Anda di halaman 1dari 30

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Pesawat Atwood merupakan alat eksperimen yang sering digunakan untuk
mengamati hukum mekanika pada gerak yang dipercepat secara beraturan.
Sederhananya pesawat atwood tersusun atas 2 benda yang terhubung dengan
seutas kawat/tali. Bila kedua benda massanya sama, keduanya akan diam. Tapi
bila salah satu lebih besar (misal m1>m2). Maka kedua benda akan bergerak ke
arah m1 dengan dipercepat. Gaya penariknya sesungguhnya adalah berat benda 1.
Namun karena banda 2 juga ditarik ke bawah (oleh gravitasi), maka gaya penarik
resultannya adalah berat benda 1 dikurangi berat benda 2. Berat benda 1 adalah
m1.g dan berat benda 2 adalah m2.g Gaya resultannya adalah (m2-m1).g Gaya ini
menggerakkan kedua benda. Sehingga, percepatan kedua benda adalah resultan
gaya tersebut dibagi jumlah massa kedua benda. Sebuah benda yang sedang diam,
yang berarti bahwa bila tidak ada gaya yang bekerja, sebuah benda akan terus
diam. Tampaknya, pandangan bangsa Yunani ini beralasan, tetapi akan kita
ketahui nanti bahwa ternyata pandangan tersebut tidak tepat.
Orang yang pertama menyangkal pandangan kuno bangsa Yunani tersebut
adalah Galileo. Menurut prinsip inersia yang diusulkan Galileo, sebuah benda
yang sedang bergerak pada permukaan horizontal yang licin sempurna (tanpa
gesekan) akan tetap terus bergerak dengan kelajuan sempurna.Berdasarkan pada
pendapat Galileo tersebut, pada tahun 1678 Isaac Newton menyatakan hukum
pertamanya tentang gerak, yang sekarang kita kenal sebagai Hukum I Newton,
kemudian ia pun mengemukakan Hukum II dan Hukum III Newton. Sebuah
benda yang mula-mula diam, akan dapat bergerak jika mendapat pengaruh atau
penyebab yang bekerja pada benda tersebut. Penyebabnya dapat berupa pukulan,
tendangan, sundulan, atau lemparan. Dalam Fisika, penyebab gerak tersebut
dinamakan gaya. Ilmu yang mempelajari tentang gerak dengan memperhitungkan

gaya penyebab dari gerak tersebut dinamakan dinamika gerak. Seperti yang telah
disebutkan tadi bahwa orang yang sangat berjasa dalam kajian Fisika tentang
dinamika adalah Sir Isaac Newton.Newton menyadari bahwa pengalaman seharihari membuat kita sukar memahami hubungan antara gaya dan gerak. Kita
terbiasa melihat benda yangbergerak menjadi lambat dan kemudian berhenti tanpa
terlihat adanya gaya yang bekerja pada benda tersebut. Oleh karena itu kita perlu
mengetahui bagaimana gaya dapat menghasilkan gerak.Dalam percobaan kali ini
pun kita akan menyelidiki apakah hukumNewton tersebut dapat diaplikasikan
terhadap alat peraga berupa pesawatatwood dengan menghubungkan gejala-gejala
yang terjadi dengan hukumhukum Newton.
Dari penjelasan di atas, maka kami dalam makalah fisika dasar ini akan
membahas secara khusus tentang pesawat atwood dengan melakukan percobaan
secara langsung. Alasan kami melakukan percobaan ini untuk membuktikan
tentang hukum newton I dan hukum newton II.
1.2 Tujuan
Adapun tujuan-tujuan dari praktikum ini adalah :
1. Mengenal hukum Newton dan penerapannya
2. Menghitung percepatan gravitasi
3. Mengenal sistem katrol dan kegunaanya
4. Menyelesaikan soal-soal tentang gerak translasi dan rotasi dengan
menggunakan Hukum Newton.
5. Melakukan percobaan Atwood untuk memeperlihatkan berlakunya hukum
Newton dan menghitung momen Inersia katrol.

1.3 Manfaat
Dari tujuan praktikum ini banyak manfaat yang dapat diperoleh dari
pesewat atwood diantaranya kita dapt menhitung Gerak Lurus Beraturan (GLB)
yaitu gerak suatu benda yang kecepatannya tetap sehingga percepatan bernilai 0.
Selain GLB kita juga dapat menentukan Gerak Lurus Berubah Beraturan

(GLBB). Dalam makalah ini kita akan mempelajari mengenai Pesawat Atwood
lebih mendalam lagi,terutama dalam kaitannya dengan mata kuliah yang diampuh
dalam jurusan Teknik Pertambangan.
1.4 Rumusan Masalah
Dari latar belakang masalah diatas, ada beberapa rumusan masalah yang akan
menjadi pokok bahasan, yaitu :
1. Apakah yang dimaksud dengan Pesawat Atwood?
2. Bagaimanakah tetapan gaya gravitasi dan keterkaitannya dengan Hukum
Newton?
3. Aspek apa saja kah yang berkaitan dengan Pesawat Atwood ?
4. Bagaimanakah penerapan prinsip Pesawat Atwood dalam kehidupan
5. mahasiswa terhadap keterkaitaanya dengan permata kuliahan dijurusan
Teknik Pertambangan.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Hukum Newton


Mekanikan klasik atau mekanika umum merupakan teori tentang gerak
yang berdasarkan pada konsep massa dan gayanya dan hukum-hukum yang
menggabungkan

kosep-konsep

fisis

ini

dengan

besaran

kinematika,

perpindahan, kecepatan dan percepatan. Semua gejala dalam mekanika klasik


dapat digunakan hanya dengan tiga hukum sederhana yang dinamakan hukum
newton tentang gerak. Hukum Newton menghubungkan percepatan sebuah
benda dengan massa benda tersebut dan gaya-gaya yang bekerja pada benda
tersebut.
Isaac Newton lahir di Woolthorpe, Lincolnshire, Inggris, pada tanggal 25
Desember tahun 1642. Newton dilahirkan secara premature, dua minggu
sebelum Isaac lahir ayahnya yang bernama Issac Newton meninggal dunia,
sehingga nama dia diambil dari nama ayahnya sendiri. Kehidupan pada masa
kecil beliau sering mengalami sakit-sakitan. Saat berusia 3 tahun ibunya
(Hannah) menikah dengan seorang pendeta dari Desa North Witham, tidak
jauh dari tempat tinggal mereka, tapi Isaac tetap tinggal di Woolthorpe dengan
neneknya. Pada tahun 1659, Isaac kemudian bersekolah di King's College di
Grantham, tidak jauh dari tempat tinggalnya. Ia anak yang rajin dan suka
belajar, ketimbang bermain-main seperti anak laki-laki lainnya.
Untuk kedua kalinya ibunya menjadi janda tatkala Isaac berumur 14 tahun.
Isaac berhenti sekolah karena ia harus bekerja di ladang dan di peternakan
untuk menghidupi ibunya dan ketiga adik tirinya yang lebih muda dari dia.
Tentu Isaac sangat kehilangan sekolahnya dan ibunya menyadari itu. Ketika
universitas King's College bersedia membebaskan biaya sekolah Isaac karena
kepandaian dan keadaan keluarganya yang miskin, Isaac kembali sekolah
sampai selesai. Kemudian Isaac melanjutkan pendidikannya ke Trinity
College di Universitas Cambridge dengan niat menjadi pendeta gereja Inggris,
pada saat itu Isaac berusia 18 tahun. Lagi-lagi, ia mengalami kesulitan hidup.

Untuk membiayai sekolahnya, ia terpaksa melakoni berbagai pekerjaan hingga


berjam-jam setiap hari, termasuk bekerja untuk profesornya.
Isaac lulus tahun 1665, tak lama sebelum wabah pes yang dikenal sebagai
Black Death melanda London. Semua universitas ditutup selama wabah
merajalela. Isaac kembali ke peternakan keluarganya yang sekarang diurus
oleh adiknya. Di situ, Isaac melanjutkan studi dan penelitiannya mengenai
teorema binomial, cahaya, teleskop, kalkulus, dan teologi. Ketika Universitas
Cambridge dibuka kembali, Newton melanjutkan pendidikannya untuk
memperoleh gelar sarjana, sambil mengajar dan melakukan penelitian.
Tahun 1672 Newton diterima sebagai anggota Royal Society--kelompok
ilmuwan yang mengabdikan diri kepada metode eksperimental. Kepada
kelompok ini, dia menyumbangkan salah satu teleskopnya yang baru bersama
temuannya tentang cahaya. Kemudian pada tahun 1689 sampai 1690 Isaac
Newton mewakili Universitas Cambridge sebagai Anggota Parlemen, pada
tahun ini kesehatannya memburuk namun sembuh kembali seperti semula.
Umur 80 tahun, Newton sering dililit penyakit tetapi penglihatannya masih
baik. Untuk membantu mengakomodasi kegiatannya, dipekerjakanlah seorang
asisten. Newton tidak menikah tapi ketiga saudara tirinya tetap mendapat
perhatian darinya., Newton meninggal tahun 1727, dalam usia 84 tahun. Dia
mendapat

kehormatan

dimakamkan

di

Westminster

Abbey.

tempat

peristirahatan terakhir bagi keluarga raja, orang terkenal, pahlawan dan


ilmuwan. Setelah Newton meninggal, untuk mengenang jasa-jasanya dibuatlah
mata uang bergambar Newton.
Ide terbesar Newton justru terjadi pada tahun 1666. Pada siang hari dia
membaca dan merenungkan teori Copernicus, Galileo dan Kepler tentang orbit
bumi di bawah pohon apel. Sebuah apel jatuh menimpanya dan dia langsung
mengambil kesimpulan bahwa bulan juga mempunyai daya tarik karena
[bulan] tidak jatuh ke bumi sama seperti apel yang dikenal dengan gravitasi.
Tujuh tahun kemudian, dia baru mendapatkan jawabannya. Mulai bosan
berkutat dengan alam semesta, Newton mulai melakukan eksperimen tentang
cahaya. Newton mengawali penjelajahan sains dengan dasar pemikiran

Galileo, analitikal geometri dari Descartes dan hukum Kepler tentang gerakan
planet yang ada di otak. Ketiga orang inilah yang disebut Newton dengan
raksasa-raksasa yang menggendongnya. Newton memformulasikan tiga
hukum yang mengatur semua gerakan (fenomena) dalam alam semesta dari
galaksi di jagad raya sampai elektron berputar mengelilingi nukleus. Hukum
gerak Newton mampu bertahan tiga abad.. Tidaklah lengkap apabila tidak
menampilkan hukum Newton yang menjadi legenda sampai sekarang.
2.2 Hukum Newton I
Galileo melakukan pengamatan mengenai benda-benda jatuh bebas. Ia
menyimpulkan dari pengamatan-pengamatan yang dia lakukan bahwa bendabenda berat jatuh dengan cara yang sama dengan benda-benda ringan. Tiga puluh
tahun kemudian, Robert Boyle, dalam sederetan eksperimen yang dimungkinkan
oleh pompa vakum barunya, menunjukan bahwa pengamatan ini tepat benar untuk
benda-benda jatuh tanpa adanya hambatan dari gesekan udara. Galileo
mengetahui bahwa ada pengaruh hambatan udara pada gerak jatuh. Tetapi
pernyataannya walaupun mengabaikan hambatan udara, masih cukup sesuai
dengan hasil pengukuran dan pengamatannya dibandingkan dengan yang
dipercayai orang pada saat itu (tetapi tidak diuji dengan eksperimen) yaitu
kesimpulan Aristoteles yang menyatakan bahwa, Benda yang beratnya sepuluh
kali benda lain akan sampai ke tanah sepersepuluh waktu dari waktu benda yang
lebih ringan.

Pada tahun 1678

Sir

Isaac Newton menyatakan hukum

pertamanya tentang gerak, yang sekarang kita kenal sebagai Hukum I Newton
Hukum I Newton menyatakan Sebuah benda akan berada dalam keadaan diam
atau bergerak lurus beraturan apabila resultan gaya yang bekerja pada benda sama
dengan nol. Secara matematis, Hukum I Newton dinyatakan dengan persamaan
(Terlampir)Hukum di atas menyatakan bahwa jika suatu benda mula-mula diam
maka benda selamanya akan diam. Benda hanya akan bergerak jika pada suatu
benda itu diberi gaya luar. Sebaliknya, jika benda sedang bergerak maka benda
selamanya akan bergerak, kecuali bila ada gaya yang menghentikannya. Konsep
Gaya dan Massa yang dijelaskan oleh Hukum Newton yaitu Hukum I Newton
mengungkap tentang sifat benda yang cenderung mempertahankan keadaannya

atau dengan kata lain sifat kemalasan benda untuk mengubah keadaannya. Sifat
ini kita ini kita sebut kelembaman atau inersia. Oleh karena itu, Hukum I Newton
disebut juga Hukum Kelembaman.

2.3 Hukum Newton II


Setiap benda yang dikenai gaya maka akan mengalami percepatanyang
besarnya berbanding lurus dengan besarnya gaya dan berbanding tebalik dengan
besarnya massa benda. Kesimpulan dari persamaan diatas yaitu arah percepatan
benda sama dengan arah gaya yang bekerja pada benda tersebut. Besarnya
percepatan sebanding dengan gayanya. Jadi bila gayanya konstan, maka
percepatan yang timbul juga akan konstan Bila pada benda bekerja gaya, maka
benda akan mengalami percepatan, sebaliknya bila kenyataan dari pengamatan
benda mengalami percepatan maka tentu akan ada gaya yang menyebabkannya.
Persamaan gerak untuk percepatan yang tetap Jika sebuah benda dapat bergerak
melingkar melalui porosnya, maka pada gerak melingkar ini akan berlaku
persamaan gerak yang ekivalen dengan persamaan gerak linear. Dalam hal ini ada
besaran fisis momen inersia (momen kelembaman) I yang ekivalen dengan
besaran fisis massa (m) pada gerak linear. Momen inersia (I) suatu benda pada
poros tertentu harganya sebanding dengan massa benda terhadap porosnya.
Dimana harga tersebut adalah harga yang tetap.

2.4 Hukum III Newton


Hukum III Newton menyatakan bahwa Apabila benda pertama
mengerjakan gaya pada benda kedua (disebut aksi) maka benda kedua akan
mengerjakan gaya pada benda pertama sama besar dan berlawanan arah
dengan gaya pada benda pertama (reaksi). Secara matematis dinyatakan
dengan persamaan : Faksi = -Freaksi
Suatu pasangan gaya disebut aksi-reaksi apabila memenuhi syarat
sebagai berikut :
1. sama besar

2. berlawanan arah
3. bekerja pada satu garis kerja gaya yang sama
4. tidak saling meniadakan
5. bekerja pada benda yang berbeda
Secara matematis dinyatakan dengan persamaan (rumus 1.4). Tanda negatif
menjelaskan arah gaya. F aksi bertanda positif, sedangkan F reaksi bertanda
negatif. Hal ini menunjukkan bahwa gaya aksi dan gaya reaksi berlawanan
arah.
Lakukan percobaan agar anda lebih memahami hukum III Newton. Jika
anda mempunyai papan luncur, doronglah tembok sambil berdiri di atas papan
luncur. Setelah anda mendorong tembok, papan luncur bergerak mundur
menjauhi tembok. Arah dorongan anda ke depan, arah gerakan papan luncur
ke belakang. Hal ini menunjukan bahwa tembok juga mendorong anda. Ketika
anda mendorong tembok, pada saat yang sama tembok juga mendorong anda.
Gaya dorong anda bekerja pada tembok, sedangkan gaya dorong tembok
bekerja pada anda. Besar kedua gaya sama tetapi berlawanan arah. Anda dapat
menyebut salah satu gaya sebagai aksi dan gaya lain sebagai reaksi.
Percobaan lain yang dapat dilakukan adalah meniup sebuah balon karet
lalu setelah balon karet mengembang karena terisi udara, lepaskan balon.
Setelah dilepaskan, balon tersebut terbang. Arah gerakan balon berlawanan
dengan arah keluarnya udara dari balon. Bagaimana menjelaskan hal ini ?
Ketika mulut balon terbuka, balon mendorong udara keluar dan pada saat yang
sama, udara juga mendorong balon. Gaya dorong udara menyebabkan balon
terbang. Gaya dorong udara bekerja pada balok dan gaya dorong balon bekerja
pada udara. Kedua gaya mempunyai besar sama tetapi berlawanan arah.
Perhatikan gambar balok yang sedang diam di atas permukaan
lantai.(gambar 1.1 terlampir). Gaya normal yang bekerja pada balok (N)
adalah gaya normal yang diberikan oleh permukaan lantai pada balok. Pada
saat yang sama, balok juga memberikan gaya normal pada permukaan lantai
(N). Kedua gaya normal ini (N dan N) mempunyai besar yang sama tetapi
berlawanan arah dan kedua gaya ini juga bekerja pada benda yang berbeda.

Berbeda dengan N dan w yang bekerja pada benda yang sama, yakni bekerja
pada balok. Jadi N dan N merupakan gaya aksi reaksi. Konsep Hukum III
Newton sebenarnya sering kita alami dalam kehidupan sehari-hari, walau
kadang tidak kita sadari.
Hal apa saja dalam kehidupan sehari-hari yang menggunakan konsep
hukum ketiga Newton ? hukum ketiga Newton berlaku ketika kita berjalan
atau berlari. Ketika berjalan, telapak kaki kita memberikan gaya aksi dengan
mendorong permukaan tanah atau lantai ke belakang. Permukaan tanah atau
lantai memberikan gaya reaksi kepada kita dengan mendorong telapak kaki
kita ke depan, sehingga kita berjalan ke depan. Ketika berjalan mundur,
telapak kaki kita mendorong permukaan tanah atau lantai ke depan. Sebagai
reaksi, permukaan tanah atau lantai mendorong telapak kaki kita ke belakang
sehingga kita bisa berjalan mundur. Besarnya gaya aksi dan reaksi sama, tetapi
arahnya berlawanan. Telapak kaki kita mendorong lantai ke belakang, lantai
mendorong telapak kaki kita ke depan. Ketika kita berjalan lambat, gaya yang
kita berikan kecil, sehingga gaya reaksi yang diberikan oleh lantai juga kecil,
akibatnya kita berjalan pelan. Pada saat kita berjalan cepat, telapak kaki kita
menekan lantai lebih kuat, akibatnya gaya reaksi yang diberikan lantai juga
besar sehingga kita didorong dengan kuat ke depan. Dirimu dapat melakukan
percobaan ini untuk membuktikannya. Ketika kita berlari, gaya aksi berupa
dorongan yang diberikan oleh telapak kaki kita kepada permukaan tanah
sangat besar sehingga gaya reaksi yang diberikan oleh permukaan tanah
kepada telapak kaki kita juga sangat besar. Akibatnya kita bisa berlari dengan
kencang. Jadi besarnya gaya reaksi yang diberikan oleh permukaan tanah atau
lantai kepada telapak kaki kita sebanding alias sama besar dengan gaya aksi
yang kita berikan dan arahnya berlawanan.
Hukum ketiga Newton berlaku ketika kita berenang. Ketika kita berenang,
kaki dan tangan kita mendorong air ke belakang. Sebagai reaksi, air
mendorong kaki dan tangan kita ke depan, sehingga kita berenang ke depan.
Hukum ketiga Newton berlaku pada pistol atau senapan yang ditembakan.
Ketika sebuah peluru ditembakan, pistol atau senapan memberikan gaya aksi

kepada peluru dengan mendorong peluru ke depan. Karena mendapat gaya


aksi maka peluru tersebut mendorong pistol atau senapan ke belakang.
Akibatnya, para penembak merasa tersentak ke belakang akibat dorongan
tersebut. Seandainya dirimu bercita-cita menjadi polisi atau tentara maka suatu
saat nanti bisa melakukan percobaan untuk membuktikannya

2.5 Gerak Translasi


Gerak lurus adalah gerak suatu obyek yang lintasannya berupa garis
lurus. Dapat pula jenis gerak ini disebut sebagai suatu translasi beraturan.
Pada rentang waktu yang sama terjadi perpindahan yang besarnya sama.
Gerak lurus dapat dikelompokkan menjadi gerak lurus beraturan dan gerak
lurus berubah beraturan yang dibedakan dengan ada dan tidaknya percepatan.

1. Gerak Lurus Beraturan (GLB)


Gerak lurus beraturan (GLB) adalah gerak lurus suatu obyek, dimana
dalam gerak ini kecepatannya tetap atau tanpa percepatan, sehingga jarak
yang ditempuh dalam gerak lurus beraturan adalah kelajuan kali waktu. 7

2. Gerak Lurus Berubah Beraturan (GLBB)


Gerak lurus berubah beraturan (GLBB) adalah gerak lurus suatu obyek, di
mana kecepatannya berubah terhadap waktu akibat adanya percepatan yang tetap.
Akibat adanya percepatan rumus jarak yang ditempuh tidak lagi linier melainkan
kuadratik. Dengan kata lain benda yang melakukan gerak dari keadaan diam atau
mulai dengan kecepatan awal akan berubah kecepatannya karena ada percepatan
atau perlambatan . Pada umumnya GLBB didasari oleh Hukum Newton II
GLBB dibagi menjadi 2 macam :
A. GLBB dipercepat
GLBB dipercepat adalah GLBB yang kecepatannya makin lama
makin cepat, contoh GLBB dipercepat adalah gerak buah dari pohonnya.
Grafik hubungan antara v terhadap t pada GLBB dipercepat adalah: (terlampir)
Sedangkan Grafik hubungan antara s terhadap t pada GLBB

10

dipercepat adalah: (terlampir)


B. GLBB diperlambat
GLBB diperlambat adalah GLBB yang kecepatannya makin lama
makin kecil (lambat). Contoh GLBB diperlambat adalah gerak benda
dilempar keatas.
Grafik hubungan antara v terhadap t pada GLBB diperlambat (terlampir)
Grafik hubungan antara s terhadap t pada GLBB diperlambat (terlampir)

Persamaan yang digunakan dalam GLBB sebagai berikut : (terlampir)


Untuk menentukan kecepatan akhir (terlampir)
Untuk menentukan jarak yang ditempuh setelah t detik adalah sebagai berikut:
(terlampir)
Yang perlu diperhatikan dalam menggunakan persamaan diatas adalah saat
GLBB dipercepat tanda yang digunakan adalah (+) . Untuk GLBB diperlambat
tanda yang digunakan adalah (-), catatan penting disini adalah nilai percepatan (a)
yang dimasukkan pada GLBB diperlambat bernilai positif karena dirumusnya
sudah menggunakan tanda negatif.

2.6 Gerak Rotasi


Gerak melingkar atau gerak rotasi merupakan gerak melingkar suatu
benda pada porosnya pada suatu lintasan melingkar. Bila sebuah benda
mengalami gerak rotasi melalui porosnya, ternyata pada gerak ini akan berlaku
persamaan gerak yang ekivalen dengan persamaan gerak linier. Momen inersia
merupakan representasi dari tingkat kelembaman benda yang bergerak rotasi.
Semakin besar momen inersia suatu benda, semakin malas dia berputar dari
keadaan diam, dan semakin malas pula ia untuk mengubah kecepatan sudutnya
ketika sedang berputar. Sebagai contoh, dalam ukuran yang sama sebuah silinder
yang terbuat daris ebuah besi memiliki momen inersia yang lebih besar daripada
silinder kayu. Hal ini bisa diperkirakan karena terasa lebih berat lagi bagi kita
untuk memutar silinder besi dibandingkan dengan memutar silinder kayu.
Momen inersia pada gerak rotasi bisa dianalogikan dengan massa pada gerak

11

translasi. Sedangkan gaya pada gerak translasi dapat dianalogikan dengan momen
gaya pada gerak translasi. Jika gaya menyebabkan timbulnya percepatan pada
gerak translasi maka momen gaya itulah yang menyebabkan timbulnya percepatan
sudut pada gerak rotasi. Saat kita memutar sebuah roda atau membuka daun pintu,
saat itu kita sedang memberikan momen gaya pada benda-benda tersebut. Dengan
memanfaatkan pengertian momen gaya, kita dapat mengadaptasi Hukum II
Newton untuk diterapkan pada gerak rotasi. Bentuk persamaan Hukum II Newton
adalah: (terlampir)
Dengan menganalogikan gaya dengan momen gaya, massa dengan
momen inersia, dan percepatan dengan percepatan sudut, akan kita temukan
hasil adaptasi dari Hukum II Newton dalam gerak rotasi sebagai berikut:
(terlampir)
Untuk memudahkan pemahaman mengenai besaran-besaran pada gerak
rotasi, kita bisa menganalogikannya dengan besaran-besaran pada gerak lurus.
Berikut merupakan analogi antara besaran-besaran pada gerak translasi dan
besaran-besaran pada gerak rotasi.

Tabel 1. Analogi Besaran-Besaran pada Gerak Lurus dan Gerak Rotasi


Gerak Lurus Gerak Rotasi (terlampir)
Hk. Kekekalan momentum linier
Hk. Kekekalan momentum sudut

Gerak melingkar atau gerak rotasi merupakan gerak melingkar suatu


benda pada porosnya pada suatu lintasan melingakar. Bila sebuah benda
mengalami gerak rotasi melaui porosnya, ternyata pada gerak ini akan berlaku
persamaan gerak yang ekivalen denagn persamaan gerak linier. Gerak melingkar
ini ada yang disebut gerak melingkar beraturan dengan pengertian gerak suatu
benda yang menempuh lintasan berbentuk lingkaran dengan laju liner (besaran
kecepatan linier) tetap. Sebagai contoh, bila roda sepeda diangkat sehingga
rodanya tidak bersentuhan dengan bidang datar (tanah atau lantai), kemudian
pedalnya dikayuh, maka roda akan tetap berputar. Bila pedal dikayuh dengan

12

kelajuan tetap maka laju putaran roda juga tetap. Bila sebuah benda mengalami
gerak rotasi melalui porosnya, ternyata pada gerak ini akan berlaku persamaan
gerak yang ekivalen dengan persamaan gerak linier, dimana :
Kedudukan

x = besar sudut tempuh

Kecepatan

v = kecepatan sudut

Percepatan

a = percepatan sudut

Massa

m = momen inersia I

Gaya

F = momen gaya

Momentum

p = momentum sudut

Hukum II Newton untuk gerak rotasi bisa dinyatakan dengan : (terlampir)

2.7 Sebuah Katrol dengan Beban


Untuk sebuah katrol dengan beban-beban seperti pada gambar dibawah,
maka berlaku persamaan seperti berikut, Pada saat M1 berada diklem S
maka gerak dipercepat dengan persamaan (5). Pada saat melalui lubang A,
benda m akan tertinggal dan M2 lolos melalui lubang A dan menuju titik B
dengan kecepatan konstan. Karena M1 = M2, maka M2 + m berada dititik C,
jika M1 dilepas dari klem maka M2 + m akan turun dari titik C ke B melewati
titik A dengan gerak dipercepat.

2.8 Pesawat Atwood


Pesawat atwood adalah alat yang digunakan untuk yang menjelaskan
hubungan antara tegangan, energi pontensial dan energi kinetik dengan
menggunakan 2 pemberat (massa berbeda) dihubungkan dengan tali pada
sebuah katrol. Benda yang yang lebih berat diletakan lebih tinggi posisinya
dibanding yang lebih ringan. Jadi benda yang berat akan turun karena gravitasi
dan menarik benda yang lebih ringan karena ada tali dan katrol. Pesawat
atwood merupakan suatu system mekanika yang terdiri dari dua massa yang
dihubungkan dengan tali melalui katrol. Peristiwa ini sangatlah erat kaitannya
dengan Hukum Newton dan Momen Inersia yang bekerja pada benda dalam
system tersebut.Selain itu pesawat atwood merupakan alat eksperimen yang

13

digunakan untuk mengamati hukum mekanika pada gerak yang dipercepat


secara beraturan.
Seperti yang sudah dikatakan pesawat atwood ini biasa digunakan untuk
membuktikan hukum

newton, dimana hukum-hukum newton dapat

digunakan baik dalam gerak lurus maupun dalam gerak melingkar. Selain itu
persamaan dari gerak-gerak lurus dapat diterapkan dalam gerak melingkar.

2.9 Momen Gaya


Penyebab terjadinya gerak translasi adalah gaya. Sedangkan pada gerak
rotasi, penyebab berputarnya benda dinamakan momen gaya ( = torsi). Contoh
dalam kehidupan sehari-hari ialah, pegangan pintu yang diberikan gaya oleh
tangan kita sehingga engsel di dalamnya dapat berputar.Kincir yang berputar
karena tertiup angin dan lain lain.
Pada gerak lurus atau gerak translasi, faktor yang menyebabkan adanya
gerak adalah gaya (F). Sedangkan pada gerak rotasi atau gerak melingkar,
selain gaya (F), ada faktor lain yang menyebabkan benda itu bergerak rotasi
yaitu lengan gaya (l) yang tegak lurus dengan garis.
Secara matematis, momen gaya dirumuskan ( rumus 1.5 terlampir ). Jika
antara lengan gaya l dan gaya F tidak tegak lurus maka ( rumus 1.6 terlampir ).
dimana adalah sudut antara lengan gaya l dengan gaya F. Lengan gaya
merupakan jarak antara titik tumpuan atau poros ke titik dimana gaya itu
bekerja. Jika gaya dikenakan berada di ujung lengan maka bisa kita katakan
lengan gaya ( l ) sama dengan jari-jari lingkaran (r). sehingga momen gaya
dapat juga kita tulis ( rumus 1.7 terlampir ).
Dalam pokok bahasan hukum kedua Newton, kita belajar bahwa sebuah
benda bisa bergerak lurus dengan percepatan tertentu jika diberikan gaya.
Misalnya terdapat sebuah buku yang terletak di atas meja. Mula-mula buku itu
diam (kecepatan = 0). Setelah diberikan gaya dorong, buku itu bergerak
dengan kecepatan tertentu. Buku mengalami perubahan kecepatan (dari diam
menjadi bergerak) akibat adanya gaya. Perubahan kecepatan = percepatan.
Kita bisa mengatakan bahwa buku mengalami percepatan akibat adanya gaya.
14

Semakin besar gaya yang diberikan, semakin besar percepatan gerak buku itu.
Jadi dalam gerak lurus, gaya sebanding dengan percepatan linear benda.

2.10 Hubungan Hukum Newton Dengan Momen Inersia


Pada hukum kedua Newton menjelaskan tentang yang dikenai gaya
sehingga timbul suatu percepatan benda tersebut yang diakibatkan oleh suatu
gaya. Adapun hukum Newton tersebut sudah dijelaskan sebelumnya,
sedangkan momen inersia merupakan gerak rotasi yang dipengaruhi oleh
massa benda dan juga dipengaruhi pola distribusi massa terhadap sumbu
putar. Dapat kita tarik kesimpulan bahwa keduanya dipengaruhi oleh massa
benda.
Sebagai contoh, sebuah silinder pejal yang jari-jari r dan bermassa m
dijadikan katrol untuk sebuah sumur. Silinder tersebut kemudian diberi tali,
lalu pada salah satu ujung tali digantungi massa dan pada salah satu ujung tali
lainnya dikenai gaya sebesar F. Dari contoh diatas akan jelas hubungan antara
hukum kedua Newton dengan momen inersia.

15

BAB III
DATA HASIL PENGAMATAN

3.1 Data Pengamatan


Data hasil pengukuran dan percobaan yang dilakukan maka diperoleh
data sebagai berikut :

Massa anak timbangan (M)

87

gr

Massa beban tambahan

: m1 =

gr

m2 =

gr

m3 =

11

gr

Jari-jari katrol pesawat atwood

2.925

cm

Massa katrol (mk)

29,645

gr

Tabel 1. Data hasil pengukuran SAB berubah dan SBC tetap


No.

m
(gr)

11

SBC
(cm)

30

SAB
(cm)
30
35
40
30
35
40
30
35
40

t1
1.15
1.37
1.56
1.18
1.41
0.99
0.78
1.12
1.03

tAB (detik)
t2
t3
1.25 1.28
1.38 1.96
1.45 1.52
1.18 0.98
1.09 0.95
1.15 1.20
0.78 0.76
0.95 0.96
1.03 1.03

t
1.23
1.57
1.51
1.113
1.15
1.113
0.77
1.01
1.03

t1
0.87
0.81
0.78
0.66
0.69
0.6
0.59
0.50
0.50

tBC (detik)
t2
t3
0.87 0.94
0.97 0.85
0.69 0.71
0.88 0.69
0.65 0.65
0.56 0.47
0.59 0.60
0.44 0.50
0.50 0.50

t
0.89
0.88
0.73
0.74
0.66
0.54
0.59
0.48
0.50

Tabel 2. Data hasil pengukuran SBC berubah dan SAB tetap


No.

m
(gr)

11

SAB
(cm)

30

SBC
(cm)
30
35
40
30
35
40
30
35
40

t1
1.15
1.25
1.40
1.18
0.85
0.77
0.78
0.68
0.78

tAB (detik)
t2
t3
1.25 1.28
1.26 1.27
1.41 1.42
1.18 0.98
0.86 0.87
0.78 0.79
0.78 0,76
0.69 0.7
0.8 0.83

t
1.23
1.26
1.41
1.113
0.86
0.78
0.77
0.69
0.803

t1
0.87
0.88
1.11
0.66
0.75
0.97
0.59
0.56
0.72

tBC (detik)
t2
t3
0.87 0.94
0.86 0.85
1.19 1.17
0.88 0.69
0,76 0.79
0.98 0.99
0.59
0.6
0.59 0.57
0.74 0.75

t
0.89
0.86
1.18
0.74
0.77
0.98
0.59
0.57
0.74

16

BAB 4
PENGOLAHAN DATA
Dengan menggunakan formula St = S0 + V0t + at2 dan berdasarkan table
1 maka nilai percepatan benda pada jarakSAB adalah : a = 2 SAB/tAB2 , dari data
pada table di atas maka diperoleh percepatan sebagaiberikut :

Beban tambahan pertama (m1)


No.

SAB (m)

t (detik)

a (m/s2)

0.3

1.23

1.06

0.35

1.57

0.28

0.4

1.51

0.35

1.69

Percepatan rata-rata (a ) = a/3 = 1.69/3 = 0.563 m/det2, dengan


menggunakan data pada tabel diatas maka dapat dibuat grafik hubungan
waktu (t) terhadap waktu (s) :
0.45 S
0.4
0.35
0.3
0.25
0.2
0.15
0.1
0.05
0
1.23

1.51

Pada perangkat pesawat atwood berlaku g =

1.57

, sehingga

diperoleh percepatan gravitasi (g) sebesar = 18, 28 m/s2

Beban tambahan kedua (m2)


No.
1
2
3

SAB (m)
0.3
0.35
0.4

(detik)
1.112
1.15
1.113

a (m/s2)
0.48
0.53
0.65
1.66

Percepatan rata-rata (a ) = a/3 = 1.66/3 = 0.333 m/det2

17

0.45 s
0.4
0.35
0.3
0.25
0.2
0.15
0.1
0.05
0
0.06

0.09

0.37

m/s2

Percepatan gravitasi (g) sebesar = 13.604

Beban tambahan ketiga (m3)


(detik)

a (m/s2)

SAB
(m)
0.3

0.77

1.012

0.35

1.01

0.686

0.4

1.03

0.754

No.

2.452

Percepatan rata-rata (a ) = a/3 = 2.452/3 = 0.817 m/det2

0.45 S
0.4
0.35
0.3
0.25
0.2
0.15
0.1
0.05
0
0.06

0.09

0.37

Percepatan gravitasi (g) sebesar = 14.84 m/s2


Percepatan gravitasi yang diperoleh dengan menggunakan pesawat atwood ini
adalah :
No.

g - g

18

(m/s2)
1

18.28

2.707

13.6

1,973

14.84

0.733

46.72

5.413

Percepatan gravitasi rata-rata ( g ) = g/3 = 46.72/3

= 15.573 m/s2

Simpangan data hasil pengukuran (g) = g - g/3=5.413/3 = 1.8043 m/s2


= 1.8043 m/s2

Kesalahan absolut (g)


Kesalahan relatif = (g)/ g x 100%

= 11.59

Nilai terbaik = g + g

= 17.3773m/s2

Percepatan tadi akan memberikan pengaruh terhadap kecepatan benda pada saat
menempuh jarak BC (SBC), dengan formula:
VBC = a.tBC + 2(SBC a.tAB.tBC)/tBC

Menggunakan formula St = S0 + V0t + at2 dan memanfaatkan data pengukuran tabel


2, maka didapatkan data sebagai berikut:
Beban tambahan pertama (m1) : a =

m/s2

0.41

No.

SBC

VBC

0.3

0.17

0.35

0.30

0.4

0.100

Grafik hubungan SAB terhadap VAB


0.45 S
0.4
0.35
0.3
0.25
0.2
0.15
0.1
0.05
0
0.06

0.09

0.37

19

Beban tambahan kedua (m2) : a =

m/s2

0.91

No.

SBC

VBC

0.3

0.2

0.35

0.13

0.4

0.11

Grafik hubungna SAB terhadap VAB

0.45 S
0.4
0.35
0.3
0.25
0.2
0.15
0.1
0.05
0
0.06

0.09

0.37

Beban tambahan ketiga (m3) : a =

m/s2

1.24

No.

SBC

VBC

0.3

0.06

0.35

0.37

0.4

0.09

Grafikhubungan SAB terhadap VAB


0.45 S
0.4
0.35
0.3
0.25
0.2
0.15
0.1
0.05
0
0.06

0.09

0.37

20

BAB 5
PEMBAHASAN

Pada percobaan pesawat atwood ini, kita menggunakan massa beban


tambahan yang memiliki massa yang berbeda-beda, dimana massa beban
tambahan kita ukur menggunakan neraca analitis, agar pengukuran yang kita
lakukan teliti. Beban tambahan yang sudah kita ukur massanya dengan
menggunakan neraca analitis kita pasang pada salah satu anak timbangan yang
terpasang pada katril pesawat atwood. Setelah beban tadi sudah terpsang pada
salah satu anak timbangan maka tempatkan, anak timbangan tadi dengan terminal
yang paling atas. Kita menggunakkan massa beban tambahan yang berbeda
dikarenakan jika kita hanya menggunakan anak timbangan yang ada di system
pesawat atwood, kita tidak dapat membuktikan hukum Newton pertama, kedua,
maupun hukum newton ketiga. Selain itu kita juga memasang modul pesawat
atwood dalam kondisi yang benar-benar tegak lurus, supaya saat nanti anak
timbangan kita jatuhkan tidak akan terhambat dan mempengaruhi proses
penghitungan. Hanya hukum Newton pertama yang terbukti jika hanya terdapat
massa beban tambahan. Massa dari beban tambahan mempangaruhi waktu yang
ditempuh beban ke terminal dan juga mempengaruhi percepatan. Semakin berat
massa beban tambahan, semakin cepat waktu yang ditempuh atau waktu yang
dibutuhkan beban untuk sampai ke terminal.
Peda percobaan ini juga memakai jarak yang bervariasi. Pertama, kita
menggunakan jarak dari terminal A ke terminal B berubah sementara jarak dari
terminal B ke terminal C tetap. Lalu setelah itu kita menggunakan kebalikannya
yaitu menggunakan jarak dari terminal A ke terminal B tetap sementara jarak dari
terminal B ke terminal C berubah. Hal ini dilakukan untuk melihat efek-efek atau
perubahan yang terjadi ketika jarak diubah. Hasil dari pemakaian jarak yang
beruba-ubah terlihat pada perubahan waktu yang ditempuh. Semakin jauh jarak
yang ditempuh oleh beban yang kita gunakam, maka waktu tempuhnya pun
semakin lama.

21

Beban dapat bergerak ke bawah dan mengalami percepatan karena adanya


gravitasi, yang arahnya ke bawah, pusat bumi. Gravitasi dalam hal ini juga
bertindak sebagai percepatan. Sangat tidak mungkin jika percepatan terjadi bukan
karena adanya gaya gravitasi, karena percobaan ini termasuk gerak vertical.
Karena terdapat percepatan kecepatan pada percobaan ini berubah-ubah dan tidak
konstan.
Hukum pertamaNewton pada percobaan pesawat atwood ini dapat
dibuktikan saat anak timbangan diam dan tidak kita berikan suatu gaya atau massa
tambahan apapun. Maka anak timbangan tersebut akan tetap diam sampai kapan
pun anak timbangan tersebut. Hukum kedua Newton dapat dibuktikan dalam
percobaan pesawat ini dengan memperhatikan saat massa beban tambahan kita
tambahkan lalu anak timbangan akan bergerak kearah bawah, maka anak timbang
yang lainnya akan bergerak kearah atas. Hal ini membuktikan adanya aksi dan
reaksi. Dimana anak timbangan yang jatuh, atau bergerak ke arah bawah kita
sebut sebagai aksi dan anak timbangan yang bergerak kearah atas atau terangkat
kita sebut sebagai reaksi dari anak timbangan yang jatuh, atau bergerak ke arah
bawah.
Pada percobaan ini terjadi kesalahan-kesalahan yang terjadi saat
melakukan percobaan pesawat atwood ini, diantaranya kesalahan dalam
pencatatan waktu menggunak stopwatch sebagai alat untuk menghitung waktu
saat anak timbangan kita lepaskan. Saat mengukur waktu saat timbangan turun
praktikan tidak mencatat waktu secara benar dan tidak akurat. Lalu kesalahan
tidak hanya berasal dari praktikan, tetapi kesalahan juga berasal dari pesawat
atwood. Kesalahan peswat atwood yang dimaksud ialah pesawat atwood yang
praktikan gunakan tidak seimbang penyangganya, yang menyebabkan pesawat
atwood yang praktikan gunakan sulit untuk berdiri tegak. Karena hal tersebut lah
waktu yang praktikan gunakam untuk melakukan praktikum kali ini cukup lama
karena praktikan harus sering mngulang percobaan karena praktikan ingin
mendapat data percobaan yang valid dan akurat.
Namun, pada akhirnya kesalahan-kesalahan tersebut tidak dapat diatasi,
pada saat data dari percobaan praktikan olah barulah terlihat jelas kesalahan yang

22

terjadi saat melakukan percobaan pesawat atwood ini. Pada saat membuat grafik,
grafik yang dibuat berdasarkan data dari hasil percobaan atwood banyak yang
aneh dan tidak sesuai dengan teori yang sebenarnya. Data-data yang dimasukkan
menjadi tidak valid dan tidak akurat.

23

BAB 6
PENUTUP
6.1

Kesimpulan

Pada saat dalam keadaan seimbang, dan tidak bergerak sama sekali, ini
sesuai dengan hukum I Newton yang berbunyi: Jika sebuah benda atau
sistem benda tidak dipengaruhi gaya luar, maka benda atau sistem benda
tersebut akan selalu berada dalam keadaan keseimbangan.

Pada saat dalam keadaan seimbang dan tidak bergerak sama sekali. Dan
setelah diberi gaya, dan bergerak dari pelan semakin lama menjadi cepat
atau adanya percepatan yang timbul, karena adanya gaya tersebut. Ini
sesuai dengan hukum II Newton yang berbunyi: Jika sebuah benda atau
sistem benda dikerjakan gaya luar, maka percepatan yang ditimbulkan
besarnya berbanding lurus dengan resultan gaya itu dan searah dengan
arah gaya tersebut.

Pada saat klem dilepaskan, bergerak dari A ke B dengan mula-mula


bergerak pelan dan semakin lama menjadi cepat. Ini membuktikan adanya
percepatan dalam gerak dari A ke B. Maka dalam keadaan seperti ini
terjadi gerak lurus berubah beraturan (GLBB).

Pada saat bergerak dari B ke C, kecepatannya konstan tidak berubah,


maka dalam keadaan seperti ini terjadi gerak lurus beraturan (GLB).

Untuk mengukur percepatan a dalam keadaan gerak lurus berubah


beraturan (GLBB) dari A ke B, jika waktu dari A ke B adalah dan jarak
tempuhnya adalah , maka akan diperoleh hubungan dan sehingga

Sedangkan untuk mengukur percepatan a dalam keadaan gerak lurus


beraturan (GLB) dari B ke C, jika waktu dari B ke C adalah dan jarak
tempuhnya adalah , maka akan diperoleh hubungan atau sehingga

Gerak dari B ke C dalam keadaan gerak lurus beraturan (GLB), tapi dalam
percobaan ini terdapat percepatan dari B ke C walaupun kecil. Ini terjadi
dimungkinkan karena adanya gaya gesek pada katrol walaupun gaya
geseknya kecil.

24

6.2

Saran
Sebaiknya percobaan ini dilakukan dengan sangat teliti pada saat
pengukuran waktu dengan menggunakan stopwatch, agar didapat nilai
koefisien yang tepat. Karena jika tidak tepat saat pengumpulan data, maka
saat perhitungan akan terjadi beberapa kesalahan. Dimana kesalahan dalam
perhitungan akan mengakibatkan kesalahan dalam membuat grafik. Dimana
ketidak telitian dalam menggunakan stopwatch telah dialami oleh praktikan
yang melakukan percobaan pesawat atwood yang datanya saya gunakan,
sehinggan Grafik yang terbentuk meleset, tidak sesuai dengan teori yang
ada.

25

DAFTAR PUSTAKA

Giancolli. 2012.Fisika Dasar Edisi Kelima.Erlangga.Jakarta


Frederick J. Bueche. Seri buku nSchaum, Teori & soal fisika Bab 12 , Pesawat
Atwood, Hukum Newton.
Halliday dan Resnick. 2011. Fisika Dasar. Erlangga. Jakarta.
Tipler, P.A. 1998. Fisika untuk Sains dan Teknik-Jilid I (terjemahan). Jakarta :
Penebit Erlangga
Young. 2011. Fisika Universitas.Erlangga.Jakarta.
http://febrianhamidi.community.undip.ac.id/2010/09/30/penerapan-elastisitasdalam-kehidupan-sehari-hari/comment-page-1/

26

LAMPIRAN

A. RUMUS
-Hukum Newton I:

-Hukum Newton II:

-Persamaan untuk percepatan tetap :

-Gerak Translasi :

-GLBB didasari oleh Hukum Newton II :

-Untuk sebuah katrol dengan diberi beban, maka akan berlaku rumus :

Atau
(

27

-Gerak Rotasi :

28

-GLB dipercepat :

-GLBB diperlambat :

29

B. GAMBAR

-Pesawat Atwood

30