Anda di halaman 1dari 9

2

GEOMORFOLOGI GUNUNG API


MAKALAH Sebagai tugas mata kuliah Vulkanologi Oleh : Rifki Muhammad Fauzi 270110120069 Geologi D

FAKULTAS TEKNIK GEOLOGI UNIVERSITAS PADJAJARAN 2014

BAB I ISI Morfologi Gunungapi


Morfologi gununungapi dapat dibedakan menjadi tiga zona dengan ciri-ciri yang berlainan, yaitu : a. Zona Pusat Erupsi Pada zona pusat erupsi biasanya memiliki ciri-ciri ditemukannya banyak radial dike/sill, lalu adanya simbat kawah (plug) dan crumble breccia, juga pada zona pusat erupsi ini biasanya terdapat zona hidrotermal akibat panas magma di dalam gunung api yang berinteraksi dengan air tanah. Juga pada daerah ini menghasilkan endapan piroklastik yang kasar dengan bentuk morfologinya berbentuk kubah. b. Zona Proksimal Pada zona ini biasanya terdapat material piroklastik yang sedikit terorientasi, juga pada material piroklastik dan lava dijumpai adanya proses pelapukan pelapukan, dicirikan oleh lapisan soil(tanah) yang tipis. Pada zona proksimal juga sering dijumpai parasitic cone dan banyak dijumpai ignimbrit dan welded tuff c. Zona Distal Pada zona distal didominasi oleh endapan rombakan gunung api seperti halnya breksi lahar, breksi fluviatil, konglomerat, batupasir, dan batulanau. Endapan primer gunung api di fasies ini umumnya berupa tuf. Ciri-ciri litologi secara umum tersebut tentunya ada kekecualian apabila terjadi letusan besar sehingga menghasilkan endapan aliran piroklastika atau endapan longsoran gunung api yang melampar jauh dari sumbernya.

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Morfologi Gunung Berapi


Morfologi gunung berapi tergantung pada beberapa faktor: 1. Virulensi letusan. Besarnya pengaruh letusan gunung berapi sedemikian rupa bahwa letusan kuat dan akan mencuramkan letusan gunung berapi, sedangkan letusan dahsyat mengakibatkan kerusakan bentuk. 2. Frekuensi letusan. Jika letusan terjadi dengan jarak waktu, maka letusan berikutnya atau gas lava akan menemukan cara lain. Sebagai akibat dari insiden ini akan membentuk mulut kawah lebih rumit.
Vulkanologi

3. Sifat magma. Kekentalan magma, apakan magma itu basa asam ataupun intermediet akan mempengaruhi morfologi gunung api tersebut. 4. Tekanan aliran-aliran lava yang naik di atas. Tekanan aliran aliran lava yang naik ke atas, secara bertahap akan melemahkan dan menghancurkan dinding kawah. 5. Kegiatan Vukanisme. Kegiatan seperti pembentukan kaldera vulkanik akan mengganggu perkembangan gunung berapi. 6. Adanya hujan rintik-rintik kerucut (cone hujan rintik-rintik). Keberadaan kerucut hujan rintik-rintik, kerucut yang berisi curam, terdiri dari bahan batuan lepas disimpan di atas salah satu pipa umumnya berkomposisi basalan kawah sekitar akhir lava mengalir. 7. Perpindahan dari pusat gunung berapi (tabung lava). Migrasi pusat aktivitas vulkanik (lava tube), berkaitan erat dengan aktivitas tektonik lokal. 8. Keberadaan gua-gua di daerah aliran lava.

Macam-macam Bentang Alam Vulkanik


Bentang alam vulkanik dibedakan menjadi beberapa macam dengan dasar klasifikasi kenampakan visual morfologinya. Srijono (1984, dikutip Widagdo, 1984), menggambarkan klasifikasi bentang alam vulkanik berdasarkan bentuk morfologinya. Klasifikasi tersebut dapat diuraikan menjadi : Bentuk Timbulan (Morfologi Positif) / Kubah Vulkanik Merupakan morfologi gunungapi yang mempunyai bentuk cembung ke atas. Morfologi ini dibedakan atas dasar asal kejadiannya menjadi : A. Kerucut Semburan Kerucut Semburan Utama, Merupakan morfologi kerucut semburan yang terbentuk oleh erupsi lava yang bersifat kental/andesitik. Kerucut Parasit (Parasitic Cone), Merupakan morfologi yang terbentuk sebagai hasil erupsi gunungapi yang berada pada lereng gunungapi yang lebih besar. Kerucut Sinder (Cinder Cone), Merupakan morfologi yang terbentuk oleh erupsi kecil yang terjadi pada kaki gunungapi, berupa kerucut rendah dengan bagian puncak tampak cekung datar.
Vulkanologi

B. Kubah Lava (Lava Dome) Merupakan morfologi yang berbentuk kubah membulat yang terbentuk oleh magma yang sangat kental, biasanya dacite/rhyolite. Kubah terdiri dari satu atau lebih aliran lava individu. C. Gunungapi Tameng/Perisai Merupakan morfologi yang terbentuk oleh aliran magma cair encer, sehingga pada waktu magma keluar dari lubang kepundan, meleleh ke semua arah dala jumlah besar dari suatu kawah besar/kawah pusat dan menutupi daerah yang luas yang relatif tipis. Sehingga bentuk gunung yang terbentuk mempunyai alas yang sangat luas dibandingkan dengan tingginya. Sifat magmanya basa dengan kekentalan rendah dan kurang mengandung gas. Karena itulah erupsinya lemah, keluarnya ke permukaan bumi secara effusif/meleleh. Akibatnya lerengnya landai (20 100) tingginya tidak seberapa dibanding diameternya, dan permukaan lereng yang halus. Contohnya adalah gunungapi di Hawaii (Mauna Loa, Kilauea). D. Dataran Vulkanik Secara relatif, dataran vulkanik dicirikan oleh puncak topografi yang datar, dengan variasi beda tinggi yang tidak mencolok. Macam-macam dataran vulkanik diantaranya adalah dataran basal, plato basal dan dataran kaki vulkan. E. Vulkan Semu Vulkan semu adalah morfologi mirip kerucut gunungapi, bahan pembentuknya berasal dari vulkan yang berdekatan. Dapat pula terbentuk oleh erosi lanjut terhadap suatu vulkan yang sudah lama tidak menunjukkan kegiatannya (mati). Morfologi ini kemungkinan dihasilkan oleh suatu sistem patahan mayor yang melintasi gunungapi aktif dan mampu mengangkat massa yang besar. Morfologi vulkan semu ini sering disebut Gunung Gendol. Gunung Gendol adalah bukit kecil di daerah muntilan , Jawa Tengah pada dataran kaki vulkan G. Merapi. Vulkan semu jenis lain adalah lajuran vulkanik (volcanic neck), yaitu morfologi yang terbentuk bila suatu kubah vulkanik tererosi sehingga tinggal berbentuk lajuran. Biasanya, di sekitar vulkanik tersebut sering dijumpai retas yang memanjang. Depresi Vulkanik (Morfologi Negatif) Depresi vulkanik adalah morfologi bagian vulkan yang secara umum berupa cekungan. Berdasarkan material pengisinya depresi vulkanik dibedakan menjadi : a. Danau Vulkanik Danau vulkanik yaitu depresi vulkanik yang terisi oleh air sehingga membentuk danau.

Vulkanologi

b. Kawah Yaitu depresi vulkanik yang terbentuk oleh letusan dengan diameter maksimum 1,5 km, dan tidak terisi oleh apapun selain material hasil letusan. Berdasarkan asal mulanya dibedakan kawah letusan dan kawah runtuhan. Sedang berdasarkan letaknya terhadap pusat kegiatan dikelompokkan kawah kepundan dan kawah samping (kawah parasiter). Pengisian kawah oleh airhujan akan menyebabkan terbentuknya danaukawah. Dan letusan pada gunungapi yang mempunyai danaukawah akan menyebabkan terjadinya lahar letusan yang bersuhu tinggi. c. Kaldera Yaitu depresi vulkanik yang terbentuknya belum tentu oleh letusan, tetapi didahului oleh amblesan pada komplek vulkan, dengan ukuran lebih dari 1,5 km. Pada kaldera ini sering muncul gunungapi baru. Menurut H. William (1947), berdasarkan proses yang membentuknya kaldera dibedakan menjadi : 1. Kaldera letusan, yaitu kaldera yang disebabkan oleh letusan gunungapi yang sangat kuat yang menghancurkan bagian puncak kerucut dan mnyemburkan massa batuan dalam massa yang sangat besar. Kaldera Bandai-san di Jepang dan Tarawera di New Zealand termasuk dalam jenis ini. 2. Kaldera runtuhan, yaitu kaldera yang disebabkan oleh letusan yang berjalan cepat yang memuntahkan batuapung dalam jumlah banyak, sehingga menyebabkan kekosongan pada dapur magma. Penurunan permukaan magma di dalam waduk pun akan menyebabkan runtuhnya bagian atas dapur magma, dan memicu terjadinya runtuhan bagian puncak gunungapi. Hampir kebanyakan kaldera terbentuk melalui proses ini, contoh kaldera Krakatau, di Indonesia dan Crater Lake di Oregon, Amerika. 3. Kaldera erosi, yaitu kaldera yang disebabkan oleh erosi pada bagian puncak kerucut, dimana erosi akan memperlebar daerah lekukan sehingga daerah kalderah tersebut semakin luas. Gejala seperti ini banyak ditemukan di gunungapi Jepang. Selain morfologi di atas, berikut disampaikan macam-macam morfologi hasil erupsi vulkanik : Morfologi hasil erupsi sentral a. Dari magma encer : Hornitos Exogeneous dome b. Dari magma intermediet : Cinder Cone Pyroclastic ring fall Indogeneous dome c. Dari magma kental : Maar Crater Kaldera
Vulkanologi

Morfologi hasil erupsi celah a. Berasal dari magma encer : Lava flow Lava plateu b. Dari magma intermediet : Tanggul lava Strato volkanic ridge c. Dari magma kental : Endogeneous ridge Kalau tidak ada gangguan, suatu gunungapi yang tumbuh semakin besar akan mempunyai bentuk yang teratur, baik berupa kerucut maupun bentuk lainnya. Faktorfaktor yang menyebabkan tidak teraturnya bentuk gunungapi antara lain : 1. Kegiatan vulkanisme, seperti pembentukan kaldera, dimana kegiatan tesebut akan mengganggu pekembangan suatu gunungapi. 2. Berpindahnya pusat kegiatan gunungapi (pipa kepundan), dimana berkaitan erat dengan keaktifan tektonik daerah setempat. 3. Tekanan arus dari aliran lava yang naik ke atas, yang lama-kelamaan akan merusak dan menghancurkan dinding kepundan. 4. Adanya kerucut spater (spatter cone), yaitu suatu kerucut yang bersisi curam yang tersusun dari batuan bahan lepas yang terendapkan di atas celah atau pipa kepundan, dan umumnya berkomposisi basalan; atau hornito yang juga merupakan kerucut spater di sekitar ujung aliran lava. 5. Adanya gua-gua pada aliran lava (lava tube).

Vulkanologi

BAB II KESIMPULAN
Morfologi gununungapi dapat dibedakan menjadi tiga zona dengan ciri-ciri yang berlainan, yaitu : a. Zona Pusat Erupsi b. Zona Proksimal c. Zona Distal Morfologi gunung berapi tergantung pada beberapa faktor: 1. Virulensi letusan. Besarnya pengaruh letusan gunung berapi sedemikian rupa bahwa letusan kuat dan akan mencuramkan letusan gunung berapi, sedangkan letusan dahsyat mengakibatkan kerusakan bentuk. 2. Frekuensi letusan. Jika letusan terjadi dengan jarak waktu, maka letusan berikutnya atau gas lava akan menemukan cara lain. Sebagai akibat dari insiden ini akan membentuk mulut kawah lebih rumit. 3. Sifat magma. Kekentalan magma, apakan magma itu basa asam ataupun intermediet akan mempengaruhi morfologi gunung api tersebut. 4. Tekanan aliran-aliran lava yang naik di atas. Tekanan aliran aliran lava yang naik ke atas, secara bertahap akan melemahkan dan menghancurkan dinding kawah. 5. Kegiatan Vukanisme. Kegiatan seperti pembentukan kaldera vulkanik akan mengganggu perkembangan gunung berapi. 6. Adanya hujan rintik-rintik kerucut (cone hujan rintik-rintik). Keberadaan kerucut hujan rintik-rintik, kerucut yang berisi curam, terdiri dari bahan batuan lepas disimpan di atas salah satu pipa umumnya berkomposisi basalan kawah sekitar akhir lava mengalir. 7. Perpindahan dari pusat gunung berapi (tabung lava). Migrasi pusat aktivitas vulkanik (lava tube), berkaitan erat dengan aktivitas tektonik lokal. 8. Keberadaan gua-gua di daerah aliran lava.

Vulkanologi

Srijono (1984, dikutip Widagdo, 1984), menggambarkan klasifikasi bentang alam vulkanik berdasarkan bentuk morfologinya. Klasifikasi tersebut dapat diuraikan menjadi : Bentuk Timbulan (Morfologi Positif) / Kubah Vulkanik Merupakan morfologi gunungapi yang mempunyai bentuk cembung ke atas. Morfologi ini dibedakan atas dasar asal kejadiannya menjadi : Kerucut Semburan, Kubah Lava (Lava Dome), Gunungapi Tameng/Perisai, Dataran Vulkanik, Vulkan Semu Depresi Vulkanik (Morfologi Negatif) Depresi vulkanik adalah morfologi bagian vulkan yang secara umum berupa cekungan. Berdasarkan material pengisinya depresi vulkanik dibedakan menjadi : Danau Vulkanik, Kawah, Kaldera

Vulkanologi

Daftar Pustaka
Ishalahudin, Imam. 2011. Bentang Alam Vulkanik. Dikutip http://geologist24.blogspot.com/2011/04/bentang-alam-vulkanik.html dari :

Anonim. 2011. Faktor-Faktor yang mempengaruhi morfologi gunung api. Dikutip dari : http://education-generation.blogspot.com/2011/10/faktor-faktor-yang mempengaruhi.html

Vulkanologi