Anda di halaman 1dari 14

EVALUASI SISTEM PEMBUANGAN AKHIR SAMPAH DI TPA NGADIROJO KOTA WONOGIRI

Ismeidi Mahasiswa Program Studi Pascasarjana Bidang Keahlian Teknik Prasarana Lingkungan Permukiman, Kampus ITS Sukolilo Surabaya. Endah Angreni Pegawai Negeri Sipil Dinas Permukiman Propinsi Jawa Timur, Jl. Gayung Kebonsari No.169 Surabaya, Telp. 031- 8292304 Harmin Sulistyaning Titah Dosen Program Studi Pascasarjana Teknik Lingkungan, Kampus ITS Sukolilo Surabaya

ABSTRAK
Kota Wonogiri dengan luas 8.292,360 Ha dan jumlah penduduk sebesar 85.858 jiwa dengan rata-rata pertumbuhan penduduk 0,02%/tahun (BPS,2004).Laju timbulan sampah untuk Kota Wonogiri sebesar rata-rata 100 m3 /hari.Sampah yang terangkut 39% sisa 61% belum terangkut (BPS,2004).Sjak beroperasinya Tpa tahun 1996 hingga tahun 2007, lahan yang terpakai sudah 6,02Ha(70%) dari luas lahan seluruh 8,6Ha dengan daya tampung sampah + 250.000m3 .TPA Ngadirojo menggunakan sistem open dumping, maka hal ini menjadi faktor yang sangat potensial terhadap terjadinya pencemaran air, tanah dan udara serta penurunan derajat kualitas lingkungan permukiman di sekitar lokasi TPA.Laju timbulan sampah tiap tahunnya mengalami peningkatan.Ketersediaan lahan TPA yang semakin menyempit, hal ini berpengaruh terhadap masa pakai TPA apabila tidak terkendalinya penanganan sampah di Kota Wonogiri. Keterbatan sarana dan sarana yang ada berpengaruh terhadap pengelolaan sampah di lahan TPA. Dalam penelitian ini akan dievaluasi dan dikaji dengan seksama sistem pembuangan akhir sampah di TPA akan ditinjau dengan 4 aspek yakni aspek teknis,aspek pembiayaan, aspek kelembagaan dan aspek lingkungan. Dengan berdasarkan metode yang digunakan dan analisis yang relevan pada setiap aspek diharapkan akan tersusun strategi guna mengoptimalkan penggunaan lahan TPA dengan sistem open dumping ke arah Controlled landfill sehingga dapat serta meminimalkan permasalahan-permasalahan yang dapat memperpanjang umur pakai dari TPA tersebut.
Kata kunci: Timbulan sampah, open dumping,Controlled landfill TPA.

1. PENDAHULUAN Kota Wonogiri merupakan pusat pemerintahan Kabupaten Wonogiri sekaligus sebagai ibu kota Kabupaten dengan luas 8.292,360 Ha dan jumlah penduduk sebesar 85.458 jiwa dengan rata-rata pertumbuhan penduduk 0,02% per tahun (BPS 2004) Dengan penduduk yang semakin besar akan berakibat pada laju timbulan sampah yang semakin bertambah juga. Untuk Kota Wonogiri jumlah timbulan sampah sebesar rata-rata100 m/hari, Sampah yang terangkut pada tahun 2004 baru sebesar 39 % sisanya 61% belum terangkut (BPS,2004). Komposisi sampah di Kota Wonogiri terdiri

dari 15 % kertas, 10% kayu, 5 % kain, 15% plastik, 5% logam, 5% gelas/kaca, 40% organik, lain-lain 5% (Wonogiri dalam angka,2004). Sejak beroperasinya TPA Desa Kerjo Lor Kecamatan Ngadirojo mulai tahun 1996 hingga tahun 2006, lahan yang telah terpakai untuk pembuangan sampah adalah seluas 6,02 Ha atau 70% dari luas seluruh TPA yakni 8,6 Ha . Kapasitas tertampung sampah di lahan TPA Ngadirojo + 250.000 m, dengan laju timbulan sampah yang ada maka diperkirakan lahan TPA penuh sampai pada tahun 2001 (apabila sampah masuk 100% ke TPA). Tetapi sampai tahun 2007 ini, TPA Ngadirojo belum penuh, hal ini

ISBN No. 978-979-18342-0-9

F-19

Ismeidi, Endah Angreni, Harmin Sulistyaning Titah

disebabkan karena sampah yang masuk atau terangkut ke lahan TPA baru 39%. Untuk mencapai target MDGs pada tahun 2015 yakni sampah yang terangkut harus ditambah 50% dari sisa yang belum terangkut, jadi target yang harus terangkut mencapai 69,48%. Sisa lahan TPA yang belum terpakai yakni 30 % (2,58 Ha) bisa digunakan pengelolaan dengan menggunakan Controll landfill, agar bisa memeperpanjang umur teknis TPA Ngadirojo. Dengan adanya lokasi TPA yang berada pada jarak + 500 m dari permukiman penduduk dan sistem pengelolaan menggunakan open dumping, maka hal ini yang menjadi faktor yang sangat potensial terhadap terjadinya pencemaran air, tanah dan udara serta penurunan derajat kualitas lingkungan permukiman di sekitar lokasi tempat TPA. Ketersediaan lahan TPA yang semakin lama semakin menyempit dan bertambah jumlah sampah, maka hal tersebut akan berpengaruh terhadap masa pakai TPA. Berdasarkan kondisi eksisting TPA serta tingkat pelayanan persampahan di Kota Wonogiri maka diperlukan kajian dan analisa untuk mengoptimalkan pemenfaatan TPA dan memperkecil masalah dengan yang ditimbulkannya, sehingga dengan demikian keberadaan TPA ini dapat lebih dioptimalkan dan dapat memperpanjang masa pakainya dengan tetap menjaga keseimbangan lingkungan sekitannya. 2. KAJIAN PUSTAKA DAN DASAR TEORI 2.1 Pengertian Sampah secara Umum Sampah adalah sisa-sisa bahan mengalami perlakuan-perlakuan, baik karena telah diambil bagian utamanya, atau karena pengolahan, atau karena sudah tidak ada manfaatnya, yang ditinjau dari segi sosial ekonomis tidak ada harganya dan dari segi lingkungan dapat menyebabkan pencemaran atau gangguan kelestarian ( Hadiwiyoto, 1993). 2.2. Klasifikasi Sampah Sampah dapat diklafisikasikan menurut sumber, tipe dan komposisinya. Mengetahui sumber dan tipe sampah serta mendapatkan data komposisi dan jumlah timbulan

sampah, merupakan langkah dasar untuk menyusun suatu menejemen pengelolaan sampah. 2.3. timbulan dan Komposisi Sampah Faktor-faktor yang mempengaruhi jumlah timbulan sampah (Peavy, Rowe, Tchobanaglous,1985) : 1. Letak Geografis , 2. Klimatologi , 3. frekwensi Pengumpulan sampah, 4. Karakteristik Populasi, 5. Kebiasaan masyarakat, 6. Peraturan Nasional dan daerah. Kuantitas dan komposisi sampah merupakan faktor penting di dalam perencanaan dan operasional pengelolaan persampahan. Metode perhitungan jumlah timbulan sampah yang direkomendasikan (Peavy , Rowe, Thobanaglos, 1985) adalah sebagai berikut : 1. Analisis Perhitungan beban Pada metode ini kuantitas dan komposisi sampah ditentukan dengan menghitung volume dan komposisi sampah dalam periode waktu tertentu. Total massa dan distribusi setiap komposisi ditentukan dengan menggunakan rata-rata data densitas setiap katagori sampah. 2. Analisis Massa Volume Metode ini hampir sama dengan metode di atas dengan penambahan perhitungan masa setiap beban. Jika densitas sampah dianalisa secara terpisah tiap kategorinya, maka penentuan distribusi massa berdasarkan komposisi dan nilai densitas rata-rata. Informasi tentang komposisi sampah sangat diperlukan dalam mengevaluasi peralatan alternatif yang dibutuhkan, sistem serta program dan rencana manajemen pengelolaan sampah, terutama pada rencana pengolahan akhir sampah dan pemanfaatan sampah kembali. Komposisi sampah dapat diuraikan (Peavy,Rowe, Thobanaglos, 1985) sebagai berikut : 1. Komposisi fisik Informasi dan data komposisi fisik sampah meliputi besarnya prosentase komponen pembentukan sampah,

ISBN No. 978-979-18342-0-9

F-20

Evaluasi Sistem Pembuangan Akhir Sampah Di Tpa Ngadirojo Kota Wonogiri

2.

3.

ukuran partikel, kandungan air dan kepadatan sampah. Komposisi Kimia Informasi komposisi sampah sangat penting dalam mengevaluasi proses alternatif dan pilihan pemulihan energi. Jika sampah digunakan sebagai bahan bakar, komponen yang harus diketahui adalah analisis proksimasi (kandungan air, kandungan bahan volatil, kandungan abu dan kandungan karbon tetap) titik abu sampah, analisis ultimasi (prosentasi C, H, O, N, dan abu) serta energi. Komposisi Biologis Selain komposisi plastik, karet dan kulit, fraksi organik dari sampah dapat dibedakan menjadi beberapa bagian, yaitu : a. Kandungan air terlarut (gula asam amino) dan berbagai asam organik, b. Hemiselulosa, yaitu hasil menguraian gula. c. Selulosa, yaitu hasil menguraian glukosa, d. Lemak, minyak dan lilin, e. Lignin, material polimer yang terdiri dari cincin aromatik dengan gugus methoksil. Biasanya terdapt pada produk kertas seperti kertas koran dan fiberboard.

mana cara pengumpulan sampah tersebut dibedakan atas dua yaitu system individual dan system komunal Sistem Pola Individual Pengumpulan dilakukan oleh petugas kebersihan yang mendatangi tiap-tiap bangunan/sumber sampah (door to door) dan diangkut ke Tempat Penampungan Sementara(TPS) atau Transfer Depo (stasiun pemindahan) sebelum dibuang ke Tempat Pembuangan Akhir. Kegiatan pengumpulan menggunakan gerobak sampah.
Sumber Sampah

Pengumpulan/ Pembuangan

Pengangkutan

Pembuangan Akhir

Gambar 2.2 Pola individual tidak langsung (Modul Buku Ajar Diploma IV,Pusdiktek Bandung,1998).

Daerah yang dilayani kedua cara tersebut diatas umumnya adalah lingkungan Permukiman yang sudah teratur. Sistem komunal Pengumpulan dilakukan sendiri oleh masing-masing rumah tangga ke tempat yang sudah disediakan. Tempat tersebut berupa kontainer komunal dengan volume (6-8) m3 atau tempat penampungan sementara (TPS) sebelum diangkut ke TPA. Pola yang digunakan sistem komunal ini juga dibagi atas komunal langsung dan tak langsung. 3. Tempat Pembuangan Sementara (TPS) Adalah suatu tempat dimana terkumpulnya sampah dari rumah tangga atau lainnya yang sifatnya sementara. Bangunannya berupa permanent atau tidak permanent. 4. Pemindahan sampah dari TPS ke alat angkut Suatu tindakan yang dilakukan oleh sekelompok orang yang bertujuan untuk memindahkan kumpulan sampah sementara dari TPS ke truk guna diangkut ke lahan TPA. 5. Pengangkutan Pengangkutan sampah merupakan suatu kegiatan membawa sampah dari lokasi pemindahan atau langsung dari sumber

2.4. Aspek Teknis Operasional Pengelolaan Sampah Teknik pengelolaan sampah perkotaan meliputi kegiatan/tindakan yang dilakukan atas sampah, mulai dari sumber sampah pada TPA, meliputi : 1. Penampungan atau pewadahan Secara umum bahan pewadahan harus memenuhi criteria seperti awet, tahan air, mudah diperbaiki, ekonomis, mudah diperoleh, ringan dan mudah untuk dipindahkan. 2. Pengumpulan sampah Pengumpulan sampah salah satu faktor penting dalam pengelolaan sampah, karena dari sistem pengumpulan inilah pelayanan sampah dapat ditentukan. Cara dan pola pengumpulan sampah untuk Indonesia merujuk pada SNI 192454-2002 dan SNI 03-3242-1994, yang

ISBN No. 978-979-18342-0-9

F-21

Ismeidi, Endah Angreni, Harmin Sulistyaning Titah

sampah menuju ke tempat pembuangan akhir. Kegiatan pengangkutan akan sangat terkait dengan jarak dan juga metode pengangkutan yang diterapkan. 6. Pengolahan dan Pembuangan Akhir (TPA) Tempat Pembuangan Akhir (TPA) merupakan tempat dimana sampah mencapai tahap akhir dalam pengelolaannya sejak mulai timbulan di sumber pengumpulan pemindahan/pengangkutan, pengolahan dan pembuangan. Terdapat beberapa metode untuk pembuangan akhir sampah : a. Open Dumping Metode ini merupakan metode yang tertua yang dikenal manusia dalam sistem pembuangan sampah. Pada metode ini sampah hanya dibuang atau ditimbun di suatu tempat tanpa dilakukan penutupan dengan tanah, sehingga dapat menimbulkan gangguan terhadap lingkungan seperti perkembangan sektor penyakit, bau, pencemaran air permukaan dan air tanah, serta bahaya kebakaran. b. Controlled Landfill Cara pembuangan ini merupakan modifikasi dari open dumping, dimana sampah jika sudah mencapai ketinggian tertentu ditutup dengan tanah dan biasanya di sekitar lokasi dibuat sumur kontrol yang digunakan untuk mengontrol terjadinya pencemaran air di sekitarnya oleh lindi. Dalam pengoperasiannya juga dilakukan perataan dan pemadatan sampah untuk meningkatkan efisiensi pemanfaatan lahan dan kestabilan permukaan TPA. Untuk dapat melaksanakan metoda ini diperlukan penyediaan beberapa fasilitas diantaranya adalah: - Saluran drainase untuk mengendalikan aliran air hujan - Saluran pengumpul lindi dan kolam penampungan - Fasilitas pengendalian gas metan - Alat berat c. Sanitary Landfill Penutupan sampah dengan lapisan tanah penutup dilakukan pada setiap akhir hari operasi, sehingga setelah operasi berakhir tidak akan terlihat

masih adanya timbunan sampah. Sehingga dengan sistem ini dampak timbunan sampah terhadap manusia dan lingkungan akan sangat kecil. d. Improved Sanitary Landfill Metode ini merupakan pengembangan dari Sistem Sanitary Landfill , dimana seluruh lindi (leachate) yang dihasilkan akan disalurkan melalui sistem perpipaan untuk disalurkan dan ditampung serta kemudian dilakukan pengolahan di lokasi (on-site) atau dialirkan ke sistem sewage bersama dengan air limbah/buangan domestik untuk diolah di Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) terpusat sebelum effluennya dibuang ke badan air (sungai). e. Semi Aerobic Sanitary Landfill Merupakan pengembangan dari sistem Improved Sanitary Landfill, pada sistem ini dilakukan usaha untuk mempercepat proses dekomposisi sampah dengan menambahkan oksigen ke dalam timbunan sampah. Metode pembuangan akhir sampah yang dapat diterima lingkungan dan telah di rekomendasi serta diharapkan dapat diterapkan di wilayah kota maupun kabupaten di seluruh Indonesia adalah sistem Sanitary Landfill . Pada proses pembuangan akhir, sampah yang telah terkumpul pada akhirnya akan ditimbun. Pekerjaan penimbunan sampah memerlukan perhatian serius, karena itu diperlukan perencanaan peralatan dan pelaksanaan yang cermat (Hadiwiyoto, 1983). a. Perencanaan Meliputi perencanaan lokasi, luas daerah, jumlah dan karakteristik sampah, biaya, alat dan pengelolaan dampak terhadap lingkungan. b. Areal penimbunan sampah Lokasi harus jauh dari keramaian kota dan dapat dipergunakan dalam jangka waktu lama. Luas areal penimbunan ditentukan oleh jumlah sampah, karakteristik sampah, densitas sampah dan perbandingan antara jumlah sampah dengan tanah penutup. c. Alat yang dipergunakan

ISBN No. 978-979-18342-0-9

F-22

Evaluasi Sistem Pembuangan Akhir Sampah Di Tpa Ngadirojo Kota Wonogiri

Alat-alat yang dipergunakan harus sesuai dengan tipe tanah penutup, musim dan derajad densitas sampah yang dikehendaki. Alat tersebut berfungsi untuk membongkar tanah, menggali parit, mengangkut tanah penutup, meratakan dan memadatkan sampah, juga meratakan dan memadatkan tanah penutup. Jenis alat tersebut adalah traktor rantai, rantai roda, dragline, scarper dan kompaktor. d. Metode penimbunan sampah Metode penimbunan sampah tersebut adalah metode area dan metode trench. Metode area ini digunakan pada tanah-tanah yang curam dan tanah lapang bergelombang. Sedangkan metode trench yang berbentuk parit, digunakan pada tanah miring dan paling banyak digunakan di berbagai daerah. e. Tanah penutup Terdapat tiga macam penimbunan, yaitu penimbunan harian, tengah dan akhir. Penimbunan harian dikerjakan setiap hari atau selambat-lambatnya sampai hari ketujuh dengan tebal tanah penimbun 15 cm searah kemiringan tanah. 2.5 Aspek Peraturan Operasional suatu sistem pengelolaan persampahan akan sangat ditentukan oleh peraturan-peraturan yang mendukungnya. Peraturan-peraturan tersebut meliputi wewenang dan tanggung jawab badan pengelola serta bentuk partisipasi masyarakat dalam keikutsertaannya dalam membantu terlaksananya pengelolaan persampahan. Aspek legal merupakan komponen yang sangat berguna untuk menjaga pola sistem agar berjalan dan tercapai sasaran secara baik dan efektif. Aspek tersebut dapat dikelompokkan sebagai berikut : Sebagai landasan pendirian dan operasional instansi pengelola persampahan Sebagai landasan pemberlakuan tarif Sebagai landasan ketertiban umum

2.6 Aspek Pembiayaan Dalam Pengelolaan Sampah Aspek pembiayaan dalam sistem pengelolaan persampahan mempunyai peran penting dalam menjalankan roda operasi dan pemeliharaan sarana dan prasarana persampahan. Berbagai masalah penanganan sampah yang akan timbul pada umumnya disebabkan oleh adanya keterbatasan dana (seperti : investasi peralatan, dana operasional dan pemeliharaan sehingga kualitas pelayanan sampah sangat ditentukan oleh harga satuan per m sampah. Besarnya biaya satuan per m sampah dapat dijadikan indikator tingkat efisiensi atau keberhasilan pengelolaan sampah di suatu kota. Tanpa didukung dana yang memadai, akan sulit diwujudkan kondisi kota yang bersih dan sehat serta ramah lingkungan. 2.7 Aspek Kelembagaan Struktur organisasi pengelola sampah harus memiliki beban kerja yang seimbang dan masing-masing bagian menggambarkan aktifitas utama dalam pengelolaan sampah seperti pengumpulan, pengangkutan, pembuangan akhir dan penyuluhan. Organisasi harus memiliki sumber daya yang dapat diandalkan dalam hal manajemen pengelolaan sampah dan teknis pengelolaan sampah. Dalam seribu penduduk disyaratkan minimal terdapat dua petugas yang melayani pengelolaan sampah. 2.8 Aspek Lingkungan Aspek lingkungan juga penting dalam pengelolaan TPA, karena berhubungan langsung dengan lokasi terbangungnya TPA, baik dalam pencemaran udara atau bau, pencemaran tanah dan pencemaran air sekitar TPA. Karakteristik lindi di daerah tropis terutama di Indonesia adalah bersifat asam dan mempunyai nilai COD yang tinggi. Pergerakan lindi sebagai bahan kimia hasil dekomposisi seperti BOD, TSS, N2 organik dan lain-lain harus dikendalikan agar tidak mencemari air tanah maupun air permukaan.

ISBN No. 978-979-18342-0-9

F-23

Ismeidi, Endah Angreni, Harmin Sulistyaning Titah

2.9 Millenium Development Goals (MDGs) Adalah isu global yang merupakan kesepakatan semua negara untuk mewujudkan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development) adapun tujuan yang sangat erat dengan sanitasi yakni pengelolaan TPA adalah mengelola lingkungan hidup yang berkelanjutan. Dalam skala nasional ditindaklanjuti dengan Nasional Action Plant (NAP) dimana kebijakan dan strategi umumnya adalah antara lain : Pengelolaan persampahan menjadi tanggung jawab pemerintah kabupaten/kota sepenuhnya, namun pendekatan regional, peran pemerintah propinsi dan pusat sangat diharapkan (fasilitator). Setiap kabupaten/kota perlu memiliki rencana peningkatan pelayanan dan peningkatan kinerja pengelolaan persampahan. Pengelolaan persampahan harus memperhatikan efektifitas dan efisiensi pada kegiatan operasional. 2.10 Kebijakan-kebijakan Persampahan di TPA Pengelolaan

Kebijakan-kebijakan Pemerintah yang masih ada kaitannya dengan pengelolaan sampah di TPA adalah sebagai berikut ini : a. Pembangunan Bidang Permukiman dalam RPJM Nasional 2004-2009 yakni Percepatan pembangunan Infrastruktur terutama pada pembangunan persampahan dengan sasaran meningkatkan kinerja pengelolaan TPA sampah yang berwawasan lingkungan pada semua kota-kota metropolitan, kota besar dan sedang. b. Arah Kebijakan dalam RPJM nasional 2004-2009 yaitu pembangunan persampahan menciptakan iklim yang kondusif bagi dunia usaha/sawsta untuk peran aktif dalam memberikan pelayanan persampahan terutama pengelolaan TPA c. Hasil Diskusi Nasional(Jakarta,10 Agustus 2005) Reposisi pencapaian target MDGs tentang Infrastruktur Perkotaan bidang persampahan yakni Meningkatkan kualitas TPA dan fasilitas lain untuk menjamin pelayanan yang sesuai dengan

ketentuan teknis lingkungan, meningkatkan kapasitas pembiaayaan untuk menjamin kualitas pelayanan yang mengarah pada pemulihan biaya pengelolaan, meningkatkan pelayanan dengan mengedepankan peran dan partisipasi aktif masyarakat d. Target Diskusi nasional (target 10) yaitu Peningkatan penelitian dan pengembangan serta aplikasi teknologi tepat guna, penyusunan pedoman pengelolaan TPA dan penerapan Waste to Energy,Optimalisasi pemanfaatan TPA dalam peningkatan kapasitas pelayanan melalui peningkatan dan rehabilitasi TPA dan pengembangan TPA regional. e. PERMEN PU NO.21/PRT/M/2006, tentang Kebijakan dan strategi Nasional Pengembangan sistem Pengelolaan Persampahan (KSNP-SPP), Kebijakan adalah sebagai berikut : 1) Pengurangan sampah semaksimal mungkin dimulai dari sumbernya 2) Peningkatan peran aktif masyarakat dalam dunia usaha/swasta sebagai mitra pengelolaan 3) Peningkatan cakupan pelayanan dan kualitas sistem pengelolaan Untuk operasionalisasi Kebijakan 3) yang berhubungan erat dengan TPA strateginya : Optimalisasi pemanfaatan prasarana dan sarana persampahan Meningkatkan cakupan pelayanan secara terencana dan berkeadilan Meningkatkan kapasitas sarana persampahan sesuai sasaran pelayanan 4) Melaksanakan rehabilitasi TPA yang mencemari lingkungan 5) Meningkatkan kualitas pengelolaan TPA kearah sanitary lanfill 6) Meningkatkan pengelolaan TPA regional 7) Penelitian, pengembangan dan aplikasi teknologi penanganan persampahan tepat guna dan berwawasan lingkungan

ISBN No. 978-979-18342-0-9

F-24

Evaluasi Sistem Pembuangan Akhir Sampah Di Tpa Ngadirojo Kota Wonogiri

3 3.1

METODA PENELITIAN Metode yang akan dipakai

Metode yang akan dipakai Metode yang akan dilakukan berupa penelitan lapangan dengan berpedoman kepada kajian pustaka dan data-data penunjang yang ada. Permasalahan yang ada sesuai dengan lingkup pembahasan diperoleh melalui pengamatan umum daerah penelitian, untuk selanjutnya menetapkan cara atau pola untuk memecahkan masalah tersebut. Metode pengumpulan data yang dilakukan adalah dengan observasi lapangan untuk data primer. Sedangkan data sekunder diperoleh melalui kajian pustaka dan pengumpulan dokumen-dokumen yang berkaitan dengan penelitian serta quisioner. 3.2 Teknik Pengumpulan Data Dalam proses penelitianini, tahap pengumpulan data dilakukan dengan melalui survey langsung di lapangan baik secara primer maupun secara sekunder. Sumbersumber yang dapat digunakan dapat dibedakan menjadi 2 (dua) jenis data yakni : a.Data Primer Data primer merupakan data yang diperoleh secara langsung dari hasil pengamatan di lapangan yang dilakukan dengan melakukan observasi atau pengamatan (survey primer), baik data yang menyangkut fisik ataupun menggali unsurunsur yang terkait dengan permasalahan dengan TPA. Data Sekunder Data sekunder adalah data yang diperoleh dengan melaksanakan survey sekunder dengan wawancara langsung dengan instansi terkait atau personalnya untuk digunakan sebagai bahan analisis selanjutnya. Data-data sekunder bisa didapatkan dari berbagai sumber antar lain : Data dari monografi diambil selama 5 (lima) tahun terakhir dari BPS atau Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kabupaten Wonogiri. Data yang terkait dengan TPA, menyangkut masalah luasan, sistem pengelolaannya pada Subdin Kebersihan dan Pertamanan Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Wonogiri. Data yang berhubungan dengan aspek keuangan atau finansial seperti Biaya

Operasional (BOP) di TPA, daftar-daftar yang berhubungan dengan sampah, baik upah, biaya restribusi yang dipungut dari masyarakat. Keadaan alam yang meliputi kondisi geografi, hidrogeologi dan topografi Kabupaten Wonogiri. Data-data peraturan daerah atau kebijakan dari tata ruang kota yang diadopsi dari setda dan Bappeda Kabupaten Wonogiri.

3.3 Analisis dan evaluasi Evalusi dan analisis akan dilakukan setelah diperoleh data yang dibutuhkan baik data primer maupun data sekunder. Evaluasi dan analisis dilakukan untuk mencari jawaban dan permasalahan yang ada , meliputi aspek teknis yakni bagaimana kemampuan TPA dalam menampung laju pertambahan sampah, aspek pembiayaan yakni bagimana cara mencari sumber pembiayaan untuk mengatasi biaya pengangkutan tanah urug dan aspek kelembagaan yakni bagaimana kinerja aparat yang ada dalam menangani pengelolaan persampahan di Kota . a. Analisa kuantitatif Merupakan analisis yang berupa hitunganhitungan secara kuantitatif dengan menggunakan metode-metode tertentu untuk menilai suatu data terukur yang selanjutnya diinterpretasikan secara kualitatif b. Analisis kualitatif Merupakan analisis yang berupa deskriptif untuk menjelaskan hal-hal yang tidak terukur yang tidak dijelaskan secara kualitatif a. Sebelum analisis kualitatif dan analisis kuantitatif dilaksanakan perlu ada suatu komposisi yang bisa dipakai dan diterapkan dalam mengurangi laju timbulan sampah di TPA yang terkait dalam pengelolaan TPA yakni dalam mengatasi masalah usia dari TPA tersebut yaitu memperpanjang masa pakai TPA 3.4 Analisis SWOT SWOT merupakan alat (tool) yang dapat dipakai untuk analisis kualitatif. SWOT dapat digunakan untuk mengidentifikasi dan

ISBN No. 978-979-18342-0-9

F-25

Ismeidi, Endah Angreni, Harmin Sulistyaning Titah

menganalisis berbagai faktor secara sistematis untuk merumuskan strategi pemerintah di dalam mengelola daerahnya. Analisis ini dapat didasarkan pada logika yang dapat memaksimalkan kekuatan (strengths) dan peluang (opportunities), namun secara bersamaan dapat meminimalkan kelemahan (weaknesses) dan ancaman (threats) (Rangkuti, 2004). Pola pikir sederhana strategi SWOT adalah ketika kita mengetahui kekuatan dan kelemahan diri sendiri (internal) maka peluang yang ada dapat diraih dan ancaman yang akan timbul bisa diantisipasi (eksternal). Faktor kekuatan dan kelemahan merupakan faktor internal sedangkan peluang dan ancaman merupakan faktor eskternal yang dihadapi oleh organisasi/instansi. Adapun yang dimaksud dengan faktor SWOT adalah: Faktor kekuatan adalah antara lain kompetensi yang terdapat dalam organisasi yang berakibat pada pemilikan keunggulan komparatif oleh suatu organisasi Faktor kelemahan adalah keterbatasan / kekurangan dalam hal sumber keterampilan dan kemampuan yang menjadi penghalang serius bagi penampilan kinerja organisasi. Dalam praktek berbagai keterbatasan dan kekurangan kemampuan bisa terlihat pada sarana dan prasarana yang dimiliki /tidak dimiliki bahkan kemampuan manajerial yang rendah. Faktor peluang adalah berbagai situasi lingkungan yang menguntungkan bagi suatu satuan organisasi. Yang dimaksud antara lain perubahan dalam kondisi persaingan dan perubahan dalam peraturan dan perundang-undangan yang membuka bagi kesempatan baru dalam setiap kegiatan. Faktor ancaman adalah merupakan kebalikan pengertian peluang, dengan demikian dapat dikatakan ancaman adalah faktorfaktor lingkungan yang tidak menguntungan bagi suatu satuan organisasi. 4. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Kondisi Eksisting Pelayanan sampah tidak hanya melayani Kota Wonogiri saja, akan tetapi juga

melayani kota-kota di sekitar Kota Wonogiri di 5 (lima) kecamatan. Tingkat pelayanan persampahan yang ditangani oleh Dinas Pekerjaan Umum, pada saat ini baru mampu melayani sebagian daerah perkotaan saja yang mencakup sebagian wilayah di Kota Wonogiri dan 4 kecamatan yang ada disekitarnya. Berdasarkan data dari Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Wonogiri, tingkat pelayanan persampahan di Kota Wonogiri dan 4 kecamatan masih mencapai + 38,97 % yang terangkut, dimana yang harus dilayani 18 desa/ kelurahan yang ada. Prioritas penanganan sampah diutamakan pada daerah atau kawasan penghasil sampah paling banyak yang meliputi kawasan pasar, komersial, permukiman, jalan, taman dan terminal. Untuk diluar Kota Wonogiri di 4 kecamatan diutamakan pada sentral disekitar pasar kota kecamatan. TPA Kabupaten Wonogiri berada di Desa Kerjo Kidul Kecamatan Ngadirojo yang mempunyai jarak + 11 km dari Pusat Kota Wonogiri. Lokasi TPA ini berada pada jarak 500 meter dari pemukiman penduduk dan 2 km dari badan air/ sungai serta memiliki luas lahan 8,6 Ha. TPA ini terletak pada suatu kawasan lembah di Kecamatan Ngadirojo yang berupa lembah atau jurang dengan memiliki kedalaman 5m dan mulai beroperasi mulai tahun 1996. Berdasarkan data yang diperoleh dari Dinas Pekerjuaan Umum Kabupaten Wonogiri, TPA ini direncanakan mempunyai masa umur pakai selama 15 tahun. Pada awal sistem penimbunan sampah yang dilakukan di TPA Ngadirojo ini direncanakan dengan menggunakan sistem Controlled Landfill. Dengan adanya keterbatasan dana dalam pengelolaan sampah ini maka dalam pelaksanaan di lapangan digunakan sistem open dumping. Dalam pelaksanaan sistem open dumping ini sampah dibuang secara sembarangan saja di lokasi TPA kemudian diratakan dan dipadatkan dengan menggunakan buldozer tanpa dilakukan pengaturan dan penempatan yang baik. Sesui dengan kondisi kenyataan di lapangan, sejak mulai dioperasikannya pada tahun 1996 sampai dengan tahun 2006, kondisi TPA saat ini sudah hampir penuh, dimana lahan seluas 8,6 Ha tersebut sudah digunakan sebagai lahan tempat pembuangan akhir

ISBN No. 978-979-18342-0-9

F-26

Evaluasi Sistem Pembuangan Akhir Sampah Di Tpa Ngadirojo Kota Wonogiri

sampah telah mencapai 6,02 Ha atau 70% (survey pendahuluan ,2007) dan masih tersisa 30% atau 2,58 Ha. 4.2. Analisis Wonogiri Timbulan Sampah Kota

Komposisi sampah yang masuk di TPA berupa sampah organik yaitu sebesar 45% dan sebagian lagi berupa sampah plastik (16%) dan sampah kertas (14,60%). Sedangkan untuk komposisi sampah kain, kayu, karet, kaca, logam dan lain-lain berkisar antara 1,00 10,00%. Adapun jumlah timbulan sampah yang masuk adalah sebesar 89 m3/ hari dengan berat sampah sebesar 19.323,76 Kg/hari Tabel .1 Proyeksi Timbulan Sampah
Tahu Jumlah n Penduduk Tar get lay ana n % Jumlah Timbulan Sampah Total Timbulan Sampah Volume (m3/tahun ) 34.741 37.697 40.653 43.612 46.568 48.524 52.480 55.439 58.395 61.351 64.307

TPA menumpuk sehingga menimbulkan berbagai permasalahan terutama teknis. Keberadaan Sumber daya manusia yang memadai yang mempunyai ketrampilan dan pengetahuan tentang teknik pengelolaaan sampah, ketersediaan sarana pendukung dan peralatan di TPA serta dibantu oleh ketersediaan dana yang cukup untuk melakukan pengelolaan sampah di TPA. Secara teknis operasional TPA Ngadirojo Kota Wonogiri meliputi: pencatatan sampah masuk, pembongkaran sampah, pengaturan lahan, perataan dan pemadatan sampah, penutupan tanah. 4.4. Analisis Masa Pakai TPA TPA Ngadirojo Kota Wonogiri telah dioperasikan mulai tahun 1996 dengan luas area untuk penimbunan 8,6 Ha. Rencana ketinggian TPA ini adalah + 20 meter dalam keadaan sampah sudah terkompaksi akibat bekerjanya alat berat. Sampai saat ini kondisi lahan di TPA sudah hampir penuh dengan tingkat pemakaian sekitar 70%(6,02Ha) lahan yang masih belum terpakai adalah 2,58 Ha (25800 m2) yang direncanakan dipakai sistem contolled landfill. Dari hasil pengamatan lapangan di lokasi TPA, diketahui bahwa jumlah timbulan sampah yang masuk di TPA ratarata setiap hari adalah sebesar 19.324 kg. Sedangkan densitas sampah yang sudah tertimbun dan terpadatkan di TPA adalah sebesar 623 kg/ m3 . Berdasarkan kondisi tersebut di atas, maka dapat diprediksi bahwa masa pakai TPA Ngadirojo Kota Wonogiri hanya dapat digunakan selama 2 tahun 5 bulan lagi 4.5. Analisis SWOT sejumlah faktor eksternal dan faktor internal yang teridentifikasi di atas dipetakan dalam suatu interaksi dengan menghubungkan kekuatan dengan peluang, kekuatan dengan ancaman, kelemahan dengan peluang dan kelemahan dengan ancaman. Interaksi faktor eksternal dan faktor internal tersebut seperti terlihat pada Tabel 2.

Domes Non Volume tik Domestik (m3/ hari) (m3/ hari) (m3/ hari)

2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016

87.853 87.871 87.888 87.906 87.923 87.941 87.958 87.976 87.994 88.011 88.029

47 51 55 59 63 67 71 75 79 83 87

88,86 96,42 103,9 8 111,5 5 119,1 1 126,6 7 134,2 3 141,8 0 149,3 6 156,9 2 164,4 8

6,323 6,861 7,399 7,937 8,475 9,013 9,551 10,089 10,627 11,166 11,704

95,18 103,2 8 111,3 7 119,4 8 127,5 8 135,6 8 143,7 8 151,8 8 159,9 8 168,0 8 176,1 8

4.3 Analisis Penataan Pembuangan Sampah TPA Permasalahan sampah sebagai hasil aktivitas manusia di daerah perkotaan memberikan tekanan yang besar terhadap lingkungan, terutama apabila sampah yang di buang ke

ISBN No. 978-979-18342-0-9

F-27

Ismeidi, Endah Angreni, Harmin Sulistyaning Titah

Tabel 2: Matrik SWOT Evaluasi TPA Ngadirojo Kota Wonogiri KEKUATAN-(S) FAKTOR INTERNAL 1. Adanya Dinas LINGTAMBEN sebagai badan pengelola sampah di Kota Trenggalek 2. Timbulan sampah yang sebagian besar berupa sampah organik sebagai bahan pembuatan kompos 3. Adanya kelompokkelompok dasa wisma di tingkat RT 4. Keterlibatan pihak kelurahan dalam pelaksanaan program STRATEGI-SO KELEMAHAN-(W) 1. Keterbatasan dana untuk pembelian komposter 2. Keterbatasan teknik pengolahan sampah dengan komposter 3. Rendahnya pengetahuan masyarakat tentang teknik pengolahan sampah

FAKTOR EKSTERNAL

PELUANG-(O)

STRATEGI-WO 1. Mengintensifkan sosialisasi dan penyuluhan masalah penanganan sampah pada masyarakat. 2. Mengadakan workshop pemberdayaan sampah dengan mengundang para pakar kreatifitas daur ulang maupun dari lembaga Perguruan Tinggi. 3. Mengajak keterlibatan pihak swasta dalam bentuk kerjasama yang saling menguntungkan 4. Melaksanakan program percontohan teknik pengomposan pada beberapa desa/ kelurahan

1. Adanya teknologi 1. Mensosialisasikan kepada komposter sebagai alat masyarakat mengenai pengolah sampah menjadi teknik pengolahan kompos sampah dengan berbasis 2. Adanya pengepul atau reduksi pada skala bandar daur ulang yang rumah tangga dan mau menerima hasil daur komunal ulang sampah kering 2. Menetapkan daerah binaan sebagai daerah percontohan pelaksanaan reduksi sampah domestik skala rumah tangga dan komunal. 3. Menetapkan bentuk lembaga pengelola sampah mandiri tingkat RT. 4. Membentuk organisasi kader lingkungan sebagai sarana perkumpulan bagi para kader lingkungan. 5. Mengajak kerjasama dengan para pengumpul, pengepul dan bandar daur ulang.

ISBN No. 978-979-18342-0-9

F-28

Evaluasi Sistem Pembuangan Akhir Sampah Di Tpa Ngadirojo Kota Wonogiri

KEKUATAN-(S) FAKTOR INTERNAL

KELEMAHAN-(W)

FAKTOR EKSTERNAL

1.Adanya Dinas 1. Keterbatasan dana LINGTAMBEN sebagai untuk pembelian badan pengelola sampah komposter di Kota Trenggalek 2. Keterbatasan teknik 2.Timbulan sampah yang pengolahan sampah sebagian besar berupa dengan komposter sampah organik sebagai 3. Rendahnya pengetahuan bahan pembuatan masyarakat tentang kompos teknik pengolahan 3.Adanya kelompoksampah kelompok dasa wisma di tingkat RT 4.Keterlibatan pihak desa/ kelurahan dalam pelaksanaan program STRATEGI-ST STRATEGI-WT 1. Mengajak keterlibatan pihak swasta dalam bentuk kerjasama yang saling menguntungkan 2. Mengajak keterlibatan LSM untuk ikut berperan aktif dalam mendukung penanganan sampah pada sumbernya. 3. Mengadakan workshop pemberdayaan sampah dengan mengundang para pakar kreatifitas daur ulang maupun dari lembaga Perguruan Tinggi 4. Pembentukan kader lingkungan untuk diberi bekal mengenai teknikteknik pengolahan sampah

ANCAMAN-(T)

1. Masih sulitnya upaya 1. Pembentukan kader penjualan kompos lingkungan untuk diberi 2. Keterbatasan informasi bekal mengenai teknikmasalah teknologi teknik pengolahan persampahan yang sampah diterima oleh masyarakat 2. Mendirikan koperasi di 3. Meningkatnya jumlah tingkat desa/ kelurahan timbulan sampah yang dapat menyalurkan 4. Harga alat komposter penjualan kompos hasil yang relatif mahal. pengolahan 3. Membuat buku panduan sistem reduksi sampah domestik skala rumah tangga dan komunal. 4. Memberikan bantuan alat komposter rumah tangga untuk merangsang warga masyarakat agar mau melakukan kegiatan reduksi sampah di sumbernya.

ISBN No. 978-979-18342-0-9

F-29

Ismeidi, Endah Angreni, Harmin Sulistyaning Titah

Berdasarkan matrik SWOT di atas pada dasarnya alternatif strategi yang akan dilakukan untuk mengatasi terhadap segala kelemahan dan ancaman yang dihadapi dalam penanganan reduksi sampah di sumber sampah adalah sebagai berikut: a. Meningkatkan peran serta masyarakat dalam penanganan reduksi sampah dan teknik pengolahan sampah pada skala rumah tangga dan komunal melalui: - Peningkatan sosialisasi dan penyuluhan masalah penanganan sampah baik di tingkat kelurahan, kecamatan maupun pada tingkat sekolahan. - Pembuatan buku panduan sistem reduksi sampah baik skala rumah tangga maupun skala komunal - Memberikan bantuan alat komposter rumah tangga untuk merangsang warga masyarakat agar mau melakukan kegiatan reduksi sampah. b. Membentuk organisasi kader lingkungan sebagai sarana perkumpulan bagi para kader lingkungan dan membentuk lembaga pengelola sampah mandiri tingkat RT. c. Mengadakan workshop pemberdayaan sampah dengan mengundang para pakar kreatifitas daur ulang maupun dari lembaga Perguruan Tinggi. Kegiatan workshop ini diharapkan dapat menciptakan kader-kader di lingkungan masyarakat yang mengerti dan memahami tentang teknik-teknik pengolahan sampah di sumber sampah sehingga mampu menjadi motor penggerak dilaksanakannya upaya reduksi sampah di sumber sampah. Karena yang mengikuti program workshop ini adalah warga masyarakat, maka program ini tidak bisa hanya dilaksanakan dalam sekali saja, karena adanya tingkat pemahaman masyarakat untuk bisa bisa menerima terhadap materi yang diberikan tentang penanganan sampah. Agar program workshop ini bisa berhasil dan dapat diterapkan di lapangan, maka minimal perlu dilaksanakan sebanyak dua kali periode yang diikuti oleh peserta dari perwakilan masing-masing RT atau
ISBN No. 978-979-18342-0-9

kelurahan dengan mengundang para pakar yang ahli dalam daur ulang sampah. Adapun materi yang akan diberikan dalam workshop ini antara lain adalah sebagai berikut: - Pemahaman tentang permasalahan sampah yang ada di daerah - Memberikan pemahaman tentang pentingnya pengelolaan sampah dengan berbasis masyarakat serta pentingnya upaya reduksi sampah domestik di sumber sampah (masyarakat). - Pemahaman tentang teknik-teknik pengolahan sampah rumah tangga - Memberikan ketrampilan tentang teknik dan cara pengolahan sampah rumah tangga yang dapat diterapkan di masyarakat yang mudah dan murah untuk dilakukan dengan menggunakan komposter rumah tangga. - Memberikan bekal tentang tata cara presentasi dalam rangka menyebarkan teknik pengolahan sampah yang benar kepada masyarakat luas. d. Mengadakan program percontohan pengomposan pada beberapa desa/ kelurahan, sehingga masyarakat mengetahui tentang tata cara penanangan sampah dan dapat merangsang masyarakat untuk bersedia melaksanakan program ini. Mengajak keterlibatan pihak swasta dalam bentuk kerjasama yang saling menguntungkan Mengajak dan memberdayakan LSM yang ada untuk terlibat langsung dalam penanganan sampah sehingga dapat membantu terwujudnya program penanganan sampah pada sumbernya ini. Mendirikan koperasi di tingkat desa/ kelurahan yang dapat menyalurkan penjualan kompos hasil pengolahan sehingga dapat mendorong masyarakat dalam memproduksi kompos dari hasil pemilahan sampah organik.

e.

f.

g.

F-30

Evaluasi Sistem Pembuangan Akhir Sampah Di Tpa Ngadirojo Kota Wonogiri

5. PENUTUP 5.1. Kesimpulan Berdasarkan hasil evaluasi dan analisa terhadap sistem pembuangan akhir sampah di Kota Wonogiri, maka dapat diperoleh beberapa kesimpulan sebagai berikut: - Saat ini sistem pembuangan akhir sampah di Kota Wonogiri dilakukan hanya dengan membuang sampah di TPA tanpa dilakukan pengolahan terhadap timbulan sampah yang ada baik di sumber sampah maupun di TPA sendiri. Hal ini menjadikan kondisi TPA cepat penuh oleh timbulan sampah dan pada akhirnya akan memperpendek masa pakai TPA. Tanpa adanya upaya untuk mereduksi timbulan sampah yang ada, maka umur masa pakai TPA Ngadirojo Kota Wonogiri hanya akan dapat digunakan selama 2 tahun 5 bulan lagi atau sampai dengan bulan Mei 2010. - Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Wonogiri selaku instansi pengelola persampahan belum mampu memberikan pelayanan sampah secara maksimal pada seluruh wilayah Kota Wonogiri. Hal ini terlihat dari jumlah timbulan sampah yang mampu terangkut ke TPA oleh truck pengangkut sampah yang hanya sebesar 45% dari keseluruhan timbulan sampah yang dihasilkan penduduk. Adanya keterbatasan dalam pendanaan menyebabkan kinerja pihak pengelola sampah yang tidak maksimal sehingga belum mampu menjangkau ke seluruh wilayah Kota Wonogiri dan sekitarnya. - Adanya upaya reduksi sampah di sumber sampah, secara finansial hal ini akan berdampak pada menurunnya biaya yang harus dikeluarkan oleh pemerintah daerah dalam pengelolaan sampah. Dari segi pengangkutan sampah maka akan menurunkan biaya pengangkutan sampah hingga mencapai 63% (target 2015). Sedangkan dalam pengadaan TPA baru maka akan terjadi selisih biaya pengadaan TPA sebesar 39 % atau dengan luas lahan yang sama maka dengan adanya upaya reduksi sampah di sumber sampah dapat memperpanjang masa pakai TPA hingga 6,6 tahun. - Strategi yang akan dilakukan dalam mengatasi laju timbulan sampah yang ISBN No. 978-979-18342-0-9 F-31

terus meningkat dan untuk mengurangi beban timbulan sampah yang masuk di TPA adalah dengan melakukan penanganan sampah melalui upaya reduksi sampah pada sumbernya. Upaya ini dilakukan dengan meningkatkan pemberdayaan masyarakat untuk ikut berperan aktif dalam melakukan penanganan sampah di sumbernya secara mandiri dengan memilah sampah kering dan sampah basah serta mengolah sampah basah/ organik untuk dijadikan kompos. Untuk mengantisipasi adanya berbagai macam karakter masyarakat dalam partisipasinya ikut mengelola sampah di sumber sampah serta ketersediaan lahan untuk pengolahan kompos, maka upaya penanganan reduksi sampah di sumber sampah dapat dilakukan dengan menggunakan metode skala rumah tangga maupun skala komunal. Upaya reduksi sampah pada sumbernya akan dilakukan secara bertahap dengan peningkatan secara berkala sebesar 10% pertahun, hingga pada tahun 2014 dan 2015 reduksi sampah di sumber sampah dapat tercapai sebesar 70%. Upaya ini secara berkala akan dilakukan kegiatan monitoring dan evaluasi terhadap pelaksanaan reduksi sampah di sumbernya, sehingga dapat diketahui berbagai kendala yang terjadi di lapangan dan selanjutnya dapat dilakukan penyelesaian serta peningkatan terhadap sistem yang telah dilaksanakan.

Berdasarkan analisis SWOT, posisi strategi yang disarankan adalah strategi defensif, dimana strategi yang diterapkan untuk meningkatkan kualitas pengelolaan guna menaikkan penjualan dan tingkat hunian perumahan PNS Kabupaten Sanggau antara lain:a a. Memperbaiki dan mempermudah aksesibilitas menuju tempat kerja, sekolah primer, pasar (pusat perbelanjaan) serta jalan arteri dan rute angkutan kota dengan dukungan anggaran (dana) yang cukup. b. Meningkatkan kualitas prasarana air bersih dan listrik dengan dukungan anggaran (dana) yang cukup.

Ismeidi, Endah Angreni, Harmin Sulistyaning Titah

c. Meningkatkan kemampuan tim pengelola dan pengembang perumahan PNS sehingga mampu bersaing dengan keberadaan perumahan lain di Kabupaten Sanggau. d. Meningkatkan keamanan lingkungan sekitar dengan cara meningkatkan kualitas prasarana listrik/penerangan di sepanjang jalan akses dan di dalam lingkungan perumahan PNS. 5.2. Saran Beberapa saran yang dapat diberikan berkenaan dengan studi ini adalah: - Perlu dilakukan studi lebih lanjut mengenai teknologi tepat guna yang dapat diterapkan untuk melakukan reduksi sampah pada sumbernya yang dapat memberikan manfaat yang lebih besar kepada masyarakat dan tidak memberikan dampak negatif pada estetika lingkungan sekitarnya. - Perlu dilakukan studi lebih lanjut mengenai keterlibatan pihak swasta dalam mendukung pelaksanaan sistem reduksi sampah pada sumbernya serta dampak yang ditimbulkan dari pelaksanaan sistem reduksi sampah skala komunal maupun rumah tangga terhadap lingkungan atau daerah di sekitarnya. - Perlu dilakukan studi lebih lanjut mengenai pengelolaan limbah B3 yang dihasilkan penduduk agar limbah B3 yang masuk dan tertimbun di TPA tidak menimbulkan pencemaran pada lingkungan sekitarnya. - Pemerintah daerah perlu meningkatkan program pengelolaan sampah dengan melibatkan kemitraan dengan masyarakat dan swasta, sehingga permasalahan sampah akan menjadi tanggung jawab bersama baik pemerintah, swasta dan masyarakat. - Pemerintah daerah perlu memberikan kejelasan tentang bagaimana penanganan kompos yang dihasilkan penduduk tersebut selanjutnya, utamanya dalam hal pemasaran kompos tersebut, sehingga tidak menimbulkan masalah baru dalam lingkungan akibat menumpuknya kompos yang tidak

dimanfaatkan serta tidak menimbulkan keragu-raguan kepada masyarakat dalam melakukan pengolahan sampah di sumber sampah. REFERENSI 1.APBD ( 2005 ), Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Kabupaten Wonogiri, BPKD Kabupaten Wonogiri. 2.Badan Perencanaan Pembangunan Daerah ( 2005 ), Revisi Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Wonogiri Tahun 2004, Bappedda Kabupaten Wonogiri. 3.Badan Pusat Statistik ( 2007 ), Kabupaten Wonogiri Dalam Angka 2004, BPS , Kabupaten Wonogiri. 4.Damanhuri,E.1993, Usulan Teknis pengelolaan Sampah,Ministri Of Public Workshop Republik Indonesia. 5.Damanhuri,E.Teknik Pembuangan Akhir Sampah.Jurnal Teknik Lingkungan ITB. 6.Departemen Pekerjaan Umum ( 1991 ), Spesifikasi Timbulan Sampah untuk Kota Kecil dan Sedang di Indonesia, SK SNI S-041991-03, Yayasan LPBM, Jakarta 7.Departemen Pekerjaan Umum ( 1990 ), Tata Cara Pengelolaan Teknik Sampah Perkotaan, SK SNI T-13-1990-F, Yayasan LPBM, Jakarta. 8.Departemen Pekerjaan Umum ( 1993 ), Petunjuk Teknis Sistem Modul Bidang Persampahan, Ditjen. Cipta Karya, Jakarta 9.Hadiwiyoto,S. ( 1993 ), Penanganan dan Pengelolaan Sampah, Yayasan Idayu, Jakarta. 10.Peavy, H., Rowe, D., Tchobanoglous, G.( 1985 ), Environmental Engineering, McGraw- Hill Book Company, New York. 11.Rangkuti,Freddy ( 2004 ), Analisa SWOT Teknik Membedah Kasus Bisnis, Jakarta : PT.Gramedia Pustaka Utama, 2004. 12.Tchobanoglous, G., Theisen, H., Virgil, S. ( 1993 ), Integrated Solid Waste Management, Mc.Graw Hill lnc, International Editions, New York . 13.Yulinah T.dan Ida A.Warma,2004, Hand Out Mata Kuliah pengelolaan sistem persampahan,Pusdiktek Departemen PU.

ISBN No. 978-979-18342-0-9

F-32