Anda di halaman 1dari 5

REFERAT

BUPIVACAINE

DISUSUN OLEH : ALIN PRIASTIKA 110.2005.012 PEMBIMBING : dr.H.A.B.Lubis,SpAn

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS YARSI JAKARTA KEPANITERAAN BAGIAN ANESTESI RUMAH SAKIT TK.II MOH.RIDWAN MEURAKSA

PERIODE 12 NOVEMBER - 15 DESEMBER 2012 DEFINISI Bupivacain (marcain) merupakan obat anestesi lokal kelompok amida, dengan rumus bangun sebagai berikut : 1-butyl-N-(2,6-dimethylphenyl)-piperidecarboxamide hydrochloride. Bupivakain adalah derivat butil dari mepivakain yang kurang lebih tiga kali lebih kuat daripada asalnya. Obat ini termasuk golongan obat anestesi long acting. Secara kimia dan farmakologis mirip lidokain. Toksisitas setaraf dengan tetrakain. Secara komersial bupivakain tersedia dalam 5 mg/ml solutions. Dengan kecenderungan yang lebih menghambat sensoris daripada motoris, menyebabkan obat ini sering digunakan untuk analgesia selama persalinan dan pasca bedah.4 FARMAKOLOGI Bupivacain adalah obat anestetik lokal yang memiliki masa kerja panjang dan mula kerja yang pendek. Seperti halnya anestesi lokal lainnya, bupivacain menghasilkan blokade konduksi atau blokade lorong natrium pada dinding saraf yang bersifat reversibel, jika digunakan pada saraf sentral atau perifer. Anestetik lokal setelah keluar dari saraf diikuti oleh pulihnya konduksi saraf secara spontan dan lengkap tanpa diikuti oleh kerusakan struktur saraf. 1 FARMAKODINAMIK Obat bekerja pada reseptor spesifik pada saluran natrium, mencegah peningkatan permeabilitas sel saraf terhadap ion natrium dan kalium, sehingga terjadi depolarisasi pada selaput saraf dan hasilnya tak terjadi konduksi saraf. Potensi dipengaruhi oleh kelarutan dalam lemak, makin larut makin poten. Ikatan dengan protein mempengaruhi lama kerja dan konstanta dissosiasi (pKa) menentukan awal kerja. Konsentrasi minimal anestetika local dipengaruhi oleh: ukuran, jenis dan mielinisasi saraf; pH (asidosis menghambat blockade saraf), frekuensi stimulasi saraf.4 Mula kerja bergantung beberapa factor, yaitu: pKa mendekati pH fisiologis sehingga konsentrasi bagian tak terionisasi meningkat dan dapat menembus membrane sel saraf sehingga menghasilkan mula kerja cepat, alkalinisasi anestetika local membuat mula kerja cepat, konsentrasi obat anestetika local.4 Lama kerja dipengaruhi oleh: ikatan dengan protein plasma, karena reseptor anestetika local adalah protein; dipengaruhi oleh kecepatan absorpsi; dipengaruhi oleh ramainya pembuluh darah perifer di daerah pemberian.4

INDIKASI 1. Anestesi Intrathekal (sub-arachnoid, spinal) untuk pembedahan 2. Pembedahan di daerah abdomen selama 45 - 60 menit (termasuk operasi Caesar) 3. Pembedahan dibidang urologi dan anggota gerak bawah selama 2- 3 jam

KONTRAINDIKASI 1. Hipersensitif terhadap anestesi lokal jenis amida 2. Penyakit akut dan aktif pada sistem saraf, seperti meningitis, poliomyelitis, perdarahan intrakranial, dan demyelinisasi, peningkatan tekanan intrakranial, adanya tumor otak atau di daerah spinal 3. Stenosis spinal dan penyakit aktif (spondilitis) atau trauma (fraktur) baru pada tulang belakang. 4. TBC tulang belakang 5. Infeksi pada daerah penyuntikan 6. Septikemia 7. Anemia pernisiosa dengan degenerasi kombinasi sub-akut pada medula spinalis 8. Gangguan pembekuan darah atau sedang mendapat terapi antikoagulan secara berkesinambungan 9. Hipertensi tidak terkontrol 10. Syok kardiogenik atau hipovolemi 11. Obstetric paracervical block 12. Anestesi Intravena (Bier's Block) dan semua pemberian secara intravena DOSIS Anestesi spinal pada orang dewasa 7,5 - 20 mg. Penyebaran anestesi tergantung pada beberapa faktor, termasuk di dalamnya volume larutan dan posisi pasien selama dan setelah penyuntikan ke rongga sub-arachnoid. Harus dipahami bahwa tingkat anestesi spinal yang dicapai oleh anestesi lokal tidak dapat diperkirakan pada pasien.
3

Bupivacaine dapat diberikan pada penderita anak-anak. Hanya perlu dipahami bahwa volume cairan serebrospinal pada bayi dan neonatus relatif lebih tinggi dibanding orang dewasa, sehingga membutuhkan dosis/kg yang relatif lebih besar untuk menghasilkan block pada level yang sama. Dosis yang direkomendasikan untuk anak-anak adalah sebagai berikut: 0,4 - 0,5 mg/kgBB, untuk bayi dengan BB > 5 kg 0,3 - 0,4 mg/kgBB, untuk anak-anak dengan BB 5 - 15 kg 0,25 - 0,3 mg/kgBB, untuk anak-anak > 15 kg.

Injeksi spinal hanya boleh diberikan jika ruang subarachnoid sudah teridentifikasi secara jelas dengan ditandai keluar dan menetesnya cairan serebrospinal yang jernih, atau terdeteksi oleh aspirasi cairan serebrospinal. Larutan harus segera digunakan setelah ampul terbuka dan sisanya harus dibuang. EFEK SAMPING 1. Sistem saraf pusat (SSP) SSP rentan terhadap toksisitas anestetik lokal, dengan tanda-tanda awal parestesi lidah gelisah, nyeri kepala, pusing, penglihatan kabur, tinitus, mual, muntah, tremor, gerakan koreatosis, rasa logam di mulut, inkoherensia, kejang koma. 2. Sistem Pernafasan Relaksasi otot polos bronkus. Henti nafas akibat paralise saraf frenikus, paralise interkostal atau depresi langsung, pernafasan dalam dan kemudian tak teratur, sesak nafas hingga apneu, hipersekresi dan bronkospasme. 3. Sistem kardiovaskuler : vasodilatasi, hipotensi, bradikardi, nadi kecil dan syok. 4. Reaksi hipersensitivitas berupa urtikaria, dermatitis, edema angioneurotik, `bronkospasme, status asmatikus,sinkop dan apneu. 2 INTERAKSI OBAT Bupivacaine harus digunakan secara hati-hati bila diberikan pada penderita yang menerima obat-obat aritmia dengan aktivitas anestesi lokal, karena efek toksiknya dapat bersifat aditif. Toksisitasnya meningkat bila diberikan bersama propanolol.

REFERENSI
4

1.

Dardjat, M T. 1986. Obat Anestetik Lokal. Dalam: Kumpulan Kuliah Anestesiologi. Jakarta: Aksara Medisina.

2. 3. 4.

Karakata S, Bob Bachsinar. 1996. Bedah Minor Edisi 2. Jakarta: Hipokrates. Katzung, Bertram G. 1997. Farmakologi dasar dan klinik. Jakarta: EGC. Latief Said, Surjadi Kartini, Dachlan Ruswan. 2002. Anestetik Lokal. Dalam: Petunjuk Praktis Anestesiologi. Ed 2. Jakarta: Bagian Anestesiologi dan Terapi Intensif Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.