Anda di halaman 1dari 9

Adab Dokter Muslim

Artikel PSKI, Artikel-artikel Feb 242012 Oleh : dr.Dirwan Suryo Soularto, Sp.F I. Pendahuluan

Kata adab, dokter dan muslim merupakan tiga kata yang berbeda yang masing-masing memiliki pengertian sendiri. Ketika ketiga kata tersebut dirangkai menyusun kalimat Adab Dokter Muslim, maka akan memberikan suatu pengertian yang luas dan berdampak pada segolongan atau sekelompok individu atau tiap individu itu sendiri yang masuk dalam pengertian kalimat tersebut. Baik bagi mereka yang mengaku (menghaki) secara sadar dan terang-terangan maupun bagi mereka yang secara tidak sadar telah masuk dalam pengertian tersebut. Sebagai mahasiswa fakultas kedokteran di salah satu perguruan tinggi berbasiskan Islam, tentunya adalah menjadi hal essential (pokok) bagi kita untuk memahami konsep tentang Adab Dokter Muslim. II. Pengertian dan Konsep Adab Kata adab yang hanya dibentuk dengan empat huruf, sebenarnya mempunyai maksud dan konsep yang juga amat luas. Kata adab dapat dikaitkan dengan bidang bahasa, sastra, budaya, perilaku, atau tata cara maupun etika dan kesopanan. Ia dapat diikatakan menjangkau konsep keseluruhan kehidupan dalam arti kata yang sebenar-benarnya. Adab adalah satu istilah bahasa Arab yang berarti adat kebiasaan. Kata ini menunjuk pada suatu kebiasaan, etiket, pola tingkah laku yang dianggap sebagai model. Selama dua abad pertama setelah kemunculan Islam, istilah adab membawa implikasi makna etika dan sosial. Kata dasar Ad mempunyai arti sesuatu yang mentakjubkan, atau persiapan atau pesta. Adab dalam pengertian ini sama dengan kata latin urbanitas, kesopanan, keramahan, kehalusan budi pekerti masyarakat kota. Pelbagai pendapat dan kajian telah diutarakan oleh para sarjana mengenai adab sejak bermulanya kemajuan ilmu. Ahmad Fauzi menyebutkan salah satu definisi adab yakni sebagai tingkah laku serta tutur kata yang halus (sopan), budi bahasa, budi pekerti, kesopanan. Definisi yang diberikan amat mudah dan ringkas, namun jika diteliti maka ia merupakan katakata yang amat besar konotasinya. Menurut Rosenthal (1992), adab adalah istilah yang lebih luas karena ia memasukkan masalah etika, moral, kelakuan dan adat istiadat. Konsep adab memperjelas maksud dan kaitan antara nilai, norma, sikap etika dan moral. Berdasarkan uraian tersebut, adab bisa juga dikaitkan dengan kesopanan dan ketertiban. Sopan berarti hormat, baik budi bahasa, tahu tertib peraturan atau beradab, manakala tata tertib adalah peraturan yang baik yang telah ditetapkan. Norma kesopanan timbul dalam pergaulan antar manusia dalam suatu kelompok masyarakat tertentu, misalnya menghormati orang tua, mempersilahkan wanita atau bertutur kata yang lembut kepada orang tua.

Adat kebiasaan di dalam banyak kebudayaan selain kebudayaan Islam sangat ditentukan oleh kondisi-kondisi lokal dan oleh karena itu tunduk pada perubahan-perubahan yang terjadi di dalam kondisi-kondisi tersebut. Menurut W.G. Summer, dari berbagai kebutuhan yang timbul secara berulang-ulang pada satu waktu tertentu tumbuh kebiasaan-kebiasaan individual dan adat kebiasaan kelompok. Tetapi kebiasaan-kebiasaan yang muncul ini adalah konsekuensikonsekuensi yang timbul secara tidak disadari, dan tidak diperkirakan lebih dulu atau tidak direncanakan. Ahlak dan adab Islam tidaklah bersifat tanpa sadar seperti dalam pengertian di atas. Adab dan kebiasaan-kebiasaan Islam itu berasal dari dua sumber utama Islam, yaitu al-Quran dan Sunnah, perbuatan-perbuatan dan kata-kata Nabi serta perintah-perintahnya yang tidak langsung sehingga akhlak Islam itu jelas berdasarkan pada wahyu Allah SWT. Dengan demikian adab sesuatu berarti sikap yang baik dari sesuatu tersebut. Bentuk jamaknya adalah db al-Islam, dengan begitu, berarti pola perilaku yang baik yang ditetapkan oleh Islam berdasarkan pada ajaranajarannya. Dalam pengertian seperti inilah kata adab. Orang yang beradab dikatakan telah maju dalam tingkat kemajuan (jasmani dan rohani) atau telah berhasil (sukses). Ini turut membawa maksud bahwa manusia yang beradab mengetahui dan dapat membedakan antara kejahatan dengan kebaikan, keindahan dengan keburukan, sesuatu yang berharga daripada yang tidak berharga, dan sesuatu yang benar dengan yang palsu. Plato dalam Rosenthal (1992) menyatakan bahawa : tujuan adab ialah untuk melahirkan manusia yang baik dan mampu menahan diri daripada nikmat fisik dan material, dan yang menunjukkan kestabilan emosi pada raut muka gembira dan sedih dan segala kejadian yang lain, dan juga tetap berada dalam keadaan yang tidak diganggui dan tidak aktif, kecuali apabila sebab dan pemikiran menandakan keinginan atau keperluan kepada tindakan. Seorang pemikir Islam, Ibn Abd-Rabbih dalam Rosenthal (1992) menegaskan bahwa, keseluruhan adab mengandung semua aspek tingkah laku manusia. Konsep tersebut, mengkaitkan adab dengan keseluruhan tindak tanduk, perbuatan dan perlakuan manusia. Hal ini menguatkan lagi konsep adab yang dibicarakan. Keseluruhan perbincangan tentang adab ini akhirnya membawa kita kepada keperluan memahami hubungan antara adab dengan profesi dokter yang kebetulan seorang muslim. III. Konsep Dokter Muslim Seorang dokter muslim adalah seorang muslim itu sendiri, sehingga teladan yang paling utama adalah Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam, apapun profesi dan jabatan seorang muslim. Akhlak seorang dokter muslim ialah akhlak seorang muslim yang menjunjung tinggi adab Rasulullah shalallahu Alaihi Wasallam tersebut sebagai teladan yang sempurna dan akhlak Beliau disarikan dari Al-Quran itu sendiri sebagai pedoman hidup seorang muslim. Sebagai hamba Allah, seorang dokter muslim harus mempunyai tujuan hidup: Hasanah fiddunya dan hasanah fil-akhirah. Ia semata-mata mengabdi kepada Allah (QS. Al-Anam: 112) dengan menjauhi segala larangan (QS. Al Imran: 110) dan mematuhi semua perintah Allah,

rasul-Nya dan Ulil Amri. Seorang dokter muslim juga harus mampu mengobati penyakit jasmani, rohani, sosial serta gangguan pada iman dan Islam pasiennya. Etika/adab yang harus dimiliki oleh dokter muslim menurut Zuhair Ahmad al-Sibai dan Muhmmad Ali al-Bar dalam karyanya Al- Thabib , Adabuhu wa Fiqhuh (Dokter, Etika dan Fikih Kedokteran), antara lain dikemukakan bahwa dokter muslim harus berkeyakinan atas kehormatan profesi, menjernihkan nafsu, lebih mendalami ilmu yang dikuasainya, menggunakan metode ilmiah dalam berfikir, kasih sayang, benar dan jujur, rendah hati, bersahaja, dan mawas diri. Seorang dokter muslim harus mampu mengadakan pendekatan kepada masyarakat. Pasien yang sakit adalah mahluk sosial yang merupakan bagian dari suatu komunitas yang sakit. Oleh karenanya, seorang dokter muslim tidak boleh hanya melihat seseorang penderita secara mikro (individual), melainkan juga harus melihatnya dalam skala makro (ingat konsep biopsikososiokultural dan relegius). Seorang dokter muslim harus menyadari dan menginsyafi bahwa mengobati orang sakit karena Allah, adalah suatu amal yang amat tinggi nilainya. Dengan demikian, ia telah melaksanakan dakwah Islam, bahwa Allah-lah yang menurunkan penyakit dan Dia pula yang menurunkan obatnya. Dokter hanya dapat mengenali jenis penyakit dan menuliskan resep, namun hanya Allah jualah yang menyembuhkan. Seorang dokter muslim menghilangkan anggapan bahwa dialah yang men yembuhkan pasiennya. Dengan demikian, seorang dokter muslim harus menyadari bahwa ia adalah khalifah Allah dalam pengobatan yang senantiasa berlaku sopan kepada semua pasiennya dan selalu mendoakan agar Allah memberikan kesembuhan kepada pasien yang ditanganinya. Meskipun sudah banyak penulis, alim maupun pakar kedokteran muslim menyampaikan karakteristik atau ciri dokter muslim, namun sampai saat ini belum ada kesepakatan mengenai rumusan tertulis dokter muslim yang disetujui oleh segenap persatuan dokter muslim baik ditingkat nasional, regional maupun internasional. Menurut Majid Ramadhan (2004) dalam bukunya Karakteristik Dokter Muslim, ciri dokter yang diharapkan dapat menanggung amanat juga kekahalifahan adalah : 1. Aqidahnya benar 2. Ikhlas dan tekun dalam kerjanya 3. Maksimal dalam spesialisasi profesinya 4. Jujur dalam perkataan dan perbuatan 5. Punya komitment untuk selalu dapat bermanfaat bagi manusia 6. Pemalu, jujur dan menjaga rahasia 7. Peka dan penyanyang 8. Ikut merasakan rasa sakit pasien (empati) dan membangun optimisme pada pasien 9. Rendah hati, tidak sombong dan ramah 10. Tidak melebih-lebihkan ongkos dan meringankan yang kesulitan 11. Berpenampilan indah 12. Menasehati pasiennya, dengan menyuruh kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran.

Sifat-sifat atau karakter dokter muslim seperti tersebut di atas juga banyak ditulis oleh ahli lain, antara lain seperti yang dinyatakan oleh Zuhair Ahmad Assi Bai dalam buku Dokter-dokter, Bagaimana Ahlakmu (Gema Insani Press) atau juga oleh Sahid Athar dalama buku Islam dan Etika Kedokteran (PSKI UMY).

IV. Adab Dokter Terhadap Allah Sebagai Pencipta a. Beriman

Sebab tanpa iman segala amal saleh sebagai dokter dan tenaga para medis akan hilang sia-sia di mata Allah. DalilnyaSuratAl-Ashri: )( () () Demi masa, Sesungguhnya manusia selalu dalam kerugian, Selain mereka yang beriman, Dan berbuat amal shaleh, Dan nasehat-nasehati dengan kebenaran,Dan naseha-nasehati dengan kesabaran (QS. Al-ashr: 1-3) b. Tulus-ikhlas karena Allah. )( Mereka hanya diperintahkan untuk mengabdikan diri kepada Allah dengan ikhlas, lurus mengerjakan agama, karena Dia. (QS. Al Bayyinah : 5) V. Adab Terhadap Diri Sendiri a. Berkeyakinan atas Kehormatan Profesi. Bahwa profesi kedokteran adalah salah satu profesi yang sangat mulia tetapi tergantung dengan dua syarat , yaitu :

Dilakukan dengan sungguh sungguh dan penuh kaikhlasan . Menjaga akhlak mulia dalam perilaku dan tindakan tindakannya sebagai dokter .

Seorang dokter diberi amanah untuk menjaga kesehatan yang merupakan karunia Tuhan yang paling berharga bagi manusia, sebagaimana dinyatakan dalam hadist Nabi yang berarti: Mohonlah kepada Allah kesehatan, sebab tidak ada sesuatupun yang dianugerahkan kepada hambaNya yang lebih utama dari kesehatan. (HR Ahmad al- Turmudzi , dan Ibn Majah). Disamping itu dokter selalu menjadi tumpuan pasien, keluarga, masyarakat, bahkan bangsa. Mengingat kedudukan profesi kedokteran tersebut seharusnya dalam menjalankan profesinya

tidak hanya berfikir tentang materi tetapi lebih kepada pengabdian dan perbaikan umat. Keyakinan akan kehormatan profesi tersebut merupakan motivasi untuk memelihara akhlak yang baik dalam hubungannya dengan masyarakat. b. Berusaha Menjernihkan Jiwa Kejernihan jiwa akan menentukan kualitas perbuatan manusia secara keseluruhan, jika seseorang termasuk dokter hatinya jernih maka perbuatannya akan selalu positif. Hal ini sejalan dengan penegasan Rasulullah yang artinya: Ingatlah bahwa tubuh manusia ada segumpal darah yang apabila baik maka seluruh tubuh menjadi baik dan apabila buruk maka seluruh tubuh menjadi buruk, ingatlah atau adalah hati. (HR Al Bukhari , Muslim, Ahmad, Al Darimi , dan Ibn Majah). c. Lebih Mendalam Ilmu yang Dikuasainya Dalam hadist Nabi disebutkan bahwa mencari ilmu merupakan kewajiban sepanjang hidup. Sebagimana diketahui bahwa ilmu pengetahuan itu dari hari ke hari selalu mengalami perkembangan. Karena itu, agar setiap dokter tidak ketinggalan informasi dan ilmu pengetahuan dan lebih mendalami bidang profesinya, maka dituntut untuk selalu belajar. Dalam ajaran Islam sangat ditekankan dalam mengamalkan segala sesuatu agar dilakukan secara professional dan penuh ketelitian . Nabi bersabda : Sesungguhnya Allah menyukai bila seseorang diantara kalian mengerjakan pekerjaannya dengan teliti. (HR . Al-Baihaqi) d. Menggunakan Metode Ilmiah dalam Berfikir Bagi dokter muslim diharuskan dalam berfikir menggunakan metode ilmiah sesuai dengan kaidah logika ilmiah sebagaimana terjabar dalam disiplin ilmu kedokteran modern . Ajaran Islam sangat menekankan agar berfikir atau merenung terhadap berbagai sebab, tujuannya agar mendapatkan keyakinan yang benar. Diantara anjuran berfikir dengan metode ilmiah , antara lain tersurat dalam firman Allah : )( Artinya : Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati ( kering ) nya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan

antara langit dan bumi; Sungguh ( terdapat ) tanda tanda ( keesaan dan kebesaran Allah ) bagi kaum yang memikirkan. ( QS. Al Baqarah : 164 ) Juga berfirman Allah : )( Artinya : Katakanlah : Perhatikanlah apa yang ada dilangit dan di bumi (QS. Yunus: 101) e. Mawas Diri Mengingat tugas dokter melayani masyarakat dan tanggung jawab menyangkut nyawa dan keselamatan seseorang. Mereka sering menjadi sasaran tuduhan, itu disebabkan adanya anggapan masyarakat yang menganggap mereka adalah orang yang paling mengetahui rahasia kehidupan dan kematian. Dengan senantiasa mawas diri, seorang dokter muslim akan sadar atas segala kekurangannya sehingga di masa mendatang akan memperbaikinya, juga akan terhindar dari berbagai sifat tercela lain seperti sombong, riya, angkuh, dan lainnya. Di sanping sifat-sifat di atas, sesuai dengan tuntunan dalam akhlak Islami, khususnya yang berhubungan dengan profesi kedokteran, dokter muslim harus tulus ikhlas karena Allah SWT, penyantun, peramah, sabar, teliti, tegas, patuh pada peraturan, penyimpan rahasia, dan bertanggung jawab, dan lain-lain. f. Ikhlas, Penyantun, Ramah, Sabar dan Tenang.

Dokter muslim juga harus ikhlas dalam menjalankan pekerjaannya, semua dilakukan sebagai ibadah untuk mencari ridha Allah SWT. Berbuat ikhlas sangat dituntut dalam Islam sebagaimana dinyatakan dalam Al-Quran, antara dalam ayat )( : aynitrA Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah SWT dengan memurnikan ketaatan kepada Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus. (QS. Al Bayyinat ; 5) Dokter muslim juga dituntut penyantun, ikut merasakan penderitaan orang lain sehingga berkeinginan menolongnya. Dokter muslim juga di tuntut ramah, bergaul dengan luwes dan menyenangkan. Juga di tuntut bersikap sabar, tidak emosional dan lekas marah, tenang, penyantun, ramah, sebagaiaman dianjurkan dalam ayat Al-Quran : )(

Artinya : Maka disebabkan rahmat dari Allah SWT lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. (QS.Ali Imran : 159) Dokter muslim dituntut memiliki kesabaran dalam menghadapi segala masalah, tidak emosional dan tidak cepat marah. Sikap sabar sangat dituntut dalam Islam, antara lain disebutkan dalam AlQuran : (42) )24( Artinya : Tetapi orang yang bersabar dan memaafkan sesungguhnya (perbuatan) yang demikian itu termasuk hal-hal yang diutamakan. (QS. Al- Syura : 43) Dokter muslim juga dituntut bersikap tenang, tidak gugup dalam menghadapi segawat apapun. Nabi barsabda yang artinya Bersikap tenang kamu sekalian (HR al-Thabrani da alBaihaqi). Dalam menjalankan profesinya, dokter muslim juga dituntut melakukannya dengan teliti, bersifat hati-hati, cermat dan rapi. Nabi bersabda : Artinya Sesungguhnya Allah SWT menyukai bila seseorang di antara kalian mengerjakan pekerjannya dengan teliti. (HR. al-Baihaqi) Sikap tegas, tidak ragu-ragu dalam menentukan sikap juga dituntut kepada dokter muslim. Nabi bersabda yang artinya Jika ada keraguan dalam hatimu, tinggalkanlah itu. (HR.Ahmad). Banyak peraturan yang mesti ditegakkan oleh dokter muslim, baik yang berhubungan dengan profesi kedokteran, berbangsa dan bernegara, lebih-lebih dalam beragama. Tunduk patuh pada peraturan sangat dianjurkan dalam Islam, sebagaimana anjuran Nabi dari Anas bin Malik, dari Nabi SAW bersabda: Dengarkanlah dan patuhilah walaupun dijadikan kepala atasmu seorang Habasyi(HR. Bukhari) Dalam menjalankan pekerjaannya, jika seorang dokter muslim mendapatkan sesuatu yang tidak baik pada pasiennya maka dituntut agar merahasiakannya. Nabi bersabda :

Artinya : Barang siapa menutupi aurat seorang muslim di dunia maka Allah SWT akan menutupi auratnya di dunia dan akhirat (HR. Ahmad). Dokter muslim juga mesti bertanggung jawab atas segala resiko dan konsekwensi dari profesinya. Allah SWT berfirman : (34) )43( Artinya : Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, smuanya itu akan diminta pertanggung jawabnya. (QS. al Isra : 36) VI. Kepentingan Adab dalam Menjalankan Profesi Dokter Adab amat penting dalam kehidupan manusia. Islam amat menuntut umatnya agar sentiasa mempunyai adab-adab yang baik. Islam sebagai agama yang lengkap menggariskan berbagai adab dalam pelbagai kegiatan harian. Dalam perkembangan berkaitan, Dr. Haji Abdullah Siddik (1980) telah mengaitkan adab sebagai satu dasar Ahkam al-Syariati yaitu salah satu garis panduan yang sangat penting dalam kehidupan manusia. Menurut beliau Ahkam al-Syariati ialah tata tertib yang mesti dilakukan oleh umat manusia selama hidup di dunia, satu undangundang Allah untuk umat manusia, yang sempurna, yang praktis, yang dapat dipakai untuk segala zaman dan yang dapat dilakukan oleh manusia sesuai dengan kemampuan dan keperluannya dalam masalah hidup. Pada dasarnya, manusia yang dilahirkan ke dunia ini adalah ibarat kain putih yang belum dipolakan. Adab-adab yang telah digariskan dengan dengan terperinci oleh Islam akan menjadi panduan kepada ibu bapa, guru, pemimpin, masyarakat dan individu itu sendiri, termasuk seorang dokter dalam mempolakan warna hidup seseorang insan. Adab memainkan peranan penting dalam menilai buruk dan baik budi seseorang. Sebagai seorang muslim, kita dituntut supaya menuruti adab-adab yang mulia yang telah dianjurkan oleh ajaran Islam. Semua ini adalah bertujuan agar kita menjadi insan yang akan mendapat ganjaran baik di dunia dan di akhirat. Adab-adab yang digariskan oleh Islam termasuklah yang meliputi kehidupan harian, seperti adab berpakaian, adab ke masjid, adab ketika makan, dan sebagainya, maupun adab dalam menjalankan pekerjaan/profesinya, misal adab dokter terhadap pasien dan lingkungannya. Pendek kata adab-adab yang digariskan adalah lengkap dan meliputi keseluruhan aktivitis dan kegiatan harian seseorang individu muslim. Dalam hal ini, dari segi konsepnya termasuklah adab-adab yang bersangkutan dengan kegiatan profesi seorang dokter (dan) muslim. Dokter muslim yang diinginkan Islam adalah dokter yang mampu memberikan keteladanan, unik dan

berbeda dari yang lain, tercermin di dalamnya moral, akhlak maupun adab yang Islami. Dokter yang mampu mencapai pada tingkatan tinggi dari ahlak yang mulia dan mampu menterjemahkan ke dalam kehidupan riil dalam bentuk adab dokter adalah merupakan prestasi peradaban yang terbesar. VII. Adab Dokter Muslim terhadap Pasien

1. Adab Dokter terhadap Bayi Baru Lahir 1. i. Mengadazankan (HR. Abu Dawud & Ibnu Sunni)) 2. ii. Mentahnihkkannya (mencicipkan Manisan) (HR. BukhariMuslim) 3. iii. Mendoakannya (HR. Bukhari) 1. VIII. Referensi 2. Ahmad Fauzi bin Mohammed, Ilmu, Adab, Belajar & Mengajar, dalam http://www.sach.kedah.edu.my/esei_karya, dowload Maret 2008. 3. Ali Akbar, 1988, Etika Kedokteran dalam Islam, Pustaka Antara, Jakarta. 4. Majid Ramadhan, 2004, Karakteristik Dokter Muslim, Pustaka Al-Kautsar, Jakarta. 5. Muhammad Agus Syafii, Pengertian Adab, dalam http://agussyafii.blogspot.com/2009/02/pengertian-adab.html, download 15 Aprill 2009. 6. Muzhoffar Akhwan, 1987, Perawatan Orang Sakit dan Sakharatul Maut dalam Perawatan Jenazah menurut Islam/Medis, Badan Pembina dan Pengembangan Keagamaan, UII, Yogyakarta. 7. Shahid Athar, 2001, Islam dan Etika Kedokteran, Fakultas Kedokteran Universitas Muhamadiyah Yogyakarta. 8. Tharmizi Taher, 2003, Medical Ethics, Manual Praktis Etika Kedokteran untuk Mahasiswa, Dokter dan Tenaga Kesehatan, PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta. 9. Zuhair Ahmad Assi Bai, 1996, Dokter-dokter Bagaimana Ahlakmu, Gema Insani Press, Jakarta.