Anda di halaman 1dari 15

Etika Dokter Muslim

OPINI | 16 January 2011 | 06:03 menilai Bermanfaat Dibaca: 1774 Komentar: 6 3 dari 3 Kompasianer

Sebagaimana telah menjadi karakter umum sarjana Muslim di bidang-bidang ilmu pengetahuan lainnya, ahli-ahli medis Muslim adalah penerima waris yang baik dan sekaligus pemberi waris yang produktif. Mereka dengan penuh antusias dan apresiasi mempelajari khasanah ilmu pengetahuan dari berbagai tradisi dan peradaban pra-Islam. Kemudian, secara kreatif mereka pun mengembangkan ilmu pengetahuan dengan berbagai cabang yang baru dalam sebuah cara pandang, paradigma atau pandangan dunia yang sesuai dengan nilai-nilai Tauhid dan Islam. Pada jaman yang kian berkembang ini telah banyak terjadi berbagai macam kasus yang memperburuk nama banyak dokter. Beberapa di antaranya mungkin dikarenakan oleh sikap dan perilaku seorang dokter dalam menghadapi dan melayani pasiennya. Oleh karena itu, dalam bertugas dan bekerja, seorang dokter memerlukan suatu etika untuk menjalankan profesinya. Agar dapat tercapai suatu keserasian, kecocokan dan komunikasi yang baik antara dokter dengan pasien dan lingkungannya. Dalam hal ini kita membahas tentang etika dokter muslim. Etika berasal dari bahasa Yunani ethos yang berarti adat, budi pekerti (bahasa Inggris = ethics). Di sini etika dapat dipahami sebagai ilmu mengenai kesusilaan. Dalam

filsafat pengertian etika adalah telah dan penilaian kelakuan manusia ditinjau dari kesusilaannya. Kesusilaan yang baik merupakan ukuran kesusilaan yang disusun bagi diri seseorang atau merupakan kumpulan keharusan, kumpulan kewajiban yang dibutuhkan oleh masyarakat atau golongan masyarakat tertentu bagi anggota-anggotanya. Dalam hal ini, diperlukan etika bagi para dokter Muslim. Kadang kesusilaan didasarkan pada agama, sehingga bilamana yang berkuasa itu agama, maka agama menjadi guru etika. Dalam melaksanakan etika terkandung unsur-unsur pengorbanan bagi sesama manusia dan unsur dedikasi atau pengabdian terhadap sesama manusia. Sebagai suatu pendidikan profesi, pendidikan kedokteran diharapkan dapat menghasilkan dokter yang menguasai teori-praktik kedokteran beserta perilaku dan etika yang mulia. Saat upacara wisuda, semua calon dokter harus mengucapkan sumpah dokter disaksikan oleh dekan, Direktur Rumah Sakit, Kepala Kantor Wilayah Departemen Kesehatan, para dosen dan anggota keluarga. Dalam mengikrarkan sumpah yang didampingi oleh para pemuka agama, calon dokter berjanji akan mengamalkan Kode Etik Kedokteran. Dengan adanya hal tersebut diharapkan kelak para calon dokter akan menjadi dokter yang beretika mulia, bertanggungjawab dan taat pada hukum yang berlaku. Etika bagi para dokter Muslim Dalam etika kedokteran Islam, tercantum nilai-nilai Alquran dan Hadits yang merupakan sumber segala macam etika yang dibutuhkan untuk mencapai hidup bahagia dunia akhirat. Etika kedokteran mengatur kehidupan, tingkah laku seorang dokter dalam mengabdikan dirinya terhadap manusia baik yang sakit maupun yang sehat. Etika kedokteran islam terkumpul dalam Kode Etik Kedokteran Islam yang bernama Thibbun Nabawi, yang mengatur hubungan dokter dengan orang sakit dan dokter dengan rekannya. Berikut ini dibahas mengenai etika seorang Dokter muslim terhadap sang Pencipta, terhadap pasien, dan terhadap sejawatnya: 1. Etika Dokter Muslim terhadap sang Pencipta Seorang dokter muslim haruslah benar-benar menyadari bahwa dirinya adalah hamba Allah SWT. Dan betapa tidak berarti dirinya beserta ilmunya tanpa diiringi ridha Allah SAW. Adapun contoh etika terhadap sang Pencipta disebutkan bahwa: Dokter muslim harus meyakini dirinya sebagai khalifah fungsionaris Allah dalam bidang kesehatan dan kedokteran. Melaksanakan profesinya hanya karena Allah. Hanya melakukan pengobatan, penyembuhan adalah hak Allah. Melaksanakan profesinya dengan iman supaya jangan merugi.

2. Etika Dokter Muslim terhadap pasien: Hubungan antara dokter dengan pasien merupakan hubungan antarmanusia dan manusia. Dalam hubungan ini mungkin timbul pertentangan antara dokter dan pasien, karena masing-masing mempunyai nilai yang berbeda. Masalah semacam ini akan dihadapi oleh Dokter yang bekerja di lingkungan dengan suatu sistem yang berbeda dengan kebudayaan profesinya. Untuk melaksanakan tugasnya dengan baik, tidak jarang dokter harus berjuang lebih dulu melawan tradisi yang telah tertanam dengan kuat. Dalam hal ini, seorang dokter Muslim tidak mungkin memaksakan kebudayaan profesi yang selama ini dianutnya. Mengenai etika kedokteran terhadap orang sakit antara lain disebutkan bahwa seorang dokter muslim wajib: Memperlihatkan jenis penyakit, sebab musabab timbulnya penyakit, kekuatan tubuh orang sakit, keadaan resam tubuh yang tidak sewajarnya, umur si sakit dan obat yang cocok dengan musim itu, negeri si sakit dan keadaan buminya, iklim di mana ia sakit, daya penyembuhan obat itu. Di samping itu dokter harus memperhatikan mengenai tujuan pengobatan, obat yang dapat melawan penyakit itu, cara yang mudah dalam mengobati penyakit. Selanjutnya seorang dokter hendaknya membuat campuran obat yang sempurna, mempunyai pengalaman mengenai penyakit jiwa dan pengobatannya, berlaku lemah lembut, menggunakan cara keagamaan dan sugesti, tahu tugasnya. 3. Etika Dokter Muslim terhadap Sejawatnya: Para Dokter di seluruh dunia mempunyai kewajiban yang sama. Mereka adalah kawan-kawan seperjuangan yang merupakan kesatuan aksi dibawah panji perikemanusiaan untuk memerangi penyakit, yang merupakan salah satu pengganggu keselamatan dan kebahagiaan umat manusia. Penemuan dan pengalaman baru dijadikan milik bersama. Panggilan suci yang menjiwai hidup dan perbuatan telah mempersatukan mereka menempatkan para dokter pada suatu kedudukan yang terhormat dalam masyarakat. Halhal tersebut menimbulkan rasa persaudaraan dan kesediaan tolong-menolong yang senantiasa perlu dipertahankan dan dikembangkan. Mengenai etika yang bagi Dokter Muslim kepada Sejawatnya yaitu: Dokter yang baru menetap di suatu tempat, wajib mengunjungi teman sejawatnya yang telah berada di situ. Jika di kota yang terdapat banyak praktik dokter, cukup dengan memberitahukan tentang pembukaan praktiknya kepada teman sejawat yang berdekatan. Setiap Dokter menjadi anggota IDI setia dan aktif. Dengan menghadiri pertemuan-pertemuan yang diadakan. Setiap Dokter mengunjungi pertemuan klinik, seminar, workshop, bila ada kesempatan. Sehingga dapat dengan mudah mengikuti perkembangan ilmu teknologi kedokteran.

Sifat-sifat penting lain yang harus dimiliki oleh seorang Dokter Muslim ialah: Adanya belas kasihan dan cinta kasih terhadap sesama manusia, perasaan sosial yang ditunjukkan kepada masyarakat. Harus berbudi luhur, dapat dipercaya oleh pasien, dan memupuk keyakinan profesional. Seorang dokter harus dapat dengan tenang melakukan pekerjaannya dan harus percaya diri. Bersikap mandiri dan orisinal karena pengetahuan yang diwarisi secara turun temurun dari buku-buku masih jauh memadai. Ia harus mempunyai kepribadian yang kuat, sehingga dapat melakukan pekerjaanya di dalam keadaan yang serba sulit. Dan tentunya tidak menyimpang dari ketentuan-ketentuan agama. Seorang dokter muslim dilarang membeda-bedakan antara pasien kaya dan pasien miskin. Seorang dokter muslim harus hidup seimbang, tidak berlebih-lebihan, tidak membuang waktu serta energi dengan menikmati kesenangan dan kenikmatan yang menyebabkan lupa kepada Allah SWT. Seorang dokter muslim harus lebih banyak mendengar dan lebih sedikit bicara. Seorang dokter muslim tidak boleh berkecil hati dan harus merasa bangga akan profesinya karena semua agama menghormati profesi dokter. Istilah Arab untuk menyebut dokter adalah hakim, salah satu nama Allah yang berarti orang yang memiliki pengetahuan dan kebijaksanaan. Kasus yang menyangkut etika dokter muslim dalam praktek. Kesalehan seorang dokter ditekankan oleh kalangan pengobatan Yunani, sebagaimana seorang dokter dianggap sebagai penjaga tubuh dan jiwa. Ihwal etika medis dalam islam, seperti halnya etika secara umum, terdapat dua pengaruh langsung, yaitu dari bangsa Yunani dan Iran. Banyak kasus-kasus yang dipertentangkan. Seperti misalnya: Bolehkah seorang dokter meminta bayaran? Jika boleh, seberapa besar? Hal tersebut merupakan masalah yang terus diperdebatkan dalam islam. Masalah ini tampaknya merupakan bagian dari masalah yang lebih besar: Bolehkah seorang guru, terutama guru agama, menerima bayaran. Bahkan dewasa ini sebagian kalangan tetap mengharamkan meminta bayaran dalam pengajaran Al Quran dan penyebarluasan ilmu keagamaan. Menurut sebuah hadits, diperbolehkan membayar seorang dokter untuk pelayanan medisnya. Al-Dzahabi mengisahkan suatu hari sekelompok sahabat Muslim tiba di suku tertentu, yang memperlakukan mereka dengan ramah. Tiba-tiba salah satu anggota suku tersebut digigit ular dan para pengembara itu dimintai tolong untuk menyembuhkan. Kemudian orang yang tergigit tersebut sembuh dan suku membayar sejumlah seratus ekor kambing. Sebuah transaksi yang dibolehkan oleh Rasulullah. Dari sinilah legalitas

untuk meminta bayaran atas perawatan itu bermula. Namun banyak kalangan yang tidak setuju untuk mencari nafkah dari orang sakit. Bolehkah seorang dokter Muslim melakukan transplantasi organ? Seringkali terdapat kasus mengenai organ tubuh seorang pasien yang tidak dapat berfungsi dengan baik lagi. Tidak ada cara untuk mengobatinya kecuali dengan transplantasi organ (seperti mata, jantung dan lain sebagainya) dari orang yang telah meninggal. Hingga kini pendapat agama menentang keras praktik ini. Terdapat suatu hukum klasik yang menyebutkan bahwa Kebutuhan manusia hidup menjadi prioritas dibandingkan manusia mati. Tetapi ketika seorang ulama terkemuka ditanya mengenai persoalan tersebut, Beliau menjawab negatif. Namun sikap masyarakat secara umum positif terhadap masalah transplantasi organ tubuh, meskipun ada ketidaksetujuan dari kaum ulama. Bolehkah seorang dokter Muslim melakukan pengembangan bayi tabung? Pengembangan bayi tabung tidak dilarang dalam Islam asalkan penyatuan terjadi antara gen suami dan istri. Kekhawatiran bahwa proses ini mencampuri kehendak Allah sama sekali tidak berdasar. Prosesnya sama dengan pembenihan bibit tanaman dalam suatu kondisi terkendali, kemudian dipindahkan ketempat yang tepat ketika bibit tersebut telah cukup kuat untuk tumbuh di tempat itu. Yang dikhawatirkan bukanlah bahwa orang mencoba menyaingi Allah dengan melakukan hal tersebut, melainkan jika orang mencoba bersaing dengan setan dan menyimpangkan sifat manusia. Islam tidak mengizinkan penyatuan gen antara laki-laki dan wanita yang bukan suami istri karena itu merupakan perzinaan. Bolehkah seorang Dokter Muslim melakukan tindakan euthanasia? Euthanasia merupakan suatu masalah yang banyak menarik perhatian dan banyak dibicarakan orang. Euthanasia (dari bahasa Yunani, eu = baik, thanatos = mati) secara etimologi berarti mati yang baik atau mati yang tenang. Kemudian definisi euthanasia berkembang, karena adanya perbedaan titik pandang dalam menjelaskan mati yang baik. Akibatnya timbul berbagai definisi mengenai euthanasia. Euthanasia banyak dilakukan sejak jaman dahulu kala dan banyak memperoleh dukungan tokoh-tokoh besar dalam sejarah. Namun dalam agama terdapat beberapa pendapat yang tidak membenarkan hal tersebut. Berdasar bahwa Allah-lah yang menentukan kapan seseorang harus mati. Etika pasien terhadap dokter Menurut pendapat Abu Bakar Al-Razi, baik pasien maupun dokter harus memenuhi etika. Beliau menganjurkan pasien agar mengikuti dangan ketat perintah dokter, menghormati dokter, dan menganggap dokter sebagai sahabat terbaiknya. Pasien harus

berhubungan langsung dengan dokter dan tidak boleh merahasiakan penyakit yang dideritanya. Tentu akan lebih baik jika orang meminta nasihat dokter tentang cara menjaga kesehatan sebelum membutuhkan pengobatan. Bahwa pencegahan lebih baik daripada pengobatan merupakan sebuah prinsip yang dianjurkan oleh semua dokter. Sifat Etika Kedokteran Islam Pakar andrologi, Prof. dr. Muhammad Kamil Tadjudin, Dekan Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK) UIN Jakarta, mengatakan, etika kedokteran dalam Islam mempunyai sifat yang tetap. Berbeda dengan etika kedokteran sekuler yang cenderung berubah-ubah. Etika kedokteran Islami, menurutnya mempunyai perbedaan secara mendasar dengan etika kedokteran sekuler. Etika kedokteran Islami diturunkan dari tradisi dan kepercayaan agama, sehingga bentuknya akan tetap untuk selamanya. Sebaliknya etika kedokteran sekuler dirumuskan oleh masyarakat yang sikapnya berubah-ubah. Contohnya adalah sikap tentang aborsi yang berkisar antara sikap melarang semua bentuk aborsi sampai diperbolehkannya aborsi atas permintaan, paparnya. Demikian pula halnya sikap terhadap gay dan euthanasia, yang juga berkisar dari pelarangan penuh sampai diperbolehkan dengan indikasi tertentu. Beliau juga mengatakan, antara etika kedokteran Islami dan kedokteran sekuler memiliki perbedaan mendasar, misalnya etika tentang pemberian nasihat moral terhadap seorang pasien. Sebagai contoh, jika ada seorang pasien yang mengadakan chek up pada seorang dokter Muslim dan dia mendapat keterangan bahwa orang itu sering minum alkohol, maka, walaupun orang itu sehat, wajib bagi dokter Muslim memberi nasihat untuk tidak minum alkohol. Sementara dalam etika kedokteran sekuler, nasihat moral itu mungkin tidak dilakukan, meskipun alkohol menimbulkan bahaya, baik bagi diri maupun masyarakat sekitar. Contoh nasihat moral lainnya adalah tentang pencegahan penyakit kelamin terhadap para lelaki hidung belang. Menurut Tadjudin, seorang dokter sekuler mungkin akan menganjurkan penggunaan kondom, sedangkan seorang dokter Muslim akan menasihatkan abstinensi. Kasus yang sama juga terjadi terhadap isu-isu kontemporer kedokteran, seperti reproduksi berbantuan atau pembuahan telur di luar rahim melalui fertilisasi (bayi tabung). Dalam kasus ini, menurut Tadjudin, dalam pandangan etika kedokteran Islam hal itu dibolehkan jika dilakukan dengan sel kelamin (sperma dan telur) yang berasal dari suami-istri yang sah. Tapi jika penggunaan sperma atau telur itu bukan berasal dari suami-istri yang sah tidak dapat dibenarkan, termasuk penggunaan rahim yang lain dari wanita yang mempunyai telur untuk membesarkan blastosis, jelasnya. Alasan tidak boleh rahim wanita lain yang mempunyai telur untuk membesarkan blastosis, jelas Tadjudin, karena akan timbul masalah keturunan, yakni siapa ibu sebenarnya (dari anak hasil pembuahan itu). Padahal, Alquran surat al-Furqan ayat 5 menyebutkan: Dan Dia yang menciptakan manusia dari air, lalu Dia menjadikannya mempunyai keturunan dan mushaharah dan Tuhanmu senantiasa Maha Kuasa.

Selain tidak jelasnya masalah keturunan tadi, tambah Ketua Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT) itu, juga timbul masalah baru, apakah memasukkan sperma atau blastosis asing ke dalam rahim seorang wanita tidak merupakan tindakan yang dapat digolongkan zina? Meski demikian, Tadjudin tidak menampik bila sementara kalangan yang berpendapat bahwa menanamkan blastosis yang berasal dari sperma dan telur sepasang suami-istri ke perempuan lain adalah analog dengan menyusui anak orang lain atau bagi perempuan penerima blastosis itu analog dengan ibu susu. Kode etik islam bidang kedokteran Kode etik islam untuk bidang kedokteran akan segera diberlakukan. Hal ini telah dibahas melalui Konferensi ke-8 Organisasi Ilmu Kedokteran Islam, yang berlangsung di Kairo, Mesir. Konferensi ini ditutup dengan disetujuinya draft pedoman etika ilmu kedokteran internasional pertama yang berbasis pada perspektif Islam. Draft yang berjudul Kode etik Islam bidang kedokteran dan kesehatan tersebut, materinya akan disempurnakan, diedit dan akan diterbitkan oleh Organisasi Ilmu Kedokteran Islam (IOMS). Ide untuk menerbitkan kode etik Islam di bidang kedokteran ini muncul sejak tahun 1981, ketika IOMS berinisiatif untuk mengadaptasi dokumen tentang etika kedokteran Islam hasil dari konferensi di Kuwait. Dokumen itu antara lain menyebutkan, Manusia harus diperlakukan seperti apa yang digariskan Tuhan di mana Dia menetapkan bahwa umatnya sebagai khalifahNya di bumi. Konferensi yang dimulai tanggal 11 Desember 2004, diselenggarakan oleh IOMS bekerjasama dengan Organisasi Kebudayaan, Ilmu Pengetahuan dan Pendidikan Islam (ISESCO), Dewan Organisasi Internasional Ilmu Kedokteran (CIOMS), Ajman University Network dan Organisasi Kebudayaan, Ilmu Pengetahuan dan Pendidikan PBB (UNESCO). Konferensi itu dihadiri oleh tokoh-tokoh Islam terkemuka seperti Syeh Yusuf Alqardawi dan Haytham Al-Khayat. Dalam acara penutupan, para peserta konferensi telah menyepakati 14 rekomendasi untuk mengembangkan dan memungkinkan kode etik Islam bidang kedokteran itu diberlakukan. Menteri-menteri pendidikan, rektor di sekolahsekolah kedokteran di negara Arab dan negara Islam diminta untuk mulai memasukkan dan mengenalkan kode etik dalam kurikulum pendidikannya. Usulan lainnya yang muncul adalah mensosialisasikan kode etik yang baru ini melalui situs-situs milik lembaga kedokteran dan kesehatan. Kode etik islam bidang kedokteran ini bukan hanya untuk kalangan kedokteran profesional, tapi juga untuk keluarga dan masyarakat pada umumnya, seperti diungkapkan oleh Dr. Mumen S. Hadidi, Kepala Institut Nasional Kedokteran Forensik dari Yordania. Setelah konferensi ini, kantor WHO wilayah Mediterania Timur akan bekerja sama dengan menteri-menteri kesehatan di wilayah itu akan membentuk komite ad hoc yang akan menindaklanjuti penyusunan kode etik tersebut.

Sebelumnya, IOMS akan merancang sebuah workshop untuk menggali masukan bagaimana kode etik ini nantinya akan bermanfaat dan menyebarluaskannya ke seluruh kalangan profesional di dunia kesehatan. Dalam pidatonya, Ketua IOMS, Dr. Abd Al-Rahman El-Awady mengusulkan adanya penggalangan dana dari kalangan Muslim untuk membiayai riset-riset di bidang kesehatan di negara-negara Islam. Sementara itu, Kepala Ajman University Network, Dr. Saed Salman, mengusulkan diselenggarakannya konferensi yang membahas masalah etika yang berkaitan dengan industri farmasi dan riset tentang obat-obatan. Konferensi ke-8 IOMS juga membahas tentang hubungan antara dokter dan pasiennya termasuk soal praktek kedokteran, kewajiban dan tanggung jawabnya, serta masalah riset di bidang biomedis yang melibatkan bagian tubuh manusia. Para dokter dan ilmuwan dalam konferensi itu juga membahas isu-isu sensitif seperti soal bayi tabung, euthanasia dan rekayasa jenis kelamin bayi. DAFTAR PUSTAKA 1. Gunawan, dr, 1991. Memahami Etika Kedokteran. Kanisius: Yogyakarta. 2. Komalawati, D Veronica, SH, M.H., 1989. Hukum dan Etika dalam Praktek Dokter. Pustaka Sinar Harapan: Jakarta. 3. Taher, Tarmizi, M.D., 2003. Medical Ethics. Gramedia Pustaka Utama: Jakarta. 4. Rahman, Fazlur, 1999. Etika Pengobatan Islam. Mizan: Bandung. 5. Direktur Pelaksana Pusat Kajian Filsafat Madina Ilmu (PKFMI), www.pelita.or.id, 26 Maret 2005, Dokter Muslim. 6. Bergerak, www.eramuslim.com, 23 April 2005, Kode Etik Islam Bidang Kedokteran Akan Segera Diberlakukan. 7. Anonim_1, www.uinjkt.ac.id, 15 Maret 2005, Etika Kedokteran Islam 8. Anonim_2, www.ksdak.com, 17 Maret 2005, Tindakan Euthanasia Dilarang Dalam Islam. Sumber gambar: jojar.blogspot.com
1.Ide Dokter Muslim Ilmu kedokteran yang dewasa ini berkembang, umumnya bersifat universal atau digunakan secara umum. Karena itu, bagi kaum Muslimin perlu menyeleksinya, dipilih hanya yang sesuai dengan norma dan kaidah Islam. Sejak dulu kaum Muslimin, dengan disemangati oleh gerakan islamisasi maka seluruh sendi kehidupan Muslim dijadikan sebagai bagian pengamalan agama, untuk itu maka dicarilah pijakanpijakan islamis, juga dalam praktek pengobatan, atau lebih spesifik dokter. Meski dalam prakteknya dan dikaitkan dengan asal sistem atau metode pengobatan bersifat universal, namun dalam Islam terdapat nilai-nilai yang mesti dijunjung tinggi, khususnya dikaitkan dengan praktek kedokteran, sehingga dikenal dengan kedokteran Islami. Jika merujuk pada karya klasik, seperti yang terdapat dalam buku al-Qanun fi al- Thibb karya Ibnu Sina, sarna sekali tidak menyinggung soal kedokteran Islam ini. Menurut analisis 'Abdul Hamid, karena pada

masa lalu etika kedokteran tidak mungkin terpisah dari ajaran umum al-Quran dan Sunnah Nabi. Dengan kata lain, kedua sumber itu senantiasa berlaku sebagai pembimbing dalam segala aspek kehidupan umat Islam termasuk bagi dokter dan pasiennya. Konsep tentang dokter muslim ini terkait pula dengan etika kedokteran, menurut Dr Ahmad Elkandi, salah seorang pendiri Himpunan Kedokteran Islam Amerika Serikat dan Kanada, bahwa etika dianggap sebagai persyaratan penting untuk menjadi dokter. Sumpah Hippocrates yang terkenal telah menekankan fakta ini dan sumpah ini masih berlaku sebagai basis bagi undang-undang yang dibuat untuk kode etik profesionaI. 1. Karaktertstik

DokterMuslim

Banyak rumusan tentang dokter muslim telah dikemukakan oleh berbagai kalangan. Menurut Ja'far Khadim Yamani, Ilmu kedokteran dapat dikatakan islami, mempersyaratkannya dengan 9 karakteristik, yaitu: Pertama, dokter harus mengobati pasien dengan ihsan dan tidak melakukan hal-hal yang bertentangan dengan al-Quran. Kedua, tidak menggunakan bahan haram atau dicampur dengan unsur haram. Ketiga,dalam pengobatan tidak boleh berakibat mencacatkan tubuh pasien, kecuali sudah tidak ada alternatif lain. Keempat, pengobatannya tidak berbau takhayyul, khurafat, atau bid'ah. Kelima, hanya dilakukan oleh tenaga medis yang menguasai di bidang medis. Keenam, dokter memiliki sifat-sifat terpuji, tidak pemilik rasa iri, riya, takabbur, senang merendahkan orang lain, serta sikap hina lainnya. Ketujuh, harus berpenampilan rapih dan bersih. Kedelapan, lembagalembaga pelayan kesehatan mesti bersifat simpatik Kesembilan, menjauhkan dan menjaga diri dari pengaruh atau lambanglambang nonislamis. Dalam kode etik kedokteran (Islamic code of Medical Ethics), yang merupakan Hasil dari First International Conferene on Islamic Medicine yang diselenggarakan pada 6-10 Rabi' al-Awwal 1401 H. di Kuwait dan selanjutnya disepakati sebagai kode etik kedokteran Islam, dirumuskan beberapa karakterrstik yang semestinya dimiliki oleh dokter muslim. lsi Kode Etik Kedokteran Islam tersebut terdiri atas duabelas pasal, Rinciannya disebutkan: Pertama, definisi profesi kedokteran. Kedua, ciri-ciri para dokter. Ketiga, hubungan dokter dengan dokter. Keempat, hubungan dokter dengan pasien. Kelima, rahasia profesi. Keenam, peranan dokter di masa perang. Ketujuh, tanggungjawab dan pertanggungjawaban. Kedelapan, kesucian jiwa manusia. Kesembilan, dokter dan masyarakat. Kesepuluh, dokter dan kemajuan biomedis modern. Kesebelas, pendidikan kedokteran. Keduabelas, sumpah dokter. Semua butir di atas, khususnya terhadap diri sendiri juga dengan pasien, antara lain disebutkan bahwa seorang dokter muslim di samping sebagai seorang yang bertakwa juga harus berakhlak mulia, seperti harus bijaksana, ramah, baik hati, pemaaf, pelindung, sabar, dapat dipercaya, bersikap baik tanpa membedakan tingkat sosial pasien, bersikap tenang, dan menghormati pasien. Secara teologis dokter muslim harus menyadari bahwa soal kematian berada sepenuhnya di tang an Tuhan dan fungsi dokter hanya sebagai penyelamat kehidupan, berfungsi mempertahankan dan memelihara sebaik dan semampu mungkin. Di samping itu, dokter muslim harus dapat menjadi suri tauladan yang baik juga harus prefesional, dengan tetap pada prinsip ilmiah danjujur. Lebih dari itu semua, dokter muslim juga diharuskan memiliki pengetahuan tentang undang-undang, caracara beribadah dan pokok-pokok fikih sehingga dapat menuntun pasien untuk melaksanakan kewajiban agamanya. Ditekankan pula, dalam keadaan bagaimana pun, dokter muslim harus erusaha menjauhkan diri dari praktek-praktek yang

bertentangan dengan ajaran Islam. Hal lain yang disarankan, dokter muslim harus rendah hati, tidak sombong, serta bersikap tercel a lainnya. Dalarn bidang pengetahuan, dokter muslim diharuskan tetap menggali dan mencari pengetahuan agar tidak ketinggalan dalam bidang kemajuan ilmiah, dan upaya itu harus diyakini sebagai bentuk ibadah. Abu al-Fadl merinci karakteristik dokter Islam atas tiga hal. Pertama, percaya akan adanya kematian yang tidak terelakkan seperti banyak ditegaskan dalam al-Quran dan hadits Nabi. Untuk mendukung prinsip ini ia mengutip pernyataan Ibnu Sina yang menyatakan, yang harus diingat bahwa pengetahuan mengenai pemeliharaan kesehatan itu tidak bisa mernbantu untuk menghindari kematian maupun membebaskan diri dari , penderitaan lahir. Ia juga tidak memberikan cara-cara untuk ' memperpanjang usia agar hidup selamanya. Dengan pemahaman demikian, tidak berarti dokter muslim menentang teknologi biomedis bila berarti upaya mempertahankan kehidupan dengan memberikan pasien suatu pernapasan at au alat lain yang sejenis. Sebab, berupaya menyelamatkan hidup adalah tugas mulia, siapa yang menyelamatkan hidup seorang manusia, seolah dia menyelamatkan hidup seluruh manusia. Ini sejalan dengan penegasan ayat al-Quran:

Artinya.

Barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan di muka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya. Dan barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia seluruhnya. Dan barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan seorang manusia semuanya. (QS. Al Maidah 5 : 32)

Kedua, menghormati pasien, diantaranya berbicara dengan baik kepada pasien tidak membocorkan rahasia dan perasaan pasien, dan tidak melakukan pelecehan seksual, itulah sebabnya disarankan pasien didampingi orang ketiga. Dokter tidak memberati pasien, dan lain-lain. Ketiga, pasrah kepada Allah sebagai Dzat Penyembuh. Ini tidak berarti membebaskan dokter dari segala upaya diagnosis dan pengobatan. Dengan kepasrahan demikian, maka akan menghindarkan perasaan bersalah jika segala upaya yang dilakukannya mendapatkan kegagalan.

1. Sifat

dan

Sikap

Dokter

Muslim

Etika / adab yang harus dimiliki oleh dokter muslim menurut Dr. Zuhair Ahmad al-Sibai dan Dr. Muhammad 'Ali al-Bar dalam karyanya Al-Thabib, Adabuh wa Fiqhuh (Dokter, Etika dan Fikih Kedokteran), antara lain dikemukakan bahwa dokter muslim harus berkeyakinan atas kehormatan profesi, menjernihkan nafsu, labih mendalami ilmu yang dikuasainya, menggunakan metode ilmiah dalam berfikir, kasih sayang, benar dan jujur, rendah hati, bersahaja dan mawas diri. 1. Berkeyakinan 2. Berusaha

atas Menjernihkan

Kehormatan

Profesi. Jiwa.

3. Lebih 4. Menggunakan 5. Memiliki 6. Keharusan 7. Berendah 8. Keadilan 9. Mawas 10. Ikhlas,

Mendalami Metode Rasa Bersikap

Ilmu Ilmiah

yang dalam Cinta Benar dan

Dikuasainya. Berfikir. Kasih. Jujur. (Tawadhu'). Keseimbangan. Diri.

Hati dan

Penyantun,

Ramah,

Sabar

dan

Tenang.

1. Kesimpulan Dari uraian diatas dapat disimpulkan hal-hal sebagai berikut :

1. Bahwa seluruh poin butir isi karakteristik dokter muslim, baik yang terdapat dalam Islamic Code Of Medical Ethics atau yang disampaikan oleh tokoh lain secara individual, pada intinya ada kesepakatan, bahwa karakteristik dokter muslim, disamping professional, menguasai ilmu kedokteran dan mengembangkan pengetahuannya itu, juga berakhlak mulia, sebagaimana dijabarkan butir-butirnya dalam kajian akhak mulia secara umum, baik dalam hubungannya dengan Allah, sesama manusia dan dengan profesi, yang secara khusus dapat diterapkan pada profesi kedokteran dalam berhubungan dengan profesinya, pasien, sesama dokter, juga kepada Tuhan. 2. Secara definitif istilah dokter muslim termasuk term yang baru di dunia islam. Istilah ini lahir, nampaknya sebagai respon telah mulai adanya dikotomi yang sangat tajam dalam bidang ilmu pengetahuan dan profesi, antara ilmu pengetahuan agama di satu sisi dan umum di sisi lain, sisi ibadah di satu sisi dan dunia kerja di sisi yang lain. Disamping ingin menjadikan akhlak sebagai tuntunan profesi kedokteran, istilah dokter muslim juga dirumuskan berangkat dari adanya keinginan menjadikan seluruh aspek kehidupan dilakukan untuk islam. 3. Terlepas dari rumusan tentang dokter muslim yang telah dirumuskan oleh para praktisi maupun pemerhati tentang dokter muslim, ada atau tidak ada rumusan tentang dokter muslim, tamatan sekolah yang menggunakan label dokter muslim atau tidak, asal setiap dokter yang beragama islam itu menegakkan akhlak islami, khususnya yang berkaitan dengan praktek kedokteran, otomatis dia adalah dokter muslim sejati.

Ciri

ciri

Dokter

Muslim

* Beriman dan * Penyayang, Penghibur, * Sabar, Rendah * Tenang Sekalipun Dalam * Peduli Terhadap * Memandang Semua * Pemberi * Menjaga Kesehatan * Suci Hatinya dan * Berilmu Pengetahuan

Bertakwa Murah Hati, Keadaan Senyum Toleran Kritis Pasien. Pasien Sama Nasehat Sendiri Dapat Dipercaya

Dokter Muslim Harus Berkepribadian Islam !


November 5, 2010 ariefudin Leave a comment Go to comments

Inilah Sosok Dokter yang Mampu Bertahan Seiring Berjalannya Waktu

Manusia dibekali oleh Allah dengan potensi kehidupan, atau bahasa kerennya Attaqah Alhayawiyyah. Dari potensi kehidupan itu terdapat dua cabang, cabang pertama yaitu naluri (bahasa kerennya : gharizah), dan cabang kedua yaitu kebutuhan jasmani (bahasa kerennya : hajatul udhawiyah). Keduanya mutlak ada pada diri manusia dan binatang. Kebutuhan jasmani tentunya berbeda dengan naluri. Demikian pula kebutuhan jasmani tidak sama dengan kebutuhan naluri. Kebutuhan jasmani akan muncul dengan sendirinya tanpa harus dimunculkan atau dirangsang. Sedangkan kebutuhan naluri akan muncul jika mendapat stimulus atau rangsangan.

Naluri (Gharizah) Naluri sangat beragam macamnya. Ada naluri beragama (gharizah tadayyun), naluri mempertahankan diri (gharizah baqa), dan naluri mempertahankan jenis (gharizah nau). Berikut akan penulis jelaskan satu per satu. Pertama, yang dimaksud naluri beragama (gharizah tadayun) yaitu sebuah naluri yang mendorong diri sendiri untuk mengkultuskan sesuatu yang memiliki kekuatan. Ada yang mengkultuskan sapi, ada yang mengkultuskan matahari, ada juga yang mengkultuskan api. Namun kita sebagai seorang muslim tentunya mensucikan yang Mahasuci yaitu Allah, Rabb kita. Stimulus pada naluri ini muncul ketika manusia merasa lemah menghadapi problem yang sangat besar. Ia akan cenderung pasrah, mengeluh dan berdoa kepada yang diyakini memiliki kekuatan untuk mengeluarkan dirinya dari problem yang melilitnya. Yang kedua, naluri mempertahankan diri (gharizah baqa). Contohnya sangat sederhana, kita dan binatang (tidak bermaksud menyamakan dengan binatang lho!) akan melawan kalau diganggu. Coba deh kamu injak ekor kucing, pasti kamu dicakar (hehe). Atau kamu dihina, pasti merasa panas dan emosi. Itulah yang dimaksud naluri mempertahankan diri. Adanya rangsangan dari luar untuk selanjutnya menimbulkan reaksi. Kita akan memberikan reaksi atas ancaman yang mengancam diri kita. Stimulus inilah yang akan membangkitkan naluri mempertahankan diri. Yang ketiga, naluri mempertahankan jenis (gharizah nau) yaitu naluri untuk bereproduksi. Manusia dan binatang semuanya bereproduksi untuk memperoleh keturunan. Naluri ini tidak akan muncul jika kita sekedar diam-diam saja. Naluri ini muncul jika ada rangsangan, misalnua ketika kita membayangkan atau melihat hal-hal yang bisa membangkitkan naluri sex yang pada akhirnya meminta kita untuk memenuhinya. Olehkarenanya kita harus mengedalikan stimulus naluri ini pada tempatnya. Kebutuhan jasmani (Hajatul Udhawiyah) Kebutuhan akan makan, minum, buang air, tidur dan lain-lain merupakan kebutuhan mutlak pada manusia. Hajatul udhawiyah ini akan muncul dengan sendirinya. Kalo pun kita sekedar diamdiam saja, kita pasti akan merasa lapar, dan rasa lapar itu akan mendorong kita untuk makan. Selain lapar, kita sebagai manusia akan merasakan haus dan mengantuk. Maka rasa haus dan mengantuk itu akan meminta kita untuk minum dan tidur. Dan begitu seterusnya. Kebutuhan jasmani akan mucul dengan sendirinya pada manusia tanpa proses stimulus atau rangsangan. Berbeda dengan naluri. Naluri tidak bisa muncul dengan sendirinya tanpa rangsangan. Kita akan merasa butuh kepada Allah jika kita terus terpapar dengan lingkungan yang mendekatkan diri kita kepada Allah, teman-teman yang shalih dan media-media yang mendekatkan diri kepada Allah. Paparan inilah yang akan membangkitkan sebuah naluri beragama (gharizah tadayun). Dokter-dokter akan terus bertahan di era apapun kalau mereka mendapatkan stimulus nilai-nilai syariah. Nilai-nilai ini tidak bisa didapat kecuali dengan mengikuti halaqah (pembinaan) atau majelis-majelis ilmu lainnya. Halaqah merupakan media untuk menstimulus atau merangsang naluri beragama (gharizah tadayun) seorang dokter untuk terus terikat kepada syariah. Ia akan mendapatkan nasihat dan pencerahan setiap pekan dari musyrif / murabbi (guru) yang nantinya akan menjadi bekal dalam menjalani profesinya. Seorang dokter yang tidak mengikuti halaqah atau majelis-majelis ilmu sangat sulit untuk istiqamah. Satu demi satu sunnah akan ditinggalkannya secara tidak sadar karena memang tidak ada yang membimbing, mengontrol, mengevaluasi dan memotivasinya.

Karakter naluri ialah membutuhkan stimulus. Jangan berharap ketika kita diam-diam saja maka akan muncul sebuah komitmen untuk taat kepada Allah, menjadi dokter yang melayani umat dan berjuang untuk agama secara ikhlas lillahi taala. Jangan berharap mendapat hidayah hanya dengan berdiam diri saja. Olehkarenanya, marilah kita munculkan stimulus-stimulus yang bisa mendekatkan diri kepada Allah dengan media apapun. Munculkan suasana Islami di rumah kita, di laptop kita dan di otak kita. Benahi majalah-majalah kita dengan memulailah berlangganan majalah Islam, mengganti keteladanan kita dari keteladanan kepada ilmuwan Barat menuju keteladanan kepada para mujahidin yang ikhlas. Munculkan berbagai macam dorongan-dorongan lewat media apapun untuk ingat kepada Allah, ingat kepada Ibadah dan ingat akan pertanggungjawaban di hari akhir. Sebuah naluri membutuhkan stimulus. Tanpa stimulus, maka naluri beragama akan redup. Nyala api sebuah naluri beragama tidak akan mampu membakar diri kita untuk selalu termotivasi dalam ketaatan. Semoga diri kita dihindarkan dari naluri beragama yang rapuh yang nantinya hanya akan mendapatkan murka dari Allah. Naudzubillaah Dokter Berkepribadian Islami Islam mengatur hidup kita dari bangun tidur sampai bangun negara! Hebat kan?! Kepribadian manusia terbentuk oleh pola pikir (aqilyah) dan pola sikap (nafsiyah). Bentuk tubuh, wajah, keserasian fisik dan sebagainya bukan unsur pembentuk kepribadian. Pola pikir Islam (Aqliyah Islamiyah) adalah jika seseorang selalu berlandaskan aqidah Islam dalam memikirkan sesuatu hal dalam upaya mengambil suatu keputusan. Sehingga jika landasannya bukan Islam, maka pola pikirnya merupakan pola pikir yang lain. Sedangkan pola sikap Islami (Nafsiyah Islamiyah) adalah jika seseorang dalam memenuhi kebutuhan jasmani dan dorongan nalurinya berdasarkan Islam. Jika pemenuhan tersebut tidak dilakukan dengan cara seperti itu, maka pola sikapnya merupakan pola sikap yang lain. Tidaklah cukup jika kepribadian Islam hanya tercermin pada pola pikirnya yang Islami, sementara pola pikirnya tidak. Karena nantinya malah beribadah kepada Allah dengan kebodohan. Misalnya, kita berpuasa pada hari yang diharamkan. Bisa juga kita bersodaqoh dengan riba, dengan anggapan bisa mendekatkan diri kepada Allah. Dengan kata lain, sebenarnya melakukan kesalahan tetapi menyangka telah melakukan kebajikan. Akibatnya, dalam memenuhi tuntutan gharizah dan hajatul udhawiyah tidak sesuai dengan perintah Allah dan Rasul-Nya. Ini kesalahan yang banyak terjadi di sekitar kita. Sesungguhnya kepribadian Islam tidak akan berjalan dengan lurus, kecuali jika pola pikir orang tersebut adalah pola pikir Islami dan pola sikapnya adalah pola sikap Islami. Dokter yang berkepribadian Islam inilah yang insya Allah mampu bertahan seiring berjalannya waktu. Terus istiqamah dalam komitmennya. Dokter yang berkepribadian Islami bukan berarti didalam dirinya tidak pernah ada kesalahan. Tetapi (kalau ada), kesalahan tersebut tidak akan mempengaruhi kepribadiannya selama kesalahanya bukan perkara pangkal, melainkan pengecualian (kadang terjadi, kadang tidak). Alasannya, karena manusia bukanlah malaikat. Dia bisa saja melakukan kesalahan, lalu memohon ampunan dan bertaubat. Bisa juga dia melakukan kebenaran, lalu memuji Allah atas kebaikan, karunia, dan hidayah-Nya. Wallaahu alam. Referensi : 1. Materi Dasar Islam Dari Akar Sampai Kedaunnya. BKLDK Nasional. 2. Membangun Syakhsiyah Islamiyah. Rokhmat S. Labib. MEI. 3. Pilar-pilar Pengokoh Nasfsiyah Islamiyah.