Anda di halaman 1dari 5

Peningkatan kadar kortisol di saliva pada pagi hari di remaja yang terdapat factor risiko depresi pada keluarga

Objective : Hipersekresi cortisol adalah salah satu pertanda abnormal biologi pada depresi tetapi ini tidak dapat diandalkan jika terjadi pada penyakit lain atau kerentanan terhadap sifat gangguan mood. Penelitian ini berusaha untuk menjawab pertanyaan dengan mengukur kadar kortisol saliva pada remaja yang terdapat factor risiko depresi pada keluarga dengan tidak ada riwayat gangguan mood. Method : Pada penelitian ini 49 remaja yang tidak depresi tetapi yang mempunyai orangtua dengan riwayat deperesi berat dan sebagai pembanding 55 partisipan yang tidak mempunyai riwayat depresi dan tidak dilaporkan riwayat depresi pada orangtua. Peneliti mengukur jumlah sekresi kortisol pada saliva selama 30 menit setelah bangun dipagi hari pada hari kerja dan pada hari libur. Hasil : Jumlah sekresi kortisol pada grup pertama lebih banyak dibandingkan dengan grup kedua baik pada hari kerja maupun pada hari libur. Kesimpulan : Hipersekresi kortisol dapat dideteksi pada risiko genetic depresi dan dapat menggambarkan penyakit endofenotip. Penelitian lebih jauh dibutuhkan untuk menemukan apakah peningkatan jumlah kortisol saliva pada pagi hari dapat mempridiksi risiko individu terhadap penyakit dan apakah peningkatan sekresi kortisol mempunyai dampak terhadap kesehatan secara umum dan fungsi kognitif. Isi : Salah satu kelainan fisiologis dilaporkan dalam depresi klinis adalah hipersekresi kortisol, umumnya hipersekresi kortisol dianggap sebagai penanda keadaan depresi yang remits dengan perbaikan klinis. Namun, beberapa penelitian menunjukkan kelainan yang sulit untuk dideteksi pada HPA axis yang berlangsung lama pada pasien dengan risiko tinggi kambuh, salah satu ukuran non-invasif yang sesuai dari HPA aksis adalah peningkatan kortisol saliva saat bangun pagi hari. Dengan pendekatan ini kami menemukan bahwa peningkatan krtisol disaliva

pada pagi hari tidak hanya meningkat pada pasien akut depresi tetapi juga pada pasien yang telah berhenti dari pengobatan. Penemuan akhir akhir ini menyatakan bahwa hipersekresi kortisol tetap ada saat masa remisi dan merupakan factor risiko untuk episode depresi selanjutnya. Bagaimanapun ini masih belum jelas apakah peningkatan cortisol pagi hari pada pasien depresi yang sudah recovery dapat menunjukkan gejala awal dari kondisi depresi atau menunjukkan suatu tanda penyakit. Untuk memecahkan maslah ini penting untuk mempelajari orang dengan risiko deprasi tetapi yang belum menderita depresi (tetapi tanda depresi sudah ada). Bebrapa factor risiko depresi telah dijelaskan tetapi yang paling utama adalah adanya riwayat keluarga yang depresi diperkirakan 40% anak dari orangtua yang memiliki gangguan mood akan menderita atau terkena episode depresi. Objek penelitian ini adalah remaja tersebut belum terkena depresi kami memprediksikan bahwa kadar cortisol saliva pada objek ini akan lebih banyak dibandingkan dengan orang yang tidak memiliki keuarga yang tidak memiliki riwayat depresi. Metode : Subjek

58 remaja (41 wanita 17 laki laki) yang tidak pernah terkena depresi, tetapi orangtuanya pernah deprsei berat. Subjek diambil melalui pengukuran di universitas oxford inggris, universitas brookes UK, dan universitas local lainnya. Peserta diambil sesuai kriteria dari DSMIV axis I Disorder schedule clinical version (SCID-I) (II) untuk menyingkirkan orang yang pernah depresi berat. Untuk mengetahui riwayat orangtua dengan depresi dengan menanyakan kepada subjek penelitian mengenai riwayat orangtuanya. Kriteria termasuk orangtua dengan gejala atau tanda tanda depresi berat yang dengan pengobatan antidepresan baik psikoterapi atau obat-obatan jika riwayat tidak jelas peneliti akan mencari tau ke orangtua subjek penelitian. Riwayat gangguan bipolar pada orangtua tidak termasuk kriteria ini kami juga merekrut 62 orang untuk perbandingan yang tidak memiliki riwayat depresi dan tidak ada riwayat keluarga depresi. Subjek penelitian sudah diberi inform consent dan telah disetujui comite etnik tiap subjek dibayar. Pengukuran psikososial

Kedua grup subjek penelitian dinilai apakah terdapat factor risiko untuk depresi berat. Riwayat pengasuhan orangtua dinilai dengan parental bonding instrument, yang menilai pola asuh orangtua dan over proteksi baik kurangnya pengasuhan dan over proteksi telah diasosiasikan dengan peningkatan risiko depresi. Kejadian masa lampau dan saat ini juga dihubungkan dengan depresi. Pengukuran kejadian kehidupan dengan live event rating scale yang berupa kejadian kehilangan pada masa lampau aspek tempramen dan kognitif seperti contohnya pemikiran neurotisme dan pemikiran ruminative juga dipercaya meningkat factor depresi. Untuk pemikiran
2

neurotisme diukur menggunakan eysenck Personality inventory dan untuk pemikiran ruminative menggunakan ruminative respon scale. Kami juga mengukur beberapa item mengenai keadaan emosional saat ini karena gejala subklinik dari anxietas dan depresi. Dapat menjadi factor risiko untuk depresi dan peningkatan kadar cortisol di saliva pengukuran menggunakan mood & feeling quessionare dan hospital anxiety and depression scale untuk setres lebih dari 1 bulan lalu diukur menggunakan perceived setres scale. Sampling cortisol pada saliva

Kami mengukur kadar cortisol pada pagi hari, pada 2 hari sampling 1 diambil pada hari dimana partisipan mempunyai jadwal aktivitas seperti kerja ataupun belajar. Sampling lainnya diambil pada hari libur. Partisipan diinstruksikan untuk mengambila saliva saat mereka baru bangun dan 15 menit kemudian saat pengambilan sampling subjek tetap beristirahat dikasur dan tidak makan atau minum, sample saliva dikumpulkan menggunakan alat pengumpul saliva yaitu berupa gulungan kapas yang menyerap air liur lalu dimasukkan ke tempat steril, pengukuran cortisol saliva menggunakan inhouse double-antibody immunoassay dengan intra and interassay coeffisien dengan variasi 3 10%. Analisis statistic

Distribusi kortisol tidak berbeda jauh jika dianalisa menggunakan ANOVA pada hari kerja ataupun hari libur dan waktu pengambilan. Hasil ini dibandingkan kedua grup umur dan jenis kelamin tidak dilihat pada perbandingan ini variable lainnya dianalisa menggunakan student test atau chi-square test. Hasil : Kadar kortisol saliva pagi hari

Data pengukuran test ANOVA menunjukkan terdapat interaksi yang signifikan antara hari dan waktu. Pengambilan sample tapi tidak ada interaksi signifikan linnya. Kadar cortisol saliva lebih tinggi dari pada dihari kerja dibandingkan hari libur dan pada grup dengan factor risiko lebih tinggi disbanding grup pembanding. Peningkatan significant pada sekresi cortisol melebihi 25% juga terlihat pada kelompok 1. Ketika kami mempertimbangkan kedua grup secara bersamaan area dibawah sekresi kortisol pada hari kerja sekitar 10% lebih besar pada hari kerja. Kami memeriksa apakah kadar kortisol pada kelompok 1 dipengaruhi oleh jenis kelamin orangtua yang depresi dari kelompok ini 33 depresi terjadi pada ibu, 13 pada ayah, dan 3 lagi pada keduanya. Hasilnya kadar cortisol tidak berbeda jauh.

Data psikososial

Skor untuk gejala depresi neurotisme dan setres sama pada kedua kelompok tersebut, kejadian pada masa lalu tidak mempengaruhi pada kedua kelompok tetapi pada kelompok 1 terdapa pengaruh kecil atas kejadian masa lampau. Walaupun pada kedua kelompok hubungan ayah anak tidak terlalu berbeda jauh melalui parenteral bonding instrument. Sedangkan pada kelompok dua ibu lebih over-protektif. Korelasi

Untuk korelasi data cortisol untuk setiap subjek diukur sebagai area rerata dibawah kurva dari dua uji yang dilakukan, dengan pengukuran ini tidak terdapat hubungan yang signifikan area rerata cortisol dibawah curva dan variable psikososial apapun dari table 1, baik pada subjek FH= sendiri atau kedua subjek kelompok secara bersamaan. Selain itu, tidak ada korelasi sekresi kortisol pada area dibawah kurva dengan usia atau waktu pada pagi hari. Bebrapa korelasi yang diharapkan dilihat di psikososial data. Diskusi : Temuan kami menganjurkan bahwa remaja dengan risiko depresi dengan riwayat keluarga positif memiliki peningkatan cortisol saliva. Peningkatan sekresi cortisol ini tidak dapat dijelaskan dengan kondisi mental terkini. Karena baik subjek kelompok 1 dan subjek pembanding memiliki nilai yang hamper kurang lebih serupa pada rating gejala mood dan stress yang diterima. Peningkatan jumlah cortisol saliva yang pada pagi hari dipercaya mewakili aktivasi HPA axis. Respons kortisol saat bangun tidur memiliki reliabilitas intrasubjek yang baik, meski dipengaruhi oleh beberapa factor setres yang saat ini dirasakan. Neurotisme dihubungkan dengan peningkatan kortisol pagi hari tetapi sulit dibuktikan apakah efek dari neurotisme pada sekresi kortisol ini disebabkan karena anxietas atau depresi. Sebelumnya pernah dilaporkan bahwa kadar kortisol lebih meningkat pada hari kerja dibandingkan hari libur. Data ini terkonfirmasi pada penelitian ini. Bagaimanapun efek dari riwayat keluarga terhadap peningkatan kadar cortisol saliva pagi hari tampak meningkat pada keduanya baik hari kerja atau hari libur. Kami tidak melihat siklus mens pada partisipan karena pada penelitian sebelumnya tidak tampak perbedaan kadar kortisol saliva pagi hari baik pada fase folikular atau gluteal. Sebagai tambahan tidak tampak efek atau interaksi masalah gender terhadap sekresi kortisol pagi hari. Apa mekanisme yang belum diketahui yang sekiranya dapat meningkatkan kadar kortisol saliva pada pagi hari pada partisipan? Sebagai diketahui diatas status mental saat ini, setresor dan neurotisme tidak terlalu mempengaruhi kelompok penelitian ini baik eksperimen hewan dan manusia menunjukkan kesulitan dimasa kecil dapat memodivikasi regulasi dari HPA axis jangka panjang. Contohnya anak dari ibu yang memiliki riwayat depresi post natal mempunyai kadar cortisol saliva pagi hari yang lebih tinggi pada remaja hal ini disebabkan oleh kesulitan di masa
4

kecil. Namun, penilaian menggunakan parenteral bonding instrument pada kelompok 1 dan 2 tidak berbeda jauh mengenai masa kecilnya bahkan pada kelompok 2 dilaporkan adanya overprotektif dari ibu. Tetapi hal ini tidak berkorelasi dengan peingkatan kortisol. Walaupun pada kelompok 1 dilaporkan adanya masalah yang lebih pada masa lalu tetapi hal ini tampaknya tidak berpengaruh pada sekresi kortisol pada partisipan tidak ada riwayat kekrasan seksual pada masa kecil dimana hal ini dapat dihubungkan dengan perkembangan abnormal HPA axis pada masa remaja. Tampaknya peningkatan pada kelompok 1 diturunkan oleh factor genetic dan terdapat bukti bahwa genetic mempengaruhi regulasi HPA axis termasuk saliva pagi hari, tampaknya factor genetic berperan dalam peningkatan sekresi kortisol saliva kel 1 peningkatan kadar kortisol pada pagi hari dipercaya pelepasan ACTH dari pituitary gland da nada beberapa point pada HPA axis yang dapat dipengaruhi factor genetic lainnya, seperti contoh hipersekresi kortisol pada pasien depresi disebabkan karena defisiensi umpan balik dari reseptor glukokortikoid yang menyebabkan distribusi HPA axis, glukokortikoid reseptor mempunyai beberapa variasi yang salah satunya dapat mempengaruhi sekresi kortisol dan berdampak peningkatan kortisol pagi hari pada kelompok satu. Pada kelompok satu peningkatan sekresi kortisol dihubungkan dengan gejalaa khas, bagaimanapun peningkatan kortisol pada pagi hari merupakan bagian dari predisposisi endofenotip subjek terhadap depresi dikejadian hidupnya saat ini. Penelitian lebih lanjut untuk membuktikan ini. Pada kasus ini peningkatan kortisol pagi hari berguna sebagai penanda untuk menekan kemungkinan insiden dimasa yang akan dating, terdapat juga kemungkinan pada kelompok 1 terdapat konsekuensi medis akibat hipersekresi kortisol yang terus menerus contohnya peningkatan risiko obesitas dan penyakit kardiovaskular, penyakit penyakit yang diketahui karena depresi. Terdapat bukti penelitian pada pasien depresi terdapat hendaya kognitif karena hipersekresi kortisol kronik mempengaruhi sel sel di hipokampus. Pada penelitian ini kami tidak secara sistematis semua keluarga pada kelompok satu ataupun kelompok dua. Bagaimanapun terdapat kemungkinan beberapa orangtua kelomok satu tidak pernah menderita depresi ataupun pada kelompok dua pernah memiliki riwayat depresi. Misklasifikasi pada hal tersebut pada hal tersebut cenderung menemukan sekresi cortisol pada kedua kelompok dibandingkan menaiknya. Walaupun peningkatan kadar kortisol pagi hari dapat berguna sebagai marker pada pasien depresi hal ini belum jelas sejauh mana peningkatan kadar kortisol pada poin ini dapat menjadi tanda klinik yang signifikan pada masa yang akan dating. Hal ini dikarenakan sekresi adrenal DHEA juga merupakan factor risiko pada dewasa muda dan pengukuran rasio antara cortisol, saliva, DHEA lebih sensitive untuk hpercortisolemia dibandingkan pengukuran cortisol itu sendiri. Penelitian lebih lanjut dibutuhkan untuk membuktikan seberapa jauh factor risiko orang menjadi depresi peningkatan sekresi pagi hari pada kelompok yang mengalami.