Anda di halaman 1dari 19

FERTILISASI DAN PERKEMBANGAN EMBRIONAL

IKAN NILEM (Osteochilus hasselti)

Oleh:
Nama
: Nur Afiyati Fazrin
NIM
: B1J013010
Rombongan : VII
Kelompok : 2
Asisten
: Iis Setiawati

LAPORAN PRAKTIKUM PERKEMBANGAN HEWAN

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN


UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS BIOLOGI
PURWOKERTO
2014

I.

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Fertilisasi merupakan proses yang dimulai dengan bertemunya sel
kelamin jantan dan sel kelamin betina. Penetrasi spermatozoa ke dalam telur
diakhiri dengan bergabungnya kedua pronuklei. Karena setelah terjadi
pembuahan, ovum akan menjadi lebih aktif untuk melakukan pembelahan
segmentasi dan berkembang, sedangkan bila tidak terbuahi ovum akan segera
mati (Soeminto, 2008).
Spermatozoa adalah sel gamet jantan yang merupakan sel yang sangat
terdiferensiasi, satu-satunya sel yang memiliki jumlah sitoplasma yang terperas,
nyaris habis. Fungsi spermatozoa ada dua yaitu mengantarkan satu set material
genetis jantan ke betina dan mengaktifkan program perkembangan. Sperma ikan
terdiri dari tiga komponen utama yaitu kepala, leher dan ekor. Kepalanya terutama
terdiri dari suatu nukleus padat yang dimahkotai dengan akrosom kecil berbentuk
bulan sabit. Akrosomnya mengandung sejumlah enzim hidrolitik dan dianggap
berperan dalam penembusan telur oleh spermatozoa (Djuhanda, 1982).
Telur adalah satu-satunya sel hewan yang memiliki sifat totipotensi.
Totipotensi yaitu memiliki potensi atau kemampuan berkembang menjadi individu
baru dalam satuan hari atau minggu. Sifat totipotensi itu dimiliki sel telur setelah
diaktivasi. Tidak ada sel lain dalam hewan tingkat tinggi yang memiliki
kemampuan seperti itu (Sistina, 2000).
Ikan Nilem (Osteochillus hasselti) dipilih sebagai preparat dalam
praktikum kali ini merupakan perwakilan dari classis Pisces. Alasannya, karena
ikan Nilem memiliki ukuran tubuh yang relatif kecil (berat per ekor induk yang
telah masak kelamin adalah 120 gram), dapat dipelihara di akuarium dan produk
telur yang dihasilkan oleh setiap induk betina yang masak kelamin cukup banyak
yaitu 20.000 butir. Ikan nilem hidup di air tawar dan banyak dibudidayakan
masyarakat sehingga mudah untuk mendapatkannya. Ikan Nilem dapat dipelihara
dengan baik pada daerah dengan ketinggian 150 1000 m dpl, daerah yang paling
baik pada ketinggian 1800 m dpl dengan suhu optimum 18 28 C. Pembelahan
segmentasi pada ikan nilem memerlukan waktu yang relatif tidak terlalu lama,

sehingga

tidak

menjadi

kendala

pada

saat

melakukan

pengamatan

(Soeminto,2008).
B. Tujuan
Tujuan dari praktikum praktikum fertilisasi dan perkembangan embrional
ikan nilem adalah dapat melakukan fertilisasi pada ikan, mengenali sel telur ikan
yang telah terfertilisasi, mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi
fertilisasi dan mengetahui tahapan perkembangan embrio ikan nilem.

II. MATERI DAN METODE

A. Materi
Alat-alat yang digunakan dalam praktikum fertilisasi dan perkembangan
embrional pada ikan nilem adalah spuit injeksi, kain katun, akuarium yang
dilengkapi dengan sistem aerasi, mangkuk plastik, well plate, pipet transfer
berskala, cawan plastik, mikroskop cahaya, pencatat waktu, haemocytometer, dan
saringan.
Bahan yang diperlukan dalam praktikum fertilisasi dan perkembangan
embrional pada ikan nilem adalah ikan nilem (Osteochilus hasselti) jantan dan
betina matang gonad, sediaan hormon untuk induksi ovulasi dan spermiasi,
larutan NaCl fisiologis atau larutan Ringer dan air sumur atau air ledeng.
B. Metode
B.1 Induksi untuk mendapat gamet segar
1.

Pilih ikan nilem yang telah matang gonad.

2.

Timbang ikan jantan dan betina untuk menentukan dosis hormon yang

diperlukan untuk induk induksi ovulasi dan spermiasi.


3.

Siapkan hormon yang akan digunakan untuk induksi sesuai dengan

ketentuan
4.

Suntikkan sediaan hormon yang telah disiapkan secara intra muskuler di

daerah punggung. Pastikan semua hormon masuk kedalam jaringan otot.


5.

Masukkan induk jantan dan betina yang telah diinduksikan ke dalam

akuarium yang dilengkapi aerasi.


6.

Setelah 5-6 jam, amati perilaku ikan. Apabila ikan sudah mulai melompat

ke permukaan, mengindikasikan bahwa ikan hampir memijah.


7.

Angkat ikan dari akuarium dan urut bagian abdomen dari ikan. Apabila

milt dan sel telur telah keluar maka ovulasi dan spermiasi sudah berlangsung dan
ikan siap di stripping.
B.2 Fertilisasi dengan berbagai rasio pengenceran spermatozoa ; sel telur.
1.

Persiapkan semua peralatan yang akan digunakan.

2.

Angkat ikan nilem jantan matang gonad, bersihkan bagian abdomen dan

sekitar genital pore menggunakan tissue.


3.

Urut dinding abdomen secara halus, kemudian setelah keluar miltnya

tampung dengan menggunakan spuit tanpa jarum.


4.

Lakukan pengenceran milt dalam well plate. 1 bagian milt ditambah 9

bagian larutan NaCl fisiologis dan dihomogenkan. Sehingga didapatkan


pengenceran 10x, lakukan hal serupa dengan hasil pengenceran 100 x dan 1000 x.
5.

Setelah itu lakukan stripping pada ikan betina, bagian abdomennya

dibersihkan dengan tissue.


6.

Tampung hasil stripping pada mangkuk kecil yang bersih.

7.

Ambil satu sendok kecil sel telur dan tambahkan 1 mL milt pengenceran

10x secara perlahan dilakukan agitasi selama 3 menit dan diberi tambahan air
hingga sel telur dan milt tercampur rata.
8.

Setelah pencampuran sel telur dan milt, secara perlahan media pembuahan

yang berisi sel telur dan spermatozoa dituangkan ke dalam saringan halus untuk
menghilangkan spermatozoa, kemudian dibilas dengan cara mencelupkan
saringan ke dalam air bersih sebanyak 3 kali.
9.

Sel telur yang telah di cuci dimasukkan ke dalam mangkok berisi air.

10.

Sel telur diambil 10 buah dari masing-masing hasil pembuahan

menggunakan pipet transfer dan diletakkan di cavity slide dan diamati di bawah
mikroskop.
11.

Proporsi sel telur yang dibuahi maupun yang tidak di buahi dihitung.

12.

Mengulangi dengan mengambil 10 sel telur sesuai dengan waktu yang

ditentukan.
13.

Data diisi sesuai dengan yang diamati dimikroskop.

B.3 Fertilisasi dengan berbagai waktu kontak spermatozoa dengan sel telur.
1.

Persiapkan semua peralatan yang akan digunakan.

2.

Angkat ikan nilem jantan matang gonad, bersihkan bagian abdomen dan
sekitar genital pore menggunakan tissue.

3.

Urut dinding abdomen secara halus, kemudian setelah keluar miltnya


tampung dengan menggunakan spuit tanpa jarum.

4.

Lakukan pengenceran milt dalam well plate. 1 bagian milt ditambah 9


bagian larutan NaCl fisiologis dan dihomogenkan. Sehingga didapatkan
pengenceran 10x.

5.

Setelah itu lakukan stripping pada ikan betina, bagian abdomennya


dibersihkan dengan tissue.

6.

Tampung hasil stripping pada mangkuk kecil yang bersih.

7.

Ambil satu sendok kecil sel telur dan tambahkan 1 mL milt pengenceran
10x secara perlahan dilakukan agitasi selama 1 menit dan diberi tambahan
air hingga sel telur dan milt tercampur rata.

8.

Setelah pencampuran sel telur dan milt, secara perlahan media pembuahan
yang berisi sel telur dan spermatozoa dituangkan ke dalam saringan halus
untuk menghilangkan spermatozoa, kemudian dibilas dengan cara
mencelupkan saringan ke dalam air bersih sebanyak 3 kali.

9.

Sel telur yang telah di cuci dimasukkan ke dalam mangkok berisi air.

10.

Sel telur diambil 10 buah dari masing-masing hasil pembuahan


menggunakan pipet transfer dan diletakkan di cavity slide dan diamati di
bawah mikroskop.

11.

Proporsi sel telur yang dibuahi maupun yang tidak di buahi dihitung.

12.

Mengulangi dengan mengambil 10 sel telur sesuai dengan waktu yang


ditentukan.

13.

Data diisi sesuai dengan yang diamati dimikroskop.

14.

Lakukan hal serupa dengan waktu agitasi 3 menit dan 5 menit.

III.

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil
Tabel 1. Persentase telur terbuahi pada jeda waktu yang berbeda
Persentase telur terbuahi (%)
Jeda Waktu
Total (%)
Rerata (%)
Ulangan I
Ulangan II
Kontrol

76,7 %

76,7 %

76,7 %

1 menit

56,67 %

76,7 %

133,7 %

66,7 %

3 menit

40 %

80 %

120 %

60 %

5 menit

90 %

63,3 %

153,3 %

76,65 %

Tabel 2. Persentase telur tebuahi pada tingkat pengenceran milt


Persentase telur tebuahi (%)
Tingkat
Pengeceran

Total (%)

Rerata (%)

80 %

136,7 %

68,4 %

66,7 %

56,7 %

123,4 %

61,7 %

73,3 %

63,3 %

136,6 %

68,3 %

Ulangan I

Ulangan II

10 x

56,7 %

100 x
1000 x

milt

Tabel 3. Persentase telur pada setiap tahap perkembangan selama waktu


pengamatan pada perlakuan jeda waktu
% telur pada setiap

Perlakuan

Waktu

Tahap

Pengamatan perkembangan

tahap
perkembangan

(%)

(%)

50 %

50 %

50 %

50 %

50 %

50 %

Hylock

40 %

40 %

40 %

2 sel

60 %

60 %

60 %

Ulangan Ulangan
I

Hylock
20

Belum
terfertilisasi

Kontrol
35

Jumlah Rerata

II

50

Hylock

20 %

20 %

20 %

2 sel

10 %

10 %

10 %

4 sel

20 %

20 %

20 %

8 sel

30 %

30 %

30 %

Rusak

20 %

20 %

20 %

% telur pada setiap

Perlakuan

Waktu

Tahap

Pengamatan perkembangan

20

35
Jeda
waktu 1
menit
50

tahap
perkembangan
Ulangan Ulangan

Jumlah Rerata
(%)

(%)

II

Hylock

40 %

30 %

70 %

35 %

Utuh

60 %

70 %

130 %

65 %

2 sel

60 %

90 %

150 %

75 %

Utuh

40 %

40 %

20 %

Hylock

10 %

10 %

5%

Utuh

30 %

30 %

15 %

Hylock

10 %

30 %

40 %

20 %

2 sel

30 %

20 %

50 %

25 %

4 sel

20 %

30 %

50 %

25 %

8 sel

10 %

20 %

30 %

15 %

% telur pada setiap

Perlakuan

Waktu

Pengamatan perkembangan

Hylock

Jeda
waktu 3
menit

Tahap

20

Belum
terfertilisasi
2 sel

tahap
perkembangan
Ulangan Ulangan

Jumlah Rerata
(%)

(%)

II

40 %

50 %

90 %

45 %

60 %

30 %

90 %

45 %

20 %

20 %

10 %

35

Hylock

10 %

10 %

5%

2 sel

30 %

70 %

100 %

50 %

4 sel

40 %

40 %

20 %

20 %

30 %

50 %

25 %

Hylock

20 %

10 %

30 %

15 %

4 sel

10 %

30 %

40 %

20 %

8 sel

40 %

60 %

100 %

50 %

30 %

30 %

15 %

Belum
terfertilisasi

50

Belum
terfertilisasi

% telur pada setiap

Perlakuan

Waktu

Tahap

Pengamatan perkembangan

20

(%)

(%)

2 sel

40 %

40 %

20 %

Hylock

30 %

20 %

50 %

25 %

30 %

80 %

110 %

55 %

Hylock

20 %

40 %

60 %

30 %

4 sel

60 %

20 %

80 %

40 %

2 sel

20 %

20 %

40 %

20 %

20 %

20 %

10 %

16 sel

40 %

40 %

20 %

8 sel

50 %

50 %

100 %

50 %

4 sel

10 %

20 %

30 %

15 %

Hylock

20 %

20 %

10 %

10 %

10 %

5%

waktu 5

Belum

menit

terfertilisasi

50

Ulangan Ulangan

Jumlah Rerata

II

terfertilisasi

35

perkembangan

Belum

Jeda

tahap

Belum
terfertilisasi

Tabel 4. Persentase telur pada setiap tahap perkembangan selama waktu


pengamatan pada perlakuan tingkat pengenceran.
% telur pada setiap

Perlakuan

Waktu

Tahap

Pengamatan perkembangan

20

pengenceran

35

10 x

Ulangan Ulangan

Jumlah Rerata
(%)

(%)

II

Hylock

20 %

20 %

10 %

Rusak

10 %

10 %

5%

90 %

40 %

130 %

65 %

2 sel

40 %

40 %

20 %

4 sel

30 %

30 %

15 %

2 sel

30 %

60 %

90 %

45 %

Hylock

20 %

20 %

40 %

20 %

20 %

20 %

40 %

20 %

8 sel

60 %

50 %

110 %

55 %

4 sel

20 %

50 %

70 %

35 %

Hylock

10 %

10 %

5%

10 %

10 %

5%

Belum

Belum
berkembang

50

perkembangan

terfertilisasi

Tingkat

tahap

Belum
berkembang

% telur pada setiap

Perlakuan

Waktu

Tahap

Pengamatan perkembangan

Hylock
Tingkat
pengenceran
100 x

20

Belum
terfertilisasi

35

Hylock

tahap
perkembangan
Ulangan Ulangan

Jumlah Rerata
(%)

(%)

II

50 %

30 %

80 %

40 %

50 %

70 %

120 %

60 %

40 %

30 %

70 %

35 %

2 sel

30 %

30 %

60 %

30 %

30 %

30 %

60 %

30 %

Rusak

10 %

10 %

5%

4 sel

30 %

30 %

15 %

8 sel

40 %

30 %

70 %

35 %

Hylock

10 %

50 %

60 %

30 %

20 %

10 %

30 %

10 %

10 %

10 %

5%

Belum
berkembang

50

Belum
terfertilisasi
Rusak

% telur pada setiap

Perlakuan

Waktu

Tahap

Pengamatan perkembangan

20

50

(%)

10 %

30 %

40 %

20 %

2 sel

50 %

50 %

25 %

4 sel

10 %

10 %

5%

30 %

70 %

100 %

50 %

30 %

40 %

70 %

35 %

2 sel

30 %

60 %

90 %

45 %

4 sel

30 %

30 %

15 %

8 sel

10 %

10 5

5%

Hylock

10 %

10 %

5%

8 sel

50 %

50 %

25 %

16 sel

20 %

20 %

10 %

10 %

10 %

5%

terfertilisasi

1000 x

(%)

Hylock

Belum
35

Ulangan Ulangan

Jumlah Rerata

II

terfertilisasi

pengenceran

perkembangan

Belum

Tingkat

tahap

Belum
terfertilisasi

Rusak

10 %

10 %

5%

4 sel

100 %

100 %

50 %

Gambar 1. Kontrol menit ke 20

Gambar 2. Kontrol Menit ke 35

Gambar 3. Kontrol menit ke 50

Gambar 4. Pengenceran 100x menit ke20

Gambar 5. Pengenceran 100x menit ke-

Gambar 6. Pengenceran 100x menit ke-

35

50

Gambar 7. Larva ikan Nilem (Osteochillus hasselti)

B. Pembahasan
Berdasarkan hasil praktikum, presentase telur terbuahi tiap kelompok
berbeda, kelompok 1 dengan pengenceran 10x memiliki rata-rata presentase telur
terbuahi adalah 68,4%, kelompok 2 mempunyai rata-rata presentase telur terbuahi
61,7 % pada pengenceran 100x, rata-rata presentase telur terbuahi pada
pengenceran 1000x yang dilakukan kelompok 3 yaitu 68,3 %. Selain itu rata- rata
presentase telur terbuahi pada jeda waktu 1 menit adalah 66,7 %, kelompok 2
dengan jeda waktu 3 menit mempunyai rata-rata telur terbuahi adalah 60 % serta
kelompok 3 memiliki presentase rata-rata telur terbuahi 76,65 % dari jeda waktu 5
menit. Hasil presentase kontrol yang didapat yaitu 76,7 %.
Tingkat pengenceran 100x yang dilakukan, menghasilkan rata-rata telur
terbuahi 40 % di menit ke 20. Pada menit selanjutnya yaitu menit ke 35
mempunyai rata-rata sel telur terbuahi yaitu 75 %, serta di menit ke 50
mempunyai presentase sel telur terbuahi rata-ratanya adalah 80 %. Hal ini tidak
sesuai dengan Menurut Wijayanti (1997), persentase pembuahan yang
mengindikasikan bahwa sel telur dan sperma yang digunakan berkualitas baik
dapat mencapai hingga 99 %. Persentase yang besar ini dihasilkan dari telur dan
milt yang mudah keluar pada saat distripping, telur tidak bergerombol dengan
diameter yang relatif seragam, warna yolk tajam, tidak memiliki ruang perivitelin,
dan milt yang dihasilkan dalam jumlah banyak dengan konsistensi normal.
Urutan proses utama selama fertilisasi (pembuahan) (Soeminto, 2000):
1.

Kontak dan pengenalan sperma-telur untuk memastikan sperma-telur dari

spesies yang sama,


2.

Pengaturan masuknya sperma ke dalam telur untuk pencegahan

polispermi,
3.

Fusi materi genetik dari sperma dan telur,

4.

Aktivasi metabolisme telur untuk mengawali perkembangan.


Tahapan dalam pengenalan sperma dan telur (Soeminto, 2000):

1.

Telur mengeluarkan kemoatraktant pada spesies tertentu,

2.

Eksositosis vesikula akrosom,

3.

Ikatan antara sperma dengan bungkus ekstraseluler telur,

4.

Sperma menembus bungkus telur,

5.

Fusi membran sel telur dan membran sel sperma.


Pekembangan embrio pada ikan nilem (Osteochillus hassselti) betina

dimulai setelah telur dibuahi oleh inti spermatozoon yang semua haploid, menjadi
inti zigot yang diploid. Zigot inilah yang mempunyai kemampuan untuk
melakukan pembelahan segmentasi melalui proses mitosis yang cepat. Zigot yang
tersegmen-segmen menjadi bagian yang kecil (cleavage), bermula dari satu sel
kemudian membelah menjadi 2 sel, 4 sel, 8 sel, 16 sel, hingga 32 sel yang disebut
fase morula ( Djuhanda, 1982). Ostrander (2000) menambahkan bahwa awal
perkembangan embrio dimulai dengan proses pembuahan antara sperma dan sel
telur membentuk zigot. Kemudian tahap selanjutnya terjadi proses cleavage,
stadium 1 mulai berkembang dari sel menjadi 2 sel, stadium 2 menjadi 4 sel,
stadium 3 menjadi 8 sel, stadium 4 menjadi 16 sel dan stadium 5 menjdai 32 sel.
Selanjutnya, morula berkembang menjadi blastula, terbentuknya rongga yang
disebut blastosol. Tahap selanjutnya yaitu gastrula, pada tahap inilah dimulainya
Fate map (peta takdir) setiap makhluk hidup. pada tahap gastrula terbentuk germ
ring dan embryonic shield. Antara germ ring terdapat dua lapisan germinal.
Lapisan atas (epiblas) dan lapisan bawah (hypoblas). Epiblas selanjutnya
berkembang menjadi ektoderm dan setelah akhir gastrula menimbulkan jaringan
seperti epidermis, sistem saraf pusat, pial neural, dan placodes sensorik.
Hypoblast tersebut menimbulkan mesoderm dan endoderm.
Tahap Organogenesis ini terbentuk lima tabung bagian pembentuk organ
dasar yang berhubungan dengan notochord axial yaitu epidermis, neural,
endodermal, dan dua mesodermal. Tabung ektodermal menjadi penutup tubuh
(epidermis) dan derivatnya. Tabung mesodermal akan bersegregasi menjadi
bagian dorsal, intermediet dan lateral, dimana mesodermal dorsal telah lebih
dahulu terbagi menjadi somit. Pada tahap somit akan terbentuk sirip pektoral,
notochord, pembuluh darah dan insang. Proses penetasan embrio terjadi apabila
adanya pelunakan korion akan menurun menjelang penetasan (Hatching)
(Kimmel et al, 1995).
Menurut Wijayanti (1997) semakin tinggi tingkat pengenceran, maka lama
motilitas spermaozoa semakin pendek, begitu juga sebaliknya. Hal ini
menunjukkan bahwa semakin pendek motilitas sperma berarti semakin sedikit

pula jumlah spermatozoa yang hidup dan dapat teramati. Semakin tinggi tingkat
pengenceran menimbulkan perbedaan osmolitas. Fertilisasi ikan nilem yang
terjadi secara eksternal yaitu terjadi di dalam air juga sangat ditentukan oleh
kondisi aliran air pada saat melakukan pemijahan. Aliran air yang sangat deras
dapat menyebabkan spermatozoa yang dikeluarkan oleh ikan jantan terbawa arus
kemungkinan untuk bertemunya ovum dan sperma sangat kecil sehingga
fertilisasi tidak dapat terjadi. Kualitas air juga menetukan dalam proses fertilisasi,
kondisi air yang banyak mengandung material-material lain yang bersifat toksik
dapat menyebabkan ketidakberhasilan fertilisasi karena sperma maupun ovum
mati. Air yang asam juga dapat membebaskan karbondioksida bebas dari
bikarbonat di dalam air yang dapat menjadi toksik atau menyebabkan pH 5-6
bersifat letal.
Menurut Effendie (2002), mengemukakan bahwa peningkatan suhu
menyebabkan masa perkembangan telur hingga menetas menjadi lebih singkat.
Waktu penetasan telur menjadi lebih lambat pada media inkubasi dengan suhu
yang rendah, sebaliknya pada media inkubasi dengan suhu tinggi proses penetasan
telur akan terjadi lebih cepat. Ah-King (2006), menjelaskan bahwa sperma sangat
sensitif terhadap perubahan tekanan osmotik, kondisi lingkungan yang dapat
mempengaruhi aktivasi sperma yang memberikan indikasi terhadap fertilisasi.
Menurut M. Yasemi (2010), penangkaran pada ikan tidak berpengaruh terhadap
presentase telur yang terbuahi dan hal tersebut tidak signifikan terhadap
kematangan sel telur diantara ikan yang di tangkar atau ikan yang bebas.
Morfologi sel digunakan untuk mengetahui kualitas telur. Pada
pembelahan awal (blastomer) embrio tidak berdiferensiasi, nantinya akan
mempengaruhi terhadap kemampuan hidup . Sel telur yang telah terbuahi
mempunyai ciri-ciri warna yolk yang tajam, memiliki integritas yang baik dan
pada kutub animalis terbentuk kuncup pembuahan. Telur yang belum terbuahi
mempunyai lspisan luar yang disebut selaput kapsul (Storer, 1985).
Berdasarkan pengamatan setelah 24 jam, didapatkan telur yang menetas,
namun tidak seluruhnya. Menurt Balinsky (1960), hal ini disebabkan karena:

1. Ikan dalam keadaan stress karena faktor lingkungan yang kurang mendukung,
seperti halnya media dan tempat pemijahan yang kurang bersih, suasana yang
kurang tenang, kandungan O2 yang rendah serta faktor cahaya.
2. Ikan belum matang kelamin, sehingga meskipun sudah di hipofisasi dengan
hormon ovaprin tetap tidak akan memijah karena kandungan hormon
gonadotropin dalam kelenjar hipofisisnya sedikit.
3. Penyuntikan ikan resipen yang tidak hati-hati sehingga kemungkinan terjadi
kerusakan pada sisik ikan, maka ikan tidak akan memijah walaupun sudah
diinduksi hormon ovaprin.
4. Lemahnya sperma, sifat pergerakan sperma menentukan kemampuan untuk
melakukan pembuahan.
5. Sperma mudah sekali tergantung oleh suasana lingkungan, suhu medium yang
terlalu tinggi atau sebaliknya dan perubahan pH akan merusak pertumbuhan
kemampuan untuk membuahi.

IV.

KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan
Berdasarkan tujuan dan pembahasan, maka dapat diambil kesimpulan
sebagai berikut
1.

Fetilisasi pada ikan pada praktikum kali ini, dilakukan dengan cara
mencampurkan antara milt ikan dengan sel telur. Kemudian dibandingkan
dengan tingkat pengenceran dan jeda waktu.

2.

Sel telur yang telah terfertilisasi mempunyai ciri-ciri warna yolk yang tajam,
memiliki integritas yang baik dan pada kutub animalis terbentuk kuncup
pembuahan. Telur yang belum terbuahi mempunyai lspisan luar yang disebut
selaput kapsul

3.

Faktor yang mempengaruhi fertilisasi adalah kualitas air, pH, tekanan


osmotik dan proses pembelahan sel.

4.

Tahapan perkembangan embrio ikan adalah zigot, cleavage, morula, blastula,


grastula dan proses organogenesis.
B. Saran
Kebersihan dan kerapian laboratorium harus tetap terjaga untuk

mempernyaman saat praktikum. Bahan-bahan untuk praktikum dilengkapi lagi.

DAFTAR REFERENSI

Ah-King, M., H. Elofsson, C. Kvarnemo, G. Rosenqvist dan A. Berglund. 2006.


Why Is There No Sperm Competition In A Pipefish With Externally
Brooding Males? Insights From Sperm Activation And Morphology. Journal
of Fish Biology (2006) 68, 958962.
Balinsky. 1960. Embryology. Saunders Company, London.
Djuhanda, T. 1982. Anatomi dari Empat Species Hewan Vertebrata. Armico,
Bandung
Effendie, M. I. 2002. Biologi Perikanan. Pustaka Nusantara, Bogor.
Kimmel, C. B. Ballard, W. W. 1995. Stages of Embryonic Development of The
Zebrafish. Institute of Neuroscience, University of Oregon, Eugene.
M. Yasemi, Nikoo M. 2010. The impact of captivity on fertilization, cortisol and
glucose levels in plasma in kutum broodstock. Iranian Journal of Fisheries
Sciences. 9(3) 478-484
Ostrander, Gary K. 2000. The Laboratory of FISH. Academic Press. California
Sistina, Y. 2000. Biologi Reproduksi. Fakultas Biologi Universitas Jenderal
Soedirman, Purwokerto.
Soeminto. 2000. Embriologi Vertebrata. Unsoed, Purwokerto.
Storer, T. 1985. Element of Zoology. Mc Graw Hill Book Company Inc.,
America.
Wijayanti, G.E. 1997. Fertilisasi Telur dan Sperma Ikan Nilem (Osteochillus
hasselti C.V.) Pasca Striping dalam Media Alami. Fakultas Biologi Unsoed,
Purwokerto