Anda di halaman 1dari 36
MAKALAH ILMIAH KALSIFIKASI INTRAKARANIAL PADA GANGLIA BASALIS (Laporan Kasus)
MAKALAH ILMIAH
KALSIFIKASI INTRAKARANIAL
PADA GANGLIA BASALIS
(Laporan Kasus)
Diajukan oleh dr. Ahmad Daenuri Pada Pertemuan Ilmiah Tahunan IKABI Hotel Shanggrila Jakarta Juni 2011
Diajukan oleh
dr. Ahmad Daenuri
Pada Pertemuan Ilmiah Tahunan IKABI
Hotel Shanggrila Jakarta Juni 2011
Pendahuluan Kalsifikasi intrakranial seringkali ditemukan oleh seorang ahli neuroradiology pada pasien-pasien yang dilakukan CT scan kepala
Pendahuluan
Kalsifikasi intrakranial seringkali
ditemukan oleh seorang ahli
neuroradiology pada pasien-pasien
yang dilakukan CT scan kepala
dengan keluhan awal berupa
gangguan neurologis
Etiologi Hal-hal yang mendasari terjadinya
Etiologi
Hal-hal yang mendasari terjadinya

kalsifikasi intrakaranial bisa berupa kalsifikasi fisiologis, posttraumatik

and distrofik, kelainan kongenital, kelainan vaskular, infeksi, proses radang, tumor dan kelainan metabolik
and distrofik, kelainan kongenital,
kelainan vaskular, infeksi, proses
radang, tumor dan kelainan
metabolik
1. Kalsifikasi fisiologis Kalsifikasi fisiologis sangat terkait dengan proses penuaan, hal ini bisa terjadi pada ganglia
1. Kalsifikasi fisiologis
Kalsifikasi fisiologis sangat terkait
dengan proses penuaan, hal ini bisa
terjadi pada ganglia basalis, kelenjar
pineal, falx, tentorium, granulasi
arakhnoid, pleksus koroid, dan
serebelum. Kalsifikasi fisiologis hampir

tidak memberikan gambaran gangguan

klinis.
klinis.
2. Kalsifikasi distrofik Kalsifikasi distrofik terjadi akibat dari sekuel trauma yang kronik, pembedahan, dan terapi radiasi.
2. Kalsifikasi distrofik
Kalsifikasi distrofik terjadi akibat
dari sekuel trauma yang kronik,
pembedahan, dan terapi radiasi.
Kalsifikasi distrofik parenkim
biasanya dihubungkan dengan
encefalomalacia dan gliosis.
3. Kelainan congenital / phakomatoses Phakomatoses adalah kelompok kelainan herediter yang berasal dari struktur ektoderm. Kalsifikasi
3. Kelainan congenital /
phakomatoses
Phakomatoses adalah kelompok
kelainan herediter yang berasal
dari struktur ektoderm. Kalsifikasi

ini tampak pada tuberous sclerosis,

Sturge-Weber syndrome, neurofibromatosis dan basal-cell nevus syndrome
Sturge-Weber syndrome,
neurofibromatosis dan basal-cell
nevus syndrome
4. Kalsifikasi vascular Kalsifikasi pada dinding arteri intracranial cukup sering terjadi dan berhubungan dengan atherosklerosis, vascular
4. Kalsifikasi vascular
Kalsifikasi pada dinding arteri intracranial cukup
sering terjadi dan berhubungan dengan
atherosklerosis, vascular malformations, dan
aneurysma. Atherosklerosis berhubungan dengan
kalsifikasi mural arteri utama intracranial. Siphon
karotis adalah yang paling sering mengalami
kalsifikasi mural, sedangkan arteri cerebral
anterior dan media jarang mengalami kalsifikasi
5. Infeksi kongenital Kalsifikasi intrakranial adalah umum pada pasien dengan infeksi kongenital, tetapi gambaran kalsifikasi tidak
5. Infeksi kongenital
Kalsifikasi intrakranial adalah umum pada
pasien dengan infeksi kongenital, tetapi
gambaran kalsifikasi tidak spesifik karena
kalsifikasi dystrophic mirip dengan kalsifikasi
oleh cedera otak kronis. Kalsifikasi ganglia
basalis dan kortikal yang terjadi berasal dari
sindrom TORCH (toksoplasmosis, other,
rubella, cytomegalovirus, herpes simplex
virus).
6. Infeksi Cysticercosis, tuberculosis, HIV dan kriptokokus, adalah infeksi intracranial yang sering terjadi menyebabkan kalsifikasi.
6. Infeksi
Cysticercosis, tuberculosis, HIV
dan kriptokokus, adalah infeksi
intracranial yang sering terjadi
menyebabkan kalsifikasi.
7. Inflamasi Sarkoidosis yang mengenai leptomening menghasilkan granuloma pada pituitary dan chiasma optikum. Kalsifikasi granuloma berlokasi
7. Inflamasi
Sarkoidosis yang mengenai leptomening
menghasilkan granuloma pada pituitary dan
chiasma optikum. Kalsifikasi granuloma
berlokasi pada pituitary, pons,
hipothalamus, dan periventrikel white
matter. Sistemik lupus eritematosus dapat
menyebabkan kalsifikasi intrakranial pada
ganglia basalis, thalamus, serebelum dan
centrum semiovale.
8. Tumor Tumor yang menyebabkan kalsifikasi intrakranial diantaranya adalah oligodendroglioma, astrositoma derajat rendah, kraniofaringioma, tumor kelenjar
8. Tumor
Tumor yang menyebabkan kalsifikasi
intrakranial diantaranya adalah
oligodendroglioma, astrositoma derajat
rendah, kraniofaringioma, tumor kelenjar
pineal, dan ependymoma. Kalsifikasi
menjadi tanda yang patognomonik untuk
tumor oligodendroglioma dan
craniofaringioma.
9. Endokrin / Metabolik / Idiopatik
9. Endokrin / Metabolik / Idiopatik
Gangguan metabolik pada homeostasis kalsium dapat menyebabkan kalsifikasi intrakranial dengan lokasi yang dominan berada di ganglia
Gangguan metabolik pada homeostasis
kalsium dapat menyebabkan kalsifikasi
intrakranial dengan lokasi yang dominan
berada di ganglia basalis
Pada pasien-pasien dengan
hipoparatiroidisme menyebabkan kalsifikasi
pada ganglia basalis, talamus, dan
serebelum
Hipokalsemia Hipokalsemia diperkirakan terjadi pada 1-2% paska tiroidektomi dan sekitar 15-50% kasus perawatan intensif yang meliputi
Hipokalsemia
Hipokalsemia diperkirakan terjadi pada 1-2%
paska tiroidektomi dan sekitar 15-50% kasus
perawatan intensif yang meliputi semua kelompok
umur dan jenis kelamin. Keseimbangan kalsium
dipertahankan oleh interaksi antara hormon
paratiroid (PTH), vitamin D dan kalsitonin melalui
mekanisme complex feedback loops yang bekerja
di tulang, ginjal dan usus, dimana PTH
bertanggung jawab sebagai pengendali utama.
Patofisiologi Secara umum, keseimbangan kalsium dipertahankan oleh interaksi antara hormon paratiroid (PTH), vitamin D dan kalsitonin
Patofisiologi
Secara umum, keseimbangan kalsium
dipertahankan oleh interaksi antara hormon
paratiroid (PTH), vitamin D dan kalsitonin
melalui mekanisme complex feedback loops
yang bekerja di tulang, ginjal dan usus.
Komposisi kalsium di dalam tubuh adalah
sebagai berikut: kira-kira 99% ditemukan di
jaringan tulang, dan 1% di cairan ekstraseluler.
Dari bagian 1% ini, 50% terdapat dalam bentuk
bebas/free/aktif/ionized (1-1,15 mmol/L), 40%
terikat oleh protein (pada umumnya albumin)
dan 10% sisanya terdapat dalam bentuk
kompleks dengan anion tertentu
Hipokalsemia dapat terjadi paska tindakan pembedahan, diantaranya adalah paska tindakan paratirodektomi, tiroidektomi, hungry bone syndrome Dalam
Hipokalsemia dapat terjadi paska tindakan
pembedahan, diantaranya adalah paska
tindakan paratirodektomi, tiroidektomi,
hungry bone syndrome
Dalam sebuah studi di Prancis, frekuensi
hiporatiroidism temporer dan permanen
setelah tiroidektomi adalah 20% dan 4%.
Dalam sebuah studi lain, frekuensi
hipoparatiroidism temporer asimtomatik
adalah 25% dan 29% paska tiroidektomi
subtotal dan total
Hipokalsemia dapat menyebabkan kalsifikasi basal ganglia, cerebellum atau cerebrum yang bersifat ireversibel, grand mal, petit mal,
Hipokalsemia dapat menyebabkan kalsifikasi basal
ganglia, cerebellum atau cerebrum yang bersifat
ireversibel, grand mal, petit mal, kejang lokal
atau bahkan peningkatan tekanan intra-kranial.
Kelainan lain yang dapat terjadi adalah
gangguan gerak seperti parkinsonism,
hemibalismus dan koreoatetosis, serta
iritabilitas, confusion, halusinasi, dementia. Pada
beberapa kasus kronis, hipokalsemia dapat
timbul gejala psikosis, psikoneurosis dan
penurunan tingkat intelegensia (subnormal)
sedangkan pada usia lanjut dapat
bermanifestasi sebagai disorientasi atau
confusion. Penurunan intelegensia tersebut
dapat diperbaiki dengan restorasi konsentrasi
kalsium
Penatalaksanaan hipokalsemia Akut :klinis kejang, penurunan kesadaran, spasme otot, kegawatan sistim pernapasan dan kardiovaskular, penatalaksanaan hipokalsemia
Penatalaksanaan hipokalsemia
Akut :klinis kejang, penurunan kesadaran, spasme
otot, kegawatan sistim pernapasan dan
kardiovaskular, penatalaksanaan hipokalsemia
harus dilakukan secara agresif dengan kalsium
glukonas intravena. Kalsium glukonas intravena
diberikan sebagai berikut, 1 sampai 2 ampul (90-
180 elemental calcium) dilarutkan dalam 50-100
mL larutan dextrose-5%, yang kemudian diberikan
dalam 10 menit. Sediaan ini dapat diulang sampai
gejala klinis membaik.
LAPORAN KASUS  IDENTITAS : Nama : Siti Basyiyah khumaidi Umur : 63 th CM :
LAPORAN KASUS
IDENTITAS :
Nama : Siti Basyiyah khumaidi
Umur : 63 th
CM : 0078951
ANAMNESIS
Keluhan Utama:
Kejang berulang (dikonsulkan dari teman
sejawat dokter spesialis saraf)
 Riwayat Penyakit Sekarang : Seorang wanita di konsulkan dari dokter spesialis saraf dengan keluhan kejang
Riwayat Penyakit Sekarang :
Seorang wanita di konsulkan dari dokter
spesialis saraf dengan keluhan kejang
berulang sudah 20 tahun, hipokalsemia, dan
dari hasil CT Scan kepala tanpa kontras di
dapatkan adanya kalsifikasi pada ganglia
basalis, posterior dan paraventrikel lateralis,
serta pada serebelum.
 Riwayat Penyakit Dahulu Pasien selalu rutin melakukan pemeriksaan rawat jalan sejak tahun 1991 hingga sekarang.
Riwayat Penyakit Dahulu
Pasien selalu rutin melakukan pemeriksaan rawat
jalan sejak tahun 1991 hingga sekarang. Saat ini
pasien mendapat pengobatan berupa preparat
kalsium 500 mg sehari 2 kali, fenitoin tablet 60 mg
sehari 2 kali, fenobarbital 30 mg sehari sekali.
Setiap dilakukan pemeriksaan laboratorium
kalsium dengan hasil selalu dibawah normal (8,10-
10,40 mg/dl).
Pasien mempunyai riwayat pernah dilakukan
operasi tiroidektomi tahun 1978.
 PEMERIKSAAN FISIK Keadaan umum baik, kesadaran compos mentis. T: 110/60 mmHg, Nadi : 78 x/mnt
PEMERIKSAAN FISIK
Keadaan umum baik, kesadaran compos mentis.
T: 110/60 mmHg, Nadi : 78 x/mnt
RR : 16x/mnt
t:36,6
Kepala : Konjungtiva anemis (-/-), sklera ikterik (-/-)
Leher : JVP tidak meningkat, llnn (-/-), kaku kuduk (-/-),
kelenjar tiroid tak teraba dengan bekas luka operasi.
Thorak :
I : simetris, ketinggalan gerak (-), retraksi (-)
P: vokal fremitus kanan=kiri
P: sonor kanan
=kiri
Abdomen :
A: vesikuler kanan=kiri
I: flat
A: peristaltik (+) normal
P: timpani
P: supel, tidak ada nyeri tekan, tidak teraba
massa.
Ekstremitas : akral hangat, oedem -/-, tampak tremor.
 PEMERIKSAAN PENUNJANG CT Scan kepala : (20 November 2010) tampak kalsifikasi di basal ganglia, di
PEMERIKSAAN PENUNJANG
CT Scan kepala : (20 November 2010)
tampak kalsifikasi di basal ganglia, di
paraventrikel lateralis, di posterior ventrikel
lateralis, dan juga di serebeli
tak tampak perdarahan intrakranial
tak tampak atropi serebri
Kesan : gambaran yang mengarah ke
Fahr disease
 DIAGNOSIS KERJA Kalsifikasi intrakranial di ganglia basalis karena hipokalsemia kronis PLAN Dari bedah saraf tidak
DIAGNOSIS KERJA
Kalsifikasi intrakranial di ganglia basalis
karena hipokalsemia kronis
PLAN
Dari bedah saraf tidak ada indikasi untuk
dilakukan operasi
Terapi obat-obatan sesuai TS bagian saraf
CT Scan kepala tgl 20/11/2010
CT Scan kepala tgl 20/11/2010
CT Scan kepala tgl 20/11/2010
CT Scan kepala tgl 20/11/2010
CT Scan kepala tgl 21/06/1991
CT Scan kepala tgl 21/06/1991
CT Scan kepala tgl 21/06/1991
CT Scan kepala tgl 21/06/1991
DISKUSI  Pada kasus di ini dapat diterangkan bahwa seorang wanita umur 63 tahun yang di
DISKUSI
Pada kasus di ini dapat diterangkan bahwa
seorang wanita umur 63 tahun yang di rujuk
dokter spesialis saraf dengan keluhan
kejang berulang sudah 20 tahun,
hipokalsemia, dan dari hasil CT Scan kepala
tanpa kontras di dapatkan adanya
kalsifikasi pada ganglia basalis, posterior
dan paraventrikel lateralis, serta pada
serebelum
 Bila dibandingkan hasil CT Scan setelah 20 tahun pasien mengalami hipokalsemia dan rutin mengkonsumsi obat
Bila dibandingkan hasil CT Scan setelah 20
tahun pasien mengalami hipokalsemia dan
rutin mengkonsumsi obat antikejang,
tampak kalsifikasi intrakranial di ganglia
basalis semakin luas. Dari kepustakaan
menyebutkan bahwa hipokalsemia dapat
menyebabkan kalsifikasi basal ganglia,
cerebellum atau cerebrum yang bersifat
ireversibel.
Kelainan lain yang dapat terjadi adalah gangguan gerak seperti parkinsonism, hemibalismus dan koreoatetosis, serta iritabilitas, confusion,
Kelainan lain yang dapat terjadi adalah
gangguan gerak seperti parkinsonism,
hemibalismus dan koreoatetosis, serta
iritabilitas, confusion, halusinasi, dementia.
Pada beberapa kasus kronis,
hipokalsemia dapat timbul gejala psikosis,
psikoneurosis dan penurunan tingkat
intelegensia (subnormal) sedangkan pada
usia lanjut dapat bermanifestasi sebagai
disorientasi atau confusion. Penurunan
intelegensia tersebut dapat diperbaiki
dengan restorasi konsentrasi kalsium.
Dari bedah saraf untuk masalah kalsifikasi intrakranial di ganglia basalis pada pasien tersebut tidak ada indikasi
Dari bedah saraf untuk masalah kalsifikasi
intrakranial di ganglia basalis pada pasien
tersebut tidak ada indikasi untuk dilakukan
tindakan operatif.
Lebih diutamakan adalah pengobatan
untuk koreksi hipokalsemia.
Pada pasien diatas tidak ada data
laboratorium untuk hormon paratiroid,
padahal pasien mempunyai riwayat
operasi tiroidektomi, sangat dimungkinkan
pasien mengalami hipoparatiroidism.
KESIMPULAN  Kalsifikasi intrakaranial bisa berupa kalsifikasi fisiologis, posttraumatik and distrofik, kelainan kongenital, kelainan vaskular, infeksi,
KESIMPULAN
Kalsifikasi intrakaranial bisa berupa kalsifikasi
fisiologis, posttraumatik and distrofik, kelainan
kongenital, kelainan vaskular, infeksi, proses
radang, tumor dan kelainan metabolik.
Hipokalsemia dapat menyebabkan kalsifikasi
basal ganglia, cerebellum atau cerebrum yang
bersifat ireversibel.
Hipokalsemia dapat terjadi paska tindakan
pembedahan tiroidektomi melalui mekanisme
terganggunya hormon paratiroid
 Dari bedah saraf untuk masalah kalsifikasi intrakranial di ganglia basalis pada pasien tersebut di atas
Dari bedah saraf untuk masalah kalsifikasi
intrakranial di ganglia basalis pada pasien
tersebut di atas tidak ada indikasi untuk
dilakukan tindakan operatif