

  • A. Latar Belakang Masalah

1

  • B. Rumusan Masalah

...........................................................................

5

  • C. Tujuan Penelitian

............................................................................

5

  • D. Manfaat Penelitian

..........................................................................

6

  • E. Penegasan Istilah

7

  • F. Sistematika Penulisan Skripsi

.........................................................

9

viii

BAB II LANDASAN TEORI DAN HIPOTESIS

  • A. Landasan Teori

11

  • 1. Teori Belajar Matematika

...........................................................

11

  • 2. Matematika Sekolah

...................................................................

12

  • 3. Kemampuan Pemahaman Konsep

..............................................

16

  • 4. Realistic Mathematics Education (RME)

19

  • 5. Metode Ekspositori

29

  • 6. Pokok Bahasan Yang Berkaiatan Dengan Penelitian

.................

30

  • 7. Kerangka Berpikir

......................................................................

39

  • B. Hipotesis

40

BAB III METODE PENELITIAN

  • A. Metode Penentuan Objek Penelitian

...............................................

41

  • B. Variabel Penelitian

..........................................................................

42

  • C. Prosedur Pengumpulan Data

...........................................................

43

  • D. Metode Pengumpulan Data

.............................................................

43

  • 1. Metode Dokumentasi

45

  • 2. Metode Tes

.................................................................................

46

  • 3. Metode Observasi

.......................................................................

46

  • E. Instrumen Penelitian

31

  • 1. Metode Penyusunan Perangkat Tes

............................................

46

  • 2. Pelaksanaan Tes Uji Coba

..........................................................

47

  • 3. Analisis Perangkat Tes Uji Coba

47

a. Validitas

................................................................................

47

ix

  • b. Tingkat Kesukaran Soal

........................................................

48

  • c. Daya Pembeda Soal

..............................................................

50

  • d. Reliabilitas

33

  • 4. Hasil Analisis Perangkat Tes Uji Coba

......................................

51

  • F. Analisis Hasil uji Coba

35

  • G. Metode Analisis Data

38

  • 1. Analisis Tahap Awal

54

  • a) Uji Normalitas

.....................................................................

55

  • b) Uji Homogenitas

56

  • c) Uji Kesamaan Dua Rata-rata

...............................................

58

  • 2. Analisis Tahap Akhir

59

  • 3. Analisis Lembar Observasi

62

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

  • A. Hasil Penelitian

...............................................................................

43

  • 1. Hasil Penghitungan Data Akhir

..................................................

64

  • a. Uji Normalitas

....................................................................

65

  • b. Uji Homogenitas

66

  • c. Uji Perbedaan Dua Rata-rata

..............................................

66

  • 2. Pencapaian Indikator Kemampuan Pemahaman Konsep

...........

66

  • B. Pembahasan

72

  • 1. Analisis Data Tahap Akhir

72

  • 2. Pencapaian Indikator Kemampuan Pemahaman Konsep

...........

73

BAB V PENUTUP

x

Simpulan

  • A. .........................................................................................

80

Saran

  • B. ................................................................................................

80

DAFTAR PUSTAKA

.....................................................................................

82

LAMPIRAN

LAMPIRAN

 

Halaman

  • 1. Daftar nama siswa kelas eksperimen dan kontrol

...................................

85

  • 2. Data Awal Kelas Eksperimen dan kelas kontrol

.....................................

86

  • 3. Daftar nama siswa kelas uji coba

............................................................

87

  • 4. Uji Normalitas Data Awal

.......................................................................

88

  • 5. Uji Homogenitas Data Awal ...................................................................

90

  • 6. Uji Kesamaan Dua Rata-rata Data Awal ................................................

91

  • 7. Daftar kelompok siswa kelas eksperimen

...............................................

92

  • 8. Daftar kelompok siswa kelas kontrol

......................................................

93

  • 9. RPP kelas eksperimen (Pertemuan 1,2 dan 3) .......................................

94

  • 10. RPP Kelas Kontrol

106

  • 11. Lembar Diskusi Pertemuan 1 Kelas eksperimen

108

  • 12. Kunci Jawaban Lembar Diskusi 1

112

  • 13. Latihan soal Individu 1

115

  • 14. Kunci Jawaban Latihan Soal Individu 1

116

  • 15. Tugas Rumah 1

118

  • 16. Kunci Jawaban Tugas Rumah 1

..............................................................

119

xi

  • 17. Lembar Diskusi Pertemuan 2 Kelas eksperimen

120

  • 18. Kunci Jawaban Lembar Diskusi 2

124

  • 19. Latihan soal Individu 2 ...........................................................................

126

  • 20. Kunci Jawaban Latihan Soal Individu 2 .................................................

127

  • 21. Tugas Rumah 2 .......................................................................................

129

  • 22. Kunci Jawaban Tugas Rumah 2

..............................................................

130

  • 23. Lembar Diskusi Pertemuan 3 Kelas eksperimen ....................................

131

  • 24. Kunci Jawaban Lembar Diskusi 3 ..........................................................

134

  • 25. Latihan soal Individu 3 ...........................................................................

136

  • 26. Kunci Jawaban Latihan Soal Individu 3 .................................................

137

  • 27. Tugas Rumah 3 .......................................................................................

139

  • 28. Kunci Jawaban Tugas Rumah 3

.............................................................

140

  • 29. Lembar Observasi Guru di Kelas Eksperimen (Pertemuan 1,2 dan 3)

141

  • 30. Lembar Observasi Aktivitas Siswa di Kelas eksperimen

147

  • 31. Kisi-kisi Tes Uji Coba

.............................................................................

153

  • 32. Soal Tes Uji Coba

157

  • 33. Kunci Jawaban Tes Soal Uji Coba

..........................................................

161

  • 34. Analisis Soal Tes Uji Coba

170

  • 35. Contoh Penghitungan Validitas Soal

172

  • 36. Contoh Peghitungan Daya Pembeda Soal

...............................................

174

  • 37. Contoh Penghitungan Tingkat Kesukaran Soal

175

  • 38. Contoh Penghitungan Reliabilitas Soal

...................................................

176

  • 39. Kisi-kisi Tes Akhir

..................................................................................

177

xii

  • 40. Soal Tes Akhir

181

  • 41. Kunci Jawaban Soal Tes Akhir

...............................................................

185

  • 42. Skor Kemampuan Tes Akhir Kelas Eksperimen dan Kelas Kontrol

193

  • 43. Uji Normalitas Data Akhir

......................................................................

195

  • 44. Uji Homogenitas Data Akhir

197

  • 45. Uji Perbedaan Dua Rata-rata Data Akhir

................................................

198

  • 46. Tabel I. Nilai-nilai r Product Moment

.....................................................

199

  • 47. Tabel II. Daftar Kritik Distribusi t

200

  • 48. Tabel III Daftar Distribusi F

201

  • 49. Tabel IV. Nilai-nilai Chi Kuadrat

202

  • 50. Surat Usulan Pembimbing

203

  • 51. Surat Permohonan Izin Penelitian

...........................................................

204

  • 52. Surat Keterangan Telah Melakukan Penelitian

.......................................

205

xiii

DAFTAR TABEL

Halaman

Tabel 3.1 : Populasi Penelitian .....................................................................

41

Tabel 4.1 : Pencapaian Indikator Pemahaman Konsep di Kelas

Eksperimen

.................................................................................

67

Tabel 4.2 : Pencapaian Indikator Pemahaman Konsep di Kelas Kontrol ....

68

Tabel 4.3 : Rekapitulasi perolehan skor siswa kelas eksperimen .................

69

Tabel 4.4 : Rekapitulasi perolehan skor siswa kelas kontrol ........................

69

Tabel 4.5 : Pelaksanaan pembelajaran RME

.................................................

70

Tabel 4.6 : Aktivitas siswa kelas eksperimen ...............................................

71

Tabel I : Nilai-nilai r Product Moment

199

Tabel II : Daftar Kritik Distribusi t

200

Tabel III : Daftar Distribusi F

201

Tabel IV : Nilai-nilai Chi Kuadrat

202

xiv

DAFTAR GAMBAR

Halaman

Gambar 2.1 : Skema Konsep Matematisasi De Lange ...............................

19

Gambar 2.2

: Penemuan dan pengkonstruksian konsep

..............................

26

Gambar 2.3 : Unsur-unsur persegi panjang ................................................

30

Gambar 2.4 : Cara persegi panjang menempati bingkainya .......................

31

Gambar 2.5 : Sifat-sifat persegi panjang

....................................................

32

Gambar 2.6 : Unsur-unsur persegi ..............................................................

33

Gambar 2.7 : Cara persegi menempati bingkainya .....................................

33

Gambar 2.8 : Cara persegi menempati bingkainya .....................................

34

Gambar 2.9 : Sifat-sifat persegi ..................................................................

35

Gambar 2.10:

Persegi panjang ....................................................................

36

Gambar 2.11: Persegi

..................................................................................

37

Gambar 2.12 : Skema Kerangka Berpikir

....................................................

39

Gambar 3.1 : Skema Prosedur Penelitian

...................................................

45

xv

1
1

BAB I

PENDAHULUAN

  • A. LATAR BELAKANG MASALAH

Tujuan pendidikan nasional seperti dinyatakan dalam Undang-undang

Republik Indonesia Nomor 2 tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional

(UUSPN) adalah mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia

Indonesia seutuhnya. Manusia Indonesia seutuhnya adalah manusia yang beriman

dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur, memiliki

pengetahuan dan keterampilan, kesejahteraan jasmani dan rohani, kepribadian

yang mantap dan mandiri serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan

kebangsaan, Depdiknas (dalam Asmin, 2002 : 1).

Pembelajaran matematika yang diterapkan di sekolah saat ini merupakan

basik yang sangat penting dalam keikutsertaannya mencerdaskan kehidupan

bangsa. Sudah barang tentu, pencapaian target “mencerdaskan kehidupan bangsa”,

agar tetap segar bugar dan tegar menyongsong persaingan di era globalisasi dan

kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, yang diaplikasikan pada persaingan

era industrialisasi pada semua aspek kehidupan yang relevan dengan kemajuan

informasi dan komunikasi yang berkembang dengan pesatnya.

Menurut laporan Third International Mathematics and Science Study

(TIMSS) tahun 1999 yang merupakan kriteria acuan (dalam Asmin, 2002 :1),

rendahnya daya saing murid Indonesia di ajang international (Indonesia

1

2

diperingkat 34 dari 38 negara) menunjukan betapa lemahnya kemampuan

penguasaan matematika di Indonesia.

Jenning dan Dunne (dalam Suharta, 2003 : 2) menyatakan bahwa,

kebanyakan siswa mengalami kesulitan dalam mengaplikasikan matematika ke

dalam situasi kehidupan real. Hal lain yang menyebabkan sulitnya matematika

bagi siswa adalah karena pembelajaran matematika kurang bermakna. Guru dalam

pembelajarannya di kelas tidak mengaitkan dengan skema yang telah dimiliki

siswa dan siswa kurang diberi kesempatan untuk menemukan kembali dan

mengkonstruksi sendiri ide-ide matematika. Menurut Soedjadi (dalam suharta,

2003), Mengaitkan pengalaman kehidupan nyata anak dengan ide-ide matematika

dalam pembelajaran di kelas penting dilakukan agar pembelajaran bermakna.

Menurut Van De Henvel-Panhuizen (dalam Suharta, 2003 : 2) bila anak belajar

matematika terpisah dari pengalaman mereka sehari-hari maka anak akan cepat

lupa dan tidak dapat mengaplikasikan matematika.

Berdasarkan pendapat di atas, pembelajaran matematika di kelas

ditekankan pada keterkaitan antara konsep-konsep matematika dengan

pengalaman anak sehari-hari. Selain itu, perlu menerapkan kembali konsep

matematika yang telah dimiliki anak pada kehidupan sehari-hari atau pada bidang

lain yang sangat penting dilakukan. Salah satu pembelajaran matematika yang

berorientasi pada matematisasi pengalaman sehari-hari ( mathematize of everday

experience) dan menerapkan matematika dalam kehidupan sehari-hari adalah

pembelajaran matematika realistik.

3

Pendidikan Matematika Realistik atau Realistic Mathematic Education

(RME) diketahui sebagai pendekatan yang telah berhasil di Nederland, Belanda.

Ada suatu hasil penelitian kuantitatif dan kualitatif yang menunjukkan bahwa

siswa yang memperoleh pembelajaran dengan pendekatan RME mempunyai skor

yang lebih tinggi dibandingkan dengan siswa yang memperoleh pembelajaran

dengan pendekatan tradisional dalam hal keterampilan berhitung, lebih khusus

lagi dalam aplikasi, dikutip dari Becker dan Selter (dalam Suherman, 2003 : 143).

Menurut Freudenthal (dalam Suherman, 2003 : 143), Gagasan pendekatan

pembelajaran matematika dengan realistik ini tidak hanya populer di Negeri

Belanda saja, melainkan banyak mempengaruhi kerja para pendidik matematika di

banyak bagian di dunia.

Beberapa penelitian pendahuluan di beberapa negara menunjukan bahwa

pembelajaran matematika pendekatan realistik, sekurang-kurangnya dapat

membuat :

1)

matematika lebih menarik, relevan dan bermakna, tidak terlalu formal dan

tidak terlalu abstrak;

2)

mempertimbangkan tingkat kemampuan siswa;

3)

menekankan belajar matematika pada ‘ learning by doing’;

4) memfasilitasi penyelesaian masalah matematika dengan tanpa

menggunakan penyelesaian (algoritma) yang baku;

5) menggunakan konteks sebagai titik awal pembelajaran matematika,

dikutip dari Kuiper & Knuver (dalam Suherman, 2003 : 143).

4

Pembelajaran matematika yang menggunakan pendekatan Realistic

Mathematics Education (RME) yang memperhatikan kondisi lokal (budaya atau

lingkungan atau konteks) memperlihatkan bahwa siswa tidak takut lagi

mengutarakan ide-idenya, sudah mulai berani memberikan penyelesaian soal yang

berbeda dengan teman-temannya, tumbuh kreativitasnya dalam menyelesaikan

suatu masalah atau di dalam melakukan pemecahan masalah (problem solving)

bersama.

Matematika merupakan suatu mata pelajaran yang diajarkan pada setiap

jenjang pendidikan di Indonesia mulai dari Sekolah Dasar (SD) sampai dengan

Sekolah Menengah Atas (SMA). Karena pendidikan merupakan satu hal penting

untuk menentukan maju mundurnya suatu bangsa, maka untuk menghasilkan

sumber daya manusia sebagai subyek dalam pembangunan yang baik, diperlukan

modal dari hasil pembangunan itu sendiri. Khusus untuk mata pelajaran

matematika, selain mempunyai sifat abstrak, pemahaman konsep yang baik

sangatlah penting karena memahami konsep yang baru diperlukan prasyarat

pemahaman konsep sebelumnya.

Dalam proses belajar mengajar guru mempunyai tugas untuk memilih

model pembelajaran berikut media yang tepat sesuai dengan materi yang

disampaikan demi tercapainya tujuan pembelajaran. Sampai saat ini masih banyak

ditemui kesulitan siswa untuk mempelajari konsep geometri, antara lain tentang

persegi panjang dan persegi pada siswa kelas VII semester 2. Akibatnya terjadi

kesulitan siswa untuk memahami konsep geometri selanjutnya karena konsep

prasyarat belum dipahami, (Nuriana, R. D : 2007).

5

Berdasarkan uraian tersebut, peneliti merasa tertarik untuk melakukan

penelitian dengan judul KEMAMPUAN PEMAHAMAN KONSEP SISWA

KELAS VII SMP NEGERI 2 TANJUNG BREBES DALAM

PEMBELAJARAN MATEMATIKA DENGAN PENDEKATAN

REALISTIC MATHEMATICS EDUCATION (RME) PADA SUB MATERI

POKOK BAHASAN PERSEGI PANJANG DAN PERSEGI TAHUN

PELAJARAN 2006/2007.

  • B. RUMUSAN MASALAH

Berdasarakan latar belakang di atas, rumusan masalah dalam

penelitian ini adalah sebagai berikut :

1. apakah kemampuan pemahaman konsep siswa kelas VII SMP dalam

pembelajaran matematika dengan pendekatan Realistic Mathematics

Education (RME) lebih baik dari pada dengan metode ekspositori ?

2. bagaimanakah kemampuan pemahaman konsep siswa kelas VII SMP

dalam pembelajaran matematika dengan pendekatan Realistic

Mathematics Education (RME) ?

  • C. TUJUAN PENELITIAN

Tujuan dari penelitian ini sebagai berikut :

  • 1. untuk mengetahui kemampuan pemahaman konsep siswa kelas VII SMP dalam pembelajaran matematika dengan pendekatan Realistic

6

Mathematics Education (RME) lebih baik dari pada dengan metode

ekspositori ;

2. untuk mengetahui indikator kemampuan pemahaman konsep yang

dipenuhi dan tidak dipenuhi oleh siswa kelas VII SMP dalam

pembelajaran matematika dengan pendekatan Realistic Mathematics

Education (RME).

  • D. MANFAAT PENELITIAN Manfaat yang ingin dicapai dalam penelitian ini sebagai berikut :

    • 1. Bagi Siswa

      • a) siswa merasa senang dengan adanya pembelajaran RME, sehingga dapat lebih memahami pembelajaran matematika ;

      • b) siswa merasakan bahwa pembelajaran lebih bermakna, karena adanya penemuan ide-ide oleh para siswa.

  • 2. Bagi Guru

    • a) secara bertahap guru dapat mengetahui dan mengaplikasikan strategi pembelajaran matematika yang bervariasi yang dapat memperbaiki sistem pembelajaran sehingga memberikan layanan yang terbaik bagi siswa ;

    • b) guru semakin mantap menerapkan pendekatan RME dalam pembelajaran matematika ;

    • c) dapat lebih menciptakan suasana lingkungan kelas yang saling menghargai nilai-nilai ilmiah dan termotivasi untuk lebih baik.

7

  • 3. Bagi Sekolah

    • a) dapat memberikan sumbangan yang baik dalam rangka perbaikan proses pembelajaran untuk dapat meningkatkan prestasi siswa ;

    • b) mendapat masukan tentang penelitian yang dapat memajukan sekolah.

  • 4. Bagi Peneliti

    • a) mendapatkan pengalaman langsung dalam penelitian tentang kemampuan pemahaman konsep siswa SMP dalam pembelajaran matematika dengan pendekatan Realistic Mathematics Education (RME) ;

    • b) dapat dijadikan bekal bagi mahasiswa calon guru matematika untuk siap melaksanakan tugas sesuai kebutuhan yang ada di lapangan.

    • E. PENEGASAN ISTILAH

    Untuk menghindari kasalahan persepsi dalam memahami hasil penelitian

    ini, maka perlu penjelasan tentang istilah dengan melakukan penegasan istilah :

    • 1. Pembelajaran

    Menurut Suyitno (2004 :1), Pembelajaran adalah upaya untuk menciptakan

    iklim dan pelayanan terhadap kemampuan, potensi, minat, bakat dan

    kebutuhan peserta didik yang beragam agar terjadi interaksi optimal antara

    guru dengan siswa serta antara siswa dengan siswa.

    • 2. Kemampuan Pemahaman Konsep Mampu berarti kuasa (bisa, sanggup) melakukan sesuatu, sedangkan kemampuan berarti kesanggupan; kecakapan ; kekuatan (KBBI, 1990 : 553).

    8

    Paham berarti mengerti benar (akan), tahu benar (akan) ; pemahaman berarti

    proses, perbuatan, cara memahami atau memahamkan, (KBBI, 1990 : 636).

    Konsep adalah ide abstrak yang memungkinkan kita dapat mengelompokkan

    objek ke dalam contoh dan non contoh, (Suherman, 2003 : 33).

    Kemampuan pemahaman konsep dalam penelitian ini adalah kesanggupan

    atau kecakapan siswa kelas VII SMP dalam menyelesaikan soal-soal tes

    yang memuat indikator kemampuan pemahaman konsep.

    • 3. Realistic Mathematics Education (RME)

    Menurut Suharta (2003 : 5), RME didefinisikan sebagai matematika sekolah

    yang dilaksanakan dengan menempatkan realita dan pengalaman siswa

    sebagai titik awal pembelajaran.

    Pendekatan RME adalah pembelajaran yang bertitik tolak dari hal-hal yang

    real bagi siswa, menekankan kemampuan ”procees of doing mathematics’ ,

    berdiskusi dan berkolaborasi, berargumentasi dengan teman sekelas

    sehingga mereka menemukan sendiri ( ‘student inventing’ sebagai kebalikan

    dari ‘teaching telling’) dan pada akhirnya menemukan matematika itu untuk

    menyelesaikan masalah baik secara indivindu maupun kelas. Pada

    pendekatan ini guru tidak lebih dari fasilitator, moderator atau evaluator

    sementara siswa berpikir, mengkomunikasikan ’reasoning’, melatih nuansa

    demokratis dengan menghargai pendapat orang lain, (Zulkadi, 2001 : 2).

    Dalam penelitian ini, yang dimaksud dengan RME adalah suatu

    pendekatan pembelajaran matematika yang diawali dengan masalah-masalah

    yang real/nyata bagi siswa, siswa berdiskusi, berkolaborasi dengan

    9

    kelompoknya untuk menentukan jawaban sendiri (informal), sedangkan guru

    sebagai fasilitator, moderator yang kemudian mengarahkan dari jawaban-

    jawaban siswa ke bentuk rormal.

    • 4. Persegi panjang dan Persegi Persegi panjang dan persegi merupakan sub pokok bahasan yang disampaikan di kelas VII SMP semester genap.

    • 5. SMP Negeri 2 Tanjung

    SMP Negeri 2 Tanjung merupakan salah satu sekolah menengah pertama di

    Kabupaten Brebes yang beralamat di Jl. Raya Luwung Bata Tanjung

    Kabupaten Brebes .

    • F. SISTEMATIKA PENULISAN SKRIPSI

    Sistematika penulisan skripsi ini terdiri dari tiga bagian, yaitu bagian

    awal, bagian isi dan bagian akhir.

    • 1. Bagian Awal

    Bagian awal berisi halaman judul, abstrak, halaman pengesahan, halaman

    motto, halaman persembahan dan kata pengantar.

    • 2. Bagian Isi

    BAB I : PENDAHULUAN

    Bab I berisi latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan

    penelitian, manfaat penelitian dan sistematika penulisan

    skripsi.

    10

    BAB II

    : LANDASAN TEORI DAN HIPOTESIS

    Bab II membahas teori yang melandasi rumusan masalah serta

    penjelasan yang merupakan landasan teoritis yang terapkan

    dalam skripsi, pokok bahasan yang terkait dengan pelaksanaan

    penelitian, kerangka berpikir dan hipotesis.

    BAB III : METODE PENELITIAN

    Bab III meliputi penentuan objek penelitian, varibel penelitian,

    prosedur pengumplan data, metode pengumpulan data,

    instrumen penelitian dan metode analisis data.

    BAB IV : HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

    Bab IV berisi hasil penelitian dan pembahasan dari hasil

    penelitian.

    BAB V

    : PENUTUP

    Bab V berisi tentang kesimpulan dan saran dalam penelitian.

    • 3. Bagian Akhir

    Bagian akhir berisi daftar pustaka dan lampiran-lampiran.

    11

    11
    11

    BAB II

    LANDASAN TEORI DAN HIPOTESIS

    • A. LANDASAN TEORI

      • 1. Teori Belajar Matematika

    Menurut J. Bruner (dalam Hidayat, 2004 : 8) belajar merupakan suatu

    proses aktif yang memungkinkan manusia untuk menemukan hal-hal baru

    diluar informasi yang diberikan kepada dirinya. Pengetahuan perlu dipelajari

    dalam tahap-tahap tertentu agar pengetahuan itu dapat diinternalisasi dalam

    pikiran (struktur kognitif) manusia yang mempelajarinya. Proses internalisasi

    akan terjadi secara sungguh-sungguh (yang berarti proses pembelajaran bisa

    terjadi secara optimal) jika pengetahuan itu dipelajari dalam tahap-tahap

    sebagai berikut :

    • a) Tahap Enaktif Suatu tahap pembelajaran di mana pengetahuan dipelajari secara aktif dengan menggunakan benda-benda konkret atau situasi yang nyata.

    • b) Tahap Ikonik Suatu tahap pembelajaran di mana pengetahuan direpresentasikan (diwujudkan) dalam bentuk bayangan visual (visual imagery), gambar atau diagram yang menggambarkan kegiatan konkret atau situasi konkret yang terdapat pada Tahap enaktif.

    11

    12

    c) Tahap Simbolik

    Suatu tahap pembelajaran di mana pengetahuan direpresentasikan dalam

    bentuk simbol-simbol abstrak, baik simbol-simbol verbal (misalkan huruf-

    huruf, kata-kata atau kalimat-kalimat), lambang-lambang matematika

    maupun lambang-lambang abstrak lainnya, (Hidayat, 2004: 9).

    Suatu proses belajar akan berlangsung secara optimal jika

    pembelajaran diawali dengan tahap enaktif, dan kemudian jika tahap

    belajar yang pertama ini dirasa cukup, siswa beralih ke tahap belajar yang

    kedua, yaitu tahap belajar dengan menggunakan modus representasi

    ikonik. Selanjutnya kegiatan belajar itu dilanjutkan pada tahap ketiga, yaitu

    tahap belajar dengan menggunakan modus representasi simbolik.

    • 2. Matematika Sekolah

      • a) Pengertian Matematika Sekolah

    Matematika sebagai ilmu dasar, dewasa ini telah

    berkembang dengan amat pesat, baik materi maupun kegunaannya,

    sehingga dalam perkembangannya atau pembelajarannya di sekolah kita

    harus memperhatikan perkembangan-perkembangannya, baik di masa lalu,

    masa sekarang maupun kemungkinan-kemungkinannya untuk masa depan.

    Matematika sekolah terdiri atas bagian-bagian matematika

    yang dipilih guna menumbuhkan kembangkan kemampuan-kemampuan

    dan membentuk pribadi serta berpandu pada perkembangan IPTEK. Hal ini

    menunjukan bahwa matematika sekolah tetap memiliki ciri-ciri yang

    13

    dimiliki matematika, yaitu memiliki objek kejadian yang abstrak serta

    berpola pikir deduktif konsisten.

    • b) Fungsi Matematika Sekolah

    Fungsi pelajaran matematika sebagai : alat, pola pikir, dan

    ilmu atau pengetahuan. Ketiga fungsi matematika tersebut hendaknya

    dijadikan acuan dalam pembelajaran matematika sekolah.

    Siswa diberi pengalaman menggunakan metematika

    sebagai alat untuk memahami atau menyampaikan suatu informasi

    misalnya melalui persamaa-persamaan, atau model-model matematika

    yang merupakan penyederhanaan dari soal-soal cerita atau soal-soal uraian

    matematika lainnya.

    Belajar matematika bagi para siswa juga, merupakan

    pembentukan pola pikir dalam pemahaman suatu pengertian maupun

    dalam penalaran suatu hubungan di antara pengertian-pengertian itu.

    Fungsi matematika yang ketiga adalah sebagai ilmu atau

    pengetahuan, dan tentunya pengajaran matematika di sekolah harus

    diwarnai oleh fungsi yang ketiga ini. Kita sebagai guru mampu

    menunjukan betapa matematika selalu mencari kebenaran, dan bersedia

    meralat kebenaran yang sementara diterima, bila ditemukan kesemapatan

    untuk mencoba mengembangkan penemuan-penemuan sepanjang

    mengikuti pola pikir yang sah.

    14

    • c) Tujuan Pembelajaran Matematika Sekolah

    Tujuan pembelajaran matematika di sekolah mengacu

    kepada fungsi matematika serta kepada tujuan pendidikan nasional yang

    telah dirumuskan dalam Garis-garis Besar Haluan Negara (GBHN).

    Diungkapakan dalam Garis-garis Besar Program Pengajaran (GBPP)

    matematika, bahwa tujuan umum matematika pada jenjang pendidikan

    dasar dan menengah meliputi dua hal yaitu :

    1) mempersiapkan siswa agar sanggup menghadapi perubahaan

    keadaan di dalam kehidupan dan di dunia yang selalu berkembang,

    melalui latihan bertindak atas dasar pemikiran secara logis,

    rasional, kritis, cermat, jujur, efektif dan efisien ;

    2) mempersiapkan siswa agar dapat menggunakan matematika dan

    pola pikir matematika dalam kehidupan sehari-hari, dan dalam

    mempelajari berbagai ilmu pengetahuan.

    • d) Peranan Matematika Sekolah

    Para pembelajar memerlukan matematika untuk memenuhi

    kebutuhan praktis dan memecahkan masalah dalam kehidupan sehari-hari,

    misalnya dapat berhitung, dapat mengumpulkan, mengolah dan

    menyajikan dan menafsirkan data, dapat menggunakan kalkulator dan

    komputer.Selain agar matematika mengikuti pelajaran matematika lebih

    lanjut, dan agar para siswa dapat berpikir logis, kritis dan praktis serta

    bersikap positif dan berjiwa kreatif.

    15

    Sebenarnya matematika dipelajari bukan untuk keperluan

    praktis saja, tetapi juga untuk pengembangan matematika itu sendiri. Kalau

    matematika tidak diajarkan di sekolah-sekolah bisa jadi matematika itu

    akan punah. Supaya matematika itu tdak punah kita perlu melestarikannya.

    Dari uraian di atas, jelas bahwa matematika sekolah

    mempunyai peranan sangat penting baik bagi siswa supaya punya bekal

    pengetahuan dan untuk pembentukan sikap serta pola pikirnya, warga

    negara pada umumnya supaya dapat hidup layak, untuk kehidupan

    negaranya, dan matematika itu sendiri dalam rangka melestarikan dan

    mengembangkannya.

    • e) Faktor-faktor yang mempengaruhi Matematika Sekolah

    Untuk menentukan matematika sekolah yang mana yang

    cocok untuk diajarkan kepada para siswa, tentunya akan dipengaruhi oleh

    berbagai faktor. Faktor-faktor tersebut tentunya berkaitan dengan tujuan

    diajarkannya matematika di sekolah dan peranan matematika sekolah,

    karena secara umum setiap tujuan, baik tujuan umum maupun tujuan

    khusus, penjabarannya tetap mengacu pada materi matematika itu sendiri.

    • f) Strategi Pembelajaran Matematika di SMP/SMA/SMK

    Menurut petunjuk pelaksanaan kegiatan belajar mengajar di

    sekolah, bahwa penerapan strategi yang dipilih dalam pembelajaran

    matematika haruslah bertumpu pada dua hal, yaitu optimalisasi interaksi

    semua unsur pembelajaran, serta optimalisasi keterlibatan seluruh indra

    siswa. Dengan demikian memberi petunjuk kepada kita sebagai calon guru

    16

    agar bahan ajar diolah sedemikian rupa hingga melibatkan semua indra

    siswa secara optimal.

    Penyampaian bahan ajar perlu beragam, bahkan mungkin

    tidak harus terus menerus dilaksanakan di dalam kelas, tetapi sekali-kali

    kita melaksankan pembelajaran matematika di luar kelas. Kreativitas guru

    amat penting untuk mengembangkan model-model pembelajaran yang

    secara khusus cocok dengan kelas yang dibinanya termasuk sarana dan

    prasarananya.

    Penekanan pembelajaran matematika tidak hanya pada

    melatih keterampilan dan hafal fakta, tetapi pada pemahaman konsep.

    Tidak hanya kepada “bagaimana” suatu soal harus diselesaikan, tetapi juga

    pada “mengapa” soal tersebut diselesaikan dengan cara tertentu. Dalam

    pelaksanaannya tentu saja disesuaikan degan tingkat berpikir siswa.

    • 3. KEMAMPUAN PEMAHAMAN KONSEP

    Kemampuan berarti kesanggupan; kecakapan ; kekuatan (KBBI,

    1990 : 553), pemahaman berarti proses, perbuatan, cara memahami atau

    memahamkan, (KBBI, 1990 : 636), sedangkan konsep adalah ide abstrak yang

    memungkinkan kita dapat mengelompokkan objek ke dalam contoh dan non

    contoh, (Suherman, 2003 : 33).

    Menurut Gagne (dalam suherman, 2003 : 33) dalam belajar

    matematika ada dua objek yang dapat diperoleh siswa, yaitu objek langsung

    dan objek tak langsung. Objek tak langsung yaitu kemampuan menyelidiki

    17

    dan memecahkan masalah, belajar mandiri, bersikap positif terhadap

    matematika, dan tahu bagaimana semestinya belajar. Sedangkan objek

    langsung berupa fakta, keterampilan, konsep dan aturan. Jadi, berdasarkan

    uraian di atas, konsep merupakan objek tak langsung dari matematika yang

    dapat diperoleh oleh siswa.

    Menurut Firdaus (2006 : 1), Salah satu mitos sesat seputar matematika

    menyatakan bahwa matematika selalu berhubungan dengan kecepatan

    menghitung. Memang berhitung adalah bagian tak terpisahkan dari

    matematika, terutama pada tingkat SD. Tetapi, kemampuan menghitung

    secara cepat bukanlah hal terpenting dalam matematika. Yang terpenting

    adalah pemahaman konsep. Melalui pemahaman konsep, kita akan mampu

    mengadakan analisis (panalaran) terhadap permasalahan (soal) untuk

    kemudian mentransformasikan ke dalam model dan bentuk persamaan

    matematika, baru kemampuan menghitung diperlukan. Itupun bukan sesuatu

    yang mutlak, sebab pada saat ini telah banyak beredar alat bantu menghitung

    seperti kalkulator dan komputer. Jadi mitos yang lebih tepat adalah bahwa

    matematika selalu berhubungan dengan pemahaman dan penalaran.

    Matematika adalah mata pelajaran yang diajarkan dari jenjang

    pendidikan dasar sampai pendidikan menengah. Selain mempunyai sifat yang

    abstrak, pemahaman konsep matematika yang baik sangatlah penting karena

    untuk memahami konsep yang baru diperlukan prasyarat pemahaman konsep

    sebelumnya.

    18

    Pada kurikulum 2004 Standar Kompetensi Pembelajaran Matematika

    SMP/MTS (dalam Tim PPPG Matematika, 2005 : 86) dinyatakan bahwa

    kemampuan yang perlu diperhatikan dalam penilaian pembelajaran

    matematika antara lain adalah pemahaman konsep dan prosedur (algoritma).

    Lebih jauh dinyatakan bahwa siswa dikatakan memahami konsep bila siswa

    mampu mendefinisikan konsep, mengidentifikasi dan memberi contoh atau

    bukan contoh dari konsep. Sedang siswa dikatakan memahami prosedur jika

    mampu mengenali prosedur atau proses menghitung yang benar dan tidak

    benar.

    Pada petunjuk teknis peraturan Dirjen Dikdasmen Depdiknas No

    506/C/PP/2004 tanggal 11 November 2004 (dalam Tim PPPG Matematika,

    2005 : 86) tentang penilaian perkembangan anak didik SMP dicantumkan

    indikator dari kemampuan pemahaman konsep sebagai hasil belajar

    matematika. indikator tersebut adalah :

    1)

    menyatakan ulang sebuah konsep ;

    2) mengklasifikasi objek menurut sifat-sifat tertentu sesuai dengan

    konsepnya ;

    3)

    memberi contoh dan non contoh dari konsep ;

    4)

    menyajikan konsep dalam berbagai bentuk representasi matematis ;

    5)

    mengembangkan syarat perlu atau syarat cukup dari suatu konsep ;

    6)

    menggunakan, memanfaatkan dan memilih prosedur tertentu ;

    7)

    mengaplikasikan konsep atau alogaritma ke pemecahan masalah.

    19

    Pemahaman konsep merupakan salah satu kecakapan matematika.

    Dalam pemahaman konsep, siswa mampu untuk menguasai konsep, operasi

    dan relasi matematis. Pembelajaran matematika realistik memberikan

    kesempatan kepada siswa untuk menemukan kembali dan merekonstruksi

    konsep-konsep matematika.

    • 4. Realistic Mathematics Education ( RME )

      • a) Karakteristik RME

    Menurut Treeffers (dalam Suharta, 2003 : 1-5), karakteristik

    RME adalah menggunakan konteks ‘dunia nyata’ ,model-model,

    produksi dan konstruksi siswa, interaktif dan keterkaitan

    (intertwinment).

    1) Menggunakan Konteks ‘Dunia Nyata’

    Gambar berikut menunjukan dua proses matematisasi yang

    berupa siklus di mana ‘dunia nyata’ tidak hanya sebagai sumber

    matematisasi, tetapi juga sebagai tempat untuk mengaplikasikan

    kembali matematika.

    19 Pemahaman konsep merupakan sala h satu kecakapan matematika. Dalam pemahaman konsep, siswa ma mpu untuk

    Dunia Nyata

    19 Pemahaman konsep merupakan sala h satu kecakapan matematika. Dalam pemahaman konsep, siswa ma mpu untuk

    Matematisasi dalam aplikasi

    refleksi

    19 Pemahaman konsep merupakan sala h satu kecakapan matematika. Dalam pemahaman konsep, siswa ma mpu untuk
    Matematisasi dan
    Matematisasi
    dan

    Aplikasi dan Formalisasi

    Gambar 2.1 Skema Konsep Matematisasi De Lange (dalam Suharta, 2003:4)

    20

    Dalam RME, pembelajaran diawali dengan masalah

    konstekstual (‘dunia nyata’), sehingga memungkinkan mereka

    menggunakan pengalaman sebelumnya secara langsung. Proses

    penyaringan (inti) dari konsep yang sesuai dari situasi nyata

    dinyatakan oleh De Lange (dalam Suharta, 2003 : 4), sebagai

    matematisasi konseptual.

    Melalui abstraksi dan formalisasi siswa akan mengembangkan

    konsep yang lebih komplit. Kemudian siswa dapat mengaplikasikan

    konsep-konsep matemika ke bidang baru dari dunia nyata (applied

    mathematization). Oleh karena itu, untuk menjembatani konsep-konsep

    matematika dengan pengalaman anak sehari-hari perlu diperhatikan

    matematisi pengalaman sehari-hari (mathematization of everyday

    experience) dan penerapan matematika dalam sehari-hari, dikutip dari

    Cinzia Bonotto (dalam Suharta, 2003 : 4).

    2)

    Menggunakan model-model (matematisasi)

    Istilah model berkaitan dengan model situasi dan model

    matematik yang dikembangkan oleh siswa sendiri (self developed

    models). Peran self developed models merupakan jembatan bagi siswa

    dari situasi real ke situasi abstrak atau dari matematika informal ke

    matematika formal. Artinya siswa membuat model sendiri dalam

    menyelesaikan masalah. Pertama adalah model situasi yang dekat

    dengan dunia nyata siswa. Generalisasi dan Formalisasi model tersebut

    akan berubah menjadi model-of masalah tersebut. Melalui penalaran

    21

    matematika model-of akan bergeser menjadi model-for masalah yang

    sejenis. Pada akhirnya, akan menjadi model matematik formal.

    3)

    Menggunakan produksi dan konstruksi

    Streefland (dalam Suharta, 2003 : 4), menekankan bahwa

    dengan pembuatan “produksi bebas” siswa terdorong untuk melakukan

    refleksi pada bagian yang mereka anggap penting dalam proses belajar.

    Strategi-strategi informal siswa yang berupa prosedur pemecahan

    masalah kontekstual merupakan sumber inspirasi dalam

    pengembangan pembelajaran lebih lanjut yaitu untuk mengkonstruksi

    pengetahuan matematika formal.

    4)

    Menggunakan Interaktif

    Interaksi antar siswa dengan guru merupakan hal yang

    mendasar dalam RME. Secara eksplisit bentuk-bentuk interaksi yang

    berupa negosiasi, penjelasan, pembenaran, setuju, tidak setuju,

    pertanyaan atau refleksi digunakan untuk mencapai bentuk formal dari

    bentuk-bentuk informal siswa.

    5)

    Menggunakan Keterkaitan (intertwinment)

    Dalam RME pengintegrasian unit-unit matematika adalah

    esensial jika dalam pembelajaran kita mengabaikan keterkaitan dengan

    bidang yang lain, maka akan berpengaruh pada pemecahan masalah.

    Dalam mengaplikasikan matematika, biasanya diperlukan pengetahuan

    yang lebih kompleks, dan tidak hanya aritmatika, aljabar atau geometri

    tetapi juga bidang lain.

    22

    • b) Prinsip utama dalam RME

    Menurut Asikin (2001 : 2), prinsip utama dalam RME adalah

    sebagai berikut :

    1) Guided Reinvention Dan Progressive Mathematization

    Melalui topik-topik yang disajikan siswa harus diberi

    kesempatan untuk mengalami sendiri yang sama sebagaimana konsep matematika ditemukan ;

    2) Didactial Phenomenology

    Topik-topik matematika disajikan atas dua pertimbangan

    yaitu aplikasinya serta konstribusinya untuk pengembangan konsep-konsep matematika selanjutnya ;

    3) Self Developed Models

    Peran Self developed models merupakan jembatan bagi siswa dari situasi real ke situasi konkrit atau dari matematika

    informal ke bentuk formal, artinya siswa membuat sendiri dalam menyelesaikan masalah.

    • c) Penguasaan Materi Ajar Realistic Mathematic Education (RME)

    Menurut Putman (dalam Asmin, 2002 : 6-7), tujuan pengajaran

    matematika adalah pencapaian transfer belajar. Salah satu aspek

    penting dalam pencapaian transfer belajar matematika itu agar siswa

    menguasai konsep-konsep matematika dan keterampilan RME

    sehingga dapat diaplikasikan dalam pemecahan masalah. Dari semua

    aspek yang telah dikemukakan di atas, tidaklah mengherankan jika

    dijumpai kenyataan bahwa penguasaan materi ajar RME dari peserta

    didik masih perlu dikemas dengan lebih menarik. Lebih dari itu, adanya

    kenyataan bahwa peserta didik tidak mampu menyelesaikan soal atau

    masalah yang sedikit saja keluar dari kurikulum atau dari buku paket.

    Menurut Suharta (dalam Asmin, 2002 : 7), dalam pengajaran

    matematika realistik, dibutuhkan upaya (1) penemuan kembali

    23

    terbimbing dan matematisasi progresif, artinya pembelajaran

    matematika realistik harus diberikan kesempatan seluas-luasnya kepada

    siswa untuk mengalami sendiri proses penemuan matematika ;(2)

    fenomena didaktik, artinya pembentukan situasi dalam pemecahan

    masalah matematika realistik harus menetapkan aspek aplikasi dan

    mempertimbangkan pengaruh proses dari matematisasi progresif; (3)

    mengmbangkan model-model sendiri, artinya pemecahan masalah

    matematika realistik harus mampu dijembatani melalui pengembangan

    model-model yang diciptakan sendiri oleh siswa dari yang konkrit

    menuju situasi abstrak, atau model yang diciptakan sendiri oleh siswa

    untuk memecahkan masalah, dapat menciptakan kreasi dalam

    keprbadian siswa melalui aktifitas di bawah bimbingan guru.

    d) Pertimbangan menggunakan pendekatan Realistic Mathematics

    Education (RME)

    Pembelajaran matematika menggunakan realistik sebagai

    satu alternatif dari sekian banyak pendekatan yang dilakukan.

    Meskipun tak ada cara yang terbaik dalam pembelajaran ataupun cara

    belajar, sebagaimana yang dikemukakan oleh Entwistle (dalam

    Suherman, 2003 : 150), “There can be no ‘right’ way to study or ‘best’

    way to tech…”.

    Menurut

    Mustaqimah

    (dalam

    Asmin,

    2002

    :10)

    keunggulan Realistic Mathematics Education adalah sebagai berikut :

    24

    1) karena siswa membangun sendiri pengetahuannya, maka siswa

    tidak mudah lupa denganpengetahuannya ;

    2)

    suasana dalam proses pembelajaran ;

    menyenangkan karena manggunakan realitas kehidupan ;

    3) siswa merasa dihargai dan semakin terbuka karena setiap jawaban

    siswa ada nilainya ;

    4)

    memupuk kerjasama dalam kelas ;

    5)

    melatih keberanian siswa karena harus menjelaskan jawabannya ;

    6)

    melatih siswa untuk terbiasa berpikir dan mengemukakan pendapat

    7) pendidikan berbudi pekerti, misalnya : saling kerjasama dan

    menghormati teman yang sedang berbicara.

    Dikaitkan dengan prinsip-prinsip pembelajaran dengan

    pendekatan matematika realistik, berikut ini merupakan rambu-rambu

    penerapannya, (Suherman, 2003 : 151) :

    1) bagaimana “guru” menyampaikan matematika kontekstual sebagai starting point pembelajaran ? 2) bagaimana “guru” menstimulasi, membimbing, dan memfasilitasi agar prosedur, algoritma, symbol, skema dan model, oleh siswa mengarahkan mereka untuk sampai kepada matematika formal? 3) bagaimana “guru” memberi atau mengarahkan kelas, maupun individu untuk menciptakan free production, menciptakan caranya sendiri dalam menyelesaikan soal atau menginterpretasikan problem kontekstual, sehingga tercipta berbagai macam pendekatan, atau model penyelesaian, atau algoritma ? 4) bagaimana “guru” membuat kelas bekerja secara interaktif sehingga interaksi diantara mereka antara siswa dengan siswa dalam kelas kecil, dan antara anggota-anggota kelas dalam presentasi umum, serta antara siswa dan guru?

    25

    5) bagaimana “guru” membuat jalinan antara topik dengan topik lain, dan antara satu simbol dengan simbol lain di dalam rangkaian topik matematika ?

    Sebuah laporan penelitian terhadap implementasi pembelajaran

    matematika berdasarkan realistik mengatakan bahwa :

    1) sekurang-kurangnya telah mengubah sikap siswa menjadi lebih

    tertarik terhadap matematika ;

    2) pada umumnya siswa menyenangi matematika dengan pendekatan

    pembelajaran yang diberikan dengan alasan cara belajarnya berbeda

    (dari biasanya), pertanyaan-pertanyaannya menantang, adanya

    pertanyaan-pertanyaan tambahan sehingga menambah wawasan,

    lebih mudah mempelajarinya karena persoalannya menyangkut

    kehidupan sehari-hari, di kutip dari Turmudi (dalam Suherman,

    2003).

    Beberapa rekomendasi hasil studi tersebut antara lain

    mengingat bahwa tidak ada cara belajar dan mengajar yang terbaik,

    dikutip dari Nisbet (dalam Suherman, 2003 : 452), maka pendekatan

    realistik perlu dipertimbangkan untuk dijadikan sebagai alternatif dalam

    pembelajaran matematika .

    • e) Implementasi Pembelajaran Matematika Realistik

    Dalam pembelajaran, sebelum siswa masuk pada sistem

    formal, terlebih dahulu siswa dibawa ke ‘situasi informal’ , Misalnya

    pembelajaran pecahan dapat diawali dengan pembagian menjadi bagian

    yang sama (misalnya pembagian kue) sehingga tidak terjadi loncatan

    26

    pengetahuan informal anak dengan konsep-konsep matematika

    (pengetahuan matematika formal). Setelah siswa memahami pembagian

    menjadi bagian yang sama, baru dikenalkan istilah pecahan. Ini sangat

    berbeda dengan pembelajaran konvensional (bukan RME) di mana

    siswa sejak awal sudah dicekcoki dengan istilah pecahan dan beberapa

    jenis pecahan.

    Jadi, Pembelajaran matematika realistik diawali dengan

    fenomena, kemudian siswa dengan bantuan guru diberikan kesempatan

    menemukan kembali dan mengkonstruksi konsep sendiri. Setelah itu,

    diaplikasikan dalam masalah sehari-hari atau dalam bidang lain (lihat

    gambar 2.2) .

    Masalah Kontekstual

     

    Matematisasi Konseptual

     

    Strategi Informal

     
     

    Interaksi dan Refleksi

    Formalisasi

     
    Konsep
    Konsep

    Penguasaan Konsep

    26 pengetahuan informal anak dengan konsep-konsep matematika (pengetahuan matematika formal). Setelah siswa memahami pembagian menjadi bagian

    Pengaplikasian Konsep

    Gambar 2.2 Skema Penemuan dan Pengkonstruksian Konsep Menurut Van Reeuwijk (dalam Suharta, 2003 : 7)

    27

    RME di sekolah dapat dideskripsikan sebagai berikut :

    1) guru menyiapkan 1 atau 2 soal realistik (ada kaitannya dengan kehidupan sehari-hari) yang akan dikerjakan siswa secara informal atau coba-coba (karena langkah penyelesaian formal unutk menyelesaikan soal tersebut belum diberikan) ; 2) guru mengumpulkan hasil pekerjaan siswa ; 3) guru mengoreksi hasil pekerjaan siswa dengan berprinsip pada penghargaan terhadap keseragaman jawaban siswa dan konstribusi siswa ; 4) guru dapat menyuruh beberapa siswa untuk menjelaskan temuannya di dalam kelas; 5) dengan tanya jawab, guru baru menunjukan langkah formal yang diperlukan untuk menyelesaikan soal tersebut. Bisa didahului dengan penjelasan tentang materi pendukungnya, (Suyitno, 2004 : 37).

    Implementasi pembelajaran matematika dengan pendekatan RME

    dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :

    Pendahuluan

    1) guru menggunakan pengantar berupa masalah-masalah

    kontekstual yang dilakukan dalam kehidupan sehari-hari sebagai

    apersepsi ;

    2) guru memberikan manfaat pembelajaran sebagai motivasi ;

    3) guru membagi siswa menjadi beberapa kelompok, 1 kelompok

    terdiri dari 6 -7 siswa.

    Kegiatan Inti

    1)

    siswa diberi permasalahan atau soal kontekstual ;

    2) masing-masing kelompok diskusi duduk di tempatnya

    masing-masing ;

    28

    3) tiap kelompok diberi lembar kerja diskusi tentang materi

    yang dipelajari untuk dikerjakan secara coba-coba atau

    informal dan didiskusikan dengan kelompoknya ;

    4) siswa menggunakan alat peraga yang telah disiapkan untuk

    menemukan sendiri (strategi-strategi informal) penyelesaian

    dari masalah ;

    5) setelah selesai diskusi kelompok, guru meminta salah satu

    kelompok mempresentasikan hasil strategi-strategi informal

    mereka yang selanjutnya digunakan untuk mengkontruksi

    pengetahuan formal ;

    6)

    siswa yang lain untuk memperhatikan yang selanjutnya diberi

    kesempatan untuk bertanya, menyanggah hasil pekerjaan

    kelompok yang sedang mempresentasikan pekerjaannya ;

    7)

    guru sebagai moderator, fasilitator dalam pelaksanaan diskusi

    kelas agar diskusi dapat berjalan lancar dan tetap menjaga

    kesopanan, menghormati dan menghargai pendapat orang

    lain ;

    8) dengan tanya jawab, guru baru menunjukan langkah formal

    yang diperlukan untuk menyelesaikan soal tersebut ;

    9) guru membimbing siswa mengkaitkan materi yang sedang

    dipelajari dengan bidang lain ;

    10) siswa diberi latihan soal untuk dikerjakan secara individu.

    29

    Penutup

    1)

    guru membimbing siswa membuat rangkuman ;

    2)

    pemberian tugas rumah untuk siswa.

    • 5. Metode Ekspositori

    Metode Ekspsitori adalah kegiatan belajar yang bersifat

    menerima, guru berperan lebih aktif dan siswa berperan lebih pasif tanpa

    banyak melakukan kegiatan pengolahan bahan, karena hanya menerima

    bahan ajaran yang disampaikan oleh guru, (R. Ibrahim, 1991 : 43). Dalam

    metode ekspositori bahan ajar sudah disusun oleh guru secara hierarkis

    dan sistematis. Sehingga dalam proses belajar mengajar yang terjadi

    adalah guru menerangkan siswa menerima, akan tetapi didominasi guru

    dalam menerangkan materi pelajaran. Menurut Suherman (1993 : 243),

    metode ekspositori sama seperti metode ceramah dalam hal terpusatnya

    kegiatan kepada guru sebagai pemberi informasi (bahan pelajaran).

    Dalam metode ekspositori, siswa tidak hanya mendengar dan

    membuat catatan. Guru bersama siswa berlatih menyelesaikan soal

    latihan dan siswa bertanya kalau belum mengerti. Guru dapat

    menjelaskan pekerjaan siswa secara individual atau klasikal. Siswa

    mengerjakan latihan soal sendiri, mungkin juga saling bertanya dan

    mengerjakan bersama dengan temannya atau disuruh mengerjakannya di

    papan tulis, Suherman (2003).

    30

    Kelebihan dari metode ekspositori sebagai breikut :

    a) dapat menempati kelas besar, setiap siswa mempunyai kesempatan aktif yang sama ; b) bahan pelajaran diberikan secara urut oleh guru ; c) guru dapat menentukan hal yang dianggap penting ; d) guru dapat memberikan penjelasan-penjelasan individu atau klasikal. Kekurangan dari metode ekspositori sebagai berikut :

    • a) pada metode ini tidak menekankan penonjolan aktifitas fisik seperti aktifitas mental siswa ;

    • b) kegiatan terpusat pada guru sebagai pemberi informasi (bahan pelajaran) ;

    • c) pengetahuan yang didapat dengan metode ekspositori cepat hilang ;

    • d) kepadatan konsep dan aturan-aturan yang diberikan dapat berakibat siswa tidak menguasai bahan pelajaran yang diberikan, (Suharyono : 1996).

    • 6. Pokok Bahasan Yang Berkaitan Dengan Penelitian

    a. Persegi Panjang

    1) pengertian persegi panjang

    Persegi panjang adalah bangun segi empat yang memiliki dua

    pasang sisi sejajar dan empat sudut siku-siku, (Ekosiswoyo S. J.,

    2004 : 265).

    2) Unsur –unsur persegi panjang

    Perhatikan gambar 2.3 di bawah ini,

    B C D A
    B
    C
    D
    A

    Gambar 2.3

    Gambar 2.3 menunjukan sebuah persegi panjang ABCD dengan

    unsur-unsur sebagai berikut.

    31

    Unsur – unsur persegi panjang

    Nama Unsur

    Sisi

    AB, BC, CD, AD

    Sudut siku-siku

    A, B, C, D

    Diagonal

    AC dan BD

    Panjang

    AB dan CD

    Lebar

    AD dan BC

    3) menempatkan persegi panjang ke dalam bingkainya

    Untuk membedakan cara pemasangan yang satu dengan

    yang lain, titik-titik sudut persegi panjang dan bingkainya ditandai

    dengan huruf, misalnya A’B’C’D’ untuk bingkai dan ABCD untuk

    persegi panjang

    D A’ A’ D’ B’ C’ A’ D’ D A D’ A C C’ B’ B
    D
    A’
    A’
    D’
    B’
    C’
    A’
    D’
    D
    A
    D’
    A
    C
    C’
    B’
    B
    Letak 4
    Letak 2
    Letak 3
    Letak 1
    B
    m
    B’
    D’
    C’
    O
    B
    D
    D
    B
    n
    A
    A
    A’
    B’
    C’
    C
    C
    C

    Gambar 2.4

    Berdasarkan gambar 2.4, ternyata ada empat cara persegi panjang

    ABCD dapat menempati bingkai A’B’C’D’ dengan tepat, yaitu :

    (1). Letak 1, persegi panjang ABCD menempati bingkainya pada posisi

    normal. Dengan posisi ABCD.

    (2). Letak 2, persegi panjang ABCD dibalik menurut garis m (vertikal).

    Dengan posisi BADC.

    (3). Letak 3, persegi panjang ABCD dibalik menurut garis n ( horizontal).

    32

    Dengan posisi DCBA.

    (4).

    Letak 4, persegi panjang ABCD diputar setengah putaran.

    Dengan posisi CDAB.

    Persegi panjang dapat menempati bingkainya dengan 4 cara

    4) sifat-sifat persegi panjang

    a.

    b.

    p p l
    p
    p
    l

    Sisi-sisi yang berhadapan sama

    • l panjang dan sejajar Setiap sudutnya siku-siku

    c.

    a. b. p p l Sisi-sisi yang berhadapan sama l panjang dan sejajar Setiap sudutnya siku-siku

    Mempunyai dua buah diagonal yang sama panjang dan saling berpotongan di titik pusat persegi.

    Titiktersebut membagi diagonal

    d.

    a. b. p p l Sisi-sisi yang berhadapan sama l panjang dan sejajar Setiap sudutnya siku-siku

    Mempunyai 2 sumbu simetri yaitu

    sumbu vertikal dan sumbu horizontal.

    Gambar 2.5

    33

    2.

    Persegi

    • a. pengertian persegi

    Persegi adalah persegi panjang yang keempat sisinya sama panjang

    (Sukino, 2004 : 324).

    • b. Unsur – unsur persegi

    Perhatikan gambar 2.6

    C B D A
    C
    B
    D
    A

    Gambar 2.6

    Gambar 2.6 menunjukkan sebuah persegi ABCD dengan unsur-

    unsur sebagai berikut.

    Unsur – unsur persegi

    Nama Unsur

    Sisi

    AB, BC, CD, AD

    Sudut siku-siku

    A, B, C, D

    Diagonal

    AC dan BD

    • c. persegi dapat menempati dalam bingkainya melalui peragaan

    • D D’

    A’ B’ C’
    A’
    B’
    C’

    A

    C

    Letak 1

    Gambar 2.7

    • D C’

    A’ D’ B’
    A’
    D’
    B’

    A

    C

    B

    D D’ A’ B’ C’ A C Letak 1 Gambar 2.7 D C’ A’ D’ B’
    • (i) Letak 2

    34

    D’ C’ A’ D’ A’ B’ B’ C’ D A C B C B D A
    D’
    C’
    A’
    D’
    A’
    B’
    B’
    C’
    D
    A
    C
    B
    C
    B
    D
    A
    Letak 4
    Letak 3

    Gambar

    2.7

    Berdasarkan Gambar 2.7 (i) dan (ii) :

    • a. Letak (1) persegi ABCD pada posisi normal, yaitu ABCD

    • b. Letak (2), diperoleh dengan membalik letak (1) secara horisontal, dengan posisi BADC.

    • c. Letak (3), diperoleh dengan membalik letak (1) secara vertikal, dengan posisi DCBA.

    • d. Letak (4) diperoleh dengan membalik letak (1) dengan poros diagonal BD, dengan posisi CBAD.

    D C D C B’ C’ C’ B’ A’ D’ B A D’ A’ A B
    D
    C
    D
    C
    B’
    C’
    C’
    B’
    A’
    D’ B
    A
    D’
    A’
    A
    B
    Letak 5
    Letak 6
    D
    C
    D
    C
    B’
    A’
    A’
    D’
    C’
    D’
    B’
    C’
    A
    A
    B
    B
    Letak 8
    Gambar 2.8
    Letak 7

    35

    Berdasarkan Gambar 2.8 :

    • e. Letak (5) diperoleh dengan membalik letak (1) dengan poros diagonal AC, dengan posisi ADCB.

    • f. Letak (6), diperoleh dari letak (1) dengan cara memutar 90 0 , dengan posisi DABC.

    • g. Letak (7) diperoleh dari letak (1) dengan cara memutar 180 0 , dengan posisi CDAB.

    • h. Letak (8) diperoleh dari letak (1) dengan cara memutar 270 0 .

    dengan posisi BCDA.

    Sebuah persegi dapat menempati bingkainya dengan 8 cara

    • d. Sifat-sifat persegi

    a.

    a. Semua sisinya sama panjang dan sisi yang berhadapan sejajar. b. Setiap sudutnya siku-siku c. Gambar

    Semua sisinya sama panjang dan

    sisi yang berhadapan sejajar.

    b.

    a. Semua sisinya sama panjang dan sisi yang berhadapan sejajar. b. Setiap sudutnya siku-siku c. Gambar

    Setiap sudutnya siku-siku

    c.

    a. Semua sisinya sama panjang dan sisi yang berhadapan sejajar. b. Setiap sudutnya siku-siku c. Gambar

    Gambar 2.9 (i)

    Mempunyai dua buah diagonal yang sama panjang, berpotongan di tengah-tangah. Dan membentuk sudut siku-siku.

    36

    45 0 45 0
    45 0
    45
    0

    Setiap sudutnya dibagi dua sama

    besar oleh diagonal-diagonalnya.

    45 0 45 0 Setiap sudutnya dibagi dua sama besar oleh diagonal-diagonalnya. Memiliki 4 sumbu simetri.

    Memiliki 4 sumbu simetri.

    Gambar 2.9

    (ii)

    • 3. keliling dan luas

    a. Keliling persegi panjang D D C O Lebar A B Panjang
    a. Keliling persegi panjang
    D
    D
    C
    O
    Lebar
    A
    B
    Panjang
    Gambar 2.10
    Gambar 2.10

    Pada gambar 2.10, Jika AB = DC = Panjang (p) dan AD = BC = Lebar

    (l), jadi keliling persegi panjang disimbolkan dengan K, maka :

    Keliling = AB + BC + CD + DA

    = p + l + p + l

    = 2p + 2l

    K = 2p + 2l
    K
    = 2p + 2l

    37

    • b. Luas daerah persegi panjang Berdasarkan gambar 2.10,

    Luas daerah persegi panjang pada Gambar 2.6 :

    Luas

    = AB X BC

    Apabila AB = CD = panjang (p) dan AD = DC = lebar (l) maka luas

    daerah persegi panjang adalah :

    • c. Keliling persegi

    L = p x l atau L = pl

    O Sisi D A
    O
    Sisi
    D
    A

    B

    Gambar 2.11

    C

    Sisi

    Keliling

    persegi

    yaitu

    jumlah seluruh sisi-sisinya.

    Misalnya AB = Sisi ( s )

    Jika keliling persegi disimbolkan dengan K, maka :

    Keliling = AB + BC + CD + DA

    Keliling = s

    + s + s + s

    = 4s

    Jadi K = 4s

     
    • d. Luas daerah persegi Berdasarkan gambar 2.10, Luas = AB x CD Misal AB = BC = CD = DA = s

    Maka L = s x s atau L = s 2

    38

    • 7. Kerangka Berpikir

    Pembelajaran matematika oleh sekolah di Indonesia sejauh ini masih

    didominasi oleh pembelajaran konvensional dengan paradigma

    pembelajarannya. Siswa diposisikan sebagai objek , siswa dianggap tidak tahu

    atau belum tahu apa-apa, sementara guru memosisikan diri sebagai yang

    mempunyai pengetahuan. Penekanan yang berlebihan pada isi dan materi

    diajarkan secara terpisah-pisah. Materi pembelajaran matematika diberikan

    dalam bentuk jadi. Dan, semua itu terbukti tidak berhasil membuat siswa

    memahami dengan baik apa yang mereka pelajari. Penguasaan dan

    pemahaman siswa terhadap konsep-konsep matematika lemah karena tidak

    mendalam. Akibatnya, prestasi belajar matematika rendah.

    Hampir setiap tahun matematika dianggap sebagai batu sandungan

    bagi kelulusan sebagian besar siswa. Selain itu, pengetahuan yang diterima

    siswa secara pasif menjadikan matematika tidak bermakna bagi siswa.

    Menurut Marpaung (dalam Sriyanto, 2007:1), paradigma mengajar

    seperti di atas tidak dapat lagi dipertahankan dalam pembelajaran matematika

    di sekolah. Sudah saatnya paradigma mengajar diganti dengan paradigma

    belajar. Paradigma belajar ini sejalan dengan teori konsruktivisme.

    Dalam paradigma belajar, siswa diposisikan sebagai subyek. Pengetahuan

    bukan sesuatu yang sudah jadi, tapi suatu proses yang harus digeluti,

    dipikirkan dan di konstruksi siswa, tidak dapat ditransfer kepada mereka yang

    hanya menerima secara pasif.

    39

    Dengan demikian, siswa sendirilah yang harus aktif. Paradigma

    belajar juga sejalan dengan teori Realistic Mathematics Education (RME)

    yang dikembangkan Freudenthal bahwa pengetahuan matematika dikreasi,

    bukan ditemukan sebagai sesuatu yang sudah jadi.

    Kerangka berpikir dalam penelitian ini dapat digambarkan dengan

    skema sebagai berikut:

    Paradigma Pembelajaran

    39 Dengan demikian, siswa sendirila h yang harus aktif. Paradigma belajar juga sejalan dengan teori Realistic

    Paradima Mengajar

    Pembelajaran Konvensional

    Pembelajaran Konvensional

    Pembelajaran Konvensional

    Materi pembelajaran

    matematika diberikan dalam

    bentuk jadi

    Kemampuan pemahaman

    konsep siswa rendah

    Paradigma Belajar

    RME
    RME

    Materi pembelajaran

    matematika merupakan

    suatu proses yang harus

    digeluti, dipikirkan dan

    dikontruksi siswa

    39 Dengan demikian, siswa sendirila h yang harus aktif. Paradigma belajar juga sejalan dengan teori Realistic

    Kemampuan pemahaman

    konsep siswa tinggi

    Gambar 2.12 Skema Kerangka Berpikir

    40

    B.

    HIPOTESIS

    Hipotesis dalam penelitian ini sebagai berikut :

    Rata-rata skor tes kemampuan pemahaman konsep siswa dalam pembelajaran

    matematika dengan pendekatan RME lebih tinggi daripada Rata-rata skor tes

    kemampuan pemahaman konsep siswa dalam pembelajaran matematika

    dengan metode ekspositori.

    41
    41

    BAB III

    METODE PENELITIAN

    • A. METODE PENENTUAN OBJEK PENELITIAN 1. Populasi

    Menurut Sugiyono (2003:59), populasi adalah wilayah generalisasi

    yang terdiri atas subjek atau objek yang mempunyai kualitas dan karakteristik

    tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik

    kesimpulan. Sedangkan menurut Arikunto (2002 : 108), Populasi adalah

    keseluruhan subjek penelitian.

    Berdasarkan pendapat tersebut, maka dapat diartikan bahwa

    populasi adalah segala sesuatu yang akan dijadikan subjek penelitian dengan

    memiliki karakteristik yang sama. Populasi yang digunakan dalam penelitian

    ini adalah siswa kelas VII SMP Negeri 2 Tanjung dengan rincian sebagai

    berikut :

    Tabel 3.1

    Populasi Penelitian

    No

    Kelas

    Jumlah Siswa

     

    A

    • 1 45

    VII

     
    • 2 46

    VII

    B

    C

    • 3 45

    VII

    • 4 45

    VII

    D

    • 5 45

    VII

    E

     

    Jumlah

    221

    42

    2. Sampel

    Menurut Arikunto (2002 : 109), Sampel adalah sebagian atau

    mewakili populasi yang diteliti.

    Pengambilan sampel dalam penelitian ini dilakukan dengan teknik

    41

    cluster sampling. Hal ini dilakukan karena tidak memilih individu-individu,

    melainkan cluster-cluster. Dengan begitu maka kesimpulan dari penyelidikan

    cluster sampling tidak berlaku untuk individu-individu, melainkan untuk

    claster-claster sebagai keseluruhannya, (Sutrisno Hadi, 1982 : 229).

    Dalam penelitian ini, diambil dua kelas sebagai sampel, yaitu kelas

    VII C sebagai kelas eksperimen dan VII A sebagai kelas kontrol. Kelas

    eksperimen yang akan diterapkan pembelajaran dengan pendekatan Realistic

    Mathematic Education (RME), sedangkan kelas kontrol dengan pembelajaran

    metode ekspositori. Sedangkan untuk uji coba soal dilaksanakan di kelas

    VIIB.

    B. VARIABEL PENELITIAN

    Menurut S. Arikunto (2002 : 99), Variabel adalah objek penelitian

    atau apa yang menjadi titik perhatian suatu penelitian. Jadi variabel adalah

    segala sesuatu yang akan menjadi objek pengamatan penelitian. Sering pula

    diartikan bahwa variabel sebagai faktor-faktor yang berperan dalam peristiwa

    yang akan diteliti.

    Variabel dalam penelitian ini adalah kemampuan pemahaman konsep

    siswa SMP Negeri 2 Tanjung Kabupaten Brebes.

    43

    Indikator kemampuan pemahaman konsep adalah sebagai berikut :

    1)

    kemampuan menyatakan ulang sebuah konsep ;

    2) kemampuan mengklasifikai objek menurut sifat-sifat tertentu sesuai

    dengan konsepnya ;

    3)

    kemampuan memberi contoh dan non contoh dari konsep ;

    4) kemampuan menyajikan konsep dalam berbagai bentuk representasi

    matematis ;

    5)

    kemampuan mengembangkan syarat perlu atau syarat cukup dari suatu

    konsep ;

    6) kemampuan menggunakan, memanfaatkan dan memilih prosedur

    tertentu ;

    7) kemampuan mengaplikasikan konsep atau alogaritma ke pemecahan

    masalah.

    C. PROSEDUR PENGUMPULAN DATA

    Mengumpulkan data merupakan kegiatan penting dalam suatu

    penelitian. Dengan adanya data-data itulah peneliti menganalisisnya untuk

    kemudian dibahas dan disimpulkan dengan panduan serta referensi-

    referensi yang berhubungan dengan penelitian tersebut. Sedangkan yang

    dimaksud dengan data adalah hasil pencatatan peneliti, baik berupa fakta

    maupun angka, Arikunto (2002 : 96).

    Prosedur pengumpulan data dalam penelitian ini adalah sebagai

    berikut :

    44

    1)

    mengambil data nilai akhir semester 1 kels VII A, VII B dan VII C

    (semester gasal 2006/ 2007) ;

    2) menganalisis data 1) dengan melakukan uji normalitas, uji homogenitas

    varians dan uji persamaan rata-rata ;

    3) berdasarkan hasil pada 2) ditentukan sampel penelitian yaitu kelas

    eksperimen dan kelas kontrol. Kemudian menentukan kelas uji coba di

    luar sampel penelitian tetapi berada dalam populasi penelitian,

    4)

    menyusun kisi-kisi tes uji coba ;

    5)

    menyusun instrumen tes uji coba berdasarkan kisi-kisi yang ada ;

    6) mengujicobakan instrumen tes uji coba pada kelas uji coba. Yang mana

    instrumen tersebut akan digunakan sebagai tes akhir ;

    7) menganalisis data hasil uji coba instrument tes uji coba pada kelas uji

    coba untuk mengetahui validitas, reliabilitas, taraf kesukaran dan daya

    pembeda ;

    8)

    menentukan soal-soal yang memenuhi syarat berdasarkan pada 7) ;

    9)

    menyusun rencana pembelajaran RME ;

    10) mengambil rencana pembelajaran ekspositori yang dibuat oleh guru

    kelas ;

    11) peneliti menerapkan RPP RME di kelas eksperimen ;

    12) guru kelas mengamati pelaksanaan pembelajaran pendekatan RME di

    kelas eksperimen ;

    45

    13) peneliti mengamati pelaksanaan model pembelajaran ekspositori di kelas

    kontrol dengan metode pembelajaran sesuai yang ditetapkan guru

    bersangkutan ;

    14) melaksanakan tes akhir berupa tes kemampuan pemahaman konsep pada

    kelas eksperimen dan kelas kontrol ;

    15) menganalisis data hasil tes ;

    16) menyusun hasil penelitian.

    Skema prosedur penelitian :

    Data Nilai Akhir Semester 1 Kelas Uji Coba Kelas Eksperimen Kelas Kontrol Uji Instrumen Tes Pendekatan
    Data Nilai Akhir
    Semester 1
    Kelas Uji Coba
    Kelas Eksperimen
    Kelas Kontrol
    Uji Instrumen Tes
    Pendekatan
    Metode
    Pembelajaran RME
    Ekspositori
    Analisi Uji Coba
    Tes Akhir

    Analisis Hasil Tes Akhir

    Gambar 3.1 Skema Prosedur Penelitian

    46

    D. METODE PENGUMPULAN DATA

    Dalam penelitian ini menggunakan 3 metode pengumpulan data, yaitu :

    1) Metode Dokumentasi

    Metode dokumentasi dalam penelitian ini digunakan untuk mencatat data

    tentang nama-nama siswa yang akan menjadi populasi penelitian dan

    daftar nama-nama siswa yang akan menjadi responden dalam uji coba

    instrumen. Selain itu, metode ini digunakan untuk mendapat data nilai

    akhir semester 1 dari siswa yang digunakan untuk manguji kesamaan

    kualitas kelas eksperimen dan kelas kontrol pada keadaan awal atau

    sebelum perlakuan.

    2) Metode Tes

    Metode tes digunakan untuk memperoleh data skor kemampuan

    pemahaman konsep, baik dengan menggunakan pembelajaran pendekatan

    RME maupun dengan metode ekspositori. Tes diberikan kepada kedua

    kelas sampel dengan tes yang sama. Hasil pengolahan data ini gunakan

    untuk menguji kebenaran hipotesis penelitian.

    3) Metode Observasi

    Metode observasi digunakan untuk memperoleh informasi tentang proses

    pengelolaan pembelajaran dengan pendekatan Realistic Mathematic

    Education (RME) yang berlangsung di kelas eksperimen.

    • E. INSTRUMEN PENELITIAN Hal-hal yang diperlukan dalam instrumen penelitian :

    47

    Penyusunan instrumen tes dilakukan dengan langkah sebagai berikut :

    • a) Menentukan materi : Persegi panjang dan persegi,

    • b) Menentukan alokasi waktu pertemuan : 6 x 40 menit,

    • c) Menentukan bentuk tes, bentuk tes yang digunakan dalam penelitian

    ini adalah tes uraian.

    Pemakaian bentuk tes uraian dalam pembuatan soal mempunyai

    kelebihan sebagai berikut :

    1) mudah disiapkan dan disusun ;

    2) tidak memberi banyak kesempatan untuk berspekulasi atau

    untung-untungan ;

    3) mendorong siswa untuk berani mengemukakan pendapat serta

    menyusunnya dalam bentuk kalimat yang bagus ;

    4) memberi kesempatan kepada siswa untuk mengutarakan

    maksudnya dengan gaya bahasa dan caranya sendiri ;

    5) dapat diketahui sejauh mana siswa mendalami sesuatu

    masalah yang diteskan, Arikunto (2002:163).

    • 2. Pelaksanaan Tes Uji Coba Setelah instrumen tes tersusun, kemudian diujicobakan pada kelas uji coba yaitu kelas VII B SMP Negeri 2 Tanjung untuk diuji apakah butir-butir soal tersebut memenuhi kualifikasi soal yang baik digunakan.

    • 3. Analisis Perangkat Tes Uji Coba

      • a) Validitas

    Menurut Arikunto (2005 : 160), validitas adalah suatu ukuran

    yang menunjukan tingkat-tingkat kevalidan atau kesahihan instrumen.

    Suatu instrumen dikatakan valid apabila instrumen tersebut mampu

    mengukur apa yang hendak diukur dan seharusnya diukur. Tinggi

    48

    rendahnya instrumen menunjukan sejauh mana data yang terkumpul

    tidak menyimpang dari gambaran variabel yang dimaksud.

    Rumus yang digunakan untuk mengetahui validitas tes secara

    empiris adalah rumus korelasi product moment.

    48 rendahnya instrumen menunjukan seja uh mana data yang terkumpul tidak menyimpang dari gambaran variabel yang
    N ∑ ∑ ∑ XY − X Y = r xy 2 2 2 2 {
    N
    ∑ ∑ ∑
    XY
    X
    Y
    =
    r xy
    2
    2
    2
    2
    {
    N
    X
    (
    X
    ) }{
    N
    ∑∑
    Y
    (
    Y
    ) }
    keterangan:

    (Arikunto, 2005 : 72)

    r xy

    = koefisien korelasi

    N

    = Jumlah Subjek

    X

    = Skor yang dicari validitasnya

    Y

    = Skor total

    XY

    = Perkalian antara soal dengan skor total

    X

    • 2 = jumlah kuadrat skor item

    Y

    • 2 = jumlah kuadrat skor total.

    Kemudian hasil r xy dikonsultasikan dengan harga r Product

    Moment dengan taraf signifikan 5%. Jika r xy > r tabel dengan α = 5%

    maka alat ukur dikatakan valid atau dengan kata lain jika harga r lebih

    kecil dari harga kritik dalam tabel maka korelasi tersebut tidak

    signifikan.

    • b) Tingkat Kesukaran Soal

    Soal yang baik adalah soal yang tidak terlalu mudah dan tidak

    terlalu sukar. Teknik perhitungan kesukaran soal adalah dengan

    49

    menghitung berapa persen siswa yang gagal menjawab benar atau ada

    di bawah batas lulus (passing grade) untuk tiap-tiap item.

    Rumus yang digunakan adalah sebagai berikut :

    P =

    Jumlah testee yang dianggap gagal

    x 100%

    Jumlah seluruh tes

    (Arifin, 1991 : 135)

    Dengan, P = Tingkat kesukaran.

    Untuk menginterpretasikan taraf kesukaran dapat digunakan kriteria

    sebagai berikut :

    Jika P 27 % termasuk soal mudah.

    Jika 28 % P 72 % termasuk soal sedang.

    Jika p 73 % termasuk soal sukar.

    • c) Daya Pembeda Soal

    Teknik yang digunakan untuk menghitung daya pembeda bagi

    tes bentuk uaraian adalah dengan menghitung perbedaan dua buah rata-

    rata yaitu antara rata-rata kelas atas dengan rata-rata kelas bawah untuk

    tiap-tiap item. Kelas atas adalah 27 % bagian atas dari peserta tes

    setelah nilai tes diurutkan dari terbesar ke terkecil. Sedangkan kelas

    bawah adalah 27 % bagian bawah. Rumus yang digunakan adalah

    sebagai berikut :

    Keterangan :

    t =

    1) − + Σ x 2 ( n i ML − 2 2 MH Σ x
    1)
    + Σ
    x
    2
    (
    n
    i
    ML
    2 2
    MH
    Σ
    x
    n
    1
    i

    t

    = Daya Pembeda

    (Arifin, 1991 : 141-142)

    50

    MH

    = Rata-rata dari kelas atas

    • ML = Rata-rata dari kelas bawah

    Σx

    2

    • 1 = Jumlah kuadrat deviasi individual dari kelas atas

    Σ

    2

    • 2 = Jumlah kuadrat deviasi individual dari kelas bawah.

    n i

    = 27 % x N (kelas atas dan kelas bawah sama besar).

    N

    = Jumlah peserta tes.

    Selanjutnya t hitung dibandingkan dengan t tabel dengan dk = (n 1 -

    1) + (n 2 – 1) dan α

    = 5 %. Dengan kriteria t hitung

    > t tabel maka daya

    pembeda soal itu signifikan. Sedangkan jika kriteria t hitung < t tabel

    maka daya pembeda soal itu tidak signifikan.

    d) Reliabilitas

    Untuk mengetahui reliabilitas tes dengan soal uraian

    menggunakan rumus Alpha sebagai berikut :

    r

    11

    = ⎜

    ⎛ ⎞ ⎜ ⎟ 1 − ⎜ ⎠ ⎝
    ⎟ 1 −

    Σ

    σ

    2

    i

    n

    n 1

    σ

    t

    2

    (Arikunto, 2005 : 109-111)

    dengan Rumus varians total

    (Σ X ) 2 Σ X − 2 n σ = n
    X
    )
    2
    Σ
    X
    2
    n
    σ =
    n
    2 Y ) 2 Σ Y − 2 n = t n
    2
    Y )
    2
    Σ
    Y
    2
    n
    =
    t
    n
    • 2 ( Σ

    dan

    • i σ

    Keterangan :

    r 11

    = Reliabilitas tes

    Σσ

    i

    • 2 = Jumlah Varians skor tiap-tiap item

    σ

    t

    • 2 = Varians Skor Total

    51

    σ

    i

    • 2 = Varians Skor item

    n

    = Banyaknya item tes

    ΣX

    • 2 = Jumlah skor item kuadrat
      2

    (ΣX ) = Kuadrat dari jumlah skor item

    ΣY

    • 2 = Jumlah skor total kuadrat

    (

    ΣY

    ) 2

    = Kuadrat dari jumlah skor total.

    Tolok ukur untuk mengintrepretasikan tingkat reliabilitas :

    0.00 < r ≤ 0, 200 reliabilitas sangat rendah 11 0.200 < r ≤ 0, 400
    0.00
    < r ≤
    0, 200
    reliabilitas sangat rendah
    11
    0.200
    < r ≤
    0, 400
    reliabilitas rendah
    11
    0.400
    < r ≤
    0,600
    reliabilitas cukup
    11
    0.600
    < r ≤
    0,800
    reliabilitas tinggi
    11
    0.800
    < r ≤
    1,00
    reliabilitas sangat tinggi
    11

    Nilai r 11 dibandingkan dengan r tabel Product Moment.

    Jika r 11 > r tabel maka tes reliabel.

    4. Hasil Analisis Perangkat Tes Uji Coba

    a) Validitas

    Dalam soal uji coba terdapat 14 soal uraian. Dengan n = 46 dan

    taraf nyata α = 5% diperoleh r tabel = 0,297 dari daftar kritik r Product

    Moment. Soal dikatakan valid jika r xy > r tabel.

    Dari perhitungan diperoleh hasil sebagai berikut :

    52

    • a. Karena r xy soal nomor 1 = 0,600 maka soal nomor 1 dikatakan

    valid.

    • b. Karena r xy soal nomor 2 = 0,775 maka soal nomor 2 dikatakan

    valid.

    • c. Karena r xy soal nomor 3 = 0,493 maka soal nomor 3 dikatakan

    valid.

    2) Kriteria soal tidak valid ada 2 soal.

    • a. Karena r xy soal nomor 9 = 0,114 maka soal nomor 9 dikatakan tidak valid.

    • b. Karena r xy soal nomor 14 = -0,048 maka soal nomor 9 dikatakan tidak valid.

    Contoh perhitungan validitas soal dapat dilihat pada lampiran 35

    halaman 172.

    b) Tingkat Kesukaran

    Dari hasil penghitungan diperoleh hasil sebagai berikut :

    1) Kriteria soal mudah ada 6 soal, diantaranya :

    • a. Pada soal nomor 1, Karena persentase jumlah peserta tes yang gagal 17 % maka soal nomor 1 termasuk soal mudah .

    • b. Pada soal nomor 2, Karena persentase jumlah peserta tes yang gagal 11 % maka soal nomor 2 termasuk soal mudah .

    2) Kriteria soal sedang ada 6 soal, diantaranya :

    a. Pada soal nomor 6, Karena persentase jumlah peserta tes yang

    gagal 30 % maka soal nomor 1 termasuk soal sedang .

    53

    b. Pada soal nomor 13, Karena persentase jumlah peserta tes yang

    gagal 33 % maka soal nomor 13 termasuk soal sedang .

    3) Kriteria soal sukar ada 2 soal, yaitu :

    a. Pada soal nomor 8, Karena persentase jumlah peserta tes yang gagal

    76% maka soal nomor 8 termasuk soal sukar .

    b. Pada soal nomor 10, Karena persentase jumlah peserta tes yang

    gagal 74 % maka soal nomor 10 termasuk soal sukar .

    Contoh perhitungan tingkat kesukaran soal dapat dilihat pada

    lampiran.37 halaman 175.

    c) Daya Pembeda

    Dengan dk = 22 dan taraf nyata α = 5% dari daftar distribusi t

    diperoleh t tabel = 2,074. Daya pembeda soal signifikan jika t hitung > t tabel . Dari

    hasil penghitungan diperoleh hasil sebagai berikut :

    • a) Kriteria soal yang signifikan ada 11 soal, diantaranya :

    1) Karena t hitung soal nomor 1 = 5,33 maka daya pembeda soal nomor 1

    signifikan.

    2) Karena t hitung soal nomor 2 = 2,17 maka daya pembeda soal nomor 2

    signifikan.

    • b) Kriteria soal yang tidak signifikan ada 2 soal, diantaranya :

    1) Karena t hitung soal nomor 9 = -3,28 maka daya pembeda soal nomor

    9 tidak signifikan.

    2)

    Karena t hitung soal nomor 14 = -2,86 maka daya pembeda soal nomor

    14 tidak signifikan.

    54

    Contoh perhitungan daya pembeda soal dapat dilihat pada

    lampiran 36 halaman 174.

    d) Reliabilitas

    Dengan n = 46 dan taraf nyata α = 5% diperoleh r tabel = 0,297

    dari daftar kritik r Product Moment. Soal dikatakan valid jika r xy > r tabel.

    Dari hasil perhitungan diperoleh r 11 = 0,816. Karena r xy > r tabel maka tes

    dikatakan reliabel. Contoh perhitungan reliabilitas soal dapat dilihat pada

    lampiran 38 halaman 176.

    Berdasarkan hasil perhitungan analisis instrumen tes tersebut,

    terdapat 12 soal yang dipakai dan 2 soal yang dibuang.

    5. Penyusunan Perangkat Tes Akhir

    Setelah dilakukan analisis soal uji coba, selanjutnya dilakukan

    penyeleksian soal. Pada penyeleksian tahap awal, soal yang dibuang adalah

    soal yang tidak valid, tidak reliabel atau soal yang mempunyai daya

    pembeda yang tidak signifikan. Soal yang dibuang adalah soal nomor 9

    dan 14.

    Setelah itu dilakukan penyeleksian soal tahap akhir. Soal-soal yang

    diteskan harus memenuhi indikator kemampuan pemahaman konsep dan

    indikator pembelajaran sesuai dengan KTSP seperti yang tercantum dalam

    kisi-kisi tes akhir (lampiran 36 halaman 163).

    Soal yang digunakan dalam tes akhir adalah soal uraian nomor 1,

    2, 3, 4, 5, 6,7, 8, 10, 11, 12 dan 13.

    55

    F. METODE ANALISIS DATA

    1. Analisis Tahap Awal

    Sebelum sampel diberi perlakuan, maka perlu dianalisis dahulu

    melalui uji normalitas, uji homogenitas dan uji kesamaan dua rata-rata. Hal

    ini dilakukan untuk mengetahui apakah kedua kelompok sampel berasal

    dari kondisi awal yang sama.

    Data yang digunakan dalam analisis tahap awal berasal dari nilai

    ujian akhir semester 1.

    • a) Uji Normalitas Uji normalitas dilakukan untuk mengetahui apakah data kedua kelompok sampel berdistribusi normal atau tidak. Jika sampel berdistribusi normal maka populasi juga berdistribusi normal, sehingga kesimpulan berdasarkan teori berlaku. Langkah-langkah uji normalitas adalah sebagai berikut :

      • 1. menyusun data dan mencari skor tertinggi dan skor terendah ;

      • 2. membuat interval kelas dan menentukan batas kelas ;

      • 3. menghitung rata-rata dan simpangan baku ;

      • 4. membuat tabulasi data ke dalam interval kelas ;

      • 5. menghitung nilai z dari setiap batas kelas dengan rumus

    − x − x i z = i s
    x
    x
    i
    z
    =
    i
    s

    (Sudjana, 2002 : 138)

    • 6. mengubah harga z menjadi luas daerah kurva normal dengan menggunakan tabel ;

    56

    • 7. menghitung frekuensi harapan berdasarkan kurva. Adapun rumus yang digunakan adalah uji Chi kuadrat, yaitu :

    k ( O − E ) 2 = ∑ i i X E i = 1
    k
    (
    O
    E
    )
    2
    =
    i
    i
    X
    E
    i
    = 1
    i
    • 2 (Sudjana, 2002 : 273)

    Keterangan :

    X

    • 2 : harga Chi-Kuadrat

    Oi

    : frekuaensi hasil pengamatan

    Ei

    : frekuensi yang diharapkan

    Derajat kebebasan untuk rumus ini adalah k – 3. Jika X

    2

    data

    <

    X

    2 dari tabel maka sampel berasal dari populasi yang

    (1

    )(

    α k

    3 )

    sama ..

    • 8. membandingkan harga Chi kuadrat dengan tabel Chi kuadrat dengan taraf signifikan 5 % ;

    • 9. menarik kesimpulan jika X 2 Hitung < X 2 tabel maka data berdistribusi normal.

    Setelah dilakukan perhitungan, untuk kelas eksperimen

     

    diperoleh

    x

    = 66,00

    . Dengan α = 5% dan dk = 6-3 = 3 dari daftar distribusi

    chi kuadrat didapat x 2 tab = 7,81. Aturan untuk menguji adalah H 0 diterima

    jika

     

    x

    2

    hit