Anda di halaman 1dari 94

BAB III DASAR-DASAR LOGIKA

Bagus Takwin

1. Apakah Logika Itu? Secara umum, logika dikenal sebagai cabang filsafat, tetapi ada juga ahli yang menempatkannya sebagai cabang matematika. Kedua bidang kajian ini menempatkan logika sebagai dasar berpikir dalam memperoleh, mencermati dan menguji pengetahuan. Logika dapat diartikan sebagai kajian tentang prinsip, hukum, metode, dan cara berpikir yang benar untuk memperoleh pengetahuan yang benar. Jika ditempatkan sebagai cabang filsafat, logika dapat diartikan sebagai cabang dari filsafat yang mengkaji prinsip, hukum dan metode berpikir yang benar, tepat dan lurus. Jika ditempatkan sebagai matematika maka logika merupakan cabang matematika yang mengkaji seluk-beluk perumusan pernyataan atau persamaan yang benar, khususnya pernyataan yang menggunakan bahasa formal. Bahasa formal adalah bahasa buatan yang dibedakan dari bahasa alamiah. Bahasa formal di sini merujuk kepada rangkaian simbol matematis seperti yang biasa kita jumpai dalam literatur matematika. Sedangkan bahasa alamiah, atau bahasa non-formal, adalah bahasa yang umumnya kita gunakan sehari-hari dalam berkomunikasi. Dari sejarah filsafat kita mengenal Aristoteles sebagai filsuf yang pertama kali membeberkan hal-ihwal logika secara komprehensif. Sebelumnya ada beberapa filsuf Yunani Kuno yang sudah mengemukakan prinsip-prinsip berpikir dan pemerolehan pengetahuan seperti Parmenides, Zeno, dan Pythagoras. Tetapi penjelasan khusus dan menyeluruh tentang bagaimana pikiran manusia bekerja dan dapat memperoleh pengetahuan yang benar baru ditulis secara sistematis oleh Aristoteles. Penggunaan istilah logika untuk menyebut cabang filsafat yang mengkaji prinsip, aturan, dan metode berpikir yang benar bukan berasal dari Aristoteles melainkan dari Alexander Aphrodisias sekitar permulaan abad ke-3 M. Sebelumnya istilah logika dipakai oleh Cicero (abad ke-1 M) yang menggunakan kata logika dalam arti seni berdebat. Aristoteles sendiri menggunakan istilah analitika untuk merujuk kepada penyelidikan terhadap argumentasi-argumentasi yang bertitik tolak dari putusan-putusan yang sudah dipastikan kebenarannya, serta dialektika untuk penyelidikan terhadap argumentasi-

16

argumentasi yang bertitik tolak dari putusan-putusan yang belum pasti kebenarannya (Bertens, 1999). Dalam matematika, logika dikaji dalam kaitannya dengan upaya menyusun bahasa matematika yang formal, baku, dan jernih maknanya, serta dalam kajian tentang penyimpulan dan pembuatan pernyataan yang benar. Tradisi penggunaan dan pengkajian logika dalam matematika sudah sangat lama dilakukan sehingga matematika tak dapat dipisahkan dari logika, dan keduanya saling melengkapi. Bertrand Russell dan Alfred North Whitehead bahkan menyatakan bahwa matematika adalah logika murni. Istilah logika klasik (classical logic, classical elementary logic, atau classical first-order logic) merujuk kepada kajian tentang logika dalam matematika. Kata klasik di situ mengindikasikan betapa sudah menyatunya logika dan matematika, yang sudah dianggap sebagai dua sisi dari satu keping mata uang. Terlepas dari latar belakang kajian dan penemuannya serta klasifikasinya dalam penggolongan ilmu, logika merupakan alat yang dibutuhkan dalam kajian berbagai ilmu pengetahuan dan juga dalam kehidupan sehari-hari. Logika, di samping etika, dapat dipahami sebagai asas pengaturan alam dan isinya yang dikembangkan manusia. Alam yang pada awalnya tampil di hadapan manusia sebagai sesuatu yang tak termaknai dan sebagai ketidakteraturan mendorong manusia untuk memaknainya dan untuk memberikan arti kepada unsur-unsurnya dan penjelasan kepada dinamikanya. Alam, yang awalnya tak terpahami dan terkesan tak teratur, pelan-pelan namun pasti mulai terpahamkan. Pemaknaan dan pengaturan itu dari waktu ke waktu berkembang semakin sistematis dan komprehensif. Logika berperan di sana, mulai dari penamaan benda-benda berdasarkan prinsip identitas (X = X) hingga penemuan beragam hubungan antara unsur alam melalui penalaran analogis, deduktif, dan induktif. Logika memungkinkan manusia memahami seluk-beluk dan dinamika alam berserta isinya, menerangkan, meramal, dan menata alam. Berbagai persoalan manusia terselesaikan dengan bantuan logika. Meskipun belum semua persoalan selesai sementara berbagai persoalan baru sudah muncultermasuk persoalan yang disebabkan oleh penggunaan (dan penyalahgunaan) logikatak dapat dimungkiri bahwa logika sudah membantu manusia meningkatkan kualitas hidupnya dan mengembangkan peradabannya seperti yang kita saksikan sekarang. Sebagai asas pengaturan, logika menjelaskan bahwa alam yang awalnya tampak sebagai kekacau-balauan (chaos) sebenarnya merupakan jagat raya (cosmos) yang teratur. Kembali lagi ke logika sebagai cabang filsafat. Secara filosofis, logika adalah kajian tentang berpikir atau penalaran yang benar. Penalaran merupakan aktivitas mental yang 17

bertujuan memperoleh pengetahuan; dengan kata lain, penalaran merupakan aktivitas epistemik. Penalaran adalah proses penarikan kesimpulan berdasarkan alasan yang relevan. Dalam logika dikaji bagaimana berlangsungnya proses penarikan kesimpulan yang mencakup unsur-unsur dari proses, langkah-langkah, serta hukum, prinsip dan aturan-aturannya. Untuk dapat menjelaskan karakteristik penaralan yang benar serta mengapa dan bagaimana itu dapat dihasilkan, logika menggunakan pemahaman tentang standar kebenaran yang diperoleh dari epistemologi yang merupakan cabang filsafat yang mengkaji hakikat pengetahuan. Di samping itu, sebagai bagian dari epistemologi dalam arti luas, logika juga memerlukan dasar-dasar pengetahuan yang dikaji oleh epistemologi, yang mencakup segisegi sumber pengetahuan, batas pengetahuan, struktur pengetahuan, dan keabsahan pengetahuan. Sebuah sistem logika didasari oleh asumsi tentang sumber pengetahuan, apakah pengetahuan itu dianggap bersumber dari pikiran, pengalaman atau dari hal-hal lain. Dalam sistem logika yang komprehensif juga ditentukan batas-batas kemampuan manusia untuk mengetahui, jenis pengetahuan yang dapat diperoleh, dan syarat-syarat dari pengetahuan sehingga dapat dipahami manusia. Struktur pengetahuan yang berkaitan dengan bagaimana pengetahuan terkumpul, tersusun, dan tertata sedemikian rupa dalam diri manusia juga mendasari sebuah sistem logika. Lalu, untuk menentukan benar atau tidaknya sebuah penalaran sebuah sistem logika perlu didasari oleh syarat-syarat dari keabsahan pengetahuan. Dapat dikatakan bahwa logika merupakan dasar filosofis dari matematika. Ini disebabkan oleh asas epistemologis matematika yang berakar pada filsafat. Belakangan, mereka yang membahas matematika kebanyakan adalah filsuf, seperti Bertrand Russell, Alfred North Whitehead dan Gottlob Frege. Di sisi lain, matematika juga banyak memberi masukan kepada logika, bahkan dianggap sebagai logika murni oleh Russell dan Whitehead dalam buku mereka yang berjudul Principia Mathematica (1925). Dalam pengertiannya sebagai kajian tentang penalaran yang benar, logika memunculkan pertanyaan-pertanyaan yang relevan dengan aspek matematis dari logika. Dua di antaranya ialah bagaimana pembuatan kesimpulan dari prinsip-prinsip umum yang sudah ada dan validitasnya berhubungan dengan penalaran yang benar? Dan bagaimana matematika sebagai proses pembuatan kesimpulan khusus berdasarkan hukum-hukum umum dapat dipahami dari segi logis; dan, sebaliknya, bagaimana logika dipahami dari sudut pandang matematika? Sebagai kajian tentang penalaran, logika juga berhubungan erat dengan bahasa alamiah yang sehari-hari dipakai oleh manusia. Untuk berkomunikasi, orang bernalar dengan menggunakan bahasa alamiah. Ini juga berkaitan dengan matematika. Hal ini menimbulkan sejumlah pertanyaan: bagaimana matematika dapat diterapkan di dalam kenyataan non18

matematik? Bagaimana matematika dapat menjelaskan realitas sehari-hari? Bagaimana matematika dapat digunakan untuk melakukan penalaran yang benar? Apa dasar epistemologis dari matematika sehingga dapat digunakan untuk membuat penalaran yang benar? Buku ini tidak akan menjelaskan bagaimana logika dan matematika saling berhubungan, dan juga tidak menjelaskan secara khusus dan rinci hubungan antara bahasa dan penalaran sehari-hari dengan logika. Uraian tadi hanya sekadar menunjukkan secara singkat bahwa logika berkaitan erat dengan matematika sehingga beberapa simbol matematika digunakan di dalam logika. Logika juga berkaitan dengan pemahaman manusia dalam kesehariannya karena sama-sama menggunakan bahasa sebagai medianya. Di atas sudah dibahas secara umum tentang dua pengertian logika, yakni sebagai cabang filsafat dan sebagai cabang matematika. Sebelum pembahasan lebih khusus tentang logika, di sini dikemukakan dua pengertian lain dari logika, yakni logika sebagai kajian tentang kebenaran khusus atau fakta dan logika sebagai kajian ciri-ciri atau bentuk umum dari putusan (bahasa Inggris: judgment). Sebagai kajian tentang kebenaran khusus, logika merupakan ilmu pengetahuan yang bertujuan menjelaskan kebenaran atau fakta tertentu, sama halnya dengan ilmu pengetahuan lain yang bertujuan menjelaskan kebenaran lainnya. Kebenaran logis dapat dipahami sebagai kebenaran paling umum, satu kebenaran yang dikandung oleh semua kumpulan kebenaran lain yang hendak dijelaskan oleh ilmu pengetahuan. Dalam pengertian ini logika berbeda dari biologi karena logika lebih umum; tetapi, di pihak lain, sama dengan biologi, yaitu sebagai ilmu pengetahuan yang bertujuan mencapai kebenaran tertentu. Pengertian logika ini sering kali diasosiasikan dengan Gottlob Frege (1848-1925), ahli matematika dan filsuf dari Jerman. Konsepsi logika ini secara dekat diasosiasikan dengan satu pernyataan yang diperoleh dengan menggunakan logika secara fundamental tentang kesimpulan-kesimpulan tertentu dan tentang semua konsekuensi logis dari tiap kesimpulan itu. Pengertian logika di sini dapat dipulangkan kepada asal katanya, logos, dari Herakleitos yang berarti aturan, prinsip, atau kata-kata yang menjelaskan realitas. Kebenaran logis dalam pengertian ini merupakan satu kebenaran yang diungkapkan dengan representasi yang secara logis tidak mengikuti asumsi apa pun. Kebenaran logis ini dapat dipahami juga sebagai asumsi dasar atau postulat atau prinsip pertama yang mencukupi dirinya sendiri (self-sufficient reason). Dalam pengertian lain, kebenaran logis adalah satu pernyataan yang kebenarannya dijamin sejauh makna dari konstanta logisnya tetap, terlepas dari apa makna bagian lain yang menyertainya. 19

Dalam arti kajian ciri-ciri atau bentuk umum dari putusan atau bentuk pikiran dari putusan, logika dapat dipahami sebagai kajian yang mempelajari unsur-unsur putusan dan susunannya dengan tujuan untuk memperoleh pola atau bentuk umum dari proses pembuatan putusan. Satu contoh bentuk kegiatan dari logika ini adalah penyelidikan tentang struktur hubungan antara subjek dan predikat dari berbagai putusan yang ada; penelitian tentang jenis putusan, dan bagaimana pikiran manusia menggunakan bentuk-bentuk pernyataan tertentu untuk membuat kesimpulan. Fokus kajian dari logika ini adalah pikiran, representasi linguistik, meskipun pikiran dan bahasa saling terkait erat. (Putusan terdapat dalam pikiran dan diungkapkan dengan tanda-tanda konvensional yang dapat diinderai.) Kajian ini berurusan dengan berbagai bentuk putusan, bukan bentuk kalimat seperti yang dipelajari oleh linguistik meskipun dalam praktiknya keduanya mirip karena sama-sama menggunakan bahasa sebagai alat ekspresi utamanya. Berbeda dengan bentuk dari bahasa sebagai representasi linguistik yang konstan terlepas dari apa pun isinya, bentuk pikiran diperoleh melalui abstraksi dari isi pikiran.

2. Kategori Manusia berpikir dengan menggunakan kategori. Contohnya, kita mengenal kursi sebagai perabot, kucing sebagai makhluk hidup, mobil sebagai kendaraan, dan rumah sebagai tempat tinggal. Perabot, makhluk hidup, kendaraan, dan tempat tinggal adalah contoh kategori yang digunakan untuk mengenali dan mengelompokkan benda-benda. Sejak anak dapat mengenali dunia, kategori digunakan untuk mengenali obyek-obyek di dunia. Pada awalnya kategori yang digunakan sangat sederhana dan umum seperti lebih besar dan lebih kecil, atau lebih jauh dan lebih dekat, atau lebih keras atau lebih lembut. Kemudian kategori yang lebih kompleks dikembangkan, seperti makhluk hidup yang bernafas dengan paru-paru, tempat tinggal yang layak huni dan nyaman, dan sebagainya. Selain itu, ada hierarki kategori, baik berdasarkan sifat umum atau khusus, maupun sifat kompleks atau simpleks. Makhluk hidup, contohnya, merupakan kategori yang lebih umum dari hewan yang didefinisikan sebagai makhluk hidup yang berindera. Contoh lain, zat merupakan kategori yang lebih umum dari zat cair dan zat padat. Dilihat dari kompleksitasnya, hotel lebih adalah kategori yang lebih kompleks daripada rumah karena pada hotel ada karakteristik yang lebih banyak daripada pada rumah, seperti memiliki fasilitas ruang tidur yang dapat disewakan, ruang makan bersama, lobi, tempat parkir, pegawai hotel, tarif menginap, dan lain-lain. 20

Para filsuf membantu kita untuk mengenali benda-benda secara lebih sistematis dan koheren dengan mengajukan kategori-kategori dasar dari semua yang ada dan mungkin ada di dunia. Aristoteles adalah filsuf pertama yang menggunakan istilah kategori dalam filsafat dan mengajukan jenis-jenis kategori yang menurutnya dapat diterapkan pada semua benda yang ada di dunia. Untuk memahami secara lengkap apa yang dimaksud dengan kategori oleh Aristoteles kita perlu membaca dua kutipan berikut ini. We should distinguish the kinds of predication (ta gen tn katgorin) in which the four predications mentioned are found. These are ten in number: what-it-is, quantity, quality, relative, where, when, being-in-a-position, having, doing, undergoing. An accident, a genus, a peculiar property and a definition will always be in one of these categories. (Topics I.9, 103b20-25 dalam Owen (ed.), 1968; Smith, 2000) Of things said without any combination, each signifies either substance or quantity or quality or a relative or where or when or being-in-a-position or having or doing or undergoing. To give a rough idea, examples of substance are man, horse; of quantity: four-foot, five-foot; of quality: white, literate; of a relative: double, half, larger; of where: in the Lyceum, in the market-place; of when: yesterday, last year; of being-in-a-position: is-lying, is-sitting; of having: has-shoes-on, has-armor-on; of doing: cutting, burning; of undergoing: being-cut, being-burned. (Categories 4, 1b25-2a4, tr. Ackrill, 1961) Dari dua kutipan tersebut, diketahui bahwa Aristoteles membagi segala sesuatu dalam sepuluh kategori mencakup (1) substansi (2) kualitas, (3) kuantitas atau ukuran, (4) relasi (relatio), (5) aksi (actio), (6) reaksi atau terkena aksi (pasif, menderita, pasio), (7) waktu (kapan), (8) lokasi (dimana), (9) posisi (dalam arti posisi fisik atau posture, silus) dan (10) memiliki atau mengenakan (habitus). Bagi Aristoteles, ke-10 kategori yang diajukannya bukan hanya berkaitan dengan logika tetapi lebih jauh lagi berkaitan dengan segala hal yang ada dan mungkin ada di dunia ini. Penentuan kesepuluh kategori itu berangkat dari penggolongan dari seluruh ada (being). Ia membagi ada menjadi ada bagi diri sendiri dan ada bagi yang lain. Dari dua jenis ada ini lalu diturunkan lagi hingga diperoleh sepuluh kategori tempat setiap hal dapat dimasukkan ke dalam salah satu kategori itu (lihat gambar 3. Skema kategori menurut Aristoteles dalam Bittle, 1950: 55). Dari sini dapat dipahami bahwa dasar dari kategori adalah pengetahuan tentang ada yang menjadi pembahasan utama dalam metafisika dan ontologi. Dengan penentuan sepuluh kategori, Aristoteles telah mengklaim bahwa ia memahami segala hal sebagai ada (being). Filsuf setelah Aristoteles yang mengemukakan pemikiran mengenai kategori adalah Immanuel Kant. Kant (dalam Takwin, 2005) memandang manusia sebagai agen aktif dengan pikiran sebagai pusat aktivitasnya. Menurut Kant pikiran manusia sudah memiliki pengetahuan bawaan dalam bentuk kategori-kategori. 21

Pengetahuan bawaan yang secara tegas tak dapat ditolak keberadaannya adalah kerangka pemahaman ruang dan waktu. Menurut Kant, setiap pemahaman tentang sesuatu selalu dalam kerangka ruang dan waktu. Pengetahuan apa pun selalu terkait dengan kualitaskualitas serta kuantitas-kuantitas ruang dan waktu. Sejauh berkaitan dengan pengalaman, manusia selalu berpikir dalam kerangka ruang dan waktu. Setiap benda yang diperoleh dari pencerapan indrawi selalu dipahami dalam kerangka ruang dan waktu. Benda-benda sendiri pada dirinya tidak mengandung kualitas dan kuantitas ruang dan waktu. Manusialah yang menempatkan mereka dalam kerangka ruang dan waktu. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pemahaman tentang ruang dan waktu tidak diperoleh dari pengalaman. Pengetahuan tentang ruang dan waktu sudah ada pada diri manusia, dibawanya sejak lahir. Pemahaman tentang ruang dan waktu sudah ada dalam pikiran manusia sebagai pengetahuan bawaan. Selain ruang dan waktu, menurut Kant, manusia juga memiliki pengetahuan bawaan berupa kategori-kategori. Dari analisis dan abstraksinya terhadap berbagai macam putusan dan bentuk-bentuk intelektualnya, Kant menemukan bahwa fungsi berpikir manusia yang tetuang dalam putusan-putusan dapat dikategorikan dalam empat kelompok besar, kuantitas (quantity), kualitas (quality), relasi (relation) dan modalitas (modality). Masing kelompok terdiri dari tiga momenta yang biasa disebut sebagai kategori. Kuantitas mencakup kategori universal, partikular dan singular. Kualitas mencakup kategori afirmatif, negatif dan infinit. Relasi mencakup kategori kategorikal, hipotetikal dan disjunktif. Modalitas mencakup kategori problematik (problematical), asertorik (assertorical) dan apodeiktik (apodeictical). Dari segi kuantitasnya, setiap pernyataan atau putusan selalu dapat digolongkan sebagai universal atau partikular. Kuantitas universal atau partikular dari sebuah pernyataan ditentukan oleh ekstension (keluasan) dari term (istilah) subjek pernyataan. Jika ekstension term subjek mencakup keseluruhan individu yang diwakili oleh term itu maka pernyataan yang menyertakan term subjek ini adalah universal. Jika ekstension term subjek hanya mencakup sebagian individu yang diwakili oleh term itu maka pernyataan yang menyertakan term subjek ini adalah partikular. Contoh: Semua manusia adalah makhluk hidup. Pernyataan ini adalah pernyataan universal karena term manusia yang dalam pernyataan ini merupakan subjek memiliki ekstension yang mencakup semua individu yang tergolong sebagai manusia. Contoh lain: Beberapa filsuf adalah rasionalis. Pernyataan in adalah pernyataan partikular karena term filsuf yang dalam pernyataan ini merupakan subjek memiliki ekstension yang hanya mencakup sebagain filsuf. Jika term subjek memiliki ekstension yang hanya mencakup satu saja maka term ini adalah term ini masuk dalam kategori singular. Dalam logika umum (general logic) ketika term singular digunakan dalam 22

pernyataan maka pernyataan itu adalah pernyataan universal. Namun bagi Kant pernyataan dengan term subjek singular perlu dibedakan dari pernyataan universal dan pernyataan partikular. Contoh: pernyataan Tuhan mendasari hukum moral. Term Tuhan dalam pernyataan ini adalah term singular karena merujuk hanya pada satu hal saja, Tuhan. Dengan memahami bahwa term Tuhan sebagai term singular, bahwa hukum moral yang dimaksud dalam pernyataan tersebut adalah hukum moral tertentu dan bukan hukum moral yang lain. Dari segi kualitasnya, setiap pernyataan dapat dibedakan apakah itu afirmatif, negatif atau infinit. Sebuah pernyataan memiliki kualitas afirmatif jika itu mengafirmasi atau mengiyakan suatu hal. Contoh: Hari ini hujan. Sebuah pernyataan memiliki kualitas negatif jika itu menegasi atau menidakkan/membukankan suatu hal. Contoh: Hari ini tidak hujan. Sebuah pernyataan memiliki kualitas infinit jika pernyataan itu mengungkapkan sesuatu yang tak terbatas. Contoh: Jiwa manusia abadi. Dari segi waktu, keberadaan jiwa manusia tak terbatas. Perlu dipahami di sini bahwa dalam logika umum pernyataan infinit ini digolongkan sebagai pernyataan afirmatif karena secara logis itu mengafirmasi sesuatu, misalnya mengafirmasi bahwa jiwa adalah abadi. Pernyataan jiwa manusia abadi secara logis memiliki pengertian yang definit karena dapat dibedakan dengan pernyataan-pernyataan lain yang mengungkap hal-hal yang terbatas seperti Daya ingat manusia terbatas. Namun Kant membedakan pernyataan-pernyataan infinit dari pernyataan afirmatif untuk memahami pernyataan-pernyataan a priori sintetik. Sesuatu yang infinit, tak terbatas ruang dan waktu, perlu diandaikan ada untuk kepentingan praktis menjaga keteraturan dunia. Dari segi relasi, pernyataan-pernyataan yang ada dapat digolongkan sebagai kategorikal, hipotetikal atau disjunktif. Sebuah pernyataan termasuk dalam kategori kategorikal jika pernyataan itu dapat langsung dinilai benar salahnya tanpa tergantung pada kondisi dan situasi tertentu, juga tidak tergantung pada tempat dan waktu. Contoh: Makhluk hidup bernafas. Sejauh sesuatu itu adalah makhluk hidup, maka di mana pun dan kapan pun, dalam keadaan bangun atau tidur, ia pasti bernafas, tidak mungkin tidak. Sebuah pernyataan termasuk kategori hipotetikal jika benar atau salahnya tergantung pada kondisi atau situasi tertentu. Contoh: Jika hari ini turun hujan maka jalan basah. Basah tidaknya jalan ditentukan oleh hujan-tidaknya hari ini. Penyataaan disjunktif ditentukan berdasarkan hubungan oposisi logis yang saling meng-ekslusi atau saling meniadakan antara satu dan lainnya. Contoh: Dunia terjadi kalau tidak karena kebetulan semata atau karena ada yang menciptakan. Pernyataan ini mengandung dua kemungkinan yang satu sama lain saling meniadakan yaitu kebetulan belaka dan ada yang menciptakan. Tidak mungkin keduanya sekaligus benar, salah satu pasti salah. Jika yang satu benar maka yang lain salah. Pernyataan 23

disjunktif mengandung seluruh hubungan yang ada dalam ruang-lingkup pikiran karena setiap kemungkinan yang ada dalam ruang-lingkup pikiran dapat dinyatakan dengan pernyataan disjunktif lepas dari apakah kemungkinan-kemungkinan itu secara logis berhubungan satu sama lain atau tidak. Semua hal yang tak dapat diungkapkan baik secara kategorikal maupun hipotetikal dapat diungkapkan secara disjunktif. Dari segi modalitas, setiap pernyataan dapat digolongkan sebagai pernyataan problematik, asertorik atau apodeiktik. Sebuah pernyataan adalah problematik jika apa yang diungkap dengan pernyataan itu masih berupa kemungkinan. Contoh: Manusia dapat hidup di bulan. Apa yang dikemukakan pernyataan ini masih berupa kemungkinan. Sejauh ini manusia belum dpaat hidup di bulan tetapi hal itu mungkin karena sudah ada manusia yang mendarat di bulan. Sebuah pernyataan adalah asertorik jika apa yang diungkap dengan pernyataan itu nyata dan sudah terjadi. Contoh: Manusia mampu membuat pesawat ulangalik. Sebuah pernyataan adalah apodeiktik jika apa yang diungkap dengan pernyataan itu merupakan sesuatu yang pasti terjadi, dengan kata lain apa yang diungkapkan oleh pernyataan itu merupakan keharusan atau keniscayaan. Contoh: Manusia harus makan agar dapat bertahan hidup. Dalam pandangan Kant, kategori-kategori yang sudah diuraikan di atas merupakan ide bawaan. Kategori-kategori itu terkandung dalam pikiran manusia dan menjadi kerangka bagi rasionalitas manusia. Filsuf berikutnya yang mengemukakan mengenai kategori adalah Georg Wilhelm Friedrich Hegel. Hegel (Takwin, 2005) mengartikan kategori sebagai ide-ide yang menjelaskan realitas. Ia menggunakan skema triadik sebagai prinsip bagi penentuan kategori dan menemukan sekitar 272 kategori. Berbeda dari Aristoteles dan Kant, Hegel menyatakan bahwa jenis-jenis kategori dan jumlahnya yang tepat tidak dapat ditentukan sebelum sistem realitas dijelaskan secara lengkap. Ia lalu mengubah arti kategori menjadi sekedar pernyataan, konsep atau prinsip dasar dalam sistem filsafat. Di awal abad ke-20, kita temukan Charles Sanders Pierce (10 September 1839-19 April 1914) memahami kategori sebagai istilah-istilah paling umum yang dapat digunakan untuk membagi-bagi atau menggolong-golongkan pengalaman. Kategori-kategori, dalam pandangan Pierce (Takwin, 2005), mencerminkan tiga predikat atau hubungan. Tiga kategori utama menurutnya adalah (1) firstness; (2) secondness; dan (3) thirdness. Masing-masing kategori ini berperan dalam pola pemaknaan monadic, dyadic dan polyadic. Whitehead menggunakan pernyataan tradisional tentang kategori dan mengelaborasi satu set kategori yang berisi 37 kategori yang menjadi dasar bagi penjelasan semua pengalaman. 24

Pendapat tentang kategori yang mengkritik penggolongan kategori dari filsuf-filsuf sebelumnya dikemukakan oleh Gilbert Ryle. Ryle (1949) berpendapat bahwa kategori berjumlah tak terhingga dan tak teratur. Totalitas dari kategori tidak terletak pada prinsip yang menentukan hirarki dari jenis-jenis hal yang tak terbatas. Totalitas kategori tidak dapat ditentukan polanya. Jumlah kategori yang tak terhingga dan sifatnya yang tak beraturan menjadikan mereka tak terangkum dalam satu prinsip. Dengan ketidakteraturannya itu, maka secara tegas kesalahan kategori terutama bukan terletak pada ketidaktepatan menempatkan suatu hal dalam kategori tertentu tetapi lebih pada memaksakan sesuatu dalam kategori tertentu. Kesalahan kategorikal bagi Ryle dimulai dari penentuan sejumlah kategori yang diklaim sebagai fundamental, dasar dan mutlak. Dari sini kesalahan-kesalahan pemahaman selanjutnya terjadi. Bagi Ryle, siapa pun dapat menentukan kategori apa pun tetapi tak ada yang berhak mengklaim satu sistem kategori sebagai benar dan mutlak sementara sistem yang lain salah. Saat ini kata kategori digunakan kebanyakan filsuf untuk merujuk pada jenisjenis fundamental tanpa menentukan apa saja jenis-jenis itu. Padahal kategori-kategori yang ada, menurut Ryle, tidak terbatas pada apa yang dirumuskan oleh filsuf-filsuf itu dan tidak terbatas pula jumlahnya. Pada dasarnya, pemikiran mengenai kategori dari berbagai filsuf memberi pelajaran kepada kita bahwa dalam mengenali dan memahami benda-benda, kita perlu cermat dan hatihati. Kita tidak dapat sembarangan mengartikan satu hal dan tidak dapat mencampuradukan kategori yang satu dengan kategori yang lain. Meski, seperti yang dinyatakan oleh Ryle, jenis kategori tak terbatas, kita perlu tetap menggunakan aturan dan disiplin dalam menggunakan kategori. Kita dapat menggunakan kategori yang kita anggap sesuai dengan kebutuhan kita dalam mencari pengetahuan, tetapi kita harus konsisten dan koheren dalam menggunakannya. 3. Term, Definisi dan Divisi1 3.1 Term Setiap hal yang diinderai dan dipersepsi dibentuk oleh pikiran menjadi ide. Hasil dari pembentukan ini adalah konsep. Setiap konsep ditandakan dalam bentuk term. Rangkaian term yang bermakna adalah pernyataan. Term dan pernyataan merupakan bagian dari bahasa. Bahasa adalah sarana bagi manusia untuk menyampaikan kepada orang lain dan menerima ide dari orang lain.

Sebagian dari pasal yang menjelaskan term, definisi dan divisi disadur dari C.N. Bittle, The Science of Correct Thinking: Logic (Milwaukee, 1950).

25

Term merupakan tanda untuk menyatakan suatu ide yang dapat diinderai (sensible) sesuai dengan pakat (conventional). Tanda itu dapat bersifat formal dan instrumental. Tanda formal digunakan berdasarkan kesamaan antara tanda dan yang ditandai seperti gambar, potret, film, dan huruf hieroglif. Tanda instrumental digolongkan atas dua, yakni tanda alamiah dan tanda konvensional. Tanda alamiah digunakan berdasarkan kaitan alamiah antara tanda dan yang ditandai, misalnya asap menandai api, rasa sakit menandai gangguan pada tubuh, dan tangis menandai kesedihan. Tanda konvensional digunakan berdasarkan

kesepakatan sejumlah orang tertentu pada waktu tertentu, misalnya sandi Morse, tanda lalulintas, dan bahasa. Secara umum term adalah tanda yang didasarkan pada kelaziman, bukan tanda alamiah. Hal ini terlihat dari adanya berbagai bahasa di dunia. Jika semua term bersifat alamiah maka akan terdapat hanya satu bahasa di dunia. Tetapi kita melihat bahwa untuk hal yang sama, bahasa-bahasa menggunakan term-termnya sendiri. Sebagai contoh, untuk term kursi bahasa Indonesia memakai kursi, bahasa Inggris chair, dan bahasa Belanda stuhl. Suatu term sering kali mempunyai bermacam-macam arti. Jika dikelompokkan, setidaknya ada tiga jenis makna term dan penggabungannya dalam kalimat, yakni makna denotatif, makna kesan (sense), dan makna emotif. Makna denotatif merujuk kepada satu arti yang tertera dalam kamus; sering disebut makna sesungguhnya, namun penentuan makna sesungguhnya ini dilakukan berdasarkan kesepakatan. Makna kesan (sense) ialah makna term berdasarkan penggabungannya dengan kata lain; dalam hal ini term dapat memiliki makna lain, misalnya penggunaan term hati pada kalimat Saya sakit hati berbeda dengan Semur hati itu enak sekali. Makna emotif ialah makna term yang didasarkan pada perasaan atau emosi, sikap--baik secara tersurat maupun secara tersirat. Term keras hati secara denotatif memiliki makna yang sama dengan keras kepala, namun keras hati sering kali diartikan sebagai teguh atau tahan godaan, sedangkan keras kepala sering diartikan sebagai tidak mau mengalah atau tidak mau mendengarkan orang lain.

3.2 Definisi Untuk menyamakan pengertian dan menghindari kesalahan penafsiran terhadap term diperlukan definisi. Di samping itu, definisi juga diperlukan untuk dapat memahami sebuah kalimat secara jelas dan sesuai dengan maksud yang ingin disampaikan. Definisi adalah pernyataan yang menerangkan hakikat suatu hal. Definisi menjawab pertanyaan, Apakah itu? Untuk dapat mendefinisikan suatu term kita harus tahu persis tentang hal yang didefinisikan. 26

Kendala yang sering muncul dalam pembuatan definisi adalah keterbatasan pengetahuan dan keterbatasan term. Keterbatasan pengetahuan sering menghasilkan definisi yang terlalu luas. Keterbatasan term memungkinkan penggunaan term yang sama untuk mewakili hal yang berbeda. Kedua kendala ini menyebabkan sulit dicapai definisi yang 100% menjelaskan hal yang hendak didefinisikan.

3.2.1 Penggolongan definisi Menurut kesesuaiannya dengan hal atau kenyataan yang diwakilinya ada dua jenis definisi, yakni definisi nominal (definisi sinonim) dan definisi real (definisi analitik). Definisi nominal ialah definisi yang menerangkan makna kata seperti yang dimuat dalam kamus, misalnya introspeksi berarti menilai diri sendiri, inspeksi memeriksa, dan kursi tempat duduk. Definisi real adalah definisi yang menerangkan arti hal itu sendiri. Pembuatannya menuntut dilakukannya analisis terhadap hal yang akan didefinisikan terlebih dahulu. Sebagai contoh, sikap adalah kecenderung memberikan tanggapan secara positif atau negatif terhadap objek tertentu dan HP adalah daya gerak yang ada dalam mesin yang dinyatakan dengan daya gerak seekor kuda. Definisi real dibedakan atas dua, yakni definisi esensial dan definisi deskriptif. Definisi esensial menerangkan inti (esensi) dari suatu hal dengan menyebutkan genus dan diferentianya. Genus adalah kelompok besar atau kelas dari hal yang akan dijelaskan, sedangkan diferentia adalah ciri khas yang hanya ada pada hal yang didefinisikan. Ciri khas inilah yang membedakan suatu hal dengan hal lain dalam genus atau kelompok yang sama. Sebagai contoh, dalam Manusia adalah makhluk rasional, makhluk adalah genusnya dan rasional adalah diferentia spesifiknya. Definisi ini adalah definisi yang ideal dan mendekati

pengertian hal yang hendak didefinisikan. Definisi deskriptif mengemukakan segi-segi yang positif tetapi belum tentu esensial mengenai suatu hal. Definisi deskriptif dibedakan atas empat, yakni definisi distingtif, definisi genetik, definisi kausal, dan definisi aksidental. Definisi distingtif menunjukkan properti, misalnya Oksigen adalah gas yang tak berwarna, tak berbau, tak mempunyai rasa, 1105 kali dari berat udara, dan mencair pada suhu di bawah -115 derajat C. Definisi genetik menyebutkan asal mula atau proses terjadinya suatu hal, misalnya Air adalah zat yang terjadi dari gabungan 2 atom Hidrogen dan 1 atom oksigen, dan Lingkaran adalah bentuk geometris yang terdiri dari garis-garis lurus yang sama panjang yang terletak pada bidang datar dan berawal dari satu titik pusat. Definisi kausal menunjukkan penyebab atau akibat dari sesuatu hal, misalnya Lukisan adalah gambar yang dibuat oleh seorang 27

seniman, dan Arloji adalah alat penunjuk waktu. Definisi aksidental tidak mengandung hal-hal yang esensial dari suatu hal, misalnya Dijual rumah. Luas tanah 170 m2. Bangunan bertingkat dan pekarangan tertata rapi. Lokasi: Jln. Macan No. 30 Jakarta Pusat. Dilengkapi telepon dan AC. Lingkungan nyaman, aman, dan tentram. Definisi real jarang dapat tercapai sepenuhnya karena sering kali ada karakteristik yang tak dapat diungkapkan dengan kata-kata. Kadang-kadang perumusannya terkendala karena kurangnya pengetahuan si pembuat definisi. Ada term yang tidak dapat didefinisikan karena berhubungan langsung dengan indera, misalnya manis, pahit, dan sakit. Ada juga term yang sulit didefinisikan karena sangat umum, misalnya ada (hanya dapat didefinisikan dengan cara membandingkannya dengan tidak ada yang merupakan term di luar term yang didefinisikan). Contoh lain ialah satu, benda, dan hal. Di samping definisi yang telah diuraikan di atas, ada juga definisi yang dibuat dengan menggunakan contoh, misalnya Minuman yang sehat itu, di antaranya ialah air dan hasil perasan buah segar. Pernyataan seperti ini sebenarnya kurang memadai sebagai definisi karena tidak mencakup keseluruhan ide yang terkandung dalam term atau hal yang didefinisikan. 3.2.2 Aturan membuat definisi Pembuatan definisi yang memadai untuk digunakan dalam pemikiran logis harus mengikuti aturan-aturan berikut ini. Pertama, definisi harus lebih jelas dari yang didefinisikan; jika tidak, maka definisi akan kehilangan fungsinya. Untuk itu harus diperhatikan catatan-catatan berikut ini. Term-term yang muluk seperti contoh berikut, Manusia adalah alam semesta yang mengejawantah dan Kewibawaan adalah pancaran nurani dan kedigjayaan manusia harus dihindari. Demikian pula term-term yang sulit dimengerti (tidak lazim), misalnya definisi pemimpin berikut ini yang diberikan kepada orang yang bukan penutur bahasa Jawa, Pemimpin adalah orang yang bersifat ing ngarso sung tulodo, ing madyo mbangun karso, tut wuri handayani. Kedua, definisi tidak boleh mengandung ide atau term dari yang didefinisikan seperti pada contoh Binatang adalah hewan yang mempunyai indera dan Emosi adalah gejolak perasaan. Definisi semacam ini disebut definisi sirkular (circular definition). Ketiga, definisi dan yang didefinisikan harus dapat dibolak-balik dengan pas, misalnya Buku adalah sejumlah kertas yang terjilid. Kalau dibalik, Sejumlah kertas yang terjilid adalah buku. Contoh yang salah ialah Kecap adalah penyedap masakan. Jika urutannya

28

dibalik menjadi, Penyedap masakan adalah kecap maka pernyataan itu menjadi salah karena penyedap makanan belum tentu kecap. Keempat, definisi harus dinyatakan dalam kalimat positif. Kalimat ingkar atau negatif seperti Gembira adalah keadaan tidak sedih atau Manusia bukan binatang tidak memenuhi syarat definisi. Dalam tulisan jenis sastra ada kekecualian dalam pembuatan definisi karena pendefinisian di situ umumnya bukan dalam rangka menjelaskan hal tertentu secara harafiah, melainkan untuk memberi kesan tertentu. Sastra juga memakai teknik gaya bahasa yang tidak harus mengikuti tata cara pembuatan definisi tersebut di atas. Tulisan-tulisan retorika yang mementingkan makna sense dan pengaruh tulisan terhadap pembaca atau pendengar juga tidak harus mengikuti tata cara pembuatan definisi itu. 3.3 Divisi Selain dapat dijelaskan apa artinya, term juga dapat diuraikan dengan kriteria tertentu menjadi bagian-bagian. Penguraian term itu biasa disebut divisi. Divisi adalah uraian suatu keseluruhan ke dalam bagian-bagian berdasarkan satu kesamaan karakteristik tertentu. Pembagian dalam bentuk divisi merupakan upaya lain untuk menjelaskan term. Ada beberapa jenis divisi, yakni divisi real (atau aktual) dan divisi logis.

3.3.1 Divisi real atau aktual Penguraian dengan divisi real atau aktual dilakukan berdasarkan bagian-bagian yang ada pada objek itu sendiribaik fisik maupun metafisikterlepas dari aktivitas mental manusia. Divisi berdasarkan bagian fisik dilakukan berdasarkan faktor-faktor fisik yang dapat dipisahkan, satu dari yang lain. Bagian itu dapat berupa bagian yang esensial atau bagian yang integral. Bagian-bagian yang essensial ialah bagian-bagian yang harus lengkap. Jika salah satu di antaranya hilang maka hilang pula eksistensi keseluruhannya, misalnya Manusia terdiri dari badan dan jiwa, air terdiri dari oksigen dan hidrogen, garam dapur terdiri dari sodium dan klorin, dan mobil terdiri dari mesin dan tubuh. Bagianbagian yang integral ialah bagian-bagian yang tidak harus lengkap. Jika salah satu anggotanya hilang, hal itu tidak mlenyapkan eksistensi atau esensi halnya. Bagian yang integral terbagi atas dua, yakni yang homogen dan yang heterogen. Bagian-bagian yang homogen ialah segolongan unsur yang menjadi bagian dari sesuatu hal, misalnya Air terdiri dari titik-titik, Api terdiri dari percikan-percikan, dan Pasir terdiri dari butir-butir. Sementara itu, bagian-bagian yang heterogen ialah bagian-bagianyang tidak segolongan 29

dari sesuatu hal, misalnya Manusia terdiri dari kaki, tangan, dan mata, dan Masyarakat terdiri dari golongan kaya dan miskin. Divisi berdasarkan bagian metafisik dilakukan berdasarkan bagian-bagian yang merupakan esensi dari sesuatu hal yang tidak dapat dipisahkan satu sama lain karena dalam kenyataannya bagian-bagian itu merupakan ketunggalan, misalnya Manusia terdiri dari rasio, indera, nyawa, dan tubuh. Bagian-bagian ini tidak terpisahkan. Dalam pembuatan divisi real sebaiknya dilakukan observasi, analisis, dan abstraksi terhadap hal yang akan diuraikan. Observasi, analisis, dan abstraksi ini diperlukan untuk memahami hal yang akan diuraikan sehingga penguraiannya tidak bertentangan dengan kenyataan dari hal itu. 3.3.2 Divisi Logis Dalam divisi logis mental manusialah yang membagi keseluruhan hal menjadi bagian-

bagian. Kita menambahkan unsur-unsur tertentu kepada suatu hal untuk menjadikannya kelas atau sub-kelas, misalnya Hal, Hal yang hidup, Hal hidup yang berindera (= hewan), Hal hidup yang berindera dan berakal (= manusia). Kegiatan menambahkan elemenelemen ini, yang merupakan kegiatan dari divisi logis, disebut sintesis.

3.3.3 Aturan Pembuatan Divisi Divisi harus dibuat memadai; artinya, jumlah semua bagian harus sama dengan keseluruhan. Ada sejumlah aturan yang harus diikuti dalam pembuatan divisi. 1) Tidak boleh ada bagian yang terlewati. 2) Bagian tidak boleh melebihi keseluruhan. 3) Tidak boleh ada bagian yang meliputi bagian yang lain. 4) Divisi harus jelas dan teratur. 5) Jumlah bagian harus terbatas; kalau kebanyakan akan kacau. Jika diperlukan, dibuat subbagian. Berikut adalah contoh divisi yang salah, Pengguna terminal terdiri dari pengendara kendaraan bermotor, supir kendaraan umum, pengendara kendaraan tak bermotor, mahasiswa/pelajar, pedagang kaki lima, ibu rumah tangga, pejalan kaki, penumpang kendaraan umum, dan karyawan. Pembagian divisi ini salah karena hal-hal berikut ini. Pertama, ada bagian yang terlewati (petugas terminal juga menggunakan terminal sebagai tempat kerjanya). Kedua, ada bagian yang meliputi bagian yang lain (mahasiswa bisa saja sekaligus pengendara kendaraan bermotor atau tak bermotor; penumpang kendaraan umum bisa saja sekaligus mahasiswa/pelajar, ibu rumah tangga, dan karyawan). Ketiga, dasar

30

pembagiannya tidak jelas (apakah berdasarkan jenis pekerjaan, lama atau sebentarnya di jalan, atau penggunaan kendaraan?). Keempat, jumlah bagian terlalu banyak. 4. Kalimat, Pernyataan, dan Proposisi2 4.1. Pengertian Kalimat, Pernyataan, dan Proposisi Perhatikanlah kalimat-kalimat berikut. (1) Hari ini cuaca cerah. (2) Apakah kamu sudah sarapan tadi pagi? (3) Jawab pertanyaan saya. Kalimat-kalimat itu merupakan tiga kalimat yang berbeda. Kalimat (1) adalah kalimat berita, yaitu kalimat yang memberitakan hal tertentu. Kalimat (2) adalah kalimat tanya; isinya merupakan pertanyaan tentang hal tertentu. Kalimat (3) adalah kalimat perintah yang isinya menyerukan atau memerintahkan orang untuk melakukan hal tertentu. Dalam kehidupan sehari-hari, untuk berkomunikasi kita menggunakan kalimat, baik kalimat berita, kalimat perintah, maupun kalimat tanya. Secara umum, kalimat didefinisikan sebagai: serangkaian kata yang disusun berdasarkan aturanaturan tata bahasa dalam suatu bahasa, dan dapat digunakan untuk tujuan menyatakan, menanyakan, atau memerintahkan sesuatu hal. Benar atau salahnya struktur suatu kalimat ditentukan berdasarkan kaidah atau aturan tata bahasa suatu bahasa. Penilaian terhadap kalimat terutama dalam hal apakah susunan atau bangunan kata yang membentuk kalimat tepat atau tidak. Secara umum, struktur kalimat berita terdiri dari subjek-predikat-objek, misalnya, Saya memakai baju. Dalam kalimat itu, saya adalah subjek, memakai predikat, dan baju objek. Kalimat tanya umumnya dibuat dengan menggunakan kata yang dilengkapi dengan bentuk akhir -kah, seperti apakah, adakah, sudahkah, pernahkah, dan maukah. Bisa juga kalimat tanya hanya terdiri dari satu kata, seperti Mau? atau Ada? Dalam bahasa lisan kalimat tanya ditandai dengan intonasi tertentu; dalam bahasa tulis ditandai dengan tanda tanya [?]. Kalimat perintah umumnya dimulai dengan kata kerja, seperti Pergi kau!, atau dengan kata larangan seperti Jangan datang lagi. Kalimat perintah bisa saja hanya terdiri dari satu kata. Dalam bahasa lisan, kalimat perintah dengan satu kata ditandai dengan intonasi yang menunjukkan ketegasan, sedang dalam bahasa tulisan kalimat ini diakhiri dengan tanda titik [.] dan kadang-kadang dengan tanda seru [!]. Salah satu jenis kalimat adalah pernyataan (bahasa Inggris statement) yang dalam praktiknya sama dengan kalimat berita. Tetapi, pernyataan memiliki pengertian yang lebih
2

Sebagian dari pasal yang membahas kalimat, pernyataan, dan proposisi ini disadur dari buku A. K.Bierman dan R. N. Assali, The Critical Thinking Handbook (New Jersey, 1994). Penyaduran itu dilakukan dengan bantuan dari Judithia A. Wirawan.

31

khusus. Pernyataan adalah kalimat yang digunakan untuk membuat suatu klaim atau menyampaikan sesuatu yang bisa benar atau salah. Kalimat yang berupa pertanyaan atau perintah berbeda dari pernyataan karena pertanyaan dan perintah tidak bisa benar dan sekaligus salah. Pernyataan memiliki nilai kebenaran (truth value). Artinya, suatu pernyataan bisa dinilai benar atau salah, misalnya pernyataan Hari ini hujan turun benar jika sesuai dengan kenyataan bahwa hari ini

memang hujan. Tetapi jika kenyataan menunjukkan bahwa hari ini tidak hujan, maka pernyataan itu salah. Suatu pernyataan tidak bisa benar dan salah sekaligus. Jika ada pernyataan yang mengandung benar dan salah sekaligus, maka itu adalah paradoks yang merupakan satu bentuk kesalahan dalam berpikir. Dalam literatur logika dan ilmu pengetahuan, kita juga menemukan term proposisi (dari kata bahasa Inggris proposition). Proposisi ialah makna yang diungkapkan melalui pernyataan, atau dengan kata lain arti atau interpretasi dari suatu pernyataan. Sebagai analogi, jika kata mengungkapkan konsep atau ide (konsep/ide = makna kata), maka pernyataan mengungkapkan proposisi (proposisi = makna pernyataan). Proposisi juga dapat dipahami sebagai makna dari kalimat berita, mengingat bahwa pernyataan merupakan kalimat berita yang dapat dinilai benar atau salah. Berikut ialah tiga hal yang menjadi konsekuensi dari definisi kalimat, pernyataan dan proposisi tersebut. Pertama, kalimat yang tidak bermakna atau tidak koheren tidak mengungkapkan proposisi apa pun. Misalnya, deretan kata penerangan tapi kecepatan membaca tidak mengungkapkan proposisi apa pun karena penerangan dan kecepatan membaca di sini tidak mempunyai hubungan yang jelas dan penggunaan kata tapi di sini tidak tepat. Kedua, pernyataan atau kalimat yang berbeda dapat mengungkapkan proposisi yang sama, misalnya, Rina adalah adik Yanto merupakan proposisi yang sama dengan Yanto adalah kakak Rina. Ketiga, kalimat atau pernyataan yang sama dapat mengungkapkan proposisi yang berbeda, misalnya, Masyarakat Jakarta adalah masyarakat yang majemuk dapat mengungkapkan proposisi yang berbeda-beda, antara lain Masyarakat Jakarta terdiri dari banyak etnis atau Masyarakat Jakarta terdiri dari banyak agama dan Masyarakat Jakarta merupakan keturunan dari perpaduan suku tertentu. Lalu, bagaimana kita dapat mengetahui apa proposisi yang ingin diungkapkan suatu kalimat atau pernyataan? Kita dapat memastikannya melalui pencermatan terhadap informasi non-bahasa atau konteks atau dengan menggunakan kalimat lain yang lebih jelas dan khusus. Kalimat atau pernyataan yang boleh ditafsirkan lebih dari satu makna (multi-tafsir) dapat menyebabkan kita salah dalam memahami dan menanggapinya. Jika kita menggunakan 32

hasil pemaknaan itu dalam pembuatan keputusan, maka kita pun bisa salah membuat keputusan dan menanggung kerugian akibat kesalahan itu. Oleh karena itu, perlu dihindari penggunaan kalimat atau pernyataan yang multi-tafsir dengan membuat pernyataan yang baik, yang jelas maknanya. Untuk membuat suatu pernyataan yang baik, perlu dilakukan halhal berikut. Pertama, membangun suatu kalimat yang mengungkapkan suatu proposisi. Kedua, mengusahakan supaya proposisi yang ingin diungkapkan menjadi jelas. Akhirnya, membuat pernyataan mengenai nilai kebenaran kalimat itu. Biasanya langkah-langkah itu tidak disadari ketika seseorang menyusun suatu pernyataan. Oleh karena itu orang perlu berlatih membuat pernyataan yang baik agar terbiasa. Tanpa latihan, orang cenderung membuat kalimat yang multi-tafsir atau tidak jelas maknanya. Bahkan orang bisa saja membuat kalimat atau pernyataan yang tidak koheren sehingga sama sekali tidak dapat dimaknai. Kesalahan yang mungkin terjadi dalam pembuatan kalimat atau pernyataan adalah yang berikut. 1) Kalimatnya tidak koheren sehingga tidak dapat dimaknai oleh pendengar atau pembaca. 2) Kalimatnya sudah koheren tetapi proposisi apa yang dimaksudkan tidak jelas sehingga dapat menyebabkan salah tafsir. 3) Tidak menunjukkan dengan jelas bahwa kita sedang menyatakan nilai kebenaran dari kalimat kita (dan bukannya sedang bertanya, mencoba sound system, berspekulasi, atau berlatih drama). Dalam bahasa lisan, kesalahan ini seringkali disebabkan oleh salah intonasi. Dalam bahasa tulis, hal ini seringkali timbul karena kesalahan penggunaan tanda baca.

4.2 Pernyataan Sederhana dan Pernyataan Kompleks Secara umum, berdasarkan proposisi yang dikandung, ada dua jenis pernyataan, yaitu pernyataan sederhana dan pernyataan kompleks. Pernyataan sederhana adalah pernyataan yang hanya mengandung satu proposisi, misalnya, Anak itu menangis. Pernyataan kompleks adalah pernyaataan yang mengandung lebih dari satu proposisi, misalnya, Selain gemar membaca buku, Adi juga senang menulis cerita pendek. Pernyataan ini mengandung dua proposisi, yaitu Adi gemar membaca buku dan Adi senang menulis cerita pendek. Proposisi yang dikandung oleh suatu pernyataan juga disebut komponen logika dari pernyataan. Komponen logika adalah komponen yang turut menentukan benar atau salahnya suatu pernyataan. Oleh karena sebuah pernyataan ditentukan benar-salahnya berdasarkan makna yang diungkapkannya atau proposisinya, maka komponen logika suatu pernyataan dapat dipahami dari proposisi pernyataan itu.

33

Tidak semua kalimat kompleks (kalimat yang mengandung lebih dari satu komponen) merupakan pernyataan kompleks, karena komponen itu belum tentu merupakan komponen logika. Sebagai contoh, Saya harap kamu belajar giat memang merupakan kalimat kompleks tetapi termasuk jenis pernyataan sederhana karena hanya mengandung satu proposisi atau satu komponen logika. Yang menentukan benar atau tidaknya pernyataan itu adalah saya harap. Jika kenyataannya saya berharap kamu belajar giat maka pernyataan itu benar. Tetapi jika kenyataannya saya tidak berharap kamu belajar giat maka pernyataan itu salah. Perhatikan kalimat-kalimat berikut ini. (1) Tidak benar bahwa anak itu nakal. (2) Rani pikir anak itu nakal. Pernyataan yang dikandung dalam kalimat (1) adalah [Hal] itu (anak itu nakal) tidak benar dan Anak itu nakal. Dalam pernyataan pertama, anak itu nakal merupakan komponen logika karena benar atau salahnya komponen itu turut menentukan benar atau salahnya pernyataan itu: jika kenyataannya benar bahwa anak itu nakal, maka pernyataan itu adalah salah, sedangkan jika kenyataannya tidak benar bahwa anak itu nakal, maka pernyataan itu adalah benar. Kalimat ini mengandung dua proposisi. Pernyataan yang terkandung dalam kalimat (2) adalah Rani pikir [x] dan Anak itu nakal. Dalam pernyataan itu, anak itu nakal bukan komponen logika karena benar atau salahnya hal itu tidak menentukan benar atau salahnya pernyataan: apakah kenyataan anak itu nakal atau tidak nakal, tidak menentukan apakah benar bahwa Rani berpikir anak itu nakal. Nilai kebenaran pernyataan kedua ada pada: apakah benar bahwa Rani pikir anak itu nakal, ataukah Rani tidak berpikir bahwa anak itu nakal. Kalimat ini hanya mengandung satu proposisi. Demikianlah anak itu nakal merupakan komponen logika dalam kalimat (1), tetapi bukan komponen logika dalam kalimat (2). Jadi, kalimat (1) merupakan pernyataan kompleks, sedangkan kalimat (2) merupakan pernyataan sederhana. Biasanya, komponen yang mengikuti kata-kata yang menunjukkan sikap atau pendapat pribadi, seperti pikir, harap, kira, dan percaya bukan merupakan komponen logika. Dalam percakapan sehari-hari, komponen-komponen dalam pernyataan kompleks sering kali tidak diungkapkan secara lengkap, seperti diperlihatkan oleh contoh-contoh berikut. (1) Kalau kamu tidak mau pergi, tidak usah. (Lengkapnya: Kalau kamu tidak mau pergi, kamu tidak usah pergi.)

34

(2) Mengingat kamu punya kehendak sendiri, kamu boleh memilih untuk ikut atau tidak. (Lengkapnya: Kamu punya kehendak sendiri, jadi kamu boleh memilih untuk ikut atau kamu boleh memilih untuk tidak ikut.) (3) Kuda tidak satu spesies dengan keledai. (Lengkapnya: Tidak benar bahwa kuda satu spesies dengan keledai.)

4.3 Jenis-jenis Pernyataan Kompleks Hubungan di antara proposisi atau pernyataan sederhana dalam pernyataan kompleks ditunjukkan oleh penggunaan kata penghubung seperti tidak, dan, atau, jika, dan maka. Katakata yang menghubungkan pernyataan-pernyataan sederhanasehingga terbentuk satu pernyataan kompleksdan menjelaskan hubungan-hubungan yang terdapat di antara pernyataan-pernyataan sederhana itu disebut kata penghubung logis atau kata penghubung kalimat. Kata penghubung itu digunakan untuk membangun struktur logika dari pernyataan kompleks. Berdasarkan hubungan di antara proposisi-proposisi yang terkandung dalam pernyataan kompleks, ada empat jenis pernyataan kompleks, yaitu: 1) Negasi (bukan P) 2) Konjungsi (P dan Q), dan 3) Disjungsi (P atau Q) 4) Kondisional (Jika P maka Q) Secara umum struktur logika terdiri atas empat jenis seperti yang sudah disebutkan di atas. Dalam praktiknya, tidak mudah menemukan struktur logika suatu pernyataan atau suatu argumen. Hal itu dapat terjadi karena 1) ada lebih dari satu cara untuk mengungkapkan keempat jenis pernyataan kompleks tersebut di atas, dan 2) struktur logika suatu pernyataan sering kali tersembunyi. Untuk dapat menemukan struktur logika dari pernyataan-pernyataan, kita perlu mempelajari struktur logika dari keempat pernyataan kompleks itu.

4.3.1 Negasi Negasi dari suatu pernyataan sederhana adalah pengingkaran atas pernyataan itu. Jika A adalah suatu pernyataan, negasinya adalah Tidak benar bahwa A. Ini disingkat menjadi Bukan-A atau Bukan (A). Suatu pernyataan dan negasinya tidak mungkin benar keduaduanya, atau salah kedua-duanya. Benar atau salahnya (nilai kebenaran) suatu negasi tergantung pada nilai kebenaran komponen logikanya. Karena itu, negasi termasuk pernyataan kompleks, bukan pernyataan sederhana. 35

Dalam percakapan sehari-hari, kita jarang menyatakan negasi dalam kalimat, Tidak benar bahwa melainkan kita cukup menyingkatnya dengan kata tidak, misalnya: (1) Orang jujur tidak bisa berbohong. (Tidak benar bahwa orang jujur bisa berbohong.) (2) Kamu tidak pernah mengajak saya makan-makan. (Tidak benar bahwa kamu mengajak saya makan-makan.) Perhatikan bahwa penafsiran dari contoh (2) sebenarnya agak kurang tepat. Untuk menafsirkan Kamu tidak pernah mengajak saya jalan-jalan diperlukan teknik logika lebih lanjut, yang akan dijelaskan kemudian. Kata-kata yang maknanya berlawanan (antonim) tidak berarti bahwa kata-kata saling menegasikan. Misalnya, Brian membenci Ratih, bukan negasi dari Brian mencintai Ratih. Negasi dari Brian membenci Ratih adalah Brian tidak membenci Ratih. Bisa saja terjadi bahwa Brian tidak mencintai Ratih tetapi juga tidak membenci Ratih. Umpamanya, jika Brian tidak mengenal Ratih sama sekali, atau Brian dan Ratih berteman, maka mereka tidak saling mencintai dan juga tidak saling membenci. Dengan kata lain, Brian membenci Ratih menunjukkan bahwa Brian mempunyai sikap negatif terhadap Ratih. Sementara itu, Brian tidak mencintai Ratih hanya menunjukkan bahwa Brian tidak mempunyai afeksi positif terhadap Ratih, namun itu tidak harus berarti Brian membenci Ratih. Brian membenci Ratih merupakan suatu pernyataan sederhana. Negatif ganda pada umumnya membentuk pernyataan positif seperti pada contohcontoh berikut. (1) Pikiran manusia tidak tak terbatas. (Pikiran manusia terbatas.) (2) Jangan sekali-sekali tidak membayar pajak. (Bayarlah pajak.)

4.3.2 Konjungsi Suatu pernyataan kompleks yang komponen logikanya dihubungkan dengan kata dan disebut konjungsi atau kalimat konjungtif. Jika P dan Q adalah pernyataan yang merupakan komponen, bentuk standar dari konjungsi adalah P dan Q. Komponen-komponennya (masing-masing P dan Q) disebut konjung. Sebagai contoh, pernyataan kompleks Indonesia dan Malaysia berasaskan demokrasi terbentuk dari dua pernyataan sederhana, masingmasing Indonesia berasaskan demokrasi dan Malaysia berasaskan demokrasi. Jumlah konjung dalam suatu kalimat konjungsi tidak harus dua, tapi bisa juga lebih, misalnya, Indonesia, Malaysia dan Australia berasaskan demokrasi. Pernyataan kompleks ini terdiri dari tiga pernyataan sederhana, yaitu Indonesia berasaskan demokrasi, Malaysia berasaskan demokrasi, dan Australia berasaskan demokrasi. 36

Suatu konjungsi benar bila semua konjungnya benar, dan salah jika salah satu konjungnya salah. Sebagai contoh, pernyataan Indonesia dan Malaysia berasaskan demokrasi benar jika dalam kenyataannya memang Indonesia berasaskan demokrasi dan Malaysia berasaskan demokrasi. Jika semua salah atau salah satu pun konjungnya salah, maka konjungsi salah. Pernyataan Manusia dan burung adalah makhluk rasional salah karena pernyataan Burung adalah makhluk rasional salah. Ada kata lain di samping dan yang fungsinya kurang lebih sama. Perhatikanlah contoh-contoh berikut. (1) Saya mau nasi dan daging, tetapi sayur tidak. (Saya mau nasi, dan saya mau daging, tapi saya tidak mau sayur.) (2) Walaupun miskin, dia bahagia. (Dia miskin dan dia bahagia.) (3) Anto datang ke rapat itu, begitu pula Yana. (Anto datang ke rapat itu dan Yana datang ke rapat itu.) (4) Kami berhasil; namun demikian, kami menyadari kekurangan kami. (Kami berhasil, dan kami menyadari kekurangan kami.) Penggunaan tapi, walaupun, dan lain-lain itu mengandung arti lebih dari sekadar dan. Tetapi, secara logis, nilai kebenaran Dia miskin dan dia bahagia sama dengan nilai kebenaran Walaupun dia miskin, dia bahagia. Artinya, jika Dia miskin dan dia bahagia benar, maka Walaupun dia miskin, dia bahagia juga benar. Sebaliknya, jika Dia miskin dan dia bahagia salah, maka Walaupun dia miskin, dia bahagia juga salah. Penggunaan kata dan kadang-kadang taksa atau ambigu (ambiguous). Contohnya, Joko dan Patmo memenangkan perlombaan maraton. Pernyataan ini dapat

diinterpretasikan menjadi: 1) Joko memenangkan perlombaan maraton dan Patmo memenangkan perlombaan maraton (konjungsi), atau 2) Pasangan Joko dan Patmo memenangkan perlombaan maraton (pernyataan sederhana). Untuk mengetahui interpretasi mana yang benar, digunakan konteks atau informasi lain yang tersedia. Jika kita yang menyampaikan pernyataan itu, sebaiknya kita menggunakan pernyataan yang lebih lengkap dan jelas. Meskipun ada konteks, kemungkinan salah tafsir tetap besar. Oleh sebab itu, penggunaan pernyataan yang taksa atau bertafsir ganda harus dihindari. Menurut logika, urutan konjungsi boleh dibolak-balik tanpa mempengaruhi nilai kebenarannya, misalnya Saya ingin makan nasi dan minum teh dapat dibalik menjadi Saya ingin minum teh dan makan nasi. Kedua pernyataan ini sama saja arti dan nilai 37

kebenarannya. Namun, dalam kasus-kasus tertentu, urutannya tidak dapat dibalik. Sebagai contoh, pernyataan Made meninggal dunia dan dibakar berbeda maknanya dengan Made dibakar dan meninggal dunia karena urutannya berbeda.

4.3.3 Disjungsi Pernyataan kompleks yang komponen logikanya dihubungkan dengan kata atau disebut disjungsi atau pernyataan disjungtif. Jika P dan Q adalah pernyataan yang merupakan komponen pernyataan kompleks, bentuk standar dari disjungsi adalah P atau Q, misalnya Joko atau Padmo yang memenangkan pertandingan bulu tangkis. Komponenkomponennya (masing-masing P dan Q) disebut disjung. Jumlah disjung dalam suatu disjungsi tidak harus dua, tetapi bisa juga lebih, misalnya, Joko atau Padmo atau Riski yang memenangkan pertandingan bulu tangkis. Urutan disjung dalam suatu disjungsi tidak mempengaruhi nilai kebenarannya. A atau B secara logis ekuivalen dengan B atau A. Umpamanya, Joko atau Padmo yang memenangkan pertandingan bulu tangkis sama maknanya dengan Padmo atau Joko yang memenangkan pertandingan bulu tangkis. Suatu disjungsi benar bila paling sedikit salah satu disjungnya benar, dan salah jika semua disjungnya salah. Jadi, A atau B benar jika A benar, B benar, atau A dan B benar. Sedangkan A atau B salah jika A dan B salah. Disjungsi Joko atau Padmo yang memenangkan pertandingan bulu tangkis benar jika salah satu konjungnya benar, misalnya Joko yang memenangkan pertandingan bulu tangkis. Disjungsi Joko atau Padmo yang memenangkan pertandingan bulu tangkis salah jika baik pernyataan Joko yang memenangkan pertandingan bulu tangkis maupun Padmo yang memenangkan pertandingan bulu tangkis salah. Penggunaan kata atau seperti ini disebut atau-inklusif. Dalam percakapan sehari-hari, kadang-kadang kata atau digunakan sebagai ataueksklusif, yang berarti bahwa hanya salah satu dari disjungnya yang benar, misalnya Anto ada di Jakarta atau di Bandung (tidak mungkin kedua disjungnya benar). Dalam teori-teori logika, yang dipakai adalah atau-inklusif. Jika dalam teori logika, kita ingin mengungkapkan suatu hubungan atau -eksklusif, maka struktur logikanya menjadi A atau B dan bukan (A dan B), misalnya Anto ada di Jakarta atau dia ada di Bandung dan tidak benar bahwa dia ada di Jakarta sekaligus dia ada di Bandung. Perhatikan penulisan struktur logika, jika kita menggunakan bentuk negasi tanpa tanda kurung, maka hasilnya menjadi ambigu seperti ini: A atau B dan bukan -A dan B.

38

4.3.4 Kondisional Pernyataan kompleks yang komponen logikanya dihubungkan dengan jika, maka disebut pernyataan kondisional atau hipotetisis. Jika P dan Q adalah pernyataan yang merupakan komponen, bentuk standar dari konjungsi adalah Jika P maka Q. Pernyataan dalam anak kalimat yang mengandung kata jika disebut anteseden, dan pernyataan dalam anak kalimat yang mengandung kata maka disebut konsekuen. Nilai kebenaran suatu pernyataan kondisional agak rumit penentuannya. Hal ini menyebabkan timbulnya pandangan yang berbeda-beda. Salah satu di antaranya (yang dianut oleh para ahli logika formal) ialah pandangan kondisional material, yang menyatakan bahwa suatu pernyataan kondisional dianggap salah hanya jika antesedennya benar dan konsekuennya salah. Perhatikan pernyataan hari hujan dan tanah basah yang masing-masing benar. Menurut syarat kondisional material, hal itu berarti bahwa jika hari hujan maka tanah basah adalah benar, semrntara jika hari hujan maka tanah kering salah; jika hari cerah, maka tanah basah adalah benar, dan jika hari cerah maka tanah kering benar. Nilai kebenaran kondisional material tidak tergantung pada hubungan antara komponen-komponennya karena kondisional material tidak melihat isi dari pernyataan yang menjadi komponennya. Dalam kehidupan sehari-hari, kita menggunakan pernyataan kondisional untuk menggambarkan hubungan antara komponen-komponennya, misalnya jika Maulana minum alkohol 1 liter, maka ia akan mabuk untuk menunjukkan hubungan kausal; jika binatang itu termasuk mamalia, maka dia pasti menyusui untuk menunjukkan hubungan konseptual; dan jika seseorang termasuk mahasiswa, maka dia pasti terdaftar secara resmi sebagai orang yang belajar di perguruan tinggi untuk menunjukkan hubungan definisional. Kebenaran pernyataan-pernyataan itu tergantung pada hubungan antara anteseden dengan konsekuennya juga. Tetapi dari sudut pandang logika murni, maka yang dianut adalah kondisional material. Secara logika, jika A, maka B ekuivalen dengan jika tidak B, maka tidak A. Kedua bentuk ini disebut kontrapositif. Pernyataan kondisional yang mempunyai anteseden yang salah disebut kondisional yang berlawanan dengan kenyataan. Dari sudut pandang kondisional material, nilai kebenaran kondisional seperti ini adalah benar. Dalam kehidupan sehari-hari, tidak jarang orang menggunakan bentuk kondisional bukan untuk menggambarkan hubungan kondisional, misalnya jika saya jadi kamu, saya akan minta melamar (kamu sebaiknya melamar); di gudang ada payung, kalau kamu mau (kamu boleh ambil payung di gudang); kalau laki-laki itu kamu bilang ganteng, maka saya adalah Arjuna (laki-laki itu tidak ganteng). Untuk membedakan mana pernyataan kondisional 39

yang sesungguhnya dan mana yang bukan, digunakan akal sehat dan ingatan tentang kenyataan-kenyataan yang dirujuk dalam pernyataan. Ada banyak cara untuk mengungkapkan pernyataan kondisional, yang semuanya dapat dikembalikan ke bentuk standar Jika A, maka B. Kadang-kadang jika suatu bentuk kondisional yang tidak standar diterjemahkan ke bentuk standar, maka artinya berubah, misalnya Saya senang hanya jika saya berhasil menjadi juara 1. Jika diubah ke bentuk standar menjadi Jika saya senang, maka saya berhasil menjadi juara 1, maka artinya pun berubah jika kita menerjemahkan Kesenangan saya menyebabkan saya menangke dalam bentuk kontrapositifnya menjadi Jika saya tidak menang, maka saya tidak senang maka artinya menjadi lebih masuk akal. Oleh sebab itu, dalam mengubah suatu bentuk kondisional menjadi bentuk standarnya, kita harus melihat apakah bentuk standar ataukah bentuk kontrapositifnya yang lebih dapat menangkap arti sesungguhnya dari pernyataan asalnya. (Periksa Tabel 2.1.) Tabel 2.1: Pernyataan Kondisional dan Bentuk Standarnya Pernyataan Kondisional Hanya manusia yang dapat menggunakan simbol. Di mana ada api, di situ ada oksigen. Saya tidak mau pergi kecuali dibiayai. Bentuk Standar
Jika suatu makhluk menggunakan simbol, maka makhluk itu adalah manusia.

Kamu boleh menyetir mobil hanya jika kamu sudah punya SIM A. Tidak mungkin kamu datang ke rapat itu tapi tidak melihat aku. Syarat untuk hidup sejahtera adalah sehat.

Jika MS, maka M. Jika ada api, maka ada oksigen. Jika A, maka O. Jika saya tidak dibiayai, saya tidak mau pergi. Jika tidak D, tidak P. Jika kamu belum punya SIM A, kamu tidak boleh menyetir mobil. Jika tidak SA, tidak MM. Jika kamu pergi ke rapat itu, maka kamu melihat aku. Jika R, maka M. Jika tidak sehat, maka tidak bisa hidup sejahtera. Jika tidak S, maka tidak S.

Pengenalan terhadap kontrapositif dari suatu pernyataan akan berguna pada saat kita berusaha mengenal struktur logika dari suatu pernyataan atau argumen yang rumit. Ada aturan informal yang mengatakan bahwa kita boleh mengganti kata kecuali dengan jika tidak.

40

Namun karena mengandung negasi, maka kalimat yang baru bisa jadi sangat rumit. Sebagai contoh, jika kalimat Dodo tidak akan mengaku kecuali tidak ada sanksi atas perbuatannya kita ubah sesuai dengan aturan informal itu, maka kita akan memperoleh Dodo tidak akan mengaku jika tidak ada sanksi atas perbuatannya. Kemudian, kalimat yang baru itu dibalik susunannya menjadi bentuk standar, Jika tidak tidak ada sanksi atas perbuatannya, Dodo tidak akan mengaku, sehingga kita memperoleh dua bentuk negasi (tidak [ada...] dan tidak [akan ...]). Jika kedua negasi itu diubah menjadi positif, maka pernyataan itu menjadi Jika ada sanksi atas perbuatannya, Dodo tidak akan mengaku. Demikian pula, jika kita mau, kita dapat mengubahnya menjadi kontrapositifnya, Jika Dodo mengaku, maka [itu berarti] tidak ada sanksi atas perbuatannya.

4.3.5 Hubungan Kondisional: Kondisi Niscaya dan Kondisi yang Mencukupi Ada dua kondisi yang merupakan bentuk khusus dari hubungan kondisional, yaitu yang mencukupi (sufficient condition, S) dan kondisi niscaya (necessary condition, N). Hanya jika pernyataan kondisional Jika S maka N adalah benar. Contoh: 1. Menghasilkan sperma merupakan kondisi yang mencukupi untuk membuktikan bahwa seseorang adalah laki-laki. 2. Jenis kelamin laki-laki merupakan kondisi niscaya untuk menghasilkan sperma. 3. Jika seseorang menghasilkan sperma, maka dia laki-laki. Oleh karena pernyataan kondisional digunakan untuk menggambarkan hubungan tertentu antara komponennya, maka kondisi yang mencukupi dan niscaya juga demikian. Ada lima jenis hubungan itu, yang berikut ini didaftarkan beserta contohnya.

1) Kausal a. Mencabut jantung Dul merupakan kondisi yang mencukupi untuk membunuhnya. b. Jika kita mencabut jantung Dul, maka kita membunuhnya. 2) Konseptual a. Kondisi niscaya untuk tergolong manusia adalah mampu menggunakan simbol. b. (i) Jika B adalah manusia, maka dia pasti mampu menggunakan simbol. c. (ii) Jika B tidak mampu menggunakan simbol, maka dia pasti bukan manusia. 3) Definisional a. Kondisi niscaya dan mencukupi untuk disebut mahasiswa adalah orang yang terdaftar secara resmi sebagai pelajar di perguruan tinggi. 41

b. Jika seseorang adalah mahasiswa, maka dia adalah orang yang terdaftar secara resmi sebagai pelajar di perguruan tinggi, dan jika ia adalah orang yang terdafatar secara resmi sebagai pelajar di perguruan tinggi maka ia adalah seorang mahasiswa. Seseorang adalah mahasiswa jika dan hanya jika dia adalah orang yang terdafatar secara resmi sebagai pelajar di perguruan tinggi. 4) Regulatori a. Lulus Ujian Masuk Perguruan Tinggi merupakan kondisi niscaya untuk kuliah di universitas negeri. b. (i) Jika seseorang dapat kuliah di universitas negeri secara sah, maka ia lulus Ujian Masuk Perguruan Tinggi. c. (ii) Jika seseorang tidak lulus Ujian Masuk Perguruan Tinggi, maka dia tidak dapat kuliah di universitas negeri secara sah.

5) Logis a. Menjadi kucing hitam adalah kondisi niscaya untuk berwarna hitam. b. Jika seekor binatang adalah kucing hitam, maka warnanya hitam. Ada kondisi yang niscaya sekaligus mencukupi untuk suatu situasi. Kondisi ini diungkapkan dalam bentuk X jika dan hanya jika Y, misalnya, Makhluk hidup jika dan hanya jika bernafas. Ini bisa dibalik menjadi, Bernafas jika dan hanya jika makhluk hidup. Contoh lain, Mahkluk adalah manusia jika dan hanya jika makhluk itu adalah makhluk rasional. Ada juga kondisi niscaya dan mencukupi yang berlaku hanya dalam konteks tertentu. Umpamanya, dalam suatu ruangan yang penuh oksigen dan hidrogen, menyalakan korek api merupakan kondisi yang mencukupi untuk terjadinya ledakan, namun tidak dalam konteks lain.

4.4 Hubungan Antar-pernyataan Ada pengetahuan tertentu yang dapat langsung disimpulkan dari suatu pernyataan. Oleh para ahli logika, ini disebut hubungan langsung. Misalnya, jika benar bahwa semua manusia pasti akan mati maka dapat disimpulkan bahwa Sokrates, seorang manusia, pasti akan mati. Ada beberapa jenis hubungan seperti itu yang masing-masing diterapkan di bawah ini.

42

4.4.1 Kesimpulan Langsung: Oposisi dari Proposisi Pernyataan kategorikal adalah pernyataan yang terdiri dari subjek dan predikat yang membenarkan atau menidakkan bahwa individu adalah anggota suatu kelompok. Ada empat jenis pernyataan kategorikal, yakni yang berikut. A: E: I: O: Semua S adalah P. (Universal-afirmatif) Tidak ada S yang P. (Universal-negatif) Beberapa S adalah P. (Partikular-afirmatif) Beberapa S bukan P. (Partikular-negatif) Hubungan antara keempat jenis pernyataan kategorikal dapat digambarkan dalam segi-empat oposisi pada Bagan 2.1.

Bagan 2.1: Segiempat Oposisi

A: Semua S adalah P.

Kontrari

E: Tidak ada S yang P.

Sub-alternasi

Kontradiktori

I: Beberapa S adalah P.

Subkontrari

O: Beberapa S bukan P.

Kontradiksi (A dan O; E dan I) Dalam hubungan ini, tidak mungkin keduanya benar dan tidak mungkin keduanya salah (Salah satu pasti benar). Umpamanya, Makhluk hidup bernafas adalah benar, dan Beberapa makhluk hidup tidak bernafas adalah salah.

Kontrari (A dan E) Dalam hubungan ini tidak mungkin keduanya benar, tapi mungkin saja keduanya salah. Sebagai contoh, jika Semua melati berwarna putih adalah benar, maka Tidak ada mawar 43

berwarna merah adalah salah. Akan tetapi, apabila Semua mawar berwarna merah adalah salah, dan Tiada mawar berwarna merah juga salah.

Subkontrari (I dan E) Dalam hubungan ini mungkin saja keduanya benar, tetapi tidak mungkin keduanya salah, misalnya Beberapa orang sedang sedih adalah benar, dan Beberapa orang tidak sedang sedih juga benar. Subalternasi (A dan I; E dan O) Jika superalternasinya (A atau E) benar, maka subalternasinya (I atau O) benar. Umpamanya, jika Semua manusia bernafas (A) adalah benar, maka Beberapa manusia bernafas (I) juga benar. Jika subalternasinya (I atau O) benar, maka superalternasinya (A atau E) belum tentu benar: jika Beberapa orang tidak terpelajar (O) adalah benar, maka Semua orang tidak terpelajar (E) bisa benar, bisa salah. Jika subalternasinya (I atau O) salah, maka superalternasinya (A atau E) pasti salah. Dalam logika tradisional, yang disebut kontrari adalah pernyataan bentuk A terhadap pernyataan bentuk E. Namun, di sini setiap dua pernyataan yang memenuhi definisi di atas dapat dianggap sebagai kontrari. Kontradiksi dan kontrari cukup sering disebut lawan dari suatu pernyataan, namun keduanya berbeda satu sama lain. Dalam kehidupan sehari-hari, memang cukup sering orang mengacaukan keduanya. Untuk lebih memahami perbedaan di antara keduanya, perhatikanlah contoh pada Tabel 2.2 berikut. Tabel 2.2: Perbedaan dan Bentuk Kontrari dengan Kontradiksinya Pernyataan Semua mawar berwarna merah. Semua angsa berwarna putih. Tidak ada orang yang bermoral. Rumah saya hijau. Dia selalu jujur. Beratnya lebih dari 50 kg. Kontrari Semua mawar berwarna kuning. Tiada angsa mawar berwarna putih. Semua orang bermoral. Rumah saya putih. Dia tidak pernah jujur. Beratnya kurang dari 50 kg. Kontradiksi Beberapa mawar tidak berwarna merah. Beberapa angsa tidak berwarna putih. Beberapa orang bermoral. Rumah saya tidak hijau. Dia kadang-kadang jujur. Beratnya 50 kg atau kurang.

Secara logis, kontradiksi suatu pernyataan sama dengan negasi dari pernyataan itu. Oleh sebab itu, semua pernyataan yang merupakan kontradiksi dari pernyataan X (misalnya 44

Semua melati berwarna putih), pada dasarnya adalah ekuivalen dari pernyataan bukan-X (Tidak benar bahwa semua melati berwarna putih). Sedangkan ada banyak pernyataan yang merupakan kontrari dari pernyataan X namun tidak saling ekuivalen, misalnya Semua melati berwarna kuning, Semua melati berwarna hijau, dan Tiada melati berwarna putih. Pernyataan kompleks juga memiliki kontradiksi dan kontrari. Kontradiksi pernyataan Ia orang yang baik hati dan [ia] orang yang terpelajar ialah Ia bukan orang yang baik hati sekaligus terpelajar, yang secara logis ekuivalen dengan Ia bukan orang yang baik hati atau [ia] bukan orang yang terpelajar. Sedangkan kontrarinya adalah Ia bukan orang yang baik hati dan [ia] bukan orang yang terpelajar, yang secara logis ekuivalen dengan Tidak benar bahwa ia orang yang baik hati ataupun orang yang terpelajar.

4.4.2 Konsistensi dan Inkonsistensi Dua pernyataan disebut inkonsisten jika, dan hanya jika keduanya tidak mungkin benar pada saat yang bersamaan. Pada kondisi yang sebaliknya, dua pernyataan itu disebut konsisten; artinya, kedua pernyataan itu mungkin sama-sama benar pada saat bersamaan. Pernyataan Saya adalah laki-laki dan Saya bukan laki-laki merupakan contoh dua pernyataan yang inkonsisten dan Saya adalah laki-laki dan Saya adalah dosen merupakan contoh dua pernyataan yang konsisten.Pernyataan yang termasuk inkonsisten adalah kontrari dan kontradiksi. (Lihat Tabel 2.3.) Tabel 2.3: Pernyataan yangKonsisten dan yangInkonsisten Pernyataan Ada anyelir Dia harus belajar. Dia X dan Y. Jika A maka B. Konsisten Ada anggrek. Dia harus belajar logik. Dia X. Jika B maka A. Inkonsisten Tidak ada anyelir. Dia tidak boleh belajar. Dia bukan Y. A dan bukan-B.

4.4.3 Implikasi, Ekuivalensi, dan Independensi Logis Tiga jenis hubungan antar-pernyataan adalah implikasi, ekuivalensi dan independensi logis. Ketiga jenis hubungan ini sering muncul dalam keseharian kita dan sering pula dipertukarkan pengertiannya; tidak jarang orang memperlakukan hubungan yang satu sebagai hubungan yang lain. Misalnya, independensi logis diperlakukan seolah-olah implikasi, dan 45

sebaliknya. Untuk memahami ketiga jenis hubungan itu, dan untuk menghindari kesalahan dalam penggunaannya, kita perlu memahami pengertian masing-masing dan bagaimana penggunaannya. Implikasi Pernyataan P mengimplikasikan pernyataan Q ketika secara logis tidak mungkin P benar dan Q salah pada waktu yang bersamaan. Perhatikan contoh-contoh berikut. Pernyataan P Semua melati berwarna putih. Aten adalah seorang guru. Saya gemuk dan pendek. Joko adalah laki-laki. mengimplikasikan Pernyataan Q Beberapa melati berwarna putih. Aten mempunyai murid. Saya gemuk. Joko menghasilkan sperma.

Ekuivalensi Dua pernyataan secara logis ekuivalen bila keduanya saling mengimplikasikan. Jadi dua pernyataan yang secara logis ekuivalen memiliki makna yang sama. Begitu pula sebaliknya, dua pernyataan yang memiliki makna yang sama berarti secara logis keduanya ekuivalen. Berikut ini adalah beberapa pernyataan yang secara logis ekuivalen. 1. Negasi dari suatu konjungsi [Bukan (P dan Q)] ekuivalen dengan disjungsi dari negasi konjung-konjungnya [Bukan-P atau Bukan-Q], misalnya Kita tidak akan pergi ke perpustakaan sekaligus ke pertandingan basket ekuivalen dengan Kita tidak pergi ke perpustakaan atau kita tidak pergi ke pertandingan basket. 2. Negasi dari suatu disjungsi [Bukan-(P atau Q)] ekuivalen dengan konjungsi dari negasi disjung-disjungnya [Bukan-P dan Bukan-Q], misalnya Tidak benar bahwa Doni atau Yanto akan gagal ekuivalen dengan Doni tidak akan gagal dan Yanto juga tidak akan gagal. 3. Suatu pernyataan kondisional [Jika P maka Q] ekuivalen dengan pernyataan yang menolak bahwa antesedennya benar dan konsekuennya salah [Bukan-(P dan bukan-Q)], misalnya Jika orang itu melahirkan anak, maka dia pasti perempuan ekuivalen dengan Tidak mungkin orang itu melahirkan anak namun bukan perempuan. 4. Suatu disjungsi [P atau Q] ekuivalen dengan pernyataan kondisional yang antesedennya merupakan negasi dari salah satu disjung dan konsekuennya adalah disjung yang lain [Jika Bukan-P maka Q, atau Jika Bukan-Q maka P], misalnya Kita pergi ke Bangkok 46

atau ke Bali ekuivalen dengan Jika kita tidak pergi ke Bangkok maka kita pergi ke Bali, atau Jika kita tidak pergi ke Bali maka kita pergi Bangkok. Independensi Logis Dua pernyataan disebut secara logis independen jika secara logis tidak berhubungan; jadi, kedua pernyataan maupun negasinya tidak saling mengimplikasikan. Umpamanya, pernyataan Ratno sedang belajar dan Anti tahu tempat membeli sepatu yang murah secara logis independen karena keduanya tidak saling berhubungan. Contoh lain, pernyataan Embun menetes di pagi hari secara logis independen dengan pernyataan Aku sedang bersedih.

5. Penalaran Penalaran adalah penarikan kesimpulan berdasarkan alasan-asalan yang relevan. Alasanalasan itu dapat berupa bukti, data, informasi akurat, atau penjelasan tentang hubungan antara beberapa hal. Penalaran berlangsung dalam pikiran. Ungkapan verbal dari penalaran adalah argumentasi. Dalam pasal ini akan diuraikan dua jenis penalaran, syarat penalaran yang benar, dan kesalahan dalam penalaran. Sebelum itu, penyimpulan langsung dan prinsip-prinsip logika yang mendasari penalaran akan dijelaskan terlebih dahulu.

5.1 Penyimpulan Langsung Fungsi akal manusia adalah mencapai kebenaran. Proses pencapaian kebenaran dimulai dari pengenalan terhadap gejala dan pembentukan ide itu sendiri. Tetapi kebenaran tidak terdapat dalam Ide. Kebenaran terdapat dalam putusan (judgement). Kalau putusan kita sesuai dengan kenyataan, maka kita mencapai kebenaran objektif. Atas dasar kebenaran-kebenaran semacam inilah pengetahuan mengalami kemajuan. Kebenaran pertama-tama dapat dicapai melalui penyimpulan langsung (immediate inference), yaitu penyimpulan yang ditarik sesuai dengan prinsip-prinsip logika. Prinsipprinsip logika terdiri atas prinsip identitas, prinsip kontradiksi, dan prinsip tanpa nilai tengah (excluded middle). Prinsip identitas menyatakan bahwa X = X; artinya, sesuatu adalah sesuatu itu sendiri. Prinsip kontradiksi menyatakan bahwa jika X = X maka tidak mungkin X tidak sama dengan X; artinya, sesuatu adalah dirinya sendiri, tidak mungkin sesuatu itu 47

sekaligus bukan dirinya sendiri. Prinsip tanpa nilai tengah menyatakan bahwa untuk proposisi apa pun, proposisi itu hanya dapat benar atau salah; tidak mungkin diperoleh sebuah proposisi yang benar sekaligus salah, atau setengah salah atau setengah benar. Penyimpulan langsung dilakukan melalui indera, umpamanya memberikan putusan bahwa mawar berwarna merah (putusannya: mawar merah), hari sedang hujan, matahari bersinar, atau saat ini pagi hari. Penyimpulan langsung menghasilkan pengetahuan dasar bagi manusia. Pengalaman empirik yang menjadi sumber pengetahuan itu. Akan tetapi penyimpulan langsung tidak membawa kita beranjak jauh dari informasi-informasi asal sehingga tidak dapat menambah pengetahuan lebih banyak lagi. Kita perlu mengetahui kebenaran-kebenaran dari berbagai hal yang tidak dapat dibuktikan dengan penyimpulan langsung maupun pembuktian melalui panca indera, seperti contoh-contoh berikut. Apakah matahari mengelilingi bumi atau bumi mengelilingi matahari? Apakah jiwa manusia berbeda dengan jiwa binatang? Apakah matahari itu jauh atau dekat? Apakah bulan besar atau kecil? Benarkah jiwa itu kekal?

5.2 Penyimpulan Tak Langsung Untuk dapat memperoleh pengetahuan yang benar tentang hal-hal yang tidak dapat dibuktikan dengan penyimpulan langsung atau indera, kita perlu membandingkan ide-ide. Penyimpulan melalui perbandingan ide-ide adalah penyimpulan tak langsung. Putusan yang dihasilkan bukan hasil dari pengenalan langsung terhadap gejala, melainkan hasil dari mempertemukan dua ide yang diperbandingkan dengan perantaraan ide ketiga yang sudah diketahui sebelumnya. Di atas (pasal 4.1) telah kita bahas cara membenarkan atau mengingkari suatu ide atas dasar satu ide yang lain (negasi, oposisi dari proposisi, dan lain-lain). Tetapi dalam

kenyataannya kita tidak selalu dapat membuat putusan hanya berdasarkan dua ide (kita dalam keadaan ragu). Untuk itu diperlukan ide ketiga. Proses membandingkan dua ide dengan melibatkan ide ketiga untuk menghubungkan dua ide itulah yang disebut penalaran. Dengan kata lain, penalaran adalah penyimpulan tak langsung atau penyimpulan dengan menggunakan perantara (mediate inference). Berdasarkan prinsip identitas kita dapat menyimpulkan bahwa Jika ide 1 = ide 3, dan ide 2 = ide 3, maka ide 2 = ide 1. Berdasarkan prinsip kontradiksi kita dapat menyimpulkan bahwa 48

Jika ide 1 ide 3, dan ide 2 = ide 3, maka ide 1 ide 2. Kedua prinsip dan turunannya yang menjadi dasar-dasar dari penalaran.

5.3 Dua Jenis Penalaran Ada dua jenis penaralan, yaitu deduksi atau penalaran deduktif dan induksi atau penalaran induktif. Kedua jenis penalaran ini diperlukan dalam proses pencapaian kebenaran. Pemanfaatan keduanya telah menghasilkan pengetahuan yang berguna bagi manusia dan membawa peradaban manusia menjadi semaju yang kita saksikan saat ini. Deduksi adalah proses penalaran yang dengannya kita membuat suatu kesimpulan dari suatu hukum, dalil, atau prinsip yang umum kepada suatu keadaan yang khusus yang tercakup dalam hukum, dalil, atau prinsip yang umum itu. Umpamanya, kita meragukan apakah putri malu mempunyai indera atau tidak. Tetapi ilmu pengetahuan sudah menetapkan dalil bahwa hakikat suatu tanaman adalah tidak berindera. Maka kita dapat melakukan inferensi berikut. Semua tanaman tak berindera. Puteri malu adalah tanaman. Jadi: Puteri malu tak berindera. Kita juga dapat mulai dengan proposisi hipotetis, misalnya: Penjahat itu sehat atau gila. Ia sehat. Jadi: Ia tidak gila. Penyimpulan melalui deduksi disebut juga silogisme. Induksi adalah proses penalaran yang dengannya kita menyimpulkan hukum, dalil, atau prinsip umum dari kasus-kasus khusus (individual). Contoh: Air, di mana pun, di muka bumi atau di laut, pada tingkat permukaan laut akan membeku pada nol derajat Celcius. Tetapi air di mana pun adalah air belaka. Jadi: Semua air pada tingkat permukaan laut membeku pada nol derajat Celcius. 5.4 Kesalahan Penyimpulan Manusia tidak jarang memperoleh pengetahuan yang tidak benar karena adanya kesalahan dalam proses penyimpulan. Kesalahan penyimpulan digolongkan atas dua, yakni 49

kesalahan material dan kesalahan formal. Kesalahan material adalah kesalahan putusan yang digunakan sebagai pertimbangan yang seharusnya memberikan fakta atau kebenaran. Mari kita lihat contoh berikut. Berdasarkan pengamatan orang melihat setiap hari matahari tampak bergerak dari timur ke barat, dulu orang menyimpulkan bahwa matahari mengelilingi bumi. Lalu kesimpulan ini digunakan untuk menjelaskan susunan alam semesta. Oleh karena putusan (kesimpulan) yang digunakan untuk menjelaskan susunan alam semesta salah, maka penjelasan tentang alam semesta pun salah. Kesalahan formal ialah kesalahan yang berasal dari urutan penyimpulan yang tidak konsisten. Sebagai contoh, untuk menjelaskan perilaku korupsi digunakan penalaran berikut ini yang merupakan penalaran sirkular. Tanya: Mengapa petugas hukum dapat disogok? Jawab: Karena gaji mereka kecil. Tanya: Mengapa gaji petugas hukum kecil? Jawab: Karena ekonomi tidak tumbuh secara baik. Tanya: Mengapa ekonomi tidak tumbuh secara baik? Jawab: Karena hukum tidak berjalan dengan baik. Tanya: Mengapa hukum tidak berjalan dengan baik? Jawab: Karena petugas hukum dapat disogok. Kesalahan penalaran ini muncul dalam beragam bentuk. Bentuk-bentuk kesalahan penyimpulan dan penalaran akan dibahas di pasal 8.

5.5 Argumentasi Sebagaimana telah dikemukakan di atas, ungkapan verbal dari penalaran atau penyimpulan tak langsung adalah argumentasi. Di dalam argumentasi terkandung term yang merupakan ungkapan verbal dari ide dan proposisi yang merupakan ungkapan verbal dari putusan. Proposisi yang dijadikan dasar dari kesimpulan disebut premis atau anteseden. Subjek (S) dan Predikat (P) dari kesimpulan masing-masing disebut ekstrem minor dan ekstrem mayor yang cakupannya lebih luas dari subjek. Ungkapan dari ide ketiga yang menghubungkan ide pertama dan ide kedua yang diperbandingkan dalam argumentasi disebut term tengah (middle term, disingkat M). Premis yang mengandung term mayor disebut premis mayor. Premis yang mengandung term minor disebut premis minor. Ketentuan ini baku, terlepas dari posisi premis-premis itu dalam argumentasi. Perhatikan contoh berikut. (1) Premis mayor: Semua hewan (M) adalah mahluk (P). Premis Minor: Semua belut (S) adalah hewan (M). Ergo : Semua belut (S) adalah mahluk (P). 50

(2) Premis Minor: Semua besi (S) adalah logam (M). Premis Mayor: Semua logam (M) adalah unorganik (P). Ergo : Semua besi (S) adalah unorganik (P). Term tengah (M) harus muncul di premis mayor maupun premis minor sebagai perbandingan, tetapi tidak boleh muncul dalam kesimpulan. Ada dua macam argumentasi yang umum digunakan dalam logika, yaitu silogisme kategoris dan silogisme hipotetis. Silogisme kategoris adalah argumentasi yang menggunakan proposisi kategoris yang oleh Aristoteles disebut analitika. Silogisme hipotetis adalah argumentasi yang menggunakan proposisi hipotetis (silogisme hipotetis) yang oleh Aristoteles disebut dialektika.

6. Argumen Deduktif 6.1 Definisi Penalaran Deduktif (Deduksi) Deduksi adalah bentuk argumen yang kesimpulannya niscaya mengikuti premispremisnya. Lazimnya deduksi juga dipahami sebagai pembuatan pernyataan khusus berdasarkan pernyataan-pernyataan yang lebih umum. Pernyataan khusus itu disebut kesimpulan dan pernyataan-pernyataan yang lebih umum disebut premis. Dalam deduksi kesimpulan diturunkan dari premis-premisnya. Menerima premis tetapi menolak kesimpulan adalah tidak konsisten. Penalaran deduktif adalah proses perolehan kesimpulan yang terjamin validitasnya jika bukti yang tersedia benar dan penalaran yang digunakan untuk menghasilkan kesimpulan tepat. Kesimpulan juga harus didasari hanya oleh bukti yang sudah ada sebelumnya. Kesimpulan tidak boleh mengandung informasi baru tentang materi.

6.2 Karakteristik Penalaran Deduktif Penalaran deduktifyang sering digunakan untuk menulis esai argumentatif diawali dengan generalisasi yang dianggap benar (self-evident) yang menghasilkan premispremis, lalu dari situ diturunkan kesimpulan yang koheren dengan premis-premisnya. Premis dan kesimpulan harus berkesesuaian dan tertata dalam bentuk argumentasi tertentu. Bentuk deduksi yang paling umum digunakan adalah silogisme yang terdiri atas premis mayor, premis minor, kesimpulan. Bentuk argumentasi ikut menentukan sahih (valid) atau tidaknya 51

penalaran deduktif. Sebagaimana sudah disebutkan di atas, dalam penalaraan deduktif kesimpulan bersifat lebih khusus daripada premis-premisnya. Penalaran deduktif bertujuan untuk menentukan putusan yang sahih tentang hal khusus tertentu berdasarkan pemahaman tentang hal-hal yang lebih umum.

6.3 Silogisme Silogisme berasal dari kata Yunani syllogismos yang berarti kesimpulan. Silogisme adalah jenis argumen logis yang kesimpulannya diturunkan dari dua proposisi umum (premis) yang berbentuk prosisi kategoris. Dilihat dari bentuknya, penilaian terhadap silogisme adalah sahih (valid) atau tidak sahih (invalid). Silogisme sahih jika kesimpulannya dibuat berdasarkan premis-premisnya dengan bentuk-bentuk yang tepat. Sedangkan penilaian benar (true) diberikan jika silogisme valid dan klaimnya akurat (informasinya sesuai dengan fakta). Perhatikanlah contoh berikut. (1) Premis Mayor : Semua politikus adalah laki-laki. Premis Minor : Sri adalah politikus. Kesimpulan : Maka, Sri adalah laki-laki. Sahih atau tidak sahihkah silogisme ini? Jawabnya sahih. Jika kita tahu bahwa Sri adalah perempuan maka silogisme itu tidak benar karena pernyataan tidak sesuai dengan kenyataan. (2) Premis Mayor: Semua ayah adalah laki-laki. Premis Minor: Dino adalah laki-laki. Kesimpulan : Maka, Dino adalah ayah. Silogisme ini tidak sahih karena term tengahnya yaitu term yang muncul di kedua premis, dalam hal ini laki-laki merujuk kepada semua anggota dari kelompok laki-laki, bukan hanya kepada ayah atau Dino. (3) Premis Mayor: Tidak ada seorang pun yang ditolak menjadi mahasiswa karena ketidakmampuan fisik. Premis Minor: Tunarungu adalah ketidakmampuan fisik. Kesimpulan : Maka, tunarungu akan ditolak menjadi mahasiswa karena ketidakmampuan fisik.

Silogisme ini juga tidak sahih karena salah satu premisnya negatif sehingga hanya dapat memiliki kesimpulan negatif. (4) Premis Mayor : Mahasiswa yang tidak belajar bisa jadi akan lulus ujian. Premis Minor : Dono adalah mahasiswa yang belajar. 52

Kesimpulan

: Maka, Dono bisa jadi akan lulus ujian.

Silogisme ini sahih karena memenuhi hukum-hukum silogisme.

6.3.1 Silogisme Kategoris Bentuk dasar silogisme kategoris ialah: Jika A adalah bagian dari C maka B adalah bagian dari C (Adan B adalah anggota dari C). Silogisme kategoris ini mengikuti hukum Semua atau Tidak Sama Sekali (All or None atau Dictum de Omni et Nullo); artinya, berlaku untuk seluruh anggota kelas, atau tidak sama sekali. Tidak dikenal ada sebagian dan tidak ada sebagian. Sebagai contoh, kalau kelas ikan memiliki insang, maka tidak mungkin ada anggotanya yang tak berinsang; dan kalau kelas merpati adalah burung, maka tak mungkin ada merpati yang bukan burung. Dengan mengikuti hukum Semua atau Tidak Sama Sekali itu dapat dibuat silogisme seperti berikut: (1) Semua makhluk hidup (M) bernafas (P). Semua burung (S) adalah makhluk hidup (M). Jadi: Semua burung (S) bernafas (P).

yang dirumuskan menjadi Semua M adalah P. Semua S adalah P. Jadi: Semua S adalah P. atau silogisme berikut: (2) Tiada hewan (M) berkaki tiga (P). Semua beruang (S) adalah hewan (M). Jadi: Tiada beruang (S) berkaki tiga (P).

yang dirumuskan menjadi Tiada M yang P. Semua S adalah M. Jadi: Tiada S yang P. 6.3.2 Delapan Hukum Silogisme Silogisme tunduk kepada delapan hukum yang masing-masing diterapkan berikut ini. (Keterangan: P = Predikat/mayor; S = Subjek/minor; M = Term tengah (Middle term); u = Universal; p = partikular; + = afirmatif; dan = negatif.) 53

Hukum 1: Silogisme hanya mengandung tiga term. Semua tanaman (M1) adalah hidup (P). Semua batu (S) adalah mineral (M2). Jadi: Semua batu (S) adalah/tidak (?) hidup (P). Buku (P) mempunyai halaman (M). Rumah (S) mempunyai halaman (M). Jadi: Rumah (S) adalah buku (P). Halaman di sini bermakna ganda (equivocal), silogisme di atas mempunyai empat term.

Hukum 2: Term mayor atau term minor tidak boleh menjadi universal dalam kesimpulan jika dalam premis hanya bersifat pertikular. uM + pP uS uM uS uP Semua manusia adalah hewan. Tak ada binatang yang manusia. Tak ada binatang yang hewan.

Yang salah adalah P (disebut illicit mayor). uM uP uM + pS uS uP Tiada burung yang menyusui. Semua burung adalah hewan berkaki dua. Tiada hewan berkaki dua yang menyusui.

Yang salah adalah S (disebut illicit minor).

Hukum 3: Term tengah tidak boleh muncul dalam kesimpulan. M M M + P + S + S/P Aristoteles adalah filsuf. Aristoteles adalah misikin. Aristoteles adalah filsuf yang miskin.

M dalam silogisme itu tidak lagi berfungsi sebagai pembanding, melainkan menjadi salah satu bagian dari kesimpulan. merupakan putusan baru. Dengan demikian, kesimpulan yang terjadi bukanlah

Hukum 4: Term tengah harus digunakan sebagai proposisi universal dalam premispremis, setidak-tidaknya satu kali. uP uS + pM Semua orang mati. + pM Semua artis mati. 54

uS

+ pP

Semua artis adalah orang.

Silogisme ini seakan-akan benar, oleh karena kebetulan posisi term-term itu adalah sebagai berikut: M (mati) mempunyai ekstensi yang paling benar. P (orang) mempunyai ekstensi yang lebih kecil dan termasuk dalam M. S (artis) mempunyai ekstensi yang paling kecil dan termasuk dalam P. Tetapi perhatikanlah silogisme berikut: uP uS uS + pM Semua orang mati. + pM Semua kucing mati. + pP Semua kucing adalah orang.

Dalam silogisme ini, kesalahannya sangat nyata karena walaupun P (orang) dan S (kucing) sama-sama termasuk dalam ekstensi dari M (mati), tetapi P dan S tidak saling meliputi (berdiri sendiri-sendiri). Pelanggaran hukum 4, seperti yang terdapat dalam kedua silogisme di atas, disebut Undistributed Middle

Hukum 5: Jika kedua premis afirmatif, maka kesimpulan juga afirmatif. M + P Semua mamalia menyusui. S + M Beberapa kuda adalah mamalia. S P Beberapa kuda tidak menyusui. Hukum 6: Tidak boleh kedua premis negatif, setidaknya salah satu harus afirmatif. M P Tiada binatang yang batu. S M Tiada intan yang binatang. S P Tiada intan yang batu. Hukum 7: Kalau salah satu premis negatif, kesimpulan harus negatif. Kalau salah satu premis partikular, kesimpulan harus partikular. Fase I. P S S Fase II. M + P Semua manusia adalah mahluk rasional. pS + M Sebagian hewan adalah manusia. uS + P Semua hewan adalah mahluk rasional. M P Tiada karbon yang putih. 55 + + M Tiada perokok yang bebas nikotin. M Balita bebas nikotin. P Balita adalah perokok.

pS + M Sebagian zat padat adalah karbon. uS P Tiada zat padat yang putih. Hukum 8: Tidak boleh kedua premis partikular, setidaknya salah satu harus universal. pM + pP Beberapa orang adalah tukang becak. pS + pM Beberapa bule adalah orang. pS + pP Beberapa bule adalah tukang becak. Silogisme itu dapat benar walaupun kedengarannya agak janggal (mungkin saja ada orang bule yang bekerja sebagai tukang becak). Tetapi kalau kata-kata tukang becak diganti dengan berkulit hitam, maka kesalahan karena pelanggaran hukum ke-8 ini akan sangat nyata. pM + pP Beberapa pakar agama adalah orang Indonesia. pS uM Beberapa penduduk Depok bukan pakar agama. pS uP Beberapa penduduk Depok bukan orang Indonesia. 6.3.3 Silogisme Hipotetis Dalam logika, silogisme hipotetis memiliki dua penggunaan. Dalam logika proposisional, silogisme mengungkapkan aturan-aturan penyimpulan, sedangkan dalam sejarah logika ia berperan sebagai teori konsekuensi. Silogisme hipotetis berbeda dengan silogisme kategoris dan tunduk kepada aturan tersendiri. Dalam silogisme hipotetis, premis pertama (premis mayor) menampilkan kondisi yang tak tentu (jika P, maka Q) atau masalah (atau P atau Q; P dan Q tidak dapat benar dua-duanya). Premis pertama itu harus diselesaikan secara memadai oleh premis kedua (premis minor) sehingga kesimpulan yang sahih dapat dihasilkan. Penyelesaian masalah selalu dalam bentuk afirmasi atau negasi. Secara lebih sederhana dapat dikatakan bahwa premis mayor silogisme hipotetis adalah proposisi hipotetis sedangkan premis minor dan kesimpulannya adalah proposisi kategoris. Dalam silogisme hipotetis, tidak term mayor, term minor atau term tengah. Premis mayor terdiri atas anteseden dan konsekuen. Sebagai contoh, dalam pernyataan Jika hari hujan, maka tanah basah, hari hujan adalah anteseden dan tanah basah adalah konsekuen.

6.3.4 Bentuk-bentuk Umum Argumen yang Sahih Ada tiga bentuk dasar dari silogisme hipotetis, yaitu modus ponens yang mengafirmasi anteseden, modus tollens yang menolak konsekuen, dan silogisme hipotetis dengan rantai kondisional. Berikut ini ketiga bentuk dasar silogisme hipotetis. 1) Mengafirmasi anteseden (modus ponens) 56

PQ P Q Contoh: Jika psikologi adalah ilmu pengetahuan maka psikologi menggunakan metode. Psikologi adalah ilmu pengetahuan. Psikologi menggunakan metode. 2) Menolak konsekuensi (modus tollens) PQ -Q -P

Contoh: Jika astrologi adalah ilmu pengetahuan maka astrologi menggunakan metode. Astrologi tidak menggunakan metode. Astrologi bukan ilmu pengetahuan. 3) Silogisme Hipotetis (Rantai Kondisional) PQ QR PR Contoh: Jika psikologi adalah ilmu pengetahuan maka psikologi menggunakan metode. Jika psikologi menggunakan metode maka psikologi sistematis. Jika psikologi adalah ilmu pengetahuan maka psikologi sistematis. Selain ketiga bentuk itu, ada bentuk-bentuk lain yang lebih kompleks. Berikut ini adalah tiga di antaranya. 1) Silogisme Disjungtif PVQ - P Q Contoh: Psikologi adalah ilmu ramal atau psikologi bersifat ilmiah. Psikologi bukan ilmu ramal. Psikologi bersifat ilmiah.

57

2) Dilema Konstruktif (P Q) & (R S) PVR QVS Contoh: (Jika psikologi adalah ilmu pengetahuan maka psikologi didasari prinsip sebabakibat.) dan (Jika manusia dikaji oleh psikologi maka kehendak bebas adalah objek kajian psikologi.) Psikologi adalah ilmu pengetahuan atau manusia dikaji oleh psikologi Psikologi didasari prinsip sebab-akibat atau kehendak bebas adalah kajian psikologi

3) Dilema Destruktif (P Q) & (R S) ~ Q V ~R ~PV~R Contoh: (Jika psikologi adalah ilmu pengetahuan maka psikologi didasari prinsip sebabakibat) dan (Jika manusia dikaji oleh psikologi maka kehendak bebas adalah objek kajian psikologi). Psikologi tidak didasari prinsip sebab-akibat atau manusia tidak dikaji oleh psikologi. Psikologi bukan ilmu pengetahuan atau kehendak bebas bukan objek psikologi.

7. Argumen Induktif3 7.1. Definisi Induksi Istilah argumen induktif atau induksi biasanya mencakup proses-proses inferensial dalam mendukung atau memperluas keyakinan kita pada kondisi yang mengandung risiko atau ketidakpastian. Argumen induktif dapat dipahami sebagai hipotesis yang mengandung risiko dan ketidakpastian. Ketidakpastian dalam argumen induktif muncul dalam dua area yang berhubungan, yaitu dalam premis-premis argumen dan dalam asumsi-asumsi inferensial argumen. Mari kita ambil sebuah contoh kasus: Jono mati tertembak. Argumen berikut ini merupakan argumen

Pasal tentang induksi ini disadur dari buku A. K. Bierman dan R. N. Assali, The Critical Thinking Handbook (New Jersey, 1994). Penyaduran itu dilakukan dengan bantuan dari Judithia A. Wirawan.

58

deduktif yang sahih yang dapat diberikan untuk mendukung pernyataan bahwa Andi membunuh Jono. Andi lari dari kamar Jono dengan membawa pistol. Siapa pun yang lari dari kamar Jono dengan membawa pistol pasti membunuh Jono. Andi membunuh Joon. Jika kita menerima bahwa premis-premis argumen ini benar, maka kita juga harus menerima bahwa kesimpulannya benar. Informasi dalam premis-premis itu secara logis tidak mencakup pernyataan apa pun yang merupakan kontradiksi dari kesimpulan. Para ahli logika menggambarkan hal ini sebagai berikut: isi informasi dari premis-premis mencakup isi informasi dari kesimpulan. Tidak ada informasi dalam kesimpulan di luar apa yang sudah ada dalam premis-premisnya. Seandainya orang yang mengajukan argumen itu merasa tidak pasti akan kebenaran premis pertama, yaitu dia tidak merasa benar-benar pasti bahwa Andi yang lari dari kamar itu (mungkin saksi matanya tidak sepenuhnya dapat dipercaya), maka dia hanya dapat mengeluarkan argumen induktif (Garis dua berarti jadi, ada kemungkinan bahwa.) Kemungkinan besar, Andilah yang lari dari kamar Jono dengan membawa pistol. Siapa pun yang lari dari kamar Jono pasti membunuh Jono. Andi membunuh Jono. Jelas bahwa kalaupun kita menerima bahwa premis-premis argumen ini benar, kita tidak harus menerima bahwa kesimpulannya benar. Bisa saja orang yang mengajukan argumen ini punya alasan-alasan yang tidak dapat dibantah mengenai kebenaran premis kedua, namun argumen ini tetap tidak dapat menjamin bahwa Andilah yang membunuh Jono. Kesimpulan bahwa Andi membunuh Jono telah melebihi apa yang dapat dideduksi dari premis-premisnya. Kemungkinan lain, asumsi inferensialnyalah yang tidak pasti benar sehingga orang yang mengajukan argumen terpaksa membuat argumen induktif. Misalnya, dia melihat sendiri Andi lari dari kamar Jono dengan membawa pistol. Hanya itu bukti yang dimilikinya. Berdasarkan bukti itu, dia menyimpulkan bahwa Andi membunuh Jono. Ini berarti dia mengambil kesimpulan terlalu cepat karena dia tidak merasa pasti akan kebenaran asumsi inferensialnya, padahal asumsi ini dibutuhkan untuk dapat menarik kesimpulan dari bukti yang ada. Argumennya menjadi seperti ini: Andi lari dari kamar Jono dengan membawa pistol. 59

Kemungkinan, orang yang lari dari kamar Jono dengan membawa pistol telah membunuh Jono. Andi telah membunuh Jono. Premis-premis dalam argumen ini juga tidak menjamin kebenaran kesimpulannya. Karena orang yang mengajukan argumen masih merasa tidak pasti akan kebenaran asumsi yang menjembatani bukti (pada premis pertama) dengan kesimpulan, maka dia hanya menyatakan bahwa asumsi itu mungkin terjadi. Sama seperti contoh argumen induktif yang pertama, dalam argumen ini pun informasi pada kesimpulan melampaui apa yang dapat dideduksi dari premis-premisnya. Dalam semua argumen induktif, ada premis atau asumsi inferensial yang lemah yang mencerminkan ketidakpastian karena informasi ada yang kurang lengkap. Pada contoh yang pertama, argumen tidak memiliki bukti yang kuat untuk menjamin kebenaran kesimpulannya. Pada contoh yang kedua, argumen tidak memiliki jembatan inferensial yang kuat untuk mendeduksi kesimpulan dari bukti yang ada. Jadi, karakteristik semua argumen induktif adalah bahwa dalam kondisi

ketidakpastian atau kurangnya informasi, kita langsung mengambil kesimpulan dengan risiko bahwa kita mengambil kesimpulan yang salah. Penalaran induktif yang baik berusaha meminimalkan risiko sehingga kita lebih sering mengambil kesimpulan yang benar daripada yang salah, dan berusaha memperhitungkan risiko itu dengan akurat. Panduan umum untuk melakukan penalaran induktif yang baik adalah yang berikut. 1) Usahakanlah mengumpulkan semua informasi yang tersedia yang berhubungan dengan topik argumen sebelum mengambil kesimpulan mengenai topik itu. Kita menginginkan kesimpulan yang kecil kemungkinannya menjadi batal jika ada informasi baru. 2) Cobalah mengeliminasi kesimpulan lain yang juga konsisten dengan bukti yang ada sebelum meyakini kesimpulan pilihan kita. 3) Jangan membuat kesimpulan jika kita menilai bahwa premis-premis yang kita miliki terlalu lemah. Karena argumen induktif mempunyai karakteristik ketidakpastian, kesimpulan dari suatu argumen induktif sering disebut hipotesis. Suatu hipotesis adalah suatu proposisi yang diterima secara tentatif untuk menjelaskan fakta-fakta atau bukti-bukti tertentu. Kesimpulan dari suatu argumen induktif sering kali merupakan pernyataan yang dapat menjelaskan mengapa informasi dalam premis-premisnya benar. Misalnya, hipotesis bahwa Andi membunuh Jono dapat menjelaskan mengapa Andi lari dari kamar Jono dengan membawa pistol. Sejalan dengan itu, strategi untuk membangun dan mengevaluasi argumen induktif adalah menentukan apakah kesimpulan yang diambil dari premis-premis yang ada merupakan 60

penjelasan terbaik mengapa premis-premis bukti benar. Para ahli logika menggambarkan hal ini sebagai berikut: argumen induktif yang baik sebagai kesimpulan yang merupakan penjelasan terbaik dari bukti. Sayang sekali, tidak ada metode yang sederhana untuk mengevaluasi argumen induktif jika dibandingkan dengan pengukuran validitas argumen deduktif. Terlebih lagi, ada banyak kesulitan filosofis di sekitar konsep dukungan induktif, dan apakah induksi dapat dijadikan alat untuk mendapatkan pengetahuan. Walaupun ada masalah-masalah teoretis, para ahli logika sering kali setuju mana yang termasuk dalam penalaran induktif yang baik. Kita dapat membedakan kapan bukti-bukti yang ada sudah cukup untuk mengambil kesimpulan dan kapan tidak, jika kita mempunyai akal sehat dan pengalaman, dan berefleksi dengan teliti. 7.1.1 Induksi Enumeratif (Generalisasi Induktif) Induksi enumeratif, atau generalisasi induktif, adalah proses yang menggunakan premispremis yang menggambarkan karakteristik sampel untuk mengambil kesimpulan umum mengenai kelompok asal sampel itu. Induksi jenis argumen ini merupakan argumen induktif yang paling terkenal. Begitu terkenalnya jenis argumen ini sampai-sampai beberapa penulis mendefinisikan argumen induktif sebagai argumen yang bergerak dari premis-premis partikular ke kesimpulan umum. Namun, sebenarnya bentuk ini hanyalah salah satu bentuk saja dari argumen induktif. Perhatikanlah contoh-contoh argumen berikut ini dan polanya: (1) Kami mengobservasi 27.830 ekor angsa di Inggris dan menemukan bahwa setiap angsa tersebut berwarna putih. Kami menyimpulkan dari bukti ini bahwa semua angsa putih. Pola Argumen 1: X1 mempunyai karakteristik P. X2 mempunyai karakteristik P. X3 mempunyai karakteristik P. : Xn mempunyai karakteristik P. Semua X mempunyai karakteristik P. (2) Saya pergi ke New York untuk pertama kalinya minggu lalu. Orang pertama yang saya tanyai tentang jalan ke Carnegie Hall bersikap sangat kasar dan menyuruh saya mundur. Saya bertanya kepada orang kedua, dan dia juga kasar dan menyumpahi saya supaya pergi. Saya bertanya kepada tujuh orang lagi, dan setiap orang mengusir saya tanpa menolong saya. Akhirnya, orang kesepuluh yang saya tanya memberi tahu saya jalan ke 61

Dasar bukti atau tabel konfirmasi (n=27.830)

Carnegie Hall. Dari sini, saya menyimpulkan bahwa hampir semua orang New York bersikap kasar kepada pendatang yang menanyakan jalan. Pola Argumen 2: X1 mempunyai karakteristik R. X2 mempunyai karakteristik R. X3 mempunyai karakteristik R. : X10 tidak mempunyai karakteristik R. Kebanyakan X mempunyai karakteristik R. (3) Dari 200.000 cip (chip) yang dibuat dengan proses baru kami bulan lalu, diambil secara acak (random) 1.000 buah untuk diuji. Hanya 50 buah dari sampel itu yang cacat, yang berarti 95% buah sampel lainnya sempurna. Kita menyimpulkan bahwa proses pembuatan cip yang baru ini menghasilkan sekitar 95% cip yang sempurna, dan hanya 5% yang cacat. Pola Argumen 3: X1 mempunyai karakteristik G. X2 mempunyai karakteristik G. X3 mempunyai karakteristik G. : X950 mempunyai karakteristik G. X951 tidak mempunyai karakteristik G. X952 tidak mempunyai karakteristik G. X953 tidak mempunyai karakterisitk G. : X1000 tidak mempunyai karakteristik G. Sekitar 95% X mempunyai karakteristik G. Dalam masing-masing argumen itu, premis-premisnya merupakan contoh dari yang mempunyai karakteristik tertentu. Kesimpulannya

Tabel konfirmasi

Tabel konfirmasi

individu-individu

menggeneralisasikan bahwa individu dari kelompok itu mempunyai karakteristik itu sampai dengan batas tertentu. Pada contoh (1), batasnya adalah 100%, dan kesimpulannya merupakan generalisasi universal, yaitu semua individu mempunyai karakteristik tersebut. Pada dua contoh lainnya, korelasinya tidak mencapai 100%. Kesimpulannya berupa generalisasi statistikal yang memperkirakan persentase individu yang mempunyai

62

karakteristik tersebut. Perkiraan ini masih belum jelas pada contoh (2), tetapi jauh lebih jelas pada contoh (3). Secara umum induksi enumeratif dapat dianggap sebagai argumen dari sampel. Individu yang diobservasi merupakan sampel yang diambil dari populasi yang lebih besar, yang kebanyakan anggotanya belum diobservasi. Berdasarkan karakteristik yang diobservasi pada sampel, kesimpulan dibuat mengenai populasi secara keseluruhan. Dalam pola-pola argumen yang digambarkan di atas, pernyataan-pernyataan yang menggambarkan hasil observasi individual didaftarkan. Ini disebut tabel konfirmasi. Secara lebih umum, karena premis-premis ini mengandung data yang digunakan sebagai bukti dalam membuat kesimpulan, maka premis-premis ini disebut dasar induksi atau dasar bukti atau, lebih sederhana lagi, data atau bukti. Tabel konfirmasi tidak selalu dibuat. Kalaupun dibuat, hal itu dilakukan pada proses pengumpulan bukti dan jarang sekali dicantumkan pada pernyataan argumen. Namun, bukti lebih sering diringkas dalam bentuk statistik mengenai sampel yang diobservasi. Agar dapat diterima, argumen yang berdasarkan sampel harus mempunyai asumsi bahwa sampel itu representatif terhadap populasi dan cukup besar sehingga dapat menyediakan perkiraan yang terandalkan (reliable). Kalaupun tidak disebutkan, asumsi ini selalu merupakan premis atau asumsi inferensial yang implisit dalam argumen induktif yang baik. Oleh sebab itu, pola generalisasi induktif yang baik adalah sebagai berikut: N persen dari sampel S yang diambil dari F yang diobservasi mempunyai karakteristik G. Sampel S cukup besar dan representatif terhadap F. Kira-kira N persen dari F mempunyai karakteristik G. Induksi enumeratif sangat bervariasi dalam hal kualitas pengumpulan dan presentasi datanya, dan dalam kekuatan kesimpulannya. Karena itu, kita dapat menggunakan pola argumen ini sebagai perkiraan kasar untuk mengevaluasi argumen jenis ini secara cepat. Kita dapat menggunakan model ini untuk melakukan rekonstruksi kekuatan suatu induksi enumeratif. Dari sini terlihat bagaimana suatu argumen dapat ditingkatkan kekuatannya. Dalam argumen (1) di atas, N=100% sehingga kesimpulannya merupakan generalisasi universal untuk semua angsa. Rekonstruksi kekuatan argumen (1) adalah sebagai berikut: 100% dari sampel yang diobservasi sejumlah 27.830 angsa di Inggris berwarna putih. Sampel sebesar 27.830 cukup besar dan representatif terhadap 63

semua angsa. Semua angsa berwarna putih. Kebenaran premis pertama dari argumen ini dapat dipertanyakan, misalnya seseorang dapat meragukan apakah semua unggas yang diobservasi memang benar-benar angsa. Namun jika bukti dikumpulkan dengan hati-hati, fokus kritik terhadap argumen ini terletak pada premis kedua. Dalam semua argumen yang didasarkan pada suatu sampel, selalu harus dipertanyakan apakah sampelnya cukup besar dan representatif terhadap populasi sehingga kesimpulannya dapat dipercaya. Mengambil kesimpulan yang terlalu kuat berdasarkan sampel yang terlalu kecil berarti melakukan percontoh salah (error sampel) yang tidak cukup. Membuat kesimpulan berdasarkan sampel yang tidak representatif berarti melakukan percontoh salah yang bias. Dalam kasus ini, percontoh atau sampelnya nampaknya cukup besar untuk menjamin kesimpulan mengenai semua angsa. Namun kita dapat melihat bahwa observasi hanya dilakukan pada angsa di Inggris sementara kesimpulannya mengenai semua angsa. Jadi, jika kita menduga bahwa angsa di Inggris berbeda dari angsa pada umumnya, dapat dipertanyakan apakah sampelnya representatif. Argumen ini akan lebih kuat jika lebih dimiripkan dengan pola di atas, yaitu dengan melemahkan kesimpulannya sampai dengan batas semua angsa di Inggris saja. Dengan demikian, argumen (2) dapat direkonstruksi kekuatannya menjadi: Sebanyak 9 dari 10 orang New York sampel yang diobservasi (90%) bersikap kasar pada pendatang yang menanyakan jalan. 10 orang itu merupakan sampel yang cukup besar dan representatif dari orang New York. Kira-kira 9 dari 10 (90%) orang New York bersikap kasar pada pendatang yang menanyakan jalan. Jelas bahwa kesimpulan ini bukanlah hasil dari penyelidikan yang sistematis. Kemungkinan besar, seperti yang terjadi pada banyak argumen sehari-hari, tidak diduga atau diharapkan bahwa argumennya akan dianalisis dan dievaluasi secara detil. Kelemahan argumen kedua tampak jelas setelah direkonstruksi. Percontoh sejumlah 10 orang terlalu kecil untuk membuat kesimpulan secara meyakinkan mengenai orang New York pada umumnya. Di samping itu, juga tidak disebutkan bagaimana percontohnya dipilih sehingga kita tidak tahu apakah percontoh itu representatif. Lagi pula, premis yang satunya 64

lagi, yakni bahwa 9 dari 10 orang sampel yang diobservasi dan bersikap kasar kepadanya ketika dia menanyakan jalan baru diduga saja sebagai orang New York. Kita membutuhkan bukti tambahan apakah orang-orang itu memang orang New York dan apakah mereka menganggapnya pendatang. Singkatnya, argumen kedua itu belum memenuhi pola argumen, dan premis-premisnya tidak sepenuhnya relevan dengan kesimpulannya. Jadi, dengan memeriksa argumen berdasarkan pola induksi enumeratif, kita mengungkapkan kemungkinan bahwa suatu argumen ternyata tidak kuat. Dengan demikian, argumen (3) dapat direkonstruksi menjadi:

95% dari 1000 cip yang dipilih secara acak dari semua cip yang dibuat bulan lalu dengan proses baru merupakan cip yang baik. 1000 cip itu merupakan percontoh yang cukup besar dan representatif dari semua cip yang dibuat dengan proses baru. Kira-kira 95% dari cip yang dibuat dengan proses baru merupakan cip yang baik. Argumen (3) cukup mendekati pola induksi enumeratif. Dengan asumsi bahwa premis pertama benar, argumen ini boleh dikatakan kuat. Memilih cip secara acak berarti kemungkinannya sangat besar bahwa percontoh itu representatif terhadap populasi. Berdasarkan teori statistik, sampel sebesar itu cukup besar untuk mendukung kesimpulan dengan probabilitas 99%, dan kira-kira 95% dianggap sebagai interval di sekitar 95%, plus atau minus 3% (jadi, dari 92% sampai 98%). Satu masalah dalam argumen (3) adalah bahwa sampel dipilih dari cip yang dibuat bulan lalu, dan kesimpulannya mengenai cip yang dibuat dengan proses baru. Pola di atas menuntut bahwa populasi yang disebutkan di kesimpulan sama dengan populasi asal sampel. Ini berarti cip yang dibuat dengan proses baru harus merupakan cip yang dibuat dengan cara yang sama dengan cip yang dibuat bulan lalu. 7.1.2 Spesifikasi Induktif: Silogisme Statistikal Silogisme statistikal merupakan argumen yang menggunakan generalisasi statistik tentang suatu kelompok untuk mengambil kesimpulan mengenai suatu sub-kelompok atau anggota individual dari kelompok itu. Silogisme statistikaljenis spesifikasi induktif yang paling umum digunakan sehari-harimerupakan kebalikan dari proses generalisasi induktif. Dalam konteks profesional atau ilmiah yang menggunakan teori-teori matematika untuk menarik 65

kesimpulan mengenai sampel dari informasi mengenai populasi yang lebih besarspesifikasi statistik jauh lebih kompleks.. Penyimpulan dalam silogisme statistikal bergerak dari generalisasi mengenai suatu kelompok ke kesimpulan yang lebih spesifik mengenai satu anggota kelompok itu atau lebih. Bentuk standar silogisme statistikal ialah yang berikut: N persen dari M adalah P. Semua S adalah M. (Kira-kira) N persen dari S adalah P. Argumen jenis ini dapat atau tidak dapat diterima, tergantung pada seberapa tepat generalisasi statistikalnya dinyatakan. Mari kita perhatikan contoh Hampir semua M adalah P atau Kebanyakan M adalah P. Jelas bahwa silogisme statistikal yang menggunakan generalisasi yang samar-samar seperti ini tidak layak diyakini sepenuhnya. Apakah suatu argumen dapat diterima atau tidak juga tergantung pada apa yang kita ketahui mengenai anggota S dan sejauh mana anggota S itu representatif terhadap M. Jika situasi anggota S itu tidak sama, maka penerapan generalisasi itu pada percontoh S patut dipertanyakan. Bila S sangat kecil jika dibandingkan dengan M, atau S adalah individu tunggal, maka dapat atau tidak dapat diterimanya argumen tergantung pada ukuran N selain pada ketepatan premis statistiknya. Misalnya, jika hanya 55% siswa di suatu kelas adalah murid baru, maka kesimpulan kita bahwa seorang siswa tertentu di kelas itu adalah murid baru dapat dikatakan lemah. Jika N sama dengan 100%, argumen jenis ini menjadi silogisme kategorial, dan kesimpulannya menjadi deduktif. Contoh-contoh berikut akan memperjelas uraian di atas: Sembilan dari 10 orang Indian di Amerika Serikat tinggal di daerah reservasi. Jadi, kemungkinannya sangat besar bahwa sekitar 90% suku Sioux tinggal di daerah reservasi. 90% dari orang Indian di Amerika Serikat tinggal di daerah reservasi. Suku Sioux adalah orang Indian. (implisit) Kira-kira 90% suku Sioux tinggal di daerah reservasi. Karena hampir semua politisi di Washington dapat mengeja kata kentang dan karena Wakil Presiden adalah seorang politisi di Washington, maka kemungkinannya sangat besar bahwa dia dapat mengeja kata itu. Hampir semua politisi di Washington dapat mengeja kata kentang. Wakil Presiden adalah seorang politisi di Washington. Wakil Presiden dapat mengeja kata kentang. 66

Pada pandangan pertama, kedua argumen itu tampak cukup kuat. Dalam argumen (1), generalisasi bahwa 90% orang Indian tinggal di daerah reservasi dihubungkan dengan suku Sioux, suatu sub-kelompok dari kelompok orang Indian. Namun, kesimpulan ini masih goyah sebelum kita yakin bahwa tidak ada perbedaan yang relevan antara suku Sioux dengan populasi orang Indian secara keseluruhan. Walaupun kita berasumsi bahwa statistik 90% didapatkan dari sampel yang representatif, tetap ada masalah dalam menerapkan persentase ini pada suku Sioux. Statistik dalam premis itu mungkin didapatkan dari hasil sensus: berapa rasio jumlah orang Indian yang tinggal di daerah reservasi terhadap perkiraan jumlah populasi orang Indian keseluruhan. Jika memang demikian, berarti data ini mengabaikan kenyataan bahwa suku-suku Indian sangat berbeda dalam adat dan kebiasaan hidup. Ada kemungkinan lain juga, yakni misalnya, suku Sioux tidak wajib tinggal di reservasi khusus sehingga banyak yang tinggal di tempat lain. Argumen (2) tampak sangat kuat. Memang ada masalah kecil, yaitu ketidakspesifikan premis pertama, namun argumen ini masih dapat diterima karena sangat kecil kemungkinannya ada penelitian mengenai kemampuan mengeja para politisi. Argumen ini menggunakan akal sehatyaitu bahwa hampir semua politisi atau orang dewasa yang berpendidikan dapat mengeja kata yang sederhana seperti kentang. Jadi, kita dapat mengganggap pernyataan hampir semua politisi di Washington berarti tidak kurang dari 90%, sehingga kesimpulan mengenai Wakil Presiden termasuk sangat kuat (kecuali ada alasan untuk meyakini bahwa Wakil Presiden mempunyai masalah khusus dalam hal mengeja). Dua contoh berikut menyajikan masalah yang menarik, yang tampaknya lebih mirip prediksi daripada silogisme statistikal. Karena 9 dari 10 kartu yang tersisa di tumpukan itu bergambar hati, kartu berikutnya yang diambil pasti bergambar hati. 90% dari 10 kartu yang tersisa di tumpukan itu bergambar hati. Kartu berikutnya yang diambil merupakan salah satu dari 10 kartu yang tersisa di tumpukan itu. (implisit) Kartu berikutnya yang diambil bergambar hati. Setiap pengacara yang pernah kita temui bersifat agresif. Karena orang yang akan kita temui adalah pengacara, kemungkinan besar dia juga agresif. 100% pengacara yang pernah kita temui bersifat agresif. Orang yang akan kita temui adalah pengacara. Orang yang akan kita temui bersifat agresif. 67

Argumen (3) tampaknya memprediksi kejadian di masa depan dan bukannya mengambil kesimpulan mengenai anggota suatu kelompok berdasarkan generalisasi mengenai kelompok itu secara keseluruhan. Namun, kartu berikutnya yang diambil dari tumpukan merupakan anggota tumpukan yang sudah mempunyai karakteristik yang relevan (yakni, bergambar hati) sejak sebelum kartu itu diambil. Jadi, kita dapat mengabaikan aspek prediktif dari kesimpulan itu. Argumen (3) merupakan argumen silogisme statistikal yang sangat kuat. Jika kita tahu bahwa tumpukan itu tidak diatur dan kocokannya jujur, maka tidak ada masalah atau pun informasi yang dapat memperlemah argumen itu. Kemungkinannya 9 berbanding 1 bahwa kesimpulannya benar. Contoh (4) bukanlah silogisme statistik, walaupun tampak mirip contoh (3). Orang yang akan kita temui yang tercantum dalam premis dan kesimpulan bukanlah anggota dari kelompok pengacara yang pernah kita temui yang tercantum dalam generalisasi. Jadi, argumen ini bukanlah contoh langsung dari spesifikasi statistikal. Argumen ini tampaknya merupakan prediksi mengenai seorang pengacara yang belum ditemui berdasarkan sampel pengacara yang pernah ditemui. Satu bentuk rekonstruksi dari contoh (4) mungkin ialah argumen dua langkah yang terdiri dari generalisasi induktif yang diikuti oleh silogisme statistikal: 100% dari sampel pengacara yang diobservasi bersifat agresif. Sampel yang diobservasi cukup besar dan representatif terhadap semua pengacara. (implisit) Kira-kira 100% pengacara bersifat agresif. Orang yang akan kita temui adalah pengacara. Orang yang akan kita temui bersifat agresif. Di sini kita juga menghilangkan aspek prediktif dari silogisme statistikalnya. Jelas bahwa dapat atau tidak dapat diterimanya argumen ini tergantung pada kebenaran premis implisitnya dan pada hal lain yang kita ketahui mengenai orang yang akan kita temui. Masalah yang timbul adalah kita tidak dapat yakin apakah rekonstruksi di atas memang merupakan apa yang dimaksud si pembicara. Ada kekemungkinan lain, yaitu si pembicara tidak memaksudkan observasinya mengenai pengacara yang pernah mereka temui sebagai generalisasi mengenai semua pengacara, melainkan hanya mengenai pengacara yang mereka temui. Jadi, rekonstruksinya mungkin seperti ini. 100% pengacara yang pernah kita temui bersifat agresif.

68

Sampel yang kita observasi cukup besar dan representatif terhadap semua pengacara yang kita temui (atau akan kita temui). Kira-kira 100% pengacara yang (akan) kita temui bersifat agresif. Orang yang akan kita temui adalah pengacara yang (akan) kita temui. Orang yang akan kita temui bersifat agresif. Rekonstruksi initampaknya merupakan rekonstruksi yang aneh dan rumitdari argumen (4). Pertama, mengapa pembicara membatasi kesimpulannya hanya pada pengacara yang pernah atau yang akan dia temui. Mungkin sejauh itu dia baru bertemu dengan pengacara pengadilan New York saja dan semuanya cenderung agresif. Namun jika demikian, argumen ini gugur dan kita masih membutuhkan informasi lebih jauh mengenai orang yang akan mereka temui untuk menentukan apakah dia adalah seorang pengacara pengadilan New York. Kedua, keanehan rekonstruksi yang kedua ini menunjukkan bahwa mungkin argumen (4) memang merupakan prediksi yang mencoba memprediksi kejadian di masa depan berdasarkan bukti observasi di masa lalu. Prediksi ini menyangkut seorang pengacara yang belum diobservasi, yang bukan merupakan anggota kelompok yang sudah diobservasi. Jika memang demikian, maka pernyataan ini bukanlah argumen dua langkah yang terdiri dari generalisasi induktif dan silogisme statistikal, melainkan sebuah prediksi.

7.1.3 Induksi Eliminatif atau Diagnostik Argumen induktif eliminatif atau diagnostik mempunyai premis-premis yang

menggambarkan suatu konfigurasi fakta atau data yang berbeda-beda, yang merupakan bukti dari kesimpulannya. Kesimpulan ini didukung oleh bukti-bukti diagnostik yang ada, yang menghapus adanya kemungkinan kesimpulan lain sebagai penjelasan terbaik atas bukti-bukti itu. Induksi jenis ini menghasilkan kesimpulan yang merupakan penjelasan terbaik, tetapi tidak statistikal. Dengan induksi enumeratif kita menyimpulkan bahwa semua burung gagak berwarna hitam berdasarkan observasi bahwa gagak ini hitam, gagak itu hitam, begitu juga gagakgagak lain, dan seterusnya. Dalam argumen eliminatif atau diagnostik, datanya tidak berupa repetisi dari jenis observasi yang sama. Umpamanya kita mendengar suara orang berteriakteriak marah, barang-barang pecah, dan pintu dibanting di apartemen sebelah. Kita menyimpulkan bahwa tetangga kita sedang bertengkar. Kita memutuskan bahwa ini adalah penjelasan yang paling mungkin dari apa yang kita dengar, karena kita tahu bahwa mereka 69

bukan aktor yang sedang berlatih akting, dan juga tidak mempunyai sound system yang sangat baik yang mungkin menipu kita. Bukti-bukti dalam argumen induktif mana pun tidak pernah menjamin

kesimpulannya. Premis-premis dari argumen induktif dapat mendukung beberapa kesimpulan yang berbeda dan bertentangan. Kesimpulan-kesimpulan itu disebut kesimpulan rival atau hipotesis rival. Dalam induksi diagnostik, orang yang mengajukan argumen meneliti buktibukti untuk membuat kesimpulan berupa hipotesis yang paling mungkin menjelaskan buktibukti itu. Argumen diagnostik yang kuat harus mempunyai cukup bukti untuk menghapuskan semua kecuali satu hipotesis rival. Hipotesis yang tersisa itu merupakan kesimpulan yang paling mungkin. Tidak seperti pada penyimpulan deduktif, kemampuan membuat kesimpulan induktif yang merupakan penjelasan terbaik biasanya tergantung pada keahlian dan pengetahuan si pembicara mengenai topik yang dibahas, dan bukan pada pengetahuan mengenai bahasa dan aturan pengambilan kesimpulan. Contoh kasus yang merupakan paradigma dari induksi diagnostik adalah diagnosis dokter mengenai penyakit pasien dari konfigurasi gejala, hasil pemeriksaan laboratorium, dan bukti-bukti lain. Penalaran diagnostik atau eliminatif barangkali merupakan jenis penalaran induktif sehari-hari yang paling umum. Walaupun biasanya tidak dilakukan seteliti dokter, induksi jenis ini merupakan dasar dari pengetahuan sehari-hari kita mengenai dunia di sekitar kita. Perhatikanlah contoh berikut. 1. Jimmy demam, dia kelihatan lemah, dan ada bintik-bintik kecil berwarna merah di wajahnya. Karena dia belum pernah kena cacar air sebelumnya, kemungkinan dia kena cacar air sekarang. Jimmy demam. Dia kelihatan lemah. Ada bintik-bintik kecil berwarna merah di wajahnya. Dia belum pernah kena cacar air. Orang dengan gejala seperti itu, yang belum pernah kena cacar air sebelumnya, barangkali kena cacar air. Jimmy kena cacar air. Bukti Kondisi pembatas Hipotesis bantuan (implisit)

2. Kita yakin bahwa akan ada serangan musuh di sektor selatan karena ada pengumpulan pasukan di sektor itu dan komandan mereka ada di situ. Terlebih lagi, mengingat keadaan pasukan mereka, kesempatan terbaik mereka untuk menang adalah dengan menyerang sektor selatan sekarang. Ini adalah kesempatan yang kemungkinannya kecil untuk mereka lewatkan. Ada pengumpulan pasukan di sektor selatan. Komandan mereka ada di sektor itu. 70 Bukti

Mengingat keadaan pasukan mereka, kesempatan terbaik mereka untuk menang adalah dengan menyerang sektor selatan sekarang. Kecil kemungkinannya musuh melewatkan kesempatan untuk menang. Akan ada serangan musuh di sektor selatan.

Hipotesis bantuan

3. Jethro menunjukkan ekspresi tidak enak di wajahnya, dan wajahnya memerah. Mereka mengatakan dia sering malu bila berada dekat perempuan yang tidak dikenalnya. Karena dia sedang berbicara dengan Harriet dan dia tidak mengenal Harriet, kita dapat menyimpulkan bahwa dia mungkin sedang malu. Hal itu juga dapat menjelaskan mengapa dia terus mencari pintu keluar. Jethro menunjukkan ekspresi tidak enak di wajahnya. Wajahnya memerah. Dia terus mencari pintu keluar. Jethro sedang berbicara dengan Harriet. Harriet adalah perempuan yang tidak dikenal Jethro. Dia sering malu bila berada di dekat perempuan yang tidak dikenalnya. Jethro malu. Contoh-contoh itu mengandung unsur-unsur yang merupakan ciri khas dari argumen diagnostik, yaitu premis-premis yang mengungkapkan bukti, kondisi pembatas, dan hipotesis bantuan. a. Bukti Bukti dalam suatu argumen diagnostik adalah informasi dalam premis yang harus dapat dijelaskan oleh kesimpulan dari argumen tersebut. Bukti disebut juga data diagnostik. Informasi lain dalam premis dapat dibedakan dari bukti; informasi itu tidak harus dapat dijelaskan oleh kesimpulan. Pada contoh (1), bukti atau data diagnostiknya adalah Jimmy demam, tampak lemah, dan ada bintik-bintik kecil warna merah di wajahnya. Kesimpulan apa pun yang diambil dari bukti ini harus dapat menjelaskannya. Jadi, hipotesis bahwa Jimmy kena cacar air menjelaskan mengapa dia demam, tampak lemah, dan ada bintik-bintik di wajahnya. Jika hipotesis itu tidak dapat menjelaskan bukti yang ada, maka kita tidak dapat mengambil kesimpulan bahwa dia kena cacar air berdasarkan bukti ini. Tetapi kesimpulan ini tidak perlu menjelaskan semua informasi dalam premis. Misalnya, kesimpulan tidak perlu menjelaskan Bukti Kondisi pembatas Hipotesis bantuan

71

mengapa Jimmy belum pernah kena cacar air sebelumnya. Itu bukan bagian dari data diagnostik. Pada contoh (2), kesimpulan bahwa musuh akan menyerang di sektor selatan dapat menjelaskan mengapa ada pengumpulan pasukan di sana dan mengapa komandan mereka ada di sana. Informasi itu adalah bukti. Namun kesimpulan tidak dapat digunakan untuk menjelaskan mengapa saat itu adalah kesempatan terbaik mereka untuk menang dan mengapa mereka tidak akan melewatkan kesempatan itu. Premis-premis yang disebut terakhir ini membantu mengeliminasi hipotesis rival, namun tidak termasuk bukti. Informasi dalam premis, di samping data diagnostik, dapat berfungsi mengeliminasi hipotesis rival. Informasi seperti ini dapat menjelaskan kondisi atau konteks tempat bukti dipahami sebagai bukti dari kesimpulan. Ini disebut kondisi pembatas. Bukti untuk pengambilan kesimpulan induktif bukan berupa informasi yang sudah diberi label, atau terisolasi, sehingga kita tinggal menggunakannya, melainkan informasi yang sangat banyak yang harus dipilih sebagai data yang kita yakini relevan untuk mendukung kesimpulan kita. Jadi, data yang terpilih menjadi bukti bagi kesimpulan dalam konteks yang kita batasi. Konteks ini hampir selalu mengandung informasi faktual yang bukan merupakan bagian dari data diagnostik. b. Kondisi Pembatas Kondisi pembatas dalam suatu argumen induktif diagnostik terdiri dari premis-premis faktual tambahan yang membatasi konteks argumen dan digunakan untuk menunjukkan bagaimana bukti mengarah ke kesimpulan. Kondisi pembatas secara logis berbeda dari bukti karena tidak harus dijelaskan oleh kesimpulan. Kondisi pembatas adalah keadaan faktual yang membantu menunjukkan mengapa kesimpulan itu adalah penjelasan yang paling mungkin dari bukti dan bukannya kesimpulan rival. Beda contoh (1), misalnya, pembicara menyatakan fakta bahwa Jimmy belum pernah kena cacar air sebelumnya dalam menyimpulkan bahwa Jimmy kena cacar air. Fakta ini bukan bukti menurut definisi kita. Namun, fakta ini mendukung kesimpulan karena mengeliminasi kemungkinan bahwa Jimmy sudah mempunyai kekebalan terhadap cacar airkemungkinan yang akan menggugurkan kesimpulan bahwa Jimmy sekarang kena cacar air. Informasi lain yang diketahui dapat juga berfungsi sebagai fakta yang membantu menunjuk ke arah cacar air sebagai penjelasan yang paling mungkin dari bukti. Misalnya, jika Jimmy baru-baru ini bertemu dengan anak-anak yang sedang menderita cacar air, maka fakta ini adalah kondisi pembatas yang penting. Dengan hipotesis pembantu bahwa cacar air 72

menular, fakta ini dapat membantu menunjukkan mengapa cacar air merupakan penjelasan terbaik atas bukti yang ada. Pembicara pada contoh (3) memilih fakta bahwa Jethro sedang berbicara dengan Harriet sebagai informasi yang relevan dengan kesimpulannya bahwa Jethro sedang malu. Fakta ini bukan bukti atau data diagnostik untuk kesimpulan itu karena kesimpulan bahwa Jethro malu tidak menjelaskan mengapa dia berbicara dengan Harriet. Namun fakta ini menerangkan keadaan Jethro. Begitu pula, fakta bahwa Jethro tidak mengenal Harriet tidak dapat dijelaskan oleh kesimpulan. Fakta-fakta ini adalah kondisi pembatas, yang dengan bantuan hipotesis pembantu turut menunjukkan mengapa malu adalah penjelasan yang paling mungkin dari bukti-bukti yang ada. Singkatnya, kondisi pembatas menggambarkan keadaan faktual atau konteks di mana bukti dapat mendukung kesimpulan. Bukti dan kondisi pembatas adalah fakta atau pernyataan yang dianggap benar oleh pembicara dalam mengambil kesimpulan. Kedua hal ini tidak termasuk hipotesis karena dianggap tentatif atau teoretis, tetapi dianggap sebagai fakta dan benar. c. Hipotesis Bantuan Hipotesis bantuan dalam suatu argumen adalah hipotesis yang membantu menunjukkan bagaimana bukti, dalam kondisi pembatas, dapat diyakini mengarah pada kesimpulan. Dalam argumen diagnostik, hipotesis pembantu juga dapat membantu menunjukkan bagaimana kesimpulan, dalam kondisi pembatas, merupakan penjelasan yang paling mungkin dari bukti yang ada. Hipotesis pembantu dapat berupa generalisasi, hukum alam, atau pernyataan tentatif yang digunakan pembicara untuk menarik kesimpulan berupa penjelasan terbaik. Hipotesis pembantu mungkin mengandung pernyataan spekulatif atau interpretatif yang menunjukkan mengapa si pembicara yakin kesimpulannya mungkin benar, dan mengapa kesimpulan rival mungkin tidak benar. Pada contoh (2), misalnya, kedua hipotesis pembantu tidak dianggap sebagai fakta. Keduanya tidak termasuk bukti maupun kondisi pembatas. Hipotesis pertama, yang didasarkan pada bukti dan keahlian pembicara, berspekulasi bahwa kesempatan terbaik bagi musuh untuk menang adalah dengan menyerang sektor selatan. Hipotesis kedua berspekulasi mengenai motivasi musuh untuk menang dengan menyatakan bahwa kemungkinannya kecil mereka akan melewatkan kesempatan terbaik mereka untuk menang. Hipotesis ini membantu mengikat bukti pada kesimpulan bahwa musuh akan menyerang sektor selatan, dan juga membantu membatalkan kemungkinan kesimpulan lain. Jadi, misalnya, jika menyerang sektor selatan merupakan kesempatan terbaik mereka untuk menang, kemungkinannya kecil 73

bahwa mereka mengumpulkan pasukan di sektor itu untuk menyamarkan serangan di sektor lain. Pada contoh (1), pembicara menganggap bukti dan kondisi pembatasnya sebagai sesuatu yang benar, dan dia tidak mengemukakan hipotesis pembantu. Dari sudut pandangnya, fakta-fakta yang mendukung kesimpulannya bahwa Jimmy kena cacar air sudah jelas dan tidak ada masalah. Kita menambahkan pernyataan implisit bahwa orang yang berada dalam kondisi seperti Jimmy mungkin sedang menderita cacar air. Pernyataan implisit ini merupakan generalisasi yang membantu menunjukkan mengapa bukti itu dapat diyakini mengarah ke kesimpulan. Argumen induktif sehari-hari tidak berupa unsur-unsur yang diberi label seperti contoh di atas. Argumen ini biasanya dinyatakan secara tidak lengkap, lebih tidak lengkap daripada argumen deduktif. Dalam penalaran induktif, di mana ketidakpastian sering kali dominan, kesimpulan sering kali tergantung pada pengambilan kesimpulan tanpa menyebutkan banyak detil-detil. Keahlian dan pengalaman pembicara, intuisi, aturan umum, dan spekulasi sering kali berperan dalam pengambilan kesimpulan. Ini membuat rekonstruksi argumen menjadi sulit. Namun, biasanya, kita dapat mengkategorikan premis-premis dalam kebanyakan argumen induktif ke dalam tiga tipe di atas, yakni bukti, kondisi pembatas, dan hipotesis pembantu. Dalam mengemukakan argumen diagnostik atau eliminatif, bukti adalah apa yang dianggap benar oleh pembicara. Dia harus menyatakan bukti ini secara eksplisit; tidak mungkin ada bukti yang implisit. Sebaliknya, kondisi pembatas dan hipotesis pembantu sering kali tidak dinyatakan dan dibiarkan implisit. Dalam kasus seperti itu, kita harus menggunakan pengetahuan kita mengenai topik argumen, imajinasi kita dalam memikirkan kesimpulan-kesimpulan rival yang mungkin, dan logika kita dalam memutuskan kondisi pembatas dan hipotesis pembantu apa saja yang diperlukan pembicara untuk membuat kesimpulan induktif yang dapat diterima. Singkatnya, kita perlu tahu banyak mengenai topik argumen atau tahu banyak pengetahuan umum jika kita ingin menjadi evaluator penalaran induktif yang efektif.

Latihan 7.1 (Hipotesis Induktif dan Ketidakpastian)


Perhatikan informasi yang diberikan dalam masing-masing soal berikut. Rumuskanlah suatu hipotesis yang dapat ditarik dari informasi yang ada. Kemudian, susunlah argumen untuk hipotesis itu dalam pola standar. Selanjutnya, sebutkan informasi lain apakah yang harus 74

Anda cari untuk mengkonfirmasi hipotesis Anda. Akhirnya, bayangkan dan tuliskan informasi yang akan membuat Anda mempertayakan atau menolak hipotesis yang telah Anda buat. Contoh: Sepuluh saksi mata menyatakan bahwa mereka melihat Andi berlari dari kamar tempat Jono ditembak dan dia memegang pistol di tangannya. Kesepuluh saksi mata mendengar Andi berteriak bahwa dia senang Jono sudah mati.

Jawaban: Sepuluh saksi mata menyatakan bahwa mereka melihat Andi berlari dari kamar tempat Jono ditembak. Kesepuluh saksi mata menyatakan bahwa dia memegang pistol di tangannya. Kesepuluh saksi mata mendengar Andi berteriak bahwa dia senang Jono sudah mati. Andi menembak dan membunuh Jono. 1) Informasi yang mengkonfirmasi: Pistol yang dipegang Andi memang merupakan pistol yang digunakan untuk membunuh Jono. Perhatikan informasi tambahan yang berikut. Laporan forensik mengenai waktu Jono meninggal bersamaan dengan waktu Andi dilihat lari dari kamar itu. Andi mempunyai motif membunuh Jono. Tidak ada orang lain yang terlihat meninggalkan tempat kejadian. 2) Informasi yang mendiskonfirmasi: Laporan polisi menunjukkan bahwa Jono ditembak dengan pistol yang berbeda dari yang dipegang Andi. Kesepuluh saksi mata adalah anggota suatu geng yang bermusuhan dengan Andi dan telah bersumpah untuk mencelakainya.

Soal pertanyaan: 1. Dua puluh orang yang makan di Rumah Makan Joe pada hari Kamis malam sakit parah dan harus dirawat di rumah sakit. Kedua puluh orang itu makan kerang mentah. 2. Enam jawaban dari sepuluh soal di lembar ujian John dan Tammy sama persis.

75

3. Nilai ulangan Jimmy di sekolah sangat jelek. Dia sering bersikap cemas dan terlalu bersemangat. Dia sering bersama Mark, seorang siswa yang tahun lalu diskors dari sekolah karena ketahuan menggunakan obat-obatan terlarang.

Latihan 7.2 (Induksi Enumeratif)


Jawablah soal-soal berikut. Buatlah struktur induksinya jelas dan usahakan semirip mungkin dengan bentuk generalisasi induktif yang sudah dijelaskan dalam uraian di atas. Kemudian diskusikanlah sejauh mana kesimpulannya didukung oleh bukti-bukti yang ada. Dalam berdiskusi, jangan lupa membahas masalah-masalah apa sajaseperti relevansi, cukup atau tidaknya data, dan apakah data representatif atau tidakyang ada sehingga Anda sulit menerima kesimpulan itu berdasarkan bukti-bukti yang ada. Jika mungkin, buatlah kesimpulan yang lebih lemah yang lebih sesuai dengan data yang ada. 1. Hanya dua puluh persen dari 1000 orang California yang dipilih secara acak mengatakan bahwa mereka percaya presiden telah berusaha mencoba merangsang pertumbuhan ekonomi. Berdasarkan itu, kita menyimpulkan bahwa pemeringkat (rating) positif terhadap presiden di bidang ekonomi turun hingga di bawah 25%. 2. Memang benar apa yang mereka dikatakan tentang pengendara sepeda motor. Mereka adalah orang yang paling antisosial dan sopan santunnya sangat buruk serta cenderung melakukan tindak kekerasan. Kami pergi ke pertemuan kelompok Bay Area Marauders, suatu kelompok sepeda motor Hell Angel yang berpusat di San Fransisco. Dari dua puluh orang yang kami wawancarai, lima orang mengaku pernah masuk penjara. Sepuluh orang menjawab secara kasar dan menyuruh kami pergi sebelum mendapat masalah. Empat orang terakhir menolak menjawab pertanyaan dan memaksa kami keluar dari tempat itu.

Latihan 7.3 (Silogisme Statistikal)


Jika mungkin, buatlah rekonstruksi dari argumen dalam soal-soal berikut ini sehingga menjadi silogisme statistikal. Jika argumen itu tidak dapat direkonstruksi menjadi bentuk silogisme statistikal, jelaskan mengapa demikian. Akhirnya, diskusikanlah secara kritis mengapa Anda menerima atau menolak argumen itu dan diskusikan juga alasannya. 1. Kebanyakan orang yang tinggal di Bell Air kaya raya. Jadi, keluarga yang tinggal di sebelah rumah keluarga Reagan kemungkinan besar kaya raya. 76

2. Begini, Joe. Orang tua mencintai anak-anaknya. Jadi, walaupun tampaknya orang tuamu bertingkah laku seolah-olah tidak mencintaimu, ingatlah bahwa mereka mencintaimu. 3. Setiap kali kita pergi ke rumah keluarga Quigley, mereka pasti sedang bertengkar. Mungkin mereka juga akan bertengkar hari Minggu besok ketika kita ke sana. Barangkali sebaiknya kita tidak usah ke sana.

Latihan 7.4 (Induksi Diagnostik)


Gambarkanlah struktur argumen-argumen induktif dalam soal-soal berikut. Dalam gambaran Anda itu, tunjukkan premis mana yang berisi bukti, kondisi pembatas, dan hipotesis pembantu. Jika Anda mengalami kesulitan dalam menentukan kategori yang tepat untuk salah satu premis, jelaskan mengapa. Selanjutnya, sebutkan satu asumsi implisit yang menurut Anda dapat memperkuat argumen itu, dan tentukan apakah asumsi itu berfungsi sebagai kondisi pembatas atau hipotesis pembantu jika diikutsertakan dalam argumen. Akhirnya, diskusikan secara singkat mengapa Anda menerima atau menolak argumen itu. 1. Wajah Jimmy berbintik-bintik merah. Tony, anak tetangga, sedang menderita cacar air. Mungkin Jimmy juga menderita penyakit itu. Cacar air, kan, menular? 2. Kami tahu bahwa pasien itu merasa mual, muntah-muntah, dan rambutnya rontok selama tiga minggu sebelum dirawat di rumah sakit. Di beberapa bagian tubuhnya ada luka-luka menganga. Kami juga tahu bahwa dia bekerja di suatu reaktor nuklir selama setahun terakhir. Bukti ini mengarah kepada kesimpulan bahwa dia menderita keracunan radiasi. Tentu saja, kami masih harus melakukan beberapa tes.

8. Sesat Pikir 8.1. Pengertian Sesat Pikir (Fallacies) Sesat pikir menurut logika tradisional adalah kekeliruan dalam penalaran berupa penarikan kesimpulan-kesimpulan dengan langkah-langkah yang tidak sah, yang disebabkan oleh dilanggarnya kaidah-kaidah logika. Menurut Copi, sesat pikir adalah perbincangan yang mungkin terasa betul, tetapi yang setelah diuji terbukti tidak betul. Perhatikanlah contoh berikut. (1) Kalau hujan turun, maka tanah basah. Tanah basah. Jadi hujan turun. (2) Kalau manusia mati tak bernafas. 77

Susi, seorang manusia, tak bernafas Jadi Susi mati. Argumentasi di atas salah karena dalam kedua argumentasi itu, hujan dan tak bernafas masing-masing adalah kondisi yang mencukupi (sufficient condition), bukan kondisi niscaya (necessary condition); dengan kata lain, hubungannya asimetris. Hujan memang menyebabkan tanah basah, tetapi tanah basah belum tentu karena hujan. Mati sudah tentu tak bernafas, tetapi tak bernafas belum tentu mati. Sebetulnya tidak ada penggolongan sesat pikir yang sempurna, tetapi penggolongan dari Copi (1986) dapat digunakan sebagai pegangan untuk mengenali sesat pikir.

8.2. Sesat Pikir Formal A. Dalam Deduksi

Dalam deduksi, penalaran ditentukan oleh bentuknya. Jika sebuah penalaran bentuknya tidak sesuai dengan bentuk deduksi yang baku, maka penalaran itu tidak sahih dan tergolong sesat pikir. 1. Empat Term (Four Terms) Seperti namanya, sesat pikir jenis empat term terjadi jika ada empat term yang diikutsertakan dalam silogisme padahal silogisme yang sahih hanya mempunyai tiga term. Contoh berikut ini mengandung kesalahan empat term. Rumah mempunyai halaman. Buku mempunyai halaman. Jadi: Buku adalah rumah. Kesalahan terletak pada kata halaman yang mempunyai makna ganda sehingga ada tambahan term. Halaman rumah dan halaman buku berbeda maknanya karena merujuk kepada dua ide yang berbeda. Jadi, terdapat empat term dalam silogisme di atas, yang seharusnya hanya tiga.

2. Term tengah yang tidak terdistribusikan (undistributed middle terms) Pengertian dari term tengah yang tidak terdistribusikan adalah silogisme kategoris yang term tengahnya tidak memadai menghubungkan term mayor dan term minor, misalnya Kucing makan daging. Anto makan daging. Jadi: Anto adalah kucing.

78

3. Proses Ilisit (Illicit process) Proses ilisit adalah perubahan tidak sahih dari term mayor atau term minor seperti pada contoh berikut. Banyak orang Indonesia pemalas. Pemalas tidak bisa maju. Jadi: Orang Indonesia tidak bisa maju. Kesalahan silogisme ini terletak pada peralihan dari banyak orang Indonesia yang merujuk kepada sebagian orang Indonesia (partikular) ke orang Indonesia yang merujuk kepada semua orang Indonesia (universal).

4. Premis-premis afirmatif tetapi kesimpulannya negatif Sesat pikir ini terjadi jika dalam premis digunakan proposisi afirmatif (pernyataan yang menyatakan sesuatu secara positif) tetapi dalam kesimpulan digunakan proposisi negatif (pernyataan yang menegasi sesuatu). Perhatikanlah contoh berikut. Semua orang Indonesia adalah manusia. Sebagian orang Indonesia adalah ahli logika. Jadi: Sebagian orang Indonesia bukan ahli logika. Meskipun diketahui bahwa sebagian orang Indonesia adalah ahli logika, tidak ada informasi yang menyebutkan sebagian lagi bukan ahli logika. Kesimpulan Sebagian orang Indonesia bukan ahli logika tidak dapat diturun dari dua premis dalam silogisme ini. Kesimpulan yang dapat dibuat adalah Sebagian ahli logika adalah manusia. Dalam deduksi, yang dijadikan dasar penilaian sahih atau tidaknya argumen adalah bentuknya. Bentuk yang benar harus benar untuk semua argumen, apa pun isi materialnya. Memang dalam silogisme di atas terkesan argumennya tetapi jika kita gunakan untuk silogisme berikut, maka dapat diketahui bahwa bentuk itu tidak sahih. Semua orang Indonesia adalah manusia. Sebagian orang Indonesia bernafas. Jadi: Sebagian orang Indonesia tidak bernafas. 5. Premis negatif dan kesimpulan afirmatif Sesat pikir ini terjadi jika dalam premis digunakan proposisi negatif tetapi dalam kesimpulan digunakan proposisi afirmatif, misalnya Tiada hewan yang berkaki tiga. Semua hewan peka terhadap rangsang. 79

Jadi: Semua yang peka terhadap rangsang berkaki tiga. 6. Dua premis negatif Sesat pikir dua premis negatif terjadi jika dalam silogisme kedua premis yang digunakan adalah proposisi negatif. Perhatikanlah contoh-contoh berikut. (1) Tiada hewan yang berkaki tiga. Tiada hewan dapat membuat alat. Jadi: Semua yang dapat membuat alat bukan hewan.

Meskipun terkesan benar, silogisme ini tidak sahih karena tidak ada kesimpulan yang dapat diturunkan dari dua proposisi negatif. Kesimpulan dalam silogisme ini tidak memberi tambahan pengetahuan baru. Berikut ini dua contoh lain sesat pikir berbentuk dua premis negatif. (2) Tiada hewan yang berpikir. Semua hewan tidak dapat membuat alat. Jadi: Semua yang dapat membuat alat berpikir. Tiada buku Jono yang mudah dibaca. Tiada buku yang mudah dibaca bermutu. Jadi: Semua buku Jono bermutu.

(3)

7. Mengafirmasi konsekuensi Sesat pikir mengafirmasi konsekuensi adalah pembuatan kesimpulan yang diturunkan dari pernyataan yang hubungan antara anteseden dan konsekuensinya tidak niscaya tetapi diperlakukan seolah-olah hubungan itu suatu keniscayaan. Perhatikan contoh berikut. Kalau lampu menyala, perabot-perabot di rumah saya nampak. Perabot-perabot di rumah saya nampak. Jadi: Lampu menyala. Bentuk penalaran ini salah sebab perabot-perabot rumah saya nampak bukan hanya karena diterangi oleh cahaya lampu, melainkan dapat juga karena hal lain, misalnya diterangi oleh sinar matahari. Jadi dapat saja terjadi perabot-perabot di rumah saya nampak tetapi lampu tak menyala, misalnya pada siang hari. 8. Menolak anteseden Sesat pikir menolak anteseden juga merupakan pembuatan kesimpulan yang diturunkan dari pernyataan yang hubungan antara anteseden dan konsekuensinya tidak niscaya tetapi diperlakukan seolah-olah hubungan itu suatu keniscayaan. Tetapi dalam bentuk ini yang ditolak adalah antesedennya. Perhatikan contoh berikut. 80

Jika guru pandai maka murid pandai. Murid tidak pandai. Jadi: Guru tidak pandai. Murid tidak pandai bisa saja karena tidak cerdas atau tidak pernah masuk kelas. Hubungan antara guru pandai dan murid pandai berlaku dalam situasi dengan kondisi-kondisi tertentu. Jika kondisi itu tidak dipenuhi maka hubungan itu tidak berlangsung. Jadi murid tidak pandai belum tentu karena guru tidak pandai.

9. Mengiyakan suatu pilihan dalam suatu susunan argumentasi disjungsi subkontrer (atau) Sesat pikir ini terjadi jika hubungan atau di antara dua hal diperlakukan sebagai pengingkaran oleh hal yang satu terhadap hal yang lain. Atau belum tentu menunjukkan suatu pengingkaran. Perhatikan contoh berikut. Hari hujan atau panas. Hari hujan. Jadi: Hari tidak panas. Hari hujan belum tentu tidak panas karena hari hujan dan panas tidak saling mengingkari.

10. Mengingkari suatu pilihan dalam suatu disjungsi yang kontrer (dan) Bentuk sesat pikir ini terjadi jika dua hal yang dihubungkan dengan kata dan diperlakukan seolah-olah nilai kebenaran (benar atau tidak benar) dari gabungan keduanya sama dengan nilai kebenaran dari setiap hal yang digabungkan, atau nilai tidak benar dari gabungan dari dua hal itu seolah-olah disebabkan oleh salah satunya. Perhatikan contoh berikut. Nativisme dan empirisme tidak benar. Nativisme benar. Empirisme tidak benar. Jika tidak digabungkan, baik nativisme maupun empirisme bisa saja sama-sama benar. Yang membuat tidak benar adalah penggabungan keduanya.

8.3. Sesat Pikir Nonformal 1. Perbincangan dengan ancaman

81

Dalam sesat pikir ini kebenaran dari kesimpulan didasarkan kepada ancaman, misalnya Saya menerima penyataan bahwa bumi ini pusat dunia karena jika tidak maka nyawa saya terancam. 2. Salah guna (Abusive) Sesat pikir salah guna adalah penyalahgunaan pertimbangan-pertimbangan yang secara logis tidak relevan, misalnya Parpol dan Golkar mendukung Orde Baru. Golkar yang melahirkan Orde Baru. Jadi: Golkar yang paling mendukung Orde Baru.

3. Argumentasi berdasarkan kepentingan (circumstantial) Sesat pikir ini timbul sebagai akibat dari penarikan kesimpulan secara logis melainkan untuk kepentingan pihak yang termaksud seperti pada contoh berikut. Agar persatuan pemuda dapat dipertahankan, maka si X harus menjadi ketua organisasi pemuda. Karena X sudah berumur 40 tahun, maka dalam anggaran dasar organisasi pemuda itu, definisi pemuda ditetapkan sampai umur 45 tahun. 4. Argumentasi berdasarkan ketidaktahuan Argumentasi berdasarkan ketidaktahuan adalah argumentasi yang menilai sesuatutindakan atau pernyataanbenar berdasarkan ketidaktahuan, bukan berdasarkan isi dan bentuk argumentasinya. Orang membenarkan sebuah keputusan, meskipun salah, hanya dengan alasan ia tidak tahu. Lalu orang lain menerima dan tidak menyalahkan keputusan itu dengan alasan bahwa orang yang membuat keputusan tidak tahu. Perhatikanlah contoh berikut. Kami memilih Suyadi sebagai dekan meskipun ia belum memenuhi syarat karena kami tidak tahu bahwa ia tak memenuhi syarat, jadi kami tak bisa disalahkan. 5. Argumentasi berdasarkan belas kasihan Argumentasi belas kasihan adalah argumentasi yang menilai benar atau salahnya sesuatu berdasarkan belas kasihan, bukan berdasarkan isi dan bentuk argumennya. Orang membenarkan sebuah keputusan, meskipun salah, hanya dengan alasan kasihan. Lalu orang lain menerima dan tidak menyalahkan keputusan itu dengan alasan orang yang membuat keputusan merasa belas kasihan. Perhatikanlah contoh berikut. 82

Andi memang salah dan menurut peraturan ia harus dihukum, tetapi kasihan jika ia dihukum, hidupnya sudah susah, jadi kami tak dapat menyalahkannya dan tak menghukumnya. 6. Argumentasi yang disangkutkan dengan orang banyak Sesat pikir jenis ini adalah argumentasi yang menjadikan apa yang dipercaya oleh kebanyakan orang sebagai dasar penentuan benar atau salahnya argumentasi. Orang membenarkan sebuah keputusan dengan alasan semua orang berpendapat demikian. Perhatikanlah contoh berikut. Semua orang juga tahu Muhidin bersalah, oleh karena itu Muhidin pasti salah.

7. Argumentasi dengan kewibawaan ahli walaupun keahliannya tidak relevan Sesat pikir jenis ini adalah argumentasi yang membenarkan kesimpulan berdasarkan kewibawaan ahli walaupun keahliannya tidak relevan. Isi dan bentuk argumentasi tidak dicermati dan tidak dijadikan dasar penentuan benar atau salahnya kesimpulan. Misalnya, menerima kesimpulan tentang perilaku seseorang yang dinilai melanggar kejahatan karena beberapa profesor sosiologi menyalahkan perilaku itu. Contoh berikut ini merupakan sesat pikir jenis ini. Internet berbahaya bagi generasi muda. Hal ini disampaikan oleh Prof. Herdin. Apa yang dikatakan profesor benar karena dia ahli. Jadi internet memang berbahaya bagi generasi muda. 8. Accident atau argumentasi berdasarkan ciri-ciri tak esensial Sesat pikir accident adalah argumentasi yang menjadikan satu sifat yang berbeda atau yang sama sebagai dasar untuk menyimpulkan bahwa dari dua hal semuanya sama atau semuanya berbeda. Perhatikan contoh berikut. Bangsa Indonesia tidak sama dengan bangsa Jepang. Jadi, semua orang Indonesia tidak sama dengan semua orang Jepang. 9. Perumusan yang tergesa-gesa (converse accident) Sesat pikir perumusan yang tergesa-gesa adalah pembuatan kesimpulan yang didasari oleh alasan tak memadai atau tanpa alasan sama sekali. Berikut ini dua contohnya. (1) Semua pegawai negeri adalah koruptor karena kita menemui banyak koruptor dalam keseharian kita. (2) Semua mahasiswa malas membaca. 83

10. Sebab yang salah Sesat pikir sebab yang salah adalah pembuatan kesimpulan berdasarkan satu dugaan yang tak terbukti dan tetap dipertahankan meskipun bukti menunjukkan bahwa kesimpulan itu salah. Misalnya pernyataan bahwa penyakit disebabkan oleh kemasukan setan. Lalu setannya diusir, penyakitnya tetap ada. Tetapi tetap dipercaya bahwa penyakit disebabkan oleh kemasukan setan.

11. Penalaran sirkular Sesat pikir penalaran sirkular menjadikan kesimpulan sebagai alasan. Alasan yang digunakan secara substansial tidak berbeda dengan keseimpulan. Sesat pikir ini juga dapat muncul dalam argumentasi yang menggunakan kesimpulan yang masih harus dibuktikan sebagai pangkal pikir. Periksalah dua contoh berikut. (1) Petugas hukum dapat disogok karena penghasilannya rendah. Penghasilan hakim rendah karena ekonomi buruk. Ekonomi buruk karena hukum tidak berfungsi. Hukum tidak berfungsi karena petugas hukum dapat disogok. (2) A adalah orang yang jujur. Itu terbukti dari ucapan-ucapannya sendiri kemarin. 12. Sesat pikir karena terlalu banyak pertanyaan yang harus dijawab sehingga jawaban tak sesuai dengan pertanyaan Ketika seseorang menerima banyak pertanyaan dan tak sempat mencermati pertanyaan itu satu per satu, ia bisa saja menjawab sekenanya sehingga terjadi kekeliruan dalam penalarannya. Argumentasi yang dibangunnya menjadi sesat pikir. Sesat pikir jenis ini menghasilkan kesimpulan yang tak jelas dan tak berkaitan dengan alasan yang digunakan. Umpamanya, seorang polisi ditanya oleh banyak wartawan setelah peristiwa meledaknya bom di sebuah hotel, lalu menjawab bahwa pelakunya adalah orang-orang yang anti NKRI dan ingin menjatuhkan pemerintahan tanpa ada bukti dan tak ada koherensi dalam argumentasinya.

13. Kesimpulan tak relevan. Sesat pikir kesimpulan tak relevan adalah argumentasi yang kesimpulannya tidak sejalan dengan alasannya, misalnya (1) Rumah di ujung jalan itu sering kemalingan karena warna catnya hijau.

84

(2) Orang tua lebih tahu dan lebih pintar dari anak-anaknya karena anak-anak itu dilahirkan orang tuanya.

14. Makna ganda (equivocation) Sesat pikir makna ganda adalah argumen yang menggunakan term yang bermakna ganda sehingga kesimpulannya tidak jelas dan dapat diubah-ubah berdasarkan pemaknaan terhadap term itu. Argumentasi dengan makna ganda merupakan sesat pikir karena makna kata dapat dipilih untuk maksud-maksud tertentu. Perhatikanlah contoh berikut. Politisi yang dituduh menjelek-jelekkan presiden itu diamankan oleh pemerintah sebab jika dibiarkan akan mengganggu stabilitas keamanan. Oleh karena itu, pemerintah tidak melanggar HAM. Kata diamankan dapat berarti ditangkap, dipenjarakan, atau dilarang berbicara di muka umum. Contoh kata lain yang bermakna ganda ialah ditindak yang dapat berarti dipukuli, ditangkap atau ditembak.

15. Makna ganda ketata-bahasaan (amphiboly) Sesat pikir dapat juga terjadi karena argumentasi yang dikemukakan menggunakan term-term yang bermakna ganda jika dilihat dari tata bahasa, misalnya kata mata yang dapat digunakan dengan makna yang lain seperti dalam matahari, mata kuliah, mata sapi, mata hati, mata kaki, dan mata-mata. Berikut ini contoh argumentasi yang merupakan sesat pikir makna ganda ketata-bahasaan. Diri seseorang tercermin dari hatinya. Hati yang baik mencerminkan diri yang baik. Hati yang buruk mencerminkan diri yang buruk. Kata hati dalam argumentasi di atas dapat bermakna ganda. Term hati di situ tidak merujuk kepada organ hati, melainkan kepada perasaan, intuisi, atau nurani. Argumentasi itu menjadi sesat pikir karena hati yang dimaksud tak dapat dikenali secara jelas merujuk kepada objeknya sehingga tak dapat dibuktikan benar atau salah. Argumentasi yang dicontohkan di atas tidak bermakna karena proposisi-proposisinya tidak jelas maknanya.

16. Sesat pikir karena perbedaan logat atau dialek bahasa Sesat pikir dapat terjadi karena adanya perbedaan logat atau dialek bahasa atau cara menamai sesuatu tetapi perbedaan itu tidak disadari. Sebagai contoh, mobil di Medan disebut motor

85

dan motor dinamakan kereta, sedangkan di Jakarta kereta berarti kereta api. Perbedaan ini dapat menghasilkan sesat pikir jika tidak diklarifikasi.

17. Kesalahan komposisi Sesat pikir kesalahan komposisi adalah argumentasi yang memperlakukan kebenaran pada bagian sebagai kebenaran keseluruhan. Dalam membuat keputusan, misalnya, manusia sering kali dirugikan oleh perasaan, lalu disimpulkan bahwa perasaan pasti merugikan manusia. Intinya, benar pada bagian dianggap benar pada keseluruhan.

18. Kesalahan divisi Sesat pikir kesalahan divisi adalah argumen yang serta-merta menyimpulkan bahwa karakteristik dari keseluruhan pasti ada pada bagian-bagiannya. Dalam sesat pikir ini, kebenaran keseluruhan dianggap sebagai kebenaran pada bagian-bagiannya. Umpamanya, manusia adalah makhluk yang berpikir, oleh karena itu kaki dan tangan manusia pun berpikir.

19. Generalisasi tak memadai Sesat pikir generalisasi yang tak memadai adalah argumentasi yang kesimpulannya didasarkan pada data atau fakta yang tak memadai. Misalnya, generalisasi berdasarkan sampel yang terlalu kecil atau menggunakan sampel tertentu untuk membuat kesimpulan tentang populasi yang berbeda. 9. Kesalahan Umum Dalam Penalaran Induktif4 Kesalahan-kesalahan yang dibahas di pasal ini merupakan ringkasan dari jenis-jenis kesalahan yang dapat terjadi dalam pengambilan kesimpulan secara induktif. Kesalahankesalahan itu sering disebut dengan nama yang cukup umum dalam percakapan sehari-hari mengenai argumen induktif dan statistik. Namun perlu diingat bahwa memberi nama pada jenis-jenis kesalahan dalam suatu argumen tidak sama dengan menganalisis dan mengevaluasi argumen itu. Tidak semua orang tahu nama kesalahan. Selain itu, nama kesalahan juga tidak selalu digunakan secara tepat dan konsisten. Anda harus selalu siap memberikan kritik dengan cara melakukan teknik-teknik rekonstruksi dan evaluasi yang telah dijelaskan pasal-pasal sebelumnya. Jika Anda
4

Pasal tentang kesalahan umum dalam penalaran induksi ini disadur dari buku A. K. Bierman dan R. N. Assali, The Critical Thinking Handbook (New Jersey, 1994). Penyaduran itu dilakukan dengan bantuan dari Judithia A. Wirawan.

86

menyebutkan bahwa suatu argumen mengandung kesalahan tertentu, Anda harus siap untuk menjelaskan apa arti nama kesalahan yang Anda sebutkan itu, dan untuk menunjukkan letak premis atau kesimpulan yang patut dipertanyakan. 9.1 Menilai Penalaran Induktif dengan Standar Deduktif Kita tahu banyak hal tentang dunia ini. Dari semua pengetahuan yang kita miliki, sebagian besar kita peroleh dari pengalaman dan dokumentasi mengenai pengalaman orang lain. Tanpa pengetahuan empiris, kita tidak mungkin bertahan hidup. Pada akhirnya, kita mendasarkan pengetahuan empiris kita pada penalaran induktif. Untungnya, dunia kita cukup seragam dan tearatur sehingga pengetahuan yang kita peroleh dengan cara ini cukup kokoh. Misalnya, kita tahu bahwa kita tidak dapat terbang ke luar angkasa, bahwa roti yang kita makan tidak bisa tiba-tiba berubah menjadi kodok, bahwa tanah yang kita injak akan tetap diam di bawah kaki kita. Ini semua adalah bagian dari dunia yang kita kenal baik. Deduksi memungkinkan kita memastikan kebenaran pengetahuan kita hanya jika kita yakin akan kebenaran premis-premisnya. Informasi yang terdapat dalam kesimpulan deduksi tidak melampaui informasi yang terdapat dalam premis-premis asal kesimpulan itu. Pada akhirnya, agar dapat mendukung premis-premis dalam argumen deduktif dan untuk menambah informasi empiris kita, kita harus mengandalkan induksi. Kita tidak perlu menolak suatu kesimpulan induktif semata-mata karena buktibuktinya tidak dapat menjamin kebenaran kesimpulan itu. Jaminan memang bukan karakteristik induksi, dan kita jangan menilai argumen induktif dengan standar deduktif. Kita jangan terlalu skeptis dalam menghadapi suatu argumen induktif, cukup kalau kita menerapkan keraguan yang masuk akal (reasonable doubt). Batasan suatu keraguan yang masuk akal tergantung pada konteks argumen, dan terutama pada konseksuensi dari diterima atau ditolaknya kesimpulan dari argumen itu. Standar keraguan yang masuk akal dalam menerima suatu gosip yang tidak berbahaya, atau bertaruh kecil-kecilan pada balap kuda, jangan dibuat setinggi standar pada saat memutuskan apakah seseorang bersalah dalam suatu pengadilan kriminal. Jadi, jika kita sudah secara berhati-hati mengevaluasi bukti-bukti dalam suatu argumen dan telah mempertimbangkan hipotesis-hipotesis rival yang paling mungkin, dan jika argumen itu lolos semua tes yang kita lakukan, maka kita boleh menerima kesimpulannya. Jika kita mau, kita dapat mengawali pernyataan kita dengan kata-kata seperti sejauh pengetahuan saya atau kecuali ada tambahan bukti yang bertentangan. Dengan melakukan hal itu, tidak ada orang yang dapat mengatakan pemikiran kita salah. Mereka 87

boleh saja mengkritik kita karena telah mengabaikan hipotesis rival yang mungkin atau karena kurang banyak mempertanyakan bukti yang ada. Tetapi kita tidak dapat dituduh melakukan penalaran yang buruk ketika kita menarik suatu kesimpulan yang didukung dengan baik namun tidak dijamin oleh premis-premisnya. Jika ada yang mengkritik kita dengan mengatakan bahwa kita telah melakukan penalaran yang buruk, maka kritik itu sendiri sudah merupakan pemikiran yang buruk. Harus dicamkan bahwa menilai induksi dengan standar deduksi adalah suatu kesalahan. Standar itu tidak mungkin dicapai. Jika kita terus mengikuti standar itu, kita tidak akan pernah memiliki banyak pengetahun yang dapat kita yakini. Satu latihan yang baik agar kita tidak terjerumus ke dalam kesalahan ini adalah dengan memikirkan kembali keyakinan-keyakinan yang kita miliki. Kita akan mendapati bahwa kebanyakan dari keyakinan kita tidak didukung oleh argumen deduktif yang baik dan kuat. Keyakinan-keyakinan itu belum terbukti sepenuhnya, tetapi kita tetap bertindak atas dasar itu dengan cukup percaya diri. Tuntutan yang keterlaluan biasanya muncul ketika kita menilai pernyataan orang lain. Ini adalah kesalahan yang umum pada orang yang baru belajar logika. Kesalahan ini dapat menyangkut penalaran induktif apa pun, dan dari jenis yang mana pun. Kesalahan-kesalahan induktif yang akan dibahas selanjutnya dalam pasal ini akan berlaku lebih spesifik.

Latihan 8.1 (Mendukung Pernyataan dengan Deduksi dan Induksi)


1. Sebutkan lima pernyataan penting tentang dunia yang Anda yakini kebenarannya tanpa keragu-raguan, tetapi yang Anda yakin tidak dijamin dengan penalaran deduktif. 2. Untuk masing-masing pernyataan berikut, jika Anda yakin bahwa pernyataan itu benar, sebutkan apakah Anda akan membuat argumen yang mendukungnya dengan dasar deduksi atau induksi, dan gambarkan secara singkat bagaimana Anda membuat argumen itu. Sebaliknya, jika Anda yakin pernyataan itu salah, pilih dan buatlah argumen untuk negasi dari pernyataan tersebut. Jika Anda merasa bahwa pernyataan itu tidak benar dan tidak salah, jelaskan mengapa. (1) Ratu Inggris adalah seorang perempuan. (2) Paus Yohanes Paulus menentang aborsi. (3) Sinterklas benar-benar ada.

88

9.2 Kesalahan Generalisasi 9.2.1 Generalisasi yang Terburu-buru (Kebalikan dari Kesalahan Kecelakaan) Kesalahan ini merupakan kesalahan yang sering dilakukan. Kita seringkali senang merapikan dunia dengan memasukkannya dalam kategori-kategori dan menggeneralisasi pengalaman kita. Namun generalisasi harus dilakukan dengan berhati-hati. Bahkan generalisasi dalam ilmu pengetahuan yang dibuat dengan sangat hati-hati pun sering kali salah. Karena bukti-bukti dalam suatu argumen induktif sejalan dengan lebih dari satu kesimpulan, kita menarik kesimpulan yang lebih lemah atau lebih kuat, atau bahkan kesimpulan yang bertentangan, berdasarkan bukti yang sama. Kesimpulan mana yang kita tarik tergantung pada interpretasi kita mengenai data dan sejauh mana kita berhati-hati. Kita melakukan kesalahan generalisasi yang terburu-buru jika kita memilih untuk menarik kesimpulan yang umum dari data yang kurang. Kita juga melakukan kesalahan yang sama jika kita membuat generalisasi yang lebih kuat atau lebih luas daripada yang diijinkan oleh bukti-bukti yang ada, atau membuat generalisasi dari informasi yang tidak lengkap. Kesalahan itu merupakan akibat dari pembuatan generalisasi berdasarkan bukti yang tidak cukup, tidak lengkap, atau bias. Perhatikanlah contoh berikut. (1) Ya, saya tahu Mike baru dioperasi. Tapi itu, kan, sudah lebih dari sebulan yang lalu, dan dia tentunya sudah sembuh sekarang. Masalahnya adalah dia seharusnya menyerahkan laporannya sekarang. Ini cukup menunjukkan bahwa kita tidak akan pernah dapat mengandalkan Mike untuk melakukan pekerjaannya dengan benar. (2) Saya sudah bertemu dengan hampir setengah dari anggota perkumpulan itu waktu saya mau mendaftar di sana. Semuanya pemabuk dan memakai obat. Ya, saya yakin mereka semua pasti seperti itu. Makanya, kamu jangan banyak bergaul dengan Sam. Dia, kan, anggota perkumpulan itu. Dalam masing-masing contoh itu, si pembicara menarik kesimpulan yang tidak tepat. Pada contoh (1), si pembicara menggeneralisasi bahwa berdasarkan satu kesalahan yang dilakukan Mike kita tidak akan pernah dapat mengandalkannya. Ini saja sudah merupakan generalisasi yang terburu-buru. Namun seandainya si pembicara mempunyai lebih banyak contoh mengenai ketidakbertanggungjawaban Mike pun, kesimpulannya tetap tidak tepat karena dia tidak memperhatikan kondisi Mike. Dia tahu bahwa Mike baru dioperasi, tapi tidak mencari tahu apakah Mike mengalami komplikasi yang memperlama masa penyembuhannya. Ini merupakan informasi yang relevan, dan si pembicara seharusnya tidak 89

menarik kesimpulan mengenai keterandalan Mike dengan informasi yang tidak lengkap. Dia belum mengetahui semua faktanya. Pada contoh (2), hampir setengah populasi memang merupakan sampel yang cukup besar untuk mengambil kesimpulan mengenai perkumpulan itu. Tetapi si pembicara menggeneralisasi semua anggota perkumpulan itu pemabuk dan pemakai obat. Ini penting karena dia lalu mencela anggota lain berdasarkan kesimpulan ini. Jelas bahwa pernyataan universal mengenai semua anggota tidak tepat. Kesimpulan ini terlalu kuat, walaupun sampelnya cukup besar. Terlebih lagi, dia bertemu dengan anggota yang mengurus pendaftaran. Ini mungkin merupakan informasi yang relevan. Orang-orang ini mungkin melebih-lebihkan kebiasaan mereka agar dapat menarik perhatian calon anggota baru. Jadi, bukti yang didasarkan pada perilaku anggota yang sedang melakukan rekrutmen mungkin kurang dapat diandalkan. Si pembicara seharusnya tidak menggunakannya untuk melompat ke kesimpulan yang universal.

Menanggapi Generalisasi yang Terburu-buru Cara terbaik untuk mengalahkan generalisasi yang terburu-buru adalah dengan menemukan bukti yang berlawanan atau argumen yang berlawanan untuk menunjukkan bahwa kesimpulan si pembicara salah. Generalisasi universal merupakan generalisasi yang paling mudah digugurkan. Tetapi bukti yang berlawanan tidak selalu tersedia, dan orang yang melakukan generalisasi yang terburu-buru sering kali menolak bukti yang berlawanan itu jika generalisasi yang mereka lakukan tidak universal (tetapi terburu-buru). Jadi, kita harus mencoba meyakinkan si pembicara bahwa kesimpulannya tidak tepat dengan cara mengomentari kesalahan bukti atau sampelnya yang bias. Kita mungkin perlu mengajarinya mengenai bagaimana membuat kesimpulan yang lebih tepat atau yang lebih lemah. Lalu kita dapat mengajaknya menerima kesimpulan yang lebih lemah berdasarkan bukti yang ada, kemudian menunjukkan bahwa ada alternatif kesimpulan lain yang mungkin benar. Jika kesimpulannya sama sekali mengawur, proses yang gradual ini mungkin dapat membantu kita mengajaknya meninggalkan kesimpulan itu. 9.2.2 Kesalahan Kecelakaan Kita hidup berdasarkan aturan dan generalisasi yang mengatur perilaku kita,

mengorganisasikan pengalaman kita, dan membantu kita meringkas pengetahuan kita. Tetapi generalisasi sering kali mempunyai kekecualian. Bahkan hukum yang paling tepat pun

90

mempunyai batas-batas penerapan, dan untuk menentukan kapan hukum itu dapat diterapkan dan kapan tidak, dibutuhkan keterampilan profesional. Kesalahan ini muncul ketika suatu prinsip umum salah diterapkan pada contoh atau situasi yang sebenarnya tidak termasuk dalam prinsip umum tersebut. Si pembicara menerapkan generalisasi atau aturan secara salah supaya kesimpulannya yang kurang tepat dapat diterima, atau untuk memaksakan kepatuhan pada aturan itu. Si pembicara sering kali menganggap bahwa aturan atau prinsip itu tanpa kekecualian dan menolak, untuk mempertimbangkan bahwa mungkin ada kasus yang sangat luar biasa sehingga jatuh di luar jangkauan prinsip itu. Sebagian orang menganggap ini merupakan kebalikan dari kesalahan generalisasi yang terburu-buru. Generalisasi yang terburu-buru bergerak dari kasus yang tidak umum atau tidak representatif ke generalisasi yang tidak tepat. Kesalahan kecelakaan menerapkan suatu generalisasi pada kasus yang tidak umum atau kecelakaan yang sebenarnya tidak termasuk dalam generalisasi itu. Kesalahan ini dapat terjadi, baik pada argumen deduktif maupun induktif. Perhatikanlah contoh berikut. (1) Begini, Bu. Saya tahu anak Ibu berusia 12 bulan. Tapi aturan di bioskop ini jelas. Tidak ada orang yang berusia di bawah 18 tahun yang boleh menonton film untuk orang dewasa. Jadi, Ibu lebih baik pulang saja. (2) Orang tua sebaiknya tidak menipu anaknya dengan mengatakan hal-hal yang tidak benar. Jadi, Anda bersalah jika mengatakan pada anak Anda bahwa Sinterklas membawa hadiah untuk mereka sementara sebenarnya Andalah yang membeli hadiah itu. Dalam masing-masing kasus di atas, si pembicara menerapkan prinsip umum pada kasus kekecualian yang sebenarnya tidak termasuk. Pada contoh (1), kita tahu bahwa larangan menonton film orang dewasa berlaku bagi anak-anak di bawah umur yang sudah bisa menonton film dan yang mungkin mendapat pengaruh buruk dengan melihat film itu. Bayi sebenarnya tidak termasuk di dalamnya, tetapi si penjaga bioskop memberlakukan aturan itu secara kaku. Berdasarkan penerapan aturan secara salah, dia mengambil kesimpulan yang tidak tepat, yaitu bahwa ibu itu harus pergi dengan bayinya. Pada contoh (2), aturan moral yang melarang kita untuk berbohong diterapkan secara salah pada mitos anak-anak tentang Sinterklas. Kita memperkaya hidup kita dengan mitos, permainan, cerita, dan drama. Kita biasanya tidak menerapkan prinsip bahwa berbohong itu salah pada fiksi anak-anak yang menyenangkan. Namun, si pembicara bersikukuh

91

melakukannya. Dia menerapkan prinsip yang baik pada kasus yang tidak tepat. Kesalahan ini sering kali dilakukan oleh orang yang dogmatis dan birokrat.

Menanggapi Kesalahan Kecelakaan Sayangnya, orang yang melakukan kesalahan ini mungkin akan bersikeras dan tidak mau mendengarkan penjelasan kita. Tanggapan terbaik adalah mencoba membuat si pembicara paham bahwa aturan atau prinsip itu sengaja dibuat samar-samar. Kebanyakan aturan atau hukum tidak dapat mencakup semua keadaan yang mungkin terjadi. Pembuat hukum memperhitungkan hal ini dengan cara sengaja menyediakan ruang untuk interpretasi si penerap hukum pada waktu membuat hukum tertulis. Kemudian kita dapat mencoba membuat si pembicara memahami tujuan yang diinginkan oleh aturan tersebut. Dengan cara ini kita dapat menunjukkan bahwa dia menghalangi dicapainya tujuan itu, atau dia menghalangi dicapainya tujuan lain yang lebih penting, jika dia bersikeras menerapkan aturan itu secara salah. Untuk itu mungkin Anda perlu mengemukakan prinsip lain yang lebih tinggi, yang tujuannya harus didahulukan daripada tujuan aturan yang diperdebatkan. Cara lain adalah mencoba menemukan situasi yang sangat tidak umum sehingga dia terpaksa menerima kekecualian untuk aturannya. Misalnya, si pembicara memegang prinsip bahwa orang harus menghindari obat terlarang, khususnya morfin. Ajukan kasus seseorang yang jantungnya harus dioperasi: apakah pasien itu tidak boleh mendapatkan morfin sebagai obat bius? Jika dia setuju bahwa morfin boleh dipakai dalam kasus itu, kita dapat mulai mendiskusikan kapan aturan itu dapat diterapkan dan kapan tidak. Ini adalah sebuah langkah besar. Jika hal itu sulit dilakukan, carilah contoh aturan lain yang disetujuinyatetapi ada kekecualiannya yang jelasyang pasti akan diterimanya. Ini dapat menunjukkan kepadanya melalui analogi bahwa dalam aturan yang begitu keras dipegangnya itu pun mungkin ada kekecualian. Jika dia tidak mengakui adanya kekecualian pada aturan mana pun, menyerahlah!

Latihan 9.2 (Kesalahan Generalisasi)


Untuk masing-masing soal berikut ini, coba cari si pembicara ingin membujuk kita untuk meyakini apa? Lalu jelaskan apakah ada kesalahan dalam soal itu dan apa kesalahannya. Akhirnya, sebutkan nama kesalahan yang terjadi.

92

1. Saya sudah minta Dorothy pergi dengan saya dua kali. Dia selalu menolak dengan mengatakan bahwa dia ingin pergi dengan teman-teman kelas baletnya. Jelaslah bahwa dia dan teman-teman baletnya tidak suka dekat-dekat dengan laki-laki. 2. Jelas bahwa sebagian besar orang California setuju dengan aborsi. Pada survei di daerah perumahan West Hollywood, 89% menjawab bahwa perempuan seharusnya punya hak untuk meminta aborsi, dan negara harus menyediakan dana bagi perempuan yang tidak mampu membayar. 3. Memang benar, Pak. Saya tahu istri Bapak sakit dan Bapak merasa harus mengemudi dengan cepat sampai-sampai melanggar batas kecepatan maksimal. Tetapi tugas saya adalah menegakkan hukum. Hukum kita jelas. Jadi, saya terpaksa menilang Bapak karena mengebut. Tolong tanda tangani formulir tilang ini, Pak, lalu Bapak boleh pergi. Istri Bapak kelihatannya sudah parah. 9.3 Kesalahan Penggunaan Bukti Secara Salah 9.3.1 Kesimpulan Yang Tidak Relevan Kesalahan karena kesimpulan yang tidak relevan muncul ketika orang menarik kesimpulan yang salah dari bukti yang ada. Biasanya bukti yang ada itu dapat digunakan untuk mendukung kesimpulan yang berhubungan atau mirip, sehingga kesalahan ini sulit dilacak. Walaupun dapat terjadi, baik dalam penalaran deduktif maupun penalaran induktif, kesalahan ini lebih sering muncul pada penalaran induktif karena konteksnya lebih rumit sehingga kita lebih mungkin menarik kesimpulan yang salah. Perhatikanlah contoh kasus berikut ini. (1) Buktinya jelas. Mark selalu bekerja keras. Dia adalah seorang pemuda yang tegas dan cinta tanah air. Dia sopan, tulus, dan tidak pernah berpikiran buruk tentang orang lain. Jadi, dia pasti cocok masuk ke fakultas kedokteran. (2) Masyarakat Amerika pasti senang dengan pemerintah yang sekarang. Lima puluh lima persen responden kami menjawab Ya ketika ditanya Apakah Anda merasa lebih sejahtera sekarang daripada empat tahun yang lalu? Dalam masing-masing kasus, si pembicara menarik kesimpulan yang sangat tidak relevan dengan bukti yang tersedia. Pada contoh (1), karakteristik pribadi Mark yang disebutkan sebagai bukti mungkin membuat Mark termasuk kategori orang baik, tapi tidak cukup dan bahkan tidak perlu untuk membuatnya calon mahasiswa kedokteran yang berhasil. Jika kita tidak mempunyai bukti tentang nilai dan bakat Mark di bidang kedokteran, kita jangan menerima ajakan si pembicara untuk menarik kesimpulan yang salah.

93

Pada contoh (2), tidak ada kesimpulan yang dapat ditarik dari bukti yang ada. Pertama, kata senang merupakan kesimpulan yang buruk jika tidak tercakup di dalam pertanyaan survei. Kedua, kalaupun pertanyaan survei itu Apakah Anda merasa lebih senang, term itu tetap terlalu luas untuk digunakan. Yang lebih parah lagi, kita tidak tahu siapa yang menjadi percontoh survei itu. Siapa tahu, mereka adalah keluarga presiden semua, sementara si pembicara membuat pernyataan tentang seluruh masyarakat. Walaupun informasinya dapat diandalkan dan percontohnya baik, kita sebaiknya tidak menarik kesimpulan mengenai seorang individu berdasarkan jawaban kuesioner. Bukti ini hanya dapat menjamin satu kesimpulan, yaitu bahwa 55% dari populasi yang diwakili oleh sampelnya yang menjawab Ya atas pertanyaaan yang diajukan itu. Singkatnya, kesimpulannya sama sekali tidak relevan dengan premisnya. Menanggapi Kesalahan Kesimpulan yang Tidak Relevan Kalau kita dapat mengidentifikasi adanya kesalahan itu dalam suatu argumen, tanggapannya mudah. Kita tinggal berkeras bahwa si pembicara tetap pada buktinya. Jika dia ingin kita menerima kesimpulannya, dia harus memberikan argumen. Dengan melakukan kesalahan ini, berarti dia tidak memberikan argumen yang logis. Masalahnya adalah bagaimana mengidentifikasi kesalahan ini. Satu-satunya cara agar tidak terjerumus ke dalam kesalahan ini adalah dengan melatih ketelitian dalam menilai bukti.

9.3.2 Kesalahan Bukti yang Ditahan Kesalahan karena bukti yang ditahan terjadi ketika pembicara menarik kesimpulan yang tidak tepat dengan mengabaikan, menahan, atau meminimalkan derajat pentingnya suatu bukti yang bertentangan dengan kesimpulan. Kesalahan ini tidak hanya mencakup

disembunyikannya suatu bukti secara sengaja supaya kesimpulannya diterima, tetapi juga yang tidak disengaja. Kasus tidak sengaja sering terjadi ketika keyakinan sudah sedemikian kuatnya sehingga kita menolak mempertimbangkan bukti apa pun yang mungkin bertentangan. Kesalahan ini juga termasuk tidak ditelitinya berbagai sudut pandang dari sebuah topik sehingga kesimpulan ditarik secara tidak adil bagi pihak-pihak tertentu. Perhatikanlah contoh berikut. (1) Tidak ada orang waras yang akan mau tinggal di San Fransisco. Di situ banyak kabut dan lembab. Lalu tempatnya berbukit-bukti curam sehingga menyetir menjadi berbahaya sekali. Belum lagi gempa bumi yang selalu siap

94

menyerang. Jadi, jelas bahwa sama sekali tidak ada alasan mengapa orang akan senang tinggal di San Fransisco. (2) Frank, kita akan menghadapi jaksa penuntut yang keras. Kita akan kalah kalau dia tahu bahwa ada saksi yang melihat perampokan ini. Kita memang sudah tahu, tapi itu tugas dia untuk mencari tahu. Jadi, argumen kita tidak akan menyinggung-nyinggung kemungkinan adanya saksi mata, ya? Pada contoh (1), si pembicara, baik sengaja ataupun tidak, hanya berfokus pada aspek yang tidak menyenangkan dari San Fransisco. Jika memang cuma itu yang ada di San Fransisco, maka dia mempunyai argumen yang kuat. Tetapi dia tidak mempertimbangkan kelebihan hidup di San Fransisco. Dari akal sehat saja kita tahu bahwa tidak mungkin kota itu hanya mempunyai kejelekan melulu. Jadi, kita belum dapat menerima kesimpulannya; kita masih membutuhkan informasi lebih lanjut untuk sampai kepada suatu kesimpulan yang lebih tepat. Pada contoh (2), si pengacara menyatakan bahwa dia akan menahan suatu bukti. Orang mungkin berpikir bahwa argumen apa pun yang dihasilkan dalam kondisi seperti ini pasti mengandung kesalahan bukti yang ditahan. Tetapi dalam sistem peradilan kita, hal itu tidak salah. Jaksa penuntut harus membuktikan kesalahan terdakwa. Tugas mereka adalah mengumpulkan bukti-bukti. Jika si pengacara mengungkapkan bukti yang memberatkan kliennya, maka si pengacara justru telah melanggar kewajibannya terhadap kliennya. Maka, dalam keadaan ini, si pengacara tidak bersalah menahan bukti. Menanggapi Kesalahan Bukti yang Ditahan Dalam situasi yang kooperatif, lebih baik kita mengajukan semua bukti yang relevan sehingga suatu kesimpulan yang logis dapat ditarik. Untuk memperoleh kebenaran, memang diperlukan semua bukti yang relevan. Dalam situasi seperti ini, bukti yang tertahan lebih mungkin merupakan akibat kecerobohan dan sudut pandang yang terlalu sempit. Diskusi yang jujur, terbuka, dan terstruktur biasanya dapat menunjukkan hal apa yang masih terlewat. Memang sulit sekali untuk tetap rasional tanpa terpengaruh oleh emosi pada saat bertentangan pendapat dengan orang lain. Oleh karena itu, dalam situasi demikian, kita harus berusaha mempertanyakan pandangan kita sendiri. Kita harus berusaha keras menemukan bukti yang bertentangan yang mungkin dapat menggugurkan kesimpulan kita. Kita juga harus mencoba menemukan argumen yang paling kuat yang mendukung sudut pandang lawan kita. Usaha ini dapat membantu memastikan bahwa tidak ada bukti yang tertahan dan penalaran yang salah dapat diminimalkan. 95

9.4 Kesalahan Statistikal Metodologi statistik dikembangkan terutama untuk menghindari kesalahan-kesalahan yang dibahas di sini. Jadi, kemungkinannya kecil bahwa seorang ahli statistik yang kompeten dan profesional akan melakukan kesalahan ini. Namun, dunia adalah suatu tempat yang rumit. Dan bahkan seorang profesional yang sangat berhati-hati pun kadang-kadang tanpa sengaja mengabaikan kondisi yang sebenarnya membuat data mereka menjadi bias atau menarik kesimpulan yang melampaui data yang ada. Kesalahan ini lebih umum dibuat dalam penelitian yang dilakukan oleh para amatiran atau mereka yang kekurangan dana sehingga tidak dapat melakukan penelitian secara mendetil. Kesalahan ini pun sering muncul dalam argumen sehari-hari, yaitu yang mengambil kesimpulan secara terburu-buru dari pengalaman pribadi saja. Dalam usaha kita untuk memahami dunia, kita sering kali kurang teliti. Dua kesalahan pertama dari tiga yang akan kita bahas sering disebut kesalahan pemercontohan (sampling error). 9.4.1 Kesalahan Sampel yang Bias (Statistik yang Bias) Kesalahan ini dilakukan ketika data yang digunakan untuk menarik kesimpulan statistik diambil dari sampel yang tidak representatif terhadap populasi. Ahli statistik profesional mencoba menghilangkan bias ini melalui pemercontohan acak (random sampling) dan teknik pemercontohan lain. Percontoh yang tidak dipilih secara acak merupakan percontoh yang bias dan tidak dapat digunakan untuk menarik kesimpulan mengenai populasi. (1) Kami yakin bahwa kebanyakan akademisi akan lebih senang jika mereka mempunyai akses ke komputer pribadi mereka dari universitas. Kesimpulan ini kami dapatkan karena 90% dari responden kuesioner yang kami sebarkan melalui e-mail menjawab Ya atas pertanyaan, Apakah Anda akan lebih senang jika ada komputer pribadi di kantor Anda? (2) Waktu saya di Paris, saya hampir selalu diperlakukan dengan kasar oleh pelayan ketika makan di restoran. Ya, orang Perancis memang sangat kasar pada orang Amerika. Saya sangat tidak menyarankan kamu berlibur ke Perancis musim panas ini. Semua argumen pada contoh di atas kelihatannya didasarkan pada prosedur penelitian yang sangat amatir. Kesimpulannya ditarik berdasarkan percontoh yang sangat bias. Pada contoh (1), sampelnya bias karena tidak semua akademisi mempunyai e-mail. Jadi, tidak semua akademisi mendapat kesempatan yang sama untuk menjadi sampel. Selain itu, akademisi yang menggunakan e-mail kemungkinan besar akan bias ke arah menyukai akses 96

komputer yang lebih banyak. Jadi, sampel berupa pengguna e-mail tidak representatif untuk semua akademisi. Kesimpulan ini seharusnya diperlemah menjadi populasi akademisi pengguna e-mail saja. Pembicara pada contoh (2) melakukan kesalahan berupa perumusan argumen yang lebih didasarkan pada prejudis dan emosi pribadi daripada penalaran. Kesimpulannya tentang semua orang Perancis didasarkan pada percontoh sejumlah pelayan Paris yang melayaninya di restoran. Percontoh ini bias dalam beberapa aspek. Pertama, sebagian dari populasi orang Perancis, misalnya yang bukan penduduk Paris, tidak mempunyai kesempatan untuk menjadi sampel. Kedua, percontoh ini bias, bahkan untuk penduduk Paris sekalipun karena tidak semua penduduk Paris menjadi pelayan, dan otomatis tidak termasuk sampel. Karena kita tidak tahu batasan perilaku yang kasar menurut pembicara, dan kita juga tidak tahu di restoran seperti apa dan bagaimana perilaku si pembicara sendiri ketika dia memperoleh data itu, maka sampelnya sama sekali tidak berguna, bahkan untuk populasi pelayan Paris. Akhirnya, karena kita tidak tahu berapa banyak pelayan yang kasar kepadanya, sampelnya bisa saja terlalu kecil. Dan ini mengarahkan kita ke kemungkinan sumber kesalahan pemercontohan (sampling) berikutnya. 9.4.2 Kesalahan Percontoh yang Kecil (Statistik yang Tidak Cukup) Kesalahan ini terjadi ketika pembicara menggunakan sampel yang terlalu kecil sehingga kesimpulannya tidak dapat dipercaya. Kesalahan ini juga terjadi ketika kesimpulannya sangat dipercayai sementara ukuran sampelnya sedang-sedang saja. Dalam penelitian statistik yang profesional, ukuran sampel ditentukan sedemikian rupa untuk mengurangi batas kesalahan yang mungkin terjadi pada kesimpulan. Dalam situasi sehari-hari, sampel yang besar biasanya membantu mengurangi kemungkinan bias. Makin banyak observasi yang kita lakukan, makin kecil kemungkinan observasi yang kita lakukan menjadi bias. Tetapi kita sering kali terlalu tidak sabar dan ceroboh sehingga tidak menarik kesimpulan hanya dengan sampel yang tidak cukup besar dan bias, melainkan juga berdasarkan bukti yang terlalu sedikit. Di pihak lain, kita sering kali terpaksa membuat keputusan secara cepat sementara kita tidak mempunyai cukup waktu untuk melakukan penelitian yang mendalam. Kita harus bertindak berdasarkan informasi yang ada. Dalam situasi seperti itu, hal yang terbaik adalah bertindak berdasarkan informasi yang kita miliki walaupun tidak lengkap. Hanya saja harus disadari bahwa kesimpulan kita itu sangat mungkin lemah. Perhatikanlah contoh berikut.

97

(1) Saya bertemu Larry kemarin, dan dia sangat menyebalkan. Dua kali saya mencoba bercakap-cakap dengannya, dan dia selalu cemberut dan menggerutu. Kemudian ketika saya mengajukan satu pertanyaan kepadanya, dia mengabaikan saya dan pergi. Jelas bahwa kepribadiannya sangat tidak menyenangkan. Saya tidak mau berurusan apa pun dengannya lagi. (2) Saya bertemu Larry hari ini, dan dia menyebalkan. Dua kali dia bersikap kasar kepada saya, dan pada kesempatan ketiga dia mengabaikan saya ketika saya mengajukan satu pertanyaan kepadanya. Mungkin dia sedang tidak enak hati. Jadi, saya tidak akan mendekatinya lagi hari ini. Tetapi saya perlu bantuannya segera, jadi saya akan coba lagi besok, mungkin mood-nya sudah bagus. Saya akan mendekatinya dengan sangat hati-hati. Dia sedang punya masalah, ya? Atau dia memang selalu begitu? (3) Ya, penelitian ilmiah yang dilakukan para ahli dengan sampel anak-anak SD menunjukkan bahwa 95% dari kelompok uji kami ternyata lubang giginya lebih sedikit setelah menggosok gigi dengan Grit secara teratur. Jadi, pastikan bahwa anak-anak Anda menggunakan pasta gigi Grit. Pada contoh (1), pembicara melakukan kesalahan yaitu menarik kesimpulan yang terlalu kuat berdasarkan sampel yang terlalu kecil. Tiga kali observasi atas perilaku seseorang tidak cukup untuk menarik kesimpulan mengenai populasi yang mencakup seluruh perilakunya secara umum. Karena observasinya berlangsung pada waktu yang sangat berdekatan dan dua kejadian yang pertama mungkin mempengaruhi yang ketiga, maka si pembicara juga mungkin melakukan kesalahan percontoh yang bias. Kesalahan pada contoh (1) menjadi jelas ketika kita membahas contoh (2). Di sini pembicara tidak menarik kesimpulan umum mengenai semua perilaku Larry. Dia membatasi kesimpulannya hanya pada populasi perilaku Larry hari ini. Dengan sampel yang ada, kesimpulannya lebih dapat dipercaya. Dan dia memang masih berencana untuk membuat lebih banyak observasi pada hari berikutnya. Karena dia perlu berinteraksi dengan Larry, dia menggunakan data-data yang sudah dimilikinya untuk membuat keputusan mengenai bagaimana dia harus berperilaku terhadap Larry di kemudian hari. Dia juga mencari informasi mengenai Larry untuk membantunya menginterpretasi hasil observasinya dan menarik kesimpulan yang lebih dapat dipercaya. Jadi, dia menarik kesimpulan yang tentatif atau yang lebih lemah dulu untuk menentukan bagaimana dia harus bertindak dan mencoba mengumpulkan lebih banyak data. Ini merupakan cara yang baik jika kita hanya mempunyai data yang terbatas dengan sampel yang tidak cukup sementara kita harus bertindak sebelum ada lebih banyak data.

98

Pada contoh (3), kita melihat jenis iklan yang cukup umum. Masalah pertama, si pembicara tidak memberi tahu ukuran sampelnya. Dengan asumsi bahwa adanya undangundang periklanan telah memaksa perusahaan itu benar-benar melakukan penelitian dan bukannya mengada-ada tentang data itu, kita tetap harus meragukan laporan hasilnya karena sangat mungkin kesimpulan ini didasarkan pada sampel yang tidak cukup besar dan yang telah dipilih supaya hasilnya menguntungkan perusahaan. 9.4.3 Kesalahan Penjudi (Gamblers Fallacy) Peristiwa yang terjadinya hanya secara kebetulan, misalnya hasil lemparan koin atau dadu, merupakan hal yang berdiri sendiri. Artinya, hasil lemparan suatu koin tidak mempengaruhi hasil lemparan berikutnya. Kita sudah melempar koin lima ratusan sepuluh kali misalnya, dan keluarnya selalu gambar garuda, meskipun sebenarnya probabilitas lemparan koin itu (yang tidak berat sebelah) menghasilkan gambar garuda dan gambar melati, masing-masing 0,50. Kesalahan penjudi mengabaikan kaidah probabilitas. Nama kesalahan ini berasal dari kepercayaan para penjudi, yaitu bahwa keberuntungan akan berbalik kepadanya jika dia sudah mengalami kesialan berturut-turut. Kesalahan ini terjadi ketika seseorang menyimpulkan bahwa suatu kejadian yang sebenarnya berdiri sendiri dipengaruhi atau probabilitas kemunculannya diubah oleh sederatan kejadian yang mendahuluinya. Perhatikanlah contoh berikut. (1) Joe sudah menebak 20 kali dengan benar. Kali ini, dia akan salah menebak. Saya akan bertaruh melawannya. (2) Kita menghadapi perampok yang cukup cerdik. Dia beraksi lima atau enam kali di satu tempat, lalu pindah ke kota lain. Ini adalah perampokannya yang keenam di San Diego. Setelah ini dia pasti beraksi di tempat lain. Dalam contoh (1), si pembicara melakukan kesalahan penjudi. Dua puluh kali menebak dengan benar memang jarang terjadi. Suatu saat Joe akan salah menebak kecuali dia main curang. Tetapi kemungkinan dia menebak benar atau salah pada lemparan dadu berikutnya tetap sama. Si pembicara melakukan kesalahan jika dia menyimpulkan bahwa Joe pasti akan salah kali ini, kalau pun Joe ternyata benar-benar salah menebak. Contoh (2) kelihatannya merupakan argumen yang baik. Si pembicara mengandalkan suatu keteraturan yang dilihatnya dalam perilaku kriminal si perampok. Dia mempunyai alasan yang cukup baik untuk meyakini bahwa enam perampokan yang telah terjadi di San Diego akan mempengaruhi tempat kejadian perampokan yang ketujuh. Jadi, dia tidak

99

melakukan kesalahan penjudi karena kejadian yang diprediksinya bukan kejadian yang tergantung pada kebetulan. Menanggapi Kesalahan Penjudi Satu-satunya tanggapan yang dapat dikemukakan untuk menghadapi orang yang melakukan kesalahan penjudi adalah mencoba mengajarinya tentang teori probabilitas. Kita dapat menggunakan pengalamannya yang sudah-sudah yang menyangkut kesalahan ini, tetapi kemungkinan besar perilakunya tetap tidak akan berubah. Jadi, hal terbaik yang dapat kita lakukan adalah berhati-hati supaya jangan terpengaruh oleh argumen yang mengandung kesalahan penjudi.

Latihan 8.3 (Kesalahan Statistik dan Penggunaan Bukti secara Salah)


Pada masing-masing soal berikut, tentukan si pembicara sedang mencoba mempengaruhi kita untuk menerima apa. Jelaskan kesalahan dalam soal itu, jika ada, dan sebutkan namanya. 1. Saya pernah mencoba makan seekor kerang. Terus terang saja, kawan, tidak akan pernah lagi, tidak akan pernah lagi. 2. Harapan hidup perempuan Amerika adalah 76 tahun. Harapan hidup laki-laki Amerika 72 tahun. Jadi, harapan hidup orang Amerika secara umum adalah 74 tahun. 3. Sudah ada jutaan orang yang meninggal, dan belum ada satu pun yang kembali untuk memberi tahu kita tentang kehidupan setelah mati. Jadi, tunggu saja, cepat atau lambat seseorang pasti akan datang kembali untuk memberi tahu kita tentang hal itu. 9.5 Kesalahan Kausal Jika terdapat hubungan kausal di antara dua kejadian X dan Y, ada tiga kasus yang mungkin, yaitu (1) X menyebabkan Y; (2) Y menyebabkan X; dan (3) X dan Y sama-sama disebabkan oleh Z. Jika kita menyimpulkan bahwa X menyebabkan Y, sementara sebenarnya Y yang menyebabkan X, maka kita melakukan kesalahan mengacaukan sebab dan akibat. Jika kita menyimpulkan bahwa X menyebabkan Y atau Y menyebabkan X, sementara yang benar ialah bahwa keduanya sama-sama disebabkan oleh Z, maka kita mengabaikan penyebab bersama. Kedua kesalahan ini kadang-kadang disebut kesalahan penyebab-gejala. Jika kita menyimpulkan bahwa X menyebabkan Y semata-mata berdasarkan fakta bahwa X mendahului Y, maka kita melakukan kesalahan penyebab yang salah (post hoc). 100

Penyebab sering kali dibedakan menjadi necessary condition atau sufficient condition bagi akibatnya. Jika kita salah menganggap suatu penyebab yang berupa necesarry condition dengan penyebab yang berupa sufficient condition, atau sebaliknya, maka kita telah mengacaukan necessary condition dengan sufficient condition.

9.5.1 Mengacaukan Sebab dan Akibat Kesalahan ini terjadi ketika suatu hubungan kausal salah diinterpretasi. Si pembicara salah menginterpretasi bukti sehingga menyimpulkan bahwa Y disebabkan oleh X sementara sebenarnya Y-lah yang menyebabkan X, Kesalahan ini sering kali merupakan akibat dari interpretasi yang ceroboh atas bukti yang tersedia dan kemalasan untuk menyelidiki lebih lanjut sebelum menarik kesimpulan. Perhatikanlah contoh berikut. Jika Sam mulai minum, dia jadi tidak menyenangkan. Dia tidak gembira, ingin berhenti bekerja dan dia mengatakan dia tidak punya alasan untuk hidup. Sungguh, dia harus berhenti minum. Minum-minum membuatnya jadi orang yang depresi. Dalam contoh ini, korelasi antara minum-minum yang dilakukan Sam dengan ketidakgembiraannya belum menunjukkan bahwa minum-minumlah yang menyebabkan ketidakgembiraannya itu. Kemungkinannya sama besar bahwa karena tidak gembira dia minum-minum. Si pembicara perlu menyelidiki dan mencari bukti lebih lanjut untuk mencoret kesimpulan rival ini. Kesalahan ini lebih mudah dihindari jika akibatnya jelas terpisah dari sebab, dan timbulnya setelah sebab. Kita paling mungkin melakukan kesalahan ini ketika sebab dan akibatnya merupakan kondisi yang terjadi bersamaan atau ketika akibat timbul dalam jangka panjang. Situasi yang kompleks membutuhkan analisis yang hati-hati dan cermat sebelum kita dapat mengambil kesimpulan yang paling mungkin.

Menanggapi Kesalahan Mengacaukan Sebab dan Akibat Jika si pembicara hanya ceroboh dalam menilai bukti yang ada, kita cuma perlu menunjukkan kepadanya bahwa bukti yang ada juga dapat mendukung hubungan kausal yang sebaliknya. Lalu usulkan bahwa dia perlu melakukan penelitian lebih lanjut sebelum menarik kesimpulan. Jika dia menolak usulan itu dan mengajukan argumen kausal yang spekulatif untuk mendukung interpretasinya atas data yang ada, coba tunjukkan bahwa hubungan kausal yang diajukannya itu memang hanya spekulasi saja yang tidak didukung oleh data empiris.

101

Mintalah dia memberikan data empiris, lalu nilailah data yang diberikannya. Siapa tahu, mungkin kesimpulannya dapat diterima. 9.5.2 Mengabaikan Penyebab Bersama Kesalahan karena mengabaikan penyebab bersama terjadi ketika seorang pembicara menyimpulkan bahwa X adalah penyebab Y sementara sebenarnya keduanya merupakan akibat dari sebab lain. Kesalahan ini dan pengacauan sebab dan akibat juga disebut kesalahan penyebab-gejala. Contoh berikut akan menunjukkan mengapa disebut demikian. Jimmy demamnya sangat tinggi. Itu yang menyebabkan wajahnya berbintik-bintik merah. Dalam contoh itu, si pembicara menyimpulkan bahwa demam Jimmy menyebabkan bintikbintik merah di wajahnya. Walaupun mungkin saja hal itu benarkarena memang ada orang yang kulitnya jadi berbintik-bintik merah jika dia demamnamun kesimpulan ini tidak dapat dipercaya tanpa bukti lebih lanjut. Jika Jimmy menderita cacar air, maka baik demam maupun bintik-bintiknya merupakan akibat atau gejala dari penyakit Jimmy. Jadi, sama seperti pada kesalahan mengacaukan sebab dan akibat, tanggapan kita selalu adalah bahwa kita membutuhkan lebih banyak bukti dan analisis dalam suatu situasi yang kompleks sebelum kita dapat mempercayai kesimpulan apa pun. Menanggapi Kesalahan Mengabaikan Penyebab Bersama Sama seperti pada kesalahan mengacaukan sebab dan akibat, kesalahan ini sering kali merupakan akibat dari kurang sadarnya pembicara bahwa hubungan dan kondisi kausal boleh jadi merupakan masalah yang rumit, dan bahwa kita seharusnya menarik kesimpulan hanya setelah menilai data dengan sangat hati-hati. Namun, bahkan dengan berhati-hati pun, tetap ada kemungkinan terdapat kesalahan dalam situasi kausal yang kompleks sehingga kesimpulan kita harus tetap tentatif. Oleh sebab itu, tanggapan kita atas kesalahan ini seharusnya sama dengan tanggapan atas kesalahan mengacaukan sebab dan akibat. Kita mencoba untuk memaksa si pembicara menilai kembali buktinya atau memberi bukti empiris yang mendukung analisisnya. Kita menyediakan alternatif hubungan kausal untuk menjadi tandingan bagi kesimpulannya. Perbedaannya adalah, kita bukan memaksanya mengakui kemungkinan bahwa hubungan kausalnya terbalik, tapi bahwa ada faktor penyebab yang terabaikan.

9.5.3 Kesalahan Penyebab Yang Salah (Kesalahan Post Hoc) 102

Cukup sering kita jumpai satu contoh kejadian kausal saja sudah cukup bagi kita untuk menarik kesimpulan yang benar mengenai apa yang terjadi. Kita melihat sebuah bom jatuh dengan akibat ada ledakan. Kita menyentuh kompor yang menyala dan tangan kita terbakar. Dalam kasus-kasus seperti ini, kita bahkan tidak mempertanyakan hubungan kausal antara kejadian-kejadian itu. Pengetahuan umum kita tentang dunia dapat digunakan untuk menjelaskan hubungan kausal pada kejadian-kejadian itu. Kesalahan penyebab yang salah juga disebut kesalahan post hoc, ergo propter hoc. Ini merupakan kata-kata dalam bahasa Latin yang artinya sesudah ini, maka, karena ini. Orang yang melakukan kesalahan ini sering disebut melakukan penalaran post-hoc. Kita melakukan kesalahan penalaran post hoc ketika kita menyimpulkantanpa dasar yang cukup kuat semata-mata hanya karena Y mengikuti X, maka X pasti penyebab Y. Kesalahan dalam argumen seperti ini adalah bahwa kesimpulannya merupakan pernyataan kausal yang kurang didukung oleh bukti, dan tidak ada informasi tambahan maupun hipotesis pembantu yang membuat hubungan kausal itu masuk akal. Memang, kita sering kali menentang penalaran seorang pembicara dengan mengajukan alternatif analisis kausal dari situasi yang diperdebatkan. Perhatikanlah contoh berikut. (1) Ya, anak muda, begitu mereka mulai menambahkan fluor pada air minum di kota ini, teman-teman saya mulai meninggal kena serangan jantung. Tidak boleh itu. Memang, kita tidak boleh bermain-main dengan alam. Delapan puluh tahun makan asam garam dunia sudah menunjukkan itu padaku. (2) Setan kulit putih itu punya kekuatan untuk membunuh dengan suara. Kemarin, saya melihat salah satu dari mereka mengangkat sebuah tongkat. Setelah suara yang sangat keras, timbul lubang pada kijang itu yang mengeluarkan darah sehingga kijang itu mati. Seorang setan kulit putih lain mengangkat tongkat, mengeluarkan suara keras, dan seekor kijang lain jatuh mati. Ini terjadi berulangulang, selain pada kijang juga pada hewan ternak. Saya mencoba mengangkat tongkat dan berteriak Dor! sekeras-kerasnya. Sayangnya, suara saya tidak cukup keras untuk membunuh seekor laba-laba pun, apalagi salah satu dari setan kulit putih itu. Dalam masing-masing kasus, si pembicara menemukan korelasi yang positif antara dua kondisi atau kejadian. Apa yang terjadi sebelum akibat dianggap sebagai sebab, dan itu menjadi satu-satunya bukti yang diberikan untuk menarik kesimpulan. Pada contoh (1), si pembicara secara implisit menyimpulkan bahwa minum air yang mengandung fluor telah menyebabkan teman-temannya meninggal kena serangan jantung. Namun, tanpa bukti lebih lanjut, kesimpulannya belum dapat dipercaya. Dia melakukan kesalahan penalaran post hoc. Karena dia berusia 80 tahun, barangkali teman-temannya pun 103

sudah tua juga, dan mereka meninggal karena memang sudah lanjut usia. Tentu saja, mungkin ada hubungan kausal antara minum air yang menandung fluor dengan serangan jantung pada orang lanjut usia, tetapi tanpa penelitian dan bukti lebih lanjut, hipotesis ini tidak dapat diterima. Dalam contoh (2), si pembicara sudah benar menghubungkan suara senjata dengan kematian. Tetapi hubungan itu adalah korelasi, bukan kausal. Karena kita tahu bagaimana sebuah senjata dapat membunuh, dengan mudah kita dapat menerangkan kepadanya bahwa dia telah salah menginterpretasikan bukti yang dimilikinya.

Menanggapi Kesalahan Penyebab yang Salah Tanggapan atas kesalahan tentang penyebab sama dengan cara menghadapi kesalahankesalahan kausal sebelumnya. Kita meminta si pembicara menilai kembali data yang ada untuk membuatnya menyadari bahwa dia mungkin telah salah menginterpretasikannya. Jika dia cuma ceroboh dan jika kita tahu penyebab yang sebenarnya, kita cukup menjelaskan kepadanya letak kesalahannya. Ini yang terjadi pada contoh (2). Cara lain adalah kita dapat menjelaskan padanya mengapa korelasi tidak sama dengan hubungan kausal. Lalu, mintalah kepadanya untuk memberikan lebih banyak bukti yang menunjukkan hubungan kausal antara kejadian-kejadian itu.

9.5.4.

Mengacaukan Penyebab Yang Berupa Necessary Condition dengan Sufficient Condition

Kesalahan ini terjadi ketika seseorang salah menganggap atau mengacaukan suatu penyebab yang merupakan necessary condition dengan penyebab yang merupakan sufficient condition bagi akibatnya. Ini paling mungkin terjadi jika pembicara tidak memahami term-term kondisional seperti yang telah dijelaskan di pasal 1. Perhatikanlah contoh berikut. (1) Donna, kamu bilang jika saya ingin membuat kue yang bagus, saya harus menggunakan telur segar. Saya sudah mencobanya. Tapi kue yang saya buat jadi bantat dan tidak enak. Pesta saya jadi berantakan. Saya tidak akan pernah mengikuti nasehatmu lagi. (2) Profesor, Bapak mengatakan bahwa saya tidak akan dapat A untuk mata kuliah ini kecuali saya mendapat nilai 80 pada ujian akhir. Dan saya memang dapat 80. Tetapi Bapak berbohong. Bapak hanya memberi saya nilai B. Saya ingin protes.

104

Pada contoh (1), maksud pernyataan Donna adalah bahwa telur segar merupakan bahan yang diperlukan (necessary) untuk membuat kue yang baik. Kita tidak tahu apakah si pembicara melaksanakan juga necessary condition lainnya seperti oven yang panas. Dalam kasus ini, ia menyimpulkan bahwa telur yang segar sudah memadai (sufficient) untuk menghasilkan kue yang baik. Ini jelas salah. Orang sering salah paham mengenai term kondisional. Kata-kata seperti hanya dan kecuali sering kali digunakan untuk mewakili kondisi yang perlu (necessary) sekaligus memadai (sufficient). Penggunaan kata-kata secara kacau seperti ini menunjukkan bahwa mereka tidak memahami secara jelas struktur bahasa. Pada contoh (2), si pembicara juga melanggar hal ini. Dia beranggapan bahwa sang profesor berkata bahwa mendapat nilai 80 pada ujian akhir merupakan syarat yang memadai untuk memperoleh nilai A untuk mata kuliah itu. Pernyataan sang profesor memaksudkan nilai 80 sebagai syarat yang perlu (necessary condition). Mungkin sang profesor harus mengungkapkan maksudnya dengan lebih jelas jika dia tahu bahwa orang sering menyalahartikan term kondisional. Karena kita tidak tahu apa lagi yang sebenarnya dikatakan oleh sang profesor, kita tidak dapat menyalahkan salah satu pihak. Namun berdasarkan buktibukti yang ada, protes si pembicara tidak dapat diterima.

Menanggapi Kesalahan Mengacaukan Syarat yang Perlu dengan Syarat yang Memadai Cara terbaik untuk menghadapi kesalahan ini adalah mencoba mencegahnya. Harus dipastikan bahwa kita menggunakan term-term secara benar dan bahwa orang lain memahami apa yang kita katakan. Karena orang sering kali tidak memahami term kondisional, harus digunakan cara lain untuk membuat maksud kita jelas. Jika kesalahan ini terjadi, kita perlu menerangkan arti term kondisional. Salah satu cara yang dapat digunakan adalah menunjukkan contoh yang jelas di mana kesalahan seperti ini terjadi. Contoh (1) merupakan contoh yang cukup jelas. Coba pikirkan contoh lain juga. (Lihat kembali pasal 1 yang membahas term kondisional. )

Latihan 9.4 (Kesalahan Kausal)


Untuk masing-masing soal berikut, identifikasilah si pembicara sedang ingin mempengaruhi kita untuk meyakini apa. Jelaskan kesalahannya, jika ada, dan sebutkan namanya. 1. Tentu saja Tanya mendapat nilai bagus. Dia, kan, anak emas guru.

105

2. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa 90% dari mereka yang merokok berat juga minum paling sedikit 5 gelas kopi setiap hari. Menurut saya cukup jelas bahwa banyak merokok menyebabkan orang banyak minum kopi. 3. Mati aku. Aku tadi melakukan apa, ya? Begitu aku masuk ke restoran itu, Jill berdiri dan pergi dengan terburu-buru lewat pintu belakang. Aku pasti melakukan suatu kesalahan sehingga dia pergi seperti itu. 9.7 Kesalahan Analogi Kesalahan analogi terjadi ketika orang menggunakan analogi yang tidak tepat atau yang menyesatkan dalam argumennya. Dari sudut pandang logika, argumen analogi bukanlah argumen yang paling baik. Analogi dapat merupakan cara pandang yang original, kreatif, dan menohok pikiran. Namun analogi tidak dapat menggantikan argumentasi langsung mengenai suatu sudut pandang. Ketika pembicara menggunakan analogi yang buruk atau tidak cocok, argumennya seharusnya ditolak. Sayangnya, orang-orang tetap saja mungkin terpengaruh. Perhatikanlah contoh berikut. Negara itu seperti sebuah kapal, dengan presiden sebagai kapten kapalnya. Seperti juga seorang kapten harus dipatuhi tanpa dipertanyakan, demikian pula seorang presiden harus mendapat kesetiaan dan kepatuhan dari kabinetnya. Analogi dalam contoh ini merupakan analogi yang buruk. Pertama, ada banyak aspek yang membuat sebuah negara sangat berbeda dengan sebuah kapal. Salah satu aspek yang paling penting adalah: kapal selalu berada dalam situasi yang berubah dengan cepat, penuh stres dan bahaya. Ini menuntut tindakan yang terpadu dan segera. Negara tidak demikian, kecuali dalam keadaan perang atau ketika menghadapi masalah seperti bencana alam atau masalah-masalah mendesak lainnya. Biasanya, kita mempunyai waktu untuk mendiskusikan dan merefleksikan situasi yang ada sehingga keputusan yang diambil pun lebih bijaksana. Karena itulah kapten diberi kekuasaan yang mirip diktator sementara presiden lebih baik tidak. Jadi, kesimpulan yang diperoleh dari argumen di atas lemah. Kedua, dasar analogi itu lemah. Bahkan dalam situasi yang sangat berbahaya pun, tidak benar bahwa kapten harus dipatuhi tanpa dipertanyakan; misalnya, apakah si pembicara akan tetap meyakini pendapatnya jika kaptennya mabuk atau gila. Lalu, apakah presiden harus dipatuhi jika dia gila, atau jika dia memerintahkan bawahannya untuk melakukan tindakan kriminal atau tindakan yang melawan undang-undang dasar? Seperti juga seorang anak buah kapal wajib melawan perintah kapten, begitu juga kabinet wajib melawan presiden dalam kasus seperti itu. Jadi, kesimpulan di atas tidak dapat diterima. 106

Menanggapi Analogi yang Salah Secara umum, ada dua cara menanggapi analogi yang salah. Pertama, dengan menunjukkan bahwa hal-hal yang dianalogikan mempunyai terlalu banyak perbedaan yang relevan sehingga kesimpulannya tidak meyakinkan. Ini seperti respon pertama kita pada contoh di atas. Kedua, dengan menunjukkan kelemahan analogi itu, dengan cara melanjutkan analogi itu hingga mencapai kesimpulan yang tidak dapat diterima si pembicara. Ini seperti kritik kedua kita pada contoh di atas. Si pembicara mungkin menjawab bahwa kita tidak boleh terlalu serius menanggapi analogi ini. Ini, kan, hanya analogi. Kita dapat menyetujui bahwa ini memang hanyalah analogi. Lalu, mintalah alasan lain yang lebih langsung untuk meyakinkan kita akan kebenaran kesimpulannya.

Latihan 9.5 (Analogi yang Salah)


Untuk masing-masing soal berikut, identifikasilah: si pembicara sedang ingin mempengaruhi kita untuk meyakini apa. Jelaskan kesalahannya, jika ada, dan jelaskan juga bagaimana Anda akan menyerang analogi ini. 1. Kalau kamu memancung kepala seseorang, maka organnya yang lain tidak akan dapat lagi berfungsi, dan orang itu akan mati. Begitu pula kalau kamu memenggal kepala suatu negara, maka negara itu akan mengalami kekacauan untuk beberapa waktu, dan sudah pasti negara itu akan hancur dengan berjalannya waktu atau menjadi sasaran empuk bagi negara-negara tetangganya. Jadi, mengkudeta pemerintah yang sudah mapan tidak akan pernah menguntungkan negara mana pun. 2. Menghisap rokok sama saja dengan menelan arsenik. Keduanya sudah terbukti menyebabkan kematian. Jadi, jika kamu tidak ingin menelan sesendok arsenik, maka kamu pun seharusnya tidak ingin terus merokok. 3. Dunia ini seperti sebuah jam. Keduanya merupakan sistem yang terdiri dari bagian-bagian yang bergerak, yang diatur secara sangat tepat, mempunyai keseimbangan dan gerakan yang seragam dan berulang-ulang. Karena jam diciptakan oleh seseorang, maka dunia juga pasti mempunyai pencipta. Pencipta itu kita sebut Tuhan.

Latihan 9.6 (Kesalahan Induksi)


Untuk masing-masing soal berikut, identifikasilah: si pembicara sedang ingin mempengaruhi kita untuk meyakini apa. Jelaskan kesalahannya, jika ada, dan sebutkan nama kesalahan itu. 107

1. Saya minum vodka dicampur air pada hari Senin, dan saya mabuk. Saya minum scotch dicampur air pada hari Selasa, dan saya mabuk. Saya minum wiski dicampur air pada hari Rabu, dan saya mabuk. Nah, jelas, bukan? Minum air membuat kita mabuk. 2. Jenny merokok berat, dan ketika dia tidak merokok, dia mengunyah tembakau. Kemungkinan dia akan menderita kanker paru-paru atau kanker mulut. 3. Penelitian menunjukkan bahwa siswa yang mendapat nilai baik belajar sekitar tiga jam setiap hari. Kamu ingin mendapat nilai baik, kan? Yang perlu kamu lakukan cuma belajar sekitar tiga jam setiap hari.

108

DAFTAR PUSTAKA
Ackrill, J. L. 1961. Aristotles Categories and De Interpretatione. Clarendon Aristotle Series. Oxford: Clarendon Press. Bertens, K. 1999. Sejarah Filsafat Yunani. Yogyakarta: Penerbit Kanisius. Bierman, A. K. dan Assali, R. N. 1994. The Critical Thinking Handbook. New Jersey: Prenctice Hall. Bittle, C. N. 1950. The Science of Correct Thinking: Logic. Milwaukee: The Bruce Publishing Company. Copi, I. M. dan Cohen, C. 1990 (ed. ke-8). Introduction to Logic. Ohio: Macmillan. Dolhenty, J. 2001 (ed. ke-9). The Problem of Knowledge: A Brief Introduction to Epistemology. Oregon: The Radical Academy. Owen, G. E. L., ed. 1968. Aristotle on Dialectic: The Topics. Proceedings of the Third Symposium Aristotelicum. Cambridge: Cambridge University Press. Ryle, G. 1949. The Concept of Mind, London: Hutchinson. Smith, Robin. 2000. Aristotles Logic rasmith@aristotle.tamu.edu dalam situs web Stanford Encyclopedia of Philosophy. Takwin, B. 2005. Kesadaran Plural: Sebuah Sintesis Rasionalitas Dan Kehendak Bebas. Yogyakarta: Jalasutra.

109