Anda di halaman 1dari 66

UJI AKTIVITAS AFRODISIAKA EKSTRAK BIJI MARKISA (Passiflora ligularis, Juss.

) ASAL KABUPATEN JENEPONTO TERHADAP MENCIT JANTAN (Mus musculus)

ANNISYIAH WIRA MAHKOTA N111 09 108

PROGRAM STUDI FARMASI FAKULTAS FARMASI UNIVERSITAS HASANUDDIN MAKASSAR 2013

UJI AKTIVITAS AFRODISIAKA EKSTRAK BIJI MARKISA (Passiflora ligularis, Juss.) ASAL KABUPATEN JENEPONTO TERHADAP MENCIT JANTAN (Mus musculus)

SKRIPSI untuk melengkapi tugas-tugas dan memenuhi syarat-syarat untuk mencapai gelar sarjana

ANNISYIAH WIRA MAHKOTA N111 09 108

FAKULTAS FARMASI UNIVERSITAS HASANUDDIN MAKASSAR 2013

PERSETUJUAN
UJI AKTIVITAS AFRODISIAKA EKSTRAK BIJI MARKISA (Passiflora ligularis, Juss.) ASAL KABUPATEN JENEPONTO TERHADAP MENCIT JANTAN (Mus musculus)

ANNISYIAH WIRA MAHKOTA N111 09 108

Disetujui oleh : Pembimbing Utama,

Drs.H.Kus Haryono, MS, Apt. NIP. 19501126 197903 1 002

Pembimbing Pertama,

Pembimbing Kedua,

Dra.Rosany Tayeb, M.Si., Apt. NIP. 19561011 198603 2 002

Dra.Ermina Pakki, M.Si., Apt. NIP. 19610606 198803 2 002

Pada tanggal

Juli 2013

iii

PENGESAHAN UJI AKTIVITAS AFRODISIAKA EKSTRAK BIJI MARKISA (Passiflora ligularis, Juss.) ASAL KABUPATEN JENEPONTO TERHADAP MENCIT JANTAN (Mus musculus) Oleh : ANNISYIAH WIRA MAHKOTA N111 09 108 Dipertahankan di hadapan Panitia Penguji Skripsi Fakultas Farmasi Universitas Hasanuddin Pada Tanggal 25 Juli 2013 Panitia Penguji Skripsi 1. Ketua Dra. Christiana Lethe, Lethe M.Si., Apt. 2. Sekretaris Dr. Hj. Sartini, M.Si., Apt. 3. Ex Officio Drs.H.Kus H.Kus Haryono, M.S., M.S Apt. 4. Ex Officio Dra. Rosany Tayeb, Tayeb MSi., Apt. 5. Ex Officio Dra. Ermina Pakki, Pakki M.Si., Apt. 6. Anggota Abd. Rahim, S.Si, M.Si, Apt. : . Mengetahui : Dekan Fakultas Farmasi Universitas Hasanuddin : . : . : . : . :..

Prof. Dr. Elly Wahyud din, DEA., Apt. NIP. 19560114 9560114 198601 2 001

iv

PERNYATAAN

Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi ini adalah karya saya sendiri, tidak terdapat karya yang pernah diajukan untuk memperoleh gelar kesarjanaan di suatu Perguruan Tinggi dan sepanjang pengetahuan saya juga tidak terdapat karya atau pendapat yang pernah ditulis atau diterbitkan oleh orang lain, kecuali yang secara tertulis diacu dalam naskah ini dan disebutkan dalam daftar pustaka. Apabila dikemudian hari terbukti bahwa pernyataan saya ini tidak benar, maka skripsi dan gelar yang diperoleh, batal demi hukum.

Makassar,

Juli 2013

Penyusun,

Annisyiah Wira Mahkota

UCAPAN TERIMA KASIH

Puji syukur dipanjatkan kepada Allah SWT, atas berkat dan rahmatNya, penulis mampu merampungkan penyusunan skripsi ini sebagai salah satu syarat dalam memperoleh gelar kesarjanaan pada Program Studi Farmasi Fakultas Farmasi Universitas Hasanuddin. Banyak kendala yang penulis hadapi dalam penyusunan skripsi ini, namun berkat dukungan dan bantuan dari berbagai pihak, akhirnya penulis dapat melewati kendala-kendala tersebut. Oleh karena itu, penulis menghaturkan banyak terima kasih dan penghargaan yang setinggitingginya kepada: 1. Bapak Alm.Drs.H.Kus Haryono, M.S., Apt. sebagai pembimbing utama yang telah memberikan arahan, nasihat, dan solusi-solusi dengan penuh kesabaran dan keramahan serta dorongan hingga akhir hayatnya agar penulis segera menyelesaikan studi, Ibu Dra. Rosany Tayeb, M.Si., Apt. sebagai pembimbing pertama atas bimbingan, arahan dan motivasinya, serta Ibu Dra.Ermina Pakki, M.Si., Apt. sebagai pembimbing kedua yang telah memberikan masukan judul, bimbingan, arahan, dan motivasinya. Penulis menyadari skripsi dan penelitian ini mungkin tidak akan selesai dengan cepat jika beliau tidak henti-hentinya mengingatkan penulis untuk cepat menyelesaikan studi. 2. Dekan, Wakil Dekan, serta staf dosen Fakultas Farmasi Universitas Hasanuddin atas bantuan serta motivasi-motivasi yang diberikan. vi

3. Bapak

Drs.Abd.Muzakkir

Rewa,

M.Si.,

Apt.

selaku

penasehat

akademik yang telah memberikan arahan dalam perencanaan masa studi dari semester I hingga semester akhir. 4. Kedua orang tua tercinta, ayahanda Ir.H.Ismail Makkarateng dan ibunda Hj.Siti Sahara, atas segala pengorbanan materi, kasih sayang, ketulusan hati mendoakan sehingga penulis bisa menyelesaikan kuliah sampai saat ini. 5. Saudara-saudari penulis (Nurul Afrillah Mahkota, Hidayat Amir Mahkota, dan Suci Febriyanti Mahkota), atas dukungan dan kasih sayang kalian selama ini. Semoga kita senantiasa menjadi anak yang berbakti, memberikan yang terbaik untuk orang tua kita. 6. Saudara-saudari farmasi angkatan 2009 (Ginkgo 09), terkhusus Nur Afni, Nurfitriyanti, Whyllies Agung, Amira Lestari, A.Padariani, Ayu Asyhari, Faisah, Sasmita, dan Indah untuk beberapa tahun yang sangat menyenangkan. 7. Saudara Nurhadri Azmi, S.Si atas segala bantuan, kesenangan, waktu, dan menjadi tempat berkeluh kesah bagi penulis selama ini. 8. Seluruh Laboran Fakultas Farmasi, Kak Haslia, Kak Syamsiah, Kak Sumiati, Kak Dewi, Ibunda Adriana, dan Arti Setiawati, terima kasih telah memberi bantuan atas segala kesulitan yang dihadapi penulis mulai dari awal hingga akhir penelitian. 9. Kepada kanda Andi Arjuna, S.Si., Apt, Andi Dian Permana, S.Si, Apt. dan Muhammad Nur Amir, S.Si., Apt., serta Inul Hajar S.Ali, S.Si, Apt.

vii

yang telah memberi motivasi, saran, nasihat, arahan, dan memberikan insiprasi bagi penulis yang masih diingat hingga detik ini. 10. Kepada pihak yang tidak sempat disebut namanya. Semoga Allah membalas semua kebaikan kalian selama ini. Penulis menyadari bahwa karya tulis ini sangat jauh dari kesempurnaan, karena itu penulis mengharapkan saran dan kritik yang membangun demi terciptanya suatu karya yang lebih bermutu. Akhirnya, semoga karya kecil ini dapat bermanfaat bagi pengembangan ilmu pengetahuan ke depannya. Makassar, Juli 2013

Penulis

viii

ABSTRAK

Telah dilakukan penelitian uji aktivitas afrodisiaka ekstrak biji markisa (Passiflora ligularis, Juss.) asal jeneponto terhadap mencit jantan (Mus musculus). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas afrodisiaka dari ekstrak biji markisa. Biji markisa (BM) diekstraksi menggunakan metanol. Penelitian menggunakan mencit jantan (Mus musculus) galur Swiss-Webster yang dibagi menjadi 4 kelompok masingmasing 3 ekor, kontrol negatif digunakan NaCMC 1% (I), ekstrak 100 mg/kgBB (II), ekstrak 150 mg/kgBB (III), dan ekstrak 200 mg/kgBB (IV). Tingkah laku mencit jantan menaiki betina (mounting) diamati, dicatat, dan dianalisis. Hasil analisis statistik menggunakan program spss menujukkan aktivitas afrodisiaka terbesar pada (IV) dengan tingkah mounting dengan rata-rata sebanyak 13,57 kali selama 7 hari.

ix

ABSTRACT

The research of activity of extract passion fruit seed (Passiflora ligularis, Juss.) from Jeneponto against male mice (Mus musculus). This study is aims to prove aphrodisiac activity from extract passion fruit seed. Passion fruit seed (BM) was extracted with methanol. The aphrodisiac test was perform in male mice (Swiss-Webster) that were divided into 4 groups (3 mice each), negative control treated with NaCMC 1% (I), treated with extract 100 mg/kgBW (II), treated with extract 150 mg/kgBW (III), and treated with extract 200mg/kgBW (IV). The males behavior when the male climb the female (mounting) were recorded and analysed. The result using by spss program indicated that the highest aphrodisiac activity was demonstrated by group IV, mounting 13,57 times during 7 day.

DAFTAR ISI

halaman

HALAMAN PERSETUJUAN .................................................................... iiii HALAMAN PENGESAHAN ....................................................................... iv HALAMAN PERNYATAAN ........................................................................v UCAPAN TERIMA KASIH .......................................................................... vi ABSTRAK .................................................................................................. ix ABSTRACT .................................................................................................x DAFTAR ISI ............................................................................................... xi DAFTAR TABEL ...................................................................................... xiv DAFTAR GAMBAR ................................................................................... xv DAFTAR LAMPIRAN ............................................................................... xvi BAB I PENDAHULUAN .............................................................................. 1 BAB II TINJAUAN PUSTAKA..................................................................... 4 II.1 Uraian Tanaman .................................................................................. 4 II.1.1 Klasifikasi ......................................................................................... 4 II.1.2 Nama daerah .................................................................................... 4 II.1.3 Morfologi Tanaman ........................................................................... 4 II.1.4 Kandungan Kimia ............................................................................. 5 II.1.5 Kegunaan Tanaman ........................................................................ 6 II.2 Ekstraksi .............................................................................................. 6 II.2.1 Maserasi ........................................................................................... 7 xi

II.3 Organ Reproduksi Pria ........................................................................ 9 II.4 Proses Seksual .................................................................................. 10 II.5 Infertilitas............................................................................................ 12 II.5.1 Pengertian Infertilitas ...................................................................... 12 II.5.2 Disfungsi Seksual Pria .................................................................... 13 II.6 Afrodisiaka ......................................................................................... 16 II.6.1 Pengertian Afrodisiaka .................................................................... 16 II.6.2 Afrodisiaka Sintetik ......................................................................... 17 II.6.3 Mekanisme Kerja Afrodisiaka.......................................................... 19 II.7 Uraian Hewan Uji ............................................................................... 20 II.7.1 Sifat-Sifat Mencit ............................................................................. 20 II.7.2 Cara Pemilihan dan Penyiapan Mencit ........................................... 20 II.7.3 Cara Penanganan Mencit ............................................................... 21 II.7.4 Organ Reproduksi Mencit Jantan.................................................... 21 II.7.5 Fisiologi Reproduksi Mencit Jantan ................................................ 23 BAB III PELAKSANAAN PENELITIAN .................................................... 25 III.1 Alat dan Bahan ................................................................................. 25 III.2 Metode Kerja .................................................................................... 25 III.2.1 Pengambilan Sampel .................................................................... 25 III.2.2 Ekstraksi Sampel ......................................................................... 25 III.2.3 Pembuatan Bahan Penelitian......................................................... 26 III.2.3.1 Pembuatan Larutan Koloidal NaCMC 1% ................................... 26 III.2.3.2 Suspensi Ekstrak Metanol Biji 100 mg/kgBB .............................. 26 xii

III.2.3.3 Suspensi Ekstrak Metanol Biji 150 mg/kgBB .............................. 26 III.2.3.4 Suspensi Ekstrak Metanol Biji 200 mg/kgBB .............................. 26 III.3 Penyiapan Hewan Uji.. ...................................................................... 27 III.4 Perlakuan Terhadap Hewan Uji ........................................................ 27 III.5 Pengamatan ..................................................................................... 28 III.6 Pengumpulan dan Analisis Data ...................................................... 28 III.7 Pembahasan Hasil ........................................................................... 28 III.8 Pengambilan Kesimpulan ................................................................ 29 BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN ....................................................... 30 IV.1 Hasil Penelitian ................................................................................. 30 IV.2 Pembahasan .................................................................................... 32 BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ........................................................ 36 V.1 Kesimpulan ........................................................................................ 36 V.2 Saran ................................................................................................. 36 DAFTAR PUSTAKA ................................................................................. 37 LAMPIRAN............................................................................................... 41

xiii

DAFTAR TABEL

Tabel

halaman

1. Rendamen Ekstrak 2. Data Total Jantan Naik Betina (mounting) selama 7 hari 3. Gambaran Frekuensi Jantan Naik Betina (mounting) setelah pemberian perlakuan selama 7 hari 4. Data Harian Jantan Naik Betina (mounting) 5. Anova 6. Perbandingan Ganda Hasil Anova 7. Duncan

30 30

31 45 47 47 48

xiv

DAFTAR GAMBAR

Gambar

halaman

1. 2. 3. 4. 5. 6. 7.

Organ Reproduksi Pria Histogram rata-rata jantan naik betina (mounting) selama 7 hari Histogram frekuensi jantan naik betina (mounting) selama 7 hari Tanaman Markisa Ekstraksi Biji Markisa Mounting mencit jantan ke mencit betina Mounting mencit jantan ke mencit betina

10 31 32 49 49 50 50

xv

DAFTAR LAMPIRAN Lampiran Halaman

1. Skema Kerja 2. Perhitungan Dosis 3. Perhitungan Statistik 4. Gambar

41 43 45 49

xvi

BAB I PENDAHULUAN

Afrodisiaka dapat digambarkan sebagai beberapa zat yang dapat membantu dalam fertilisasi berupa makanan, obat, tindakan serta alat. Selain itu, rangsangan cahaya, sentuhan, bau, rasa (pengecapan) dan suara (pendengaran) bisa juga dikatakan sebagai afrodisiaka. Walaupun begitu, ada hal-hal yang tidak dapat dihindari salah satunya adalah infertilitas (1,2). Infertilitas merupakan masalah sosial dan medis yang terjadi pada kurang dari 10-15% pasangan suami istri. WHO memperkirakan bahwa sekitar 60-80 juta pasangan yang mengalami infertil, sehingga pasanganpasangan tersebut berusaha mengobatinya (3). Telah banyak obat diformulasikan sebagai stimulan seks dan untuk meningkatkan aktivitas seksual baik pada pria maupun wanita. Meskipun demikian, penggunaannya tetap menimbulkan efek samping. Penggunaan afrodisiaka sintetik secara terus menerus menunjukkan dilatasi pembuluh darah sehingga menyebabkan rasa sakit kepala, pusing, dan pingsan. Apabila digunakan terus menerus dengan dosis yang tinggi, dapat pula menyebabkan muka menjadi merah, pandangan kabur, dan sensitif terhadap cahaya (4). Sehingga, afrodisiaka dari tanaman atau herbal yang berlawanan dengan bahan sintetis mulai dipertimbangkan dalam pengobatan. Salah satu pemanfaatan tumbuhan obat adalah sebagai afrodisiaka oleh

masyarakat Kabupaten Jeneponto, Provinsi Sulawesi Selatan. Tumbuhan obat yang digunakan untuk meningkatkan vitalitas seksual pada kaum pria adalah biji buah markisa (3). Markisa merupakan tanaman budidaya yang umumnya

mengandung fitokonstituen berupa senyawa alkaloid, fenol, glikosida, flavonoid, sianogenik, passiflorisin, poliketida, dan -piron. Pada

umumnya tumbuhan atau tanaman yang berkhasiat sebagai afrodisiaka mengandung senyawa-senyawa turunan sterol, saponin, alkaloid, tannin, dan senyawa lain yang berkhasiat sebagai penguat tubuh dan memperlancar peredaran darah. Sehingga, penggunaan markisa sebagai afrodisiaka patut dilakukan pemeriksaan (5,6). Ingale et al. menyatakan bahwa senyawa chrysine yang diisolasi dari ekstrak bunga markisa jenis Passiflora caetulea mempunyai aktivitas sebagai antiansietas ketika diinjeksikan pada tikus dengan dosis 1mg/kgBB, sedangkan Ichimura mengemukakan bahwa ekstrak metanol markisa jenis Passiflora edulis dapat menunjukkan efek antihipertensi pada dosis per oral 10mg/kgBB. Patel, DK et al, mengemukakan bahwa ekstrak metanol markisa jenis Passiflora incarnata menunjukkan aktivitas afrodisiaka tertinggi pada dosis 100mg/kgBB p.o pada mencit jantan. Adapun penelitian terhadap markisa jenis Passiflora ligularis,

menunjukkan adanya aktivitas antibakteri baik pada gram positif dan gram negatif (7,8).

Berdasarkan uraian di atas, maka permasalahan yang timbul adalah bagaimana efek afrodisiaka terhadap berbagai ekstrak biji markisa (Passiflora ligularis Juss.) terhadap mencit jantan dengan melihat parameter frekuensi jantan naik betina (mounting) (9).

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

II.1 Uraian Tanaman II.1.1 Klasifikasi Tanaman (10,11) Kerajaan Divisi Anak divisi Kelas Anak Kelas Bangsa Suku Marga Jenis : Plantae : Spermatophyta : Angiospermae : Dicotyledoneae : Dialypetalae : Sapindales : Passifloraceae : Passiflora : Passiflora ligularis, Juss.

II.1.2 Nama Daerah (12,13) Nama daerah markisa antara lain buah negri (Jawa), paksi (Sunda), konyal (Jawa Barat), areuy pasi, buah monyet, granadilla (Amerika Selatan), maracuya (Spanyol), dan markisa (Melayu).

II.1.3 Morfologi (10) Markisa (Passiflora ligularis, Juss.) merupakan herba berkayu, mamanjat, berakar tunggang, memiliki batang segi empat, dan ada sulur

yang keluar dari ketiak daun. Daun tunggal tersebar, bangun daun bulat telur memanjang, pertulangan daun menjari, serta ada daun penumpu (stipula) yang berukuran kecil. Pangkal daun berbentuk jantung bertaju tiga, permukaan daun licin, tepi daun bergigi tidak dalam dan runcing. Bunga keluar dari ketiak daun, hermaprodit, mahkota bunga berlepasan, dan ada mahkota tambahan. Bakal buah menumpang, buah buni, biji berarellus berwarna kuning, kulit buah yang masih muda berwarna hijau, hijau keunguan, setelah masak berwarna kuning tua. Panjang buah 9 cm, tebal kulit buah 1 cm, dan ada tiga daun buah membentuk satu ruang. Dialypetalae artinya mahkota bunga berlepasan, tanaman markisa konyal termasuk famili Passifloraceae artinya markisa-markisaan.

II.1.4 Kandungan Kimia (5,14) Markisa merupakan tanaman budidaya yang umumnya mengandung fitokonstituen berupa senyawa alkaloid, fenol, glikosida, flavonoid,

sianogenik, passiflorisin, poliketida, dan -piron. Markisa (Passiflora ligularis, Juss.) mengandung karotenoid 1,16% pada varietas ungu, 0,06% pada varietas kuning; flavonoid 1,06% pada ungu, 1% pada kuning; alkaloid (terutama harman yang dapat mengurangi cemas) 0,01% pada ungu, 0,70% pada kuning. Di dalam sari buah markisa terdeteksi 7 alkaloid, empat diantaranya telah teridentifikasi yaitu harman, harmol, harmin dan harmalin.

II.1.5 Kegunaan Tanaman (8,14,15) Di negara asalnya Brazilia, tanaman markisa telah berabad-abad digunakan dalam ramuan tradisional, daun markisa digunakan sebagai sedatif, sedangkan sari buahnya sebagai heart tonic. Satu cangkir seduhan daun atau dua gelas sari buah secara alamiah dapat menenangkan anak sangat hiperaktif (autis). Minuman yang dibuat dari bunga markisa biasa digunakan untuk mengobati asma, batuk dan bronkhitis. Di Peru, negara di Amerika Latin juga menggunakan sari buah markisa untuk mengobati infeksi saluran kencing dan sebagai diuretik. Juga diinformasikan bahwa minyak biji buah markisa telah digunakan sebagai obat alami untuk relaksasi, sebagai depresan SSP. Buah markisa dapat mengurangi ketegangan otot,

menurunkan cemas, sakit kepala, kejang otot dan spasme, serta menurunkan tekanan darah, sedangkan daunnya bagus untuk insomnia. Selain itu markisa juga memiliki daya anti bakteri serta dapat pula untuk mengobati malaria. II.2 Ekstraksi Ekstraksi merupakan proses pemisahan bahan dari campurannya dengan menggunakan pelarut. Jadi, ekstrak adalah sediaan yang diperoleh dengan cara ekstraksi tanaman obat dengan ukuran pertikel tertentu dan menggunakan medium pengekstrasi (menstrum) yang tertentu pula. Ekstraksi dapat dilakukan menurut berbagai cara. Ekstrak yang diperoleh sesudah pemisahan cairan dari residu tanaman obat dinamakan micela. Micelle ini

dapat diubah menjadi bentuk obat siap pakai, seperti ekstrak cair dan tinktura atau sebagai produk/bahan antara yang selanjutnya dapat diproses menjadi ekstrak kering.(16) II.2.1 Maserasi Proses maserasi merupakan proses sederhana untuk mendapatkan ekstrak dan diuraikan dalam kebanyakan farmakope. Cara ini sesuai, baik untuk skala kecil maupun skala industri. Proses yang paling sederhana hanya menuangkan pelarut pada simplisia. Sesudah mengatur waktu sehingga sesuai untuk tiap tiap bahan tanaman (simplisia), ekstrak dikeluarkan, dan ampas hasil ekstraksi dicuci dengan pelarut yang segar sampai didapat berat yang sesuai. Prosedur ini sama dengan pembuatan tingtur atau ekstrak khusus, dan kadang kadang merupakan satu satunya prosedur untuk tanaman yang mengandung zat berlendir (musilago) tinggi. Sebetulnya cara ini tidak begitu berguna karena tidak pernah dapat menarik zat berkhasiat dari tanaman secara sempurna. Ampas menahan sejumlah besar solute, yang untuk perolehanya harus dilakukan proses pemerasan (penekanan) atau cara sentrifugasi (16). Maserasi pada umumnya dilakukan dengan cara: 10 bagian simplisia dengan derajat halus yang cocok dimasukkan ke dalam bejana, kemudian dituangi dengan 75 bagian cairan penyari, sambil berulang-ulang diaduk. Setelah 3-5 hari sari diserkai, ampas diperas. Ampas ditambah cairan penyari secukupnya diaduk dan diserkai, sehingga diperoleh seluruh sari sebanyak

100 bagian. Bejana ditutup, dibiarkan di tempat sejuk, terlindung dari cahaya, selama 2 hari. Kemudian endapan dipisahkan. Maserasi dapat dimodifikasi misalnya: Digesti, adalah maserasi dengan pemanasan lemah, yaitu pada suhu 40-500C. Hanya untuk simplisia yang zat aktifnya tahan pemanasan. Dengan adanya pemanasan, kekentalan pelarut berkurang, yang dapat mengakibatkan berkurangnya lapisan-lapisan pembatas. Selain itu keuntungan yang diperoleh adalah daya melarutkan cairan penyari akan meningkat, sehingga pemanasan tersebut mempunyai pengaruh yang sama dengan pengadukan. Keuntungan lainnya adalah koefisien difusi berbanding lurus dengan suhu absolut dan berbanding terbalik dengan kekentalan, hingga kenaikan suhu akan berpengaruh pada kecepatan difusi. Umumnya kelarutan zat aktif akan meningkat bila suhu dinaikkan. Maserasi dengan mesin pengaduk, yaitu dengan mesin yang terus berputar, maserasi dapat dipersingkat 6-24 jam. Remaserasi, dimana cairan penyari dibagi 2. Seluruh serbuk simplisia dimaserasi dengan cairan penyari pertama, sesudah

diendaptuangkan, ampas disari lagi dengan cairan penyari kedua. Maserasi melingkar. Dengan cara ini, penyari selalu mengalir kembali secara berkesinambungan melalui serbuk simplisia dan melarutkan zat

aktifnya. Adapun keuntungan yang dapat diperoleh antara lain, aliran cairan penyari mengurangi lapisan batas, cairan penyari akan didistribusikan secara seragam, sehingga akan memperkecil

kepekatan setempat, dan waktu yang diperlukan lebih singkat. Maserasi melingkar bertingkat, hampir sama dengan maserasi melingkar. Hanya saja, bejana penampungnya lebih dari 1, atau disesuaikan. Keuntungannya adalah cara penyarian dengan maserasi adalah cara pengerjaan dan peralatan yang digunakan lebih sederhana dan mudah diusahakan. Kerugian cara maserasi adalah pengerjaannya lama dan penyariannya kurang sempurna (17, 18).

II.3 Organ Reproduksi Pria Alat reproduksi pada pria terdiri dari beberapa organ yang

berhubungan, yaitu testis adalah organ kelamin pria tempat pembentukan spermatozoa serta penghasil testosteron. Epididimis adalah organ kecil yang terkait pada testis dan terletak di belakang testis. Vas deferens adalah sebuah saluran yang berjalan dari bagian bawah epididimis, naik di belakang testis masuk ke dalam pelvis. Vesikula seminalis atau kandung mani adalah dua buah kelenjar tubuler yang terletak kanan dan kiri di belakang leher kandung kemih. Kelenjar prostat kira-kira sebesar buah kenari besar, terletak

10

di bawah kandung kemih, mengelilingi uretra dan terdiri atas kelenjar majemuk, saluran-saluran saluran dan otot polos. Skrotum adalah sebuah struktur berupa kantong yang terdiri atas kulit tanpa lemak sub kutan, berisi sedikit jaringan otot. Penis atau zakar, tempat muara uretra. Kulit pembungkus p glan penis adalah preputum atau kulum (19). (

Gambar 1. Organ Reproduksi Pria (sumber: Pearce, Evelyn C. Anatomi dan Fisiologi untuk Paramedis. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta. 2009) (19)

II.4 Proses Seksual Seksualitas merupakan sesuatu yang komplek, berhubungan dengan sudut pandang biologis, fisiologi, interpersonal, dan behavioural (kebiasaan). Perilaku seksual pada tikus jantan terdiri dari tiga tahap, yaitu: mount (tunggangan) adalah posisi posisi bersetubuh, tetapi penis belu dimasukkan ke dalam vagina. Tahap kedua adalah intromission (intromisi), yaitu penis masuk

11

ke dalam vagina saat tunggangan. Ejaculation (ejakulasi) adalah pemancaran semen (20). Proses seksual pria dapat diklasifikasikan menjadi tiga. Klasifikasi pertama menyebutkan bahwa respon psychosexual terdiri dari empat tahap: excitement, plateau, orgasme dan resolusi. Klasifikasi kedua berdasarkan pada perubahan penodynamic, yaitu psycosexual dibagi menjadi latency dan tumescence; plateau dibagi menjadi ereksi dan rigiditas; orgasme dibagi menjadi emisi dan ejakulasi; resolusi dibagi menjadi detumescence dan refractoriness. Klasifikasi ketiga berdasarkan pada aktivitas fungsional selama siklus seksual, yaitu libido, ereksi, ejakulasi, orgasme, dan detumescence (20). 1) Libido Libido adalah hasrat atau dorongan yang bersifat produktif, konstruktif serta bertujuan kepada integrasi (penyempurnaan yang menyeluruh), bersifat seksual, dan dapat dipengaruhi dengan cara hormonal maupun non hormonal (1). Libido merupakan kebutuhan biologis atas rangsangan seksual dan sering kali ditandai sebagai perilaku seksual (20). 2) Ereksi Ereksi adalah kondisi pembesaran dan kekakuan penis yang telah mencapai puncak untuk penetrasi ke dalam vagina. Sewaktu jaringan erektil penis terisi darah, vena mengalami tekanan dan aliran keluar terhambat sehingga turgor organ bertambah. Ereksi dapat timbul karena rangsangan

12

psikogenik dan sensoris, berupa imajinasi, visual, audio, penciuman, dan genital reflexogenic (20,21). 3) Ejakulasi Ejakulasi adalah proses refleks spinal yang meliputi dua tahap. Tahap pertama, emisi yaitu pergerakan semen ke dalam uretra. Tahap kedua, ejakulasi sebenarnya yaitu terdorongnya semen keluar uretra pada saat orgasme (19). Semen adalah ejekulat yang berasal dari seorang pria berupa cairan kental dan keruh, berisi secret dari kelenjar prostat, kelenjar lain dan spermatozoa (22). 4) Orgasme Orgasme merupakan puncak dari aktivitas seksual (20). 5) Detumescence Detumescence adalah penurunan penis setelah ejekulasi. Bagian tubuh yang mengalami perubahan akibat perangsangan dan peningkatan setelah tahap orgasme akan berangsur-angsur kembali normal (1).

II.5 Infertilitas II.5.1 Pengertian Infertilitas Infertilitas berarti ketidakmampuan hamil atau menyebabkan

kehamilan. Infertilitas merupakan masalah yang lazim ditemui pada pasangan suami istri. Suatu pasangan dapat dikatakan infertil apabila kehamilan tidak terjadi setelah satu tahun melakukan koitus normal dan tidak

13

menggunakan kontrasepsi apapun. Masalah-masalah infertilitas total atau sebagian pada pria adalah 40% sampai 50%, faktor pada wanita 40%, dan faktor yang tidak diketahui sekitar 10% dari kasus yang ditemui. Faktor-faktor pada pria termasuk frekuensi koitus, masalah insersi penis, abnormalitas anatomi dari sistem reproduksi, defisiensi nutrisi berat, gangguan psikologis, dan kebiasaan sosial seperti penyalahgunaan alkohol atau obat-obatan. Faktor-faktor pada wanita termasuk segala hal yang mengganggu perkembangan ovum yang sehat, implantasi pada uterus, dan pertumbuhan serta kelahiran normal bayi. Faktor-faktor lain yang terlibat adalah setiap hal yang mengganggu penyimpanan sperma dalam vagina atau sperma lewat melalui vagina, serviks, uterus, dan tuba ke ovum. Selain itu, defisiensi nutrisi, gangguan endokrin, masalah psikologis, dan keadaan penyakit kronik, reaksi imunologi terhadap sperma dapat menjadi faktor umum penyebab infertilitas. Frekuensi koitus dan kesulitan mencapai atau mempertahankan ereksi serta kebiasaan mengkonsumsi alhokol dan obatobatan dapat pula menjadi faktor-faktor penting yang menyebabkan infertilitas. (23,24)

II.5.2 Disfungsi Seksual Pria (1) Disfungsi seksual dapat disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain : 1) Gangguan psikologi : perasaan cemas, depresi, stres, takut akan kegagalan seksual.

14

2) 3) 4) 5) 6)

Defisiensi androgen : defisiensi testosteron, hiperprolactinemia. Penyakit kronis : diabetes mellitus, hipertensi. Insufisiensi vaskuler : aterosklerosis, venous leakage. Penyakit penile : Peyronies, priapism, phinosis, disfungsi otot polos. Penyakit neurologi : Parkinsons disease, stroke, trauma otak, Alzheimers disease.

7)

Obat-obatan

efek

samping

dari

antihipertensi,

antiulcer,

antidepresan, dan antiandrogen. 8) 9) 10) Gaya hidup : konsumsi alkohol kronis, merokok. Penuaan : penurunan jumlah hormon. Penyakit sistemik : penyakit kardiovaskuler, hati, ginjal, kanker, metabolik, pasca transplantasi organ. Disfungsi seksual dapat diklasifikasikan menjadi : 1) Gangguan gairah seksual Disfungsi ini meliputi gairah seksual hipoaktif, yaitu berkurang atau tidak munculnya fantasi seksual dan hasrat untuk melakukan aktivitas seksual, dan gairah seksual kompulsif (20). 2) Disfungsi ereksi Disfungsi ereksi adalah kesulitan mencapai kondisi penetrasi. Hal ini setidaknya terjadi 50% dari aktivitas seksual selama rentang waktu enam bulan.

15

3)

Gangguan ejakulasi a) Ejakulasi prematur Ejakulasi prematur merupakan disfungsi seksual yang paling umum

terjadi pada laki-laki. Dapat diikuti oleh ejakulasi dengan rangsangan seksual yang minim secara persisten atau temporal yang terjadi sebelum, ketika, atau setelah penetrasi dan sebelum seseorang menginginkan hal tersebut; sulit dalam berkomunikasi; serta kondisi yang tidak muncul sebagai efek langsung dari suatu obat. b) Ejakulasi nyeri Ejakulasi yang terjadi sebagai efek samping dari antidepresan trisiklik, yaitu nyeri pada organ genital selama atau sekejap setelah ejakulasi. c) Ejakulasi yang terhambat yaitu ejakulasi tidak terjadi sepenuhnya. d) Ejakulasi retrograde Terjadi saat ejakulasi dipaksa kembali ke dalam testis daripada melewati uretra untuk dikeluarkan penis pada waktu orgasme. 4) Gangguan orgasme Gangguan orgasme adalah penundaan secara persisten atau temporal, atau tidak terjadi orgasme selama aktivitas seksual. 5) Kegagalan detumescence Kegagalan detumescence adalah perpanjangan waktu ereksi,

biasanya berakhir sekitar empat jam atau lebih (20).

16

II.6 Afrodisiaka II.6.1 Pengertian Afrodisiaka (1,2,20) Afrodisiaka adalah semacam zat perangsang yang konon dapat meningkatkan gairah seks. Afrodisiaka berasal dari kata Aphrodite dalam mitologi Yunani yang berarti dewi cinta (seksual), kecantikan, dan kesetiaan. Afrodisiaka didefinisikan sebagai substansi yang mampu meningkatkan dorongan dan kepuasan seksual, berupa makanan, obat, tindakan serta alat. Rangsangan cahaya, sentuhan, bau, rasa (pengecapan) dan suara (pendengaran) bisa juga dikatakan sebagai afrodisiaka. Berdasarkan mekanisme aksinya afrodisiaka dapat dibagi menjadi tiga: 1) Afrodisiaka yang menyediakan nilai gizi, sehingga mampu

meningkatkan kesehatan atau kebugaran, akibatnya performa seksual dan libido mengalami peningkatan. Contoh, dalam tradisi orang-orang Cina menggunakan tanduk badak sebagai afrodisiaka, sebab tanduk badak terdiri dari jaringan serabut yang mengandung kalsium dan fosfat. Defisiensi kalsium dan fosfat dapat menyebabkan lemah otot dan tubuh terasa lelah, sedangkan penggunaan dosis tinggi kalsium dan fosfat dapat meningkatkan stamina. 2) Afrodisiaka yang mempengaruhi efek psikologi secara spesifik. Afrodisiaka mempengaruhi aliran darah, gairah seksual dan

meningkatkan durasi aktivitas seksual. Contoh: bahan aktif pada Spanish fly,

17

kristal lakton dan cantharidin yang diberikan secara topical menimbulkan gairah seksual luar biasa, karena dilaporkan bahwa Spanish fly bisa meningkatkan aliran darah di dalam tubuh. Beberapa penelitian awal menunjukkan bahwa tumbuhan afrodisiaka mengandung senyawa-senyawa saponin, alkaloid, tannin dan senyawa senyawa lain yang secara fisiologis dapat melancarkan peredaran darah pada sistem saraf pusat (serebal) atau sirkulasi darah tepi (perifer). Efek meningkatkan sirkulasi darah ini terjadi juga pada genital pria. Peningkatan sirkulasi darah akan memperbaiki fungsi organ. Obat-obat lain yang mempunyai efek psikologis digunakan untuk memperpanjang ereksi, membantu membatasi pengaruh dari sistem saraf simpatetik. Contoh: Sildenafil citrate (Viagra), dan yohimbe dari Pausinystalia yohimbe 3) Afrodisiaka yang aktif secara biologis adalah afrodisiaka yang alami

aktif secara psikologi. Afrodisiaka dapat melewati sawar darah otak dan menstimulasi beberapa perangsang seksual. Contoh: hormon, pheromone dan berbagai macam neurotransmitter.

II.6.2 Afrodisiaka Sintetik II.6.2.1 Sildenafil (25,26) Sildenafil pada mulanya ditujukan sebagai vasodilator koroner pada angina pektoris. Efek vasodilatasinya terhadap miokard kurang memuaskan, tetapi efektif untuk memelihara ereksi selama beberapa jam. Mekanisme

18

kerjanya berdasarkan penghambatan enzim fosfodiesterase (PDE) dengan jalan memblokir reseptornya di badan pengembang, sehingga cGMP terhambat penguraiannya dan ereksi diperpanjang. Karena tidak

menstimulasi pembentukan cGMP, melainkan hanya memperkuat dan memperpanjang daya kerjanya, sildenafil tidak efektif jika belum terdapat stimulasi atau eksitasi seksual. Dosis yang digunakan 25-100mg (sebagai sitrat) 1 jam sebelum aktivitas seksual, maksimal sekali dalam sehari. Resorpsinya dari usus cepat dengan bioavaibilitas 41% dan efeknya sudah tampak setelah kurang lebih 20 menit. Kadar puncak dicapai setelah 0,5-2jam. Dalam hati dirombak oleh enzim CYP3A4 menjadi N-

desmetilsildenafil dengan aktivitas 50% dan waktu paruh 4 jam. Eksresinya sebagai metabolit terutama melalui feses (80%) dan urin (13%). Efek samping umumnya bersifat singkat dan tergantung dari dosis. Paling sering timbul ialah sakit kepala, muka merah, gangguan penglihatan, dan mual. Semua efek ini berkaitan dengan blokade PDE yang terdapat di seluruh tubuh. Selain itu, dapat pula mengakibatkan hilangnya kesadaran akibat turunnya tekanan darah yang terlalu drastis, terutama bila dikombinasi dengan nitrogliserin atau antihipertensi lainnya. Obat ini dikontra-indikasikan pemakaiannya bersama dengan obat yang juga dirombak oleh enzim CYP3A4, seperti simetidin, ketokonazol, itrakonazol, eritromisin dan obat anti-HIV penghambat protease.

19

II.6.2.2 Apomorfin (25,26) Penggunaan apomorfin memiliki mekanisme kerja yang sama dengan sildenafil, yakni melalui neurotransmitter nitrogenoksida (NO) yang

mendorong produksi cGMP. Setelah penggunaan sublingual kadarnya dalam darah memuncak dalam 40-60 menit dan ereksi dapat terjadi setelah 20 menit dengan waktu paruh 3 jam. Efek samping utama adalah mual, sakit kepala, dan pusing. Efek samping lainnya berupa rasa kantuk, menguap, batuk, pilek, dan sakit tenggorokan. Penderita penyakit jantung dan hipotensi tidak dianjurkan minum apomorfin. Dosis yang digunakan 2mg sublingual dilarutkan di bawah lidah kurang lebih 20 menit menjelang aktivitas seksual. Bila perlu dosis dapat ditingkatkan sampai 3mg. Dosis kedua dapat diminum setelah 8 jam.

II.6.3 Mekanisme Kerja Afrodisiaka Ereksi terjadi karena pada eksitasi seksual saraf-saraf otak

memberikan sinyal ke penis yang melepaskan sejumlah neurotransmitter oleh semua sel dinding pembuluh di badan pengembangnya, antara lain nitrogenoksida (NO). Gas neurotransmitter ini berperan penting pada ketahanan umum serta imunomodulasi dan dengan demikian terlibat pada banyak gangguan peradangan. Antara lain NO mengaktifkan enzim guanylatcyclase yang menstimulir perubahan GTP (guanyltriphosphate)

20

menjadi cGMP (cyclic guanyl-monophosphate). Secara biokimiawi ereksi bercirikan adanya keseimbangan antara cGMP dan enzim PDE-5

(phosphodiesterase tipe-5) yang menguraikan cGMP menjadi 5GMP. Apabila terjadi ketidakseimbangan antara cGMP dan PDE, obat-obat afrodisiaka membantunya dengan cara menghambat enzim PDE sehingga cGMP penguraiannya terhambat dan ereksi diperpanjang (25).

II.7 Uraian Hewan Uji II.7.1 Sifat-Sifat Mencit Mencit (Mus musculus) adalah hewan pengerat (rodentia) yang cepat berkembang biak, mudah dipelihara dalam jumlah banyak, variasi genetiknya cukup besar serta sifat anatomi dan fisiologinya terkarakterisasi dengan baik. Mencit hidup dalam daerah yang luas penyebarannya mulai dari iklim dingin, sedang maupun panas dan dapat hidup terus menerus dalam kandang atau secara bebas sebagai hewan liar. Mencit dapat mengapai umur 2-3 tahun. Mencit paling banyak digunakan di laboratorium untuk berbagai penelitian dan yang sering digunakan adalah mencit albino Swiss (27). II.7.2 Cara Pemilihan dan Penyiapan Mencit Hewan yang digunakan harus sehat, tidak menunjukkan kelainan yang berarti. Mencit yang digunakan adalah mencit albino dengan berat 20-35 g. Sekurang-kurangnya dua minggu sebelum pengujian, hewan sudah harus dipelihara dan dirawat sebaik-baiknya (27).

21

II.7.3 Cara Penanganan Mencit Mencit bila diperlakukan dengan halus akan mudah dikendalikan. Sebaliknya bila diperlakukan dengan kasar, mereka akan menjadi agresif dan bahkan menggigit. Mencit dapat dikekang dengan cara memegang ekornya dengan jari atau pinset yang ujungnya dilapisi karet, sedangkan tangan kanan memegang bagian leher (27). Untuk tujuan penyuntikan dan pemeriksaan mencit diangkat ekornya lalu ditempatkan pada permukaan kasar sehingga mencit terdiam karena kakinya berpegang pada permukaan kasar tersebut. lalu tangan yang satu memegang punggung dan leher (27). II.7.4 Organ Reproduksi Mencit Jantan (28) Testis merupakan salah satu organ yang penting dalam reproduksi jantan. Testis berfungsi untuk memproduksi sperma dan hormon reproduksi yaitu testosteron. Wischnitzers (1967) menyatakan bahwa testis terdiri dari sepasang gonad yang berbentuk oval. Testis dibungkus skrotum yang terdiri dari tiga atau empat lapisan. Lapis superficial kulit, dibawahnya terdapat lapis fibrosa dan jaringan otot yaitu tunica dartos dibawahnya terdapat tunica vaginalis yang menutupi dinding skrotum (Hartono, 1988). Bagian dalam testis terdapat lobuli-lobuli yang didalamnya terdiri dari saluran-saluran kecil yang bergulung yang disebut tubulus seminiferus yang menghasilkan dan berisi spermatozoa. Dinding tubulus seminiferus terdiri dari dua tipe sel yaitu sel yang memproduksi sperma dan sel pendukung yang memproduksi cairan

22

sumber makanan sperma. Sel-sel pendukung tersebut dikenal sebagai sel sertoli. Disamping itu, terdapat sel interstitialyang berada diantara tubulus seminiferus yang memproduksi hormon testosteron. Organ kopulatoris hewan jantan, penis, mempunyai tugas ganda yaitu pengeluaran urin dan peletakan semen ke dalam saluran reproduksi hewan betina. Penis terdiri dari akar, badan dan ujung bebas yang berakhir pada kepala penis. Badan penis terdiri dari corpus cavernosum penis yang relatif besar dan diselaputi oleh suatu selubung fibrosa tebal berwarna putih, tunica albuginea. Di bagian ventral terdapat korpus kavernikum uretra, suatu struktur yang relatif lebih kecil yang mengelilingi uretra. Epididimis adalah suatu struktur memanjang yang bertaut rapat dengan testis. Ia mengandung ductus epididimidis yang sangat berliku-liku. Epididimis dapat dibagi atas kepala, badan dan ekor (Toelihere, 1985). Epididimis terletak dibagian permukaan dorsal testis. Organ tersebut terdiri dari tubulus-tubulus yang bersambung dari testis melalui ductus efferentes yang lembut (Wischnitzers, 1967). Secara makroskopis dibedakan adanya kepala (caput), badan (corpus) dan ekor (cauda) epididimis. Epididimis berfungsi untuk pematangan spermatozoa dan untuk menyimpan

spermatozoa yang sudah matang (dewasa). Saluran epididimis dan vas deferens juga berfungsi untuk transpor spermatozoa. Vas deferens atau ductus deferens adalah saluran yang berliku-liku yang berjalan sejajar dengan epididimis yang mengangkut sperma dari ekor

23

epididimis ke uretra. Dindingnya mengandung otot-otot licin yang penting dalam mekanisasi pengangkutan semen waktu ejakulasi. Fungsi vas deferens adalah untuk transportasi spermatozoa. Kedua vas deferens yang terletak bersebelahan diatas vesica urinaria lambat laun akan menebal dan membesar membentuk ampula. Penebalan ampula disebabkan karena banyak terdapat kelenjar pada dinding saluran. Kelenjarkelenjar ini bersifat tubuler dan secara histologis sangat mirip dengan struktur kelenjar vesicularis. II.7.5 Fisiologi Reproduksi Mencit Jantan (28) Sistem reproduksi mencit jantan terdiri atas testis dan kantong skrotum, epididimis dan vas deferens, sisa sistem ekskretori pada masa embrio yang berfungsi untuk transport sperma, kelenjar aksesoris, uretra dan penis. Selain uretra dan penis, semua struktur ini berpasangan. Epididimis adalah tuba terlilit yang panjangnya mencapai 20 kaki (4 m sampai 6 m). Epididimis terletak pada bagian dorsolateral testis, merupakan suatu struktur memanjang dari bagian atas sampai bagian bawah testis. Organ ini terdiri dari bagian kaput, korpus dan kauda epididimis. Bagian ini menerima sperma dari duktus eferen. Spermatozoa bergerak dari tubulus seminiferus lewat duktus eferen menuju kepala epididimis. Epididimis merupakan pipa dan berkelok-kelok yang menghubungkan vas eferensia pada testis dengan duktus eferen (vas deferen). Kepala epididimis melekat pada bagian ujung dari testis dimana

24

pembuluh-pembuluh darah dan saraf masuk. Badan epididimis sejajar dengan aksis longitudinal dari testis dan ekor epididimis selanjutnya menjadi duktus deferen yang rangkap dan kembali ke daerah kepala. Epididimis berperan sebagai tempat untuk pematangan spermatozoa sampai pada saat spermatozoa dikeluarkan dengan cara ejakulasi. Spermatozoa belum matang ketika meninggalkan testikel dan harus mengalami periode pematangan di dalam epididimis sebelum mampu membuahi ovum. Jika spermatozoa terlalu banyak ditimbun, seperti oleh abstinensi (tak ejakulasi) yang lama atau karena sumbatan pada saluran keluar, sel epididimis dapat bertindak fagositosis terhadap spermatozoa. Spermatozoa itu kemudian berdegenerasi dalam dinding epididimis. Pada orang vasektomi, epididimis juga berperan untuk memphagocytosis spermatozoa yang tertimbun terus-menerus (di samping makrofag). Terbukti spermatozoa yang diambil dari daerah kaput dan korpus tak fertil, sedang yang diambil dari daerah kauda fertil; sama halnya dengan spermatozoa yang terdapat dalam ejakulat.

BAB III PELAKSANAAN PENELITIAN

III.1 Penyiapan Alat dan Bahan Alat yang digunakan adalah bejana maserasi, gelas Erlenmeyer 50ml (Pyrex), gelas tentuukur 100ml (Pyrex), gelas ukur 25ml (Pyrex), cawan porselin, spoit oral, kandang mencit, timbangan hewan (Denver), timbangan analitik (Sartorius), rotavapor (Buchii). Bahan yang digunakan adalah aqua destillata, ekstrak biji markisa (Passiflora ligularis), metanol, NaCMC.

III.2 Metode Kerja III.2.1 Pengambilan Sampel Sampel biji markisa (Passiflora ligularis Juss.) diperoleh dari Kecamatan Kelara, Kabupaten Jeneponto, Sulawesi Selatan. Buah kemudian dibelah, diambil dan dikeringkan bijinya. III.2.2 Ekstraksi Sampel Metode ekstraksi yang dilakukan adalah metode maserasi. Sampel biji markisa (Passiflora ligularis Juss.) dikeringkan di oven hingga diperoleh biji kering, lalu diblender. Selanjutnya, ditimbang sebanyak 100g. Setelah itu, diekstraksi secara maserasi dengan pelarut metanol, sebanyak 750ml dan dibiarkan 3x24 jam sambil sesekali diaduk. Kemudian diremaserasi kembali hingga diperoleh ekstrak.

25

26

III.2.3 Pembuatan Bahan Penelitian III.2.3.1 Pembuatan Larutan Koloidal Natrium CMC 1% Sebanyak 0,5g Natrium CMC dimasukkan sedikit demi sedikit ke dalam 50ml air suling panas (700C) sambil diaduk dengan pengaduk elektrik hingga terbentuk larutan koloidal dan dicukupkan volumenya dengan air suling hingga 100ml. III.2.3.2 Suspensi Ekstrak Metanol Biji 100 mg/kg BB Sebanyak dosis 100 mg/kg BB ekstrak metanol ditimbang kemudian digerus di lumpang, ditambah 10ml larutan koloidal NaCMC 1% sedikit demi sedikit sambil digerus hingga homogen. Sediaan yang homogen dimasukkan dalam labu tentuukur 25ml dan volume dicukupkan hingga 25ml dengan larutan koloidal NaCMC 1%. III.2.3.3 Suspensi Ekstrak Metanol Biji 150 mg/kg BB Sebanyak dosis 150 mg/kg BB ekstrak metanol ditimbang kemudian digerus di lumpang, ditambah 10ml larutan koloidal NaCMC 1% sedikit demi sedikit sambil digerus hingga homogen. Sediaan yang homogen dimasukkan dalam labu tentuukur 25ml dan volume dicukupkan hingga 25ml dengan larutan koloidal NaCMC 1%. III.2.3.4 Suspensi Ekstrak Metanol Biji 200 mg/kg BB Sebanyak dosis 200 mg/kg BB ekstrak metanol ditimbang kemudian digerus di lumpang, ditambah 10ml larutan koloidal NaCMC 1% sedikit demi

27

sedikit sambil digerus hingga homogen. Sediaan yang homogen dimasukkan dalam labu tentuukur 25ml dan volume dicukupkan hingga 25ml dengan larutan koloidal NaCMC 1%.

III.3

Penyiapan Hewan Uji Hewan uji yang digunakan adalah mencit (Mus musculus) sebanyak

30 ekor, dan dikelompokkan dalam 4 kelompok. Masing-masing kelompok terdiri dari 3 ekor mencit jantan dan 3 ekor mencit betina yang dewasa berumur 2-4 bulan, sehat, bersih, dan aktivitas normal, dengan bobot badan rata-rata 20-30 g. diadaptasikan di lingkungan sekitar 1-2 minggu (29,30).

III.4

Perlakuan Terhadap Hewan Uji Setiap mencit ditimbang bobot badannya kemudian dibagi menjadi 5

kelompok perlakuan secara acak. Sebelum dilakukan perlakuan, hewan coba berkelamin betina dibuat sehingga mengalami fase estrus. Mencit jantan dibagi dalam 5 kelompok perlakuan yang akan diberi ekstrak, kelompok I sebagai kontrol negatif diberikan larutan koloidal NaCMC 1% sebagai plasebo, mencit grup perlakuan diberi suspensi ekstrak metanol biji 100 mg/kg BB ( kelompok II), diberi suspensi ekstrak metanol biji 150 mg/kg BB (kelompok III), dan diberi suspensi ekstrak metanol biji 200 mg/kg BB (kelompok IV). Pemberian dilakukan secara per oral sekali sehari selama 7

28

hari berturut-turut. Pengamatan aktivitas afrodisiaka dilakukan pada selama 7 hari pemberian secara per oral kepada mencit berkelamin jantan.

III.5

Pengamatan Diamati kecepatan aktivitas afrodisiaka yaitu dengan melihat frekuensi

JNB setelah pemberian ekstrak. Pengamatan dilakukan selama 3 jam dimulai dari 15 menit setelah awal pemberian ekstrak, dengan cara menghitung frekuensi JNB yang terjadi pada waktu mencit jantan menunggangi mencit betina (29).

III.6

Pengumpulan dan Analisis Data Pengumpulan data dilakukan terhadap hewan uji yang setelah

memperlihatkan

aktivitas

afrodisiaka dalam

setiap kelompok

pemberian beberapa ekstrak markisa (Passiflora ligularis ,Juss.) secara per oral, data diambil berdasarkan hasil pengamatan. Data yang diperoleh dari hasil pengamatan dianalisis secara statistik dengan metode Rancangan Acak Lengkap dengan menggunakan perangkat spss for windows.

III.7 Pembahasan Hasil Pembahasan dilakukan berdasarkan hasil penelitian

29

III.9 Pengambilan Kesimpulan Kesimpulan diambil berdasarkan hasil pembahasan

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

IV.1 Hasil Penelitian Hasil pengujian aktivitas afrodisiaka berbagai ekstrak biji markisa asal jeneponto adalah sebagai berikut :
Tabel 1. Rendamen Ekstrak

Bobot Simplisia Kering 100 g

Bobot Ekstrak 1,119 g

Rendamen(%) 1,119%

Tabel 2. Data total jantan naik betina (mounting) selama 7 hari

Hari

K1 (NaCMC 1%) 2 3 2 5 3 3 5 23 3,286

K2 (100 mg/kg BB) 5 5 6 8 10 11 10 55 7,857

Kelompok K3 (150 mg/kg BB) 9 9 10 12 13 11 12 76 10,857

K4 (200 mg/kg BB) 9 10 10 13 17 17 19 95 13,571

Sub T

1 2 3 4 5 6 7 Total Rerata

249

30

31

Gambar 2. Histogram rata-rata jantan naik betina (mounting) selama 7 hari

Rata-rata Jantan Naik Betina (mounting) selama 7 hari


16,000 14,000 12,000 10,000 8,000 6,000 4,000 2,000 0,000 6,33 K4 Rata-rata

Tabel 3. Gambaran Frekuensi jantan naik betina (mounting) setelah pemberian perlakuan selama 7 hari

Hari
Kelompok

1 K1 K2 K3 K4 0,6 1,67 3,33 3

2 1 1,67 3 3,34

3 0,6 2 3,34 3,33

4 1 2,66 4 4,33

5 1 3,32 4,33 5,67

6 1,7 3,66 3,67 5,67

7 1,7 3,34 4 6,33

32

Gambar 3. Histogram Frekuensi jantan naik betina (mounting) setelah perlakuan selama 7 hari 7 6 5 4 3 2 1 0 1 2 3 4 5 6 7 K1 K2 K3 K4

Keterangan : K1 = kelompok dengan perlakuan NaCMC 1% K2 = kelompok dengan perlakuan ekstrak metanol 100 mg/kgBB K3 = kelompok dengan perlakuan ekstrak metanol 150 mg/kgBB K4 = kelompok dengan perlakuan ekstrak metanol 200 mg/kgBB

IV.2 Pembahasan Dalam penelitian ini, dilakukan pengamatan terhadap aktivitas afrodisiaka mencit dengan menggunakan parameter jumlah jantan naik betina (JNB) atau mounting. Hasil pengamatan terhadap aktivitas afrodisiaka dapat dilihat pada tabel 2, tabel 3 dan tabel 4 dimana menggunakan parameter tersebut diatas.

33

Dalam proses penelitian ini, digunakan ekstrak metanol biji markisa yang memiliki dosis ekstrak metanol daun 100mg/kgBB untuk aktivitas afrodisiakanya. Berdasarkan data tersebut, selanjutnya dilakukan penelitian secara in vivo untuk melihat aktivitas afrodisiaka dari ekstrak metanol biji markisa. Penelitian ini dilakukan dengan mengekstraksi simplisia kering sebanyak 100g menggunakan metanol. Kemudian dilakukan maserasi selama 3 hari sambil sesekali diaduk. Maserasi dilakukan karena metode ini merupakan metode yang cocok dan tidak merusak kandungan senyawa kimia di dalam biji markisa. Setelah diperoleh ekstrak, hewan coba dibagi menjadi 5 kelompok hewan perlakuan secara acak. Sebelum dilakukan perlakuan, mencit berkelamin jantan terlebih dahulu diseleksi dengan melihat potensinya dapat melakukan hubungan seksual atau tidak untuk menghindari hasil negatif palsu. Mencit jantan dibagi dalam 5 kelompok perlakuan yang akan diberi ekstrak, mencit grup perlakuan diberi suspensi ekstrak metanol biji 100 mg/kg BB (kelompok I), diberi suspensi ekstrak metanol biji 150 mg/kg BB (kelompok II), diberi suspensi ekstrak metanol biji 200 mg/kg BB (kelompok III) dan sebagai kontrol negatif diberikan larutan koloidal NaCMC 1% sebagai plasebo (kelompok IV). Pemberian dilakukan secara per oral sekali sehari selama 7 hari berturut-turut. Pengamatan aktivitas afrodisiaka dilakukan pada selama 7 hari pemberian secara per oral kepada mencit berkelamin jantan.

34

Frekuensi jantan naik betina (JNB) merupakan parameter yang digunakan untuk mengetahui efek afrodisiaka. Frekuensi JNB merupakan indikator terhadap libido. Kenaikan frekuensi JNB dapat membuktikan bahwa terjadi perbaikan terhadap libido serta kekuatan dalam berhubungan (29). Banyak faktor yang mempengaruhi pembuahan (coitus) misalnya viabilitas sperma yang rendah sehingga sperma tersebut tidak mampu untuk mengadakan pembuahan. Faktor hambatan ini dapat berasal dari struktur histologi saluran reproduksi pria, struktur sperma yang diperoleh selama di dalam alat genital, enzim-enzim yang terdapat di dalam saluran reproduksi pria serta dalam spermatozoa itu sendiri. Sperma yang belum dewasa maupun bentuk-bentuk yang tidak sempurna tidak akan mampu membuahi (28). Umur, berat badan yang tidak berimbang, dan kadar hormon juga memberi pengaruh terhadap terjadinya coitus. Umur dari hewan coba, berpengaruh terhadap fase estrus dari mencit betina. Fase estrus merupakan periode ketika mencit betina reseptif terhadap jantan dan akan melakukan perkawinan. Pada saat fase estrus terjadi mencit betina terlihat tidak tenang dan lebih aktif (32). Pada perhitungan jumlah jantan naik betina (JNB) atau mounting selama 7 hari, menunjukkan bahwa pemberian/induksi ekstrak biji markisa dengan dosis 100mg/kgBB, 150mg/kgBB dan 200mg/kgBB dapat

menunjukkan terjadinya frekuensi JNB dengan jumlah rata-rata masing-

35

masing 7,857 kali, 10,85 kali, dan 13,571 kali dibandingkan dengan serta kontrol negatif NaCMC 1% yang jumlahnya mencapai 3,286 kali. Berdasarkan analisis statistik menggunakan software spss for windows, maka dapat disimpulkan bahwa ekstrak biji markisa 200 mg/kg BB memiliki hasil yang signifikan terhadap kontrol negatif dan terhadap perlakuan lainnya.

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

V. 1 Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian, analisis data dan pembahasan dapat disimpulkan sebagai berikut : 1. Urutan aktivitas afrodisiaka mulai dari yang terkuat hingga terlemah yaitu ekstrak biji markisa 200mg/kgBB dengan JNB sebesar 13,571 kali dalam 7 hari, ekstrak biji markisa 150mg/kgBB dengan JNB sebesar 10,85 kali dalam 7 hari, dan ekstrak biji markisa 100mg/kgBB dengan JNB sebesar 7,857 kali dalam 7 hari. 2. Ekstrak metanol biji markisa 200 mg/kg BB memiliki hasil signifikan terhadap kontrol negatif.

V. 2 Saran Sebaiknya dilakukan penelitian lebih lanjut untuk membandingkan efek afrodisiaka berbagai jenis varietas markisa dan tiap bagian tanamannya.

36

DAFTAR PUSTAKA

1.

Harsanto, Winoto Adi. Uji Afrodisiaka Fraksi Etil Asetat Ekstrak Etanol 70% Kuncup Bunga Cengkeh (Syzygium aromaticum (L.) Merr.&Perry) Terhadap Libido Tikus Jantan. Skripsi. Fakultas Farmasi Universitas Muhammadiyah. Surakarta. 2010. Hal 2

2.

Wani, J.A., Achur, R.N., Nema, R.K. Phytochemical Screening and Aphrodisiac Activity of Asparagus racemosus. International Journal of Pharmaceutical Science and Drug Reseach. Vol 3, issue 2. 2011. pp 112, 115.

3.

World Health Organisation. Binnial Report : Prevention of Infertility. Office of Publication, W.H.O. Geneva.1992-93, pp. 161-166.

4.

Kulkani, SK., Reddy, DS. Pharmacotherapy of Male Erectile Dysfunction with Sildenafil. India : J.Pharmacol. 1998. p 367

5.

Patil, A.S., Paikrao, H.M. Bioassay Guided Phytometabolites Extraction for Screening of Potent Antimicrobials in Passiflora foetida L. Journal of Applied Pharmaceutical Science. Vol 2(9): [6 screen]. 2012. pp 137-138. Jurnal Penelitian Afrodisiaka Tumbuhan Drymis. Institut Pertanian Bogor. Bogor. 2010. Hal 1-3

6.

7.

Ingale, AG., Hivrale, AU. Pharmacological Studies of Passiflora sp and Their Bioactive Coumpund. African journal of Plant Science. Vol 4(10): [10screen]. 2010. pp 1-4

8.

Patel, DK., Kumar, R., Prasad, SK., Hemalata, S. Pharmacologically Screened Aphrodisiac Plant-A Review of Current Scientific Literature. Asian Pasific Journal of Tropical Biomedicine. S131-138: [8screen]. 2011. pp 131-133, 136

37

38

9.

Suhartinah. Efek Aprodisiak Kombinasi Serbuk Akar Pasak Bumi, Cabe Jawa, dan Rimpang Jahe Merah terhadap Frekuensi Climbing Tikus Putih Jantan Wistar. Skripsi. Fakultas Farmasi Universitas Setia Budi. Solo. 2008. Hal 4

10.

Klasifikasi dan Identifikasi Markisa Konyal. Laboratorium Botani FMIPA UNHAS. Makassar. 2012

11.

United State Departement of Agriculture. 2003. Passiflora ligularisSweet Granadilla. 20 Oktober. 2 halaman. http://plants.usda.gov/java/profile?symbol=pali8. Diakses 1 Juni 2013

12.

Heyne, K. Tumbuhan berguna Indonesia. Departemen Kehutanan. Jakarta. 1987. Hal 1456-1459

13.

Kasahara, S., Hemmi. Medicinal Herb Index in Indonesia. PT. Eisai Indonesia. Jakarta. 1995. Hal 48

14.

Joy,PP. Passion Fruit, Passifloraceae. India: Kerala Agricultural University. 2010. pp 670-686

15.

Njoroge, Grace N., Bussman, Rainer W. Diversity and Utilizationof Antimalarial Ethnophytotherapeutic Remedies among the Kikuyus. Journal of Ethnobiology and Ethnomedicine. Vol 2(8): [7screen]. 2006. p 129

16.

Agoes.G.Teknologi Bahan Alam. ITB Press. Bandung. 2007. Hal 21, 38 39.

17.

Harborne. J.B. Metode Fitokimia , terjemahan K. Radmawinata dan I. Soediso. ITB Press. Bandung. 1987. Hal 69-94, 142-158, 234-238.

18.

Hargono, Djoko. Sediaan Galenik. Departemen Kesehatan RI . Jakarta. 1986. Halaman 10-16

39

19.

Pearce, Evelyn C. Anatomi dan Fisiologi untuk Paramedis. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta. 2009

20.

Yakubu MT, Akanji MA, Oladiji AT. Male sexual dysfunction and methods used in Assessing Medicinal Plants with Aphrodisiac Potentials. Pharmacognosy Review. Vol 1(1). 2007. pp4956.

21.

Ganong, W.F. Fisiologi Kedokteran terjemahan Adrianto, P. Penerbit Buku Kedokteran EGC. Jakarta. 2000

22.

Gandasoebrata. Penuntun Laboratorium Klinik. Penerbit Dian Rakyat. Yogyakarta. 2007

23.

Swartz, Mark H. Buku Ajar Diagnostik Fisik terjemahan Petrus Lukmanto. Penerbit Buku Kedokteran EGC. 1995. Hal 271

24.

Hamilton, Persis Mary. Dasar-Dasar Keperawatan Maternitas Edisi 6 terjemahan Ni Luh Gede Yasmin. Penerbit Buku Kedokteran EGC. 1995. Hal 19

25.

Tjan, Tan Hoan. Obat-Obat Penting. Elex Media Komputindo. Jakarta. 2007. Hal 685-687

26.

Departemen Farmakologi dan Terapi. Farmakologi dan Terapi Edisi V. Badan Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Jakarta. 2007. Hal 89

27. 28.

Malole M.B.M, Pramono. 1989. Penggunaan Hewan Hewan Percobaan di laboratorium. Institut Pertanian Bogor.. Bogor. Hal 94. Setyadi, Aditya Dwi. Organ Reproduksi dan Kualitas Sperma Mencit (Mus musculus) yang Mendapat Pakan Tambahan Kemangi (Ocimum basilicum) Segar. Skripsi. Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor. Bogor. 2006. Hal 5-7

40

29.

Hutabarat, Desmina Kristiani. Studi Testosteron Plasma, Kuantitas Dan Kualitas Spermatozoa Mencit (Mus musculus) Setelah Pemberian Kombinasi Hormon Testosteron Undekanoat (TU) dan Ekstrak Air Biji Blustru (Luffa aegyptica, Roxb.). Skripsi. Fakultas MIPA Universitas Sumatera Utara. Medan. 2011. Hal 3

30.

Pande, Milind., Pathak, Anupam. Aphrodisiac Activity of Roots of Mimosa pudica, Linn. Ethanolic Extract in Mice. International Journal of Pharmaceutical Sciences and Nanotechnology. Vol 2, issue 1: [10screen]. 2009. p 2

31.

Evacuasiany, Endang., Puradisastra, Sugiarto. Ekstrak Biji Pala (Myristica fragans, Houtt.) dan Cabe Jawa (Piper retrofractum, Vahl.) sebagai Afrodisiak Pada Tikus dan Mencit. Jurnal Kedokteran Maranatha. Vol 10(2). 2011. Hal 160

32.

Tirindelli, R., Dibattista, M., Pifferi, S., Menini, A. From Pheromone to Behaviour. Physiol Rev. 2009. p 921

LAMPIRAN I SKEMA KERJA

Skema Kerja Ekstraksi Biji Markisa (Passiflora ligularis Juss.) Sampel Segar Buah Markisa (Passiflora ligularis, Juss.)
Dibuka kulit buahnya

Biji dan Selaput dipisah @100 g

Biji dikeringkan di oven

Diblender Diekstraksi dengan maserasi

Metanol
Dipekatkan dengan rotavapor

Ekstrak Metanol Biji

41

42

Skema Kerja Uji Aktivitas Afrodisiaka Ekstrak Biji Markisa (Passiflora ligularis Juss.) Mencit Jantan (Mus musculus)
Pemeliharaan & penyesuaian Dipuasakan 3 jam Penimbangandan pengelompokan

Perlakuan

Kelompok I Kontrol Negatif (NaCMC)

Kelompok II Ekstrak Metanol Biji 100 mg/kg BB

Kelompok III Ekstrak Metanol Biji 150 mg/kg BB

Kelompok IV Ekstrak Metanol Biji 200 mg/kg BB

Pengamatan dan Pengambilan Data Analisis Data Pembahasan dan Kesimpulan

LAMPIRAN II PERHITUNGAN DOSIS

A.

Perhitungan Konversi Volume Pemberian Sampel 1. Volume maksimal pemberian sediaan 2. Hewan uji dengan BB tertinggi 3. Sediaan stok untuk dosis 100 mg/kg BB Konversi dari 100 mg/kg BB Untuk hewan 35 g dalam 1 ml mengandung Jumlah ekstrak yang ditimbang dalam sediaan stok 25 ml 4. Sediaan stok untuk dosis 150 mg/kg BB Konversi dari 150 mg/kg BB Untuk hewan 35 g dalam 1 ml mengandung Jumlah ekstrak yang ditimbang dalam sediaan stok 25 ml 5. Sediaan stok untuk dosis 200 mg/kg BB Konversi dari 200 mg/kg BB Untuk hewan 35 g dalam 1 ml mengandung = 0,2 mg/g BB = 7 mg/35 g BB = 131,25 mg = 0,15 mg/g BB = 5,25 mg/35 g BB = 87,5 mg = 0,1 mg/g BB = 3,5 mg/35 g BB = 1ml = 35 g

43

44

Jumlah ekstrak yang ditimbang dalam sediaan stok 25 ml 6. Volume pemberian sediaan/sampel Untuk Hewan Uji dengan BB <35g

= 175 mg

= 1ml/30gBB BB (g) x 1 ml = 35 g

LAMPIRAN III PERHITUNGAN STATISTIK

A.
KLP

Tabel Data JNB


Hari 1 Ulangan 15' 1 2 1 0 0 1 0,33 1 2 0 0 0 0 0 1 2 0 0 1 1 0,33 1 2 0 0 0 0 0 60' 0 1 0 1 0,33 2 0 1 3 1 2 1 3 6 2,33 1 2 1 4 1,33 120' 0 0 0 0 0 1 1 0 2 0,67 1 0 1 2 0,67 2 0 1 3 1 180' 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 1 0 2 0,67 15' 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 60' 1 0 0 1 0,33 0 1 2 3 1 2 2 2 6 2 1 2 2 5 1,67 120' 1 1 0 2 0,67 1 1 0 2 0,67 0 2 0 2 0,67 2 1 2 5 1,67 180' 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 1 0,33 0 0 0 0 0 15' 0 0 1 1 0,33 1 0 0 1 0,33 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 60' 0 0 0 0 0 1 1 0 2 0,67 1 2 2 5 1,67 1 1 2 4 1,33 120' 0 1 0 1 0,33 0 2 1 3 1 2 1 2 5 1,67 2 2 1 5 1,67 180' 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 1 0,33 Hari 2 Hari 3

K1
Rerata

K2
Rerata

K3
Rerata

K4
Rerata

45

46

KLP

Ulangan 15' 1 2 0 0 1 1 0,33 1 2 1 0 0 1 0,33 1 2 1 1 1 3 1 1 2 0 1 0 1 0,33

Hari 4 60' 0 1 1 2 0,67 2 1 0 3 1 3 2 1 6 2 2 2 2 6 2 120' 0 0 0 0 0 1 2 1 4 1,33 1 0 1 2 0,67 1 3 1 5 1,67 180' 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 1 0,33 1 0 0 1 0,33 15' 0 0 0 0 0 0 1 0 1 0,33 0 0 1 1 0,33 1 0 1 2 0,67 60'

Hari 5 p120' 1 0 1 2 0,67 1 2 1 4 1,33 3 2 1 6 2 1 2 3 6 2 0 0 0 0 0 1 1 2 4 1,33 1 2 2 5 1,67 3 2 2 7 2,33 180' 1 0 0 1 0,33 1 0 0 1 0,33 1 0 0 1 0,33 1 0 1 2 0,67 15' 0 0 0 0 0 0 0 1 1 0,33 0 0 0 0 0 0 0 2 2 0,67

Hari 6 60' 1 1 0 2 0,67 2 1 1 4 1,33 2 3 1 6 2 2 3 4 9 3 120' 0 1 1 2 0,67 2 2 1 5 1,67 2 1 1 3 1 2 2 2 6 2 180' 0 1 0 1 0,33 0 1 0 1 0,33 1 1 0 2 0,67 0 0 0 0 0 15' 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 2 1 4 1,33 60'

Hari 7 120' 0 1 0 1 0,33 2 1 2 5 1,67 2 2 2 6 2 2 2 3 7 2,33 0 1 1 2 0,67 2 2 1 5 1,67 1 1 2 4 1,33 2 3 3 8 2,67 180' 0 1 1 2 0,67 0 0 0 0 0 0 1 1 2 0,67 0 0 0 0 0 95 31,7 76 25,7 55 18 23 7,67 jumlah

ratarata

K1
Rerata

0,82 0,27

K2
Rerata

1,96 0,66

K3
Rerata

2,71 0,92

K4
Rerata

3,39 1,13

Descriptives hasil 95% Confidence Interval for Mean N K1 K2 K3 K4 Total 7 7 7 7 28 Mean 3.29 7.86 10.86 13.57 8.89 Std. Deviation 1.254 2.545 1.574 4.077 4.597 Std. Error .474 .962 .595 1.541 .869 Lower Bound 2.13 5.50 9.40 9.80 7.11 Upper Bound 4.45 10.21 12.31 17.34 10.68 Minimum 2 5 9 9 2 Maximum 5 11 13 19 19

47

ANOVA hasil Sum of Squares Between Groups Within Groups Total 407.821 162.857 570.679 df 3 24 27 Mean Square 135.940 6.786 F 20.033 Sig. .000

Multiple Comparisons Dependent Variable:hasil (I) (J) 95% Confidence Interval

perlaku perlaku Mean Difference an LSD K1 an K2 K3 K4 K2 K1 K3 K4 K3 K1 K2 K4 K4 K1 K2 K3 (I-J) -4.571


*

Std. Error 1.392 1.392 1.392 1.392 1.392 1.392 1.392 1.392 1.392 1.392 1.392 1.392

Sig. .003 .000 .000 .003 .041 .000 .000 .041 .063 .000 .000 .063

Lower Bound -7.45 -10.45 -13.16 1.70 -5.87 -8.59 4.70 .13 -5.59 7.41 2.84 -.16

Upper Bound -1.70 -4.70 -7.41 7.45 -.13 -2.84 10.45 5.87 .16 13.16 8.59 5.59

-7.571 -10.286

4.571

-3.000 -5.714 7.571 3.000

-2.714 10.286
*

5.714

2.714

*. The mean difference is significant at the 0.05 level.

48

hasil Subset for alpha = 0.05 perlakuan Duncan


a

N 7 7 7 7

1 3.29

K1 K2 K3 K4 Sig.

7.86 10.86 13.57 1.000 1.000 .063

Means for groups in homogeneous subsets are displayed. a. Uses Harmonic Mean Sample Size = 7,000.

LAMPIRAN IV GAMBAR

Gambar 4. Foto Tanaman Markisa (Passiflora ligularis, Juss.)

Gambar 5. Foto Proses Ekstraksi Biji Markisa

49

50

Gambar 6 dan 7. Foto Mounting Mencit Jantan ke Mencit Betina