Anda di halaman 1dari 18

Bercak Merah pada Dada Kiri dan Terasa Baal

Ervin Juliet Latupeirissa Mahasiswa Fakultas Kedokteran, Universitas Kristen Krida Wacana Jl. Arjuna Utara No. 6 Jakarta Barat Abstrak: sesuai skenario bahwa seorang pria usia 40 tahun dengan keluhan bercak merah dan tidak merasakan rasa gatal maupun rasa sakit namun terasa baal. Oleh karena itu harus dicari penyebabnya apakah karena bakteri, virus ataupun karena obat-obatan. Pendahuluan: a. Latar belakang Penyakit kulit yang menimpa manusia selalu beraneka ragam, baik itu penyakit dalam maupun penyakit kulit yang dapat dilihat langsung. Penyakit kulit itu sendiri dapat disebabkan oleh berbagai faktor, baik virus, bakteri, jamur, atau pun faktor obat-obatan. Gejala klinis yang ditunjukkan pun berbeda-beda. Skenario yang didapat yaitu di mana seorang pasien laki-laki dengan usia 40 tahun datang dengan keluhan bercak merah dan tidak terasa gatal maupun sakit namun terasa baal dan pada pemeriksaan fisik terdapat kelemahan pada tangan kanannya. Diagnosa dapat ditegakkan jika didukung dengan anamnesis dan pemeriksaan fisik maupun penunjang dengan tepat dan akurat, agar dapat menyingkirkan beberapa penyakit dengan keluhan yang sama dan pada pemberian obat bisa tepat dan penyakit yang diderita bisa segera membaik.

b. Tujuan 1. Menjelaskan anamnesis dan pemeriksaan yang perlu dilakukan terhadap pasien. 2. Menjelaskan diagnosis banding, diagnosis kerja, dan penatalaksaan untuk pasien. 3. Menjelaskan kemungkinan komplikasi penyakit pasien. 4. Menjelaskan etiologi, patogenesis dan epidemiologi psoriasis. 5. Menjelaskan prognosis penyakit kusta. 6. Menjelaskan pencegahan yang bisa dilakukan.

1 Morbus Hansen

Anamnesis1
Pada anamnesis terhadap pasien, bisa dilakukan secara autoanamnesis maupun alloanamnesis. Sesuai dengan kasus yang ada, autoanamnesis yang digunakan. Hal-hal yang perlu ditanyakan yaitu: 1. Identitas pasien 2. Riwayat Penyakitnya. Termasuk keluhan utama yaitu keluhan yang
menyebabkan pasien dibawa berobat beserta gejala-gejalanya.

3. Riwayat Perjalanan Penyakit.


Harus disusun secara kronologis, terinci dan jelas mengenai keadaan pasien sejak sebelum terdapat keluhan sampai dibawa berobat.

Bila sudah berobat sebelumnya, ditanyakan kapan, dengan siapa serta obat apa yang telah diberikan. Perkembangan penyakit kemungkinan terjadinya komplikasi, gejala sisa. Keluhan dan gejala tambahan ditanyakan secara teliti. Tanyakan juga apakah ada rasa gatal atau tidak? Apakah ada rasa nyeri atau tidak?

4. Riwayat Keluarga.
Pada penyakit keturunan perlu ditanyakan apakah saudara ada yang punya penyakit alergi. Pada penyakit menular dikatakan apakah disekitar tempat tinggal ada yang menderita penyakit yang sama atau tidak.

Gejala Klinis2
Pada penyakit kusta, harus didiagnosis berdasarkan gambaran klinis, bakteriskopis dan histopatologis serta serologis. Bila kuman M. Leprae masuk ke dalam tubuh seseoranf, dapat menimbulkan gejala klinis sesuai dengan kerentanan orang tersebut. Bentuk tipe klinis tergantung pada sistem imunitas seluler (SIS) penderita. Bila SIS baik akan tampak gambaran klinis ke arah tuberkuloid, sebaliknya SIS rendah akan memberikan gambaran lepromatosa. Biasanya pasien dengan lepra akan mengalami: a. Lesi diawali dengan bercak putih bersisik halus pada bagian tubuh. b. Lesi tersebut tidak gatal ataupun tidak terasa nyeri atau sakit.

2 Morbus Hansen

c. Lesinya akan membesar dan meluas. d. Jika saraf sudah terkena, maka pasien akan mengeluh rasa baal pada bagian tertentu. e. Dapat juga mengalami kekakuan dalam menggerakan anggota badan. f. Rambut dan alis dapat rontok. g. Penebalan saraf tepi yang disertai dengan gangguan fungsi saraf. Gangguan fungsi saraf ini merupakan akibat dari peradangan kronis saraf tepi (neuritis perifer). Gangguan saraf ini berupa: 1. Gangguan fungsi sensori: mata rasa 2. Gangguan fungsi motoris: kelemahan otot (parese) atau kelumpuhan (paralise). 3. Gangguan fungsi otonom: kulit kering, retak, edema, pertumbuhan rambut terganggu. Gejala-gejala kerusakan saraf karena kusta diantaranya: a. N. Ulnaris: Anestesia pada ujung jari anterior kelingking dan jari manis Clawing kelingking dan jari manis Atrofi hipotenar dan otot interseus serta kedua otot lumbrikalis medial

b. N. medianus Anestesia pada ujung jari bagian anterior ibu jari, telunjuk dan jari tengah Tidak mampu aduksi ibu jari Clawing ibu jari, telunjuk dan jari tengah Ibu jari kontraktur Atrofi otot tenar dan kedua otot lumbrikalis lateral c. N. Radialis Anestesia dorsum manus, serta ujung proksimal jari telunjuk Tangan gantung (wrist drop) Tak mampu ekstensi jari-jari atau pergelangan tangan d. N. popliteal lateralis Anestesia tungkai bawah, bagian lateral dan dorsum pedis Kaku gantung (foot drop)

3 Morbus Hansen

Kelemahan otot peroneus e. N. tibialis posterior Anestesia telapak kaki Claw toes Paralisis otot intrinsik kaki dan kolaps arkus pedis f. N. fasialis Cabang temporal dan zigomatik menyebabkan lagoftalmus Cabang bukal, mandibular dan servikal menyebabkan kehilangan ekspresi wajah dan kegagalan mengatupkan bibir g. N. trigeminus Anestesia kulit wajah, kornea dan konjungtiva mata Atrofi otot tenar dan kedua otot lumbrikalis lateral Zona Spektrum Kusta Menurut Macam Klasifikasi Menurut klasifikasinya ada terbagi menjadi dua yaitu: 1. Pausibasiler Yaitu mengandung sedikitnya kuman, yakni tipe TT, BT dan I. Gambaran klinis, Bakteriologik dan imunologik Kusta PausiBasilar. Sifat Tuberkuloid (TT) Lesi Bentuk Makula saja; makula dibatasi Makula dibatasi infiltrat; Hanya makula infiltrat Jumlah Distribusi Permukaan Batas Satu, dapat beberapa Asimetris Kering bersisik Jelas infiltrat saja Beberapa Masih asimetris Kering bersisik Jelas Satu atau beberapa Variasi Halus, agak mengkilat Dapat jelas atau tidak jelas BTA Lesi kulit Hampir selalu negatif Positif kuat (3+) Negatif atau hanya 1+ Positif lemah Anestesia Jelas Jelas Tidak ada sampai Borderline (BT) Tuberculoid Indeterminate (I)

tidak jelas Biasanya negatif Dapat positif lemah atau negatif.

Tes lepromin

4 Morbus Hansen

2. Multibasilar (MB) Berarti mengandung banyak sekali kuman yaitu tipe LL, BL, dan BB. Gambaran klinis, bakteriologik dan imunologik kusat multibasilar (MB). Sifat Lepromatosa (LL) Borderline Lepromatosa (BL) Lesi Bentuk Makula Infiltar difus Papul Nodus Jumlah Tidak terhitung, praktis Sukar dihitung, masih Dapat dihitung, kulit sehat jelas ada Asimetris Agak berkilat BTA Lesi kulit Sekret hidung Tes lepromin Negatif Negatif Biasanya negatif Banyak (ada globus) Banyak (ada globus) Banyak Biasanya negatif Agak banyak Negatif Batas Anestesia Tidak jelas Tidak ada sampai tidak jelas Agak jelas Tak jelas Agak jelas Lebih jelas kasar, agar Makula Plakat Papul Plakat Dome-shaped (kubah) Punched-out Mid Borderline (BB)

tidak ada kulit sehat Distribusi Permukaan Simetris Halus berkilat

ada kulit sehat Hampir simetris Halus berkilat

Bagan Diagnosis Klinis Menurut WHO (1995) PB 1. Lesi kulit (makula datar, papul 1-5 lesi Hipopigmentasi/eritema Distribusi tidak simetris Hilangnya jelas 2. Kerusakan saraf Hanya satu cabang saraf Banyak cabang saraf. sensasi yang MB > 5 lesi Distribusi lebih simetris Hilangnya sensari kurang jelas

yang meninggi, nodus)

5 Morbus Hansen

(menyebabkan hilangnya sensai/kelemahan yang dipersarafi otot oleh

saraf yang terkena)

Pemeriksaan3
Pemeriksaan Fisik3.1 Pada pemeriksaan fisik harus dilakukan diruangan yang penerangannya baik dan meminta kepada si pasien untuk membuka pakaian agar bisa melihat seluruh permukaan kulitnya. Hal-hal yang diperiksa adalah: 1. inspeksi Melihat perubahan warna kulitnya. Melihat apakah ada bercak di bagian tubuh yang lain. Melihat apakah ada penebalan kulit atau tidak. Perhatikan kelembaban kulitnya. Apakah kering atau tidak? Perhatikan juga apakah ada kebotakan atau tidak misalnya pada alis. 2. Periksa dan mngukur besarnya lesi. 3. Menggores lesi atau bercak dengan menggunakan jarum, kemudian ditanya apakah terasa pada saat digores? 4. Kemudian mencoba dengan tes kepekaan terhadap suhu. Apakah si pasien peka atau tidak pada suhu tertentu seperti panas ataupun dingin. 5. Periksa juga apakah ada ditemukannya pembesaran dan penebalan pada bagian saraf atau tidak? Pemeriksaan Penunjang3.2 Pemeriksaan penunjang untuk menentukan penyakit Morbus Hansen atau lepra, yakni: a. Pemeriksaan baterioskopik (kerokan jaringan kulit)

6 Morbus Hansen

Pada pemeriksaan ini, digunakan untuk membantu menegakkan diagnosis dan pengamatan pengobatan. Sediaan dibuat dari kerokan jaringan kulit atau usapan dan kerokan dari mukosa hidung dan diwarnai dengan pewarnaan terhadap basil tahan asam (BTA), antara lain dengan Ziehl-Neelsen. Cara pengambilan bahan, yaitu dengan menggunakan skalpel steril. Setelah lesi tersebut didesinfeksikan kemudian dijepit antara ibu jari dan jari telunjuk agar menjadi iskemik sehingga kerokan jaringan mengandung sedikit mungkin darah yang akan mengganggu gambaran sediaan. Irisan yang dibuat harus sampai didermis. Kerokan jaringan itu dioleskan di gelas alas, difikasi di atas api, kemudian diwarnai dengan pewarnaan yang klasik yaitu Ziehl Neelsen. Mycrobacterium leprae tergolong BTA, akan tampak warna merah pada sediaan. Sediaan mukosa hidung sudah jarang dilakukan karena kemungkinan adanya M. atipik, M. leprae tidak pernah positif kalau pada kulit negatif, bila diobati, hasil pemeriksaan mukosa hidung negatif terlebih dahulu, rasa nyeri saat pengambilan.1 M. leprae tergolong BTA, akan tampak merah pada sediaan, dibedakan bentuk utuh (solid), batang terputus (fragmented) dan butiran (granuler). Bentuk solid adalah kuman hidup, sedangkan fragmented dan granuler merupakan bentuk mati. Secara teori penting untuk membedakan bentuk solid dan nonsolid, berarti membdekan antara M. leprae yang hidup dan yang mati. Dalam praktik susah untuk membedakan bentuk yang solid dan yang tidak solid karena dipengaruhi banyak faktor. Kepadatan M. leprae tanpa membedakan solid atau nonsolid pada sebuah sediaan dinyatakan dengan Indek Bakteri (IB) dengan nilai dari 0 sampai 6+ menurut Ridley. 1 0 bila tidak ada BTA dalam 100 lapangan pandang 1+ bila 1-10 BTA dalam 100 LP 2+ bila 1-10 BTA dalam 10 LP 3+ bila 1-10 BTA rata-rata dalam 100LP 4+ bila 11-100 BTA rata-rata dalam 1 LP 5+ bila 101-1000 BTA dalam 1 LP 6+ bila > 1000 BTA rata-rata dalam 1 LP

7 Morbus Hansen

Pemeriksaan dengan menggunakan mikroskop cahaya dengan minyak emersi pada pembesaran lensa obyektif 100x. IB seseorang adalag IB rata-rata semua lesi yang dibuat sediaan. Indeks Morfologi (IM) adalah persentase bentuk solid dibandingkan denan jumlah solid dan nonsolid. Rumus :

Syarat perhitungan: Jumlah minimal kuman tiap lesi 100 BTA IB 1+ tidak perlu dibuat IM-nya karena untuk mendapatkan 100 BTA harus mencapai dalam 1000 sampai 10.000 lapangan pandang Mulai dari IB 3+ harus dihitung IM-nya, sebab dengan IB 3+ maksimum harus dicari dalam 100 lapangan. Ada pendapat bahwa jika jumlah BTA kurang dari 100, dapat pula dihitung IMnya tetapi tidak dinyatakan dalam % tetap dalam pecahan yang tidak boleh diperkecil atau diperbesar. b. Pemeriksaan Histopatologik Pemeriksaan ini pada penyakit kusta biasanya dilakukan untuk memastikan gambaran klinik, misalnya kusta indeterminate atau untuk menentukan klasifikasi kusta. Umumnya dilakukan dengan pewarnaan Hematoxylin_eosin (H.E) dan pengecatan tahan asam untuk mencaru basil tahan asam.1 c. Pemeriksaan Serologi Uji MLPA ( Mycobcterium Leprae Particle Agglutination). Teknik ini dikembangkan oleh Izumi dkk. Dengan dasar rekasi antigen antibody yang akan menyebabkan pengendapan

(aglutinasi) partikel yang terikat akibat rekasi tersebut. Teknik ini banyak dipakai untuk skrining mencari kasus kusta subklinik di daerah endemik kusta.8 Uji ELISA. Uji ini sangat sensitif, sehingga dapat mendeteksi antibodi dalam jumlah yang sangat sedikit. Prinsipnya adalah mengukur banyaknya ikatan antigen-antibodi yang terbentu

8 Morbus Hansen

dengan memberi label pada ikatan tersebut.6 Bila digunakan untuk memantau hasil pengobatan kusta, maka penurunan antibodi spesifik bisa terlihat jelas dengan memeriksa serum penderita secara berkala setiap 3 bulan sekali.

Diagnosis4
Diagnosis Kerja4.1 Setelah melakukan anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang, ternyata laki-laki berusia 40 tahun menderita lepra atau kusat. Kusta merupakan penyakit infeksi yang kronik dan penyebabnya ialah Mycobacterium lepare yang bersifat intraselular obligat. Dapat menyerang kulit, saraf perifer, tarktus respiratorius dan kemudian dapat menyerang organ lainnya kecuali SSP.1

Diagnosis Banding4.2 1. Tinea corporis Tinea corporis merupakan penyakit asymptomatic karena infeksi jamur dermatofita pada kulit halus (glabrous skin) di daerah muka, leher, badan, lengan, dan pantat (glutea).4 Jamur penyebabnya antara lain :
1. 2. 3. 4.

Trichophyton rubrum Trichophyton mentagrophyte Trichophyton tonsurans Trichophyton interdigitale

5. Trichophyton verrucosum 6. Microsporum canis 7. Microsporum gypseum

9 Morbus Hansen

Keluhan gatal terutama bila berkeringat. Oleh karena gatal dan digaruk, lesi semakin meluas, terutama di daerah kulit yang lembab. Secara klinis tampak lesi berbatas tegas, polisiklik, dengan tepi aktif, karena tanda radang lebih jelas. Polimorf (banyak bentuk), terdiri atas eritema, skuama, dan kadang dengan papul dan vesikel di tepi, penyembuhan di tengah (central healing). Bentuk lain tinea korporis ialah tinea imbrikata. Lesi berupa plakat, polisiklis atau bulat dengan susunan skuama membentuk lingkaran konsentris tersusun seperti atap genting dan menghadap ke sentral.1,4 Gejala yang khas adalah central healing, yaitu di bagian tepi meradang dan bagian tengah bersih. Pada pemeriksaan kerokan kulit dengan mikroskop langsung dengan larutan KOH 10-20% untuk melihat hifa atau spora jamur. Pemeriksaan histologis tinea corporis : 1. Tampak neutrofil di stratum corneum, ini merupakan petunjuk diagnostik yang penting. 2. Biopsi kulit dengan pewarnaan hematoxylin dan eosin pada tinea corporis menunjukkan spongiosis, parakeratosis, dan infiltrat inflamasi superfisial (rembesan sel radang ke permukaan).

2. Pitiriasis Versikolor Pitiriasis versikolor yang disebabkan Malassezia furfur adalah penyakit jamur superfisial yang kronik, biasanya tidak memberikan keluhan subyektif, berupa bercak berskuama halus yang berwarna putih sampai coklat hitam, terutama meliputi badan dan kadang-kadang dapat menyerang ketiak, lipat paha, lengan, tungkai atas, leher, muka dan kulit kepala yang berambut.7 Keluhannya kadang-kadang penderita dapat merasakna gatal ringan. Untuk mengetahuinya dilakukan pemeriksaan dengan cara sediaan langsung kerokan kulit dengan larutan KOH 20% akan terlihat campuran hifa pendek dan spora-spora bulat yang dapat berkelompok.7

10 Morbus Hansen

3. Psoriasis Psoriasis ialah penyakit yang penyebabnya autoimun, bersifat kronik dan residif, ditandai dengan adanya bercak-bercak eritema berbatas tegas dengan skuama yang kasar, berlapis-lapis dan transparan; disertai fenomena tetesan lilin, Auspitz dan Kobner. Kelainan kulit terdiri atas bercak-bercak eritema yang meninggi (plak) dengan skuama di atasnya.8 Eritema sirkumskrip dan merata, tetapi pada stadium penyembuhan sering eritema ditengah menghilang dan hanya terdapat di pinggir. Skuama berlapis-lapis dan kasar dan bewarna putih mika, serta transparan. Besar kelainan bervariasi.

Etiologi5
Kuman penyebab adalah Mycobacterium leprae yang ditemukan oleh G. A. Hansen pada tahun 1874 di Norwegia, yang sampai sekarang belum juga dapat dibiakkan dalam media artifisial. Mycobacterium leprae berbentuk kuman dengan ukuran 3-8 m x 0.5 m, tahan asam dan alkohol serta positif gram.

Epidemiologi6
Masalah epidemiologi masih belum terpecahkan, cara penularan belum diketahui pasti hanya berdasarkan anggapan klasik yaitu melalui kontak langsung antarkulit yang lama dan erat. Masa tunasnya sangat bervariasi antara 40 hari sampai 40 tahun, umumnya 3-5 tahun. Masuknya kusta ke pulau-pulau Melanesia termasuk Indonesia diperkirakan terbawa oleh orang-orang China. Kusta bukan penyakit keturunan. Kuman dapat ditemukan di kulit, folikel rambut, kelenjar keringat dan air susu ibu, jarang didapat dalam urin.7 Dapat menyerang semua umur, anak-anak lebih rentan daripada orang dewasa. Di Indonesia penderita anak-anak di bawah umur 14 tahun didapatkan 11.39%, tetapi anak di bawah umur 1 tahun jarang sekali.1

11 Morbus Hansen

Pada tahun 1991 World Health Assembly membuat resolusi tentang eliminasi kusta sebagai problem kesehatan masyarakat pada tahun 2000 dengan menurunkan prevalensi kusta menjadi di bawah 1 kasus per 10.000 penduduk. Di Indonesia hal ini dikenal sebagai Eliminasi Kusta tahun 2000 (EKT 2000). Kasus yang terdaftar pada permulaan tahun 2009 tercatat 213.036 penderita yang berasal dari 12 negara sedangkan jumlah kasus baru tahun 2008 tercatat 249.007. di Indonesia jumlah kasus kusta yang tercatat akhir tahun 2008 adalah 22.359 orang. Distribusi tidak merata, yang tertinggi antara lain pulau Jawa, Sulawesi, Maluku dan Papua.

Patogenesis7
Pada tahun 1960 Shepard berhasil menginoklusikan M leprae pada kaki mencit dan berkembang biak di sekitar tempat suntikan. Dari berbagai sepesimen, bentuk lesi maupun negara asal penderita, ternyata tidak ada perbedaan spesies.4 Agar dapat tubuh diperlukan jumlah minimum M leprae di tempat suntikkan namun jumlah maksimal tidak berarti meningkatkan perkembangbiakan. Inokulasi pada mencit yang telah diambil timusnya dengan diikuti iradiasi 900 r, sehingga kehilangan respon imun selularnya akan menghasilkan granuloma penuh kuman terutama di bagian tubuh yang relatif dingin yaitu hidung, cuping telinga, kaki dan ekor. Kuman tersebut selanjutnya dapat diinokulasikan lagi, berarti memenuhi salah satu postulat Koch, meskipun belum seluruhnya dapat dipenuhi.Sebenarnya Mycobacterium Leprae mempunyai patogenitas dan daya invasi yang rendah, sebab penderita yang mengandung kuman lebih banyak belum tentu memberikan gejala yang lebih berat, bahkan dapat sebaliknya. Ketidakseimbangan antara derajat infeksi dengan derajat penyakit, tidak laib disebabkan oleh respon imun yang berbeda, yang menggugah timbulnya rekasi granuloma setempat atau menyeluruh yang dapat sembuh sendiri atau progresif.1 Oleh karena itu penyakit kusta dapat disebut sebagai penyakit imunologik. Telah sedikit dipahami mengenai perbedaan reaksi dari M leprae pada individu yang berbeda. Kromosom 10p13 merupakan lokus yang mengandung kode dari reseptor mannose C yang mempunyai peranan penting pada rekasi selluler dari M leprae. Pada umumnya, kusta ditemukan berkaitan dengan HLA-DR2.6

12 Morbus Hansen

KONTAK NON-INFEKSI INFEKSI 95% SUBKLINIS

SEMBUH

70% INDETERMINATE 30% DETERMINATE

TT

Ti

BT

BB

BL

Li

LL

Ridley dan Jopling memperkenalkan istilah spektrum determinate pada penyakit kusat yang terdiri atas pelbagai tipe atau bentuk, yaitu: a. TT : tuberkuloid polar, bentuk stabil b. Ti : tuberkuloid indefinite c. BT : Borderline tuberculoid d. BB : Mid borderline e. BL : Borderline lepromatous f. Li : Lepromatosa indefinite g. LL : Lepromatosa polar, bentuk stabil h. Sedangkan tipe I (inderteminate) tidak termasuk dalam spektrum.1 Reaksi Lepra Reaksi kusta atau reaksi lepra adalah suatu episode akut dalam perjalanan kronis penyakit kusta yang merupakan reaksi kekebalan (respon selular) bentuk yang labil

13 Morbus Hansen

atau reaksi antigen-antibody dengan akibat merugikan pasien. Jenis reaksinya, yaitu: a. Reaksi tipe I Terjadi pada pasien borderline, disebabkan meningkatnya

kekebalan selular secara cepat. Pada reaksi ini terjadi pergeseran tipe kusta ke arah PB. Faktor pencetusnya tidak diketahui secara pasti tapi diperkirakan ada hubungan dengan reaksi hipersensitivitas tapi lambat.1 Gejala klinis tipe I berupa perubahan lesi kulit , neuritis (nyeri tekan pada saraf). b. Reaksi tipe II Reaksi ini terjadi pada pasien tipe MB dan merupakan reaksi humoral, dimana basil kusta yang utuh maupun tak utuh menjadi antigen. Tubuh akan membentuk antibodi dan komplemen sebagai respon adanya antigen. Reaksi kompleks imun terjadi antara antigen, antibodi dan komplemen.5 Kompleks imun ini dapat mengendap antara lain dikulit berbentuk nodul yang dikenal sebagai Eritema Nodusum Leprosum (ENL), mata (iridosiklitis), sendi (artitis), dan saraf (neuritis) dengan disertai demam dan malaise serta komplikasi pada organ tubuh lainnya.

Penatalaksanaan8
Obat antikusta yang paling banyak dipakai pada saat ini adalah DDS (diaminodifenil sulfon) kemudian klofazimin dan rifampisin. DDS merupakan obat terpilih untuk semua tipe penyakit lepra. Obat ini digunakan baik pada terapi obat tunggal maupun kombinasi. Pengobatan lepra di Indonesia ada dua cara, yaitu terapi obat kombinasi dan terapi obat tunggal. Terapi obat kombinasi yang dianjurkan di Indonesia sesuai dengan yang dianjurkan oleh WHO. a. Terapi Obat Kombinasi. Paduan obat untuk kelompok pausibasiler (PB) adalah DDS 100mg/hari selama 6-9 bulan dan rifampisin 600mg sebulan sekali untuk 6 bulan.2 Paduan obat untuk kelompok multibasiler (MB) adalah DDS 100mg/hari, rifampisin 600mg sebulan sekali, dan klofazimin 300mg setiap bulan dalam pengawasan, diteruskan

14 Morbus Hansen

klofazimin 50mg/hari. Lama pengobatan paling sedikit 2 tahun dan paling baik sampai hasil pemeriksaan BTA negatif. b. Terapi Obat Tunggal Di daerah-daerah yang belum terjangkau terapi obat kombinasi masih dilakukan terapi obat tunggal. Untuk tipe PB diberikan DDS 100mg/hari yang lamanya paling sedikit 2-3 tahun, sedang untuk MB lama pengobatan tidak ditentukan.1 Kini pengobatan dengan obat tunggal tidak dianjurkan lagi. Oleh karena itu bila pasien yang sedang dalam terapi obat tunggal kemudian memperoleh

kesempatan untuk mendapatkan obat kombinasi, maka pengobatan dimulai lagi seolah belum pernah mendapat pengobatan.2 c. Pengobatan ENL Obat yang paling sering digunakan adalah tablet kortikosteroid, antara lain prednison. Dosis tergantung berat ringannya reaksi, biasanya prednison 15-30 mg sehari dan kadang-kadang lebih. Makin berat reaksinya makin tinggi dosisnya. Sesuai dengan perbaikan reaksi, dosisnya diturunkan secara bertahap sampai berhenti sama sekali. Selain itu bisa digunakan klofazimin dengan dosis 200-300mg sehari selama 1 minggu. Kalau di luar negeri seperti Amerika Serikat menggunakan talidomid untuk mengobati reaksi lepra tipe ENL dengan dosis awal 400mg, kemudian dilanjutkan dengan dosis 100mg/hari.2 Namun hati-hati terhadap ibu hamil karena akan terjadi efek teratogenik. d. Pengobatan Reaksi Reversal Pada reaksi ini, harus perlu perhatikan apakah disertai neuritis atau tidak. Kalau tidak, tidak perlu diberi pengobatan tambahan. Tetapi kalau ada neuritis akut, obat pilihan pertama adalah kortikosteroid yang dosisnya disesuaikan dengan berat ringannya neuritis. Biasanya diberikan prednison 40mg sehari dan kemudian diturunkam perlahan-lahan.

15 Morbus Hansen

Pencegahan9
Cara terbaik untuk melakukan pencegahan terutama pencegahan cacat atau prevention of disabilities (POD) adalah: a. Dengan melaksanakan diagnosa dini kusta b. Pemberian pengobatan yang cepat dan tepat c. Mengenali gejala dan tanda reaksi kusta yang disertai gangguan saraf serta memulai pengobatan dengan kortikosteroid sesegera mungkin.1 d. Bila terdapat gangguan sensibilitas, penderita diberi petunjuk sederhana, misalnya memakai sarung tangan bila bekerja dengan benda tajam atau panas.1 e. Ajarkan pula cara perawatan kulit sehari-hari agar tidak kering dan pecah.1

Komplikasi10
Jika penyakit ini tidak segera mendapat penanganan yang baik, maka dapat terjadi komplikasi pada anggota gerak, hidung, mata, abses saraf, dan alat kelamin. Anggota gerak dapat kehilangan indra perasa dan tidak berfungsi sebagaimana mestinya, kerusakan tulang rawan hidung, gangguan penglihatan, infeksi saluran testis dan kerusakan sistem saraf perifer.4

Prognosis11
Pada kasus kusta yang tidak diterapi, pasien yang bisa sembuh sendiri tanpa pengobatan adalah pasien yang mengidap kusta tipe TT dan BT yang berkembang menjadi TT. Sementara yang lainnya akan terjadi perkembangan secara progresif. Gejala yang timbul sering kali karena cedera saraf dan fase reaksi. BT, BB, BL, LLs bisa berkembang menjadi lebih buruk upgrade, sementara BT, BB dan BL yang downgrading akan dapat sembuh sendiri. BL, LLs, dan LLp bisa berkembang mejadi ENL. Neutritis perifer sering kali mengakibatkan kerusakan saraf sensoris permanen dan susah untuk ditangan, hanya dapat dikurangi peradangannya dengan kortikosteroid.3

16 Morbus Hansen

Kesimpulan12
Setelah melakukan pembahasan yang di atas, maka laki-laki usia 40 tahun dengan keluhan bercak merah pada dada kirinya dan terasa baal disebabkan oleh Mycobacterium leprae yang juga menggangu sistem saraf motorisnya sehingga terdapat kelemahan pada tangan kanannya.

17 Morbus Hansen

DAFTAR PUSTAKA

1. Djuanda A. Ilmu penyakit kulit dan kelamin. Dalam: Djuanda A, Hamzah M, Aisah S, penyunting. Dermatosis eritroskuamosa. Edisi ke-6. Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia; 2010. h. 73-88. 2. Suherman SK, Ascobat P. Farmakologi dan terapi. Dalam: Gunawan SG, Setiabudy R, Nafrialdi, Elysabeth, penyunting. Tuberkulostik dan leprostatik. Edisi ke-5. Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia; 2007. h. 613-37. 3. Siregar RS. Saripati penyakit kulit. Edisi II. Jakarta: EGC;2005.h.86-90 4. Amirudin MD, Hakim Z, Darwis E. Diagnosis penyakit kusta. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia;2003.h.12-31 5. Emmy S,dkk. Kusta. Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia;2003 6. Setiadi. Konsep dan proses keperawatan keluarga. Surabaya: Graha Ilmu;2008.h.16-18 7. Setiabudy, R. Bahry, B. Obat jamur. Dalam: Gunawan, S.G., Setiabudy, R., Nafrialdi, Elysabeth. Farmakologi dan terapi. Edisi kelima. Jakarta: FK UI ; 2009.h.574-5, 579-82. 8. Wolff, K., Johnson, R.A., Suurmond, D. Fitzpatricks color atlas & synopsis of clinical dermatology. Edisi kelima. USA: The McGraw-Hill Companies; 2005.h.699-700.

18 Morbus Hansen