Anda di halaman 1dari 7

Trauma Jaringan Lunak Trauma jaringan lunak atau sering disebut luka, adalah hilang atau rusaknya jaringan

lunak yang meliputi kulit, otot, saraf, atau pembuluh darah akibat trauma. Beberapa komplikasi yang dapat terjadi yaitu perdarahan, kelumpuhan serta berbagai gangguan lainnya sesuai dengan penyebab dan beratnya trauma yang didapat. Pada kedokteran gigi Sejumlah besar dental trauma berhubungan dengan luka pada bibir, gingiva, dan mukosa oral. Sepertiga dari semua pasien cedera oral dirawat pada keadaan dental emergensi dan lebih dari setengah semua pasien yang dirawat di rumah sakit pada keadaan darurat berhubungan dengan cedera pada jaringan lunak. Gigi geligi terlindung oleh bibir. Energi trauma akan diserap oleh jaringan lunak sehingga cedera pada gigi tidak terlalu parah. Namun, hal ini akan mengakibatkan berbagai jenis trauma pada jaringan lunak tergantung dari kekuatan, bentuk dan ukuran dari benda yang menyebabkan trauma. Apalagi, ketika seorang pasien mengalami trauma, gigi juga bisa menyebabkan cedera pada jaringan lunak sekitarnya, yang paling sering ditemukan yaitu menembus ke bibir, tapi terkadang juga tembus pada pipi dan lidah. Ketika gigi dislokasi, gingival sewaktu-waktu akan robek. Pengobatan utama yang tidak benar akan menyebabkan bekas luka yang buruk.

A. Etiologi Trauma jaringan lunak dapat disebabkan oleh benda tumpul atau tajam, perubahan suhu, zat kimia, ledakan, sengatan listrik, atau gigitan hewan. Trauma fisik Luka ini biasanya disebabkan oleh benda-benda tumpul, tajam, kecelakaan lalu lintas, tembakan olahraga dan tawuran/perkelahian. Biasanya lukanya berupa sobekan, sayatan dan memar.

http://www.weltec.ac.nz/make-up-artistrywork/SE_album/slides/Bullet%20wound%20effect%20by%20Rebecca%20Henely%20%20(on%20Casey).j pg Trauma akibat zat kimia Luka akibat zat kimia biasanya merupakan luka bakar. Ini dapat terjadi akibat kelengahan, pertengkaran, kecelakaan kerja, dan kecelakaan di industri atau di laboratorium, dan akibat penggunaan gas beracun dalam peperangan. Kerusakan yang terjadi sebanding dengan kadar dan jumlah bahan yang mengenai tubuh, cara dan lamanya kontak, serta sifat dan cara kerja zat kimia tersebut. Zat kimia akan tetap merusak jaringan sampai bahan tersebut habis bereaksi dengan jaringan tubuh. Zat kimia seperti kaporit, kalium permanganate, dan asam kromat dapat bersifat oksidator. Baham korosif seperti fenol dan fosfor putih, serta larutan basa, seperti kalium hidroksida dan natrium hidroksida menyebabkan denaturasi protein. Denaturasi akibat penggaraman dapat disebabkan oleh asam formiat, asetat, tanat, fluorat, dan klorida. Asam sulfat merusak sel karena bersifat cepat menarik air. Gas yang dipakai dalam peperangan menimbulkan luka bakar dan menyebabkan anoksia sel bila berkontak dengan kulit atau mukosa. Beberapa zat dapat menyebabkan keracunan sistemik. Asam fluoride dan oksalat dapat menyebabkan hipokalsemia. Asam tanat, kromat, formiat, pikrat, dan fosfor dapat merusak hati dan ginjal kalau diabsorbsi. Lisol menyebabkan methemoglobinemia.

http://www.burnsurgery.com/Betaweb/Modules/BurnWound/images/full_thick_admis.jpg Luka radiasi dan ionisasi Radiasi adalah pancaran dan pemindahan energi melalui ruang dari suatu sumber ke tempat lain tanpa perantaraan massa atau kekuatan listrik. Energi ini dapat berupa radiasi electromagnet, seperti cahaya, sinar Rontgen, sinar gamma, dan radiasi partikel yang merupakan sinar alfa, beta, proton, neuron atau positron. Pemindahan energi, selain menimbulkan panas yang tidak berarti, juga merangsang molekul sel dan menimbulkan reaksi ionisasi yang bersifat destruktif bagi sel, terutama bagi DNA. Gejala dan tanda luka radiasi ini berupa luka bakar. Luka bakar ini dapat menyebabkan eritem ringan sementara yang berlangsung 2-3 jam. Eritem ini menimbulkan rasa hangat. Eritem yang menetap timbul setelah gejala ringan ini hilang, dan disebabkan oleh radiasi kekuatan sedang. Kerusakan subkutan serupa dengan luka bakar derajat tiga. Ujung saraf, folikel rambut, kelenjar keringat, dan pembuluh kapiler hilang.

http://www.kenniederbaumer.com/fx/Thumbnails/19.jpg

B. Klasifikasi Cedera jaringan lunak biasanya dibagi beberapa kelompok dan karakteristiknya pun beragam. Cedera ini bisa dilihat di luar (kulit) dan di dalam mulut (gingival dan mukosa oral). Trauma jaringan lunak atau luka secara garis besar dibagi menjadi dua, yaitu: a) Luka Terbuka b) Luka Tertutup

a. Luka Terbuka Cedera jaringan lunak disertai kerusakan/terputusnya jaringan kulit yaitu rusaknya kulit dan bisa disertai jaringan bawah kulit. Luka terbuka dapat diklasifikasikan sesuai dengan objek yang menyebabkan luka. Jenis luka terbuka adalah: Luka lecet / abrasion Terjadi biasanya akibat gesekan dengan permukaan yang tidak rata. Cedera ini biasanya dilihat pada lutut dan siku pada anak-anak dan pada bibir, pipi, dagu atau ujung hidung. Gesekan antara objek dan permukaan jaringan lunak menghilangkan lapisan epitel dan papiler, dan juga lapisan retikuler. Abrasi superficial cukup menyakitkan karena mengenai ujung saraf.

Luka robek / laceration Luka ini memiliki ciri tepi yang tidak beraturan, biasanya terjadi akibat tumbukan dengan benda yang relatif tumpul dan tajam. Luka sobek melibatkan jaringan epitel dan subepitel dan jika lebih dalam bisa mengganggu pembuluh darah, saraf, otot dan kelenjar saliva. Luka robek yang banyak pada mulut disebabkan oleh trauma yang terlihat pada bibir, mukosa oral dan gingival. Paling jarang terlibat yaitu lidah.

http://www.cnehomehealth.org/healthGate/images/si55551558.jpg Luka avulsi / avulsion Luka ini ditandai dengan bagian tubuh yang terlepas, namun masih ada bagian yang menempel. Cedera avulsi (hilangnya jaringan) jarang ditemukan, tapi terlihat karena gigitan ataupun abrasi yang dalam. Cedera ini sangat kompleks dari cara pemilihan perawatan pada

fase darurat, apakah dipotong dan ditutup dengan cangkokan primer (jika cacat yang besar) atau menunggu untuk sembuh dengan sendirinya (jika cacat kecil).

http://www.orthosupersite.com/images/content/OT/200705/38_image1.jpg b. Luka tertutup Cedera jaringan lunak tanpa kerusakan/terputusnya jaringan kulit, yang rusak hanya jaringan di bawah kulit. Jenis luka tertutup, yaitu: Luka memar Terjadi akibat benturan dengan benda tumpul, biasanya terjadi di daerah permukaan tubuh, darah keluar dari pembuluh dan terkumpul di bawah hulit sehingga bisa terlihat dari luar berupa warna merah kebiruan. Luka memar juga disebabkan oleh gangguan tulang fraktur pada cedera maksilofasial. Luka memar bisa menunjukkan sebuah fraktur tulang.

http://www.empowher.com/files/ebsco/images/si55550372.jpg

Hematoma (darah yang terkumpul di jaringan) Prinsipnya sama dengan luka memar tetapi pembuluh darah yang rusak berada jauh di bawah permukaan kulit dan biasanya besar, sehingga yang terlihat adalah bengkak, biasanya besar yang kemerahan.

http://www.meddean.luc.edu/lumen/meded/medicine/pulmonar/pdself/Lymphatics/Hematom a.jpg

Source: Sjamsuhidajat, R., & de Jong, W. (2005). Buku Ajar Ilmu Bedah Edisi 2. Jakarta: EGC. (2010, September 22). Retrieved Februari 12, 2011, from http://www.scribd.com/doc/37939223/Jaringan-lunak