Anda di halaman 1dari 11

LAPORAN PRAKTIKUM ANALISIS SPEKTROMETRI PENENTUAN KEKERUHAN AIR SECARA TURBIDIMETRI

Nama NIM Kelompok

: Sucilia Indah Putri : 10511019 :2

Tanggal Praktikum : 11 Oktober 2013 Asisten : - Hikmat (30513006) - Deris (20512301)

LABORATORIUM KIMIA ANALITIK PROGRAM STUDI KIMIA FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM INTSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG 2013

PENENTUAN KEKERUHAN AIR SECARA TURBIDIMETRI

I.

Tujuan Menentukan kekeruhan air secara turbidimetri metode kurva kalibrasi dan penambahan standar.

II.

Teori Dasar Turbidimetri merupakan suatu metode pengukuram kekeruhan air. Secara lebih tepat adalah pengukuran konsentrasi partikulat dalam suatu suspensi yang berdasarkan pada hamburan elastis cahaya oleh suatu partikel. Yang diukur dalam metode ini adalah penurunan intensitas cahaya yang diteruskan disebabkan karena adanya hamburan. Persamaan yang digunakan yaitu : -log I/J0 = k b c Persamaan ini diterapkan sebagaimana hukum Lambert-Beer hanya saja absorban, A digantikan dengan turbidan,S.

III.

Data Pengamatan Metode I Volume sampel = 10 mL [Standar] NTU 40 60 80 100 120 %T Pengukuran 1 71,6 60,8 52,4 43,8 36,8 Pengukuran 2 62 47,8 52,4 43,8 36,8

Hanya Sampel

Sampel 1 : 45,4

Sample 2 : 45,4

Metode II V penambahan standar (mL) 1 2 3 4 S Sampel 1 0,435 0,515 0,573 0,637 Sampel 2 0,273 0,367 0,443 0,512

Metode III V standar (mL) 0 2,5 4,0 5,0 7,5 Sampel 1 77,6 55,6 44,6 39,8 31,8 (%T) Sampel 2 (S) 0,061 0,203 0,295 0,347 0,475

IV. Pengolahan Data Metode I (Kurva Kalibrasi)


Kurva Kalibrasi Metode 1 Dengan Sam pel 1 0,5 0,4 0,3 y = 0,0036x - 0,0013 R2 = 0,9989

A
0,2 0,1 0 0 50 100 150 [standar] (NTU)

diperoleh persamaan garis linier : y = 0,0036x - 0,0013 diperoleh nilai % T dari sample adalah 45,4 % maka S = -log 45,4/100 = 0,343 (disubstitusikan kedalam persamaan diatas: 0,343 = 0,0036x 0,0013 x = (0,343+0,0013)/0,0036 = 95,64 kekeruhan sample 1 = 95,64 NTU kekeruhan sampel 1 sebenarnya adalah 96 NTU % kesalahan = x 100 % = 0,375 %

Metode II

V sample = 10 mL Turbidans terkoreksi : S = Untuk Sampel 1 V standar (mL) 1 2 3 4 S 0,435 0,515 0,573 0,637 S 0,4785 0,618 0,7449 0,8918

Sampel 1
1 0.8 0.6 S' 0.4 0.2 0 0 1 2 3 4 5 Volume Standar y = 0.1367x + 0.3416 R = 0.9993

Dari kurva diatas diperoleh persamaan y = mx +c y = 0,1367x + 0,3416 Bersesuaian dengan persamaan S = y = S m= c= maka, dapat ditentukan nilai k k= Cx = = = 0,00376 = 99,94 k= , dengan :

Kekeruhan sampel 1 = 99,94 NTU % kesalahan = x 100 % = 4,10 %

Untuk Sampel 2 V standar (mL) 1 2 3 4 S 0,273 0,367 0,443 0,512 S 0,3003 0,4404 0,5759 0,7168

Sampel 2
0.8 0.6 0.4 0.2 0 0 1 2 3 4 5 Volume Standar (mL) y = 0.1385x + 0.1621 R = 0.9999 S'

Dari kurva diatas diperoleh persamaan y = mx +c y = 0,1385x + 0,1621 Bersesuaian dengan persamaan S = y = S m= c= maka, dapat ditentukan nilai k k= Cx = = = 0,00381 = 46,80 NTU k= , dengan :

Kekeruhan sampel 2 = 46,80 NTU % kesalahan = x 100 % = 10 %

Metode III V standar (mL) 0 2,5 4,0 5,0 7,5 S Sampel 1 0,110 0,255 0,350 0,400 0,497 S Sampel 2 0,061 0,203 0,295 0,347 0,475

Untuk Sampel 1
Metode III dengan Sampel 1
0.6 0.5 0.4 S 0.3 0.2 0.1 0 0 50 100 150 Kekeruhan Standar (NTU) y = 0.0033x + 0.1234 R = 0.9878

Menentukan x-intercept yaitu ketika y = 0 0 = 0,0033x + 0,1234 x == -37,394 (x-intercept)

x-intercept = CA = == 93,485

Kekeruhan sampel 1 = 93,485 NTU % kesalahan = x 100 % = 2,62 %

Untuk Sampel 2
Metode III dengan Sampel 2
0.6 0.5 0.4 S 0.3 0.2 0.1 0 0 50 100 150 Kekeruhan Standar (NTU) y = 0.0035x + 0.0653 R = 0.9986

Menentukan x-intercept yaitu ketika y = 0 0 = 0,0035x + 0,0653 x== - 18,657 (x-intercept)

x-intercept = CA = == 46,643

Kekeruhan sampel 2 = 46,643 NTU % kesalahan = x 100 % = 10,3 %

V.

Pembahasan Kekeruhan adalah kekaburan dari cairan yang disebabkan oleh partikel (suspended solids). Turbidimetri merupakan suatu metode pengukuran kekeruhan cairan yaitu konsentrasi partikulat dalam suatu suspensi yang didasarkan kepada hamburan elastis cahaya oleh partikel yang dapat dinyatakan sebagai perbandingan cahaya yang dihamburkan terhadap cahaya yang datang. Prinsip umum turbidimetri adalah sinar yang datang mengenai suatu partikel ada yang diteruskan dan ada yang dipantulkan, maka sinar yang diteruskan digunakan sebagai pengukuran. Jumlah cahaya yang diserap akan bergantung pada jumlah partikel dan ukuran partikel. Semakin banyak dang besar ukuran partikel, maka akan semakin banyak pula sinar

yang diserap sehingga akan sebanding dengan jumlah partikel tersuspensi. Prinsip ini sedikit berbeda dengan spektrofotometri karena sebenarnya turbidimetri mengukur sinar yang dibelokkan dan spektrofotometri mengukur sinar yang diteruskan. Syarat utama penerapan turbidimetri adalah terjadinya reaksi sempurna antara zat yang akan dianalisa dan pereaksinya. Satuan untuk kekeruhan suatu suspensi atau cairan adalah NTU (Nefelo Turbidans Unit). Pada percobaan ini, dilakukan penentuan kekeruhan air dengan menggunakan metode turbidimetri. Ada tiga macam metode yang akan digunakan pada percobaan ini yaitu metode kurva kalibrasi, dan 2 macam metode penambahan standar. Metode kurva kalibrasi dilakukan dengan cara mengukur kekeruhan standar dengan berbagai konsentrasi kemudian dibuat kurva kalibrasi berupa kurva linier. Kemudian kekeruhan sample ditentukan dari persamaan regresi linier standar. Pada metode kedua digunakan metode penambahan standar yang dilakukan pada satu cuplikan yang diukur turbidansnya setiap penambahan 1 mL standar seperti halnya dalam titrasi. Sedangkan pada metode ketiga, disiapkan cuplikan pada labu takar berbeda yang masing-masing ditambah standar dengan volume berbeda kemudian i=diencerkan hingga tanda batas. Kedua metode penambahan standar ini termasuk kedalam penambahan standar dalam. Standar yang digunakan adalah suspensi hidrazin sulfat dan hexamine yang memiliki kekeruhan 400 NTU. Keseluruhan pengukuran turbidans pada percobaan ini dilakukan menggunakan spektrofotometer. Pada metode kurva kalibrasi dibuat 5 larutan standar dengan nilai konsentrasi 40,60,80,100, dan 120 NTU kemudian diukur turbidansnya (S) yang sebanding dengan absorbansnya. Dialurkan kurva konsentrasi/kekeruhan terhadap nilai turbidans, S sehingga diperoleh kurva linier dengan persamaan garis linier. Dilanjutkan dengan pengukuran turbidans sample. Untuk mengetahui

konsentasi/kekeruhan sample, nilai turbidans sample dimasukkan kedalam persamaan kurva kalibrasi. Pada percobaan ini diperoleh bahwa sample 1 kekeruhannya adalah 95,64 dengan galat 0,375% sedangkan sample 2 tidak dapat ditentukan karena kekeruhannya belum sempat diukur. Pada metode kedua, 10 mL larutan sample ditambahkan 1mL standar, diaduk agar campurannya homogen kemudian diukur

turbidansnya. Pengukuran turbidans dilakukan setiap penambahan 1mL standar kemudian dibuat kurvanya. Diperoleh bahwa kekeruhan sample 1 adalah 99,94 NTU dengan galat 4,10% dan untuk sampel 2 kekeruhannya adalah 46,80 NTU dengan galat 10 %. Untuk metode ketiga, larutan sampel dalam 5 buah labu takar berbeda ditambahkan dengan standar dengan volume berbeda pula kemudian diencerkan sampai tanda batas dan diukur turbidansnya. Selanjutnya dibuat kurva hingga diperoleh kekeruhan dari sample1 adalah 93,485 NTU dengan galat 2,62% dan sampel 2 kekeruhannya adalah 46,643 NTU dengan galat 10,3%. Beberapa kesalahahan yang menyebabkan galat dari pengukuran besar diantaranya adalah sampel dan standar ketika akan digunakan tidak dikocok terlebih dahulu. Seperti yang kita ketahui bahwa kekeruhan pada analit itu disebabkan karena partikel tersuspensi yang bervariasi dan jika tidak dikocok terlebih dahulu maka kemungkinan sebagian partikel sedang dalam keadaan mengendap. Selain itu volume penambahan standar dan pengenceran yang kurang tepat juga dapat menimbulkan kesalahan pada pengukuran dan pembacaan nilai turbidans yang tidak tepat karena angka yang mucul tidak stabil. Dari ketiga metode yang dilakukan untuk mengukur kekeruhan cairan, yang paling baik berdasarkan percobaan ini adalah metode pertama yaitu kurva kalibrasi karena menghasilkan galat yang paling kecil diantara pengukuran dengan metode lainnya.

VI. Kesimpulan Dari hasil percobaan yang telah dilakukan dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut : Dengan Metode I Kekeruhan sampel 1 adalah 95,64 NTU dengan % kesalahan 0,375 % Dengan Metode II Kekeruhan sampel 1 adalah 99,94 NTU dengan % kesalahan 4,10 % Kekeruhan sampel 2 adalah 46,80 NTU dengan % kesalahan 10 % Dengan Metode III Kekeruhan sampel 1 adalah 93,485 NTU dengan % kesalahan 2,62 % Kekeruhan sampel 2 adalah 46,643 NTU dengan % kesalahan 10,3 % Dan berdasarkan % kesalalahan yang dihasilkan, maka metode I adalah metode yang paling baik untuk pengukuran turbidimetri ini.

VII. Daftar Pustaka Harvey,David.2000 Modern Analytical Chemistry, Mc Graw-Hill Companies Inc., p.109. Skoog. A.D. 2004. Fundamental of Analytical Chemistry 8th edition. Thomson Learning Inc. p.719-726

Zellmer, David L. 1998. Standar Addition. California. Departement of Chemistry California State University (www.zimmer.csufresno.edu/~davidz/Chem106)