Anda di halaman 1dari 27

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Dalam kehidupan sehari - hari kita tidak terlepas dari ilmu fisika, dimulai
dari yang ada dari diri kita sendiri seperti gerak yang kita lakukan setiap saat,
energi yang kita pergunakan setiap hari sampai pada sesuatu yang berada diluar
diri kita, seperti yang ada di lingkungan kita. Dalam jenjang perguruan tinggi,
seorang mahasiswa diharapkan tidak hanya mengukuti perkuliahan semata, namun
lebih dari itu juga dituntut untuk mendalami dan menguasai disiplin ilmu yang
dipelajarinya sehingga nantinya akan menghasilkan sarjana - sarjana yang
berkualitas dan mampu mengaplikasikannya dalam kehidupan nyata dan
bermanfaat bagi masyarakat, nusa bangsa dan negara tercinta.
Disiplin ilmu teknik merupakan disiplin ilmu yang eksak dan banyak menerapkan
ilmu-ilmu murni yang diterapkan kepada masalah-masalah yang dihadapi dalam
kehidupan sehari-hari. Sehingga ilmu-ilmu yang berhubungan dengan bidang-
bidang keteknikan mutlak untuk dikuasai mahasiswa teknik, tidak hanya dari segi
teori juga dari segi prakteknya. Apalagi dalam menghadapi era globalisasi saat ini,
serta pasar bebas yang akan segera kita masuki, lebih menuntut penguasaan dan
penerapannya dalam menghadapi masalah-masalah yang kompleks. Titik - titik
yang telah diperoleh kerangka dasar horizontal dan vertikal inilah yang akan
membentuk sebuah poligon yang dapat dilihat dengan adanya garis - garis yang
menghubungkan titik - titik tersebut.
Ternyata dalam aplikasi ilmu tersebut, tugas yang diberikan kepada
mahasiswa tidak akan dikuasai sempurna tanpa adanya praktek - praktek yang
merupakan salah satu sarana yang baik untuk menguasai ilmu sekaligus
mempraktekannya. Demikian juga dengan praktikum Fisika Dasar I ini.
Fisika dalam bidang teknik khususnya merupakan hal yang sangat penting
dan benar-benar harus dikuasai secara teori dan praktek. Dengan latar belakang
itulah, maka kami mahasiswa teknik semester I diberi tugas praktikum mata
kuliah Fisika Dasar yang dilaksanakan di Laboratorium Pusat dibawah bimbingan
dosen dan team asisten pembantu dosen.
1.2 Tujuan Percobaan

1.2.1 Tujuan Intruksional Umum (TIU)


1. Kami dapat memahami konsep penyusun gaya.
2. Kami dapat menerapkan konsep metode poligon gaya pada sistem
yang bekerja lebih dari dua gaya.
1.2.2 Tujuan Intruksional Khusus (TIK)
1. Kami dapat menentukan besarnya sudut dari gaya yang terbentuk dan
menggambarkannya.
2. Kami dapat menentukan nilai resultan gaya secara analitis dan grafis.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian Gaya

Gaya adalah tarikan atau dorongan yang terjadi terhadap suatu benda.
Gaya dapat menimbulkan perubahan posisi, gerak atau perubahan bentuk pada
benda. Gaya termasuk ke dalam besaran Vektor, karena memiliki nilai dan arah.
Sebuah Gaya disimbolkan dengan huruf F (Force) dan Satuan Gaya dalam SI
(Satuan Internasional) adalah Newton, disingkat dengan N. Pengukuran gaya
dapat dilakukan dengan alat yang disebut dinamometer atau neraca pegas. Untuk
melakukan sebuah gaya diperlukan usaha (Tenaga), semakin besar gaya yang
hendak dilakukan, maka semakin besar pula Usaha (tenaga) yang harus
dikeluarkan.

2.2 Sifat – sifat Gaya

Berdasarkan penjelasan diatas, maka dapat disimpulkan bahwa gaya


memiliki beberapa sifat berikut :

 Gaya dapat mengubah arah gerak benda


 Gaya dapat mengubah bentuk benda
 Gaya dapat mengubah posisi benda dengan cara menggerakkan atau
memindahkannya

2.3 Rumus dan Satuan Gaya

Gaya dirumuskan dengan tiga rumusan dasar yang menjelaskan kaitan


gaya dengan gerak benda. Tiga Rumusan dasar ini adalah Hukum Newton
1, 2, dan 3.
a. Hukum Newton 1
Jika Resultan (Penjumlahan atau pengurangan gaya) yang bekerja pada
benda sama dengan nol, maka benda yang semula diam akan tetap diam,
dan benda yang bergerak lurus beraturan akan tetap bergerak lurus
beraturan. Jadi Rumus Hukum Newton 1 adalah :

∑F = 0
Keterangan :
∑F = resultan gaya (Kg m/s2)
b. Hukum Newton 2
Percepatan (Perubahan dari kecepatan) gerak benda selalu berbanding
lurus dengan resultan gaya yang bekerja pada suatu benda dan selalu
berbanding terbalik dengan massa benda.
Jadi Rumus Hukum Newton 2 adalah :

∑F = m.a

Keterangan :
∑F = resultan gaya (Kg m/s2)
m = Massa Benda (Kg)
a = percepatan (m/s2)
c. Hukum Newton 3
Setiap Aksi akan menimbulkan reaksi, artinya Jika Suatu benda
mengerjakan gaya terhadap benda kedua makan, benda kedua akan
membalas gaya dari benda pertama dengan arah yang berlawanan.
Jadi Rumus Hukum Newton 3 adalah :

Faksi = -Freaksi

2.4 Macam – macam Gaya

1. Berdasarkan Sentuhannya dengan benda, gaya dibagi menjadi 2, yaitu :


a. Gaya Sentuh
Gaya Sentuh adalah gaya yang bekerja dengan sentuhan. Artinya Suatu
gaya akan menghasilkan efek apabila terjadi sentuhan dengan benda yang
akan diberikan gaya tersebut, apabila tidak terjadi sentuhan, maka gaya
tidak akan bekerja pada benda. Gaya ini akan muncul ketika benda
bersentuhan dengan benda lain yang menjadi sumber gaya.
Contohnya, ketika seseorang hendak memindahkan meja, maka ia harus
menyentuh menja tersebut kemudian mendorongnya ke tempat tujuan,
pada kasus ini terjadi sentuhan antara manusia sebagai sumber gaya, dan
meja sebagai target yang henda diberikan gaya. Apabila tidak terjadi
sentuhan antara keduanya maka meja tidak akan berpindah sesuai
keinginan.
b. Gaya Tak Sentuh
Gaya Tak Sentuh adalah gaya yang akan bekerja tanpa terjadinya
sentuhan. Artinya Efek dari gaya yang dikeluarkan oleh sumber gaya tetap
dapat dirasakan oleh benda walaupun mereka tidak bersentuhan.
Contohnya adalah Gaya Magnet dan Gaya Gravitasi, pada gaya magnet,
ketika kita meletakkan besi di dekat magnet (tanpa bersentuhan), maka
besi tersebut akan tertarik ke arah magnet karena merasakan efek dari gaya
yang dikeluarkan oleh magnet tersebut.
2. Berdasarkan Jenis Gaya
Secara Umum dikenal 7 Jenis Gaya utama, yaitu :
a. Gaya Otot
Sesuai dengan namanya Gaya otot merupakan gaya yang dilakukan oleh
makhluk hidup yang memiliki otot. Gaya timbul dari koordinasi dari
struktur otot dengan rangka tubuh. Gaya Otot Termasuk ke dalam
kelompok Gaya Sentuh. Contohnya adalah seseorang yang mengangkat
batu. Untuk mengangkat batu tersebut, otot di dalam tubuhnya
berkoordinasi sehingga mampu menggerakan tangan untuk mengangkat
batu.
b. Gaya Pegas
Gaya Pegas adalah gaya dihasilkan oleh sebuah pegas. Gaya pegas disebut
juga gaya lenting pulih yang terjadi karena adanya sifat keelastisan suatu
benda. Gaya Pegas termasuk ke dalam kelompok Gaya Sentuh. Gaya
Pegas timbul karena pegas dapat memapat dan merenggang sehingga
bentuknya dapat kembali seperti semula setelah terjadi gaya tersebut.
Contohnya adalah ketika seseorang pemanah menarik anak panah
kebelakang, maka busur pada panah tersebut akan mengikuti arah busur
yang ditarik, kemudian setelah anak panah dilepaskan, maka pegas pada
busur panah akan kembali ke bentuk semulanya. Contoh lainnya adalah
ketapel, sistem kerjanya sejenis dengan busur panah.
c. Gaya Gesek
Gaya Gesek adalah gaya yang timbul karena terjadinya persentuhan
langsung antara dua permukaan benda. Gaya Gesek merupakan gaya yang
arahnya selalu berlawanan dengan arah gerak benda atau arah gaya luar.
Gaya gesek termasuk ke dalam kelompok gaya sentuh. Besar kecilnya
gaya gesekan ditentukan oleh halus atau kasarnya permukaan benda.
Semakin halus permukaan, maka semakin kecil gaya gesekan yang timbul
sehingga gaya yang dibutuhkan untuk membuat benda tersebut bergerak
semakin kecil juga. Contohnya apabila batu yang sama dengan jumlah
gaya luar yang sama di gerakan pada 2 permukaan , satu di lantai keramik
(Halus), satu lagi di lantai semen (kasar), maka pergerakan batu di lantai
keramik akan lebih cepat da mudah dibandingkan pergerakan batu pada
lantai semen.
Gaya Gesek terbagi menjadi 2, yaitu :
 Gaya Gesek Statis, yaitu gaya gesek yang terjadi ketika benda diam.
Gaya gesek statis terjadi apabila gaya luar yang diberikan kepada benda
nilainya sama dengan gaya gesekan yang terjadi sehingga benda
tersebut akan diam tidak bergerak karena resultan (penjumlahan) gaya
yang terjadi padanya sama dengan nol. Contohnya, ketika ada sebuah
benda diletakan pada bidang miring dan benda tersebut kita tahan
dengan tangan, maka benda itu tidak akan bergerak (tetap diam) karena
resultan gaya dari tangan kita sama dengan resultan gaya gesek yang
terjadi, namun apabila kita melepaskannya, maka benda tersebut akan
kembali bergerak.
 Gaya Gesek Kinetik, yaitu gaya gesek yang terjadi ketika benda dalam
keadaan bergerak. Gaya Gesek Kinetik terjadi ketika nilai gaya gesek
selalu lebih kecil dibandingkan gaya luar yang bekerja padanya,
sehingga gaya luar menang dan membuat benda tersebut bergerak.
Contohnya adalah gaya gesek antara permukaan mobil dengan aspal
ketika mobil bergerak, gaya gesek yang terjadi lebih kecil, dari gaya
mesin sehingga mobil mampu bergerak.
d. Gaya Mesin
Gaya Mesin adalah gaya yang dihasilkan oleh kerja mesin, seiring
berkembangnya teknologi, mesin yang dibuatpun semakin canggih. Gaya
Mesin sangat membantu dalam meringankan aktivitas manusia. Contohnya
adalah Kerja Mobil dan Motor.
e. Gaya Gravitasi Bumi (Gaya Berat)
Gaya Gravitasi Bumi adalah Gaya tarik bumi terhadap seluruh benda
bermassa yang terdapat pada permukaannya. Sahabat pasti sudah
mengetahui bahwa dengan adanya gravitasi bumi, maka kita dapat berdiri
tanpa masalah dipermukaannya, apabila tidak terdapat gaya gravitasi
bumi, maka setiap benda akan melayang seperti halnya di luar angkasa.
f. Gaya Magnet
Gaya Magnet adalah gaya pada magnet yang mampu menarik benda –
benda tertentu. Benda yang mampu ditarik oleh magnet disebut benda
magnetis, umumnya terbuat dari besi atau baja, ataupun logam lainnya.
Semakin dekat magnet dengan benda magnetis, maka gaya tarik magnet
tersebut semakin besar. Gaya magnet dapat menarik benda meskipun tanpa
menyentuhnya, oleh karena itu Gaya magnet termasuk ke dalam kelompok
Gaya Tak Sentuh. Contohnya adalah paku apabila didekatkan ke sebuah
magnet, maka ia akan tertarik ke arah magnet tersebut, maka paku
merupakan benda magnetis.
g. Gaya Listrik
Gaya Listrik adalah gaya yang dihasilkan oleh benda – benda bermuatan
listrik dalam medan listrik. Contohnya adalah kipas angin bekerja dengan
mengubah energi listrik menjadi energi gerak.

2.5 Pengaruh Gaya terhadap Benda

1. Pengaruh gaya terhadap benda yang diam. Benda yang diam dapat
bergerak jika diberi gaya. Contoh kelereng yang tadinya diam akan
bergerak setelah dientil, lemari yang tadinya diam akan bergerak setelah
diberi gaya dengan dorongan. Dalam hal ini gaya dapat mempengaruhi
gerak benda.
2. Pengaruh gaya terhadap benda yang bergerak. Benda yang bergerak, jika
diberi gaya dapat mengakibatkan benda tersebut berubah menjadi diam,
berubah arah, atau juga bisa bergerak lebih cepat. Contoh, bola yang
bergerak akan diam apabila ditahan dengan kaki, bola yang yang dilempar
ke arah tembok akan berubah arah setelah menumbuk tembok.
3. Pengaruh gaya terhadap bentuk benda. Suatu benda saat dikenai gaya yang
cukup dapatmengakibatkan benda tersebut berubah bentuk. Semakinbesar
gaya yang dikenakan semakin besar pulaperubahan bentuk pada benda
tersebut. Contoh, kaleng minuman yang kosong saat diinjak dengan keras
akan penyok, batu besar jika dipukul dengan palu akan pecah menjadi
batu-batu yang berukuran lebih kecil.
1. Satuan ukuran gaya adalah newton
2. Alat untuk pengukur gaya disebut Dinamometer
3. Gaya adalah Suatu bentuk kerja mendorong dan menarik suatu benda

Gaya yang ada dalam kehidupan sehari-hari biasanya adalah gaya


langsung. Artinya, sesuatu yang memberi gaya berhubungan langsung dengan
yang dikenai gaya. Selain gaya langsung, juga ada gaya tak langsung. Gaya
tak langsung merupakan gaya yang bekerja di antara dua benda tetapi kedua
benda tersebut tidak bersentuhan. Contoh gaya tak langsung adalah gaya
gravitasi. Pada bagian ini kita akan mempelajari beberapa jenis gaya, antara
lain, gaya berat, gaya normal, gaya gesekan, dan gaya sentripetal. Pada
kehidupan sehari-hari, banyak orang yang salah mengartikan antara massa
dengan berat. Misalnya, orang mengatakan “Doni memiliki berat 65 kg”.
Pernyataan orang tersebut keliru karena sebenarnya yang dikatakan orang
tersebut adalah massa Doni. kita harus dapat membedakan antara massa dan
berat.

Massa merupakan ukuran banyaknya materi yang dikandung oleh suatu


benda. Massa (m) suatu benda besarnya selalu tetap dimanapun benda tersebut
berada, satuannya kg. Berat (w) merupakan gaya gravitasi bumi yang bekerja
pada suatu benda. Satuan berat adalah Newton (N). Hubungan antara massa
dan berat dijelaskan dalam hukum II Newton. Misalnya, sebuah benda yang
bermassa m dilepaskan dari ketinggian tertentu, maka benda tersebut akan
jatuh ke bumi. Jika gaya hambatan udara diabaikan, maka gaya yang bekerja
pada benda tersebut hanyalah gaya gravitasi (gaya berat benda). Benda
tersebut akan mengalami gerak jatuh bebas dengan percepatan ke bawah sama
dengan percepatan gravitasi. Jadi, gaya berat (w) yang dialami benda besarnya
sama dengan per antara massa (m) benda tersebut dengan percepatan gravitasi
(g) di tempat itu.

Kita ketahui bahwa benda yang dilepaskan pada ketinggian tertentu akan
jatuh bebas. Bagaimana jika benda tersebut di letakkan di atas meja, buku
misalnya? Mengapa buku tersebut tidak jatuh? Gaya apa yang menahan buku
tidak jatuh?

Gaya yang menahan buku agar tidak jatuh adalah gaya tekan meja pada
buku. Gaya ini ada karena permukaan buku bersentuhan dengan permukaan
meja dan sering disebut gaya normal. Gaya normal (N) adalah gaya yang
bekerja pada bidang yang bersentuhan antara dua permukaan benda, yang
arahnya selalu tegak lurus dengan bidang sentuh. Jadi, pada buku terdapat dua
gaya yang bekerja, yaitu gaya normal (N) yang berasal dari meja dan gaya
berat (w). Kedua gaya tersebut besarnya sama tetapi berlawanan arah,
sehingga membentuk keseimbangan pada buku. Ingat, gaya normal selalu
tegak lurus arahnya dengan bidang sentuh. Jika bidang sentuh antara dua
benda adalah horizontal, maka arah gaya normalnya adalah vertikal. Jika
bidang sentuhnya vertikal, maka arah gaya normalnya adalah horizontal. Jika
bidang sentuhya miring, maka gaya normalnya juga akan miring.

Arah gaya normal selalu tegak lurus dengan permukaan bidang


2.6 Vektor dan Satuan Gaya

Karena mempunyai arah, gaya digambarkan seperti anak panah. Besar


gaya dinyatakan dengan panjang anak panah, arah gaya ditunjukkan
dengan arah anak panah dan gaya dilambangkan dengan F.

Panjang tanda panah menunjukkan besarnya gaya, misalkan gaya sebesar


2 newton digambarkan sebagai Gambar (b), maka gaya sebesar 4 newton
akan memiliki panjang dua kalinya seperti pada gambar (c).

Beberapa gaya yang bekerja pada suatu benda dalam satu garis kerja dapat
diganti oleh sebuah gaya yang dinamakan resultan gaya.

2.7 Poligon

Poligon adalah suatu rangkaian garis lurus yang berurutan


menghubungkan titik – titik yang berkoordinat satu dengan lainnya
menjadi bentuk tertentu (segi banyak beraturan atau segi banyak tidak
beraturan/tidak bersegi).
Tujuan dari Poligon adalah untuk memperbanyak koordinat titik-titik di
lapangan yang diperlukan untuk pembuatan peta.
1. Poligon Tertutup
Poligon tertutup adalah kerangka dasar pengukuran yang membentuk
poligon segi banyak yang menutup. Yang dimaksud menutup adalah
apabila mulai dari titik 1 kemudian ke titik 2 dan seterusnya akan
kembali ke titik 1 lagi. Sehingga akan membentuk segi banyak. Fungsi
dari kembali ke titik awal adalah digunakan untuk mengkoreksi
besaran sudut pada tiap segi banyak tersebut.
Pada gambar di atas terlihat semua sudut teratur namun pada
pengukuran di lapangan semua sudut mempunyai besaran yang berbeda-
beda. lalu bagaimana cara menerapkan di lapangannya? Pada prinsipnya
yang perlu diingat adalah penentuan jumlah titik poligon disesuaikan
dengan kondisi lapangan. Misalkan yang diukur lahan yang sangat luas
maka membutuhkan banyak titik poligon. Usahakan menggunakan sedikit
titik poligon yang terpenting menutup. Semakin banyak titik poligon maka
tingkat kesalahan sudut semakin besar.
2. Poligon Terbuka
Pengukuran poligon terbuka biasa digunakan untuk mengukur jalan,
sungai, maupun irigasi. tapi kenyataannya bisa digunakan untuk
mengukur luas lahan terbuka. namun tetap disarankan untuk
menggunakan poligon tertutup apabila mengukur luas lahan. Yang
dimaksud terbuka disini adalah poligon tersebut tidak mempunyai
sudut dalam seperti pada tertutup. jadi pengukuran di mulai dari titik
awal tapi tidak kembali ke titik awal seperti pada gambar di bawah ini.
Poligon terbuka sendiri terbagi menjadi 2 yaitu terikat sempurna dan
tidak terikat sempurna. Dikatakan terikat sempurna apabila kita
mempunyai data-data koordinat pada titik awal dan titik akhir berupa
data koordinat dan elevasi (x,y,z). Sedangkan terikat tidak sempurna
adalah hanya mempunyai data koordinat dan elevasi pada titik awal
saja. Poligon terbuka tidak terikat sempurna ini tidak bisa dikoreksi
sehingga hanya surveyor-surveyor handal dan berpengalaman banyak
lah yang bisa menggunakan ini karena yakin ketelitian dan kesalahan
sudut hanya kecil. Tingkat kesalahan pada pengukuran sangat
tergantung dari pengukurnya sendiri seberapa akurat bisa
melakukannya.
Poligon terbuka terdiri atas serangkaian garis yang berhubungan
tetapi tidak kembali ke titik awal atau tidak terikat pada sebuah titik
dengan ketelitian sama atau lebih tinggi ordenya. Dilapangan, poligon
ini biasanya dipakai untuk pengukuran jalan dengan cara pintas, atau
panjang jalan dalam radius pendek. Biasanya hasil yang didapat,
terdapat banyak kekeliruan.Untuk itulah metode yang diambil guna
menghindari kesalahan yang kemudian akan muncul adalah
pengukuran dilakukan berulang kali (lebih dari 3 kali tiap titik), guna
meminimalisir besarnya kesalahan yang terjadi.
Jarak yang digunakan dalam poligon adalah jarak datar yang dapat
dihasilkan dari berbagai cara diantaranya :
1. Dari pengamatan sebuah pita ukur, hal ini bersifat kasar
dikarenakan ketelitian dari pita ukur hanya mencapai cm dan untuk
memenuhi metode pengukuran jarak datar sangatlah susah untuk
diterapkan.
2. Dari pengamatan rambu ukur dengan theodolite, bersifat kasar
karena ketelitiannya tergantung dari jauh dan dekatnya jarak
tersebut.
BAB III
PROSEDUR PERCOBAAN

3.1 Alat yang digunakan :

1. Peralatan Poligon Gaya

2. Beban Pemberat
3. Busur Derajat

3.2 Cara Kerja :

Pertama yang kami lakukan adalah memasang alat poligon gaya


seperti pada gambar peralatan poligon gaya diatas, selanjutnya kami
memberi beban pada tiap katrol dengan berat yang tidak sama atau
berbeda – beda sesuai dengan petunjuk asisten. Yang kedua kami
mencatat massa beban tersebut pada tabel data pengamatan dan
mengukur sudut di masing – masing tali, kemudian mengubah beban
beberapa kali sesuai dengan petunjuk asisten, lalu mengulangi
beberapa kali seperti prosedur sebelumnya.
BAB IV
TABEL PENGAMATAN

4.1 Tabel Pengamatan 1

NO Θm1 Θm2 Θm3 Θm4


1 47° 39° 27° 31°
2 47° 39° 27° 32,5°
3 47° 40° 27° 30°
4 46,5° 40° 25,5° 33°
5 47° 39,5° 25° 32°

Keterangan :
M1 = 50 gr
M2 = 10 gr
M3 = 60 gr
M4 = 30 gr
4.2 Tabel Pengamatan 2

NO Θm1 Θm2 Θm3 Θm4


1 30° 30° 40° 46,5°
2 30° 29° 40° 44,5°
3 30° 28,5° 42,5° 38,5°
4 31,5° 27° 41,5° 43,5°
5 31° 27° 41° 44,5°

Keterangan :
M1 = 80 gr
M2 = 70 gr
M3 = 50 gr
M4 = 50 gr
Tanggal Praktikum : Minggu, 16 Oktober 2016
Fakultas / Jurusan : FTI / T. Pertambangan
Anggota :
1. Adella Miranda Abas (09320150054)

Makassar, 16 Oktober 2016


Asisten

SYAHRUL RAHMAN
BAB V
PENGOLAHAN DATA

5.1 Perhitungan Secara Matematika

A. Sudut (θ) rata – rata


Tabel 1
𝛴θm1 θ1+ θ2+ θ3 + θ4+ θ5
Θm1 = =
𝑛 5
47°+ 47°+ 47°+ 46,5°+ 47° 234,5
= = = 46,9°
5 5
𝛴θm2 θ1+ θ2+ θ3 + θ4 + θ5
Θm2 = =
𝑛 5
39°+ 39°+ 40°+ 40°+ 39,5° 197,5
= = = 39,5°
5 5
𝛴θm3 θ1+ θ2+ θ3 + θ4+θ5
Θm3 = =
𝑛 5
27°+ 27°+ 27°+25,5°+25° 131,5
= = = 26,3°
5 5

𝛴θm4 θ1+ θ2+ θ3 + θ4+ θ5


Θm4 = =
𝑛 5
31°+ 32,5°+ 30°+33°+ 32° 158,5
= = = 31,7°
5 5

𝛴θmn θm1+ θm2+ θm3 + θm4


Θmn = =
𝑛 4
46,9°+ 39,5°+ 26,3°+31,7° 144,4
= = = 36,1°
4 4

Tabel 2
𝛴θm1 θ1+ θ2+ θ3 + θ4+ θ5
Θm1 = =
𝑛 5
30°+ 30°+ 30°+ 31,5°+ 31° 152,5
= = = 30,5°
5 5
𝛴θm2 θ1+ θ2+ θ3 + θ4 + θ5
Θm2 = =
𝑛 5
30°+ 29°+ 28,5°+ 27°+ 27° 141,5
= = = 28,3°
5 5
𝛴θm3 θ1+ θ2+ θ3 + θ4+θ5
Θm3 = =
𝑛 5
40°+ 40°+ 42,5°+ 41,5°+41° 205
= = = 41°
5 5
𝛴θm4 θ1+ θ2+ θ3 + θ4+ θ5
Θm4 = =
𝑛 5
46,5°+ 44,5°+ 38,5°+43,5°+ 44,5° 217,5
= 5
= 5
= 43,5°
𝛴θmn θm1+ θm2+ θm3 + θm4
Θmn = =
𝑛 4
30,5°+ 28,3°+ 41°+43,5° 143,3
= = = 35,825°
4 4

B. Gaya – gaya pada Sumbu X


Tabel 1
Fx1 = m.g.cos θm1
= 0,05 x 9,81 x cos 46,9°
= 0,4905 x 0,6832
= 0,3351
Fx2 = m.g.cos θm2
= 0,01 x 9,81 x cos 39,5°
= 0,0981 x 0,7716
= 0,0756
Fx3 = m.g.cos θm3
= 0,06 x 9,81 x cos 26,3°
= 0,5886 x 0,8964
= 0,5276
Fx4 = m.g.cos θm4
= 0,03 x 9,81 x cos 31,7°
= 0,2943 x 0,8508
= 0,2503
Tabel 2
Fx1 = m.g.cos θm1
= 0,08 x 9,81 x cos 30,5°
= 0,7848 x 0,8616
= 0,6761
Fx2 = m.g.cos θm2
= 0,07 x 9,81 x cos 28,3°
= 0,6867 x 0,8804
= 0,6045
Fx3 = m.g.cos θm3
= 0,05 x 9,81 x cos 41°
= 0,4905 x 0,7547
= 0,3701
Fx4 = m.g.cos θm4
= 0,05 x 9,81 x cos 43,5°
= 0,4905 x 0,7253
= 0,3557

C. Gaya – gaya pada Sumbu Y


Tabel 1
Fy1 = m.g.sin θm1
= 0,05 x 9,81 x sin 46,9°
= 0,4905 x 0,7301
= 0,3581
Fy2 = m.g.sin θm2
= 0,01 x 9,81 x sin 39,5°
= 0,0981 x 0,6360
= 0,0623
Fy3 = m.g.sin θm3
= 0,06 x 9,81 x sin 26,3°
= 0,5886 x 0,4430
= 0,2607
Fy4 = m.g.sin θm4
= 0,03 x 9,81 x sin 31,7°
= 0,2943 x 0,5254
= 0,1546
Tabel 2
Fy1 = m.g.sin θm1
= 0,08 x 9,81 x sin 30,5°
= 0,7848 x 0,5075
= 0,3982
Fy2 = m.g.sin θm2
= 0,07 x 9,81 x sin 28,3°
= 0,6867 x 0,4740
= 0,3254
Fy3 = m.g.sin θm3
= 0,05 x 9,81 x sin 41°
= 0,4905 x 0,6560
= 0,3217
Fy4 = m.g.sin θm4
= 0,04 x 9,81 x sin 43,5°
= 0,4905 x 0,6883
= 0,3376

D. Resultan Gaya pada Sumbu X


Tabel 1
Rx = Fx1 – Fx2 – Fx3 + Fx4
= (0,3351 – 0,0756 – 0,5276 + 0,2503)
= - 0,0178 N
Tabel 2
Rx = Fx1 – Fx2 – Fx3 + Fx4
= (0,6761 – 0,6045 – 0,3701 + 0,3557)
= 0,0572 N

E. Resultan Gaya pada Sumbu Y


Tabel 1
Ry = Fy1 + Fy2 – Fy3 – Fy4
= (0,3581 + 0,0623 – 0,2607 – 0,1546)
= 0,0051 N
Tabel 2
Ry = Fy1 + Fy2 – Fy3 – Fy4
= (0,3982 + 0,3254 – 0,3217 – 0,3376)
= 0,0643 N
F. Jumlah Gaya yang Bekerja pada Sistem Resultan
Tabel 1
R = √(𝑅𝑥)2 + (𝑅𝑦)²

= √(−0,0178)2 + (0,0051)²

= √0,0003 + 0,0052

= √0,0055 = 0,0741 N
Tabel 2

R = √(𝑅𝑥)2 + (𝑅𝑦)²

= √(0,0572)2 + (0,0643)²
= √0,0032 + 0,0041
= √0,0073
= 0,0854 N
5.2 Teori Ketidakpastian

Fx = m.g.cos θ
Fx = F. cos θ
𝛿𝐹𝑥 𝛿𝐹𝑥
∆F = √(𝛿𝐹𝑥)2 x (∆F)2 + (𝛿 cos 𝜃) x (∆ cos θ)

𝛿𝐹𝑥
= F. cos θ
𝛿𝐹

U =F
U’ = 1
V = cos θ
V’ = 0
= U.V’ + U’.V
= F.0 + 1.cos θ
= cos θ
= cos 39,5° = 0,7716
∆F = m.g
𝛿𝐹
= √(𝛿𝑚)2 x (∆m)2

𝛿𝐹
= = m.g
𝛿𝑚

U =m
U’ = 1
V =g
V’ = 0
= U.V’ + U’.V
= m.0 + 1.g
= 9,81
∆m = 1⁄2 skala terkecil

= 1⁄2 . 10-3
= 5.10-4
= √(9,81)2 x (5.10-4)2

= √(96,2361 𝑥 25.10-8

=√(2405,9 𝑥 10-8
= 49, 0499 x 10-4
𝛿𝐹𝑥
= F. cos θ
𝛿 cos 𝜃

U =F
U’ = 0
V = cos θ
V’ = - sin θ
= U.V’ + U’.V
= F . - sin θ + 0 . cos θ
= F . - sin θ (39,5°)
= 0,098 . (-0,63)
= -0,0617
(cos θ−cos θ1)+(cos θ−cos θ2)+n
∆ cos θ = √( )
n (n−1)

(cos 39,5° − cos 39°)² + (cos 39,5° − cos 39°)² + ( cos 39,5° − cos 40°)² + ( cos 39,5° − cos 40°)² + (cos 39,5° − cos 39,5°)²
= √(
5 (5 − 1)

(0,7716 − 0,7771)² + (0,7716 − 0,7771)² + ( 0,7716 − 0,7660)² + (0,7716 − 0,7660)² + (0,7716 − 0,7716)²
= √(
5 (5 − 1)

(−0,0055)² + (−0,0055)² + (0,0056)² + (0,0056)² + (0)²


= √(
20
0,0030 + 0,0030 + 0,0031 + 0,0031
= √(
20
= √0,0122
= 0,1104
𝛿𝐹𝑥 2 𝛿𝐹𝑥 2
∆Fx = √( 𝛿𝐹 ) x (∆F)² + (𝛿 cos 𝜃) x (∆ cos θ)²

= √(0,0122)
BAB VI
ANALISA DATA

6.1 Tabel Analisa 1

NO Θm1 Θm2 Θm3 Θm4


1 47° 39° 27° 31°
2 47° 39° 27° 32,5°
3 47° 40° 27° 30°
4 46,5° 40° 25,5° 33°
5 47° 39,5° 25° 32°

Keterangan :
M1 = 50 gr
M2 = 10 gr
M3 = 60 gr
M4 = 30 gr

6.2 Tabel Analisa 2

NO Θm1 Θm2 Θm3 Θm4


1 30° 30° 40° 46,5°
2 30° 29° 40° 44,5°
3 30° 28,5° 42,5° 38,5°
4 31,5° 27° 41,5° 43,5°
5 31° 27° 41° 44,5°

Keterangan :
M1 = 80 gr
M2 = 70 gr
M3 = 50 gr
M4 = 50 gr

Berdasarkan percobaan yang kami lakukan tentang poligon gaya, dapat


disimpulkan bahwa dari sudut (θ) yang dihasilkan berbeda – beda karena
dipengaruhi suatu beban sehingga dapat menghasilkan nilai yang berbeda
pula.
Dari data diatas diperoleh sudut yang berbeda – beda, hal tersebut
dipengaruhi oleh beban yang berbeda yang diberikan pada setiap gaya di
katrol, selain itu hasil dari tarik – menarik terhadap tali juga mempengaruhi
besarnya sudut.
Rumus yang digunakan pada percobaan poligon gaya yaitu :
1. Rumus mencari sudut (θ), sudut rata – rata yaitu θmn = berikatan oleh
beban tersebut dan n adalah jumlah dari sudut m.
2. Rumus mencari gaya pada sumbu x adalah m.g.cos θmn, dimana m =
massa dan g = gravitasi bumi.
3. Rumus mencari gaya pada sumbu y adalah m.g.sin θmn, dimana m =
massa dan g = gravitasi bumi.
4. Rumus untuk menghitung resultan gaya adalah R = √(𝑅𝑥)² + (𝑅𝑦)2 ,
dimana Rx yaitu resultan pada sumbu x dan Ry yaitu resultan pada sumbu
y.

BAB VII
PENUTUP

7.1 Kesimpulan

Dari hasil percobaan yang dilakukan dapat disimpulkan bahwa


gaya yang dihasilkan pada saat tejadinya sebuah pergerakan pada benang yang
diakibatkan adanya gaya yang diberikan oleh beban. Apabila gaya yang
diberikan oleh beban kepada tali itu berbeda, maka sudut yang dihasilkan akan
berbeda. Adapun pada percobaan ini dipengaruhi oleh beban yang diberikan
pada setiap lengan yang ada pada tali. Semakin besar beban yang diberikan
maka sudut yang dihasilkan akan semakin kecil, begitu pula sebaliknya.

7.2 Saran
7.2.1 Saran untuk Laboratorium
Kebersihan laboratorium agar tetap selalu dijaga. Agar ketika
melakukan praktikum tetap terasa nyaman dalam keadaan laboratorium
yang bersih.
7.2.2 Saran untuk Asisten
Kami berharap konsep pengajaran ini dapat terus dipertahankan
dan lebih ditingkatkan lagi.

7.3 Ayat yang Berhubungan

Artinya :
“Barangsiapa yang berat timbangannya (kebaikannya), maka
mereka itulah orang – orang yang beruntung”.
(QS. Al – Araf : 8)

DAFTAR PUSTAKA

Marten Kanginan, 2004, Fisika untuk SMA kelas X, Jakarta : Erlangga


Search, Francais W, 1997, Fisika Universitas, Jakarta : Erlangga
Sutrisin, 1993, Seri Fisika Dasar, Bandung : Institut Teknologi Bandung
http://www.poligongaya.scribd.com
http://www.google.com/poligon-gaya