PITIRIASIS ROSEA

Pembimbing: Prof. Dr. dr. Unandar Budimulja, SpKK(K)
Disusun Oleh: Billy Jonatan 406091045

Kepaniteraan Klinik Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Rumah Sakit Sumber Waras Periode 25 April 2011 - 28 Mei 2011

KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, yang telah memberikan rahmat dan bimbingan-Nya sehingga referat yang berjudul “Pitiriasis Rosea” ini dapat selesai tepat pada waktunya. Referat ini disusun dalam rangka memenuhi tugas Kepaniteraan Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara di Rumah Sakit Sumber Waras serta agar dapat menambah kemampuan dan ilmu pengetahuan bagi para pembacanya. Pada kesempatan ini penulis ingin mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya atas bantuan, bimbingan dari:     Prof. Dr. dr. Unandar Budimulja, SpKK(K) dr. Linda Julianti Wijayadi, SpKK dr. Junarti Karmadi Setiabrata dr. Sofia Wily Penulis menyadari referat ini masih jauh dari sempurna, oleh sebab itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun agar referat ini dapat disempurnakan di masa yang akan datang.

Jakarta, 1 Mei 2011

Penulis

i

.................................................4.................................. 5 VARIASI PITIRIASIS ROSEA.......................... 11 DIAGNOSA.... 2 DEFINISI...................... 12 DIAGNOSA BANDING................ 14 II........................................... 8 LABORATORIUM...................................................................................................................................... PENDAHULUAN........ II........................................................ 14 II......... II...........................5........................................................DAFTAR ISI KATA PENGANTAR................................................8....................................................... 5 GEJALA KLINIS........................... II............... BAB II............................................3...................................................................................................... II....................................11..................................................... 3 HISTOPATOLOGI........... iii BAB I................... II........ II................... 2 ETIOLOGI...................................9........................ ii DAFTAR GAMBAR...................................... iv ii ......................................................................... KOMPLIKASI............................................ 16 BAB III..................................................................................................................... PROGNOSA............................ PENATALAKSANAAN..............10............................................... 1 PITIRIASIS ROSEA.... II......................................... II...........12...7................................................................................... 12 II.............................................................................. 2 EPIDEMIOLOGI....................................6....................................................................... II...........................1................ RESUME........................................................................2.. i DAFTAR ISI.... 17 DAFTAR PUSTAKA...............................

.......... 11 iii ..................................................10 Gambar 8...... Gambaran Histopatologis Pitiriasis Rosea.....................................................................................................5 Gambar 2. Herald Patch................. Purpuric Pitiriasis Rosea................................... 9 Gambar 6......................................7 Gambar 4............. Pitiriasis Rosea Unilateralis............................................ 8 Gambar 5....................... Pitiriasis Rosea Inversa................ Vesicular Pitiriasis Rosea......................................................DAFTAR GAMBAR Gambar 1......................................................................................................................................... 10 Gambar 7............................................................................... Inverted Christmas Tree............... 6 Gambar 3... Papular Pitiriasis Rosea.........

1 Istilah Pitiriasis Rosea pertama kali dideskripsikan oleh Robert Willan pada tahun 1798 dengan nama Roseola Annulata. tidak nafsu makan. sifilis sekunder.Pitiriasis Rosea BAB I PENDAHULUAN Pitiriasis Rosea adalah penyakit kulit yang belum diketahui penyebabnya yang dimulai dengan sebuah lesi perimer yang dikarakteristikkan dengan gambaran herald patch berbentuk eritema dan skuama halus yang kemudian diikuti dengan lesi sekunder yang mempunyai gambaran khas. pembesaran kelenjar limfe). Setelah itu muncul gatal dan lesi di kulit. mual.5 : 1.1 Kepaniteraan Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Rumah Sakit Sumber Waras Periode 25 April 2011 . Pitiriasis Rosea bisa didahului dengan gejala prodromal (lemas.3 Wanita lebih sering terkena dibandingkan pria dengan perbandingan 1. demam. Gilbert memberi nama Pitiriasis Rosea yang berarti skuama berwarna merah muda (rosea).2 Insiden tertinggi pada usia antara 15 – 40 tahun. kemudian pada tahun 1860.2 Diagnosis Pitiriasis Rosea dapat ditegakkan dengan anamnesis dan pemeriksaan fisik. nyeri sendi.28 Mei 2011 1 . dan sebagainya. Dapat juga dilakukan pemeriksaan penunjang untuk memastikan diagnosis apabila sulit menegakkan diagnosis Pitiriasis Rosea.4 Banyak penyakit yang memberikan gambaran seperti Pitiriasis Rosea seperti dermatitis numularis.

6 Prevalensinya tidak dipengaruhi oleh golongan ras Kepaniteraan Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Rumah Sakit Sumber Waras Periode 25 April 2011 . diduga virus sebagai penyebab timbulnya erupsi. umumnnya menyerang anak-anak dan dewasa muda yang sehat.4 Insidensnya meningkat terutama pada musim semi.7 Namun bagaimanapun penyakit ini bisa muncul dari usia 3 bulan sampai dengan 83 tahun.4. Penyakit ini merupakan salah satu dari penyakit kulit yang paling sering ditemukan pada praktek klinis.4.4.5 II. kelainan kulit berupa timbulnya papuloskuamosa yang dapat hilang dengan sendirinya.3. 4 Riwayat perjalanan penyakit dan penemuan klinis yang didapatkan hampir selalu sama. musim gugur.1. atau di daerah bahu.2. paha atas.28 Mei 2011 2 .9 Penyakit ini terdapat di seluruh dunia dan didapatkan kira-kira sebanyak 2% dari setiap kunjungan pasien yang berobat jalan pada ahli penyakit kulit.4 Lesi yang timbul bisa disalahartikan sebagai infeksi jamur atau dermatitis. dan musim dingin. tidak merasakan gejala yang berarti. walaupun sebenarnya dapat ditemukan pada semua umur. Prevalensi terjadinya pitiriasis rosea lebih banyak ditemukan pada golongan sosioekonomi masyarakat kelas menengah dan yang kurang mampu. EPIDEMIOLOGI Kurang lebih 75% kasus pitiriasis rosea didapatkan pada usia antara 10-35 tahun.6.8.3. kemudian timbul bercak merah dan bersisik yang bisa muncul di batang tubuhnya.5 Puncak insidensnya terdapat pada usia antara 20-29 tahun.Pitiriasis Rosea BAB II PITIRIASIS ROSEA II. Anak ataupun dewasa muda yang terkena penyakit ini.4 Insidens pada pria dan wanita hampir sama. Pitiriasis rosea mungkin akan lebih sulit untuk didiagnosa apabila lesi-lesi kecil yang muncul setelah lesi pertama belum didapatkan secara klinis.6 Namun ada juga yang mengatakan puncak insidensinya terdapat pada usia antara 15-40 tahun.3. Penyebabnya belum diketahui. walaupun sedikit lebih banyak ditemukan pada wanita. DEFINISI Pitiriasis rosea ialah penyakit akut.

Sudah lama dipikirkan bahwa virus sebagai penyebab timbulnya penyakit ini. kulit yang sehat. dan serum dari pasien penderita pitiriasis rosea.Pitiriasis Rosea tertentu. air liur.5. ETIOLOGI Penyebab terjadinya pitiriasis rosea masih belum diketahui.3. dan pada air liur. Dalam suatu penelitian. namun beberapa penelitian telah gagal menunjukkan bukti-bukti yang meyakinkan. Pitiriasis rosea tidak disebabkan langsung oleh infeksi virus Kepaniteraan Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Rumah Sakit Sumber Waras Periode 25 April 2011 . Human herpes virus 7 telah dikemukakan sebagai penyebabnya.3.10 Sumber lain mengatakan beberapa penulis menduga herpes simpleks virus 10 yang menjadi penyebabnya.3.4 II. terutama CD-4 dan sel T. Mereka mendemonstrasikan replikasi aktif dari HHV-6 dan HHV-7 dalam sel mononuklear pada lesi kulit. karena adanya gejala prodromal yang biasa muncul pada infeksi virus bersamaan dengan munculnya bercak kemerahan di kulit. hal ini sama dengan mengidentifikasi virus-virus pada sampel serum pasien. sel mononuklear darah perifer.8 Penelitian baru-baru ini menemukan bukti dari infeksi sistemik aktif HHV-6 dan HHV-7 pada kulit yang kelainan. Partikelpartikel virus ini ditemukan dalam jumlah banyak diantara serat-serat kolagen dan pembuluhpembuluh darah pada lapisan dermis atas dan bawah.28 Mei 2011 3 . partikel HHV telah terdeteksi pada 70% pasien penderita pitiriasis rosea.4 Erupsi kulit yang timbul dianggap sebagai reaksi sekunder akibat reaktivasi virus yang mengarah pada terjadinya viremia.6 Penelitian yang dilakukan akhirakhir ini terfokus pada peranan HHV-6 dan HHV-7 pada pitiriasis rosea. walaupun sudah dikemukakan beberapa dugaan penyebab timbulnya penyakit ini. Partikel virus ini juga berada selangseling diantara keratinosit dekat dengan perbatasan dermal-epidermal. tapi dapat juga didapatkan variasi lamanya sakit yang berbeda. Penyakit ini biasanya bertahan antara 6-8 minggu.3 Dimana virus-virus ini hampir kebanyakan didapatkan pada masa kanak-kanak awal dan tetap ada pada fase laten dalam sel mononuklear darah perifer. Terdapat hipotesis bahwa reaktivasi HHV-7 memicu terjadinya reaktivasi HHV-6. Namun apa yang menjadi pemicu utama reaktivasi HHV-7 masih belum jelas.4 Watanabe dkk telah membuktikan kepercayaan yang sudah lama ada bahwa pitiriasis rosea merupakan kelainan kulit yang disebabkan oleh virus.

10 Toksoid difteri4 Senyawa emas3.10 Captopril3.28 Mei 2011 4 .4.4 Methopromazine3.6. Bukti lain mengesankan reaktivasi virus mencakup kejadian timbulnya kembali penyakit dan timbulnya pitiriasis rosea pada saat status imunitas seseorang mengalami perubahan.6 Bismuth4.4.6. dan penerima transplantasi sumsum tulang.10 Isoretinion4 Levamisole4 Metronidazole4 Terbinafine4 Interferon3.4 Ketotifen (Zaditor)3.4 Chlamydia pneumonia. tapi kemungkinan disebabkan karena infiltrasi kutaneus dari infeksi limfosit yang tersembunyi pada waktu replikasi virus sistemik.4 Omeprazole4 Hidroksiklorokuin4 Lisinopril3.4.4. seperti ibu hamil.4.6 Arsen3 Ergotamine3 Vaksin Hepatitis B4.Pitiriasis Rosea herpes melalui kulit. namun belum ada penelitian yang menunjukkan kenaikan kadar antibodi yang signifikan terhadap mikroorganisme yang telah disebutkan di atas pada penderita pitiriasis rosea. Mycoplasma pneumonia dan Legionella pneumonia telah dikemukakan sebagai agen penyebab pitiriasis rosea yang berpotensi kuat.4 Tripelennamine hidroklorida3 Penicillamine10 Vaksin pneumokokus pada anak dengan sindrom nefrotik4 Kepaniteraan Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Rumah Sakit Sumber Waras Periode 25 April 2011 .6 D-penicillamine4 Imatinib (Gleevec)3.6 Erupsi kulit yang mirip dengan pitiriasis rosea dapat timbul sebagai akibat dari reaksi obat. Didapatkan sedikit peningkatan insidens pitiriasis rosea pada pasien yang sedang menurun imunitasnya.6 Clonidine3. Macammacam obat yang berhubungan dengan munculnya erupsi kulit mirip pitiriasis rosea antara lain: Barbiturat3.

4. demam.com/article/1107532-workup#a0723) II.medscape. Gambaran histopatologi dari pitiriasis rosea meliputi:      Akantosis ringan Parakeratosis fokal Ekstravasasi eritrosit ke lapisan epidermis Spongiosis dapat ditemukan pada kasus akut Infiltrat perivaskular ringan dari limfosit ditemukan pada dermis. dan artralgia. malaise.6 Sumber lain menyebutkan kira-kira 5% dari kasus pitiriasis rosea didahului dengan gejala prodormal berupa sakit kepala. HISTOPATOLOGI Pemeriksaan histopatologi sangat membantu dalam meyingkirkan diagnosa banding. rasa tidak nyaman di saluran pencernaan.Pitiriasis Rosea II. Gambaran Histopatologis Pitiriasis Rosea (http://emedicine. GEJALA KLINIS Kurang lebih pada 20-50% kasus. bercak merah pada pitiriasis rosea didahului dengan munculnya gejala mirip infeksi virus seperti gangguan traktus respiratorius bagian atas atau gangguan gastrointestinal. yang secara Kepaniteraan Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Rumah Sakit Sumber Waras Periode 25 April 2011 .4 Lesi utama yang paling umum ialah munculnya lesi soliter berupa makula eritem atau papul eritem pada batang tubuh atau leher.5.28 Mei 2011 5 .3 Gambar 1.

hal ini disebut dengan “Hanging curtain sign”. dan saat lesi ini akan mulai hilang.Pitiriasis Rosea bertahap akan membesar dalam beberapa hari dengan diameter 2-10 cm. berbentuk oval dengan skuama tipis.4.4 Bentuknya bervariasi dari makula berbentuk oval hingga plak berukuran 0.everydayhealth.6 Umum ditemukan beberapa lesi berbentuk anular dengan bagian tengahnya yang tampak lebih tenang.com/skin-and-beauty-pictures/skin-condition-pityriasis-rosea.9 Insidens munculnya Herald patch dilaporkan sebanyak 12-94%. Warnanya pink salmon (atau berupa hiperpigmentasi pada orang-orang yang berkulit gelap) dan khasnya terdapat koleret dari skuama di bagian tepinya.5.4 Jika lesi ini digores pada sumbu panjangnya. Herald Patch (http://www.8.28 Mei 2011 6 . maka skuama cenderung untuk melipat sesuai dengan goresan yang dibuat.aspx) Kepaniteraan Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Rumah Sakit Sumber Waras Periode 25 April 2011 .10 Lesi yang pertama muncul ini disebut dengan Herald patch/Mother plaque/Medalion.6 Gambar 2.6. Herald patch ini akan bertahan selama satu minggu atau lebih. efloresensi lain yang baru akan bermunculuan dan menyebar dengan cepat.6. dan pada banyak penelitian kira-kira 80% kasus pitiriasis rosea ditemukan adanya Herald patch.5-2 cm dengan tepi yang sedikit meninggi.3 Namun kemunculan dan penyebaran efloresensi yang lain dapat bervariasi dari hanya dalam beberapa jam hingga sampai 3 bulan. berwarna pink salmon.

5 Gambar 3. tungkai bawah. Hal ini nampak tidak sesuai jika kita bandingkan dengan arsitektur dari pohon natal sebenarnya.5 Namun sesekali bisa didapatkan pada daerah tertentu seperti leher.8 Tampilannya tampak seperti pohon natal yang terbalik (inverted christmas tree appearance). dan wajah. namun jika dilihat dari depan maka garisnya mengarah ke atas dari sentral abdomen. Hal ini membingungkan karena susunan lesi yang muncul membentuk garis yang mengarah ke bawah dari columna vertebra bila dilihat dari belakang.6 Lesi-lesi ini muncul terutama pada batang tubuh dengan sumbu panjang sejajar pelipatan kulit. Pada daerah ini lesi berupa bercak dengan bentuk sirsinata yang bergabung dengan tepi yang tidak rata sehingga sangat mirip dengan Tinea corporis.com/health/medical/IM00515) Lokasinya juga sering ditemukan di lengan atas dan paha atas. sela paha. terlepas dari tampilan lesi yang mirip dengan pohon natal. Lesi-lesi yang muncul berikutnya jarang menyebar ke lengan bawah.mayoclinic. biasanya Kepaniteraan Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Rumah Sakit Sumber Waras Periode 25 April 2011 . Inverted Christmas Tree (http://www.Pitiriasis Rosea Pada pitiriasis rosea gejalanya akan berkembang setelah 2 minggu. Fase penyebaran ini secara perlahan-lahan akan menghilang setelah 2-4 minggu. dimana ia mencapai puncaknya.4 Sumber lain yang menyebut erupsi kulit akan menghilang secara spontan setelah 3-8 minggu. terbalik ataupun tidak. Karenanya akan ditemukan lesi-lesi kecil kulit dalam stadium yang berbeda.28 Mei 2011 7 .3 Namun pada beberapa kasus dapat juga bertahan hingga 3-5 bulan. Gatal ringan-sedang dapat dirasakan penderita.4. Tapi bagaimanapun. tidak diragukan lagi Herald patch merupakan lesi patognomonik dari pitiriasis rosea. atau aksila.

dan genitalia. jenisnya sendiri tidak khas.5% kasus. o Umumnya terjadi pada anak-anak.3 Efek dari terapi yang berlebih atau adanya dermatitis kontak. 25% penderitanya tidak merasakan gatal.Pitiriasis Rosea saat timbul gejala. Predileksi tempat yang atipikal mencakup telapak kaki.4 Gambar 4.28 Mei 2011 8 . Yang lebih tidak umum lagi.html)  Pitiriasis rosea unilateralis o Lesinya tidak melewati garis median tubuh. hanya sedikit yang terdapat di tubuh. contohnya ruam kulit bisa dikelilingi oleh vesikel-vesikel. berkeringat. Ekskoriasi jarang ditemukan. dan penegakan diagnosanya tergantung dari manifestasi klinis yang ada dan lesi utama berupa Herald patch.3 Gatal merupakan hal yang biasa dikeluhkan dan gatalnya bisa menjadi parah pada 25% pasien. Pitiriasis Rosea Inversa (http://www. umum ditemukan. Akan tetapi. multipel Herald patch ditemukan pada 5.6.org/afp/2004/0101/p87.4 Relaps dan rekurensi jarang sekali ditemukan.aafp.8 Terkadang pitiriasis rosea bisa muncul dalam bentuk distribusi yang tidak khas. II. wajah.4 Kepaniteraan Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Rumah Sakit Sumber Waras Periode 25 April 2011 . atau akibat dari pakaian yang ketat. Sebagai tambahan. Gatal akan lebih dirasakan saat kulit dalam keadaan basah.  VARIASI PITIRIASIS ROSEA Pitiriasis rosea inversa o Lesi kulit banyak terdapat di wajah dan distal ekstremitas. scalp. daerah fleksor seperti aksila dan sela paha.

9 o Warna makula bisa terlihat lebih gelap dibanding kulit sekitarnya.3.4.28 Mei 2011 9 .jpg)    Pitiriasis rosea giganta o Ditemukan papul-papul atau plak yang besar. Pitiriasis Rosea Unilateralis (http://www. o Dapat menyerupai psoriasis gutata.Pitiriasis Rosea Gambar 5.com/articles/2003/69/1/images/ijdvl_2003_69_1_42_5823_1.4  Papular pitiriasis rosea o Umum ditemukan pada anak usia dibawah 5 tahun (toddler).ijdvl.4 o Predileksi tempatnya sama seperti bentuk umumnya atau dapat juga pada daerah lipatan.4 Pitiriasis circinata et marginata of Vidal o Bila plak-plak yang besar bergabung menjadi satu.3 Kepaniteraan Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Rumah Sakit Sumber Waras Periode 25 April 2011 .4 Pitiriasis rosea irritata o Varian dengan lesi berupa makula dengan predileksi tempat yang tidak khas (pergelangan tangan dan kaki).3. yang makin lama mengalami perubahan dermatologi akibat iritasi berat atau keringat yang berlebih.4 o Terutama pada anak berkulit gelap keturunan Afrika dan wanita hamil.

jpg)  Vesicular pitiriasis rosea o Lebih sering ditemukan pada anak-anak dan dewasa muda.28 Mei 2011 10 .suite101. anak-anak dan dewasa sama banyak.3 Kepaniteraan Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Rumah Sakit Sumber Waras Periode 25 April 2011 .4 o Manifestasi klinisnya berupa petechie. o Menyerupai infeksi varisela.cdlib. dan ekimosis sepanjang Langer line pada leher.org/143/case_reports/VesicularPR/1.4 Gambar 7.jpg)  Purpuric pitiriasis rosea o Hanya ada 10 kasus yang dilaporkan. o Secara histopatologi terdapat perbedaan pada ekstravasasi eritrosit ke stratum papilare dermis tanpa adanya bukti vaskulitis.Pitiriasis Rosea Gambar 6. Vesicular Pitiriasis Rosea (http://dermatology. tubuh dan ekstremitas proksimal.com/797607_com_papular_pi. Papular Pitiriasis Rosea (http://images.

Pitiriasis Rosea o Lesinya mungkin dengan skuama yang lebih sedikit atau didominasi oleh pustule atau purpura. o Menyerupai urtikaria akut.br/img/revistas/abd/v78n2/13369f1. Pada pasien dengan riwayat adanya penyakit hubungan seksual atau bekerja sebagai PSK yang membuat mereka termasuk dalam faktor risiko. Purpuric Pitiriasis Rosea (http://www. Tidak ada tes laboratorium yang membantu dalam membuat diagnosa.6 Oleh karena itu. menanyakan riwayat hubungan seksual penting jika diagnosa pitiriasis rosea masih diragukan. pemeriksaan serologis untuk sifilis perlu untuk dilakukan.6. terutama pada orang-orang yang memiliki banyak pigmen.28 Mei 2011 11 .4 II.4 Gambar 8. o Cenderung meninggalkan tanda hipo atau hiperpigmentasi postinflamasi setelah sembuh. Hasil biopsi lesi kulit yang dilakukan hanya menampakkan terjadinya inflamasi nonspesifik.jpg)  Urticarial pitiriasis rosea o Varian yang jarang ditemukan.7. Harus diingat bahwa sifilis sekunder juga termasuk dalam erupsi papuloeritroskuamosa dan dapat sulit dibedakan dari pitiriasis rosea jika hanya berdasarkan penemuan klinis.scielo. LABORATORIUM Pitiriasis rosea merupakan diagnosa klinis.10 Kepaniteraan Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Rumah Sakit Sumber Waras Periode 25 April 2011 .

7. Pada pemeriksaan klinis minimal terdapat dua lesi dari tiga kriteria di bawah ini:    Makula berbentuk oval atau sirkuler. serta adanya kondiloma lata atau alopesia. Terdapatnya koleret pada tepi lesi dengan bagian tengah yang lebih tenang.8 Tes serologis terhadap sifilis perlu dilakukan terutama jika gambarannya tidak khas dan tidak ditemukan Herald patch. namun biasanya pada sifilis sekunder lesi juga terdapat di telapak tangan. Sifilis stadium II gejalanya menyerupai pitiriasis rosea.4 Kepaniteraan Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Rumah Sakit Sumber Waras Periode 25 April 2011 .9 Sifilis stadium II dapat menyerupai pitiriasis rosea. telapak kaki. harus dipikirkan kemungkinan sifilis stadium II jika pasien masih aktif berhubungan seksual dan tidak didapatkannya gambaran yang khas dari pitiriasis rosea.6.9. biopsi kulit juga mungkin bermanfaat. atau dengan pemeriksaan mikroskop lapangan gelap. Anamnesa harus bisa memberikan informasi yang berkenaan dengan munculnya erupsi kulit pertama kali dan pengobatan apa saja yang sudah dilakukan oleh pasien. Informasi mengenai gejala prodormal atau infeksi traktus respiratorius bagian atas harus bisa didiapatkan.9.8. mulut. Skuama menutupi hampir semua lesi.Pitiriasis Rosea II.8. Pada pemeriksaan fisik harus didapatkan adanya erupsi kulit berupa papiloeritroskuamosa.10 Tidak ada keluhan gatal (99%). uji VDRL. DIAGNOSA Diagnosa pitiriasis rosea ditegakkan berdasarkan anamnesa dan pemeriksaan fisik. Ada riwayat lesi pada alat genital. Evaluasi yang tepat meliputi uji floresen antibodi langsung dari eksudat lesi. Sifilis stadium II (yang paling penting)4.4. Untuk membedakannya perlu dilakukan pemeriksaan serologis terhadap sifilis. membran mukosa.4 II.28 Mei 2011 12 . DIAGNOSA BANDING Diagnosa banding dari pitiriasis rosea mencakup: 1.

Penyakit ini dapat berkembang menjadi mikosis fungoides. serta transparan. skuama.8 Penyakit ini jarang ditemukan.10 Kelainan kulit yang terdiri atas bercak-bercak eritem yang meninggi (plak) dengan skuama diatasnya.9 Herald patch atau bercak yang besar pada pitiriasis rosea dapat menyerupai tinea corporis.4. kulit kepala dan alis mata biasanya berskuama dan ruam kulitnya ditutupi skuama yang berminyak dengan predileksi tempat di sternum. Besar kelainan bervariasi. Umumnya setelah infeksi Streptococcus di saluran napas bagian atas sehabis influenza atau morbili.3 Kepaniteraan Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Rumah Sakit Sumber Waras Periode 25 April 2011 . regio intercapsular.Pitiriasis Rosea 2. Psoriasis gutata4.3 Lesinya memiliki lebih banyak papul dan berwarna violet/lembayung.6 Namun pada tepinya bisa terdapat papul. Bagian tepi lesi yang lebih aktif pada infeksi jamur ini menunjukkan adanya hifa pada pemeriksaan sitologi atau pada kultur. atau vesikel.6 5. kasar dan berwarna putih seperti mika.11 3. dengan skuama.8 4.4 Tinea corporis jarang menyebar luas pada tubuh.6. dan permukaan fleksor dari persendian-persendian. ditemukan di membran mukosa mulut dan bibir. Tinea corporis3. Eritem sirkumskrip dan merata. Namun tidak terdapat koleret dan predileksi tempatnya pada tungkai.4 Tinea corporis juga memiliki lesi papuloeritemaskuamosa yang bentuknya anular.4. Dermatitis numularis4.8.4. pada bentuk yang kronis mungkin didapatkan “cigarrete paper” atrofi.8 Dapat menyerupai pitiriasis rosea papular. jika seluruhnya atau sebagian besar lentikuler disebut sebagai psoriasis gutata. yang membedakannya dengan pitiriasis rosea. tetapi pada stadium penyembuhan sering eritem yang di tengah menghilang dan hanya terdapat di pinggir.6 Gambaran lesinya berbentuk seperti koin dengan skuama yang dapat menyerupai pitiriasis rosea. Parapsoriasis (Pitiriasis lichenoides kronik)4. dan central healing. terutama pada anak dan dewasa muda. Lichen planus3.7. pustul. daerah yang biasanya jarang terdapat lesi pada pitiriasis rosea.9 Pada dermatitis seboroik.3 7.28 Mei 2011 13 .8 6. Skuama berlapis-lapis. Dermatitis seboroik3.

9 Senyawa emas dan captopril paling sering menimbulkan kelainan ini.9 Karakterisitk dari pitiriasis versikolor ialah bercak merah.8 Diagnosa dapat ditegakkan dengan mencari adanya hifa dan spora pada skuamanya dengan menggunakan lampu Wood dan larutan KOH. Gambaran klinisnya ialah lesinya tampak lebih besar dengan skuama yang menutupi hampir seluruh lesi. penyakit ini tidak menular.7. KOMPLIKASI Gatal yang hebat bisa saja terjadi dan mengarah pada pembentukan eksema dan infeksi sekunder akibat garukan.3 Penatalaksanaan pada pasien yang datang berobat pertama kali: a.6. PENATALAKSANAAN Kebanyakan pasien tidak memerlukan pengobatan karena sifatnya yang asimptomatik. Colloidal bath 1 bungkus bubur gandum Aveeno dituangkan ke dalam bak mandi atau ember besar yang berisi 6-8 inci air yang hangatnya suam-suam kuku. Sebagai tambahan. sedikit yang ditemukan adanya Herald patch. umumnya sering didapatkan adanya lesi pada mulut berupa hiperpigmentasi postinflamasi. Tenangkan pasien bahwa ia tidak memiliki penyakit sistemik dalam tubuhnya.4 Skuama halus tampak terlihat saat pemeriksaan menggoreskan kuku jari pada lesi.10.28 Mei 2011 14 . dan biasanya tidak akan berulang kembali. b.4.4 II. putih.10 Setelah diketahui macam-macam obat yang bisa menginduksi timbulnya erupsi kulit mirip pitiriasis rosea. erupsi kulit mirip pitiriasis rosea karena obat yang berlangsung lama dikatakan ada hubungannya dengan AIDS.11. Pitiriasis versikolor4. Pasien diminta untuk mandi Kepaniteraan Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Rumah Sakit Sumber Waras Periode 25 April 2011 . kasusnya sudah berkurang sekarang.3 II.8. Erupsi kulit mirip pitiriasis rosea oleh karena obat3.4 9.Pitiriasis Rosea 8.8. atau coklat berbentuk anular dengan skuama.

m. sebanyak 1-2 kali seminggu. Lotion kocok putih non-alkohol atau Calamine lotion digunakan 2 kali sehari pada lesi kulit. diberikan 2 kali sehari selama 2 minggu.4. telah dicoba oleh beberapa penulis.9 Dapson yang diberikan per oral bekerja efektif pada 1 pasien dengan pitiriasis vesicular berat. Steroid sistemik seperti triamcinolone 20-40 mg i.o. Gejala klinis yang berat akan berkurang namun tidak akan berpengaruh terhadap rasa gatal dan lamanya sakit. Selain obat-obat di atas diberikan pula prednison 5 mg. gunakan 2 kali sehari pada daerah yang kering. Antihistamin jika ada keluhan gatal. hentikan pemakaian lotion atau diganti dengan krim atau salep hidrokortison 1%. kemudian 3 kali 1 tablet selama 4 hari. Akan tetapi asiklovir yang merupakan drug of choice untuk virus herpes simpleks tidak efektif terhadap HHV-6 Kepaniteraan Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Rumah Sakit Sumber Waras Periode 25 April 2011 .8 Dari suatu penelitian diketahui eritromisin dosis 250 mg yang diberikan 4 kali sehari pada orang dewasa dan dosis 25-40 mg/kgBB dibagi dalam 4 dosis untuk anak-anak. b. mungkin dapat mengurangi penyebaran ruam yang meluas dengan cepat atau pada kasus yang berat.8 Jika disertai dengan gatal hebat: a. d.28 Mei 2011 15 . dalam waktu 2 minggu semua gejala klinis yang nampak sebelumnya telah hilang. e.3. Teruskan fototerapi. atau prednison 15-40 mg p. sampai gatalnya menghilang.Pitiriasis Rosea selama 10-15 menit setiap harinya. Diberikan 4 kali 1 tablet selama 3 hari. kemudian 2 tablet setiap pagi selama 1-2 minggu. b. Eritromisin 250 mg.4 Karena HHV-6 dan HHV-7 diduga berperan dalam timbulnya pitiriasis rosea. pengobatan dengan antivirus herpes mungkin memberikan manfaat. c. Jika kulitnya menjadi terlalu kering karena Colloidal bath dari lotionnya.8 Kunjungan berikutnya: a. Terapi UVB dapat diberikan pada kasus dengan peningkatan suberitem. dimulai dengan dosis 100 mg sebanyak 2 kali sehari. Hindari sabun dan air panas sebisanya untuk mengurangi rasa gatal yang ada.

Untuk kulit yang kering dan iritasi.4.  Pasien sebaiknya diminta untuk datang kembali apabila ruam masih tetap ada setelah 3 bulan lebih dari re-evaluasi dan akan bijaksana jika dipikirkan adanya diagnosa lain.10 Satu-satunya efek samping dari terapi ini ialah kulit yang terasa sedikit perih dan kekeringan pada kulit.Pitiriasis Rosea dan HHV-7. Relaps dan rekuren jarang ditemukan.3 Fototerapi dapat bermanfaat pada kasus-kasus yang lama penyembuhannya. Mereka harus ditenangkan hatinya dengan meyakinkan bahwa pitiriasis rosea akan sembuh dengan sendirinya dan tidak bersifat menular. PROGNOSA Pitiriasis rosea merupakan penyakit akut yang bersifat self limiting illnes yang akan menghilang dalam waktu kurang lebih 6 minggu.4 Sejauh ini penyembuhan dengan agen antiviral tidak memberikan dampak apa-apa.3 Kepaniteraan Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Rumah Sakit Sumber Waras Periode 25 April 2011 . Gancyclovirlah yang efektif HHV-6 dan HHV-7.4 Edukasi pasien  Pasien biasanya khawatir akan berapa lama bercak di kulitnya akan hilang dan apakah penyakitnya bersifat menular.6 Dapat sembuh tanpa meninggalkan bekas.6 II.12.28 Mei 2011 16 .9 Namun pada beberapa kasus dapat juga bertahan hingga 3-5 bulan. Namun risiko terjadinya hiperpigmentasi postinfeksi dapat meningkat dengan terapi ini. emollient dapat disarankan kepada pasien. namun harganya mahal dan efek sampingnya juga banyak. pengobatan dengan antivirus herpes yang ada tidak dibenarkan. Oleh sebab itu untuk saat ini.10 Asam salisilat 1% dalam parafin putih lunak atau obat salep emulsi dapat mengurangi pembentukan skuama.5 Fototerapi UVB dapat mempercepat hilangnya erupsi kulit yang ada.

antara lain barbiturate. Predileksi tempat yang paling banyak ditemukan yaitu pada batang tubuh. lengan bawah dan tungkai bawah. tidak menular. dimana lesi primernya ialah lesi soliter berupa makula eritem atau papul eritem yang nantinya akan membesar hingga kira-kira berukuran 2-10 cm berbentuk oval. Namun apa yang menjadi penyebab reaktivasi virus ini belum diketahui.Pitiriasis Rosea BAB III RESUME Pitiriasis rosea adalah kelainan kulit yang termasuk dalam golongan dermatosis papuloeritroskuamosa yang sering ditemukan. namun dalam suatu penelitian. captopril. Lesi kulit ini dapat menghilang secara spontan Kepaniteraan Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Rumah Sakit Sumber Waras Periode 25 April 2011 . dengan koleret dari skuama di bagian tepinya. clonidine dan lain sebagainya seperti yang telah disebutkan dalam pembahasan.5-2 cm berwarna kemerahan atau dapat juga berupa hiperpigmentasi pada orang-orang yang berkulit gelap. sifatnya akut. Penyebaran lesi pada batang tubuh sumbu panjangnya mengikuti garis lipatan kulit. Beberapa kasus menunjukkan lesi menyebar hingga ke leher. pada daerah punggung lesi tersebar membentuk gambaran pohon natal yang terbalik (inverted christmas tree appearance) atau huruf V terbalik. Erupsi kulit pada pitiriasis rosea memiliki ciri khas tertentu. kemudian juga di lengan atas dan paha atas.28 Mei 2011 17 . Satu sampai dua minggu setelah lesi primer timbul akan diikuti dengan munculnya lesi-lesi lain berupa makula berbentuk oval hingga plak berukuran 0. Ada juga beberapa jenis obat yang menimbulkan erupsi kulit mirip dengan pitiriasis rosea. Namun jarang menyebar hingga ke wajah. self limiting disease. partikel HHV telah terdeteksi pada 70% pasien penderita pitiriasis rosea. dan biasanya didapatkan pada anak-anak dan dewasa muda. sedangkan pada daerah dada dan perut penyebaran lesi membentuk huruf V. aksila dan sela paha. Lesi primer ini disebut sebagai Herald patch/Mother plaque/Medalion. berwarna kemerahan dengan skuama tipis dan bisa terdapat koleret di tepinya. Dimana virus-virus ini memang ditemukan pada masa kanak-kanak awal dan tetap ada pada fase laten. senyawa emas. Etiologinya masih belum diketahui.

irritate. Untuk keluhan gatal yang ringan sampai sedang dapat diberikan kortikosteroid topikal. dan biasanya tidak ada keluhan dari penderita kecuali gatal ringan sampai sedang. Selain pemberian obat-obatan. dapat dibedakan berdasarkan predileksi tempatnya serta efloresensi yang dominan.Pitiriasis Rosea dalam waktu 3-8 minggu. namun tidak dapat mengurangi rasa gatal yang timbul dan tidak mempercepat penyembuhan erupsi kulit. bedak yang mengandung asidum salisilikum.28 Mei 2011 18 . papular dan lain sebagainya. Umumnya pengobatan yang diberikan untuk pitiriasis rosea hanya bersifat simptomatis. Pemeriksaan laboratorium yang biasa dilakukan bertujuan untuk menyingkirkan diagnosa banding sifilis sekunder karena keduanya cukup sulit untuk dibedakan terutama pada tipe pitiriasis rosea yang atipikal (tidak khas). Namun bila gatalnya sangat mengganggu dapat diberikan kortikosteroid sistemik. Pemeriksaan histopatologi sangat membantu dalam menyingkirkan diagnosa banding. pada anamnesa harus dicari ada tidaknya riwayat prodormal sebelum timbulnya erupsi kulit. erupsi obat. dermatitis seboroik. Beberapa penyakit yang menyerupai gambaran klinis pitiriasis rosea selain sifilis sekunder diantaranya pitiriasis versikolor. psoriasis. Tidak ada tes laboratorium yang menunjang diagnosa pitiriasis rosea. lichen planus. serta antihistamin. tinea korporis. giganta. vesicular. karena erupsi kulitnya akan menghilang secara spontan. Namun pemberian obat dapat memberikan keuntungan karena mempersingkat lamanya perjalanan penyakit karena erupsi akan hilang dengan lebih cepat. dan lain sebagainya. Pitiriasis rosea memiliki berbagai macam varian. penatalaksanaan pitiriasis rosea dengan fototerapi hanya bermanfaat untuk mengurangi gejala klinis yang berat saja. namun ada juga yang bertahan hingga 3-5 bulan. Diagnosa pitiriasis rosea dapat ditegakkan melalui anamnesa dan pemeriksaan klinis. Kepaniteraan Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Rumah Sakit Sumber Waras Periode 25 April 2011 . contohnya pitiriasis rosea inversa.

Schwartz Robert A. Weller Richard. 2004: 79-82. 6. Dalam: Dermatology in General Medicine Fitzpatrick’s. Sterling. Hall John C. Savin John. 2008: 362-65. Allen Robert.C. 9. editor. 2006. Dalam: Usatine Richard P. USA: Elsevier. Usatine Richard P. Gawkrodger David J. Hunter John. 2. edisi ke-10. Tierney Jr. Pityriasis Rosea. 8. Jakarta: Balai Penerbit FKUI. editor. Graham-Brown Robin. Elston Dirk M. edisi ke-2. edisi ke-45. Mcphee Stephen J. USA: McGraw Hill. Dalam: Djuanda Adhi. Philadelphia. Blauvelt. edisi ke-9. Andrew. Bourke Johnny. Inc. Gonzales Lenis M. 2006: 157-61. Smith Mindy Ann. Dalam: Rook’s textbook of dermatology. E. Lawrence M. Dermatosis Eritriskuamosa. USA: McGraw Hill. James William D. Aisah Siti. Philadelphia. Andrew’s Disease of The Skin Clinical Dermatology. 2009: 630-33. 11. USA: Blackwell Publishing.J. Philadelphia. Berger Timothy G. edisi ke4. 4. Djuanda Adhi. 2007: 224-25. 10. Henderson David. Philadelphia. The Color Atlas of Family Medicine. LANGE Current Medical Diagnosis and Treatment. Pityriasis Rosea. Janniger Camila Krysicka. 2005: 757-64. 7. 2008: 71-8. 5. 2006: 208-9. 3. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. edisi ke-7. USA: Lippincott William and Wilkins. Viral Infections. International Journal of Dermatology. edisi ke-5. iv . Dahl Mark. Mayeaux Jr. Sauer’s Manual of Skin Disease. 2008: 40-1. Pityriasis Rosea: An Important Papulosquamos Disorder. Dermatology an Illustrated Colour Text. Massachusetts. Mobsy’s Color Atlas and Text of Dermatology. edisi ke-4. Hamzah Mochtar. USA: Elsevier. 2007: 189-200. The McGraw-Hill Companies. J. USA: Elsevier. Clinical Dermatology.DAFTAR PUSTAKA 1.

Gambar 3. http://www. http://www.mayoclinic.com/article/1107532-workup#a0723 13.aspx 14.scielo. Gambar 2. http://www.br/img/revistas/abd/v78n2/13369f1.com/health/medical/IM00515 15. Gambar 7.html 16.com/797607_com_papular_pi.everydayhealth.jpg 19. http://dermatology.org/afp/2004/0101/p87. Gambar 1. http://images. http://www. http://www.12.medscape.org/143/case_reports/VesicularPR/1.jpg 17.jpg 18. Gambar 4. Gambar 6.ijdvl.com/articles/2003/69/1/images/ijdvl_2003_69_1_42_5823_1.cdlib.com/skin-and-beauty-pictures/skin-condition-pityriasis-rosea. Gambar 8.suite101. http://emedicine.jpg v .aafp. Gambar 5.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful