Anda di halaman 1dari 21

PROPOSAL

PROYEK INOVASI SELF CARE PRAKTEK KEPERAWATAN KOMPREHENSIF DI RUANG MELATI RUMAH SAKIT KUSTA SUMBERGLAGAH PACET MOJOKERTO

Disusun Oleh : Lilik Setyaningsih, S.Kep Teguh Heri K,S.Kep Mursidi,S.Kep Suwanto,S.Kep Bambang Yuliadi,S.Kep M.Junaid,S.Kep Pria Santoso,S.Kep Wujang Bayu P,S.Kep Octo Zulkarnain,S.Kep Akbar Mutholib,S.Kep Lallu Welly V.H,S.Kep Satria Yudha Kusuma,S.Kep M.Hartono,S.Kep

Nim 131131130 Nim 131131172 Nim 131131157 Nim 131131116 Nim 131131127 Nim 131131154 Nim 131131153 Nim 131131111 Nim 131131173 Nim 131131121 Nim 131131162 Nim 131131161 Nim 131131152

PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI NERS (P3N) FAKULTAS KEPERAWATAN UNIVERSITAS AIRLANGGA SURABAYA 2013

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Penyakit kusta adalah penyakit menular menahun disebabkan oleh kuman kusta (Mycobacterium Leprae) yang menyerang saraf tepi, kulit dan jaringan tubuh lainnya kecuali susunan saraf pusat. lnfeksi Mycobacterium Leprae pada kebanyakan orang bersifat asimtomatik dan sebagian kecil memperlihatkan gejala yang mempunyai kecenderungan untuk menjadi cacat khususnya pada mata, tangan dan kaki (Dali, 2003). Kusta dianggap sebagai penyakit yang menakutkan oleh sebagian besar masyarakat karena adanya ulcerasi, mutilasi dan deformitas. Kecacatan yang terjadi pada pasien kusta akan tetap ada sepanjang hidupnya, sehingga akan menjadi beban psikologis dan sosial yang akibatnya tidak mendapatkan tempat di masyarakat. Perawatan diri merupakan salah satu faktor penyebab terjadinya kecacatan, upaya pencegahanya dengan memberikan penyuluhan, peragaan dan buku pedoman tindakan perawatan diri pada setiap pasien kusta agar dapat melakukanya sendiri di rumah (Depkes RI,2006). Data dari Ruamg Melati menunjukkan bhwa belum ada sistim monitoring kepatuhan pelaksannan self care. Data dari pasien rawat inap didapatkan 30 orang pasien mengalami cacat tingkat 2 dari 30 pasien yang menjalani rawata inap (100%). Data kuesioner sebagian besar pasien membutuhkan sistim self care secara komprehensif yaitu adanya buku petunjuk, penjelasan, demonstrasi dan monitoring pelaksanaan self care

Perawatan diri penderita kusta pada prinsipnya mencegah agar tidak terjadi cacat dengan 3 M (memeriksa, melindungi dan merawat). Upaya perawatan diri dapat dilakukan pasien sendiri sehingga lebih efektif karena penderita sendiri bertanggungjawab atas kondisinya. Menurut teori Self Care dari Orem memandang bahwa seorang individu akan selalu menginginkan adanya keterlibatan dirinya terhadap perawatan diri, dan bahwa individu tersebut mempunyai keinginan untuk dapat merawat dirinya dengan mandiri. Untuk melakukan perawatan diri harus dilakukan secara rajin dan berkesinambungan sehingga diperlukan kepatuhan sesuai dengan apa yang telah disepakati. Kepatuhan pasien adalah perilaku pasien sesuai dengan ketentuan yang diberikan oleh professional kesehatan (Niven,2002). Gangguan saraf yang terjadi pada pasien kusta memerlukan perawatan diri sesuai dengan ketentuan agar tidak terjadi kecacatan. Permasalahan diatas memerlukan dilakukan inovasi tentang kepatuhan perawatan diri dengan memberikan kartu monitoring pelaksaanaan perawatan diri yang dilakukan oleh pasien kusta di Rumah Sakit Kusta Sumberglagah Pacet Mojokerto. 1.2 Tujuan 1.2.1 Tujuan umum: Setelah dilakukan komprehensif. 1.2.2 Tujuan khusus: Setelah dilakukan self care secara komprehensive diharapkan seluruh tim keperawatan mampu : 1) Memberikan penjelasan self care inovasi self care dapat dilakukan secara

2) Mendemonstrasikan self care 3) Monitoring pelaksanaan self care. 1.3 Manfaat 1. Bagi Perawat 1) Menumbuhkan cara berfikir yang inovatif. 2) Menumbuhkan pemikiran tentang tindakan keperawatan yang berorientasi pada masalah klien. 3) Meningkatkan kemampuan menilai hasil kerja. 4) Terciptanya komunitas keperawatan yang profesional.. 2. Bagi Klien 1) Klien mendapatkan pelayanan kesehatan yang optimal 2) Masalah klien dapat teratasi. 3. Bagi Rumah Sakit Meningkatnya pelayanan keperawatan kepada klien secara komprehensif.

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Kepatuhan 2.1.1. Pengertian Kepatuhan adalah tingkat kesesuaian perilaku seseorang terhadap norma atau kesepakatan dengan pihak lain (Kamisa, 2000). Kepatuhan pasien berkenaan dengan kemauan dan kemampuan dari individu untuk mengikuti cara sehat yang berkaitan dengan nasehat, aturan pengobatan yang ditetapkan, mengikuti jadwal pemeriksaan dan rekomendasi hasil penyelidikan. 2.1.2. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kepatuhan 1. Faktor Internal a. b. Tingkat kebutuhan pasien Pasien yang merasa terapi yang dilakukan merupakan

kebutuhannya untuk sembuh akan lebih patuh daripada pasien yang tidak memiliki harapan untuk sembuh. c. d. Derajat penyakit Semakin tinggi derajat kesehatan seseorang semakin tinggi pula tingkat kepatuhan pada terapi yang dilakukan. e. f. Efek samping terapi Jika terapi yang diberikan menimbulkan efek samping yang tidak sesuai dengan kepentingan atau kebutuhan pasien maka pasien cenderung tidak patuh.

2. Faktor Eksternal a. Tenaga Medis b. Pemberian motivasi oleh tenaga medis yang baik akan memberikan motivasi pada pasien untuk melaksanakan terapi secara patuh. c. Keluarga d. Keluarga akan memberikan motivasi terbesar bagi pasien untuk melaksanakan terapi dengan patuh. e. Masyarakat f. Pengkondisian di masyarakat kadang menghalangi pasien untuk melaksanakan terapi secara patuh misalnya saat seseorang dilarang merokok akan tetapi dorongan dari pergaulan di masyarakat menyebabkan pasien tidak patuh. 2.2 Perawatan Diri Menurut Orem asuhan keperawatan dilakukan dengan keyakinan bahwa setiap orang mempelajari kemampuan untuk merawat diri sendiri sehingga membantu individu memenuhi kebutuhan hidup, memelihara kesehatan dan kesejahteraan. Teori ini dikenal dengan teori self care (perawatan diri). Orang dewasa dapat merawat diri mereka sendiri, sedangkan bayi, lansia dan orang sakit membutuhkan bantuan untuk memenuhi aktivitas self care mereka. Orem mengklasifikasikan dalam 3 kebutuhan, yaitu: 1. Universal self care requisites (kebutuhan perawatan diri universal): Kebutuhan yang umumnya dibutuhkan oleh manusia selama siklus kehidupannya seperti kebutuhan fisiologis dan psikososial termasuk kebutuhan udara, air, makanan, eliminasi, aktivitas, istirahat, sosial, dan

pencegahan

bahaya.

Hal

tersebut

dibutuhkan

manusia

untuk

perkembangan dan pertumbuhan, penyesuaian terhadap lingkungan, dan lainnya yang berguna bagi kelangsungan hidupnya. 2. Development self care requisites (kebutuhan perawatan diri

pengembangan): Kebutuhan yang berhubungan dengan pertumbuhan manusia dan proses perkembangannya, kondisi, peristiwa yang terjadi selama variasi tahap dalam siklus kehidupan (misal, bayi prematur dan kehamilan) dan kejadian yang dapat berpengaruh buruk terhadap perkembangan. Hal ini berguna untuk meningkatkan proses perkembangan sepanjang siklus hidup. 3. Health deviation self care requisites (kebutuhan perawatan diri penyimpangan kesehatan): Kebutuhan yang berhubungan dengan genetik atau

keturunan,kerusakan struktur manusia, kerusakan atau penyimpanngan cara, struktur norma, penyimpangan fungsi atau peran dengan pengaruhnya, diagnosa medis dan penatalaksanaan terukur beserta pengaruhnya, dan integritas yang dapat mengganggu kemampuan seseorang untuk melakukan self care. Asuhan keperawatan mandiri dilakukan dengan memperhatikan tingkat ketergantuangan atau kebutuhan klien dan kemampuan klien. Oleh karena itu ada 3 tingkatan dalam asuhan keperawatan mandiri, yaitu:

1. Perawat memberi keperawatan total ketika pertama kali asuhan keperawatan dilakukan karena tingkat ketergantungan klien yang tinggi (sistem pengganti keseluruhan). 2. Perawat dan pasien saling berkolaborasi dalam tindakan keperawatan (sistem pengganti sebagian). 3. Pasien merawat diri sendiri dengan bimbingan perawat (sistem

dukungan/pendidikan).

2.3 Konsep Perawatan Diri Pada Kusta 2.3.1 Mata 1 Memeriksa mata dengan sering bercermin, apakah ada kemerahan atau benda masuk kemata. 2 Melindungi mata dari debu dan angin yang dapat mengeringkan mata dengan memakai kacamata 3 Sering mencuci mata dengan air bersih 4 Waktu istirahat tutup mata dengan sepotong kain basah.

2.3.2

Tangan 1 Periksa tangan dengan teliti apakah ada luka atau lecet sekecil apapun 2 Lindungi tangan dari benda yang panas, kasar ataupun tajam dengan memakai kaos tangan tebal atau alas kain. 3 Jika ada luka, memar atau lecet rawat dan istirahatkan bagian tangan sampai sembuh. 4 Untuk kulit yang kering rendam dengan air dingin selama 20 menit 5 Olesi dengan minyak kelapa untuk menjaga kelembaban kulit. 6 Tangan yang bengkok gunakan tangan yang lain untuk meluruskan sendi sendinya dan mencegah jangan sampai terjadi kekakuan. 7 Bila ada kelemahan jari kuatkan dengan cara taruh tangan diatas meja atau paha, pisahkan dan rapatkan jari berulang - ulang, ikat jari dengan 2 3 gelang karet lalu pisahkan dan rapatkan berulang ulang.

2.3.3

Kaki 1 Periksa apakah ada luka 2 Kaki yang semper dengan memakai sepatu supaya jari jari tidak terseret dan angkat lutut tinggi waktu berjalan. 3 Kaki yang semper rawat dengan duduk kaki diluruskan, pakai kain oanjang atau sarung yang disangkutkan pada bagian depan kaki dan tarik ke arah tubuh. 4 Kulit kaki yang tebal dan kering rendam dengan dengan air dingin selama 20 menit, gosok bagian yang menebal dengan batu gosok kemudian olesi dengan minyak kelapa untuk menjaga kelembaban kulit. 5 Lindungi kaki dengan selalu memakai alas kaki yang empuk, keras dan dibagian bawah agar benda tajam tidak tembus. 6 Jika ada luka rawat dan istirahatkan sampai sembuh.

BAB 3 RENCANA KEGIATAN SELF CARE

3.1 Pelaksanaan Kegiataan Topik Sasaran Tanggal Tempat Materi : Self Care : Pasien Ruang Melati A : 28 Januari 2013 16 Pebruari 2013 : Ruang Melati A RSK Sumberglagah : 1. 2. 3. 4. 3.2 Pengorganisasian Pembimbing Akademik 1. IkaYuni W., S.Kep.,Ns.,M.Kep.,Sp.KMB Pembimbing Ruangan 1. Hari Purnomo S.Kep.Ns M.Kes 2. Roni Susanto S.Kep.,Ns 3.3 Metode Metode yang digunakan dalam self care adalah pemberian leaflet, penjelasan materi self care, demonstrasi self care, pemberian kartu monitoring 3.4 Media 1. Leaflet 2. Alat self care (tempat rendam, minyak kelapa/vaselin) 3. Kartu monitoring Pemberian Leaflet Penjelasan materi self care Demonstrasi self care Pemberian kartu monitoring

3.5 Mekanisme Kegiatan KEGIATAN 1. Memberikan leaflet pada setiap pasien 2. Menjelaskan materi self care 3. Mendemonstrasikan langkah langkah self care 4. Memberikan kartu monitoring pelaksannaan self care 5. Melakukan evaluasi pelaksanaan self care 1-16 Pebruari 2013 TEMPAT Melati A PELAKSANA Perawat PJ pasien 28-30 Januari 2013 28-30 Januari 2013 31 Januari 2013 WAKTU 28 Januari 2013

3.6 Kriteria Evaluasi 1. Struktur 1) Penyusunan proposal 2. Proses 1) Kelancaran kegiatan 2) Peran serta perawat penanggungjawab 3. Hasil 1) Sel care dapat diterima dan dipahami oleh klien / keluarga 2) Pasien melakukan self care dengan benar dan teratur.

REKAPITULASI HASIL KEGIATAN SELF CARE No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 Nama Pasien Tn Tohir Tn. Suryadi Tn. Suryani Tn. Kasimin Tn Didik Tn. Abdul Korik Tn. Setiono Tn. Rasmidi Tn. Slamet Ny. Warningsih Ny. Sriyatin Tn. Misuyanto Tn. Susanto Diagnosa Nama Perawat PJ Evaluasi Pelaksanaan Self care Mata Tangan Kaki Kesimpulan Pelaksaan Self care

DAFTAR PUSTAKA

Depkes. 2006. Buku Pedoman Nasional Pemberarrtasan Penyakit Kusta.. Jakarta. Depkes Rl Djuanda, Adhi. 2007. llmu Penyakit Kulit dan Kelamin. Jakarta : FKUI. Effendi, Nasrul. 2001. Dasar - Dasar Keperawatan Kesehatan Masyarakat. Jakafta: ECG. permata.or.id/id/tentang-kusta.html diaksese tangal 26 Januari 2013 jam 12.00 www.sith.itb.ac.id/profile1/pdf/bisel/Kusta diakses tanggal 26 Januari 2013 jam 13.00