Anda di halaman 1dari 23

BAB 1 TINJAUAN PUSTAKA 1.1.

Definisi Tinea kapitis adalah suatu infeksi yang disebabkan oleh jamur dermatofit (biasanya berasal dari spesies microsporum dan trichophyton) yang terjadi pada kulit dan rambut kepala.1 Penyakitnya bervariasi dari kolonisasi subklinis non inflamasi berskuama ringan sampai penyakit yang beradang ditandai dengan produksi lesi kemerahan berskuama dan alopesia (kebotakan) yang mungkin menjadi beradang berat dengan pembentukan erupsi kerion ulseratif dalam. Ini sering menyebabkan pembentukan keloid dan skar dengan alopesia permanen. Tipe timbulnya penyakit tergantung pada interaksi pejamu dan jamur penyebab.2 1.2. Epidemiologi Insidens tinea kapitis masih belum diketahui pasti, tersering dijumpai pada anak-anak 3-14 tahun jarang pada dewasa, kasus pada dewasa karena infeksi T. tonsurans dapat dijumpai misalkan pada pasien AIDS dewasa. Transmisi meningkat dengan berkurangnya higiene sanitasi individu, padatnya penduduk, dan status ekonomi rendah. 1,3,4,5 Insidens tinea kapitis dibandingkan dermatomikosis di Medan 0,4% (1996 -1998), RSCM Jakarta 0,61 - 0,87% (1989 - 1992), Manado 2,2 - 6% (1990 -1991) dan Semarang 0,2%.6 Di Surabaya kasus baru tinea kapitis antara tahun 2001 - 2006 insidennya dibandingkan kasus baru dermatomikosis di Poli Dermatomikosis URJ Kulit dan Kelamin RSU Dr. Soetomo antara 0,31% - 1,55%. Pasien tinea kapitis terbanyak pada masa anak-anak < 14 tahun 93,33%, anak laki-laki lebih banyak (54,5%) dibanding anak perempuan (45,5%). Di Surabaya tersering tipe kerion (62,5%) daripada tipe Gray Patch (37,5%). Tipe Black dot tidak diketemukan. Spesies 1

penyebab Microsporum gypseum (geofilik), Microsporum ferrugineum (antropofilik) dan Trichophyton mentagrophytes (zoofilik yang dijumpai pada hewan kucing, anjing, sapi, kambing, babi, kuda, binatang pengerat dan kera)4. 1.3. Etiologi Spesies dermatofita umumnya dapat sebagai penyebab dermatofitosis. Golongan jamur ini bersifat mencerna keratin. Dermatofita termasuk fungi inperfecti yang terbagi dalam 3 genus, yaitu Microsporum, Trickopyton, dan Epidermophyton.1 Tinea kapitis disebabkan oleh spesies Trichopytonicrosporum.6 Tiap negara dan daerah berbeda-beda untuk spesies penyebab tinea kapitis 3 , juga perubahan waktu dapat ada spesies baru karena penduduk migrasi.3 Spesies antropofilik (yang hidup di manusia) sebagai penyebab yang predominan. 1.4. Patogenesis Dermatofit ektotrik (diluar rambut) infeksinya khas di stratum korneum perifolikulitis, menyebar sekitar batang rambut dan dibatang rambut bawak kutikula1 dari pertengahan sampai akhir anagen saja sebelum turun ke folikel rambut untuk menembus kortek rambut. Hifa-hifa intrapilari kemudian turun ke batas daerah keratin, dimana rambut tumbuh dalam keseimbangan dengan proses keratinisasi, tidak pernah memasuki daerah berinti. Ujung-ujung hifa-hifa pada daerah batas ini disebut Adamsons fringe, dan dari sini hifa-hifa berpolifrasi dan membagi menjadi artrokonidia yang mencapai kortek rambut dan dibawa keatas pada permukaan rambut. Rambut-rambut akan patah tepat diatas fringe tersebut, dimana rambutnya sekarang menjadi sangat rapuh sekali. Secara mikroskop hanya artrokonidia ektotrik yang tampak pada rambut yang patah, walaupun hifa intrapilari ada juga.4,6 Patogenesis infeksi endotrik (didalam rambut) sama kecuali kutikula tidak terkena dan artrokonidia hanya tinggal dalam batang rambut menggantikan keratin intrapilari dan meninggalkan kortek yang intak. Akibatnya rambutnya sangat rapuh dan patah pada permukaan kepala dimana penyanggah dan dinding folikuler hilang

meninggalkan titik hitam kecil (black dot). Infeksi endotrik juga lebih kronis karena kemampuannya tetap berlangsung di fase anagen ke fase telogen. 2,4 1.5. Manifestasi Klinik Manifestasi klinis dapat dilihat dalam 3 bentuk yang jelas : 1 1.Grey patch ringworm. Merupakan tinea kapitis yang biasanya sebabkan oleh genus microsporum dan sering ditemukan pada anak-anak. Penyakit mulai dengan papul merah yang kecil disekitar rambut. Papul ini melebar dan membentuk bercak, yang menjadi pucat dan bersisik. Keluhan penderita adalah rasa gatal. Warna rambut menjadi abu-abu dan tidak berkilat lagi. Rambut mudah patah dan terlepas dari akarnya, sehingga mudah dicabut dengan pinset tanpa rasa nyeri. Semua rambut didaerah itu terserang oleeh jamur, sehingga dapat terbentuk alopesia setempat. Tempat-tempat ini terlihat sebagai grey patch. Grey patch yang dilihat didalam klinik tidak menunjukkan batas-batas daerah sakit dengan pasti. Pada pemeriksaaan dengan lampu wood dapat dilihat fluoresensi hijau kekuning-kuningan pada rambut yang sakit melampaui batas-batas grey patch tersebut. Pada kasus-kasus tanpa keluhan, pemeriksaan lampu wood ini banyak membantu diagnosis. Tinea kapitis yang disebabkan oleh Microsporum audouini biasanya disertai tanda peradangan ringan, hanya sekali-sekali dapat terbentuk kerion. 2. Kerion Kerion adalah reaksi peradagan yang berat pada tinea kapitis, berupa pembengkakan yang menyerupai sarang lebah dengan sebukan sel radang yang padat disekitarnya. Bila penyebabnya Microsporum canis dan Microsporum gypseum, pembentukan kerion ini lebih sering dilihat, agak kurang bila penyebabnya Tricophyton violaceum. Kelainan ini dapat menimbulkan jaringan parut dan berakibat alopesia yang menetap. Jaringan parut yang menojol kadang dapat terbentuk.

3. Black dot ringwormBlack dot ringworm terutama disebakan leh Trichophyton tonsurans dan trichophyton violaceum. Pada permulaan penyakit, gambaran klinis menyerupai kelainan yang disebabkan oleh genus Microsporum. Rambut yang terkena infeksi patah, tepat pada muara folikel, dan yang tertinggal adalah ujung rambut yang penuh spora. Ujung rambut yang hitam didalam folikel rambut ini memberi gambaran khas yaitu black dot. Ujung rambut yang patah, kalau tumbuh kadang masuk kebawah permukaan kulit. Dalam hal ini perlu dilakukan irisan kulit untuk mendapat bahan biakan jamur. 1.6. Diagnosis Banding Diagnosis banding tinea kapitis berskuama dan peradangan minimal:3 a. Dermatitis seboroik1,4,7 Peradangan yang biasanya terjadi pada sebelum usia 1 tahun atau sesudah pubertas yang berhubungan dengan rangsangan kelenjar sebasea. Tampak eritema dengan skuama diatasnya sering berminyak, rambut yang terkena biasanya merata, simetris, rambut tidak patah. predileksi umumnya di kepala, leher dan daerah-daerah pelipatan. Alopesia sementara dapat terjadi dengan penipisan rambut daerah kepala, alis mata, bulu mata. b. Psoriasis1,2,4,7 Psoriasis kepala khas seperti lesi psoriasis dikulit, plak eritematos berbatas tegas dan berskuama lebih jelas dan keperakan diatasnya, dan rambutrambut tidak patah. Kepadatan rambut berkurang di plak psoriasis juga meningkatnya menyeluruh dalam kerapuhan rambut dan kecepatan rontoknya rambut. 10% psoriasis terjadi pada anak kurang 10 tahun dan 50% mengenai kepala. Psoriasi pada kulit kepala berambut biasanya disertai kelainan-kelainan ditempat lain.

c. Alopesia areata1,2,4,7 Alopesia areata mempunyai tepi yang eritematus pada stadium permulaan, tetapi dapat berubah kembali ke kulit normal. Tidak terdapat skuama dan rambutrambut pada tepinya mudah dicabut akan tetapi pangkal yang patah tidak tampak. d. Trikotilomania1,4,7 Merupakan kelainan berupa rambut putus tidak tepat pada kulit kepala, daerah kelainan tidak pernah botak seluruhnya, berbatas tidak tegas karena pencabutan rambut oleh pasien sendiri. Umumnya panjang rambut berukuran berbeda-beda pada daerah yang terkena. Tersering di kepala atas, daerah oksipital dan parietal yang kontra lateral. e. Pseudopelade1,4,9 Dari kata Pelade yang artinya alopesia areata. Pseudopelade adalah alopesia sikatrik progresif yang pelan-pelan, umumnya sebagai sindroma klinis sebagai hasil akhir dari satu dari banyak proses patologis yang berbeda (yang diketahui maupun yang tidak diketahui). f. Karbunkel 1 Karbunkel adalah radang folikel rambut dan sekitarnya. Keluhannya nyeri, kelainan berupa nodus eritematosa berbentuk kerucut, ditengahnya terdapat fustul. Kemudian melunak menjadi abses yang berisi pus dan jaringan nekrotik, lalu memecah membentuk fistel. 1.7. Pemeriksaan penunjang a. Pemeriksaan Lampu Wood 1,2 Rambut yang tampak dengan jamur M. canis, M. audouinii dan M. ferrugineum memberikan fluoresen warna hijau kekuning-kuningan (hijau terang) oleh karena adanya bahan pteridin. Jamur lain penyebab tinea kapitis pada manusia memberikan fluoresen negatif artinya warna tetap ungu yaitu M. gypsium dan spesies 5

Trichophyton (kecuali T. schoenleinii penyebab tinea favosa memberi fluoresen hijau gelap). Bahan fluoresen diproduksi oleh jamur yang tumbuh aktif di rambut yang terinfeksi. Sedangkan T.tonsurans dan T.violaseum tidak berfluoresensi.6 b. Pemeriksaan sediaan KOH1,8,12,13 Kepala dikerok dengan objek glas, atau skalpel no.15. Juga kasa basah digunakan untuk mengusap kepala, akan ada potongan pendek patahan rambut atau pangkal rambut dicabut yang ditaruh di objek glas selain skuama, KOH 20% ditambahkan dan ditutup kaca penutup. Potongan rambut pada kepala harus termasuk akar rambut, folikel rambut dan skuama kulit. Skuama kulit akan terisi hifa dan artrokonidia. Yang menunjukkan elemen jamur adalah artrokonidia oleh karena rambut-rambut yang lebih panjang mungkin tidak terinfeksi jamur. c. Kultur8.12 Memakai swab kapas steril yang dibasahi akua steril dan digosokkan diatas kepala yang berskuama atau dengan sikat gigi steril dipakai untuk menggosok rambutrambut dan skuama dari daerah luar di kepala, atau pangkal rambut yang dicabut langsung ke media kultur. Spesimen yang didapat dioleskan di media Mycosel atau Mycobiotic (Sabourraud dextrose agar + khloramfenikol + sikloheksimid) atau Dermatophyte test medium (DTM). Perlu 7 - 10 hari untuk mulai tumbuh jamurnya. Dengan DTM ada perubahan warna merah pada hari 2-3 oleh karena ada bahan fenol di medianya, walau belum tumbuh jamurnya berarti jamur dematofit positif. 1.8. Diagnosis Diagnosis tinea kapitis ditegakkan berdasarkan anamnesa, manifestasi klinis, pemeriksaan KOH, lampu wood serta kultur jamur.6 1.9 Penatalaksanaan 1.Terapi Umum 13,14,15,16 a. Mencari binatang penyebab dan diobati di dokter hewan untuk mencegah infeksi pada anak-anak lain. 6

b. Mencari kontak manusia atau keluarga, dan bila perlu dikultur c. Anak-anak tidak menggunakan bersama sisir, sikat rambut atau topi, handuk, sarung bantal dan lain yang dipakai dikepala. d. Anak-anak kontak disekolah atau penitipan anak diperiksakan ke dokter/ rumah sakit bila anak-anak terdapat kerontokan rambut yang disertai skuama. Dapat diperiksa dengan lampu Wood. e. f. Pasien diberitahukan bila rambut tumbuh kembali secara pelan, sering perlu 36 bulan. Bila ada kerion dapat terjadi beberapa sikatrik dan alopesia permanen. Mencuci berulang kali untuk sisir rambut, sikat rambut, handuk, boneka dan pakaian pasien, dan sarung bantal pasien dengan air panas dan sabun atau lebih baik dibuang. g. h. Begitu pengobatan dimulai dengan obat anti jamur oral dan shampo, pasien dapat pergi ke sekolah. Tidak perlu pasien mencukur gundul rambutnya atau memakai penutup kepala.

2. Terapi Khusus Terapi sistemik1,6 a. Tablet Griseofulvin Masih merupakan obat pilihan karena keamanannya dan dapat ditoleransi baik oleh anak. 1,3, 4 Dosis : 14, 15, 16 Tablet microsize (125, 250, 500mg) 10-25 mg/Kg BB/hari, 1-2 kali/hari Tablet ultramicrosize (330mg) 10-15 mg/Kg BB/hari, 1-2 kali/hari Diminum bersama makanan berlemak oleh karena absorbsinya dipercepat dengan makanan berlemak14. Lama pengobatan bergantung keadaan klinis dan mikologik, minimal 6-8 minggu sampai 3-4 bulan. Pemberian pertama untuk 2 minggu kemudian dilakukan pemeriksaan lampu Wood, KOH dan kultur. Bila masih ada yang positif maka sebaiknya dosis dinaikkan. Bila hasil negatif maka obat 7

diteruskan sampai 6-12 minggu. Bila hasil kultur negatif diteruskan 2 minggu agar tidak residif.1,14 Kegagalan pengobatan tinea kapitis dengan griseofuvin dapat disebabkan karena5,15,16 : Dosis tidak adekuat (sebab tersering) maka sebaiknya dosis dinaikkan dapat sampai 25 mg/Kg BB/ hari terutama untuk kasus sulit sembuh. Pasien tidak patuh Gangguan absorbsi pencernaan Interaksi obat, bersamaan phenobarbital mengurangi absorbsi griseofuvin menyebabkan kegagalan terapi. Jenis dermatofit yang resisten terhadap griseofuvin. Terjadi reinfeksi terutama dari anggota keluarga atau teman bermain.

b. Kapsul Itrakonazol (tablet 100 mg)1,4,8,15,16 Dosis 3-5 mg/Kg BB/hari selama 4-6 minggu Terapi denyut4 dosis 5 mg/Kg BB/ hari selama 1 minggu, istirahat 2 minggu/siklus bila belum sembuh diulang dapat sampai 2-3 siklus. Bersifat fungisidal sekunder oleh karena terjadi fungitoksik. Tidak boleh diminum bersama antasida atau H2 blocker oleh karena absorbsinya perlu suasana asam. Bila diberikan bersama phenytoin dan H2 antagonis akan meningkatkan kadar kedua obat tersebut. Sedang kadar Itrakonazol akan lebih rendah bila diberikan bersamaan rifampisin, isoniasid, phenytoin dan karbamazepin. Monitor laboratorium fungsi hepar dan darah lengkap bila pemakaian lebih 4 minggu. c. Tablet Terbinafin (tablet 250 mg) 4,8,15 Bersifat fungisidal primer terhadap dermatofit. Dosis 3-6mg/KgBB/ hari selama 4 minggu : < 20 kg : 62,5 mg (1/4 tablet)/ hari 20-40 kg : 125 mg (1/2 tablet)/ hari 8

> 40 mg : 250 mg/ hari d. Ketokonazol Terutama efektif pada tinea kapitis yang disebabkan spesies trichopyton. Dosis yang berikan adalah 3,3-6,6 mg/KgBB selama 3 6 minggu. Ketokonazol bersifat hepatotoksik, sehingga bukan merupakan obat pilihan utama untuk tinea kapitis. Terapi khusus a. Shampo8,15,16,17,18 Shampo obat berguna untuk mempercepat penyembuhan, mencegah kekambuhan dan mencegah penularan, serta membuang skuama dan membasmi spora viabel, diberikan sampai sembuh klinis dan mikologis : Shampo selenium zulfit 1% - 1,8% dipakai 2-3 kali/ minggu didiamkan 5 menit baru dicuci. Shampo Ketokonazole 1% - 2% dipakai 2-3 kali/ minggu didiamkan 5 menit baru dicuci. Shampo povidine iodine dipakai 2 kali / minggu selama 15 menit Setelah menggunakan shampo diatas maka dianjurkan memakai Hair Conditioner dioleskan dirambutnya dan didiamkan satu menit baru dicuci air. Hal ini untuk membuat rambut tidak kering. Shampo ini juga dipakai untuk karier asimptomatik yaitu kontak dekat dengan pasien, 2 kali dalam seminggu selama 4 minggu. Karena asimptomatik lebih menyebarkan tinea kapitis disekolah atau penitipan anak yang kontak dekat dengan karier daripada anak-anak yang terinfeksi jelas. 1.10. Komplikasi 1. Infeksi sekunder 2. Alopesia sikatrik permanen 3. Kambuh

BAB 3 ILUSTRASI KASUS IDENTITAS PASIEN Nama Umur Pekerjaan Agama Alamat : Nn. MZ : 13 tahun : Pelajar MTS : Islam : Talaok bayang, Pasar baru, Pesisir Selatan. Seorang pasien laki-laki berumur 13 tahun datang ke Poliklinik Kulit dan Kelamin RSUP DR.M.Djamil Padang pada tanggal 19 Juni 2013 dengan : Keluhan Utama : Bercak putih bersisik yang terasa gatal pada puncak kepala sejak 2 bulan yang lalu. Riwayat Penyakit Sekarang : Bercak putih bersisik yang terasa gatal pada puncak kepala sejak 2 bulan yang lalu, bercak putih bersisik pertama timbul pada puncak kepala sebesar biji jagung semakin lama semakin meluas hingga seluas telapak tangan anak dalam waktu 2 bulan. Bercak putih juga timbul diatas telinga kiri. Sekitar 1 bulan yang lalu bercak sedikit menonjol serta putih. Bengkak pada bercak tidak nyeri dan tidak disertai demam. Pasien menyangkal mencabut-cabut rambut sebelumnya. Pasien memlihara 4 ekor kucing, 2 ekor diantaranya memiliki bercak pada kepala dan badan seperti bercak pada pasien. Anak sering bermain dengan kucing dan tidur bersama dengan kucing tersebut. Pasien mandi 2 kali 1 hari, keramas 1 kali 2 hari.

Jenis Kelamin : Laki-laki

10

Handuk dan sisir yang digunakan sama dengan anggota keluarga lainnya. Pasien tinggal di rumah permanen, dengan ventilasi yang cukup dan cuaca di luar rumah panas.

Anak tinggal dengan 6 keluarga lainnya.

Riwayat Penyakit Dahulu : Tidak pernah menderita penyakit seperti ini sebelumnya.

Riwayat penyakit keluarga: Pasien tinggal serumah bersama dengan kedua orang tuanya serta 4 orang saudara, adik pasien juga menderita bercak putih yang terasa gatal sejak 1 bulan yang lalu. Riwayat Pengobatan : 1 bulan yang lalu pasien berobat ke puskesmas dan amoxcisilin, namun keluhan tidak berkurang. 1 minggu kemudian orang tua pasien membeli obat salap dengan merek Nosip yang dioleskan pada bercak namun keluhan dirasakan tidak berkurang, terakhir memakai obat 1 minggu yang lalu. Pasien kemudian berobat ke RSUD Painan dan di rujuk ke RSUP.DR.M.Djamil Padang. Riwayat lingkungan ekonomi dan psikososial : Pasien anak ketiga dai lima bersaudara. Pasien tinggal di Painan. Adik pasien juga menderita penyakit seperti ini.

PEMERIKSAAN FISIK STATUS GENERALIS: Keadaan umum Konjungtiva Kesadaran : tidak tampak sakit : tidak anemis : Composmentis cooperatif

11

Nadi Nafas Berat badan Tinggi badan Status gizi Mata Hidung Jantung Paru-paru Abdomen Thoraks KGB regional

: 70x/menit : 22x/menit : 45 kg : 150 cm : gizi baik : konjungtiva tidak anemis dan sclera tidak ikterik : tidak ada deformitas : tidak dilakukan. Diharapkan dalam batas normal : tidak dilakukan. Diharapkan dalam batas normal : tidak dilakukan. Diharapkan dalam batas normal : tidak dilakukan. Diharapkan dalam batas normal : tidak ada pembesaran KGB.

Status Dermatologikus Lokasi Distribusi Bentuk Susunan Batas Ukuran Efloresensi : : verteks kanan bagian depan, verteks kanan bagian belakang, temporal kiri. : terlokalisir : bulat : Tidak khas : Tegas : Numuler dan Plakat Tumor multiple ukuran 4x5x1 cm dengan warna kemerahan, permukaan rata, terdapat skuama putih kasar, krusta merah kehitaman dan krusta merah kekuningan diatasnya, rambut diatas lesi rontok dan patah. Tumor multiple ukuran 2,5x2,5x1 cm dengan warna kemerahan, permukaan rata, terdapat skuama putih kasar, krusta merah kehitaman

12

dan krusta merah kekuningan diatasnya, rambut diatas lesi rontok dan patah.

Tumor multiple ukuran 1x1x0,5 cm dengan warna kemerahan, permukaan rata, terdapat krusta merah kehitaman.

Status venereologikus Kelainan selaput Kelainan kuku Kelainan rambut

: Tidak diperiksa : Tidak ada kelainan : Tidak ada kelainan : rambut rontok dan patah pada lesi. Alopesia. 13

Kelainan kelenjar limfe DIAGNOSIS KERJA

: Tidak ditemukan pembesaran kelenjar limfe

Suspek Tinea kapitis tipe Grey patch ringworm. DIFERENSIAL DIAGNOSIS Karbunkel PEMERIKSAAN RUTIN Woods lamp Kerokan kulit dengan KOH

HASIL PEMERIKSAAN RUTIN Woods lamp : hijau kekuningan

Kerokan kulit dengan KOH : spora dan hifa yang terletak secara ecdotrik.

14

DIAGNOSIS Suspek Tinea kapitis tipe Grey patch ringworm. PEMERIKSAAN ANJURAN Kultur kerokan kulit PENATALAKSANAAN Terapi Umum : a. Mencari binatang penyebab dan diobati di dokter hewan untuk mencegah infeksi pada anak-anak lain. b. Mencari kontak manusia atau keluarga, dan bila perlu dikultur.(dalam kasus ini adik pasien) c. Anak-anak tidak menggunakan bersama sisir, sikat rambut atau topi, handuk, sarung bantal dan lain yang dipakai dikepala. d. Pasien diberitahukan bila rambut tumbuh kembali secara pelan, sering perlu 3-6 bulan. Kerion dapat terjadi beberapa sikatrik dan alopesia permanen. e. Mencuci berulang kali untuk sisir rambut, sikat rambut, handuk, pakaian pasien dan sarung bantal pasien dengan air panas dan sabun atau lebih baik dibuang. f. g. Begitu pengobatan dimulai dengan obat anti jamur oral dan shampo, pasien dapat pergi ke sekolah. Tidak perlu pasien mencukur gundul rambutnya atau memakai penutup kepala. Sistemik : Tablet Griseofulvin 15 Terapi Khusus :

10.25mg/Kg BB/hari, 1 kali/hari selama 6-12 minggu (dimakan bersama makanan yang mengandung lemak) Khusus : Shampo selenium zulfit 1% dipakai 3 kali/ minggu didiamkan 5 menit baru dicuci. PROGNOSIS Quo ad sanationam Quo ad vitam : bonam : bonam

Quo ad kosmetikum : dubia at bonam Quo ad functionam : bonam

16

BAB 4 DISKUSI Seorang pasien laki-laki berumur 13 tahun datang ke Poli Kulit Kelamin RSUP Dr. M. Djamil Padang dengan keluhan utama bercak putih yang terasa gatal pada puncak kepala sejak 2 bulan yang lalu. Dari hasil anamnesa dengan adanya kelainan (bercak) pada kulit dan rambut kepala yang bersisik, kemerah-merahan serta rambut patah dan rontok terasa gatal. Bercak putih bersisik pertama timbul pada puncak kepala sebesar biji jagung semakin lama semakin meluas hingga seluas telapak tangan anak dalam waktu 2 bulan. Bercak putih juga timbul diatas telinga kiri. Sekitar 1 bulan yang lalu bercak sedikit menonjol serta putih mengarahkan kepada penyakit Tinea kapitis yang memenuhi kriteria tinea kapitis yaitu kelainan pada kulit dan rambut kepala ditandai adanya lesi bersisik, kemerah-merahan, alopesia dan kadang-kadang terjadi gambaran klinis yang lebih berat, yang disebut kerion. Pasien memelihara 4 ekor kucing, 2 ekor diantaranya memiliki bercak pada kepala dan badan seperti bercak pada pasien. Anak sering bermain dengan kucing dan tidur bersama dengan kucing tersebut. Kucing ini dicurigai sebagai sumber penularan infeksi. Pada pemeriksaan didapatkan Status Dermatologikus : Lokasi : verteks kanan bagian depan, verteks kanan bagian belakang, temporal kiri. Distribusi Bentuk Susunan Batas Ukuran Efloresensi : : terlokalisir : bulat : Tidak khas : Tegas : Numuler dan Plakat

Tumor multiple ukuran 4x5x1 cm dengan warna kemerahan, permukaan rata, terdapat skuama putih kasar, krusta merah kehitaman dan krusta merah kekuningan diatasnya, rambut diatas lesi rontok dan patah. 17

Tumor multiple ukuran 2,5x2,5x1 cm dengan warna kemerahan, permukaan rata, terdapat skuama putih kasar, krusta merah kehitaman dan krusta merah kekuningan diatasnya, rambut diatas lesi rontok dan patah.

Tumor multiple ukuran 1x1x0,5 cm dengan warna kemerahan, permukaan rata, terdapat krusta merah kehitaman. Hasil pemeriksaan tersebut mengarahkan kepada penyakit Tinea kapitis karena

ditemukannya skuama, alopesia dan kerion sebagaimana terdapat pada tinjauan pustaka. Tinea kapitis pada pasien ini adalah tipe Grey patch ringworm karena penyakit mulai dengan papul merah yang kecil disekitar rambut. Papul ini melebar dan membentuk bercak yang menjadi pucat dan bersisik. Keluhan penderita adalah rasa gatal. Warna rambut menjadi abu-abu dan tidak berkilat lagi. Rambut mudah patah dan terlepas dari akarnya. Semua rambut didaerah tersebut terserang oleh jamur sehingga terjadi alopesia setempat dan adanya kerion. Pada pemeriksaan woods lamp dapat dilihat fluoresensi hijau kekuning-kuningan pada rambut yang sakit. Tatalaksana pada pasien ini mencakup : Terapi Umum : h. Mencari binatang penyebab dan diobati di dokter hewan untuk mencegah infeksi pada anak-anak lain. i. Mencari kontak manusia atau keluarga, dan bila perlu dikultur.(dalam kasus ini adik pasien) j. Anak-anak tidak menggunakan bersama sisir, sikat rambut atau topi, handuk, sarung bantal dan lain yang dipakai dikepala. k. Pasien diberitahukan bila rambut tumbuh kembali secara pelan, sering perlu 3-6 bulan. Bila ada kerion dapat terjadi beberapa sikatrik dan alopesia permanen. l. Mencuci berulang kali untuk sisir rambut, sikat rambut, handuk, pakaian pasien dan sarung bantal pasien dengan air panas dan sabun atau lebih baik dibuang.

18

m. Begitu pengobatan dimulai dengan obat anti jamur oral dan shampo, pasien dapat pergi ke sekolah. n. Tidak perlu pasien mencukur gundul rambutnya atau memakai penutup kepala. Sistemik : Tablet Griseofulvin 10.26mg/Kg BB/hari, 1 kali/hari selama 6-12 minggu (dimakan bersama makanan yang mengandung lemak) Khusus : Shampo selenium zulfit 1% dipakai 2-3 kali/ minggu didiamkan 5 menit baru dicuci. Terapi Khusus :

19

RESEP dr. Irnayana Oktariah SIP. 0810311021 Praktek: Senin Jumat (kecuali hari libur) Jam Praktek : 17.00 20.00 Alamat Praktek: Jl. Jati Padang. Telp. (0751) 123456 _________________________________________________________________ Padang, 19 Juni 2013 R/ griseovulvin tab 250 mg S 1dd tab I __________________________________________________________ R/ Shampo selenium zulfit 1% Sue 3xseminggu ___________________________________________________________ Pro : MZ No. I No. XXX

Umur : 13 tahun

20

DAFTAR PUSTAKA 1. Budimulja U. Mikosis. Dalam : Djuanda A; Hamzah M. Aisah S. editor. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin cetakan ke 6. Jakarta, Balai Penerbit FKUI, 2010 : h.89-109. 2. Rippon JW. Medical Mycology Champion RH, Burton JZ, Burns DA, Breatnach SDM, editors. Rook/Wilkinson/Ebling Textbook of Dermatology, 6th ed Oxford : Blackwell Science, 1998 : p 1277-350. 3. Nelson MM; Martin AG, Heffernan MP. Superficial Fungal infection 3rd ed. Philadelphia: WB Saunders Co, 1988 4. Hay RJ, Morre M. Mycology. Dalam : Dermatophytosis, Onychomycosis, Tinea Nigra, Piedra. Dalam : Freedberg IM, Eisen AZ, Wolff K, Austen KF, Goldsmith LA, Katz SI. Fitzpatricks Dermatology in General Medicine 6th ed. New York Mc Graw Hill, 2003 : p 1989-2005. 5. Clayton YM, Moore MK. Superficial Fungal Infection. Dalam : Harper J; Oranje A, Prose N. editors. Textbook of Pediatric Dermatology. 2nd ed. Massachusetts. Blackwell Publishing, 2006 : p 542-56. 6. Nasution MA, Muis K, Rusmawardiana. Tinea Kapitis. Dalam : Budimulja U, Kuswadji, Bramono K, Menaldi SL, Dwihastuti P, Widati S. editor. Dermatomikosis Superfisialis cetakan ke 2. Jakarta, Balai Penerbit FKUI, 2004 : h.24-30. 7. Schroeder TL, Levy ML. Treatment of hair loss disorders in children. Dermatol Ther 1997; 2 : 84-92. 8. Hebert AA. Diagnosis and treatment of tinea capitis in children. Dermatol Ther 1997; 2 : 78-83 9. Dawber RPR, de Becker D, Wojnarowska F, Disorder of Hair. Dalam : Champion RH, Burton JZ, Burno DA, Breatnach SDM, editors. 21

Rook/Wilkinson/Ebling Textbook of Dermatology, 6th ed. Oxford : Blackwell Science, 1998 : p 2869-973 10. Rowell NR, Goodfield MJD. The Connective Tissue diseases. Dalam : Champion RH, Burton JZ, Burns DA, Breatnach SDM, editors. Rook/Wilkinson/Ebling Textbook of Dermatology, 6th ed. Oxford : Blackwell Science, 1998 : p 2437-575. 11. Black MM. Lichen planus and Lichenoid Disorders. Dalam : Champion RH, Burton JZ, Burno DA, Breatnach SDM, editors. Rook/Wilkinson/Ebling Textbook of Dermatology, 6th ed. Oxford : Blackwell Science, 1998 : p 18991926. 12. Cohen BA. Pediatric Dermatology 3rd ed. Philadelphia; Elsevier Mosby, 2005. 13. Richardson MD, Warnock DW. Fungal Infection. 3rd ed Massachusetts : Blackwell Publishing, 2003. 14. Weston WL, Lane AT, Morelli JG. Color Textbook of Pediatric Dermatology. 3rd ed. St. louis : Mosby, 2002. 15. Mercurio MG, Elewski B. Tinea capitis treatment. Dermatol Ther 1997; 3 : 79-83. 16. Suyoso S. Penatalaksanaan Dermatomikosis Superfisialis masa kini. Dalam : Simposium Penatalaksanaan Dermatomikosis Superfisialis masa kini, 11 Mei 2002; Surabaya; Indonesia. 17. Indranarum T, Suyoso S. Penatalaksanaan tinea kapitis. Berkala I. Penyakit Kulit dan kelamin 2001; 13 : 30-5. 18. Paller AS, Mancini AJ, Hurwitz Clinical Pediatric Dermatology. 3rd ed.Philadelphia : Elsivier Saunders, 2006 19. Lab. / SMF Kesehatan Kulit dan Kelamin FK Unair / RSU Dr. Soetomo. Atlas Penyakit Kulit dan Kelamin. Surabaya : Airlangga University Press. 2007.

22

23