Anda di halaman 1dari 11

BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG Flu burung (Avian Influenza)mulai muncul di indonesia sekitar 5 tahun yang lalu.

Penyakit ini disebabkan oleh Virus Influenza tipe A danditularkan oleh unggas. Penyakit flu burung dikonfirmasikan telah terjadi di Indonesia republik dan

Korea,Vietnam,Jepang,Thailand,Kamboja,Taiwan,Laos,China

Pakistan.Sumber virus diduga berasal dari migrasi burung dan transportasi unggas yang terinfeksi. Penyakit ini sangat mudah tertular baik kepada sesama unggas maupun dari unggas ke manusia. Dan dibandingkan dengan penyakit AIDS, waktu hidup manusia yang terjangkit virus ini relatif lebih cepat. Jika pengidap penyakit AIDS dapat bertahan hidup selama 5 tahun setelah timbulnya gejala pertama,

flu burung dapat membunuh manusia dalam waktu 1 bulan tergantung dengan daya tahan tubuh orang tersebut. Virus ini barbahaya bagi unggas

dan manusia.Berbahaya bagi unggas karena penularannya cepat dan menular ke seluruh unggas yang ada di lingkungan itu. Bagi manusia virus ini juga berbahaya karena timbulnya gejala flu burung baru tampak tergantung dengan daya tahan tubuh orang itu, sementara obat yang ada di Indonesia saat ini hanyaefektif untuk digunakan 48 jam setelah virus itu masuk kedalam tubuh manusia. Jika penggunaan obat lebih dari 48 jam setelah virus tersebut masuk maka obat tidak akan berguna lagi. Oleh karena itu, di dalam karya tulis ini akan dibahas tentang pengerti 1 penularan,gejala

an dan penyebab penyakit itu, sejarah penyebarannya, cara

penyakit,pencegahan dan pengobatan,dampaknya terhadap kehidupan manusia,dan kebijakan-kebijakan pemerintah mengenai flu burung. 1.2 TUJUAN 1. Mahasiswa dapat mengetahui penyebab maupun penularan flu burung 2. Mahasiswa dapat menganalisa secara teori berbagai hal yang berkaitan dengan flu burung. 3. Membantu mahasiswa untuk menambah wawasan baik secara umum maupun spesifik mengenai artikel penelitian flu burung. 4. Mahasiswa dapat menerapkan teori sebagai landasan untuk terjun ke masyarakat.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

1. definisi Flu Burung merupakan penyakit yang berbahaya karena dapat membunuh seluruh ternak unggas di areal usaha peternakan. Flu Burung merupakan penyakit yang berbahaya karena dapat menyebar dengan cepat ke areal peternakan lain dan di seluruh tanah air. Flu Burung berbahaya karena banyak jenis Flu Burung dapat menyebabkan manusia sakit dan meninggal. Flu burung atau flu unggas (Avian Influenza) adalah suatu penyakit menular yang disebabkan oleh virus influenza yang ditularkan oleh unggas. Virus influenza terdiri dari beberapa tipe antara lain tipe A, B dan C. Influenza tipe A terdiri dari beberapa strain antara lain H1N1, H3N2, H5N1 dan lain-lain. Flu burung adalah penyakit pada hewan (zoonosis) dan tidak menular ke manusia. Dalam perkembangannya virus penyebabnya mengalami mutasi genetik sehingga juga dapat menginfeksi manusia. Mutasi ini dalam perkembangannya dapat menyebabkan pandemik 2. penjelasan virus Virus flu burung termasuk ke dalam genus influenza dan famili Orthomyxoviridae. Virus influenza terdiri dari beberapa tipe antara lain tipe A, B dan C. Virus flu burung/avian influenza merupakan virus influenza tipe A sedangkan virus influenza B dan C hanya menginfeksi manusia. Virus influenza tipe A memiliki dua jenis glikoprotein permukaan yaitu

Hemaglutinin (H) dan Neuraminidase (N), kedua protein permukaan ini akan menentukan subtipe virus flu burung yang banyak jenisnya. Virus influenza tipe A memiliki 16 subtipe H dan 9 subtipe N. Virus penyebab Flu Burung di Indonesia adalah Virus Influenza A subtipe H5N1. Virus Influenza A subtipe H5N1 adalah salah satu virus tipe A yang dikenal sebagai virus influenza unggas yang sangat patogen (Highly Pathogenic Avian Influenza - HPAI). Dari semua tipe tersebut, hanya virus influenza A subtipe H5 dan H7 yang telah diketahui dapat menyebabkan penyakit yang sangat ganas. Meski demikian, tidak semua virus influenza subtipe H5 dan H7 bersifat ganas, dan juga tidak semuanya menyebabkan penyakit pada unggas, tergantung kombinasi dengan glikoprotein N1-9. Di dalam virus influenza tipe A dapat

terjadi perubahan besar pada komposisi antigeniknya yang disebut antigenic shift atau terjadi perubahan kecil komposisi antigenik yang disebut antigenic drift. Perubahan perubahan inilah yang bisa menyebabkan epidemi atau bahkan pandemi. Sifat Virus Influenza A : a. Dapat bertahan hidup di air sampai 4 hari pada suhu 22 C dan lebih dari 30 hari pada 0 C. b. Virus akan mati pada pemanasan 80 C selama 1 menit, 60 C selama 30 menit atau 56 C selama 3 jam. c. Di dalam kotoran dan tubuh unggas yang sakit, virus dapat bertahan lebih lama. d. Mati dengan sinar UV, detergen, desinfektan (seperti formalin), cairan yang mengandung iodin serta natrium kalium hipoklorit (contohnya pemutih baju). Untuk seasonal influenza komplikasi banyak terjadi pada anak-anak dan orang tua, namun pada flu burung komplikasi justru banyak terjadi pada manusia dengan status imunitas tinggi karena virus flu burung menyebabkan respon bunuh diri dari imunitas sehingga menimbulkan cytokine storm pada paru-paru 3. proses dan penyebaran flu burung A. Penularan Antar Unggas Flu burung dapat menular melalui udara yang tercemar virus H5N1 yang berasal dari kotoran unggas yang sakit. Penularan juga bisa terjadi melalui air minum dan pasokan makanan yang telah terkontaminasi oleh kotoran yang terinfeksi flu burung. Di peternakan unggas, penularan dapat terjadi secara mekanis melalui peralatan, kandang, pakaian ataupun sepatu yang telah terpapar pada virus flu burung (H5N1) juga pekerja peternakan itu sendiri. Jalur penularan antar unggas di peternakan, secara berurutan dari yang kurang berisiko sampai yang paling berisiko adalah melalui : a. Pergerakan unggas yang terinfeksi b. Kontak langsung selama perjalanan unggas ke tempat pemotongan c. Lingkungan sekitar (tetangga) dalam radius 1 km d. Kereta/lori yang digunakan untuk mengangkut makanan, minuman unggas dan lain-lain e. Kontak tidak langsung saat pertukaran pekerja dan alat-alat B. Penularan dari Unggas Ke Manusia

Penularan virus flu burung dari unggas ke manusia dapat terjadi ketika manusia kontak dengan kotoran unggas yang terinfeksi flu burung, atau dengan permukaan atau benda-benda yang terkontaminasi oleh kotoran unggas sakit yang mengandung virus H5N1. Orang yang berisiko tinggi tertular flu burung adalah : Pekerja di peternakan ayam Pemotong ayam Orang yang kontak dengan unggas hidup yang sakit atau terinfeksi flu burung Orang yang menyentuh produk unggas yang terinfeksi flu burung Populasi dalam radius 1 km dari lokasi terjadinya kematian unggas akibat flu burung B. Penularan Antar Manusia Pada dasarnya sampai saat ini, H5N1 tidak mudah untuk menginfeksi manusia dan apabila seseorang terinfeksi, akan sulit virus itu menulari orang lain. Pada kenyataannya, penularan manusia ke manusia, terbatas, tidak efisien dan tidak berkelanjutan. Menurut WHO, pada 2004 di Thailand dan 2006 di Indonesia, diduga terjadi adanya penularan dari manusia ke manusia tetapi belum jelas. Model penularan ini perlu

diantisipasi secara serius karena memiliki dampak yang sangat merugikan dan mengancam kesehatan, kehidupan sosial, ekonomi dan keamanan manusia. Hal ini sangat mungkin terjadi karena virus flu burung memiliki kemampuan untuk menyusun ulang materi genetik virus flu burung dengan virus influenza manusia sehingga timbul virus Influenza subtipe baru yang sangat mudah menular (reassortment). C. Penularan dari Lingkungan ke Manusia Secara teoritis, model penularan ini dapat terjadi oleh karena ketahanan virus H5N1 di alam atau lingkungan. Sampai saat ini belum diketahui secara pasti mekanisme penularan flu burung pada manusia namun diperkirakan melalui saluran pernapasan karena dari hasil penelitian didapatkan reseptor H5N1 pada saluran napas manusia terutama saluran napas bagian bawah dan setiap orang memiliki jumlah reseptor yang berbeda-beda, sedangkan pada saluran percernaan ditemukan reseptor dalam jumlah yang sangat sedikit namun belum bisa dibuktikan penularan flu burung melalui saluran pencernaan dan ada referensi yang mengatakan

bahwa reseptor H5N1 pada manusia hanya terdapat pada saluran pernapasan jadi hal ini masih diperdebatkan. Kotoran unggas, biasanya kotoran ayam yang digunakan sebagai pupuk, menjadi salah satu faktor risiko penyebaran flu burung. Penyakit ini dapat menular melalui udara yang tercemar virus H5N1 yang berasal dari kotoran atau sekret burung/unggas yang menderita flu burung. Penularan unggas ke manusia juga dapat terjadi jika manusia telah menghirup udara yang mengandung virus flu burung (H5N1) atau kontak langsung dengan unggas yang terinfeksi flu burung. D. Penularan ke Mamalia Lain Virus flu burung (H5N1) dapat menyebar secara langsung pada beberapa mamalia yang berbeda yaitu babi, kuda, mamalia yang hidup di laut, familia Felidae (singa, harimau, kucing) serta musang (stone marten) 4. masa inkubasi a. Masa Inkubasi Pada Unggas : 1 minggu Pada Manusia : 1 7 hari (rata-rata 3 hari.)

Masa infeksi 1 hari sebelum, sampai 3 - 5 hari sesudah timbul gejala, pada anak sampai 21 hari. b. Gejala flu burung pada unggas dan manusia : i . Gejala pada unggas Jengger berwarna biru Pendarahan merata pada kaki yang berupa bintik-bintik merah atau sering terdapat borok di kaki yang disebut dengan kaki kerokan. Adanya cairan pada mata dan hidung sehingga terjadi gangguan pernapasan Keluar cairan jernih sampai kental dari rongga mulut Diare Haus berlebihan dan cangkang telur lembek Kematian mendadak dan sangat tinggi jumlahnya mendekati 100% dalam waktu 2 hari, maksimal 1 minggu ii. Gejala pada manusia Gambaran klinis pada manusia yang terinfeksi flu burung menunjukkan

gejala seperti terkena flu biasa. Diawali dengan demam, nyeri otot, sakit

tenggorokan, batuk, sakit kepala dan pilek. Dalam perkembangannya kondisi tubuh sangat cepat menurun drastis. Bila tidak segera ditolong, korban bisa meninggal karena berbagai komplikasi misalnya terjadinya gagal napas karena pneumonia dan gangguan fungsi tubuh lainnya karena sepsis. 5. Diagnosis Diagnosis ditegakkan dengan : 1. Anamnesis tentang gejala yang diderita oleh penderita dan adanya riwayat kontak atau adanya faktor risiko, seperti kematian unggas secara mendadak, atau unggas sakit di peternakan/dipelihara di rumah, atau kontak dengan pasien yang didiagnosis avian influenza (H5N1), atau melakukan perjalanan ke daerah endemis avian influenza 7 hari sebelum timbulnya gejala . 2. Pemeriksaan fisik: suhu tubuh > 38 C, napas cepat dan hiperemi farings (farings kemerahan). 3. Pada pemeriksaan laboratorium (darah) diperoleh leukopenia, limfopenia, trombositopenia ringan sampai sedang dan kadar aminotransferase yang meningkat sedikit atau sedang, kadar kreatinin juga meningkat. 4. Pemeriksaan analisis gas darah dan elektrolit diperlukan untuk mengetahui status oksigenasi pasien, keseimbangan asam-basa dan kadar elektrolit pasien. 5. Pemeriksaan laboratorium untuk mendeteksi adanya avian influenza H5N1 a.l. dengan Immunofluorescence assay, Enzyme Immunoassay, Polymerase Chain Reaction (PCR) dan Real-time PCR assay, Biakan Virus. Dari hasil pemeriksaan ini dapat ditentukan status pasien apakah termasuk curiga (suspect), mungkin (probable) atau pasti (confirmed). 6. Pada pemeriksaan radiologi dengan melakukan X-foto toraks didapatkan gambaran infiltrat yang tersebar atau terlokalisasi pada paru. Hal ini menunjukkan adanya proses infeksi oleh karena virus atau bakteri di paruparu atau yang dikenal dengan pneumonia. Gambaran hasil radiologi tersebut dapat menjadi indikator memburuknya penyakit avian influenza.

6. Penanggulangan a. Pada Unggas: 1.Pemusnahan unggas/burung yang terinfeksi flu burung 2.Vaksinasi pada unggas yang sehat

b. Pada Manusia : 1. Kelompok berisiko tinggi ( pekerja peternakan dan pedagang) a. Mencuci tangan dengan desinfektan dan mandi sehabis bekerja. b. Hindari kontak langsung dengan ayam atau unggas yang terinsfeksi flu burung. c. Menggunakan alat pelindung diri. (contoh : masker dan pakaian kerja). d. Meninggalkan pakaian kerja ditempat kerja. e. Membersihkan kotoran unggas setiap hari. f. Imunisasi. 2. Masyarakat umum a. Menjaga daya tahan tubuh dengan memakan makanan bergizi & istirahat cukup. b. Mengolah unggas dengan cara yang benar, yaitu : - Pilih unggas yang sehat (tidak terdapat gejala-gejala penyakit pada tubuhnya) - Memasak daging ayam sampai dengan suhu 800C selama 1 menit dan pada telur sampai dengan suhu 640C selama 4,5 menit.

ARTIKEL Judul Kajian Peranan Lingkungan Sebagai Faktor Risiko Kejadian Luar Biasa (KLB) Penyakit Flu Burung pada Manusia (Studi Kasus Kontrol di Wilayah Propinsi Jawa Barat) -- A Study of Environmental Risk Factors in Outbreak of Avian Influenza in Human (Case Control Study in West-Java Province) Pengarang Budiman Subjek IPB (Bogor Agricultural University) -Ellvirollmelltal Compollellt -- Avian Illfluellza -- Case COlltrol Study Abstrak Avian Influenza has become a global issue and reqUires proper management to prevent the outbreak of Avian Influenza. Numbers of occurence in Indonesia until Febnwry 2008 reached 126 cases, with death rate 103 cases (81,7%). The highest incidence happened in West-Java Province in which the number of positive Avian Influenza cases reached 31 people. The objectives of this research is to study environmental riskfactors related to Avian Influenza outbreak in human. The method used in this study include a case control study which is based on statistical models as well as system dynamics to develop intervention model usefol for policy decision in reducing the insidence of avian influenza. The result showed that the highest for Al disease is contact activities (OR=86,02). It was also shown that contact activities, contact frequency and livestock hygiene signifantly affect the insidence of AI diesease. This study also recommended the importance of poliCies to improve the hygiene of livestock and to reduce contact activities of the people from injected livestocks -- Flu burung pertama kali menyerang manusia dilaporkan di Hongkong pada tahun 1997. Selama Kejadian Luar Biasa (KLB) dilaporkan 18 orang dirawat di rumah sakit dan enam orang meninggal dunia (Yuen, Chan, Peiris, et. ai, 1998). Pada tahun 2008 total kasus flu burung terbanyak di dunia adalah Indonesia bukan lagi Vietnam dengan jumlah kasus 126 orang dan meninggal 103 orang (81,7%). Propinsi Jawa Barat merupakan kasus tertinggi denganjumlah 31 orang dan meninggal26 orang (83,8%). Penyakit flu burung pada manusia mempunyai tingkat keganasan (virulensi) yang paling membahayakan di antara penyakit infeksi menular lainnya (HIV/AIDS, Malaria, dan lain-lain). Tingkat kematian akibat penyakit flu burung angka kejadiarmya sangat tinggi dibandingkan dengan penyakit menular lainnya mencapai 81,7% di Indonesia. Masa inkubasi penyakit flu burung pada manusia sangat cepat yaitu 1-10 hari. Identifikasi tanda dan gejala klinik penyakit flu burung di awali dengan ISP A

disertai keluhan demarn (temperatur 2: 38 C), batuk, sakit tenggorokan, atau beringus (Depkes, 2004). Kadang kala sebagian besar kelompok masyarakat menganggap gejala flu biasa-biasa saja. hnpJikasinya dengan waktu yang sangat cepat penyakit flu burung menyebar ke berbagai wilayah melintasi negara. Penyakit flu burung saat ini telah menjadi isu global sehingga penanganan yang serius perIu segera diarnbil agar KLB flu burung tidak bermutasi menjadi flu yang menular dari manusia ke manusia dan menjadi wabah pandellli influenza. Menurut WHO, terdapat enam fase global pandellli influenza berdasarkan faktor epidemiologi pada manusia sebelum suatu pandemi ditetapkan. Flu burung berdasarkan data yang diperoleh dari WHO masuk pada fase ke-3 yaitu peri ode kewaspadaan terhadap pandemi (Bapenas, 2005). Perubalmn pada lingkungan itu pada gilirannya akan mempengaruhi kehidupan lllanusia termasuk masalah kesehatan manusia. Teori Gordon, dalam Anies (2006) menyatakan ketidakseimbangan terjadi akibat pergeseran faktor lingkungan akan lllempengaruhi bibit penyakit (agent) menjadikannya lebih ganas atau lebih llludah masuk ke dalam tubuh manusia. Peningkatan insidensi penyakit flu burung setiap waktu pada manusia terus bertambah yang disertai dengan tingginya angka kematian. Fenomena ini menunjukan ballwa flu burung menjadi perhatian yang menakutkan bagi manusia Perumusan masalah dalam penelitian ini adalah peranan faktor lingkungan baik lingkugan fisik, biologi-kimia, dan sosialekonomi yang berpotensi menjadi media dominan penyebaran penyakit flu burung yang semakin luas. Lingkungan fisik menjadi pemicu dalam mentransmisikan virus H5N1 melalui udara akibat konsentrasi virus yang tinggi dalarn saluran pemafasan (Capua & Mutinelli, 2001). Di lingkungan air virus H5Nl dapat hidup dengan kondisi tertentu (Siegel, 2006). Bahkan penyebaran virus diduga berasal dari migrasi bunmg dan transportasi unggas yang terinfeksi (Depkes RI, 2004). ..-tingkunganpekerjaan sosial dan

ekonomiyangberhubungandenganjenis

-pekeIjaan,tempat

lainnya merupakan faktor lingkungan yang mempermudah terjadinya penyakit flu burung. Tujuan penelitian pada bagian ini adalah 1) membuat perjalanan riwayat alarniah penyakit flu burung, 2) menemukenali faktor manusia yang telinfeki penyakit flu burung, 3) menemukenali faktor risiko lingkungan, 4) membuat model probabilitas interaksi faktor risiko lingkungan, 5) melakukan kajian kelembagaan iii pencegahan penyakit flu burung pada manusia, dan 6)

membuat model intervensi pencegahan yang berbasis pada faktor risiko lingkungan dominan. Disain penelitian ini menggunakan beberapa pendekatan yaitu studi kasus, studi kasus kontrol, studi dokumentasi dan literatur, dan sistem dinamik. Sumber data utama penelitian ini mencakup data primer dimana peneliti memperoleh informasi langsung dari pasien flu burung yang dinyatakan sembuh dan sumber dari keluarga pasien yang meninggal. Data sekunder kasus flu burung diperoleh dari Dinas Kesehatan Propinsi Jawa Barat tahun 2005-2007. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik pengukuran kesehatan secara umum dan melalui kuesioner. Pengumpulan data di lakukan di sebelas KabupatenIKota wilayah Propinsi Jawa Barat. Analisis data yang digunakan untuk membuat riwayat alamiah penyakit melalui status health folder, mengetahui model probabiltas komponen lingkungan sebagai risiko KLB penyakit flu burung melalui perhitungan regresi logistik, mengetahui besar risiko melalui perhitungan Odds Ratio (OR), melakukan kajian kelembagaan melalui analisis kualitatif, dan untuk membuat model intervensi pencegahan penyakit flu burung menggunakan simulasi model dinamik. Studi penelitian menemukan riwayat alamiah penyakit flu burung pada manusia melalui beberapa tahapan. Tahapan pertama pre-patogenesis penyakit flu burung sebagian besar penderita berinteraksi dengan unggas yang dipelihara untuk keperluan kebutuhan sendiri dan teIjadi lingkungan sekitar rumah.Tahapan kedua inkubasi penderita penyakit flu burung terjadi rata-rata waktu adalah 7 hari dengan rentang waktu masa inkubasi antara 2-20 hari.Tahapan ketiga klinis penderita penyakit flu burung teIjadi rata-rata menimbulkan gejala klinis awal di hari ke-7, rata-rata waktu penderita dirawat di rumah adalah 5 hari dengan rentang waktu antara 2-12 hari, dan rata-rata mendapatkan pelayanan kesehatan di rumah sakit rujukan adalah pada hari ke6. Tahapan keempat terminal (akhir) penderita penyakit flu burung sebagian besar berakhir dengan meniuggal yaitu 26 orang (83,8%), sembuh 5 orang (16,2%), dan mengalami kecacatan (OO,O%).Untuk profil manusia hanya kebiasaan mencuci tangan yang ada hubungan secara nyata dengan kejadian penyakit flu burung pada manusia (nilai-p < 0,05). Faktor risiko lingkungan dominan terhadap kejadian penyakit flu burung melalui model regresi logistik menemukan empat faktor yang dominan yaitu aktivitas kontak (p=O,OOI), jumlah kontak (p=0,02S), kontak era (0,018), dan membersihkan kandang ternak (p=0,016). Selain itu nilai odds ratio (OR) menyatakan bahwa ketiga

peubah tersebut merupakan faktor risiko ( nilai OR> I) sedangkan kebersihan kandang temak merupakan faktor pencegall ( nilai OR<="" td=""> Permalink http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/54966 ANALISA KELOMPOK Flu Burung merupakan penyakit yang berbahaya karena dapat menyebar dengan cepat ke areal peternakan lain dan di seluruh tanah air. Flu Burung berbahaya karena banyak jenis Flu Burung dapat menyebabkan manusia sakit dan meninggal. Dalam artikel dikatakan bahwa Masa inkubasi penyakit flu burung pada manusia sangat cepat yaitu 1-10 hari. Identifikasi tanda dan gejala klinik penyakit flu burung di awali dengan ISPA disertai keluhan demarn (temperatur 2: 38 C), batuk, sakit tenggorokan, atau beringus (Depkes, 2004). Kadang kala sebagian besar kelompok masyarakat menganggap gejala flu biasa-biasa saja. dalam hal ini kita sebagai tenaga medis dapat menganalisa lebih dini tanda dan gejala yang memungkinkan terjadinya flu burung. Pada uraian dari artikel juga menyebutkan bahwa flu burung kontak dengan hewan merupakan faktor resiko yang paling sering dijumpai dalam proses penularan flu burung ini, terlebih lagi jika kontak dengan hewan atau unggas diperparah dengan tidak menjaga kebersihan diri, akan semakin memperbesar resiko terkena flu burung. Berdasarkan penelitian presentase orang yang meninggal jauh lebih banyak daripada jumlah orang yang sembuh setelah terkena flu burung, hal ini menunjukkan bahwa banyak masyarakat yang belum memahami bagaimana penularan flu burung, disinilah peran perawat sangat dibutuhkan, kita sebagai perawat dapat memberikan pendidikan kesehatan bagaimana cara untuk menjaga kebersihan diri dan lingkungan sebagai upaya pencegahan flu burung terutama bagi masyarakat yang sering berkontak dengan unggas, ataupun lingkungan yang banyak unggas.