Anda di halaman 1dari 18

Apa Infeksi Oportunistik Itu?

S
Dalam tubuh, kita membawa banyak kuman bakteri, parasit, jamur dan virus. Sistem
kekebalan yang sehat mampu mengendalikan kuman ini. Tetapi bila sistem kekebalan
dilemahkan oleh penyakit HIV atau obat tertentu, kuman ini mungkin tidak terkendali lagi
dan menyebabkan masalah kesehatan.
Infeksi yang mengambil kesempatan dari kelemahan dalam pertahanan kekebalan disebut
oportunistik. Istilah infeksi oportunistik sering kali disingkat menjadi IO.
Angka IO sudah menurun secara dramatis sejak tersedia terapi antiretroviral (ART). Namun
IO masih menimbulkan masalah, terutama untuk orang yang baru diketahui terinfeksi HIV
setelah infeksinya lebih lanjut. Banyak orang masih dirawat inap di rumah sakit dengan IO
yang berat. Akibat ini, mereka dites HIV, dan baru diketahui terinfeksinya.
Tes untuk IO
Kita dapat terinfeksi IO, dan dites positif untuk IO tersebut, walaupun IO tersebut belum
menimbulkan penyakit. Misalnya, hampir setiap orang dengan HIV jika dites untuk virus
sitomegalia (cytomegalovirus atau CMV) ternyata positif. Tetapi penyakit CMV sangat
jarang berkembang kecuali bila jumlah CD4 turun di bawah 50, yang merupakan tanda
kerusakan berat terhadap sistem kekebalan.
Untuk menentukan apakah kita terinfeksi IO, darah kita dapat dites untuk antigen (potongan
kuman penyebab IO) atau untuk antibodi (protein yang dibuat oleh sistem kekebalan untuk
memerangi antigen). Ditemukan antigen berarti kita terinfeksi. Ditemukan antibodi berarti
kita pernah terpajan pada infeksi. Kita mungkin diberikan imunisasi atau vaksinasi terhadap
infeksi tersebut, atau sistem kekebalan mungkin memberantas infeksi dari tubuh kita, atau
pun kita mungkin tetap terinfeksi. Jika kita terinfeksi kuman penyebab IO, dan jika jumlah
CD4 kita cukup rendah sehingga memungkinkan IO berkembang, dokter kita akan mencari
tanda penyakit aktif. Tanda ini tergantung pada IO.
IO dan AIDS
Orang yang tidak terinfeksi HIV dapat mengembangkan IO jika sistem kekebalannya rusak.
Misalnya, banyak obat yang dipakai untuk mengobati kanker menekan sistem kekebalan.
Beberapa orang yang menjalani pengobatan kanker dapat mengembangkan IO.
HIV melemahkan sistem kekebalan, sehingga IO dapat berkembang. Jika kita terinfeksi HIV
dan mengalami IO, kita mungkin AIDS.
Di Indonesia, Kemenkes bertanggung jawab untuk memutuskan siapa yang AIDS. Kemenkes
mengembangkan pedoman untuk menentukan IO yang mana mendefinisikan AIDS. Jika kita
HIV, dan mengalami satu atau lebih IO resmi ini, maka kita dianggap AIDS.
IO Mana yang Paling Umum?
Pada tahun-tahun pertama epidemi AIDS, IO menyebabkan banyak kesakitan dan kematian.
Namun, setelah orang mulai memakai ART, penyakit akibat IO dialami oleh jauh lebih
sedikit orang. Tidak jelas berapa banyak orang dengan HIV akan jatuh sakit dengan IO
tertentu.
Pada perempuan, penyakit pada vagina dapat menjadi tanda awal infeksi HIV. Masalah ini,
antara lain, termasuk penyakit radang panggul dan vaginosis bakteri.
Berikut tercantum IO yang paling umum, berbarengan dengan penyakit yang biasa
disebabkannya, dan jumlah CD4 waktu penyakit menjadi aktif:
Kandidiasis adalah infeksi jamur pada mulut, tenggorokan, atau vagina. Rentang
CD4: dapat terjadi bahkan dengan CD4 yang agak tinggi. Lihat Lembaran Informasi
(LI) 516.
Virus sitomegalia (CMV) adalah infeksi virus yang menyebabkan penyakit mata
yang dapat menimbulkan kebutaan. Rentang CD4: di bawah 50. Lihat LI 501.
Dua macam virus herpes simpleks dapat menyebabkan herpes pada mulut atau
kelamin. Ini adalah infeksi yang agak umum, tetapi jika kita terinfeksi HIV,
perjangkitannya dapat jauh lebih sering dan lebih berat. Penyakit ini dapat terjadi
pada jumlah CD4 berapa pun. Lihat LI 519.
Malaria adalah umum di beberapa daerah di Indonesia. Penyakit ini lebih umum dan
lebih berat pada orang terinfeksi HIV.
Mycobacterium avium complex (MAC) adalah infeksi bakteri yang dapat
menyebabkan demam berulang, seluruh badan terasa tidak enak, masalah pencernaan,
dan kehilangan berat badan yang berlebihan. Rentang CD4: di bawah 50. Lihat
LI 510.
Pneumonia pneumocystis(PCP) adalah infeksi jamur yang dapat menyebabkan
pneumonia (radang paru) yang gawat. Rentang CD4: di bawah 200. Lihat LI 512.
Sayangnya PCP tetap menjadi IO yang agak umum pada orang yang belum diketahui
HIV, atau Odha yang belum mulai ART.
Toksoplasmosis (tokso) adalah infeksi protozoa yang menyerang otak. Rentang CD4:
di bawah 100. Lihat LI 517.
Tuberkulosis (TB) adalah infeksi bakteri yang menyerang paru, dan dapat
menyebabkan meningitis (radang pada sistem saraf pusat). Rentang CD4:TB dapat
menimbulkan penyakit dengan jumlah CD4 berapa pun. Lihat LI 515.
Mencegah IO
Sebagian besar kuman penyebab IO sangat umum, dan mungkin kita telanjur terinfeksi
beberapa infeksi ini. Kita dapat mengurangi risiko infeksi baru dengan tetap menjaga
kebersihan dan menghindari sumber kuman penyebab IO yang diketahui.
Meskipun kita terinfeksi beberapa IO, kita dapat memakai obat yang akan mencegah
pengembangan penyakit aktif. Pencegahan ini disebut profilaksis. Cara terbaik untuk
mencegah IO adalah untuk memakai ART. Lihat LI 403 untuk informasi mengenai ART ini.
Lihat lembaran informasi masing-masing IO untuk informasi lebih lanjut tentang
menghindari infeksi atau mencegah pengembangan penyakit aktif.
Mengobati IO
Untuk setiap IO, ada obat atau kombinasi obat tertentu yang tampak paling berhasil. Lihat
lembaran informasi setiap IO untuk lebih mempelajari tentang bagaimana IO tersebut diobati.
ART memungkinkan pemulihan sistem kekebalan yang rusak dan lebih berhasil memerangi
IO. LI 481 tentang pemulihan kekebalan mempunyai informasi tentang topik ini.
Ditinjau 12 Juni 2013 berdasarkan FS 500 The AIDS InfoNet 13 Agustus 2012

Kandidiasis
Unduh versi PDF
Apa Kandidiasis Itu?
Kandidiasis adalah infeksi oportunistik (IO) yang sangat umum pada orang terinfeksi HIV.
Infeksi ini disebabkan oleh sejenis jamur yang umum, yang disebut kandida. Jamur ini,
semacam ragi, ditemukan di tubuh kebanyakan orang. Sistem kekebalan tubuh yang sehat
dapat mengendalikan jamur ini. Jamur ini biasa menyebabkan penyakit pada mulut,
tenggorokan dan vagina. IO ini dapat terjadi beberapa bulan atau tahun sebelum IO lain yang
lebih berat. Lihat Lembaran Informasi (LI) 500 untuk informasi lebih lanjut tentang IO.
Pada mulut, penyakit ini disebut thrush. Bila infeksi menyebar lebih dalam pada
tenggorokan, penyakit yang timbul disebut esofagitis. Gejalanya adalah gumpalan putih kecil
seperti busa, atau bintik merah. Penyakit ini dapat menyebabkan sakit tenggorokan, sulit
menelan, mual, dan hilang nafsu makan. Kandidiasis juga dapat menyebabkan retak pada
ujung mulut, yang disebut sebagai kheilitis angularis.
Kandidiasis adalah berbeda dengan seriawan, walaupun orang awam sering menyebutnya
sebagai seriawan. Lihat LI 624 untuk informasi mengenai seriawan yang benar.
Kandidiasis pada vagina disebut vaginitis. Penyakit ini adalah umum. Gejala vaginitis
termasuk gatal, rasa bakar dan keluarnya cairan kental putih.
Kandida juga dapat menyebar dan menimbulkan infeksi pada otak, jantung, sendi, dan mata.
Apakah Kandidiasis Dapat Dicegah?
Tidak ada cara untuk mencegah terpajan kandida. Umumnya, obat tidak dipakai untuk
mencegah kandidiasis. Ada beberapa alasan:
Penyakit tersebut tidak begitu gawat
Ada obat yang efektif untuk mengobati penyakit tersebut
Jamur jenis ini dapat menjadi kebal (resistan) terhadap obat
Menguatkan sistem kekebalan tubuh dengan terapi antiretroviral (ART) adalah cara terbaik
untuk mencegah jangkitan kandidiasis.
Bagaimana Kandidiasis Diobati?
Sistem kekebalan tubuh yang sehat dapat menjaga supaya kandida tetap seimbang. Bakteri
yang biasa ada di tubuh juga dapat membantu mengendalikan kandida. Beberapa antibiotik
membunuh bakteri ini dan dapat menyebabkan kandidiasis. Mengobati kandidiasis tidak
dapat memberantas jamur itu. Pengobatan akan mengendalikan jamur agar tidak berlebihan.
Pengobatan dapat lokal atau sistemik. Pengobatan lokal diberikan pada tempat infeksi.
Pengobatan sistemik berpengaruh pada seluruh tubuh. Banyak dokter lebih senang memakai
pengobatan lokal dahulu. Obat lokal menimbulkan lebih sedikit efek samping dibanding
pengobatan sistemik. Juga risiko kandida menjadi resistan terhadap obat lebih rendah. Obat
yang dipakai untuk memerangi kandida adalah obat antijamur. Hampir semua namanya
diakhiri dengan -azol. Obat tersebut termasuk klotrimazol, nistatin, flukonazol, dan
itrakonazol.
Pengobatan lokal termasuk: olesan; supositoria yang dipakai untuk mengobati vaginitis;
cairan; dan lozenge yang dilarutkan dalam mulut.
Pengobatan lokal dapat menyebabkan rasa pedas atau gangguan setempat.
Pengobatan yang paling murah untuk kandidiasis mulut adalah gentian violet; obat ini
dioleskan di tempat ada lesi (jamur) tiga kali sehari selama 14 hari. Obat yang sangat murah
ini dapat diperoleh dari puskesmas atau apotek tanpa resep.
Pengobatan sistemik diperlukan jika pengobatan lokal tidak berhasil, atau jika infeksi
menyebar pada tenggorokan (esofagitis) atau bagian tubuh yang lain. Beberapa obat sistemik
tersedia dalam bentuk pil. Efek samping yang paling umum adalah mual, muntah dan sakit
perut. Kurang dari 20% orang mengalami efek samping ini.
Kandidiasis dapat kambuh. Beberapa dokter meresepkan obat antijamur jangka panjang. Ini
dapat menyebabkan resistansi. Ragi penyebab dapat bermutasi sehingga obat tersebut tidak
lagi berhasil.
Beberapa kasus berat tidak menanggapi obat lain. Dalam keadaan ini, amfoterisin B mungkin
dipakai. Obat ini yang sangat manjur dan beracun, dan diberi melalui mulut atau secara
intravena (infus). Efek samping utama obat ini adalah masalah ginjal (lihat LI 651) dan
anemia (kurang darah merah lihat LI 552). Reaksi lain termasuk demam, panas dingin,
mual, muntah dan sakit kepala. Reaksi ini biasa membaik setelah beberapa dosis pertam
Virus Sitomegalia (CMV)
Unduh versi PDF
Apa CMV Itu?
Virus sitomegalia (cytomegalovirus/CMV) adalah virus yang dapat mengakibatkan infeksi
oportunistik (IO lihat Lembaran Informasi (LI) 500). Virus ini sangat umum. Sampai 85%
masyarakat di AS terinfeksi CMV pada saat mereka berusia 40 tahun. Statistik untuk
Indonesia belum diketahui. Sistem kekebalan tubuh yang sehat mengendalikan virus ini,
sehingga tidak mengakibatkan penyakit.
Waktu pertahanan kekebalan menjadi lemah, CMV dapat menyerang beberapa bagian tubuh.
Kelemahan tersebut dapat disebabkan oleh berbagai penyakit termasuk HIV. Terapi
antiretroviral (ART) sudah mengurangi angka penyakit CMV pada Odha secara bermakna.
Namun, kurang lebih 5% Odha masih mengalami penyakit CMV.
Penyakit yang paling lazim disebabkan CMV adalah retinitis. Penyakit ini adalah kematian
sel pada retina, bagian belakang mata. Kematian sel ini dapat menyebabkan kebutaan secara
cepat jika tidak diobati. CMV dapat menyebar ke seluruh tubuh dan menginfeksi beberapa
organ sekaligus. Risiko penyakit CMV tertinggi waktu jumlah CD4 di bawah 50. Penyakit
CMV jarang terjadi dengan jumlah CD4 di atas 100.
Tanda pertama retinitis CMV adalah masalah penglihatan seperti titik hitam yang bergerak.
Ini disebut floater (katung-katung) dan mungkin menunjukkan adanya radang pada retina.
Kita juga mungkin memperhatikan cahaya kilat, penglihatan yang kurang atau bengkok-
bengkok, atau titik buta. Beberapa dokter mengusulkan pemeriksaan mata untuk mengetahui
adanya retinitis CMV. Pemeriksaan ini dilaksanakan oleh ahli mata. Jika jumlah CD4 kita
di bawah 200 dan kita mengalami masalah penglihatan apa saja, sebaiknya kita
langsung menghubungi dokter. Untuk informasi lebih lanjut mengenai masalah
penglihatan, lihat LI 621.
Beberapa Odha yang baru saja mulai memakai ART dapat mengalami radang dalam mata,
yang menyebabkan kehilangan penglihatan. Masalah ini disebabkan oleh sindrom pemulihan
kekebalan (lihat LI 483).
Sebuah penelitian baru memberi kesan bahwa orang dengan infeksi CMV aktif lebih mudah
menularkan HIV-nya pada orang lain.
Infeksi CMV dapat menyebabkan peradangan (lihat LI 484) walau tidak ada gejala penyakit
CMV. CMV dapat diaktifkan kembali pada banyak orang sebagai bagian dari penuaan yang
normal. Untuk mengurangi peradangan, CMV sebaiknya diobati, walau tidak ada gejala.
Bagaimana CMV Diobati?
Pada awal, pengobatan untuk CMV meliputi infus setiap hari. Karena harus diinfus setiap
hari, sebagian besar orang memasang keran atau buluh obat yang dipasang secara tetap pada
dada atau lengan. Dulu orang dengan penyakit CMV diperkirakan harus tetap memakai obat
anti-CMV seumur hidup.
Setelah mulai penggunaan ART, pasien dapat berhenti memakai pengobatan CMV jika
jumlah CD4-nya di atas 150 dan tetap begitu selama sedikitnya tiga bulan. Namun ada dua
keadaan yang khusus:
1. Sindrom pemulihan kekebalan dapat menyebabkan radang yang berat pada mata Odha
walaupun sebelumnya tidak pernah sakit CMV. Dalam hal ini, biasanya pasien
diberikan obat anti-CMV bersama dengan ART-nya.
2. Bila jumlah CD4 turun di bawah 50, risiko penyakit CMV meningkat.
Apakah CMV Dapat Dicegah?
Gansiklovir disetujui untuk mencegah (profilaksis) CMV, tetapi banyak dokter enggan
meresepkannya. Mereka tidak ingin menambahkan hingga 12 kapsul sehari pada pasien. Lagi
pula, belum jelas apakah profilaksis ini bermanfaat. Dua penelitian besar menghasilkan
kesimpulan berbeda. Akhirnya, ART dapat menahan jumlah CD4 pada tingkat yang cukup
tinggi sehingga yang memakainya tidak akan sakit CMV.
Bagaimana Kita Dapat Memilih Pengobatan CMV?
Ada beberapa masalah yang sebaiknya dipertimbangkan jika memilih pengobatan penyakit
CMV aktif:
Apakah ada risiko pada penglihatan? Kita harus segera bertindak agar kita tidak menjadi
buta.
Seberapa efektif pengobatan? Gansiklovir suntikan adalah pengobatan CMV yang paling
efektif secara keseluruhan. Bentuk susuk sangat baik untuk menghentikan retinitis. Namun
susuk hanya bekerja pada mata yang disusuk.
Bagaimana obat diberikan? Pil paling mudah dipakai. Pengobatan yang dimasukkan
langsung ke dalam pembuluh darah membutuhkan suntikan atau pembuluh obat, dan hal ini
dapat menimbulkan infeksi. Suntikan pada mata berarti menyuntik jarum langsung pada
mata. Bentuk susuk, yang bertahan enam sampai delapan bulan, membutuhkan sekitar satu
jam rawat jalan.
Apakah terapinya lokal atau sistemik? Terapi lokal hanya berpengaruh pada mata.
Retinitis CMV dapat cepat menyebar dan mengakibatkan kebutaan. Karena itu, penyakit ini
diobati dengan manjur waktu pertama ditemukan. Obat baru dalam bentuk suntikan dan
susuk menempatkan obat langsung dalam mata, dan menimbulkan dampak terbesar pada
retinitis.
Penyakit CMV juga dapat ditemukan pada bagian tubuh lain. Untuk menanggulangi di bagian
tubuh lain, kita membutuhkan terapi sistemik (seluruh tubuh). Pengobatan suntikan atau
infus, atau pil valgansiklovir, dapat dipakai.
Apa efek sampingnya? Beberapa obat CMV dapat merusak sumsum tulang atau ginjal. Ini
mungkin membutuhkan obat tambahan. Obat lain meliputi infus selama waktu yang lama.
Bahas efek samping pengobatan CMV dengan dokter.
Apa saran pedoman? Baru-baru ini ada beberapa pedoman profesional yang menyarankan
penggunaan valgansiklovir sebagai pengobatan pilihan untuk pasien yang tidak berisiko
segera kehilangan penglihatannya.
Garis Dasar
Penggunaan ART adalah cara terbaik untuk mencegah CMV. Jika jumlah CD4 kita rendah,
dan kita mengalami gangguan penglihatan APA PUN, kita harus langsung periksa ke
dokter!
Pengobatan langsung pada mata memungkinkan pengendalian retinitis CMV. Dengan obat
CMV baru, kita dapat menghindari buluh obat yang dipasang pada tubuh kita dan infus
harian.
Sebagian besar orang dapat menghentikan penggunaan obat CMV jika jumlah CD4-nya naik
dan tetap di atas 150 waktu memakai ART.
Ditinjau 7 Februari 2014 berdasarkan FS 504 The AIDS InfoNet 4 Februari 2014

Herpes Simpleks
Unduh versi PDF
Apa Herpes Simpleks Itu?
Herpes simpleks berkenaan dengan sekelompok virus yang menulari manusia. Serupa dengan
herpes zoster (lihat Lembaran Informasi (LI) 514), herpes simpleks menyebabkan luka-luka
yang sangat sakit pada kulit. Gejala pertama biasanya gatal-gatal dan kesemutan/perasaan
geli, diikuti dengan lepuh yang membuka dan menjadi sangat sakit. Infeksi ini dapat dorman
(tidak aktif) dalam sel saraf selama beberapa waktu. Namun tiba-tiba infeksi menjadi aktif
kembali. Herpes dapat aktif tanpa gejala atau tanda kasatmata.
Virus herpes simpleks tipe 1 (HSV-1) adalah penyebab umum untuk luka-luka demam (cold
sore) di sekeliling mulut. HSV-2 biasanya menyebabkan herpes kelamin. Namun HSV-1
dapat menyebabkan infeksi pada kelamin dan HSV-2 dapat menginfeksikan daerah mulut
melalui hubungan seks.
HSV adalah penyakit yang sangat umum. Di AS, kurang lebih 45 juta orang memiliki infeksi
HSV kurang lebih 20% orang di atas usia 12 tahun. Diperkirakan terjadi satu juta infeksi
baru setiap tahun. Prevalensi dan kejadian di Indonesia belum diketahui. Prevalensi infeksi
HSV sudah meningkat secara bermakna selama dasawarsa terakhir. Sekitar 80% orang
dengan HIV juga terinfeksi herpes kelamin.
Infeksi HSV-2 lebih umum pada perempuan. Di AS, kurang lebih satu dari empat perempuan
dan satu dari lima laki-laki terinfeksi HSV-2. HSV kelamin berpotensi menyebabkan
kematian pada bayi yang terinfeksi. Bila seorang perempuan mempunyai herpes kelamin aktif
waktu melahirkan, sebaiknya melahirkan dengan bedah sesar.
Jangkitan HSV berulang dapat terjadi bahkan pada orang dengan sistem kekebalan yang
sehat. Jangkitan HSV berjangka lama mungkin berarti sistem kekebalan tubuh sudah lemah.
Ini termasuk Odha, terutama mereka yang berusia di atas 50 tahun. Untungnya, jarang ada
jangkitan lama yang tidak menjadi pulih kecuali pada Odha dengan jumlah CD4 yang sangat
rendah. Jangkitan lama ini juga sangat jarang terjadi setelah tersedianya terapi antiretroviral
(ART).
HSV dan HIV
HSV tidak termasuk infeksi yang mendefinisikan AIDS. Namun orang yang terinfeksi HIV
dan HSV bersamaan lebih mungkin mengalami jangkitan herpes lebih sering. Jangkitan ini
dapat lebih berat dan bertahan lebih lama dibandingkan dengan orang tidak terinfeksi HIV.
Luka herpes menyediakan jalur yang dimanfaatkan HIV untuk melewati pertahanan
kekebalan tubuh, sehingga menjadi lebih mudah terinfeksi HIV. Sebuah penelitian baru
menemukan risiko orang dengan HSV tertular HIV adalah tiga kali lebih tinggi dibandingkan
orang tanpa HSV. Sebuah penelitian lain menemukan bahwa mengobati HSV dapat
mengakibatkan penurunan yang bermakna pada viral load HIV. Namun penelitian lain
menemukan bahwa mengobati herpes kelamin tidak mencegah infeksi HIV baru.
Orang dengan HIV dan HSV bersamaan juga sebaiknya sangat hati-hati waktu ada jangkitan
HSV. Pada waktu itu, viral load HIV-nya (lihat LI 125) biasanya meningkat, yang
meningkatkan risiko penularan HIV-nya pada orang lain.
Dari sisi lain, mengobati HSV pada orang dengan infeksi HIV dan HSV bersamaan dapat
mengurangi viral load HIV. Pengobatan ini juga dapat mengurangi risiko menyebarkan HIV
pada orang lain.
Bagaimana HSV Menular?
Infeksi HSV ditularkan dari orang ke orang melalui hubungan langsung dengan daerah tubuh
yang terinfeksi. Penularan dapat terjadi walaupun tidak ada luka HSV yang terbuka.
Lagi pula, sebagian besar orang dengan HSV tidak mengetahui dirinya terinfeksi dan tidak
sadar bahwa mereka dapat menyebarkannya. Justru, di AS hanya 9% orang dengan HSV-2
mengetahui dirinya terinfeksi.
Bagaimana Herpes Diobati?
Perawatan setempat untuk herpes zoster sebaiknya termasuk membersihkan lukanya dengan
air garam dan menjaganya tetap kering. Gentian violet dapat dioleskan pada luka.
Pengobatan baku untuk HSV adalah asiklovir dalam bentuk pil dua sampai lima kali sehari.
Ada versi asiklovir lain dengan nama valasiklovir. Valasiklovir dapat diminum dua atau tiga
kali sehari, tetapi harganya jauh lebih mahal dibandingkan asiklovir. Famsiklovir adalah obat
lain yang dipakai untuk mengobati HSV. Pada 2011 ada beberapa laporan bahwa penggunaan
asiklovir atau valasiklovir mengurangi viral load HIV dan melambatkan kelanjutan penyakit.
Obat ini tidak menyembuhkan infeksi HSV. Namun obat ini dapat mengurangi lama dan
beratnya jangkitan yang terjadi. Dokter mungkin meresepkan terapi rumatan terapi
antiherpes harian untuk Odha yang sering mengalami jangkitan HSV. Terapi ini dapat
mencegah sebagian besar jangkitan. Terapi ini juga mengurangi secara bermakna jumlah hari
dalam bulan waktu HSV dapat terdeteksi pada kulit atau selaput mukosa, bahkan tidak ada
gejala.
Apakah Herpes Dapat Dicegah?
Penyebaran HSV sulit dicegah. Hal ini sebagian karena kebanyakan orang dengan HSV tidak
tahu dirinya terinfeksi dan dapat menularkannya. Orang yang tahu dirinya terinfeksi HSV
pun mungkin tidak mengetahui mereka dapat menularkan infeksi walaupun mereka tidak
mempunyai luka herpes yang terbuka.
Angka penularan HSV dapat dikurangi dengan penggunaan kondom. Namun kondom tidak
dapat mencegah semua penularan. Infeksi HSV dapat menular dan ditulari dari daerah
kelamin yang agak luas lebih luas daripada yang ditutup oleh celana dalam dan juga di
daerah mulut. Bila kita dengan herpes minum asiklovir setiap hari, kita dapat mengurangi
risiko menulari herpes pada orang lain.
Para peneliti sekarang mencari vaksin untuk mencegah HSV. Satu calon vaksin menunjukkan
hasil yang baik terhadap HSV-2 pada perempuan, tetapi tidak pada laki-laki. Belum ada
vaksin yang disetujui untuk mencegah infeksi HSV, tetapi penelitian terhadap vaksin untuk
HSV berlanjut terus.
Garis Dasar
Herpes simpleks adalah infeksi virus yang dapat menyebabkan herpes kelamin atau luka
demam di sekitar mulut. Kebanyakan orang yang terinfeksi HSV tidak mengetahui dirinya
terinfeksi. HSV mudah menular dari orang ke orang waktu hubungan seks atau hubungan
langsung yang lain dengan daerah infeksi HSV. Herpes dapat menular walaupun luka terbuka
tidak terlihat.
Belum ada obat penyembuh untuk herpes. Sekali kita terinfeksi, kita tetap terinfeksi untuk
seumur hidup. Orang dengan herpes sekali-kali dapat mengalami jangkitan kulit melepuh
yang sakit. Setelah setiap jangkitan selesai, untuk sementara infeksi menjadi laten atau tidak
aktif. Odha mengalami jangkitan HSV yang lebih sering dan lebih berat.
Ditinjau 8 Juli 2013 berdasarkan FS 508 The AIDS InfoNet 29 Mei 2013

MAC (Mycobacterium Avium Complex)
Unduh versi PDF
Apa MAC Itu?
Kompleks Mikobakterium Avium (Mycobacterium Avium Complex/MAC) adalah penyakit
berat yang disebabkan oleh bakteri umum. MAC juga dikenal sebagai MAI (Mycobacterium
Avium Intracellulare). Infeksi MAC dapat lokal (terbatas pada satu bagian tubuh) atau
diseminata (tersebar luas pada seluruh tubuh, kadang kala disebut DMAC). Infeksi MAC
sering terjadi pada paru, usus, sumsum tulang, hati dan limpa.
Bakteri yang menyebabkan MAC sangat lazim. Kuman ini ditemukan di air, tanah, debu dan
makanan. Hampir setiap orang memiliki bakteri ini dalam tubuhnya. Sistem kekebalan tubuh
yang sehat dapat mengendalikan MAC, tetapi orang dengan sistem kekebalan yang lemah
dapat mengembangkan penyakit MAC.
Hingga 50% Odha mengalami penyakit MAC, terutama jika jumlah CD4 di bawah 50. MAC
hampir tidak pernah menyebabkan penyakit pada orang dengan jumlah CD4 di atas 100.
Bagaimana Kita Tahu Kita MAC?
Gejala MAC dapat meliputi demam tinggi, panas dingin, diare, kehilangan berat badan, sakit
perut, kelelahan, dan anemia (kurang sel darah merah). Jika MAC menyebar dalam tubuh,
bakteri ini dapat menyebabkan infeksi darah, hepatitis, pneumonia, dan masalah berat lain.
Gejala ini dapat disebabkan oleh banyak infeksi oportunistik. Jadi, dokter kemungkinan akan
memeriksa darah, air seni, atau air ludah untuk mencari bakteri MAC. Contoh cairan tersebut
dites untuk mengetahui bakteri apa yang tumbuh padanya. Proses ini, yang disebut
pembiakan, membutuhkan beberapa minggu. Memang sulit menemukan bakteri MAC, walau
kita terinfeksi.
Jika jumlah CD4 kita di bawah 50, dokter mungkin mengobati kita seolah-olah kita MAC,
walaupun tidak ada diagnosis yang tepat. Ini karena infeksi MAC sangat umum tetapi sulit
didiagnosis.
Bagaimana MAC Diobati?
Bakteri MAC dapat bermutasi (mengubah dirinya) dan mengembangkan resistansi (menjadi
kebal) terhadap beberapa obat yang dipakai untuk mengobatinya. Dokter memakai kombinasi
obat antibakteri (antibiotik) untuk mengobati MAC. Sedikitnya dua obat dipakai: biasanya
azitromisin atau klaritromisin ditambah hingga tiga obat lain. Pengobatan MAC harus
diteruskan seumur hidup (selama jumlah CD4 kita di bawah 100), agar penyakit tidak
kembali (kambuh).
Orang akan bereaksi secara berbeda terhadap obat anti-MAC. Kita dan dokter mungkin harus
mencoba berbagai kombinasi sebelum kita menemukan satu kombinasi yang berhasil untuk
kita dan menyebabkan efek samping sedikit mungkin.
Obat MAC yang paling umum dan efek sampingnya adalah:
Amikasin: masalah ginjal dan telinga; disuntikkan.
Azitromisin (lihat Lembaran Informasi (LI) 530): mual, sakit kepala, diare; bentuk
kapsul atau diinfus.
Siprofloksasin (lihat LI 531): mual, muntah, diare; bentuk tablet atau diinfus.
Klaritromisin (lihat LI 532): mual, sakit kepala, muntah, diare; bentuk kapsul atau
diinfus. Catatan: takaran maksimum 500mg dua kali sehari.
Etambutol: mual, muntah, masalah penglihatan; bentuk tablet.
Rifabutin: ruam, mual, anemia; bentuk tablet. Banyak interaksi obat.
Rifampisin: demam, panas dingin, sakit tulang atau otot; dapat menyebabkan air seni,
keringat dan air ludah menjadi berwarna merah-oranye (dapat mewarnai lensa
kontak); dapat mengganggu pil KB. Banyak interaksi obat.
Dapatkah MAC Dicegah?
Bakteri yang menyebabkan MAC sangat umum. Mustahil infeksinya dihindari. Cara terbaik
untuk mencegah penyakit MAC adalah memakai terapi antiretroviral (ART). Bahkan jika
jumlah CD4 kita sangat rendah, ada obat yang dapat mencegah perkembangan penyakit MAC
pada hingga 50% orang.
Obat antibiotik azitromisin dan klaritromisin dipakai untuk mencegah penyakit MAC. Obat
ini dapat diresepkan untuk orang dengan jumlah CD4 di bawah 50.
ART dapat meningkatkan jumlah CD4. Jika jumlah CD4 naik di atas 100 dan tahan pada
tingkat ini selama tiga bulan, berhenti memakai obat pencegahan MAC mungkin aman.
Bahas dengan dokter sebelum berhenti memakai obat apa pun yang diresepkan.
Masalah Interaksi Obat
Sebagian besar obat yang dipakai untuk mengobati MAC berinteraksi dengan banyak obat
yang lain, termasuk obat antiretroviral (ARV), obat antijamur dan pil KB. Hal ini dapat
menjadi masalah besar dengan rifampisin, rifabutin dan rifapentin. Pastikan dokter tahu
SEMUA obat, suplemen dan jamu yang kita pakai agar semua interaksi yang mungkin
dapat dipertimbangkan.
Garis Dasar
MAC adalah penyakit berat yang disebabkan bakteri yang lazim. MAC dapat menyebabkan
kehilangan berat badan yang parah, diare dan gejala lain.
Jika kita sakit MAC, kemungkinan kita akan diobati dengan azitromisin atau klaritromisin
ditambah satu hingga tiga antibiotik lain. Kita harus memakai obat ini terus-menerus seumur
hidup (selama jumlah CD4 di bawah 100) untuk menghindari kambuhnya MAC.
Orang dengan jumlah CD4 di bawah 50 sebaiknya bicara dengan dokter mengenai obat untuk
mencegah penyakit MAC.
Ditinjau 4 Desember 2013 berdasarkan FS 514 The AIDS InfoNet 23 September 2013

PCP (Pneumonia Pneumocystis)
Unduh versi PDF
Apa PCP Itu?
Pneumonia Pneumocystis (PCP) adalah infeksi oportunistik (IO) paling umum pada orang
terinfeksi HIV. Tanpa pengobatan, lebih dari 85% orang dengan HIV pada akhirnya akan
mengembangkan penyakit PCP. PCP menjadi salah satu pembunuh utama Odha. Walau PCP
hampir selalu dapat dicegah dan diobati, penyakit ini tetap menyebabkan kematian pada
kurang lebih 10% kasus.
Saat ini, dengan tersedianya terapi antiretroviral (ART), angka PCP menurun secara dramatis.
Sayangnya, PCP masih umum pada Odha yang terlambat mencari pengobatan atau belum
mengetahui dirinya terinfeksi HIV. Sebenarnya, 30-40% Odha akan mengembangkan PCP
bila mereka menunggu sampai jumlah CD4-nya kurang lebih 50. Cara terbaik untuk
mencegah PCP adalah dengan tes HIV untuk mengetahui infeksinya lebih dini.
PCP disebabkan oleh jamur yang ada dalam tubuh hampir setiap orang. Dahulu jamur
tersebut disebut Pneumocystis carinii, tetapi para ilmuwan sekarang memakai nama
Pneumocystis jiroveci, namun penyakit masih disingkatkan sebagai PCP. Sistem kekebalan
yang sehat dapat mengendalikan jamur ini. Namun, PCP menyebabkan penyakit pada orang
dewasa dan anak dengan sistem kekebalan yang lemah.
Jamur Pneumocystis hampir selalu berpengaruh pada paru, menyebabkan bentuk pneumonia
(radang paru). Orang dengan jumlah CD4 di bawah 200 mempunyai risiko paling tinggi
mengalami penyakit PCP. Orang dengan jumlah CD4 di bawah 300 yang telah mengalami IO
lain juga berisiko. Sebagian besar orang yang mengalami penyakit PCP menjadi jauh lebih
lemah, kehilangan berat badan, dan kemungkinan mengembangkan penyakit PCP lagi.
Tanda pertama PCP adalah sesak napas, demam, dan batuk tanpa dahak. Siapa pun dengan
gejala ini sebaiknya segera periksa ke dokter. Namun, semua Odha dengan jumlah CD4 di
bawah 300 sebaiknya membahas pencegahan PCP dengan dokter, sebelum mengalami gejala
apa pun.
Bagaimana PCP Diobati?
Selama bertahun-tahun, antibiotik dipakai untuk mencegah PCP pada pasien kanker dengan
sistem kekebalan yang lemah. Tetapi baru pada 1985 sebuah penelitian kecil menunjukkan
bahwa antibiotik juga dapat mencegah PCP pada Odha.
Obat yang sekarang dipakai untuk mengobati PCP mencakup kotrimoksazol, dapson,
pentamidin, dan atovakuon.
Kotrimoksazol (TMP/SMX) (lihat Lembaran Informasi (LI) 535) adalah obat anti-
PCP yang paling efektif. Ini adalah kombinasi dua antibiotik: trimetoprim (TMP) dan
sulfametoksazol (SMX).
Dapson (LI 533) serupa dengan kotrimoksazol. Dapson kelihatan hampir seefektif
kotrimoksazol melawan PCP.
Pentamidin adalah obat hirup yang berbentuk aerosol untuk mencegah PCP.
Pentamidin juga dipakai secara intravena (IV) untuk mengobati PCP aktif.
Atovakuon adalah obat yang dipakai pada kasus PCP ringan atau sedang oleh orang
yang tidak dapat memakai kotrimoksazol atau pentamidin.
Berdasarkan sebuah penelitian kecil, bila terapi baku tidak berhasil, pasien mungkin dapat
memakai trimekstrat digabung dengan asam folinik.
Dapatkah PCP Dicegah?
Cara terbaik untuk mencegah PCP adalah dengan memakai ART. Orang dengan jumlah CD4
di bawah 200 dapat mencegah PCP dengan memakai obat yang juga dipakai untuk mengobati
PCP. Untuk informasi lebih lanjut, lihat LI 950 dan LI 951.
Cara yang lain untuk mengurangi risiko PCP adalah dengan tidak merokok. Perokok
terinfeksi HIV mengembangkan PCP 2-3 kali lebih cepat dibandingkan Odha yang tidak
merokok. Satu penelitian menemukan bahwa perokok yang sudah berhenti sedikitnya selama
satu tahun tidak mengembangkan PCP lebih cepat dibandingkan non-perokok.
ART dapat meningkatkan jumlah CD4 kita. Jika jumlah ini melebihi 200 dan bertahan begitu
selama tiga bulan, mungkin kita dapat berhenti memakai obat pencegah PCP tanpa risiko.
Namun, karena pengobatan PCP adalah murah dan mempunyai efek samping yang ringan,
beberapa peneliti mengusulkan pengobatan sebaiknya diteruskan hingga jumlah CD4 di atas
300. Kita harus berbicara dengan dokter kita sebelum kita berhenti memakai obat apa
pun yang diresepkan.
Obat Mana yang Paling Baik?
Kotrimoksazol adalah obat yang paling efektif melawan PCP. Obat ini juga murah, dan
dipakai dalam bentuk pil, satu atau dua pil sehari.
Namun, bagian SMX dari kotrimoksazol merupakan obat sulfa dan hampir separuh orang
yang memakainya mengalami reaksi alergi, biasanya ruam kulit, kadang-kadang demam.
Sering kali, bila penggunaan kotrimoksazol dihentikan sampai gejala alergi hilang, lalu
penggunaan dimulai kembali, masalah alergi tidak muncul lagi. Reaksi alergi yang berat
dapat diatasi dengan memakai desensitisasi. Pasien mulai dengan takaran obat yang sangat
rendah dan kemudian meningkatkan takarannya hingga takaran penuh dapat ditahan (lihat
LI 951). Mengurangi dosis menjadi tiga pil seminggu mengurangi masalah alergi
kotrimoksazol, dan tampak sama berhasil.
Karena masalah alergi yang disebabkan oleh kotrimoksazol serupa dengan efek samping dari
beberapa obat antiretroviral, sebaiknya penggunaan kotrimoksazol dimulai seminggu atau
lebih sebelum mulai ART. Dengan cara ini, bila alergi muncul, penyebab lebih mudah
diketahui.
Dapson menyebabkan lebih sedikit reaksi alergi dibanding kotrimoksazol, dan harganya juga
agak murah. Biasanya dapson dipakai dalam bentuk pil tidak lebih dari satu pil sehari.
Namun dapson kadang kala lebih sulit diperoleh di Indonesia.
Pentamidin memerlukan kunjungan bulanan ke klinik yang mempunyai nebulizer, mesin
yang membuat kabut obat yang sangat halus. Kabut ini dihirup secara langsung ke dalam
paru. Prosedur ini memakan waktu kurang lebih 30-45 menit. Kita dibebani harga obat
tersebut ditambah biaya klinik. Pasien yang memakai pentamidin aerosol akan mengalami
PCP lebih sering dibanding orang yang memakai pil antibiotik.
Garis Dasar
Hampir semua peristiwa PCP, salah satu penyakit pembunuh utama para Odha, dapat diobati
dan dapat dicegah dengan obat murah yang mudah dipakai. ART dapat menahan jumlah
CD4 kita tetap tinggi. Jika jumlah CD4 kita turun di bawah 300, kita sebaiknya membahas
penggunaan obat pencegah PCP dengan dokter kita. Siapa pun dengan jumlah CD4 di bawah
200 seharusnya memakai obat anti-PCP.
Ditinjau 12 Juni 2013 berdasarkan FS 515 The AIDS InfoNet 10 Maret 2013

Toksoplasmosis
Unduh versi PDF
Apa Toksoplasmosis Itu?
Toksoplasmosis (tokso) adalah infeksi yang disebabkan oleh parasit sel tunggal toxoplasma
gondii. Parasit adalah makhluk yang hidup dalam organisme hidup lain (induknya) dan
mengambil semua gizi dari induknya.
Penyakit yang paling umum diakibatkan tokso adalah infeksi pada otak (ensefalitis). Tokso
juga dapat menginfeksikan bagian tubuh lain. Tokso dapat menyebabkan koma dan kematian.
Risiko tokso paling tinggi waktu jumlah CD4 kita di bawah 100.
Berapa Tingkat Tokso pada Umum?
Parasit tokso sangat umum pada tinja kucing, sayuran mentah dan tanah. Kuman ini juga
umumnya ditemukan dalam daging mentah, terutama daging babi, kambing dan rusa. Parasit
tersebut dapat masuk ke tubuh waktu kita menghirup debu. Hingga 50% penduduk terinfeksi
tokso. Sistem kekebalan tubuh yang sehat dapat mencegah agar parasit tokso tidak
mengakibatkan penyakit. Tokso tampaknya tidak menular dari orang-ke-orang.
Pada awal epidemi HIV, tokso adalah penyakit yang lazim. Dengan pengobatan yang lebih
baik, penyakit tokso agak jarang terjadi. Pada 1995, 10.000 orang dirawat inap di AS akibat
tokso. Pada 2008, jumlah tersebut menurun menjadi di bawah 3.000. Angka untuk Indonesia
tidak diketahui. Namun tokso masih dialami oleh Odha, terutama pada orang yang tidak tahu
dirinya terinfeksi HIV, dan tidak didiagnosis secara dini.
Bagaimana Tokso Didiagnosis?
Gejala pertama tokso termasuk demam, kekacauan, kepala nyeri, disorientasi, perubahan
pada kepribadian, gemetaran dan kejang. Tokso biasanya didiagnosis dengan tes antibodi
terhadap toxoplasma gondii. Perempuan hamil dengan infeksi tokso juga dapat
menularkannya pada bayinya.
Tes antibodi tokso menunjukkan apakah kita terinfeksi tokso. Hasil positif bukan berarti kita
menderita penyakit ensefalitis tokso. Namun, hasil tes negatif berarti kita tidak terinfeksi
tokso.
Pengamatan otak (brain scan) dengan computerized tomography (CT scan) atau magnetic
resonance imaging (MRI scan) juga dipakai untuk mendiagnosis tokso. CT scan untuk tokso
dapat mirip dengan pengamatan untuk infeksi oportunistik (IO) yang lain. MRI scan lebih
peka dan memudahkan diagnosis tokso.
Bagaimana Tokso Diobati?
Tokso diobati dengan kombinasi pirimetamin dan sulfadiazin. Kedua obat ini dapat melalui
sawar-darah otak.
Parasit toxoplasma gondii membutuhkan vitamin B untuk hidup. Pirimetamin menghambat
pemerolehan vitamin B oleh tokso. Sulfadiazin menghambat penggunaannya. Dosis normal
obat ini adalah 50-75mg pirimetamin dan 2-4g sulfadiazin per hari.
Kedua obat ini mengganggu ketersediaan vitamin B dan dapat mengakibatkan anemia. Orang
dengan tokso biasanya memakai kalsium folinat (semacam vitamin B) untuk mencegah
anemia.
Kombinasi obat ini sangat efektif terhadap tokso. Lebih dari 80% orang menunjukkan
perbaikan dalam 2-3 minggu.
Tokso biasanya kambuh setelah peristiwa pertama. Orang yang pulih dari tokso seharusnya
terus memakai obat antitokso dengan dosis rumatan yang lebih rendah. Jelas bahwa orang
yang mengalami tokso sebaiknya mulai terapi antiretroviral (ART) secepatnya. Bila CD4
naik menjadi di atas 200 selama lebih dari tiga bulan, terapi rumatan tokso dapat dihentikan.
Bagaimana Kita Memilih Pengobatan Tokso?
Jika kita didiagnosis tokso, dokter kita kemungkinan akan meresepkan pirimetamin dan
sulfadiazin. Kombinasi ini dapat menyebabkan penurunan pada jumlah sel darah putih (lihat
Lembaran Informasi (LI) 552), dan masalah ginjal (lihat LI 651).
Sulfadiazin adalah obat sulfa. Hampir separuh orang yang memakainya mengalami reaksi
alergi. Ini biasanya ruam kulit, kadang-kadang demam.
Reaksi alergi dapat ditangani dengan proses desensitisasi. Pasien mulai dengan dosis obat
yang sangat rendah, dan takaran ditingkatkan secara berangsur sehingga takaran penuh dapat
ditahan.
Orang yang tidak tahan terhadap obat sulfa dapat memakai klindamisin untuk mengganti
sulfadiazin dalam kombinasi.
Apakah Tokso Dapat Dicegah?
Cara terbaik untuk mencegah tokso adalah memakai ART. Kita dapat dites untuk mengetahui
apakah kita terinfeksi tokso. Jika belum terinfeksi, kita dapat mengurangi risiko infeksi
dengan menghindari memakan daging atau ikan mentah, dan memakai sarung tangan dan
masker jika kita membersihkan kandang kucing, dan cuci tangan dengan sempurna setelah ini
(walau seharusnya kita selalu cuci tangan dengan sempurna lihat LI 851).
Jika jumlah CD4 kita di bawah 100, kita sebaiknya memakai obat untuk mencegah penyakit
tokso aktif. Orang dengan jumlah CD4 di bawah 200 biasanya memakai kotrimoksazol (lihat
LI 535) untuk mencegah PCP (lihat LI 512). Obat ini juga melindungi kita dari tokso. Jika
kita tidak tahan memakai kotrimoksazol, dokter kita dapat meresepkan obat lain.
Garis Dasar
Toksoplasmosis adalah infeksi oportunistik yang berat. Jika kita belum terinfeksi tokso, kita
dapat menghindari risiko terpajan infeksi dengan tidak memakan daging atau ikan mentah,
dan ambil kewaspadaan lebih lanjut jika kita membersihkan kandang kucing.
Kita dapat memakai ART untuk menahan jumlah CD4. Ini seharusnya mencegah masalah
kesehatan diakibatkan tokso. Jika jumlah CD4 kita turun di bawah 100, kita sebaiknya bicara
dengan dokter tentang penggunaan obat untuk mencegah penyakit tokso.
Jika kita mengalami kepala nyeri, disorientasi, kejang, atau gejala lain terkait tokso, kita
harus langsung hubungi dokter. Dengan diagnosis dan pengobatan dini, tokso dapat diobati
secara efektif.
Jika kita mengalami penyakit tokso, sebaiknya kita terus memakai obat antitokso untuk
mencegah penyakitnya kambuh. Obat ini boleh dihentikan bila jumlah CD4 kita naik di atas
200 selama tiga bulan atau lebih berkat ART.
Diperbarui 4 Desember 2013 berdasarkan FS 517 The AIDS InfoNet 29 Maret 2013

Tuberkulosis (TB)
Unduh versi PDF
Apa TB Itu?
Tuberkulosis (TB) adalah infeksi yang disebabkan oleh bakteri. TB biasanya berpengaruh
pada paru, tetapi juga dapat berdampak pada organ lain, terutama pada Odha dengan jumlah
CD4 di bawah 200.
TB adalah penyakit yang sangat berat di seluruh dunia. Hampir sepertiga penduduk dunia,
dan sepertiga Odha terinfeksi TB. Sistem kekebalan tubuh yang sehat biasanya dapat
mencegah penyakit aktif. TB adalah penyebab kematian yang besar untuk Odha di seluruh
dunia, menurut WHO.
Nama tuberkulosis berasal dari tuberkel. Tuberkel adalah tonjolan kecil dan keras yang
terbentuk waktu sistem kekebalan membangun tembok mengelilingi bakteri TB dalam paru.
Infeksi ini disebut TB paru. Infeksi dapat menyebar dari paru ke ginjal, tulang belakang dan
otak. Infeksi ini disebut TB luar paru. TB luar paru ditemukan pada orang yang sudah
terinfeksi TB tetapi belum diobati. Odha yang tinggal di daerah rawan TB dapat
mengembangkan TB luar paru.
TB aktif di paru dapat menyebabkan batuk selama tiga minggu atau lebih, kehilangan berat
badan, kelelahan terus-menerus, keringat basah kuyup pada malam, dan demam, terutama
pada sore hari. Gejala ini mirip dengan gejala yang disebabkan PCP (lihat Lembaran
Informasi (LI) 512). Gejala ini dapat berbeda bila TB juga terjadi di bagian tubuh lain. Bila
Odha dengan TB mengalami gejala tanpa alasan jelas, sebaiknya kesampingkan penyakit TB
aktif.
TB menular melalui udara, waktu seseorang dengan TB aktif pada paru batuk, bersin atau
bicara. Sinar ultraviolet dalam cahaya matahari dapat mematikan TB. Ventilasi yang baik
mengurangi risiko infeksi TB. Namun orang yang tinggal dekat dengan orang dengan TB
aktif mudah terinfeksi. Hal ini terutama mungkin bila kita pada tahap infeksi HIV lanjut. Kita
dapat terinfeksi TB pada jumlah CD4 berapa pun.
TB dan HIV: Pasangan yang Buruk
Banyak jenis virus dan bakteri hidup di tubuh kita. Sistem kekebalan tubuh yang sehat dapat
mengendalikan kuman ini agar mereka tidak menyebabkan penyakit. Jika HIV melemahkan
sistem kekebalan, kuman ini dapat mengakibatkan infeksi oportunistik (IO).
Angka TB pada Odha sering kali 40 kali lebih tinggi dibanding angka untuk orang yang tidak
terinfeksi HIV. Angka TB di seluruh dunia meningkat karena HIV.
TB dapat merangsang HIV agar lebih cepat menggandakan diri, mengurangi jumlah CD4 dan
memburukkan infeksi HIV. Karena itu, penting agar orang dengan HIV mencegah dan
mengobati TB.
Bagaimana TB Didiagnosis?
Ada tes kulit yang sederhana untuk TB. Sebuah protein yang ditemukan pada bakteri TB
disuntik pada kulit lengan. Jika kulit kita bereaksi dengan bengkak, itu berarti kita
kemungkinan terinfeksi bakteri TB. Hasil tes kulit yang positif bukan berarti kita TB aktif.
Jika HIV atau penyakit lain sudah merusak sistem kekebalan kita, kita mungkin tidak
menunjukkan reaksi pada tes kulit, walaupun kita terinfeksi TB. Kondisi ini disebut anergi.
Oleh karena masalah ini, dan karena kebanyakan orang di Indonesia sudah terinfeksi TB, jadi
tes kulit sekarang jarang dipakai di sini. Jika kita anergi, pembiakan bakteri dari dahak (lihat
alinea berikut) adalah cara terbaik untuk diagnosis TB aktif.
Bila kita mempunyai gejala yang mungkin disebabkan oleh TB, dokter akan minta kita
menyediakan tiga contoh dahak untuk diperiksa, termasuk satu yang diminta dikeluarkan dari
paru pada pagi hari. Dokter juga mungkin melakukan rontgen dada. Dokter juga akan coba
membiakkan bakteri TB dari contoh dahak atau cairan yang diambil dari bagian tubuh lain
yang dapat mengena TB. Tes ini dapat memerlukan jangka waktu dua sampai empat minggu,
tergantung pada cara yang dilakukan. Sulit mendiagnosis TB aktif, terutama pada Odha,
karena tampaknya mirip dengan pneumonia, masalah paru lain, atau infeksi lain, dan juga
dapat terjadi di luar paru. Namun tes baru yang lebih cepat sedang dikembangkan.
Bagaimana TB Diobati?
Jika kita terinfeksi TB, tetapi tidak mengalami penyakit aktif, kemungkinan kita diobati
dengan isoniazid (INH) untuk sedikitnya enam bulan, atau dengan INH plus satu atau dua
obat lain untuk tiga bulan. INH dapat menyebabkan masalah hati, terutama pada perempuan.
Sebuah penelitian pada 2001 menunjukkan bahwa penggunaan INH bersamaan dengan
rifapentin seminggu sekali selama tiga bulan sama efektif. CDC-AS sekarang mengusulkan
terapi jangka lebih pendek ini. Sayangnya rifapentin berinteraksi dengan beberapa protease
inhibitor. Penyesuaian takaran mungkin dibutuhkan, tetapi belum diteliti.
Jika kita mengalami TB aktif, kita diobati dengan antibiotik. Karena bakteri TB dapat
menjadi kebal (resistan) terhadap obat tunggal, kita akan diberi kombinasi antibiotik. Obat
TB harus dipakai untuk sedikitnya enam bulan, tetapi kebanyakan kasus TB dapat
disembuhkan dengan antibiotik yang ada. Jika kita tidak memakai semua obat, TB dalam
tubuh kita mungkin jadi resistan dan obat tersebut akan menjadi tidak efektif lagi.
Ada jenis TB yang resistan terhadap beberapa antibiotik. Ini disebut TB yang resistan
terhadap beberapa obat atau MDR-TB, atau yang resistan terhadap semua obat lini pertama
dan kedua (XDR-TB). Jenis TB ini jauh lebih sulit diobati. Lebih banyak jenis obat harus
dipakai untuk jangka waktu yang lebih lama. Angka kesembuhan lebih rendah dibandingkan
TB yang lazim. Untuk pertama kali selama 40 tahun terakhir, FDA-AS baru saja menyetujui
obat baru untuk TB. Obat tersebut, bedakwilin, adalah efektif terhadap TB yang resistan
terhadap obat lain.
Masalah Obat
Beberapa antibiotik yang dipakai untuk mengobati TB dapat merusak hati atau ginjal. Begitu
juga beberapa obat antiretroviral (ARV). Bisa jadi sulit untuk memakai obat TB dan ARV
sekaligus. INH dapat menyebabkan neuropati perifer (LI 555), seperti juga beberapa ARV,
jadi dapat terjadi masalah bila obat ini dipakai bersama. Pengobatan TB juga dapat
menyebabkan sindrom pemulihan kekebalan (lihat LI 483).
Juga, banyak ARV berinteraksi dengan obat yang dipakai untuk memerangi TB lihat LI 407
untuk informasi mengenai interaksi obat. Rifampisin umumnya dipakai untuk mengobati TB.
Obat ini dapat mengurangi tingkat ARV dalam darah kita di bawah tingkat yang diperlukan
untuk mengendalikan HIV. ARV dapat meningkatkan tingkat obat TB ini sehingga
mengakibatkan efek samping yang berat.
Rifampisin tidak boleh dipakai jika kita memakai kebanyakan protease inhibitor (PI) atau
NNRTI. Ada pedoman khusus untuk dokter jika kita memakai obat untuk memerangi TB dan
HIV sekaligus.
Untuk alasan ini, lebih baik TB diobati sebelum terapi ARV (ART) dimulai. Namun bila
jumlah CD4 di bawah 350, ART sebaiknya dimulai segera setelah efek samping obat TB
sudah hilang.
Garis Dasar
TB adalah penyakit berat dan membunuh lebih banyak Odha dibanding dengan semua
penyakit lain. TB dan HIV saling memburukkan.
Ada pengobatan efektif untuk infeksi TB, dan untuk penyakit TB aktif. Jika kita pernah dekat
dengan orang TB aktif, atau mempunyai gejala TB, sebaiknya kita segera dites dan diobati.
Pengobatan untuk TB perlu jangka waktu yang lama, dan dapat sulit dipakai sekaligus
dengan ARV, tetapi obat tersebut dapat menyembuhkan TB. Beberapa obat TB dapat
berinteraksi dengan ARV, jadi pengobatan harus direncanakan dengan hati-hati jika kita
memiliki TB dan HIV sekaligus. Penting dipahami bahwa semua obat TB harus dipakai
untuk jangka waktu sesuai perintah dokter.
Diperbarui 7 Februari 2014 berdasarkan FS 518 The AIDS InfoNet 4 Februari 2014