Anda di halaman 1dari 28

FERTILISASI DAN PERKEMBANGAN EMBRIONAL IKAN NILEM

Oleh :
Nama : Freshyama Daniar Rosy
NIM : B1A015137
Rombongan : VI
Kelompok :3
Asisten : Indri Muhati

LAPORAN PRAKTIKUM PERKEMBANGAN HEWAN

KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI, DAN PENDIDIKAN TINGGI


UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS BIOLOGI
PURWOKERTO
2016
I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Embriologi atau ilmu embrio merupakan bidang ilmu yang mempelajari


bagaimana sel tunggal membelah dan berubah selama perkembangan untuk
membentuk organisme multiseluler. Proses ini dinamakan embriogenesis. Juga
disebut anatomi perkembangan (developmental anatomy), embriologi adalah
spesialisasi medis yang berkaitan dengan studi tentang pertumbuhan dan
perkembangan embrio dan janin selama kehamilan dari pembuahan sel telur
sampai kelahiran (Dhea, 2014).
Embrio merupakan eukariot diploid multisel dalam tahap pertama dalam
perkembangan, dari waktu pembelahan sel pertama sampai kelahiran, penetasan, atau
perkecambahan. Bagi manusia disebut embrio sehingga sekitar delapan minggu
setelah pembuahan, dan mulai saat itu disebut janin. Perkembangan embrio disebut
embriogenesis. Untuk organisme yang bereproduksi secara seksual, ketika sperma
bersenyawa dengan sel telur, hasilnya adalah sel yang disebut zigot, yang mewarisi
separuh DNA dari setiap induknya. Untuk tumbuhan, hewan dan beberapa protis,
zigot itu akan terpecah secara mitosis untuk menghasilkan satu organisme multisel.
Hasil proses inilah disebut embrio (Dhea, 2014).
Ikan nilem (Osteochilus hasselti) merupakan ikan air tawar yang telah banyak
dibudidayakan masyarakat secara tradisional di Kabupaten Banyumas karena
memiliki nilai ekonomi yang tinggi. Ikan ini biasa hidup di sungai, danau, waduk
dan kolam pemeliharaan yang cukup oksigen (Simanjuntak IBS dkk., 2006). Ikan
nilem dipilih sebagai preparat praktikum karena cara hidupnya yang termasuk
sederhana dan karena termasuk ikan teleostei. Ikan nilem termasuk salah
satu jenis ikan yang banyak diperjualbelikan dengan harga murah. Selain itu, ukuran
ikan nilem termasuk cukup besar menunjukkan banyak persamaan dalam bentuk dan
fungsi dengan vertebrata tingkat tinggi, serta letak organ-organnya mudah untuk
dipelajari untuk praktikum yang tidak terlalu detail dalam melihat fungsi bagian
tubuhnya.
Keberhasilan pengembangan budidaya ikan nilem ini sangat ditentukan oleh
penyediaan benih yang memiliki kualitas dan kuantitas yang baik. Kualitas benih
dipengaruhi oleh kualitas induk dan faktor lingkungan seperti kualitas air, makanan,
penyakit dan parasit (Sutisna dan Ratno, 1995). Sedangkan kuantitas benih
merupakan jumlah produksi benih yang dihasilkan sesuai dengan permintaan
konsumen.

B. Tujuan

Tujuan praktikum fertilisasi dan perkembangan embrional ikan nilem


(Osteochilus hasselti) adalah melatih mahasiswa agar dapat melakukan fertilisasi
pada ikan, mengenali sel telur ikan yang telah difertilisasi dan mengidentifikasi
faktor-faktor yang mempengaruhi fertilisasi, serta mengidentifikasi tahapan
perkembangan embrio ikan.
II. MATERI DAN METODE

A. Materi

Alat-alat yang digunakan dalam praktikum fertilisasi dan perkembangan


embrional ikan nilem adalah tissue, spuit injeksi, kain katun, akuarium yang
dilengkapi dengan sistem aerasi, mangkuk untuk menampung sel telur dan milt, well
plate untuk pengenceran sperma,.pipet transfer berskala, cawan plastik untuk
pembuahan, mikroskop cahaya, cavity slide, pencatat waktu, saringan, dan
haemositometer.
Bahan-bahan yang diperlukan dalam praktikum fertilisasi dan perkembangan
embrional ikan nilem adalah ikan nilem jantan dan betina matang gonad, sediaan
hormon untuk induksi ovulasi dan spermiasi, sel telur dan milt segar hasil striping,
larutan NaCl fisiologis atau larutan Ringer, dan air sumur atau air ledeng.

B. Metode

Metode yang dilakukan dalam praktikum ini sebagai berikut:


a. Induksi untuk mendapatkan gamet segar
1. Ikan nilem yang telah matang gonad dipilih. Ikan nilem betina matang gonad
ditandai dengan perut yang membesar, terasa kunak bila diraba, dan daerah di
sekitar lubang genital agak kemerahan. Ikan jantan matang gonad ditandai
dengan mudahnya milt keluar pada saat distripping.
2. Ikan jantan dan ikan betina ditimbang untuk menentukan dosis hormon yang
diperlukan induk induksi ovulasi dan spermiasi.
3. Hormon yang akan digunakan untuk induksi disiapkan dengan ketentuan
sebagai berikut. Apabila hormon penginduksi berupa ekstrak kelenjar hiposis,
maka dosis yang diberikan berdasarkan rasio berat ikan donor dan ikan
resipien yaitu 3:2 artinya apabila berat ikan resipien sebesar 1 kg maka berat
ikan donor adalah 1,5 kg. Apabila hormon penginduksi berupa GnRh
misalnya Ovaprim, maka dosis yang diberikan adalah 0,5 mL/kg berat badan.
4. Sediaan hormon yang telah disiapkan secara intra muskuler disuntikkan di
daerah punggung. Semua hormon yang disuntukkan dipastikan masuk ke
dalam jaringan otot dan tidak ada yang keluar.
5. Induk jantan dan betina yang telah diinduksi ke dalam akuarium yang berisi
air bersih dan jernih serta dilengkapi dengan aerasi dimasukkan. Bagian atas
akuarium ditutup dengan kasa atau strimin agar ikan tidak melompat keluar
akuarium. Perlu diketahui bahwa ikan nilem yang hampir memijah memiliki
kebiasaan melompat ke permukaan air.
6. Setelah kurang lebih 5-6 jam sejak pemberian induksi, tingkah laku ikan
diamati. Biasanya pada kisaran waktu tersebut ikan sudah memperlihatkan
gerakan berenang memutar, saling mengikuti saatu sama lain. Apabila ikan
sudah mulai melompat ke permukaan, mengindikasikan bahwa ikan hampir
memijah.
7. Ikan dari akuarium diangkat menggunakan seser dengan hati-hati. Dinding
abdomen dari dekat sirip pektoral menuju lubang genital diurut secara hati-
hati. Apabila milt dan sel telur dapat keluar dengan mudah menunjukkan
bahwa ovulasi dan spermiasi sudah berlangsung dan ikan siap distripping.
b. Fertilisasi dengan berbagai rasio spermatozoa : sel telur
1. Seluruh peralatan yang digunakan disiapkan.
2. Ikan jantan matang gonad dari akuarium diangkat, dinding abdomen terutama
di sekitar genital pore dibersihkan menggunakan kertas tissue.
3. Dinding abdomen mulai dari depan sirip abdomen menuju genital pore diurut
secara halus, sehingga keluar cairan putih kental seperti santan. Cairan
tersebut adalah milt (spermatozoa di dalam seminal plasma).
4. Milt yang diperoleh ditampung dalam spuit tanpa jarum yang sekaligus
berfungsi sebagai alat pengukur volume milt. Volume milt yang diperoleh
diukur dan dicatat.
5. Pengenceran milt dilakukan dalam well plate. Well plate pertama dimasukkan
1 bagian milt ditambah 9 bagian larutan NaCl fisiologis dan dihomogenkan
dengan memipetnya beberapa kali sehingga didapatkan pengenceran 10x. 1
bagian milt diambil dari pengenceran pertama, dimasukkan ke dalam well
palte kedua, 9 bagian larutan NaCl fisiologis ditambahkan dan dihomogenkan
sehingga didapatkan milt dengan pengenceran 100x. Pengenceran dilakukan
hingga 1000x.
6. Ikan betina matang gonad diangkat dari akuarium, dinding abdomen terutama
di sekitar genital pore dibersihkan menggunakan kertas tissue.
7. Dinding abdomen diurut secara halus mulai dari depan sirip abdomen menuju
genital pore, sehingga keluar sel telur dengan warna cokelat tua kekuningan.
Catatan: pada saat distripping sel telur yang baik akan keluar dengan mudah
tidak bergelombol, tidak mengandung air, dan tampak segar. Sel telur yang
diperoleh ditampung dalam piring kecil yang kering dan bersih.
8. Satu sendok kecil sel telur diambil dan ditambahkan 1 mL milt yang telah
diencerkan 10x, agitasi secara perlahan agar sel telur dan milt bercampur rata,
air sedikit demi sedikit diteteskan untuk mengaktivasi spermatozoa sambil
tetap diagitasi perlan selama 3 menit.
9. Setelah 3 menit sejak pencampuran sel telur dan milt, secara perlahan
medium pembuahan yang sesuai ditambahkan dalam masing-masing cawan
hingga volumenya mencapai 100 mL. Sel telur yang telah dicampur dengan
milt didiamkan dalam masing-masing medium selama 5 menit, kemudian sel
telur dicuci dengan air biasa (air sumur atau air ledeng).
10. Sel telur yang sudah dicuci, dimasukkan ke dalam baskom berisi air sumur
atau air ledeng dengan volume air sekitar 1,5 L.
11. 10 sel telur diambil dari masing-masing hasil pembuahan menggunakan pipet
transfer dan diletakkan di atas cavity slide dan diamati di bawah mikroskop
dengan perbesaran objektif 4x setiap 10 menit.
12. Proporsi sel telur yang dibuahi maupun tidak dibuahi dihitung. Sel telur yang
dibuahi ditandai dengan warna yolk yang tajam, yolk memiliki integritas
yang baik dan pada kutub animalis terbentuk kuncup pembuahan. Sel telur
yang tidak dibuahi ditandai dengan warna yolk yang kusam, integritas yolk
menurut dan tidak terdapat kuncup pembuahan.
13. Tahap 8-12 dilakukan untuk milt yang diencerkan 10x, 100x, dan 1000x.
14. Data yang diperoleh diisikan ke dalam tabel.
15. Sementara menunggu waktu pengamatan embrio, konsentrasi spermatozoa
pada setiap pengenceran dihitung menggunakan haemositometer.
c. Fertilisasi dengan berbagai waktu kontak spermatozoa dengan sel telur
1. Seluruh peralatan yang digunakan disiapkan.
2. Milt yang telah diencerkan 10x disiapkan dalam larutan Ringer ataupun NaCl
0,9%.
3. Ikan betina matang gonad diangkat dari akuarium, dinding abdomen terutama
di sekitar genital pore dibersihkan menggunakan kertas tissue.
4. Dinding abdomen diurut secara halus mulai dari depan sirip abdomen menuju
genital pore, sehingga keluar sel telur dengan warna cokelat tua kekuningan.
Catatan: pada saat distripping sel telur yang baik akan keluar dengan mudah
tidak bergelombol, tidak mengandung air, dan tampak segar. Sel telur yang
diperoleh ditampung dalam piring kecil yang kering dan bersih.
5. Satu sendok kecil sel telur diambil dan ditambahkan 1 mL milt yang telah
diencerkan 10x, agitasi secara perlahan agar sel telur dan milt bercampur rata,
sambil teteskan air sedikit demi sedikit untuk mengaktivasi spermatozoa
(hingga volume air mencapai 50 mL).
6. Satu menit setelah pencampuran sel telur dan milt, secara perlahan media
pembuahan yang berisi sel telur dan spermatozoa dituangkan ke dalam
saringan halus untuk menghilangkan spermatozoa. Bilas dengan cara
mencelupkan saringan ke dalam air bersih sebanyak 3 kali.
7. Sel telur yang sudah dicuci dimasukkan ke dalam baskom berisi air sumur
atau air ledeng dengan volume air sekitar 1,5 L.
III. HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil

Berdasarkan hasil praktikum didapatkan data dari fertilisasi dan


perkembangan embrional ikan nilem (perolehan data dari dua rombongan), yaitu :
Perhitungan persentase telur terbuahi pada jeda waktu yang berbeda:
Jumlah sel yang terbuahi dan masih hidup = 61 sel
Jumlah sel awal yang hidup = 63 sel
Persentase telur terbuahi pada jeda waktu 5 menit = (61/63) x 100%
= 96,82%
Tabel 1. Persentase telur terbuahi pada jeda waktu yang berbeda

Persentase telur terbuahi


(%) Total
Jeda waktu Rerata (%)
(%)
Ulangan I Ulangan II

Kontrol 60 60 120 60

1 menit 0 54 54 27

3 menit 7,4 53,37 60,77 30,38

5 menit 55,46 96,82 152,28 76,14

Tabel 2. Persentase telur terbuahi pada tingkat pengenceran milt

Tingkat Persentase telur terbuahi (%)


pengenceran Total (%) Rerata (%)
milt Ulangan I Ulangan II

10x 53,33 53,33 106,66 53,33

100x 76,66 70 146,66 73,33

1000x 76,66 76,66 153,32 76,66


Tabel 3. Persentase telur pada setiap tahap perkembangan selama waktu
pengamatan pada perlakuan jeda waktu
Waktu Jumlah Rerata
Perlakuan Tahap % Telur pada setiap
pengamatan
perkembangan tahap perkembangan (%) (%)
ke-

Ulangan Ulangan
I II

Hylock 1 10 10 20 10

Tidak terbuahi 90 90 180 90


20 9

Hylock 5 50 50 100 50

Tahap 2 sel 2 20 20 40 20
Kontrol
35 Tidak terbuahi 30 30 60 30
3

Tahap 2 sel 10 100 100 200 100

50
Perlakuan Waktu Jumlah Rerata
Tahap % Telur pada setiap
pengamatan
perkembangan tahap perkembangan (%) (%)
ke-

Ulangan Ulangan
I II

Tahap 2 sel 10 10 10

Belum 90 90 90
20 terbuahi

Hylock 80 80 80

Mati 20 20 20

Tahap 4 sel 20 20 10

Hylock 100 20 120 60


Jeda 35 Belum 50 50 50
waktu 1 terbuahi
menit
Rusak 10 10 10

Tahap 8 sel 10 10 10

Tahap 4 sel 20 20 40 20

Tahap 2 sel 20 10 30 15
50 Hylock 50 10 60 30

Belum 10 50 60 30
terbuahi
Perlakuan Waktu Jumlah Rerata
Tahap % Telur pada setiap
pengamatan
perkembangan tahap perkembangan (%) (%)
ke-

Ulangan Ulangan
I II

Hylock 20 10 30 15

Belum 80 90 170 85
20 terbuahi

Tahap 2 sel 40 20 60 30

Belum 50 50 25
terbuahi
Jeda 35
waktu 3 Tahap 4 sel 20 20 40 20
menit
Hylock 40 10 50 25

Tahap 2 sel 10 10 10

Tahap 8 sel 50 30 80 40

Hylock 10 40 50 25
50 Tahap 4 sel 30 10 40 20

Belum 20 20 20
terbuahi
Perlakuan Waktu Jumlah Rerata
Tahap % Telur pada setiap
pengamatan
perkembangan tahap perkembangan (%) (%)
ke-

Ulangan Ulangan
I II

Belum 58,3 20 78,3 39,15


terbuahi
20 Hylock 41,6 60 101,6 50,8

Tahap 2 sel 20 20 20

Tahap 4 sel 70 70 70

Tahap 8 sel 30 30 30
Jeda
35 Hylock 25 25 25
waktu 5
menit Belum 58,3 58,3 58,3
terbuahi

Rusak 16,6 16,6 16,6

Hylock 16,6 40 56,6 28,3

Tahap 8 sel 33,3 20 53,3 26,65

Tahap 16 sel 40 40 40
50
Tahap 2 sel 16,6 16,6 16,6

Tahap 4 sel 33,3 33,3 33,3


Tabel 4. Persentase telur pada setiap tahap perkembangan selama waktu
pengamatan pada perlakuan tingkat pengenceran
Waktu Jumlah Rerata
Perlakuan Tahap % Telur pada setiap
pengamatan
perkembangan tahap perkembangan (%) (%)
ke-

Ulangan Ulangan
I II

Hylock 2 20 20 40 20

Tidak terbuahi 80 80 160 80


20 8

Hylock 6 60 60 120 60

Tahap 2 sel 4 40 40 80 40
Kontrol
35

Hylock 3 30 30 60 30

Tahap 4 sel 7 70 70 140 70

50
Waktu Tahap % Telur pada Jumla Rerat
Perlakuan
pengamata perkembanga setiap tahap h a
n ke- n perkembangan (%) (%)

Ulanga Ulanga
nI n II

Hylock 2 20 20 40 20

Tidak terbuahi 80 80 160 80


20 8

Hylock 3 30 30 60 30

Tahap 2 sel 1 10 10 20 10
Tingkat
35 Tidak terbuahi 60 60 120 60
pengencera
n 10x 6

Tahap 2 sel 2 20 20 40 20

Tahap 4 sel 7 70 70 140 70

Hylock 1 10 10 20 10
50
Waktu Tahap % Telur pada Jumla Rerat
Perlakuan
pengamata perkembanga setiap tahap h a
n ke- n perkembangan (%) (%)

Ulanga Ulanga
nI n II

Tidak terbuahi 60 50 110 55

20 Hylock 40 40 80 40

2 sel 10 10 10

Hylock 20 20 20

2 sel 10 40 50 25
Tingkat
35 Tidak terbuahi 10 30 40 20
pengencera
n 100x 4 sel 10 10 10

1 sel 80 80 80

Hylock 20 20 20

Tidak terbuahi 10 10 10

4 sel 20 50 70 35
50
8 sel 20 20 20

2 sel 10 10 10

1 sel 70 70 70
Waktu Tahap % Telur pada Jumla Rerat
Perlakuan
pengamata perkembanga setiap tahap h a
n ke- n perkembangan (%) (%)

Ulanga Ulanga
nI n II

Hylock 3 30 30 60 30

Tidak terbuahi 70 70 140 70


20 7

Hylock 8 80 80 160 80

Tahap 2 sel 2 20 20 40 20
Tingkat
pengencera 35
n 1000x

Hylock 8 80 80 160 80

Tahap 2 sel 1 10 10 20 10

Tahap 4 sel 1 10 10 20 10
50

Keterangan :

Ulangan 1 (Rombongan I, III , V atau VII)

Ulangan 2 (Rombongan II, IV, VI atau VIII)


Gambar I. Hasil Pengamatan Fertilisasi Ikan Nilem

Tahap 2 sel (Kelompok 3) Tahap 2 sel (Kontrol)

Tahap 4 sel (Kelompok 3) Tahap 4 sel (Kontrol)

Hylock (Kelompok 3) Hylock (Kontrol)


Jeda waktu 5 menit waktu pengamatan Jeda waktu 5 menit waktu pengamatan
20 (Kelompok 3) 20 (Kontrol)

Jeda waktu 5 menit waktu pengamatan Jeda waktu 5 menit waktu pengamatan
35 (Kelompok 3) 35 (Kontrol)

Jeda waktu 5 menit waktu pengamatan Jeda waktu 5 menit waktu pengamatan
50 (Kelompok 3) 50 (Kontrol)
Larva ikan nilem setelah menetas
B. Pembahasan

Fertilisasi adalah proses penyatuan ovum (sel telur) dengan spermatozoa,


dimana proses ini merupakan tahap awal pembentukan embrio. Fertilisasi merupakan
suatu proses yang sanagt penting dan merupakan titik puncak dari serangkaian proses
yang terjadi sebelumnya (Puja et al., 2010 dalam Susari dan Setiasih, 2016).
Fertilisasi juga mempunyai pengertian suatu proses penyatuan atau fusi dari dua sel
gamet yang berbeda, yaitu sel gamet jantan dan betina, yang akan membentuk zygote
yang mengandung satu sel. Secara embriologi, fertilisasi merupakan pemasukan
faktor-faktor hereditas pejantan ke ovum, dan melibatkan penggabungan sitoplasma
dan bahan nukleus (Toelihere, 1985).
Tempat terjadinya penyatuan ovum dengan spermatozoa adalah di dalam
ampula dari tuba fallopii. Pada pertemuan ini, ovum masih terbungkus oleh sel-sel
granulose yang berasal dari folikel dan selubung ovum (Puja et al., 2010 dalam
Susari dan Setiasih, 2016). Proses fertilisasi dimulai dengan pematangan (maturasi)
seltelur dan spermatozoa. Pematangan sel telur dimulai pada waktu proses
pembelahan meiosis dari profase I menjadi masak selama folikulogenesis.
Sedangkan spermatozoa memerlukan maturasi yang memerlukan waktu 10-15 hari
ketika melewati epididimis. Proses fertilisasi pada mamalia memerlukan tiga tahap
yaitu :sel spermatozoa harus menembus diantara sel-sel cumulus dengan bantuan
enzim hyaluronidase, sel spermatozoa harus mampu menembus lapisan zona
pellucida, dan spermatozoa akhirnya bersatu dengan membran plasma sel telur
(Mujahid dan Nita, 2012).
Pertama, spermatozoa akan memasuki vagina,dimana akan terjadi seleksi
dengan adanya perbedaan pH antara spermatozoa (pH=7) dan vagina (pH=4).
Setelah melewati vagina, spermatozoa yang telah terseleksi akan memasuki serviks.
Dalam serviks, hanya spermatozoa yang normal yang dapat lewat, hal ini
dikarenakan spermatozoa yang normal dapat bergerak melewati cincin-cincin anulir
pada serviks. Sampai akhirnya menuju uterus, dimana mengalami kapasitasi yakni
proses pendewasaan spermatozoa oleh cairan endometrium sehingga spermatozoa
dapat menembus lapisan-lapisan sel telur. Tempat utama terjadinya proses kapasitasi
adalah pada ampula isthmus junction. Transport sel telur untuk menuju ampula
isthmus junction dimulai pada saat menjelang ovulasi, pada saat itu estrogen
dominan dan bersama oksitosin akan menyebabkan terjadinya derakan peristaltik
yang aktif. Setelah terjadi ovulasi, sel telur akan ditangkap oleh fimbrae yang
terdapat pada infundibulum dengan adanya gerak peristaltik tersebut, sel telur akan
terdorong masuk hingga ampulla hingga mencapai ampula isthmus junction
(Mujahid dan Nita, 2012). Setelah spermatozoa menembus lapisan cumulus
oophorus, spermatozoa pertama masuk, maka tidak akan ada lagi spermatozoa lain
yang dapat masuk hal ini disebabkan oleh adanya reaksi zona, yakni suatu
mekanisme pada zona pellucida yang menghalangi masuknya spermatozoa
berikutnya. Setelah menembus zona pellucida, spermatozoa kemudian menembus
permukaan membran vitelin (Mujahid dan Nita, 2012).
Telur yang telah terbuahi oleh sperma akan berwarna transparan (jernih),
sedangkan telur yang tidak terbuai sangat mudah dibedakan. Telur yang tidak
terbuahi akan segera kehilangan transparansinya dan menjadi keputih-putihan atau
buram karena kuning telur pecah dan menutup ruang periviteline, sehingga akhirnya
telur tersebut akan mati (Nicholas et al., 2010). Periode perkembangan berbeda pada
telur yang sangat sensitif terhadap hal penanganan. Telur-telur tersebut agak lemah
sampai tercapai stadia terbentuknya mata, sedangkan bila telah mencapai bintik mata
maka embrio telah cukup kuat dan dapat diangkat melalui jarak yang jauh. Beberapa
hari sebelum menetas, embrio akan menjadi lemah kembali. Hal ini kemungkinan
disebabkan oleh melunaknya cangkang telur sebagai persiapan untuk pengeluaran
embrio (Nicholas et al., 2010). Umumnya tahap-tahap fertilisasi, yaitu hylock, 2 sel,
4 sel, 8 sel, 16 sel, 32 sel, morula, blastula, gastrula, neurulasi, morfogenesis,
diferensiasi, dan organogenesis (Hajirezaee et al., 2010).
Pertumbuhan pada ikan dipengaruhi oleh beberapa faktor. Faktor ini dapat
digolongkan menjadi dua bagian besar, yaitu faktor dalam dan faktor luar. Faktor-
faktor ini ada yang dapat dikontrol ada yang tidak. Faktor dalam umumnya adalah
faktor yang sukar dikontrol, diantaranya ialah keturunan, jenis kelamin, umur, parasit
dan penyakit. Dalam suatu kultur, faktor keturunan mungkin dapat dapat dikontrol
dengan mengadakan seleksi untuk mencari ikan yang baik pertumbuhannya. Tetapi
di alam, tidak ada kontrol yang dapat diterapkan, begitu pula dengan jenis kelamin
juga tidak dapat dikontrol. Penyakit dan parasit juga mempengaruhi pertumbuhan
terutama jika yang diserang adalah alat pencernaan makanan atau organ vital lainnya,
sehingga 20 efisiensi berkurang akibat kekurangan makanan yang berguna untuk
petumbuhan (Effendie, 1997 dalam Hidayat dkk., 2013).
Menurut Oyen et al. (1991) dalam Syandri (1993) dalam Nainggolan dkk.,
(2015), faktor internal yang berpengaruh terhadap daya tetas telur adalah
perkembangan embrio yang terhambat karena kualitas spermatozoa dan telur kurang
baik. Sedangkan faktor eksternal yang berpengaruh terhadap penetasan telur adalah
lingkungan yang di dalamnya terdapat temperatur air, oksigen terlarut, pH dan
amoniak. Menurut Masrizal dan Efrizal (1997) dalam Syandri (1993) dalam
Nainggolan dkk., (2015), bahwa daya tetas telur ikan selalu ditentukan oleh
pembuahan sperma, kecuali bila ada faktor lingkungan yang mempengaruhinya.
Selanjutnya dikemukakan pula bahwa, faktor internal yang akan mempengaruhi
tingkat penetasan telur adalah perkembangan embrio yang terlambat akibat sperma
yang kurang motil.
Faktor luar utama yang mempengaruhi pertumbuhan ialah makanan dan suhu
perairan. Di daerah tropik, makanan merupakan faktor yang lebih penting dari suhu
perairan. Bila keadaan faktor-faktor lain normal, ikan dengan makanan berlebih akan
tumbuh lebih pesat. Untuk ikan satu keturunan yang sukses dari satu pemijahan,
pertama-tama memerlukan makanan yang berukuran sama. Anak ikan yang lemah
dan tidak berhasil mendapatkan makanan akan mati sedangkan yang kuat terus
mencari makan dan pertumbuhannya baik. Terlalu banyak individu dalam perairan
yang tidak sebanding dengan keadaan makanan akan menetukan pertumbuhan. Oleh
karena itu, dalam satu keturunan akan didapatkan ukuran bervariasi (Effendie, 1997
dalam Hidayat dkk., 2013).
Faktor yang mempengaruhi fertilitas adalah umur dan tingkat pematangan
sperma agar fertilisasi berhasil dengan motilitas sperma yang tinggi (Neff BD., 2004
dalam Keklinen et al., 2015). Konsentrasi pula menjadi salah satu faktornya seperti
menurut Palermo G, Joris H, Devroey P, dan Van Steirteghem A.C. (1992) dalam
Neri et al. (2014) bahwa penyisipan mekanik spermatozoa langsung ke ruang
perivitelline untuk mengatasi kekurangan sperma pada konsentrasi dan motilitas.
Menurut Biliard et al. (1995) dalam Japet (2011) volume ejakulat untuk proses
fertilisasi pada ikan dipengaruhi oleh umur, bobot, frekuensi dan kondisi lingkungan.
Berdasarkan hasil pengamatan yang telah dilakukan pada praktikum ini,
diperoleh data masing-masing kelompok dengan perkembangan yang sama yaitu
dimulai dari hylock, pembelahan 2 sel, 4 sel, 8 sel, 16 sel, 32 sel lalu menjadi larva
ikan nilem (Osteochilus hasselti). Sebagian besar pada awal tahap perkembangan
berupa hylock pada masingmasing kelompok, yaitu adanya tonjolan dinding telur
sebelum cleavage pertama (tanda telur telah terbuahi). Untuk perlakuan kontrol,
jumlah hylocknya adalah 10% pada ulangan I, pada ulangan II jumlahnya 10%.
Untuk waktu 5 menit jumlahnya 41,6% pada ulangan I, 60% pada ulangan II. Untuk
tingkat pengenceran 10x jumlah hylocknya mencapai 20% pada ulangan I, pada
ulangan II 20%. Tingkat pengenceran 100x jumlahnya 40% pada ulangan I, 40%
pada ulangan II. Untuk tingkat pengenceran 1000x jumlahnya 30% pada ulangan I,
30% pada ulangan II. Hasil ini menunjukkan bahwa kualitas sperma dan sel telur
kurang baik. Berdasarkan referensi menurut Pangestuningtyas (1993), sperma yang
berkualitas baik terlihat seperti susu kental berwarna putih susu, penuh dan menyatu
dengan mudah ketika diteteskan dalam air tawar atau garam fisiologis. Di bawah
mikroskop terlihat sperma dengan bepatan tinggi dan semuanya berbentuk normal
serta pergerakannya sangat aktif. Menurut Darmawan (2009), kualitas sperma yang
baik secara mikroskopik adalah didapatkan konsentrasi lebih dari 20 juta sel bening
dalam tiap ml sairan sperma. Apabila spermatozoa lebih dari 50% mampu bergerak
cepat dan lebih 50% punya bentuk sel normal, morfologi dan motilitas spermatozoa
baik sperma bisa disebut baik.
Secara mikroskopis sperma yang baik jika volumenya lebih dari 2 ml dalam
sekali ejakulasi, berwarna agak keputihan terdapat gumpalan seperti lapofit
(Darmawan, 2009). Menurut Rustidja (2000), berdasarkan hasil pengamatan
mikroskopis dan mikroskopis terdapat sperma segera hasil striping dari induk donor
ikan mas (Cyprinus carpio) yang digunakan untuk pembukuan memiliki kualitas
yang bagus dengan itilitus tinggi yaitu 80-85%. Kemampuan hidup (viabilitas)
spermatozoa sangat dipengaruhi oleh suhu dan secara umum akan hidup lebih lama
dalam suhu rendah. Penurunan suhu dari suhu kamar ke suhu dingin dan suhu beku
perlu dilakukan secara bertahap untuk menghindari card shock (Teoli here, 1981
dalam Rustidja, 2000). Harvey dan Hear (1979), mengemukakan bahwa sperma ikan
kering (Dupea hereoneus) masih dapat bergerak 4-5 menit, selanjutnya dikatakan
oleh Gunzburg (1972) bahwa sperma ikan mas hanya hidup selama 30-60 detik
dalam menit (Arie, 2010). Menurunnya motilitas, menentukan bahwa terjadi
kematian sebagian dari spermatozoa yang bisa dilakukan antara lain oleh kejutan
dingin (cold shock) yang menyebabkan terjadinya perubahan fisika kimia.
Spermatozoa terutama pada proses pembukuan dan pencairan kembali (Rustidja,
2000).
Menurut Rustidja (1999), ukuran spermatozoa yang besar maka kecepatan
pengendapan akan lebih besar dibandingkan spermatozoa dengan ukuran yang lebih
kecil dengan ukuran yang besar, energi motilitasnya yang dimiliki akan mampu
memperbesar daya motilitasnya dalam menembus lapisan dengan gradien
konsentrasi yang besar dibawahnya. Reproduksi pada ikan dikontrol oleh
hipotalamus-hipofisis-gonad. Kondisi lingkungan meliputi temperature, cahaya,
cuaca, diterima oleh reseptor dan diteruskan ke sistem saraf. Kemudian hipotalamus
melepaskan hiofisis untuk melepaskan yonadotropic hormone (G) yang mengontrol
perkembangan dan pemasakan gonad serta pemijahan (Yunon, 1995 dalam Yuwono
dan Purnama, 2001). Gonadotropic dibagi menjadi 2 bagian yang kaya akan
karbodhidrat dan mungkin berperan dalam proses sreroldogenesis (spermiasi,
maturasi, oocyt dan ovulasi) sedangkan yang miskin karbohidrat secara fisiologis
berperan dalam proses vitellogenesis seperti produksi kuning telur (Rustidja, 2000).
Persentasi telur terbuahi pada jeda waktu yang berbeda didapatkan hasil :
untuk kontrol 60% (ulangan I dan ulangan II); untuk waktu 1 menit : 0 % (ulangan I),
dan 54% (ulangan II); untuk waktu 3 : menit 7,4% (ulangan I), dan 53,37% (ulangan
II); untuk waktu 5 menit : 55,46 % (ulangan I), dan 96,82 % (ulangan II). Untuk jeda
waktu yang berbeda waktu 5 menit ulangan II adalah waktu yang menunjukkan
presentase tertinggi keberhasilan fertilisasi.
Persentasi telur terbuahi pada tingkat pengenceran milt didapatkan hasil :
pengenceran 10x (ulangan I dan ulangan II = 53,33%), pengenceran 100x (ulangan I
= 76,66%, ulangan II = 70 %), dan pengenceran 1000x (ulangan I dan ulangan II =
76,66%). Dari data, tingkat pengenceran 1000x adalah tingkat pengenceran yang
optimal untuk keberhasilan terjadinya fertilisasi. Pengenceran 1000x memungkinkan
kerapatan sperma yang rendah, sehingga lebih banyak sperma dan telur yang akan
terbuahi. Sedangkan menurut referensi dari Adipu dkk. (2012) adalah rasio
pengenceran memberikan efek yang signifikan pada motilitas sperma, kesuburan,
dan hatchability telur. Penelitian ini menemukan bahwa 1 : 60 rasio pengenceran
adalah perlakuan terbaik dengan motilitas sperma rata-rata 96,66%, kesuburan
71,665%, dan telur hatchability 70%. Maka, persentasi telur terbuahi pada jeda
waktu yang berbeda dan persentase telur terbuahi pada tingkat pengenceran milt
sesuai dengan referensi. Menurut Adipu dkk. (2012) dalam Nainggolan (2015),
adanya penambahan larutan NaCl dan fruktosa pada pengenceran sperma, maka lama
waktu aktivitas sperma menjadi panjang sehingga sperma memperoleh banyak waktu
untuk menemukan dan membuahi sel telur.
IV. KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

1. Fertilisasi adalah proses penyatuan ovum (sel telur) dengan spermatozoa, dimana
proses ini merupakan tahap awal pembentukan embrio.
2. Telur yang telah terbuahi oleh sperma akan berwarna transparan (jernih),
sedangkan telur yang tidak terbuai sangat mudah dibedakan. Telur yang tidak
terbuahi akan segera kehilangan transparansinya dan menjadi keputih-putihan atau
buram karena juning telur pecah dan menutup ruang periviteline, sehingga
akhirnya telur tersebut akan mati.
3. Fertilisasi pada ikan dipengaruhi oleh beberapa faktor, umumnya adalah suhu, pH,
keturunan, jenis kelamin, umur, makanan, tingkat pematangan sperma, parasit dan
penyakit.

B. Saran

Praktikan harusnya lebih teliti melakukan praktikum dalam perhitungan,


cermat dalam melihat preparat di bawah mikroskop.
DAFTAR REFERENSI

Adipu, Sinjal, dan Watung. 2012. Rasio Pengenceran Sperma terhadap Motilitas
Spermatozoa, Fertilitas, dan Daya Tetas Ikan Lele (Clarias sp.). Jurnal
Perikanan dan Kelautan Tropis. 7(1) : 1-2.
Arie, Ustu. 2010. Sperma Ikan Mas. Bandung: Tridaya Press.
Darmawan. 2009. Kualitas Sperma Baik. Jakarta: Write Press.
Dhea. 2014. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. Semarang: Media Press.
Hajirezaee, S., Bagher, M., and Alireza, M. 2010. Fish Milt Quality and Major
Factors Influencing the Milt Quality Parameters : A Review, African
Journal of Biotechnology. 9 (54) : 9148-9154.
Hidayat, Sasanti, dan Yulisman. 2013. Kelangsungan Hidup, Pertumbuhan, dan
Efisiensi Pakan Ikan Gabus (Channa striata) yang Diberi Pakan Berbahan
Baku Tepung Keong Mas (Pomacea sp). Jurnal Akuakultur Rawa
Indonesia. 1(2) : 5-10.
Japet. 2011. Karakteristik Semen Ikan Ekonomis Budidaya: Mas (Cyprinus carpio),
dan Patin (Pangasius hypophthalmus). Skripsi. Institut Pertanian Bogor.
Keklinen, Soler, Veentaus, dan Huuskonen. 2015. Male Investments in High
Quality Sperm Improve Fertilization Success, but May Have Negative
Impact on Offspring Fitness in Whitefish. Plos One. 10(9) : 6-7.
Mujahid, R. Awal, P. K. D. dan Nita, S. 2012. Maserasi sebagai Alternatif Ekstraksi
pada Penetapan Kadar Kurkuminoid Simplisia Temulawak (Curcuma
xanthorriza).Tawangmangu: Balai Besar Litbang Tanaman Obat dan Obat
Tradisional Tawangmangu.
Nainggolan. 2015. Penambahan Madu Dalam Pengenceran Sperma Untuk Motilitas
Spermatozoa, Fertilisasi dan Daya Tetas Telur Ikan Nila (Oreochromis
niloticus). Jurnal Budidaya Perairan. 3(1) : 131-140.
Neri, Lee, Rosenwaks, dan Machaca. 2014. Understanding Fertilization Through
Intracytoplasmic Sperm Injection (ICSI). NIH Public Access. 55(1) : 24-
37.
Nicholas JC, Thomas EH, Christoper IM, Mark AC, Atsuhi K, Yoshiaka N, Shugo
W, dan Ian AJ. 2010. Temperature and the Expression of Myogenic
Regulatory Factors (MRFs) and Myosin Heavy Chain Isoforms during
Embryogenesis in the Common Carp Cyprinus carpio L. New York:
Experimental Biology.
Pangestuningtias, J.W. 1993. Study tentang Pengaruh Radiasi Sinar Ultra Violet dan
Waktu Penyimpanan Sperma Ikan Mas (Cyprinus carpio L) Terhadap
Persentase Pembuahan dan Persentase Penetasan Telur. Semarang.:
Fakultas Peternakan Universitas Dipenogoro.
Rustidja, 1999. Pemisahan Spermatozoa x dan y Ikan Mas (Cyprinus Carpio).
Malang: Universitas Brawijaya.
Rustidja. 2000. Prospet Pembekuan Sperma Ikan. Malang: Universitas Brawijaya.

Simanjutak, IBS., Yuwono, E., dan Rachmawati, F.N. 2006. Pengaruh


Penyuplemenan Spirulina dalam pakan terhadap hematologis ikan nilem
(Osteochilus hasselti). Jurnal Pembangunan Pedesaan. 6(2) : 84-88.
Susari dan Setiasih. 2016. Fertilisasi pada Hewan. Jurnal Universitas Udayana. 4(1)
: 1-2.
Sutisna, D.H. dan Ratno. 1995. Pembenihan Ikan Air Tawar. Yogyakarta: Kanisius.
Toelihere, M. R. 1985. Fisiologi Reproduksi pada Ternak. Bandung: Angkasa.
Yuwona, Edy dan Purnama S. 2001. Fisiologi Hewan Air. Jakarta: Sugeng Seto.